NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 13 Chapter 2

Chapter 2

Perubahan Setelah Libur Musim Dingin


Mengapa ya, liburan itu rasanya selalu terasa singkat padahal tadinya terasa begitu panjang?

 

Akhir dari liburan, yang sebelum dimulai terasa begitu jauh di depan mata, kini membuatku merasa seandainya saja bisa bertambah sedikit lebih lama lagi.

 

Kehadiran sebuah awal menandakan bahwa akan ada sebuah akhir.

 

Pertemuan adalah awal dari perpisahan. Saking kuatnya ungkapan itu, awal dan akhir adalah dua hal yang bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Mungkin karena itulah hal itu terasa begitu berharga... tetapi meski begitu, aku tetap tak bisa menahan diri untuk berpikir.

 

"Rasanya... enggan sekali pergi ke sekolah..."

 

Bagaimana tidak, libur musim dingin pada akhirnya telah resmi berakhir. Meskipun secara refleks terucap dari mulutku, sejujurnya ungkapan tidak ingin pergi ke sekolah itu tidak sepenuhnya tepat. Kalau dikatakan secara akurat, pergi ke sekolah itu sendiri sebenarnya bukan masalah sama sekali bagiku.

 

Seandainya ini terjadi saat aku masih kelas 1 dulu, dari lubuk hati yang paling dalam, secara jujur tanpa kebohongan sedikit pun, pergi ke sekolah memang terasa sangat malas. Saking malasnya, sampai-sampai berada di tingkat yang bisa bikin sakit kepala.

 

Namun sekarang, aku tidak lagi merasakan penderitaan untuk pergi ke sekolah... Tidak, dulu pun sebenarnya bukan penderitaan, melainkan karena tidak ada apa-apa di sana. Keberadaan sekolah saat itu benar-benar terasa hampa dan hambar.

 

Karena kini kehidupan sekolahku sudah penuh warna, aku sama sekali tidak memiliki keluhan tentang itu. Malahan, aku justru agak sabar menantikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan teman-teman sekelas setelah sekian lama.

 

Lalu, apa yang membuatku merasa berkeberatan?

 

"Masih sulit dipercaya kalau mulai hari ini kita harus bangun pagi-pagi lagi untuk pergi ke sekolah."

 

Yah, kendalanya adalah hal semacam ini. Selama libur musim dingin aku bisa tidur dengan santai, lalu bangun, dan melakukan apa yang ingin kulakukan... tetapi sekarang tujuan yang harus kita tuju adalah sekolah.

 

Tapi waktu kita pergi liburan dulu, bukannya kita bangun jauh lebih pagi dari ini?

 

"Memang benar sih... tapi entah kenapa ya, kalau pagi hari saat harus pergi ke sekolah itu rasanya sulit sekali untuk bangun."

 

Suara Nanami terdengar di telingaku saat aku sedang berganti pakaian mengenakan seragam sekolah.

 

Suara yang bergema di dalam kamar adalah suaraku, gesekan kain pakaian, dan suara Nanami.

 

Tidak, tunggu dulu, jangan salah paham. Dia tidak menginap, kok. Bukan berarti dia menginap lalu kami menghabiskan waktu pagi bersama-sama.

 

Ini sungguh-sungguh berbeda, ya?

 

Seperti yang kukatakan tadi, libur musim dingin yang panjang telah berakhir dan mulai hari ini sekolah kembali dimulai.

 

Setelah pulang dari perjalanan liburan, aku bersama Nanami bekerja paruh waktu, menyelesaikan sisa tugas libur musim dingin, dan di waktu senggang kami pergi berkencan atau menghabiskan waktu berdua.

 

Di penghujung libur musim dingin tersebut... sebuah perubahan besar telah lahir. Mungkin itu adalah kejadian terbesar yang terjadi selama libur musim dingin ini.

 

Tergantung sudut pandangnya, aku merasa hal ini bahkan jauh lebih besar ketimbang peristiwa pergi berlibur bersama. Perubahan itu adalah: lahirnya hari-hari di mana aku dan Nanami tidak menghabiskan waktu bersama.

 

...Saat mengutarakan hal ini, orang-orang seperti Baron-san malah berkomentar hal seperti "Bukannya itu sudah sewajarnya?", "Baru sadar sekarang?", atau "Apakah selama libur musim dingin kalian terus bersama kecuali saat pulang ke kampung halaman?".

 

Tidak, bagi kami berdua, ini benar-benar sebuah perubahan yang teramat besar, sungguh. Bahkan setelah tempat kerja paruh waktu kami menjadi sama, kami benar-benar berada dalam kondisi yang secara harfiah menghabiskan waktu bersama selama 24 jam penuh. Pada hari-hari tertentu, itu berlangsung dari pagi hingga malam hari.

 

Memang ada ungkapan kiasan "dari pagi hingga malam"... tetapi tatkala hal itu benar-benar menjadi kenyataan harfiah dalam kehidupan sehari-hari, rasanya sungguh luar biasa. Namun yah, begitu situasi itu terjadi... mulailah terdengar suara-suara komplain dari berbagai pihak.

 

Jangan memonopoli Nanami terus dong~

 

Bentuk Undang-Undang Larangan Monopoli Nanami sekarang juga~

 

...Ya, itu adalah suara dari Otofuke-san dan kawan-kawan. Begitu pula dengan Kamoenai-san. Lalu selebihnya, tentu saja dari teman-teman Nanami yang lain.

 

Berbeda denganku, Nanami memiliki banyak teman. Sangat banyak. Bahkan hubungan pertemanannya dengan mereka jauh lebih lama ketimbang hubungan kami.

 

Gadis-gadis itu pun menyampaikan bahwa sesekali mereka juga ingin bermain dan berkumpul bersama Nanami.

 

Kalau terus-terusan bersama 46 jam begitu, bukannya malah bakal makin cepat bosan?

 

Misumai-kun juga kan laki-laki, pasti ada saat-saat di mana ingin punya waktu sendiri, kan?

 

Betul, betul, hubungan pertemanan sesama laki-laki juga harus dipupuk, lho.

 

Menolak Undang-Undang Larangan Monopoli Nanami! Menolak!

 

Entah mengapa bagian paling akhir itu agak tidak jelas maksudnya. Atau lebih tepatnya, kalau menolak Undang-Undang Larangan Monopoli, bukankah itu berarti aku malah boleh memonopolinya secara penuh...?

 

Saat dikatakan hal-hal seperti itu lalu aku dan Nanami saling bertatap muka sembari membatin "Masa sih?", orang-orang di sekitar malah menatap kami dengan pandangan terperangah heran.

 

Tidak, tapi ini sungguhan, lho.

 

Namun, apa yang dikatakan oleh teman-temannya itu memang ada benarnya juga. Tidak, bukan soal bagian bakal bosan atau semacamnya, ya.

 

Ke depannya, kami mungkin akan terpisah sekolah karena pengaruh pilihan pendidikan atau karier, dan waktu yang dihabiskan bersama secara alami mungkin akan berkurang.

 

Tidak... bukan sekadar mungkin, melainkan dipastikan akan makin bertambah banyak.




Kalau situasi itu terjadi, tentu kami tidak boleh mengalami gangguan dalam kehidupan sehari-hari—seperti merasa sangat kesepian hingga tidak konsentrasi, atau merasa ada yang ganjil hingga tidak ada satu pun urusan yang selesaikan. Kondisi semacam itu rasanya sudah bisa disebut sebagai ketergantungan.

 

Mungkin salah, tetapi entah mengapa aku merasa demikian. Karena kami menghabiskan libur musim dingin ini dengan begitu intens, keberadaan satu sama lain kini sudah menjadi hal yang terasa kelewat alami... Rasanya kami tinggal selangkah lagi menuju tahap ketergantungan tersebut. Bahkan di paruh akhir liburan, meskipun tidak ada janji kencan, kami biasanya secara alami sudah berada di dalam kamar salah satu dari kami.

 

Oleh karena itu, setelah saling memahami dan menyetujui, kami memutuskan untuk secara bertahap mulai membuat hari-hari di mana kami tidak menghabiskan waktu bersama.

 

Saat mengutarakan hal itu, teman-teman Nanami malah berkomentar seperti "Kalian sedang rehabilitasi, ya?".

 

Mungkin memang mirip seperti itu. Karena aku dan Nanami terlalu sering bersama, hal itu jadi dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya... Lagipula, mengesampingkan obrolan soal rasa bosan tadi, jika kami terpisah sejenak lalu bertemu kembali, bukankah akan ada kesegaran serta penemuan-penemuan baru yang bisa dirasakan?

 

Oleh sebab itu, pada hari terakhir libur musim dingin kemarin, aku dan Nanami menghabiskan waktu masing-masing. Nanami pergi bermain bersama teman-temannya, sedangkan aku bersantai sendirian... puas bermain gim.

 

Tidak, selain bermain gim sebenarnya aku juga melakukan berbagai hal lain, sih. Hanya saja karena hobi utamanya adalah gim, porsi waktu untuk hal itu memang menjadi paling dominan.

 

Begitulah hari terakhir libur musim dingin berlalu. Sama sekali tidak disangka bahwa pada hari yang benar-benar paling akhir, aku justru tidak menghabiskan waktu bersama Nanami.

 

...Emm, tadi sedang membicarakan apa, ya?

 

Oh iya, soal alasan mengapa saat ini aku sedang mengobrol dengan Nanami.

 

Benar, itu adalah cerita tentang hari terakhir kemarin. Karena pembahasannya sempat melenceng, mari kita kembalikan ke topik utama.

 

Aku dan Nanami saling melakukan panggilan telepon pada malam hari, layaknya menyampaikan laporan perkembangan terkini tentang bagaimana kami menghabiskan waktu sendirian. Sudah sangat lama sekali rasanya kami tidak saling berbagi waktu yang tidak diketahui satu sama lain melalui sambungan telepon seperti ini.

 

Setelah sekian lama, Nanami akhirnya puas bermain bersama teman-temannya. Di sana, dia ditanyai berbagai hal tentang diriku sampai ke akar-akarnya, sehingga dia pulang ke rumah dalam kondisi puas namun kelelahan. Sementara aku menghabiskan konten-konten gim yang sempat tertunda, serta ikut serta dalam acara bersama Baron-san dan kawan-kawan setelah sekian lama—melakukan hal-hal yang dulu biasa kunikmati.

 

...Yah, meskipun rasanya ada yang kurang, sih.

 

Lalu, bagaimana dengan urusan memasak? Setelah sekian lama, aku mencoba membuat makan siang untuk diriku sendiri lalu menyantapnya sendirian.

