Gadis Gal yang Harusnya Memenembakku
Sebagai Hukuman dalam Permainan, Tampaknya Jelas-Jelas Sangat Jatuh Cinta
Padaku 13
[Bonus SS Khusus E-book] Pembicaraan Perempuan, Edisi Valentine
Hari
Valentine, bagiku dulu hanyalah sebuah hari biasa.
Di
mata masyarakat memang terasa sangat meriah, tetapi aku sendiri tidak terlalu
merasa hal itu sebagai sebuah acara khusus...
Beberapa
anak laki-laki rasanya tampak gelisah tanpa alasan atau mendadak jadi sangat
baik, dan Hatsumi beserta yang lainnya mungkin juga ikut terbawa suasana
sehingga kelihatan agak berseri-seri.
Di
tengah-tengah orang-orang seperti itu, aku dulu sempat merasakan sedikit rasa
terasing.
Bagaimana
ya mengatakannya, rasa gembira mereka memang tersampaikan padaku... tetapi
entah kenapa rasanya seperti ditinggalkan sendirian... atau kurang bisa
menikmati suasana dibandingkan dengan kegembiraan orang-orang di
sekelilingku...
Yah,
hari itu dulunya adalah hari yang terasa seperti itu.
Bukan
berarti aku membenci Hari Valentine, sih. Lagi pula ada banyak cokelat lezat
yang dipajang di toko-toko. Tanpa sadar aku juga suka membeli untuk diriku
sendiri, dan kalau rasanya lezat akan kubagikan kepada semua orang...
Oleh
karena itu, meskipun tidak ada arti khusus, hari itu terasa seperti hari untuk
menyerahkan cokelat kepada keluarga atau teman. Tentu saja dengan menyertakan
rasa kasih sayang... seperti kasih sayang keluarga atau tali persahabatan, sih.
Aku
bahkan sama sekali belum pernah memberikan giri-choco kepada anak
laki-laki seumuran. Satu-satunya orang yang kuberi mungkin cuma Ayah saja, ya?
Tidak
deng... Oto-nii atau Shuu-nii kan sudah ada Hatsumi dan Ayumi, jadi aku tidak
memberikan cokelat kepada mereka.
Sebagai
gantinya, aku mungkin memberikan hal lain selain cokelat. Seperti keripik beras
(okaki), kerupuk beras (senbei), atau camilan bergaya gurih
lainnya.
Mereka
berdua itu lumayan populer, lho. Rasa cemburu Hatsumi dan Ayumi sangat luar
biasa, jadi aku tidak ada niatan untuk ikut-ikutan memberikan cokelat pada
mereka...
Soal
cokelat untuk Ayah pun, Ibu menyerahkannya sekaligus menggabungkan bagianku dan
Saya. Jadi momen aku menyerahkan cokelat secara langsung kepada Ayah itu,
sepertinya terakhir kali saat masih sekolah dasar saja, deh.
...Meskipun
belakangan setelah kudengar cerita sebenarnya, ternyata hal itu merupakan
usulan Ibu yang peduli padaku karena aku kurang nyaman dengan laki-laki.
Namun
kalau dipikir-pikir, karena ini sifat khas Ibu, aku yakin di dalam hatinya Ibu
juga punya keinginan untuk menyerahkannya sendiri. Hal ini bisa kupahami karena
aku adalah putrinya... dan aku merasa mungkin akan melakukan hal yang sama
juga.
Sisanya
paling cuma cokelat persahabatan (tomo-choco)... memberikan cokelat
kepada teman seperti Hatsumi atau Ayumi.
Oleh
karena itu, aku... sekali lagi ingin kukatakan, seumur hidup sejak lahir belum
pernah menyerahkan cokelat kepada seorang anak laki-laki. Aku menjalani hidup
yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Valentine.
Begitulah
masa laluku...
"Syukurlah...
aku benar-benar tidak pernah menyerahkan cokelat kepada Oto-nii dan yang
lainnya..."
"Kamu
jangan pernah mengatakan hal itu kepada Kakak-kakakmu, ya. Mereka berdua bisa
menangis karena syok, lho. Laki-laki berotot besar bakal menangis sesenggukan
dalam diam, lho."
"Aku
tahu apa yang ingin kamu sampaikan, sih~... Tapi cara penyampaianmu buruk
sekali..."
