NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 12 Interlude I

Interlude 1

Menjadikan Mereka Sekutu


Sama sekali tidak disangka, setelah pulang ke kampung halaman aku malah bertemu dengan Kakek dan Neneknya Youshin. Tidak hanya itu... aku bahkan tak pernah menduga kalau Youshin akan mengajukan permohonan seperti itu...

 

Sambil memikirkan hal yang tak pernah terbayangkan itu, keesokan harinya aku melakukan panggilan video dengan Youshin.

 

"Youshin, ini... Kakek dan Nenekku. Kakek, Nenek, ini Misumai Youshin-kun yang sedang berpacaran denganku."

 

Se... selamat siang, saya Misumai Youshin yang berpacaran dengan Nanami-san.

 

Youshin menyapa Kakek dan Nenekku dengan wajah yang terlihat sedikit tegang. Kelihatannya seperti melihat diriku sendiri yang kemarin.

 

Kakek dan Nenek menyaksikan sapaan Youshin dengan tersenyum sangat lebar.

 

"Begitu, ya, begitu, ya... Kamu pacarnya Nanami-chan... Nanami-chan yang dulunya masih sangat kecil itu... sekarang sudah mau menikah, ya..."

 

"Duh, Kakek, bukankah itu masih terlalu cepat? Masih cepat... kan? Lagipula, kita juga harus memperkenalkan diri, kalau tidak pacarnya... Misumai-kun jadi serba salah, lho."

 

Kakek~, aku tahu Kakek terharu sampai mau menangis, tapi pemikirannya terlalu cepat~. Walaupun aku tidak keberatan jika hal itu terjadi di masa depan, tapi untuk sekarang kan masih belum...

 

Eh... tapi kenapa pemikirannya bisa melompat sejauh itu, ya? Padahal aku cuma bilang kalau kami berpacaran. Jangan-jangan Sayaka atau Ibu yang bicara yang aneh-aneh...?

 

"Saya Koutarou, kakeknya Nanami-chan."

 

"Kalau Nenek namanya Chizuru. Kamu boleh memanggil Nenek 'Chizuru-chan', lho?"

 

Nenek?!

 

Aah, tuh kan, Youshin jadi makin kebingungan. Tentu saja dia bakal bingung kalau mendadak disuruh begitu oleh nenek dari pacarnya sendiri.

 

"Lalu... Nenek mendengar Youshin-kun punya permohonan untuk kami?"

 

Ah, Kakek mengulurkan bantuan. Youshin tampak bernapas lega. Untuk menata kembali situasi, Youshin menegakkan posisi duduknya.

 

Sebenarnya... pada liburan musim dingin kali ini, saya berniat pergi berlibur bersama Nanami-san.

 

"Oho, berlibur..."

 

Youshin mengatakan hal itu, lalu menjelaskan garis besar permasalahannya.

 

Beberapa hari lalu, kami beruntung mendapatkan sepasang tiket perjalanan ke onsren... dan kami berniat pergi berlibur pada liburan musim dingin ini. Tempat penginapannya pun sudah dicari dan diperiksa oleh Youshin.

 

Di situlah muncul masalahnya... yaitu membujuk orang tua kami. Apakah Ibu dan yang lainnya akan mengizinkan kami menginap di luar hanya berdua saja?

 

Soal hal itu, awalnya kami berencana memberi mereka minuman agar daya tanggapnya menjadi kacau, lalu menggunakan momentum saat itulah kami meminta persetujuan. Akan tetapi, celahnya terlalu besar. Kalau pengaruh alkoholnya sudah hilang lalu mereka bilang "tetap tidak boleh", ya sudah selesai sampai di situ.

 

Opsi lain yang sempat dipikirkan adalah mengandalkan teman. Tahu sendiri, kan, beberapa waktu lalu Hatsumi dan yang lainnya sempat bilang untuk menyerahkan urusan alibi kepada mereka. Yaitu mengandalkan hal tersebut.

 

Hanya saja, melakukan hal itu risikonya terlalu tinggi. Meskipun hanya 2 hari 1 malam, ini tetap saja menginap di luar... menginap di penginapan tradisional onsen (ryokan). Jika sampai ketahuan, ada kemungkinan akan menyusahkan pihak penginapan.

 

Tentu saja kalau risikonya hanya menimpa diri kami sendiri sih masih mending, tetapi menyusahkan orang di sekitar itu tidak boleh.

 

Oleh karena itu, rencana ini juga tidak bisa dipakai.

 

Saat kami hampir putus asa dan berpikir untuk meminta izin secara langsung saja, toh saat menginap berdua saja di hari Natal kemarin tidak terjadi apa-apa, jadi mereka pasti akan mengizinkan...

 

Tepat pada saat itulah, Youshin mengajukan opsi terakhir.

