NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 12 Side Story

Gadis Gal yang Harusnya Memenembakku Sebagai Hukuman dalam Permainan, Tampaknya Jelas-Jelas Sangat Jatuh Cinta Padaku Volume 12

[SS Bonus Khusus E-Book] Bagaimana Kalau Mencoba Mengubah Kata Ganti Orang Pertama?


Itu adalah sebuah ucapan yang terlontar begitu saja.

 

"Ngomong-ngomong, Youshin itu dari dulu selalu menyebut dirimu dengan sebutan 'Boku', ya?"

 

Kejadian itu terjadi sedikit sebelum aku dan Nanami pergi berlibur ke pemandian air panas berdua.

 

Saat proses pemesanan penginapan sudah berhasil diselesaikan, ibu dan yang lainnya sudah menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan, dan persiapan liburan sedang berjalan dengan lancar, ucapan yang terlontar begitu saja itu muncul.

 

Mendengar ucapan Nanami tersebut, tanganku yang tadinya sedang bergerak mendadak terhenti seketika.

 

Mengenai apa yang sedang kami lakukan saat ini... jawabannya adalah mengerjakan tugas sekolah.

 

Sebenarnya, ada salah satu bagian dari rencana liburan... tidak, lebih tepatnya syarat untuk berlibur. Sebagai syaratnya, ada ketentuan bahwa hampir seluruh tugas sekolah harus diselesaikan sebelum berangkat berlibur... jadi dengan sangat terpaksa kami sedang mengerjakan tugas sekolah.

 

Tidak, tapi serius deh, jumlah tugas sekolahnya benar-benar terlalu banyak. Apakah anak SMA memang selalu diberi tugas sebanyak ini? Bagaimana dengan sekolah lain, ya?

 

Jika dikerjakan secara bertahap mungkin jumlahnya tidak akan menjadi beban, tetapi jika harus diselesaikan sekaligus dalam satu waktu, jumlahnya tergolong sangat menyiksa.

 

Tugas sekolah yang sebanyak ini pun, kalau dikerjakan bersama Nanami pasti bisa diselesaikan dengan menyenangkan... diselesaikan... tidak, tetap saja rasanya tidak bisa dibilang menyenangkan. Mau sebanyak apa pun aku bersama Nanami.

 

Tapi yah, kita memang harus bertarung menghadapi kenyataan, kan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke ketepian. Jika berhasil menyelesaikan tugas sekolah yang menyiksa ini, liburan yang menyenangkan bersama Nanami sudah menanti.

 

Kalau berpikir begitu, aku pasti bisa berjuang. ...Harusnya.

 

Tapi aku juga sudah jadi makin rajin, ya. Kalau dulu, tugas sekolah seperti ini pasti cuma kukerjakan seadanya. Hanya mengerjakan soal yang kupahami, dan cuma menyelesaikan sekitar separuh dari keseluruhan saja.

 

...Yah, normalnya tugas sekolah itu memang harus diselesaikan semuanya, sih. Lagipula, pada akhirnya aku merasa kalau diriku ini cuma sedang bergerak karena tergiur oleh imbalan liburan ke pemandian air panas saja.

 

Mari kita sisihkan dulu soal tugas sekolah, dan kembali ke topik pembicaraan.

 

Nah, hal yang dipertanyakan oleh Nanami adalah mengenai kata ganti orang pertama milikku. Karena aku tidak begitu paham apa yang ingin disampaikan oleh Nanami, aku hanya bisa sedikit memiringkan kepala.

 

"Iya ya, aku... aku selalu menyebut diriku 'Boku', ya..."

 

Karena tidak tahu harus merespons seperti apa, aku merasa telah memberikan jawaban yang bukannya aman, melainkan malah tidak jelas. Rasanya mirip seperti tata bahasa yang aneh.

 

Atau mungkin mirip prinsip aku berpikir maka aku ada.

 

Bagaimanapun juga, itu jawaban yang agak aneh. Lagipula, bukannya selama ini aku sengaja dan sadar menyebut diriku 'Boku', sih. Hal semacam ini kan biasanya mengalir begitu saja dalam kehidupan sehari-hari, atau lebih mirip semacam kebiasaan.

 

Atau mungkin agak sedikit berbeda dari itu?

 

"Sekali-kali tidak mau mencoba bilang 'Ore'?"

 

'Ore'... ya.

 

Meskipun aku bisa saja langsung mengucapkannya di sini, entah mengapa ada rasa ragu untuk melontarkannya secara lisan, jadi aku mencoba menyebut 'Ore' di dalam hati saja. Aku... menyebut diriku 'Ore'?

 

"Bukankah rasanya janggal sekali?"

 

"Eeh? Masa sih?"

 

Entah apa yang membuat Nanami merasa senang, tetapi dia tampak sangat menikmati hal ini. Dari pihakku sendiri, pada dasarnya selama Nanami tampak senang aku akan merestuinya, tetapi tetap saja aku merasa agak bingung.

