NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 13 Prolog

Prolog

Janji Seorang Pria Konon Seberat Senilai Ribuan Emas


Sebuah janji itu adalah hal yang sangat penting.

 

Penting... atau lebih tepat jika diekspresikan sebagai hal yang berharga?

 

Aku sendiri tidak terlalu paham perbedaan antara penting dan berharga, tetapi rasanya frasa itu jauh lebih pas.

 

Soalnya, frasa "orang yang berharga" rasanya memberikan penekanan tingkat kepentingan yang lebih tinggi ketimbang sekadar "orang yang penting". Mengenai Nanami? Tentu saja Nanami adalah orang yang penting sekaligus berharga bagiku.

 

Tidak, bukannya aku ingin bermain kata-kata soal penting atau berharga... melainkan ini soal apa hal yang paling penting di atas segalanya dari sebuah janji.

 

Langsung ke kesimpulannya saja, aku berpikir bahwa menepati janji adalah hal yang paling penting melebihi apa pun. Pada janji yang diingkari, keharusan berharga mana lagi yang tersisa di dalamnya?

 

Dalam artian seperti itu, janji adalah hal yang unik. Janji itu sendiri sudah berharga, tetapi tindakan menepatinya adalah hal yang paling penting... Lalu, sekali saja diingkari, hal itu tidak akan bisa diperbaiki lagi. Dalam artian tidak dapat diperbaiki lagi, janji itu persis seperti waktu.

 

Aku malah bermain kata-kata lagi, tapi ini sepertinya lebih ke pembahasan rekam jejak, ya. Semakin sering sebuah janji ditepati, semakin bertumpuk pula rasa kepercayaan yang terbangun. Atau lebih tepatnya, keandalan? Ataukah dua-duanya? Kalau terus-menerus membahas perbedaan kata seperti ini, orang-orang mungkin bakal menganggapku cerewet. Aku sendiri kurang paham perbedaan antara kepercayaan dan keandalan.

 

Apakah kepercayaan itu digunakan untuk masa lalu, sedangkan keandalan digunakan untuk masa depan...? Keandalan itu masa depan, rimbanya agak mirip... ah, ini tidak ada hubungannya.

 

Janji itu... adalah hal yang harus ditepati. Menepati juga berarti menjaga. Janji harus dijaga dari rintangan-rintangan yang berpotensi membuatnya teringkari atau tidak bisa ditepati.

 

Seberapa banyak janji yang sudah kubuat hingga saat ini, lalu seberapa banyak janji yang bakal kuingkari di masa depan, dan janji seperti apa yang kelak tidak akan sanggup kujaga?

 

Di dunia ini, janji bertebaran di mana-mana. Dunia ini terbentuk dari janji—di mana ya aku pernah melihat kalimat itu? Kalau tidak salah di salah satu manga.

 

Kenyataan bahwa aku dan Nanami mulai berpacaran dan melanjutkan hubungan ini pun merupakan salah satu bentuk janji. Kenyataan bahwa Ayah dan Ibu menikah pun adalah hasil dari sebuah janji bernama surat nikah.

 

Di masa depan nanti, aku dan Nanami juga pasti akan membuat janji besar semacam itu... menurutku. Walau ini terlalu cepat dan kami harus memperkuat landasan hidup kami terlebih dahulu, sih.

 

Justru karena itulah, aku... kami berdua menepati janji dengan sangat disiplin pada liburan kali ini.

 

Menyangkut masa depan dan menggabungkan berbagai hal lainnya... kami berdua berjanji tidak akan... melampaui batas saat hanya tinggal berduaan. Lagipula, pikirkan pihak penginapan yang telah memberi kami tempat menginap, orang tua kami, hingga kakek dan nenek yang telah mendukung kami. Jika sampai melanggar janji, kami tidak akan punya muka lagi di hadapan mereka.

 

Ya, kami berhasil menjaga janji dengan mereka sampai akhir tanpa cela.

 

...Eh? Bukankah kemarin kalian berada di ambang batas yang sangat berbahaya?

 

Kalau yang itu kan, bukannya masih aman? Lagipula kami tidak melakukannya secara paksa, kami benar-benar menjaga akal sehat, dan pada akhirnya tidak terjadi apa-apa, jadi bukankah itu bagus?

 

Meskipun baru saja menepati janji, aku merasa diriku seperti orang bermuka dua yang licik, dan ini murni pembenaran atas hasil akhir belakangan. Sungguh, aku sendiri bingung sedang bicara apa. Namun memang benar ada momen yang berbahaya, tetapi meski begitu janji tersebut tetap kami tepati. Daripada merendahkan diri, hal itu justru adalah sesuatu yang patut dibanggakan.

 

Begitulah, kami berdua benar-benar merasakan pentingnya sebuah janji... Namun sebenarnya saat ini, kami sedang berada dalam kondisi yang agak membingungkan.