Gawat,
aku malah dibikin heran oleh Hatsumi dan Ayumi.
Memang
benar... cara penyampaianku tadi buruk sekali. Kalimat tadi rasanya bisa
menimbulkan salah paham yang sangat besar.
Aku
sedikit merenungi diri apakah aku terlalu terbawa suasana... soal cara
penyampaianku tadi...
"Aku
merasa senang karena bisa memberikan cokelat pertama dalam hidupku kepada Youshin."
Meskipun
makna dari hal yang ingin kukampaikan sama, apakah dengan begini maksudnya bisa
tersampaikan...?
Ah,
karena mereka berdua mengangguk-angguk, sepertinya dengan begini sudah tidak
apa-apa.
Benar
juga, tidak boleh melakukan hal yang melukai perasaan orang lain, ya.
"Lalu?
Keeenapa kamu malah mengumpulkan kita-kita saja tanpa memedulikan pacarmu
itu?"
"Benar
banget~ Jarang-jarang lho Nanami belakangan ini menggebu-gebu mengajak kita
berkumpul untuk acara pembicaraan perempuan (girls' talk)~"
"Apakah...
aku boleh ada di sini untuk pembicaraan ini? Lagipula, acara pembicaraan
perempuan sebelum sesi belajar bersama?"
Tiga
orang di hadapanku memiringkan kepala dengan caranya masing-masing.
Emm,
tidak deng... aku sangat paham apa yang ingin mereka katakan.
Kami
memang akan mengadakan sesi belajar bersama dengan Youshin dan yang lainnya,
tetapi sebelum itu bisakah kita berkumpul sebentar?
Begitulah
ajakan yang kulontarkan kepada mereka. Rasanya memang sudah sangat lama aku
tidak menginisiasi ajakan seperti ini... Namun begitu, mereka semua tetap
berkumpul dengan baik, sungguh baik hati.
Kalau
dipikir-pikir, memanggil Kotoha-chan ke kamarku seperti ini mungkin baru
pertama kali dilakukan. Di kedai kopi atau tempat lain sebenarnya boleh saja,
tetapi jika melihat isi pembicaraannya, suasana kamar terasa jauh lebih santai.
Yah,
daripada disebut acara pembicaraan perempuan sebelum sesi belajar bersama...
"Dalam
arti tertentu, hal ini juga merupakan sebuah sesi belajar bagiku..."
"Sebelum
sesi belajar bersama... belajar lagi?"
Kotoha-chan
makin memiringkan kepalanya bingung, tetapi Hatsumi dan Ayumi seolah menyadari
sesuatu dan terperanjat seakan berkata jangan-jangan. Mengingat hubungan
kami yang sudah lama... sepertinya mereka berhasil memahami apa yang ingin
kukatakan.
"Begitu
ya... Nanami..."
"Ini
kan Valentine pertama bersama Misumai, ya~..."
"Benar
itu, hal itu maksudku."
Ternyata
mereka berdua memang paham. Aku senang sekali. Kotoha-chan yang mendengar
perkataan mereka berdua juga seolah paham dan mengangguk-angguk.
Kotoha-chan
juga luar biasa, seorang wanita yang cepat tanggap. Tidak deng, aku tidak tahu
apakah itu hal yang luar biasa atau bukan, tetapi paling tidak aku senang
karena saat ini dia bisa paham.
"Benar
banget, karena ini Valentine pertama..."
"Akhirnya
kamu bakal melakukan hubungan pertama bersama Misumai, ya..."
"Makanya
kamu mau kita membantu membuat alibi atau semacamnya, kan...!!"
"Nanami-chan
juga akhirnya...?!"
"Bukan
seperti ituuu!!"
Ternyata
mereka tidak paham sama sekali!!
Tidak,
dalam arti tertentu mereka paham, tetapi arah pemahamannya sedikit melenceng!! Ditambah
lagi mereka bertiga sama-sama memiliki pemahaman ke arah sana!!
Kenapa
mereka bertiga kompak mengedipkan mata sembari mengacungkan ibu jari mereka
dengan mantap. Lebih dari itu, kenapa Kotoha-chan juga ikut-ikutan di pihak
sebelah sana?!
Meskipun
aku membantahnya, mereka bertiga kompak memasang senyuman menyeringai seolah
berkata kami sangat paham, kok. Bukan begitu, sungguh bukan begitu
maksudku.