 

"Kalau Nanami sendiri, dari dulu selalu pakai 'Watashi'?"

 

Oleh karena itu, untuk sementara aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengarahkan topik ke kata ganti orang pertama milik Nanami. Meskipun rasanya seperti menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi, mau bagaimana lagi.

 

Atau lebih tepatnya, di dunia ini rasa-rasanya ada lebih banyak kejadian di mana sebuah pertanyaan direspon bukan dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan baru. Yah, itu mungkin karena sebuah pertanyaan bisa memicu timbulnya pertanyaan lain.

 

Jangan berharap semua pertanyaan di dunia ini pasti ada jawabannya—kalimat dari dialog apa ya itu tadi?

 

"Kalau aku sih, waktu kecil dulu... rasanya pernah pakai 'Atashi' atau menyebut diri dengan 'Nanami'."

 

"Pernah menyebut dirimu 'Nanami'?"

 

"Iya. Dulu tuh suka bilang, 'Nanami juga mau makan~' atau 'Nanami juga mau ikut bikin~', kurang lebih seperti itu."

 

Bukankah itu... lumayan imut?

 

Aku mengingat kembali foto masa kecil Nanami yang sempat ditunjukkan padaku beberapa waktu lalu, lalu membayangkan sosok Nanami dalam imajinasiku yang menyebut dirinya sendiri menggunakan nama dipanggilnya.

 

Emm... bukankah ini sangat boleh juga?

 

"Kapan kamu mulai mengubahnya?"

 

"Sekitar kelas 3 atau 4 SD, mungkin. Waktu itu ada yang bilang padaku kalau aku ini sudah jadi kakak perempuan yang dewasa, terus aku jadi ingin kelihatan lebih dewasa."

 

Ah, begitu rupanya.

 

Memang benar, menyebut diri menggunakan nama itu sering dilakukan oleh anak-anak kecil, ya. Tidak, padahal anak kelas 3 SD pun menurutku masih tergolong anak kecil.

 

Meski begitu, apakah anak perempuan memang berkembang menjadi dewasa lebih cepat ketimbang anak laki-laki? Waktu aku kelas 3 SD dulu rasanya aku cuma anak nakal yang menyebalkan. Walau aku tidak terlalu ingat jelas, sih.

 

Nanami yang menyebut dirinya dengan nama sendiri, ya...

 

"Sekarang, sudah tidak pernah lagi?"

 

"Ya tidak lah, tentu saja... Malu, tahu..."

 

Malu... ya?

 

Karena aku tidak pernah memikirkan soal kata ganti orang pertama secara mendalam, aku jadi tidak begitu merasa kalau itu adalah hal yang memalukan.

 

Di kalangan VTuber pun ada banyak orang yang kata ganti orang pertamanya adalah nama mereka sendiri. Atau lebih tepatnya, selama orang yang bersangkutan tidak merasa malu, menurutku sebutan untuk diri sendiri itu bebas-bebas saja... Namun tetap saja, bagi orang yang merasa malu, hal itu akan tetap terasa memalukan, ya.

 

Kata ganti orang pertama adalah hal yang berubah seiring dengan perubahan zaman, jadi pemikiran seperti itu mungkin memang ada. Ini topik pembicaraan yang cukup menarik.

 

Yatsugare... adalah cara penyebutan zaman dulu, sedangkan Shousei biasanya digunakan dalam tulisan formal, kalau tidak salah. Hanya sebatas itu yang kuketahui.

 

Ya ada juga pengetahuan dari manga, sih.

 

Nanami tampak memalingkan pandangannya sedikit karena malu... tetapi melihat sosoknya yang seperti itu, di dalam diriku malah muncul keinginan untuk memintanya mencoba menyebut dirinya dengan nama lagi.

 

Mungkin karena Nanami menunjukkan penolakan, timbul sedikit rasa kejahilan yang mirip dengan sifat sadisme di dalam diriku yang ingin melihatnya melakukannya.

 

...Tapi kalau aku bilang begitu, nanti dia malah bakal menyuruhku mengubah kata ganti orang pertamaku juga, jadi itu sama saja seperti membangunkan macan tidur.

 

"Kalau Youshin, dari dulu selalu pakai 'Boku'?"

 

"Iya ya... Aku hampir tidak pernah mengucapkan kata selain 'Boku' untuk menyebut diriku..."

 

"Aku ingin dengar kamu bilang 'Ore' sekali saja..."

 

Waduh, dia mendahuluiku. Padahal aku juga ingin mendengar Nanami menyebut dirinya dengan namanya sendiri, jadi aku merasa senang karena kami memikirkan hal yang mirip.

 

Tapi... aku bilang 'Ore'... ya...

 

"Bagaimana kalau coba diucapkan sedikit?"