 

Saat kami berdua menghabiskan waktu terakhir di libur musim dingin dengan santai sembari membicarakan hal-hal seperti menu makanan yang ingin disantap Nanami di lain kesempatan... frekuensi uapan Nanami perlahan-lahan makin bertambah. Tampaknya dia sudah sangat kelelahan.

 

Saat aku sedang berpikir apakah sebaiknya kami tidur saja sekarang, atau tetap mengobrol sampai dia tertidur...

 

Nanami bergumam pelan.

 

Besok... bisa bangun tidak, ya...

 

Sembari mengucek matanya yang mengantuk, nada bicaranya yang cemas itu kemungkinan besar juga mengandung rasa muram karena sekolah yang akan kembali dimulai besok.

 

Di situ aku pun tersadar kembali ke realitas bahwa besok sudah kembali sekolah. Atau lebih tepatnya, aku sendiri pun benar-benar merasa cemas apakah bisa bangun atau tidak.

 

Dulu, meskipun lelah, selama bisa tidur sedikit lebih lama di hari berikutnya, kondisiku akan langsung kembali prima...

 

Namun tentu saja, begitu sekolah dimulai, hal semacam itu tidak bisa dilakukan lagi. Meskipun solusinya adalah tidur lebih cepat, tetapi tidur lebih cepat pun... terasa agak sulit karena pola kebiasaan yang sudah terbentuk...

 

Maka dari itu, untuk mengikis rasa cemas tersebut... aku mencoba memberikan sebuah usulan.

 

Besok, mau kubangunkan?

 

Emm... ingin sih... tapi Youshin sendiri bisa bangun memangnya~?

 

Dengan nada bicara yang sedikit mengoda... Nanami mengeluarkan intonasi suara yang seolah memprovokasiku. Meskipun dia sedang memprovokasi, mendengar reaksinya itu tiba-tiba timbul sebuah ide di benakku.

 

Mumpung ini adalah hari pertama setelah libur musim dingin berakhir, aku menginginkan sesuatu... sedikit saja bumbu penyedap tambahan.

 

Tidak, meskipun terdengar "hal macam apa itu", ini benar-benar ide spontan dan belum tentu Nanami akan menyambutnya.

 

Namun meski begitu, bukankah ini akan menjadi penutup libur musim dingin yang menyenangkan? Pikiran semacam itulah yang terlintas.

 

Setelah berdeham sekali... aku pun perlahan-lahan mulai bicara kepada Nanami yang menyahut dengan suara agak heran, menyelaraskan dengan intonasi provokatif Nanami yang tadi.

 

Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertaruh?

 

...Bertaruh?

 

Mata Nanami yang tadinya mengantuk dan dikucek, seketika menjadi tajam dalam sekejap mendengar perkataanku. Meskipun penampilannya seperti ini, Nanami sebenarnya adalah sosok yang cukup tidak mau kalah. Tidak, ketimbang tidak mau kalah, mungkin lebih tepat disebut sebagai tipe orang yang harus menang selama dia sudah memutuskan untuk menerima tantangan.

 

Setidaknya, dia bukan tipe orang yang akan berdiam diri jika ditantang bertaruh.

 

...Sebenarnya ini bukan hal yang baru juga, sih. Justru karena sifatnya yang tidak mau kalah itulah dia sampai nekat melakukan hal-hal ekstrem seperti mandi bersama dan semacamnya.

 

Entah karena menyambut usulanku, Nanami bertanya dengan intonasi suara yang penuh percaya diri, "Taruhan seperti apa?". Sama sekali tidak terlihat indikasi bahwa dia berpikir dirinya akan kalah.

 

Siapa yang bangun lebih dulu lalu membangunkan yang lainnya, dialah yang menang.

 

Sederhana sekali, ya... Jam mulainya kapan?

 

Bagaimana kalau jam 6 pagi? Kalau memikirkan persiapan dan berbagai hal lainnya, kurasa bangun di jam segitu akan memberikan banyak kelonggaran waktu.

 

Nanami bergumam sembari menimbang-nimbang dan mencerna usulanku.

 

Bagaimana ya, apakah Nanami akan menyukainya? Rasa cemas semacam itu sempat terbersit...

 

Boleh juga, sepertinya menarik. Kalau aturannya begitu aku tidak akan kalah. Kalau aku menang... bagaimana kalau yang kalah harus menuruti perkataan yang menang selama masih dalam batas wajar?

 

Dengan usulan semacam itulah pertandingan bangun pagi diselenggarakan... dan aku keluar sebagai pemenangnya. Atau lebih tepatnya, Nanami memang tidak bangun sama sekali. Makanya sekarang aku bisa bersiap-siap di pagi hari sembari menelepon Nanami seperti ini.

 

"...Tapi ya, padahal kemarin kamu percaya diri sekali, ternyata sama sekali tidak bangun, ya."

 

Ternyata aku... benar-benar anak ibuku, ya... Aku tertidur lelap seperti biasa... Padahal kalau sebelum libur musim dingin, kurasa aku bisa menang dengan mudah.

 

Kalau dipikir-pikir, Tomoko-san memang tidak bisa bangun pagi.

 

Apakah ini ada hubungannya dengan pola hidup? Seperti sering bergadang? Tapi Tomoko-san kan seorang ibu rumah tangga, kan...?

 

Mungkin saja ada alasan yang tidak kami ketahui mengenai penyebab beliau sulit bangun pagi.

 

"Yah, tidak apa-apa kan... Lagi pula hari ini cuma upacara pembukaan semester baru, jadi jam makan siang sudah bisa pulang."

 

Iya sih... tapi rasanya kesal. Masa aku kalah dari Youshin... Kira-kira apa ya yang bakal dilakukan padaku?

 

"Tunggu dulu, pagi-pagi begini kamu bicara apa, sih...?"

 

Mendadak keluar ucapan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

 

Padahal kemarin aku sama sekali tidak pernah bilang akan ada imbalan apa pun jika menang taruhan, kan? Lagipula meskipun Nanami yang kalah, kenapa dia malah mengatakan hal yang seperti berharap begitu?

 

Eeeh~? Sama sekali tidak mau melakukan apa-apa~?

 

"Tidak... Nah, karena kamu sudah bangun, bersiap-siaplah untuk pagi hari."

 

Cih~... Ah, setelah ini aku mau lepas piyama, lho? Mau lihat aku berganti pakaian atau semacamnya?

 

Mengapa dia melontarkan godaan seperti itu... Lagipula, meskipun diperlihatkan dari jarak jauh lewat layar, aku tidak bisa melakukan apa-apa jadi sama sekali tidak ada gunanya, kan.

 

Kalau mau berganti pakaian, setidaknya lakukan di depanku langsung...

 

Bukan, bukan begitu. Apa yang sedang kupikirkan? Apakah aku terpengaruh oleh pola pikir Nanami? Tapi karena belum sempat terucap dari mulutku, berarti masih aman...

 

Ka... kalau berganti pakaian di depanmu langsung sepertinya batas toleransinya terlalu tinggi, ya... Kalau dipikir-pikir, saat kita menginap pun kita berganti pakaian di ruangan terpisah, kan...

 

...Ternyata sudah terlanjur terucap dari mulutku dengan jelas. Mulutku ini benar-benar terlalu ceroboh.

 

Namun kalau dipikir-pikir, kami memang belum pernah berganti pakaian di depan satu sama lain atau di dekat satu sama lain...

 

Hal itu memang sudah sewajarnya, tetapi karena kenyataannya memang tidak pernah, jadi katakan saja tidak pernah. Antara mandi bersama dan belum pernah melihat satu sama lain berganti pakaian, mana yang terasa lebih tidak masuk akal?

 

...Mungkin dua-duanya.

 

"Nanami, anggap yang tadi tidak ada. Pokoknya anggap saja aku tidak perlu melihatmu berganti pakaian..."

 

I... iya... Tapi untuk saat ini, biarkan sambungan teleponnya tetap terhubung, ya...

 

Suasana hening yang sedikit canggung sempat mengalir. Sembari membiarkan panggilan telepon tetap terhubung, kami berdua pun bersiap-siap di pagi hari...

 

Srrr... Sreet... Fsssh... Puk...

 

Suara-suara semacam itu... terdengar dari balik ponsel. Benar-benar teknologi modern, sampai-sampai suara sehalus ini pun bisa ditangkap dan disampaikan padaku...

 

Suara yang terdengar secara tak terduga itu... adalah suara gesekan kain pakaian. Gesekan kain, yang artinya suara Nanami yang sedang melepaskan pakaiannya terdengar secara real-time. Mulai dari suara yang seolah mengusap kulit, hingga suara sesuatu yang jatuh...

 

"...Ngomong-ngomong!!"

 

Karena panik, aku membesarkan suaraku sedikit agar bisa menyamarkan suara tersebut.

 

Akibat suaraku yang mendadak keras, terdengar suara Nanami terkejut dan menjatuhkan sesuatu.

 

"K... kaget aku. Karena kamu mendadak berteriak keras, pakaian dalam yang kupegang... jadi jatuh kan."

 

"Pakaian da...?!"

 

"Ah, kamu mau tahu apa yang sedang kupegang? Pacarku ini ternyata mesum juga ya di pagi hari."

 

"Bukan begitu, tahu?! Lagipula kenapa harus pakai jeda saat bilang pakaian dalam?"

 

Sembari melakukan persiapan pagi hari yang sudah lama tidak dirasakan... rasa antisipasi dan kecemasan menghadapi sekolah setelah libur musim dingin berakhir bercampur aduk di dalam dada.

 

...Ngomong-ngomong, mengenai pakaian dalam jenis apa yang dipegangnya, hal itu tetap menjadi misteri.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Apakah perbedaan antara libur musim dingin dan libur musim panas?

 

Tentu saja ada banyak hal yang berbeda. Libur musim panas tidak ada salju, sedangkan libur musim dingin ada salju. Istilah penampilan baru saat libur musim panas itu ada, sedangkan istilah penampilan baru saat libur musim dingin hampir tidak pernah terdengar.

 

Di daerah tempat tinggal kami, secara umum libur musim panas lebih pendek ketimbang libur musim dingin. Namun libur musim dingin terasa panjang seolah ingin menggantikan pendeknya libur musim panas tersebut.

 

Meskipun demikian, hal-hal baru yang terjadi hampir selalu dipastikan bertepatan dengan libur musim panas. Fenomena yang biasa disebut penampilan baru saat libur musim panas itu.