...Atau
lebih tepatnya.
"Eh?
Kalau begitu apakah kalian bertiga saat Valentine dulu melakukan... hubungan
pertama...?"
Karena
agak sulit diucapkan, bagian akhir kalimatku jadi agak mengecil. Namun jika
melihat cara bicara mereka tadi, bukankah berarti mereka bertiga pernah
melakukannya saat Valentine?
Lho?
Tapi... Valentine pertama bagi Hatsumi dan Ayumi itu bukankah saat SMP dulu,
dan bukankah Kotoha-chan dalam arti tertentu baru mengalami yang pertama tahun
ini sama sepertiku...?
Meskipun
aku sendiri yang melontarkan pertanyaan tersebut, kali ini giliran aku yang
memiringkan kepala kebingungan. Dan jawabannya langsung muncul di hadapanku
saat itu juga.
Masing-masing
dari mereka bertiga secara terang-terangan memalingkan pandangan mata dariku.
"Bukannya
kalian ternyata tidak melakukannya?!'
"Ya
habisnya... kami kan belum seusia itu..."
"Bener
banget, kalau sampai melakukan hubungan pertama pas Valentine pertama...
bisa ditangkap polisi, lho~..."
"Aku
juga tidak pernah melakukan hal seperti itu bersama Taku-chan saat masih
SMP..."
Lalu
kenapa saat aku bilang Valentine pertama, kalian malah membawa arah
pembicaraannya ke hal-hal vulgar seperti itu...? Aah, apa karena kalian
berpikir kalau kami berdua pasti bakal melakukan hal semacam itu,
begitu...?
...Jujur
saja, hal itu agak sulit untuk kubantah, sih.
Memang
sulit, tetapi tetap saja aku harus membantahnya. Demi nama baik dan berbagai
hal lainnya.
"Soal
hal pertama dan semacamnya itu kita sisihkan dulu... karena tahun ini adalah
Valentine pertama bagiku dan Youshin, aku cuma ingin mendengar pengalaman
kalian sebagai referensi seperti apa Valentine pertama yang kalian lalui."
"Yah,
ternyata bukan konsultasi soal hubungan pertama, toh."
"Bubar,
bubar~... Tim pembuat alibi dibubarkan~"
"Yah,
kami bertiga juga belum berpengalaman, sih... walaupun sudah ada
rencana..."
Eh?
Ada rencana?
Rasanya
ingin mengorek informasi itu lebih dalam, tetapi hal itu bakal melenceng dari
topik utama dan sepertinya bakal memakan waktu lama... jadi sebaiknya urungkan
saja.
Lagipula
setelah ini kami bakal bergabung dengan Youshin dan yang lainnya. Kalau bisa
aku harus menghindari informasi semacam itu, kalau tidak nanti rasa tahanku...
tidak deng, suasananya bisa jadi canggung.
"Pokoknya,
kalian bertiga dulu melakukan apa saat Valentine pertama? Coba cerita dari
Hatsumi dulu."
"Valentine
pertama, ya..."
Ah,
Hatsumi langsung duduk bersila dan bersedekap. Kamu kan pakai rok pendek, nanti
celana dalammu kelihatan, lho? Yah, karena di sini cuma ada perempuan saja sih
tidak masalah.
Setelah
sempat bergumam cukup lama, seolah baru teringat sesuatu... wajah Hatsumi
mendadak memerah.
Melihat
Hatsumi yang tiba-tiba merona, aku, Ayumi... dan Kotoha-chan dibuat terkejut
dan heran dengan apa yang terjadi. Sampai merona seperti itu... apa yang sudah
kamu lakukan...?!
"Aah-,
aku sudah lupa tuh soal Valentine pertama..."
"Bohong,
kamu pasti ingat, kan. Justru karena teringat makanya wajahmu jadi merona
begitu, kan?"
"Ugh...
Ahh... Mouu..."
Hatsumi
menggaruk kepalanya dengan kasar. Padahal rambut hitamnya sangat indah, kalau
melakukan hal seperti itu nanti rambutmu bisa rusak, lho.
Ayo,
menyerahlah dan akui saja. Begitu kami menatapnya dengan tatapan tajam yang
penuh keheranan sekaligus antisipasi, Hatsumi menghela napas panjang seolah
telah mengukuhkan tekadnya.
