Chapter 5
Reuni x Saudari
"Namaku
Sato Shigure, murid pindahan dari SMA Shueikan di Fukuoka. Walau masuknya agak
telat, aku bakal senang banget kalau kalian mau berteman denganku, mohon
bantuannya!"
Waktu apel
pagi. Shigure berdiri di depan papan tulis dan menyapa seluruh murid kelas
unggulan.
Omong-omong,
Shigure masih memakai seragam Shueikan yang lencananya diganti dengan lambang
Seiun. Aku yang asal beli seragam standar jelas tidak tahu menahu soal ini.
Rupanya SMA
swasta Seiun tidak punya aturan seragam yang terlalu ketat. Asal memenuhi
standar warna, potongan, dan lencana sekolah, pakaian kami lumayan dibebaskan.
Karena
itulah Shigure merombak seragam lamanya agar sesuai standar demi menghemat
biaya. Ngomong-ngomong, kemarin dia juga bilang kalau pemanas air di rumah
lamanya itu model kuno.
Dia
dibesarkan oleh ibu tunggal, jadi wajar kalau keluarganya jauh dari kata tajir.
Housekeeping Skill tingkat tingginya mungkin berasal dari kondisi
tersebut.
Setelah
sesi sapaan selesai, guru menyuruh Shigure duduk di kursi sebelahku. Saat itu,
sama sekali tidak ada yang mengungkit statusku sebagai 'kakak tiri'.
Semuanya
seolah murni kebetulan berdasarkan urutan absen. Sepertinya Shigure sudah
mewanti-wanti si guru sebelumnya.
"Sato-san,
kamu dari Shueikan, ya?! KEREN BANGET!"
"Kok
bisa kamu mau masuk Seiun? Seiun memang lumayan elit di daerah sini, tapi brand
sekolah ini jelas beda jauh dibanding sekolah kelas nasional, kan?"
"Kalau
aku sih, rela tinggal sendirian asalkan bisa tetap di Shueikan."
Jam
istirahat antara pelajaran pertama dan kedua. Shigure langsung dikerubungi
teman-teman sekelas dan dihujani berbagai pertanyaan.
Biarpun
begitu, tidak ada satu pun yang menyinggung hubungan antara aku dan Shigure.
Yah, Sato itu marga pasaran, jadi mana mungkin ada yang sadar.
Topik yang
paling hangat dibicarakan jelas soal sekolah lama Shigure. SMA Shueikan.
Sekolah
elit di Kyushu yang gaungnya bahkan sampai ke telingaku yang warga Kanagawa
ini. Levelnya sungguh berbeda dengan Seiun yang cuma sekadar 'sekolah pintar'
biasa; Shueikan itu benar-benar elit bertaraf nasional!
Karena
murid kelas unggulan sangat peduli riwayat pendidikan, mereka sangat penasaran
dengan sekolah yang namanya terkenal di seluruh penjuru negeri itu.
Namun saat
jam istirahat setelah pelajaran ketiga, topik pembicaraan mulai beralih dari
sekolah lamanya ke diri Shigure sendiri. Di tengah obrolan itu, seorang siswi
nyeletuk.
"Eh,
tapi aku ngerasa pernah lihat Shigure-chan di suatu tempat, deh."
"Ah,
aku juga. Kenapa, ya?"
"Kayaknya
ada cewek klub teater yang wajahnya mirip dia, mungkin karena itu?"
"AH!
BENAR JUGA! Pantesan rasanya familier, dia itu mirip banget sama cewek imut
yang aktingnya kaku sewaktu jadi pemeran pembantu di festival budaya tahun
lalu!"
Gawat!
Topiknya malah langsung menjurus ke Haruka yang wajahnya bak pinang dibelah dua
dengan Shigure!
Shigure pun
langsung menyahut dengan raut wajah penasaran.
"...Hee,
aku jadi pengen ketemu sama dia. Kalian tahu dia kelas berapa?"
"Ah,
kalau itu sih nggak tahu, emangnya ada yang tahu? ...Ternyata nggak ada,
ya."
"Maklum,
anak kelas unggulan jarang ada yang ikut klub."
