NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 12 Chapter 5

Chapter 5

Malam, Bulan, dan Handuk Mandi


"Kalau begitu tinggal masuk jadi menantu di keluargaku saja, kan?"

 

"Bukan begitu masalahnya...!"

 

Kami berdua, yang telah dibuat berkeringat dalam berbagai arti, kini berjalan menuju pemandian umum besar (daiyokujo)... alias onsen.

 

Kami masih mengenakan pakaian biasa dan belum berganti dengan yukata penginapan. Baju yang agak basah ini terasa kurang nyaman, tetapi kami baru akan berganti pakaian setelah membersihkan keringat. Walaupun kami sudah mengelapnya sampai batas tertentu menggunakan handuk yang disediakan, sih. Bagaimanapun juga, fakta bahwa kami benar-benar dimarahi oleh nakai-san adalah sebuah kenyataan.

 

Ya, walau kami tidak dalam kondisi bertelanjang dan masih dalam batas bercanda...

 

Pelanggan sekalian, hal semacam itu agak... lagipula Anda berdua masih di bawah umur...

 

Begitu beliau berkata demikian, kami tidak punya kata-kata untuk membantah. Posisi mount tadi memang tidak bagus, apalagi saat Nanami sedang meremas dadaku... meremas?

 

Fakta bahwa dia sedang melakukannya di momen tersebut adalah hal yang sangat gawat.

 

"Harusnya tadi kita kunci saja pintu kamarnya, ya."

 

"Atau lebih tepatnya, kita yang bersalah karena terlalu asyik sampai tidak menyadari ketukan pintu..."

 

Yah, jadi begini kronologinya...

 

Nakai-san datang ke kamar, lalu karena tidak ada jawaban saat mengetuk pintu, beliau membuka pintu geser (fusuma) kamar dan mendengar suara dari dalam seperti orang sedang berselisih atau bergulat...

 

Beliau yang merasa cemas akhirnya menyaksikan kejadian tersebut secara langsung.

 

Yah, bukannya berselisih, melainkan aku yang diremas, yang berujung jadi tebakan kata yang tidak bermutu.

 

"Tapi, tidak menyangka ya kalau kita malah dapat bonus makan malam."

 

"Sangat disyukuri... lagipula di paket awal kita kan memang tidak ada makan malamnya."

 

Karena ini juga merupakan bagian dari permohonan maaf atas kekeliruan reservasi, kami menerimanya dengan senang hati. Oleh karena itu, nanti malam kami tidak perlu keluar dan bisa makan di dalam kamar.

 

Mengingat paket ini memang mencakup sarapan, aku juga menantikan esok pagi, tapi makan malam di ryokan, ya... Seperti apa bentuknya, aku jadi sangat penasaran.

 

"Pemandiannya... terpisah, ya."

 

"Tentu saja terpisah... Tidak, sepertinya ada juga pemandian keluarga (kazokuburo), sih."

 

Mana mungkin kami menyewa pemandian pribadi... lagipula fakta bahwa ada rotenburo di kamar saja sudah aneh.

 

Pada dasarnya, kami kan sudah menyerah untuk masuk bersama karena Nanami tidak membawa pakaian renang. Bahkan seandainya menggunakan pemandian keluarga pun, masuk bersama adalah hal yang mustahil. Fakta bahwa Nanami menyampaikan hal-hal seperti ingin masuk bersama... sepertinya karena dia menikmati obrolan semacam itu.

 

Bukan berniat untuk benar-benar masuk, melainkan menikmati percakapan dengan andaikan masuk bersama. Bukan kucing Schrödinger, melainkan pemandian campur Schrödinger...

 

Tidak, perumpamaan kucing Schrödinger rasanya agak kurang tepat. Itu kan eksperimen pikiran. Kalau didengar oleh orang yang paham, pasti bakal dikoreksi.

 

"Kira-kira apa saja ya khasiat dari pemandian air panas ini?"

 

"Khasiat mempercantik kulit atau meredakan lelah, bukankah hal-hal semacam itu yang standar?"

 

Selain itu ada juga untuk nyeri sendi, nyeri otot... serta efek relaksasi. Seingatku hal-hal seperti ini biasanya tertulis di papan penjelasan sebelum masuk ke pemandian air panas.

 

"Hari ini kita sudah jalan-jalan wisata dan banyak berjalan kaki jadi terasa lelah, ya. Memijat kaki di dalam pemandian air panas sepertinya enak juga..."

 

"Kalau kamu bilang dari tadi, aku kan bisa memijatkannya untukmu. ...Ternyata tadi bukan waktunya buat meremas dada, ya?"

 

"Memang benar, daripada dada aku lebih ingin dipijat kakinya, sih..."

 

Ugh... ingatan tadi... kepalaku... Jangan, jangan diingat-ingat lagi wahai diriku.

 

Peristiwa tadi yang hanya bisa dideskripsikan sebagai momen saat aku diluluhlantakkan oleh Nanami sebaiknya ditutup rapat-rapat ingatannya. Jika tidak, hal itu bisa memicu berbagai masalah rumit.

 

"Kalau begitu, setelah selesai mandi mari kita saling memijat satu sama lain~"

 

"..."Apakah aku juga bakal memijat Nanami? Maksudku memijat... apakah boleh...?"

 

Padahal baru saja dimarahi, apakah saling memijat satu sama lain itu aman dilakukan?

 

Jika terlihat lagi, kali ini pasti tidak akan selesai hanya dengan teguran biasa...

 

...Tidak, lagipula kami tidak berniat melakukan hal yang tidak-tidak, kok.

 

"Yah, kalau cuma memijat... bukankah tidak apa-apa?"

 

"Untuk sementara, hal itu kita tunda dulu saja..."

 

Sembari membicarakan hal tersebut, kami akhirnya sampai di area pemandian air panas. Tirai penutup (noren) bertuliskan 'Pria' dan tirai bertuliskan 'Wanita' berada di lokasi yang sedikit terpisah.

 

Tentu saja tempatnya dipisah antara pria dan wanita. Karena posisinya agak berjauhan, aku dan Nanami berpisah di sini.

 

"Menyingkap tirai noren seperti ini, rasanya menyenangkan, ya."

 

Padahal secara ruangan tempat ini tersambung dan hanya dipisahkan oleh selembar kain, tetapi hanya dengan menyingkapnya saja terasa seolah-olah kita sedang melangkah masuk ke dunia yang berbeda. Aku cukup menyukai sensasi tersebut. Diriku yakin anak laki-laki pasti menyukai hal semacam ini. Apakah perumpamaanku terlalu luas, ya?

 

"Hmm... aku tidak begitu paham... Ah, khasiat pemandian air panasnya tertulis di sini, lho."

 

Sembari merasakan sedikit rasa sepi karena tidak dipahami oleh Nanami, pandanganku beralih ke papan kayu besar yang ditemukan Nanami di antara pemandian pria dan wanita.

 

Di papan kayu besar itu tertulis asal-usul serta khasiat dari pemandian air panas ini. Sejarah berdirinya ryokan ini pun tertulis di sana, memperlihatkan papan yang terasa kental akan nilai sejarah.

 

Bisa mengenal sejarah dari daerah yang asing juga merupakan kenikmatan utama dari perjalanan wisata... Namun yah, aku tidak tahu seberapa banyak hal yang bisa kuingat nantinya.

 

Meski begitu, melihat pengetahuan sesaat seperti ini lalu meresapi atmosfer pada momen tersebut adalah hal yang bagus. Walau menurutku ini adalah cara menikmati hal yang sangat merakyat, sih.

 

Nah, mengenai khasiat pemandian air panasnya... Seperti dugaanku ada khasiat mempercantik kulit... tampaknya bagus juga untuk penyakit kulit serta neuralgia. Efek menjaga kehangatan tubuhnya tinggi dan di atas itu semua ada berbagai khasiat lain, lalu...

 

"Kesuburan..."

 

Suara gumaman pelan Nanami terdengar. Di situ, langkahku pun terhenti seketika.

 

Mengecap kata kesuburan di pemandian air panas rasanya agak kurang menyambung, tetapi tampaknya pemandian air panas ini memiliki khasiat semacam itu...

 

Nanami yang membisikkan hal itu melirik ke arahku dari samping. Karena aku juga sedang menatap Nanami hanya dengan lirikan mata, pandangan kami saling bertemu dengan sangat pas.

 

Entah mengapa, kami saling bertukar pandang lalu mengembalikan pandangan ke papan kayu tersebut. Aku sama sekali tidak menyangka bakal merasakan perasaan semacam ini sebelum masuk ke pemandian air panas.

 

"Yah... kalau setelah selesai mandi kita tidak melakukan hal semacam itu..."

 

"I... Iya, benar juga, ya. Iya..."

 

Meskipun kalimat tersebut adalah ucapan penenang yang kukeluarkan karena merasa harus mengatakan sesuatu, rasanya ucapan itu tidak terlalu berfungsi sebagai penenang dari yang kubayangkan.

 

Suara suasana menjadi makin aneh secara tidak perlu, hingga keringatku bercucuran. Untunglah, setelah ini aku akan masuk ke pemandian air panas sehingga keringat ini bisa sekalian dibersihkan.

 

"K-Kalau begitu, Youshin... sampai nanti, ya."

 

"Ah... iya, sampai nanti... Nanti mandi yang tenang dan santai, ya."

 

"Di pemandian kesuburan...?!"

 

Bukan, aku tidak bermaksud begitu...!! pikirku, namun sebelum sempat memberikan alasan, Nanami sudah keburu pergi menuju pemandian wanita dalam suasana yang memicu canggung tersebut.

 

Sama sekali tidak disangka... kalau pemandian ini punya khasiat kesuburan. Waktunya benar-benar buruk, mengingat tepat sebelumnya kami baru saja dimarahi karena melakukan hal yang tidak-tidak.

 

Apakah sebaiknya perasaan ganjil ini kubilas saja bersama air panas...?

 

Sembari memikirkan hal tersebut, aku pun melangkah menuju ke pemandian pria.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Segarnya setelah selesai mandi itu membuat jiwa dan raga terasa sangat rileks. Benar-benar membuat timbul ilusi seolah-olah diriku sendiri telah diperbarui menjadi sosok yang baru.

 

Walau secara realistis, ungkapan yang lebih tepat mungkin bukannya menjadi baru, melainkan telah selesai menjalani perawatan.

 

Pembersihan total jiwa dan raga... mungkin begitulah makna pemandian air panas. Rasanya sungguh menyenangkan bisa berendam di pemandian yang memungkinkan kita meluruskan kaki, hal yang tidak bisa dilakukan di pemandian biasa rumah.

 

Tidak juga, sih, di pemandian rumah pun sebenarnya kaki sendiri masih bisa diluruskan. Namun, sensasi kebebasannya terasa jauh berbeda.

 

Pemandian air panasnya juga tidak terlalu ramai, sehingga aku bisa menikmati waktu untuk memulihkan rasa lelah dari perjalanan dengan santai.

