Chapter 5
Malam, Bulan, dan Handuk Mandi
"Kalau
begitu tinggal masuk jadi menantu di keluargaku saja, kan?"
"Bukan
begitu masalahnya...!"
Kami
berdua, yang telah dibuat berkeringat dalam berbagai arti, kini berjalan menuju
pemandian umum besar (daiyokujo)... alias onsen.
Kami
masih mengenakan pakaian biasa dan belum berganti dengan yukata penginapan. Baju
yang agak basah ini terasa kurang nyaman, tetapi kami baru akan berganti
pakaian setelah membersihkan keringat. Walaupun kami sudah mengelapnya sampai
batas tertentu menggunakan handuk yang disediakan, sih. Bagaimanapun juga,
fakta bahwa kami benar-benar dimarahi oleh nakai-san adalah sebuah kenyataan.
Ya,
walau kami tidak dalam kondisi bertelanjang dan masih dalam batas bercanda...
Pelanggan
sekalian, hal semacam itu agak... lagipula Anda berdua masih di bawah umur...
Begitu
beliau berkata demikian, kami tidak punya kata-kata untuk membantah. Posisi
mount tadi memang tidak bagus, apalagi saat Nanami sedang meremas dadaku...
meremas?
Fakta
bahwa dia sedang melakukannya di momen tersebut adalah hal yang sangat gawat.
"Harusnya
tadi kita kunci saja pintu kamarnya, ya."
"Atau
lebih tepatnya, kita yang bersalah karena terlalu asyik sampai tidak menyadari
ketukan pintu..."
Yah,
jadi begini kronologinya...
Nakai-san
datang ke kamar, lalu karena tidak ada jawaban saat mengetuk pintu, beliau
membuka pintu geser (fusuma) kamar dan mendengar suara dari dalam seperti orang
sedang berselisih atau bergulat...
Beliau
yang merasa cemas akhirnya menyaksikan kejadian tersebut secara langsung.
Yah,
bukannya berselisih, melainkan aku yang diremas, yang berujung jadi tebakan
kata yang tidak bermutu.
"Tapi,
tidak menyangka ya kalau kita malah dapat bonus makan malam."
"Sangat
disyukuri... lagipula di paket awal kita kan memang tidak ada makan
malamnya."
Karena
ini juga merupakan bagian dari permohonan maaf atas kekeliruan reservasi, kami
menerimanya dengan senang hati. Oleh karena itu, nanti malam kami tidak perlu
keluar dan bisa makan di dalam kamar.
Mengingat
paket ini memang mencakup sarapan, aku juga menantikan esok pagi, tapi makan
malam di ryokan, ya... Seperti apa bentuknya, aku jadi sangat penasaran.
"Pemandiannya...
terpisah, ya."
"Tentu
saja terpisah... Tidak, sepertinya ada juga pemandian keluarga (kazokuburo),
sih."
Mana
mungkin kami menyewa pemandian pribadi... lagipula fakta bahwa ada rotenburo di
kamar saja sudah aneh.
Pada
dasarnya, kami kan sudah menyerah untuk masuk bersama karena Nanami tidak
membawa pakaian renang. Bahkan seandainya menggunakan pemandian keluarga pun,
masuk bersama adalah hal yang mustahil. Fakta bahwa Nanami menyampaikan hal-hal
seperti ingin masuk bersama... sepertinya karena dia menikmati obrolan semacam
itu.
Bukan
berniat untuk benar-benar masuk, melainkan menikmati percakapan dengan andaikan
masuk bersama. Bukan kucing Schrödinger, melainkan pemandian campur
Schrödinger...
Tidak,
perumpamaan kucing Schrödinger rasanya agak kurang tepat. Itu kan eksperimen
pikiran. Kalau didengar oleh orang yang paham, pasti bakal dikoreksi.
"Kira-kira
apa saja ya khasiat dari pemandian air panas ini?"
"Khasiat
mempercantik kulit atau meredakan lelah, bukankah hal-hal semacam itu yang
standar?"
Selain
itu ada juga untuk nyeri sendi, nyeri otot... serta efek relaksasi. Seingatku
hal-hal seperti ini biasanya tertulis di papan penjelasan sebelum masuk ke
pemandian air panas.
"Hari
ini kita sudah jalan-jalan wisata dan banyak berjalan kaki jadi terasa lelah,
ya. Memijat kaki di dalam pemandian air panas sepertinya enak juga..."
"Kalau
kamu bilang dari tadi, aku kan bisa memijatkannya untukmu. ...Ternyata tadi
bukan waktunya buat meremas dada, ya?"
"Memang
benar, daripada dada aku lebih ingin dipijat kakinya, sih..."
Ugh...
ingatan tadi... kepalaku... Jangan, jangan diingat-ingat lagi wahai diriku.
Peristiwa
tadi yang hanya bisa dideskripsikan sebagai momen saat aku diluluhlantakkan
oleh Nanami sebaiknya ditutup rapat-rapat ingatannya. Jika tidak, hal itu bisa
memicu berbagai masalah rumit.
"Kalau
begitu, setelah selesai mandi mari kita saling memijat satu sama lain~"
"..."Apakah
aku juga bakal memijat Nanami? Maksudku memijat... apakah boleh...?"
Padahal
baru saja dimarahi, apakah saling memijat satu sama lain itu aman dilakukan?
Jika
terlihat lagi, kali ini pasti tidak akan selesai hanya dengan teguran biasa...
...Tidak,
lagipula kami tidak berniat melakukan hal yang tidak-tidak, kok.
"Yah,
kalau cuma memijat... bukankah tidak apa-apa?"
"Untuk
sementara, hal itu kita tunda dulu saja..."
Sembari
membicarakan hal tersebut, kami akhirnya sampai di area pemandian air panas.
Tirai penutup (noren) bertuliskan 'Pria' dan tirai bertuliskan 'Wanita' berada
di lokasi yang sedikit terpisah.
Tentu
saja tempatnya dipisah antara pria dan wanita. Karena posisinya agak berjauhan,
aku dan Nanami berpisah di sini.
"Menyingkap
tirai noren seperti ini, rasanya menyenangkan, ya."
Padahal
secara ruangan tempat ini tersambung dan hanya dipisahkan oleh selembar kain,
tetapi hanya dengan menyingkapnya saja terasa seolah-olah kita sedang melangkah
masuk ke dunia yang berbeda. Aku cukup menyukai sensasi tersebut. Diriku yakin
anak laki-laki pasti menyukai hal semacam ini. Apakah perumpamaanku terlalu
luas, ya?
"Hmm...
aku tidak begitu paham... Ah, khasiat pemandian air panasnya tertulis di sini,
lho."
Sembari
merasakan sedikit rasa sepi karena tidak dipahami oleh Nanami, pandanganku
beralih ke papan kayu besar yang ditemukan Nanami di antara pemandian pria dan
wanita.
Di
papan kayu besar itu tertulis asal-usul serta khasiat dari pemandian air panas
ini. Sejarah berdirinya ryokan ini pun tertulis di sana, memperlihatkan papan
yang terasa kental akan nilai sejarah.
Bisa
mengenal sejarah dari daerah yang asing juga merupakan kenikmatan utama dari
perjalanan wisata... Namun yah, aku tidak tahu seberapa banyak hal yang bisa
kuingat nantinya.
Meski
begitu, melihat pengetahuan sesaat seperti ini lalu meresapi atmosfer pada
momen tersebut adalah hal yang bagus. Walau menurutku ini adalah cara menikmati
hal yang sangat merakyat, sih.
Nah,
mengenai khasiat pemandian air panasnya... Seperti dugaanku ada khasiat
mempercantik kulit... tampaknya bagus juga untuk penyakit kulit serta
neuralgia. Efek menjaga kehangatan tubuhnya tinggi dan di atas itu semua ada
berbagai khasiat lain, lalu...
"Kesuburan..."
Suara
gumaman pelan Nanami terdengar. Di situ, langkahku pun terhenti seketika.
Mengecap
kata kesuburan di pemandian air panas rasanya agak kurang menyambung, tetapi
tampaknya pemandian air panas ini memiliki khasiat semacam itu...
Nanami
yang membisikkan hal itu melirik ke arahku dari samping. Karena aku juga sedang
menatap Nanami hanya dengan lirikan mata, pandangan kami saling bertemu dengan
sangat pas.
Entah
mengapa, kami saling bertukar pandang lalu mengembalikan pandangan ke papan
kayu tersebut. Aku sama sekali tidak menyangka bakal merasakan perasaan semacam
ini sebelum masuk ke pemandian air panas.
"Yah...
kalau setelah selesai mandi kita tidak melakukan hal semacam itu..."
"I...
Iya, benar juga, ya. Iya..."
Meskipun
kalimat tersebut adalah ucapan penenang yang kukeluarkan karena merasa harus
mengatakan sesuatu, rasanya ucapan itu tidak terlalu berfungsi sebagai penenang
dari yang kubayangkan.
Suara
suasana menjadi makin aneh secara tidak perlu, hingga keringatku bercucuran.
Untunglah, setelah ini aku akan masuk ke pemandian air panas sehingga keringat
ini bisa sekalian dibersihkan.
"K-Kalau
begitu, Youshin... sampai nanti, ya."
"Ah...
iya, sampai nanti... Nanti mandi yang tenang dan santai, ya."
"Di
pemandian kesuburan...?!"
Bukan,
aku tidak bermaksud begitu...!! pikirku, namun sebelum sempat memberikan
alasan, Nanami sudah keburu pergi menuju pemandian wanita dalam suasana yang
memicu canggung tersebut.
Sama
sekali tidak disangka... kalau pemandian ini punya khasiat kesuburan. Waktunya
benar-benar buruk, mengingat tepat sebelumnya kami baru saja dimarahi karena
melakukan hal yang tidak-tidak.
Apakah
sebaiknya perasaan ganjil ini kubilas saja bersama air panas...?
Sembari
memikirkan hal tersebut, aku pun melangkah menuju ke pemandian pria.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Segarnya
setelah selesai mandi itu membuat jiwa dan raga terasa sangat rileks.
Benar-benar membuat timbul ilusi seolah-olah diriku sendiri telah diperbarui
menjadi sosok yang baru.
Walau
secara realistis, ungkapan yang lebih tepat mungkin bukannya menjadi baru,
melainkan telah selesai menjalani perawatan.
Pembersihan
total jiwa dan raga... mungkin begitulah makna pemandian air panas. Rasanya
sungguh menyenangkan bisa berendam di pemandian yang memungkinkan kita
meluruskan kaki, hal yang tidak bisa dilakukan di pemandian biasa rumah.
Tidak
juga, sih, di pemandian rumah pun sebenarnya kaki sendiri masih bisa
diluruskan. Namun, sensasi kebebasannya terasa jauh berbeda.
Pemandian
air panasnya juga tidak terlalu ramai, sehingga aku bisa menikmati waktu untuk
memulihkan rasa lelah dari perjalanan dengan santai.