 

Jika dipikir-pikir kembali, penggunaan kata debut selalu diidentikkan dengan musim semi atau musim panas... seperti debut SMA atau debut perkuliahan.

 

Kalau begitu, musim dingin mungkin adalah periode di mana orang-orang tidak memulai hal-hal baru. Musim keheningan dan kebekuan... Lagipula begitu salju menumpuk, suasana akan menjadi sangat hening secara mengejutkan.

 

Namun yah, di musim dingin seperti ini pun... rasanya tidak ada salahnya jika ada sesuatu yang baru dimulai.

 

"Selamat pagi~"

 

"Pagi~"

 

Saat aku dan Nanami masuk ke kelas secara bersamaan, beberapa teman sekelas yang sudah ada di dalam membalas sapaan kami.

 

Masuk ke dalam kelas dan saling menyapa seperti ini terasa sudah sangat lama tidak dilakukan. Menyapa lalu mendapat balasan sapaan... meskipun ini hal yang biasa, dulu aku selalu masuk ke kelas secara diam-diam tanpa bersuara, sehingga aku bisa merasakan perubahan dalam diriku sendiri.

 

"Hari ini dingin juga ya," gumamku sembari melepas mantel dan memasukkannya ke dalam loker. Ruangan kelas terasa hangat, jadi meskipun melepas mantel aku tidak merasa kedinginan.

 

Saat aku hendak duduk di kursiku...

 

"Yo, sudah lama tidak ketemu."

 

"Oh, selamat pagi, Hitoshi."

 

Sosok Hitoshi yang mengangkat tangannya dengan ringan tertangkap oleh mataku. Karena kami tidak pernah bertemu lagi sejak acara pesta Natal, rasanya sudah sangat lama sekali tidak berjumpa.

 

Mungkin karena sudah lama tidak bertemu, penampilannya terasa sedikit berbeda dari biasanya, terlihat agak lebih dewasa... lebih... eh? Apakah Hitoshi memang terlihat seperti ini sebelumnya?

 

Rambut pirang yang tampak dicat tipis, serta kulit kecokelatan yang terkena sengatan matahari dan terlihat kekar...

 

Eh? Kulit kecokelatan? Kenapa kulitnya bisa kecokelatan?

 

"...Sensasi variasi warna yang berbeda?"

 

"Aku bukan monster di gim tertentu, ya!"

 

Melihatku yang miringkan kepala keheranan, Hitoshi memberikan tatapan menyipit yang tampak pasrah dan heran.

 

Habisnya, kenapa kulitnya bisa kecokelatan?

 

Eh? Waktu pesta Natal dulu kulitnya tidak begitu, kan?

 

Melihat penampilan kulitnya yang kecokelatan dan tidak cocok dengan musim dingin ini membuat mataku terbelalak, tetapi orang-orang di sekitar tampaknya tidak memberikan reaksi khusus terhadap Hitoshi.

 

...Kalau dipikir-pikir, di dunia ini ada juga yang namanya kulit kecokelatan karena bermain ski, kan? Kulit kecokelatan yang dialami orang-orang yang melakukan aktivitas luar ruangan saat olahraga musim dingin, yang konon paparan radiasinya lebih kuat ketimbang musim panas?

 

Tapi warna kulitnya ini terlihat terbakar matang... walau kelihatan sehat, sih...

 

"Kenapa di musim dingin kulitmu bisa kecokelatan?"

 

"Tidak, begini... waktu libur musim dingin aku pergi ke Hawaii... Ah, ini oleh-olehnya."

 

Yang diserahkan Hitoshi padaku adalah kue kering berbentuk nanas. Kue yang tampak imut dengan potongan buah kering berwarna merah di bagian tengahnya.

 

Jika diperhatikan baik-baik, teman-teman sekelas di sekitar juga memegang kue kering di tangan mereka. Ternyata dia membagikannya kepada semua orang. Perhatian sekali dia...

 

"Terima kasih, aku terima ya... Tapi tunggu, Hawaii? Kita bisa pergi ke sana selain saat karyawisata sekolah, ya?"

 

"Tentu saja bisa. Hawaii kan ada di sana."

 

"Begitu ya, ternyata Hawaii ada di sana. Tidak, meskipun ada di sana tetap saja tidak bisa sembarangan pergi... Jangan-jangan kamu ini sebenarnya anak orang kaya? Hitoshi si anak tuan tanah?"

 

"Hentikan, deh. Orang tuaku saja yang memang suka Hawaii. Karena mereka bilang cuma bisa pergi pas libur tahun baru, ya aku cuma ikut pergi saja."

 

"Tuan Muda, hamba sangat merasa bahagia..."

 

"Usia kita kan sama, kenapa kamu malah melawak, sih? Youshin itu bagian yang melontarkan sanggahan (tsukkomi), kan? Tidak, lagipula lawakanmu itu tidak jelas maksudnya."

 

...Ada apa ini ya, padahal sudah lama tidak bertemu, tetapi entah mengapa kami bisa saling melempar obrolan dengan begitu lancar.

 

Aku membuka kemasan plastiknya dan langsung mencoba memakan kue kering di dalamnya. Ya, rasanya renyah dan lezat. Buah keringnya yang manis dan asam juga sangat cocok dengan adonan kue keringnya.

 

...Kalau dipikir-pikir, kami sama sekali tidak membeli oleh-oleh untuk sekolah, ya. Tidak, lagipula siswa SMA yang pergi liburan ke pemandian air panas lalu membawa oleh-oleh rasanya agak sedikit aneh dan bikin risih, sih.

 

Sesuai dugaan, hal semacam itu mungkin baru dilakukan setelah dewasa nanti. Kalau liburannya ke luar negeri seperti Hawaii mungkin beda cerita. Namun, pergi berlibur ke luar negeri bersama keluarga... ternyata hal semacam itu benar-benar ada di dunia nyata.

 

Kukira hal-hal seperti itu hanya ada di dalam drama saja. Apakah Hitoshi ini memang benar-benar anak dari keluarga terpandang atau semacamnya? Apalagi mengingat kulitnya sampai kecokelatan begitu, bukankah itu berarti dia tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama?

 

"Makanya saat hatsumode, aku tidak bertemu denganmu di kuil, ya."

 

"Ah... lagipula aku sendiri belum pergi hatsumode sama sekali... Apakah Youshin pergi bersama Barato?"

 

"Iya, aku pergi bersamanya. Nanami... ah, dia sedang tertangkap oleh teman-temannya, ya."

 

"Grup itu sempat menggerutu bilang kalau selama libur musim dingin Barato dimonopoli oleh pacarnya..."

 

...Apakah mereka itu grup teman-teman yang tidak bisa bermain bersama Nanami di hari terakhir?

 

Ya mau bagaimana lagi, kalau selain hari terakhir memang kumonopoli. Nanami sendiri tampaknya sedikit merasa kesulitan.

 

Saat aku melihat ke arahnya dengan niat memberikan bantuan, dia malah mengedipkan satu matanya, jadi tampaknya dia baik-baik saja.

 

Memang benar sih, masuk ke dalam lingkaran obrolan para anak perempuan itu sama saja dengan tindakan bunuh diri.

 

"Youshin sendiri melakukan apa saja selama libur musim dingin? Puas berpacaran dan berkencan dengan Barato? Enaknya ya, puas berkencan... Aku juga ingin... Ngomong-ngomong, kalian tidak pergi liburan ke mana begitu?"

 

Pertanyaan itu benar-benar memberikan dampak yang sangat kritikal.

 

Kami pergi liburan, kok. Hanya berdua saja.

 

Eh? Tapi dia tidak tahu tentang hal itu, kan? Aku tidak pernah mengatakannya pada siapa pun, kan...?

 

Bahkan setelah melihat ekspresi Hitoshi pun, tidak terlihat indikasi bahwa dia mengetahuinya lalu bermaksud menggoda. Dia murni hanya ingin mengobrol santai menanyakan apa yang kulakukan selama libur musim dingin.

 

Tidak ada maksud terselubung, sama sekali tidak ada... Tidak ada sih, tapi...

 

"Liburan... SEPERTINYA AKU TIDAK PERGI KE MANA-MANA."

 

"Kenapa nada bicaramu di akhir jadi kaku begitu...?"

 

Karena mencoba menjawab dengan sangat hati-hati, aku malah refleks bicara kaku saking paniknya.

 

Apakah aku berhasil berkilah? Atau justru membuatku makin dicurigai?

 

Bagaimana kalau katakan saja sekalian... Tidak, tidak boleh mengatakannya secara gegabah. Soal hal itu, aku harus bertanya dulu pada Nanami apakah boleh dikaitkan atau tidak.

 

Meskipun ada kemungkinan dia bakal merespons santai seperti, "Eh? Memangnya kenapa? Boleh-boleh saja, kok." Tapi jangan mengambil keputusan semudah itu. Kalau sampai mengatakannya, pasti akan jadi urusan yang sangat merepotkan. Terutama dari sudut pandang obrolan sensitif/dewasa. Pasti akan ditanyai hal-hal seperti "pasti terjadi sesuatu di antara kalian, kan?".

 

Coba ingat-ingat kembali percakapan dengan kakek-kakek... dengan Koutarou-san dan yang lainnya. Bahkan keluarga sendiri saja sangat sulit percaya kalau kami tidak melakukan apa-apa. Kalau ke teman-teman, pasti sama sekali tidak mungkin dipercayai. Jika posisiku dibalik pun, aku juga tidak akan percaya.

 

Lagipula untuk urusan berlibur, tidak ada izin khusus yang diperlukan dari pihak sekolah, jadi kami tidak melaporkan apa pun. Kalau sampai sembarangan bicara lalu berbuntut panjang ke urusan hubungan tidak baik lawan jenis atau hal merepotkan lainnya...

 

Uwah, padahal sebentar lagi mau naik ke kelas tiga, aku sangat ingin menghindari hal-hal merepotkan semacam itu di saat seperti ini.

 

Untuk saat ini, biarlah aku mengambil sikap aman demi menghindari masalah. Mungkin saja di momen tertentu aku akan mengatakannya, tetapi setidaknya bukan saat ini... meskipun ada kemungkinan Nanami sudah menceritakannya ke beberapa orang...

 

Tidak, melihatnya dikerumuni anak-anak perempuan sambil bersorak heboh begitu, tidak bisa dimungkiri ada kemungkinan dia sedang menggali lubang kuburnya sendiri.

 

"Tapi ya, Youshin ini dingin sekali sih... Sama sekali tidak memberiku kabar selama libur musim dingin. Sekali-kali ajak jalan-jalan khusus sesama laki-laki gitu, dong..."