 

Aku akan sangat bersyukur jika kamu menganggap permainan kata-kataku yang berlebihan sejak tadi disebabkan oleh hal tersebut.

 

Mengapa begitu? Karena pentingnya menepati janji ini... mendadak goyah dari akarnya. Apalagi, hal itu digoyahkan oleh sosok yang kepadanya kami mengikrarkan janji tersebut.

 

...Kalian ini, kenapa malah menepati janjinya secara polos begitu, sih...?

 

Kalau dikatakan hal seperti ini, siapa pun pasti bakal bingung.

 

"Eeeeeh...?"

 

"Kakek... seriusan bilang begitu...?"

 

Atas satu kalimat yang diucapkan tanpa beban tersebut, aku menganga sangat lebar hingga rasanya rahangku mau lepas, lalu tanpa sadar mengerang bingung.

 

Nanami pun kelihatan sangat heran dan tidak habis pikir atas kalimat tersebut. Namun, sosok yang melontarkan kalimat itu dari balik telepon pun memasang raut wajah heran yang tak kalah dari Nanami.

 

"Anu... apakah Kakek mencurigai kami? Kami tidak berbohong, kok."

 

...Ah, soal itu Kakek paham. Kakek tahu kamu bukan tipe orang yang suka berbohong... jadi Kakek tidak curiga. Justru karena Kakek tidak curiga makanya Kakek heran, kenapa kalian malah menepati janji itu secara polos begitu...

 

Di tengah-tengah pembicaraan, suara yang sangat nyaring terdengar dari balik ponsel.

 

Plaakk!

 

Suara tebasan yang seakan membelah udara.

 

Yup, itu adalah suara Kakek Nanami yang baru saja digampar oleh Nenek. Kecepatan tangannya luar biasa, setidaknya aku sendiri sampai melewatkan momen tersebut. Ini adalah versi kebalikan dari frasa jika bukan aku yang melihatnya pasti bakal terlewat. Aku benar-benar tidak bisa melihatnya.

 

Hal yang kupahami hanyalah hasil akhir bahwa beliau telah dipukul, dan itu pun kupahami berdasarkan suara dan gerakannya.

 

...Ooi, apa-apaan kamu ini?!

 

...Apanya yang 'apa-apaan'! Bukannya memuji anak muda yang sudah menepati janji, malah mencelanya!

 

...Siapa yang mencela, aku cuma tercengang tahu! Kenapa mereka benar-benar menepati janji itu, sih. Aku terlalu kagum sampai-sampai malah jadi kaget sendiri!

 

...Janji itu memang diciptakan untuk ditepati, tahu!! Lagipula, sebelum mereka berangkat liburan kan kamu sendiri yang merepotkan mereka dengan terus-menerus menyuruh mereka menjaga batas!!

 

Aah, pertengkaran suami istri meletus di balik telepon.

 

Tidak, apakah hal ini bisa disebut pertengkaran suami istri?

 

Aku dan Nanami saling bertatapan, lalu menyunggingkan senyum tawar.

 

Jadi, mengenai apa yang sedang kami lakukan saat ini... kami sedang mengadakan sesi laporan liburan kepada Kakek dan Nenek Nanami. Lokasinya berada di kamar Nanami, dan kami sedang melakukan panggilan video lewat ponsel dengan mereka berdua.

 

Mengapa kami melakukan hal semacam ini... mungkin ada yang bertanya-tapa, tetapi alasannya murni karena beliau bilang ingin mendengar ceritanya secara langsung.

 

Saat liburan telah berakhir dan rasa enggan mulai menyelimuti karena libur musim dingin tinggal tersisa sedikit lagi, permintaan tersebut datang bukan hanya untuk Nanami, melainkan jika berkenan, aku pun diminta untuk ikut.

 

Tentu saja aku boleh menolaknya, tetapi dari pihakku sendiri, aku ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung atas dorongan dan dukungan mereka untuk liburan kami, jadi aku menyetujuinya.

 

Lagipula, Kakek Nanami kan dulu sempat bilang padaku untuk membuktikannya lewat tindakan, bukan sekadar kata-kata. Tindakan lebih penting daripada kata-kata, begitu kan.

 

Justru karena itulah aku menepati janji kami, dan sesuai dengan ucapan beliau, aku menyampaikan apa yang terjadi secara jujur... sampai batas tertentu.

 

Sampai batas tertentu saja, ya. Tidak mungkin kan, aku bilang kalau aku mandi berdua bersama Nanami, atau ketidaksengajaan berpapasan di pemandian air panas tadi pagi. Soal hal itu saja kami tidak mengatakannya kepada orang tua kami.

 

Karena kami tidak melakukan hal yang tidak-tidak, kikiranya pasti bakal aman... tetapi siapa sangka, jawaban yang kembali justru kata-kata di luar dugaan seperti tadi.