 

Saat ini aku sedang berteduh menikmati angin sejuk sembari menunggu Nanami selesai mandi.

 

Mungkin berkat khasiat pemandian air panasnya, tubuhku terasa hangat dan kehangatannya bertahan cukup lama. Kalau asal bergerak sedikit saja, keringat rasanya bakal kembali mengucur.

 

...Kalau berkeringat tinggal masuk mandi lagi saja, kan.

 

Sambil duduk di area istirahat dekat pemandian air panas, aku memandangi area sekeliling. Rombongan orang tua dan anak, pasangan suami istri lanjut usia, sekelompok wanita muda, hingga rombongan sesama laki-laki...

 

Para tamu dari berbagai kalangan terlihat hilir pulang kampung pergi ke pemandian air panas, kembali ke kamar masing-masing dari sana, atau membeli minuman.

 

Semuanya tampak gembira, dan orang-orang yang baru keluar dari pemandian air panas pun memiliki rona wajah yang segar dan tampak berseri-seri. Apakah pemandian air panas ini merupakan hal yang unik dan khas Jepang? Ketika ada fasilitas seperti ini, aku benar-benar merasa bersyukur terlahir di Jepang...

 

Nah, apa yang sebaiknya kulakukan selagi Nanami masih berada di dalam pemandian air panas? Bagaimana kalau coba pergi ke game corner? Atau, mencoba menikmati minuman hangat sambil... Tidak, hal itu sebaiknya dilakukan setelah Nanami datang saja. Kami bisa menikmati susu kopi hangat bersama setelah selesai mandi.

 

Kalau begitu, pilihan terbaik memang pergi ke game corner, ya...

 

"Permisi..."

 

Game corner... Walau tidak ada gim retro, rasanya ada mesin permainan claw machine atau mesin sejenis pachinko. Selain itu... mungkin ada air hockey?

 

Air hockey boleh juga, tuh. Aku ingin main air hockey bersama Nanami. Permainan semacam itu kan sudah jadi hal yang standar. Bermain air hockey bersama Nanami yang mengenakan yukata...

 

Di ryokan pemandian air panas, terkadang ada juga meja tenis meja (pingpong), ya. Meski tampaknya di tempat ini tidak ada, sih. Apakah Nanami punya pengalaman main tenis meja, ya...

 

"Permisii~? Boleh minta waktunya sebentar~?"

 

"Mmm?"

 

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar.

 

Nada suaranya terdengar seperti sedang menyapa seseorang, agak melengking... khas suara wanita muda.

 

Saat aku bertanya-tanya kepada siapa dia bicara...

 

"Onii-san, sendirian saja, ya~?"

 

"Kami lagi senggang nih, mau ngobrol sebentar tidak~?"

 

"Atau mau... mampir minum ke kamar kami~?"

 

...Hah?

 

Di sana berdiri 3 orang wanita muda yang mengenakan yukata. Dan tampaknya, orang yang sedang diajak bicara oleh mereka adalah diriku.

 

Kenapa orang-orang ini malah mengajakku bicara? Meskipun terlihat muda, apakah usia mereka sedikit lebih tua dariku?

 

Semuanya mengenakan yukata dari penginapan, namun masing-masing memiliki gaya busana yang sedikit berbeda... gaya pemakaiannya agak dibuat santai dan sedikit terbuka.

 

Anu...?

 

"Apakah... kalian sedang berbicara denganku?"

 

Rombongan wanita itu mengiyakan sambil memperlihatkan atmosfer yang tampak gembira. Malah salah satu di antaranya berbisik, "Panggilan 'Boku' ternyata lucu banget, ya."

 

Eh? Apakah sebutan kata ganti 'Boku' itu tergolong lucu? Kenapa?

 

Saat aku sedang agak kebingungan, para wanita itu terus mengajukan pertanyaan bertubi-tubi kepadaku.

 

"Soalnya kelihatan lagi santai banget~"

 

"Jadi kami pikir mau ajak main bareng~"

 

Tubuh mereka meliuk-liuk dengan ganjil, dan suara mereka pun dibuat-buat melengking... alias suara yang dibuat manja. Tinggi badan mereka... mungkin sedikit lebih tinggi dariku?

 

Orang-orang bertubuh tinggi itu menunduk dan menatapku dari bawah. Karena posisi tubuh mereka membungkuk, kain yukata yang mereka kenakan pun tampak melonggar.

 

Apa-apaan ini? Apakah mereka kenalan Nanami? Tidak mungkin, kan.

 

"Bukan, aku bukannya sedang santai... melainkan sedang menunggu temanku..."

 

"Datangnya sama teman, ya~? Kalau begitu, ajak saja temannya sekalian~"

 

"Kami kan bertiga nih, jadi kalau cuma dua orang masih bisa kami temani, kok~"

 

Bukan teman, melainkan aku datang bersama pacarku.

 

Baru saja aku hendak mengatakannya, namun gelombang perkataan mereka yang deras tidak kunjung berhenti. Sama sekali tidak ada celah bagiku untuk menyela pembicaraan.

 

"Ternyata badannya lumayan berotot, ya, keren banget."

 

"Bagian yang tersingkap sedikit itu kelihatan agak seksi, lho."

 

Eh? Seksi? Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal semacam itu padaku. Apalagi, mereka malah mencoba untuk menyentuhku.

 

Saat aku refleks menghindar, mereka malah melontarkan celetukan seperti "Wah, malu-malu tuh~" atau "Lucu banget~".

 

Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini?

 

Karena merasa sangat asing hingga aku hanya bisa ternganga melamun, entah bagaimana para wanita itu mengartikan reaksiku, namun mereka tertawa senang. "Boleh kan kalau kami main ke kamarmu?"

 

"Kalau minum sake, rasa tegangnya bakal mencair, lho~ Berbagai hal juga bisa jadi lebih bebas..."

 

"Kyaa, berani banget! Tapi, Onii-san lucu sih, jadi boleh-boleh saja~?"

 

Sambil memegang kain yukata mereka, para wanita itu terus melontarkan hal-hal aneh. Entah mengapa, ada diriku yang menyaksikan mereka dengan tatapan dingin dari suatu sudut.

 

Tidak, bagaimana, ya. Ada faktor bingung dan belum bisa memahami situasi saat ini, sih.

 

Mmm... ini sebenarnya harus disikapi bagaimana, ya?

 

Rasanya aku mulai agak jengkel karena terlalu kebingungan. Lagipula, kenapa cara bicara orang-orang ini diseret-seret begitu.

 

...Eh, mendadak jadi hening?

 

Tampaknya rentetan serangan verbal mereka akhirnya mereda, jadi sepertinya ini giliranku untuk bicara. Para wanita itu berdiam diri seolah menunggu jawaban dariku. Akhirnya, aku bisa bicara juga.

 

...Tepat saat aku berpikir begitu, sebuah suara terdengar.

 

"Youshin...?"

 

Dari belakang rombongan wanita tersebut. Suara Nanami. Bergema dengan nada yang sangat rendah, pelan, dan... terasa begitu berat.

 

Aku menemukan Nanami dan melambaikan tangan padanya, tetapi Nanami bersedekap tangan di bawah dadanya, berdiri dengan gestur tegap bagaikan patung Nio.

 

Ooh, apakah dia sedang sangat tidak senang? Tidak, alih-alih tidak senang... apakah dia sedang memancarkan aura intimidasi?

 

Melihat reaksinya, Nanami memperlihatkan ekspresi yang agak kaku, lalu mengarahkan tatapan tajamnya ke arah kami... lebih tepatnya ke arah para wanita itu.

 

Menerima tatapan Nanami yang seperti itu... aku bisa mendengar para wanita itu menarik napas... huk... secara mendadak.

 

Luar biasa, hierarki seolah-olah langsung terbentuk dalam sekejap. Seluruh kata-kata dari para wanita yang tadinya begitu menggebu-gebu mendadak lenyap tanpa sisa. Mereka bertiga bahkan saling merapat sambil menatap Nanami. Perasaanku saja atau mereka memang sedikit gemetar, ya.

 

...Entah mengapa, aku seperti melihat ilusi pemandangan antara pemangsa dan pihak yang dimangsa. Kucing dan tikus, burung dan ikan, beruang dan ikan salmon... hubungan kekuasaan semacam itu.

 

Yah, kalau sudah tenang begini baguslah.

 

"Maaf, aku datang ke sini bersama pacarku... jadi aku permisi dulu..."

 

Saat aku berjalan memutari para wanita itu untuk mendekati Nanami, Nanami mengerutkan alisnya sambil menghela napas panjang. Ekspresinya seolah berkata yah, mau bagaimana lagi.

 

Tidak, maaf, maaf. Karena rentetan ucapan mereka begitu menggebu-gebu, aku jadi kewalahan...

 

Nanami yang bersedekap dengan tangan di bawah dada... entah mengapa dadanya jadi kelihatan agak menonjol, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja, ya. Dia kelihatan agak mirip model yang berpose seperti itu.

 

Saat aku mengulurkan tangan, sambil mengerutkan alis seolah belum bisa menerima keadaan, dia tersenyum getir... tetapi tetap mau menggenggam tanganku. Mungkin berkat efek pemandian air panas, tangan Nanami terasa sangat hangat.

 

Sambil bergandengan tangan seolah saling menyalurkan suhu tubuh, kami mulai berjalan untuk mencari tempat beristirahat. Para wanita yang memperlihatkan kami sepertinya membiarkan kami lewat begitu saja. Semangat menggebu-gebu mereka tadi sebenarnya apa, ya?

 

Ah, benar juga...

 

"Lalu, kami berdua masih di bawah umur, jadi kalau soal alkohol... rasanya tidak bisa."

 

"Eh...?"

 

Saat melewatinya, aku menyampaikan penolakan dengan sopan, dan mereka tampak sangat panik. Dari mulut mereka terdengar bisikan-bisikan kecil seperti "Di bawah umur...?", "Peraturan daerah...?" dan sejenisnya.

 

Mmm... sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan, ya?

 

Saat aku memiringkan kepala sambil menatap ke arah mereka, tanganku ditarik. Sambil berkata "Ayo pergi", Nanami sedikit membusungkan pipinya. Meskipun selalu kuanggap mirip kucing, sosok Nanami saat ini terlihat seperti anjing ras besar yang menuntun pemiliknya untuk jalan-jalan.

 

Setelah itu kami berpindah ke area istirahat dan duduk di salah satu sudut ruangan...

 

"Aduh!! Kok bisa-bisanya Youshin digoda wanita lain!!"

 

"...Aa... jadi yang tadi itu namanya digoda (nanpa), ya?"

 

Di situlah Nanami baru mengekspresikan rasa jengkelnya secara terang-terangan lalu menungkupkan wajahnya ke atas meja.

 

Aku sendiri baru menyadari bahwa kejadian tadi adalah aksi nanpa.

 

Tidak, serius... karena hal semacam itu sangat asing bagiku, aku sama sekali tidak menyadarinya. Merespons perkataanku, Nanami mendadak bangkit berdiri lalu menganga.