"Lagian
anak kelas reguler ada di gedung baru, jadi kita jarang berinteraksi kalau
bukan teman dari SMP. Tapi kalau diperhatikan lagi, rasanya mereka berdua bukan
cuma sekadar 'mirip' deh..."
Aku
mendengar percakapan itu dengan jantung berdebar kencang. Kalau begini
ceritanya, mereka berdua bisa bertemu jauh lebih cepat dari dugaanku.
Idealnya,
aku ingin menjelaskan situasinya pada Haruka sebelum mereka berdua bertemu.
Karena Shigure sendiri yang mengusulkan rahasia ini, dia mungkin takkan
membocorkannya pada Haruka kalaupun mereka bertemu.
Namun,
tetap saja tidak ada yang mutlak di dunia ini.
Aku memang
tidak berniat menyembunyikannya, tapi ketahuan tinggal serumah tanpa
kehadiranku jelas bukan hal yang bagus. Aku jadi tidak bisa menenangkannya
secara langsung jika hal itu terjadi.
Yah,
biarpun begitu, aku sudah mengirim pesan untuk bertemu Haruka saat makan siang
dan dia juga sudah setuju. Jadi, panik sekarang pun tidak ada gunanya.
Tenanglah,
diriku. Sekarang aku harus memikirkan bagaimana cara mengangkat topik ini saat
makan siang nanti.
Tapi, saat
otakku baru saja mau mulai bekerja...
'Tiba-tiba
ada urusan mendesak, jadi aku nggak bisa ke sana pas makan siang >_< MAAF
BANGET' Pesan masuk
dengan isi seperti itu mendadak kuterima dari Haruka.
Ghhh. Jujur, aku sedikit panik sekarang.
Namun,
kalau memang ada urusan mendesak mau bagaimana lagi. Aku tahu Haruka bukanlah
tipe gadis yang membatalkan janji demi hal sepele.
Kalau dia
sampai bilang begitu, pasti itu memang urusan yang sangat penting. Sambil
menghela napas panjang, aku membalasnya dengan stiker tanda setuju.
Yah, mau
bagaimana lagi, aku pun mencoba memutar otak. Kalau sudah begini, mending aku
bereskan 'masalah' yang satunya dulu.
──Pelajaran
keempat selesai, dan jam istirahat siang pun tiba. Begitu bel berbunyi, aku
langsung melompat dari kursi dan bergegas menuju meja paling belakang di dekat
jendela.
Aku
melangkah terburu-buru. Tentu saja, harus cepat sebelum para cewek berkumpul
dan membentuk pelindung anti-cowok suram!
Setibanya
di sana, aku langsung bicara pada sohibku yang duduk di kursi itu, Wakabayashi
Tomoe, cowok berwajah tampan yang saking tampannya malah bikin ngeselin.
"Tomoe,
mau temani aku makan siang?"
"Hm,
oke. Kalau gitu panggil si Takeshi juga, ya?"
"Ya,
tolong deh."
× × ×
Wakabayashi
Tomoe dan Takeda Takeshi. Mereka berdua adalah temanku sejak SMP.
Takeda
Takeshi adalah murid kelas reguler tahun kedua. Tingginya lebih dari 180
sentimeter, dipadukan dengan otot kekar menonjol yang bentuknya tercetak jelas
bahkan dari balik seragam.
Dia adalah ace
klub angkat beban yang lebih mencintai protein shake daripada asupan
makanan sungguhan.
Katanya dia
mulai main beban demi tebar pesona ke cewek-cewek, tapi jiwa otaknya malah jadi
petaka sehingga dia terlalu kebablasan dari niat awal.
Alih-alih
proporsional, badannya membengkak raksasa hingga bikin cewek kabur,
menjadikannya mantan rekan seperjuanganku di zona "nggak laku".
Sementara
itu, Wakabayashi Tomoe adalah murid kelas unggulan tahun kedua sama sepertiku.
Dia punya postur ramping bak model dengan rambut yang di-bleach
secukupnya tanpa kesan norak sedikit pun.
Dari
penampilannya yang stylish ini sudah jelas kalau dia itu cowok populer,
beda jauh dengan kami berdua.
