Chapter 3
Saatnya Pergi Berlibur ke Onsen
Pada
liburan musim dingin tahun lalu, tidak ada kenangan khusus yang patut dicatat. Hal
yang kulakukan paling-paling hanya pulang kampung ke rumah Kakek dan Nenek di
desa, dan karena tidak bekerja paruh waktu juga, aku sampai memiliki waktu
luang yang berlebihan...
Tidak,
karena aku menghabiskan waktu dengan terus-terusan bermain gim, rasanya aku
tidak terlalu menyia-nyiakan waktu juga, sih.
Bagi
pelajar memang waktunya liburan musim dingin, tetapi liburan musim dingin bagi
pekerja dewasa tidak terlalu panjang sehingga tetap terhitung hari kerja...
jadi pada siang hari aku hampir selalu menghabiskan waktu sendirian.
Bagaimanapun
juga, di luar salju menumpuk dan udaranya dingin, sehingga rumah yang hangat
adalah lingkungan paling optimal untuk mengurung diri. Kalaupun harus keluar,
paling-paling hanya ke minimarket. Bahkan pada hari-hari saat salju turun,
pergi ke minimarket pun terasa sangat malas.
Diriku
yang seperti itu, siapa sangka bisa menyusun rencana perjalanan liburan bersama
Nanami. Padahal dulu waktu musim dingin aku tergolong orang yang sangat malas
keluar rumah, tetapi sekarang aku malah sangat ingin pergi berlibur bersama
Nanami.
...Apakah
ini sudah terlambat?
Dulu
bahkan jalan-jalan perjalanan sekolah saja kutinggalkan karena malas. Padahal
dulu berpikiran begitu, tetapi sekarang menyiapkan perjalanan liburan saja
terasa sangat menyenangkan.
Alasan
terasa menyenangkan itu adalah karena aku bisa menentukannya bersama Nanami
dengan penuh keceriaan.
"Penginapan
(ryokan) seperti apa yang bagus, ya...?"
"Penginapan
yang ini atmosfernya tampak menyenangkan, kalau yang ini makanannya... lalu
yang ini pemandian air panasnya (onsen)..."
Di
ruang keluarga rumah keluarga Barato, aku dan Nanami sedang mencari penginapan ryokan
menggunakan ponsel pintar sambil mendiskusikan ryokan mana yang bagus.
Mungkin
menggunakan komputer akan lebih mudah dilihat, tetapi Nanami tidak memiliki
komputer... dan kalau menggunakan ponsel pintar, jarak kami bisa terasa cukup
dekat saat melihatnya bersama.
Lalu,
di ruang keluarga tersebut...
"Ibu
rasa ryokan yang ini bagus, lho. Sepertinya ada pemandian keluarga (kazokuburo)-nya."
"Aku
mau yang ini~! Ketimbang ryokan, aku lebih suka hotel. Sajian prasmanan
(buffet)-nya kelihatan enak."
"Kalau
Ayah rasa ryokan yang ini... Katanya di atap ada pemandian terbuka (rotenburo)."
Suara
Tomoko-san, Saya-chan, dan Genichirou-san yang sedang memilih ryokan
juga ikut terdengar. Jika tiga orang berkumpul melahirkan kebijaksanaan, maka
ini adalah versi lima orang berkumpul.
Entah
mengapa semuanya malah mengusulkan ryokan atau hotel yang ingin mereka
datangi secara pribadi... Eh? Apakah kalian berniat ikut pergi bersama kami?
Baik
aku maupun Nanami menunjukkan wajah yang agak tertegun, tetapi kami tetap
mencatat lokasi-lokasi tersebut di ponsel pintar sebagai referensi usulan ryokan.
Namun, padahal biasanya tidak pernah kuperhatikan, ternyata jumlah ryokan
dan hotel itu lumayan banyak, ya.
Saat
dicari, berbagai macam tempat penginapan muncul berjejeran. Ada yang
keunggulannya pada pemandian air panasnya, makanannya, akses jalannya... penuh
dengan berbagai keunikan masing-masing. Paketnya pun beragam, mulai dari paket
untuk pasangan hingga paket untuk keluarga.
Nah,
mengenai mengapa situasinya bisa menjadi seperti ini, alasannya sederhana,
yaitu karena aku datang langsung ke rumah keluarga Barato untuk memberikan
penjelasan.
Seberapa
pun izin menginap sudah didapatkan di masing-masing rumah, karena aku akan
membawa putri berharga mereka, sudah menjadi kewajiban dan etika bagiku untuk
memberikan penjelasan secara langsung... Walau mungkin ungkapan
"membawa" itu agak kurang tepat.
Karena
Nanami juga sudah memberikan penjelasan ringan sebelumnya, pembicaraan jadi
berlangsung cepat. Mulai dari alasan mengapa kami bisa mendapatkan kupon
liburan berpasangan, alasan mengapa ingin pergi...
Lalu
yah, aku juga menyampaikan dengan tegas bahwa aku tidak akan macam-macam
dengannya. "Saya rasa hal itu juga sudah terbukti saat hari Natal
kemarin," begitu yang kusampaikan dengan mantap.
Mungkin
berkat usaha itu juga, kami bisa mendapatkan persetujuan dan pengertian dari
mereka. Lalu, entah mengapa di tengah alur pembicaraan tersebut, semuanya malah
ikut bergabung memilih ryokan...
Entah
mengapa anggota keluarga Barato juga menggunakan sudut pandang seolah-olah
mereka sendiri yang akan menginap di sana.
Ibu
dan Ayah merekomendasikan ryokan yang ini, ya.
Kenapa
Ibu dari rumahku juga ikut mengirimkan pesan? Tempat yang direkomendasikan
adalah ryokan pemandian air panas legendaris (shinise) yang
membanggakan hidangan dagingnya.
Mari
kita syukuri saja dengan jujur bahwa orang tua kami masing-masing memberikan
persetujuannya.
Dengan
suasana seperti itu, kami melihat berbagai ryokan dan mencoba menelepon
langsung ke hotel...
"Ternyata
jumlah ryokan yang bisa diinapi lebih banyak dari dugaan, ya."
Kupon
liburan pemandian air panas berpasangan yang kami miliki memang sudah
menentukan ryokan dan paketnya sampai batas tertentu sehingga sifatnya
tinggal memilih, tetapi jumlah pilihannya tetap terbilang cukup banyak.
Pemesanan
via telepon maupun daring sebenarnya memungkinkan, tetapi karena kali ini kami
ingin mendengar penjelasannya secara langsung, kami memutuskan untuk memesan
dengan menelepon secara langsung.
