Chapter 8
Seragam x Memotret
Hari itu,
begitu pulang ke rumah, aku melihat sosok Haruka di ruang tengah.
"HAAAAAAAAAAAAAAH?!?!"
"Ah,
Hiromichi-kun. Permisi~"
"K-K-K-KENAPA
HARUKA ADA DI RUMAHKUUUUU?!?!"
Saking
kagetnya, otakku seketika dilanda kepanikan luar biasa. Kenapa Haruka bisa ada
di sini?!
Kenapa dia
bisa tahu rumahku?! Berbagai pertanyaan meledak sekaligus di kepalaku sampai
rasanya dunia ini berputar.
A-A-A-Apa
yang harus kulakukan?! Y-Yang penting bikin teh dulu──BUKAN WAKTUNYA MIKIR
BEGITU!
Jangan-jangan
rahasiaku dan Shigure sudah ketahuan... eh? Shigure?
Tunggu
sebentar. Dengan perasaan curiga aku menatap kembali sosok Haruka di ruang
tengah, dan dia pun tersenyum iblis sebelum tertawa terbahak-bahak.
"Aha!
Ahahaaha! Reaksi Kakak bagus bangeeet!"
"SUDAH
KUDUGA ITU KAMU, SHIGURE!"
"Yap,
ini aku, adik manis Kakak, Shigure! Habisnya reaksi Kakak bener-bener akurat
persis kayak yang kuharapkan, sih; Kakak punya bakat jadi pelawak, lho!"
"Ampun
deh, sumpah..."
Seluruh
tenagaku rasanya terkuras habis sampai aku terpaksa bersandar di dinding. Ya,
wajar kalau aku sempat tertipu karena dia memakai seragam Seiun, tapi sosok di
ruang tengah itu benar-benar Shigure!
Sumpah aku
kaget banget! Rasanya jantungku hancur tiga biji, tahu!
Tunggu,
lagipula... "Kenapa kamu bisa pakai seragam itu, beli?!"
"Memangnya
keluarga kita punya uang sisa buat foya-foya?"
"Terus
kamu dapat dari mana seragam itu?!"
"Aku
tukaran sama Kak Haruka khusus buat hari ini doang. Katanya dia juga pengen
coba pakai seragam Shueikan."
Shigure
menjawab sambil membusungkan dadanya yang berbentuk indah. Entah karena
kemejanya dimasukkan ke dalam, dadanya terlihat lebih besar dari biasanya.
"Lagian,
aku juga pengen lihat reaksi Kakak, sih (lol)."
"...Syukurlah
kalau reaksiku sesuai harapanmu, BRENGSEK!"
"Ahaha,
jangan marah gitu, dong. Kakak juga aslinya seneng, kan?"
Hah?
Senang? "Senang apanya?!"
"Soalnya
aku dan Kak Haruka itu kembar identik yang wajah, postur tubuh, sampai gaya
rambutnya sama persis! Berhubung aku lagi pakai seragamnya, itu artinya Kakak
serasa lagi didatangi Kak Haruka di rumah sendiri, kan?!"
"Ngimpi
mau jadi rembulan padahal aslinya kura-kura bulus, bukannya itu kelewat nggak
tahu diri?!"
"Hiromichi-kun...
Pe-luk A-ku♡"
"?"
"T-Tunggu,
jangan mendekat dengan pupil mata melebar gitu, dong! TAKUUUT!"
"Emangnya
Kakak mau ngapain dengan pensil 2B yang digenggam erat itu?! Maaf, deh, aku
nggak bakal ngulangin lagi!"
Adikku yang
satu ini benar-benar, deh. Aku meletakkan pensil 2B yang sedari tadi kugenggam
refleks ke atas meja lipat.
"Ah,
serem banget. Padahal kan cuma becanda dikit, masa Kakak marah beneran, sih;
Kakak ini bener-bener nggak punya selera humor, ya."
"Selera
humor KAMU aja yang ampas, tahu!"
"Kakak
jahaaaat~"
"Udahlah,
buruan ganti baju sana! Seragam itu bikin gerah kalau dipakai di dalam rumah,
kan; lagian di sini juga nggak ada AC!"
"Nggak
mau, ah! Aku kan juga pengen cobain seragam ini, biarin aku menikmatinya
sebentar lagi, kek."
"...Ah,
benar juga; mumpung lagi pakai ini, sekalian foto-foto, ah!"