 

Mari kita jadikan Kakek dan Nenek sebagai sekutu kita.

 

Padahal awalnya aku dan Youshin berencana membujuk orang tua kami setelah pulang dari kampung halaman, tetapi rupanya Youshin mendapat ide untuk membujuk mereka selama masa pulang kampung ini.

 

Ngomong-ngomong, ide itu baru terlintas kemarin. Sepertinya ide itu muncul gara-gara Neneknya Youshin berkata akan "siap membantu".

 

...Sebagai catatan, maksud kata "membantu" dari Neneknya Youshin sebenarnya agak sedikit berbeda, tetapi beliau dengan senang hati memberikan persetujuannya.

 

Padahal Nenek berniat membantu soal biaya pernikahan atau pengasuhan anak dan semacamnya, lho.

 

Saat dikatakan seperti itu, kami tidak bisa berkata-kata lagi.

 

Entah kenapa aku jadi tidak bisa mengetawai perkataan Kakek dan Nenekku yang tadi.

 

Tetapi dalam arti seperti itu pun, memiliki pihak yang mau bekerja sama untuk jangka panjang merupakan hal yang sangat membesarkan hati. Mau dikatakan masih terlalu cepat atau tidak terlalu jauh dari kenyataan pun bisa saja, sih...

 

Tapi bagaimana dengan sekarang, ya? Aku mendengar kalau biaya pernikahan itu mahal, dan ada juga pilihan untuk membuatnya secara sederhana lalu mengalokasikan uangnya untuk perjalanan liburan...

 

...Begitulah masalahnya. Karena itu, kami mohon bantuan Kakek dan Nenek untuk membantu membujuk mereka.

 

"Jadi begitu, ya..."

 

"Wah, wah, indah sekali."

 

Ah... saat aku sedang tenggelam dalam pemikiran, sepertinya penjelasan Youshin sudah selesai. Kakek bersedekap dengan raut wajah yang sulit diartikan, sementara Nenek menopang pipi dengan tangannya.

 

Apakah ini sedikit... sulit?

 

Youshin yang sepertinya juga merasakan keseriusan situasi dari balik layar, mendadak bungkam.

 

Menjelaskan lebih dari ini hanya akan terkesan memaksakan diri, jadi rasanya tidak ada cara lain selain menunggu keputusan mereka.

 

Keheningan ini... keheningan ini sungguh menyiksa. Kenapa Kakek tidak mengatakan apa-apa, ya? Padahal sampai tadi beliau tersenyum lebar, tapi mendadak bersedekap... dan tenggelam dalam pemikiran.

 

Mungkinkah beliau malah marah soal menginap di luar...? Tapi kalau memang marah, tidak biasanya Nenek malah tetap tersenyum menatap Kakek.

 

Soalnya biasanya kalau dimarahi, mereka berdua akan marah secara bersamaan... Jadi ini cukup langka.

 

"Misumai-kun... boleh Kakek menanyakan satu hal?"

 

...!! Ya, tentu saja. Silakan tanyakan berapa saja.

 

Sambil memejamkan sebelah matanya dan mengacungkan jari telunjuknya dengan mantap, Kakek mengarahkan pandangan matanya yang sangat serius kepada Youshin. Tatapan itu seolah-olah sedang menilai sosok pribadi seorang Misumai Youshin.

 

Apa yang ingin ditanyakannya?

 

Rentang waktu sampai Kakek membuka mulut terasa sangat lama, hingga tanpa sadar aku menelan ludah.

 

Entah mengapa, keringat dingin mulai bermunculan. Aku bisa merasakan keringat mengalir membasahi pipiku. Dan... setelah memberikan jeda waktu yang cukup lama, Kakek pun membuka mulutnya.

 

"Pada perjalanan liburan itu... apakah kamu berniat membuat cicit untuk Kakek?"

 

Tepat pada saat beliau selesai mengucapkannya, tinju Nenek mendarat dengan telak ke arah Kakek. Suara hantaman tumpul pada bagian kepala bergema, membuatku dan Youshin seketika bungkam tak mampu berkata-kata.

 

Kecepatan pukulan yang terlalu cepat itu membuat Youshin mengucek matanya karena tidak memahami apa yang baru saja terjadi dalam sekejap.

 

Lalu dengan agak terlambat...

 

"Kakek bicara apa, sih?!"

 

Aku menyuarakan protes kepada Kakek yang sedang memegangi kepalanya sambil menahan sakit. Youshin bahkan sampai ternganga keheranan di balik layar!!

 

"Ini lumayan sakit, lho! Kamu apa-apaan, sih?"

 

"Itu karena Kakek mendadak membicarakan hal yang tidak sopan setelah sekian lama."

 

"Bicara apa kamu! Bukankah masalah apakah kita bisa melihat cicit tahun depan atau tidak itu hal yang sangat penting?!"