 

Kalau begini sih, wajar saja kalau kami jadi kebingungan.

 

"Apa yang dikatakan Nenek memang benar kok, tentu saja kami menepati janji itu..."

 

...Mana ada benar atau tidak benarnya! Padahal itu liburan cuma berduaan saja, lho? Tidak ada pengawasan orang tua sama sekali, kan? Mumpung merasa bebas, tidak ada salahnya kan kalau agak kelewat batas sedikit, atau malah bablas sekalian...

 

...Hentikan cara bicaramu yang tidak sopan itu, Dasar Kakek-kakek Tua!!

 

Ah, beliau dipukul Nenek lagi. Kali ini pukulan beliau agak lambat jadi aku pun bisa melihatnya... tapi bukan itu masalahnya. Beliau dipukul dengan cukup santai dan beruntun.

 

Lagipula, gaya bicara Nenek juga berbeda jauh dari kesan pertama. Beliau dulu sempat bilang kalau beliau lulusan sekolah putri bangsawan, dan saat pertama kali berbicara pun kesannya jauh lebih anggun. Bukannya beliau yang sekarang terkesan kasar, sih. Hanya saja, gaya bicaranya sudah jauh lebih santai dan lepas.

 

Kakek yang dipukul pun sepertinya tidak mengalami dampak apa pun, dan kalau bukan perasaanku saja, beliau justru malah terlihat menikmati hal tersebut.

 

Hanya saja Nanami, yang melihat interaksi mereka berdua, tampak merasa heran dan geleng-geleng kepala.

 

"Kakek dan Nenek... terlalu bersemangat..."

 

"...Mereka bersemangat, ya?"

 

Sepertinya, dugaan bahwa beliau terlihat menikmati hal itu memang bukan sekadar perasaanku saja. Menurut penilaian Nanami, pihak Nenek pun tampaknya ikut bersemangat.

 

Yah, mereka kan pasangan suami istri, jadi interaksi seperti itu pasti terasa menyenangkan bagi mereka.

 

"Aku juga sebenarnya tidak tahu, sih... Kakek ternyata lumayan suka lelucon yang agak tidak sopan begitu... Katanya berbicara dengan Youshin tanpa perlu ada yang disembunyikan itu terasa sangat menyenangkan."

 

...Nanami-chan, itu salah paham tahu. Soal lelucon dewasa begitu kan pada dasarnya semua orang memang suka.

 

"Aku tidak berniat membantahnya, sih, tapi bukankah itu tergantung situasi dan kondisinya...?"

 

Subjek pembicaraannya terlalu luas.

 

Aku sendiri tidak akan mengucapkannya atas inisiatif sendiri, walau kalau mendengarnya kadang ikut tertawa juga, sih. Soal tergantung situasi dan kondisi... yah untuk situasi saat ini, rasanya diucapkan pun tidak masalah, kan.

 

Tampaknya ini adalah salah satu sisi dari Kakek yang belum pernah diketahui oleh Nanami sendiri. Soal hal ini, rasanya jejak-jejaknya memang sudah sempat terlihat sedikit saat kami berbincang sebelumnya.

 

"Terkesan aneh kalau diucapkan, tapi Kalian berdua benar-benar terlihat sangat rukun, ya..."

 

"Apakah itu yang biasa disebut semakin sering bertengkar semakin rukun? Aku sendiri tidak menyangka kalau Kakek dan Nenek ternyata serukun ini dalam hal seperti ini."

 

...Kami ini sudah jadi suami istri tanpa pernah berpisah sampai di usia tua begini, tahu. Rasa sungkan satu sama lain itu mana ada lagi di saat-saat seperti sekarang.

 

...Kalau dari pihak saya, rasanya tidak masalah kalau Anda bisa sedikit lebih tahu sungkan, lho.

 

...Lihat kan? Dingin sekali, ya, Istriku ini.

 

Di balik layar ponsel, interaksi yang mirip dengan pasangan komedian terus berlanjut. Melihat hal tersebut, Nanami sampai memegang kepalanya seakan sedang menahan rasa pusing.

 

"Ngomong-ngomong, apa sih rahasia keharmonisan rumah tangga Anda berdua?"

 

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku murni karena rasa ingin tahu, atas keharmonisan yang berbeda dari orang tuaku maupun orang tua Nanami. Namun menanggapi kata-kataku tersebut... eh?

 

Keduanya mendadak memasang raut wajah yang tampak serba salah.

 

...Harmonis... harmonis ya. Apakah yang seperti ini bisa disebut harmonis?

 

...Bagaimana ya? Kami sendiri sudah tidak tahu sudah berapa kali bertengkar. Jika dibilang harmonis sampai ke tingkat yang tenang dan damai, rasanya masih sangat jauh dari itu...

