Chapter 3
Acara yang Sama Sekali Tidak Memiliki Keterikatan Maupun Kesan Terbiasa
Tidak,
tentu saja aku juga tahu keberadaan hari yang bernama Hari Valentine itu.
Secuek apa pun diriku, sangat tidak mungkin sampai tidak tahu apa itu
Valentine.
Lalu
jika ditanya mengapa reaksiku tadi begitu lambat, alasannya sederhana saja...
aku murni tidak menyadari bahwa bulan depan adalah Hari Valentine.
Mengetahui
suatu hal dengan menghubungkannya ke dalam situasi nyata adalah dua masalah
yang berbeda. Sama halnya seperti memiliki pengetahuan, tetapi tidak tahu cara
mempraktikkannya.
Yah,
dalam kasus ini, ini murni masalah acara yang memang tidak memiliki keterikatan
denganku saja, sih. Makanya, saat Nanami hampir saja memberikan penjelasan
seperti 『Hari
Valentine itu adalah...』,
aku jadi panik dan terburu-buru memberitahunya bahwa hal itu tidak perlu.
Meskipun
aku sempat bilang "seberapa bodohnya aku ini di matamu", Nanami malah
membalas kalau Youshin ini memang tipe orang yang sama sekali tidak
peduli pada hal-hal yang tidak diminati. Makanya dia bilang ini bukan berarti
aku bodoh atau semacamnya...
Ya,
hal itu memang benar adanya. Karena jika benar-benar tidak tertarik, aku bahkan
tidak akan mengingatnya...
Urusan
Valentine pun aku tidak begitu paham karena tidak pernah mendapatkan cokelat
dari Ibu. Tampaknya Ibu memang memberikan cokelat kepada Ayah, tetapi sejak aku
bilang "aku tidak butuh", aku tidak pernah mendapatkannya lagi.
Mengapa
bisa begitu? ...Mungkin, alasannya murni karena saat itu aku merasa malu atau
hal semacamnya.
Saat
melihat bahwa Hari Valentine adalah hari untuk mengungkapkan kasih sayang, aku
mungkin berpikir bahwa orang yang dicintai Ibu adalah Ayah, sedangkan perasaan
yang ditujukan kepadaku adalah kasih sayang keluarga... atau semacamnya.
Padahal
tidak ada salahnya kan menerima cokelat Valentine atas dasar kasih sayang
keluarga...
Di
rumah kami, sudah menjadi hal yang lumrah jika Ibu berkata, "Kalau kamu
mau, bilang saja kapan pun ya," tepat di samping Ayah dan Ibu yang sedang
bertukar cokelat Valentine.
Tentu
saja, aku selalu mengakhirinya dengan jawaban "tidak usah, aku tidak
apa-apa". Oleh karena alasan itulah, dalam beberapa tahun terakhir ini aku
tidak pernah menerima hadiah Hari Valentine... yaitu cokelat.
Lagipula
aku juga tidak begitu suka cokelat... ucapan semacam itu kalau dikatakan
sekarang rasanya seperti sedang berakting sok tegar, ya. Padahal sebenarnya
memang tidak ada masalah sama sekali.
"Aduh~
Youshin ternyata agak berpikiran picik, ya... Kalau begini bukankah lebih tepat
disebut agak frustrasi?"
"Rasanya
bukan hal semacam itu juga sih... Aku sendiri juga tidak begitu paham."
Saat
aku mengutarakan persepsiku mengenai Hari Valentine, Nanami tampak sangat
terheran-heran. Dengan mata menyipit, dia terperangah dan menganga keheranan.
Apakah
hal semacam ini bisa disebut sebagai berpikiran picik? Mengenai hal tersebut,
mau tidak mau aku hanya bisa miringkan kepala... namun aku paham kalau hal ini
memang tergolong aneh.
"Kalau
mau dibilang berpikiran picik, bukankah orang yang menganggap Valentine sebagai
konspirasi komersial buatan Jepang itu yang justru kelihatan lebih picik?"
"Bukan
begitu... Justru fakta bahwa pikiran semacam itu tidak terlintas dan kamu murni
menganggap Valentine hanya sebagai bagian dari hari biasa, itulah yang
membuatmu terasa agak picik, tahu...?"
Apakah
memang seperti itu?
Nanami
yang terheran-heran seperti ini memang pernah terjadi sebelumnya, tetapi kali
ini rasanya tingkat keterkejutannya berada di level yang sangat berbeda dari
biasanya.
Seperti
saat karyawisata atau festival sekolah dulu. Karyawisata dan festival sekolah
adalah acara yang hanya berlangsung selama berada di lingkungan sekolah,
sedangkan Valentine adalah acara tahunan yang akan selalu terjadi tanpa
memedulikan sekolah...
Apakah
karena perbedaan hal tersebut?
Sampai-sampai
dia berpikir gila juga orang ini bisa mengabaikan acara semacam itu. Tapi yah,
mau bagaimana lagi... memang benar-benar tidak ada keterikatan padaku. Rasanya
bagian ini lebih ke arah perbedaan budaya.
"Tapi
aku merasa Youshin yang agak picik begini juga lumayan manis, sih..."
Entah
mengapa Nanami ini selalu memujiku dalam hal apa pun, ya. Bukankah dia ini
terlalu serba mengiyakan segala hal tentang diriku?
Bilang
kalau sikap picikku ini juga bagus...
Saat
aku menyampaikan terima kasih, karena dia terlihat seperti ingin dipuji, aku
memutuskan untuk mengusap kepalanya. Padahal aku sempat berpikir sebaiknya
tidak terlalu sering menyentuh rambut perempuan... tetapi Nanami sangat suka
jika kepalanya diusap.
Ini
bukan sekadar prasangkaku saja... karena saat kuusap sebelumnya, dia pernah
bilang, "Aku suka kalau diusap oleh Youshin...". Makanya sesekali,
aku melakukannya seperti ini.
...Ah,
mari kita kembalikan pembahasannya. Ini soal Valentine.
Ya,
soal Hari Valentine. Begitu aku menyampaikan bahwa aku tidak memiliki
keterikatan dengannya, Nanami menyentuhkan jarinya ke bibir seolah-olah sedang
mengingat sesuatu.
"Hmm,
apakah para anak perempuan di sekolah tidak membagikan giri-choco? Itu
lho, yang dibagikan ke semua anak laki-laki di kelas tanpa peduli seberapa
dekat hubungannya."
"Apa
itu...? Membagikan secara merata?"
Muncul
lagi budaya baru yang tidak kuketahui. Membagikan secara merata adalah konsep
yang cukup mengejutkan. Atau apakah itu strategi di mana mereka membagikannya
karena bakal mendapatkan balasan sehingga tetap balik modal?
Ah,
saat aku bicara soal balik modal, Nanami kembali menatapku terheran-heran. Dia
bilang jangan mencari hitungan untung-rugi di Hari Valentine... Ya, ucapan itu
memang sangat benar.
Tapi
bagaimana ya, bukankah cokelat yang dibagikan secara acak tanpa hubungan khusus
seperti itu jadi terasa kurang bernilai? Eh? Memangnya semua orang merasa
senang?
Semua
anak laki-laki?
"Aku
bersama Hatsumi dan Ayumi biasanya membagikan cokelat murah yang dibeli
seadanya kepada anak-anak laki-laki di kelas... dan ternyata mereka semua
lumayan senang, lho? Bahkan anak-anak laki-laki sampai menyembahnya."
Menyembahnya?
Bagaikan menyembah Dewa atau Buddha begitu? Apakah... mereka senang hanya
karena yang membagikannya adalah Nanami?
Tidak
deng, faktor bahwa yang membagikannya adalah Kaminei-san atau Otofuke-san
mungkin juga berpengaruh besar. Setidaknya, hal itu bisa menjadi bukti bahwa
mereka pernah menerima cokelat dari anak-anak perempuan tersebut.
"Ayumi
bahkan sampai menebar cokelat sambil berteriak, 『Iblis keluarlah~ Cokelat masuklah~』, lho."
"Bukankah
itu mengabungkan dua acara yang berbeda...? Eh? Cokelatnya benar-benar ditebar?
Cokelat penolak bala?"
Bagaimana
ya, aku jadi sedikit ingin melihat kejadian itu. Mungkin ada yang bakal marah
dan bilang jangan bermain-mana dengan makanan, tetapi di sisi lain memang ada
acara tradisi melempar mochi.
Asalkan
nantinya dimakan dengan benar, hal semacam itu sepertinya masih bisa dimaklumi
jika dilakukan di antara teman dekat.