 

"Mereka itu masih pelajar!"

 

"Kalau sudah lewat 15 tahun kan sudah dewasa! Kami bakal mendukung penuh, jadi tidak usah khawatir."

 

Entah mengapa, perkelahian antara Kakek dan Nenek malah dimulai dengan mengabaikan kami sebagai pihak utama. Youshin yang panik di balik layar... menguatkan suaranya demi menghentikan perkelahian itu.

 

A... anu...!! Kami berdua masih belum... hal seperti itu...

 

"...Belum melakukannya? Yang benar saja?"

 

"...Eh...? Sama sekali belum?"

 

Kakek dan Nenek tersontak kaget lalu melihat ke arahku. Oleh karena itu, sambil merasa sedikit malu, aku menganggukkan kepala secara perlahan.

 

Ya, kami belum melakukan apa-apa. Baru sampai ciuman saja. Kakek dan Nenek bergantian menatap wajahku dan Youshin dengan mata terbelalak keheranan.

 

"...Kamu ini punya keberanian sebagai laki-laki tidak, sih?"

 

Ah, Kakek dipukul lagi. Mana bunyinya lumayan nyaring pula.

 

Sama sekali tak disangka aku akan menyaksikan interaksi Kakek dan Nenek yang seperti ini, sungguh membuatku sedikit kaget.

 

Tidak, mungkin tanda-tandanya memang sudah ada sejak dulu, sih. Tapi kalau sampai sejelas ini...

 

"Apakah ini yang namanya perbedaan zaman, ya? Padahal waktu zaman Kakek dan Nenek masih SMA dulu, anak laki-laki maupun perempuan seperti saling berlomba siapa yang paling cepat melakukannya..."

 

"Lingkungan Kakek saja yang terlalu tidak beraturan."

 

"Anak yang dibesarkan di sekolah putri memang beda cara bicaranya, ya... Padahal dulu kamu dengan mudahnya ikut bersama orang seperti Kakek ini."

 

"Benar juga. Tersedot oleh bujukan Kakek adalah salah satu kehilafan terbesar dalam hidup saya."

 

Meskipun saling berdebat sengit, tidak terasa aura permusuhan di antara mereka berdua. Senandika mereka terasa seperti saling melempar gurauan sambil tertawa bersama.

 

Lagipula, aku tidak pernah mendengar cerita masa lalu Kakek dan Nenek yang seperti itu, jadi aku agak penasaran ingin mendengar bagaimana awal mula mereka bertemu.

 

Karena mereka berdua terus berdebat tanpa memedulikan kami untuk beberapa saat, aku memutuskan untuk menyelamatkan Youshin yang sedang kebingungan.

 

"Aduh, kamu disindir habis-habisan, ya."

 

Apakah ini yang dinamakan generation gap...?

 

"Kalau Youshin menyentuhku lebih cepat, hal seperti ini tidak akan terjadi..."

 

Tunggu dulu, apakah ada alasannya disalahkan hanya karena tidak menyentuhmu?

 

Ada tahu~ pikirku, tetapi... yah, karena aku tidak menyesali pilihan saat itu, tidak masalah, sih. Tapi hal itu adalah satu hal, dan ini adalah hal lain.

 

Selama ada elemen yang bisa diolah untuk menggodanya, aku akan menggodanya sepuasnya....Ngomong-ngomong soal menggoda, aku sampai lupa soal sebutan "You-chan". Kalau itu, mungkin disimpan untuk kencan berikutnya saja kali, ya.

 

Youshin sendiri tampak bergidik keheranan melihat keagresifan orang-orang zaman dulu, tapi bagaimana, ya? Sejauh mendengar cerita tadi, rasanya Kakek saja yang agak khusus.

 

Untuk saat ini, sambil memperhatikan interaksi mereka berdua, aku pun menikmati momen menggoda yang sudah lama tidak kurasakan ini. Setelah beberapa saat, Kakek kembali menghadap ke arah Youshin.

 

"Ehem, yah... kesimpulannya, Kakek tidak keberatan untuk membantu kalian."

 

Apakah itu benar...? Terima kasih banyak.

 

"Hanya saja kalau begitu... ada satu hal lagi yang ingin Kakek tanyakan."

 

Ah, Nenek memasang kuda-kuda tinjunya.

 

Youshin... kali ini tampak meringis ketakutan sambil tetap berkata "silakan" kepada Kakek.

 

"Tadi Kakek sempat bilang soal menikah atau semacamnya... tapi sejujurnya, walau terdengar kurang enak, ini kan percintaan tingkat pelajar. Kita tidak tahu ke depannya akan jadi seperti apa... Lagipula, sebagian besar orang seumuran di dunia ini pasti akan berakhir putus atau semacamnya."