 

Ooh... Nanami memperlihatkan sorot mata yang jarang sekali kulihat. Itu adalah ekspresi yang baru pertama kali kulihat, dan saat ditatap dengan pandangan menembus begitu, aku pun dibuat agak terkejut. Namun, setelah mengedipkan matanya beberapa kali, Nanami tampak berpikir sejenak... lalu menghela napas pelan seolah bisa memahaminya.

 

"Benar juga, ya... Youshin kan memang tidak terbiasa digoda begitu..."

 

Pernyataan tidak terbiasa digoda, kalau didengar kembali rasanya ungkapan yang unik juga, ya.

 

Yah, fakta bahwa aku memang tidak terbiasa dengan hal semacam itu memang benar, sih.

 

"Lagipula... aku berpikir bahwa kemungkinan diriku digoda wanita lain itu pada dasarnya memang tidak ada."

 

Atau lebih tepatnya, kenapa para wanita tadi malah sengaja menggoda orang sepertiku? Bukankah orang-orang semacam itu biasanya lebih suka menggoda tipe laki-laki yang populer? Menggoda orang yang benar-benar tertutup dan pemalu sepertiku ini... Mungkinkah hal semacam itu sedang tren belakangan ini?

 

Namun tampaknya hal itu tetap membuat Nanami merasa sedikit, sedikit kurang bisa menerima.

 

"Polos, kamu terlalu polos, Youshin!! Youshin itu tidak sadar akan daya tarik dirinya sendiri...!!"

 

"Rasanya dulu kita pernah membicarakan hal yang mirip... tapi, dengar ya, mana mungkin kejadian semacam itu bisa menimpaku di tempat liburan begini."

 

Soalnya kalau ada yang digoda, aku yakin pasti Nanami orangnya.

 

Tidak, soalnya kalau sampai ada petunjuk ke arah sana, bukankah jalurnya memang begitu? Bahkan sempat terbahas dalam percakapan sebelumnya.

 

Pembahasan soal kata ganti diri saja persis seperti itu...

 

"Lagipula, kenapa kamu tidak bilang 'aku sudah punya pacar' lalu kabur? Tadi kalian bicara apa saja, sih~?"

 

Ah, Nanami mulai menatapku dengan mata picik yang mirip dengan gaya Shirishizu-san. Meskipun rasa tidak senangnya tidak sesengit saat dia bersedekap tadi, sih.

 

Tetapi tetap saja, membuat pacarku memperlihatkan wajah seperti ini di tempat umum adalah hal yang membuatku merasa bersalah.

 

"Aku sudah berniat bilang 'aku datang bersama pacarku', tapi karena gempuran ucapan mereka yang bertubi-tubi, aku tidak dapat celah untuk menyela... sampai Nanami datang..."

 

Tidak, sungguh, ada pepatah yang bilang bahwa 3 wanita berkumpul saja sudah ramai bagaikan pasar, dan situasi tadi benar-benar merefleksikan hal itu. Atau lebih tepatnya, Nanami kan juga terkadang berkumpul bersama Otofuke-san atau Kamoenai-san, tetapi mereka tidak sampai terasa seramai dan sebising itu.

 

Apakah gaya tadi merupakan standar wanita di luar sana?

 

"Lalu soal hal yang dibicarakan juga... cuma sebatas diajak main bareng atau diajak minum bareng... kalau dipikir-pikir lagi, dari pihakku sendiri hampir tidak ada bicara apa pun, sih..."

 

Ya, bahkan kalau kuingat-ingat sekarang pun, aku cuma diajak bicara secara sepihak dan tidak mengatakan hal berarti apa pun. Atau lebih tepatnya, memang tidak ada kesempatan untuk bicara, sih...

 

"Kalau begitu, apa lagi yang mereka katakan padamu?"

 

"Tidak kok, tidak ada hal khusus..."

 

"Masa sih...? Soalnya mereka tadi kelihatan heboh sendiri..."

 

Heboh sendiri... memang benar sih. Aku sendiri kan tadi malah ditinggalkan tanpa tahu apa-apa. Kalau ingat hal yang mereka katakan...

 

"Mereka cuma bilang aku lucu atau seksi, begitu...?"

 

Hanya sebatas itu yang disampaikan, dan ucapan itu terasa sangat tidak cocok untukku.

 

Yah, bukan berarti tidak ada kata-kata lain yang diucapkan, tapi... eh...

 

Nanami tampak ternganga kebingungan.

 

"...Bahkan setelah dibilang begitu, kamu sama sekali tidak tersipu malu?"

 

"Eh? Kenapa?"

 

Memangnya ada alasan buat tersipu malu...? Lagipula pujian mereka rasanya sangat aneh dan membingungkan... justru terasa ganjil...

 

"Aduh, kalau Oto-nii atau orang lain yang ada di posisi itu, pasti sudah tersipu malu berat, lho? Malah bisa-bisa dia malah keasyikan ngobrol lalu panik waktu Hatsumi datang."

 

"Eeh...? Souichirou-san padahal sudah punya pacar, kan? Kalau sudah punya pacar, mana boleh bersikap begitu ke wanita lain..."

 

"Ya memang sih, kalau situasi begitu biasanya dia bakal bertengkar sama Hatsumi, bahkan kalau apes bisa sampai adu fisik..."

 

"Wajar saja sih... eh, adu fisik?"

 

"Mengingat Oto-nii itu petarung, anggap saja itu bagian dari fanservice, jadi mau bagaimana lagi..."

 

Seram amat, apa mereka berdua sering bertengkar sejauh itu? Tapi kalau laki-laki sampai tersipu ke wanita lain, wajar saja kalau akhirnya begitu. Katanya daya cemburu itu memang luar biasa kuat.

 

Aku pun kalau sampai melihat Nanami tampak terpikat atau tersipu ke laki-laki lain... ya, jelas aku juga tidak suka. Justru karena tidak suka, mana mungkin aku memperlihatkan sikap seperti itu kepada wanita lain, kan.

 

"Meski begitu, bukankah laki-laki pada umumnya bakal tersipu kalau dipuji atau digoda oleh kakak cantik seperti tadi?"

 

"Yah, mungkin itu... karena aku sendiri tidak punya pengalaman seperti itu?"

 

Perkataan wanita-wanita tadi juga tidak begitu membekas di hatiku.

 

Memang benar mereka memujiku, tapi terasa sangat dangkal... Rasanya jauh berbeda bila dibandingkan dengan perasaan saat dipuji oleh Nanami.

 

"Emm... meski agak terlambat, mungkin aku baru sedikit memahami apa yang dikatakan guru UKS saat di Hawaii dulu."

 

Meskipun terlihat menyimpan perasaan rumit, Nanami menghela nafas lega.

 

Ucapan guru UKS saat di Hawaii dulu... apa ya? Ah, soal... bagian kegelapan di dalam diriku atau semacamnya, ya?

 

Soalnya semua orang pasti membawa bebannya masing-masing. Bukan berarti cuma aku yang spesial.

 

Walau jujur saja, aku sendiri tidak begitu merasakannya.

 

Entah apa yang dipikirkannya, tidak seperti biasanya Nanami tersenyum getir lalu mengulurkan tangannya padaku. Tatapannya saat itu terasa seperti tatapan seorang ibu yang sedang memperhatikan anaknya.

 

Nanami mengulurkan tangannya lalu mencubit hidungku, memainkannya pelan dengan jarinya. Diraih hidungnya secara mendadak begini rasanya sungguh ganjil.

 

Untuk sementara, aku biarkan saja dia melakukan sesukanya.

 

"Bukan kapasitasku buat bilang begini sih... tapi walau kamu sedikit tersipu ke orang lain, aku tidak akan marah, kok. Tidak apa-apa, tahu?"

 

"...Bukannya aku tidak tersipu karena takut dimarahi Nanami, lho."

 

"Tapi ya terlepas dari itu, kalau kamu sampai tersipu aku tetap bakal kesal sih."

 

"Sebentar, jangan membuat kontradiksi dalam hitungan detik dong?"

 

Kontradiksi tercepat apa ini. Aku sampai kaget, kukira ingatan Nanami mendadak hilang. Begitu singkatnya rentang waktu menuju kontradiksi tersebut.

 

Yah, lagipula aku sama sekali tidak ada niat buat tersipu ke wanita lain, sih...

 

"Kenapa malah melontarkan pernyataan yang bertolak belakang begitu...?"

 

"Sebagai pasangannya, aku ingin Youshin tumbuh dengan sehat, tapi di luar itu, kalau kamu sampai bergairah ke wanita selain aku, tentu saja secara naluri wanita aku bakal kesal."

 

Logika macam apa itu, menggabungkan sudut pandang ibu yang mengawasi tumbuh kembang anak dengan sudut pandang pacar yang merepotkan sekaligus. Lagipula, apakah saat ini aku tidak tumbuh dengan sehat?

 

"Tapi ya, dibilang Youshin itu lucu dan seksi... aku agak paham sih."

 

"Eh, kamu paham...?"

 

"Khusus untuk Youshin, aku adalah wanita yang sangat paham."

 

Mendadak dia merasa sangat paham.

 

Sembari memproklamirkan diri sebagai wanita yang paham, Nanami melepaskan tangannya dari hidungku, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah untuk menutupi mulutnya. Dia malah mengambil pose mirip seorang komandan.

 

Tiba-tiba saja, matanya seperti berkilat tajam. Padahal dia sedang tidak memakai kacamata, tapi kacamata di dalam hatinya seolah terlihat jelas. Apa coba maksudnya kacamata di dalam hati.

 

"Pertama, cara memanggil diri dengan sebutan 'Boku' itu lucu. Wajah saat tertawa juga lucu. Kadang saat malu-malu juga lucu, apalagi saat manja padaku itu lucu banget. Bagian yang agak kekanak-kanakan itu juga..."

 

O-ooh... dia terus-menerus menyebut kata 'lucu' secara beruntun.

 

Sebentar, orang-orang tadi kan cuma bilang cara memanggil diri dengan sebutan 'Boku' itu lucu, tidak sampai menyebutkan banyak hal begitu...

 

Nanami yang tak terhentikan terus mendesakku dengan rentatan kalimat yang tak kalah sengit dari rombongan wanita tadi.

 

"Kalau soal seksi, ya penampilan yukata-mu yang sekarang ini... Youshin kan belum terbiasa memakai yukata, jadi bagian tulang selangka yang mengintip sedikit, atau area dada... rasanya seksi banget... dalam keseharian pun..."

 

Sontak aku langsung menutupi bagian depan yukata-ku. Tidak, memang benar aku tidak terbiasa memakai yukata, tapi aku tidak pernah melihat dari sudut pandang seperti itu...

 

Melihat tulang selangka dan area dada laki-laki... apakah menyenangkan?

 

"Buatku sangat menyenangkan."

 

Dia mengatakannya dengan wajah yang sangat mantap.

 

B-Begitu, ya...