 

...Tampaknya bagi mereka berdua, kehidupan rumah tangga mereka tidak bisa dibilang harmonis secara konvensional. Disebut tidak bisa dibilang tenang, memangnya kehidupan seperti apa yang telah mereka jalani selama ini, ya?

 

Meski begitu, keberhasilan mereka untuk tetap bersama dalam jangka waktu yang sangat panjang pasti memiliki alasan tersendiri.

 

...Yah, walau terkesan klise, mungkin jawabannya adalah saling berkompromi pada hal-hal yang bisa dikompromikan? Pada awalnya memang terasa baik-baik saja, tapi kalau sudah bersama dalam waktu lama, hal-hal yang bikin kesal pasti bakal bermunculan.

 

...Benar sekali. Mulai dari selera makanan, cara mandi, hingga penggunaan kamar mandi... Jika hal-hal kecil yang tak terhitung jumlahnya itu tidak dikompromikan, semuanya tidak akan berjalan lancar...

 

Kompromi, ya.

 

Bagi kami yang sekarang, kata itu terasa belum begitu merasuk ke dalam benak. Rasanya tidak ada hal yang membuat aku dan Nanami harus saling berkompromi sejauh itu...

 

...Apakah soal melakukan hal-hal mesum atau tidak itu termasuk ke dalam bentuk kompromi?

 

Mendadak merasa penasaran, aku melirik pelan ke arah Nanami, dan Nanami pun ikut melirik ke arahku secara bersamaan. Sepertinya memikirkan hal yang sama, kami merasa agak canggung dan langsung memalingkan pandangan seketika.

 

Kompromi... kompromi, ya. Selama ini aku tidak terlalu menyadarinya, tapi apakah kelak bakal ada momen di mana kami harus melakukannya secara sadar?

 

Saat kami berdua sedang merasakan kecanggungan satu sama lain seperti itu, di balik layar ponsel pun Kakek melirikkan matanya pelan ke arah Nenek.

 

Semangat yang ada sampai tadi mendadak seperti runtuh begitu saja...?

 

Melihat gerakan tersebut, baik aku maupun Nanami sama-sama memiringkan kepala bingung. Atau lebih tepatnya, Nenek yang ada di balik ponsel pun ikut memiringkan kepalanya.

 

...Ah, tapi bagaimanapun juga... mmm...

 

Cara bicaranya mendadak terasa agak ragu-ragu dan tidak lugas. Sulit dipercaya kalau beliau adalah orang yang sama dengan yang melontarkan berbagai hal dengan sangat lugas sampai beberapa saat yang lalu.

 

Kakek menyilangkan tangannya beberapa kali, mengubah posisi silangan kakinya, melirik-lirik ke arah Nenek... lalu menggaruk-garuk kepalanya dengan kencang sebelum akhirnya menghembuskan napas seakan telah memantapkan tekad.

 

Sebuah helaan napas panjang... atau lebih tepatnya terkesan seperti semacam teknik pernapasan.

 

...Jika ada satu hal yang paling penting di atas segalanya... Jawabannya hanyalah untuk tidak pernah mengkhianati wanita yang telah dicintai.

 

Pipi Kakek yang mengucapkan kalimat tunggal tersebut merona merah sampai-sampai bisa terlihat jelas meskipun hanya lewat layar ponsel. Beliau memasang raut wajah yang terkesan cemberut dan tidak senang...

 

Mendengar hal tersebut, Nenek yang tadinya memperlihatkan ekspresi berbeda kini menyunggingkan senyuman yang sangat lembut. Kedua pipinya yang tersenyum hangat itu pun merona merah tipis. Beliau kemudian melangkah pelan mendekati Kakek, lalu duduk kembali di sampingnya.

 

Sembari merasa agak malu-malu, beliau menumpukkan tangannya di atas tangan Kakek secara perlahan.

 

...Saya pun sama, tidak akan pernah mengkhianati pria yang telah saya cintai.

 

...Baguslah kalau begitu.

 

Meskipun balasannya terdengar sangat acuh tak acuh, Nenek yang merasa gembira atas jawaban tersebut justru makin memperdalam senyumannya. Rasanya seolah-olah ada bunga-bunga yang bermekaran di sekitar mereka...

 

Tunggu, jangan mendadak berubah jadi sangat menggemaskan begini dong, kalian berdua... Dan barusan tadi mereka melakukan hal yang mirip seperti pertengkaran, tetapi kali ini... suasana mesra rasanya mulai tercipta di balik layar ponsel.

 

Tidak, bukannya mereka secara eksplisit sedang bermesraan, sih. Hanya saja entah mengapa, suasana di sekitarnya... membuat mulutku mendadak terasa manis.

 

Apakah ini cuma perasaanku saja? Perasaanku saja mungkin, tapi dalam berbagai artian ini terasa amat manis.

