NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 13 Side Story

Gadis Gal yang Harusnya Memenembakku Sebagai Hukuman dalam Permainan, Tampaknya Jelas-Jelas Sangat Jatuh Cinta Padaku 13

[Bonus SS Khusus E-book] Pembicaraan Perempuan, Edisi Valentine


Hari Valentine, bagiku dulu hanyalah sebuah hari biasa.

 

Di mata masyarakat memang terasa sangat meriah, tetapi aku sendiri tidak terlalu merasa hal itu sebagai sebuah acara khusus...

 

Beberapa anak laki-laki rasanya tampak gelisah tanpa alasan atau mendadak jadi sangat baik, dan Hatsumi beserta yang lainnya mungkin juga ikut terbawa suasana sehingga kelihatan agak berseri-seri.

 

Di tengah-tengah orang-orang seperti itu, aku dulu sempat merasakan sedikit rasa terasing.

 

Bagaimana ya mengatakannya, rasa gembira mereka memang tersampaikan padaku... tetapi entah kenapa rasanya seperti ditinggalkan sendirian... atau kurang bisa menikmati suasana dibandingkan dengan kegembiraan orang-orang di sekelilingku...

 

Yah, hari itu dulunya adalah hari yang terasa seperti itu.

 

Bukan berarti aku membenci Hari Valentine, sih. Lagi pula ada banyak cokelat lezat yang dipajang di toko-toko. Tanpa sadar aku juga suka membeli untuk diriku sendiri, dan kalau rasanya lezat akan kubagikan kepada semua orang...

 

Oleh karena itu, meskipun tidak ada arti khusus, hari itu terasa seperti hari untuk menyerahkan cokelat kepada keluarga atau teman. Tentu saja dengan menyertakan rasa kasih sayang... seperti kasih sayang keluarga atau tali persahabatan, sih.

 

Aku bahkan sama sekali belum pernah memberikan giri-choco kepada anak laki-laki seumuran. Satu-satunya orang yang kuberi mungkin cuma Ayah saja, ya?

 

Tidak deng... Oto-nii atau Shuu-nii kan sudah ada Hatsumi dan Ayumi, jadi aku tidak memberikan cokelat kepada mereka.

 

Sebagai gantinya, aku mungkin memberikan hal lain selain cokelat. Seperti keripik beras (okaki), kerupuk beras (senbei), atau camilan bergaya gurih lainnya.

 

Mereka berdua itu lumayan populer, lho. Rasa cemburu Hatsumi dan Ayumi sangat luar biasa, jadi aku tidak ada niatan untuk ikut-ikutan memberikan cokelat pada mereka...

 

Soal cokelat untuk Ayah pun, Ibu menyerahkannya sekaligus menggabungkan bagianku dan Saya. Jadi momen aku menyerahkan cokelat secara langsung kepada Ayah itu, sepertinya terakhir kali saat masih sekolah dasar saja, deh.

 

...Meskipun belakangan setelah kudengar cerita sebenarnya, ternyata hal itu merupakan usulan Ibu yang peduli padaku karena aku kurang nyaman dengan laki-laki.

 

Namun kalau dipikir-pikir, karena ini sifat khas Ibu, aku yakin di dalam hatinya Ibu juga punya keinginan untuk menyerahkannya sendiri. Hal ini bisa kupahami karena aku adalah putrinya... dan aku merasa mungkin akan melakukan hal yang sama juga.

 

Sisanya paling cuma cokelat persahabatan (tomo-choco)... memberikan cokelat kepada teman seperti Hatsumi atau Ayumi.

 

Oleh karena itu, aku... sekali lagi ingin kukatakan, seumur hidup sejak lahir belum pernah menyerahkan cokelat kepada seorang anak laki-laki. Aku menjalani hidup yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Valentine.

 

Begitulah masa laluku...

 

"Syukurlah... aku benar-benar tidak pernah menyerahkan cokelat kepada Oto-nii dan yang lainnya..."

 

"Kamu jangan pernah mengatakan hal itu kepada Kakak-kakakmu, ya. Mereka berdua bisa menangis karena syok, lho. Laki-laki berotot besar bakal menangis sesenggukan dalam diam, lho."

 

"Aku tahu apa yang ingin kamu sampaikan, sih~... Tapi cara penyampaianmu buruk sekali..."