Wajah
tampan, pembawaan supel nan perhatian, ditambah status murid terbaik di kelas
unggulan sukses membuat Charm Stat miliknya menembus batas maksimal.
Kalau kau
meletakkannya sembarangan di pinggir jalan, dijamin dalam sepuluh menit bakal
ada kerumunan cewek yang merubungnya bagai kumbang badak menempel pada getah
pohon!
Meski
begitu, aku sama sekali tidak merasa iri padanya seperti saat aku muak melihat
Aizawa pamer kehidupannya dengan wanita di kelas.
Alasannya
simpel, Tomoe tidak pernah membedakan cowok atau cewek, bahkan cowok suram dan
cowok ceria sekalipun; dia selalu menikmati momen bersama siapa pun dan
berusaha membuat suasana jadi seru.
Kalau aku
ditanya apa aku sanggup hidup tulus dan jujur pada semua orang sepertinya,
jawabannya sudah pasti TIDAK!
Kalau
sampai orang sebaik dia dibenci, berarti dunia ini yang sudah gila. Karena
pemikiran itulah rasa cemburu takkan pernah menguasai diriku.
Aku memang
punya teman lain, tapi waktuku paling banyak kuhabiskan bersama mereka berdua.
Sejak SMP
hingga masuk SMA, mereka sering main ke rumah dan menginap sampai pagi dengan
memanfaatkan absennya orang tuaku yang sedang dinas.
Karena
kedekatan kami inilah, cepat atau lambat hubungan asliku dengan Shigure pasti
bakal terbongkar oleh mereka berdua.
Makanya aku
mengajak mereka makan siang di teras luar kantin yang sepi, menceritakan semua
kejadian dari aku pulang kemarin demi membungkam mereka sejak awal.
Keduanya
mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Setelah ceritaku usai, hal pertama yang
meluncur dari mulut Tomoe adalah...
"...Gila,
berat banget." Katanya sambil menengadah menatap tingginya langit
menjelang musim panas.
"Hiro,
dosa apa yang kamu perbuat di kehidupan sebelumnya, hah?"
"Itu
juga yang ingin kutanyakan. Tapi sebagai korban dari situasi ini, aku tidak
bisa cuma memandang langit dan mengutuk leluhurku begitu saja!"
"Entah
ini sebuah keberuntungan atau tidak, yang mirip cuma wajahnya sementara
sifatnya beda jauh. Kurasa seiring berjalannya waktu aku takkan terlalu ambil
pusing lagi."
"Memang
sih, kelihatannya Shigure-chan punya sifat yang luar biasa beda dari
Haruka-chan."
"Kok
kamu bisa tahu padahal baru berinteraksi sebentar?"
"Diberondong
pertanyaan sebanyak itu harusnya melelahkan, tapi dia bisa meresponsnya dengan
ekspresi yang kelihatan enjoy banget. Mampu mengatur mimik muka demi
menjaga mood sekitar itu jelas merupakan Acting Skill berwajah
dua tingkat dewa, kan?"
Kemampuan
observasi manusia Tomoe memang tiada duanya. Beda jauh denganku yang langsung
terperdaya masuk ke dalam perangkap kepolosan palsunya itu.
"Yah,
demi membaur di lingkungan baru, Shigure sendiri yang minta agar status kami
sebagai saudara tiri dirahasiakan dulu. Tapi kalian kan sering nongkrong di
rumahku, jadi pasti bakal cepat terbongkar; makanya kubungkam mulut kalian
duluan hari ini."
"Oke,
soal itu aku paham. Udah ketebak sih, kalau sampai bocor pasti bakal dijadiin
bahan fap-fap cowok sekelas."
"P-Pilihlah
kosakatamu yang agak sopan dikit dong!"
"Emangnya
harus nyebut apaan lagi, bahan lauk? Wah, ngomong-ngomong lauk paket A kamu
kelihatannya enak banget tuh, Hiro."
"HENTIKAN!
Jangan menyebar polusi meme menjijikkan di sini!"
Aku
langsung menyumpal mulut Tomoe dengan sepotong ayam goreng Tatsuta-age
dari paketku agar dia diam. Dia mengunyahnya dengan nikmat sambil tertawa dan
mengejekku payah soal candaan kotor, lalu kembali menatapku dengan raut serius.