"Kalau
Hatsumi dibagikan langsung dari tangan ke tangan, tapi entah kenapa bagi yang
berminat dia juga menambahkan kata-kata cemoohan... Aku tidak begitu paham apa
maksudnya."
...Tampaknya
di sana ada penikmat tingkat lanjut. Tidak deng, di dunia internet aku memang
sering melihat hal-hal semacam itu dianggap sebagai bentuk hadiah (pencerahan),
sih.
Tapi
ternyata ada yang melakukannya di dunia nyata. Dan Otofuke-san mau melayani
permintaan tersebut. Mereka berdua benar-benar terlalu pandai membawa suasana.
Aku
jadi paham betul bagaimana mereka berdua menghabiskan Hari Valentine di
sekolah... Tidak deng, dalam arti tertentu aku justru jadi makin tidak paham.
Meski
begitu, aku sudah mengerti apa yang mereka lakukan. ...Kalau begitu, bagaimana
dengan Nanami? Jangan-jangan Nanami juga... pernah menyerahkan cokelat
kewajiban kepada seseorang.
Uwah,
benar juga ya. Meskipun Nanami dulunya tidak terbiasa menghadapi laki-laki,
tetap ada kemungkinan dia pernah ikut membagikan giri-choco.
Tidak
deng, seandainya aku sudah kenal dengannya sewaktu kelas satu dulu, apakah aku
bisa mendapatkannya... Mana mungkin.
Meski
begitu, rasanya... fakta bahwa di masa lalu Nanami pernah memberikan cokelat
kepada seseorang selain diriku bisa jadi membuat perasaanku agak sedikit
janggal dan ganjil.
...Kalau
dipikir-pikir, sempit sekali ya pikiranku ini. Sampai-sampai cemburu pada
tindakan di masa lalu.
Aku
tahu tidak boleh melakukan hal semacam itu karena pernah terjadi hal serupa
sebelumnya, tetapi tetap saja perasaan itu mau tidak mau muncul begitu saja.
Aku
harus mengendalikan perasaan semacam ini dengan benar...
"Ah,
kamu tidak usah khawatir, ya. Aku secara pribadi tidak ikut serta dalam acara
pembagian itu, kok."
...Eh?
Benarkah?
Padahal
aku tidak mengutarakan apa pun, tetapi Nanami yang memintaku untuk tidak
khawatir itu kemungkinan besar telah membaca apa yang ada di dalam pikiranku
lewat raut wajahku.
Oleh
karena itu, aku tidak bertanya mengapa dia bisa tahu. Karena sudah bukan hal
yang mengejutkan lagi jika pikiranku bisa diterawang oleh Nanami. Hanya saja,
masalah apakah hal itu mengusik perasaanku atau tidak adalah hal yang berbeda.
"Kenapa
kamu tidak ikut serta?"
Entah
bagaimana ya, hal-hal semacam itu kan biasanya diikuti karena ikut-ikutan...
atau terbawa suasana. Bagiku sih, fakta bahwa Nanami tidak menyerahkannya
kepada siapa pun itu... membuatku merasa senang.
Nanami
bersikap seolah tidak ada hal yang luar biasa, sembari merenggangkan tubuhnya
sedikit.
"Yah,
sederhananya saat itu aku memang tidak terbiasa menghadapi laki-laki...
Lagipula melihat anak-anak laki-laki yang mengerumuni Ayumi, atau yang
kegirangan saat dicemooh oleh Hatsumi, sampai-sampai ada yang dogeza
demi mendapatkan cokelat itu benar-benar sangat berlebihan..."
Saking
tercengangnya hingga merasa risih, Nanami mengulas ekspresi wajah yang sangat
serba salah, entah karena teringat akan kejadian saat itu atau bagaimana.
Apakah itu senyum kecut, ataukah raut wajah yang serba salah...
Tidak,
situasi kacau apa itu? Terlebih lagi, apakah benar-benar ada orang yang sampai
bertekuk lutut? Apakah mereka begitu menginginkan cokelat?
Saat
aku berpikir kepada siapa dia melakukan hal itu, ternyata itu adalah anak
perempuan yang tidak kuketahui. Namun tetap saja, tindakan bertekuk lutut
semacam itu pun terjadi karena terbawa suasana dan alur percakapan.
Alurnya
bermula dari candaan bahwa jika menginginkan cokelat maka harus bertekuk lutut,
lalu secara spontan anak-anak laki-laki langsung bertekuk lutut, dan dalam
posisi tersebut mereka merayap mendekati para anak perempuan...
...Meskipun
didengar, aku tetap tidak begitu paham. Terlebih lagi, kabarnya dua orang
tersebut sekarang malah berpacaran. Aku makin tidak paham lagi. Apakah itu
berarti dia sangat menyukai anak perempuan tersebut hingga rela bertekuk lutut
demi mendapatkan cokelat? Jika memang begitu alasannya, mungkin aku bisa
memahami perasaannya.
Jika
Nanami mencerelakanku atau bilang bakal memberi cokelat kalau aku bertekuk
lutut, apakah aku bakal melakukannya... Apakah aku bakal melakukannya, ya? Soal
cemoohan mungkin aku masih bisa paham... Tapi tidak deng, aku tidak tahu.
Lagipula,
Nanami tidak mungkin melakukan hal semacam itu, kan. Saat menyerahkannya, dia
pasti akan memberikannya dengan sikap yang anggun dan santai. Cemoohan dari
Nanami itu... cemoohan itu...
Lho,
kenapa aku malah jadi agak merasa kecewa begitu?
Dan...
baru saja aku berpikir apa? Bagian mengenai diriku yang sedikit M yang
diucapkan Nanami beberapa saat lalu kembali terngiang-ngiang di dalam kepalaku.
Dan rasanya punggungku jadi sedikit merinding dingin.
Padahal
seingatku, aku tidak punya kecenderungan ke arah sana...
"Apakah
Youshin juga merasa risih?"
"Ah,
tidak... Yang kupikirkan bukan ke arah sana, kok..."
"Tidak
apa-apa, kok. Meskipun Youshin ini sedikit M, rasa sukaku padamu tidak akan
berubah."
"Kenapa
kamu bisa tahu... Jujur ini menakutkan banget, lho... Eh? Kamu bisa membaca
pikiran?"
"Yah,
kalau yang tadi itu cuma karena alur pembicaraan dan fakta bahwa Youshin
menunjukkan berbagai ekspresi wajah sambil bergumam soal M atau semacamnya,
jadi aku tahu... Bukan hal yang luar biasa, kok."
Menurutku
itu sudah cukup luar biasa, tahu. Terlepas dari seberapa mudah ekspresi wajahku
terbaca, aku tidak menyangka bakal bisa terbaca sejauh itu.
...Emm,
tadi kita sedang membicarakan apa, ya?
Emm...
Benar juga, soal Nanami yang tidak ikut serta dalam acara pembagian cokelat.
"Kalau
begitu... Nanami pernah menyerahkan cokelat kepada seseorang atau tidak?"
"Setidaknya
sejak SMP tidak pernah, sih... Sewaktu SD mungkin pernah ada, tapi aku sudah
tidak ingat, dan kalau menyerahkan kepada Ayah..."
"Yah,
kalau ke Genichiro-san sih tentu saja kamu memberikannya, kan..."
"Gimana
ya... soal itu tuh..."
Entah
mengapa gaya bicaranya jadi tersendat-sendat.
Eh?
Tunggu dulu, jangan-jangan kamu bahkan tidak memberikan cokelat kepada Ayahmu
sendiri? Bukankah itu... agak berbahaya dalam berbagai hal? Masa
pubertas/pemberontakan?
Namun
Nanami menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk membantah
kekhawatiran tersebut. Tampaknya dia tetap menyiapkan cokelat untuk Paman
Genichiro, sehingga aku merasa sedikit lega.
Tidak,
habisnya... kalau Genichiro-san sampai tidak dapat, itu sungguh menakutkan.
Apalagi jika posisiku yang melangkahi beliau untuk mendapatkan cokelat terlebih
dahulu.
"Cokelat
untuk Ayah sebenarnya disiapkan, tapi bagaimana ya... tugas menyerahkannya itu
ada di tangan Ibu... Jadi kalau aku yang menyerahkannya secara langsung itu
mungkin terakhir kali sewaktu SD..."
Tampaknya
Tomoko-san tidak sudi menyerahkan peran memberikan cokelat tersebut bahkan
kepada putrinya sendiri. Hal itu menunjukkan betapa dalamnya rasa kasih
sayangnya, tetapi di sisi lain hal itu cukup mengejutkan.