Shigure
langsung mengeluarkan smartphone-nya. Kenapa juga sih cewek-cewek suka
banget selfie dan nge-post fotonya di internet?
Padahal aku
sendiri sama sekali nggak sudi mewariskan fotoku di dunia ini.
"Hmm,
rasanya kurang pas, deh. Kakak yang jadi fotografernya, dong!"
"Eh,
kenapa harus aku?"
"Habisnya
kalau cuma selfie pose dan angle-nya jadi terbatas. Kalau Kakak
mau jepretin beberapa kali, nanti aku langsung ganti baju, kok..."
"Sebaliknya
kalau Kakak nggak mau, mending seharian ini aku pakai seragam ini aja kali, ya?
Berhubung di dalam rumah, mungkin aku bakal ngebuka kancingnya biar kelihatan
lebih santai~"
Sambil
menatapku dengan tatapan memelas dari bawah, Shigure dengan sengaja
melonggarkan dasi seragamnya. Dari kerah kemejanya yang terbuka lebar, tulang
selangkanya yang sedikit berkeringat terekspos jelas.
Kalau sudah
begini, aku tak punya pilihan lain.
"...Iya,
iya, paham! Sini smartphone-mu!"
"Nih.
Fotonya yang manis, ya! Aku mau siap-siap dulu."
Begitu
mengatakan hal itu, Shigure perlahan melepas kaus kakinya hingga telanjang
kaki.
"Ngapain
juga dilepas kaus kakinya?!"
"Hm?
Pikirku hasil fotonya bakal kelihatan lebih erotis kalau telanjang kaki."
"Biar
aura 'pacar yang main ke rumah sepulang sekolah' makin kerasa gitu lho! Aku
pengen bikin kesan cewek yang lagi lengah banget sampai-sampai rasanya gampang
diterkam kalau suasananya udah mendukung; bikin gairah naik banget, kan?!"
Paham
banget. ...GAWAT! Tanpa sadar aku malah sangat setuju dalam hati!
Syukurlah
nggak sampai keceplosan. Kalau sampai kuucapkan, dia pasti bakal menjahiliku
lagi.
Digoda
dengan gaya biasanya saja sudah bikin repot, apalagi kalau dia pakai seragam
Haruka! Ini bisa mengancam nyawaku!
Biar dia
cepat ganti baju, mending aku segera ambil fotonya dan bikin dia puas.
"Ya
udah, kasih tahu kalau posenya udah siap, ya."
"Okaaaay~"
Lalu sesuai
permintaan Shigure, aku mulai memotret dirinya yang berpose dengan latar
belakang ruang tengah rumahku menggunakan aplikasi kamera.
Mulai dari
pose duduk memeluk lutut di atas tikar tatami sambil memainkan jari kaki
telanjangnya. Hingga pose membuka buku catatan di meja lipat dengan ujung
pensil mekanik menempel di bibir bawahnya seakan sedang berpikir keras.
Bahkan
sampai pose tiduran santai di atas tatami sambil menatap kamera dengan sorot
mata memelas penuh harap. Aku terus menuruti permintaannya, menyesuaikan angle
serta jarak jepretan, dan memotretnya bertubi-tubi.
Sambil
asyik memotret, aku membatin. Sumpah ini beneran bikin gairah memuncak!
"Hmm,
buat pose tiduran ini, aku pengen kelihatan pusarnya sedikit. Kemejanya mau
kukeluarin nih, tolong foto sekali lagi, ya!"
"................"
Gimana,
nih?! Jantungku berdebar kencang jauh melampaui dugaanku!
Meski aku
terus menanamkan di otak kalau cewek ini Shigure, gara-gara seragam itu
sosoknya hanya terlihat seperti Haruka di mataku. Seolah-olah Haruka sedang
main ke kamarku dan memperlihatkan sosok aslinya yang sangat lengah.
Dengan
ekspresi yang seolah sedang menggodaku. Delusi itu sukses membuat jantungku
berdetak tak karuan.
GAWAT.
Kalau sampai iblis kecil ini tahu aku lagi deg-degan, pasti bakal kejadian
hal-hal yang nggak bener!
Pokoknya
aku harus menyembunyikannya apa pun yang terjadi! Karena itulah, aku
mati-matian menutupi ekspresiku sambil terus menekan tombol shutter.
Dan
begitulah, aku akhirnya berhasil selamat melewati sesi pemotretan ini.
Kuserahkan kembali smartphone itu pada Shigure agar dia mengecek
hasilnya.
"...Udah
puas, kan?"