 

Tapi soal penampilan dengan yukata... benar juga, penampilan dengan yukata.

 

Sejak Nanami keluar dari pemandian air panas suasana begitu riuh, sampai-sampai aku merasa belum sempat memperhatikan penampilan yukata Nanami.

 

Meski ini yukata dari penginapan, sih. Lagipula waktu kami pergi berlibur bersama sebelumnya dia juga pernah memakainya. Tapi, rasanya tidak mungkin kalau aku tidak memuji penampilannya yang berbeda dari biasanya. Atau lebih tepatnya, aku ingin memuji Nanami yang tampak menggemaskan dalam balutan yukata.

 

Setelah puas bercerita, aku menatap Nanami yang sedang bertopang dagu dengan wajah puas. Tidak seperti biasanya dia bertopang dagu di atas meja sambil memiringkan tubuhnya. Penampilannya begitu indah bagaikan foto dari majalah gravure, hingga aku menatapnya lekat-lekat demi menyimpannya dalam ingatan. Meskipun ada ponsel yang bisa mengabadikan sosok Nanami saat ini dengan mudah, tapi entah mengapa saat ini aku tidak berniat mengarahkan ponsel padanya.

 

Foto dengan yukata bisa diambil nanti, tapi Nanami yang sekarang... ingin kusimpan di ingatan diriku saja.

 

Kulitnya yang memerah hangat setelah keluar dari pemandian air panas tampak berseri dan berkilau berkat khasiat air panas yang mempercantik kulit. Rona wajahnya membaik, kedua pipinya merona merah bagai mawar, dan bibir tipisnya yang berwarna merah muda tampak begitu cerah.

 

Rambutnya saat ini tidak disanggul ke atas, melainkan terurai biasa. Meskipun terurai, helaian rambut yang jatuh di sekitar pipinya memberikan kesan yang sangat anggun dan menawan.

 

Tadi Nanami menyindirku bahwa yukata-ku agak terbuka, padahal yukata Nanami sendiri juga sedikit tersingkap... hingga tulang selangkanya terlihat dari sisinya.

 

Saat dadaku berdesir melihat tulang selangka itu, sudut mulut Nanami terangkat dan menyunggingkan senyum tipis. Seolah-olah dia tahu ke mana arah pandanganku...

 

Untunglah karena dia memaikainya dengan benar, bagian dadanya tidak terlihat... justru membuatku merasa lega.

 

"Ya, Nanami yang memakai yukata terlihat sangat menggemaskan."

 

"...Mau kuperlihatkan sedikit sebagai bonus?"

 

Mungkin karena senang dipuji, Nanami memegang ujung bawah yukata-nya lalu memainkannya dengan menepuk-nepukkannya.

 

Sambil merasa sedikit was-was melihat gerakannya yang terlihat seperti akan tersingkap namun tidak kunjung tersingkap...

 

"Wanita-wanita tadi juga melakukan hal seperti itu... tapi rasanya agak kurang sopan, ya..."

 

Bagaimanapun juga, yukata itu harus dipakai dengan rapi, dan saat tidak sengaja tersingkap, gerak-gerik malu-malu itulah yang menurutku sangat penting...




Dan hal itu pun berlaku dengan premis bahwa hal tersebut dilakukan oleh orang yang kita sukai. Kalau orang yang sama sekali tidak kita rasakan apa-apa yang melakukannya, rasanya cuma terlihat berantakan dan tidak rapi...

 

Lho? Gerakan Nanami mendadak terhenti?

 

"Fuu~nn... Yang tadi itu juga begitu, ya..."

 

"Anu... Nanami-san?"

 

"...Jadi, yang dari orang-orang tadi sempat kamu lihat?"

 

"Tidak, aku sama sekali tidak melihat apa-apa..."

 

Aneh, padahal baru saja selesai dari pemandian air panas, tapi kenapa mendadak merinding begini, ya...

 

Tiba-tiba saja aku dibuat gemetar oleh semacam hawa dingin yang terpancar dari Nanami. Namun hal itu pun segera mereda, dan karena Nanami mengajak untuk minum susu, kami akhirnya pergi ke kedai penginapan bersama-sama.

 

Karena aku sudah jujur bilang tidak melihatnya, apakah Nanami sudah bisa menerima hal itu?

 

Begitulah pikiran optimis yang sempat terlintas di benakku. Fakta mengenai apa yang sedang dipikirkan Nanami saat itu baru kuketahui... tidak lama setelah kejadian ini.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Selesai dari pemandian air panas, minum susu kopi, bermain di game corner bersama Nanami, lalu kami kembali ke kamar.

 

Sudah berapa tahun ya sejak terakhir kali aku bermain air hockey?

 

Ada juga kejadian standar seperti yukata yang tersingkap... terutama padaku, sih.

 

Serius, karena aku sangat tidak terbiasa memakai yukata, yukata-ku sampai tersingkap dan berada dalam kondisi seksi. Tapi Nanami malah memujiku. Katanya, karena kamu rajin melatih tubuh, penampilannya jadi kelihatan bagus...

 

Sebaliknya, Nanami dengan mahir membenahi kerapian pakaiannya setiap saat, jadi yukata-nya sama sekali tidak tersingkap. Fakta bahwa kami sampai sedikit berkeringat padahal baru selesai mandi air panas adalah sebuah kekeliruan perhitungan, tetapi karena dia mengajak mandi lagi setelah makan malam, aku memutuskan untuk menyetujuinya.

 

Katanya, pemandian terbuka di malam hari yang gelap gulita pasti pemandangannya sangat indah...

 

Ya, aku memang ingin mencoba mandi di saat seperti itu.

 

Saat mandi tadi juga sudah gelap, sih, tapi masih agak temaram... alias sedikit terang. Tepat di momen sebelum matahari terbenam... terasa seperti suasana senja (tasogaredoki). ...Ungkapanku sudah tepat, kan?

 

Begitu tiba kembali di kamar, kami kebetulan berpapasan dengan nakai-san. Beliau menanyakan, Apakah makan malamnya sudah boleh diantarkan ke kamar?

 

Karena ditanya begitu, kami meminta beliau untuk mengantarkannya.

 

Sambil menantikan hidangan seperti apa yang akan disajikan... makanan yang diantarkan ternyata jauh lebih mewah dari dugaanku.

 

"Uwah... kelihatannya enak sekali..."

 

Nanami menatap hidangan yang disajikan di atas meja dengan mata berbinar-binar. Tidak, hidangan seperti ini memang pantas ditatap dengan mata berbinar-binar, sih. Benar-benar luar biasa.

 

Hasil laut, hasil pegunungan, daging di dalam panci kecil (konabe)... bahkan ini... kepiting?! Eh? Makan malam dengan tambahan kepiting, mewah banget ini mah.

 

Hasil lautnya terdiri dari sashimi, rebusan udang, dan ada juga tempura. Hasil pegunungannya berupa rebusan sayur campur (takiawase), serta yang ada di dalam gelas ini sepertinya parutan ubi gunung (yamaimo). Selain itu, ada berbagai macam hidangan piring kecil (kobachi) yang menyertainya.

 

Daging dan panci kecil ini... apakah ini sukiyaki? Ada tahu, daun bawang, shirataki... dan irisan daging tipis yang ditata di atas piring terpisah. Dan puncaknya adalah kepiting berwarna merah cerah... satu ekor utuh... Kelihatannya bisa langsung disantap begitu saja.

 

"Untuk orang dewasa mungkin lebih cocok dengan minuman beralkohol... namun ini adalah jus sebelum makan."

 

Yang disajikan adalah cairan berwarna jingga di dalam gelas yang anggun. Katanya ini adalah jus yang dibuat menggunakan sayuran dan buah-buahan lokal. Selain itu, diletakkan pula teh oolong dalam kemasan botol serta jus jeruk.

 

"Setelah Anda berdua selesai makan, kami akan membawakan pencuci mulut, jadi silakan hubungi kami jika memerlukan sesuatu."

 

Para nakai-san yang menyajikan makanan memberi hormat, lalu menutup pintu geser (fusuma) dengan posisi tubuh yang tetap membungkuk sopan.

 

Wah... bahkan sampai dapat hidangan penutup... bukankah ini terlalu mewah...?

 

"Untuk saat ini... ayo kita bersulang dulu."

 

"Iya, ayo, ayo! Youshin, sampaikan sepatah kata dong~"

 

Serangan permintaan mendadak yang tidak masuk akal pun datang. Eh? Sepatah kata apa yang harus kukatakan? Mmm... mungkin ucapan yang paling cocok untuk situasi kami saat ini adalah ini, ya...?

 

"Untuk perjalanan liburan pertama kita yang berduaan saja, bersulang."

 

"Bersulaaang~"

 

Gelas-gelas kaca saling beradu pelan, menggemakan suara nyaring di sekeliling kami. Aku menyesap jus di dalam gelas, lalu meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk. Katanya ini jus sayuran, tetapi rasa asam dan manisnya terasa sangat menyegarkan tanpa ada aroma langu sayuran sedikit pun... Rasa nikmatnya jauh melampaui jus kemasan kaleng biasa.

 

Apakah rasa asamnya lebih dominan daripada manisnya? Aroma buah sitrusnya seakan membangkitkan selera makan. Makanan yang tertata di atas meja rasanya bakal bisa kulahap sampai habis.

 

"Tapi... kalau pilihannya sebanyak ini, jadi bingung ya mau makan yang mana dulu."

 

"Memindahkan sumpit kesana-kemari itu melanggar tata krama, kan? Tapi kalau bentuknya begini... jelas saja bakal bingung, ya..."

 

Seingatku yang melanggar tata krama itu adalah menggerak-gerakkan sumpit sambil kebingungan memilih. Berarti kalau cuma bingung dalam kondisi sekarang, sepertinya tidak melanggar tata krama.

 

Tapi serius... mau mulai dari mana, ya.

 

Untuk sementara nasi, lalu sup miso... yang mana, ya? Sepertinya mangkuk yang ada tutupnya ini. Saat kubuka... aroma kaldu yang harum langsung menyeruak menyegarkan hidung.

 

Nasinya berseri-seri berkilau, bulir demi bulirnya berdiri tegak berwarna putih bersih. Dengan lauk sebanyak ini, rasanya aku bisa menambah nasi berulang kali.

 

Sup misonya berisi tahu, lobak, dan wortel. Meskipun sederhana, di antara banyaknya hidangan mewah ini, sup miso yang sederhana justru terasa menenangkan di hati.

 

...Rasanya cuma dengan sup miso ini saja aku sudah bisa menghabiskan semangkuk nasi.

 

Sambil menikmati jajaran hidangan yang berpotensi membuat kami makan berlebihan ini, kami menyantap makan malam dengan tenang seolah memulihkan rasa lelah sepanjang hari.

 

"Untunglah kita berdua tidak pemilih makanan, ya..."

 

Yah, walaupun aku kurang suka daun ketumbar dan sejenisnya, bahan itu tidak ada dalam deretan menu kali ini. Sesuatu seperti agar-agar ajaib di dalam piring kecil ini juga rasanya enak.