"...Ngomong-ngomong
soal insiden ini, kamu berencana ngasih tahu Haruka-chan, nggak?"
Sejujurnya,
hubunganku dengan Haruka tidak terlalu banyak diketahui orang. Bukannya
disembunyikan, tapi saking lambatnya perkembangan kami—bahkan baru kemarin kami
pegangan tangan—orang-orang di sekitar sama sekali tidak menyadarinya.
Namun Tomoe
dan Takeshi sudah sering jadi tempat curhat dan keluh kesahku, jadi jelas
mereka tahu soal hubunganku dengannya. Justru karena dia tahu persis
situasinya, Tomoe jadi sangat mengkhawatirkanku.
Aku pun
membalasnya dengan kesimpulan yang sudah kupikirkan semalaman penuh.
"Tentu
saja. Diam-diam menyembunyikannya malah bikin perasaan nggak enak, lagian
menyimpan rahasia dari pacar itu sama sekali bukan hal yang baik, kan?"
"Mending
urungkan saja niatmu itu." Tiba-tiba Tomoe menyanggah dengan nada tajam
yang tegas.
"K-Kenapa?
Memang sih, tahu pacarnya tinggal serumah dengan adik tiri berwajah sama
mungkin bikin perasaannya nggak nyaman, tapi itu jauh lebih baik daripada main
rahasia-rahasiaan!"
"Lagipula
buat apa aku menyembunyikan sesuatu kalau aku tak punya niat buruk sama sekali,
kan?"
"Tapi
kalau kamu jujur soal ini, yang ngerasa lega cuma dirimu doang, Hiro."
...Eh?
"Apa
maksud omonganmu barusan?"
"Haruka-chan
itu cewek baik, kalau kamu cerita dia pasti mengerti situasinya dan takkan
menyalahkanmu sama sekali. Tapi itu cuma berarti dia bisa menahannya, bukan
berarti dia nggak merasa insecure."
"Cewek
yang wajahnya mirip dengan dirinya tinggal serumah berduaan dengan pacarnya
sendiri! Saat dia lagi sendirian di rumah, cewek itu terus-terusan nempel sama
pacarnya; mana mungkin dia sanggup menahan beban pikiran sedalam itu,
kan?!"
"Tapi
kami ini saudara tiri karena pernikahan orang tua lho! Masa dia bakal cemburu
sama adikku—"
"Saudara
tiri juga statusnya baru sehari kan?! Mana mungkin dia bisa mikir 'Oh gitu ya,
syukurlah kalau aman'."
"Kenyataannya
waktu kamu seharian semalaman bareng Shigure kemarin, masa iya jantungmu sama
sekali nggak berdebar kencang, hayo?!"
"Itu
sih..."
"Hubungan
asmara penuh penderitaan batin padahal progresnya baru sampai pegangan tangan
itu takkan pernah bisa awet, tahu."
"..............."
Mendengar
omongannya, aku mulai tersadar. Jangan-jangan selama ini aku terlalu terobsesi
untuk membuktikan aku tidak bersalah tanpa memedulikan perasaan Haruka sendiri?
Kalau aku
jujur soal Shigure padanya, rasa bersalahku karena menyimpan rahasia memang
akan terangkat. Tapi, pernahkah aku memikirkan apa yang dirasakan Haruka
setelah mendengar pengakuan itu?
Tentu saja
aku tidak punya niat menyamakan Shigure dengan Haruka. Bahkan jika aku tanpa
sadar melakukannya, semua perasaanku murni tertuju pada Haruka dan takkan
pernah kualihkan pada Shigure sedikit pun!
Namun,
biarpun aku tidak berniat begitu, yang dirasakan oleh Haruka adalah dua masalah
yang jauh berbeda. Mempercayai seluruh perkataanku dan menepis segala rasa insecure;
hubungan kami mungkin belum mencapai tahap sekuat itu.