 

"Eh? Memangnya aku boleh mengajak hal semacam itu...?"

 

Mendengar ucapanku, Hitoshi seketika menganga terpana. Dia tampak terkejut... atau lebih tepatnya, dengan ekspresi yang seolah berkata "bicara apa sih anak ini?".

 

Tidak, lagipula jika harus mengajak duluan saat libur musim dingin... bukankah batas toleransi keberaniannya terlalu tinggi? Aku juga tidak begitu paham harus melakukan apa...

 

"Eeeh...? Berkumpul biasa, makan-makan santai, lalu main seadanya saja kan sudah menyenangkan."

 

"Apakah hal semacam itu adalah hal yang lumrah...?"

 

Aku tidak begitu paham standar hal yang lumrah itu seperti apa.

 

Belakangan ini, karena makin sering ikut serta dalam kegiatan kelompok kelas, aku merasa sudah cukup paham cara menghadapinya... Namun sampai sekarang, aku masih belum begitu paham soal bagaimana cara bermain bersama teman.

 

"...Atau lebih tepatnya, boleh kah kalau aku mengajakmu? Padahal kemarin seharian aku cuma main gim sendirian di rumah."

 

"Di saat seperti itulah seharusnya kamu mengajakku?! Kalau lagi senggang begitu harusnya makin harus mengajak, tahu?! Itu kan momen emas paling pas buat interaksi khusus laki-laki!!"

 

Jadi ternyata memang begitu, ya.

 

Tidak, karena sama sekali tidak terlintas di pikiranku, sejak awal di kepalaku hanya ada pikiran untuk bermain sendirian, jadi pemikiran untuk mengajak orang lain sama sekali tidak ada.

 

Begitu ya, di saat-saat seperti itu ternyata boleh mengirim pesan...

 

"Tapi, bukankah rasanya menakutkan jika orang yang dihubungi malah merasa terganggu? Lagipula, menelepon di saat orang lain tidak bisa mengangkatnya itu kan rasanya menyebalkan..."

 

"Kamu kan bukan penguntit, jadi mana mungkin dianggap mengganggu kalau menghubungi... Atau lebih tepatnya orang wajar tidak akan berpikiran apa-apa, kan? Kalau tidak bisa diangkat, nanti tinggal ditelepon balik..."

 

"Tapi kalau aku mengumpulkan keberanian untuk menelepon lalu tidak ada respons sama sekali, aku punya keyakinan tinggi kalau setelahnya aku tidak akan pernah mau menelepon lagi. Rasa-rasanya aku bakal jadi benci menelepon."

 

"Jangan mengatakan hal-hal pesimis dengan begitu penuh percaya diri, dong. Ada apa dengan tatapan matamu yang mantap itu."

 

Tidak, habisnya kan... menelepon itu rasanya agak menakutkan, kan?

 

Kalau cuma menerima panggilan sih tidak masalah, tetapi jika harus memulai panggilan sendiri ada ketakutan tak tertahankan yang sulit dijelaskan... bahkan menulis pesan di dalam grup obrolan saja aku merasa takut. Padahal kalau di kolom obrolan gim aku tidak masalah.

 

...Kalau dipikir-pikir lagi, dulu sewaktu obrolan suara di gim pun aku sempat menolaknya mentah-mentah, kan. Tapi karena sekarang sudah bisa melakukannya, mungkin lambat laun aku juga bakal terbiasa dengan panggilan telepon.

 

Namun rasanya, membiasakan diri untuk menelepon duluan itu bakal butuh waktu yang sangat lama.

 

Ah, kalau pakai jeda awal seperti mengirim pesan dulu seperti di obrolan suara gim, apakah bisa berhasil?

 

Tidak, mungkin tidak bisa... Kalau di jeda awal itu saja tidak ada respons sama sekali, aku pasti bakal langsung merasa murung.

 

"Tidak usah dipikirkan terlalu dalam sampai begitu, ah. Coba hubungi saja dengan lebih santai."

 

"...Suatu saat nanti, ya."

 

"Itu sih jenis tanggapan dari orang yang pasti tidak akan pernah menelepon. Ya kan?"

 

Mau bagaimana lagi, aku memang jarang sekali mengajak orang lain duluan. Aku masih belum terbiasa dengan hal-hal semacam itu.

 

Tapi sungguh, mungkin suatu saat nanti aku akan mencobanya. Kemarin seharian bermain gim memang menyenangkan, sih... tapi menurutku tidak ada salahnya juga untuk mulai mencoba pengalaman-pengalaman baru seperti itu ke depannya.

 

Tanpa disadari, sebuah hela napas lolos dari mulutku.

 

"Kalau mengajak Nanami kencan... meski tegang, aku masih bisa melakukannya atas inisiatif sendiri, padahal..."

 

"Tidak dong, bukankah secara umum hal itu justru jauh lebih tinggi tingkat kesulitannya? Lalu kalian dulu waktu masih berteman bagaimana... Saat main bareng atau semacamnya... semuanya serba mendadak kayak serangan gerilya...?"

 

Apa-apaan istilah serba gerilya itu. Aku dan Nanami sebenarnya tidak pernah melakukan hal-hal yang bersifat dadakan semacam itu...

 

Tidak, tunggu, lagipula kami sejak awal tidak punya periode berteman...

 

Aku hampir saja mengutarakannya sebelum akhirnya menghentikan kata-kataku.

 

Benar juga, ini adalah hal yang tidak diketahui oleh Hitoshi, dan kalau aku mengatakannya, bisa-bisa aku malah keleposan membocorkan hal yang tidak perlu. Untuk saat ini, sebaiknya aku berkilah seadanya saja.

 

"...Tidak, begini lho, aku kan dasarnya memang suka menyendiri."

 

"Hmm... Jadi, apakah target tahun baru Youshin adalah 'mengajak teman bermain atas inisiatif sendiri'?"

 

"Aku ingin bilang 'kamu pikir aku anak SD apa', tapi karena memang belum bisa melakukannya, aku jadi tidak bisa membantah apa-apa."

 

Saat aku refleks menaikkan bahuku, Hitoshi tertawa agak pasrah. Tapi memang benar sih, aku ingin bisa mengajak orang lain dengan sedikit lebih santai.

 

Libur musim dingin... Kalau dipikir-pikir lagi, aku sama sekali tidak bertemu dengan teman-temanku, ya.

 

Ah, kalau begitu... artinya...

 

"Aku lupa menyampaikannya."

 

"Ehh? Menyampaikan apa?"

 

Aku menegakkan punggung dan memperbaiki posisiku. Karena sekarang tidak bisa duduk seiza... setidaknya aku harus merapikan postur tubuhku.

 

Terpancing oleh sikapku, Hitoshi ikut merapikan posturnya kembali. Sembari meletakkan tangan secara ringan di atas lutut, aku menganggukkan kepala dalam posisi tetap duduk.

 

"Selamat Tahun Baru. Mohon bimbingannya kembali di tahun ini."

 

"Ah... sama-sama, mohon bimbingannya juga di tahun ini."

 

Saat aku bilang maaf karena agak terlambat, Hitoshi tersenyum kecut sambil bergumam bahwa dia sendiri juga lupa menyampaikannya.

 

Menyapa itu penting. Terlebih lagi jika itu adalah salam Tahun Baru.

 

Meskipun agak terlambat, menyampaikan salam Tahun Baru rasanya secara ajaib bisa menyegarkan kembali pikiran. Karena sekolah baru dimulai kembali di tahun yang baru ini, mulai sekarang aku harus menyapa orang-orang kembali satu per satu.

 

Kepada Shouichi-senpai sudah kusampaikan saat kerja paruh waktu, lalu Teshikaga-kun sudah bertemu saat ziarah awal tahun. Sisanya...

 

...Lho? Jangan-jangan teman laki-lakiku... cuma mereka saja? Apakah ini... tergolong sedikit atau banyak? Tidak, teman itu bukan masalah jumlah... sampai-sampai ada ungkapan "pasukan kecil yang tangguh".

 

Ya, ini pasti tidak masalah.

 

Lagipula aku juga harus menyapa teman-teman sekelas lainnya, jadi dipastikan tidak akan ada masalah. Mari kita anggap saja begitu.

 

"Lalu, Youshin mau kasih aku uang tahun baru (otoshidama) apa?"

 

"Tidak usah memaksakan lelucon penutup segala..."

 

Aku menampar telapak tangan yang diulurkannya dengan nada memohon itu secara ringan, seperti sedang melakukan high-five.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

"Ada apa, Hitoshi? Kamu bertemu lagi dengan anak perempuan yang waktu karyawisata itu?"

 

"Ah... ahh, iya. Waktu pergi ke Hawaii... Entah kebetulan atau bagaimana, yah, waktu aku bilang mau ke Hawaii dia bilang ingin bertemu..."

 

"Makanya kamu pergi ke Hawaii, ya. Padahal waktu di kelas gaya bicaranya seperti terpaksa ikut orang tua, tapi ternyata aslinya bersemangat sekali."

 

"Yaa gimana ya, dibilang bersemangat sih... iya, tapi jujur saja aku memang menantikannya."

 

"Tuan Muda, hamba sangat merasa bahagia..."

 

"Master, gaya obrolan apa itu...?"

 

Saat aku mendalami karakter butler, Teshikaga-kun malah tertawa kecut. Hitoshi yang biasanya tenang kini malah tersipu malu dan menyuruhku bising. Karena biasanya pihak kami yang digoda, momen pembalikan posisi seperti ini terasa cukup menyenangkan.

 

Ehh? Tapi kalau dia sampai memberitahu soal pergi ke Hawaii...

 

"Berarti kalian saling bertukar kontak, dong. Hebat juga kamu."

 

"Ah, ternyata begitu, ya. Kalian bertukar kontak saat karyawisata dulu?"

 

Disanggah oleh Teshikaga-kun membuat kedua pipi Hitoshi memerah. Berbeda dengan rasa malu yang tadi, kali ini adalah rasa malu yang sejujurnya. Melihatnya sampai tersipu seperti ini membuatku merasa bersalah jika harus terus menggodanya.

 

Hitoshi menggaruk kepalanya dengan kasar, lalu memeras kata-kata seolah sedang mengingat kembali kejadian tersebut.

 

"...Mana kutahu kalau benar-benar bisa dihubungi. Aku kan cuma mencoba-coba saja. Kukira itu cuma pengalaman sekali seumur hidup selama karyawisata musim panas, tapi siapa sangka..."