 

"Ini enak banget, ya. Kira-kira aku bisa buat sendiri tidak, ya...?"

 

"Mau buat sendiri...? Memangnya kamu tahu bumbu-bumbunya?"

 

"Hmm... karena sudah ingat rasanya, nanti tinggal coba-coba... Ah, yang ini juga enak banget..."

 

Yang sedang dimakan Nanami adalah rebusan sayur campur (takiawase). Isinya memadukan umbi mawar (yurine), lobak, ubi keladi (satoimo), daging ayam, dan jamur shiitake.

 

Karena warna alami bahannya keluar dengan cantik, aku sempat mengira rasanya bakal cenderung hambar, tetapi ternyata rebusan kaldu dashi-nya meresap dengan sangat pas dan gurih, tanpa ada rasa yang kurang sedikit pun.

 

Cita rasa bahan alami dan bumbu masakan berpadu harmonis tanpa kelebihan maupun kekurangan. Itu adalah cita rasa khas koki profesional.

 

"Youshin, tolong bantu cicipi juga ya~"

 

"Soalnya aku tidak yakin apa bisa mengingat rasanya dengan tepat..."

 

Karena ini adalah cita rasa yang membuat orang ingin mencicipinya lagi, kalau Nanami sampai bisa membuatnya sendiri, tentu aku akan sangat bersyukur. Sepertinya aku juga harus ikut membantu...

 

Awalnya aku sempat ragu apakah bisa menghabiskan porsi sebanyak ini mengingat melimpahnya hidangan mewah yang tersaji, tetapi mungkin karena rasa lelah akibat jalan-jalan di siang hari, kami berdua sanggup melahap bersih seluruh hidangan tanpa sisa.

 

Pencuci mulut setelah makan adalah sup kacang merah manis (oshiruko). Meski sempat terpikir apakah hidangan ini bakal terasa agak berat setelah menyantap porsi sebanyak itu, tetapi pepatah yang mengatakan bahwa selalu ada ruang khusus di perut untuk hidangan manis memang benar adanya.

 

Manisnya terasa alami tanpa berlebihan, dan hidangan itu pun habis terlahap oleh kami.

 

Saat ini kami berdua sedang menikmati teh hangat setelah makan.

 

"Enak sekali..."

 

"Aku makan terlalu banyak..."

 

Begitu kami mendesah lega menenangkan diri, rasa kenyang langsung melanda seketika. Tidak, serius deh, mungkin karena terpengaruh suasana antusias berlibur juga, aku jadi makan jauh lebih banyak dari biasanya...

 

Perutku terasa sangat penuh dan mengencang... Nanami pun tampaknya merasakan hal yang sama, dia memegangi perut bagian bawahnya sambil terlihat agak malu. Mungkin bentuk perut Nanami saat ini sedang sedikit membusung bulat.

 

Kendati demikian...

 

"Entah mengapa, setelah menyantap hidangannya keringatku malah keluar lagi, ya..."

 

"Iya ya... Mungkin karena banyak makanan hangat dan penambah stamina?"

 

Apakah karena kami menyantap hidangan hangat di dalam ruangan yang hangat... baik aku maupun Nanami sama-sama berkeringat tipis. Fakta bahwa tubuh kami masih menyimpan hangat dari pemandian air panas tadi sepertinya juga menjadi salah satu alasannya.

 

Ini bukan keringat yang membuat tidak nyaman, melainkan jenis keringat yang terasa agak menyegarkan. Meski begitu, karena tadi kami juga sempat berkeringat saat bermain air hockey, aku jadi ingin berendam di pemandian air panas sekali lagi.

 

Nanami juga sempat bilang ingin masuk mandi sekali lagi... Lagipula rasanya menyenangkan juga jika bisa menikmati pemandian terbuka (rotenburo) sambil memandangi langit malam.

 

Yah, karena aku bakal masuk sendirian, cuma bagian itu saja sih yang terasa agak sepi.

 

"Kalau begitu, mau masuk ke pemandian air panas sekali lagi?"

 

"Emm... Benar juga ya, ayo kita masuk setelah mengistirahatkan perut sebentar..."

 

Bukankah langsung mandi tepat setelah makan itu tidak baik bagi tubuh...?

 

Karena Nanami langsung berbaring bertelungkup di tempat, aku hanya melontarkan gurauan bahwa berbaring tepat setelah makan bisa membuat orang berubah jadi sapi.

 

Nanami yang sedang berbaring malah mengangkat dadanya sendiri dengan satu tangan lalu berucap, "Moo~?"... Tindakan itu agak tidak sopan untuk dilakukan dalam balutan yukata, jadi hentikanlah...

 

Meski begitu, fakta bahwa pandangan mataku tidak bisa berpaling adalah hal yang cukup menyedihkan dari diriku.

 

Begitulah waktu berlalu saat kami berdua bermalas-malasan bersama... Momen santai setelah makan seperti ini tanpa disadari justru menjadi momen yang paling memancarkan rasa bahagia. Padahal aku selalu merasakan kebahagiaan di setiap kesempatan, sih.

 

Tanpa disadari Nanami sudah berbaring di sampingku, lalu membiarkanku menyentuh perutnya yang kekenyangan. Kami berdua juga sempat menelepon orang tua masing-masing, serta melakukan obrolan singkat dengan Baron-san dan yang lainnya...

 

Tepat di tengah-tengah momen bermalas-malasan yang berkedok mengistirahatkan perut itulah, ucapan tersebut terlontar.

 

"...Kalau begitu, sebentar lagi... mari kita masuk ke pemandian terbuka."

 

"...Apa?"

 

Lalu, tujuan yang diarah oleh Nanami... adalah pemandian terbuka (rotenburo) yang menyatu dengan kamar kami.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Tegang.

 

Hanya sebuah kata sederhana, namun saat ini tidak ada kata yang lebih cocok untuk mendeskripsikan diriku selain kata tersebut.

 

Aku tentu tahu kata itu secara kognitif, dan jarang sekali ada kebutuhan untuk mencari tahu kembali arti dari kata tersebut.

 

Alasannya karena hampir semua orang sudah memahami seperti apa kondisi yang dimaksud dengan tegang. Namun, aku dengan sengaja mencoba memastikan kembali seperti apa wujud dari ketegangan itu.

 

Apa sebenarnya arti dari rasa tegang.

 

Bagaikan bentuk pelarian dari kenyataan, aku sempat mencarinya sebelum tiba di tempatku berada saat ini... Katanya, tegang merujuk pada kondisi di mana jiwa dan raga berada dalam keadaan kaku terikat penuh tekanan. Bukan cuma jiwa, bukan pula cuma raga, melainkan kedua-duanya berada dalam kondisi yang saling mengencang.

 

Itu sangat menggambarkan diriku saat ini.

 

Aku bermonolog memahami kondisi diri sendiri.

 

Yah, waktu kucari arti dari kata mengencang kaku, yang muncul justru penjelasan mengenai kondisi tegang, jadi rasanya mirip teka-teki mana yang lebih dulu antara ayam atau telur. Namun terlepas dari hal itu, konsep mengenai kondisi mengencang kaku sangat mudah untuk dipahami.

 

Saat ini, jiwa dan ragaku berada dalam kondisi mengencang kaku tanpa tanding. Ibarat benang yang ditarik hingga batas maksimal... tidak, lebih mirip karet gelang, mungkin?

 

Dalam artian hampir putus setiap saat, perumpamaan karet gelang mungkin lebih tepat. Karet gelang yang ditarik hingga muncul keretakan pada bagian karetnya.

 

...Kembali ke topik utama, rasa tegang itu memiliki beberapa jenis.

 

Ada yang berasal dari kecemasan atau rasa takut, tantangan pada hal baru, hingga rasa antusias pada hari sebelum sebuah acara besar berlangsung.

 

Dengan kata lain, tindakan yang berbeda dari rutinitas harian adalah penyebab timbulnya rasa tegang, yang kemudian merusak keseimbangan jiwa dan raga.

 

Karena aku bukan seorang ahli, ini hanyalah pengetahuan sepotong-sepotong yang pernah kudengar, tetapi aku baru menyadari belakangan ini bahwa kondisi di luar rutinitas memang bisa merusak keseimbangan diri.

 

Orang-orang profesional atau ahli di bidang tertentu mungkin adalah tipe orang yang sudah terbiasa menjadikan kondisi tidak biasa ini sebagai rutinitas harian sehingga tidak lagi merasa tegang.

 

Atau mungkin, orang profesional adalah mereka yang mampu mengendalikan rasa tegang tersebut dengan baik. Begitu sulitnya menghilangkan rasa tegang itu dari dalam diri.

 

Rasa tegang yang kukeringkan saat ini... termasuk ke dalam jenis yang mana, ya? Sambil memikirkan hal tersebut, aku merendamkan tubuh ke dalam bak mandi.

 

"Padahal sedang berada di dalam air panas, tapi rasanya sama sekali tidak bisa santai..."

 

Aneh sekali, air panas yang seharusnya menjadi tempat paling menenangkan untuk rileks... justru membuat tubuhku terus-menerus tegang. Padahal menghangatkan tubuh seharusnya memberi dampak bagus bagi sistem saraf. Mungkin ini adalah indikasi bahwa diriku belum terbiasa dengan situasi tidak biasa semacam ini.

 

Apakah aku akan terus merasa tegang tanpa henti...?

 

Sembari merasakan sedikit penurunan suasana hati, aku menengadahkan kepala menatap ke atas.

 

Saat mendongak ke atas... bintang dan bulan tampak bersinar dengan indah. Setelah matahari terbenam, area sekitar menjadi gelap gulita, dan hanya pencahayaan dari kamar yang menerangi tempat ini. Mungkin karena posisinya berada di tempat yang cukup tinggi, pemandangan luar dari sini bisa terlihat jelas.

 

Penginapan ini menghadap ke arah danau, dan di sana tampak beberapa pijar cahaya. Sepertinya cahaya dari lampu kapal. Cahaya tersebut dan cahaya dari langit seakan-akan sama-sama memancarkan sinarnya ke arahku.

 

Malam ini... adalah malam bulan purnama.

 

"Bulannya indah ya... ucapan ini rasanya sudah terlalu sering dipakai sampai terdengar klise sekarang."

 

Bukankah itu adalah terjemahan dari ungkapan cinta?

 

Alasan kenapa kalimat itu tetap ingin diucapkan meski sudah terdengar klise, mungkin karena suasananya maupun pilihan katanya terasa begitu indah.

 

Kepak...

 

Sambil menggemakan suara air tersebut, aku mengeluarkan tanganku dari dalam air. Meskipun bak mandi ini cukup luas untuk meluruskan kaki... tetap saja rasanya tidak tenang.

 

Apakah yang tidak tenang ini perasaanku, atau tubuhku? Dua-duanya, sepertinya.