Saat
dicoba menelepon langsung, secara tak terduga sebagian besar tempat mengizinkan
kami menginap asalkan ada surat pernyataan setuju dari orang tua, dan sangat
sedikit yang menolak.
Tempat-tempat
yang menolak biasanya menjadikan status kami sebagai pasangan kekasih sebagai
hambatan yang cukup tinggi.
"Meskipun
bisa menginap karena menggunakan tiket berpasangan, tetap diperlukan surat
persetujuan dan berbagai hal lainnya, ya."
Mengingat
status kami yang masih di bawah umur, hal itu tentu saja merupakan sesuatu yang
wajar. Ada berbagai surat persetujuan yang harus diisi, orang tua harus
berbicara langsung dengan pihak ryokan, dan sepertinya ada banyak hal
yang harus dilakukan.
Seandainya
kami sudah berusia 18 tahun, tampaknya tidak diperlukan izin dari siapa pun.
Sebagai pihak yang menjalani, tak dipungkiri ada pemikiran bahwa hanya berbeda
satu tahun saja, lantas apa bedanya?
Hanya
beda 1 tahun, tetapi 1 tahun itu sangat berarti... Kita tidak punya pilihan
selain menerima dan merelakannya karena memang sudah begitu ketentuannya. Di
beberapa tayangan tokusatsu juga pernah ada kalimat seperti itu, kan.
Peraturan tetaplah peraturan.
Namun,
begitu Nanami mengetahui informasi bahwa persetujuan tidak diperlukan jika
sudah berusia 18 tahun...
"Berarti
setelah ulang tahunku tahun depan... kita bisa pergi menginap
sepuasnya...?"
Mata
Nanami berkilat-kilat secara mengerikan, mengarahkan pandangan matanya ke
arahku seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Karena mengira
akan dimangsa, aku sampai dibuat merinding dibuatnya. Namun, untuk hal itu ada
satu kendala.
"Karena
aku baru berumur 18 tahun pada akhir tahun... berarti itu masih sekitar 1 tahun
lagi, lho."
"Eeh...?"
Tentu
saja begitu, walaupun Nanami sudah berusia 18 tahun, aku kan masih berusia 17 tahun,
jadi aku tetap memerlukan izin dari Ayah dan Ibu. Jadi tidak bisa langsung
menginap sepuasnya...
"Tapi,
aku kan sudah bukan anak di bawah umur lagi, kan?"
"Iya
benar, Nanami akan berusia 18 tahun lebih dulu."
"Kalau
dalam kasus itu, bukankah aku bisa menginap sebagai wali pelindung dari Youshin?"
"...Apakah
hal seperti itu dibolehkan?"
Sebuah
usulan trik rahasia tak terduga keluar dari mulut Nanami.
...Tidak,
apakah ini malah tergolong jalan legal? Atau lebih tepatnya, bagi sesama siswa
SMA, apakah salah satunya bisa menginap dengan diperlakukan sebagai wali
pelindung dari yang lainnya...?
Namun,
karena persyaratan status di bawah umur itu hanya didasarkan pada usia, dan
secara usia hukum 18 tahun sudah dianggap dewasa, sepertinya usulannya tidaklah
salah. Lagipula kalau dia sampai menjadi wali pelindungku, sejujurnya sebagai
seorang laki-laki itu terasa agak menyedihkan... Lagipula rasanya seolah-olah
aku berada di bawah naungan perlindungan Nanami.
Lho?
Tapi kalau menggunakan jalan pikiran seperti itu dari awal, bukankah tahun
depan bakal jadi situasi di mana aku yang masih di bawah umur berpacaran dengan
Nanami yang sudah dewasa?
Hal
itu rasanya agak amoral, atau lebih tepatnya seperti sedang melakukan perbuatan
buruk...
"Nanami...
tentu saja membicarakan hal seperti itu di depan kami agak bagaimana,
ya...?"
"Tentu
saja selama masih sekolah SMA, Ibu ingin kalian tetap meminta izin,
lho..."
Baik
aku maupun Nanami secara bersamaan dibuat menegang dan gemetar kaget.
Kami
kemudian memutar leher secara perlahan ke arah pemilik suara yang menegur
kami... mengarahkan pandangan ke arah Tomoko-san dan Genichirou-san.
Benar
juga, membicarakan hal menginap dan semacamnya di depan orang tua memang
bukanlah topik yang pantas dibahas.
Ini
pertama kalinya aku mendengar suara Tomoko-san yang terdengar sangat heran dan
terperangah. Sementara itu, Genichirou-san memasang raut wajah yang sangat
rumit.
Ketimbang
ke arahku, ekspresi wajah itu mungkin muncul akibat mendengar ucapan Nanami.
Soalnya pandangan matanya tidak tertuju padaku, melainkan tertuju pada Nanami.
Tentu
saja hal ini membuat pipi kami berdua memerah malu. Saya-chan sendiri tampak
tersenyum-senyum geli secara ajaib, sambil melontarkan celotehan ejekan seperti
"menginap saja berkali-kali kan tidak apa-apa".
"Nanami,
karena keadaannya begitu, jadi walaupun sudah berusia 18 tahun nanti, rencana
menginap sepuasnya kita batalkan saja, ya."
"Iyaa...
Cihh..."
Meskipun
memajukan bibirnya seolah agak belum bisa menerima, setidaknya kalau aku tidak
mengatakan hal semacam itu... hal ini bisa berdampak pada tingkat kepercayaan
orang tua pada kami. Namun, fakta bahwa Nanami menunjukkan sikap agresif dan
aktif seperti ini memang sudah jadi hal yang biasa terjadi, tetapi apakah aku
juga seharusnya sedikit meniru sikap aktifnya itu?
Tidak...
kalau aku ikut-ikutan menunjukkan sikap aktif, keseimbangannya malah bakal
hancur. Atau lebih tepatnya, aku merasa situasinya bakal kebablasan. Makanya,
keadaan yang sekarang inilah yang paling pas. Nanami yang menyerang, dan aku
yang menahan.
Justru
karena itulah... Tomoko-san dan yang lainnya mau memberikan izin untuk pergi
menginap.
"Lalu,
kalian mau memilih ryokan yang mana? Kami kan harus menelepon ke sana
juga..."
Benar
juga, daripada membicarakan hal aneh-aneh, kami harus segera memutuskannya.