 

Aku jadi ingin mengucapkan terima kasih atas hidangan manis ini (gochisousama). Tolong jangan bermesraan dalam situasi seperti ini, dong. Rasanya jadi agak canggung dengan nuansa yang berbeda.

 

Aku dan Nanami saling bertatapan, lalu menyunggingkan senyum tawar sekali lagi.

 

"Meskipun begitu... Kakek, tidak menyangka kamu bakal bilang hal yang sama ke Youshin..."

 

"Soal yang tadi? Jangan-jangan Kakek juga bilang hal yang sama ke Nanami...?"

 

"Beliau menanyakan apakah sampai menyelinap ke kamar untuk main belakang (yobai)... Terus hampir saja... mana mungkin aku melakukannya, kan."

 

Bukankah tadi ada salah ucap yang tidak bisa diabaikan begitu saja? Apa maksudnya hampir saja? Lagipula, bukankah menyelinap ke kamar (yobai) itu hal yang dilakukan oleh pria?

 

Padahal aku cuma menyanggahnya di dalam hati, tetapi tampaknya kalimat itu terucap keluar, sehingga Nanami merespons poin bahwa yobai adalah hal yang dilakukan pria... lalu dia mulai menjelaskan pemikirannya tentang yobai secara sungguh-sungguh.

 

Tidak, bukan begitu, Nanami. Aku bukannya ingin memperluas topik itu, melainkan murni cuma penasaran...

 

Tunggu, aku tidak akan melakukan hal semacam itu kok, ya?

 

Di zaman sekarang, menyelinap ke kamar seperti itu tentu tidak boleh, kan. Setidaknya kalau dilakukan oleh pria.

 

Eh? Kalau atas persetujuan bersama...? Tidak, tidak, tidak, bukan begitu maksudnya. Atau lebih tepatnya, menyelinap ke kamar itu bagaimana caranya... bukan, bukan itu...

 

Saat melirik pelan ke arah ponsel, di balik layar masih terpancar atmosfer yang terasa sedikit manis. Apakah ini yang dinamakan 'dunia milik berdua'... pikirku, tetapi tiba-tiba.

 

...Soal menyelinap ke kamar itu, kalau sengaja tidur di kamar yang terpisah justru efeknya bakal makin ampuh, lho...

 

...Hentikan Bicara Seperti Itu!!

 

Rasanya seperti mendengar gema suara gong pertandingan.

 

Yup, pertengkaran meletus kembali. Padahal rasanya sudah persis bertubi-tubi.

 

...Mumpung ada kesempatan, mari kupastikan sekali lagi kepada Nanami.

 

"...Nanami, sejauh mana kamu bercerita?"

 

"...Sejauh mana apanya?"

 

"Mengesampingkan soal menyelinap ke kamar dan semacamnya... soal... malam saat liburan..."

 

Aku berbisik dengan volume suara yang tidak akan terdengar oleh mereka di balik telepon. Kalau dipikir-pikir, rasanya lebih baik matikan suara panggilannya saja, sih. Namun saat itu pikiranku tidak sampai ke sana.

 

Sejauh mana... maksudnya adalah hal apa saja yang telah kami lakukan secara spesifik. Seberapa rinci hal itu diceritakan olehnya. Mengonfirmasi ulang hal ini sangatlah penting.

 

Saat kupastikan kepada Nanami sebelum panggilan dimulai, dia bilang kalau dia tidak bercerita soal kami mandi pemandian air panas bersama. Namun jika ada kemungkinan terburuk... tidak menutup kemungkinan kalau dia tidak sengaja memberi isyarat tipis.

 

Ini murni pembahasan soal kemungkinan terburuk, di mana isyarat tipis yang tidak disadari itu terlontar, dan... apakah mereka berdua di sini bermaksud mencocokkan jawaban berdasarkan informasi dariku?

 

Rasanya pertanyaan mereka memang sedalam dan serinci itu. ...Apakah ini cuma pemikiranku yang berlebihan saja?

 

"...Bagaimana kalau sekalian diungkapkan saja?"

 

Karena bahaya jika terdengar, aku menyampaikannya kepada Nanami dengan sedikit terselubung.

 

Apakah sebaiknya kuberitahu Kakek dan Nenek kalau kami mandi bersama? Menurutku, jika itu Kakek dan Nenek, mereka mungkin bakal memaklumi kalau kami mengatakannya...

 

Namun, Nanami menggelengkan kepalanya pelan. Nanami tampaknya keberatan dengan hal itu.

 

...Jika dipikir-pikir kembali, hal itu terasa sangat wajar juga, sih.

 

"...Benar juga ya, rasanya agak malu-malu dan bakal bikin mereka cemas juga, kan."

 

"...Bukan... bukan cuma karena itu..."

 

"...Cuma karena itu?"