 

Hitoshi yang tidak biasanya bicara tersendat-sendat dan pipinya merona merah itu mulai menceritakan kejadian yang dialaminya selama libur musim dingin.

 

Di sampingnya, Teshikaga-kun menyimak cerita Hitoshi dengan raut wajah yang penuh rasa ingin tahu dan serius.

 

"Tidak menyangka kalau benar-benar bisa dihubungi... memangnya kamu tidak pernah menghubunginya setelah pulang?"

 

"Tentu saja tidak. Kenangan seperti itu kan cuma kenangan di tempat liburan, seperti yang kubilang waktu jalan pulang dari Hawaii dulu. Tapi ya, jujur saja sempat ada harapan 'siapa tahu ada kesempatan'..."

 

Tampaknya karena Hitoshi tidak pernah menghubungi duluan dan pihak sana juga tidak memberi kabar, dia mengira hubungannya sudah terputus begitu saja. Namun, ketika dipastikan akan pergi ke Hawaii, dia mencoba menghubungi sekadar iseng tanpa berharap banyak... dan siapa sangka, balasannya datang dengan sangat cepat.

 

Ajakannya adalah untuk bertemu.

 

"Kamu ini, padahal baru saja menyuruhku untuk rajin menghubungi orang lain, ternyata kamu sendiri begitu, ya?"

 

"Menghubungi lawan jenis dan menghubungi teman itu kan beda halnya...?! Tidak deh, bukannya Youshin sendiri tadi bilang kalau menghubungi Barato itu jauh lebih mudah...?"

 

"Masa sih? Kalau aku... sampai sekarang masih suka tegang kalau mau menghubungi Kotoha."

 

Tunggu dulu Teshikaga-kun, aku juga merasa tegang, kok. Hanya saja, meskipun tegang, aku sudah mulai bisa menikmati momen perpesanan itu termasuk rasa tegangnya.

 

"Makanya secara esensial tidak ada yang berubah dari diriku, tahu."

 

"......Ngomong-ngomong, membicarakan diriku sudah cukup, kok. Sekarang topik utamanya kan tentang anak perempuan di Hawaii itu."

 

"Aah...... iya. Jadi begitulah, lalu kami bertemu di Hawaii...... sempat jalan-jalan sebentar...... dan aku mengenalkannya kepada Ayah dan Ibu."

 

"Kamu sudah mengenalkannya kepada orang tuamu juga......?!"

 

"Kalian yang posisinya sudah seperti bertunangan justru melangkah lebih jauh, tahu? Kalau memanfaatkan kesempatan ini untuk menggodaku, semuanya bakal berbalik ke kamu sendiri, lho!"

 

Benar juga sih, sebaiknya kubatasi secukupnya saja.

 

Tetapi...... wah, benar-benar masa muda, ya. Walau mungkin agak tergolong khusus, aku tetap tidak menyangka kalau Hitoshi bisa jatuh cinta.

 

Wuuush—suara angin terdengar saat angin dari celah jendela berembus masuk.

 

Suaranya yang menyerupai siulan terdengar bagaikan sebuah siulan pemberi selamat...... Aku pun menguncupkan bibir sedikit dan mencoba menirukan suara siulan. Meskipun sebenarnya aku tidak bisa bersiul.

 

Dengan suasana seperti itu, kami bertiga sesama laki-laki saling menikmati obrolan tentang kisah asmara.

 

Nah, jika ditanya di mana kami berada sekarang...... kami berada di salah satu ruang kelas kosong di gedung sekolah. Ini adalah tempat yang sebelumnya pernah kukunjungi secara diam-diam bersama Nanami.

 

Kebetulan sedang tidak ada orang di sini, sehingga menjadi tempat paling pas untuk mengobrol santai selepas jam sekolah.

 

Lalu di tengah situasi ini, mengapa kami bertiga sesama laki-laki berkumpul dan mengobrol bersama...... apakah ini yang biasa disebut sebagai "kumpul-kumpul laki-laki" (danshikai)? Aku sering mendengar istilah "kumpul-kumpul perempuan" (joshikai), tetapi apakah istilah kumpul-kumpul laki-laki itu memang ada?

 

Ah, biarlah. Ini adalah acara kumpul-kumpul sesama laki-laki.

 

Hari ini adalah upacara pembukaan semester baru sehingga tidak ada kegiatan belajar mengajar dan kegiatan sekolah selesai di waktu sebelum siang. Tepat saat aku berpikir untuk pulang...... Hitoshi dan kawan-kawan menghentikan langkahku.

 

Karena ini hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama, mereka bilang ingin saling bertukar kabar terkini antara aku, Hitoshi, dan Teshikaga-kun.

 

Setelah ini aku berencana pulang dan menyantap makan siang...... dan karena tidak ada agenda khusus setelahnya, paling-paling aku cuma berpikir ingin melakukan sesuatu bersama Nanami.

 

Dengan kata lain, aku sedang senggang. Dulu kalau sedang senggang aku pasti menghabiskan waktu dengan bermain gim, tetapi......

 

Nanami sendiri malah sempat berkata, "Sekali-kali pergilah berkumpul bersama mereka. Menjaga hubungan pertemanan itu penting, lho," dengan gaya bicara menyerupai seorang ibu, sehingga aku berakhir berkumpul di sini.

 

Ngomong-ngomong, saat kami bertiga sedang berjalan tadi, guru UKS sempat berkata......

 

Apakah kalian ini trio tiga serangkai? Atau justru kelompok tiga bocah ceroboh?

 

Apa-apaan istilah itu?

 

Ooh, jurang generasi...... tidak deng, bukankah istilah itu sempat populer lagi?

 

Beliau berlalu begitu saja dengan santai sembari mengucapkan hal itu. Soal bagian kedua aku sama sekali tidak tahu, tetapi sejak kapan kami bertiga dijuluki sebagai trio tiga serangkai?

 

Eh? Sejak kapan?

 

Lalu begitulah, kami lanjut mendengarkan berbagai cerita......

 

"Hah...... pernikahan antarnegara, atau lebih tepatnya hubungan jarak jauh (LDR)?"

 

"Mungkin belum sampai ke tahap pernikahan, sih. Aku kan tidak seperti kamu dan Barato."

 

"Aku dan Nanami juga belum sampai sejauh itu, kok."

 

"Belum...... ya......"

 

Kurang ajar sekali.

 

Tidak deng, apakah ini tergolong ucapan yang kurang ajar? Tapi ya, memang benar kalau aku dan Nanami belum menikah. Walau mungkin...... kami sudah melakukan hal-hal yang agak mirip dengan itu. Seperti pergi ke gereja dan semacamnya.

 

Akan tetapi, musim semi akhirnya tiba juga untuk Hitoshi, ya. Tiba, kan?

 

"Yah, singkatnya...... karena ada masalah semacam itu, makanya aku ingin berkonsultasi soal asmara kepada Youshin dan Takumi."

 

"Aku?"

 

"Aku?"

 

Sembari refleks menunjuk ke diri sendiri, Hitoshi tampak mengangguk-angguk mantap. Kalau Teshikaga-kun aku masih bisa paham...... tetapi kenapa harus aku dari sekian banyak orang?

 

"Teshikaga baru saja jadian dengan Shirishizu belum lama ini, jadi periodenya mirip denganku. Aku ingin minta saran dari sudut pandang yang posisinya berdekatan. Sedangkan Youshin tidak perlu ditanyakan lagi, kamu kan pakar asmara tingkat tinggi."

 

"Tunggu, tunggu, tunggu. Aku sama sekali bukan pakar asmara atau semacamnya, tahu! Kalau disuruh memilih, aku justru masuk kategori yang lemah."

 

"Tidak, tidak. Menurutku kamu itu bisa dibilang pakar asmara terkuat di sekolah kita, tahu."

 

"Benar. Menurutku Shishou itu tergolong sangat kuat, lho......"

 

Apa-apaan itu. Lagipula aku sama sekali tidak paham apa indikator yang menentukan seseorang itu kuat atau lemah. Terlebih lagi Teshikaga-kun malah ikut-ikutan menyetujui pula......

 

Pasti Teshikaga-kun yang jauh lebih kuat...... dalam arti fisik......

 

Biarlah. Mendalami hal-hal yang tidak kuketahui soal latar belakang itu rasanya bakal berbahaya, jadi biarkan saja.

 

"Tapi, dia kan orang luar negeri? Aku tidak yakin bisa berguna untuk diajak konsultasi soal asmara......"

 

"Aku sendiri cuma bisa bertepuk sebelah tangan dalam waktu yang lama...... lagipula aku pernah gagal sekali."

 

Teshikaga-kun mengatakannya dengan santai, tetapi bagian itu sama sekali tidak bisa dijadikan bahan tertawaan, lho. Namun kemampuan mengatakannya secara gamblang menandakan bahwa dia sudah berhasil melewati masa-masa itu meski sedikit. Lagipula orang-orang bilang bahwa dari kegagalanlah kita bisa belajar.

 

Jika dilihat dari sudut pandang itu, rasanya Teshikaga-kun memang terlihat lebih kuat.

 

"Bocah bodoh, kamu dan Takumi kan sekarang sudah punya pacar yang sangat cantik...... jadi kalian berada di pihak yang dimintai konsultasi. Dengarkan konsultasiku, ini adalah kewajiban kalian...... Mohon bantuannya."

 

Meskipun menyebutnya sebagai kewajiban, dia membungkukkan badannya dengan sangat sopan. Sebuah permohonan yang begitu indah hingga membuatku terpana karena keindahannya.

 

Namun tetap saja...... aku berada di pihak yang dimintai konsultasi?

 

Kata-kata itu benar-benar terasa asing di telingaku. Teshikaga-kun juga tampak bersedekap tangan sembari miringkan kepala dengan raut wajah kesulitan.

 

Jujur saja aku sendiri tidak tahu apakah bisa berguna atau tidak. Apakah aku punya rasa tanggung jawab yang cukup jika sampai memberikan saran yang tidak bertanggung jawab saat mendengarkan konsultasi asmara orang lain......

 

Konsultasi, ya...... Sampai sekarang pun aku masih sering meminta nasihat dari Baron-san, dan saat baru mulai berpacaran dengan Nanami dulu, aku benar-benar sangat bergantung padanya.

 

......Kalau dipikir-pikir lagi, beliau sempat mengatakan sesuatu pada waktu itu. Jika kamu merasa berutang budi karena telah dibantu dalam konsultasi, suatu saat nanti gantianlah mendengarkan konsultasi orang lain yang membutuhkan.