Mengingat ada ketentuan untuk memesan setidaknya sepuluh hari sebelum
kedatangan, kalau tidak memesannya hari ini bakal jadi agak mepet.
Seberapa
pun panjangnya liburan musim dingin, kalau sampai kelamaan lalu malah tidak
bisa menginap... batas berlaku tiketnya memang masih aman sampai musim panas,
tapi aku tidak ingin menundanya. Kalau mau pergi ke pemandian air panas (onsen),
rasanya musim dingin memang jauh lebih pas.
Yah,
walaupun itu cuma bayanganku saja, sih.
Sekali
lagi, aku dan Nanami berdiskusi menentukan ryokan mana yang akan
dipilih, dan kami memutuskan untuk pergi ke salah satu ryokan pemandian
air panas yang pemandangan saljunya benar-benar sangat indah.
Ketimbang
hotel, tempat ini merupakan ryokan. Sebuah tempat penginapan yang kaya
akan nuansa keindahan tradisional.
Selebihnya
yah, hal ini juga didasari oleh nasihat dari Tomoko-san dan orang tuaku yang
berpesan agar memilih ryokan ketimbang hotel jika hendak menginap.
Kalau
di ryokan kan ada pelayan kamar (nakai-san), jadi kalian tidak bakal bisa
sembarangan melakukan hal yang aneh-aneh, kan.
Begitu
alasan mereka.
Awalnya
aku sempat bingung apa maksudnya, tetapi kalau di hotel sangat jarang ada orang
yang masuk ke kamar, sedangkan di ryokan bakal ada petugas yang
keluar-masuk kamar untuk menggelar futon dan semacamnya. Walaupun hal
itu tergantung jenis kamarnya juga, sih.
Jika
ketentuannya begitu, memang pantas jika kami disarankan memilih ryokan.
Atas
alasan itulah, syarat perjalanan menginap kami akhirnya ditetapkan di ryokan
pemandian air panas. Walaupun Saya-chan sempat membela dengan berkata
"hotel juga tidak apa-apa".
Alasan
yang dilontarkannya adalah karena toh Kakaknya tetap tidak akan bisa melakukan
apa-apa, tapi itu adalah kisah di cerita yang lain.
"Kalau
begitu, lokasinya di sini, ya. Apakah tidak apa-apa kalau aku yang
menelepon?"
"Ah,
kamu mau meneleponkan? Kalau begitu kuserahkan padamu, ya."
"Ya
sudah... aku telepon sekarang, ya."
Sambil
merasa agak berdebar antusias, aku menelepon pihak hotel.
Di
saat-saat seperti ini, entah mengapa suasana sekeliling mendadak jadi hening.
Semuanya memandang ke arahku. Apakah situasi seperti ini memang sudah
sewajarnya terjadi?
Selama
nada panggil berdering, timbul rasa tegang yang agak aneh dalam diriku. Jika
tempat penginapannya sudah berhasil ditentukan dengan lancar, mulai dari sini
akan ada banyak hal yang harus disiapkan. Meminta orang tua mengisi surat
pernyataan setuju, serta hal-hal yang diperlukan untuk konfirmasi dari pihak
hotel...
Lalu
mungkin belanja barang perlengkapan untuk perjalanan liburan juga. Kalau tas,
aku masih punya tas bekas perjalanan sekolah dulu... jadi kalau cuma menginap
dua hari satu malam, sepertinya tidak perlu membawa terlalu banyak barang
bawaan, kan?
Tidak
lama kemudian nada panggil terhenti, dan petugas resepsionis ryokan
menjawab telepon. Karena tadi aku sudah sempat menelepon untuk memastikan, aku
memberikan penjelasan sekali lagi.
Aku
menyampaikan bahwa izin dari orang tua sudah didapatkan secara resmi, lalu
petugas menjelaskan perlunya penyerahan surat persetujuan, dan di tengah-tengah
penjelasan tersebut...
"Tomoko-san,
maaf, bisakah saya meminta nomor telepon Anda?"
"Ara,
apakah kamu sedang mencoba menggoda wanita tua seperti Ibu?"
Bukan
begitu maksud saya! Atau lebih tepatnya, kenapa di saat seperti ini Anda
sempat-sempatnya menyelipkan lelucon kecil seperti itu, sih?
Karena
Nanami menatap dengan pandangan mata yang tajam, Tomoko-san langsung
memberitahukan nomor teleponnya sambil tertawa bercanda.
Setelah
menyampaikan nomor tersebut dan mengakhiri panggilan telepon, tak lama
kemudian... nada dering panggilan masuk berbunyi dari ponsel pintar milik
Tomoko-san. Mungkin saat ini, ponsel pintar milik orang tuaku pun sedang
dihubungi oleh pihak sana.
Proses
pemesanan dari pihakku hampir selesai, dan sisanya tinggal tahap konfirmasi.
"Nee
nee, panggilan telepon ke Ibu itu..."
"Ah,
iya. Itu dari pihak ryokan. Katanya kalau menginap di kamar yang sama,
diperlukan konfirmasi langsung secara pribadi."
Karena
kupon berpasangan yang kami gunakan kali ini adalah untuk satu kamar yang sama
dan bukan kamar terpisah, tampaknya ada berbagai hal yang perlu dikonfirmasi.
Memikirkan repotnya petugas ryokan, aku jadi merasa agak bersalah.
Yah,
walaupun sepertinya kami bisa saja mengambil kamar terpisah jika membayar biaya
tambahan...
"Apakah
sebaiknya memilih kamar terpisah saja, ya...?"
Pada
akhirnya, mau berada di kamar yang sama pun sudah dipastikan bahwa aku tidak
akan dan tidak bisa melakukan hal yang aneh-aneh, jadi walaupun mengambil kamar
terpisah sebenarnya tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada perjalanan
liburan kami. Namun hal itu pun berlaku sama seandainya kami menginap di kamar
yang sama. Lagipula mumpung bisa berada di kamar yang sama, aku tidak menemukan
alasan untuk repot-repot membayar biaya tambahan demi menginap di kamar
terpisah, atau mungkin ini tanda bahwa aku sudah kalah oleh hawa nafsu
sendiri...
Jika
ingin menunjukkan rasa ketulusan, mungkin memang lebih baik mengeluarkan uang
lebih demi mengambil kamar terpisah, ya?
Duh,
pikiranku jadi berputar-putar di tempat saja.
"Maksudmu
pilihan yang mana?"
"Hmm?
Tidak, maksudku sepertinya kita bisa menginap di kamar terpisah dengan membayar
biaya tambahan... dan kalau memilih opsi itu, katanya cukup dengan surat
persetujuan saja..."