 

"Ah, asyik~" serunya sambil mengangkat kedua tangan dengan gembira. Padahal aku hanya perlu mengubahnya sedikit saja, tetapi dikagumi sejauh ini membuatku merasa agak malu.

 

Yah, kalau sudah diucapkan sekali, Nanami juga pasti bakal merasa puas.

 

"Kalau begitu..."

 

Tepat saat aku hendak mengucapkannya, Nanami mendadak mendekat secara perlahan. Eh, apakah ini sesuatu yang perlu dilihat dari jarak sedekat ini? Terlebih lagi, dia menatapku dengan mata yang sangat berbinar-binar.

 

Padahal ini bukan hal yang begitu menarik, tapi kenapa dia sampai... Ah ya sudahlah, mari kita lontarkan saja secara perlahan...

 

"Aah..."

 

Perlahan... perlahan...

 

Masih belum? Masih belum?—dengan gestur seperti itu, Nanami sedikit memiringkan kepalanya. Namun saat menerima tatapan mata darinya, kata-kata itu anehnya tidak kunjung meluncur keluar. Malahan, keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhku.

 

"Batal deh, tidak jadi."

 

"Eeeh~?"

 

Dengan ekspresi yang jelas-jelas terlihat kecewa... tidak, Nanami yang memang benar-benar kecewa kini melengkungkan alisnya ke bawah dan memasang raut wajah muram.

 

Aku tidak menyangka dia akan sekecewa ini, jadi aku merasa agak terkejut.

 

"Ternyata, mengubah kata ganti orang pertama itu mendatangkan rasa malu yang lebih besar dari dugaan, ya."

 

Padahal tadi aku sempat mempertanyakan apakah hal itu memalukan atau tidak, tetapi saat giliran menimpa diri sendiri, pemikiranku rasanya sangat egois atau semacamnya...

 

Ada pepatah yang bilang bahwa membayangkan dan merasakan langsung itu berbeda, jadi aku harap dia bisa memaklumiku.

 

"Padahal cuma mengubah cara memanggil sedikit saja, kan..."

 

"Kalau begitu, apakah Nanami juga bisa menyebut diri sendiri menggunakan nama?"

 

"...Sepertinya tidak bisa."

 

Meskipun terkesan seperti mengalihkan topik pembicaraan, Nanami pada akhirnya bisa menerima hal itu. Namun kasus Nanami kan terjadi karena dia sendiri yang merasa malu lalu mengubahnya secara sukarela. Jadi sebenarnya situasinya agak berbeda dengan kasusku... Apakah dia tidak menyadarinya karena kujadikan sebagai syarat pertukaran?

 

Jujur saja, aku merasa caraku ini agak sedikit licik. Akan tetapi, seperti yang kukatakan tadi, aku tidak menyangka akan seragu ini untuk mengubah kata ganti orang pertama. Kukira aku bisa mengucapkannya dengan jauh lebih mudah.

 

Ore... Ore, ya...

 

"Tapi tunggu, bukankah kasusku dan kasus Youshin itu agak sedikit berbeda...?"

 

Ah, dia menyadarinya.

 

Kukira dia tidak bakal menyadarinya sampai akhir, tetapi yah, kalau Nanami sih tentu saja bakal sadar. Pengalihan topik: gagal.

 

Sambil memanyunkan pipinya dengan imut seakan menyuarakan protes, Nanami memegang bahuku lalu perlahan menggoyang-goyangkan tubuhku dengan posisi seperti sedang memijat bahu.

 

Leherku yang hanya bisa pasrah mengikutinya bergoyang ke depan dan ke belakang secara patah-patah.

 

"Duh, padahal aku ingin sekali mendengar kamu bilang 'Ore'..."

 

"...Ke-Kenapa sih kamu ingin sekali membuatku bilang 'Ore'?"

 

"Sebaliknya, kenapa sih kamu enggan sekali mengucapkannya~?"

 

Yah, kalau ditanya begitu, aku memang jadi kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Bukannya aku memiliki penolakan yang jelas, melainkan cuma merasa agak malu saja.

 

Selain itu, mungkin karena aku merasa interaksi seperti ini terasa cukup menyenangkan. Debat kecil saling mendesak seperti 'mau' dan 'tidak mau' begini bukankah terasa menyenangkan?

 

Apakah cuma aku saja yang berpikiran begitu? Tapi entah mengapa, aku merasa hal ini hanya berlaku khusus saat berinteraksi dengan Nanami saja, sih.

 

"...Memang sih, interaksi seperti ini terasa agak menyenangkan."

 

Ah, semuanya malah terucap keluar dari mulutku.

 

Tidak, aku sungguh tidak sengaja mengucapkannya.

 

Sambil meluncurkan tangannya yang tadinya memegang bahuku ke arah depan, Nanami melingkarkan tangannya di leherku lalu memelukku dari belakang. Sebuah posisi yang biasa disebut back hug.

 

Mung.