Nanami
sendiri bergumam bahwa sifat kasih sayangnya yang agak berat ini pasti
merupakan turunan dari Ibunya. Meskipun bagiku sendiri, aku tidak merasa bahwa
hal itu terlalu berat.
Namun
tetap saja, sesekali aku merasa sifat mereka berdua memang agak mirip. Sesuai
dugaan, hal itu terjadi karena mereka adalah ibu dan anak, ya.
Saat
didengarkan kembali secara saksama, aku tidak bisa menyembunyikan rasa
terkejutku karena riwayat Hari Valentine milik Nanami ternyata jauh lebih
terbatas dari yang kubayangkan. Karena dia adalah Nanami, aku sempat berpikir
dia akan membagikan cokelat kewajiban ke berbagai pihak.
Selain
karena faktor tidak terbiasa menghadapi laki-laki, hal itu juga didasari oleh
sifat Nanami yang sangat berpegang teguh pada kewajiban... atau lebih tepatnya
selalu tertib dalam hal-hal semacam itu.
Karena
sifatnya yang tertib, ada kemungkinan dia menyerahkan cokelat kewajiban, tetapi
setidaknya karena dia tidak ikut serta dalam pembagian tersebut, kemungkinan
itu dipastikan tidak ada.
Entah
mengapa di satu sisi aku merasa senang, tetapi di sisi lain perasaanku jadi
agak rumit. Aku sendiri juga terbiasa tidak mendapatkan cokelat Valentine...
...Tunggu
dulu, kenapa aku secara alami berpikir dengan asumsi bahwa aku dipastikan bakal
mendapatkan cokelat dari Nanami? Padahal tidak ada kepastian kalau Nanami bakal
memberikannya...
Tidak,
dia pasti memberikannya, kan? Habisnya, sewaktu membicarakan soal Valentine
sebelumnya, dia terlihat agak senang dan seperti menanti-nantikannya.
Bagaimana
jika pada hari H Valentine nanti dia ternyata tidak memberikannya padaku?
Tiba-tiba pikiran semacam itu terlintas dan membuatku merasa cemas, namun...
"Makanya,
memberikan cokelat secara sungguh-sungguh kepada seorang anak laki-laki... baru
pertama kali ini akan kulakukan pada Valentine mendatang."
Tepat
di saat mendengar kata-kata itu, pikiran dan gerak tubuhku seketika terhenti. Mengingat
sampai tadi kami sibuk membicarakan soal pernah memberi atau tidak di masa
lalu, kata-kata tersebut benar-benar menjadi sebuah serangan kejutan yang tidak
terduga.
Mungkin
karena merasa malu, Nanami memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain. Pipi
bahagianya merona kemerahan bagaikan warna bunga sakura, dan mulutnya juga
sedikit dimajukan.
Melihatku
yang tidak bisa berkata apa-apa, Nanami yang tadinya memalingkan wajah akhirnya
memutarkan pandangannya kembali ke arahku dengan raut terpaksa.
Tidak,
bukannya aku sengaja diam karena ingin bersikap jahil padanya.
"......Kamu
tidak mau bilang apa-apa?"
Nanami
yang menyunggingkan bibirnya terlihat sangat imut. Tidak deng, ketimbang
memikirkan hal itu...... aku harus mengatakan sesuatu terlebih dahulu.
"......Ini
yang pertama kali?"
"Mungkin
waktu SD dulu pernah ada momen menyerahkan giri-choco... tapi seingatku,
aku tidak pernah memberikannya kepada seorang anak laki-laki tertentu."
"Begitu
ya, ternyata begitu..."
"......Kalau
Youshin...... bagaimana?"
Aku
tidak merasa se-tidak peka itu untuk sampai bertanya balik "bagaimana
apanya?". Ini adalah pertanyaan apakah aku juga pernah menerima cokelat
Valentine dari seseorang.
Pandanganku
mengenai Hari Valentine sudah kujelaskan tadi, dan fakta bahwa aku bahkan tidak
menerima dari Ibu pun sudah kutyampaikan sebagaimana mestinya.
Lalu
bagaimana dengan sebelum itu? Dari anak perempuan lain? Apakah aku pernah
menerimanya?...... Dia pasti ingin mengetahui hal itu.
......Bagaimana
cara menjawab yang benar dalam situasi ini? Aku tidak tahu, tetapi meski begitu......
merespons ucapan Nanami yang tersipu malu, aku memutar otakku secara keras.
Aku
pernah mendengar bahwa kilasan masa lalu yang dilihat seseorang menjelang
kematiannya bukanlah sekadar mengingat kenangan masa lalu, melainkan upaya
untuk mencari cara agar bisa selamat dari situasi tersebut.
Padahal
sekarang aku sedang tidak berada dalam kondisi yang membahayakan nyawa, sih.
Namun hal itu menunjukkan seberapa keras usahaku mengingat kembali kenangan
masa lalu.
Tentu
saja ada lebih banyak hal yang tidak kuingat, tetapi aku tetap menyelami lautan
kenanganku.
Setelah
keheningan sejenak, aku perlahan membuka suara. Di saat yang sama, aku bisa
merasakan Nanami menarik napas secara perlahan dengan suasana penuh rasa cemas
dan penasaran.
"......Seingatku
sih, sepertinya tidak pernah."
"Kalau
begitu...... ini yang pertama kali?"
"Setidaknya......
menerima dari seorang anak perempuan itu adalah yang pertama kali......
sepertinya."
Meskipun
kata-kata seperti "sepertinya", "pasti", atau
"mungkin" tetap menyertai, setidaknya aku sama sekali tidak memiliki
kenangan menerima cokelat sewaktu SD maupun SMP.
Secara
umum hal seperti itu...... kenangan saat menerima cokelat adalah hal yang akan
selalu diingat, jadi jika tidak bisa kuingat, berarti hal itu memang tidak
pernah ada.
"Kalau
ternyata kita berdua sebenarnya punya pengalaman di masa lalu, pasti bakal
canggung banget, ya."
"Mana
mungkin ada hal seperti itu......? Lagipula, bukankah tidak ada cara untuk
mengetahuinya?"
"Mana
kita tahu~ Siapa tahu di masa depan Youshin bertemu lagi dengan anak perempuan
dari masa lalu lalu dibilang 『Kan
dulu aku pernah kasih cokelat!』,
atau ternyata ada adik kelas yang pernah memberi cokelat padamu berada di
antara murid kelas satu tahun depan......"
"Perkembangan
cerita bagaikan drama macam apa itu. Kalau bicara begitu, bukankah ada
kemungkinan anak laki-laki yang pernah menerima cokelat dari Nanami juga
muncul? Senior yang bertemu kembali saat masuk kuliah...... misalnya......"
Wah,
bagaimana ini. Makin diucapkan aku malah jadi makin merasa cemas. Jika anak
laki-laki seperti itu benar-benar muncul, aku akan melawan, menolak, dan
bertahan dengan sekuat tenaga, tetapi rasa cemas tetap tidak bisa dihilangkan.
Tekad
dan rasa cemas adalah dua hal yang berbeda. ......Akan tetapi, Nanami sempat
melongo sejenak lalu terkekeh-kekeh.
Apakah
aku baru saja mengatakan hal yang aneh?
"Mana
mungkin. Kalau aku pernah menyukai seseorang di masa lalu dan memberinya
cokelat, aku pasti ingat. Lagipula orang seperti itu tidak ada, dan seandainya
pun ada orang dari masa kecil yang tidak kuingat muncul lalu bilang begitu......"
"Lalu?"
"Bukankah
anak laki-laki yang masih mengingat dan membawa-bawa hal dari masa sedecil itu
justru menakutkan?"
......Pikirannya
terlalu masuk akal.
Tentu
saja, dalam kasus Nanami, jika dia tidak mengingat apakah pernah memberi atau
tidak, kemungkinan besar itu terjadi sewaktu masih SD.
Jika
memang menerima cokelat pada masa itu, lalu saat bertemu kembali hal itu
dijadikan alasan untuk menanyakan apakah masih menyukainya...... itu pasti
menakutkan......
Tidak,
bagaimana ya? Untuk ukuran perempuan secantik Nanami, mungkin ada sisi di mana
hal itu bisa dimaklumi jika seseorang berpikir demikian...... hmmm, sewaktu SD
kan kesannya lebih ke arah imut, jadi mungkin tidak ada?