"Eeh,
padahal ini perjalanan liburan pemandian air panas berpasangan yang berharga,
lebih baik di kamar yang sama dong. Soal konfirmasinya kan tuh, Ibu dan yang
lainnya sedang mengurusnya."
Lagipula
buang-buang uang saja kan, kata Nanami yang
memprotes kemungkinanku mengambil kamar terpisah, lalu dia merebahkan tubuhnya
tepat di atas pangkuanku yang sedang duduk.
Karena
dia berguling dan berbaring menelungkup di atas pangkuanku persis seperti
seekor kucing, sensasi kelembutan tubuhnya menyalur jelas ke kakiku.
...Asli,
lembut banget.
Karena
Nanami merebahkan diri di atasku, aku meluruskan kakiku, tetapi apakah
berbaring di atas kakiku begini tidak terasa sakit baginya?
Tanpa
memedulikan kecemasanku itu, Nanami malah memutar balikkan tubuhnya santai
hingga berada dalam posisi terlentang memperlihatkan perutnya (heso-ten).
Santai sekali gayanya.
Karena
dia mengenakan pakaian santai rumah biasa, bajunya sedikit tersingkap dan
memperlihatkan pusarnya.
Mendadak...
aku diserang dorongan kuat yang tak tertahankan untuk menyentuh perut itu,
tetapi untuk saat ini aku harus menahannya. Tentu saja aku tidak bisa melakukan
hal semacam itu di samping Tomoko-san yang sedang menelepon.
Saya-chan
mengarahkan pandangan terperangah melihat sosok kakaknya yang kelewat santai,
sementara Genichirou-san melemparkan pandangan jauh dengan raut bernostalgia.
"Baik,
kalau begitu mohon bantuannya, ya."
Bersamaan
dengan kalimat itu, Tomoko-san mengakhiri panggilan teleponnya. Dia memberikan
isyarat mengacungkan jempol dan membentuk lingkaran jari dengan mantap ke arah
kami, tetapi begitu melihat posisi berbaring Nanami, mulutnya langsung melongo
ternganga.
Tidak
lama setelah itu, nada dering panggilan masuk berbunyi di ponsel pintarku.
Nomor teleponnya adalah... ryokan yang tadi.
"Halo?"
Pihak
sana menyampaikan bahwa konfirmasi telah berhasil dilakukan, sehingga untuk
reservasi tidak ada masalah sama sekali. Sisanya tinggal mengisi surat
pernyataan setuju dan mengirimkannya terlebih dahulu.
Mengumpulkan
pada hari kedatangan pun sebenarnya tidak masalah, tetapi mereka akan sangat
berterima kasih jika dikirimkan terlebih dahulu, jadi mungkin aku akan
mengirimkannya via pos atau surel.
Sudah
lama sekali aku tidak menggunakan surel sampai-sampai agak lupa cara
menggunakannya...
"Kalau
begitu, mohon bantuannya pada hari nanti, ya."
Setelah
mendengar ucapan kami menantikan kedatangan Anda, aku mengakhiri
panggilan telepon.
Nah,
dengan begini semua persiapan awal... walau belum sepenuhnya selesai,
setidaknya tempat penginapan sudah berhasil diresmikan. Asalkan hal itu sudah
beres, sisanya bisa diatur dengan mudah. Setelah ini mari kita susun rencana
perjalanan liburannya.
"Reservasinya
berhasil tanpa kendala."
"Ooh,
terima kasih banyak ya~"
Nanami
yang berada di atas pangkuanku merentangkan kedua tangannya, hendak mengelus
kepalaku... tetapi karena jalurnya agak tidak sampai, tangannya hanya
menjangkau udara saja.
Aku
menggenggam tangan Nanami itu, lalu meremasnya dengan lembut.
"Tidak
sabar ya, liburannya."
"Iya,
benar ya."
Tanganku
yang meremas lembut jemarinya itu ditarik pelan oleh Nanami, lalu
ditempelkannya ke pipinya sendiri. Sensasi kenyal dan lembut dari pipinya
menyalur hangat ke tanganku.
"Nah,
kalau begitu sebelum pergi berlibur... kita harus menyiapkan banyak hal,
ya."
Mendengar
suara tepukan tangan yang terdengar nyaring, Nanami seperti baru tersadar dari
lamunan, terbelalak sejenak, lalu melepaskan tanganku perlahan dan bangkit
duduk.
Saat
sensasi sentuhan Nanami dan bobot tubuhnya yang nyaman menghilang dari
pangkuanku, rasanya timbul sedikit rasa kesepian. Lagipula, mungkin kami agak
terlalu menempel erat padahal ada Tomoko-san dan yang lainnya. Mungkin karena
kemarin-kemarin sempat tidak bisa bertemu, makanya ada dorongan emosional yang
membuat kami ingin terus menempel.
Mungkin
karena Nanami baru saja menjauh, aku pun jadi ikut-ikutan berada dalam suasana
hati yang ingin menempel padanya... Nanti setelah pindah ke kamar, aku mau
menempel padanya, ah...
Meskipun
Tomoko-san memperhatikan tingkah kami berdua dengan raut puas, seolah baru
teringat sesuatu, dia mengangkat satu jarinya untuk memberikan peringatan.
"Ngomong-ngomong,
kalau kalian berdua sampai melakukan hal yang aneh-aneh di tempat liburan
nanti, pihak penginapan bakal langsung menghubungi kami, lho. Tolong banget,
tolong banget jangan sampai melakukan hal seperti itu, ya?"
Karena
Ibu percaya pada kalian jadi Ibu rasa bakal aman-aman saja, tapi kalian pasti
tidak mau kan kalau sampai ketahuan orang tua gara-gara hal begitu?
Sambil
tertawa ufufu, Tomoko-san tampak agak bersenang-senang. Genichirou-san
memasang raut wajah masam, sementara Saya-chan mengukir senyuman jahil yang
seperti sedang mengharapkan sesuatu atau bermaksud menggoda.
Di
hadapan mereka semua, kami berdua hanya bisa saling tatap... dan mengukir
senyum getir.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Waktu
berlalu begitu cepat.
Hal
itu terasa makin menjadi-jadi jika berada di ambang hal yang menyenangkan atau
hal yang sudah sangat ditunggu-tunggu. Tugas liburan musim dingin sudah hampir
selesai kukerjakan seluruhnya, berbagai persiapan pun telah rampung, hingga
akhirnya hari keberangkatan pun tiba.
