Chapter 1
Perubahan yang Tak Disadari
『Kalau begitu Youshin,
aku berangkat dulu ya. Nanti aku hubungi lagi.』
"Iya,
hati-hati di jalan ya."
『Aku belikan
oleh-oleh ya. Mau apa? Jenis kue-kuean?』
"Nanami
bisa pulang dengan selamat saja sudah jadi oleh-oleh terbaik bagiku."
『Kalau begitu, aku
belikan gantungan kunci bentuk naga yang disukai anak laki-laki saja, ya?』
"Dari
mana kamu dapat pengetahuan seperti itu?!"
Aku
sama sekali tidak menyangka kata "gantungan kunci naga" akan keluar
dari mulut Nanami.
Melihatku
yang refleks melontarkan sanggahan, Nanami tertawa gembira. Aku melambaikan
tangan membalas Nanami yang melambaikan tangannya di balik layar ponsel. Karena
Tomoko-san dan yang lainnya juga ada di sekitar sana, aku sudah menyapa mereka
secara singkat tadi.
Sejak
Natal... tidak, kemarin kan hari Natal. Saat itu kami juga bertemu, sih. Namun
karena lewat layar ponsel, rasanya seolah-olah kami sudah lama sekali tidak
bertemu.
『Kakak Ipar
(Onii-chan), tidak boleh selingkuh, ya. Onee-chan akan kuawasi, jadi tenang
saja.』
"Mana
mungkin aku selingkuh, dan Nanami juga tidak akan melakukan hal itu, Saya-chan..."
『Yah, benar juga, sih.
Ngomong-ngomong, yang memberi tahu Onee-chan tentang gantungan kunci naga itu
aku, jadi tenang saja ya.』
"Sumber
informasinya Saya-chan?!"
Antara
lega dan makin khawatir, sungguh sumber informasi yang tidak terduga.
...Jangan-jangan
Saya-chan punya pacar...? pikirku. Namun ternyata, Saya-chan juga mendengarnya
dari seorang teman.
Meski
terlihat layaknya anak perempuan pada umumnya, dia cukup tahu banyak soal hal
seperti itu... Mungki temannya itu sudah punya pacar. Sepertinya mereka juga
menghabiskan waktu Natal bersama.
『Sa~ya~... Kamu
ini... jangan bicara yang aneh-aneh ke Youshin...!!』
『Aduh, aduh,
Onee-chan! Jangan cengkeram kepalaku, dong. Nah, tidak apa-apa memperlihatkan
sisi kekerasanmu ke Kakak Ipar?』
『Kalau Youshin,
seperti apa pun wujudku, dia pasti akan menerimaku.』
『Kenapa Onee-chan malah
bicara seperti srikandi non-manusia begini?!』
Oho,
rasanya sudah lama aku tidak melihat mereka berdua bercanda seperti ini. Tapi,
apakah gerakan Nanami itu disebut iron claw... walau dilakukan dari
belakang?
Melihatnya
melakukan hal itu terasa menyegarkan.
Mungkin
ini yang dulu disebut sebagai srikandi tipe kekerasan, ya?
Yah,
aku tidak tahu apakah ini bisa disebut kekerasan atau bukan. Namun dalam arti
tertentu, ini juga akibat ulah Saya-chan sendiri...
Ah,
dia mengetik pesan. 「Aku
sama sekali tidak ragu, tapi dalam situasi seperti ini bukankah itu sudah jadi
hal yang lumrah?!」
tulisnya, tanpa menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
Nanami
mengerahkan tenaga lebih besar sambil menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin
selingkuh, sehingga situasinya menjadi makin kacau.
Selingkuh...
selingkuh, ya. Yah, kami pasti tidak akan melakukannya... masing-masing dari
kami... Apakah memikirkan hal itu termasuk keangkuhan atau rasa percaya diri
yang berlebihan?
Tindakan
mempercayai itu sangat bagus, namun bersikap buta hingga tidak rasional akan
dibenci... Menurutku, ini tergolong hal yang sulit untuk dinilai. Karena
itulah, kurasa tidak ada cara lain selain terus membicarakannya.
"Nanami,
setidaknya kasihanilah kepala Saya-chan yang bisa pecah, pelan-pelan
saja..."
Untuk
saat ini, mari kita mengkhawatirkan kepala Saya-chan terlebih dahulu.
Mengatakan hal ini mungkin terdengar sangat tidak sopan, namun wajar saja jika
secara fisik aku merasa khawatir.
『Eeh~? Habisnya, Saya
bicara hal yang aneh-aneh soal perselingkuhan...』
"Yah,
memang dia bicara hal yang aneh, sih... Tapi kita kan tidak akan saling
berselingkuh, jadi tidak apa-apa, kan?"
『Yah, memang
begitu, sih...』
"Tapi
ngomong-ngomong, sebenarnya apa alasan orang berselingkuh, ya...? Kalau kita
memikirkannya baik-baik, kekhawatiran kita mungkin akan berkurang
drastis."
『Memikirkan
tentang perselingkuhan...?』
Ada
pepatah yang mengatakan, "Kenalilah musuhmu dan kenalilah dirimu sendiri,
maka engkau dapat memenangkan 100 pertempuran tanpa bahaya”. Artinya, jika kita
tidak takut dan tidak menjauhi perihal perselingkuhan, melainkan memahaminya
secara langsung dari depan, maka kita tidak akan melakukannya.
Jika
hanya menegaskan secara kalap bahwa kita tidak akan melakukannya, hal itu
justru terasa seperti menutup-nutupi masalah... atau lebih tepatnya, sekadar
memalingkan pandangan.
Sama
halnya seperti makin kita menolak sesuatu dengan keras, terkadang justru makin
tertarik pada hal tersebut. Jadi, memikirkannya sedikit juga merupakan hal yang
penting.
Walau
terdengar kontradiktif, aku sendiri menegaskan bahwa aku tidak akan pernah
berselingkuh. Bahkan, orang yang kuperlakukan dengan sangat lembut dan istimewa
hanyalah Nanami.
Kembali
ke topik utama, meskipun dalam konteks nyata aku tidak memahami psikologi orang
yang berselingkuh, aku masih bisa membayangkannya sampai batas tertentu.
Imajinasi itu penting. Oleh karena itu, apa yang kupikirkan ini hanyalah
sebatas penyebab perselingkuhan yang ada dalam imajinasiku.
『Bukankah itu
karena tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal mesum?』
『SAYA?!』
『Aduuuuh!
Onee-chan, itu bahaya! Aku sampai mengeluarkan suara yang tidak boleh
dikeluarkan oleh seorang gadis!』
Tiba-tiba...
Saya-chan mengatakan hal yang sangat blak-blakan tanpa basa-basi. Dan Nanami
yang bereaksi terhadap hal itu tampaknya secara refleks mengerahkan tenaga yang
lebih kuat lagi. Dia terlihat sangat kesakitan.
Ah,
seperti yang diduga, Nanami meminta maaf dan melepaskan tangannya. Saya-chan
meraba bagian belakang kepalanya untuk memastikan apakah bagian belakang
kepalanya masih ada atau tidak.
Tenang
saja, masih ada, kok.
Namun,
di dunia nyata, apa yang dikatakan Saya-chan mungkin memang bisa dianggap
sebagai salah satu penyebabnya... yaitu tidak memenuhi perasaan pasangan...
dengan kata lain, tidak memuaskan hasratnya itu dilarang. Tetapi jika terlalu
dipuaskan pun tampaknya tidak baik, takarannya memang sulit... Namun, jika
menggunakan cara berpikir seperti itu, setidaknya untuk kali ini...
"Kalau
begitu, sepertinya akan baik-baik saja."
Ah,
kedua orang di balik layar ponsel itu mendadak terdiam kaku.
Jika
mengingat apa yang kami lakukan pada hari Natal, meskipun tidak ada kontak
secara langsung... entah mengapa, aku merasa hal itu akan baik-baik saja.