Saat
ini aku sedang berteduh menikmati angin sejuk sembari menunggu Nanami selesai
mandi.
Mungkin
berkat khasiat pemandian air panasnya, tubuhku terasa hangat dan kehangatannya
bertahan cukup lama. Kalau asal bergerak sedikit saja, keringat rasanya bakal
kembali mengucur.
...Kalau
berkeringat tinggal masuk mandi lagi saja, kan.
Sambil
duduk di area istirahat dekat pemandian air panas, aku memandangi area
sekeliling. Rombongan orang tua dan anak, pasangan suami istri lanjut usia,
sekelompok wanita muda, hingga rombongan sesama laki-laki...
Para
tamu dari berbagai kalangan terlihat hilir pulang kampung pergi ke pemandian
air panas, kembali ke kamar masing-masing dari sana, atau membeli minuman.
Semuanya
tampak gembira, dan orang-orang yang baru keluar dari pemandian air panas pun
memiliki rona wajah yang segar dan tampak berseri-seri. Apakah pemandian air
panas ini merupakan hal yang unik dan khas Jepang? Ketika ada fasilitas seperti
ini, aku benar-benar merasa bersyukur terlahir di Jepang...
Nah,
apa yang sebaiknya kulakukan selagi Nanami masih berada di dalam pemandian air
panas? Bagaimana kalau coba pergi ke game corner? Atau, mencoba
menikmati minuman hangat sambil... Tidak, hal itu sebaiknya dilakukan setelah
Nanami datang saja. Kami bisa menikmati susu kopi hangat bersama setelah
selesai mandi.
Kalau
begitu, pilihan terbaik memang pergi ke game corner, ya...
"Permisi..."
Game
corner... Walau tidak ada gim retro, rasanya ada mesin permainan claw
machine atau mesin sejenis pachinko. Selain itu... mungkin ada air
hockey?
Air
hockey boleh juga, tuh. Aku ingin main air hockey
bersama Nanami. Permainan semacam itu kan sudah jadi hal yang standar. Bermain air
hockey bersama Nanami yang mengenakan yukata...
Di
ryokan pemandian air panas, terkadang ada juga meja tenis meja (pingpong),
ya. Meski tampaknya di tempat ini tidak ada, sih. Apakah Nanami punya
pengalaman main tenis meja, ya...
"Permisii~?
Boleh minta waktunya sebentar~?"
"Mmm?"
Tiba-tiba,
sebuah suara terdengar.
Nada
suaranya terdengar seperti sedang menyapa seseorang, agak melengking... khas
suara wanita muda.
Saat
aku bertanya-tanya kepada siapa dia bicara...
"Onii-san,
sendirian saja, ya~?"
"Kami
lagi senggang nih, mau ngobrol sebentar tidak~?"
"Atau
mau... mampir minum ke kamar kami~?"
...Hah?
Di
sana berdiri 3 orang wanita muda yang mengenakan yukata. Dan tampaknya,
orang yang sedang diajak bicara oleh mereka adalah diriku.
Kenapa
orang-orang ini malah mengajakku bicara? Meskipun terlihat muda, apakah usia
mereka sedikit lebih tua dariku?
Semuanya
mengenakan yukata dari penginapan, namun masing-masing memiliki gaya
busana yang sedikit berbeda... gaya pemakaiannya agak dibuat santai dan sedikit
terbuka.
Anu...?
"Apakah...
kalian sedang berbicara denganku?"
Rombongan
wanita itu mengiyakan sambil memperlihatkan atmosfer yang tampak gembira. Malah
salah satu di antaranya berbisik, "Panggilan 'Boku' ternyata lucu banget,
ya."
Eh?
Apakah sebutan kata ganti 'Boku' itu tergolong lucu? Kenapa?
Saat
aku sedang agak kebingungan, para wanita itu terus mengajukan pertanyaan
bertubi-tubi kepadaku.
"Soalnya
kelihatan lagi santai banget~"
"Jadi
kami pikir mau ajak main bareng~"
Tubuh
mereka meliuk-liuk dengan ganjil, dan suara mereka pun dibuat-buat
melengking... alias suara yang dibuat manja. Tinggi badan mereka... mungkin
sedikit lebih tinggi dariku?
Orang-orang
bertubuh tinggi itu menunduk dan menatapku dari bawah. Karena posisi tubuh
mereka membungkuk, kain yukata yang mereka kenakan pun tampak melonggar.
Apa-apaan
ini? Apakah mereka kenalan Nanami? Tidak mungkin, kan.
"Bukan,
aku bukannya sedang santai... melainkan sedang menunggu temanku..."
"Datangnya
sama teman, ya~? Kalau begitu, ajak saja temannya sekalian~"
"Kami
kan bertiga nih, jadi kalau cuma dua orang masih bisa kami temani, kok~"
Bukan
teman, melainkan aku datang bersama pacarku.
Baru
saja aku hendak mengatakannya, namun gelombang perkataan mereka yang deras
tidak kunjung berhenti. Sama sekali tidak ada celah bagiku untuk menyela
pembicaraan.
"Ternyata
badannya lumayan berotot, ya, keren banget."
"Bagian
yang tersingkap sedikit itu kelihatan agak seksi, lho."
Eh?
Seksi? Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal semacam itu padaku.
Apalagi, mereka malah mencoba untuk menyentuhku.
Saat
aku refleks menghindar, mereka malah melontarkan celetukan seperti "Wah,
malu-malu tuh~" atau "Lucu banget~".
Sebenarnya
apa yang sedang terjadi saat ini?
Karena
merasa sangat asing hingga aku hanya bisa ternganga melamun, entah bagaimana
para wanita itu mengartikan reaksiku, namun mereka tertawa senang. "Boleh
kan kalau kami main ke kamarmu?"
"Kalau
minum sake, rasa tegangnya bakal mencair, lho~ Berbagai hal juga bisa jadi
lebih bebas..."
"Kyaa,
berani banget! Tapi, Onii-san lucu sih, jadi boleh-boleh saja~?"
Sambil
memegang kain yukata mereka, para wanita itu terus melontarkan hal-hal
aneh. Entah mengapa, ada diriku yang menyaksikan mereka dengan tatapan dingin
dari suatu sudut.
Tidak,
bagaimana, ya. Ada faktor bingung dan belum bisa memahami situasi saat ini,
sih.
Mmm...
ini sebenarnya harus disikapi bagaimana, ya?
Rasanya
aku mulai agak jengkel karena terlalu kebingungan. Lagipula, kenapa cara bicara
orang-orang ini diseret-seret begitu.
...Eh,
mendadak jadi hening?
Tampaknya
rentetan serangan verbal mereka akhirnya mereda, jadi sepertinya ini giliranku
untuk bicara. Para wanita itu berdiam diri seolah menunggu jawaban dariku.
Akhirnya, aku bisa bicara juga.
...Tepat
saat aku berpikir begitu, sebuah suara terdengar.
"Youshin...?"
Dari
belakang rombongan wanita tersebut. Suara Nanami. Bergema dengan nada yang
sangat rendah, pelan, dan... terasa begitu berat.
Aku
menemukan Nanami dan melambaikan tangan padanya, tetapi Nanami bersedekap
tangan di bawah dadanya, berdiri dengan gestur tegap bagaikan patung Nio.
Ooh,
apakah dia sedang sangat tidak senang? Tidak, alih-alih tidak senang... apakah
dia sedang memancarkan aura intimidasi?
Melihat
reaksinya, Nanami memperlihatkan ekspresi yang agak kaku, lalu mengarahkan
tatapan tajamnya ke arah kami... lebih tepatnya ke arah para wanita itu.
Menerima
tatapan Nanami yang seperti itu... aku bisa mendengar para wanita itu menarik
napas... huk... secara mendadak.
Luar
biasa, hierarki seolah-olah langsung terbentuk dalam sekejap. Seluruh kata-kata
dari para wanita yang tadinya begitu menggebu-gebu mendadak lenyap tanpa sisa.
Mereka bertiga bahkan saling merapat sambil menatap Nanami. Perasaanku saja
atau mereka memang sedikit gemetar, ya.
...Entah
mengapa, aku seperti melihat ilusi pemandangan antara pemangsa dan pihak yang
dimangsa. Kucing dan tikus, burung dan ikan, beruang dan ikan salmon...
hubungan kekuasaan semacam itu.
Yah,
kalau sudah tenang begini baguslah.
"Maaf,
aku datang ke sini bersama pacarku... jadi aku permisi dulu..."
Saat
aku berjalan memutari para wanita itu untuk mendekati Nanami, Nanami
mengerutkan alisnya sambil menghela napas panjang. Ekspresinya seolah berkata yah,
mau bagaimana lagi.
Tidak,
maaf, maaf. Karena rentetan ucapan mereka begitu menggebu-gebu, aku jadi
kewalahan...
Nanami
yang bersedekap dengan tangan di bawah dada... entah mengapa dadanya jadi
kelihatan agak menonjol, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja, ya. Dia
kelihatan agak mirip model yang berpose seperti itu.
Saat
aku mengulurkan tangan, sambil mengerutkan alis seolah belum bisa menerima
keadaan, dia tersenyum getir... tetapi tetap mau menggenggam tanganku. Mungkin
berkat efek pemandian air panas, tangan Nanami terasa sangat hangat.
Sambil
bergandengan tangan seolah saling menyalurkan suhu tubuh, kami mulai berjalan
untuk mencari tempat beristirahat. Para wanita yang memperlihatkan kami
sepertinya membiarkan kami lewat begitu saja. Semangat menggebu-gebu mereka
tadi sebenarnya apa, ya?
Ah,
benar juga...
"Lalu,
kami berdua masih di bawah umur, jadi kalau soal alkohol... rasanya tidak
bisa."
"Eh...?"
Saat
melewatinya, aku menyampaikan penolakan dengan sopan, dan mereka tampak sangat
panik. Dari mulut mereka terdengar bisikan-bisikan kecil seperti "Di bawah
umur...?", "Peraturan daerah...?" dan sejenisnya.
Mmm...
sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan, ya?
Saat
aku memiringkan kepala sambil menatap ke arah mereka, tanganku ditarik. Sambil
berkata "Ayo pergi", Nanami sedikit membusungkan pipinya. Meskipun
selalu kuanggap mirip kucing, sosok Nanami saat ini terlihat seperti anjing ras
besar yang menuntun pemiliknya untuk jalan-jalan.
Setelah
itu kami berpindah ke area istirahat dan duduk di salah satu sudut ruangan...
"Aduh!!
Kok bisa-bisanya Youshin digoda wanita lain!!"
"...Aa...
jadi yang tadi itu namanya digoda (nanpa), ya?"
Di
situlah Nanami baru mengekspresikan rasa jengkelnya secara terang-terangan lalu
menungkupkan wajahnya ke atas meja.
Aku
sendiri baru menyadari bahwa kejadian tadi adalah aksi nanpa.
Tidak,
serius... karena hal semacam itu sangat asing bagiku, aku sama sekali tidak
menyadarinya. Merespons perkataanku, Nanami mendadak bangkit berdiri lalu
menganga.