Persiapan...
walau dikatakan begitu, karena ini adalah perjalanan liburan 2 hari 1 malam,
tidak ada belanjaan besar-besaran yang sampai berlebihan. Barang-barang yang
kubeli untuk persiapan pergi ke Hawaii dulu masih bisa digunakan, dan pakaian
pun tidak perlu dibawa terlalu banyak. Skenario terburuknya, barang yang kurang
bisa dibeli di sana nanti.
Lagipula
bahasa Jepang digunakan dengan lancar di sana... memikirkan hal itu membuat
semuanya terasa bukan masalah besar. Hanya saja, agar tidak ada pengeluaran
yang tidak perlu, persiapannya tetap kubuat dengan matang.
"Hooam..."
"Kenapa
tuh, Youshin... menguap lebar sekali..."
"Yah,
karena terlalu antusias aku jadi agak tidak bisa tidur."
"Padahal
ini baru mau mulai acara utamanya, masa malah mengantuk... Hooam..."
Lho,
Nanami juga ikut menguap lebar. Ketimbang tertular menguap dariku, menguapnya
yang ini tampak murni berasal dari rasa kantuknya sendiri.
Mata
kami berdua sampai berkaca-kaca, lalu sambil mengusap air mata itu menggunakan
saputangan... Nanami menjulurkan lidahnya sedikit dengan jahil lalu tertawa.
Tampaknya
Nanami pun tidak bisa tidur tadi malam karena terlalu antusias menantikan hari
ini.
Eh?
Apakah kami tidak melakukan panggilan telepon sampai tertidur (neochi tsuuwa)?
Iya, tadi malam kami memang tidak melakukannya. Ada berbagai macam alasan di
baliknya...
Dalam
kasusku, aku mendapatkan teguran dan wanti-wanti yang sangat serius dari orang
tuaku.
Aduh...
benar-benar berat rasanya.
Mulai
dari jam memberi kabar setelah sampai di ryokan, laporan berkala di
tengah-tengah jalan-jalan, wewanti bahwa Ibu dan Ayah bakal menelepon secara
acak jadi jangan sampai lengah, jangan melakukan hal aneh-aneh pada Nanami,
jangan membuatnya menangis...
Lalu
agar tidak digoda laki-laki lain, aku diminta untuk selalu menempel ketat
sebagai penangkal godaan, jika terjadi sesuatu harus mengandalkan orang dewasa,
jangan mencoba berbuat apa-apa sendirian...
Di
tengah-tengah jalan, nasihat itu malah berubah menjadi penceramahan penuh.
Yah,
dariku sendiri pun sebenarnya ada banyak hal yang ingin kubantah, seperti kalau
begitu kenapa saat hari Natal kemarin kalian minum alkohol lalu meninggalkan
kami berdua saja?
Hari
itu mereka beralasan bahwa komunikasi berjalan dengan lancar sehingga dinilai
tidak ada masalah...
Hal
ini baru kupahami saat mendapatkan dorongan dari Kakek dan Nenek, ternyata Ayah
dan Ibu pun sewaktu muda dulu lumayan nekat dan ugal-ugalan. Makanya, aku jadi
berpikir bahwa orang dewasa itu memang cukup merepotkan dalam membedakan antara
norma formalitas (tatemae) dan perasaan yang sebenarnya (honne).
Sekalipun
jika kami melanggarnya sebenarnya tidak ada masalah besar, tetapi sebagai orang
tua, bagian yang harus dikatakan tetap harus dikatakan. Begitulah yang terjadi
saat hari Natal itu.
Oleh
karena itu kali ini pun, mengenai hal-hal formalitas, bagian yang perlu
disampaikan tetap mereka tekankan padaku. Meskipun hal itu terasa seperti
mereka sedang mengulangi tindakan mereka sendiri di masa lalu.
Sungguh,
menjadi orang dewasa itu amat merepotkan. Karena meskipun tindakan mereka di
masa lalu diketahui oleh anaknya, mereka tetap harus memiliki ketegasan agar
ucapannya berwibawa...
Sebagai
hasil dari saling menyampaikan hal-hal yang ingin dikatakan, bisa dibilang
terjadi percakapan terbuka antara orang tua dan anak. Seperti saling
mengungkapkan isi hati. Begitulah suasana malam itu.
Jujur
saja, ada rasa menyebalkan, tetapi ada juga rasa bersyukur. Oleh sebab itu,
setelah memahami hal tersebut, aku pergi berlibur bersama Nanami. Dan
sepertinya...
"Benar-benar
ya, Ayah dan Ibu juga terlalu protektif..."
Nanami
pun sama, tadi malam sepertinya dia mendapatkan berbagai peringatan dari
Tomoko-san dan keluarganya.
Yah,
mari kita pahami saja bahwa hal itu dilakukan karena mereka memedulikan kami.
"Kalau
begitu, mari kita berangkat."
"Ooh,
perjalanan naik kereta, ya. Kalau naik mobil aku sudah pernah, tapi kalau naik
kereta mungkin ini yang pertama kali."
Kami
sudah tiba di peron stasiun pada pagi-pagi sekali. Di sekitar kami ada beberapa
pekerja berkemeja dan berjas yang mungkin sedang dalam perjalanan berangkat
kerja, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Mungkin Ayah dan Ibu pun saat ini masih
berada di rumah menyiapkan diri untuk berangkat kerja.
Hari
ketika kami pergi berlibur adalah hari kerja.
Orang
tuaku maupun keluarga Tomoko-san sempat menawarkan diri untuk sengaja mengambil
cuti kerja demi mengantar kami sampai ke ryokan menggunakan mobil, tetapi kami
menolaknya dengan sopan.
Kami
merasa tidak enak jika harus merepotkan mereka demi kegiatan jalan-jalan kami,
dan setelah berdiskusi dengan Nanami, kami sepakat bahwa proses perjalanan itu
sendiri merupakan kenikmatan utama dari sebuah liburan. Lagipula... kalau pergi
berlibur 2 hari 1 malam tapi diantar menggunakan mobil, rasanya kesan
berliburnya jadi agak berkurang...
Lain
ceritanya jika aku sendiri yang mengendarai mobilnya, sih.
Setelah
membeli tiket reserved seat, sekarang kami sedang menikmati sarapan di dalam
stasiun hingga waktu keberangkatan kereta tiba. Bagaimanapun juga, kami memang
bermaksud berangkat menggunakan kereta paling pagi...