『Yah... benar
juga, sih.』
Nanami
yang tampaknya memikirkan hal yang sama, tersenyum kecil seolah merasa sedikit
lega. Sementara itu, pandangan mata Saya-chan bergerak bolak-balik di antara
kami berdua...
『Eh... kalian
berdua akhirnya sudah melakukannya?』
Sebenarnya
belum, lho. Namun seolah-olah memberi tahu bahwa apa yang terjadi adalah
rahasia, aku dan Nanami saling bertatap muka dan tertawa.
"Bukan,
tapi ini rahasia antara aku dan Nanami."
『Iya, benar... ini
rahasia, rahasia!』
Dari
arah Saya-chan terdengar suara cemberut yang berseru "Eeeh~", namun
sayangnya, mengenai hal yang satu ini kami benar-benar tidak berniat untuk
memberitahunya...
『Kalau begitu Youshin,
sampai jumpa lagi.』
"Iya.
Hati-hati di jalan... selamat bersenang-senang, ya."
Tanpa
disadari, percakapan kami menjadi sangat panjang.
Karena
mereka sudah harus mulai bergerak pindah, terlihat Saya-chan yang bergerak
terburu-buru. Perasaan sedih dan haru seperti setelah menonton episode terakhir
dari karya favorit, atau akhir dari film yang menyentuh hati, kini mengalir dan
menggenang di dalam dadaku. Rasanya berat untuk berpisah...
Saat
aku memikirkan hal itu dan belum sempat memutus sambungan telepon, seolah-olah
sudah memperhitungkan momen tersebut...
『Chuu! ♡』
Nanami
memberikan kecupan jauh, dan tepat pada saat itulah sambungan telepon terputus.
Aku
sangat terkejut hingga tidak sempat memberikan reaksi apa pun, dan seluruh
perasaanku yang tadi seketika terbang melayang. Bahkan ketika aku hendak
mengatakan sesuatu, sambungan telepon sudah terputus.
Karena
terlalu terkejut hingga tubuhku membeku, aku tidak bisa bergerak untuk
meneleponnya kembali. Lagipula, kalaupun aku meneleponnya kembali, mau bilang
apa? Apakah aku harus memprotesnya dengan berkata, "Tadi kamu memberikan
kecupan jauh, kan?" Hal seperti itu justru makin tidak masuk akal dan
sangat memalu-malukan. Lagipula Nanami sendiri kemungkinan besar langsung
mematikannya karena merasa malu.
...Uwah,
entah mengapa pipiku mulai terasa panas. Padahal udara luar masih cukup dingin,
tetapi tubuhku terasa hangat. Aku sampai keluar keringat dingin.
Padahal
kami sudah sering berciuman, bahkan sudah melakukan hal-hal yang bisa dikatakan
lebih dari sekadar ciuman, namun rasanya aneh jika baru sekarang aku merasa
malu hanya karena kecupan jauh. Jika dilihat oleh orang lain, aku pasti akan
diejek habis-habisan.
Ini
mungkin terjadi karena hal yang tidak biasa dilakukan cenderung terasa
memalu-malukan....Artinya, aku masih bisa merasakan perasaan yang segar dan
baru, kan?
Saat
aku menurunkan pandanganku, pada layar ponsel yang telah menghitam gulita,
terpantul wajahku sendiri. Wajah itu benar-benar menunjukkan ekspresi yang
sangat konyol...
"Haaah..."
Melihat
wajah seperti itu di layar, kenyataan bahwa Nanami telah pergi terasa begitu
menyengat.
Akhirnya,
Nanami benar-benar sudah berangkat, ya...
Dengan
begini, sudah dipastikan aku tidak bisa bertemu dengan Nanami untuk sementara
waktu... sekitar seminggu?
Menggunakan
perangkat kecil ini, aku memang bisa langsung melihat wajah Nanami kapan saja,
jadi bukan berarti kami sama sekali tidak bisa bertemu dalam arti yang ekstrem.
Meski
begitu, sungguh aneh bagaimana perasaan muram ini tidak bisa dihentikan.
Saat
aku bekerja paruh waktu di liburan musim panas lalu, kami memang sempat
berpisah, tetapi situasi kali ini berbeda cerita. Sungguh perasaan aneh yang
tak tertuliskan dengan kata-kata.
Aku
berguling di atas tempat tidur, bermalas-malasan sambil menatap layar ponselku
kembali. Di sana tertera waktu saat ini...
"Lagipula,
bukankah jam 4 pagi itu terlalu pagi...?"
Di
luar masih gelap gulita. Masih terlalu dini untuk disebut fajar... namun sudah
terlalu larut untuk disebut tengah malam. Aku memang sempat mendengar bahwa
mereka akan berangkat lebih awal karena ada kemungkinan jalanan macet, tapi...
Apakah
rasa dingin yang kurasakan ini karena suhu udara, ataukah karena masalah
perasaanku saja?
...Tidak,
ini memang beneran dingin. Mari pakai selimut sebentar.
Nah,
karena aku sudah mengantar keberangkatan Nanami, aku berpikir apakah sebaiknya
tidur lagi saja... tetapi sepertinya bangun terus begini juga tidak apa-apa. Atau
lebih tepatnya, mataku justru jadi segar bugar gara-gara kecupan jauh dari
Nanami tadi.
Untuk
saat ini... kalau tubuhku sudah agak hangat, aku akan keluar dari selimut.
Sambil
memikirkan hal itu, aku bergerak-gerak di dalam selimut seperti seekor ulat
bulu.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Pada
hari yang sama ketika kelompok Nanami pulang ke kampung halaman, kami pun
memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Ibu.
Sebenarnya
jadwal keberangkatan keluarga kami adalah besok, tetapi agar aku bisa bertemu
Nanami sedikit lebih cepat, Ibu menunjukkan kepeduliannya dengan memajukan
jadwal keberangkatan kami.
Tentu
saja hari kepulangan kami tidak bisa pas bersamaan dengan Nanami... tetapi
sepertinya aku akan pulang sedikit lebih awal darinya.
...Yah,
walau begitu aku juga tidak bisa langsung bertemu dengannya begitu pulang,
tetapi tetap saja bisa mengucapkan "selamat datang kembali" kepada
Nanami adalah hal yang berarti besar bagiku.
Padahal
dia juga bukan pulang ke tempatku, sih. Namun entah mengapa, rasanya
menyenangkan bisa mengucapkan kata "selamat datang kembali".
Tujuan
kepulangan keluarga kami adalah untuk memperlihatkan diri kepada Kakek dan
Nenek, menyapa kerabat, serta menghadiri perjamuan. Sisanya mungkin membantu
menyapu salju, dan kurasa ada juga pekerjaan fisik yang perlu dilakukan.
Ibu
cukup sibuk selama kepulangan ini, mulai dari persiapan Tahun Baru hingga
menyiapkan masakan osechi.
Kakek
dan Nenek selalu berkata, "Karena kalian sudah pulang, santai-santai
saja," tetapi Ayah dan Ibu merasa tidak tenang jika tidak melakukan
apa-apa, jadi mereka selalu saja mengerjakan sesuatu.
Sementara
kalau aku, makin banyak aku membantu, makin besar pula uang Tahun Baru (otoshidama)
yang akan ditambahkan untukku, jadi aku membantu hampir semata-mata demi
mengincar uang itu.
Yah,
wajar saja, namanya juga anak muda.
...Anak
SMA masih boleh menerima uang Tahun Baru, kan?
Yah,
tahun lalu aku memang menerimanya dengan senang hati, sih. Tapi tahun ini aku
bekerja paruh waktu dan mendapatkan gaji, jadi aku ragu apakah masih boleh
menerima uang Tahun Baru atau tidak...
Untuk
saat ini, lebih baik aku tidak bicara yang tidak-tidak. Kalau diberi, ya terima
saja.
Ngomong-ngomong,
tempat kami pulang ini adalah rumah orang tua Ibu, sedangkan rumah orang tua
Ayah lokasinya lumayan dekat, jadi sampai tahun lalu aku lumayan sering
berkunjung ke sana untuk membantu menyapu salju. Dari sana juga aku biasanya
diberi uang saku. Karena itulah, bahkan tanpa bekerja paruh waktu pun aku bisa
menabung dalam jumlah tertentu...
