NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 6

Chapter 6

Gigitan Manis x Domestic


Setelah wali kelas bubar, Shigure berbisik padaku kalau dia mau pergi minum teh dengan Haruka sepulang sekolah. Aku tidak tahu kapan mereka berdua terpisah, tapi saat aku pertama kali bertemu Haruka di tempat penitipan anak kelas empat SD, dia sudah sendirian.

Kalau dia punya saudara, harusnya mereka dititipkan di tempat yang sama. Minimal sudah tujuh tahun berlalu.

Mengingat ini reuni saudari setelah tujuh tahun berpisah, pasti banyak hal yang takkan habis dibicarakan dalam sehari dua hari. Aku pun mengiyakan ucapan Shigure yang berjanji akan pulang sebelum makan malam, lalu berjalan pulang bersama teman-teman cowokku setelah sekian lama.

Setibanya di rumah, aku mencuci muka sekadarnya lalu mulai belajar mandiri. Selain karena rutinitas, aku sebenarnya cuma ingin lari dari perasaan tak karuan yang terus mengganjal di dadaku sejak siang tadi.

Intinya, memikirkan apakah keputusanku ini benar atau tidak sebagai seorang pacar maupun seorang kakak. "...Yah, mau dibilang benar atau nggak, pilihannya cuma ini, kan."

Aku bergumam sendirian. Omongan Tomoe itu memang benar.

Kalau aku menceritakan semuanya pada Haruka sekarang, yang merasa lega cuma diriku doang. Itu hanyalah tindakan manja nan egois yang menimpakan seluruh beban pada Haruka semata.

Kalau aku memang menyayangi Haruka, rasa bersalah karena menyembunyikan rahasia ini adalah tanggung jawab yang harus kupikul sebagai pacarnya. Lagipula soal membiarkan Shigure berbohong, dari awal yang mengusulkan untuk merahasiakan pernikahan orang tua kami ini adalah Shigure sendiri.

Jadi bukan aku yang memaksanya berbohong, harusnya, sih. "Tapi tetap aja..."

Tak peduli bagaimana aku mencoba memutarbalikkan pemahaman realita, rasa gundah di hatiku tetap tak mau sirna. Biarpun aku mencoba fokus belajar, aku tetap tak bisa lari dari perasaan muak ini.

Ini adalah pengalaman pertamaku. Pada akhirnya niat belajarku menguap begitu saja, dan aku cuma bisa menatap kosong langit-langit kamar yang memerah disinari senja dari balik jendela.

Pikiranku melayang entah ke mana. Mengingat Shigure mungkin bakal pulang telat, apa mending aku siapkan makan malam saja, ya?

Ide itu sempat terlintas di kepalaku, tapi aku teringat ucapan Shigure semalam yang bilang kalau dia yang akan mengurus urusan dapur. Aku mengurungkan niat itu karena takut keputusanku malah bikin dia merasa tak enak hati.

Itu cuma tindakan ikut campur yang aneh. Aku sadar betul betapa konyolnya jalan pikiranku ini, tapi rasanya tidak ada yang bisa kulakukan.

Di saat aku asyik berkutat dengan rentetan pemikiran nirfaedah itu, matahari pun terbenam dan Shigure akhirnya pulang ke rumah.

"Aku pulang~"

"...Selamat datang. Pulangnya cepat juga ya, kukira kamu bakal sekalian makan malam bareng Haruka."

"Kan aku udah janji sama Kakak. Kalau urusan masak-memasak itu adalah bagianku."

"Padahal kamu nggak perlu terlalu memikirkannya, lho."

"Tentu saja aku kepikiran! Kakak kelihatannya tipe orang kaku yang patuh aturan banget buat hal-hal sepele begini, sih."

"Ghh..."

Baru satu hari tapi dia sudah bisa membaca sifatku sejauh ini; apa Insight Skill Shigure yang kelewat tajam, atau jangan-jangan diriku ini memang cetek dan mudah ditebak? Kalau jawabannya yang kedua, rasanya aku mau nangis di pojokan saja!