 

Gawat, aku malah dibikin heran oleh Hatsumi dan Ayumi.

 

Memang benar... cara penyampaianku tadi buruk sekali. Kalimat tadi rasanya bisa menimbulkan salah paham yang sangat besar.

 

Aku sedikit merenungi diri apakah aku terlalu terbawa suasana... soal cara penyampaianku tadi...

 

"Aku merasa senang karena bisa memberikan cokelat pertama dalam hidupku kepada Youshin."

 

Meskipun makna dari hal yang ingin kukampaikan sama, apakah dengan begini maksudnya bisa tersampaikan...?

 

Ah, karena mereka berdua mengangguk-angguk, sepertinya dengan begini sudah tidak apa-apa.

 

Benar juga, tidak boleh melakukan hal yang melukai perasaan orang lain, ya.

 

"Lalu? Keeenapa kamu malah mengumpulkan kita-kita saja tanpa memedulikan pacarmu itu?"

 

"Benar banget~ Jarang-jarang lho Nanami belakangan ini menggebu-gebu mengajak kita berkumpul untuk acara pembicaraan perempuan (girls' talk)~"

 

"Apakah... aku boleh ada di sini untuk pembicaraan ini? Lagipula, acara pembicaraan perempuan sebelum sesi belajar bersama?"

 

Tiga orang di hadapanku memiringkan kepala dengan caranya masing-masing.

 

Emm, tidak deng... aku sangat paham apa yang ingin mereka katakan.

 

Kami memang akan mengadakan sesi belajar bersama dengan Youshin dan yang lainnya, tetapi sebelum itu bisakah kita berkumpul sebentar?

 

Begitulah ajakan yang kulontarkan kepada mereka. Rasanya memang sudah sangat lama aku tidak menginisiasi ajakan seperti ini... Namun begitu, mereka semua tetap berkumpul dengan baik, sungguh baik hati.

 

Kalau dipikir-pikir, memanggil Kotoha-chan ke kamarku seperti ini mungkin baru pertama kali dilakukan. Di kedai kopi atau tempat lain sebenarnya boleh saja, tetapi jika melihat isi pembicaraannya, suasana kamar terasa jauh lebih santai.

 

Yah, daripada disebut acara pembicaraan perempuan sebelum sesi belajar bersama...

 

"Dalam arti tertentu, hal ini juga merupakan sebuah sesi belajar bagiku..."

 

"Sebelum sesi belajar bersama... belajar lagi?"

 

Kotoha-chan makin memiringkan kepalanya bingung, tetapi Hatsumi dan Ayumi seolah menyadari sesuatu dan terperanjat seakan berkata jangan-jangan. Mengingat hubungan kami yang sudah lama... sepertinya mereka berhasil memahami apa yang ingin kukatakan.

 

"Begitu ya... Nanami..."

 

"Ini kan Valentine pertama bersama Misumai, ya~..."

 

"Benar itu, hal itu maksudku."

 

Ternyata mereka berdua memang paham. Aku senang sekali. Kotoha-chan yang mendengar perkataan mereka berdua juga seolah paham dan mengangguk-angguk.

 

Kotoha-chan juga luar biasa, seorang wanita yang cepat tanggap. Tidak deng, aku tidak tahu apakah itu hal yang luar biasa atau bukan, tetapi paling tidak aku senang karena saat ini dia bisa paham.

 

"Benar banget, karena ini Valentine pertama..."

 

"Akhirnya kamu bakal melakukan hubungan pertama bersama Misumai, ya..."

 

"Makanya kamu mau kita membantu membuat alibi atau semacamnya, kan...!!"

 

"Nanami-chan juga akhirnya...?!"

 

"Bukan seperti ituuu!!"

 

Ternyata mereka tidak paham sama sekali!!

 

Tidak, dalam arti tertentu mereka paham, tetapi arah pemahamannya sedikit melenceng!! Ditambah lagi mereka bertiga sama-sama memiliki pemahaman ke arah sana!!

 

Kenapa mereka bertiga kompak mengedipkan mata sembari mengacungkan ibu jari mereka dengan mantap. Lebih dari itu, kenapa Kotoha-chan juga ikut-ikutan di pihak sebelah sana?!

 

Meskipun aku membantahnya, mereka bertiga kompak memasang senyuman menyeringai seolah berkata kami sangat paham, kok. Bukan begitu, sungguh bukan begitu maksudku.

