Chapter 4
Membawa Berkah di Balik Musibah
"Kalau
begitu, silakan bersantai dan nikmatilah waktu Anda..."
"Ah...
baik, terima kasih banyak..."
Wanita
berkimono... nakai-san membungkukkan badan dalam posisi duduk seiza
lalu menutup pintu geser (fusuma). Pintu geser yang meluncur di atas
ambangnya sama sekali tidak menimbulkan suara, bahkan saat menutup rapat pun
tidak ada bunyi sedikit pun.
Pintu
geser itu tertutup rapat secara tanpa suara, dan bahkan langkah kaki nakai-san
yang seharusnya sudah pergi pun tidak terdengar. Cara keluar ruangan yang amat
sangat tenang.
Apakah
ini yang dinamakan keahlian profesional...? Gerakannya yang begitu mengalir
bahkan membuatku merasa kagum.
Hanya
dari gerakan menutup pintu geser saja rasanya aku sudah dibuat takjub. Rasa
bingung yang kurasakan sampai beberapa saat lalu telah sirna sepenuhnya.
"...Entah
kenapa, kamar ini sangat luar biasa."
Suara
Nanami yang seolah kehilangan pijakan realitas terdengar dari belakangku. Aku
pun menoleh, kembali mengamati ruangan yang telah ditunjukkan kepada kami.
Di
tengah ruangan berselimutkan tatami, diletakkan kursi lesehan (zaisu)
dan sebuah meja. Agak jauh dari situ, di dekat jendela, terdapat dua buah kursi
berjemur (reclining chair) yang tertata sejajar menghadap ke luar
jendela.
Itu
adalah ruangan utamanya... sementara ruangan di sebelahnya merupakan kamar
bergaya Barat... tempat berjejernya tempat tidur tipe twin bed. Siapa
sangka ini adalah kamar paduan gaya Jepang dan Barat (Wayou-konzai).
Dan
yang paling patut disoroti dari segalanya adalah...
"Nee,
yang ada di balkon itu pemandian air panas terbuka (rotenburo),
kan?"
"...Iya,
itu rotenburo. Berarti ini kamar yang dilengkapi rotenburo
pribadi, ya."
Ya,
hal yang ditunjuk Nanami dengan jari sambil sedikit tertegun adalah tempat
berendam di luar jendela... yaitu rotenburo pribadi.
Jelas
sekali, kelas kamar ini jauh lebih tinggi dibanding kamar yang kami reservasi
sebelumnya. Terlalu mewah.
"Ini
ilusi, kan..."
"Ini
kenyataan, kok..."
Saat
mencubit pipi, rasanya sakit. Nanami pun ikut mencubit pipiku.
Sakit.
Kedua pipiku ditarik.
Eh,
kenapa kedua pipiku yang ditarik?
Aku
pun mencoba mencubit pelan pipi Nanami. Karena tidak ingin menyakitinya, aku
hanya menjepitnya pelan, tetapi situasi kami yang saling mencubit pipi satu
sama lain ini jadi terlihat cukup menggelikan.
Lalu
aku sekali lagi mengamati kamar ini... ya, memang kamar yang dilengkapi rotenburo
pribadi.
Mengenai
tempat tidurnya pun, dua tempat tidur tipe twin bed tertata sejajar...
Walaupun tipe twin, ukurannya masing-masing besar seperti double bed.
Kalau
aku dan Nanami, harusnya muat dan lega kalau tidur berdua di—eh, jangan. Jangan
dipikirkan.
"Tidak
menyangka kita malah diantar ke kamar seperti ini, ya..."
"Asli,
benar-benar tidak terduga..."
Sampai
beberapa saat lalu aku benar-benar panik, lho. Begitu sampai di ryokan,
kami mendadak diberitahu tampaknya reservasi Anda tidak terdaftar...
Rentetan
kejadian hingga kami diantar ke kamar seluar biasa ini berasal dari cerita
beberapa saat yang lalu.
Sebenarnya
itu adalah kejadian yang baru saja terjadi. Perkataan pihak ryokan bahwa
reservasi kami tidak terdaftar saat baru tiba tadi sebenarnya bukanlah
penjelasan yang sepenuhnya akurat.
Tepatnya,
terjadi penumpukan reservasi (double booking) sehingga bagian kami tidak
terdata dengan benar... begitulah kejadiannya.
Yah,
hal itu pun baru terungkap hari ini.
"Reservasinya...
bertumpuk?"
Setelah
diberitahu oleh wanita di bagian resepsionis, kami mendapatkan penjelasan lebih
lanjut dari staf penginapan yang keluar menemui kami.
Apakah
hal semacam itu memang bisa terjadi?
Aku
sangat terkejut dibuatnya. Tampaknya, saat kami melakukan reservasi via
telepon, waktunya secara tidak beruntung bersamaan dengan reservasi lain yang
masuk... Detail pastinya aku kurang tahu, tetapi garis besarnya begitu.
Apakah
ini bisa disebut human error atau bukan, aku tidak tahu pasti, tetapi
begitulah penjelasannya.
"Kami
memohon maaf yang sebesar-besarnya...!!"
Staf
ryokan... seorang wanita berkimono terus-menerus membungkukkan badannya
sedalam mungkin.
Ketika
mendadak diberi tahu bahwa reservasi tidak terdaftar, kami sempat panik dan
mengira kami yang melakukan kesalahan, jadi mengetahui bahwa kesalahannya bukan
pada kami membuatku merasa lega.
Sebab
saat awal diberitahu reservasi tidak terdaftar, aku dan Nanami saling bertukar
pandang eh? Kita salah reservasi? lalu sibuk memeriksa ponsel dan
hal-hal lainnya.
Mulai
dari nama penginapan hingga lokasinya. Karena saat dicari di internet ada
penginapan bernama sama di prefektur lain, aku sempat mengira kami salah
memesan tempat yang itu.
Yah,
untungnya hal semacam itu tidak terjadi.
"Anu...
kalau begitu..."
Aku
dan Nanami kembali saling bertukar pandang. Kalau begitu, apakah malam ini kami
jadi terlunta-lunta tanpa penginapan... atau harus mencari penginapan lain?
Saat
itu aku berpikir begitu. Kami belum membayar uang... atau lebih tepatnya karena
kami menggunakan kupon menginap berpasangan, tidak ada sistem pengembalian
uang, dan jika reservasinya tidak terdaftar... atau terjadi double booking,
kami tidak bisa menginap di sini, kan?
Tapi,
apakah ada penginapan di sekitar sini yang menerima kupon menginap berpasangan
milik kami? Kalau harus mengeluarkan biaya ekstra untuk penginapan lain, itu
akan cukup berat bagi anggaran kami.
Hmm,
harus bagaimana ya, aku jadi bingung... Apakah dalam situasi seperti ini
sebaiknya aku marah-marah? Bagaimana ya?
Aku
memikirkan hal itu secara samar-samar. Bukan apa-apa, karena menginap di luar
rumah adalah hal yang di luar rutinitas sehari-hari, rasanya jadi kurang nyata
dan tidak terpikirkan reaksi yang pas... lagipula dalam situasi seperti ini,
marah pun tidak akan menyelesaikan masalah.
...Mungkin
kalau aku pergi berlibur sendirian, aku bakal marah? Tapi sekarang kan ada
Nanami. Membawa anak perempuan lalu marah-marah hingga menimbulkan masalah,
atau gara-gara marah lantas liburannya jadi berantakan, justru itu yang jauh
lebih bahaya.
Baron-san
juga sudah memperingati agar tidak sampai bertengkar saat berlibur. Mungkin
kendala perjalanan seperti ini juga merupakan bagian dari kenikmatan liburan
itu sendiri.
Mungkin
bagus juga aku sudah mendengarkan cerita dari banyak orang sebelum berangkat.
Baron-san sendiri katanya dulu pernah mengalami masalah semacam itu.
Baron-san
menekankan betapa pentingnya tempat menginap, dan mengatakan bahwa tidak punya
tempat menginap adalah hal yang paling berbahaya, tetapi sebenarnya ada hal
yang lebih berbahaya dari itu.
Hal
yang paling berbahaya itu adalah bertengkar di tempat liburan. Tidak punya
penginapan atau tidak punya uang itu hal sepele kalau dibandingkan dengan
bertengkar... yah, tidak dapat penginapan juga sebenarnya gawat sekali, sih.
Entah
mengapa kalimatnya itu terasa sangat penuh dengan pengalaman nyata.
Suasana
dan impresi saat berlibur itu sangat penting, jauh lebih penting dari apa pun.
Masalah teknis tinggal ditertawakan atau diselesaikan saja, tetapi kalau
suasananya sudah rusak, tidak ada yang bisa dilakukan.
Memperbaiki
suasana yang sudah terlanjur rusak itu tidak mudah. Makanya, saat berlibur
sebisa mungkin buatlah agar semuanya terasa menyenangkan.
Memang
benar juga, sih. Kalau bertengkar, semuanya bakal berantakan. Di saat yang
sama, kalau aku marah-marah sekarang pun suasananya bisa berantakan. Marah di
sini sepertinya tindakan yang terlalu terburu-buru.
Memiliki
banyak pengalaman hidup atau menjadikan kisah para pendahulu yang pernah
melakukan kesalahan sebagai pelajaran itu memang sangat penting, ya. Berkat
mendengarkan cerita itu, saat ini aku bisa bersikap lumayan tenang.
Nah,
kalau begitu, mari kita bicarakan hal yang konstruktif.
"Yah,
mau bagaimana lagi... Kalau begitu... apakah Anda bisa merekomendasikan
penginapan lain yang bisa kami tempati dengan kupon menginap ini?
Mengingat
kami juga kurang paham dengan daerah sekitar sini, jadi jika Anda berkenan
memberitahukannya..."
"Ah,
tidak... anu..."
Dengan
wajah panik, staf tersebut mengeluarkan sebuah tablet. Di sana terampil situs
web penginapan yang mencantumkan paket-paket perjalanan liburan.
Belakangan
ini, penjelasan seperti ini ternyata tidak lagi menggunakan brosur melainkan
tablet, ya. Terkesan sangat modern.
Tidak,
kalau bentuknya situs web, apakah ini malah termasuk pelayanan yang agak
terkesan lama?
"Kami
memohon maaf yang sebesar-besarnya, namun alih-alih kamar dari paket yang Anda
reservasi, kami dapat menyiapkan kamar lain yang ini untuk Anda..."
Jika
Anda berkenan, kami akan menyiapkan kamar yang ini.
Kalimat
tersebut berlanjut demikian... tapi tunggu, apakah tidak apa-apa melakukan itu?
Layar
yang ditunjukkan memperlihatkan paket yang kelasnya jauh lebih tinggi daripada
paket yang kami pesan. Kamarnya luas, dan tampak sangat mewah...
Aku
dan Nanami kembali saling bertukar pandang dan melakukan kontak mata.
Bagaimana?
tanyaku lewat tatapan mata, dan Nanami menjawab lewat tatapan matanya bahwa
anggaran kami tidak sebanyak itu dan harganya tampak sangat fantastis jadi
sebaiknya kita tolak saja... begitulah firasatku membaca arti tatapannya.
Memang
benar, dari yang terlihat sekilas tadi, itu adalah kamar yang harganya
fantastis mahal.
"Anu,
tapi kamar itu sepertinya jauh lebih mahal daripada paket kupon menginap
kami..."
"Tentu
saja, karena ini adalah kelalaian dari pihak kami, Anda tidak perlu membayar
biaya tambahan apa pun."
Eh?
Serius? ...Bukankah biasanya hal seperti itu bakal dikenakan biaya tambahan?
Tidak kena biaya tambahan? Seriusan nih?
Nanami
pun mengedipkan matanya berkali-kali karena terkejut. Kalau secara normal tanpa
biaya tambahan kami bisa menginap di kamar kelas atas... bukankah ini sangat
beruntung?
Kedengarannya
memang pragmatis... tapi yah, tepat saat aku hendak menyetujuinya...
"Hanya
saja..."
Ahh,
seperti dugaan, ternyata ada syaratnya, ya? Apakah soal review atau
semacamnya, atau harus melakukan sesuatu?
Mengenai
kondisi kamarnya atau apa...?
Meski
sempat merasa sedikit cemas, hal yang disampaikan berikutnya ternyata sama
sekali tidak ada hubungannya dengan kecemasan tersebut.
"Mengingat
Anda berdua masih sangat muda, kamar yang tersedia bukanlah tipe double bed,
melainkan tipe twin bed... kami mohon pengertiannya untuk hal
tersebut."
"Ah,
kalau soal itu sama sekali tidak masalah."
Kalau
dipikir-pikir, kami memang sudah menyampaikan dari awal bahwa kami adalah
pasangan kekasih, sih. Mengenai hal itu tentu saja mereka merasa khawatir,
tidak apa-apa kok, kami tidak masalah jika bukan double bed.
Eh,
Nanami... jangan malah mencoba bernegosiasi di situ dong. Jangan berusaha
mengubahnya jadi double bed, tidak boleh, kasihan pihak ryokan-nya
jadi bingung. Seriusan, mereka bisa makin repot dalam berbagai hal.
Sembari
menenangkan Nanami yang masih mencoba berargumen, kami akhirnya memutuskan
untuk menginap di kamar kelas atas tersebut.
Setelah
itu, kami mengurus prosedur untuk masuk ke dalam kamar dan menyerahkan dokumen
asli surat persetujuan yang dibawa dari rumah. Di tengah proses tersebut, orang
tua kami pun dihubungi via telepon. Tentu saja mengenai masalah menginap dan
komunikasi ke wali pelindung adalah dua hal yang berbeda. Di situ staf
penginapan menjelaskan situasi ini secara singkat, lalu ponselnya diserahkan
kepada kami.
Kalau
dapat kamar yang bagus, nikmatilah liburanmu semaksimal mungkin.
Begitulah
kalimat penyemangat yang kudapatkan dari Ibu. Tentu saja, beliau menyisipkan peringatan
agar aku sama sekali tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada Nanami.
Iya,
aku tidak akan melakukannya kok. Jelas tidak akan. Sekalipun bisa menginap di
kamar mewah, hal itu adalah dua perkara yang berbeda... tentu saja aku tidak
boleh menyusahkan pihak penginapan.
Di
pihak Nanami juga ada panggilan telepon, dan sepertinya Nanami pun diperingati
sesuatu oleh Tomoko-san.
Sambil
mencuri-curi pandang ke arahku, dia memberikan respons bantahan yang cukup
kuat.
Tomoko-san
menggoda Nanami lagi, ya. Padahal kali ini posisinya sedang jauh, mohon
dihentikan godaan jarak jauh semacam itu.
Semua
prosedur yang diperlukan telah selesai, nah... sekarang harus bagaimana, ya?
Karena waktu check-in sebenarnya masih agak awal, tadinya aku berpikir
untuk menitipkan barang bawaan lalu pergi jalan-jalan ke suatu tempat.
Namun
ternyata kami sudah diperbolehkan masuk ke kamar, dan meskipun sedikit lebih
awal dari waktu check-in, kami tetap diantar masuk... hingga berlanjut
ke situasi saat ini.
Kamar
kelas atas dengan paduan dasar kamar gaya Jepang (Washitsu) yang
tersambung dengan kamar gaya Barat (Youshitsu). Bersantai di kamar ini
saja sepertinya sudah bisa memberikan berbagai kenikmatan.
Fakta
bahwa kelas kamarnya dinaikkan memang sudah dijelaskan jadi aku sudah tahu.
Tapi tetap saja, aku tidak menyangka bakal semewah ini. Bukankah ini kamar
terbaik yang pernah kutempati sepanjang hidupku?
Sejak
tadi Nanami menyentuh berbagai sudut ruangan dengan mata berbinar-binar. Aku
baru sadar kalau di sana juga ada pajangan lukisan gulung (kakemono).
Tempat
tidurnya juga tampak sangat empuk... Peralatan tidur di ryokan sering
kali kurang cocok dengan tubuhku, tetapi yang ini secara tampilan pun terlihat
sangat mewah... Atau lebih tepatnya, padahal ini ryokan, tapi kenapa
pakai tempat tidur, ya?
Saat
mencoba menekan tempat tidur itu pelan dengan tangan, mungkin ini pertama
kalinya aku merasakan tempat tidur seempuk ini. Walaupun empuk, bantalan
sangganya tetap terasa pas. Setidaknya, ini pasti jauh lebih mahal daripada
tempat tidur di rumahku.
Lokasi
kamar yang ditunjukkan kepada kami ini juga berada di lantai yang lumayan
tinggi... Padahal tadinya kukira ini ryokan pemandian air panas biasa,
tapi apakah tempat ini lebih tepat disebut hotel saja? Lantas apa bedanya,
ya...?
Eh?
Ngomong-ngomong Nanami ada di mana...?
Saat
aku sedang mengecek keempukan tempat tidur, tanpa menyadarinya Nanami sudah
tidak ada di dalam ruangan...
"Wahhh...
Youshin, rotenburo-nya juga luar biasa sekali nih... danau dan
sekitarnya kelihatan jelas..."
Ooh,
rupanya tanpa kucermati Nanami sudah pergi ke luar.
Begitu
melangkah keluar dari tempat yang mirip balkon, di salah satu sudutnya terdapat
tempat berendam. Fasilitas sanitasi airnya tertata rapi... apakah ini yang
dinamakan pemandian air panas alami langsung dari sumbernya (gensen
kake-nagashi)?
Rotenburo
ini memiliki sedikit perbedaan ketinggian dengan balkon, di mana bak mandi
utamanya terletak di tempat yang agak tinggi. Dari sana kami bisa melihat
pemandangan dunia di luar balkon.
Tentu
saja saat ini kami belum akan berendam, tetapi Nanami tampak sangat menikmati
pemandangan dari atas balkon.
Aku
pun bermaksud keluar... lalu melangkah keluar menyusul Nanami. Karena di sana
disediakan semacam alas kaki alas sandal, aku memakainya sebelum melangkah
keluar.
Wah
sungguh, pemandangannya benar-benar indah. Di kejauhan tampak laut... tidak,
karena ini daerah pedalaman harusnya laut tidak terlihat dari sini, jadi itu
danau atau semacamnya?
Nanami
juga bilang danau, sih.
Lampu-lampu
kota mulai terlihat sedikit, menyajikan pemandangan spektakuler yang terhampar
luas. Langit biru tanpa selembar awan pun, gunung-gunung menjulang tinggi yang
dirias oleh salju putih bersih, serta di permukaan tanah terhampar air berwarna
biru... Ungkapan "air" ini memang menunjukkan betapa terbatasnya kosa
kataku.
Pemandangan
di musim dingin, kenapa bisa terlihat seindah ini, ya?
Kalau
mandi di pagi hari (asaburo) mungkin bisa berendam sambil disinari
matahari terbit, dan kalau mandi sore hari bisa disinari matahari terbitnya
matahari terbenam. Kalau malam hari, mungkin bisa menikmati pemandangan
pemandangan malam dari rotenburo...
Kalau
dipikir-pikir, dulu pernah ada masa-masa di mana membawa minuman dingin ke
kamar mandi lalu berendam sambil meminumnya terasa sangat menyenangkan. Kalau
di rotenburo ini, hal semacam itu sepertinya bisa dinikmati juga. Minum
jus dingin sambil menikmati pemandangan.
Ya,
rasanya seperti cara menikmati hal yang agak dewasa dan itu sendiri terlihat
menyenangkan. Namun, apakah cara menikmati hal semacam itu adalah cara yang
dilakukan saat sendirian, ya...? Kalau dilakukan berdua rasanya rintangannya
bakal cukup tinggi.
Dalam
berbagai arti.
"...Bagaimana
kalau... kita langsung coba berendam?"
"Eh...
tidak... berendam?"
Nanami
yang melirik ke arah rotenburo kini mengarahkan pandangannya padaku. Uap
air keluar dari pemandian tersebut, memperlihatkan perbedaan suhu yang jelas
dengan udara sekitarnya.
Di
saat itulah, angin berembus kencang mengusap pipi kami. Di tengah udara yang
dingin, berendam di air panas... sepertinya bakal terasa sangat nyaman, ya.
Bagaimanapun
juga, di kamar yang di luar rencana ini, ajakan yang di luar rencana pun
datang. Padahal tadinya aku berpikir untuk pergi ke pemandian umum besar (daiyokujo),
jadi sama sekali tidak menyangka bakal berendam di sini.
Tidak,
tunggu, kenapa aku malah berpikir dengan asumsi bakal berendam, sih? Itu tidak
boleh, kan. Mari bersikap tenang.
"...Itu
tidak boleh, kan. Coba lihat, tempat tidurnya saja tipe twin bed. Kalau
terjadi apa-apa bakal menyusahkan pihak ryokan dan orang tua kita juga
bakal dihubungi."
"Yah,
normalnya memang begitu, sih... Tapi coba pikirkan, Youshin... kalau di tempat
tidur memang bakal menyisalkan jejak, tapi kalau di pemandian bukankah tidak
bakal menyisakan jejak...?"
"Kamu
berniat melakukan apa di pemandian, sih?!"
"Ah,
masa harus aku yang bilang? Mesum ah..."
Guh...
merespons godaannya di sini terasa seperti kekalahan, atau lebih tepatnya malah
memancing masalah baru. Padahal jelas-jelas Nanami sendiri yang pikirannya
mesum untuk hal-hal semacam itu, tapi malah menuduhku...
Demi
mengalihkan perhatian, aku mengalihkan pandangan ke pemandangan di seberang rotenburo,
lalu melangkah hingga ke ujung balkon untuk melihat pemandangan lebih jelas
dari sana.
Di
ujung rotenburo dipasang dinding transparan seperti kaca, sehingga kami
tidak bisa melangkah lebih jauh dari itu. Namun, dari sana pemandangan luar...
khususnya bagian bawah bisa terlihat sangat jelas.
...Bentar,
ini tinggi sekali. Asli tinggi sekali.
Agak...
bikin gemetar juga tingginya.
Gawat,
kalau berdiri di dekat sini rasanya benar-benar makin menakutkan. Kesadaran
bahwa aku berada di tempat tinggi membuat rasa takut semakin melonjak. Mari
mundur sedikit, mundur sedikit saja.
Aku
mundur perlahan ke belakang, tetapi rasanya tetap agak menakutkan. Siapa sangka
tempat ini setinggi ini.
"...Youshin,
jangan-jangan kamu takut, ya?"
"Eh...?!
M-mana ada..."
Iya,
aku takut. Seriusan takut sekali. Begitu sadar kalau ini tempat tinggi,
mendadak rasanya jadi menakutkan.
Refleks
aku berusaha bersikap keren, tetapi Nanami sepertinya sudah bisa melihat dengan
jelas kalau aku sedang ketakutan... Kalau begitu tidak ada gunanya berpura-pura
tangguh.
"Iya,
agak takut. Tidak menyangka bakal setinggi ini..."
"Ahaha,
kalau begitu saat berendam di rotenburo ini, aku bakal menemanimu masuk
bersama, ya?"
"Kamu
belum menyerah juga, ya. Pilihan untuk tidak berendam..."
"Tidak
ada, kan?"
Tidak
ada, ya. Apakah tidak apa-apa, Nanami-san?
Bandingkan
denganku, aku justru lebih khawatir kalau Nanami sendiri yang bakal merona
merah padam ketimbang diriku yang masuk bersama. Dia pasti tipe yang mengajak
tapi malah berujung senjata makan tuan.
Tanpa
memedulikan kecemasanku, Nanami terus mendesak dengan berbagai cara, seperti
mengajak berendam sore hari sambil menikmati pemandangan.
Iya,
iya, aku mengerti kok. Untuk saat ini mari kita bersantai sebentar di kamar
lalu pergi jalan-jalan.
Sambil
mendorong punggung Nanami yang sedang merajuk, kami berdua melangkah dari
balkon kembali ke dalam kamar... namun pada saat itulah Nanami mendadak
berhenti mendadak.
"Ah..."
"Hmm?
Ada apa, Nanami?"
Melihat
reaksinya yang seolah menyadari sesuatu, aku pun refleks ikut menghentikan
langkah.
Nanami
yang menoleh kembali mengarahkan pandangannya ke rotenburo dengan
tatapan yang agak sedih. Lalu dia mengarahkan pandangan itu padaku, dan
terakhir pada dirinya sendiri.
Sambil
menatap tubuhnya sendiri, Nanami bergumam dengan raut kecewa dan sedih.
"Karena
tidak menyangka bisa mandi campur (konyoku)... aku jadi tidak membawa
pakaian renang."
"Kan
sekarang musim dingin..."
Lagipula
kami memang tidak berniat pergi ke laut atau berenang di kolam... tentu saja
tidak mungkin membawa pakaian renang. Kalau musim panas mungkin bakal membawa,
sih.
Oh,
begitu rupanya. Jadi Nanami berniat masuk ke rotenburo dengan tetap
mengenakan pakaian renang.
Benar
juga, ya. Memang kalaupun mau mandi campur, masuk ke pemandian bersama dengan
mengenakan pakaian renang adalah batas maksimal yang memungkinkan. Mana mungkin
telanjang bulat. Tentu saja itu rintangannya terlalu tinggi.
...Aah,
Nanami yang berpikir "kalau begitu sulit untuk masuk bersama, ya"
akhirnya menyerah.
Ya,
ya, syukurlah kalau Nanami mau menyerah dengan jujur.
Eh,
bukan, aku tidak kecewa kok. Aku sama sekali tidak kecewa, lho?
Karena
aku tidak kecewa, bisakah kamu menghentikan senyuman jahil niyaa itu,
Nanami-san?
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Berbeda
dengan liburan musim panas, liburan musim dingin itu panjang, jadi hal yang
bisa dilakukan sebenarnya cukup banyak... namun meski begitu, di musim dingin
pembatasan kegiatannya jauh lebih banyak daripada musim panas.
Pembatasan
ini murni disebabkan oleh faktor penumpukan salju.
Di
musim panas ada banyak hal yang bisa dilakukan seperti pergi ke laut, ke
gunung, naik sepeda, atau berolahraga, tetapi di musim dingin kegiatan di laut
maupun gunung terbilang sangat berat.
Tentu
saja mendaki gunung bersalju sebenarnya memungkinkan, tetapi menurut
pandanganku, hal itu akan sangat berat jika dilakukan oleh siswa SMA.
Selain
itu, faktor cuaca di musim dingin sangatlah krusial. Jika terjadi badai salju,
rekreasi yang menyenangkan sekalipun bisa dengan cepat berubah menjadi hal yang
berbahaya.
Dalam
hal ini, laut di musim panas pun kurang lebih sama, sih.
Untuk
olahraga seperti ski atau snowboard pun, kalau tidak memiliki
dasar-dasar yang kuat, cedera seperti patah tulang justru bisa merusak
kesenangan berlibur.
Lalu
yah, untuk menyiapkan perlengkapan satu stel lengkap juga membutuhkan uang yang
lumayan banyak... Gambaran negatif yang agak aneh ini sebenarnya berakar dari
diriku sendiri yang memang tidak mahir dalam olahraga ski, sih.
Orang
seperti diriku yang tidak mahir dalam olahraga musim dingin akan bisa menikmati
liburan seperti ini secara lebih aman dengan pergi jalan-jalan atau berburu
kuliner.
...Yah,
sekadar informasi tambahan, katanya setelah liburan musim dingin usai nanti
akan ada pelajaran ski...
Hal
itu agak membuatku tertekan.
Meskipun
tertekan, di saat yang sama ada juga hal yang kunantikan. Yaitu... fakta bahwa
aku bisa melihat Nanami mengenakan pakaian ski... kalau dipikir-pikir rasanya
pandanganku ini agak terlalu perhitungan, ya.
Aku
pernah mendengar bahwa seorang perempuan yang mengenakan pakaian ski akan
terlihat tiga kali lipat lebih memikat, jadi aku penasaran seberapa jauh daya
pikat Nanami akan meningkat...
Eh?
Apakah 30% lebih memikat...? Yah, bagaimanapun juga, daya pikatnya pasti akan
meningkat. Motivasi untuk menghadapi olahraga ski yang tidak kukuasai ini
memang harus ditingkatkan lewat cara-cara seperti itu.
Mari
kembali ke topik utama. Jalan-jalan musim dingin, jalan-jalan musim dingin.
Jalan-jalan
di musim dingin itu memiliki nuansa keindahan tersendiri yang berbeda dari
musim panas. Di musim dingin ada hal-hal yang hanya bisa disaksikan saat musim
dingin saja, dan hal itulah yang sekarang... sedang kami saksikan.
"Berada
di atas kapal begini, rasanya jadi ingin bernyanyi, ya."
"Kapal
dan nyanyian... seperti adegan di drama atau semacamnya, kah?"
Sambil
diterpa angin di atas dek, aku dan Nanami berada di atas kapal yang membelah
laut musim dingin.
Angin
dingin mengusap pipi kami. Mungkin karena suhunya yang rendah, angin yang
bertiup terasa sangat dingin sehingga aku dan Nanami saling merapat dan
menempel erat satu sama lain.
Meski
begitu, rasanya tidak sampai membeku... udara yang terasa dingin menusuk ini
entah mengapa terasa cukup nyaman. Walau kalau terus-terusan berada di sini
sepertinya benar-benar bisa membeku, sih.
Saat
menghela napas, aroma khas angin laut memenuhi rongga hidung. Mungkin karena
dingin, sama sekali tidak terasa mengganggu, malah memberikan kesan yang cukup
menyegarkan.
Hanya
suara mesin kapal yang menggema keras dan hempasan gelombang ombak yang saling
bersahutan. Meskipun tidak membentuk irama yang teratur... entah mengapa
suaranya membuat tubuh ingin ikut bergerak.
"Youshin,
apakah kamu tidak mabuk laut?"
"Mungkin
dulu pernah kukatakan, tapi aku sama sekali tidak pernah mabuk kendaraan. Naik
kapal pun sepertinya aman-aman saja. Nanami sendiri bagaimana?"
"Aku
aman juga... Walau guncangannya lebih terasa dari dugaanku, anginnya terasa
sangat nyaman."
Sambil
membiarkan tubuh menerpa angin dingin, dari dek kapal kami menikmati
pemandangan di sekeliling. Di sekitar kami tidak ada apa-apa selain air. Kapal
terus melaju membelah lautan.
Berbeda
dengan laut di musim panas, hanya dengan melihatnya saja dinginnya air sudah
bisa terasa. Jika sampai jatuh ke sini sekarang, pasti dalam sekejap tubuh akan
langsung membeku.
Bukan
hanya jantung, melainkan seluruh tubuh rasanya bakal langsung berhenti
berfungsi. Meski pemandangan sekeliling terlihat agak sepi jika dilihat
sekilas, di berbagai penjuru tampak bermacam-macam jenis burung terbang
melintas.
Apakah
itu... bukan burung camar, melainkan burung elang? Ukurannya lumayan besar.
Kenapa ya, sosok burung besar yang sedang terbang itu bisa terlihat begitu
gagah?
Seolah-olah
sedang memandu jalan kapal ini, burung tersebut terbang membumbung di depan
kami.
Cuaca
hari ini sangat bersahabat, langit biru tanpa selembar awan pun memayungi laut
biru yang terhampar luas tanpa batas.
"Ah,
apakah itu...?"
"Aah,
sudah mulai kelihatan, ya..."
Di
langit tanpa awan, sinar matahari terpancar dengan sangat terang. Meskipun
pancaran sinar matahari terasa hangat, angin yang bertiup menembus kapal terasa
dingin menusuk hingga membuat tubuh menegang.
Sama
seperti langit tersebut, di laut biru nan dingin yang membentang tanpa batas...
sesuatu berwarna putih menyerupai awan mulai terlihat samar-samar.
Hal
berwarna putih itu semakin bertambah seiring melajunya kapal, merias laut yang
biru menjadi serba putih.
Sesuatu
berwarna putih itu memancarkan hawa dingin, sampai-sampai terlihat asap
menyerupai uap air. Benda yang mengapung di atas laut itu bergerak-gerak seolah
dipermainkan oleh gerakan kapal.
"Jadi
ini yang dinamakan es terapung, ya... Ini pertama kalinya aku melihat
langsung..."
"Apakah
ini... lebih tersebar dari dugaan? Tidak, ternyata masih ada lagi di
depan."
Ya,
hal yang datang jauh-jang ingin kami saksikan dengan menyeberangi laut musim
dingin hingga sampai ke tempat ini adalah... es terapung (ryouhyou). Sebuah
perjalanan liburan 2 hari 1 malam.
Bagi
masyarakat umum mungkin ini terhitung perjalanan singkat, tetapi bagi kami yang
masih siswa SMA, ini merupakan sebuah agenda acara yang sangat besar.
Oleh
karena itu, saat mencari-cari bersama Nanami mengenai apa yang bisa disaksikan
yang hanya ada di tempat ini, muncul pilihan untuk menyaksikan ryouhyou
ini.
Ini
bukan semacam tur khusus, melainkan kapal yang beroperasi beberapa kali dalam
sehari untuk melihat es terapung, jadi partisipasinya sendiri terbilang sangat
mudah.
Namun
karena saat ini baru memasuki awal periode munculnya ryouhyou, waktunya
terbilang cukup dekat.
Seandainya
kami tidak sempat naik kapal yang ini pun, kami sebenarnya tinggal naik kapal
berikutnya. Meski begitu, bisa naik tepat di batas waktu seperti ini... kami
terbilang sangat beruntung.
"Uwah,
jumlahnya makin bertambah banyak."
"Benar...
Eh, tunggu? Apakah itu ryouhyou? Bukan daratan yang sedang bergerak,
kan?"
Seiring
kapal bergerak maju, ryouhyou... bongkahan es menyerupai daratan putih
terus bertambah banyak. Kalau dilihat dari jauh, wujudnya murni terlihat
seperti daratan.
Kapal
secara perlahan mendekati kumpulan ryouhyou yang makin memadat, lalu
dengan mengarahkan bagian depan kapal tepat ke arah ryouhyou tersebut,
kapal menerobos maju.
Suara
mesin kapal yang meraung keras, suara gelombang ombak yang terbelah, serta...
suara retakan bongkahan ryouhyou yang hancur karena terhantam kapal
mulai terdengar.
"Eh?
Tunggu dulu. Apakah kapal ini berniat menerobos masuk ke daratan es itu?"
"...Iya,
sepertinya begitu."
Mendengar
suara Nanami yang panik, Punggungku sendiri entah mengapa mendadak merasa agak
dingin.
Eh,
ini seriusan... mau diterobos?
Ryouhyou
putih yang terhampar di depan mata kami memang tampak retak di beberapa bagian,
tetapi susunannya sangat padat dan terlihat sangat luas bagaikan daratan yang
bahkan bisa dinaiki untuk berjalan kaki di atasnya.
Jika
dilihat sekilas, rasanya seolah-olah kapal ini sedang menabrakkan diri menuju
daratan, sehingga tanpa sadar aku dan Nanami saling menggenggam tangan
erat-erat.
Secara
visual, ini terasa cukup menakutkan. Tapi ini aman-aman saja, kan...? Beneran
aman, kan?
Sambil
merasa cemas di dalam hati, aku menggenggam tangannya untuk menenangkan
Nanami...
...Dan,
kapal pun menerobos masuk ke sana.
Baik
aku maupun Nanami refleks berteriak. Para penumpang lain di sekitar kami pun
ikut melontarkan sorakan gembira dan jeritan kaget. Reaksinya pasti berbeda
antara orang yang sudah tahu dan orang yang belum tahu.
Tepat
pada saat menabrak bongkahan es tersebut, rasanya kapal terangkat naik dan
miring secara signifikan...
Wah,
sungguh beruntung tadi kami bergandengan tangan. Saat berbenturan, genggaman
tangan Nanami pun makin mengencang. Padahal sebenarnya guncangannya mungkin
tidak seluar biasa itu.
Meski
begitu, itu adalah jenis guncangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Suara mirip decitan logam beserta getarannya, lalu guncangan vertikal dan
horizontal datang secara bersamaan.
Di
wahana roller coaster taman bermain sekalipun, tidak ada guncangan yang
seperti ini.
"Nanami,
kamu tidak apa-apa?"
"Iya,
tidak apa-apa, kok. Guncangannya lumayan kencang, ya... Aku sampai kaget."
Keluarga
yang berada di sekitar kami pun menunjukkan berbagai reaksi terhadap guncangan
kapal tersebut. Anak-anak kecil bahkan tampak bersemangat sambil berseru sekali
lagi, sekali lagi.
Luar
biasa, kapal yang menerobos maju ini berhasil membelah es terapung (ryouhyou).
Entah
bagaimana mekanismenya, tetapi kapal ini tampaknya tetap bisa melaju meskipun
menabrak kumpulan ryouhyou.
Tadinya
kukira tur melihat ryouhyou ini hanya sekadar mengamati ryouhyou
yang ada di kejauhan dari atas kapal... Siapa sangka bentuknya bakal selangsung
dan se-ekstrem ini.
"Ah..."
"Hmm?"
Kapal
terus menerobos maju, dan meskipun guncangan terjadi secara terus-menerus,
rasanya kami sudah mulai terbiasa dengannya. Seolah-olah ada polanya...
terangkat naik sekali, turun, lalu berguncang.
Kapal
melaju sembari meremukkan es dengan irama yang teratur. Mungkin begitulah
mekanisme yang membuatnya tetap bisa bergerak maju dalam kondisi seperti ini.
"Aah,
guncangannya...~"
Mengikuti
guncangan kecil di antaranya, Nanami bergumam dengan nada datar yang
dibuat-buat sembari menyandarkan tubuhnya padaku. Karena berada di atas kapal
jelas cukup berbahaya, aku pun ikut menopang tubuhnya, tetapi untuk ukuran
orang yang bersandar, bobot tubuh Nanami hampir tidak terasa... yang artinya,
yah, aku sudah paham, sih...
Dia
sengaja, ya...
Saat
aku memandangnya dengan mata picik, Nanami menjulurkan lidahnya sedikit dengan
jahil.
Rupanya
dia sengaja mencari-cari kesempatan agar bisa menempel padaku secara alami.
Orang-orang di sekitar kami sedang fokus menikmati ryouhyou, jadi sama
sekali tidak memedulikan kami.
Orang-orang
yang berada di dek seperti kami tampak condong ke depan atau sibuk mengambil
foto. Mulai dari rombongan keluarga hingga pasangan kekasih.
Mungkin
hanya kami berdua yang menikmati ryouhyou sambil menempel erat begini...
Tidak
juga, ternyata ada cukup banyak orang yang menyaksikan sambil saling merapat.
Mengingat suasana di atas kapal cukup dingin, menempel satu sama lain memang
terasa lebih hangat, sih.
Oleh
karena itu, tindakan yang kami lakukan ini bisa dibilang bukan hal yang aneh...
"Ehehe,
hangatnya."
"...Padahal
kita sudah pakai baju hangat dengan benar, ya."
"Aduh,
bukan itu maksudku."
Iya,
aku paham kok. Aku paham. Aku cuma ingin coba melontarkan sedikit kalimat jahil
saja. Jadi tolong jangan cubit-cubit pipiku begitu.
Ayo
lihat ryouhyou-nya lagi, ryouhyou.
"Ngomong-ngomong,
katanya di atas ryouhyou suka ada anjing laut yang menumpang, ya?"
"Anjing
laut... Aku belum pernah lihat yang liar secara langsung, sih. Tapi tunggu,
menumpang di atas ryouhyou? Apakah itu... mereka sedang terdampar?"
"Mana
mungkin, mereka kan makhluk hidup laut... Harusnya tidak masalah karena bisa
berenang, kan?"
Apakah
benar begitu? Tapi jika mereka terbawa dari laut yang jauh di atas ryouhyou
sampai ke sini, apakah mereka telah menempuh perjalanan yang luar biasa jauh?
Pada
saat itulah, orang-orang di sekitar kami mendadak melontarkan sorakan gembira
yang riuh. Ada apa ya, apakah ada sesuatu yang langka?
"Aah,
lihat tuh. Apakah itu? Anjing laut... Uwah, lucu sekali..."
Saat
Nanami menunjuk ke arah pusat pandangan semua orang, di sana terdapat seekor
anjing laut dengan corak mirip wijen, serta seekor gumpalan putih kecil berbulu
halus. Yang berwarna putih itu anak anjing laut, ya...
Sekilas
karena warnanya putih, orang mungkin menirunya sebagai gumpalan es... tetapi,
aah... ternyata bergerak, ya.
Setiap
kali ia bergerak lambat-lambat, sorak-sorai penonton pun membahana.
Di
sekitar bagian tengah gumpalan bulu yang putih bersih itu, terlihat sekitar
tiga titik hitam... mungkin mata dan hidungnya? Entah mengapa wujudnya malah
terlihat seperti makhluk hidup yang ajaib.
Makhluk
bernoda bulu putih halus itu tampak sama sekali tidak memedulikan kami... atau
mungkin karena posisi kapal yang jauh sehingga ia merasa aman, perilakunya
tampak sangat santai dengan ritmenya sendiri.
Berbeda
dengan hewan di kebun binatang, ia tidak menatap ke arah kami maupun mendekat.
Ini benar-benar terasa seperti hewan liar.
"Karena
menumpang di bongkahan yang besar, apakah anak ini datang dari jauh? Atau
memang anak penghuni daerah sini?"
"Aah,
begitu ya. Memang benar di daerah sekitar sini juga terdapat habitat anjing
laut, kan? Kalau begitu berarti dia bukan datang dari perjalanan jauh,
ya."
Melihat
dua ekor anjing laut yang bergerak itu, entah mengapa aku merasa lega.
Tampaknya mereka sangat rukun, dan karena yang satu berukuran kecil, apakah
mereka pasangan induk dan anak?
Di
atas ryouhyou, mereka berguling-guling dan bergerak berpindah tempat.
Benar-benar gumpalan bulu yang bergerak.
"Yah,
kalau berdua kan tidak bakal merasa kesepian."
Kalau
datang sendirian dari tempat yang jauh rasanya akan terlihat agak menyedihkan,
tetapi kalau terlihat rukun berdua seperti itu... ya, lega rasanya.
Kudengar
hewan itu mudah merasa kesepian, dan aku yakin anjing laut pun memiliki
perasaan semacam itu. Makanya mereka berdua saling merapat. Atau mungkin juga
ini bentuk pengasuhan anak, mengingat adanya perbedaan ukuran tubuh yang
signifikan.
"Tenang
saja, kalau pergi ke suatu tempat aku juga akan selalu bersamamu, kok."
Mendengar
kalimat yang mendadak dilontarkan oleh Nanami itu, aku mengedipkan mataku.
Karena berpikir sendirian itu tampak menyedihkan, sosok itu sempat sedikit
teringat pada diriku sendiri...
Padahal
aku tidak memperlihatkannya ke luar, tetapi rupanya hal itu sudah tertebak oleh
Nanami.
"...Kok
bisa tahu?"
"Karena
raut wajahmu kelihatan begitu."
Mendengar
ucapan Nanami yang tertawa nishishi, aku sedikit memanyunkan bibir. Aku
tidak menyangka Nanami bisa memahami perasaanku sejauh itu.
Saat
menyadarinya, anjing laut yang kami lihat tadi sudah menghilang dari
pemandangan. Mungkinkah mereka sudah menyelam ke dalam laut?
Merespons
rasa sepi yang mendadak menyusup karena mereka sudah pergi, aku mengencangkan
pegangan tanganku di atas pagar pembatas, lalu Nanami pun menggenggam tanganku.
Sembari
membelah ryouhyou, kapal terus melaju maju. Tanpa disadari, sejauh mata
memandang kini dipenuhi oleh ryouhyou, tempat itu benar-benar terlihat
bagaikan daratan yang serba putih. Bagian lautan yang terlihat mungkin jauh
lebih sedikit.
Benar-benar
sejauh mata memandang... hingga ke seberang garis cakrawala tertutup oleh ryouhyou.
Di kejauhan tampak kapal lain yang sedang melaju perlahan di tengah-tengah ryouhyou.
Melihat
kapal lain itu, aku jadi menyadari bahwa jalur yang kami lalui ini hanyalah
sebagian kecil dari keseluruhan area. Ini terlihat seperti jalanan yang
membentang tanpa batas. Rasanya sulit dipercayai bahwa kumpulan es ini datang
dari lautan yang jauh.
Seandainya
ada bangunan berdiri di atasnya pun rasanya orang tidak akan heran. Kudengar
jika membayar uang, kita bisa berjalan di atas ryouhyou ini, tetapi
harganya lumayan mahal. Katanya dibutuhkan persiapan khusus untuk itu. Setelan
baju selam untuk mengantisipasi skenario terburuk jika sampai jatuh, kalau
tidak salah... Dengan kata lain, tanpa persiapan semacam itu, berjalan di atas ryouhyou
adalah hal yang terlalu menakutkan untuk dilakukan.
Tampaknya
ada juga orang yang sembarangan berjalan di atasnya, tetapi jika sampai terjadi
kecelakaan, akibatnya tidak akan sanggup dibayangkan. Keselamatan adalah yang
utama. Itu namanya terlalu nekat mempertaruhkan nyawa.
Saat
berlibur, tidak ada gunanya sengaja memicu masalah. Ada pepatah yang mengatakan
bahwa cela selama perjalanan bisa dibuang begitu saja, tetapi sebenarnya cela
yang tidak perlu dibuat sejak awal memang lebih baik dihindari.
...Meski
begitu, aku tetap punya sedikit rasa penasaran untuk mencoba berjalan di
atasnya, sih. Malah dari atas kapal begini timbul ilusi seolah-olah kita bisa
turun dan berjalan secara normal.
Bukan
karena nekat mempertaruhkan nyawa, melainkan mungkin karena rasa percaya diri
berlebihan bahwa diri sendiri akan baik-baik saja yang membuat orang
nekat berjalan di atasnya.
Melihat
anjing laut dan burung-burung yang bertengger di atasnya makin membuat orang
berpikiran begitu.
Kalau
aku sih... pikirku... tapi aku jelas tidak akan
pernah melakukannya.
"Lain
kali kalau datang lagi, aku ingin mencoba berjalan di atas ryouhyou, ya.
Apakah kita bisa berinteraksi dengan anjing laut juga, ya?"
"Bukankah
biasanya cuma bisa melihat dari jauh? Tapi kalau datang lagi nanti, aku ingin
mencobanya. Kapan ya kita bisa datang lagi? Padahal kita baru saja membahas
perjalanan yang ini..."
"Mungkin
saat liburan kelulusan, atau setelah ujian masuk perguruan tinggi
selesai...?"
"Saat
itu setelah dapat SIM... aku ingin datang naik mobil."
Melakukan
perjalanan berkendara jarak jauh bersama Nanami sepertinya akan sangat
menyenangkan. Saat itu tiba, kami bisa mengelilingi tempat-tempat penuh
kenangan hari ini, atau pergi ke tempat liburan yang sebelumnya pernah kami
kunjungi.
Karena
jaraknya tidak memungkinkan untuk dikelilingi dalam 1 hari, mungkin kami hanya
bisa memilih salah satunya, sih... Namun setidaknya, jangkauan pergerakan kami
akan makin luas dan tingkat kebebasan hal yang bisa dilakukan pun akan semakin
tinggi.
Tentu
saja saat itu...
"Menginap...
boleh kan?"
Seolah
mendahului pemikiranku, Nanami bergumam pelan... dengan suara yang hanya bisa
didengar olehku seorang. Gumaman itu pun dengan cepat tersapu oleh suara riuh
kapal.
Hanya
suara benturan yang menghancurkan ryouhyou serta suara kapal yang
membelah air dan es yang menggema di sekitar. Tangan Nanami yang tadinya
menumpuk di atas tanganku kini telah terlepas, menyisakan tanganku sendiri yang
bertahan di atas pagar pembatas.
Menerima
tatapan mata yang seolah sedang menantikan sesuatu itu, aku pun...
"Iya,
mari kita pergi menginap."
Tepat
saat aku mengucapkannya, Nanami melingkarkan lengannya ke lenganku lalu
memelukku erat. Tanpa kuterka, tanganku sudah terlepas dari pagar pembatas.
Saat
berpaling ke belakang, di jalur yang telah dilalui kapal seluruh ryouhyou-nya
telah lenyap, memperlihatkan permukaan laut yang terbuka dan menyisakan jejak
yang menandakan bahwa kami baru saja melintas di sana.
Ternyata
jejak jalur yang dilalui bisa tersisa dengan begitu indahnya, ya... Ini
terlihat seperti sebuah jalan, sekaligus seperti garis yang digoreskan di atas
lautan.
"Rasanya
ini seperti kisah tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan, ya."
"Maksudnya?"
"Dulu
aku pernah mendengar cerita yang mirip. Jejak kapal ini adalah masa lalu, kita
yang berada di atas kapal adalah masa kini, dan ujung dari ryouhyou di
depan sana... mungkin adalah masa depan."
"Puitis
sekali perumpamaanmu."
Saat
aku bertanya apakah aneh?, Nanami menjawab bahwa dia menyukainya. Itu
cerita tentang apa, ya? Aku tidak terlalu ingat detailnya, tapi aku teringat
akan hal itu.
Ryouhyou
ini memang indah, namun ia adalah alam liar yang ganas dan tanpa ampun... dan
kapal ini terus bergerak maju dengan meremukkan ryouhyou tersebut. Kuharap
aku bisa melangkah menuju masa depan dengan cara seperti itu.
Apakah
aku sanggup melakukannya?
Aku
membicarakan hal itu dengan Nanami.
"Pasti
sanggup kok, kan ada aku juga di sisimu. Ya, entah mengapa aku merasa
begitu."
"Begitu,
ya. Itu... sangat membesarkan hati."
Meski
tidak ada alasan yang pasti, entah mengapa jika bersama Nanami rasanya aku bisa
melakukan apa saja, sungguh ajaib.
Seolah
timbul ilusi bahwa diriku menjadi tak terkalahkan. Kapal yang kami tumpangi
terus menerobos melaju sembari meremukkan ryouhyou.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Jalan-jalan
menikmati wisata bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mengunjungi banyak
tempat sekaligus dalam sehari. Bagi kami yang berstatus sebagai pelajar, bisa
mendatangi satu tempat saja sudah terhitung bagus. Jika aku bisa mengendarai
mobil mungkin kami bisa pergi ke lebih banyak tempat, tetapi menuntut hal yang
tidak dimiliki pun tidak ada gunanya.
Pada
dasarnya, bahkan saat ini pun jika menyusun jadwal dengan sangat mendalam,
memperhitungkan waktu perjalanan, dan membuat perencanaan dengan matang... mungkin
kami bisa mengunjungi banyak tempat sekaligus.
Begitulah
pikirku.
Namun,
jika begitu jadwalnya akan terlalu padat dan rasanya tidak akan terlalu
menyenangkan. Lagipula ini adalah perencanaan amatir, jadi tentu tidak akan
bisa berjalan seperti tur profesional yang sesungguhnya. Oleh karena itu, aku
yakin bahwa jalan-jalan wisata itu justru membutuhkan waktu luang, tidak
terlalu padat, dan porsi yang agak terkesan santai justru merupakan porsi yang
paling pas. Jika sampai kelelahan setengah mati, waktu setelahnya malah akan
terasa menyiksa.
Meskipun
demikian, hari ini kurasa kami sudah bisa menyaksikan berbagai hal. Melihat
hal-hal yang tidak bisa dilihat sehari-hari, serta merasakan pengalaman yang
tidak bisa dilakukan sehari-hari.
Itu
juga merupakan kenikmatan utama dari jalan-jalan wisata, dan bagi kami yang
berstatus sebagai pelajar, ini mungkin sudah menjadi semacam perjalanan karya
wisata... tersendiri.
Setelah
mendapatkan wawasan baru tersebut, hal yang sedang kami lakukan saat ini
adalah...
"Malam
ini, kita mau makan apa, ya...?"
"Enaknya
makan apa, ya... Ah, bagaimana kalau sebentar lagi kita pergi ke pemandian air
panas...?"
"Pemandian
umum besar (daiyokujo)...? Boleh juga, ya, pemandian umum besar. Kita
bisa meluruskan kaki dan tempatnya luas."
"Iya...
kalau rotenburo yang ada di kamar rasanya... butuh keberanian
besar..."
Kami
sedang berada di tengah-tengah momen bermalas-malasan di dalam kamar hotel. Apalagi,
bukannya berbaring di atas tempat tidur atau semacamnya, kami malah terlentang
dalam posisi membentuk huruf 'X' di atas tatami.
Benar-benar
pemandangan yang sangat tidak rapi. Apalagi Nanami yang mengenakan rok kini
tidur terlentang sehingga roknya tersingkap dan celana dalamnya hampir
kelihatan. Sebuah situasi ganjil yang membuat penasaran, karena terlihat
seperti akan tampak namun tak kunjung terlihat jelas.
Tunggu,
kenapa aku merasa penasaran begini, apakah aku ingin melihatnya? Ingin melihat
sih, tapi entah mengapa dalam situasi seperti ini, kalaupun kelihatan rasanya
tidak akan membuatku merasa senang.
Aku
sendiri juga sedang menikmati momen berbaring di atas tatami yang tidak bisa
kulakukan sehari-hari.
Karena
biasanya lantaiku berupa kayu atau karpet, teksturnya terasa berbeda dan
menyegarkan. Berbaring di atas tatami rasanya enak sekali, ya... Aku jadi ingin
punya kamar bertatami.
Atau
lebih tepatnya, berbaring santai seperti ini saja sudah lama tidak kulakukan.
Merentangkan tangan dan kaki, murni berbaring begitu saja.
Meski
begitu bukan berarti aku mengantuk, kesadaranku tetap terasa sangat jernih. Lalu
baik aku maupun Nanami, kami berdua sama-sama tidak sedang mengoperasikan
ponsel, melainkan hanya mengobrol sedikit demi sedikit tanpa melakukan apa pun.
Meskipun
terasa santai seperti biasa, namun rasanya berbeda dari biasanya... Ini adalah
hal yang bisa dilakukan justru karena kamarnya luas. Mungkin momen paling mewah
dari sebuah perjalanan liburan bukanlah saat sedang jalan-jalan ke objek
wisata, melainkan saat bermalas-malasan di dalam kamar seperti ini.
Nanami
mengubah posisi tubuhnya, membalikkan badan hingga terdengar bunyi gerakan
berguling. Posisi yang tadinya terlentang kini berubah menjadi telungkup...
Saat kulirik dari samping, bagian dada Nanami yang berukuran besar tampak
tertekan ke tatami.
...Pemandangan
yang benar-benar luar biasa.
"Rokmu...
tersingkap sampai kelihatan, lho..."
"Hari
ini aku pakai yang lucu, jadi tidak apa-apa..."
Percakapan
kami bahkan sudah berjalan secara refleks tanpa beban. Aku tidak mengerti apa
yang dimasud "tidak apa-apa", tetapi aku tetap merespons
"begitu, ya...".
Di
tengah percakapan yang terputus-putus itu, sesekali ada jeda hening tanpa
obrolan yang mengalir... namun anehnya sama sekali tidak terasa canggung.
"Lagipula...
yang dilihat Youshin kan sebelah sini... belahan..."
...Kutarik
ucapanku, ternyata agak canggung juga.
Atau
lebih tepatnya, ternyata ketahuan. Tidak, maksudku... karena pemandangan dari
kerah bajunya kelihatan sangat jelas...
Tempat
yang ditunjuknya tepat berada di bagian kerah baju... bagian terbuka yang
menyerupai jendela. Aku tidak tahu apakah boleh disebut jendela atau bukan,
sih.
"Apakah
ini juga bisa disebut 'jendela masyarakat'...?"
"Sepertinya
bukan..."
Atau
lebih tepatnya, kamu tahu istilah kuno sekali, ya. Aku tahu istilah itu karena
Ayah pernah mengucapkannya dulu. Lagipula, bukankah itu istilah yang digunakan
untuk laki-laki?
Jendela
untuk versi perempuan itu... tidak, sebaiknya jangan dibahas lebih jauh.
Nanami
secara lihai menggerakkan lehernya untuk melihat ke arah dadanya sendiri, lalu
mengarahkan pandangannya padaku sambil tetap memperagakan pose menunjuk dan
memiringkan lehernya dengan menggemaskan.
"Melihat
dada yang tertekan begini, bukankah tidak ada menariknya...?"
"Bukan
masalah menarik atau tidaknya. Tidak, ini bukan soal menarik atau tidak... tapi
secara naluri aku refleks melihatnya..."
"Tadi
mau ngomong apa...? Lagipula maksudnya naluri Youshin, begitu...? Kyaa, aku
bakal diserang sama pacarku yang mesum..."
"Tidak
bakal menyerang, tidak bakal... Nanami sendiri juga sesekali suka sengaja
memperlihatkannya, kan? Kamu malah yang lebih mesum dari aku."
"Sangat
tidak sopan sebut pacar sendiri mesum. Tapi beneran deh, Youshin itu suka sekali
sama dada, ya... dasar 'alien penyuka dada'..."
"Kenapa
sebutannya bukan 'laki-laki' tapi langsung merujuk ke aku... Tidak kok... itu
karena punya Nanami..."
"Begitu,
ya... karena punya aku, ya... Kalau begitu, apakah kamu suka bokongku
juga...?"
"Suka..."
Duh,
percakapan macam apa ini. Walaupun menyenangkan, sungguh menyenangkan, tapi
dengarnya saja kelihatan bodoh sekali. Lebih tepatnya, ini adalah percakapan
yang benar-benar dungu.
Bukan
lagi sekadar pasangan kasmaran yang bodoh (bakacouple), melainkan
percakapan antara dua orang yang pikirannya sudah benar-benar menjadi bodoh. Rasanya
mental dan segalanya sudah benar-benar lunglai, dan obrolan bodoh dan konyol
ini sepertinya bisa berlanjut selamanya. Tapi ini menyenangkan.
Apakah
Nanami juga menyadarinya, dia sampai tertawa hingga bahunya berguncang. Jika
terus melanjutkan percakapan ini, kami berdua seolah-olah bisa meleleh. Apakah
kami bakal bisa kembali seperti semula?
Seakan
menganggap situasi ini mulai berbahaya, Nanami berseru agak keras sekali, lalu
sambil tetap bertelungkup, ia menumpukan kedua tangannya ke lantai dan
meluruskan badannya.
Pakaian
yang meluncur turun menuruti gravitasi, serta dua objek raksasa yang tampak
dari celahnya yang juga menyerah pada gravitasi.
Rasanya
memang tidak sopan kalau terlalu diperhatikan... tapi bagaimanapun juga
pandanganku refleks mengarah ke sana.
Setelah
mengambil posisi menyerupai push-up, Nanami langsung bertumpu pada daya
dorong tubuhnya untuk bangkit berdiri. Luar biasa, apakah dia baru saja berdiri
hanya dengan mengandalkan daya pegas tubuh bagian atasnya?
Aku
sampai refleks mengucek mata, mengira gerakan tadi adalah ilusi penglihatan.
Bagi diriku yang masih terbaring terlentang, Nanami yang baru saja bangkit
berdiri terlihat bagaikan sesosok raksasa. Dengan langkah yang agak tidak
stabil bagaikan raksasa, Nanami melangkah mendekat ke arahku... lalu melangkahi
area pinggangku dengan kakinya.
Posisi
ini secara alami memaksaku untuk mendongak menatap Nanami, namun wajah Nanami
agak sedikit terhalang bayangan sehingga ekspresinya tidak bisa kutangkap
dengan jelas.
Atau
lebih tepatnya, wajahnya tertutup oleh dadanya.
Aku
pernah mendengar bahwa orang berukuran dada besar tidak bisa melihat ujung
jarinya sendiri, tetapi siapa sangka aku bakal mengalami pengalaman simulasi
hal tersebut secara langsung...
Efek
visualnya benar-benar terlalu fantastis.
Apakah
sudut pandang dari bawah seperti ini justru merupakan sudut pandang yang paling
luar biasa...?
Bagi
diriku sendiri, aku sebenarnya masih ingin terus berguling-guling santai
seperti ini, tetapi aku sempat mengira Nanami bangkit berdiri karena sadar hal
itu tidak bisa terus dilakukan. Namun karena dia melangkahi tubuhku, sepertinya
bukan itu alasannya. Lantas, apa yang bakal dia lakukan dari posisi ini...?
Tanpa
mengucapkan sepatah kata pun, Nanami memegang ujung roknya... lalu menurunkan
pinggulnya secara perlahan tepat di atas area pinggangku.
Cara
kakinya menekuk menyerupai gerakan squat dan menurunkan tubuhnya
perlahan-lahan itu... entah mengapa terlihat sangat sensual.
Eh?
Apakah ini disengaja?
Dengan
gerakan yang sangat lambat, dia tidak langsung mendudukiku seketika. Yah, kalau
mendadak dijatuhkan begitu saja pinggangku bisa terkilir... dan aku pun bakal
terkena dampaknya.
Sambil
meneguk ludah memperhatikannya, bagian bawah tubuh Nanami perlahan menyentuh
area sekitar pinggangku. Timbul rasa hangat, sedikit beban, serta... Kelembutan...
Anu,
karena terhalang kain rok di bagian bawah, bukan berarti pakaian dalamnya
bersentuhan langsung, tetapi bagian bokongnya benar-benar menempel padaku.
Sebuah
beban yang terasa lembut, hangat, dan sangat nyaman. Karena posisiku sedang
terlentang, rasa itu makin terasa jelas di area pinggang dan perutku.
Tidak,
lebih dari itu... posisi visual kami saat ini benar-benar sangat berbahaya.
"Apakah
ini pertama kalinya aku naik di posisi seperti ini?"
"...Masa
sih?"
Rasanya
pernah ada momen seperti ini, atau mungkin tidak... tapi kalau menggendongnya
di punggung jelas pernah.
"Muu...
padahal aku ingin mengingat segala hal tentang Youshin, tapi aku kesal pada
diriku sendiri yang ingatannya agak samar."
"Aku
juga berpikiran begitu, tapi ya jelas tidak mungkin bisa ingat semuanya,
kan..."
Aku
pun ingin mengingat semua hal yang pernah kulakukan bersama Nanami, tetapi
secara realistis tentu ada hal-hal yang terlupakan.
Kalau
momen pertama kali melakukannya bersama atau kejadian-kejadian besar, hampir
semuanya bisa kuingat. Namun untuk detail-detail kecil, wajar saja kalau kami
berdua sama-sama terlupa. Mungkin karena itulah kejadian-kejadian kecil selalu
terasa menyegarkan setiap kali diulang?
"Ingatan
manusia itu kalau tidak memberikan dampak yang kuat memang bakal terlupakan,
ya... Bahkan untuk ukuran aku menduduki pinggangmu begini saja Youshin sudah
menganggapnya hal yang biasa, ya..."
"Bukankah
caramu menyampaikan hal itu sangat memicu kesalahpahaman...?"
Sambil
tertawa, Nanami meletakkan kedua tangannya di area perutku. Saat meletakkannya,
dia sengaja menjepit dadanya dengan kedua lengan untuk makin memperjelas
bentuknya. Padahal dia mengenakan pakaian yang rapi dan sama sekali tidak dalam
kondisi berantakan, tetapi kenapa bisa terlihat seseksi ini?
Yah,
jawabannya tentu tidak perlu dipertanyakan lagi, sih.
"Hmm,
apakah dampak dari dada saja sudah tidak cukup untuk membekas di ingatan Youshin...?"
"Tidak
kok, dampaknya sangat luar biasa. Tapi kamu hari ini agresif sekali, ya?"
Tentu
saja kami tidak bisa melakukan hal semacam itu di sini, jadi tolong kasihanilah
aku.
Bukan
berarti kalau pindah tempat jadi boleh juga, sih. Lagipula, masalah aku sudah
terbiasa atau belum... bukankah Nanami sendiri juga sudah makin tidak memiliki
rasa sungkan untuk hal-hal semacam itu...?
Apakah
ini karena sudah terbiasa, ataukah karena pengaruh buruk dari seseorang...
"Padahal
aku sudah diajari pose menggemaskan yang ampuh buat laki-laki sama
Kotoha-chan..."
Nah
kan, sudah kuduga. Apakah ini ulah ketua murid yang berpura-pura polos (muttsuri)
itu lagi? Tidak, belakangan dia bukan lagi berpura-pura polos melainkan sudah
makin terang-terangan.
Pose
menggemaskan seperti apa yang dia ajarkan? Aku jadi penasaran sekali.
"Aduh,
tolong jangan dengarkan lagi perkataan ketua murid yang berpura-pura polos
itu..."
"Ah,
tapi Kotoha-chan bilang lho. Karena dia sudah punya pacar, mulai sekarang dia
bakal... tampil terbuka... gitu... anu... tahu kan?"
"Tampil
terbuka... apa?"
Suara
Nanami mendadak mengecil, sehingga kata-kata setelah kata "terbuka"
tidak terdengar olehku.
Apa
yang dia katakan... tampil terbuka...? Tampil terbuka seperti apa? Ah, apakah
maksudnya memublikasikan fakta bahwa dia sudah punya pacar? Tapi bukankah hal
itu sudah diketahui oleh hampir semua orang, jadi kenapa baru sekarang?
Saat
aku refleks memiringkan kepala kebingungan, Nanami memalingkan wajahnya dan
mengarahkan pandangannya padaku.
Apakah
ini hanya perasaanku saja, atau pipinya memang tampak merona merah...?
Tidak,
bukan cuma pipinya saja. Telinganya juga memerah. Padahal tidak ada pemicu yang
seharusnya membuat wajahnya sampai merah begitu...
"Tampil
terbuka... mes..."
"Hmm?
Tampil terbuka... mes?"
Kemungkinan
besar, di sinilah letak titik persimpangannya.
Harusnya
di sini aku tidak perlu bertanya balik secara tidak peka, melainkan
mengabaikannya saja.
Harusnya
aku mempertimbangkan fakta bahwa orang yang memberitahunya adalah ketua
murid... Shirishizu Kotoha yang sudah berubah menjadi gyaru.
"Tampil
terbuka... dan mesum... Kotoha-chan bilang begitu..."
...Me?
Hah?
Mungkin
saat ini di latar belakang gambarku sedang ditampilkan pemandangan luar
angkasa. Padahal aku sedang berbaring di atas tatami, tetapi aku bisa merasakan
keberadaan alam semesta di belakangan tubuhku.
Sembari
mengeja kata alam semesta, aku merenungkan luasnya angkasa. Penyesalan atas
kecerobohanku sendiri kini sudah terlambat untuk diulang.
Aku...
telah membuat Nanami mengucapkan kata "mesum". Ini benar-benar sebuah
kecerobohan besar.
Tidak,
menurutku kata "mesum" itu sendiri tidak salah. Bagi sebagian orang,
itu mungkin kata biasa yang tidak berarti apa-apa. Namun yang terpenting adalah
kenyataan bahwa Nanami tidak terbiasa mengucapkannya dan merasa sangat malu.
"...M-maaf."
"Jangan
minta maaf!! Aku malah makin malu...!!"
Dengan
pikiran yang masih linglung, aku minta maaf secara refleks.
Aku
tahu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak jelas alasannya itu tidak ada
gunanya, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak minta maaf.
Kudengar
di Jepang ucapan maaf dan terima kasih terkadang saling berbaur, apakah ini
sisa-sisa dari kebiasaan itu?
Tapi
kalau mengucapkan terima kasih di sini, jelas salah besar. Bisa terdengar
seperti memiliki arti yang berbeda. Makanya aku meminta maaf.
Sambil
tetap berada di atas tubuhku dengan wajah merah padam, Nanami menutupi kedua
pipinya dengan tangan lalu bergeliat malu.
...Pacarku
ini terlalu menggemaskan, kan? Karena terlalu menggemaskan, tanpa sadar aku
menyentuh kakinya yang berada di atas tubuhku.
Itu
murni refleks. Karena roknya sedikit tersingkap dan memperlihatkan paha
mulusnya. Karena itulah, tanpa sadar aku menyentuhnya. Kaki yang terentang dari
balik rok itu tampak begitu anggun, memancarkan kilau yang mengingatkan pada
karya seni porselen.
Apakah
itu hanya perasaanku saja, atau karena dia sedikit berkeringat?
Sempat
terlintas di pikiranku apakah permukaannya akan terasa dingin saat disentuh,
tetapi ternyata teksturnya sangat lembut, hangat, dan halus. Sentuhannya begitu
mulus seperti kaca tanpa cela sedikit pun, namun di saat yang sama menyampaikan
rasa bahwa ini adalah tubuh seorang manusia. Atau mungkin perasaan itu juga
merupakan ilusi dari pandangan mataku?
Lalu,
tangan yang tadinya menyentuh area betis secara alami bergerak naik, dan saat
menyentuh pahanya yang terekspos tanpa perlindungan—
"Uhyak...?!"
Di
situlah Nanami baru memberikan reaksi.
Pikiranku
yang tadinya linglung pun akhirnya terbangun sepenuhnya. Kedua tanganku kaku
membeku saat menyentuh paha Nanami.
Apa
yang sedang kulakukan, sih?
Rasanya
seolah-olah ada pusaran angin yang berputar-putar di dalam mata kami berdua
karena sama-sama bingung.
Dengan
perasaan seakan pandangan kami berputar, kami saling menatap satu sama lain...
Tanpa
mengucapkan sepatah kata pun, aku melepaskan tanganku secara perlahan dari paha
Nanami.
Kali
ini, aku tidak meminta maaf.
Keheningan
yang canggung mengalir di antara kami berdua, membuat suasana seketika terasa
agak tegang.
Sosok
yang memecah keheningan itu adalah Nanami.
"...Youshin...
anu... kamu juga suka... paha?"
Ah,
rasanya seperti déjà vu. Déjà vu? Deja vu? Yang mana saja
bolehlah.
Pada
awal-awal kami bertemu dulu, dia bertanya apakah aku suka dada, selang beberapa
lama kemudian dia bertanya apakah aku suka bokong, dan hari ini, dia bertanya
apakah aku suka paha.
...Lagipula,
pertanyaannya tadi juga ditanyakan lagi seperti mengulang masa-masa itu. Dengan
bertambahnya poin baru ini, sebenarnya apa yang sedang kukumpulkan hingga
lengkap begini?
"...Tidak,
anu... kalau paha..."
"Kamu...
tidak suka...?"
"Suka."
Tidak
bisa, sampai salah bicara pun aku tidak mungkin bilang tidak suka. Lagipula aku
memang tidak benci dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Paha Nanami sangat
halus, jadi aku cuma bisa bilang suka. Fakta bahwa aku tidak bilang
"sangat suka" adalah bentuk perlawanan rapuh terakhirku.
"Kalau
begitu..."
Nanami
mengambil tanganku yang melayang di udara setelah terlepas dari pahanya dengan
lembut.
Bagaikan
memegang sesuatu yang mudah pecah, jari-jemarinya menyusuri dan saling
bertautan dengan jari-jariku secara hati-hati. Tanganku yang digenggam secara
lembut namun kuat itu berpindah mengikuti arahan Nanami.
Bukannya
aku tidak berniat melawan, tapi perlawanan pun hanya akan sia-sia.
"B-boleh
kok kalau mau menyentuhnya sebentar lagi."
Dia
lalu meletakkan kedua tanganku tepat di atas pahanya sendiri. Kedua telapak
tanganku menempel erat seolah tersedot ke paha Nanami.
Berbeda
dengan saat aku menyentuhnya tadi, kali ini adalah sentuhan atas keinginan
dirinya sendiri. Fakta tersebut membuat pikiranku berhenti berproses sejenak.
Dengan
mata terbelalak, aku menatap tajam ke area sentuhan tersebut.
Sekarang,
apakah tanganku berpotensi berkeringat dan terasa mengganggu, apakah terasa
menggelikan, ataukah terasa basah?
Kata-kata
semacam itu terus berputar-putar di kepalaku.
"...A-apa
yang sedang kamu lakukan?"
Tidak,
yang sedang menyentuh paha Nanami kan sebenarnya diriku sendiri.
Apa-apaan
ini, maksudnya bagaimana?
Tanganku
yang menempel di pahanya tidak bergerak sedikit pun. Atau lebih tepatnya tidak
bisa digerakkan.
Kalau
aku menggerakkan jari di sini, itu artinya aku bakal meremasnya. Kalau kugeser,
itu artinya aku bakal mengelusnya. Dalam berbagai arti, apakah ini aman? Ini...
tidak aman, kan?
"Ehehe,
kalau dada aku malu kalau disuruh menyuruhmu menyentuhnya... tapi kalau di sini
rasanya masih bisa diusahakan."
Sambil
berada di atas tubuhku, dia menjulurkan lidahnya sedikit dengan jahil,
memperlihatkan ekspresi polos bagaikan anak kecil yang baru saja berbuat jahil
padaku.
Padahal
hal yang dilakukannya sangat jauh dari kata polos, tetapi saat melihat
wajahnya, rasanya seolah-olah tidak ada niat buruk apa pun di dalam pikiran
Nanami...
Tidak,
rasanya terlalu dipaksakan. Wajah Nanami sendiri sudah merah padam begitu.
Menggemaskan
sekali. Aah, dia malah menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Itu pun terlihat
sangat menggemaskan.
Apa-apaan
ini, apakah ini benar-benar pacarku? Iya, memang pacarku, sih. Tapi bukankah
dia terlalu menggemaskan?
Ya,
melihatnya yang tersipu malu membuat diriku menjadi agak lebih tenang. Selain
itu, hatiku terasa hangat. Meskipun pemandangan situasi kami saat ini sangat
jauh dari kata hangat, sih.
Namun,
berada dalam posisi seperti ini sambil saling berdiam diri selama beberapa saat
rasanya sungguh absurd.
Namun
hal itu pun segera berakhir. Nanami yang tadinya menutupi wajahnya kini
memperlihatkan raut wajah yang seakan telah mantap mengambil keputusan.
"C-Cuma
disentuh begitu saja tidak apa-apa?"
Dengan
perlahan, Nanami menumpukkan tangannya di atas tanganku. Lalu, dia memberi
tekanan pada tangan yang ditumpukkannya itu. Jari-jemariku dan tanganku berubah
bentuk mengikuti arah tekanan tersebut.
Bukan
berarti jariku dikendalikan sepenuhnya, sih, melainkan jariku ditekan dari atas
oleh jarinya.
...K-Kami
dipaksa meremasnya... begitu?!
Entah
mengapa hal ini rasanya jauh lebih memalu kan daripada sekadar menyentuh secara
biasa. Mungkin Nanami juga merasakan hal yang sama.
Gerakan
jarinya terasa sangat kaku. Ekspresi wajahnya itu jelas-jelas ekspresi yang
menunjukkan bahwa hal ini jauh lebih memalukan dari dugaannya.
"Kalau
dipikir-pikir, katanya pada Abad Pertengahan dulu bagian kaki atau paha adalah
bagian yang paling erotis, ya..."
"Kenapa
malah membicarakan hal itu sekarang?!"
Gawat,
tanpa sadar aku malah melontarkan fakta unik dan pengetahuan tidak penting. Tangan
Nanami yang terlepas dari tanganku kini mengepal longgar dan menepuk-nepuk area
perutku dengan pelan poka-poka.
Jika
dilihat sekilas, posisinya tampak seperti serangan pound dari posisi mount,
tetapi karena sama sekali tidak bertenaga, rasanya tidak sakit sama sekali.
"Mouu!!
Mouu!!"
Sambil
melontarkan suara protes yang agak mirip sapi, Nanami terus menepuk-nepuk
pelan. Malah rasanya terbilang cukup nyaman. Tepukan pelan poka-poka
serta getaran di perut itu...
"Si-a-pa
yang kamu bilang sapi, hmm...?"
"Ah,
gawat..."
Ternyata
terucap dari mulutku.
Waduh
bakal dimarahi nih...?! pikirku, tetapi Nanami justru menyunggingkan senyuman
tidak terduga.
Rasa
malu sampai beberapa saat lalu sama sekali tidak tersisa sedikit pun. Peralihan
emosinya benar-benar sangat cepat.
"Kalau
bicara soal sapi... tentu identik dengan memerah susu, kan...?"
Memerah
susu...?
Eh?
Mungkinkah Nanami mau memerah miliknya sendiri...?!
Tanpa
sadar pandanganku tertuju ke area tersebut, namun demi menghempaskan imajinasi
liarku dari kata memerah susu... dia mengangkat kedua tangannya hingga setinggi
bahu.
Dengan
gerakan meliuk-liuk, jari-jemarinya bergerak-gerak seolah menjadi makhluk hidup
yang terpisah. Gerakannya mirip seperti gerakan kaki serangga... Walaupun
kedengarannya agak aneh untuk diungkapkan, tapi di mataku hal itu memang
terlihat demikian.
"Ini
juga diajari oleh Kotoha-chan, lho..."
"...Lagi-lagi
Shirishizu-san... mengajari hal yang tidak perlu...?"
Nanami
menatapku dari atas dengan ukiran senyuman yang sangat intens. Akibat daya
intimidasi yang begitu kuat itu, seluruh kulit di tubuhku terasa merinding.
Nanami
yang mengangkat kedua tangannya kini mengarahkan kedua tangan itu dengan
bertenaga ke arahku... Lebih tepatnya, menempelkannya dengan dorongan yang
kuat.
Posisinya
berada di... dadaku.
"...Eeeh?"
Merespons
suara kebingunganku mengenai alasan kenapa dia menyentuh area tersebut, Nanami
tertawa dengan raut gembira dan terkesan bahagia.
"Katanya
laki-laki juga... bakal merasa nyaman kalau dadanya diremas, lho...?"
"Apa?"
Tanpa
menunggu jawabanku, tangan Nanami yang menempel di dadaku mulai bergerak-gerak.
Menerima sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya, aku tidak tahu harus
berbuat apa dan hanya bisa pasrah pada tindakan Nanami.
Jujur
saja, aku tidak bisa menceritakan detail apa yang sebenarnya terjadi. Hanya
saja, aku menekankan satu hal bahwa kejadian tersebut tidak berlanjut sampai
akhir.
Walaupun
kutekankan begitu, sih...
Lalu
tidak lama setelah itu, fakta bahwa kami dimarahi oleh nakai-san yang
datang ke kamar untuk menanyakan perihal makan malam... adalah kisah lain di
lain waktu.
Aku
sudah tidak bisa jadi pengantin pria lagi.



Post a Comment