 

"...Soal hal itu tuh, aku ingin menjadikannya kenangan khusus untuk kita berdua saja."

 

Yup, sudah dipastikan kalau hal ini bakal dibawa sampai ke liang kubur. Mana ada orang yang tega membocorkannya setelah dikatakan hal seperti itu? Tidak, tidak akan ada. Kenangan khusus berdua. Bukankah itu memiliki nada yang sangat indah?

 

Meski aku menyadari kalau diriku ini cukup materialistis, kalau begitu sudah diputuskan untuk tidak melaporkannya. Yah, anggaplah kalaupun sampai ketahuan, dari pihakku sendiri bukannya sedang melakukan hal yang tidak-tidak...

 

Tidak, apakah hal itu termasuk hal yang tidak-tidak? Tapi kan, kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh...?

 

Yup, sepertinya aku harus tenang dan memikirkannya baik-baik.

 

Untuk saat ini, intinya kami tidak akan mengungkit masalah mandi bersama. ...Kenapa rasanya ini mirip seperti tanda bahaya, ya? Tapi ini cuma perasaanku saja, kan? Pasti tidak apa-apa, kan.

 

"Bagaimanapun juga, mohon maaf karena kami tidak bisa memenuhi harapan Kakek dan Nenek..."

 

...Aah... Youshin-kun, bisa bicara sebentar? Begini ya... sebutan seperti itu rasanya agak kaku dan formal... jadi agak kepingin merasa lebih dekat, nih.

 

"Eh?"

 

Padahal aku berniat memanfaatkan atmosfer manis di sana untuk mengakhiri topik pembicaraan ini... namun tampaknya waktu manis itu sudah langsung berakhir seketika.

 

Padahal aku berpikir mereka boleh saja bermesraan sedikit lebih lama lagi, tetapi aku agak terkejut saat panah lain mendadak menancap dari sudut yang tajam.

 

"Kaku dan formal... ya?"

 

...'Kakek' dan 'Nenek' itu kan sebutan di dongeng kuno, tahu. Bisakah kamu memanggil kami dengan cara yang lebih akrab atau lebih santai sedikit?

 

Beliau mengatakan hal yang cukup berat bagi orang sepertiku.

 

Padahal dengan sebutan tadi pun aku berniat menyalurkan rasa keakraban sekuat tenaga, tetapi sayangnya hal itu sepertinya tidak tersampaikan.

 

...Tapi yah, bagaimana pun juga rasanya agak sungkan kalau harus berbicara menggunakan bahasa santai kepada Kakek dan Nenek Nanami. Jadi memang benar kalau terasa ada sedikit jarak di antara kami.

 

Tampaknya hal itulah yang membuat beliau merasa tidak puas...

 

...Kalau untukku, aku ingin kamu memanggilku Koutarou.

 

...Kalau saya seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, tidak apa-apa lho kalau mau memanggil Chizuru-chan?

 

...Kamu ini... mana cocok panggil 'Chan' di usia yang sudah tua begini... 'Chan' katanya...

 

...Lho, tidak apa-apa kan. Saya kan juga seorang anak perempuan.

 

Atas ucapan tidak perlu dari Kakek yang mempertanyakan usia 'anak perempuan', tinju Nenek kembali mendarat kencang.

 

Itu adalah satu pukulan yang menghempaskan atmosfer manis sampai beberapa saat lalu. Atau lebih tepatnya, interaksi ini rasanya memberikan sedikit perasaan déjà vu, ya.

 

"...Apakah memanggil Kakek dan Nenek menggunakan nama itu adalah hal yang lumrah?"

 

"...Rasanya tidak terlalu lumrah, deh."

 

Benar kan. Tapi entah mengapa, di balik layar ponsel mereka berdua mengarahkan tatapan mata yang tampak penuh harapan ke arahku.

 

Yah, tidak apa-apa deh.

 

"Kalau begitu, saya akan memanggil Koutarou-san dan Chizuru-san, ya."

 

...Ara ara, apakah kamu tidak mau memanggilku dengan imbuhan 'Chan'?

 

"Mohon maaf untuk Chizuru-san, tetapi sebutan seperti itu khusus untuk Nanami saja..."

 

Saat kutolak dengan tegas, Chizuru-san menempelkan tangannya di pipi sambil berucap "Ara ara", tetapi beliau tampak gembira. Koutarou-san menyunggingkan senyum cengengesan yang terkesan mengejek dan menggoda.

 

Saat ditatap dengan tatapan mata seperti itu sekali lagi... aku jadi merasa sedikit malu.

 

"...Untuk saat ini, laporan mengenai liburan pemandian air panasnya kira-kira seperti itu, ya."

 

...Begitu ya, begitu ya. Yang penting liburannya menyenangkan, itu sudah lebih dari cukup.