 

Aku menyandarkan tubuh secara perlahan di dalam bak mandi lalu mendongak menatap langit malam. Rasanya aku ingin mengapung santai di atas air tanpa memikirkan apa pun. Meski secara wujud nyata aku tidak bisa berbaring lurus karena dalam etika pemandian air panas rambut tidak boleh menyentuh air.

 

Dengan posisi tubuh yang sebisa mungkin pasrah merenggang, aku menatap ke arah langit malam.

 

Saat aku mencoba menenangkan pikiran sambil memandangi indahnya cahaya bulan...

 

Kriiek...

 

Suara derit pintu bergaung di sekeliling. Suara derit pintu itu terdengar beruntun, lalu seketika menjadi hening tanpa suara saat pintu tertutup. Dan menyusul setelah suara-suara tersebut, gesekan kain serta langkah kaki seseorang... langkah kaki yang membawa basah mencapai telingaku.

 

Ini... ya, mungkin, pasti begitu. Fakta bahwa aku mendengar suara selain diriku di tempat ini... artinya, mungkin, emm...

 

Tidak bisa, pikiranku tidak bisa fokus.

 

Suara itu perlahan-lahan mendekat, lalu berhenti tepat di belakangku.

 

"...Youshin."

 

Byurrr! Suara air yang cukup keras bergaung. Itu karena aku menggerakkan tubuh secara mendadak di dalam bak mandi, hingga membuat air bergejolak dan menimbulkan suara.

 

Pemilik suara itu... tentu saja Nanami.

 

Mendengar suara yang datang dari arah belakang tersebut, aku hanya bisa menjawab "Iya" tanpa sanggup menolehkan kepala.

 

Seperti apa penampilan Nanami saat ini. Karena dia datang ke pemandian terbuka, pilihannya tentu cuma satu, namun tetap saja... saat ini aku tidak punya cara untuk memastikannya.

 

Tidak, secara teknis sebenarnya ada jalannya. Aku hanya perlu memutar tubuh yang sedang berendam di bak mandi ini.

 

Lagipula, kenapa juga dari tadi aku sengaja merendam tubuh di pemandian dengan posisi membelakangi pintu?

 

Jawabannya sudah jelas, demi mempersiapkan mental. Namun persiapan mental itu pun sepertinya tidak terlalu berguna... Saat ini aku masih saja merasa tegang, dan belum sanggup menatap sosok Nanami.

 

Padahal jika aku memutarkan tubuh, hanya dengan tindakan sederhana itu, aku mungkin... bisa melihat seluruh sosok Nanami.

 

"...A... Aku permisi masuk, ya."

 

"I... Iya... Dingin, kan...? Cepat masuk ke sini..."

 

Meskipun ucapanku seperti sedang mengundangnya untuk segera masuk, saat ini kan sedang musim dingin, jadi sudah pasti rasanya sangat dingin.

 

Bahkan napas milikku yang sedang berendam di air panas saja mengembun putih. Uap dari air panas pun membumbung tinggi...

 

Seberapa dinginnya kulit Nanami yang berada di luar sana... Lagipula, kulitnya pasti... langsung terekspos tanpa pelindung. Atau mungkin dia mengenakan pakaian renang. Meskipun seingatku dia tidak membawa pakaian renang, bisa saja dia membelinya tanpa sepengetahuanku.

 

Suara langkah kaki peta-peta terdengar mendekat. Kehadiran Nanami pun... perlahan-lahan makin dekat. Rasanya dulu pernah ada cerita youkai yang berjalan dengan suara langkah kaki peta-peta seperti ini. Perasaanku persis seperti itu.

 

Tidak, Nanami tentu saja bukan siluman. Meski begitu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikiran demikian.

 

Walau begitu, Nanami tetap melangkah perlahan. Hebat sekali, padahal aku sendiri tadi... begitu keluar ke area luar langsung berlari kecil masuk ke dalam air karena merasa terlalu dingin. Kecepatan geraknya itu mencerminkan tingkat ketegangan yang dirasakan oleh Nanami.

 

Kepak... suara air yang mirip dengan yang kubuat tadi kembali bergaung. Nanami pasti sudah masuk ke dalam air.

 

Mungkin, pasti begitu.

 

"...Youshin, kamu boleh... menoleh ke sini sekarang..."

 

Tepat di belakangku, keberadaan Nanami terasa sangat dekat. Dan aku pun telah mendapatkan izin untuk menoleh. Kenapa bahasaku jadi seformal ini, sih.

 

"B... Boleh minta sedikit waktu lagi...? Soalnya... kalau tetap begini apa tidak boleh...?"

 

Aku sendiri menyadari betapa pengecutnya diriku saat ini. Hanya saja, aku butuh sedikit, sedikit waktu lagi.

 

"Boleh kok... Kalau begitu, tunggu sebentar, ya..."

 

Ada rasa janggal dari kata-kata tersebut. Bukannya 'tunggu ya' dalam artian aku yang disuruh menunggu... melainkan dialah yang bertindak. Apa maksudnya aku yang berada di pihak yang menunggu?

 

Saat aku bertanya-tanya, jawaban atas keraguan itu langsung datang tak lama kemudian. Di belakang punggungku... ada sentuhan hangat yang berbeda dari hangatnya air panas.

 

Suara air bergaung, menyuarakan kepakan air seolah-olah ada gerakan yang membelah air di dalam bak mandi. Dan kemudian, di punggungku... sesuatu menyentuh kulitku.

 

Mungkinkah ini dari arah depan...?! pikirku, namun sensasinya ternyata berbeda dari dugaanku.

 

Jika Nanami menempelkan tubuhnya dari depan ke punggungku, harusnya ada dua sensasi yang sangat besar dan lembut yang mendarat di punggungku, tetapi kali ini tidak begitu.

 

Meskipun terasa kelembutan, yang ada di sana hanyalah sedikit struktur keras serta sensasi kulit.

 

Apakah ini...

 

"Punggung...?"

 

"Tebakan yang tepat~ kamu paham betul, ya. Mungkinkah karena aku selalu menempelkan dadaku ke punggungmu, makanya Youshin jadi bisa membedakan variasinya?"

 

Meskipun dia mengoda dengan sebutan ahli, tentu saja perbedaan antara bagian depan dan punggung bisa kubedakan dengan jelas.

 

Yah, walau dalam berbagai macam arti, sih.

 

Meski Nanami mencoba mencairkan suasana dengan gurauan ringan, tingkat ketegangannya bisa kupahami secara jelas dari minimnya area tubuh yang bersentuhan.

 

Benar-benar hanya sebagian kecil dari area punggung kami yang saling menempel.

 

...Apakah aku benar-benar boleh menoleh ke arah Nanami?

 

Dalam posisi tersebut, aku dan Nanami melanjutkan percakapan dengan tenang seolah-olah untuk meredakan rasa tegang satu sama lain. Seperti membahas betapa menyenangkannya jalan-jalan hari ini, betapa enaknya makan malam tadi...

 

Bahwa setelah keluar dari pemandian ini kami bisa minum jus yang didinginkan di kulkas, atau keinginan untuk makan es krim... Obrolan-obrolan sederhana tanpa arah seperti itu.

 

Saat melanjutkannya dengan percakapan sehari-hari, sedikit demi sedikit rasa tegangku mulai mereda... mereda...

 

Tidak, aku sama sekali tidak bisa fokus pada percakapan.

 

Bagaimana ya, walau aku bisa merespons perkataannya, obrolan kami sama sekali tidak masuk ke dalam kepalaku. Aku malah memikirkan hal lain. Sensasi di punggungku, atau seperti apa wujud penampilan Nanami saat ini.

 

"...Bagaimana kalau sebentar lagi kamu menoleh ke sini?"

 

Nanami menunjukkan sikap yang sangat proaktif. Atau lebih tepatnya, dia tampak seperti sangat ingin membuatku menoleh.

 

Saat aku bertanya-tanya kenapa sampai sejauh itu... dari pihakku sendiri pun merasa agak sepi jika harus mengakhirinya dalam posisi saling membelakangi seperti ini.

 

Sisanya, hanya tinggal memanggil keberanianku saja.

 

Aku mengeluarkan tangan dari dalam air, lalu menepuk kedua pipiku dengan sekuat tenaga. Karena ada hambatan dari air, rasanya tidak begitu sakit, namun benturan tersebut cukup untuk menyadarkan diriku.

 

Tak hanya itu, aku memejamkan mata lalu menarik napas dalam-dalam.

 

Sembari menyerahkan diri pada hangatnya air pemandian, aku membayangkan sensasi oksigen yang menyebar ke seluruh tubuh lalu menghembuskan dan menarik napas dengan sangat dalam.

 

"...Baiklah."

 

Mendadak nyaliku sudah bulat. Dengan begini, aku akan menoleh.

 

Pada kenyataannya, butuh waktu sejenak setelah aku mengucapkan kata 'baiklah' tadi, namun Nanami yang menyadari bahwa aku akan menoleh mulai menjauhkan punggungnya. Lalu, aku memutarkan tubuhku secara perlahan... dalam posisi duduk di dalam air.

 

Seiring dengan perputaran tubuhku, pandanganku... dunia seakan ikut berputar. Berbagai pijar cahaya mengalir bagai garis di sudut mata, hingga akhirnya aku menghentikan putaran tubuh.

 

Tepat di depanku, ada sosok Nanami yang sedang membelakangiku.

 

Gadis yang sedang berendam di air panas itu hanya memperlihatkan bagian bahunya di luar permukaan air. Tetesan air yang meluncur turun di atas kulitnya yang mulus tampak berkilau memantulkan cahaya. Lengkungan dari leher menuju bahunya tampak begitu indah dan memikat mata... lalu saat aku menggeser pandangan perlahan ke bawah...

 

Lho? Di dalam air... ada sesuatu yang berwarna putih yang terlihat...?

 

"E-Ehehe... Sebenarnya kalau secara etika ini agak tidak boleh sih... tapi aku merasa sedikit malu..."

 

"Ah, ternyata kamu melilitkan handuk, ya..."

 

Entah mengapa, muncul perasaan rumit yang memadukan antara rasa kecewa dan lega... Namun rasa lega sepertinya jauh lebih dominan daripada rasa kecewa.

 

Dia membentengi dirinya dengan sangat rapat, mirip seperti para reporter atau idola di televisi saat masuk ke pemandian air panas.

 

Jika begini, situasi bisa dikatakan aman dan terkendali... walau tidak sepenuhnya, tetapi informasi secara visual menjadi terbatas. Jadi, mungkin begini saja sudah cukup. Namun pemikiran itu hanya bertahan sesaat. Tepat saat aku mendesah lega, Nanami mendadak berdiri dari posisinya.

 

"...Nanami?"

 

Dari tubuhnya yang berdiri dalam posisi tetap membelakangiku, air mengalir turun bagaikan tirai. Karena dia membelakangiku, aku tidak bisa mengintip raut wajahnya dari tempatku berada.