 

Sensasi yang seakan menyuarakan efek suara empuk tersebut terasa saat Nanami menekankan tubuhnya... atau lebih tepatnya, dua tonjolan berlimpah miliknya ke punggungku.

 

Entah dia melakukannya secara sadar atau tidak, yang jelas punggungku terasa sangat empuk.

 

Empuk dan hangat.

 

Meskipun terhalang pakaian, kelembutan yang kenyal itu meresap jelas ke punggungku. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang terpancar dan merembes masuk ke dalam diriku dari titik tersebut.

 

Uwah, luar biasa.

 

Siapa ya dulu yang bilang kalau kata tiruan bunyi 'mung' itu kalau diubah ke huruf kanji artinya 'tanpa dada'? Efek suara dan sensasinya sama sekali tidak cocok... tidak, lagipula kanji itu kan tidak pernah digunakan dan hal itu cuma lelucon belaka, kan?

 

Karena terlalu panik dari yang kubayangkan, hal-hal semacam itu malah berputar-putar di dalam kepalaku. Isinya cuma pikiran kacau belaka.

 

"Tiba-tiba kenapa...?"

 

"Emm...? Mendadak ingin memeluk saja..."

 

"Nempel, lho."

 

"Memang kusengajakan nempel, kok."

 

Terima kasih banyak.

 

Bukan, jangan berterima kasih, diriku! Atau lebih tepatnya, sudah lama sekali aku tidak mendengar kalimat itu. Kapan terakhir kali, ya? Dulu juga pernah kan, dia bilang kalau dia memang sengaja menempelkannya.

 

Nanami kali ini sepertinya sama sekali tidak berniat menjauh setelah mengatakan bahwa dia sengaja menempelkannya, justru dia malah makin menekan bagian yang menempel di punggungku itu lebih dalam lagi. Tekanan itu terasa begitu kuat seolah-olah hendak amblas masuk ke dalam tubuhku.

 

Apakah tidak sakit, ya... aku sempat khawatir, tetapi Nanami memakai pakaian dalam, kan? Kenapa rasanya anehnya... sangat lembut? Tidak, dia pasti memakainya, kan?

 

Eh?

 

"Alasanku ingin kamu menyebut dirimu 'Ore' itu ya~"

 

"Eh...?!"

 

Padahal diriku sudah tidak fokus lagi pada topik tersebut, namun tanpa memedulikannya, Nanami mulai berbicara sehingga fokusku terpaksa ditarik kembali ke sana. Tidak, serius deh, ini benar-benar kelebihan informasi.

 

"Bukannya ada alasan yang sangat besar atau bagaimana sih... Tapi begini, sebentar lagi kita kan bakal pergi berlibur ke pemandian air panas, kan?"

 

"Iya. Benar, kita bakal pergi... cuma berdua saja, tapi apa hubungannya dengan kata ganti orang pertama...?"

 

"...Aku kan terkadang memakai gaya pakaian (style) yang agak kalem, kan? Seperti memakai kacamata, atau gaun terusan (one-piece). Pakaian yang tingkat keterbukaannya rendah."

 

Kalau dipikir-pikir, saat pertama kali kita bertemu di luar dulu pun penampilannya memang seperti itu, ya. Waktu itu kalau tidak salah... aku menyelamatkannya dengan gaya yang sangat tidak keren dari pria pemuda penggoda.

 

Tingkat keterbukaan... kalau dipikir-pikir, saat dia berpakaian gaya gal pun sebenarnya tidak bisa dibilang terlalu terbuka, tetapi tetap saja bagian bahunya terlihat atau bagian pusarnya kelihatan... Cukup berani, sih.

 

Fakta bahwa aku berpikir tingkat keterbukaannya tidak seberapa menunjukkan kalau kepekaanku sendiri mungkin sudah sedikit tumpul.

 

Lalu, apa hubungannya gaya pakaian seperti itu dengan kata ganti orang pertamaku?

 

"Nanami memakai pakaian apa pun tetap cocok dan kelihatan imut, kok. Walau akhir-akhir ini memang lebih sering pakai gaya gal, sih."

 

Akhir-akhir ini saat kencan, dia memang cukup sering memakai pakaian gaya gal, dan kesempatan untuk melihatnya memakai gaya pakaian yang anggun dan santai seperti waktu itu memang jadi lebih jarang.

 

Beberapa waktu lalu aku sempat bertanya, "Kenapa?"... dan sepertinya pakaian gaya gal membuat pria-pria penggoda tidak terlalu berani mendekat dibanding pakaian yang anggun.

 

Bagi diriku sendiri, aku berpikir kalau penampilan gaya gal justru bakal lebih sering digoda, tetapi bagi Nanami tampaknya malah sebaliknya; gaya pakaian yang anggun justru yang lebih sering mengundang pria penggoda mendekat.