 

...Atau lebih tepatnya.

 

"Eh? Kalau begitu apakah kalian bertiga saat Valentine dulu melakukan... hubungan pertama...?"

 

Karena agak sulit diucapkan, bagian akhir kalimatku jadi agak mengecil. Namun jika melihat cara bicara mereka tadi, bukankah berarti mereka bertiga pernah melakukannya saat Valentine?

 

Lho? Tapi... Valentine pertama bagi Hatsumi dan Ayumi itu bukankah saat SMP dulu, dan bukankah Kotoha-chan dalam arti tertentu baru mengalami yang pertama tahun ini sama sepertiku...?

 

Meskipun aku sendiri yang melontarkan pertanyaan tersebut, kali ini giliran aku yang memiringkan kepala kebingungan. Dan jawabannya langsung muncul di hadapanku saat itu juga.

 

Masing-masing dari mereka bertiga secara terang-terangan memalingkan pandangan mata dariku.

 

"Bukannya kalian ternyata tidak melakukannya?!'

 

"Ya habisnya... kami kan belum seusia itu..."

 

"Bener banget, kalau sampai melakukan hubungan pertama pas Valentine pertama... bisa ditangkap polisi, lho~..."

 

"Aku juga tidak pernah melakukan hal seperti itu bersama Taku-chan saat masih SMP..."

 

Lalu kenapa saat aku bilang Valentine pertama, kalian malah membawa arah pembicaraannya ke hal-hal vulgar seperti itu...? Aah, apa karena kalian berpikir kalau kami berdua pasti bakal melakukan hal semacam itu, begitu...?

 

...Jujur saja, hal itu agak sulit untuk kubantah, sih.

 

Memang sulit, tetapi tetap saja aku harus membantahnya. Demi nama baik dan berbagai hal lainnya.

 

"Soal hal pertama dan semacamnya itu kita sisihkan dulu... karena tahun ini adalah Valentine pertama bagiku dan Youshin, aku cuma ingin mendengar pengalaman kalian sebagai referensi seperti apa Valentine pertama yang kalian lalui."

 

"Yah, ternyata bukan konsultasi soal hubungan pertama, toh."

 

"Bubar, bubar~... Tim pembuat alibi dibubarkan~"

 

"Yah, kami bertiga juga belum berpengalaman, sih... walaupun sudah ada rencana..."

 

Eh? Ada rencana?

 

Rasanya ingin mengorek informasi itu lebih dalam, tetapi hal itu bakal melenceng dari topik utama dan sepertinya bakal memakan waktu lama... jadi sebaiknya urungkan saja.

 

Lagipula setelah ini kami bakal bergabung dengan Youshin dan yang lainnya. Kalau bisa aku harus menghindari informasi semacam itu, kalau tidak nanti rasa tahanku... tidak deng, suasananya bisa jadi canggung.

 

"Pokoknya, kalian bertiga dulu melakukan apa saat Valentine pertama? Coba cerita dari Hatsumi dulu."

 

"Valentine pertama, ya..."

 

Ah, Hatsumi langsung duduk bersila dan bersedekap. Kamu kan pakai rok pendek, nanti celana dalammu kelihatan, lho? Yah, karena di sini cuma ada perempuan saja sih tidak masalah.

 

Setelah sempat bergumam cukup lama, seolah baru teringat sesuatu... wajah Hatsumi mendadak memerah.

 

Melihat Hatsumi yang tiba-tiba merona, aku, Ayumi... dan Kotoha-chan dibuat terkejut dan heran dengan apa yang terjadi. Sampai merona seperti itu... apa yang sudah kamu lakukan...?!

 

"Aah-, aku sudah lupa tuh soal Valentine pertama..."

 

"Bohong, kamu pasti ingat, kan. Justru karena teringat makanya wajahmu jadi merona begitu, kan?"

 

"Ugh... Ahh... Mouu..."

 

Hatsumi menggaruk kepalanya dengan kasar. Padahal rambut hitamnya sangat indah, kalau melakukan hal seperti itu nanti rambutmu bisa rusak, lho.

 

Ayo, menyerahlah dan akui saja. Begitu kami menatapnya dengan tatapan tajam yang penuh keheranan sekaligus antisipasi, Hatsumi menghela napas panjang seolah telah mengukuhkan tekadnya.