Masih
memikirkan cinta pertama sewaktu SD. Meskipun terdengar romantis, jika dilihat
dari sudut pandang lain hal itu memang cukup menakutkan...... Begitu ya, ini
jadi pelajaran berharga bagiku.
"Artinya,
cuma aku yang tidak ingat yang jadi objek kecurigaan itu, kan."
"Yah
bagaimana ya, tidak ingat itu menurutku artinya memang tidak pernah menerima,
sih. Oto-nii saja kabarnya masih ingat betul hari pertama kali menerima cokelat
dari Hatsumi karena dia memang menyukainya, kan?"
Memang
benar sih, hal yang diterima dari orang yang disukai biasanya akan diingat
dengan baik. Sebaliknya, karena aku tidak ingat berarti aku tidak pernah
menerima...... tetapi kecurigaan itu tetap tersisa, ya.
Nanami
pun mungkin mengatakannya setengah bercanda, tetapi jika hal semacam itu
benar-benar muncul di masa depan, rasanya bisa meninggalkan benih masalah.
Motto
diriku belakangan ini adalah menghancurkan sinyal-sinyal berbahaya sebelum
terjadi. Hal ini selalu kuusahakan sekuat tenaga sejak mulai berpacaran dengan
Nanami.
Meskipun
sesekali pernah gagal, aku berusaha untuk tidak mengulangi kegagalan yang sama.
Manusia memang makhluk yang bisa berbuat salah, tetapi manusia juga bisa
belajar dan berbenah diri.
"Baiklah,
kalau begitu mari kita reset."
Aku
menepukkan kedua telapak tanganku prok melakukan tepukan tangan. Tepukan
tangan. Gerakan yang juga dilakukan saat beribadah di kuil ini konon ditujukan
untuk mengusir energi jahat.
Energi
jahat yang mungkin akan mendatangi kami di masa depan pun sepertinya sudah
terusir dengan ini.
"......Reset?"
Melihat
Nanami yang miringkan kepalanya, aku membusungkan dada. Sebisa mungkin dengan
penuh percaya diri.
"Hari
Valentine tahun ini adalah Hari Valentine pertama bagi kita, dan kita anggap
sebagai momen pertama kali kita saling memberi dan menerima cokelat."
"Sebuah
deklarasi yang luar biasa~"
Mendengar
deklarasiku, Nanami menepuk tangannya memberikan tepuk tangan meski agak
sedikit pasrah.
Benar,
meskipun bukan ide yang tergolong pembalikan keadaan, jika tidak yakin apakah
ini yang pertama atau bukan, jadikan saja ini sebagai yang pertama. Bahkan jika
di kemudian hari ada fakta masa lalu yang terungkap, Hari Valentine tahun ini
adalah hari pertama bagiku menerima cokelat, dan hari pertama bagi Nanami
memberikan cokelat.
Keputusan
itu sudah ditetapkan.
Ada
yang bilang masa lalu tidak bisa hilang? Walaupun tidak hilang, kalau sudah
lupa kan sama saja dengan tidak ada. Seandainya hal itu muncul kembali ke
permukaan, baru akan kupikirkan saat saatnya tiba.
"Kalau
begitu, tahun ini adalah Hari Valentine pertamaku, ya."
"Benar,
bagiku pun ini akan menjadi Hari Valentine yang pertama."
"Berarti
kita berdua sama-sama baru pertama kali, ya. Karena ini yang pertama, aku harus
bersemangat. Harus bersemangat dan buat sendiri dengan tangan sendiri."
"Kamu
repot-repot mau buat sendiri dengan tanganmu...? Kalau begitu... aku juga harus
bersemangat saat menyambutnya? Bersemangat saat menyambut itu seperti apa
ya?"
Dengan
menjadikannya sebagai Hari Valentine yang pertama... aku maupun Nanami tidak
perlu merasa bersalah ataupun cemas, sehingga bisa menikmati Hari Valentine
secara murni.
Bagiku
sih Hari Valentine itu murni tinggal menerima saja, jadi tidak ada hal khusus
yang harus kulakukan... namun apakah ada acara kencan khusus Hari Valentine,
ya?
Aku
ingin mencari tahu berbagai hal dan membuat Hari Valentine yang bisa dinikmati
oleh Nanami.
Soal
kerja paruh waktu... kurasa aku bakal minta izin libur khusus di hari H
Valentine... nanti kucoba konsultasikan.
Nanami
pun membicarakan soal Hari Valentine dengan sangat gembira seperti itu,
namun...
"Tapi,
kalau sama-sama baru pertama kali lalu gagal, bakal canggung banget ya..."
"Tunggu
dulu, bukankah topik pembahasannya agak bergeser?"
Di
tengah-tengah percakapan, aku merasa ada topik lain selain buatan tangan yang
mulai tercampur, sehingga aku terburu-buru menghentikan Nanami.
Entah
Nanami sengaja atau tidak, dia menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang
sedang jahil... dan kembali tertawa dengan sangat gembira.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Pada
dasarnya di bulan Februari ada acara bernama Hari Valentine, tetapi selain itu
ada pula acara lain. Acara yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun yang
berstatus sebagai pelajar.
Acara
itu adalah ujian... ujian akhir tahun pelajaran. Ujian sebagai penutup dan tolak
ukur hasil belajar selama 1 tahun. Ujian berkala terakhir di kelas dua SMA...
di sekolah kami diadakan pada bulan Februari.
Oleh
karena itu, meskipun kami sempat bilang ingin menikmati Hari Valentine pertama
kami, kami juga perlu berusaha keras dalam pelajaran... termasuk pelajaran yang
mempertimbangkan ujian masuk perguruan tinggi.
Yah,
Nanami sendiri sepertinya sudah mulai mempersiapkan berbagai hal, sih. Kalau
aku, ke mana arah tujuan pendidikan selanjutnya masih belum ditentukan secara
konkret.
Memang
ada pikiran samar seperti ingin masuk ke universitas yang sama dengannya, lalu
Ayah dan Ibu juga bilang tidak apa-apa jika baru menentukan hal yang ingin
dilakukan saat sudah di universitas nanti. Mengenai biayanya pun, syukurlah
mereka memintaku untuk tidak khawatir. Aku yang sekarang sudah cukup paham
bahwa hal semacam itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Seandainya
ini aku yang dulu, aku pasti akan masuk universitas secara tidak bersemangat
dan asal-asalan. Bagian ini pasti merupakan pengaruh dari Nanami. Menurutku aku
juga mulai menjadi seperti dirinya yang bisa mengekspresikan perasaan dan
menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua dengan benar.
...Aku
malah bercerita panjang lebar soal belajar dan ujian masuk. Dengan kondisi
seperti itu, kami menjalani hari-hari yang lumayan sibuk... mulai dari acara
sekolah, belajar, hingga kerja paruh waktu.
Berdasarkan
urutan jalannya acara, ujian akhir semester diadakan setelah Hari Valentine,
sehingga pada periode mendekati awal Februari ini kami masih memiliki sedikit
kelonggaran waktu. Namun, yang punya kelonggaran waktu hanyalah kelompok
anak-anak yang terbiasa belajar dengan rajin dari awal... Walaupun belakangan
ini aku mulai belajar secara serius, aku masih tergolong cukup tertinggal.
Sebenarnya
saat sedang bersama Nanami pun waktu kami jadi lebih sering dihabiskan untuk
belajar... Apakah ini yang dinamakan kelompok belajar? Bagiku hal itu sangat
membantu, dan karena sepertinya tidak mengganggu Nanami juga jadi tidak
masalah.
Akan
tetapi hari ini, bukannya kelompok belajar bersama Nanami... melainkan kelompok
belajar sesama laki-laki. Sejak kejadian beberapa waktu lalu itu, rasanya
interaksi sesama laki-laki seperti ini jadi makin bertambah, ya.
Tidak,
sebenarnya nanti Nanami dan kawan-kawan juga akan ikut bergabung, sih. Kami
akan belajar kelompok bersama dan saling memberikan contoh soal ujian.
Mengapa
mereka baru bergabung belakangan? Mengenai hal itu aku tidak begitu paham...
tetapi kudengar para anak perempuan punya acara kumpul-kumpul sendiri yang
disebut kumpul-kumpul perempuan (joshikai).
Mungkin
kalau di pihak sana ada hubungannya dengan Hari Valentine, sih. Apalagi di
kelompok sana banyak yang nilainya tergolong aman.
Oleh
karena itu... kami trio laki-laki yang biasa ini memutuskan untuk mengadakan
kelompok belajar di kamarku. Namun...
"Ooh,
kamar Youshin ternyata lumayan luas, ya. Bikin iri saja."