Ooh...
Nanami memperlihatkan sorot mata yang jarang sekali kulihat. Itu adalah
ekspresi yang baru pertama kali kulihat, dan saat ditatap dengan pandangan
menembus begitu, aku pun dibuat agak terkejut. Namun, setelah mengedipkan
matanya beberapa kali, Nanami tampak berpikir sejenak... lalu menghela napas
pelan seolah bisa memahaminya.
"Benar
juga, ya... Youshin kan memang tidak terbiasa digoda begitu..."
Pernyataan
tidak terbiasa digoda, kalau didengar kembali rasanya ungkapan yang unik
juga, ya.
Yah,
fakta bahwa aku memang tidak terbiasa dengan hal semacam itu memang benar, sih.
"Lagipula...
aku berpikir bahwa kemungkinan diriku digoda wanita lain itu pada dasarnya
memang tidak ada."
Atau
lebih tepatnya, kenapa para wanita tadi malah sengaja menggoda orang sepertiku?
Bukankah orang-orang semacam itu biasanya lebih suka menggoda tipe laki-laki
yang populer? Menggoda orang yang benar-benar tertutup dan pemalu sepertiku
ini... Mungkinkah hal semacam itu sedang tren belakangan ini?
Namun
tampaknya hal itu tetap membuat Nanami merasa sedikit, sedikit kurang bisa
menerima.
"Polos,
kamu terlalu polos, Youshin!! Youshin itu tidak sadar akan daya tarik dirinya
sendiri...!!"
"Rasanya
dulu kita pernah membicarakan hal yang mirip... tapi, dengar ya, mana mungkin
kejadian semacam itu bisa menimpaku di tempat liburan begini."
Soalnya
kalau ada yang digoda, aku yakin pasti Nanami orangnya.
Tidak,
soalnya kalau sampai ada petunjuk ke arah sana, bukankah jalurnya memang
begitu? Bahkan sempat terbahas dalam percakapan sebelumnya.
Pembahasan
soal kata ganti diri saja persis seperti itu...
"Lagipula,
kenapa kamu tidak bilang 'aku sudah punya pacar' lalu kabur? Tadi kalian bicara
apa saja, sih~?"
Ah,
Nanami mulai menatapku dengan mata picik yang mirip dengan gaya Shirishizu-san.
Meskipun rasa tidak senangnya tidak sesengit saat dia bersedekap tadi, sih.
Tetapi
tetap saja, membuat pacarku memperlihatkan wajah seperti ini di tempat umum
adalah hal yang membuatku merasa bersalah.
"Aku
sudah berniat bilang 'aku datang bersama pacarku', tapi karena gempuran ucapan
mereka yang bertubi-tubi, aku tidak dapat celah untuk menyela... sampai Nanami
datang..."
Tidak,
sungguh, ada pepatah yang bilang bahwa 3 wanita berkumpul saja sudah ramai
bagaikan pasar, dan situasi tadi benar-benar merefleksikan hal itu. Atau lebih
tepatnya, Nanami kan juga terkadang berkumpul bersama Otofuke-san atau Kamoenai-san,
tetapi mereka tidak sampai terasa seramai dan sebising itu.
Apakah
gaya tadi merupakan standar wanita di luar sana?
"Lalu
soal hal yang dibicarakan juga... cuma sebatas diajak main bareng atau diajak
minum bareng... kalau dipikir-pikir lagi, dari pihakku sendiri hampir tidak ada
bicara apa pun, sih..."
Ya,
bahkan kalau kuingat-ingat sekarang pun, aku cuma diajak bicara secara sepihak
dan tidak mengatakan hal berarti apa pun. Atau lebih tepatnya, memang tidak ada
kesempatan untuk bicara, sih...
"Kalau
begitu, apa lagi yang mereka katakan padamu?"
"Tidak
kok, tidak ada hal khusus..."
"Masa
sih...? Soalnya mereka tadi kelihatan heboh sendiri..."
Heboh
sendiri... memang benar sih. Aku sendiri kan tadi malah ditinggalkan tanpa tahu
apa-apa. Kalau ingat hal yang mereka katakan...
"Mereka
cuma bilang aku lucu atau seksi, begitu...?"
Hanya
sebatas itu yang disampaikan, dan ucapan itu terasa sangat tidak cocok untukku.
Yah,
bukan berarti tidak ada kata-kata lain yang diucapkan, tapi... eh...
Nanami
tampak ternganga kebingungan.
"...Bahkan
setelah dibilang begitu, kamu sama sekali tidak tersipu malu?"
"Eh?
Kenapa?"
Memangnya
ada alasan buat tersipu malu...? Lagipula pujian mereka rasanya sangat aneh dan
membingungkan... justru terasa ganjil...
"Aduh,
kalau Oto-nii atau orang lain yang ada di posisi itu, pasti sudah tersipu malu
berat, lho? Malah bisa-bisa dia malah keasyikan ngobrol lalu panik waktu
Hatsumi datang."
"Eeh...?
Souichirou-san padahal sudah punya pacar, kan? Kalau sudah punya pacar, mana
boleh bersikap begitu ke wanita lain..."
"Ya
memang sih, kalau situasi begitu biasanya dia bakal bertengkar sama Hatsumi,
bahkan kalau apes bisa sampai adu fisik..."
"Wajar
saja sih... eh, adu fisik?"
"Mengingat
Oto-nii itu petarung, anggap saja itu bagian dari fanservice, jadi mau
bagaimana lagi..."
Seram
amat, apa mereka berdua sering bertengkar sejauh itu? Tapi kalau laki-laki
sampai tersipu ke wanita lain, wajar saja kalau akhirnya begitu. Katanya daya
cemburu itu memang luar biasa kuat.
Aku
pun kalau sampai melihat Nanami tampak terpikat atau tersipu ke laki-laki
lain... ya, jelas aku juga tidak suka. Justru karena tidak suka, mana mungkin
aku memperlihatkan sikap seperti itu kepada wanita lain, kan.
"Meski
begitu, bukankah laki-laki pada umumnya bakal tersipu kalau dipuji atau digoda
oleh kakak cantik seperti tadi?"
"Yah,
mungkin itu... karena aku sendiri tidak punya pengalaman seperti itu?"
Perkataan
wanita-wanita tadi juga tidak begitu membekas di hatiku.
Memang
benar mereka memujiku, tapi terasa sangat dangkal... Rasanya jauh berbeda bila
dibandingkan dengan perasaan saat dipuji oleh Nanami.
"Emm...
meski agak terlambat, mungkin aku baru sedikit memahami apa yang dikatakan guru
UKS saat di Hawaii dulu."
Meskipun
terlihat menyimpan perasaan rumit, Nanami menghela nafas lega.
Ucapan
guru UKS saat di Hawaii dulu... apa ya? Ah, soal... bagian kegelapan di dalam
diriku atau semacamnya, ya?
Soalnya
semua orang pasti membawa bebannya masing-masing. Bukan berarti cuma aku yang
spesial.
Walau
jujur saja, aku sendiri tidak begitu merasakannya.
Entah
apa yang dipikirkannya, tidak seperti biasanya Nanami tersenyum getir lalu
mengulurkan tangannya padaku. Tatapannya saat itu terasa seperti tatapan
seorang ibu yang sedang memperhatikan anaknya.
Nanami
mengulurkan tangannya lalu mencubit hidungku, memainkannya pelan dengan
jarinya. Diraih hidungnya secara mendadak begini rasanya sungguh ganjil.
Untuk
sementara, aku biarkan saja dia melakukan sesukanya.
"Bukan
kapasitasku buat bilang begini sih... tapi walau kamu sedikit tersipu ke orang
lain, aku tidak akan marah, kok. Tidak apa-apa, tahu?"
"...Bukannya
aku tidak tersipu karena takut dimarahi Nanami, lho."
"Tapi
ya terlepas dari itu, kalau kamu sampai tersipu aku tetap bakal kesal
sih."
"Sebentar,
jangan membuat kontradiksi dalam hitungan detik dong?"
Kontradiksi
tercepat apa ini. Aku sampai kaget, kukira ingatan Nanami mendadak hilang.
Begitu singkatnya rentang waktu menuju kontradiksi tersebut.
Yah,
lagipula aku sama sekali tidak ada niat buat tersipu ke wanita lain, sih...
"Kenapa
malah melontarkan pernyataan yang bertolak belakang begitu...?"
"Sebagai
pasangannya, aku ingin Youshin tumbuh dengan sehat, tapi di luar itu, kalau
kamu sampai bergairah ke wanita selain aku, tentu saja secara naluri wanita aku
bakal kesal."
Logika
macam apa itu, menggabungkan sudut pandang ibu yang mengawasi tumbuh kembang
anak dengan sudut pandang pacar yang merepotkan sekaligus. Lagipula, apakah
saat ini aku tidak tumbuh dengan sehat?
"Tapi
ya, dibilang Youshin itu lucu dan seksi... aku agak paham sih."
"Eh,
kamu paham...?"
"Khusus
untuk Youshin, aku adalah wanita yang sangat paham."
Mendadak
dia merasa sangat paham.
Sembari
memproklamirkan diri sebagai wanita yang paham, Nanami melepaskan tangannya
dari hidungku, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah untuk menutupi
mulutnya. Dia malah mengambil pose mirip seorang komandan.
Tiba-tiba
saja, matanya seperti berkilat tajam. Padahal dia sedang tidak memakai
kacamata, tapi kacamata di dalam hatinya seolah terlihat jelas. Apa coba
maksudnya kacamata di dalam hati.
"Pertama,
cara memanggil diri dengan sebutan 'Boku' itu lucu. Wajah saat tertawa juga
lucu. Kadang saat malu-malu juga lucu, apalagi saat manja padaku itu lucu
banget. Bagian yang agak kekanak-kanakan itu juga..."
O-ooh...
dia terus-menerus menyebut kata 'lucu' secara beruntun.
Sebentar,
orang-orang tadi kan cuma bilang cara memanggil diri dengan sebutan 'Boku' itu
lucu, tidak sampai menyebutkan banyak hal begitu...
Nanami
yang tak terhentikan terus mendesakku dengan rentatan kalimat yang tak kalah
sengit dari rombongan wanita tadi.
"Kalau
soal seksi, ya penampilan yukata-mu yang sekarang ini... Youshin kan
belum terbiasa memakai yukata, jadi bagian tulang selangka yang
mengintip sedikit, atau area dada... rasanya seksi banget... dalam keseharian
pun..."
Sontak
aku langsung menutupi bagian depan yukata-ku. Tidak, memang benar aku
tidak terbiasa memakai yukata, tapi aku tidak pernah melihat dari sudut
pandang seperti itu...
Melihat
tulang selangka dan area dada laki-laki... apakah menyenangkan?
"Buatku
sangat menyenangkan."
Dia
mengatakannya dengan wajah yang sangat mantap.
B-Begitu,
ya...
Tapi
soal penampilan dengan yukata... benar juga, penampilan dengan yukata.