 

Kemudian, seolah menghembuskan udara yang dihirupnya tadi... dia mulai membuka mulutnya.

 

"...Aku buat sendiri, lalu, anu... aku suapi Aan~ ke mulutnya..."

 

"Apa, biasa saja tuh. Bukan sesuatu yang perlu dibikin malu..."

 

"Pakai mulutku..."

 

"Ternyata tidak biasa sama sekali?!"

 

Bukankah itu yang dinamakan menyuapi lewat mulut ke mulut? Kalau begitu pada akhirnya bakal jadi... ciuman, kan?

 

Melihat Hatsumi yang ternyata melakukan hal seanggun dan seromantis itu, Kotoha-chan mengedipkan matanya berkali-kali seolah merasa heran karena berbeda dari citra Hatsumi biasanya.

 

Aku dan Ayumi merespons seperti biasa... Hatsumi ini kelihatan bergaya liar tetapi ternyata berhati feminin dan romantis, ya.

 

Malah dia menyukai hal-hal yang romantis seperti itu. Kalau dipikir-pikir justru Ayumi yang dalam hal ini jauh lebih realistis.

 

Tidak, bagaimanapun juga,

 

"Lalu, apa kalian berciuman?"

 

"Tidak sampai berciuman, kok. Waktu aku mencoba menyuapinya dengan mulut, kepalaku malah dikepruk, cokelatnya disita, lalu cokelat itu langsung... dimakan..."

 

Aah, ternyata gagal ya, pikirku, tetapi suara Hatsumi perlahan-lahan makin mengecil. Apakah... ada alasan untuk merasa semalu itu?

 

Emm? Disita lalu langsung dimakan, berarti...

 

"Aah, jadi kalian melakukan ciuman tidak langsung, ya~"

 

"Jangan diomongin, dong!! Kalau teringat lagi aku jadi merasa malu sendiri, tahu!!"

 

Padahal aku sengaja tidak mengucapkannya, tetapi Ayumi menunjuk hal itu dengan santai. Benar juga ya, karena cokelat yang digigit di mulutnya diambil lalu dimakan, itu jadi ciuman tidak langsung, kan.

 

Wah, tetapi rasanya menggemaskan sekali, ya. Ternyata dia pernah melakukan hal seimut itu.

 

"Omong-omong, itu kapan dilakukannya?"

 

"Emm? Karena itu Valentine pertama yang kuhabiskan berdua dengan Kakak... sepertinya waktu kelas 6 SD, deh."

 

"Dewasa sebelum waktunya banget..."

 

Atau lebih tepatnya, waktu itu kamu sudah melakukan hal seperti itu? Aku sama sekali tidak menyadarinya, lho. Oto-nii juga sepertinya menganggap hal itu cuma sekadar kelakuan anak kecil saja, ya.

 

Meskipun begitu, bagi Hatsumi hal itu sepertinya menjadi kenangan yang sangat berharga. Sampai-sampai ketika teringat kembali, wajahnya refleks memerah seperti itu.

 

"Tidak kok, aku masih kalah sama Ayumi. Ayumi pas Valentine pertama pasti melakukan hal yang luar biasa ekstrem."

 

"Tunggu dulu~... Jangan asal menebak hal seperti itu, dong? Tidak seperti Hatsumi, aku menjalani Valentine yang sehat..."

 

"Kamu waktu itu bukannya mau memasukkan helai rambut sebagai jimat, ya... Kamu beneran melakukan hal itu?"

 

Ah, Ayumi mendadak bungkam.

 

Eh? Apa yang mau kamu lakukan? Tunggu sebentar, jangan memalingkan pandanganmu lebih tajam dari yang tadi, dong.

 

Melihat Ayumi yang mendadak terdiam, suasananya jadi terasa seolah dia benar-benar melakukan hal tersebut.

 

Hatsumi sendiri juga memasang raut wajah seolah berkata Eh? Kamu beneran melakukannya?. Bukannya kamu tadi sudah tahu?

 

Aah, lihat tuh... Kotoha-chan sampai bingung dan panik. Apa kamu beneran melakukan jimat semacam itu, Ayumi...

 

Keheningan yang terasa aneh dan berat mendadak menguasai ruangan. Dan orang yang berada di pusat pusaran keheningan itu tak lain adalah... Ayumi. Selama Ayumi tidak mengatakan apa pun, keheningan ini tidak akan terpecahkan.