"Aku akan segera menyiapkan makan malam, jadi tolong tunggu sebentar, ya. Lagian masih ada sisa sup miso, jadi aku cuma perlu masak satu hidangan utama saja."

Sambil berkata begitu, Shigure mencuci tangannya lalu mengeluarkan mangkuk berlapis plastik kedap udara dari dalam kulkas. Di dalamnya berisi daging babi yang sudah direndam dalam bumbu kecap jahe.

Sepertinya dia memang sudah menyiapkannya sejak pagi tadi. Benar saja, niatku mau coba-coba masak padahal isi kulkas saja aku tak tahu menahu itu benar-benar ide yang kelewat lancang.

Aku pun memutuskan untuk menyerahkan urusan makan malam sepenuhnya pada Shigure. Sayangnya kalau begitu, aku jadi mati gaya nggak tahu mau ngapain.

Kalau cuma sendirian di kamar sih aku nggak keberatan membuang-buang waktu dengan bengong, tapi rasanya canggung banget kalau ada orang lain yang lagi sibuk kerja di ruangan yang sama. Tanpa sadar aku akhirnya mengajak Shigure mengobrol.

Tentu saja, topik pembicaraannya adalah tentang kejadian hari ini. "...Ternyata kamu saudari kembarnya Haruka, ya; pantas saja kalian mirip banget."

"Iya, begitulah... Mungkin waktu kami baru masuk SD."

"Ibu berpisah dengan ayahku yang sebelumnya, lalu tanpa mengerti apa-apa kami pun terpisah dan tak pernah bertemu lagi sejak saat itu."

Kalau begitu, berarti ini adalah reuni pertama mereka dalam sepuluh tahun, dong? Pantas saja Haruka sampai menangis histeris begitu.

"Berarti dulu Shigure juga tinggal di daerah sini, ya?"

"Iya. Makanya waktu aku harus kembali ke kota ini, aku sangat berharap bisa bertemu lagi dengan Kakak."

"Justru karena harapan itulah, aku mempercepat rencanaku setahun lebih awal dan nekat pindah duluan ke sini sendirian."

"Eh, beneran?!"

"Iya, Ibu sebenarnya berniat membawaku ke Amerika juga; toh dengan nilaiku, aku takkan kesulitan mencari tempat studi di sana. Tapi karena sangat ingin bertemu Kakak, aku bersikeras menentang Ibu dan datang ke rumah ini setahun lebih awal."

"Demi mewujudkannya, aku bahkan sampai mengucap kata-kata licik seperti menyalahkan Ibu sebagai penyebab perpisahan kami dulu."

Nada bicara Shigure sedikit menurun. Mungkin dia sebenarnya sangat menyesal telah mengatakan hal itu pada Ibunya.

Namun di saat bersamaan, itu juga membuktikan betapa besarnya tekad Shigure untuk bertemu Haruka sampai-sampai ia rela menghalalkan segala cara.

"...Apa kamu sudah berhasil membicarakan semua yang ingin kamu sampaikan pada Haruka?"

"Sudah. Mulai dari kehidupan kami setelah berpisah, tentang Kakak, tentang Ayah, dan banyak hal lainnya."

"Syukurlah kalau begitu."

"Tapi topik yang paling banyak diobrolin Kakak itu justru tentang Kak Hiromichi, lho."

"A-Aku?!"

"Iya beneran, aku disuruh dengerin cerita bucin tiada henti yang manisnya kelewat giung kayak selai kacang merah yang disiram madu. Jujur aja, aku sampai enek banget mendengarnya."

Haruka menceritakan kebucinannya soal diriku?! Apalagi sampai bikin orang enek mendengarnya?!

GILA, AKU JADI PENGEN BANGET TAHU CERITANYA!

"N-Ngomong-ngomong, Haruka pamer bucin soal apa aja?"