 

Uap air membumbung dari tubuh Nanami yang telah dihangatkan oleh pemandian air panas, seolah-olah sedang mendinginkan tubuhnya yang memanas. Batas antara uap air yang keluar dari pemandian dan uap air yang memancar dari tubuh Nanami tampak samar.

 

Asap putih mewarnai dirinya, dan di atas permukaan air, pantulan sinar bulan serta sosoknya terbayang dengan redup.

 

Saat aku menatap sosok itu dengan tertegun... Nanami mendaratkan tangannya pada handuk yang melilit tubuhnya. Tanpa sempat maupun berniat untuk menghentikannya, aku hanya bisa menengadah memasukkan tindakan tersebut ke dalam pandanganku.

 

Saat handuk yang melilit tubuh Nanami terlepas, dia memegangnya dengan kedua tangan lalu merentangkannya lebar-lebardik. Di belakangnya, handuk milik Nanami terbentang lebar seolah-olah menghalangi pandanganku.

 

Di situlah untuk pertama kalinya Nanami memutarkan separuh tubuhnya lalu mengarahkan pandangannya padaku. Karena dia memutarkan separuh tubuhnya dalam kondisi handuk yang merentang lebar, siluet tubuhnya terpapar cahaya bulan dan tercetak dengan sangat jelas.

 

Bukan hanya cahaya bulan, pencahayaan dari bangunan ini dan sejenisnya sepertinya juga menjadi penyebabnya. Bagaikan kulit, seluruh lekuk tubuh Nanami... bentuk lekuk fisiknya terpetakan sempurna di dalam otakku.

 

Membutuhkan waktu untuk bisa memahaminya, aku hanya bisa menatap tindakan Nanami dengan tertegun, namun gempuran aksinya tidak berhenti sampai di situ.

 

Nanami yang tadinya menatapku kembali membelakangiku secara penuh. Dia melepaskan salah satu tangan yang memegang handuk, lalu... dengan tangan satunya lagi, dia mengibaskan handuk itu dengan sapuan yang lebar.

 

Handuk yang terkibas bagaikan jubah itu terlepas sepenuhnya dari tubuh Nanami. Meskipun dalam posisi membelakangi... tidak, justru karena dalam posisi membelakangilah punggung Nanami... tampak belakang tubuhnya terekspos secara sempurna.

 

Mengikuti garis tubuh yang memancarkan kelembutan, kulitnya yang bagikan porselen menolak tetesan air. Tetesan air yang terpental itu memantulkan cahaya dan membuat tubuhnya tampak berkilau.

 

Padahal ada sosoknya yang tanpa busana di depan mataku... namun daripada daya tarik sensual, aku malah terpesona oleh tubuhnya yang memancarkan kilau bagaikan sebuah karya seni yang sangat indah.

 

Kata 'indah' mungkin terdengar klise, namun tetap saja aku tidak bisa menemukan kata lain untuk mengekspresikannya selain kata tersebut. Bagaikan hendak menyentuh bulan, aku mengulurkan tanganku ke arah sosok tersebut.

 

Pada momen itulah Nanami melingkarkan kedua tangannya seolah-olah memeluk tubuhnya sendiri, lalu berjongkok dan menenggelamkan tubuhnya kembali ke dalam air.

 

Tanganku yang berniat menyentuh hanya meraup udara kosong, dan baru setelah melihat telapak tanganku yang tidak merasakan sensasi apa pun, aku menyadari bahwa tadi aku hampir saja menyentuhnya.

 

Lalu, sambil menatap telapak tangan yang tidak menyentuh apa pun itu, aku membuka dan menutup jariku seolah-olah sedang memastikan gerakannya.

 

"N-Nanami... kamu sedang apa...?"

 

Karena posisinya membelakangi, Nanami pasti tidak menyadari bahwa tadi aku sempat mencoba menyentuhnya. Aku menenggelamkan tanganku ke dalam bak mandi untuk menyamarkan tindakan tersebut.

 

"I-Itu... bagaimanapun juga memasukkan handuk ke dalam bak mandi itu melanggar etika... dan, walau malu sih..."

 

"Emm, begitu ya. Iya, memang benar begitu. uhn."

 

Perkataannya ternyata jauh lebih masuk akal... atau lebih tepatnya terdengar seperti kalimat yang sangat wajar.

 

Kalau cuma begitu, aku jadi penasaran bagaimana dengan tindakan melepas handuk dan memamerkannya padaku tadi.

 

Entah mengapa sampai di tahap ini, aku merasa posisiku terus-menerus terdesak oleh Nanami. Bagaimana caranya agar aku bisa membalikkan keadaan dari situasi ini...?

 

Tidak, pikiranku malah jadi aneh. Lagipula tidak ada yang perlu dibalikkan... Mungkin justru karena berpikiran begitu, aku jadi bisa menyadari pergerakan Nanami selanjutnya.

 

Nanami yang menenggelamkan tubuhnya ke dalam air seolah-olah sedang bersembunyi, bergerak mendekati arahku secara perlahan namun pasti. Hanya saja, kecepatannya sangat lambat... Jangankan selangkah, kecepatannya bahkan kurang dari separuh langkah. Benar-benar mirip langkah kura-kura... tidak, bahkan lebih lambat dari itu.

 

Mungkin ini adalah hal terhitung paling lambat di dunia. Saat ini, Nanami mungkin bakal kalah jika bertanding lari melawan kelinci.

 

Justru karena itulah, aku di sini... mengambil satu langkah maju.

 

Perlahan-lahan, namun dengan kecepatan yang lebih cepat daripada Nanami, aku bergerak maju dalam posisi tetap duduk. Apakah Nanami juga menyadarinya? Gerakannya mendadak terhenti.

 

Tanpa memedulikan hal itu, aku terus mendekati Nanami... hingga jarak di antara kami tinggal tersisa satu langkah lagi. Dan aku... memperpendek jarak tersebut hingga hampir menjadi nol.

 

Jarak yang sedemikian dekat, hingga dadaku seakan menempel pada punggung Nanami. Karena tidak sepenuhnya menempel, jaraknya terasa sedikit lebih renggang daripada yang tadi.

 

Atau lebih tepatnya... aku harus bagaimana dari posisi ini?

 

Tadi kan posisi kami saling membelakangi jadi bisa saling menempel, tapi kalau sekarang kan... bagaimana ya, posisinya mirip gaya menyelamatkan korban... karena kami berdua menghadap ke arah yang sama...

 

"...Nanami, aku menempel ya."

 

"...Iya, boleh kok."

 

Jantungku berdegup kencang saat mendengar jawaban 'boleh' darinya.

 

Padahal cuma sebatas menempel dan tidak melakukan hal yang lebih dari itu. Namun tetap saja perasaanku... anu... mirip seperti perasaan sebelum melakukan hal tersebut.

 

...Baiklah.

 

Pada diriku yang telah memantapkan niat, rasa tegang yang tadi dirasakan sudah tidak ada lagi. Meskipun rasa tegang jenis lain sepertinya mulai timbul, aku berusaha keras untuk menahannya.

 

Setelah memantapkan tekad, aku mendaratkan tanganku di bahu Nanami. Tepat saat bersentuhan, tubuh Nanami tersentak kecil. Rasanya aku sempat mendengar suara desahan "Ah..." pelan, tetapi jika terlalu dipikirkan aku malah tidak bisa melakukan apa-apa, jadi aku akan melanjutkannya saja.

 

Lalu, aku merosotkan tubuh bagian atasnya ke arahku.

 

Perlahan-lahan bagaikan gerakan slow motion, tubuhnya condong ke arahku... hingga akhirnya dia menyandarkan seluruh berat tubuhnya padaku.

 

Karena berada di dalam pemandian air panas berat tubuhnya tidak begitu terasa, namun posisi punggung Nanami pas menempel di sekitar dadaku. Ini adalah posisi yang sama persis seperti saat kami masuk berendam bersama di Hawaii dulu.

 

...Tubuh bagian bawah kami anu... tidak saling menempel. Kalau sampai ke sana sih jelas tidak mungkin.

 

"Rasanya... malu banget, ya."

 

"Ya wajar saja... soalnya kita berdua sama sekali tidak memakai apa-apa..."

 

Saat masuk ke pemandian bersama di Hawaii dulu kami mengenakan pakaian renang. Saat tidur bersama pun kami mengenakan pakaian. Benar-benar menempel tanpa sehelai benang pun seperti ini adalah yang pertama kalinya....Sepertinya begitu.

 

Tidak, kalau memang pernah ada kejadian seperti itu di masa lalu, pasti aku akan mengingatnya. Ini jelas-jelas pertama kalinya kami menempel dalam kondisi telanjang. Rasanya aneh juga aku sampai menegaskan hal seperti ini.

 

"Rasanya untuk melakukan hal sesederhana ini saja butuh usaha yang luar biasa besar, ya..."

 

"Aku juga... Ah, Youshin... tangannya ditaruh di depan saja tidak apa-apa, lho?"

 

"Ah, iya. Terima ka... depan?"

 

"Iya, depan. Bukankah begitu bakal lebih rileks?"

 

Apa maksudnya depan? Saat ini posisiku masih memegangi bahu Nanami, agar jika terjadi sesuatu aku bisa langsung bergerak.

 

Apa maksudnya memindahkan tangan itu ke depan? Rileks...?

 

Saat aku sedang kebingungan, Nanami memegang tanganku yang ada di bahunya lalu menuntunnya. Karena tidak ada alasan untuk menolak, aku membiarkannya melakukan sesukanya.

 

Depan... apakah maksudnya melingkarkan tangan di sekitar perut lalu memeluknya seperti sedang merengkuhnya?

 

Kalau begitu sih, dulu aku juga pernah menyentuh perutnya jadi kurasa tidak masalah. Hanya saja aku harus memastikan untuk tidak meremas perutnya. Soalnya dulu sekali aku pernah tidak sengaja meremas perutnya, dan dia marah besar padaku.

 

Saat aku berpikir demikian, tanganku tidak mengarah ke dalam air melainkan diulurkan begitu saja...

 

Funi.

 

Sensasi yang seakan menyuarakan efek suara empuk tersebut menyentuh bagian lengan bawahku.

 

...Menyentuh?

 

Saat aku sedang tertegun, tanganku yang satunya lagi diikutkan bergerak dengan cara yang sama, hingga posisiku menjadi gaya memeluk dari belakang (back hug)...

 

Sensasi ini... bukankah ini... dada...?

 

"Ka-Kalau begini Youshin juga lebih rileks, kan?"

 

"Bukannya rileks... tidak, ini... ha-harus bagaimana?"

 

Empuk. Kepala rasanya mau didominasi oleh kata itu. Lagipula bertanya "harus bagaimana" ke Nanami juga tidak akan menyelesaikan masalah.




Telapak tanganku tidak mengenai dadanya, melainkan lengan bawahku yang berada di dada, dan telapak tanganku berada di bawah lengan itu... Mirip seperti karakter yang menutupi dada dengan rambut mereka, tetapi versi lengan.

 

Tidak, memang tertutupi sih... tertutupi, tapi...