Karena
alasan itulah, liburan musim dingin kali ini kami hanya pulang ke rumah orang
tua dari pihak Ibu.
Ngomong-ngomong,
aku belum memberi tahu Kakek maupun Nenek dari kedua belah pihak bahwa aku
sudah punya pacar. Alasan tidak memberi tahunya adalah karena aku merasa
malu...
"...Jangan-jangan
Ibu sudah memberi tahu Kakek dan Nenek?"
"Soal
kamu punya pacar? Karena ditanya, ya Ibu jawab saja."
Ibu
menjawabnya dengan santai tanpa beban. Tapi yah, wajar saja, sih. Mana mungkin
Ibu tidak memberi tahu mereka...
Tidak,
masalahnya begini... sejak sekitar tahun lalu Kakek dan Nenek sudah sering
bertanya, "Kamu sudah punya pacar belum?"...
Padahal
sampai masa SMP, mereka hanya menanyakan hal-hal seperti apakah aku sehat,
berkata senang karena aku datang, atau menyuruhku bersantai karena tidak ada
apa-apa... Hanya hal-hal seperti itu saja yang mereka katakan.
Tapi
begitu aku jadi anak SMA, hal itu langsung berubah drastis. Waktu itu aku
sempat berkata, "Mana mungkin aku punya pacar," eh tahu-tahu satu
tahun berlalu aku benar-benar sudah punya pacar. Apalagi saat aku mulai
melakukan pergerakan dengan mengubah jadwal kepulangan dari biasanya... tentu
saja Ibu harus mejelaskannya, kan...
Karena
aku tidak bisa marah pada Ibu sambil menyuruhnya jangan sembarangan bicara,
untuk saat ini mari kita konfirmasi poin yang bikin penasaran saja.
"Kakek
sama Nenek bilang apa?"
"Mereka
bilang, apakah tahun depan sudah bisa melihat cicit atau belum. Terus, mereka
juga bilang tidak usah khawatir soal biaya pernikahan, serahkan saja semuanya
pada mereka."
Cepat
banget mikirnya!! Lagipula fakta bahwa topik uang langsung keluar begitu saja
terasa terlalu serius sampai bikin takut. Jalan pikiran Kakek dan Nenek
melompat terlalu jauh.
...Soal
urusan cicit dan semacamnya, aku bisa paham karena mereka adalah orang tua dari
Ibu, sih.
"Sepertinya
mereka sangat menanti-nantikannya, lho."
"...Mau
bagaimana lagi, ya. Eh, tunggu dulu, apakah kerabat yang lain juga akan datang
tahun ini?"
"Tentu
saja. Tapi Kakek dan Nenek sangat bersemangat dan bilang bahwa bintang utama
tahun ini adalah Youshin."
Kakek,
Nenek... jangan terlalu bersemangat begitu, dong... Aku malah jadi risih.
Kerabat
yang hanya kutemu setahun sekali, yang wajah dan namanya bahkan tidak kuingat
dengan baik pun bakal datang...
Yah,
mereka memang selalu datang, sih. Rasanya tidak mungkin kalau hanya tahun ini
saja mereka tidak datang. Satu-satunya hal yang menyelamatkan adalah... fakta
bahwa kerabat seumuran denganku jumlahnya sedikit.
"...Yah,
untuk saat ini jalani saja seadanya lah."
Padahal
Nanami sedang tidak ada di sini, tapi kenapa aku malah memusingkan hal ini,
ya...
Paling
buruk, aku tinggal menghabiskan waktu dengan main gim saja. Tahun lalu juga
para kerabat sibuk mengobrol dengan Ayah dan Ibu, sementara aku asyik main gim
seadanya.
Orang
dewasa punya obrolan sesama orang dewasa, dan mereka juga bukan lagi di usia
yang bakal antusias mendengarkan obrolan asmara ala anak SMA...
Setelah
menjelaskan kepada Kakek dan Nenek, sepertinya setelah itu tidak akan ada
pembicaraan yang terlalu berarti lagi.
Yah,
kalau dipikir-pikir seperti itu, rasanya bakal baik-baik saja, kan?
Mungkin
terkesan agak dingin, tapi mari selesaikan apa yang harus dilakukan lalu
cepat-cepat pulang...
...Saat
itu, aku menyederhanakan masalah.
Aku
telah salah menilai.
Orang
dewasa itu jauh lebih antusias dengan cerita cinta generasi anak-anak daripada
yang kubayangkan... dan jika mereka adalah kerabat, rasa penasaran itu
bertambah berlipat ganda.
Saat
itu aku yang tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut, hanya bisa pasrah dan
santai menikmati goncangan mobil.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Perjalanan
jauh menggunakan mobil itu cukup menyiksa tubuh. Rasanya seperti tubuh dibuat
kaku dan terkunci...
Begitu
turun dan menggerakkan badan ke sana kemari, terdengar suara gemeretak dari
sendi-sendiku, mungkin karena sudah lama tidak digerakkan.
Apakah
tidak akan sesakit ini jika menggunakan mobil yang sedikit lebih besar, ataukah
semua mobil akan memberikan efek yang sama...? Aku ingin mempertimbangkannya
saat nanti memiliki mobil sendiri di masa depan.
Aku
ingin coba jalan-jalan berkendara bersama Nanami... tapi untuk awal-awal
mungkin sewa mobil dulu, ya.
Dengan
demikian, kami telah tiba di tujuan... rumah Kakek dan Nenek.
Tepat
pada saat mobil berhenti, Kakek dan Nenek keluar untuk menyambut kami
seolah-olah sudah memperhitungkan waktunya. Salju sudah menumpuk, jadi aku
sedikit cemas takut mereka terpeleset.
Ini
pertama kalinya aku bertemu Kakek dan Nenek lagi setelah sekian lama, tetapi
mereka berdua tidak banyak berubah. Punggung mereka tidak bungkuk, dan langkah
kaki mereka masih mantap.
...Aku
baru sadar sekarang, mereka berdua memakai sweter seragam yang tanpa disadari
terlihat seperti baju pasangan. Apakah itu tanda kalau mereka tetap rukun meski
sudah lanjut usia?
Karena
aku mengenali sweternya, berarti dulu aku saja yang tidak menyadarinya.
Keduanya
menyambut kami dengan senyuman lebar. Sudah lama tidak bertemu, aku senang
melihat mereka berdua tampak sehat bugar.
Karena
mobil sudah parkir sempurna, aku turun dan melakukan peregangan ringan ketika
Kakek tiba-tiba mengajakku bicara.
Langkah
yang tak biasa, padahal biasanya beliau selalu menghampiri Ayah terlebih
dahulu.
"Sudah
sampai, You?"
"Iya,
Kakek. Aku datang."
Meskipun
nada bicaranya terdengar agak ketus, ekspresi wajahnya terlihat sangat gembira.
Kakek
memang dasarnya pendiam, sih.
"...Padahal
tidak perlu repot-repot datang, lho."
"?!ッ"
Begitu
kupikir, kalimat pertama yang keluar dari mulut Kakek yang tersenyum gembira
itu ternyata malah perkataan bahwa aku tidak perlu datang. Ekspresi dan
kalimatnya sama sekali tidak cocok.
"Ke...
kenapa, Kakek? Kok mendadak bilang begitu?"
Saat
aku sedang kebingungan, Kakek langsung berpaling begitu saja dan berjalan ke
arah Ayah. Padahal aku mendengar beliau sangat menanti-nantikan kedatanganku,
jadi rasanya sedikit agak konyol.
Ayah...
ah, ternyata sedang mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Kakek pergi untuk
membantunya. Ya, aku juga harus ikut membantu.
Nenek
sedang mengobrol dengan Ibu. Ayah menyerahkan beberapa barang bawaan kepada
Kakek. Kelihatannya cukup berat, tetapi Kakek membawanya dengan tampak begitu
ringan.