"Shishou,
permisi mengganggu."
Rasanya
sangat segar melihat ada orang lain selain Nanami yang datang ke kamarku. Saat
aku mengirim pesan ke orang tua kalau "ada teman yang kupanggil ke kamar
jadi mungkin tidak sadar", mereka malah sangat terkejut.
Bukan
sekadar terkejut... tapi menangis? Tidak, karena cuma pesan teks kurasa mereka
tidak benar-benar menangis, tetapi tanggapannya seolah kaget aku bisa memanggil
teman ke kamar...
...Emm,
yah, mari kita usahakan untuk tidak memikirkannya.
"Kalau
begitu, aku ambilkan teh dulu, ya. Silakan duduk di mana saja."
"Sip,
kalau begitu mumpung kamu keluar aku mau cari buku porno dulu. Pasti ada yang
tipe gyaru, kan."
"Teshikaga-kun,
kalau Hitoshi melakukan hal yang aneh-aneh, langsung pukul saja tidak
apa-apa."
"Dimengerti."
"Jangan
dimengerti, dong?! Hari ini kan acara belajar kelompok?!"
Orang
yang pertama kali berniat mencari buku porno justru bicara apa.
Setelah
memastikan Teshikaga-kun memberi hormat dengan tangan kanan dan mengepalkan
tangan kirinya, aku keluar dari kamar. Rasanya begitu keluar dari kamar aku
langsung mendengar suara teredam, tetapi mungkin itu cuma perasaanku saja.
Siapa
coba yang mencari buku porno saat belajar kelompok...
Yah,
mungkin bagi Hitoshi hal semacam itu adalah hal yang lumrah. Setidaknya bagiku,
meskipun dengan teman sendiri, aku tidak begitu ingin tahu informasi hal-hal
berbau mesum... apakah pergaulan teman pada umumnya memang berbeda?
Mengenai
hal itu, perlahan-lahan aku tinggal belajar cara bergaulnya saja nanti.
Untuk
saat ini, aku menyeduh teh... lalu camilan. Jika bersama Nanami pilihannya cuma
satu yaitu makanan manis, tetapi camilan apa yang cocok untuk kumpul-kumpul
laki-laki, ya?
Karena
tidak tahu, kurasa membawa gabungan camilan yang gurih dan manis... selain
cokelat... bakal aman-aman saja. Lagipula fokus utamanya kan belajar, bukan
pesta camilan.
...Ngomong-ngomong,
sebelum belajar dia sempat bilang ada hal yang ingin dikonsultasikan, kan?
Konsultasi
itu kemungkinan besar soal anak perempuan yang dibicarakannya beberapa waktu
lalu, sih. Namun mungkin saja ada hal lain selain itu.
Belajar,
menjalani hubungan asmara dengan anak perempuan, kerja paruh waktu,
jalan-jalan... menjadi murid SMA ternyata jauh lebih sibuk dari dugaanku.
Padahal aku sendiri juga seorang murid SMA.
Aku
hampir tersadar kembali bahwa sewaktu kelas satu dulu aku benar-benar tidak
melakukan apa-apa.
"Nih,
aku dibawakan teh dan cami... kalian lagi ngapain...?"
Saat
aku masuk ke kamar, Teshikaga-kun sedang mengunci pergerakan Hitoshi. Dia
dilumpuhkan dengan semacam gerakan gulat profesional, dan Hitoshi dalam posisi
tertelungkup di atas lantai.
"Aduh~...
Habisnya si Hitoshi ini mulai bilang kalau kolong tempat tidur itu tempat yang
sudah biasa..."
"Kamu
ini... Mana ada orang menyimpan hal semacam itu di tempat seperti itu pada
umumnya... Lagipula zaman sekarang apa masih ada orang yang punya buku porno
cetak?"
"Dasar...
bodoh... Pria yang... ada di depan mata kalian ini... kalian pikir dia
siapa...!!"
Dia
mengutarakannya dengan gaya yang sangat keren dalam posisi yang sangat
mengenaskan.
Kenapa
kamu bisa memasang wajah seperti pahlawan yang bangkit di saat krisis begitu.
Yahh,
aku sendiri juga tidak menyimpan hal-hal mesum di dalam ponselku, sih. Namun
tetap saja, anak SMA yang mengoleksi hal semacam itu dalam bentuk fisik...
pasti sangat sedikit.
"Justru
karena berada di zaman yang serba mudah inilah, aku ingin mencari kepuasan dari
buku cetak."
"Aku
paham kalau kamu merasa itu hal yang bagus, sih..."
Tapi
kan itu pembicaraan soal buku mesum.
Yah,
memiliki gairah terhadap apa pun itu bukankah hal yang baik? Hal itu juga ada
benarnya...
Untuk
saat ini, aku menyajikan teh untuk Hitoshi yang dibebaskan karena aku sudah
kembali, serta untuk Teshikaga-kun yang telah menahannya.
"...Ini
pertama kalinya aku disajikan teh celup saat main sama teman laki-laki."
"Benarkah?
Yah, soalnya kalau Nanami main ke kamar, sesekali aku yang menyeduhkan teh.
Jadi kalau bicara soal minuman, yang terlintas di pikiranku ya ini."
"Kahhh,
memamerkan kemesraan ya, terima kasih hidangannya."
"Lain
kali aku juga mau coba menyeduhkan teh untuk Kotoha, ah... Ah, terima kasih
hidangannya."
Cukup
menarik melihat respons mereka berdua yang berbeda-beda. Padahal ini cuma teh
kantong biasa, tetapi merupakan merek favoritnya Nanami.
Suatu
saat nanti, aku ingin mencoba menyeduh teh dari daun teh yang berkualitas.
Setelah
itu, bukannya mulai belajar, kami malah jadi keasyikan mengobrol tidak jelas.
Apakah sebaiknya menyajikan teh dilakukan saat waktu istirahat saja, ya?
Hmmm,
mumpung sedang begini... sebaiknya selesaikan saja dulu masalah konsultasinya
Hitoshi.
"Lalu?
Kamu tadi bilang ada hal yang ingin dikonsultasikan... Bukankah sebaiknya
diselesaikan dulu baru kita belajar?"
"Kamu
mau mendengarkannya duluan? Beneran membantu banget, sih..."
"Pasti
soal perempuan yang waktu itu... alias calon pacarmu itu, kan? Yang katanya mau
datang bulan depan."
"Kapan
dia datang? Apa ada waktu buat ketemuan?"
"Sepertinya
dia bakal datang di awal bulan depan. Katanya bakal menetap di sini sekitar
satu mingguan."
Cukup
lama juga ya masa tinggalnya.
Yah,
kalau dari Hawaii mungkin durasi segitu sudah tergolong wajar. Waktu kami pergi
ke Hawaii dulu juga tinggal sekitar segitu.
Omong-omong,
awal bulan depan itu...
"Eh?
Berarti sebentar lagi bakal datang, dong? Apakah kamu sudah menyiapkan
sesuatu?"
"Hmm...
Kami memutuskan untuk pergi ke Festival Salju bersama."
"Ah,
bulan Februari kan ada Festival Salju juga, ya. Sepertinya aku juga mau pergi
ke sana bareng Nanami."
Aku
sendiri tidak begitu tertarik dengan patung es, tetapi aku ingin melihat Nanami
yang kegirangan saat melihat patung es. Lagipula katanya suasana Festival Salju
saat siang dan malam hari itu terasa cukup berbeda.
Mungkin
tidak ada salahnya jika sepulang kerja paruh waktu aku pergi ke sana sebentar,
meskipun agak sedikit jauh.
"Enak
banget ya bisa pergi ke Festival Salju bareng... Eh, kalau begitu kamu tidak
butuh saran tempat kencan yang direkomendasikan atau semacamnya, dong?"
"Bahkan
kalau tempatnya sudah ditentukan, bukankah tidak ada hal yang perlu
dikonsultasikan lagi...?"
Apa
yang dikatakan Teshikaga-kun memang benar. Jika tempat tujuannya saja sudah
diputuskan, kurasa selebihnya sudah tidak ada hal yang diperlukan lagi.
Soal
apa yang harus dilakukan saat kencan sesungguhnya, Hitoshi yang pernah punya
pacar di masa lalu sepertinya jauh lebih tahu...
Berbeda
denganku, dalam hal itu kupikir tidak ada yang perlu dikonsultasikan darinya.
"Kalian
berdua... pernah bikin kue atau makanan manis tidak?"
"Eh?"