 

Sambil sedikit memalingkan pandangan, aku memutuskan untuk menyelesaikannya agar tidak ada kebohongan atau celah ekstra yang terbongkar. Lagipula memang tidak ada lagi materi yang perlu dibahas...

 

...Tujuan utama yaitu dipanggil menggunakan nama sudah tercapai... Ini jadi cerita bagus yang bisa kubawa sampai ke liang kubur.

 

"Jangan bicara begitu dong, mohon hiduplah yang lama."

 

...Tentu saja, aku tidak akan mati sebelum menghadiri pernikahan cucuku dan menggendong cicit... Makanya, liburan pemandian air panas kali ini sebenarnya adalah kesempatan yang sangat bagus, tapi ya...

 

...Kakek masih belum menyerah juga, ya...?

 

"Ucapannya kontradiktif, lho... Padahal kami sudah membuktikannya lewat tindakan."

 

...Manusia itu terkadang memang melakukan tindakan yang kontradiktif, tahu.

 

Aah... begitu rupanya. Karena ada niat terselubung seperti itu, makanya beliau agak sedikit kecewa saat kami menepati janji, ya. Walau bisa dibilang ini masih terlalu cepat, sih.

 

Meski begitu, fakta bahwa aku memanggil nama mereka dianggap sebagai pencapaian tertentu yang membuat beliau merasa puas.

 

Yup, dalam berbagai artian ini bagus. Bisa dibilang aku terselamatkan. Dengan begini, laporan hari ini pun berakhir dengan selamat...

 

...Tapi ya... setidaknya begitu, lho. Walau tidak sampai 'main' (berhubungan badan), setidaknya mandi bersama kan bisa dilakukan. Padahal penginapannya sudah menyediakan pemandian terbuka (rotenburo) yang bagus di dalam kamar...

 

...Kakek... bicara apa, sih. Kalau sampai mandi bersama, mana mungkin anak muda berdua bisa menahannya, coba.

 

Sepanjang masa, kewaspadaan yang mengendur itu selalu saja terjadi di penghujung acara. Itu terjadi karena kelengahan akibat menganggap hal-hal sudah hampir selesai... sehingga timbulah celah.

 

Hal itu tidak hanya berlaku untuk fisik saja, tetapi juga berlaku untuk kondisi mental.

 

Dalam ucapan yang terkesan heran dan pasrah tersebut, aku yakin tidak ada maksud tersembunyi apa pun dari beliau. Mungkin itu murni ucapan yang terlontar tanpa sengaja dan tanpa maksud apa-apa.

 

Justru karena itulah, kalimat tersebut menjadi serangan yang sangat krusial dan mematikan. Jika kata-kata itu diucapkan secara sadar, pasti tidak akan menjadi masalah sebesar ini.

 

Padahal kata-kata berorientasi yang diucapkan sebelumnya bisa diatasi dengan baik, tetapi kenapa ya serangan tak sadar seperti ini justru selalu tepat sasaran mengenai target? Apakah ini yang dinamakan sensor keinginan dalam bentuk lain?

 

Dan serangan tak sadar tersebut, seolah-olah merenggut kesadaran aku dan Nanami dalam sekejap... menciptakan keheningan yang sedikit aneh selama beberapa saat.

 

...?

 

Atas serangan yang mendarat di area kosong tanpa pertahanan ini, serangan balasan sama sekali tidak bisa dilakukan. Hanya ahli pertarungan tingkat tinggi saja yang bisa merespons serangan mendadak.

 

Melihat kami yang sampai tadi selalu memberikan tanggapan balasan berupa sanggahan saat ada ucapan aneh mendadak diam tanpa kata, kedua orang di balik layar ponsel pun kompak memiringkan kepala mereka bingung.

 

Melihat sosok mereka yang seperti itu, aku batin...

 

Aah, mereka berdua memang pasangan suami istri yang sudah lama hidup bersama, ya... aku pun memikirkannya secara samar-samar seakan sedang melarikan diri dari kenyataan.

 

Gerakan mereka begitu tersinkronisasi. Bukankah kerja sama mereka sangat kompak?

 

Baik aku maupun Nanami tidak mengatakan apa-apa... dan orang pertama yang menyadari alasannya adalah Chizuru-san.

 

Sambil tampak agak gembira, malu-malu, dan mengucapkan "Araa~", beliau menutupi mulutnya dengan kedua tangan seakan ingin menyembunyikannya dari kami.

 

Melihat reaksi Chizuru-san tersebut, Koutarou-san mengerutkan alisnya dan menatap dengan raut wajah curiga... lalu beliau mendadak menyadarinya.

 

Tepat saat menyadarinya, beliau menatap ke arah Chizuru-san, lalu menatap ke arah kami... Dan... menyunggingkan bibirnya.

 

Sama sekali tidak ada niat untuk menyembunyikannya dari kami, itu murni senyuman yang tampak sangat menikmati dan gembira... Senyuman yang menyimpan semacam niat jahat di dalamnya.