"Seandainya
bisa naik pesawat mungkin akan lebih cepat, ya..."
"Mau
bagaimana lagi, harganya mahal."
Yah,
ongkos perjalanan menggunakan kereta pun harganya lumayan tinggi, sih. Kalau
tidak ada kupon berpasangan ini, pengeluaran untuk transportasi saja sudah
memakan anggaran yang cukup besar.
Sungguh,
aku merasa sangat beruntung sudah bekerja paruh waktu...
"Ah,
roti isi telur ini enak juga. Isian telurnya banyak banget."
"Tuna
sandwich yang dibeli Youshin juga enak, lho. Sudah lama rasanya aku tidak makan
ini."
"Sesekali
sarapan seperti ini enak juga, ya."
"Iya,
benar... Roti isi yang dijual di mesin vending machine unik juga."
Kami
saling bertukar roti isi yang dibeli dari mesin penjual otomatis yang ada di
stasiun sambil memakannya bersama. Aku makan roti isi tuna, sedangkan Nanami
makan roti isi telur.
Awalnya
kami sempat membahas untuk sarapan di kafe biasa, tetapi begitu menemukan mesin
penjual otomatis ini, kami berdua jadi ingin mencobanya.
Pilihan
produknya sangat beragam, mulai dari varian klasik seperti roti isi sayur dan
roti isi ham, varian porsi mantap seperti roti isi katsu dan ayam teriyaki...
hingga varian hidangan penutup seperti roti isi buah.
Sambil
memakan roti isi tersebut dan meminum jus buah, kami berdua duduk di bangku
stasiun.
Suasana
seperti ini entah mengapa terasa cukup mendebarkan dan menyenangkan.
Saat
memperhatikan sekitar, terlihat beberapa pekerja kantor yang sedang menunggu
kereta juga ikut makan, dan ada pula yang memasukkan roti isi yang dibeli ke
dalam tas mereka.
Mungkin
ini bisa dilihat sebagai pemandangan sarapan terburu-buru dari para pekerja
kantor yang sibuk, tetapi rasanya ada sedikit sensasi menyenangkan seolah-olah
aku sudah menjadi bagian dari anggota masyarakat dewasa.
Setelah
meminum jus jeruk yang dibeli dari mesin penjual otomatis, Nanami menjilat sisa
mayonais yang menempel di ujung bibirnya dengan ujung lidah. Gerakan lidahnya
itu tampak sedikit anggun dan memikat.
Saat
aku menyadarinya, tanganku sendiri sudah kotor terkena mayonais dari roti isi.
Kenapa
Nanami bisa tidak kotor... ah, dia memegang rotinya menggunakan plastik
pembungkusnya. Sementara aku memegangnya secara langsung...
Aduh,
sebaiknya aku pergi mencuci tangan dulu, deh.
"Aduh,
Youshin ini, tangannya sampai lengket begitu... Sini, kuusap."
Tanpa
kusadari, Nanami yang sudah memegang tisu basah langsung mengusap tanganku.
...Tidak, ini malah membuatku seperti anak kecil yang sedang diurus.
"Terima
kasih... tapi, agak malu juga."
"Ehehe,
aku cuma ingin coba melakukannya."
"...Ingin
coba melakukannya?"
"Itu
lho, seperti yang sering dilakukan para ibu saat mengelap tangan anak
kecilnya."
Sambil
mengusap tanganku, Nanami mengukir senyuman yang tampak sangat bahagia. Ya,
ternyata aku memang benar-benar diperlakukan seperti anak kecil.
Setelah
mengusap tanganku hingga bersih, Nanami tampak sangat puas. Rasanya naluri
keibuannya sedang meluap-luap. Apakah suasana berlibur ini membuat semangat
Nanami jadi lebih tinggi dari biasanya?
"Padahal
baru saja selesai sarapan, tapi nanti makan siang bagaimana?"
"Hmm...
bagaimana kalau makan siangnya di tempat tujuan liburan saja? Sekalian
jalan-jalan menikmati suasana..."
"Boleh
juga, ya... Tapi aku sempat berpikir kalau makan bekal stasiun (ekiben)
juga enak."
"Aah...
bingung juga, ya... Itu benar-benar bikin bingung."
Aku
belum pernah makan ekiben, sih. Makan di dalam kereta rasanya akan
sangat menyenangkan, tetapi menikmati kuliner khas di tempat tujuan liburan
juga merupakan hal yang sangat dinantikan.
...Hmm,
sungguh membuat bingung.
"...Bagaimana
kalau kita makan ekiben, lalu nanti saat sampai di tempat tujuan kita
makan lagi?"
"Youshin,
apakah kamu tipe orang yang makan sebanyak itu...?"
"Rasanya
kalau lagi liburan begini, porsi makan bisa makin banyak, kan?"
"Kalau
aku sepertinya tidak sangka makan sebanyak itu..."
Memang
benar juga, sih. Akhir-akhir ini, karena masakan yang kumakan bersama Nanami
terlalu lezat, porsi makanku jadi makin bertambah sehingga aku sampai harus
menambah porsi latihan fisik...
Sejauh
ini bentuk tubuhku masih bisa dipertahankan, tetapi kalau lengah sedikit saja
rasanya berat badanku akan langsung melonjak naik.
Di
perjalanan liburan ini pun kami pasti akan memakan berbagai hidangan lezat,
jadi kalau lengah bisa-bisa berat badan naik.
"...Ngomong-ngomong,
apakah Nanami gem—"
"Eh?"
"Tidak
ada apa-apa."
Karena
merasakan intimidasi dan tekanan yang luar biasa, aku langsung bungkam.
Di
saat hendak berangkat berlibur begini, tidak ada gunanya membuat Nanami marah
gara-gara ucapan yang salah.
Ya,
ini adalah keputusan yang tepat. Diam itu emas. Harus punya kepekaan dan
tenggang rasa.
"Sebentar
lagi keretanya datang, mari kita bersiap pindah."
"Iya,
benar... Hooam... Rasanya aku bakal ketiduran di dalam kereta nanti..."
"Yah,
lagipula ini perjalanan yang lumayan jauh, sih... Kalau kamu mengantuk, tidur
saja tidak apa-apa."
"Hmm...
tidak apa-apa. Untuk saat ini, setidaknya selama aku masih bisa menahan
kantuk..."
Nah,
sekarang perjalanan kereta kami akan segera dimulai. Waktu tempuhnya adalah...
sekitar 5 jam...
Selama
itu, apakah kami bisa tetap terjaga?