Suaraku
dan suara Teshikaga-kun bersahutan dengan sangat kompak. Dari topik konsultasi,
mendadak pembicaraan berbelok ke soal makanan manis. Mengapa topik semacam itu
bisa muncul?
Hitoshi
sempat terlihat bertingkah gelisah tidak jelas, namun akhirnya... dia memasang
raut wajah serius yang sama sekali tidak cocok dengannya lalu melemparkan
pandangan lurus ke arah kami.
"Bisakah
kalian buatkan kue bersamaku?"
"Apa
maksudnya itu?"
"Kalau
cuma sekadar buat sih tidak masalah, tapi alasannya apa?"
Kencan
ke Festival Salju dan membuat kue sama sekali tidak saling berhubungan,
membuatku dan Teshikaga-kun memiringkan kepala secara bersamaan dalam posisi
sejajar.
Sembari
memberikan pengantar bahwa masalahnya tidak serumit itu, Hitoshi mengutarakan
niat yang sebenarnya.
"Kalian
tahu tidak? Bahwa Hari Valentine di Jepang itu tergolong cukup khusus. Aku
sendiri tidak tahu, dan aku juga baru tahu kalau di luar negeri itu tidak ada
yang namanya Hari White Day."
"Eh?
Hari White Day cuma ada di Jepang?"
"Katanya...
sepertinya memang begitu... Setidaknya, di Hawaii itu tidak ada."
Hawaii?
Mengapa mendadak membawa-bawa Hawaii...
Begitu
aku mendengarkan rincian kronologinya, cerita itu akhirnya terasa masuk akal. Tampaknya
dia memutuskan untuk pergi ke Festival Salju bersama perempuan asal Hawaii yang
dimaksud, lalu pada saat itu topik mengenai Hari Valentine sempat terungkit.
Begitu
dia mencoba menanyakan tentang Hari Valentine dan White Day di Hawaii...
ternyata Hari Valentine di sana didominasi oleh pemberian hadiah dari pihak
laki-laki kepada pihak perempuan.
Tentu
saja ada juga momen di mana pihak perempuan memberikannya kepada pihak
laki-laki, tetapi utamanya tetap dari pihak laki-laki.
Selain
itu, hari tersebut diperuntukkan bagi pasangan kekasih, jadi ketimbang
digunakan untuk menyatakan perasaan seperti gambaran yang ada di Jepang, hari
itu utamanya ditujukan untuk orang-orang yang sudah menjalin hubungan.
Hitoshi
yang tidak mengetahui hal tersebut hanya sekadar mengangkat topik Hari
Valentine di tengah percakapan, tetapi perempuan itu kabarnya sangat senang
saat mendengarnya.
Apakah
itu tanda bahwa ada harapan? Tidak, menurutku harapannya sangat besar. Bahkan
jika tidak ada tanda pun dia bakal tetap maju, tetapi di saat-saat seperti ini
dia ternyata agak penakut juga, ya...
Oleh
karena itu, saat dia berniat menanyakan apakah dia bakal mendapatkan cokelat di
sana, perempuan itu malah bertanya balik apa maksudnya cokelat di Hari
Valentine... dari sinilah dia mengetahui kondisi Hari Valentine di Hawaii.
Maka
dari itu, setelah Hitoshi menjelaskan tentang Hari Valentine ala Jepang, mereka
berdua akhirnya memutuskan untuk sama-sama mencari tahu tentang Hari Valentine
di negara masing-masing dan saling memberikan hadiah.
Rasanya
hal itu merupakan sesuatu dengan tingkat kesulitan yang lumayan tinggi, tetapi
bagi Hitoshi, jika itu adalah hal yang diinginkan oleh anak perempuan tersebut,
dia tidak punya alasan untuk tidak memenuhinya. Terlebih lagi saat dibilang
bahwa perempuan itu sangat menanti-nantikannya...
Berada
dalam kondisi seperti itu, sudah tidak ada pilihan lain selain melaksanakannya.
Dia tiba pada kesimpulan tersebut. Jika memang tidak ada Hari White Day,
menyelesaikannya langsung pada hari H terasa sangat cocok untuk mereka berdua.
Bagaimanapun
juga, sulit bagi Hitoshi untuk pergi ke Hawaii pada bulan Maret nanti.
"Begitu
ya, di luar negeri ternyata tidak ada White Day. Aku baru tahu."
"Aku
juga baru tahu gara-gara kejadian ini. Kupikir di luar negeri juga ada White
Day."
"Kalau
aku pernah dengar sedikit dari Kotoha, sih."
Aku
merasa kagum pada Teshikaga-kun yang tampak sedikit malu.
Tidak,
mungkin dalam hal ini pujian harus diberikan pada Ketua Murid. Seperti yang
diharapkan dari Ketua Murid. Tampaknya dia juga sangat paham dengan tradisi
luar negeri...
Ah,
ternyata bukan? Cuma gara-gara Kotoha yang menginginkan hadiah dari
Teshikaga-kun, jadi dia sendiri yang mencari tahu lalu memberi tahunya?
Tampaknya
pihak sebelah sana juga sama-sama sedang dimanja dan dimintai sesuatu oleh Shirishizu-san.
Manja
sekali ya Shirishizu-san...
Mungkin
saja dia sedang mencoba mengisi kekosongan dari tahun-tahun di mana mereka
tidak bisa saling bertemu. Lagipula mereka baru saja mulai berpacaran belum
lama ini.
Tentu
saja wajar kalau dia jadi sangat bersemangat menyambut Hari Valentine. Jika
sudah begitu, aku tidak punya alasan untuk ikut campur. Yang terpenting,
melihat Teshikaga-kun yang tampak gembira adalah hal yang utama.
...Mari
kita kembalikan pembicaraan ke Hari Valentine kali ini.
"Jadi,
kamu mau buat kue untuk dihadiahkan? Berarti kalian memutuskan untuk merayakan
Hari Valentine di tengah-tengah kencan ke Festival Salju, ya?"
"Iya,
soalnya dia bakal pulang sebelum hari Valentine... Jadi kami mengobrol untuk
setidaknya merayakannya di Jepang..."
"Apa
kamu bakal menyatakan perasaan?"
"Kalau
soal itu sih... lihat alur pembicaraan nanti..."
"Ternyata
kamu lumayan lambat... Tidak, karena ini hubungan jarak jauh, hal semacam itu
memang tidak bisa diucapkan secara sembarangan, ya."
Sama
sekali tidak disangka bakal ada pembahasan seperti itu. Tampaknya Hitoshi juga
memajukan hubungan mereka dengan lancar, membuatku ikut merasa senang.
Lalu
hal itu terhubung dengan pembicaraan mengenai pembuatan kue tadi.
"Oleh
karena itu, hadiah yang bakal diberikan padanya... semacam buat kue atau
sejenisnya, aku mau minta bantuan kalian... Itulah konsultasiku."
Hitoshi
menundukkan kepalanya secara hormat kepadaku.
Saat
ditunduki kepala seperti itu, aku sendiri tidak memiliki perasaan setega itu
untuk menolaknya. Lagipula...
"Aku
sendiri memang tidak begitu punya pengalaman membuat kue, sih, tetapi setelah
mendengar cerita itu, aku jadi ingin memberikannya pada Nanami juga. Boleh,
kok."
"Aku
juga bakal sangat terbantu kalau bisa sekalian membuatkan kue untuk Kotoha. Aku
bakal bantu."
Begitu
mendengar ada acara semacam itu, rasa ingin ikut serta jadi tidak bisa ditahan.
Syukurlah Hitoshi dan Teshikaga-kun sama-sama sudah tahu soal tradisi Hari
Valentine di luar negeri.
Sembari
mendengarkan hal-hal rincinya dari mereka berdua, kami tinggal memajukan
persiapannya nanti.
Begitu
kami menyetujuinya, Hitoshi tampak menghela napas lega. Hanya saja, ada
perasaan di mana anak ini sebenarnya bisa menyiapkan semuanya sendirian. Namun
di saat yang sama, ada hal yang sedikit membuatku penasaran.
"Hitoshi,
kamu kan punya banyak teman, bukankah ada orang lain yang lebih tepat ketimbang
kami?"
"Aah...
Soal itu sih... Anak-anak yang lain ituisinya cuma orang-orang yang tidak bakal
mau bikin kue, terus gara-gara kegiatan klub dan hal lainnya jadwal kami juga
tidak cocok..."
Memang
kalau alasannya begitu mau bagaimana lagi... kan...?
"Lagipula
kan, orang yang punya pacar dan punya waktu luang buat diajakin hal semacam ini
jumlahnya tidak begitu banyak..."