Sejak
Nanami keluar dari pemandian air panas suasana begitu riuh, sampai-sampai aku
merasa belum sempat memperhatikan penampilan yukata Nanami.
Meski
ini yukata dari penginapan, sih. Lagipula waktu kami pergi berlibur
bersama sebelumnya dia juga pernah memakainya. Tapi, rasanya tidak mungkin
kalau aku tidak memuji penampilannya yang berbeda dari biasanya. Atau lebih
tepatnya, aku ingin memuji Nanami yang tampak menggemaskan dalam balutan yukata.
Setelah
puas bercerita, aku menatap Nanami yang sedang bertopang dagu dengan wajah
puas. Tidak seperti biasanya dia bertopang dagu di atas meja sambil memiringkan
tubuhnya. Penampilannya begitu indah bagaikan foto dari majalah gravure,
hingga aku menatapnya lekat-lekat demi menyimpannya dalam ingatan. Meskipun ada
ponsel yang bisa mengabadikan sosok Nanami saat ini dengan mudah, tapi entah
mengapa saat ini aku tidak berniat mengarahkan ponsel padanya.
Foto
dengan yukata bisa diambil nanti, tapi Nanami yang sekarang... ingin
kusimpan di ingatan diriku saja.
Kulitnya
yang memerah hangat setelah keluar dari pemandian air panas tampak berseri dan
berkilau berkat khasiat air panas yang mempercantik kulit. Rona wajahnya
membaik, kedua pipinya merona merah bagai mawar, dan bibir tipisnya yang
berwarna merah muda tampak begitu cerah.
Rambutnya
saat ini tidak disanggul ke atas, melainkan terurai biasa. Meskipun terurai,
helaian rambut yang jatuh di sekitar pipinya memberikan kesan yang sangat
anggun dan menawan.
Tadi
Nanami menyindirku bahwa yukata-ku agak terbuka, padahal yukata
Nanami sendiri juga sedikit tersingkap... hingga tulang selangkanya terlihat
dari sisinya.
Saat
dadaku berdesir melihat tulang selangka itu, sudut mulut Nanami terangkat dan
menyunggingkan senyum tipis. Seolah-olah dia tahu ke mana arah pandanganku...
Untunglah
karena dia memaikainya dengan benar, bagian dadanya tidak terlihat... justru
membuatku merasa lega.
"Ya,
Nanami yang memakai yukata terlihat sangat menggemaskan."
"...Mau
kuperlihatkan sedikit sebagai bonus?"
Mungkin
karena senang dipuji, Nanami memegang ujung bawah yukata-nya lalu
memainkannya dengan menepuk-nepukkannya.
Sambil
merasa sedikit was-was melihat gerakannya yang terlihat seperti akan tersingkap
namun tidak kunjung tersingkap...
"Wanita-wanita
tadi juga melakukan hal seperti itu... tapi rasanya agak kurang sopan,
ya..."
Bagaimanapun
juga, yukata itu harus dipakai dengan rapi, dan saat tidak sengaja
tersingkap, gerak-gerik malu-malu itulah yang menurutku sangat penting...
Dan
hal itu pun berlaku dengan premis bahwa hal tersebut dilakukan oleh orang yang
kita sukai. Kalau orang yang sama sekali tidak kita rasakan apa-apa yang
melakukannya, rasanya cuma terlihat berantakan dan tidak rapi...
Lho?
Gerakan Nanami mendadak terhenti?
"Fuu~nn...
Yang tadi itu juga begitu, ya..."
"Anu...
Nanami-san?"
"...Jadi,
yang dari orang-orang tadi sempat kamu lihat?"
"Tidak,
aku sama sekali tidak melihat apa-apa..."
Aneh,
padahal baru saja selesai dari pemandian air panas, tapi kenapa mendadak
merinding begini, ya...
Tiba-tiba
saja aku dibuat gemetar oleh semacam hawa dingin yang terpancar dari Nanami. Namun
hal itu pun segera mereda, dan karena Nanami mengajak untuk minum susu, kami
akhirnya pergi ke kedai penginapan bersama-sama.
Karena
aku sudah jujur bilang tidak melihatnya, apakah Nanami sudah bisa menerima hal
itu?
Begitulah
pikiran optimis yang sempat terlintas di benakku. Fakta mengenai apa yang
sedang dipikirkan Nanami saat itu baru kuketahui... tidak lama setelah kejadian
ini.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Selesai
dari pemandian air panas, minum susu kopi, bermain di game corner bersama
Nanami, lalu kami kembali ke kamar.
Sudah
berapa tahun ya sejak terakhir kali aku bermain air hockey?
Ada
juga kejadian standar seperti yukata yang tersingkap... terutama padaku, sih.
Serius,
karena aku sangat tidak terbiasa memakai yukata, yukata-ku sampai tersingkap
dan berada dalam kondisi seksi. Tapi Nanami malah memujiku. Katanya, karena
kamu rajin melatih tubuh, penampilannya jadi kelihatan bagus...
Sebaliknya,
Nanami dengan mahir membenahi kerapian pakaiannya setiap saat, jadi yukata-nya
sama sekali tidak tersingkap. Fakta bahwa kami sampai sedikit berkeringat
padahal baru selesai mandi air panas adalah sebuah kekeliruan perhitungan,
tetapi karena dia mengajak mandi lagi setelah makan malam, aku memutuskan untuk
menyetujuinya.
Katanya,
pemandian terbuka di malam hari yang gelap gulita pasti pemandangannya sangat
indah...
Ya,
aku memang ingin mencoba mandi di saat seperti itu.
Saat
mandi tadi juga sudah gelap, sih, tapi masih agak temaram... alias sedikit
terang. Tepat di momen sebelum matahari terbenam... terasa seperti suasana
senja (tasogaredoki). ...Ungkapanku sudah tepat, kan?
Begitu
tiba kembali di kamar, kami kebetulan berpapasan dengan nakai-san. Beliau
menanyakan, Apakah makan malamnya sudah boleh diantarkan ke kamar?
Karena
ditanya begitu, kami meminta beliau untuk mengantarkannya.
Sambil
menantikan hidangan seperti apa yang akan disajikan... makanan yang diantarkan
ternyata jauh lebih mewah dari dugaanku.
"Uwah...
kelihatannya enak sekali..."
Nanami
menatap hidangan yang disajikan di atas meja dengan mata berbinar-binar. Tidak,
hidangan seperti ini memang pantas ditatap dengan mata berbinar-binar, sih.
Benar-benar luar biasa.
Hasil
laut, hasil pegunungan, daging di dalam panci kecil (konabe)... bahkan ini...
kepiting?! Eh? Makan malam dengan tambahan kepiting, mewah banget ini mah.
Hasil
lautnya terdiri dari sashimi, rebusan udang, dan ada juga tempura. Hasil
pegunungannya berupa rebusan sayur campur (takiawase), serta yang ada di dalam
gelas ini sepertinya parutan ubi gunung (yamaimo). Selain itu, ada berbagai
macam hidangan piring kecil (kobachi) yang menyertainya.
Daging
dan panci kecil ini... apakah ini sukiyaki? Ada tahu, daun bawang, shirataki...
dan irisan daging tipis yang ditata di atas piring terpisah. Dan puncaknya
adalah kepiting berwarna merah cerah... satu ekor utuh... Kelihatannya bisa
langsung disantap begitu saja.
"Untuk
orang dewasa mungkin lebih cocok dengan minuman beralkohol... namun ini adalah
jus sebelum makan."
Yang
disajikan adalah cairan berwarna jingga di dalam gelas yang anggun. Katanya ini
adalah jus yang dibuat menggunakan sayuran dan buah-buahan lokal. Selain itu,
diletakkan pula teh oolong dalam kemasan botol serta jus jeruk.
"Setelah
Anda berdua selesai makan, kami akan membawakan pencuci mulut, jadi silakan
hubungi kami jika memerlukan sesuatu."
Para
nakai-san yang menyajikan makanan memberi hormat, lalu menutup pintu geser
(fusuma) dengan posisi tubuh yang tetap membungkuk sopan.
Wah...
bahkan sampai dapat hidangan penutup... bukankah ini terlalu mewah...?
"Untuk
saat ini... ayo kita bersulang dulu."
"Iya,
ayo, ayo! Youshin, sampaikan sepatah kata dong~"
Serangan
permintaan mendadak yang tidak masuk akal pun datang. Eh? Sepatah kata apa yang
harus kukatakan? Mmm... mungkin ucapan yang paling cocok untuk situasi kami
saat ini adalah ini, ya...?
"Untuk
perjalanan liburan pertama kita yang berduaan saja, bersulang."
"Bersulaaang~☆"
Gelas-gelas
kaca saling beradu pelan, menggemakan suara nyaring di sekeliling kami. Aku
menyesap jus di dalam gelas, lalu meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk. Katanya
ini jus sayuran, tetapi rasa asam dan manisnya terasa sangat menyegarkan tanpa
ada aroma langu sayuran sedikit pun... Rasa nikmatnya jauh melampaui jus
kemasan kaleng biasa.
Apakah
rasa asamnya lebih dominan daripada manisnya? Aroma buah sitrusnya seakan
membangkitkan selera makan. Makanan yang tertata di atas meja rasanya bakal
bisa kulahap sampai habis.
"Tapi...
kalau pilihannya sebanyak ini, jadi bingung ya mau makan yang mana dulu."
"Memindahkan
sumpit kesana-kemari itu melanggar tata krama, kan? Tapi kalau bentuknya
begini... jelas saja bakal bingung, ya..."
Seingatku
yang melanggar tata krama itu adalah menggerak-gerakkan sumpit sambil
kebingungan memilih. Berarti kalau cuma bingung dalam kondisi sekarang,
sepertinya tidak melanggar tata krama.
Tapi
serius... mau mulai dari mana, ya.
Untuk
sementara nasi, lalu sup miso... yang mana, ya? Sepertinya mangkuk yang ada
tutupnya ini. Saat kubuka... aroma kaldu yang harum langsung menyeruak
menyegarkan hidung.
Nasinya
berseri-seri berkilau, bulir demi bulirnya berdiri tegak berwarna putih bersih.
Dengan lauk sebanyak ini, rasanya aku bisa menambah nasi berulang kali.
Sup
misonya berisi tahu, lobak, dan wortel. Meskipun sederhana, di antara banyaknya
hidangan mewah ini, sup miso yang sederhana justru terasa menenangkan di hati.
...Rasanya
cuma dengan sup miso ini saja aku sudah bisa menghabiskan semangkuk nasi.
Sambil
menikmati jajaran hidangan yang berpotensi membuat kami makan berlebihan ini,
kami menyantap makan malam dengan tenang seolah memulihkan rasa lelah sepanjang
hari.
"Untunglah
kita berdua tidak pemilih makanan, ya..."
Yah,
walaupun aku kurang suka daun ketumbar dan sejenisnya, bahan itu tidak ada
dalam deretan menu kali ini. Sesuatu seperti agar-agar ajaib di dalam piring
kecil ini juga rasanya enak.
