Interlude 1
Menjadikan Mereka Sekutu
Sama
sekali tidak disangka, setelah pulang ke kampung halaman aku malah bertemu
dengan Kakek dan Neneknya Youshin. Tidak hanya itu... aku bahkan tak pernah
menduga kalau Youshin akan mengajukan permohonan seperti itu...
Sambil
memikirkan hal yang tak pernah terbayangkan itu, keesokan harinya aku melakukan
panggilan video dengan Youshin.
"Youshin,
ini... Kakek dan Nenekku. Kakek, Nenek, ini Misumai Youshin-kun yang sedang
berpacaran denganku."
『Se... selamat
siang, saya Misumai Youshin yang berpacaran dengan Nanami-san.』
Youshin
menyapa Kakek dan Nenekku dengan wajah yang terlihat sedikit tegang.
Kelihatannya seperti melihat diriku sendiri yang kemarin.
Kakek
dan Nenek menyaksikan sapaan Youshin dengan tersenyum sangat lebar.
"Begitu,
ya, begitu, ya... Kamu pacarnya Nanami-chan... Nanami-chan yang dulunya masih
sangat kecil itu... sekarang sudah mau menikah, ya..."
"Duh,
Kakek, bukankah itu masih terlalu cepat? Masih cepat... kan? Lagipula, kita
juga harus memperkenalkan diri, kalau tidak pacarnya... Misumai-kun jadi serba
salah, lho."
Kakek~,
aku tahu Kakek terharu sampai mau menangis, tapi pemikirannya terlalu cepat~.
Walaupun aku tidak keberatan jika hal itu terjadi di masa depan, tapi untuk
sekarang kan masih belum...
Eh...
tapi kenapa pemikirannya bisa melompat sejauh itu, ya? Padahal aku cuma bilang
kalau kami berpacaran. Jangan-jangan Sayaka atau Ibu yang bicara yang
aneh-aneh...?
"Saya
Koutarou, kakeknya Nanami-chan."
"Kalau
Nenek namanya Chizuru. Kamu boleh memanggil Nenek 'Chizuru-chan', lho?"
Nenek?!
Aah,
tuh kan, Youshin jadi makin kebingungan. Tentu saja dia bakal bingung kalau
mendadak disuruh begitu oleh nenek dari pacarnya sendiri.
"Lalu...
Nenek mendengar Youshin-kun punya permohonan untuk kami?"
Ah,
Kakek mengulurkan bantuan. Youshin tampak bernapas lega. Untuk menata kembali
situasi, Youshin menegakkan posisi duduknya.
『Sebenarnya...
pada liburan musim dingin kali ini, saya berniat pergi berlibur bersama
Nanami-san.』
"Oho,
berlibur..."
Youshin
mengatakan hal itu, lalu menjelaskan garis besar permasalahannya.
Beberapa
hari lalu, kami beruntung mendapatkan sepasang tiket perjalanan ke onsren...
dan kami berniat pergi berlibur pada liburan musim dingin ini. Tempat
penginapannya pun sudah dicari dan diperiksa oleh Youshin.
Di
situlah muncul masalahnya... yaitu membujuk orang tua kami. Apakah Ibu dan yang
lainnya akan mengizinkan kami menginap di luar hanya berdua saja?
Soal
hal itu, awalnya kami berencana memberi mereka minuman agar daya tanggapnya
menjadi kacau, lalu menggunakan momentum saat itulah kami meminta persetujuan. Akan
tetapi, celahnya terlalu besar. Kalau pengaruh alkoholnya sudah hilang lalu
mereka bilang "tetap tidak boleh", ya sudah selesai sampai di situ.
Opsi
lain yang sempat dipikirkan adalah mengandalkan teman. Tahu sendiri, kan,
beberapa waktu lalu Hatsumi dan yang lainnya sempat bilang untuk menyerahkan
urusan alibi kepada mereka. Yaitu mengandalkan hal tersebut.
Hanya
saja, melakukan hal itu risikonya terlalu tinggi. Meskipun hanya 2 hari 1 malam,
ini tetap saja menginap di luar... menginap di penginapan tradisional onsen (ryokan).
Jika sampai ketahuan, ada kemungkinan akan menyusahkan pihak penginapan.
Tentu
saja kalau risikonya hanya menimpa diri kami sendiri sih masih mending, tetapi
menyusahkan orang di sekitar itu tidak boleh.
Oleh
karena itu, rencana ini juga tidak bisa dipakai.
Saat
kami hampir putus asa dan berpikir untuk meminta izin secara langsung saja, toh
saat menginap berdua saja di hari Natal kemarin tidak terjadi apa-apa, jadi
mereka pasti akan mengizinkan...
Tepat
pada saat itulah, Youshin mengajukan opsi terakhir.