Hitoshi
mengutarakannya dengan nada mengelak bercampur gurauan.
Mungkin
ini adalah salah satu bentuk untuk menutupi rasa malunya... Karena kami
menerima permintaannya secara polos, dia mengatakannya untuk mengisi rasa
canggung tersebut.
...Artinya,
kami yang tidak punya kegiatan apa-apa ini terpilih karena sedang senggang,
kan? Tidak deng, ya memang sih. Karena aku tidak ikut kegiatan klub, aku tidak
bisa memberikan bantahan apa pun.
Hanya
saja, bukankah ini terasa agak sedikit tidak menyenangkan?
"Teshikaga-kun,
gasss."
"Dimengerti."
"Eh?
Tu, tunggu se...?!"
Ke
arah yang kutunjuk, Teshikaga-kun melesat bagaikan anak panah. Menggunakan
pegas dari seluruh tubuhnya, dia menunjukkan gerakan persis seperti anak panah
yang menancap... lalu menangkap Hitoshi.
Meskipun
suara perlawanannya terdengar sia-sia, Hitoshi kembali dilumpuhkan dengan
teknik berkecepatan tinggi mirip gerakan gulat profesional.
...Sama
sekali tidak menjadi sesi belajar, tetapi karena ini menyenangkan jadi tidak
masalah, kan.
Untuk
saat ini, acara kumpul-kumpul laki-laki berikutnya akan diisi dengan membuat
kue. Apakah zaman sekarang lebih pas kalau disebut membuat hidangan penutup?
Mungkin
karena aku jarang punya kesempatan membuat janji berikutnya dengan orang selain
Nanami, ya.
Terlepas
dari apakah ini cocok dengan karakterku atau tidak... aku mendapati diriku
merasa agak sedikit berdebar kegirangan.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
"Ooh,
para anak laki-laki bakal melakukan hal semacam itu?"
"Atas
usulan Hitoshi, sih. Jadi yah... nantikan saja, ya."
"Iya,
aku bakal menantikannya. Sangat menantikannya. Saking menantikannya aku mungkin
sampai tidak bisa tidur."
Nanami
mengulangi perkataan bahwa dia sangat menantikannya untuk memberikan penekanan.
Ini
adalah tanggung jawab yang besar... atau lebih tepatnya aku juga merasakan
sedikit tekanan, ya. Aku harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa membuat
Nanami bahagia.
"Ah,
tapi... meskipun aku sangat menantikannya, jangan memaksakan diri, ya."
Mungkin
karena menyadari keteganganku, Nanami mencubit pelan pipiku lalu menariknya
sedikit ke arah atas.
Bentuk
mulutku dipaksa membentuk ukiran senyuman, membuat ekspresiku terlihat seperti
tersenyum secara terpaksa. Aku hanya mengutarakan kata mengerti lalu tetap
tersenyum seperti itu.
Merasa
puas dengan respons dariku, Nanami menyendokkan sendoknya ke dalam cheesecake
yang agak mahal hasil beli dari minimarket lalu menyuapnya ke dalam mulut.
Mencari
ketenangan di tengah-tengah sela belajar untuk ujian... sembari beristirahat
makan kue minimarket itulah kami menyampaikan hal yang dikatakan Hitoshi kepada
mereka.
Dengan
kata lain, fakta bahwa para anak laki-laki akan membuat kue untuk dihadiahkan
kepada mereka.
Karena
aku menyampaikannya saat belajar kelompok, suasana setelahnya sudah sama sekali
tidak berfokus pada belajar.
Nanami
dan Shirishizu-san tampak gembira, sementara Otofuke-san dan kawan-kawan
terlihat iri.
Di
tempat itu, Kamoenai-san tampak sibuk berkirim pesan menggunakan ponselnya,
jadi kemungkinan besar dia sedang menghubungi pacarnya. Aku pun meminta maaf di
dalam hati kepada pacarnya yang sudah lumayan lama tidak kutemui itu.
...Tidak,
mungkin ini bukan hal yang perlu dimaafkan, sih. Namun tetap saja, fakta bahwa
aku telah memicu kompor yang tidak perlu adalah hal yang nyata. Lain kali saat
bermain bersama, aku bakal menyampaikan permintaan maaf padanya.
Lalu
saat ini, Hitoshi sedang dibombardir berbagai pertanyaan oleh Otofuke-san dan
kawan-kawan mengenai perempuan asal Hawaii tersebut, sedangkan Teshikaga-kun,
sama sepertiku, sedang memberikan laporan secara pribadi dan terpisah kepada Shirishizu-san.
Meskipun
Hitoshi merasa kerepotan dengan serbuan pertanyaan itu, raut wajahnya tampak
lumer dan tersipu-sipu. Teshikaga-kun yang melihat Shirishizu-san gembira pun
terlihat ikut merasa senang.
...Siapa
sangka pemandangan seperti ini bisa terhampar di rumahku.
Mengingat
jumlah orang sebanyak ini sangat tidak memungkinkan jika berada di kamarku,
kami sekarang belajar di ruang keluarga. Karena Ibu masih lama baru pulang ke
rumah, rasanya tidak akan menjadi masalah.
Tapi
kemungkinan besar jika melihat pemandangan ini beliau bakal merasa sangat
terharu, jadi jujur saja aku ingin mereka membubarkan diri sebelum Ibu pulang.
Terwujud atau tidaknya masih belum diketahui.
Begitulah
situasinya. Namun seperti yang katakan tadi, orang sebanyak ini datang bermain
ke rumahku... hidup ini benar-benar tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi.
Rasanya
seperti aku sedang membuka berbagai achievement dalam hidup. Pencapaian
hari ini mungkin... kedatangan teman-teman selain Nanami untuk main ke rumah,
ya?
Semua
orang sibuk tenggelam dalam obrolan asmara sembari menyantap kue minimarket. Akan
tetapi, kemampuan belajar kelompok anak perempuan jauh lebih unggul tak
terkejar. Selain karena memang dasar otaknya yang encer, mereka sama sekali
tidak melakukan kesalahan.
Kalau
kami, jika berhadapan dengan matematika pasti sering melakukan kesalahan kecil
pada proses jalan hitungnya, kesalahan-kesalahan akibat kurang teliti semacam
itu. Padahal pola pikirnya sudah benar, tetapi jawabannya malah salah.
Sebelum
ujian akhir semester berikutnya tiba, aku harus memperkuat berbagai langkah
pencegahan, nih. Fakta bahwa di dalam kelompok belajar ini kami bisa saling
mengajari satu sama lain terasa sangat menenangkan...
Yah,
walaupun aku utamanya diajari oleh Nanami, sih.
Bukan
cuma bermain-main saja, kami juga belajar dengan benar, lho. Di sela-sela
belajar itulah aku menceritakan hal mengenai Hari Valentine di luar negeri yang
kudengar dari Hitoshi...
Ngomong-ngomong,
saat hal itu kusampaikan pada Nanami, dia sempat memiringkan kepalanya sedikit.
Apakah ada bagian yang terasa aneh?
Begitulah
pikirku, namun ternyata hal yang mengganjal bagi Nanami bukanlah soal apa yang
dilakukan saat Hari Valentine... melainkan mengapa hal itu diutarakan terlebih
dahulu.
"Hal
semacam itu, bukankah lebih baik dijadikan kejutan saja? Jika di Hari Valentine
aku mendadak menerima hadiah dari Youshin, dalam situasi apa pun aku pasti akan
merasa sangat bahagia, lho."
"Dalam
situasi apa pun... situasi seperti apa yang sedang kamu bayangkan, sih?"
"Bahkan
tepat sebelum dunia berakhir pun, jika menerima hadiah dari Youshin, aku akan
merasa bahagia."
"Pembahasannya
mendadak jadi megah sekali, ya."
Hadiah
tepat sebelum dunia berakhir. Rasanya agak menyentuh emosi, atau lebih tepatnya
situasi yang cocok dijadikan tema film, ya. Apakah bakal ada kelonggaran waktu
seperti itu?
Lagipula
situasi kiamat seperti apa yang masih memungkinkan untuk memberi hadiah?
Kejatuhan meteor? Hadiah tepat sebelum hantaman meteor secara langsung, secara
realistis pasti bakal ikut hancur meledak, kan.
Yah,
kalau kejutan sih orang yang menyukainya memang bakal suka, ya. Aku sendiri
juga suka, sih. Aku suka, tetapi dalam kasus kali ini... kurasa agak kurang
tepat.