 

Dia sempat bilang, mungkin karena kelihatan gampang diintimidasi, atau mereka berpikir bisa memaksakan kehendak walau agak kasar sekalipun. Apa memang seperti itu, ya?

 

Para pria penggoda itu juga harusnya punya nyali lebih dong. Cobalah dekati yang kelihatannya lebih sulit... walau ya, menuntut keberanian dari seorang pria penggoda juga tidak ada gunanya, sih.

 

Atau lebih tepatnya, kalau mereka malah makin tertantang, upaya Nanami memakai pakaian gaya gal bakal jadi sia-sia, kan. Ya, intinya aku berharap tidak ada yang menggoda secara paksa.

 

Terakhir kali Nanami digoda saat berpakaian gaya gal itu... kalau tidak salah waktu di night pool, kan?

 

Tapi waktu itu kan situasinya memang khusus karena berada di night pool. Meskipun begitu, kalau pembicaraan soal pria penggoda ini diungkit, aku jadi sedikit cemas untuk pergi berlibur. Aku jadi teringat kejadian saat di night pool dulu.

 

Aku harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak membiarkan Nanami seorang diri. Lagipula ini liburan kami berdua.

 

"Untuk liburan kali ini, aku berpikir untuk memakai gaya yang itu. Soalnya, ketimbang gal yang sangat mencolok, anak yang kelihatan anggun pasti bakal membuat pihak penginapan lebih tenang, kan?"

 

"Aah... begitu rupanya..."

 

Sering ada pepatah yang bilang jangan menilai seseorang dari penampilannya, namun sayangnya, di dunia ini lebih banyak kesempatan di mana kita dinilai berdasarkan penampilan.

 

Bagi orang-orang yang sudah mengenal kita dengan baik, penampilannya seperti apa pun mereka pasti paham sifat asli kita, tetapi hal itu tidak berlaku bagi orang yang baru pertama kali bertemu. Apalagi untuk perjalanan liburan antaranak di bawah umur, mata yang mengawasi pasti bakal jauh lebih ketat, jadi penampilan yang memberikan kesan aman adalah hal yang sangat penting.

 

"Kalau soal pria penggoda, kamu tidak apa-apa?"

 

"Yah, karena kita berlibur bersama, aku tidak akan sering sendirian juga. Lagipula, kalaupun sampai terjadi hal terburuk dan aku digoda..."

 

"Calon digoda pun...?"

 

Atas pertanyaan ulang yang kulontarkan seperti burung beo, Nanami makin mempererat pelukan tangannya di leherku. Dia kelihatan agak malu-malu.

 

"Aku berpikir, apakah Youshin bakal dengan keren membantuku sambil bilang, 'Jangan sentuh wanitaku'..."

 

Rasanya aku baru saja memahami alasan kenapa dia ingin aku menyebut diriku 'Ore' lewat kalimat tadi.

 

Keinginan yang ternyata jauh lebih dipenuhi hawa nafsu daripada dugaanku muncul ke permukaan. Situasi apa itu, benar-benar seperti adegan di shoujo manga. Tidak, atau malah shounen manga?

 

"...Jangan-jangan, belakangan ini kamu lagi suka baca manga seperti itu?"

 

"Belakangan ini, di manga yang dibeli Saya..."

 

...Saya-chan, ya. Seperti biasa, Saya-chan yang sangat ingin punya pacar dikabarkan sedang rajin membeli dan memborong berbagai jenis manga remaja putri untuk dibaca. Dan Nanami ikut membacanya lalu terpengaruh oleh hal tersebut.

 

"Jadi alasan kamu ingin aku bilang... 'Ore' itu karena hal itu, ya..."

 

"Ya habisnya, aku ingin melihat sosok Youshin yang bertipe pemaksa seperti itu, tahu. Makanya, kubikir tidak ada salahnya kalau pas berduaan kamu coba bilang 'Ore'."

 

Bukan hal yang besar sih~—dengan raut malu-malu Nanami membenamkan wajahnya di punggungku. Memang benar sih, ini bukan masalah besar, tapi...

 

Meskipun begitu, kalimat 'Wanitaku', ya... Bukankah itu berada di peringkat pertama sebagai kalimat yang paling tidak cocok denganku? Bukankah pada dasarnya di dunia nyata tidak ada orang yang benar-benar mengucapkan kalimat seperti itu?

 

"Bukankah kita jadi ingin melihat berbagai macam sisi dari orang yang kita sukai?"

 

"Begitu, ya..."

 

Meskipun aku masih kurang paham soal keinginan agar aku menyebut diriku 'Ore', tetapi perasaan ingin melihat berbagai macam sisi dari orang yang disukai bisa kupahami dengan sangat baik.

 

Bagaimanapun juga, aku selalu bisa melihat berbagai macam sosok Nanami.

 

Nanami versi gal, Nanami versi anggun, Nanami yang ber-cosplay... Nanami yang memakai baju renang, atau yang terkesan... seksi... dan masih banyak lagi.