『Mari kita jadikan
Kakek dan Nenek sebagai sekutu kita.』
Padahal
awalnya aku dan Youshin berencana membujuk orang tua kami setelah pulang dari
kampung halaman, tetapi rupanya Youshin mendapat ide untuk membujuk mereka
selama masa pulang kampung ini.
Ngomong-ngomong,
ide itu baru terlintas kemarin. Sepertinya ide itu muncul gara-gara Neneknya Youshin
berkata akan "siap membantu".
...Sebagai
catatan, maksud kata "membantu" dari Neneknya Youshin sebenarnya agak
sedikit berbeda, tetapi beliau dengan senang hati memberikan persetujuannya.
『Padahal Nenek
berniat membantu soal biaya pernikahan atau pengasuhan anak dan semacamnya,
lho.』
Saat
dikatakan seperti itu, kami tidak bisa berkata-kata lagi.
Entah
kenapa aku jadi tidak bisa mengetawai perkataan Kakek dan Nenekku yang tadi.
Tetapi
dalam arti seperti itu pun, memiliki pihak yang mau bekerja sama untuk jangka
panjang merupakan hal yang sangat membesarkan hati. Mau dikatakan masih terlalu
cepat atau tidak terlalu jauh dari kenyataan pun bisa saja, sih...
Tapi
bagaimana dengan sekarang, ya? Aku mendengar kalau biaya pernikahan itu mahal,
dan ada juga pilihan untuk membuatnya secara sederhana lalu mengalokasikan
uangnya untuk perjalanan liburan...
『...Begitulah
masalahnya. Karena itu, kami mohon bantuan Kakek dan Nenek untuk membantu
membujuk mereka.』
"Jadi
begitu, ya..."
"Wah,
wah, indah sekali."
Ah...
saat aku sedang tenggelam dalam pemikiran, sepertinya penjelasan Youshin sudah
selesai. Kakek bersedekap dengan raut wajah yang sulit diartikan, sementara
Nenek menopang pipi dengan tangannya.
Apakah
ini sedikit... sulit?
Youshin
yang sepertinya juga merasakan keseriusan situasi dari balik layar, mendadak
bungkam.
Menjelaskan
lebih dari ini hanya akan terkesan memaksakan diri, jadi rasanya tidak ada cara
lain selain menunggu keputusan mereka.
Keheningan
ini... keheningan ini sungguh menyiksa. Kenapa Kakek tidak mengatakan apa-apa,
ya? Padahal sampai tadi beliau tersenyum lebar, tapi mendadak bersedekap... dan
tenggelam dalam pemikiran.
Mungkinkah
beliau malah marah soal menginap di luar...? Tapi kalau memang marah, tidak
biasanya Nenek malah tetap tersenyum menatap Kakek.
Soalnya
biasanya kalau dimarahi, mereka berdua akan marah secara bersamaan... Jadi ini
cukup langka.
"Misumai-kun...
boleh Kakek menanyakan satu hal?"
『...ッ!!
Ya, tentu saja. Silakan tanyakan berapa saja.』
Sambil
memejamkan sebelah matanya dan mengacungkan jari telunjuknya dengan mantap,
Kakek mengarahkan pandangan matanya yang sangat serius kepada Youshin. Tatapan
itu seolah-olah sedang menilai sosok pribadi seorang Misumai Youshin.
Apa
yang ingin ditanyakannya?
Rentang
waktu sampai Kakek membuka mulut terasa sangat lama, hingga tanpa sadar aku
menelan ludah.
Entah
mengapa, keringat dingin mulai bermunculan. Aku bisa merasakan keringat
mengalir membasahi pipiku. Dan... setelah memberikan jeda waktu yang cukup
lama, Kakek pun membuka mulutnya.
"Pada
perjalanan liburan itu... apakah kamu berniat membuat cicit untuk Kakek?"
Tepat
pada saat beliau selesai mengucapkannya, tinju Nenek mendarat dengan telak ke
arah Kakek. Suara hantaman tumpul pada bagian kepala bergema, membuatku dan Youshin
seketika bungkam tak mampu berkata-kata.
Kecepatan
pukulan yang terlalu cepat itu membuat Youshin mengucek matanya karena tidak
memahami apa yang baru saja terjadi dalam sekejap.
Lalu
dengan agak terlambat...
"Kakek
bicara apa, sih?!"
Aku
menyuarakan protes kepada Kakek yang sedang memegangi kepalanya sambil menahan
sakit. Youshin bahkan sampai ternganga keheranan di balik layar!!
"Ini
lumayan sakit, lho! Kamu apa-apaan, sih?"
"Itu
karena Kakek mendadak membicarakan hal yang tidak sopan setelah sekian
lama."
"Bicara
apa kamu! Bukankah masalah apakah kita bisa melihat cicit tahun depan atau
tidak itu hal yang sangat penting?!"