Aku
ikut membawa barang bawaan dari bagasi dan masuk ke rumah Kakek....Rumah yang
besar, ya. Dulu beliau pernah bilang kalau ini di desa, jadi masih banyak tanah
yang tersisa.
Begitu
melangkah masuk, aku merasakan rasa rindu pada area pintu masuk rumah Kakek
yang baru kulihat lagi setelah satu tahun.
Aku
teringat saat pertama kali masuk dulu, aku sempat menjelajahi rumah ini karena
ukurannya yang luas. Saat itu kalau tidak salah aku tidak sendirian. Waktu itu
kalau tidak salah...
Saat
aku sedang tenggelam dalam perasaan nostalgia, tiba-tiba sebuah suara memanggil
dari dalam rumah. Itu bukan suara Kakek ataupun Nenek, melainkan suara seorang
wanita muda.
"Ooh,
Youshin rupanya. Kamu datang juga, ya."
Saat
aku mendongakkan kepala terkejut, seorang wanita sudah berdiri di sana.
Tubuhnya jangkung dan ramping, membuatku yang sedang sedikit membungkuk ditatap
dari atas tanpa mempedulikan posisiku. Tubuhnya tinggi, tangan dan kakinya pun
sama panjang dan rampingnya.
Dilihat
sekilas dari tingginya, dia tampak seperti pemain bola basket, tetapi
pembawaannya sama sekali tidak berotot melainkan memberikan kesan yang anggun
dan ramping. Namun meskipun secara fisik terlihat ramping, tidak ada kesan
lemah sedikit pun dari sorot matanya yang tajam dan memancarkan tekad kuat.
Malah,
karena dia menatapku secara lurus seolah sedang mengincar mangsa... untuk
sekejap aku hampir memasang sikap pasang kuda-kuda karena merasa akan diserang.
...Siapa,
ya?
Itulah
kata-kata yang membanjiri otakku pada saat mata kami saling bertatap. Tidak,
tunggu dulu, mata seperti burung pemangsa ini rasanya pernah kulihat
sebelumnya.
Ya,
itu benar-benar... saat aku mencoba mengingat-ingat petualangan menjelajahi
rumah yang tadi...
"Aah...
iya, aku datang, Nee-chan."
Setelah
berhasil mengingatnya, aku memanggil wanita itu dengan sebutan "Nee-chan".
Tentu
saja, meskipun aku memanggilnya Nee-chan, dia bukanlah kakak kandungku. Karena
dia berada di rumah Kakek, tentu saja dia adalah kerabatku.
Kalau
tidak salah, dia adalah anak perempuan dari adik perempuan Ibu? Usianya sedikit
lebih tua dariku, kalau tidak salah dia sudah mahasiswa... atau mungkin sudah
bekerja.
Kapan
terakhir kali kami bertemu, ya...? Setidaknya tahun lalu kami tidak bertatap
muka, dan karena beberapa tahun terakhir aku tidak pernah melihat wajahnya, ini
sudah lama sekali.
Orang
yang kupanggil "Nee-chan" itu menyipitkan matanya gembira mendengar
jawabanku.
Jika
dilihat lebih dekat, dia sedang mengulum sesuatu seperti rokok, dan dari sana
keluar sedikit asap. Aku sempat berpikir apakah itu rokok elektronik atau
semacamnya, tetapi aku tidak mencium bau asap rokok sama sekali.
"Wah-wah,
ternyata kamu masih ingat, toh. Onee-chan jadi senang, nih."
"Yah,
jujur saja... sebelum tatap muka begini aku sempat lupa, sih. Sudah lama tidak
bertemu, ya."
"Kamu
ini masih saja jujur tanpa tanding, ya. Dalam situasi seperti ini, kalau kamu
bilang 'mana mungkin aku lupa', pihak sebelah bakal senang-senang saja,
tahu."
Dia
mengatakan hal yang tidak jelas apakah itu bentuk ketidakjujuran atau kebaikan.
Tapi yah, tidak ada gunanya juga berbohong. Lagipula, dengar ya, memang aku
ingat kalau harus memanggilnya "Nee-chan", tapi aku belum berhasil
mengingat namanya sampai sekarang.
Tentu
saja aku tidak bisa menanyakan siapa namanya, dan selama aku memanggilnya
"Nee-chan", tidak akan ada masalah dalam komunikasi, jadi mari kita
lanjutkan saja seperti ini.
"Apakah
kerabat yang lain sudah pada datang? tahu berapa banyak yang bakal
datang?"
"Tahun
ini sih ada yang datang, ada juga yang tidak. Banyak yang tidak datang karena
anak-anak mereka sudah pada besar."
Apakah
memang begitu, ya? Kalau begitu, bukankah Kakek dan Nenek akan merasa kesepian?
Jangan-jangan perkataan "tidak perlu datang" tadi diucapkan dalam
artian seperti itu?
Kalau
memang begitu, sebaliknya justru anak sepertiku yang sebaiknya tetap datang.
Setidaknya, agar Kakek dan Nenek tidak merasa kesepian...
Sambil
tetap membawa barang bawaan, aku melangkah masuk ke dalam. Di sana ada beberapa
kerabat yang sedang membicarakan sesuatu.
...Nee-chan
terus mengikutiku, apakah dia sedang tidak ada pekerjaan?
Tapi
ya sudah lah. Karena aku jarang mengobrol dengan para kerabat, aku merasa agak
canggung harus bagaimana dalam situasi seperti ini...
Yah,
menyapa mereka dulu saja sudah cukup.
"Halo,
beberapa hari ke depan mohon bantuannya."
Begitu
aku menyapa... entah kenapa mereka tampak terkejut?
Eh?
Kenapa, ya?
Sementara
itu, Nee-chan malah tersenyum penuh arti seolah menikmati situasi.
Aku
tidak begitu paham, tetapi karena khawatir telah memotong pembicaraan mereka,
aku membungkukkan badan sekali lagi lalu meletakkan barang bawaan sekenanya.
Ayah
dan Ibu... sepertinya sedang mengobrol dengan Kakek.
Kalau
seperti biasanya... dulu aku melakukan apa, ya? Tahun lalu begitu sampai,
apakah aku langsung main gim, ya? Aku tidak terlalu ingat...
Untuk
saat ini, aku mendudukkan diri di situ lalu mengeluarkan ponsel untuk memeriksa
dan mengabari Nanami bahwa aku sudah sampai dengan selamat, namun...
"...Gawat,
sinyalnya hampir tidak ada."
Bukannya
sama sekali tidak ada sinyal atau di luar jangkauan. Hanya saja, sinyalnya
lemah tanggung dan membuat akses internet menjadi sangat lambat.
Aku
jadi teringat, tahun lalu aku juga main gim dalam kondisi sinyal yang lemah
begini. Rasanya lambat sekali dan bikin stres, sampai-sampai di paruh akhir aku
tidak terlalu banyak memainkannya...
...Yah,
meski tidak bisa main gim, selama masih bisa berkirim pesan rasanya sudah
cukup.
Setelah
mengabari Nanami, sisanya aku juga bisa coba menghubungi Baron-san dan yang
lainnya...
"Kenapa
You, sinyalnya lemah, ya?"
Uwah,
kaget aku! Tanpa disadari Kakek sudah berdiri di belakangku. Atau lebih
tepatnya, sungguh di luar dugaan Kakek menanyakan apakah sinyalnya lemah.
Padahal
aku punya kesan kalau Kakek itu gagap teknologi soal hal-hal seperti ini...
"Aah...
iya, sepertinya sinyalnya lemah. Yah, karena cuma beberapa hari, aku bisa
tahan..."
"Kalau
begitu, pakai saja Wi-Fi milik Kakek. Lumayan cepat, lho."
"ADA
WI-FI?!"
Satu
kata yang berada di peringkat atas daftar "kata-kata yang rasanya tidak
mungkin keluar dari mulut Kakek" mendadak terlontar.