"Yah,
kalau kamu memang beneran nggak mau bohong aku juga nggak bisa maksa, tapi
menurutku masalah ini bakal jadi pukulan psikologis yang terlampau besar kalau
kamu bongkar sekarang. Walaupun ada pasien yang perlu dibedah segera, dokter
pasti mengecek kondisi pasiennya dulu sebelum beraksi, kan?"
"Segala
sesuatu di dunia ini pasti ada timing yang pas, mengerti?"
"Benar
juga, omonganmu mungkin memang ada benarnya..."
Bagi
Haruka, mungkin tidak diberi tahu apa-apa sama sekali dari awal sampai akhir
adalah opsi yang terbaik. Sayangnya secara logis hal itu sangat mustahil;
selama kami berdua menjalani hubungan pacaran, lambat laun semua rahasia ini
pasti akan bocor.
"Lalu,
Tomoe, menurutmu aku harus gimana?"
"...Yang
pasti, menceritakan situasinya ke Shigure-chan dan memintanya untuk terus
menjaga jarak di sekolah adalah langkah mutlak! Selagi ada waktu, kamu bisa
memperdalam hubungan dengan Haruka-chan sambil menyiapkan mental untuk
menceritakan semuanya, kan?"
"Memperdalam
hubungan itu... spesifiknya sampai batas mana?"
"Minimal
sih sampai urusan seks kalian terselesaikan."
"MINIMALNYA
SEJAUH ITU?!"
"Aku
tahu kondisimu masih terhitung darurat walau progres kalian udah sampai sejauh
itu, Hiro. Tapi satu kewajiban mutlak yang harus kamu patuhi: selama setahun ke
depan sampai ayahmu pulang, kamu HARUS tutup mulut rapat-rapat apa pun yang
terjadi!"
"Tinggal
berdua saja di satu atap itu resikonya terlalu gila, ibarat langsung kena kartu
merah diskualifikasi!"
Y-Yah,
benar juga, sih! Lupakan sejenak soal urusan ranjang itu, tapi menjaga rahasia
sampai ayahku pulang jelas adalah sebuah kemutlakan!
Kesan dari
tinggal berduaan sama lawan jenis dan tinggal berempat bersama orang tua
sangatlah jauh berbeda, kan.
Aku
mengangguk paham, lalu beralih menatap Takeshi yang sejak tadi menyorotku penuh
kekhawatiran demi menanyakan pendapatnya.
"Takeshi,
bagaimana menurutmu?"
"...Boleh
aku mengatakan opini jujurku?"
Wah,
ekspresinya serius banget! Aku bisa merasakan kalau dia benar-benar
mengkhawatirkanku dari lubuk hati terdalam, aku bersyukur punya teman yang
hebat.
"Tolonglah,
katakan saja semua yang ada di pikiranmu!"
"Baiklah!
Menurutku Hiromichi, satu-satunya yang kurang darimu saat ini adalah...
TESTOSTERON!"
...Hah?
"Testosteron
itu adalah hormon pria pembentuk otot yang bikin tubuhmu jadi macho!
Testosteron tak cuma bekerja di area otot, tapi juga pada psikologismu sebagai
pondasi utama penggerak aksi dan ketegasanmu!"
"Makanya
kalau hormon itu menurun drastis, kamu bakal kehilangan rasa percaya diri!
Penyebab kamu ngeluh bertele-tele nggak jelas begini ya gara-gara defisit
hormon itu!"
"Oleh
karena itu solusinya cuma satu, yaitu Muscle Training! Dengan
memperbesar ototmu, produksi testosteronmu akan meledak dan semua problematika
hidupmu bakal beres!"
"Ayo
buang jauh-jauh rasa galau itu, dan raihlah barbel di depan mata, Johnny!"
Ya. Aku
memang salah besar karena nekat minta saran percintaan dari si otak otot ini.
"Eh
tapi Hiro, mereka berdua itu bener-bener kelewat mirip, lho?"
"Ah,
aku juga mikir gitu, ngagetin banget sumpah."
"Responsmu
kelewat enteng, Hiro! Awalnya aku cuma mikir mereka itu sekadar mirip biasa,
tapi setelah kuperhatikan lamat-lamat, detail fitur wajah dan proporsi tubuhnya
itu sangatlah akurat!"