 

Nada bicara Kakek terasa jauh lebih santai daripada sebelumnya, dan entah mengapa terasa agak lebih kasar dari biasanya. Itu adalah suasana yang baru pertama kali kudengar dari Kakek...

 

Namun Nenek tidak melakukan apa-apa, dan justru membuka kepalan tangannya.

 

"Dengan percintaan anak SMA yang seperti itu, pergi berlibur dan menginap... kamu... ingin menjadi seperti apa bersama Nanami-chan?"

 

Saya ingin terus bersamanya. Termasuk dalam artian jangka panjang di masa depan.

 

Jawaban instan.

 

Mungkin hal itu juga di luar dugaan Kakek, hingga beliau membelalakkan matanya terkejut. Apakah beliau mengira akan ada keraguan atau semacamnya, hingga beliau sampai tidak bisa menyambung kata-kata berikutnya.

 

Setelah terkejut sejenak... sebuah senyuman menyeringai terukir di sudut mulutnya.

 

"Kakek ini tipe orang tua, ya. Kakek sangat suka pria yang tidak banyak omong kosong, melainkan membuktikannya lewat tindakan."

 

Kalau demi Nanami, saya punya tekad untuk melakukan apa saja.

 

"Dasar bodoh, sebagai laki-laki jangan gampang mengucapkan hal seperti itu. Tapi, keberanianmu boleh juga."

 

Kakek terlihat sangat menikmati momen ini.

 

Jangan-jangan beliau memang sangat menyukai interaksi seperti ini? Penasaran interaksi seperti apa yang dulu dilakukannya bersama Ayah.

 

Meskipun rasanya seperti stress interview, Youshin tidak meruntuhkan ekspresi seriusnya sedikit pun.

 

Melihat sikapnya yang seperti itu, Kakek makin tertawa lebar.

 

"Yah, yang namanya perasaan kan tidak ada yang tahu akan jadi seperti apa. Tapi, kalaupun nanti harus putus, putuslah secara baik-baik. Pengalaman patah hati yang benar akan membuat mental seseorang tumbuh dewasa dengan pesat."

 

Kalau itu membuat saya kesulitan...

 

Eh? Kesulitan?

 

Mendengar Youshin yang mendadak berkata merasa kesulitan, aku sedikit mengerutkan dahi. Saat aku bertanya-tanya kenapa dia merasa kesulitan...

 

Karena saya tidak berniat untuk putus dari Nanami, sepertinya tidak akan ada pertumbuhan mental lebih lanjut dari hal itu.

 

Di sinilah untuk pertama kalinya Youshin melepas ekspresi seriusnya, lalu tertawa dengan tampak begitu gembira. Meskipun sedikit terkesan dramatis, entah kenapa itu terlihat sangat keren...

 

Aku, Kakek, dan Nenek seketika bungkam mendengar perkataan Youshin tersebut.

 

Mungkin karena merasa malu setelah mengucapkannya, Youshin bergumam kecil, Cuma... bercanda, deng... demi menutupi rasa malunya, yang terlihat sangat menggemaskan.

 

Jika saja Youshin ada di tempat ini saat ini juga, aku pasti sudah memeluk dan menghempaskannya ke tempat tidur.

 

Setelah keheningan berlangsung sejenak...

 

Kakek dan Nenek tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang bergema di seluruh penjuru rumah itu terasa begitu menyenangkan dan penuh kegembiraan... siapa pun yang melihatnya pasti tahu bahwa itu adalah tawa yang dipenuhi rasa gembira.

 

Youshin yang ditertawakan terlihat makin malu...

 

"Wah, kamu benar-benar orang yang menarik, ya. Tapi yah, seperti yang Kakek katakan tadi, Kakek tidak percaya hanya dari kata-kata saja, buktikanlah sampai akhir lewat tindakanmu."

 

B... baik. Saya mengerti.

 

"Kakek menantikan cerita oleh-oleh mengenai bagaimana tindakanmu terhadap Nanami-chan selama perjalanan liburan nanti, ya."

 

Mendengar perkataan Kakek tersebut, Youshin mengucapkan terima kasih dengan gembira sambil menundukkan kepalanya. Nenek pun tampak sangat gembira, namun...

 

Eh? Apakah ini berarti... kami harus menceritakan pengalaman liburan kami kepada Kakek dan Nenek nanti?

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Dengan demikian, kami berhasil membuat Kakek dan Nenek menjadi sekutu kami. Namun tentu saja, membujuk Ayah dan Ibu setelahnya tetap memerlukan... perjuangan yang cukup keras.

 

Meskipun demikian, pada akhirnya Ayah dan Ibu bisa menerima dan mengerti. Setelah melewati berbagai lekuk liku perjuangan... kami berhasil mendapatkan izin untuk pergi berlibur ke pemandian air panas dengan selamat.

 


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close