Kemudian,
seolah menghembuskan udara yang dihirupnya tadi... dia mulai membuka mulutnya.
"...Aku
buat sendiri, lalu, anu... aku suapi Aan~ ke mulutnya..."
"Apa,
biasa saja tuh. Bukan sesuatu yang perlu dibikin malu..."
"Pakai
mulutku..."
"Ternyata
tidak biasa sama sekali?!"
Bukankah
itu yang dinamakan menyuapi lewat mulut ke mulut? Kalau begitu pada akhirnya
bakal jadi... ciuman, kan?
Melihat
Hatsumi yang ternyata melakukan hal seanggun dan seromantis itu, Kotoha-chan
mengedipkan matanya berkali-kali seolah merasa heran karena berbeda dari citra
Hatsumi biasanya.
Aku
dan Ayumi merespons seperti biasa... Hatsumi ini kelihatan bergaya liar tetapi
ternyata berhati feminin dan romantis, ya.
Malah
dia menyukai hal-hal yang romantis seperti itu. Kalau dipikir-pikir justru Ayumi
yang dalam hal ini jauh lebih realistis.
Tidak,
bagaimanapun juga,
"Lalu,
apa kalian berciuman?"
"Tidak
sampai berciuman, kok. Waktu aku mencoba menyuapinya dengan mulut, kepalaku
malah dikepruk, cokelatnya disita, lalu cokelat itu langsung...
dimakan..."
Aah,
ternyata gagal ya, pikirku, tetapi suara Hatsumi perlahan-lahan makin mengecil.
Apakah... ada alasan untuk merasa semalu itu?
Emm?
Disita lalu langsung dimakan, berarti...
"Aah,
jadi kalian melakukan ciuman tidak langsung, ya~"
"Jangan
diomongin, dong!! Kalau teringat lagi aku jadi merasa malu sendiri,
tahu!!"
Padahal
aku sengaja tidak mengucapkannya, tetapi Ayumi menunjuk hal itu dengan santai.
Benar juga ya, karena cokelat yang digigit di mulutnya diambil lalu dimakan,
itu jadi ciuman tidak langsung, kan.
Wah,
tetapi rasanya menggemaskan sekali, ya. Ternyata dia pernah melakukan hal
seimut itu.
"Omong-omong,
itu kapan dilakukannya?"
"Emm?
Karena itu Valentine pertama yang kuhabiskan berdua dengan Kakak... sepertinya
waktu kelas 6 SD, deh."
"Dewasa
sebelum waktunya banget..."
Atau
lebih tepatnya, waktu itu kamu sudah melakukan hal seperti itu? Aku sama sekali
tidak menyadarinya, lho. Oto-nii juga sepertinya menganggap hal itu cuma
sekadar kelakuan anak kecil saja, ya.
Meskipun
begitu, bagi Hatsumi hal itu sepertinya menjadi kenangan yang sangat berharga.
Sampai-sampai ketika teringat kembali, wajahnya refleks memerah seperti itu.
"Tidak
kok, aku masih kalah sama Ayumi. Ayumi pas Valentine pertama pasti melakukan
hal yang luar biasa ekstrem."
"Tunggu
dulu~... Jangan asal menebak hal seperti itu, dong? Tidak seperti Hatsumi, aku
menjalani Valentine yang sehat..."
"Kamu
waktu itu bukannya mau memasukkan helai rambut sebagai jimat, ya... Kamu
beneran melakukan hal itu?"
Ah,
Ayumi mendadak bungkam.
Eh?
Apa yang mau kamu lakukan? Tunggu sebentar, jangan memalingkan pandanganmu
lebih tajam dari yang tadi, dong.
Melihat
Ayumi yang mendadak terdiam, suasananya jadi terasa seolah dia benar-benar
melakukan hal tersebut.
Hatsumi
sendiri juga memasang raut wajah seolah berkata Eh? Kamu beneran
melakukannya?. Bukannya kamu tadi sudah tahu?
Aah,
lihat tuh... Kotoha-chan sampai bingung dan panik. Apa kamu beneran melakukan
jimat semacam itu, Ayumi...
Keheningan
yang terasa aneh dan berat mendadak menguasai ruangan. Dan orang yang berada di
pusat pusaran keheningan itu tak lain adalah... Ayumi. Selama Ayumi tidak
mengatakan apa pun, keheningan ini tidak akan terpecahkan.