 

Kalau tidak salah, waktu itu aku bilang ingin membalas kebaikan tersebut...... lalu beliau menyampaikan bahwa daripada membalasnya padaku, lebih baik bantu mendengarkan konsultasi orang lain yang sedang kesulitan.

 

Pada waktu itu, membayangkan diriku mendengarkan konsultasi orang lain sama sekali tidak terlintas di pikiranku, sampai-sampai aku merasa ragu dan berpikir apakah momen seperti itu benar-benar akan datang.

 

Apakah ini berarti momen yang dimaksud telah tiba?

 

Meskipun terasa sebagai tanggung jawab yang cukup berat, dan isi masalahnya sendiri belum menjadi lebih ringan ataupun kupahami sepenuhnya. Namun rasanya sungguh ajaib karena tindakan di masa lalu itu seolah masih berlanjut hingga sekarang, dan jika kupikir ini adalah kesempatan untuk membalas kebaikan atas keberhasilanku menjalin hubungan dengan Nanami, hal itu terasa cukup masuk akal.

 

Meskipun masih belum jelas sejauh mana kemampuan yang bisa kuberikan, kurasa membantu teman yang sedang kesulitan di sini merupakan langkah yang bagus dan berbeda dari diriku yang dulu.

 

......Yah, lagipula aku bisa sampai di titik ini juga berkat serangkaian hal yang tidak biasa dariku. Jadi jika hal yang tidak biasa dariku bertambah sekarang, rasanya sudah tidak mengejutkan lagi.

 

Aku menghela napas kecil seolah-olah telah pasrah.

 

"Baiklah. Aku tidak tahu apakah bisa berguna atau tidak, tapi kalau kamu tidak keberatan dengan diriku, aku siap membantu."

 

"Aku juga bakal bantu. Aku memang tidak begitu mahir berbahasa Inggris, tapi kalau sebatas pelajaran sekolah aku masih paham, jadi kalau ada kesulitan di bagian itu bilang saja, ya."

 

Saat aku menyetujuinya, Teshikaga-kun ikut menyetujui dengan cara yang sama......

 

Sama? Eh?

 

......Teshikaga-kun kan anak berandal, ya? Kenapa dia bisa sepintar itu dalam pelajaran? Kalau sebatas pelajaran sekolah sih, bahkan sampai dunia terbalik pun aku tidak akan sanggup mengatakannya.

 

Apakah ini yang biasa disebut anak berandal yang pintar belajar?

 

Saat kami berdua menyetujuinya, Hitoshi yang tadinya menundukkan kepala langsung menegakkan kepalanya dan mengulas senyum lebar di wajahnya. Aku pun mengangkat kedua tanganku seolah menyerah.

 

Jika dia sesenang ini, tanggung jawabku jadi terasa sangat besar. Aku memang tidak tahu harus melakukan apa, tetapi mari berusaha sebaik mungkin saat mendengarkan konsultasinya nanti.

 

"Terima kasih banyak...... kalian berdua, terima kasih ya. Nah, jadi ada hal yang ingin langsung kutanyakan......"

 

"Cepat sekali. Kukira bakal agak nanti."

 

"Yah, aku sudah menduga kalau kamu memanggil kami karena ada hal yang ingin ditanyakan, sih......"

 

Hitoshi mengibaskan tangannya seolah ingin menenangkan kami, lalu mengarahkan layar ponselnya ke arah kami. Di sana, tertulis sebuah pesan.

 

"......Ini apa?"

 

Yang tertulis di sana adalah sebuah pesan.

 

Pesan itu tidak ditulis dalam bahasa Inggris, melainkan ditulis dalam bahasa Jepang yang rapi. Tentu saja, jika itu bukan bentuk kiasan, artinya memang seperti yang tertulis secara harfiah.

 

Di sana...... tercantum tulisan, Aku akan pergi menemuimu.

 

"Sebenarnya...... anak perempuan yang di Hawaii itu katanya bulan depan mau datang ke sini...... untuk jalan-jalan......"

 

Oleh karena itu, sambil menangkupkan kedua tangannya dia memohon agar kami memberitahukan tempat-tempat kencan yang direkomendasikan atau semacamnya.

 

Tempat kencan...... aku sendiri juga tidak begitu paham, padahal......

 

Padahal baru saja bilang siap mendengarkan konsultasi, tetapi jalan di depan rasanya sudah penuh rintangan.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Setelah acara kumpul-kumpul laki-laki yang pertama kali bagiku itu selesai, aku duduk di kursi kamarku sembari menatap ke arah langit-langit.

 

Karena ini adalah pengalaman yang terlalu baru bagiku, ada banyak hal yang rasanya belum begitu kupahami, tetapi fakta bahwa aku diandalkan oleh teman membuatku merasa sejujurnya senang.

 

Meskipun jujur merasa senang, perasaan ragu apakah orang seperti diriku ini pantas dimintai konsultasi tidak kunjung hilang.

 

Apakah tidak apa-apa jika itu aku, dan apakah aku mampu memberikan jawaban. Begitu menyendiri, entah mengapa pikiran yang pesimis atau perasaan cemas justru makin bermunculan. Mungkin ini juga ada hubungannya dengan rasa minoritas atau rasa minder terhadap mereka berdua.

 

Teshikaga-kun menjalin hubungan setelah melewati berbagai lika-liku dengan teman masa kecilnya, sedangkan Hitoshi yang terus-menerus bilang ingin punya pacar akhirnya berhasil bertemu kembali dengan anak perempuan yang dikenalnya di tempat liburan.

 

Keduanya memiliki kisah yang sangat dramatis dan romantis, bukan?

 

Ini benar-benar bagaikan......

 

"Rasanya mereka berdua itu seperti tokoh utama dalam cerita novel romance, ya."

 

Memang benar, mereka berdua memiliki kesan seperti pemeran utama. Hal itulah yang pertama kali terlintas di pikiranku.

 

Terlebih lagi, Teshikaga-kun adalah mantan anak berandal...... atau mungkin masih aktif? Bagaimanapun juga, seorang murid berandal yang berpacaran secara diam-diam...... tidak, secara terang-terangan dengan ketua murid yang tekun dan serius.

 

Hitoshi tergolong tipe orang yang suka melawak tetapi bisa diandalkan di saat-saat krusial, serta berada di pusat perhatian kelas. Orang seperti dia bisa menjalin hubungan baik dengan anak perempuan di tempat liburan......

 

Bahkan mereka sampai berada dalam hubungan yang bisa saling bertemu kembali, baik di tempat liburan maupun di sini.

 

"Hebat banget, serius...... apakah ini benar-benar kejadian di dunia nyata?"

 

Yaa, kalau cuma didengar dari kata-kata saja, kejadian ini terasa sangat minim realita. Namun, ini adalah kenyataan. Mungkin ini yang dinamakan fakta sering kali lebih aneh ketimbang fiksi.

 

Meskipun kubilang mereka seperti tokoh utama dalam cerita romance, bukan cuma situasinya saja, melainkan orangnya sendiri juga memang begitu...... Entah bagaimana harus mengutarakannya, tetapi mereka berdua memiliki karisma tersendiri.

 

Tidak, bukan cuma pihak laki-laki saja, pihak perempuan pun memiliki karismanya masing-masing. Walaupun aku belum pernah bertemu dengan pasangannya Hitoshi.

 

Kalau aku...... paling-paling cuma karakter figuran.

 

Tidak, sebelum mengenal Nanami, aku sudah pasti adalah seorang karakter figuran. Apalagi tipe karakter figuran yang samar dan tidak memiliki keberadaan yang menonjol. Jika ini adalah sebuah karya cerita, pasti ada kemungkinan namaku bahkan tidak tercantum sama sekali.

 

Kalau sekarang...... setelah berpacaran dengan Nanami, apakah aku setidaknya sudah mendapatkan peran pembantu? Tentu saja Nanami adalah karakter utama.

 

......Tidak boleh begini, kalau sedang menyendiri pikiranku malah jadi negatif. Atau lebih tepatnya pikiran yang membuat berkecil hati......

 

Saat aku sedang melamun sendirian di kamar seperti itu, bunyi yang menandakan ada seseorang yang datang ke rumah ini...... bel pintu berbunyi. Betapa tepatnya waktu kedatangannya...... dia datang di saat aku sedang ingin bertemu dengannya.

 

Meskipun tidak mungkin terdengar, aku mengucap "Iya~" sembari bergerak dari kamar menuju pintu depan. Karena Ayah dan yang lainnya sedang tidak ada di rumah, kalau aku tidak keluar nanti dikira tidak ada orang di rumah...... bukan karena alasan itu sih......

 

Melainkan murni karena tamuku telah datang.

 

Mulai dari sini mari ubah suasana hati, pikiran negatifnya cukup sampai di sini saja.

 

"Selamat datang."

 

"Aku datang~ Permisi~"

 

Saat pintu kubuka dengan bunyi klik, di sana berdiri Nanami yang sedang menjinjing kantong belanjaan sambil melambaikan tangan dengan senyuman manis.

 

Aku langsung mempersilakan Nanami masuk ke dalam rumah, lalu bukannya menuju ke kamarku, kami berdua justru berjalan menuju dapur. Sesuai dengan kebiasaan yang sudah di luar kepala...... Nanami pun sudah paham betul letak dapur di rumahku.

 

Begitu kantong belanjaan diletakkan, aku mengambil celemek dari dalam lemari dan menyerahkannya kepada Nanami. Bersamaan dengan aku yang mengenakan celemek milikku, Nanami juga mengenakan celemeknya.

 

Sebenarnya di rumah kami sudah ada celemek khusus milik Nanami sendiri, lho...... Selain itu, sebenarnya ada beberapa barang lain yang biasa digunakan oleh Nanami. Peralatan memasak, lalu pakaian ganti seperti kaus......

 

Tidak, aku sempat berpikir kenapa barang pribadi milik pacar yang tinggal bersama orang tuanya dan tidak sedang tinggal bersama denganku justru makin bertambah di rumah ini. Nanami sendiri juga sempat mengomentari hal itu.

 

Namun karena Ibu sangat bersemangat mengenai hal ini, jadi mau bagaimana lagi. Celemek ini pun sebenarnya dibelikan oleh Ibu sebagai hadiah untuk Nanami......

 

Sebenarnya setiap kali memasak bersama, kami selalu mengenakan ini. Sembari mengenakan celemek yang serasi, Nanami menepuk kedua telapak tangannya prok.

 

"Kalau begitu, mari kita buat makan siang!"

 

"Iya, kalau begitu mohon bantuannya, ya."

 

Karena kegiatan sekolah hari ini selesai sebelum siang, kami tidak dapat makan siang di sekolah. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk membuat makan siang bersama di rumah dan menyantapnya. Soalnya kalau makan di luar agak mahal, sih.

 

Untuk sementara waktu kami tidak bisa terlalu banyak menggunakan uang, jadi hal-hal seperti membuat makanan sendiri ini atau pergi kencan ke tempat jauh sepertinya tidak memungkinkan untuk dilakukan......

 

Mengenai hal itu, kami berdua sudah berdiskusi untuk melakukan hal-hal yang bisa dinikmati tanpa perlu mengeluarkan uang. Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memaksakan hal yang di luar kemampuan.

 

......Seandainya aku lebih bisa diandalkan, mungkin aku tidak perlu membuat Nanami ikut bersusah payah soal uang......

 

Tidak, kami kan tidak sedang menikah, jadi istilah bersusah payah soal uang itu kurang tepat.

 

Tetapi bagaimana ya, seandainya aku sedikit lebih kaya, bukankah aku bisa memberikan hal-hal yang lebih bagus atau mengajak Nanami kencan ke tempat yang lebih baik?

 

Tentu saja Nanami bukanlah anak perempuan yang bisa tergiur hanya karena uang, tetapi......

 

Gawat, sepertinya aku masih terbawa oleh perasaan murung saat menyendiri tadi. Padahal ada Nanami di sini, tetapi aku malah jadi agak pesimis. Sekarang kami sedang memasak, jadi aku harus fokus pada masakan......

 

"......Kok kelihatannya kurang bersemangat?"

 

Saat aku sedang mencuci sayuran secara ringan, Nanami bergumam sembari mengupas kulit kentang. Karena sedang memegang pisau dapur, pandangannya tidak tertuju padaku, melainkan tetap tertuju pada kentang.

 

Padahal aku sudah berusaha bersikap seceria mungkin, tetapi apakah aku tidak bisa menyembunyikannya dari Nanami, ataukah dia merasakan sesuatu dari ucapan-ucapanku sebelumnya......

 

Aku sungguh merasa bersyukur karena ada Nanami di sisiku. Namun di saat yang sama, rasa tidak berguna dalam diriku karena telah membuatnya cemas justru......

 

"Tunggu, tunggu! Jangan langsung berkecil hati begitu sebelum aku sempat mendengarkan ceritanya!"

 

"......Eh? Kok kamu bisa tahu?"

 

Nanami, yang telah selesai mengupas kulit kentang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi ketimbang diriku, menghentikan tangannya saat hendak mengupas kentang berikutnya.

 

Dia memiringkan kepalanya secara ringan, lalu memejamkan mata seolah sedang berpikir keras......

 

"Entah ya, mungkin insting? Atau dari atmosfermu?"

 

"Ehh...... Kamu bisa tahu hanya dari firasat semacam itu?"

 

"Habisnya kan kita selalu bersama. Lagipula kalau aku sedang berkecil hati, Youshin juga pasti bisa tahu, kan?"

 

Apakah memang seperti itu?

 

Kalau dikatakan seperti itu lalu aku sampai tidak tahu saat Nanami sedang berkecil hati, bisa jadi masalah besar sih...... tapi yah, kalau Nanami sedang tidak bersemangat, aku pasti akan berusaha menyemangatinya.

 

"Mau mendengarkan ceritaku?"

 

"Iya. Hal-hal seperti itu penting untuk dibicarakan dengan baik dan tidak dipendam sendiri."

 

Memang benar sih, memendamnya sendiri tidak akan membuahkan hal yang baik. Terlebih lagi masalah kali ini sebenarnya tidak berdampak langsung pada kami berdua.

 

Tepat saat aku hendak mulai bercerita, Nanami bergumam, "Ah." Dia sengaja meletakkan pisau dapurnya, lalu menyandarkan tangannya di samping wajah seperti saat hendak membisikkan rahasia.

 

Kemudian, dia berbisik tepat di dekat telingaku......

 

"Hal-hal yang kamu pendam itu, keluarkan saja semuanya sampai puas, ya"

 

Refleks aku hampir saja menjatuhkan sayuran yang sedang kupegang. Ini jelas-jelas, jelas-jelas pernyataan yang disengaja.

 

Yah, dia memang punya pengetahuan ke arah sana sih. Lagipula gaya bicara seperti ini pasti didapat dari mendengarkan ketua murid yang mesum terelubung itu. Dia menanamkan pengetahuan yang tidak perlu lagi ke Nanami......

 

"Ah, soal ini, aku sengaja mencarinya secara mandiri karena kupikir Youshin bakal menyukainya."

 

"Eh......?"

 

Tunggu dulu, apa maksudnya aku bakal menyukai hal semacam itu? Rasanya aku baru saja diberitahu sesuatu yang sangat mengejutkan.

 

Hanya dari satu kalimat tadi saja bobot informasinya sudah begitu luar biasa, hingga kepalaku kesulitan memproses informasinya.

 

"Maksudnya Nanami itu...... berpikir kalau aku suka hal-hal yang......"

 

"Ini cuma firasatku saja sih...... tapi apakah Youshin ini sebenarnya sedikit cenderung ke arah M......?"

 

"Sepertinya hal ini perlu kita diskusikan sedikit."

 

Mengapa pembahasannya bisa mengarah ke sana?

 

Saat aku menanyakan perinciannya lebih lanjut, ternyata tidak ada yang aneh...... Walaupun dia mencarinya secara mandiri, pemicunya tetap saja berasal dari ketua murid itu.

 

Benar-benar selalu melakukan hal yang tidak perlu, ketua murid itu.

 

Nanami sendiri tidak menceritakan soal perjalanan liburan kami secara gamblang, tetapi dia memberitahukan secara ringan kepada teman-teman perempuannya bahwa hubungan kami mengalami kemajuan selama libur musim dingin ini.

 

Tentu saja bagian soal mandi bersama tetap dirahasiakan. Namun, poin soal pergi berlibur bersama...... disampaikan secara tersirat meski agak dikaburkan. Akan tetapi, tampaknya dia sempat menyebutkan poin bahwa kami pada akhirnya tidak melewati batas akhir tersebut.

 

Mendengar hal itu...... ada yang mencemooh Nanami sebagai penakut, ada yang membela Nanami dengan menyebutku yang penakut, dan ada pula yang menyerang kembali dengan bilang kalau kami berdua sama-sama penakut......

 

Situasi tersebut menunjukkan berbagai sudut pandang dari ketiga belas pihak...... sungguh keterlaluan. Bagaimanapun juga, itu berarti aku atau Nanami tetap dianggap sebagai seorang penakut, kan?

 

Yah, kalau disuruh memilih apakah aku penakut atau bukan, mungkin aku memang cenderung ke arah penakut sih. Meski begitu, kami seharusnya dipuji karena mampu menahan diri untuk tidak melewati batas akhir, bukannya malah dimarahi......

 

Ah, pembahasannya mulai melenceng, jadi mari kita hentikan.

 

Bagaimanapun juga, mengenai kondisi saat ini di mana bagian krusialnya belum mengalami kemajuan...... Shirishizu-san sempat menyinggungnya.

 

Jangan-jangan, ini adalah salah satu bentuk strategi untuk mengulur-ulur dan membuat penasaran......?

 

Begitu pembahasan sampai di titik itu, sisanya langsung merembet bagaikan menarik akar tanaman. Jika aku suka diulur-ulur dan dibuat penasaran, itu berarti aku mungkin sedikit cenderung ke arah M. Jika dibandingkan dengan S, memang lebih cocok ke arah sana.

 

Tanpa disadari, gambaran preferensi seksualku terbentuk begitu saja...... dan sebagai hasilnya, Nanami jadi mencari tahu seperti apa gambaran orang yang sedikit M itu.

 

Hingga muncullah kalimat yang diucapkannya tadi.

 

Dengan kata lain, kalimat tadi adalah hasil dari sanggahan Shirishizu-san, dorongan dari orang-orang di sekitarnya, serta rasa ingin tahu Nanami yang bersatu menjadi sebuah kekuatan pertemanan dari masing-masing orang...... Sungguh kekuatan pertemanan yang menyebalkan.

 

"Bagaimana? Apakah kamu senang? Apakah kamu menyukainya?"

 

"......Belajar hal-hal aneh seperti itu lagi......!!"

 

"Ehh? Berpikiran aneh begitu berarti pikiranmu sendiri yang kotor, tahu~"

 

"Sudahlah, ayo buat makan siangnya!!"

 

Aku melanjutkan kembali pembuatan makan siang seolah ingin menyela Nanami yang kembali menggodaku. Nanami pun terkekeh sembari mengucap "Iya~" dan kembali menggenggam pisau dapur.

 

Karena aku menyerahkan urusan bahan makanan kepada Nanami, aku membantu persiapan bahan-bahan yang dibelinya sesuai arahan Nanami, sementara proses memasak dan penyelesaiannya dilakukan oleh Nanami.

 

Lagipula untuk urusan selera bumbu masakan, Nanami memang masih jauh lebih unggul denganku... Namun aku sendiri, mungkin berkat didikan dari Nanami, kini sudah jadi jauh lebih pandai memasak.

 

Selain itu, setelah mulai bekerja paruh waktu... aku baru menyadari bahwa melihat orang-orang menyantap makanan dengan lezat bisa membuat perasaanku menjadi cerah kembali.

 

Saat menyantap makanan lezat, semua orang terlihat sangat bahagia. Karena bisa menciptakan ruang yang penuh kebahagiaan seperti itu, memasak adalah hal yang sungguh luar biasa.

 

Aku sendiri sesekali memasak, dan saat masakan yang kubuat dengan baik dipuji lezat oleh Nanami, hal itu memberikan perasaan bahagia yang luar biasa. Meskipun baru sadar sekarang... aku mulai menyukai aktivitas memasak.

 

Menu makan siang hari ini yang kubuat bersama Nanami sesuai dengan arahannya... adalah menu yang di internet cukup sering dijuluki sebagai "Menu Yang Seperti Ini Saja Sudah Cukup".

 

Onigiri dengan taburan garam yang pas, sup daging babi (tonjiru), tamagoyaki, sosis, dan asinan sayur (tsukemono). Rumput laut (nori) yang dibalutkan pada onigiri disediakan dalam dua jenis, yaitu yang bertekstur lembut dan yang renyah...

 

Onigirinya sengaja dibuat tanpa isian, murni onigiri garam (shio-musubi). Diberi isian pun sebenarnya lezat, tetapi konsep hari ini tampaknya adalah melahap onigiri lalu menyedot sup daging babi.

 

Setelah hidangan yang telah jadi ditata rapi, bahkan teh panas pun disiapkan. Bukan teh bubuk, melainkan teh asli yang diseduh dari daun teh menggunakan poci (kyusu).

 

...Rasanya kok mewah sekali, ya.

 

"Sebenarnya..."

 

"Ehh?"

 

Tepat di depan hidangan, saat aku hendak menangkupkan kedua tangan, Nanami bergumam sambil menundukkan pandangannya.

 

"Untuk makan siang hari ini, tadinya aku berencana membuat kari. Lengkap dengan topping telur mata sapi dan sosis."

 

"Itu juga kelihatan lezat, sih... Kenapa menu porsinya diganti?"

 

"Karena Youshin kelihatan kurang bersemangat. Makanya aku buat onigiri."

 

Dengan cekatan, Nanami mengambil onigiri yang tertata di atas piring. Kemudian, dia mengepal nasi itu kembali dengan membungkusnya di dalam telapak tangan. Padahal nasi itu sudah terkepal rapi.

 

"Onigiri itu kan disentuh langsung dengan tangan seperti ini... Jadi kupikir kalau dikepal sambil mengalirkan pikiran 'ayo bersemangatlah~', Youshin juga bisa jadi bersemangat kembali."

 

Sekali lagi Nanami memberikan sedikit dorongan lembut pada onigiri tersebut. Ukurannya tidak begitu berubah, tetapi Nanami menyerahkan onigiri itu kepadaku.

 

Saat aku menerima onigiri tersebut, aku langsung menyuapkannya ke dalam mulut.

 

"Lezat."

 

"Karena aku memasukkan perasaan 'ayo bersemangatlah~' di dalamnya. Apakah kamu sudah bersemangat kembali?"

 

...Nanami memang luar biasa, ya.

 

Perasaan janggal dan ganjil yang kurasakan hingga tadi kini telah lenyap. Bahkan sebelum aku sempat menyantap onigiri ini.

 

Karena teringat belum mencucinya, aku meletakkan onigiri yang baru dimakan sebagian itu kembali ke atas piring, lalu menangkupkan kedua tangan kembali.

 

"Selamat makan (itadakimasu)."

 

"Ya, selamat makan."

 

Sapaan dan ucapan itu penting. Terutama ucapan itadakimasu ini adalah hal yang paling krusial saat menyantap makanan... Karena kita sedang menerima nyawa dari makhluk hidup lain, sangat penting untuk menyantapnya dengan penuh rasa syukur.

 

Di luar negeri pun sepertinya ada sapaan yang serupa, tetapi kurasa apa yang dipikirkan semua orang pada dasarnya sama. Karena jika tidak makan seperti ini, manusia tidak akan bisa bertahan hidup.

 

Melahap onigiri, menyeruput sup daging babi, menggigit sosis, dan menikmati tamagoyaki secara mewah dalam satu suapan penuh. Nanami tertawa melihatku menyantapnya dengan begitu lahap.

 

Sembari menyantap makan siang yang tenang namun memberikan energi... aku menjelaskan kepada Nanami hal yang hampir kuucapkan tadi, serta apa yang terjadi saat acara kumpul-kumpul laki-laki.

 

Untuk menjelaskan kondisi perasaanku yang pertama tadi, aku juga harus menyampaikan soal Hitoshi dan kawan-kawan...

 

"Benar-benar terasa masa mudanya ya~ Enaknya cerita seperti itu—"

 

"Iya kan... enak sekali ya..."

 

"Tapi tunggu, apakah tidak apa-apa menceritakan hal itu kepadaku?"

 

"Iya. Katanya boleh diceritakan, supaya saat aku dimintai konsultasi, aku juga bisa mendengarkan pendapat dari Nanami."

 

Mendengar bahwa aku tidak menyampaikannya secara sembarangan, Nanami menghela napas lega, namun seketika... ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit cemberut.




Eh? Kenapa? Apakah aku membuatmu marah?

 

Saat aku berpikir demikian, Nanami sedikit memajukan badannya ke atas meja dan mengulurkan tangannya padaku. Namun karena meja terhalang posisi berhadapan, tangan Nanami tidak dapat menjangkauku.

 

Sempat menyerah sejenak, Nanami lalu berdiri tegak dan bergerak tepat ke sampingku. Padahal sedang makan, ada apa dengannya ya? Begitu duduk di sebelahku... Nanami perlahan mengulurkan tangannya dan mencubit pipiku.

 

Kemudian, dia menarik pipi yang dicubitnya itu.

 

"Na-Nanami, shakiit..."

 

Karena ditarik, suaraku jadi terdengar aneh.

 

Melihatku yang tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas, Nanami menggembungkan pipinya sedikit dan menatap mataku. Dia menyunggingkan bibir serta memajukan mulutnya. Raut wajahnya terlihat marah, tetapi rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat ekspresi wajahnya yang seperti ini.

 

"Duh, Youshin... Dengarkan ya? Kamu tidak perlu berpikir hal aneh seperti menganggap dirimu sendiri itu cuma karakter figuran."

 

"Tapi ya habisnya... aku ini tergolong orang yang agak datar dan biasa saja, kalau dibandingkan dengan mereka berdua..."

 

"Bicara apa sih, biasa saja itu justru yang terbaik, tahu. Lagipula Youshin itu... karakternya lumayan kuat dan unik, lho?"

 

"Eh...? Jangan bercanda, ah. Mana mungkin karakterku tergolong kuat dan unik..."

 

Meskipun aku membalasnya dengan berseloroh sambil tertawa, Nanami tampak sangat serius.

 

Eh? Seriusan?

 

Aku mencoba berpikir bagian mana dari diriku yang tergolong kuat dan unik, tetapi sama sekali... tidak ada hal yang terlintas di pikiranku.

 

"Soal bagian itu nanti kapan-kapan bakal kuberitahu secara mendalam, sih... Namun setidaknya, tidak mungkin banget kalau Youshin itu cuma karakter figuran."

 

"Ehh? Apakah memang begitu...?"

 

"Lagipula... bagiku..."

 

Setelah melepaskan tangannya dari pipiku, Nanami menangkupkan kedua tangannya lalu tampak sedikit tersipu dan gelisah. Dari gerak-geriknya yang malu-malu itu, aku tahu Nanami hendak mengatakan sesuatu yang semacam itu.

 

Di dalam hati, aku memasang kuda-kuda agar siap menerima apa pun yang diucapkannya. Dengan begitu, bahkan jika kata-kata yang memberikan dampak fatal datang, aku bisa tetap aman...

 

"Bagi diriku, Youshin itu adalah tokoh utamanya... jadi aku bakal senang sekali kalau aku yang menjadi heroine..."

 

...Ternyata daya hancurnya tetap saja luar biasa. Padahal sudah memasak kuda-kuda, aku merasa seperti baru saja menerima dampak yang sangat fatal. Rasanya seperti hendak memuntahkan darah dari mulut.

 

Bukan karena malu, melainkan karena rasa bahagia.

 

"...Begitu ya, kalau aku tokoh utamanya, berarti Nanami heroine-nya, ya."

 

"Iya. Ehehe, happy ending adalah yang terbaik, kan."

 

Akhir yang bahagia adalah yang terbaik... Itu memang benar sekali. Aku sendiri sangat menyukai akhir yang bahagia. Walaupun aku juga menyukai cerita dengan bad ending, di dunia nyata aku hanya menyukai akhir yang bahagia.

 

Dunia nyata memang penuh kesulitan, tetapi tidak ada salahnya kan jika berharap seperti itu.

 

"Oleh karena itu, Kenbuchi-kun juga sebaiknya bisa mendapatkan kebahagiaan, ya."

 

"Benar juga, tapi walau diminta memberi saran tempat kencan yang direkomendasikan..."

 

"Tidak, tidak. Bukankah dia bakal datang bulan depan? Timelinenya pas dan sangat cocok, kan."

 

...Emm? Nanami sedang membicarakan apa, ya?

 

"Bulan depan sangat cocok... memangnya ada acara apa?"

 

"Hah? Youshin... kamu seriusan?"

 

Nanami melongo, dengan mulut yang menganga setengah seolah bukannya pasrah, melainkan seperti tidak percaya. Terlihat raut wajahnya jadi tampak agak konyol.

 

Entah konyol tapi imut, Nanami yang membuka mulutnya seperti itu mengatakannya dengan terheran-heran... Bulan depan...? Aku pun bersedekap tangan dan miringkan kepala. Sama sekali tidak ada hal yang terlintas di pikiranku.

 

Melihat reaksimu yang seperti itu, ekspresi Nanami berubah berbalik dari yang tadi, menatapku dengan mata bagaikan seorang Ibu Bunda Maria.

 

"Youshin, tadinya aku sangat ragu apakah harus mengatakan hal ini atau tidak. Soalnya kan Youshin selama ini tidak begitu memedulikan hal-hal semacam itu, jadi aku berpikir apakah kamu tidak menyadari hari tersebut."

 

"Tidak menyadari... maksudmu aku? Memangnya ada hari peringatan atau semacamnya?"

 

Aku dan Nanami berpacaran belum genap 1 tahun, dan ulang tahun Nanami juga di musim panas, jadi bulan depan tidak ada acara apa-apa... Setidaknya, hal-hal yang bersifat hari peringatan seharusnya masih jauh di depan.

 

Ah, jangan-jangan ulang tahun Saya-chan atau yang lainnya? Tapi karena tidak diberitahu, jangankan menyadari, aku tidak tahu apa-apa.

 

Apa ya?

 

"Ternyata kamu benar-benar tidak menyadarinya, ya... Yah, sesuai dugaanku, sebaiknya kuberitahu saja."

 

Nanami menghela napas panjang sekali, lalu mengambil posisi tubuh yang seolah memajukan badannya ke depan, dan menegakkan jari telunjuknya.

 

Seolah-olah ini adalah kesempatan terakhir bagiku, tetapi aku sama sekali tidak bisa menangkap maksudnya... sampai akhirnya jawaban dari Nanami disampaikan.

 

"Bulan depan itu, Hari Valentine, tahu?"

 

Mendengar kata-kata itu di telingaku, aku... miringkan kepala jauh lebih dalam ketimbang yang tadi.

 

"Valen... tine...?"

 

"Itu dia?!!"

 

Karena reaksiku yang terlalu lambat dan tumpul, teriakkan respons Nanami yang terkejut dan terperangah pun bergema di seluruh area dapur.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close