"Wah, kalau itu sih nggak bisa kuberitahu~ Itu adalah rahasia antar gadis!"

"Ugh, gimana kalau kusuap lima ratus yen?!"

"Aha Silakan nantikan saja ceritanya langsung dari mulut orangnya sendiri!"

Upaya penyuapan gagal total. Sungguh sangat disayangkan.

"Tapi aku benar-benar terkejut lho waktu tahu Kak Hiromichi pacaran dengan Kakakku. Nggak nyangka kalau di sekitarku bakal tercipta diagram hubungan sepelik ini."

"Biarpun begitu, berkat hal ini aku akhirnya jadi paham situasinya."

"Paham situasinya?"

"Soalnya sejak pertama kali bertemu, Kakak terus-terusan menatapku dengan aneh, kan. Bukannya terpesona dengan keimutanku, bukan melotot mesum bak monyet sange, bukan juga sok keren tebar pesona; tapi sorot mata yang terlihat kebingungan."

"...Kamu bisa sadar soal begituan, ya?"

"Lumayanlah. Tapi jujur aja kelakuan Kakak itu lumayan nggak sopan, lho; padahal Kakak diizinkan tinggal bareng cewek cantik jelita sepertiku."

"Lagi muji diri sendiri, nih, ceritanya?"

"Ciuman pagi ini juga sebenarnya murni niatku ngasih servis, lho? Tapi Kakak malah masang wajah menderita yang serius banget, sumpah itu lumayan bikin aku sakit hati!"

Oh, begitu rupanya. Pantas saja dia tadi menghentikannya di tengah jalan.

"...Yah, setelah tahu alasannya aku jadi maklum, sih. Jelas aja Kakak kebingungan mau ngapain kalau punya adik tiri yang wajahnya kembar persis dengan sang pacar."

"Kalau memang begitu ceritanya, harusnya Kakak kasih tahu aku dari awal, dong."

"Habisnya aku mikir kalau dikasih tahu, kamu malah menganggapnya lelucon dan bakal menggodaku habis-habisan."

"Nggak sopan ih, emangnya Kakak pikir aku ini orang macam apa? Aku ini masih punya akal sehat buat membedakan mana hal yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, lho!"

Ya, sekarang aku memang berpikir begitu. Shigure bukanlah gadis yang sifatnya seburuk itu.

Dia tidak akan melakukan hal yang benar-benar dibenci atau menyusahkan orang lain.

Shigure sangat pandai menilai batas sejauh mana dia bisa melontarkan 'gigitan bercanda' tanpa melewati garis batas kesabaran orang lain.

"Aku sudah paham betul dengan situasinya Kakak. Kalau kamu memang pacaran dengan Kakakku, kelakuanku semalam dan pagi tadi memang kurang pantas."

"Maaf sudah membuat Kakak kesusahan, aku takkan mengulanginya lagi."

Tinggal serumah dengan adik kembar dari pacar yang terpisah sejak kecil. Situasi ini ibarat bom waktu yang siap meledak hancur hanya dengan sedikit guncangan saja.

Syukurlah Shigure memahami betapa berbahayanya hal tersebut.

"Melihat kepanikan Kakak itu memang seru sih, tapi berhubung Kakak adalah orang yang berharga bagi Kakakku, bakal gawat urusannya kalau aku iseng menggodamu dan kamu malah baper beneran. Aku sama sekali tak mau melakukan hal yang bisa membuatnya sedih."

"Mulai sekarang, aku tak hanya akan menjaga jarak di sekolah, tapi juga menjaga jarak di kehidupan pribadi kita."

"Menjaga jarak?"

"Iya, aku bakal berusaha meminimalisir interaksi kita; dan tentu saja aku juga akan berjuang penuh merahasiakan fakta kalau kita tinggal berdua. Kurasa setidaknya kita harus menyembunyikannya selama setahun sampai orang tua kita pulang, kalau kita bekerja sama pasti semua itu bisa teratasi."