Rasanya
keheningan itu berlangsung sangat lama... padahal kenyataannya belum ada satu
menit yang berlalu. Saking beratnya keheningan tersebut.
Lalu
Ayumi... mengangkat kedua tangannya menyerah seperti seorang tersangka, sembari
mengukir senyuman tipis.
"Yah~
aku memang berniat melakukannya, tetapi dihentikan secara total jadi aku
membatalkannya~..."
"Dihentikan...
oleh siapa?"
"Habisnya
ada yang bilang kalau memasukkan rambut, darah, atau kuku bisa membuat cinta
berbalas~... Waktu aku bertanya pada Ibu apakah itu benar, Ibu melarangku
melakukannya."
Syukurlah...
Ibunya Ayumi berhasil menghentikannya...
Mungkin
karena merasa sangat lega, kami bertiga menghembuskan napas lega yang panjang.
Tidak deng, lagipula itu kan cerita masa lalu, jadi tidak ada gunanya juga
merasa cemas sekarang.
"Omong-omong,
kapan kamu berniat melakukan hal itu?"
"Emm?
Sepertinya waktu kelas 3 SD, deh~ Karena itu Valentine pertama dengan Onii-chan,
aku masih ingat baik-baik."
"Untuk
ukuran anak kelas 3 SD itu agak tersisa mengerikan, lho..."
"Makanya,
kalau aku... saat Hari Valentine pertama dengan Onii-chan, paling cuma memberi
cokelat lalu mencium pipinya. Itu ciuman pertamaku."
"Uwah,
Ayumi ternyata genit juga ya waktu kecil... Anak SD mana bisa melakukan hal
seperti itu..."
Ayumi
membuat tanda V dengan tangannya penuh kebanggaan, tetapi sayangnya hal itu
tidak bisa dijadikan acuan.
Mencium
pipi... apa tidak terlambat jika dilakukan sekarang...?
"Ah,
lalu saat menyuapi cokelat, aku juga minta jariku dijilat."
"Apa
yang kamu lakukan sewaktu kelas 3 SD, sih?!"
"Kami
saja baru membicarakan masa SMP, lho?!"
Sebuah
kejutan besar baru saja dijatuhkan. Hatsumi yang tadi membicarakan masa SMP...
eh, apa dia melakukan hal seperti itu saat SMP? Ada banyak hal yang ingin
kutanyakan, tapi...
Bukan,
yang terpenting sekarang adalah cerita Ayumi.
“"Gi-Gimana
caranya?!"”
Aku
dan Kotoha mendekati Ayumi secara bersamaan. Mengapa Kotoha ikut-ikutan... aku
bahkan tidak sempat memikirkannya.
Ayumi
tampak sedikit gentar, tetapi jika kami mendengarkannya sekarang, kemungkinan
besar kami bisa menerapkannya pada Youshin. Bagaimanapun juga, kami sekarang
sudah SMA.
Atau...
begitulah yang kupikirkan...
"Saat
makan cokelat bersama, tanganku jadi sangat lengket, jadi kumasukkan saja ke
dalam mulut Onii-chan."
"Kalau
itu sih..."
"Bukan
menjilat jari namanya..."
Itu
juga membuatku heran kenapa dia melakukan hal tersebut, tetapi setidaknya
syukurlah Shuu-nii bukanlah tipe orang yang sengaja menjilat jari anak kelas 3 SD.
Untuk
sementara, Hatsumi menyuapi dengan mengulum cokelat di mulut, sedangkan Ayumi
mencium pipi dan menjilat jari... meski yang terakhir itu terjadi secara paksa
jadi mungkin agak berbeda.
Setidaknya
mereka berdua berusaha memiliki kontak fisik walau hanya sedikit. Jika itu
persamaannya...
"Apa
aku juga coba menyuapi Youshin, ya... dengan mengulumnya di mulut..."
"Di
mulut... maksudmu langsung berciuman...?"
"Hal
seperti itu... bukankah biasanya dimakan dari ujung ke ujung... lalu berhenti
tepat sebelum berciuman? Atau justru biasanya berlanjut sampai
berciuman...?"
"G-Gimana,
ya. Kalau secara pribadi, jika masih ada makanan di dalam mulut, aku agak
enggan untuk sampai berciuman..."