 

Sebaliknya, bagiku yang dilihat oleh Nanami, aku selalu menjadi diriku yang biasa. Karena aku tidak begitu paham soal fesyen, penampilanku tidak banyak berubah dan cenderung begitu-begitu saja.

 

Jika dia ingin melihat berbagai sisi baru, mungkin mengubah penampilan secara drastis bakal membuat orang yang melihatnya tidak merasa bosan.

 

Jika di liburan berikutnya dia memakai pakaian seperti itu... tapi tunggu, kalau Nanami memakai fesyen tipe anggun dan aku memakai fesyen bertipe pemaksa (meskipun aku sendiri tidak yakin apakah cocok disebut begitu)...

 

Yup, kalau dibayangkan pemandangannya bakal kelihatan parah banget. Mengesampingkan apakah fesyen semacam itu cocok untukku atau tidak, kami malah bisa-bisa ditolak secara halus saat mau menginap.

 

Yah, walau penampilanku tidak berubah dan terkesan biasa saja, untuk liburan nanti pakai pakaian normal saja deh...

 

Mmm? Tapi tunggu dulu, bukankah itu artinya?

 

"Apakah itu artinya, kamu mulai bosan denganku yang biasa ini?"

 

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa sengaja.

 

Sebenarnya tidak ada maksud yang begitu mendalam dari kalimat itu. Kata 'bosan' hanya kebetulan terlintas di dalam kepalaku, dengan maksud sekadar ingin mencoba variasi suasana baru saja.

 

"Eh...?"

 

Padahal cuma kata-kata sependek itu, namun Nanami memperlihatkan raut wajah yang sangat syok... seolah-olah dunia baru saja kiamat.

 

Tangan yang tadi melingkar memelukku kini terlepas, dan kehangatannya menghilang seketika.

 

Saat aku menoleh... Nanami sedang menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.

 

Padahal baru beberapa saat yang lalu dia tersenyum gembira, tetapi perubahan drastis itu justru membuatku ikut ketakutan. Wajah seseorang yang benar-benar bisa berubah pucat pasi kini memenuhi benakku.

 

Perubahan drastis itu membuat dadaku terasa amat sakit.

 

"Bu... Bukan! Bukan, bukan, bukan begitu!! Sama sekali bukan...!!"

 

Mendengar nada suaranya yang seperti itu, dadaku makin terasa makin sakit lagi. Bukan suara bahagia yang biasa kudengar, melainkan suara yang mengekspresikan keputusasaan mendalam meluncur seketika sebagai bantahan dari Nanami.

 

Belum pernah ada kata "Bukan" dari Nanami yang merasuk begitu dalam ke dalam hatiku sampai seperti ini.

 

Biasanya saat Nanami melakukan kesalahan sendiri atau saat dia bertingkah imut, bantahannya terkesan menggemaskan... namun kali ini nadanya terdengar sangat pilu.

 

Kata bantahan yang terucap bertubi-tubi... Ini pertama kalinya aku mendengar suara Nanami yang begitu terdesak seperti ini. Nada suaranya pun jauh lebih rendah dari biasanya. Dia benar-benar sedang membantahnya dengan sungguh-sungguh.

 

Hanya karena aku mengucapkan hal yang tidak perlu...

 

"Maaf, bukan begitu, bukannya aku bosan pada Youshin... bukan begitu... Walau ini terdengar seperti alasan, tapi..."

 

Suara Nanami yang kian mengecil perlahan-lahan mulai terdengar bergetar.

 

Apakah dia mendadak mau menangis? Tidak, aku paham, aku paham kok. Jangan mengeluarkan suara sesedih itu, dong.

 

Aku pun jadi ikut merasa sedih. Mengapa suara sedih dari orang yang kita sukai bisa membuat dada kita sendiri terasa begitu sesak dan teremas?

 

Oleh karena itu, aku... merengkuh dan memeluknya secara perlahan.

 

Guna menangkannya, bagaikan menenangkan seorang anak kecil, kubawa tubuhnya ke dalam pelukanku. Entah hanya perasaanku saja atau bukan, tubuh Nanami terasa sangat dingin.

 

Meskipun aku sudah mengatakan tidak apa-apa, sepertinya kata-kataku tadi jauh lebih mengejutkan baginya dari dugaanku sehingga suaranya masih tetap lesu. Tubuhnya pun sedikit bergetar.

 

Padahal aku tidak memikirkannya sama sekali, tetapi Nanami sampai secemas ini... Atas perbedaan persepsi tersebut, aku sendiri pun merasa agak sedikit terkejut.

 

Padahal aku selalu berusaha menyampaikan segala hal lewat kata-kata dengan sebaik mungkin, tak disangka justru ada jebakan semacam ini. Sungguh, sekali lagi kutegaskan, aku memang sudah mengucapkan hal yang tidak perlu.