Usai berkata demikian, Shigure memamerkan senyumannya padaku. Senyum itu bukanlah senyum jahil ala iblis kecil seperti biasanya.

Senyum itu adalah senyum yang lembut... namun entah kenapa terlihat sedikit kesepian.

"Dari dulu aku sangat mendambakan sosok kakak laki-laki, lho."

...Ah, begitu rupanya.

Sekarang aku akhirnya mengerti maksud ucapannya.




Aku akhirnya sadar kenapa rasa mengganjal di dadaku tak kunjung sirna, padahal aku tahu menyembunyikan rahasia ini dari Haruka adalah satu-satunya pilihan.

Aku cuma merasa menyedihkan karena sadar diriku ini hanya bisa membangun hubungan dengan Haruka sebatas itu saja.

Ya iyalah. Menyembunyikan rahasia itu sudah pasti bukan hal yang bagus.

Andaikan ikatan kami sudah sangat kuat sampai-sampai eksistensi Shigure takkan menggoyahkannya, hal ini takkan jadi masalah sama sekali.

Tapi aku tidak bisa memilih rute terbaik itu. Masalah ini murni terjadi gara-gara ketidakbecusanku sendiri.

Padahal sudah begitu, aku malah berniat membiarkan ketidakbecusanku ini dan beralih bergantung pada adikku.

Sampai-sampai membiarkannya memasang senyum sungkan yang sama sekali tidak cocok dengannya itu.

Apa tindakan ini benar? Sebagai seorang pacar, maupun sebagai seorang kakak.

──Tentu saja TIDAK.

Detik itu juga, aku langsung berdiri menghampiri Shigure dan berkata kepadanya.

"Shigure, jangan terlalu meremehkanku."

"...Eh?"

"Aku memang berterima kasih karena kamu mau merahasiakan ini dari Haruka. Tapi kelanjutannya itu cuma tindakan ikut campur yang nggak perlu!"

Lagipula siapa yang bakal baper beneran, hah?

Cewek iblis licik kayak kamu mau ngapain juga takkan mungkin bisa mengubah perasaanku pada Haruka, tahu. Ngaca dong!

Mau seberapa parah kamu ngejahilin aku, atau menggodaku kayak tadi pagi, semua itu nggak ada hubungannya!

Pacarku yang paling berharga itu Haruka, dan adikku yang paling berharga itu Shigure. Fakta itu takkan pernah berubah, MUTLAK!"

"...!"

"Makanya kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh dan bermanja-manjalah sesukamu. Segini doang pasti bakal kuterima sepenuhnya, lagian aku ini sekarang udah resmi jadi kakakmu!"

Saat ini aku pasti sedang menggali kuburanku sendiri. Dan lubangnya itu pasti super dalam, lagi.

Tapi begini saja sudah cukup. Inilah yang terbaik.

Ketidakbecusan sebagai pacar. Ketidakbecusan sebagai kakak.

Aku baru saja menjadi keduanya akhir-akhir ini. Maklum sajalah kalau aku masih sedikit tidak becus.

Tapi melimpahkan utang tersebut pada Haruka atau Shigure dan terus-terusan berlindung di balik kata 'maklum' itu jelas tidak boleh.

Ketidakbecusan sebagai pacar maupun kakak, semuanya akan kuatasi sedikit demi sedikit dengan tenagaku sendiri.

Demi satu tujuan: agar aku bisa menceritakan kebenaran ini pada Haruka secepat mungkin.

Kurasa itulah jawaban paling pantas yang bisa kupilih saat ini.

Begitu menyadari hal itu, rasa mengganjal di dadaku akhirnya terangkat seutuhnya.

"...Fufu, ahaha. AHAHAHA!"

Wajah Shigure kembali dihiasi dengan senyuman itu. Senyuman iblis licik yang sama sekali tidak mirip dengan Haruka.

"Apanya yang lucu, hah?"