"Hee~
Ternyata Kakak lumayan jago juga, lho. Lihat deh angle yang ini; kontras
antara bayangan dan senjanya kelihatan pas banget!"
"Kakak
ini punya bakat jadi tukang intip low-angle, lho!"
"Aku
nggak butuh bakat kelewat niche di dalam ruang lingkup yang kelewat
sempit kayak gitu!"
"Tapi
kalau kulihat sosokku sendiri dari foto begini, aku dan Kak Haruka memang
benar-benar mirip, ya. Nggak cuma wajahnya, lekuk dadanya atau bokongnya yang
agak naik ini juga kembar persis; pantas aja Kakak dari tadi panik salah
tingkah."
"...Siapa
juga yang salah tingkah."
Lagipula,
tolong jangan sebut-sebut kata dada atau bokong begitu dong, dasar cewek. Bikin
aku salah tingkah saja.
"Yah,
kamu udah puas, kan?! Buruan ganti baju, sana!"
"Bener
juga, sih. Aku juga harus siap-siap masak buat makan malam."
"Agak
gawat kan urusannya kalau sampai kotor gara-gara kupakai masak."
Syukurlah.
Sepertinya Shigure benar-benar sudah merasa puas.
Dengan
begini akhirnya──
"Tapi
sebelum ganti baju, aku harus bayar 'upah' Kakak dulu dong."
"Hah?
Upah?"
"URYAAA!"
Detik itu
juga saat aku merespons kebingungan atas ucapannya. Tiba-tiba saja, Shigure
menerjangku yang sedang duduk di atas tatami hingga telentang, lalu menduduki
tubuhku.
"Eh?
A-Apa...?"
Aku cuma
bisa diam membeku dalam kebingungan. Di saat seperti itu, Shigure menempelkan
tangannya di dadaku dengan senyum sadis andalannya.
"...Fufu.
Jantung Kakak deg-degan kencang banget."
"Padahal
tadi ngejek aku kura-kura bulus, tapi lihat penampilanku ini aslinya Kakak
ngerasa kayak Kak Haruka lagi main ke rumah, kan? Lucu banget, deh."
"M-M-Mana
ada hal kayak gitu!"
"Pembohong."
Shigure
mendekatkan wajahnya, lalu berbisik seolah sedang mengejekku. Helaian rambutnya
terurai dari bahu dan membelai lembut pipiku.
Sensasi
geli bagai belaian bulu angsa itu sukses membuat sekujur tubuhku merinding
kegirangan. Merasakan gemetarku itu, senyum Shigure semakin melebar.
"Kalau
emang nggak ngerasa gitu, mana mungkin Kakak bisa deg-degan sekencang ini~
Hayo, bener, kan?"
"Ugh..."
Kuku-kuku
Shigure yang terawat cantik menggaruk pelan dada bidangku.
"Kakak
ini cowok jahat, lho. Padahal aku bukan Kak Haruka, cuma orang lain dengan DNA
yang sama persis; tapi Kakak malah deg-degan sampai wajah memerah begini."
"Terus
ke mana perginya Kakak sok keren yang bilang mau menerimaku apa adanya itu, hm?
...Menyedihkan sekali; Kak Haruka nggak boleh lihat sisi Kakak yang kayak gini,
lho."
"Itu
karena kamu ngagetin aku aja, tahu! Buruan nyingkir... atau aku beneran marah,
lho!"
Aku
memelototinya sambil memasang gertak sambal sekuat tenaga. Shigure pun
menjulurkan lidah merahnya sedikit sebelum menjauhkan wajahnya.
"Maaf,
deh. Aku ngerti, kok, kami ini kan kembar."
"Wajar
aja kalau Kakak deg-degan sama adik yang wajah dan bentuk tubuhnya sama persis
dengan pacarmu. Kakak nggak salah, kok; Kakak sama sekali nggak salah!"
"Habisnya
Kakak cuma melihat Kak Haruka melalui diriku, kan. Intinya, Kakak itu cuma
deg-degan sama Kak Haruka, sementara eksistensiku sama sekali tak masuk dalam
pandanganmu! Nggak ada di matamu, kan?! Bener, kan?!"
"Y-Ya
iyalah! Cintaku ini cuma buat Haruka seorang, tahu!"
"Tapi
justru karena aku ini orang lain, justru karena aku adik kembarnya; aku bisa
lho ngelakuin hal-hal yang takkan pernah mau dilakukan oleh Kak Haruka yang
polos dan pemalu itu padamu!"