"Kalau
terlalu dijadikan kejutan, bukankah ada pola di mana hal itu justru jadi
menyusahkan? Lagipula... karena Hari Valentine jatuh pada hari kerja, rasanya
aku tidak bakal bisa menyembunyikannya hingga tuntas..."
"Aah...
Memang benar sih, tergantung momen penyerahannya, bisa-bisa malah ketahuan
secara wajar, ya..."
Selain
itu yah, meskipun disembunyikan, rasanya bakal tetap ketahuan secara wajar oleh
Nanami. Belakangan ini, terutama insting dan hal-hal lainnya yang mengarah
padaku terasa makin tajam.
"Makanya
yah, poin bahwa 'aku bakal memberikan hadiah' kusampaikan terlebih dahulu...
lalu mengenai apa yang akan kuhadiahkan bakal jadi hal yang dinanti-nantikan
sampai hari nanti. Kalau begitu kan tetap ada unsur kejutannya, kan?"
"Aah,
memang benar juga sih. Kalau begitu, aku juga bakal menjadikannya sebagai hal
yang dinanti-nantikan pada hari saja, ah..."
Memang
begitu, tidak perlu memaksakan seluruh hal menjadi kejutan... menyembunyikan
sebagian saja sudah cukup menjadi sebuah kejutan.
Lagipula
dengan begini, tidak perlu ada rasa gelisah memikirkan apakah bakal ada hadiah
atau tidak pada hari nanti.
Setelah
dipastikan bahwa hadiah itu ada, baru memberikan kejutan melalui isinya. Dulu
aku juga pernah melakukan hal yang serupa, dan aku tahu jika Nanami yang
menerima, dia pasti akan tetap bahagia dengan cara seperti ini.
Hitoshi
dan yang lainnya juga kuminta untuk menggunakan arah yang sama. Hitoshi sudah
menghubungi perempuan asal Hawaii itu terlebih dahulu, dan Teshikaga-kun pun
seharusnya sudah menyampaikan hal yang sama kepada Shirishizu-san.
Dengan
begini, perbedaan informasi bisa dicegah, dan perselisihan yang muncul akibat
perbedaan tersebut juga bisa diantisipasi.
Yah,
sejak awal aku yakin hal semacam itu tidak akan terjadi, sih. Namun tetap saja,
pencegahan dari hal-hal kecil itu sangat diperlukan. Mengingat hal seperti
berkumpulnya teman-teman di rumahku saat ini saja bisa terjadi, hidup ini
memang tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi.
"Ngomong-ngomong,
yang dibeli Youshin hari ini itu... kue dorayaki, kan?"
"Benar,
dorayaki minimarket itu ada krimnya juga jadi lezat, ya."
"Tapi,
tadi di minimarket kamu sempat mengambil satu olahan kue berbau cokelat... lalu
mengembalikannya lagi, kan?"
"Emm?
Benar sih, aku sempat mengambilnya..."
"Apakah
itu artinya, karena kamu bakal makan cokelat saat Hari Valentine nanti, kamu
memutuskan untuk tidak makan cokelat lain sampai hari itu tiba?"
Topik
pembicaraan mendadak berubah, namun tampaknya topiknya sama sekali tidak
bergeser.
Dan...
karena tebakannya tepat sasaran, aku meletakkan kue dorayaki yang
kupegang secara perlahan.
Tidak,
kenapa kamu bisa tahu, sih...
Memang
benar sih, awalnya aku... berniat makan kue berbau cokelat.
Di
minimarket sudah mulai diadakan semacam festival Hari Valentine, dan deretan
kue-kue berbau cokelat yang terlihat lezat tertata dengan rapi.
Harganya
memang sepadan, tetapi tetap saja fakta bahwa ada cukup banyak hal yang ingin
kucoba adalah kenyataan... Namun, aku hanya mengambilnya lalu mengakhirinya di
situ.
Habisnya,
karena nanti aku bakal menerima cokelat dari Nanami saat Hari Valentine, aku
ingin menahan diri dari cokelat sampai hari itu tiba, kan.
Karena
aku ingin menyambutnya dengan perasaan seolah-olah baru pertama kali makan
cokelat... makanya aku mengembalikan kue olahan cokelat itu secara perlahan,
tetapi...
Sama
sekali tidak menyangka bahwa kejadian itu terlihat jelas oleh Nanami.
"...Iya,
memang benar seperti itu."
"Ternyata
begitu, ya..."
Entah
mengapa, suara Nanami terdengar sangat lemas dan tenggelam... atau bagaimana
ya, rasanya dia memancarkan atmosfer yang sangat berat.
Eh?
Jangan-jangan dia merasa risih? Apakah menahan diri dari cokelat itu dianggap
sebagai sesuatu yang terlalu berlebihan baginya?
Tidak...
aku melakukannya murni karena tiba-tiba terlintas di pikiran saja, bukan karena
punya perasaan yang seberat itu... Tidak deng, salah ya, kalau begini malah
terdengar seperti aku meremehkan cokelat dari Nanami.
Sama
sekali bukan berarti aku meremehkan cokelat dari Nanami. Murni hanya karena aku
ingin menyambut Hari Valentine pertama ini dalam kondisi yang seratus persen
siap...
...Lagipula
kondisi seratus persen siap di Hari Valentine itu maksudnya apa, sih. Aku jadi
ingin bertanya pada diri sendiri.
"Kalau
begitu... aku juga harus bersemangat... untuk membuatkan cokelat, ya."
"...Eh?"
Dengan
mengulas senyum tanpa ragu, Nanami mengepalkan tangannya dengan kuat
seolah-olah ada kobaran api yang bersemayam di matanya. Tampaknya fakta bahwa
aku menahan diri dari makan cokelat telah menyulut semacam api semangat di
dalam diri Nanami...
"Youshin,
mulai sekarang kamu tidak boleh makan cokelat sama sekali, ya... Karena di Hari
Valentine pertama nanti, aku bakal buatkan dan serahkan cokelat yang sangat,
sangat menyentuh hati..."
"Tunggu
dulu Nanami, kamu malah menaikkan standar kesulitannya sangat tinggi, lho...
Apakah tidak apa-apa?"
"Fufufu...
Nanami-san bakal berusaha keras dan tampil habis-habisan di Hari Valentine
nanti, tahu..."
"Ti...
Tidak perlu sampai sebersemangat itu juga..."
Gawat,
sepertinya kata-kataku sama sekali tidak masuk ke telinganya. Kalau sudah
begini... dia pasti bakal menjalankan Hari Valentine dengan kekuatan penuh
tanpa batas...
Momen
itu terasa sangat kunantikan, tetapi di sisi lain juga terasa sedikit
menakutkan.
"Ngomong-ngomong,
Youshin sendiri rencananya mau buat apa?"
"Yah,
sebenarnya belum diputuskan dan bagian itu masih rahasia, sih. Tapi menurutku
olahan kue panggang adalah pilihan yang paling umum... Kalau Nanami buat yang
berbau cokelat, bukankah lebih baik aku buat selain itu?"
"Begitu
ya... Kalau begitu mulai sekarang sampai Hari Valentine tiba, aku tidak usah
makan kue panggang juga kali, ya?"
"Bukankah
cakupannya jadi terlalu luas? Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya sampai
sejauh itu, kok..."
Nanami
memasang raut wajah rumit sembari bersedekap tangan dan tenggelam dalam
pikiran. Karena aku tidak bisa membuat sesuatu yang terlalu rumit, tadinya aku
berpikir buat kue untuk pemula saja sudah cukup, tetapi...
Sepertinya
aku juga harus benar-benar mengerahkan seluruh semangatku, nih. Baik untuk kue
hadiahnya, maupun hal-hal lainnya di luar itu...
Di
samping Nanami, aku menyalakan semangatku secara diam-diam seorang diri.
Namun,
sangat disayangkan bahwa ikrar untuk tidak makan cokelat hingga Hari Valentine
tiba harus ternoda dan terlanggar sedikit sebelum hari nanti.
Hal
itu merupakan situasi yang tidak bisa dihindari, jadi aku tidak menyesalinya...
namun tetap saja hal itu merupakan sebuah kalkulasi yang salah.
Lalu
rasa sedikit takut yang kurasakan pada Nanami yang sedang bersemangat itu...
Hal tersebut akhirnya terbukti dalam bentuk aksi lepas kendali dari Nanami pada
saat kencan Hari Valentine nanti.
Apa
yang akan dilakukan Nanami di Hari Valentine?
Kepastian
mengenai hal itu baru akan kuketahui... di masa depan yang tidak begitu jauh
dari sekarang.



Post a Comment