Sambil
menahan uap masing-masing, aku dan Nanami melangkah pelan naik ke dalam kereta
yang baru saja tiba.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
"Aduh...
kita malah ketiduran, ya..."
"Padahal
sampai di tengah perjalanan kita sempat bangun, ya..."
Setibanya
di tempat tujuan, kami berdua turun dari kereta lalu saling melempar senyum
getir.
Tidak,
jujur saja, sampai pertengahan jalan kami benar-benar terjaga sambil menikmati
pemandangan dan mengobrol.
Karena
kursinya adalah reserved seat dan kami duduk berdampingan, suasananya
sangat menyenangkan. Tapi... bagian timur Hokkaido (Doutou) ternyata
jauh sekali... Perjalanannya memakan waktu lebih dari lima jam... Sungguh
terasa luar biasa panjang...
Kalau
naik mobil selama 3 atau 4 jam aku pernah berpengalaman, tapi kalau naik kereta
rasanya beda lagi.
Setelah
perjalanan ke Hawaii dulu, perjalanan kali ini adalah yang terpanjang kedua
bagiku. Percakapan antara aku dan Nanami pun makin lama makin terputus-putus...
Nanami
tidur lebih dulu, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Pada awalnya dia
terbangun dan tertidur berulang kali, tapi... di pertengahan jalan, kami berdua
berakhir saling bersandar satu sama lain dan tertidur pulas.
Pada
akhirnya, penyebab utamanya mungkin karena kemarin malam kami sama-sama sulit
tidur. Padahal aku berpikir mumpung masih muda harusnya sanggup kalau cuma
begadang, tapi ternyata tidak semudah itu.
Yah,
seandainya bukan naik kereta, mungkin kami tidak akan ketiduran, sih.
Di
dalam kereta, suara tak-tuk-tak-tuk serta guncangan dan getaran yang
beritme teratur... saat menyerahkan diri pada irama itu, kami pun tertidur.
Rasanya
aku bisa tidur dengan sangat nyenyak dan nyaman. Aku pernah mendengar bahwa
tidur saat naik kendaraan itu terasa nyaman, dan rasanya tidur di kereta ini
bahkan lebih nyaman ketimbang saat tidur di pesawat dulu. Baik aku maupun
Nanami merentangkan badan dan meliukkan tubuh untuk meregangkan otot-otot yang
kaku karena terlalu lama duduk.
Tubuh
yang berbunyi saat diregangkan itu perlahan didinginkan oleh udara luar yang
cukup dingin.
"Tapi,
karena kita berangkat lebih awal, sekarang masih siang. Ternyata keputusan
berangkat pagi-pagi memang paling tepat, ya."
"Benar
juga... memang. ...Akhirnya kita sampai juga, ya."
Matahari
masih tinggi dan cuaca hari ini sangat cerah. Di langit biru hampir tidak ada
awan sama sekali.
Aroma
yang terbawa oleh angin agak berbeda dari kota tempat tinggal kami... apakah
karena kandungan angin lautnya yang lebih banyak? Angin laut di musim dingin
memberikan sensasi kesegaran yang khas.
Begitu
merasakan udara yang berbeda dari biasanya, timbul perasaan bahwa aku
benar-benar sedang berlibur.
Aku
memperhatikan Nanami yang sedang meregangkan tubuhnya. Pakaiannya saat ini
adalah mantel panjang khusus musim dingin (long coat), dan kakinya
mengenakan sepatu bot. Gaya rambutnya diikat satu dan diuraikan ke depan bahu,
serta mengenakan kacamata bulat berukuran besar.
Seingatku
dia pernah bilang kalau dia sengaja mencoba penampilan yang memberikan kesan
tenang dan terpelajar.
Memang
benar, karena penampilannya secara keseluruhan dikordinasikan dengan warna
dasar putih, dia terlihat sangat anggun dan terpelajar. Kacamatanya juga sangat
cocok dan terlihat menggemaskan.
Sebaliknya,
penampilanku hari ini... sama seperti biasanya. Namun, ada sedikit sentuhan
gaya bermain... seperti mengenakan beberapa aksesori.
Karena
kami berdua akan menginap di ryokan hanya berduaan, kami berdua sengaja
memilih gaya pakaian yang terkesan sopan dan terpelajar.
Dengan
begini, sepertinya kami bisa memberikan kesan yang baik kepada pihak ryokan.
Setidaknya, kami tidak akan terlihat seperti anak-anak gampangan.
Mungkin
menyadari pandangan mataku, Nanami yang tampak sedikit malu-malu malah
memberikan kedipan mata padaku.
Aduh,
menggemaskan sekali dia.
Nah,
karena tubuh sudah kembali rileks, sekarang mari kita tentukan mau jalan-jalan
ke mana... Di sekitar stasiun tidak ada apa-apa, tetapi tampaknya ada stasiun
rest area jalan (Michi-no-Eki) sekitar sepuluh menit perjalanan
menggunakan bus.
Michi-no-Eki...
seingatku itu adalah tempat peristirahatan yang terletak di titik tengah kota,
kan? Katanya tergantung lokasinya, ada beberapa tempat yang menyajikan kuliner
khas yang cuma ada di sana sehingga menjadi objek wisata tersendiri.
Michi-no-Eki
di sini... eh? Aku tahu tempat ini.
Tampaknya
tempat itu persis merupakan lokasi yang tadinya juga bermaksud kami kunjungi
untuk jalan-jalan nanti.
Sebenarnya
ada satu tempat yang menjadi tujuan utama kami dari lokasi ini, tetapi mungkin
tidak ada salahnya menjadikan tempat ini sebagai tujuan sekaligus untuk
pengintaian awal. Kita juga bisa makan siang di sini.
"Sekalian
makan siang... mari kita pergi ke sana."
"Sudah
lama juga ya tidak pergi ke Michi-no-Eki. Kalau makan di tempat seperti
ini, makanan yang biasa saja pun rasanya jadi sangat lezat, ya..."
"Benarkah?
Aku sendiri jarang pergi ke Michi-no-Eki, sih..."
"Dulu
Oto-nii sempat keranjingan berburu cap... karena Hatsumi merasa berat kalau
pergi sendirian, aku jadi diseret untuk menemani, deh."
Aah,
pandangan mata Nanami mendadak menerawang jauh. Dengan pandangan mata
menerawang itu, entah mengapa dia tersenyum sinis sambil mengenang masa lalu.
Eh?
Apakah itu bukan kenangan yang menyenangkan? Rasanya justru seperti kenangan
yang amat sangat menyiksa.