"Ngomong
apa si──"
Belum
sempat pertanyaanku selesai, Shigure langsung mengubah posisinya dari
mendudukiku menjadi berlutut tegak. Dia lalu sedikit mencubit ujung rok seragam
Haruka itu.
Kemudian──dia
mulai mengangkat ujung rok yang dicubitnya itu ke atas! Ya, tepat di depan
mataku, dalam balutan seragam Haruka!
"Sebagai
hadiah karena udah bantuin hari ini, bakal kuperlihatkan sesuatu yang bagus...
Pakaian dalam Kakak kesayanganmu!"
"T-Tunggu,
jangan, TUNGGU! TUNGGU DULUUUUU!"
A-A-Apa-apaan
yang ada di otak cewek gila ini?! Aku menjerit histeris kepanikan dan mencoba
meronta untuk melarikan diri!
Sayangnya,
tubuhku yang mencoba mundur langsung menabrak dinding dan memutus jalur
pelarianku. SIALAN, rumahku sempit banget, sih! Aku sama sekali nggak bisa
kabur!
Sementara
aku meronta panik, tangan Shigure terus mengangkat roknya perlahan.
"BODOH!
KAMU UDAH GILA, YA?! Nggak tahu malu banget, sih?!"
"Ya
malulah pastinya~ Tapi aku pengen ngasih imbalan buat Kakak, lho!"
"C-Cewek
tuh nggak boleh ngelakuin hal kayak gitu! Kamu harus lebih menghargai dirimu
sendiri, dong!"
"Aku
menghargai diriku, kok; tapi kalau buat Kakak nggak apa-apa."
"TAPI
AKU YANG NGGAK MAU! Lagian, kalau kamu berani ngelakuin hal senekat itu pakai
sosok Haruka, aku takkan maaf──"
"Ei!"
"PYAAAAAHHHH!!!!"
Rok itu
langsung terangkat lebar-lebar dalam sekejap. Sambil menggigit bibir, aku
langsung memejamkan mata rapat-rapat dan memalingkan kepalaku keras-keras!
C-Cewek ini
bener-bener nggak bisa dipercaya. Dia sungguhan menyingkap roknya tanpa ragu
sedikit pun!
Biarpun dia
menikmati menjahiliku, apa wajar sampai senekat ini?!
Pokoknya,
dalam keadaan mata tertutup begini aku harus mendorongnya paksa dan melarikan
diri──
"Bercanda,
deeeng~ Dalemannya cuma pakai spats kok♡"
...Hah?
"Ahaha!
Pyaah~, katanya! Suara memalukan macam apa itu, Kakak?! Apalagi lehermu muter
kayak burung hantu gitu!"
"Aha,
padahal nggak usah sampai mati-matian buang muka gitu, kan? Padahal ceweknya
sendiri yang nawarin buat kasih lihat, eh malah salting parah."
"Kakak
ini, aslinya imut banget, lho."
"~~~~~KH!"
B-Bisa-bisanya
dia bertindak sekejam ini. Terlebih lagi, sambil menggunakan rupa Haruka!
Ini sudah
sangat keterlaluan, tak bisa kumaafkan. Kali ini, batas kesabaranku benar-benar
sudah habis!
Sebagai
pacar Haruka, dan sebagai kakaknya; rasanya tak tenang kalau tidak
menceramahinya habis-habisan!
Dengan mata
yang tadi kupalingkan, aku memelototi Shigure dan melayangkan protes dengan
suara keras.
"HENTIKAN
CANDANMU, SHIGURE! Biarpun kamu adikku, bukan berarti kamu boleh sesukamu
ngelakuin──"
Tunggu
dulu, ke mana perginya spats itu?
"?!?!?!?!"
Eh, tunggu
bentar, tunggu bentar! Ini maksudnya apa?!
Emangnya
ada model spats kayak begini?! Bentuknya persis kayak celana dalam, ATAU
LEBIH TEPATNYA, INI BENERAN CELANA DALAM, KAN!
Aku memang
belum pernah lihat celana dalam teman sekelas sebelumnya, TAPI INI KAN WARNANYA
PINK! Kelihatan banget bahannya bagus, lho!
Di
manga-manga juga bentuknya ya kayak gini! Bisa-bisanya anak ini buka-bukaan
celana dalam di depan cowok, uwaaa, UWAAAAH!
"Kak
Haruka kan lumayan memperpendek roknya, kan? Makanya biar nggak gampang
kelihatan, dia selalu pakai spats pendek di dalamnya."
"Masa
statusnya pacar tapi nggak tahu hal sepenting ini? Atau jangan-jangan, Kakak
memang nggak punya nyali buat mengintipnya~?"
"BUKAN
GITU, WOI! I-Itu spats?! UWAAAAH!"
"Hm?
Lho, lho, Kakak, reaksi apaan tuh yang lebay banget?"
"Ah,
jangan-jangan buat Kakak, ngelihat spats aja udah kelewat menstimulasi
gairahmu, ya? Aha, dasar monyet mesum yang nggak kenal tempat; kalau segini
doang udah bikin senang, bakal kuperlihatkan sepuasnya! Sini, sini, lihat
dooong~"
Bukan,
bukan begitu! Tunggu, jangan-jangan Shigure nggak sadar kalau dia sebenarnya
lagi nggak pakai spats?!
Uwaa,
jangan meliuk-liukkan pinggul seakan mau pamer begitu, dong! Kerutan di bagian
selangkangannya jadi ngebentuk lekukan, HIIII!
GAWAT, INI
BENERAN GAWAT! Aku harus cepat-cepat bikin dia sadar──!
"Sh-Shig──Shiguuu."
Sialan, aku
terlalu panik sampai-sampai lidahku kelu! Brengsek, gimana caranya ngasih tahu
si idiot ini tentang kenyataan yang sebenarnya, eh──benar juga!
Sebuah
pencerahan ilahi turun padaku. Aku langsung mengeluarkan smartphone dari
saku dan memotret Shigure.
Setelah
itu, aku langsung memutar layarnya dan menyodorkan foto itu tepat di depan
wajahnya.
"Ya
ampun, Kakak sampai repot-repot ngambil foto segala; sebegitunya ya Kakak suka
sama spats-ku? Yah mau gimana lagi, berhubung adikmu ini murah hati,
silakan saja simpan fotonya sepuasnya...... eh?"
Tiba-tiba
saja, ocehan panjang Shigure yang lagi di atas angin akibat reaksiku itu
terhenti. Dia mendekatkan wajahnya ke layar smartphone-ku sambil
menggumam "Hm~?" dan menatap foto itu lamat-lamat.
Lalu
setelah memikirkan sesuatu, dia mengucek matanya kuat-kuat dan kembali melihat
gambar itu.
"NNNNN~~~~~?!?!"
Dia
menjerit tanpa kata-kata dengan wajah yang memerah padam seolah mau
menyemburkan api! Dengan sangat panik, Shigure merebut paksa ponselku dan lari
terbirit-birit ke sudut ruangan dengan kecepatan setara tikus got.
Setelah
mengotak-atik ponselku dengan brutal yang mungkin untuk menghapus foto itu, dia
bertanya padaku dengan gemetar.
"A-Anu...
Kakak lihat?"
"Menurutmu
kalau aku bilang 'enggak', kamu bakal percaya?"
"AAAAAA~~~~!!!!"
Shigure
langsung tenggelam dalam kehancuran! Dia berjongkok di tempat sambil memegangi
kepalanya kuat-kuat.
Lalu dengan
gerakan meliuk-liuk bagai ulat bulu, dia merayap kembali ke kamarnya yang
berada di balik pintu geser fusuma.
"E-Eh,
kenapa bisa aku nggak pakai spats?! Padahal aku udah beneran pinjam dari
Kak Haruka, ini aneh banget!"
"A-Ah,
tapi ngomong-ngomong pas baru pulang tadi rumah gerah banget... Ditambah aku
buru-buru pengen pulang duluan sebelum Kakak, jadinya aku keringetan parah dan
karena risi aku lepas bajunya; a, A, A, AAAAA~~~~"
Dari balik
pintu geser tipis itu, terdengar suara komat-kamit tak jelas dan suara orang
guling-gulingan. Kelihatannya insiden pamer celana dalam tepat di depan mataku
ini benar-benar memukul mentalnya dengan telak.
Pada
akhirnya, Shigure sama sekali tidak keluar dari kamarnya sepanjang hari itu.
Jaring keadilan langit memang luas dan tak pernah luput.
Ini adalah
hukuman yang setimpal karena berani menodai sosok pacarku! ...Tapi, yah, gitu
deh; ternyata kamu itu masih punya konsep rasa malu, ya.
Bagi
seorang kakak, hal itulah yang paling mengejutkan, lho.



Post a Comment