"Mereka
itu masih pelajar!"
"Kalau
sudah lewat 15 tahun kan sudah dewasa! Kami bakal mendukung penuh, jadi tidak
usah khawatir."
Entah
mengapa, perkelahian antara Kakek dan Nenek malah dimulai dengan mengabaikan
kami sebagai pihak utama. Youshin yang panik di balik layar... menguatkan
suaranya demi menghentikan perkelahian itu.
『A... anu...!!
Kami berdua masih belum... hal seperti itu...』
"...Belum
melakukannya? Yang benar saja?"
"...Eh...?
Sama sekali belum?"
Kakek
dan Nenek tersontak kaget lalu melihat ke arahku. Oleh karena itu, sambil
merasa sedikit malu, aku menganggukkan kepala secara perlahan.
Ya,
kami belum melakukan apa-apa. Baru sampai ciuman saja. Kakek dan Nenek
bergantian menatap wajahku dan Youshin dengan mata terbelalak keheranan.
"...Kamu
ini punya keberanian sebagai laki-laki tidak, sih?"
Ah,
Kakek dipukul lagi. Mana bunyinya lumayan nyaring pula.
Sama
sekali tak disangka aku akan menyaksikan interaksi Kakek dan Nenek yang seperti
ini, sungguh membuatku sedikit kaget.
Tidak,
mungkin tanda-tandanya memang sudah ada sejak dulu, sih. Tapi kalau sampai
sejelas ini...
"Apakah
ini yang namanya perbedaan zaman, ya? Padahal waktu zaman Kakek dan Nenek masih
SMA dulu, anak laki-laki maupun perempuan seperti saling berlomba siapa yang
paling cepat melakukannya..."
"Lingkungan
Kakek saja yang terlalu tidak beraturan."
"Anak
yang dibesarkan di sekolah putri memang beda cara bicaranya, ya... Padahal dulu
kamu dengan mudahnya ikut bersama orang seperti Kakek ini."
"Benar
juga. Tersedot oleh bujukan Kakek adalah salah satu kehilafan terbesar dalam
hidup saya."
Meskipun
saling berdebat sengit, tidak terasa aura permusuhan di antara mereka berdua.
Senandika mereka terasa seperti saling melempar gurauan sambil tertawa bersama.
Lagipula,
aku tidak pernah mendengar cerita masa lalu Kakek dan Nenek yang seperti itu,
jadi aku agak penasaran ingin mendengar bagaimana awal mula mereka bertemu.
Karena
mereka berdua terus berdebat tanpa memedulikan kami untuk beberapa saat, aku
memutuskan untuk menyelamatkan Youshin yang sedang kebingungan.
"Aduh,
kamu disindir habis-habisan, ya."
『Apakah ini yang
dinamakan generation gap...?』
"Kalau
Youshin menyentuhku lebih cepat, hal seperti ini tidak akan terjadi..."
『Tunggu dulu,
apakah ada alasannya disalahkan hanya karena tidak menyentuhmu?』
Ada
tahu~ pikirku, tetapi... yah, karena aku tidak menyesali pilihan saat itu,
tidak masalah, sih. Tapi hal itu adalah satu hal, dan ini adalah hal lain.
Selama
ada elemen yang bisa diolah untuk menggodanya, aku akan menggodanya
sepuasnya....Ngomong-ngomong soal menggoda, aku sampai lupa soal sebutan
"You-chan". Kalau itu, mungkin disimpan untuk kencan berikutnya saja
kali, ya.
Youshin
sendiri tampak bergidik keheranan melihat keagresifan orang-orang zaman dulu,
tapi bagaimana, ya? Sejauh mendengar cerita tadi, rasanya Kakek saja yang agak
khusus.
Untuk
saat ini, sambil memperhatikan interaksi mereka berdua, aku pun menikmati momen
menggoda yang sudah lama tidak kurasakan ini. Setelah beberapa saat, Kakek
kembali menghadap ke arah Youshin.
"Ehem,
yah... kesimpulannya, Kakek tidak keberatan untuk membantu kalian."
『Apakah itu
benar...? Terima kasih banyak.』
"Hanya
saja kalau begitu... ada satu hal lagi yang ingin Kakek tanyakan."
Ah,
Nenek memasang kuda-kuda tinjunya.
Youshin...
kali ini tampak meringis ketakutan sambil tetap berkata "silakan"
kepada Kakek.
"Tadi
Kakek sempat bilang soal menikah atau semacamnya... tapi sejujurnya, walau
terdengar kurang enak, ini kan percintaan tingkat pelajar. Kita tidak tahu ke
depannya akan jadi seperti apa... Lagipula, sebagian besar orang seumuran di
dunia ini pasti akan berakhir putus atau semacamnya."