 

Saat aku melingkarkan tangan ke punggungnya dan memberi sedikit tekanan, Nanami memelukku erat sembari menggesekkan tubuhnya ke dadaku. Kelihatannya dia tidak menangis, tetapi meski begitu dia tetap bergeming tanpa suara.

 

Saat kami saling memeluk satu sama lain, tenaga Nanami yang tadinya memeluk secara lemah lembut perlahan-lahan mulai makin menguat... makin kuat... tidak, cengkeraman tangan Nanami mendadak jadi kuat banget?!

 

Eh, apa-apaan ini? Ada tenaga yang amat dahsyat di punggungku... Uwoh... ini rasanya agak sesak. Sebesar itulah rasa syok yang dialami Nanami, tapi kan...?!

 

Eh? Dibandingkan dipeluk, bukankah ini malah lebih mirip kuncian saba-ori (kuncian mematahkan pinggang)?! Apakah ini yang dinamakan rasanya dijepit ragum...?!

 

Ba-Bahaya... Per... Pertama-tama aku harus menenangkan Nanami dulu...

 

Entah mengapa, saat punggung ditahan seperti ini, seluruh tubuh jadi amat sulit untuk digerakkan. Bergeraklah, tubuhku... bergeraklah... buat Nanami merasa tenang...

 

Aku menggerakkan tanganku secara perlahan, mengangkat sedikit tangan yang melingkar di punggungnya. Lalu dengan tangan itu, aku... menepuk-nepuk punggung Nanami. Bagaikan menidurkan anak kecil, aku menepuknya pelan.

 

Ba... Baiklah, kalau cuma sejauh ini masih bisa kugerakkan. Sisanya, aku harus mengucapkan sesuatu untuk menenangkannya... tapi... suaraku... sulit sekali keluar... Lagipula napasku... tidak bisa dihirup...?

 

Tunggu dulu, seberapa kuat kamu mengerahkan tenaga, Nanami? Padahal aku merasa sudah lumayan melatih fisikku, tapi ini seriusan bahaya banget. Perasaanku saja atau memang ada suara krek-krek dari tulangku? Apakah cuma ilusi?

 

Lagipula... kenapa napasnya bisa dihembuskan tapi tidak bisa dihirup? Bagaimana maksudnya ini? Jangan-jangan, titik vital tertentu di tubuhku sedang ditekan secara tepat?!

 

Berjuanglah, diriku...!!

 

Sembari menyemangati diri sendiri dan menepuk-nepuk pelan punggung Nanami... aku mengucapkan kata-kata guna menenangkannya, membisikkan bahwa semua baik-baik saja, sungguh tidak apa-apa.

 

Suaraku sendiri memang berubah menjadi sangat lemah, tetapi hal itu justru memberikan efek positif hingga tenaga di tangan Nanami perlahan-lahan mulai mengendur. Dan tepat saat tenaga Nanami terlepas sepenuhnya... aku tanpa sadar ambruk terduduk.

 

"Eh?! Youshin?!"

 

Ti-Tidak apa-apa. Aku memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja dengan melambaikan tangan tanpa bisa mengeluarkan suara untuk menenangkan Nanami. Tapi serius deh, kenapa aku sampai berlutut seperti karakter di komik pertarungan begini, sih?

 

Mungkin karena aku tadi kurang waspada... mari anggap saja begitu.

 

Nanami yang panik melihatku mendadak berlutut langsung mengambilkan teh dingin dan merawatku, tetapi karena dia juga penyebab utamanya, rasanya jadi seperti tindakan pahlawan kesiangan...

 

Yah walau bagaimanapun, ini memang berawal dari kesalahanku juga, sih.

 

Setelah agak tenang, kami duduk berdampingan di atas ranjang. Nanami sepertinya juga sudah mulai tenang dan tampak jauh lebih berpikir jernih dibanding tadi.

 

"Benar juga ya, ucapan tadi memang bisa ditangkap seperti itu..."

 

"Tidak, maaf ya. Aku juga mengucapkannya terlalu santai tanpa berpikir panjang."

 

"Bukan, aku yang salah... Lagipula mana mungkin aku bisa bosan pada Youshin."

 

"Kalau soal itu, aku juga sama..."

 

Baik aku maupun Nanami, begitu sudah mulai meminta maaf pasti tidak akan bisa berhenti. Kami saling melemparkan permohonan maaf... perang permohonan maaf seolah-olah telah dimulai.

 

Untuk beberapa saat kami terus saling meminta maaf, namun di sini pun sisi buruk kami—atau lebih tepatnya ketidakterbiasaan kami—jadi makin terlihat jelas.

 

Kami berdua tidak punya pengalaman bertengkar yang wajar, jadi kami sangat lemah dalam situasi seperti ini. Meskipun sudah saling meminta maaf dan memaafkan, kami jadi bingung di mana harus menyelesaikannya.