 

Senyuman itu mirip seperti senyuman seorang anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. Bentuk senyuman yang menyimbolkan kejahatan yang polos... itu tidak pudar, tetapi alih-alih menggunakan nada suara heran seperti tadi... beliau melantunkan nada suara yang amat lembut.

 

...Begitu, ya...

 

Mendengar kata-kata itu, baik aku maupun Nanami sama-sama menggetarkan bahu dan tubuh kami.

 

Jleg!—suara yang seharusnya tidak terdengar itu seakan merasuk masuk ke telingaku.

 

...Mandi... bersama, ya... Tidak menyangka di belakang kami... Youshin-kun ternyata berani juga, ya...

 

"Bukan begitu, Youshin tidak salah kok... Akh...!"

 

Ungkapan membongkar rahasia sendiri saat membela benar-benar terjadi di sini.

 

Karena tombak tuduhan diarahkan padaku, Nanami secara tidak sadar melontarkan kata-kata untuk melindungiku. Hal itulah yang memang menjadi umpan dari Koutarou-san. Beliau menyunggingkan senyum licik bagaikan seorang pemburu yang mangsanya baru saja masuk ke dalam perangkap.

 

Ah, beliau bahkan mengepalkan tangan tanda kemenangan (guts pose). Tolong sembunyikan sedikit dong.

 

"...Izinkan saya memberi penjelasan."

 

...Umu, Youshin-kun, silakan.

 

Saat aku mengangkat tangan pelan, aku ditunjuk dan dipilih persis seperti murid oleh guru di sekolah.

 

Karena harus menjelaskan hal ini dengan benar... aku pun menyerah dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi...

 

Tekad untuk membawa rahasia ini sampai ke liang kubur sampai tadi entah melayang ke mana. Atau lebih tepatnya, rasanya hal tadi memang benar-benar sebuah penanda.

 

Gara-gara mengucapkan hal yang tidak perlu, akhirnya aku harus menjelaskannya seperti ini. Yah, Nanami pun sepertinya sudah pasrah atau lebih tepatnya bisa menerima hal ini. Bagaikan orang yang sudah menyerah, kami berdua menjelaskan kejadian pada saat itu.

 

...Jadi artinya... kalian masuk ke pemandian terbuka kamar tanpa memakai baju renang, sama-sama bertelanjang bulat secara penuh dan mandi bersama, tetapi tidak menyentuh atau melakukan hal-hal yang tidak-tidak sama sekali...

 

Setelah mendengarkan penjelasan kami secara keseluruhan, Koutarou-san menyilangkan tangan dan duduk bersila... beliau berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka suara secara perlahan.

 

Raut wajahnya sangat serius tanpa ada main-main sedikit pun. Senyum mengejek yang ada sampai beberapa saat lalu pun telah lenyap tak berbekas.

 

...Jujur saja... bukankah hal itu tidak masuk akal?

 

Ah, Chizuru-san yang ada di sampingnya ikut mengangguk setuju. Malahan, Koutarou-san memasang raut senyum kaku yang belum pernah kulihat sebelumnya. Melihat beliau memasang wajah seperti itu justru membuatku kaget.

 

...Berpikir secara akal sehat saja, ini rasanya sama sekali tidak memiliki daya tarik konfirmasi sekelas bilang 'Kami masuk ke love hotel berdua, tapi kami tidak melakukan apa-apa'.

 

...Atau lebih tepatnya, saya justru ingin tahu bagaimana caranya kalian bisa menahannya. Kalau Kakek sewaktu masih muda dulu, sudah pasti tidak akan sanggup menahannya.

 

...Tentu saja dong. Mandi bersama wanita yang dicintai, lho.

 

"Uwah, sialan, aku sama sekali tidak bisa membantahnya... Kalau di posisi sebaliknya aku pun pasti tidak akan percaya... Tapi ini sungguhan terjadi... Mohon percayalah pada kami..."

 

Apakah perasaan tersangka yang dituduh tuduhan palsu dan berusaha menyuarakan kebenarannya terasa seperti ini? Tapi yah, pada akhirnya... soal kami tidak melakukan apa-apa itu berhasil dipercayai oleh mereka, sih.

 

...Lalu, Youshin-kun, bagaimana rasanya? Mandi bersama Nanami? Apa kesannya?

 

...Setidaknya kalian sempat berciuman di tempat pemandian, kan? Walau tidak melakukan lebih dari itu... iya kan?

 

Sejak saat itu, aku dan Nanami... habis-habisan diejek dan digoda oleh mereka berdua...

 

Pada sesi laporan kepada Kakek dan Nenekku yang dijadwalkan di kemudian hari nanti... aku harus memastikan tidak ada kebohongan atau celah yang terbongkar lagi...



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close