 

Rasanya keheningan itu berlangsung sangat lama... padahal kenyataannya belum ada satu menit yang berlalu. Saking beratnya keheningan tersebut.

 

Lalu Ayumi... mengangkat kedua tangannya menyerah seperti seorang tersangka, sembari mengukir senyuman tipis.

 

"Yah~ aku memang berniat melakukannya, tetapi dihentikan secara total jadi aku membatalkannya~..."

 

"Dihentikan... oleh siapa?"

 

"Habisnya ada yang bilang kalau memasukkan rambut, darah, atau kuku bisa membuat cinta berbalas~... Waktu aku bertanya pada Ibu apakah itu benar, Ibu melarangku melakukannya."

 

Syukurlah... Ibunya Ayumi berhasil menghentikannya...

 

Mungkin karena merasa sangat lega, kami bertiga menghembuskan napas lega yang panjang. Tidak deng, lagipula itu kan cerita masa lalu, jadi tidak ada gunanya juga merasa cemas sekarang.

 

"Omong-omong, kapan kamu berniat melakukan hal itu?"

 

"Emm? Sepertinya waktu kelas 3 SD, deh~ Karena itu Valentine pertama dengan Onii-chan, aku masih ingat baik-baik."

 

"Untuk ukuran anak kelas 3 SD itu agak tersisa mengerikan, lho..."

 

"Makanya, kalau aku... saat Hari Valentine pertama dengan Onii-chan, paling cuma memberi cokelat lalu mencium pipinya. Itu ciuman pertamaku."

 

"Uwah, Ayumi ternyata genit juga ya waktu kecil... Anak SD mana bisa melakukan hal seperti itu..."

 

Ayumi membuat tanda V dengan tangannya penuh kebanggaan, tetapi sayangnya hal itu tidak bisa dijadikan acuan.

 

Mencium pipi... apa tidak terlambat jika dilakukan sekarang...?

 

"Ah, lalu saat menyuapi cokelat, aku juga minta jariku dijilat."

 

"Apa yang kamu lakukan sewaktu kelas 3 SD, sih?!"

 

"Kami saja baru membicarakan masa SMP, lho?!"

 

Sebuah kejutan besar baru saja dijatuhkan. Hatsumi yang tadi membicarakan masa SMP... eh, apa dia melakukan hal seperti itu saat SMP? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi...

 

Bukan, yang terpenting sekarang adalah cerita Ayumi.

 

“"Gi-Gimana caranya?!"”

 

Aku dan Kotoha mendekati Ayumi secara bersamaan. Mengapa Kotoha ikut-ikutan... aku bahkan tidak sempat memikirkannya.

 

Ayumi tampak sedikit gentar, tetapi jika kami mendengarkannya sekarang, kemungkinan besar kami bisa menerapkannya pada Youshin. Bagaimanapun juga, kami sekarang sudah SMA.

 

Atau... begitulah yang kupikirkan...

 

"Saat makan cokelat bersama, tanganku jadi sangat lengket, jadi kumasukkan saja ke dalam mulut Onii-chan."

 

"Kalau itu sih..."

 

"Bukan menjilat jari namanya..."

 

Itu juga membuatku heran kenapa dia melakukan hal tersebut, tetapi setidaknya syukurlah Shuu-nii bukanlah tipe orang yang sengaja menjilat jari anak kelas 3 SD.

 

Untuk sementara, Hatsumi menyuapi dengan mengulum cokelat di mulut, sedangkan Ayumi mencium pipi dan menjilat jari... meski yang terakhir itu terjadi secara paksa jadi mungkin agak berbeda.

 

Setidaknya mereka berdua berusaha memiliki kontak fisik walau hanya sedikit. Jika itu persamaannya...

 

"Apa aku juga coba menyuapi Youshin, ya... dengan mengulumnya di mulut..."

 

"Di mulut... maksudmu langsung berciuman...?"

 

"Hal seperti itu... bukankah biasanya dimakan dari ujung ke ujung... lalu berhenti tepat sebelum berciuman? Atau justru biasanya berlanjut sampai berciuman...?"

 

"G-Gimana, ya. Kalau secara pribadi, jika masih ada makanan di dalam mulut, aku agak enggan untuk sampai berciuman..."