Nada
bicara Kakek terasa jauh lebih santai daripada sebelumnya, dan entah mengapa
terasa agak lebih kasar dari biasanya. Itu adalah suasana yang baru pertama
kali kudengar dari Kakek...
Namun
Nenek tidak melakukan apa-apa, dan justru membuka kepalan tangannya.
"Dengan
percintaan anak SMA yang seperti itu, pergi berlibur dan menginap... kamu...
ingin menjadi seperti apa bersama Nanami-chan?"
『Saya ingin terus
bersamanya. Termasuk dalam artian jangka panjang di masa depan.』
Jawaban
instan.
Mungkin
hal itu juga di luar dugaan Kakek, hingga beliau membelalakkan matanya
terkejut. Apakah beliau mengira akan ada keraguan atau semacamnya, hingga
beliau sampai tidak bisa menyambung kata-kata berikutnya.
Setelah
terkejut sejenak... sebuah senyuman menyeringai terukir di sudut mulutnya.
"Kakek
ini tipe orang tua, ya. Kakek sangat suka pria yang tidak banyak omong kosong,
melainkan membuktikannya lewat tindakan."
『Kalau demi
Nanami, saya punya tekad untuk melakukan apa saja.』
"Dasar
bodoh, sebagai laki-laki jangan gampang mengucapkan hal seperti itu. Tapi,
keberanianmu boleh juga."
Kakek
terlihat sangat menikmati momen ini.
Jangan-jangan
beliau memang sangat menyukai interaksi seperti ini? Penasaran interaksi
seperti apa yang dulu dilakukannya bersama Ayah.
Meskipun
rasanya seperti stress interview, Youshin tidak meruntuhkan ekspresi
seriusnya sedikit pun.
Melihat
sikapnya yang seperti itu, Kakek makin tertawa lebar.
"Yah,
yang namanya perasaan kan tidak ada yang tahu akan jadi seperti apa. Tapi,
kalaupun nanti harus putus, putuslah secara baik-baik. Pengalaman patah hati
yang benar akan membuat mental seseorang tumbuh dewasa dengan pesat."
『Kalau itu membuat
saya kesulitan...』
Eh?
Kesulitan?
Mendengar
Youshin yang mendadak berkata merasa kesulitan, aku sedikit mengerutkan dahi.
Saat aku bertanya-tanya kenapa dia merasa kesulitan...
『Karena saya tidak
berniat untuk putus dari Nanami, sepertinya tidak akan ada pertumbuhan mental
lebih lanjut dari hal itu.』
Di
sinilah untuk pertama kalinya Youshin melepas ekspresi seriusnya, lalu tertawa
dengan tampak begitu gembira. Meskipun sedikit terkesan dramatis, entah kenapa
itu terlihat sangat keren...
Aku,
Kakek, dan Nenek seketika bungkam mendengar perkataan Youshin tersebut.
Mungkin
karena merasa malu setelah mengucapkannya, Youshin bergumam kecil, 『Cuma... bercanda,
deng...』
demi menutupi rasa malunya, yang terlihat sangat menggemaskan.
Jika
saja Youshin ada di tempat ini saat ini juga, aku pasti sudah memeluk dan
menghempaskannya ke tempat tidur.
Setelah
keheningan berlangsung sejenak...
Kakek
dan Nenek tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang bergema di seluruh penjuru
rumah itu terasa begitu menyenangkan dan penuh kegembiraan... siapa pun yang
melihatnya pasti tahu bahwa itu adalah tawa yang dipenuhi rasa gembira.
Youshin
yang ditertawakan terlihat makin malu...
"Wah,
kamu benar-benar orang yang menarik, ya. Tapi yah, seperti yang Kakek katakan
tadi, Kakek tidak percaya hanya dari kata-kata saja, buktikanlah sampai akhir
lewat tindakanmu."
『B... baik. Saya
mengerti.』
"Kakek
menantikan cerita oleh-oleh mengenai bagaimana tindakanmu terhadap Nanami-chan
selama perjalanan liburan nanti, ya."
Mendengar
perkataan Kakek tersebut, Youshin mengucapkan terima kasih dengan gembira
sambil menundukkan kepalanya. Nenek pun tampak sangat gembira, namun...
Eh?
Apakah ini berarti... kami harus menceritakan pengalaman liburan kami kepada
Kakek dan Nenek nanti?
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Dengan
demikian, kami berhasil membuat Kakek dan Nenek menjadi sekutu kami. Namun
tentu saja, membujuk Ayah dan Ibu setelahnya tetap memerlukan... perjuangan
yang cukup keras.
Meskipun
demikian, pada akhirnya Ayah dan Ibu bisa menerima dan mengerti. Setelah
melewati berbagai lekuk liku perjuangan... kami berhasil mendapatkan izin untuk
pergi berlibur ke pemandian air panas dengan selamat.



Post a Comment