"Aku...
sedikit paham sih. Tapi kalau cuma menempelkan bibir sebentar, bukankah tidak
apa-apa?"
"Kalau
cuma sejauh itu sih... Tapi bukankah lebih baik ciuman biasa saja...?"
Aku
dan Kotoha, yang akan menyambut Hari Valentine pertama bersama pacar
masing-masing, saling menyelaraskan pendapat sambil menjadikan pengalaman dua
orang lainnya sebagai acuan.
Apa
yang terbaik untuk dilakukan pada Hari Valentine pertama, ya...
Eh?
Tapi...
"Kotoha,
kamu sendiri lewat Hari Valentine seperti apa dengan Teshikaga-kun saat
SMP?"
"Eh?
Tidak... biasa saja... cuma memberi cokelat seperti biasa. Waktu itu kan status
kami masih teman sejak kecil."
"Begitu
ya, biasa saja... Tapi yang seperti itulah yang paling baik..."
"Makanya,
tahun ini aku berpikir untuk mencoba mengoleskan cokelat lalu memakannya."
"Kotoha-chan?!"
Jangan
bermain-main dengan makanan, dong?! Eh, bukan bermain-main tapi dimakan, jadi
tidak apa-apa? Tapi... mengoleskannya...
"Di
mana...?"
"Eh?
Di jari... sih. Untuk mengikut panduan Ayumi..."
...Jari,
ya. Jari... jari... Tapi, bagi saya jari pun rintangannya cukup tinggi... Namun
tidak bisa dimungkiri kalau itu memang bisa dijadikan acuan...
"Kalau
Nanami, bukankah bagus dioleskan di sini?"
"Uhyaa?!"
Dari
belakangku yang sedang kebingungan, tangan jahat Hatsumi terulur. Lebih
tepatnya, payudaraku dipegang dengan cukup kencang.
Tidak
sakit sih, tapi aku terkejut.
Karena
dia menyangganya dari bawah, dada rasanya jadi sedikit lebih ringan... Eh
bukan, di mana katanya mau dioleskan?
"Lho?
Nanami... makin besar saja..."
"Akhir-akhir
ini tumbuh sedikit lagi... Bukan itu masalahnya! Hatsumi, kamu mau
mengoleskannya di mana, sih?!"
"Ya
dioleskan di payudaramu yang makin berkembang ini... lalu biarkan Misumai menjilatnya,
kan beres."
"Itu
sih perempuan mesum! Dasar aneh! Lalu, apa Hatsumi bisa melakukan hal itu pada
Oto-nii?!"
"Ukuranku
kan tidak sebesar Nanami, Kakak juga tidak akan senang... Kalau soal itu,
bukankah Misumai akan senang sekali? Bagaimanapun juga, laki-laki kan suka
payudara."
Bukan
itu masalahnya?!
Tapi,
apa memang begitu... Apa dia bakal senang? Kalau aku... mengoleskan cokelat di
dada ini lalu menyuruh Youshin untuk menikmatinya...?!
Kotoha
juga menatap dadanya sendiri sambil bergumam, "Apa Taku-chan bakal senang,
ya...?" Keraguanku seolah-olah menular kepadanya.
Aku
sendiri, sambil dadaku tetap disangga oleh Hatsumi, menatap ke arah dadaku
sendiri. ...Mumpung Valentine pertama... lakukan saja, gitu?!
Tepat
saat aku hampir memantapkan hatiku untuk melakukan hal itu.
"Aah,
kalau yang itu sebaiknya jangan dilakukan di rumah~. Kamar jadi kotor, makin
lengket... membereskannya dan bersih-bersihnya merepotkan tahu~... bikin gatal
juga..."
Dengan
santai sambil mengibaskan tangannya... Ayumi berbicara layaknya seorang yang
berpengalaman... yang membuat kami bertiga membeku dan kehilangan kata-kata.
Begitulah
rapat strategi Valentine kami berakhir.
Setelah
itu, aku berkumpul dan mengobrol dengan Youshin... dan berkesimpulan kalau
Valentine yang biasa saja adalah yang terbaik...
Namun
pada akhirnya, di Hari Valentine pertama ini, aku malah melakukan berbagai
kekacauan...
Yah,
tapi tidak apa-apalah karena rasanya menyenangkan.
〈Tamat〉



Post a Comment