 

"Aku... sedikit paham sih. Tapi kalau cuma menempelkan bibir sebentar, bukankah tidak apa-apa?"

 

"Kalau cuma sejauh itu sih... Tapi bukankah lebih baik ciuman biasa saja...?"

 

Aku dan Kotoha, yang akan menyambut Hari Valentine pertama bersama pacar masing-masing, saling menyelaraskan pendapat sambil menjadikan pengalaman dua orang lainnya sebagai acuan.

 

Apa yang terbaik untuk dilakukan pada Hari Valentine pertama, ya...

 

Eh? Tapi...

 

"Kotoha, kamu sendiri lewat Hari Valentine seperti apa dengan Teshikaga-kun saat SMP?"

 

"Eh? Tidak... biasa saja... cuma memberi cokelat seperti biasa. Waktu itu kan status kami masih teman sejak kecil."

 

"Begitu ya, biasa saja... Tapi yang seperti itulah yang paling baik..."

 

"Makanya, tahun ini aku berpikir untuk mencoba mengoleskan cokelat lalu memakannya."

 

"Kotoha-chan?!"

 

Jangan bermain-main dengan makanan, dong?! Eh, bukan bermain-main tapi dimakan, jadi tidak apa-apa? Tapi... mengoleskannya...

 

"Di mana...?"

 

"Eh? Di jari... sih. Untuk mengikut panduan Ayumi..."

 

...Jari, ya. Jari... jari... Tapi, bagi saya jari pun rintangannya cukup tinggi... Namun tidak bisa dimungkiri kalau itu memang bisa dijadikan acuan...

 

"Kalau Nanami, bukankah bagus dioleskan di sini?"

 

"Uhyaa?!"

 

Dari belakangku yang sedang kebingungan, tangan jahat Hatsumi terulur. Lebih tepatnya, payudaraku dipegang dengan cukup kencang.

 

Tidak sakit sih, tapi aku terkejut.

 

Karena dia menyangganya dari bawah, dada rasanya jadi sedikit lebih ringan... Eh bukan, di mana katanya mau dioleskan?

 

"Lho? Nanami... makin besar saja..."

 

"Akhir-akhir ini tumbuh sedikit lagi... Bukan itu masalahnya! Hatsumi, kamu mau mengoleskannya di mana, sih?!"

 

"Ya dioleskan di payudaramu yang makin berkembang ini... lalu biarkan Misumai menjilatnya, kan beres."

 

"Itu sih perempuan mesum! Dasar aneh! Lalu, apa Hatsumi bisa melakukan hal itu pada Oto-nii?!"

 

"Ukuranku kan tidak sebesar Nanami, Kakak juga tidak akan senang... Kalau soal itu, bukankah Misumai akan senang sekali? Bagaimanapun juga, laki-laki kan suka payudara."

 

Bukan itu masalahnya?!

 

Tapi, apa memang begitu... Apa dia bakal senang? Kalau aku... mengoleskan cokelat di dada ini lalu menyuruh Youshin untuk menikmatinya...?!

 

Kotoha juga menatap dadanya sendiri sambil bergumam, "Apa Taku-chan bakal senang, ya...?" Keraguanku seolah-olah menular kepadanya.

 

Aku sendiri, sambil dadaku tetap disangga oleh Hatsumi, menatap ke arah dadaku sendiri. ...Mumpung Valentine pertama... lakukan saja, gitu?!

 

Tepat saat aku hampir memantapkan hatiku untuk melakukan hal itu.

 

"Aah, kalau yang itu sebaiknya jangan dilakukan di rumah~. Kamar jadi kotor, makin lengket... membereskannya dan bersih-bersihnya merepotkan tahu~... bikin gatal juga..."

 

Dengan santai sambil mengibaskan tangannya... Ayumi berbicara layaknya seorang yang berpengalaman... yang membuat kami bertiga membeku dan kehilangan kata-kata.

 

Begitulah rapat strategi Valentine kami berakhir.

 

Setelah itu, aku berkumpul dan mengobrol dengan Youshin... dan berkesimpulan kalau Valentine yang biasa saja adalah yang terbaik...

 

Namun pada akhirnya, di Hari Valentine pertama ini, aku malah melakukan berbagai kekacauan...

 

Yah, tapi tidak apa-apalah karena rasanya menyenangkan.

 

Tamat





Epilog | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close