"Ini
enak banget, ya. Kira-kira aku bisa buat sendiri tidak, ya...?"
"Mau
buat sendiri...? Memangnya kamu tahu bumbu-bumbunya?"
"Hmm...
karena sudah ingat rasanya, nanti tinggal coba-coba... Ah, yang ini juga enak
banget..."
Yang
sedang dimakan Nanami adalah rebusan sayur campur (takiawase). Isinya
memadukan umbi mawar (yurine), lobak, ubi keladi (satoimo),
daging ayam, dan jamur shiitake.
Karena
warna alami bahannya keluar dengan cantik, aku sempat mengira rasanya bakal
cenderung hambar, tetapi ternyata rebusan kaldu dashi-nya meresap dengan sangat
pas dan gurih, tanpa ada rasa yang kurang sedikit pun.
Cita
rasa bahan alami dan bumbu masakan berpadu harmonis tanpa kelebihan maupun
kekurangan. Itu adalah cita rasa khas koki profesional.
"Youshin,
tolong bantu cicipi juga ya~"
"Soalnya
aku tidak yakin apa bisa mengingat rasanya dengan tepat..."
Karena
ini adalah cita rasa yang membuat orang ingin mencicipinya lagi, kalau Nanami
sampai bisa membuatnya sendiri, tentu aku akan sangat bersyukur. Sepertinya aku
juga harus ikut membantu...
Awalnya
aku sempat ragu apakah bisa menghabiskan porsi sebanyak ini mengingat
melimpahnya hidangan mewah yang tersaji, tetapi mungkin karena rasa lelah
akibat jalan-jalan di siang hari, kami berdua sanggup melahap bersih seluruh
hidangan tanpa sisa.
Pencuci
mulut setelah makan adalah sup kacang merah manis (oshiruko). Meski
sempat terpikir apakah hidangan ini bakal terasa agak berat setelah menyantap
porsi sebanyak itu, tetapi pepatah yang mengatakan bahwa selalu ada ruang
khusus di perut untuk hidangan manis memang benar adanya.
Manisnya
terasa alami tanpa berlebihan, dan hidangan itu pun habis terlahap oleh kami.
Saat
ini kami berdua sedang menikmati teh hangat setelah makan.
"Enak
sekali..."
"Aku
makan terlalu banyak..."
Begitu
kami mendesah lega menenangkan diri, rasa kenyang langsung melanda seketika.
Tidak, serius deh, mungkin karena terpengaruh suasana antusias berlibur juga,
aku jadi makan jauh lebih banyak dari biasanya...
Perutku
terasa sangat penuh dan mengencang... Nanami pun tampaknya merasakan hal yang
sama, dia memegangi perut bagian bawahnya sambil terlihat agak malu. Mungkin
bentuk perut Nanami saat ini sedang sedikit membusung bulat.
Kendati
demikian...
"Entah
mengapa, setelah menyantap hidangannya keringatku malah keluar lagi,
ya..."
"Iya
ya... Mungkin karena banyak makanan hangat dan penambah stamina?"
Apakah
karena kami menyantap hidangan hangat di dalam ruangan yang hangat... baik aku
maupun Nanami sama-sama berkeringat tipis. Fakta bahwa tubuh kami masih
menyimpan hangat dari pemandian air panas tadi sepertinya juga menjadi salah
satu alasannya.
Ini
bukan keringat yang membuat tidak nyaman, melainkan jenis keringat yang terasa
agak menyegarkan. Meski begitu, karena tadi kami juga sempat berkeringat saat
bermain air hockey, aku jadi ingin berendam di pemandian air panas
sekali lagi.
Nanami
juga sempat bilang ingin masuk mandi sekali lagi... Lagipula rasanya
menyenangkan juga jika bisa menikmati pemandian terbuka (rotenburo)
sambil memandangi langit malam.
Yah,
karena aku bakal masuk sendirian, cuma bagian itu saja sih yang terasa agak
sepi.
"Kalau
begitu, mau masuk ke pemandian air panas sekali lagi?"
"Emm...
Benar juga ya, ayo kita masuk setelah mengistirahatkan perut sebentar..."
Bukankah
langsung mandi tepat setelah makan itu tidak baik bagi tubuh...?
Karena
Nanami langsung berbaring bertelungkup di tempat, aku hanya melontarkan gurauan
bahwa berbaring tepat setelah makan bisa membuat orang berubah jadi sapi.
Nanami
yang sedang berbaring malah mengangkat dadanya sendiri dengan satu tangan lalu
berucap, "Moo~?"... Tindakan itu agak tidak sopan untuk dilakukan
dalam balutan yukata, jadi hentikanlah...
Meski
begitu, fakta bahwa pandangan mataku tidak bisa berpaling adalah hal yang cukup
menyedihkan dari diriku.
Begitulah
waktu berlalu saat kami berdua bermalas-malasan bersama... Momen santai setelah
makan seperti ini tanpa disadari justru menjadi momen yang paling memancarkan
rasa bahagia. Padahal aku selalu merasakan kebahagiaan di setiap kesempatan,
sih.
Tanpa
disadari Nanami sudah berbaring di sampingku, lalu membiarkanku menyentuh
perutnya yang kekenyangan. Kami berdua juga sempat menelepon orang tua
masing-masing, serta melakukan obrolan singkat dengan Baron-san dan yang
lainnya...
Tepat
di tengah-tengah momen bermalas-malasan yang berkedok mengistirahatkan perut
itulah, ucapan tersebut terlontar.
"...Kalau
begitu, sebentar lagi... mari kita masuk ke pemandian terbuka."
"...Apa?"
Lalu,
tujuan yang diarah oleh Nanami... adalah pemandian terbuka (rotenburo)
yang menyatu dengan kamar kami.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Tegang.
Hanya
sebuah kata sederhana, namun saat ini tidak ada kata yang lebih cocok untuk
mendeskripsikan diriku selain kata tersebut.
Aku
tentu tahu kata itu secara kognitif, dan jarang sekali ada kebutuhan untuk
mencari tahu kembali arti dari kata tersebut.
Alasannya
karena hampir semua orang sudah memahami seperti apa kondisi yang dimaksud
dengan tegang. Namun, aku dengan sengaja mencoba memastikan kembali seperti apa
wujud dari ketegangan itu.
Apa
sebenarnya arti dari rasa tegang.
Bagaikan
bentuk pelarian dari kenyataan, aku sempat mencarinya sebelum tiba di tempatku
berada saat ini... Katanya, tegang merujuk pada kondisi di mana jiwa dan raga
berada dalam keadaan kaku terikat penuh tekanan. Bukan cuma jiwa, bukan pula
cuma raga, melainkan kedua-duanya berada dalam kondisi yang saling mengencang.
Itu
sangat menggambarkan diriku saat ini.
Aku
bermonolog memahami kondisi diri sendiri.
Yah,
waktu kucari arti dari kata mengencang kaku, yang muncul justru penjelasan
mengenai kondisi tegang, jadi rasanya mirip teka-teki mana yang lebih dulu
antara ayam atau telur. Namun terlepas dari hal itu, konsep mengenai kondisi
mengencang kaku sangat mudah untuk dipahami.
Saat
ini, jiwa dan ragaku berada dalam kondisi mengencang kaku tanpa tanding. Ibarat
benang yang ditarik hingga batas maksimal... tidak, lebih mirip karet gelang,
mungkin?
Dalam
artian hampir putus setiap saat, perumpamaan karet gelang mungkin lebih tepat. Karet
gelang yang ditarik hingga muncul keretakan pada bagian karetnya.
...Kembali
ke topik utama, rasa tegang itu memiliki beberapa jenis.
Ada
yang berasal dari kecemasan atau rasa takut, tantangan pada hal baru, hingga
rasa antusias pada hari sebelum sebuah acara besar berlangsung.
Dengan
kata lain, tindakan yang berbeda dari rutinitas harian adalah penyebab
timbulnya rasa tegang, yang kemudian merusak keseimbangan jiwa dan raga.
Karena
aku bukan seorang ahli, ini hanyalah pengetahuan sepotong-sepotong yang pernah
kudengar, tetapi aku baru menyadari belakangan ini bahwa kondisi di luar
rutinitas memang bisa merusak keseimbangan diri.
Orang-orang
profesional atau ahli di bidang tertentu mungkin adalah tipe orang yang sudah
terbiasa menjadikan kondisi tidak biasa ini sebagai rutinitas harian sehingga
tidak lagi merasa tegang.
Atau
mungkin, orang profesional adalah mereka yang mampu mengendalikan rasa tegang
tersebut dengan baik. Begitu sulitnya menghilangkan rasa tegang itu dari dalam
diri.
Rasa
tegang yang kukeringkan saat ini... termasuk ke dalam jenis yang mana, ya?
Sambil memikirkan hal tersebut, aku merendamkan tubuh ke dalam bak mandi.
"Padahal
sedang berada di dalam air panas, tapi rasanya sama sekali tidak bisa
santai..."
Aneh
sekali, air panas yang seharusnya menjadi tempat paling menenangkan untuk
rileks... justru membuat tubuhku terus-menerus tegang. Padahal menghangatkan
tubuh seharusnya memberi dampak bagus bagi sistem saraf. Mungkin ini adalah
indikasi bahwa diriku belum terbiasa dengan situasi tidak biasa semacam ini.
Apakah
aku akan terus merasa tegang tanpa henti...?
Sembari
merasakan sedikit penurunan suasana hati, aku menengadahkan kepala menatap ke
atas.
Saat
mendongak ke atas... bintang dan bulan tampak bersinar dengan indah. Setelah
matahari terbenam, area sekitar menjadi gelap gulita, dan hanya pencahayaan
dari kamar yang menerangi tempat ini. Mungkin karena posisinya berada di tempat
yang cukup tinggi, pemandangan luar dari sini bisa terlihat jelas.
Penginapan
ini menghadap ke arah danau, dan di sana tampak beberapa pijar cahaya.
Sepertinya cahaya dari lampu kapal. Cahaya tersebut dan cahaya dari langit
seakan-akan sama-sama memancarkan sinarnya ke arahku.
Malam
ini... adalah malam bulan purnama.
"Bulannya
indah ya... ucapan ini rasanya sudah terlalu sering dipakai sampai terdengar
klise sekarang."
Bukankah
itu adalah terjemahan dari ungkapan cinta?
Alasan
kenapa kalimat itu tetap ingin diucapkan meski sudah terdengar klise, mungkin
karena suasananya maupun pilihan katanya terasa begitu indah.
Kepak...
Sambil
menggemakan suara air tersebut, aku mengeluarkan tanganku dari dalam air.
Meskipun bak mandi ini cukup luas untuk meluruskan kaki... tetap saja rasanya
tidak tenang.
Apakah
yang tidak tenang ini perasaanku, atau tubuhku? Dua-duanya, sepertinya.
Aku
menyandarkan tubuh secara perlahan di dalam bak mandi lalu mendongak menatap
langit malam. Rasanya aku ingin mengapung santai di atas air tanpa memikirkan
apa pun. Meski secara wujud nyata aku tidak bisa berbaring lurus karena dalam
etika pemandian air panas rambut tidak boleh menyentuh air.
Dengan
posisi tubuh yang sebisa mungkin pasrah merenggang, aku menatap ke arah langit
malam.
Saat
aku mencoba menenangkan pikiran sambil memandangi indahnya cahaya bulan...
Kriiek...
Suara
derit pintu bergaung di sekeliling. Suara derit pintu itu terdengar beruntun,
lalu seketika menjadi hening tanpa suara saat pintu tertutup. Dan menyusul
setelah suara-suara tersebut, gesekan kain serta langkah kaki seseorang...
langkah kaki yang membawa basah mencapai telingaku.
Ini...
ya, mungkin, pasti begitu. Fakta bahwa aku mendengar suara selain diriku di
tempat ini... artinya, mungkin, emm...
Tidak
bisa, pikiranku tidak bisa fokus.
Suara
itu perlahan-lahan mendekat, lalu berhenti tepat di belakangku.
"...Youshin."
Byurrr!
Suara air yang cukup keras bergaung. Itu karena aku menggerakkan tubuh secara
mendadak di dalam bak mandi, hingga membuat air bergejolak dan menimbulkan
suara.
Pemilik
suara itu... tentu saja Nanami.
Mendengar
suara yang datang dari arah belakang tersebut, aku hanya bisa menjawab
"Iya" tanpa sanggup menolehkan kepala.
Seperti
apa penampilan Nanami saat ini. Karena dia datang ke pemandian terbuka,
pilihannya tentu cuma satu, namun tetap saja... saat ini aku tidak punya cara
untuk memastikannya.
Tidak,
secara teknis sebenarnya ada jalannya. Aku hanya perlu memutar tubuh yang
sedang berendam di bak mandi ini.
Lagipula,
kenapa juga dari tadi aku sengaja merendam tubuh di pemandian dengan posisi
membelakangi pintu?
Jawabannya
sudah jelas, demi mempersiapkan mental. Namun persiapan mental itu pun
sepertinya tidak terlalu berguna... Saat ini aku masih saja merasa tegang, dan
belum sanggup menatap sosok Nanami.
Padahal
jika aku memutarkan tubuh, hanya dengan tindakan sederhana itu, aku mungkin...
bisa melihat seluruh sosok Nanami.
"...A...
Aku permisi masuk, ya."
"I...
Iya... Dingin, kan...? Cepat masuk ke sini..."
Meskipun
ucapanku seperti sedang mengundangnya untuk segera masuk, saat ini kan sedang
musim dingin, jadi sudah pasti rasanya sangat dingin.
Bahkan
napas milikku yang sedang berendam di air panas saja mengembun putih. Uap dari
air panas pun membumbung tinggi...
Seberapa
dinginnya kulit Nanami yang berada di luar sana... Lagipula, kulitnya pasti...
langsung terekspos tanpa pelindung. Atau mungkin dia mengenakan pakaian renang.
Meskipun seingatku dia tidak membawa pakaian renang, bisa saja dia membelinya
tanpa sepengetahuanku.
Suara
langkah kaki peta-peta terdengar mendekat. Kehadiran Nanami pun...
perlahan-lahan makin dekat. Rasanya dulu pernah ada cerita youkai yang
berjalan dengan suara langkah kaki peta-peta seperti ini. Perasaanku
persis seperti itu.
Tidak,
Nanami tentu saja bukan siluman. Meski begitu, aku tidak bisa menahan diri
untuk tidak berpikiran demikian.
Walau
begitu, Nanami tetap melangkah perlahan. Hebat sekali, padahal aku sendiri
tadi... begitu keluar ke area luar langsung berlari kecil masuk ke dalam air
karena merasa terlalu dingin. Kecepatan geraknya itu mencerminkan tingkat
ketegangan yang dirasakan oleh Nanami.
Kepak...
suara air yang mirip dengan yang kubuat tadi kembali bergaung. Nanami pasti
sudah masuk ke dalam air.
Mungkin,
pasti begitu.
"...Youshin,
kamu boleh... menoleh ke sini sekarang..."
Tepat
di belakangku, keberadaan Nanami terasa sangat dekat. Dan aku pun telah
mendapatkan izin untuk menoleh. Kenapa bahasaku jadi seformal ini, sih.
"B...
Boleh minta sedikit waktu lagi...? Soalnya... kalau tetap begini apa tidak
boleh...?"
Aku
sendiri menyadari betapa pengecutnya diriku saat ini. Hanya saja, aku butuh
sedikit, sedikit waktu lagi.
"Boleh
kok... Kalau begitu, tunggu sebentar, ya..."
Ada
rasa janggal dari kata-kata tersebut. Bukannya 'tunggu ya' dalam artian aku
yang disuruh menunggu... melainkan dialah yang bertindak. Apa maksudnya aku
yang berada di pihak yang menunggu?
Saat
aku bertanya-tanya, jawaban atas keraguan itu langsung datang tak lama
kemudian. Di belakang punggungku... ada sentuhan hangat yang berbeda dari
hangatnya air panas.
Suara
air bergaung, menyuarakan kepakan air seolah-olah ada gerakan yang membelah air
di dalam bak mandi. Dan kemudian, di punggungku... sesuatu menyentuh kulitku.
Mungkinkah
ini dari arah depan...?! pikirku, namun sensasinya ternyata berbeda dari
dugaanku.
Jika
Nanami menempelkan tubuhnya dari depan ke punggungku, harusnya ada dua sensasi
yang sangat besar dan lembut yang mendarat di punggungku, tetapi kali ini tidak
begitu.
Meskipun
terasa kelembutan, yang ada di sana hanyalah sedikit struktur keras serta
sensasi kulit.
Apakah
ini...
"Punggung...?"
"Tebakan
yang tepat~ kamu paham betul, ya. Mungkinkah karena aku selalu menempelkan
dadaku ke punggungmu, makanya Youshin jadi bisa membedakan variasinya?"
Meskipun
dia mengoda dengan sebutan ahli, tentu saja perbedaan antara bagian depan dan
punggung bisa kubedakan dengan jelas.
Yah,
walau dalam berbagai macam arti, sih.
Meski
Nanami mencoba mencairkan suasana dengan gurauan ringan, tingkat ketegangannya
bisa kupahami secara jelas dari minimnya area tubuh yang bersentuhan.
Benar-benar
hanya sebagian kecil dari area punggung kami yang saling menempel.
...Apakah
aku benar-benar boleh menoleh ke arah Nanami?
Dalam
posisi tersebut, aku dan Nanami melanjutkan percakapan dengan tenang
seolah-olah untuk meredakan rasa tegang satu sama lain. Seperti membahas betapa
menyenangkannya jalan-jalan hari ini, betapa enaknya makan malam tadi...
Bahwa
setelah keluar dari pemandian ini kami bisa minum jus yang didinginkan di
kulkas, atau keinginan untuk makan es krim... Obrolan-obrolan sederhana tanpa
arah seperti itu.
Saat
melanjutkannya dengan percakapan sehari-hari, sedikit demi sedikit rasa
tegangku mulai mereda... mereda...
Tidak,
aku sama sekali tidak bisa fokus pada percakapan.
Bagaimana
ya, walau aku bisa merespons perkataannya, obrolan kami sama sekali tidak masuk
ke dalam kepalaku. Aku malah memikirkan hal lain. Sensasi di punggungku, atau
seperti apa wujud penampilan Nanami saat ini.
"...Bagaimana
kalau sebentar lagi kamu menoleh ke sini?"
Nanami
menunjukkan sikap yang sangat proaktif. Atau lebih tepatnya, dia tampak seperti
sangat ingin membuatku menoleh.
Saat
aku bertanya-tanya kenapa sampai sejauh itu... dari pihakku sendiri pun merasa
agak sepi jika harus mengakhirinya dalam posisi saling membelakangi seperti
ini.
Sisanya,
hanya tinggal memanggil keberanianku saja.
Aku
mengeluarkan tangan dari dalam air, lalu menepuk kedua pipiku dengan sekuat
tenaga. Karena ada hambatan dari air, rasanya tidak begitu sakit, namun
benturan tersebut cukup untuk menyadarkan diriku.
Tak
hanya itu, aku memejamkan mata lalu menarik napas dalam-dalam.
Sembari
menyerahkan diri pada hangatnya air pemandian, aku membayangkan sensasi oksigen
yang menyebar ke seluruh tubuh lalu menghembuskan dan menarik napas dengan
sangat dalam.
"...Baiklah."
Mendadak
nyaliku sudah bulat. Dengan begini, aku akan menoleh.
Pada
kenyataannya, butuh waktu sejenak setelah aku mengucapkan kata 'baiklah' tadi,
namun Nanami yang menyadari bahwa aku akan menoleh mulai menjauhkan
punggungnya. Lalu, aku memutarkan tubuhku secara perlahan... dalam posisi duduk
di dalam air.
Seiring
dengan perputaran tubuhku, pandanganku... dunia seakan ikut berputar. Berbagai
pijar cahaya mengalir bagai garis di sudut mata, hingga akhirnya aku
menghentikan putaran tubuh.
Tepat
di depanku, ada sosok Nanami yang sedang membelakangiku.
Gadis
yang sedang berendam di air panas itu hanya memperlihatkan bagian bahunya di
luar permukaan air. Tetesan air yang meluncur turun di atas kulitnya yang mulus
tampak berkilau memantulkan cahaya. Lengkungan dari leher menuju bahunya tampak
begitu indah dan memikat mata... lalu saat aku menggeser pandangan perlahan ke
bawah...
Lho?
Di dalam air... ada sesuatu yang berwarna putih yang terlihat...?
"E-Ehehe...
Sebenarnya kalau secara etika ini agak tidak boleh sih... tapi aku merasa
sedikit malu..."
"Ah,
ternyata kamu melilitkan handuk, ya..."
Entah
mengapa, muncul perasaan rumit yang memadukan antara rasa kecewa dan lega...
Namun rasa lega sepertinya jauh lebih dominan daripada rasa kecewa.
Dia
membentengi dirinya dengan sangat rapat, mirip seperti para reporter atau idola
di televisi saat masuk ke pemandian air panas.
Jika
begini, situasi bisa dikatakan aman dan terkendali... walau tidak sepenuhnya,
tetapi informasi secara visual menjadi terbatas. Jadi, mungkin begini saja
sudah cukup. Namun pemikiran itu hanya bertahan sesaat. Tepat saat aku mendesah
lega, Nanami mendadak berdiri dari posisinya.
"...Nanami?"
Dari
tubuhnya yang berdiri dalam posisi tetap membelakangiku, air mengalir turun
bagaikan tirai. Karena dia membelakangiku, aku tidak bisa mengintip raut
wajahnya dari tempatku berada.