"Jujur
saja, tingkat kemiripan mereka sudah melampaui batas kewajaran orang asing.
Jangan-jangan mereka berdua itu..."
Tepat
ketika Tomoe mencoba mengangkat sebuah asumsi ngeri dengan nada ketakutan, hal
itu terjadi.
"Ah,
ada Hiromichi-san~"
"S-Shigure?!"
Subjek
utama dari perbincangan panas kami mendadak muncul di meja kantin ini!
"Kenapa
kaget begitu, kita kan teman sebangku? Umm... kalau nggak salah, cowok yang di
sebelah sana itu Wakabayashi-san dari kelas yang sama, kan?"
"Seingatku
aku belum pernah sebut nama lho, tapi kamu tahu banyak juga, ya."
"Soalnya
kamu tenar banget, cewek-cewek sekelas pada menyombongkan dirimu lho, katanya
cowok seganteng itu mah nggak ada di Shueikan! ...Umm, terus orang bertubuh
besar di sebelahnya itu baru pertama kali aku lihat, boleh tahu namamu?"
"A-AKU?!"
Ditunjuk secara langsung, Takeshi spontan melompat kaget dari kursinya.
Mungkin
akibat kadar hormon pria yang berlebih, si gumpalan otot ini jadi jauh lebih
sensitif terhadap pesona cewek dibanding diriku.
"NAMAKU
TAKEDA TAKESHI DARI KELAS REGULER TAHUN KEDUA! Y-YOROSHIKU!"
"Aku
Sato Shigure, murid pindahan kelas unggulan tahun kedua yang baru masuk hari
ini. Salam kenal juga, ya."
"~~~~~kh!"
Melihat senyuman ala kadarnya Shigure yang kelewat mematikan, napas Takeshi
langsung memburu hiperaktif.
Dia segera
mencondongkan badan dan membisiki Tomoe di sebelahnya. "O-Oi Tomoe, anak
ini nanyain namaku duluan; i-ini udah pasti tandanya d-dia suka padaku,
kan?!"
"Kecentilan
banget sih idup lu, dasar gumpalan protein."
"Ah,
kalian lagi makan, ya? Maaf banget aku malah tiba-tiba ganggu."
"Nggak
apa-apa, santai aja kok! Shigure-chan juga lagi nyari makan siang, mau sekalian
duduk di meja ini?"
Usai
mengatakan itu, Tomoe langsung menunjuk satu kursi kosong tersisa di meja
komplotan empat orang ini. Mungkin dia sengaja mencoba memberiku pijakan agar
aku bisa segera memohon kerja sama dengan Shigure.
Sayangnya,
Shigure justru menggeleng pelan dan menolak tawaran menggiurkan tersebut.
"Nggak
usah, soalnya aku lagi mencari seseorang di sini. Oh iya, mumpung Takeda-san
murid kelas reguler tahun kedua, apa kebetulan kamu mengenal siswi yang bernama
Saikawa Haruka?"
"SHIGURE!!!!"
Seketika
itu juga, suara nyaring yang memanggil nama Shigure mengguncang sudut kantin.
Suara itu begitu akrab di gendang telingaku; sebuah suara dari orang yang
sangat kucintai... Jangan-jangan!
Tubuhku
merespons seolah ingin menepisnya mentah-mentah, tapi realita memang kejam.
Saat
kepalaku menoleh ke arah sumber suara, pacarku tercinta, Saikawa Haruka, tengah
berdiri di sana dengan peluh bercucuran dan napas tersengal-sengal!
"Hah...
Hah... S-Shigure, apa itu beneran kamu, Shigure?!"
"...Kakak."
"~~~~kh!!
SHIGUREEEE!! UWAAAAAAAHH!!!"
Haruka
seketika menerjang maju dan memeluk erat tubuh Shigure.
Dia
merengkuh sang adik dengan sekuat tenaga tanpa memedulikan puluhan pasang mata
di sekitar.
Tangisannya
pun seketika pecah membelah seisi kantin.
Aku hanya
bisa termangu melihat sosok kekasihku berbuat demikian dalam pusaran
kebingungan massal di dalam otak.