 

"Ka... Kalau cuma sedikit, boleh kok diremas... waktu di Hawaii kan tidak jadi..."

 

"Re...--?!"

 

Lagipula, meremas 'sedikit' itu batasannya sangat tinggi. Kalau sudah dimulai, pasti tidak akan selesai hanya dengan kata 'sedikit'. Lagipula seingatku waktu di Hawaii dulu batasannya hanya sebatas 'boleh disentuh'.

 

Waktu itu dia tidak bilang 'remas saja'... Tidak, sebelum itu apakah dia pernah mengatakannya, ya?

 

Bagaimanapun juga, diriku yang sekarang rasanya tidak akan sanggup melakukan hal semacam itu. Alasannya, kalau dilakukan nanti malah tidak ada remnya. Padahal saat ini saja, bertahan dalam posisi begini sudah menyerap seluruh tenagaku.

 

Darah mudaku... rasanya jadi situasi yang menyebalkan. Walau terkesan agak vulgar, sih.

 

"Ti-Tidak apa-apa... begini saja sudah cukup."

 

"Ka-Kalau begitu... ya sudah, syukurlah..."

 

Nanami menyentuh tanganku yang bertindak bagaikan celemek dengan lembut, lalu menyandarkan dan menggesekkan kepalanya ke tubuhku.

 

Aku baru sadar sekarang, sepertinya rambutnya sudah diikat rapi agar tidak terkena air pemandian.

 

Fakta bahwa tadi aku bahkan tidak punya kelonggaran pikiran untuk menyadari hal semacam itu membuatku merasa agak menyedihkan.

 

"Masuk ke pemandian air panas bersama seperti ini... ini sudah yang ke berapa kali, ya... Dua kali? Tiga kali?"

 

"Sepertinya ini yang kedua kali... Yang pertama waktu di Hawaii, lalu saat Natal kan kita terpisah."

 

"Begitu, ya. Waktu itu padahal menjadikan mandi bersama sebagai hadiah juga tidak boleh, ya... Padahal sesekali ingin rasanya mandi bersama."

 

"...Kalau soal itu aku cuma bisa setuju, tapi secara realitas kan sulit."

 

Bagaimanapun juga kami masih tinggal bersama orang tua, jadi mana mungkin bisa mandi bersama... kalau bukan di momen seperti ini.

 

Tidak, padahal di momen seperti ini pun sebenarnya tetap tidak boleh, sih. Atau lebih tepatnya...

 

"Nanami, kenapa tiba-tiba mengajak masuk ke pemandian terbuka bersama?"

 

"Emm? Soalnya kan... mumpung ada pemandian terbuka, pasti jadi ingin masuk, kan?"

 

"Tidak, tadi kamu sempat bilang mau menyerah saja karena tidak bawa baju renang, kan. Kenapa mendadak..."

 

Hal itulah yang menjadi pertanyaan terbesarku.

 

Pada awalnya, Nanami sudah menyerah untuk masuk ke pemandian terbuka bersamaku. Aku yakin dia sama sekali tidak berniat untuk masuk. Namun begitu malam tiba, dia mendadak menunjukkan sikap proaktif. Sikap yang seakan tidak menerima penolakan.

 

...Yah, aku yang luluh juga bukannya tidak berharap apa-apa, sih. Meskipun di mulut bilang 'tidak apa-apa', niat untuk melawan sangatlah lemah. Bisa dibilang ini adalah pertahanan terlemahku dalam beberapa waktu terakhir. Makanya, alasan kenapa dia mendadak berminat untuk masuk... benar-benar membuatku penasaran.

 

"Habisnya..."

 

Nanami sedikit, hanya sedikit sekali memonyongkan bibirnya. Raut wajahnya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

 

Padahal hal yang dilakukannya, maupun secara fisik, sangat jauh dari kata anak kecil...

 

"Tadi kan sudah kubilang. Youshin tadi digoda wanita lain, kan~?"

 

"Digoda... Ah, orang-orang tadi. Yah, walau aku sendiri tidak menyadari kalau itu godaan, sih. Memang benar."

 

"Aku juga yang kurang waspada, lagipula kubpikir Youshin tidak akan mungkin digoda wanita lain..."

 

Kukira ini percakapan yang sama seperti tadi, namun ternyata arah pembicaraannya agak sedikit berbeda.

 

Yah, tapi mau bagaimana lagi, kan? Soalnya, aku kan bukan tipe orang yang bakal digoda di jalan. Di dunia ini pun, pihak wanita yang lebih sering digoda, jadi wajar saja kalau berpikir bahwa aku tidak akan pernah digoda...

 

"Padahal aku tahu betul kalau Youshin itu tipe yang pasti disukai oleh kakak-kakak yang lebih tua... benar-benar, aku kurang waspada."

 

Tampak menyesal, Nanami meregangkan tangannya lebar-lebar seperti sedang menggeliat, lalu menyentuh bagian belakang leherku.

 

Sambil berpikir betapa lihainya dia melakukan gerakan itu, akibat tindakannya tingkat kerapatan tubuh kami malah makin erat hingga membuat jantungku berdebar kencang.

 

"Lagipula, tadi 3 orang itu sempat memamerkan berbagai hal padamu, kan?"

 

"Tidak, seperti yang kukatakan tadi, aku tidak terlalu melihat..."

 

"Tetap saja, aku tidak ingin ada ingatan tubuh wanita selain diriku yang tersisa di memorimu... Makanya aku masuk bersama begini. Ditimpa, ditimpa!"

 

"Bahkan jika aku sama sekali tidak tertarik pada orang yang menggodaku itu?"

 

"Bahkan jika kamu tidak tertarik. Karena ini juga menyangkut harga diriku."

 

Ketika dia menyatakannya secara jujur sambil membusungkan dada dalam keadaan tanpa busana, aku hanya bisa menerimanya.

 

Memang benar sih, kalau sudah menyangkut diri sendiri pasti seseorang bakal bertindak nekat. Atau lebih tepatnya, menimpa ingatan, ya... Tidak, ingatan itu sudah benar-benar tertimpa, kok. Wajah wanita-wanita tadi saja sudah tidak bisa meletup di ingatanku lagi.

 

Secara rencana, ini bisa dibilang sukses besar. Hanya saja...

 

"Bukannya tadi bilang tidak bakal marah walau aku mendebarkan jantung karena wanita lain?"

 

"Memang tidak marah, tapi aku kan juga bilang kalau aku tetap bakal kesal?"

 

Kontradiksi dalam hitungan detik yang tadi itu, ya...

 

Ya, dia memang sempat mengatakan hal itu juga. Perasaan seorang gadis memang terlalu rumit. Terlalu rumit, tapi...

 

"Ke depannya, meskipun ada momen yang membuat jantungku berdebar karena wanita lain... aku tidak akan pernah tertarik pada siapa pun selain Nanami..."

 

"Kalau begitu bagus... Tapi, interaksi fisik (skinship) seperti ini harus sering kita lakukan, ya?"

 

Saat kubalikkan apakah itu juga masalah harga diri, Nanami malah menjawab bahwa dia lebih ingin mengisi ulang 'asupan unsur Youshin'. Aku pun merasa bisa menyerap lebih banyak 'asupan unsur Nanami' dengan cara seperti ini.

 

Hanya saja, bagaimana cara melakukannya setelah kembali nanti bakal jadi masalah sulit, sih. Soal itu... nanti saja dipikirkan.

 

Misteri kenapa dia sangat ingin masuk ke pemandian air panas bersamaku sudah terpecahkan, dan walau tidak sampai lega sepenuhnya, setidaknya aku sudah paham. Kalau begitu, mari kita saling mengisi ulang asupan masing-masing untuk sementara waktu...

 

".................................Bagaimana kalau kita melakukan hal yang mesum di sini?"

 

"Jedamu lama sekali pas ngomong... Tidak boleh, lah. Ini melanggar etika..."

 

"Kalau di sini... sepertinya tidak akan ketahuan, kan?"

 

Tidak... jelas tidak boleh... Lagi pula tidak ada persiapan pengaman juga... Atau lebih tepatnya...

 

"Katanya hal-hal yang berkaitan dengan itu pasti bakal ketahuan, lho... Soalnya manusia itu jauh lebih peka dari yang kita bayangkan."

 

"Masa sih? Eh? Kamu dengar dari siapa...?"

 

"Saran berharga dari Baron-san. Beliau bilang, walaupun mencoba sembunyi-sembunyi, pasti bakal ketahuan jadi lebih baik diurungkan saja."

 

Katanya mustahil bagi manusia untuk menghapus jejak dari tindakan yang telah dilakukan secara sempurna. Walaupun sudah menyembunyikan dan merasa telah menutupi semuanya, pasti bakal ada hal tak terduga yang tersisa.

 

Entah itu berupa aroma, atau hal-hal yang tak kasat mata, hal itu bisa terkuak dari berbagai sudut pandang.

 

Makanya, beliau memberikan saran berharga agar jangan pernah melakukan hal semacam itu di penginapan, karena bisa menyusahkan orang tua kami...

 

Sepertinya itu berdasarkan pengalaman masa lalu maupun pengetahuan yang pernah didengar oleh Baron-san.

 

"Kalau begitu, mau bagaimana lagi ya... Bahaya kalau sampai ketahuan..."

 

"Benar... Makanya, hal semacam itu mari kita lakukan di saat sudah aman walau sampai ketahuan."

 

Tubuh Nanami tersentak pelan, lalu dia memutar pandangannya dan menatapku lekat-lekat. Kelihatannya dia sangat terkejut.

 

"Ini... mungkin pertama kalinya Youshin bilang mau melakukannya secara gamblang...?"

 

"...Masa sih?"

 

Mungkin memang benar begitu. Selama ini aku selalu mengaburkan atau mengalihkan pembicaraan mengenai hal tersebut... Ini pasti karena efek rasa bebas dari pemandian air panas. Yah, aku sendiri bukannya tidak punya ketertarikan, sih.

 

Namun untuk saat ini, harus ditahan. Nanti kalau sudah bisa bertanggung jawab, pasti...

 

Saat aku menegaskan kembali janji tersebut, Nanami tersenyum puas... lalu melepaskan kedua tangannya dariku dan merenggangkan tubuhnya lebar-lebar.

 

"Kalau begitu, untuk perjalanan liburan kali ini aku tahan sampai sebatas mandi bersama saja, deh. Boleh menempel lebih dekat lagi?"

 

"Jangan, kalau menempel lebih dekat dari ini bakal bahaya dalam berbagai hal... mohon pertahankan jarak segini saja."

 

"He? Kenapa...? Ah..."

 

Pandangannya yang menoleh mengarah ke bawah, dan setelah melihat ke satu titik tertentu... seakan bisa memahaminya, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

 

Wajahnya yang merona merah padam saat itu, pasti bukan sekadar karena kepanasan akibat air pemandian.

 

Sesi mandi bersama yang terasa menenangkan sekaligus mendebarkan ini... masih terus berlanjut untuk beberapa saat.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close