Uap
air membumbung dari tubuh Nanami yang telah dihangatkan oleh pemandian air
panas, seolah-olah sedang mendinginkan tubuhnya yang memanas. Batas antara uap
air yang keluar dari pemandian dan uap air yang memancar dari tubuh Nanami
tampak samar.
Asap
putih mewarnai dirinya, dan di atas permukaan air, pantulan sinar bulan serta
sosoknya terbayang dengan redup.
Saat
aku menatap sosok itu dengan tertegun... Nanami mendaratkan tangannya pada
handuk yang melilit tubuhnya. Tanpa sempat maupun berniat untuk
menghentikannya, aku hanya bisa menengadah memasukkan tindakan tersebut ke
dalam pandanganku.
Saat
handuk yang melilit tubuh Nanami terlepas, dia memegangnya dengan kedua tangan
lalu merentangkannya lebar-lebardik. Di belakangnya, handuk milik Nanami
terbentang lebar seolah-olah menghalangi pandanganku.
Di
situlah untuk pertama kalinya Nanami memutarkan separuh tubuhnya lalu
mengarahkan pandangannya padaku. Karena dia memutarkan separuh tubuhnya dalam
kondisi handuk yang merentang lebar, siluet tubuhnya terpapar cahaya bulan dan
tercetak dengan sangat jelas.
Bukan
hanya cahaya bulan, pencahayaan dari bangunan ini dan sejenisnya sepertinya
juga menjadi penyebabnya. Bagaikan kulit, seluruh lekuk tubuh Nanami... bentuk
lekuk fisiknya terpetakan sempurna di dalam otakku.
Membutuhkan
waktu untuk bisa memahaminya, aku hanya bisa menatap tindakan Nanami dengan
tertegun, namun gempuran aksinya tidak berhenti sampai di situ.
Nanami
yang tadinya menatapku kembali membelakangiku secara penuh. Dia melepaskan
salah satu tangan yang memegang handuk, lalu... dengan tangan satunya lagi, dia
mengibaskan handuk itu dengan sapuan yang lebar.
Handuk
yang terkibas bagaikan jubah itu terlepas sepenuhnya dari tubuh Nanami.
Meskipun dalam posisi membelakangi... tidak, justru karena dalam posisi
membelakangilah punggung Nanami... tampak belakang tubuhnya terekspos secara
sempurna.
Mengikuti
garis tubuh yang memancarkan kelembutan, kulitnya yang bagikan porselen menolak
tetesan air. Tetesan air yang terpental itu memantulkan cahaya dan membuat
tubuhnya tampak berkilau.
Padahal
ada sosoknya yang tanpa busana di depan mataku... namun daripada daya tarik
sensual, aku malah terpesona oleh tubuhnya yang memancarkan kilau bagaikan
sebuah karya seni yang sangat indah.
Kata
'indah' mungkin terdengar klise, namun tetap saja aku tidak bisa menemukan kata
lain untuk mengekspresikannya selain kata tersebut. Bagaikan hendak menyentuh
bulan, aku mengulurkan tanganku ke arah sosok tersebut.
Pada
momen itulah Nanami melingkarkan kedua tangannya seolah-olah memeluk tubuhnya
sendiri, lalu berjongkok dan menenggelamkan tubuhnya kembali ke dalam air.
Tanganku
yang berniat menyentuh hanya meraup udara kosong, dan baru setelah melihat
telapak tanganku yang tidak merasakan sensasi apa pun, aku menyadari bahwa tadi
aku hampir saja menyentuhnya.
Lalu,
sambil menatap telapak tangan yang tidak menyentuh apa pun itu, aku membuka dan
menutup jariku seolah-olah sedang memastikan gerakannya.
"N-Nanami...
kamu sedang apa...?"
Karena
posisinya membelakangi, Nanami pasti tidak menyadari bahwa tadi aku sempat
mencoba menyentuhnya. Aku menenggelamkan tanganku ke dalam bak mandi untuk
menyamarkan tindakan tersebut.
"I-Itu...
bagaimanapun juga memasukkan handuk ke dalam bak mandi itu melanggar etika...
dan, walau malu sih..."
"Emm,
begitu ya. Iya, memang benar begitu. uhn."
Perkataannya
ternyata jauh lebih masuk akal... atau lebih tepatnya terdengar seperti kalimat
yang sangat wajar.
Kalau
cuma begitu, aku jadi penasaran bagaimana dengan tindakan melepas handuk dan
memamerkannya padaku tadi.
Entah
mengapa sampai di tahap ini, aku merasa posisiku terus-menerus terdesak oleh
Nanami. Bagaimana caranya agar aku bisa membalikkan keadaan dari situasi
ini...?
Tidak,
pikiranku malah jadi aneh. Lagipula tidak ada yang perlu dibalikkan... Mungkin
justru karena berpikiran begitu, aku jadi bisa menyadari pergerakan Nanami
selanjutnya.
Nanami
yang menenggelamkan tubuhnya ke dalam air seolah-olah sedang bersembunyi,
bergerak mendekati arahku secara perlahan namun pasti. Hanya saja, kecepatannya
sangat lambat... Jangankan selangkah, kecepatannya bahkan kurang dari separuh
langkah. Benar-benar mirip langkah kura-kura... tidak, bahkan lebih lambat dari
itu.
Mungkin
ini adalah hal terhitung paling lambat di dunia. Saat ini, Nanami mungkin bakal
kalah jika bertanding lari melawan kelinci.
Justru
karena itulah, aku di sini... mengambil satu langkah maju.
Perlahan-lahan,
namun dengan kecepatan yang lebih cepat daripada Nanami, aku bergerak maju
dalam posisi tetap duduk. Apakah Nanami juga menyadarinya? Gerakannya mendadak
terhenti.
Tanpa
memedulikan hal itu, aku terus mendekati Nanami... hingga jarak di antara kami
tinggal tersisa satu langkah lagi. Dan aku... memperpendek jarak tersebut
hingga hampir menjadi nol.
Jarak
yang sedemikian dekat, hingga dadaku seakan menempel pada punggung Nanami.
Karena tidak sepenuhnya menempel, jaraknya terasa sedikit lebih renggang
daripada yang tadi.
Atau
lebih tepatnya... aku harus bagaimana dari posisi ini?
Tadi
kan posisi kami saling membelakangi jadi bisa saling menempel, tapi kalau
sekarang kan... bagaimana ya, posisinya mirip gaya menyelamatkan korban...
karena kami berdua menghadap ke arah yang sama...
"...Nanami,
aku menempel ya."
"...Iya,
boleh kok."
Jantungku
berdegup kencang saat mendengar jawaban 'boleh' darinya.
Padahal
cuma sebatas menempel dan tidak melakukan hal yang lebih dari itu. Namun tetap
saja perasaanku... anu... mirip seperti perasaan sebelum melakukan hal
tersebut.
...Baiklah.
Pada
diriku yang telah memantapkan niat, rasa tegang yang tadi dirasakan sudah tidak
ada lagi. Meskipun rasa tegang jenis lain sepertinya mulai timbul, aku berusaha
keras untuk menahannya.
Setelah
memantapkan tekad, aku mendaratkan tanganku di bahu Nanami. Tepat saat
bersentuhan, tubuh Nanami tersentak kecil. Rasanya aku sempat mendengar suara
desahan "Ah..." pelan, tetapi jika terlalu dipikirkan aku malah tidak
bisa melakukan apa-apa, jadi aku akan melanjutkannya saja.
Lalu,
aku merosotkan tubuh bagian atasnya ke arahku.
Perlahan-lahan
bagaikan gerakan slow motion, tubuhnya condong ke arahku... hingga
akhirnya dia menyandarkan seluruh berat tubuhnya padaku.
Karena
berada di dalam pemandian air panas berat tubuhnya tidak begitu terasa, namun
posisi punggung Nanami pas menempel di sekitar dadaku. Ini adalah posisi yang
sama persis seperti saat kami masuk berendam bersama di Hawaii dulu.
...Tubuh
bagian bawah kami anu... tidak saling menempel. Kalau sampai ke sana sih jelas
tidak mungkin.
"Rasanya...
malu banget, ya."
"Ya
wajar saja... soalnya kita berdua sama sekali tidak memakai apa-apa..."
Saat
masuk ke pemandian bersama di Hawaii dulu kami mengenakan pakaian renang. Saat
tidur bersama pun kami mengenakan pakaian. Benar-benar menempel tanpa sehelai
benang pun seperti ini adalah yang pertama kalinya....Sepertinya begitu.
Tidak,
kalau memang pernah ada kejadian seperti itu di masa lalu, pasti aku akan
mengingatnya. Ini jelas-jelas pertama kalinya kami menempel dalam kondisi
telanjang. Rasanya aneh juga aku sampai menegaskan hal seperti ini.
"Rasanya
untuk melakukan hal sesederhana ini saja butuh usaha yang luar biasa besar,
ya..."
"Aku
juga... Ah, Youshin... tangannya ditaruh di depan saja tidak apa-apa,
lho?"
"Ah,
iya. Terima ka... depan?"
"Iya,
depan. Bukankah begitu bakal lebih rileks?"
Apa
maksudnya depan? Saat ini posisiku masih memegangi bahu Nanami, agar jika
terjadi sesuatu aku bisa langsung bergerak.
Apa
maksudnya memindahkan tangan itu ke depan? Rileks...?
Saat
aku sedang kebingungan, Nanami memegang tanganku yang ada di bahunya lalu
menuntunnya. Karena tidak ada alasan untuk menolak, aku membiarkannya melakukan
sesukanya.
Depan...
apakah maksudnya melingkarkan tangan di sekitar perut lalu memeluknya seperti
sedang merengkuhnya?
Kalau
begitu sih, dulu aku juga pernah menyentuh perutnya jadi kurasa tidak masalah.
Hanya saja aku harus memastikan untuk tidak meremas perutnya. Soalnya dulu
sekali aku pernah tidak sengaja meremas perutnya, dan dia marah besar padaku.
Saat
aku berpikir demikian, tanganku tidak mengarah ke dalam air melainkan diulurkan
begitu saja...
Funi.
Sensasi
yang seakan menyuarakan efek suara empuk tersebut menyentuh bagian lengan
bawahku.
...Menyentuh?
Saat
aku sedang tertegun, tanganku yang satunya lagi diikutkan bergerak dengan cara
yang sama, hingga posisiku menjadi gaya memeluk dari belakang (back hug)...
Sensasi
ini... bukankah ini... dada...?
"Ka-Kalau
begini Youshin juga lebih rileks, kan?"
"Bukannya
rileks... tidak, ini... ha-harus bagaimana?"
Empuk.
Kepala rasanya mau didominasi oleh kata itu. Lagipula bertanya "harus
bagaimana" ke Nanami juga tidak akan menyelesaikan masalah.
Telapak
tanganku tidak mengenai dadanya, melainkan lengan bawahku yang berada di dada,
dan telapak tanganku berada di bawah lengan itu... Mirip seperti karakter yang
menutupi dada dengan rambut mereka, tetapi versi lengan.
Tidak,
memang tertutupi sih... tertutupi, tapi...