Tunggu
sebentar, emangnya kenapa Haruka bisa kenal sama Shigure?!
Lagipula
yang terpenting, barusan Shigure memanggil Haruka dengan sebutan apa coba?!
Kakak...
Tadi dia beneran manggil kakak, kan?!
Saat aku
terpaku mematung bak orang idiot, Shigure melirik sekilas ke arahku lalu
melempar pernyataan.
"Ah,
maaf bikin kalian kebingungan. Tapi dari kemiripan wajah kami saja kalian pasti
langsung paham situasinya, kan?"
"Sebenarnya
aku dan Kak... maksudku, Haruka-san, adalah saudari kembar yang terpisah
sewaktu orang tua kami bercerai dulu!"
× × ×
"Hiks,
maaf ya. Aku malah bikin heboh pas kita baru ketemu lagi..."
"Nggak
apa-apa kok, tapi aku juga lumayan kaget lho! Waktu dengar gosip ada murid yang
wajahnya mirip denganku, aku mencarinya karena mikir siapa tahu itu kamu; eh
ternyata benar-benar Kakak, ya."
"Aku
juga dengar gosip anak pindahan yang mukanya mirip denganku, makanya aku
nyariin kamu karena berharap Shigure beneran kembali! Padahal ada buanyak
banget hal yang ingin kuceritain, tapi pas lihat mukamu lagi dadaku rasanya
s-sesak bahagia, huwaaa~!"
"Udah
dong, jangan nangis terus, Kak. Ternyata biarpun udah besar, cengengmu sama
sekali nggak hilang, ya."
"...Shigure,
syukurlah kamu baik-baik aja."
"Iya.
Aku juga senang lihat Kakak sehat walafiat."
Saudari
kembar itu saling melepas rindu dalam dekapan yang teramat mesra.
Ikatan
mereka yang pernah koyak paksa akibat perceraian tragis di masa lalu kini
ajaibnya bertaut kembali.
Ini sungguh
menawan... benar-benar pemandangan yang terlampau indah.
Kalau saja
mataku nggak terbelalak ke atas sambil mulutku mengeluarkan busa parah, mungkin
aku bisa jauh lebih menghayatinya!
"Yaaaah...
Kurasa kelamaan di sini malah mengganggu momen mengharukan reuni keluarga
kalian, jadi mending aku undur diri. Ayo Takeshi kita cabut!"
"Sampai
jumpa Hiro. Jaga nyawamu baik-baik, ya."
"TUNGGU!
KUMOHON JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRIAN DI SINI! Bukannya eksistensi karakter
'sohib ganteng' macam kalian murni bertugas ngasih pencerahan berwibawa pas
protagonis utamanya lagi tersudut?!"
"Terus
di situasi mematikan kayak gini aku mesti ngapain, woi?! Gimana caranya seorang
kakak yang baru dapat adik tiri berwajah mirip pacarnya—yang ternyata adalah
adik kandung si pacar itu sendiri—bertatap muka sama mereka berdua setelah
ini?!"
"MANA
AKU TAHU, SIALAN! Kapasitas pelik yang bisa dibereskan karakter 'sohib ganteng'
itu ada batasnya, tahu!"
"Kalau
kamu tokoh utamanya, ya selesaikan masalahmu dengan jerih payahmu sendiri!
Jangan berani-berani nyeret aku ke dalam drama asmara suram yang bau busuknya
udah ngalahin got lumpur penuh limbah beracun ini!"
"JANGAN
KABUR DARI PERANMU, BRENGSEK! Woi Takeshi, kamu juga ngomong apaan kek
sana!"
"Hmm...
dua gadis yang kelewat persis. Benar-benar bagaikan sepasang anak kembar."
"ORANG
INI BENERAN NGGAK PAHAM SIKONNYA, YA?!"
"Lho?!
J-Jangan-jangan... i-itu kamu, Hiromichi-kun?!"
Di saat
para lelaki sibuk cakar-cakaran berbisik layaknya bebek di sebelah pemandangan
manis para gadis yang memanjakan mata, pandangan Haruka yang dari tadi terpaku
pada Shigure kini menyadari keberadaanku.
"Y-Yooo."