"Ya ampun. Padahal Kakak itu cuma Trash Mob kelas siput ampas dengan ketahanan nol terhadap lawan jenis yang langsung panik gara-gara lihat aku berbalut handuk mandi sampai nggak nyadar tali camisole-ku, tapi barusan gayamu sok keren banget, lho."

Ugh.

"I-Itu kan gara-gara serangan kejutan...! Sekarang aku udah tahu sifat aslimu yang sebenarnya, jadi aku takkan pernah jatuh ke lubang yang sama dua kali!"

"Aha Masa, sih? ...Tapi,"

"...?!"

Detik itu juga, napasku langsung terhenti. Soalnya Shigure tiba-tiba melingkarkan tangannya ke punggungku dan memelukku erat!

Sambil membenamkan wajahnya di dadaku, dia berbisik.

"Sekarang aku rasanya sedikit mengerti kenapa Kakak bisa jatuh cinta padamu."

"S-Shigure...?!"

"Walau sama sekali tidak punya kelonggaran, Kakak tetap berusaha keras demi diriku. Menurutku bagian itu sangatlah luar biasa. ...Apa aku sikat sekalian saja, ya, cowok yang satu ini?"

"A-APAA?!"

"Kan kami ini kembar, kalau Kakak suka sama dia, harusnya Kakak juga bisa jatuh cinta padaku, lho. Lagipula, aku sudah lumayan suka sama Kakak. Gimana, mau coba selingkuh denganku nggak?"

A-Anak ini tiba-tiba ngomong apaan sih──

"Bercanda, deng~. Kakak baper beneran, ya?"

"KHHH~~~~~!!"

"AHAHAHA, mukanya merah banget! Ya ampun, langsung tertipu dan baper gitu. Kakak ini emang nggak ada kemajuan sama sekali, ya."

Shigure tertawa cekikikan di dalam dekapanku.

SIALAN! Aku sudah tahu! Dari awal aku sudah menduga bakal jadi begini!

Tapi kalau dipeluk erat sambil dibisiki kata-kata kayak gitu, siapa pun pasti wajahnya bakal langsung mendidih, kan!

"Emangnya Kakak bakal aman? Yakin nih ngebiarin aku bertindak sesukaku dengan ketahanan selemah itu? Mungkin ini terdengar di luar dugaan, tapi sifatku ini aslinya lumayan iblis lho."

"Di luar dugaan gundulmu! Muka kamu kelihatan seneng banget gitu."

"Ucapan yang sudah dilontarkan nggak bisa ditarik kembali, lho?"

Jari lentik Shigure tiba-tiba menarik dasiku kuat-kuat.

Wajahnya yang dihiasi senyuman provokatif kini mendekat hingga hembusan napasnya bisa kurasakan.

Bahkan dengan Haruka pun aku belum pernah sedekat ini.

Jantungku tak pelak berdebar kencang tak karuan, tapi aku mati-matian memasang gertak sambal.

"...Pantang bagi pria menarik ludahnya sendiri. Tak peduli seberapa parah adikku yang lancang ini bermanja-manja, aku akan menerima semuanya dengan lapang dada dan membuatmu sadar betapa agungnya seorang kakak itu."

Mendengar ucapanku, Shigure akhirnya melepaskan pelukannya, seolah sudah puas.

"Yah, tapi di sekolah aku akan tetap menahan diri. Status kita dirahasiakan, dan aku nggak mau bikin Kak Haruka sedih."

"Tapi, selama di dalam rumah ini, Kakak adalah milikku... Kakak milikku seorang. Aku bakal sering bermanja-manja, jadi tolong manjakan adik manismu ini sepuasnya ya"

Shigure menarik ujung kanan bibirnya dengan jari, memamerkan gigi taringnya yang putih berkilau. Gayanya seolah menantang seakan mau menggigitku dengan taring itu.

...Ya, aku memang sudah mengatakan hal yang tidak-tidak. Itu sudah pasti tak terbantahkan lagi.

Namun, tantangan seperti itulah yang memang sangat kuinginkan.

"Ah, aku lupa beli gorden."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close