Apakah
Kakek tahu apa itu Wi-Fi? Atau lebih tepatnya, saat aku memiringkan kepala
kebingungan memikirkan kenapa barang seperti itu bisa ada di sini... Kakek
melancarkan serangan balasan.
"Akhir-akhir
ini Kakek main gim FPS untuk mencegah pikun. Berinteraksi dengan anak-anak muda
ternyata cukup menyenangkan juga."
Kakek
main gim FPS?!
Saat
aku sedang ternganga keheranan, Kakek memberi tahu kata sandi dan detail
lainnya seolah menyuruhku untuk menyetelnya, jadi aku bergegas menyambungkannya
melalui pengaturan di ponsel.
Ooh...
tentu saja sambungannya berhasil terhubung dengan baik. Bahkan jika
dibandingkan, jangan-jangan ini jauh lebih cepat daripada yang ada di rumah?
Sensasi
tersendat yang sedikit terasa saat terhubung di rumah sama sekali tidak ada di
sini. Sangat mulus. Sama sekali tak disangka, setelah pulang ke kampung halaman
aku malah menemukan lingkungan internet yang lebih nyaman daripada di rumah
sendiri...
Mari
berkirim pesan ke Nanami... memberitahunya bahwa aku sudah sampai dengan
selamat di sini. Tadi Nanami juga sempat berkirim pesan, tetapi karena di sana
ada kerabatnya juga, dia jadi tidak bisa menelepon.
Ah,
langsung dibalas. 「Nanti
malam kita ngobrol sebentar, ya,」
tulisnya.
Ya,
aku menanti-nantikannya.
"...Dengar-dengar
kamu sudah punya pacar, ya."
"Aah...
iya, sudah punya."
Setelah
terhubung dengan Nanami, saat aku sedang mengukir senyuman yang sedikit
konyol... tanpa disadari Kakek yang sudah duduk di sampingku menatapku dengan
senyuman yang lembut.
Entah
kenapa Nee-chan berseru kaget, "Eh?! Youshin punya pacar?!".
Situasinya jadi sedikit agak bising, tetapi Kakek mengabaikan Nee-chan begitu
saja.
"...Apakah
dia gadis yang baik?"
"Iya,
dia anak yang sangat baik. Seorang wanita yang luar biasa."
"Begitu,
ya..."
Kakek
tidak banyak bicara, tetapi beliau bergumam seolah meresapi setiap kata.
Aku
tidak menyangka beliau akan sebahagia ini... Atau lebih tepatnya, kalau
mendengar cara bicara Ibu tadi aku kira Kakek bakal bertanya secara gencar dan
antusias, tetapi ternyata Kakek tidak seperti itu.
Jangan-jangan
yang gencar itu Nenek...?
"...Padahal
tidak perlu repot-repot datang, kamu bisa menghabiskan waktu bersama pacarmu
saja."
"Heh?"
"Daripada
datang ke desa yang tidak ada apa-apanya begini, bukankah lebih menyenangkan
menghabiskan waktu bersama pacarmu?"
Meskipun
berkata demikian, Kakek memasang raut wajah yang sedikit kesepian.
Aah,
begitu rupanya. Jadi maksud perkataan tadi itu dalam artian begini.
Bukannya
aku tidak disambut, melainkan setelah memikirkanku... beliau mencoba memberikan
perhatiannya padaku.
"Cucu
Kakek yang paling tua di belakang itu saja, jangankan berkunjung, baru datang
ke sini setelah dicampakkan sama pacarnya."
"Bocorannya
mendadak banget, mana kena imbas pula?!"
Nee-chan
yang tadinya heboh di belakang langsung melayangkan protes, tetapi Kakek
bersikap acuh tak acuh bagaikan angin lalu.
Begitu,
ya... jadi itu alasan kenapa dia tidak pernah bertemu selama beberapa tahun
ini...
Uwah...
yang benar saja...
Saat
aku menatapnya dengan pandangan penuh rasa kasihan, dia berteriak menyuruhku
jangan merasa kasihan lalu pergi entah ke mana.
Nee-chan...
ternyata kamu dicampakkan, ya...
"Jangan-jangan,
alasan kerabat yang lain tidak datang juga...?"
"Benar.
Sebagian besar tidak datang karena menghabiskan Tahun Baru bersama kekasih
mereka masing-masing."
"Jadi
begitu... Apakah Kakek tidak merasa kesepian?"
Wajah
tersenyum Kakek yang tampak kesepian tadi terngiang di kepalaku, hingga tanpa
sadar aku menanyakannya. Namun Kakek justru tertawa terbahak-bahak lalu menepuk
kepalaku pelan.
"Bagi
Kakek dan Nenek, selama cucu-cucu kami bahagia, itu saja sudah cukup. Mulai
besok-besok kamu tidak usah memaksakan diri datang, ya."
Rasanya
agak malu karena jarang sekali diperlakukan seperti ini.
Tangan
Kakek terasa sangat kasar dan besar. Fakta bahwa tangannya penuh dengan bekas
luka membuatku merasakan sebuah perjalanan sejarah... tetapi terasa sangat
hangat.
"Tapi
ya, You sekarang sudah bisa memberikan perhatian seperti ini, ya... Apakah kamu
berkembang setelah bertemu dengan gadis yang baik?"
"Apakah
aku berubah sebanyak itu...?"
Entah
mengapa rasanya aku senang seperti Nanami yang dipuji, tetapi aku sendiri tidak
terlalu memahami perubahan pada diriku. Kakek tertawa sambil berkata aku sudah
berubah, sih.
Tetapi
benar juga... mungkin dalam hal semacam itu pun aku memang telah berubah.
"Sekarang
Kakek dan Akira-kun mau melelehkan salju yang menumpuk, You santai-santai
saja."
"Tidak,
mumpung ada di sini, aku akan bantu."
"Begitu,
ya... Kalau begitu, nantikan saja uang Tahun Barumu."
"Apakah
anak SMA tidak apa-apa jika menerimanya...?"
"Gadis
mahasiswa itu saja berniat menerimanya, jadi tidak usah dipikirkan."
Nee-chan...
ternyata seorang mahasiswa, ya. Dan dia berniat mengambil uang Tahun Baru itu
tanpa ragu. Bisa dibilang dia sangat tangguh atau semacamnya.
Sambil
berdiri perlahan, aku secara diam-diam bersemangat... berniat menunjukkan lebih
jauh sosok diriku yang telah berubah ke arah yang lebih baik.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
"Youshin~...
Perlihatkan foto pacarmu ke Nee-chan, dong~..."
"Diamlah,
dasar pemabuk."
"Youshin
dingin sekali?!"
Tidak,
sungguh, bau alkoholnya menyengat sekali.
Ada
apa dengan mahasiswa tidak beres ini? Lagipula berapa usianya? Fakta bahwa dia
minum alkohol berarti dia sudah dewasa, kan?
Aku
tanpa sadar memakinya dengan kata-kata kasar, tetapi ucapan Nee-chan tampaknya
mewakili perasaan orang-orang yang ada di sini, karena mereka semua terlihat
sangat penasaran.
Nee-chan
mengoceh hal-hal seperti, 「Padahal
dulunya... tidak bisa dibilang imut-imut amat sih, tapi Youshin malah berubah
jadi orang biasa...」.
Bukankah kerabat yang satu ini terlalu tidak sopan?
"Benar
sekali, Tante sampai kaget waktu Youshin-kun menyapa tadi."
"Dari
tahun ke tahun, dia tumbuh jadi anak yang makin pendiam dan jarang bicara, jadi
bisa mengobrol banyak hal seperti ini membuat kami senang."
"Memang
ya, anak laki-laki itu kalau sudah punya pacar pasti bakal berubah."
Sepertinya
mereka sudah masuk ke mode sangat suka bergosip. Lebih baik aku tidak usah ikut
campur sembarangan.
Tampaknya
alasan mereka terkejut saat aku menyapa tadi adalah karena responsku berbeda
dari tahun lalu. Memangnya seburuk apa diriku yang tahun lalu?
Meski
begitu, tidak sulit membayangkan seberapa buruknya diriku saat itu, walau aku
tidak terlalu ingat.