"A-Aduh,
a-aku malu banget mukaku pas lagi nangis jelek begini sampai kelihatan sama
Hiromichi-kun... J-Jangan lihat akuuu!"
Mungkin dia
sangat malu muka ingusannya kulihat. Haruka tersipu padam sampai pipinya
memerah tomat, lalu segera menyembunyikan wajahnya di punggung mungil Shigure.
Imutnya
(pelarian dari kenyataan).
"Kakak,
kamu kenal dengan Hiromichi-san?"
"U-Um.
Kenal, sih... atau lebih tepatnya, p-pacar."
"…"
Entah
kenapa ada suara aneh yang keluar dari mulut Shigure. Persis kayak ayam yang lagi dicekik.
"Eh?
Ngomong-ngomong, kok Shigure bisa kenal sama Hiromichi-kun?"
Dan
akhirnya killer pass itu meluncur juga! Pertanyaan telak yang kelewat
mematikan!
Kalau saja
saat ini Shigure memamerkan senyum liciknya itu, aku pasti sudah...!
"...Aku
juga masuk kelas unggulan, jadi aku sekelas dengan Hiromichi-san."
"Hee,
Shigure di kelas unggulan juga! HEBAT BANGET~, dari dulu kamu memang
pintar, sih~"
Eh...?
Barusan, si Shigure bantuin ngeles, kan? Beneran?
"Maaf,
ya. Karena ada banyak hal yang ingin kubicarakan berdua saja dengan Kakak, aku
pinjam dia sebentar, ya."
"Hiromichi-kun,
makasih ya... Maaf banget hari ini aku batalin janji kita."
"A-Ah...
nggak apa-apa, kok. Lagian situasinya lagi begini, kan..."
"Makasih,
ya. Lain kali aku pasti bakal tebus kesalahanku ini, lho!"
Mereka
berdua melambaikan tangan sambil berjalan masuk ke dalam kantin. Pasti mereka
berniat ngobrol sambil makan di dalam sana.
Begitu
sosok mereka menghilang, aku langsung ambruk bersandar di kursi saking
lemasnya. Ini pasti efek samping dari ketegangan yang akhirnya terlepas.
"S-Sempat
kupikir semuanya bakal hancur berantakan tadi..."
"Yah,
tapi dia peka dan langsung menyesuaikan diri, lho; anak itu memang pintar.
Lagian dia nggak seburuk yang kamu bilang, kok, dia tahu persis batas mana yang
nggak boleh dilewati."
"...Iya."
"Kalau
dia sepengertian itu, ke depannya dia pasti bakal baca situasi dan jaga jarak
darimu. Kalau kamu minta kerja samanya, bukannya rahasia ini bisa tersimpan
lumayan lama?"
"......,
Iya."
Jujur saja,
aku sangat tertolong oleh Shigure. Berhubung kemarin dan hari ini aku
terus-terusan diledek habis-habisan olehnya, aku yakin dia pasti bakal
menjahiliku membabi-buta kalau tahu pacarku mirip dengannya.
Tapi
rupanya dia bukanlah gadis dengan sifat seburuk itu. Syukurlah.
Syukurlah
kalau begitu.
──Hanya
saja.
Setelah
perasaan lega ini surut, entah kenapa ada sesuatu mengganjal di dadaku yang
terasa bagai lumpur menjijikkan. Berkata jujur tentang segalanya memang
bukanlah satu-satunya bentuk ketulusan.
Aku paham
betul maksud perkataan Tomoe tadi. Terkadang, bersikap jujur itu hanyalah demi
kepuasan diri sendiri semata.
Namun──
Membohongi
Haruka, dan membiarkan Shigure ikut berbohong. ...Apa ini benar-benar jalan
yang terbaik?
Sebagai
seorang pacar, dan sebagai seorang kakak, apa ini benar-benar...
Rasa serba
salah dan canggung ini terus menggantung, menyisakan ketidaktulusan pada pacar
maupun adik tiriku sendiri. Atau jangan-jangan, memendam rahasia semacam ini
adalah apa yang disebut dengan 'ketegaran' seorang pria?
Aku
benar-benar tidak tahu jawabannya.



Post a Comment