"Ka...
Kalau cuma sedikit, boleh kok diremas... waktu di Hawaii kan tidak
jadi..."
"Re...--?!"
Lagipula,
meremas 'sedikit' itu batasannya sangat tinggi. Kalau sudah dimulai, pasti
tidak akan selesai hanya dengan kata 'sedikit'. Lagipula seingatku waktu di
Hawaii dulu batasannya hanya sebatas 'boleh disentuh'.
Waktu
itu dia tidak bilang 'remas saja'... Tidak, sebelum itu apakah dia pernah
mengatakannya, ya?
Bagaimanapun
juga, diriku yang sekarang rasanya tidak akan sanggup melakukan hal semacam
itu. Alasannya, kalau dilakukan nanti malah tidak ada remnya. Padahal saat ini
saja, bertahan dalam posisi begini sudah menyerap seluruh tenagaku.
Darah
mudaku... rasanya jadi situasi yang menyebalkan. Walau terkesan agak vulgar,
sih.
"Ti-Tidak
apa-apa... begini saja sudah cukup."
"Ka-Kalau
begitu... ya sudah, syukurlah..."
Nanami
menyentuh tanganku yang bertindak bagaikan celemek dengan lembut, lalu
menyandarkan dan menggesekkan kepalanya ke tubuhku.
Aku
baru sadar sekarang, sepertinya rambutnya sudah diikat rapi agar tidak terkena
air pemandian.
Fakta
bahwa tadi aku bahkan tidak punya kelonggaran pikiran untuk menyadari hal
semacam itu membuatku merasa agak menyedihkan.
"Masuk
ke pemandian air panas bersama seperti ini... ini sudah yang ke berapa kali,
ya... Dua kali? Tiga kali?"
"Sepertinya
ini yang kedua kali... Yang pertama waktu di Hawaii, lalu saat Natal kan kita
terpisah."
"Begitu,
ya. Waktu itu padahal menjadikan mandi bersama sebagai hadiah juga tidak boleh,
ya... Padahal sesekali ingin rasanya mandi bersama."
"...Kalau
soal itu aku cuma bisa setuju, tapi secara realitas kan sulit."
Bagaimanapun
juga kami masih tinggal bersama orang tua, jadi mana mungkin bisa mandi
bersama... kalau bukan di momen seperti ini.
Tidak,
padahal di momen seperti ini pun sebenarnya tetap tidak boleh, sih. Atau lebih
tepatnya...
"Nanami,
kenapa tiba-tiba mengajak masuk ke pemandian terbuka bersama?"
"Emm?
Soalnya kan... mumpung ada pemandian terbuka, pasti jadi ingin masuk,
kan?"
"Tidak,
tadi kamu sempat bilang mau menyerah saja karena tidak bawa baju renang, kan.
Kenapa mendadak..."
Hal
itulah yang menjadi pertanyaan terbesarku.
Pada
awalnya, Nanami sudah menyerah untuk masuk ke pemandian terbuka bersamaku. Aku
yakin dia sama sekali tidak berniat untuk masuk. Namun begitu malam tiba, dia
mendadak menunjukkan sikap proaktif. Sikap yang seakan tidak menerima
penolakan.
...Yah,
aku yang luluh juga bukannya tidak berharap apa-apa, sih. Meskipun di mulut
bilang 'tidak apa-apa', niat untuk melawan sangatlah lemah. Bisa dibilang ini
adalah pertahanan terlemahku dalam beberapa waktu terakhir. Makanya, alasan
kenapa dia mendadak berminat untuk masuk... benar-benar membuatku penasaran.
"Habisnya..."
Nanami
sedikit, hanya sedikit sekali memonyongkan bibirnya. Raut wajahnya persis
seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Padahal
hal yang dilakukannya, maupun secara fisik, sangat jauh dari kata anak kecil...
"Tadi
kan sudah kubilang. Youshin tadi digoda wanita lain, kan~?"
"Digoda...
Ah, orang-orang tadi. Yah, walau aku sendiri tidak menyadari kalau itu godaan,
sih. Memang benar."
"Aku
juga yang kurang waspada, lagipula kubpikir Youshin tidak akan mungkin digoda
wanita lain..."
Kukira
ini percakapan yang sama seperti tadi, namun ternyata arah pembicaraannya agak
sedikit berbeda.
Yah,
tapi mau bagaimana lagi, kan? Soalnya, aku kan bukan tipe orang yang bakal
digoda di jalan. Di dunia ini pun, pihak wanita yang lebih sering digoda, jadi
wajar saja kalau berpikir bahwa aku tidak akan pernah digoda...
"Padahal
aku tahu betul kalau Youshin itu tipe yang pasti disukai oleh kakak-kakak yang
lebih tua... benar-benar, aku kurang waspada."
Tampak
menyesal, Nanami meregangkan tangannya lebar-lebar seperti sedang menggeliat,
lalu menyentuh bagian belakang leherku.
Sambil
berpikir betapa lihainya dia melakukan gerakan itu, akibat tindakannya tingkat
kerapatan tubuh kami malah makin erat hingga membuat jantungku berdebar
kencang.
"Lagipula,
tadi 3 orang itu sempat memamerkan berbagai hal padamu, kan?"
"Tidak,
seperti yang kukatakan tadi, aku tidak terlalu melihat..."
"Tetap
saja, aku tidak ingin ada ingatan tubuh wanita selain diriku yang tersisa di
memorimu... Makanya aku masuk bersama begini. Ditimpa, ditimpa!"
"Bahkan
jika aku sama sekali tidak tertarik pada orang yang menggodaku itu?"
"Bahkan
jika kamu tidak tertarik. Karena ini juga menyangkut harga diriku."
Ketika
dia menyatakannya secara jujur sambil membusungkan dada dalam keadaan tanpa
busana, aku hanya bisa menerimanya.
Memang
benar sih, kalau sudah menyangkut diri sendiri pasti seseorang bakal bertindak
nekat. Atau lebih tepatnya, menimpa ingatan, ya... Tidak, ingatan itu sudah
benar-benar tertimpa, kok. Wajah wanita-wanita tadi saja sudah tidak bisa
meletup di ingatanku lagi.
Secara
rencana, ini bisa dibilang sukses besar. Hanya saja...
"Bukannya
tadi bilang tidak bakal marah walau aku mendebarkan jantung karena wanita
lain?"
"Memang
tidak marah, tapi aku kan juga bilang kalau aku tetap bakal kesal?"
Kontradiksi
dalam hitungan detik yang tadi itu, ya...
Ya,
dia memang sempat mengatakan hal itu juga. Perasaan seorang gadis memang
terlalu rumit. Terlalu rumit, tapi...
"Ke
depannya, meskipun ada momen yang membuat jantungku berdebar karena wanita
lain... aku tidak akan pernah tertarik pada siapa pun selain Nanami..."
"Kalau
begitu bagus... Tapi, interaksi fisik (skinship) seperti ini harus
sering kita lakukan, ya?"
Saat
kubalikkan apakah itu juga masalah harga diri, Nanami malah menjawab bahwa dia
lebih ingin mengisi ulang 'asupan unsur Youshin'. Aku pun merasa bisa menyerap
lebih banyak 'asupan unsur Nanami' dengan cara seperti ini.
Hanya
saja, bagaimana cara melakukannya setelah kembali nanti bakal jadi masalah
sulit, sih. Soal itu... nanti saja dipikirkan.
Misteri
kenapa dia sangat ingin masuk ke pemandian air panas bersamaku sudah
terpecahkan, dan walau tidak sampai lega sepenuhnya, setidaknya aku sudah
paham. Kalau begitu, mari kita saling mengisi ulang asupan masing-masing untuk
sementara waktu...
".................................Bagaimana
kalau kita melakukan hal yang mesum di sini?"
"Jedamu
lama sekali pas ngomong... Tidak boleh, lah. Ini melanggar etika..."
"Kalau
di sini... sepertinya tidak akan ketahuan, kan?"
Tidak...
jelas tidak boleh... Lagi pula tidak ada persiapan pengaman juga... Atau lebih
tepatnya...
"Katanya
hal-hal yang berkaitan dengan itu pasti bakal ketahuan, lho... Soalnya manusia
itu jauh lebih peka dari yang kita bayangkan."
"Masa
sih? Eh? Kamu dengar dari siapa...?"
"Saran
berharga dari Baron-san. Beliau bilang, walaupun mencoba sembunyi-sembunyi,
pasti bakal ketahuan jadi lebih baik diurungkan saja."
Katanya
mustahil bagi manusia untuk menghapus jejak dari tindakan yang telah dilakukan
secara sempurna. Walaupun sudah menyembunyikan dan merasa telah menutupi
semuanya, pasti bakal ada hal tak terduga yang tersisa.
Entah
itu berupa aroma, atau hal-hal yang tak kasat mata, hal itu bisa terkuak dari
berbagai sudut pandang.
Makanya,
beliau memberikan saran berharga agar jangan pernah melakukan hal semacam itu
di penginapan, karena bisa menyusahkan orang tua kami...
Sepertinya
itu berdasarkan pengalaman masa lalu maupun pengetahuan yang pernah didengar
oleh Baron-san.
"Kalau
begitu, mau bagaimana lagi ya... Bahaya kalau sampai ketahuan..."
"Benar...
Makanya, hal semacam itu mari kita lakukan di saat sudah aman walau sampai
ketahuan."
Tubuh
Nanami tersentak pelan, lalu dia memutar pandangannya dan menatapku
lekat-lekat. Kelihatannya dia sangat terkejut.
"Ini...
mungkin pertama kalinya Youshin bilang mau melakukannya secara
gamblang...?"
"...Masa
sih?"
Mungkin
memang benar begitu. Selama ini aku selalu mengaburkan atau mengalihkan
pembicaraan mengenai hal tersebut... Ini pasti karena efek rasa bebas dari
pemandian air panas. Yah, aku sendiri bukannya tidak punya ketertarikan, sih.
Namun
untuk saat ini, harus ditahan. Nanti kalau sudah bisa bertanggung jawab,
pasti...
Saat
aku menegaskan kembali janji tersebut, Nanami tersenyum puas... lalu melepaskan
kedua tangannya dariku dan merenggangkan tubuhnya lebar-lebar.
"Kalau
begitu, untuk perjalanan liburan kali ini aku tahan sampai sebatas mandi
bersama saja, deh. Boleh menempel lebih dekat lagi?"
"Jangan,
kalau menempel lebih dekat dari ini bakal bahaya dalam berbagai hal... mohon
pertahankan jarak segini saja."
"He?
Kenapa...? Ah..."
Pandangannya
yang menoleh mengarah ke bawah, dan setelah melihat ke satu titik tertentu...
seakan bisa memahaminya, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Wajahnya
yang merona merah padam saat itu, pasti bukan sekadar karena kepanasan akibat
air pemandian.
Sesi
mandi bersama yang terasa menenangkan sekaligus mendebarkan ini... masih terus
berlanjut untuk beberapa saat.



Post a Comment