Kurasa
salah satu alasannya juga karena tidak ada kerabat yang seumuran. Aku hampir
tidak pernah bicara dan hanya main gim saja... sisanya paling membantu Kakek.
"Kalian
sudah pacaran berapa bulan, sih~...?"
Uwah,
si pemabuk mulai menggangguku lagi. Lagipula, padahal orang dewasa lainnya
tenang-tenang saja saat minum alkohol, kenapa cuma orang ini yang mabuknya aneh
begini? Anggap saja ini... latihan untuk masa depan?
"Kira-kira...
sekitar 9 bulan. Karena kami mulai berpacaran sekitar musim semi tahun
ini."
"Bagus,
bagus... Tapi kalau sudah terlalu lama nanti rasanya bakal jadi hambar...
seperti aku ini."
"...Terus
aku harus merespons apa soal hal itu?"
Nee-chan
mengacungkan kedua ibu jarinya dengan mantap ke atas, lalu menunjuk ke arah
dirinya sendiri. Karena tangannya diangkat tinggi-tinggi, dia terlihat seperti
sedang memperagakan pose kemenangan.
Ah,
Nee-chan yang sedang mabuk diketiaki dan dipapah oleh tante-tante lalu dibawa
pergi. Tampaknya tahun ini dia baru saja dicampakkan oleh pacarnya yang sudah
dikencaninya selama 4 tahun.
Aah...
padahal dia sedang ditenang-tenangkan dan menangis tersedu-sedu, tapi tangannya
sama sekali tidak melepaskan botol minuman keras. Sepertinya dia akan lanjut
minum terus.
...Akan
tetapi, ternyata hubungan yang sudah berjalan selama 4 tahun pun masih bisa
putus, ya. Rasanya hanya informasi yang satu ini saja yang agak menakutkan.
Untuk
mengubah suasana hati, aku menyeruput teh Oolong sambil menyantap hidangan di
hadapanku.
Hari
ini disajikan hasil laut lokal... hidangan laut musim dingin berjejer rapi. Ada
ikan berkuah dan gorengan ikan yang jenisnya jarang kulihat... serta olahan
yang segar berupa sashimi. Tampaknya ini makanan khas musim dingin,
daging ikannya terasa padat dan sangat lezat. Bahkan ada nama ikan yang belum
pernah kudengar sebelumnya.
Apa
itu Yanagi no Mai? Kenapa ada kata "no" pada nama ikan?
Kelompok
orang dewasa menikmati hidangan ini bersama bir atau sake Jepang,
sementara aku yang masih di bawah umur minum teh Oolong seorang diri. Kakek
juga terlihat menikmati sake Jepang sedikit demi sedikit. Ayah dan Ibu
juga minum alkohol.
Aah...
sepertinya mereka sedang dihujani berbagai pertanyaan.
"You-chan,
ini juga enak, lho. Cobalah makan."
"Ah,
Nenek... terima kasih."
Tanpa
kusadari, Nenek sudah duduk di sampingku.
Mangkuk
yang diserahkan terasa hangat, di dalamnya berisi hidangan berkuah yang
mengepulkan uap putih. Daging dan tulang ikan... apakah ini sup ara-jiru?
Kelihatannya
lezat.
Saat
kucicipi, cairan hangat memenuhi mulutku, rasa miso dan aroma manis dari ikan
menyeruak ke hidung. Sama sekali tidak ada bau amis, aromanya begitu harum
hingga terasa segar.
"Wah,
lezat."
Sayuran
di dalamnya ada wortel dan lobak... lalu apakah itu konjak? Kalau menggunakan
kuah miso begini, apakah disebut sup Sanpei-jiru? Atau kalau sup ara-jiru
itu rasanya asin...?
Yah,
selama lezat, apa saja tidak masalah. Nanti aku mau minta Nenek mengajariku
cara membuatnya, agar aku bisa memasakkannya untuk Nanami lain kali.
Melihatku
makan dengan nikmat, Nenek tersenyum senang.
Karena
tadi siang aku membantu Kakek dan Ayah, aku tidak begitu banyak mengobrol
dengannya. Hanya saja, Nenek yang duduk di dekatku sambil tersenyum begini
terasa agak tidak biasa...
Dulu
seingatku beliau lebih sering mengobrol dengan Ibu dan yang lainnya...
"Jadi,
pacarmu itu orangnya seperti apa?"
Ternyata
topik itu lagi, ya...
Tangan
yang memegang mangkuk refleks terhenti. Nenek tidak bertanya lebih jauh dan
sepertinya hanya menungguku yang mulai bercerita.
Ini...
sepertinya beliau berniat mengejarku sampai aku mau angkat bicara. Yah, kalau
cuma memperkenalkan Nanami sedikit... kurasa tidak apa-apa.
"Dia
orang yang sangat luar biasa... dan sangat manis... Sangat luar biasa sampai
terasa terlalu baik untukku, tapi aku bahkan tidak bisa membayangkan ada orang
yang lebih baik daripada dia."
"Wah,
wah, apakah dia seluar biasa dan semanis itu?"
Kata-kata
seperti ini sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan Nanami, tetapi tetap
saja, ucapan yang terlontar berakhir menjadi ungkapan yang pasaran.
Aku
meratapi keterbatasan kosakataku, sekaligus bingung bagaimana cara
mengekspresikannya dengan tepat.
Apakah
sebaiknya tadi aku bilang saja kalau dia adalah wanita nomor satu di dunia
bagiku?
Meski
begitu, Nenek terlihat sangat senang. Beliau tampak gembira dan menikmati
suasana, memancarkan aura layaknya seseorang yang akhirnya mendapatkan sesuatu
yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Bagi
diriku sendiri, melihat Nenek gembira tentu bukan hal yang buruk. Apakah Nenek
sangat suka gosip percintaan? Tapi kalau soal cerita patah hati Nee-chan,
sepertinya beliau kurang... berminat, ya.
"Tidak
ada foto di ponselmu? Atau malah, kamu tidak mau coba panggilan video? Apa kamu
tidak main media sosial?"
"Foto
sih ada... tapi, Nenek bisa pakai ponsel pintar?"
Kata
"panggilan video" membuat jantungku berdegup kencang.
Itu
karena aku berniat melakukannya diam-diam nanti. Lagipula, Nenek tahu hal-hal
seperti itu, ya.
Saat
aku dibuat terkejut oleh kata "media sosial" yang tak
disangka-sangka, keluar lagi satu kalimat yang jauh lebih mengejutkan.
"Tentu
saja, ponsel pintar kan barang wajib untuk oshi-katsu (kegiatan
mendukung idola)."
...Gimana?
Kata oshi-katsu yang mendadak muncul membuatku refleks mematung.
Eh,
Nenek melakukan oshi-katsu? Mendukung siapa?
Karena
rasanya agak menakutkan jika bertanya lebih jauh, mari kita tidak usah membahas
hal itu.
"Nenek
ingin bicara dengan pacarnya You-chan, lho~"
Meskipun
tertawa dengan terbahak-bahak secara anggun, pergerakannya terasa sangat
gencar.
"...Kenapa
Nenek ingin sekali bertemu dengannya?"
"Tentu
saja, kalau You-chan sampai bisa berubah, bukankah dia pasti seorang gadis yang
sangat luar biasa? Nenek ingin bertemu dengannya tapi karena sulit, setidaknya
lewat panggilan video saja..."
Seperti
yang dikatakan tadi, apakah aku benar-benar berubah sebanyak itu...?
"You-chan
itu memang anak yang baik, tapi karena terlalu pendiam Nenek jadi khawatir...
Nenek pikir tidak apa-apa kalau kamu sedikit lebih agresif dalam urusan lawan
jenis."
"Agresif..."
Itu
adalah kata yang jarang didengar dalam urusan percintaan, tetapi tampaknya
karena Ibu dulu seperti itu, Nenek berpikir aku pun mungkin akan sama.