 

...Bisa dibilang ini adalah akibat dari diriku yang selama ini tidak pernah melakukan komunikasi yang benar dengan orang lain. Kapan terakhir kali aku mengalami hal yang mirip pertengkaran seperti ini... apakah sejak pertama kali aku bekerja paruh waktu?

 

Tidak, ini bahkan tidak bisa disebut pertengkaran. Kondisi di mana kami saling melempar maaf seperti ini... jujur saja sulit disebut sebagai kondisi yang sehat.

 

Karena setelah itu kami masih terus saling meminta maaf...

 

"Yup, mari kita hentikan sampai di sini saja."

 

Sembari tetap dipeluk olehnya, aku menepuk kedua tanganku dengan nyaring untuk menghentikan perang permohonan maaf ini secara setengah memaksa. Aku bisa merasakan cengkeraman tangan Nanami yang memelukku mendadak makin erat.

 

"Aku sudah paham kalau kamu ingin melihat berbagai macam sisi dari orang yang kamu sukai, dan karena kita berdua sama-sama punya kesalahan... ke depannya mari kita lebih berhati-hati lagi, ya."

 

Nanami sepertinya masih belum sepenuhnya merasa puas, tetapi jika membahas masalah ini lebih lanjut, ujung-ujungnya kami cuma akan kembali saling melempar maaf lagi.

 

Aku jadi sangat paham bahwa sepatah kata yang terlontar begitu saja bisa melukai perasaan satu sama lain. Dan aku juga paham bahwa menjaga agar tidak melukai itu adalah hal yang sangat sulit.

 

"Yah, kalau sampai melukai, mari kita berusaha untuk memperbaikinya..."

 

"Benar, aku juga akan lebih berhati-hati..."

 

"Lalu soal... aku yang ambruk tadi, itu murni karena pelukanmu terlalu kuat saja, kok..."

 

"Eh... apakah tenagaku sekuat itu...?"

 

"Luar biasa kuatnya... Aku sampai mengira organ dalamku mau melompat keluar..."

 

Tidak, serius deh, dari bagian mana pada tubuh kurus ini tenaga sebesar itu berasal? Kenyataan bahwa dirinya memiliki tenaga yang begitu kuat membuat Nanami tampak agak malu.

 

Saat aku sedang menenangkan Nanami yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menunduk malu, tiba-tiba saja dia berguling dan berbaring telentang di tempat itu.

 

Lalu, bagaikan seekor anjing yang menyerah, dia memperlihatkan perutnya dan membiarkan keempat anggota tubuhnya terhampar sembari bergumam pelan.

 

"...Kalau begitu, tolong beri aku hukuman."

 

"Dari mana kamu belajar kata-kata seperti itu?"

 

Awalnya kubilang aku tidak akan memberinya hukuman, tetapi karena dia kelihatan belum puas... aku pun menaruh tanganku di perutnya bagaikan memperlakukan seekor anjing... lalu mulai mengusap-usap perutnya.

 

"Uhyaa...?!"

 

"Kalau begitu, aku akan... memberimu hukuman, ya."

 

Aku menyentuh perut Nanami dari luar pakaiannya, mengusapnya, memijatnya... dan bermain-main dengan lembut di perut Nanami bagaikan mengelus anjing ras besar.

 

Sembari memprotes bahwa itu geli, Nanami menerima hal tersebut sambil tertawa terbahak-bahak dengan gembira.

 

Aku pun tanpa sadar jadi ikut gembira, dan terus bermain-main di perut Nanami tanpa memedulikan meskipun Nanami sudah berteriak, "Sudah, ampuni aku!".

 

Aku benar-benar sudah kelewat batas karena kesenangan.

 

"Duh!! Padahal aku sudah bilang hentikan, tahu!!"

 

"?! "

 

Nanami yang mengamuk mendadak menerjang ke arahku. Padahal sampai tadi aku berpikir dia mirip anjing ras besar, tetapi wujudnya saat ini adalah kucing... seekor kucing yang sangat besar...

 

Ngomong-ngomong, harimau atau singa itu kan juga tergolong kucing besar, ya. Dalam wujud Nanami yang seperti itu, aku memikirkan hal tersebut secara samar-samar.

 

Diriku pada saat ini sama sekali tidak punya cara untuk mengetahuinya. Bahwa di perjalanan liburan pemandian air panas yang akan kami jalani nanti... dari sekian banyak kemungkinan, justru dirikulah yang malah digoda oleh wanita lain seperti di topik pembicaraan tadi, dan Nanami akan ngamuk... ngamuk secara tenang.

 

Jika cara mengamuknya saat itu disebut sebagai amukan secara dingin, maka yang kali ini adalah amukan secara panas.

 

Aku yang tidak tahu apa-apa ini, bagaikan hewan herbivora yang tidak bisa melarikan diri... akhirnya dimangsa oleh Nanami yang telah berubah menjadi seekor harimau.

Tamat





Previous Chapter | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close