"Kamu...
mau dengar...?"
...Suaranya
berat banget... Sebenarnya apa yang terjadi? Aku jadi penasaran.
Perjalanan
menuju Michi-no-Eki bisa ditempuh dengan bus atau berjalan kaki. Jika
naik bus butuh waktu 10 menit, dan jika berjalan kaki pun jaraknya hanya
sekitar 20 menit, tetapi karena sekarang musim dingin kami memutuskan untuk
naik bus.
Kebetulan
bus berjadwal rutin juga baru saja hendak berangkat, jadi kami sangat
beruntung.
Suasana
di dalam bus tidak terlalu ramai, selain kami hanya ada beberapa orang saja
yang duduk tersebar. Hal seperti ini pun membuat suasana terasa makin seperti
perjalanan yang santai.
Sambil
duduk di bagian belakang, selama perjalanan menuju ke sana... aku mencoba
bertanya kepada Nanami mengenai apa yang sebenarnya terjadi padanya saat itu.
Lalu,
kenangan Michi-no-Eki yang kudengar di tengah perjalanan tersebut...
benar-benar jauh dari kesan perjalanan santai kami saat ini, ringkasnya bisa
dikatakan sebagai sebuah perjalanan paksa.
Seriusan,
apa sih yang dilakukan Nanami dan yang lainnya di masa lalu...?
Perjalanan
itu sama sekali tidak diisi dengan jalan-jalan, ataupun menikmati kuliner. Itu
murni perjalanan demi mengumpulkan seberapa banyak cap yang bisa distempel
selama masa liburan.
Menyusun
jadwal dengan ketelitian per menit, lalu berpindah, menstempel, berpindah,
menstempel, berpindah, dan menstempel yang terus berulang tanpa henti. Katanya
itu adalah perjalanan yang bagaikan neraka.
"...Kalian
kok bisa-bisanya sampai merampungkannya?"
"Yah,
saat menjalaninya kami mungkin ketagihan adrenalin sampai-sampai jadi gembira
secara tidak wajar... Sungguh perjalanan yang tidak masuk akal..."
Begitu
ya, sekalipun membawa mobil sendiri, menjejalkan terlalu banyak jadwal itu
memang tidak baik...
Ya,
ini pelajaran yang berharga.
Mungkin
Nanami pun memikirkan hal yang sama, kita harus melakukan perjalanan yang
santai dan punya banyak waktu luang, ya... ucapnya dengan ekspresi yang
agak kelam, mungkin karena lelah akibat teringat kenangan itu.
Aku
yang cuma mendengarkannya saja sudah ikut merasa lelah.
"Mari
kita jalan-jalan dengan santai... dan perlahan saja."
"Benar
ya... mumpung ini perjalanan ke pemandian air panas, mari kita nikmati dan
lihat-lihat secara perlahan..."
Tampaknya
arah dan panduan perjalanan kami kali ini telah ditetapkan dari hal yang tidak
terduga. Tidak, pada dasarnya kami memang sudah berniat untuk santai-santai,
sih.
Mungkin
gaya perjalanan saat masih muda itu akan lebih menyenangkan jika menggunakan
jadwal padat seperti yang dilakukan oleh Souichiro-san dan yang lainnya... namun
mengenai hal itu, mari kita sesuaikan juga dengan pertimbangan kepribadian kami
masing-masing.
"Ah,
sepertinya kita sudah sampai..."
"Cepat
juga, ya."
Area
parkir di Michi-no-Eki ini sangat luas, dan bangunannya jauh lebih luas
lagi. Sebuah tempat peristirahatan di atas tanah yang sangat luas... mungkin
bisa dibilang seperti tempat oase.
"Apakah
kamu pernah datang ke sini juga?"
"Iya,
waktu stamp rally... makanya tidak ada kenangan yang berarti di
sini..."
Uwah,
Nanami teringat momen itu lagi sampai-sampai memasang raut wajah lelah.
Begitu
masuk ke dalam, di sana dijual produk hasil laut, dan di kios-kiosnya juga
dijual kuliner khas daerah setempat. Pilihan oleh-olehnya sangat beragam, dan
ada juga tulisan penjelasan mengenai objek-objek wisata sehingga terlihat agak
mirip taman hiburan mini.
Padahal
tempat sekeren ini mereka lewati begitu saja... Sayang sekali, ya...
"Di
masa depan, mungkin bagus juga kalau kita mendatangi Michi-no-Eki yang
pernah didatangi Nanami secara santai."
Hitung-hitung
untuk menghapus kenangan buruk. Pada awalnya Nanami sempat memasang raut wajah
agak enggan mendengar usulanku itu, tetapi begitu aku menekankan bahwa ini
murni jalan-jalan santai, wajahnya tampak sedikit lebih tenang.
Namun
sepertinya, trauma kecil itu masih agak membekas...
"Hari
ini aku akan menghapus kenangan buruk di tempat ini!! Youshin juga harus ikut,
ya!!"
"Iya,
yah... karena kita pergi bersama, tentu saja aku bakal ikut..."
"Pertama-tama
kita makan es krim soft serve!!"
"Sebelum
makan siang, nih?!"
Sambil
menahan Nanami yang langsung meluncur lurus menuju kios es krim soft serve,
kami berdua menikmati kegiatan jalan-jalan di Michi-no-Eki.
Padahal
tadi dia bilang sepertinya tidak sanggup makan banyak... tetapi begitu sampai
di sini hal itu seolah hilang dari kepalanya dan dia malah membeli berbagai
macam hal.
Tapi
yah... ini menyenangkan, sih...
Setelah
menikmati jalan-jalan seperti itu, kami kembali naik bus untuk berpindah menuju
ryokan. Walau agak terlalu awal, waktunya sudah cukup pas dan kami sudah
bisa melakukan proses check-in.
Setelah
check-in kami bisa bersantai sejenak di kamar... lalu pergi ke tempat
wisata yang lain.
Aku
ingin masuk ke pemandian air panas dan bersantai, serta harus memutuskan mau
makan malam apa nanti...
Sambil
merasa berdebar antusias, hal yang menanti kami yang baru saja tiba di ryokan
adalah sebuah kalimat yang mengejutkan.
"Anu...
mohon maaf sekali, tetapi tampaknya reservasi atas nama Anda tidak
terdaftar..."
"Eeh...?!"
Tepat setelah tiba di ryokan, sebuah krisis tingkat tertinggi mendadak melanda kami.



Post a Comment