Asmara
seperti apa yang dijalani Ibu di masa lalu... sejujurnya aku benar-benar tidak
ingin mendengarnya, jadi untuk saat ini aku mengembalikan pembicaraan ke topik
Nanami.
"...Kalau
begitu, jika dia bilang tidak apa-apa..."
"Wah,
wah, wah, begitu saja sudah cukup. Kalau dia tidak mau, jangan dipaksa,
ya."
Nenek
yang menangkupkan kedua tangannya gembira langsung berdiri dan kembali ke
tempat Kakek dan yang lainnya.
Mungkinkah
beliau hendak melaporkan percakapan tadi?
Jika
Nanami bilang tidak apa-apa... ya...
Entah
mengapa, aku merasa dia tidak akan menolak dan kami pasti akan melakukan
panggilan video... pikirku sambil menyuapkan sashimi ke dalam mulut.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
『Boleh kok! Aku
juga ingin mengobrol dengan Kakek dan Neneknya Youshin!!』
"Sudah
kuduga, Nanami pasti akan bilang begitu..."
Pesta
sedang berada di puncak keramaian... atau begitulah istilahnya. Untuk saat ini,
aku menyelinap keluar dari pesta dan masuk sendirian ke kamar yang dialokasikan
untuk keluarga kami untuk menelepon Nanami.
Sesuai
dugaan, Nanami menyetujuinya tanpa ragu sedikit pun. Di satu sisi aku bersyukur
dia mau mengobrol, tetapi di sisi lain, sejujurnya aku merasa sangat malu.
Tidak,
tolong jangan salah paham, bukannya aku malu karena Nanami.
『Ngomong-ngomong,
keluargaku di sini juga bilang ingin mengobrol dengan Youshin, lho.』
"Bercanda,
kan? Di sana juga begitu...?!"
Meski
berpikir itu hal yang wajar, kalimat itu membuatku sedikit memegang kepala.
Habisnya, ini perkenalan yang mendadak, kan...? Bukankah rintangannya terlalu
tinggi?
"...Lagipula,
kenapa Kakek di sana sampai ingin bertemu?"
『Katanya, karena
kamu bisa mengubahku yang dulu membenci laki-laki, berarti kamu pasti pria yang
sangat hebat, jadi beliau ingin bertemu langsung untuk mengucapkan terima
kasih.』
"Pria
hebat... lagipula itu bukan sesuatu yang perlu diberi ucapan terima
kasih..."
『Aku sudah bilang
ke beliau kalau kamu adalah pria paling luar biasa di dunia.』
"Bicara
apa kamu ini?!"
Aku
memprotes bahwa rintangannya jadi dinaikkan terlalu tinggi, tetapi Nanami malah
menepuk dadanya bangga sambil menegaskan bahwa itu memang kenyataan.
Sebagai
orang yang tadi bahkan tidak bisa mengutarakan kata "nomor satu di
dunia", betapa indahnya jika aku bisa menyatakannya tanpa rasa malu
seperti itu...
Untuk
saat ini karena izin sudah didapat, mari kita panggil Nenek dan yang lainnya...
"Kalau
begitu yang aku pertemukan cukup Kakek dan Nenek saja, ya... Kerabat yang lain
kita kecualikan saja..."
『Eeh? Padahal
kalau bisa, aku ingin bilang "Saya Nanami, tunangannya Youshin" di
hadapan seluruh kerabat Youshin.』
"Kamu
berniat menjatuhkan bom yang mengerikan, ya. Itu pasti hanya akan berakhir jadi
bahan pembicaraan para kerabat, jadi tolong kasihanilah aku."
Nah,
saat aku baru saja berdiri berniat memanggil Nenek dan yang lainnya, pintu
kamar mendadak terbuka secara tiba-tiba.
"Yoo-shin,
lagi apa kamu~? Kenapa meninggalkan Nee-chan di sini~? Sedang menelepon pacar,
ya~? Aku mau punya pacar yang lebih muda, tolong kenalkan anak SMA dong~"
...Nee-chan
rupanya.
Dia
membuka pintu sambil mengocehkan perkataan yang penuh dengan hawa nafsu semata.
Tampaknya dia datang mencariku sambil membawa botol minuman keras di satu
tangannya.
『Eh?! Youshin
punya kakak perempuan?!』
"Bukan,
dia kakak sepupuku."
Sepupu...
tidak apa-apa dipanggil sepupu, kan? Karena selama ini aku hanya menyebutnya
kerabat, aku tidak tahu sebutan pastinya, tetapi untuk saat ini dipanggil
sepupu saja sudah cukup.
"Aah...
ternyata benar-benar lagi ngobrol sama pacar. Panggilan video? Aku mau sapa,
dong."
"Tidak
ah, kalau Kakek sama Nenek sih aku bilang boleh, tapi kalau Nee-chan..."
『A-anu... saya Barato
Nanami yang berpacaran dengan Youshin-kun, salam kenal.』
"Iyaaa,
Nanami-chan, ya~ Suaranya imut banget~ Anak seperti apa dia, ya..."
Mendengar
suara yang keluar dari ponsel, Nee-chan mengukir senyuman lunglai dengan sudut
mata yang menyipit maksimal.
Senyumannya
persis seperti seorang nenek yang melihat cucu keponakannya. Tapi kalau
kukatakan itu, aku bisa dibunuh, jadi lebih baik diam saja.
Karena
tidak ada pilihan lain, aku mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video
lalu memperlihatkannya kepada Nee-chan. Nee-chan yang tadinya tersenyum lebar
mendadak membelalakkan matanya terkejut begitu menangkap sosok Nanami di layar.
Lalu,
pandangannya bergerak bolak-balik di antara aku dan Nanami, sambil
mengatup-ngatupkan mulutnya persis seperti ikan koi di kolam.
Saat
aku memiringkan kepala heran melihat reaksinya, Nee-chan mengeluarkan suara
luar biasa berat dari tenggorokannya, seolah-olah bergema dari dasar neraka.
"...Bukankah
dia ini gadis yang sangat cantik jelita? Kamu melakukan apa, bagaimana
bisa...... eh? Seriusan? Pacar? Eh? Sosok yang benar-benar nyata? Nanami-chan
ini orang beneran...?!"
Jangan
meragukan keberadaan pacar orang, dong.
Sama
seperti petinju yang terkena pukulan telak, Nee-chan dengan kepala yang
sempoyongan langsung duduk perlahan di tempatnya berada. Lalu, dia melihat ke
arah Nanami, memperbaiki sikap duduknya menjadi posisi seiza. Botol
minumannya diletakkan di samping.
"Aku
Toubetsu Touka, sepupunya Youshin. Salam kenal, ya."
Masih
dalam posisi bersimpuh, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Nanami yang
merasa segan pun ikut menundukkan kepalanya dengan sopan.
Tidak,
ada apa dengannya, sih?
"...Nee-chan
mabuk, ya?"
"Rasa
mabukku langsung hilang seketika, tahu! Menghadapi gadis secantik ini tanpa
memperbaiki sikap duduk itu bisa kualat!"
Logika
macam apa itu? Nee-chan yang tadinya mabuk sekarang tampak begitu segar bugar
seolah-olah tidak memperlihatkan rasa mabuknya sedikit pun.
Apakah
orang dewasa memang bisa berganti mode secepat ini, ataukah ini hanya kemampuan
khas milik Nee-chan saja?
『Sekali lagi, saya
Barato Nanami. Salam kenal, Touka-san.』
"...Namaku
dipanggil oleh gadis cantik."
Dia
tampak tersentuh dari lubuk hati.
Ya,
kan, ternyata dia memang masih mabuk!
Setelah
itu, saat aku berpikir mereka berdua akan saling memperkenalkan diri dan
mengobrol santai...
『Eh... padahal
sudah pacaran selama 4 tahun?』
"Benar...
aku dicampakkan... katanya gara-gara aku tidak pernah mau diajak melakukan hal
mesum... padahal... padahal..."
Malah
jadi sesi curhat perjalanan hidup.
Tidak,
apakah ini konsultasi asmara? Rasanya ini jenis pembicaraan yang kurang baik
jika kudengar, mungkin sebaiknya aku keluar kamar dulu...
Benar
juga, mumpung ada waktu, mari kupanggil Kakek dan Nenek saja sekarang. Meskipun
merasa agak segan karena meninggalkan si pemabuk bersama Nanami, aku melangkah
keluar kamar dengan tenang lalu memanggil Kakek dan Nenek.
Saat
itu pesta sudah hampir selesai, dan orang-orang sedang bersih-bersih sedikit
demi sedikit. Awalnya kupikir lebih baik memanggil mereka nanti saja, tetapi...
"Eh?!
Sekarang kamu lagi terhubung dengan pacarmu?!"
"Sana
pergi, sana!! Urusan bersih-bersih serahkan pada kami saja!!"
"Yah,
yang tenang, ya!! Jangan sampai tidak sopan!!"
Seluruh
kerabat ternyata sangat kooperatif. Kakek dan Nenek yang sepertinya juga ingin
mengobrol dengan Nanami, akhirnya menerima kebaikan mereka. Entah kenapa mereka
tampak berseri-seri gembira.
Saat
aku mengantar Kakek dan Nenek menuju kamar... Nee-chan baru saja keluar dari
sana. Wajahnya tampak cerah, segar, dan dipenuhi dengan rasa harapan. Mata yang
tadinya tampak mati seperti orang tak berdaya kini terlihat hidup kembali.
"Youshin,
terima kasih banyak, ya... Semoga hubunganmu dengan Nanami-chan langgeng sampai
akhir hayat..."
Dengan
memperlihatkan senyuman yang berseri-seri, Nee-chan mengangkat satu tangannya
dengan mantap lalu pergi berlalu.
Sungguh,
sebenarnya ada apa dengannya?
"...Kenapa
dia? Ada apa dengannya?"
Kakek
dan Nenek tampak kebingungan, tetapi kemungkinan... konsultasi asmaranya dengan
Nanami membuahkan hasil yang baik. Walaupun seorang mahasiswa (pemabuk) yang
berkonsultasi pada anak SMA itu sendiri sudah terasa agak bagaimana, ya.
Saat
masuk ke dalam kamar, layar ponsel masih dalam keadaan terhubung. Nanami
melemparkan senyuman padaku... lalu, begitu melihat Kakek dan Nenek, raut
wajahnya berubah sedikit tegang.
"Nanami,
maaf mendadak, tapi ini Kakek dan Nenekku. Kakek, Nenek... ini Barato
Nanami-san yang berpacaran denganku."
『Se... selamat
malam, saya Barato Nanami yang berpacaran dengan Youshin-kun.』
Mendengar
perkenalan diri Nanami, Kakek dan Nenek tersenyum gembira. Senyuman Kakek
adalah jenis senyuman yang tidak pernah diperlihatkan sebelumnya. Biasanya
beliau hanya tersenyum dengan mengubah bentuk bibirnya saja, tetapi sekarang
seluruh wajahnya ikut tersenyum.
Melihat
mereka sebahagia itu, aku pun merasa ikut senang.
"Barato
Nanami-san... terima kasih atas salamnya yang begitu sopan. Saya Shinori, kakek
dari Youshin."
"Saya
Nobuka, neneknya. Wah, wah, gadis yang sungguh luar biasa... salam kenal,
ya."
Kakek
dan Nenek yang duduk bersimpuh menyapa Nanami dengan ramah... dan di saat
itulah aku teringat, "Oh iya, ternyata nama Kakek dan Nenek begitu,
ya", lalu diam-diam mencatatnya ke dalam ingatan.
Habisnya,
aku hanya memanggil mereka Kakek dan Nenek...
Jujur
saja, tingkat kesadaran namaku terhadap mereka sangat tipis. Apakah orang-orang
pada umumnya selalu mengingatnya?
"Aah...
tidak menyangka You bisa mendapatkan pacar seluar biasa ini, ya... Pantas saja
dia tumbuh pesat dalam waktu 1 tahun tak bertemu..."
"Benar
sekali. Waktu mendengar You-chan punya pacar saja Nenek sudah kaget, tapi
begitu melihat pacarnya langsung, Nenek dibuat kaget untuk kedua
kalinya..."
『...You-chan.』
...Gawat,
aku lupa mewanti-wanti Kakek dan Nenek soal panggilan itu. Karena tidak banyak
orang yang memanggilku dengan sebutan "You" saja, aku jadi tidak
menyadarinya.
Aah,
sesuai dugaan... Nanami melirikku sambil tersenyum geli. Ini sudah pasti saat
bertemu berikutnya aku bakal dipanggil "You-chan".
Kakek
dan Nenek mengobrol hal-hal ringan dengan Nanami untuk beberapa saat, tetapi
karena belum terlalu akrab satu sama lain, percakapan terkadang terhenti
sejenak di sana-sini.
Kakek
memang tidak pandai bicara... namun rasanya beliau sudah berbicara cukup banyak
dengan Nanami.
Beberapa
saat kemudian percakapan terhenti... dan entah mengapa suara Kakek serta Nenek
mulai bergetar.
"Baguslah,
You... Sekarang sudah ada orang yang bisa melihat kebaikan dalam dirimu dengan
jelas..."
"Benar...
sampai bisa mendapatkan gadis seluar biasa ini..."
"Tung...
tunggu, kalian berdua... jangan menangis, dong."
Keduanya
yang mendadak menangis secara kompak berkata, "Kalau sudah tua memang jadi
gampang terharu, ya."
Sambil
berpikir apakah ini sesuatu yang bisa sampai membuat mereka menangis, aku jadi
ingin menyalahkan diriku di masa lalu agar lebih banyak bergaul dengan orang
lain.
Pasti...
mereka berdua sangat mengkhawatirkanku selama ini.
Kakek
memegang erat lututnya sendiri, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di
tempat kepada Nanami.
"Nanami-san,
You... tolong jaga dia baik-baik, ya."
"Saya
juga... mohon bantuannya, ya."
Nenek
pun ikut menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Diperlakukan
seperti itu, aku berpikir Nanami pasti akan panik... tetapi ternyata Nanami
jauh lebih tenang dari dugaan.
Lalu,
sambil tersenyum lembut, Nanami pun menundukkan kepalanya dalam-dalam.
『Sama-sama, mohon
bantuannya untuk jangka waktu yang sangat panjang.』
...Ada
apa dengan kata-kata itu, ya? Rasanya seperti ditujukan kepada Kakek dan Nenek,
namun di saat yang sama juga ditujukan kepadaku.
Saat
mendongakkan kepalanya, Nanami mengedipkan sebelah matanya padaku. Rasanya
seperti benteng pertahanan Kakek dan Nenek pun akhirnya sudah berhasil
ditaklukkan... Itulah yang kurasakan. Dari awal aku memang sudah berserah diri,
tetapi rasanya hal ini makin maju satu langkah ke depan.
Kakek
yang terharu menepuk-nepuk punggungku dengan keras. Rasanya lumayan sakit, sih.
"You,
jangan sampai melepaskannya, ya... Gadis sebaik ini... sangat jarang ada."
"Kalau
ada yang bisa kami bantu, katakan saja apa pun, ya. Kami pasti akan membantu.
Ah, tadi bilang tidak main media sosial, ya? Padahal Nenek main, lho..."
Aku
tidak menyangka Kakek akan memujinya setinggi ini. Rasa gembira karena Nanami
dinilai tinggi dan rasa terkejut datang secara bersamaan. Nenek bahkan malah
berniat saling bertukar kontak.
Meskipun
Nenekku sendiri, bukankah beliau ini terlalu aktif?
Untuk
saat ini, bisa dibilang sesi perkenalan berjalan dengan sangat lancar...
Meski
begitu, perkataan Nenek... soal membantu, ya...
"Aah...
kalau begitu, bisakah aku minta tolong satu hal sekarang?"
Kakek,
Nenek, dan juga Nanami yang memiringkan kepala penasaran... dengan tenang
mendengarkan apa yang baru saja terlintas di dalam benakku.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment