NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 8

Chapter 8

Seragam x Memotret


Hari itu, begitu pulang ke rumah, aku melihat sosok Haruka di ruang tengah.

"HAAAAAAAAAAAAAAH?!?!"

"Ah, Hiromichi-kun. Permisi~"

"K-K-K-KENAPA HARUKA ADA DI RUMAHKUUUUU?!?!"

Saking kagetnya, otakku seketika dilanda kepanikan luar biasa. Kenapa Haruka bisa ada di sini?!

Kenapa dia bisa tahu rumahku?! Berbagai pertanyaan meledak sekaligus di kepalaku sampai rasanya dunia ini berputar.

A-A-A-Apa yang harus kulakukan?! Y-Yang penting bikin teh dulu──BUKAN WAKTUNYA MIKIR BEGITU!

Jangan-jangan rahasiaku dan Shigure sudah ketahuan... eh? Shigure?

Tunggu sebentar. Dengan perasaan curiga aku menatap kembali sosok Haruka di ruang tengah, dan dia pun tersenyum iblis sebelum tertawa terbahak-bahak.

"Aha! Ahahaaha! Reaksi Kakak bagus bangeeet!"

"SUDAH KUDUGA ITU KAMU, SHIGURE!"

"Yap, ini aku, adik manis Kakak, Shigure! Habisnya reaksi Kakak bener-bener akurat persis kayak yang kuharapkan, sih; Kakak punya bakat jadi pelawak, lho!"

"Ampun deh, sumpah..."

Seluruh tenagaku rasanya terkuras habis sampai aku terpaksa bersandar di dinding. Ya, wajar kalau aku sempat tertipu karena dia memakai seragam Seiun, tapi sosok di ruang tengah itu benar-benar Shigure!

Sumpah aku kaget banget! Rasanya jantungku hancur tiga biji, tahu!

Tunggu, lagipula... "Kenapa kamu bisa pakai seragam itu, beli?!"

"Memangnya keluarga kita punya uang sisa buat foya-foya?"

"Terus kamu dapat dari mana seragam itu?!"

"Aku tukaran sama Kak Haruka khusus buat hari ini doang. Katanya dia juga pengen coba pakai seragam Shueikan."

Shigure menjawab sambil membusungkan dadanya yang berbentuk indah. Entah karena kemejanya dimasukkan ke dalam, dadanya terlihat lebih besar dari biasanya.

"Lagian, aku juga pengen lihat reaksi Kakak, sih (lol)."

"...Syukurlah kalau reaksiku sesuai harapanmu, BRENGSEK!"

"Ahaha, jangan marah gitu, dong. Kakak juga aslinya seneng, kan?"

Hah? Senang? "Senang apanya?!"

"Soalnya aku dan Kak Haruka itu kembar identik yang wajah, postur tubuh, sampai gaya rambutnya sama persis! Berhubung aku lagi pakai seragamnya, itu artinya Kakak serasa lagi didatangi Kak Haruka di rumah sendiri, kan?!"

"Ngimpi mau jadi rembulan padahal aslinya kura-kura bulus, bukannya itu kelewat nggak tahu diri?!"

"Hiromichi-kun... Pe-luk A-ku♡"

"?"

"T-Tunggu, jangan mendekat dengan pupil mata melebar gitu, dong! TAKUUUT!"

"Emangnya Kakak mau ngapain dengan pensil 2B yang digenggam erat itu?! Maaf, deh, aku nggak bakal ngulangin lagi!"

Adikku yang satu ini benar-benar, deh. Aku meletakkan pensil 2B yang sedari tadi kugenggam refleks ke atas meja lipat.

"Ah, serem banget. Padahal kan cuma becanda dikit, masa Kakak marah beneran, sih; Kakak ini bener-bener nggak punya selera humor, ya."

"Selera humor KAMU aja yang ampas, tahu!"

"Kakak jahaaaat~"

"Udahlah, buruan ganti baju sana! Seragam itu bikin gerah kalau dipakai di dalam rumah, kan; lagian di sini juga nggak ada AC!"

"Nggak mau, ah! Aku kan juga pengen cobain seragam ini, biarin aku menikmatinya sebentar lagi, kek."

"...Ah, benar juga; mumpung lagi pakai ini, sekalian foto-foto, ah!"

Shigure langsung mengeluarkan smartphone-nya. Kenapa juga sih cewek-cewek suka banget selfie dan nge-post fotonya di internet?

Padahal aku sendiri sama sekali nggak sudi mewariskan fotoku di dunia ini.

"Hmm, rasanya kurang pas, deh. Kakak yang jadi fotografernya, dong!"

"Eh, kenapa harus aku?"

"Habisnya kalau cuma selfie pose dan angle-nya jadi terbatas. Kalau Kakak mau jepretin beberapa kali, nanti aku langsung ganti baju, kok..."

"Sebaliknya kalau Kakak nggak mau, mending seharian ini aku pakai seragam ini aja kali, ya? Berhubung di dalam rumah, mungkin aku bakal ngebuka kancingnya biar kelihatan lebih santai~"

Sambil menatapku dengan tatapan memelas dari bawah, Shigure dengan sengaja melonggarkan dasi seragamnya. Dari kerah kemejanya yang terbuka lebar, tulang selangkanya yang sedikit berkeringat terekspos jelas.

Kalau sudah begini, aku tak punya pilihan lain.

"...Iya, iya, paham! Sini smartphone-mu!"

"Nih. Fotonya yang manis, ya! Aku mau siap-siap dulu."

Begitu mengatakan hal itu, Shigure perlahan melepas kaus kakinya hingga telanjang kaki.

"Ngapain juga dilepas kaus kakinya?!"

"Hm? Pikirku hasil fotonya bakal kelihatan lebih erotis kalau telanjang kaki."

"Biar aura 'pacar yang main ke rumah sepulang sekolah' makin kerasa gitu lho! Aku pengen bikin kesan cewek yang lagi lengah banget sampai-sampai rasanya gampang diterkam kalau suasananya udah mendukung; bikin gairah naik banget, kan?!"

Paham banget. ...GAWAT! Tanpa sadar aku malah sangat setuju dalam hati!

Syukurlah nggak sampai keceplosan. Kalau sampai kuucapkan, dia pasti bakal menjahiliku lagi.

Digoda dengan gaya biasanya saja sudah bikin repot, apalagi kalau dia pakai seragam Haruka! Ini bisa mengancam nyawaku!

Biar dia cepat ganti baju, mending aku segera ambil fotonya dan bikin dia puas.

"Ya udah, kasih tahu kalau posenya udah siap, ya."

"Okaaaay~"

Lalu sesuai permintaan Shigure, aku mulai memotret dirinya yang berpose dengan latar belakang ruang tengah rumahku menggunakan aplikasi kamera.

Mulai dari pose duduk memeluk lutut di atas tikar tatami sambil memainkan jari kaki telanjangnya. Hingga pose membuka buku catatan di meja lipat dengan ujung pensil mekanik menempel di bibir bawahnya seakan sedang berpikir keras.

Bahkan sampai pose tiduran santai di atas tatami sambil menatap kamera dengan sorot mata memelas penuh harap. Aku terus menuruti permintaannya, menyesuaikan angle serta jarak jepretan, dan memotretnya bertubi-tubi.

Sambil asyik memotret, aku membatin. Sumpah ini beneran bikin gairah memuncak!

"Hmm, buat pose tiduran ini, aku pengen kelihatan pusarnya sedikit. Kemejanya mau kukeluarin nih, tolong foto sekali lagi, ya!"

"................"

Gimana, nih?! Jantungku berdebar kencang jauh melampaui dugaanku!

Meski aku terus menanamkan di otak kalau cewek ini Shigure, gara-gara seragam itu sosoknya hanya terlihat seperti Haruka di mataku. Seolah-olah Haruka sedang main ke kamarku dan memperlihatkan sosok aslinya yang sangat lengah.

Dengan ekspresi yang seolah sedang menggodaku. Delusi itu sukses membuat jantungku berdetak tak karuan.

GAWAT. Kalau sampai iblis kecil ini tahu aku lagi deg-degan, pasti bakal kejadian hal-hal yang nggak bener!

Pokoknya aku harus menyembunyikannya apa pun yang terjadi! Karena itulah, aku mati-matian menutupi ekspresiku sambil terus menekan tombol shutter.

Dan begitulah, aku akhirnya berhasil selamat melewati sesi pemotretan ini. Kuserahkan kembali smartphone itu pada Shigure agar dia mengecek hasilnya.

"...Udah puas, kan?"

"Hee~ Ternyata Kakak lumayan jago juga, lho. Lihat deh angle yang ini; kontras antara bayangan dan senjanya kelihatan pas banget!"

"Kakak ini punya bakat jadi tukang intip low-angle, lho!"

"Aku nggak butuh bakat kelewat niche di dalam ruang lingkup yang kelewat sempit kayak gitu!"

"Tapi kalau kulihat sosokku sendiri dari foto begini, aku dan Kak Haruka memang benar-benar mirip, ya. Nggak cuma wajahnya, lekuk dadanya atau bokongnya yang agak naik ini juga kembar persis; pantas aja Kakak dari tadi panik salah tingkah."

"...Siapa juga yang salah tingkah."

Lagipula, tolong jangan sebut-sebut kata dada atau bokong begitu dong, dasar cewek. Bikin aku salah tingkah saja.

"Yah, kamu udah puas, kan?! Buruan ganti baju, sana!"

"Bener juga, sih. Aku juga harus siap-siap masak buat makan malam."

"Agak gawat kan urusannya kalau sampai kotor gara-gara kupakai masak."

Syukurlah. Sepertinya Shigure benar-benar sudah merasa puas.

Dengan begini akhirnya──

"Tapi sebelum ganti baju, aku harus bayar 'upah' Kakak dulu dong."

"Hah? Upah?"

"URYAAA!"

Detik itu juga saat aku merespons kebingungan atas ucapannya. Tiba-tiba saja, Shigure menerjangku yang sedang duduk di atas tatami hingga telentang, lalu menduduki tubuhku.

"Eh? A-Apa...?"

Aku cuma bisa diam membeku dalam kebingungan. Di saat seperti itu, Shigure menempelkan tangannya di dadaku dengan senyum sadis andalannya.

"...Fufu. Jantung Kakak deg-degan kencang banget."

"Padahal tadi ngejek aku kura-kura bulus, tapi lihat penampilanku ini aslinya Kakak ngerasa kayak Kak Haruka lagi main ke rumah, kan? Lucu banget, deh."

"M-M-Mana ada hal kayak gitu!"

"Pembohong."

Shigure mendekatkan wajahnya, lalu berbisik seolah sedang mengejekku. Helaian rambutnya terurai dari bahu dan membelai lembut pipiku.

Sensasi geli bagai belaian bulu angsa itu sukses membuat sekujur tubuhku merinding kegirangan. Merasakan gemetarku itu, senyum Shigure semakin melebar.

"Kalau emang nggak ngerasa gitu, mana mungkin Kakak bisa deg-degan sekencang ini~ Hayo, bener, kan?"

"Ugh..."

Kuku-kuku Shigure yang terawat cantik menggaruk pelan dada bidangku.

"Kakak ini cowok jahat, lho. Padahal aku bukan Kak Haruka, cuma orang lain dengan DNA yang sama persis; tapi Kakak malah deg-degan sampai wajah memerah begini."

"Terus ke mana perginya Kakak sok keren yang bilang mau menerimaku apa adanya itu, hm? ...Menyedihkan sekali; Kak Haruka nggak boleh lihat sisi Kakak yang kayak gini, lho."

"Itu karena kamu ngagetin aku aja, tahu! Buruan nyingkir... atau aku beneran marah, lho!"

Aku memelototinya sambil memasang gertak sambal sekuat tenaga. Shigure pun menjulurkan lidah merahnya sedikit sebelum menjauhkan wajahnya.

"Maaf, deh. Aku ngerti, kok, kami ini kan kembar."

"Wajar aja kalau Kakak deg-degan sama adik yang wajah dan bentuk tubuhnya sama persis dengan pacarmu. Kakak nggak salah, kok; Kakak sama sekali nggak salah!"

"Habisnya Kakak cuma melihat Kak Haruka melalui diriku, kan. Intinya, Kakak itu cuma deg-degan sama Kak Haruka, sementara eksistensiku sama sekali tak masuk dalam pandanganmu! Nggak ada di matamu, kan?! Bener, kan?!"

"Y-Ya iyalah! Cintaku ini cuma buat Haruka seorang, tahu!"

"Tapi justru karena aku ini orang lain, justru karena aku adik kembarnya; aku bisa lho ngelakuin hal-hal yang takkan pernah mau dilakukan oleh Kak Haruka yang polos dan pemalu itu padamu!"

"Ngomong apa si──"

Belum sempat pertanyaanku selesai, Shigure langsung mengubah posisinya dari mendudukiku menjadi berlutut tegak. Dia lalu sedikit mencubit ujung rok seragam Haruka itu.

Kemudian──dia mulai mengangkat ujung rok yang dicubitnya itu ke atas! Ya, tepat di depan mataku, dalam balutan seragam Haruka!

"Sebagai hadiah karena udah bantuin hari ini, bakal kuperlihatkan sesuatu yang bagus... Pakaian dalam Kakak kesayanganmu!"

"T-Tunggu, jangan, TUNGGU! TUNGGU DULUUUUU!"

A-A-Apa-apaan yang ada di otak cewek gila ini?! Aku menjerit histeris kepanikan dan mencoba meronta untuk melarikan diri!

Sayangnya, tubuhku yang mencoba mundur langsung menabrak dinding dan memutus jalur pelarianku. SIALAN, rumahku sempit banget, sih! Aku sama sekali nggak bisa kabur!

Sementara aku meronta panik, tangan Shigure terus mengangkat roknya perlahan.

"BODOH! KAMU UDAH GILA, YA?! Nggak tahu malu banget, sih?!"

"Ya malulah pastinya~ Tapi aku pengen ngasih imbalan buat Kakak, lho!"

"C-Cewek tuh nggak boleh ngelakuin hal kayak gitu! Kamu harus lebih menghargai dirimu sendiri, dong!"

"Aku menghargai diriku, kok; tapi kalau buat Kakak nggak apa-apa."

"TAPI AKU YANG NGGAK MAU! Lagian, kalau kamu berani ngelakuin hal senekat itu pakai sosok Haruka, aku takkan maaf──"

"Ei!"

"PYAAAAAHHHH!!!!"

Rok itu langsung terangkat lebar-lebar dalam sekejap. Sambil menggigit bibir, aku langsung memejamkan mata rapat-rapat dan memalingkan kepalaku keras-keras!

C-Cewek ini bener-bener nggak bisa dipercaya. Dia sungguhan menyingkap roknya tanpa ragu sedikit pun!

Biarpun dia menikmati menjahiliku, apa wajar sampai senekat ini?!

Pokoknya, dalam keadaan mata tertutup begini aku harus mendorongnya paksa dan melarikan diri──

"Bercanda, deeeng~ Dalemannya cuma pakai spats kok♡"

...Hah?

"Ahaha! Pyaah~, katanya! Suara memalukan macam apa itu, Kakak?! Apalagi lehermu muter kayak burung hantu gitu!"

"Aha, padahal nggak usah sampai mati-matian buang muka gitu, kan? Padahal ceweknya sendiri yang nawarin buat kasih lihat, eh malah salting parah."

"Kakak ini, aslinya imut banget, lho."

"~~~~~KH!"

B-Bisa-bisanya dia bertindak sekejam ini. Terlebih lagi, sambil menggunakan rupa Haruka!

Ini sudah sangat keterlaluan, tak bisa kumaafkan. Kali ini, batas kesabaranku benar-benar sudah habis!

Sebagai pacar Haruka, dan sebagai kakaknya; rasanya tak tenang kalau tidak menceramahinya habis-habisan!

Dengan mata yang tadi kupalingkan, aku memelototi Shigure dan melayangkan protes dengan suara keras.

"HENTIKAN CANDANMU, SHIGURE! Biarpun kamu adikku, bukan berarti kamu boleh sesukamu ngelakuin──"

Tunggu dulu, ke mana perginya spats itu?

"?!?!?!?!"

Eh, tunggu bentar, tunggu bentar! Ini maksudnya apa?!

Emangnya ada model spats kayak begini?! Bentuknya persis kayak celana dalam, ATAU LEBIH TEPATNYA, INI BENERAN CELANA DALAM, KAN!

Aku memang belum pernah lihat celana dalam teman sekelas sebelumnya, TAPI INI KAN WARNANYA PINK! Kelihatan banget bahannya bagus, lho!

Di manga-manga juga bentuknya ya kayak gini! Bisa-bisanya anak ini buka-bukaan celana dalam di depan cowok, uwaaa, UWAAAAH!

"Kak Haruka kan lumayan memperpendek roknya, kan? Makanya biar nggak gampang kelihatan, dia selalu pakai spats pendek di dalamnya."

"Masa statusnya pacar tapi nggak tahu hal sepenting ini? Atau jangan-jangan, Kakak memang nggak punya nyali buat mengintipnya~?"

"BUKAN GITU, WOI! I-Itu spats?! UWAAAAH!"

"Hm? Lho, lho, Kakak, reaksi apaan tuh yang lebay banget?"

"Ah, jangan-jangan buat Kakak, ngelihat spats aja udah kelewat menstimulasi gairahmu, ya? Aha, dasar monyet mesum yang nggak kenal tempat; kalau segini doang udah bikin senang, bakal kuperlihatkan sepuasnya! Sini, sini, lihat dooong~"




Bukan, bukan begitu! Tunggu, jangan-jangan Shigure nggak sadar kalau dia sebenarnya lagi nggak pakai spats?!

Uwaa, jangan meliuk-liukkan pinggul seakan mau pamer begitu, dong! Kerutan di bagian selangkangannya jadi ngebentuk lekukan, HIIII!

GAWAT, INI BENERAN GAWAT! Aku harus cepat-cepat bikin dia sadar──!

"Sh-Shig──Shiguuu."

Sialan, aku terlalu panik sampai-sampai lidahku kelu! Brengsek, gimana caranya ngasih tahu si idiot ini tentang kenyataan yang sebenarnya, eh──benar juga!

Sebuah pencerahan ilahi turun padaku. Aku langsung mengeluarkan smartphone dari saku dan memotret Shigure.

Setelah itu, aku langsung memutar layarnya dan menyodorkan foto itu tepat di depan wajahnya.

"Ya ampun, Kakak sampai repot-repot ngambil foto segala; sebegitunya ya Kakak suka sama spats-ku? Yah mau gimana lagi, berhubung adikmu ini murah hati, silakan saja simpan fotonya sepuasnya...... eh?"

Tiba-tiba saja, ocehan panjang Shigure yang lagi di atas angin akibat reaksiku itu terhenti. Dia mendekatkan wajahnya ke layar smartphone-ku sambil menggumam "Hm~?" dan menatap foto itu lamat-lamat.

Lalu setelah memikirkan sesuatu, dia mengucek matanya kuat-kuat dan kembali melihat gambar itu.

"NNNNN~~~~~?!?!"

Dia menjerit tanpa kata-kata dengan wajah yang memerah padam seolah mau menyemburkan api! Dengan sangat panik, Shigure merebut paksa ponselku dan lari terbirit-birit ke sudut ruangan dengan kecepatan setara tikus got.

Setelah mengotak-atik ponselku dengan brutal yang mungkin untuk menghapus foto itu, dia bertanya padaku dengan gemetar.

"A-Anu... Kakak lihat?"

"Menurutmu kalau aku bilang 'enggak', kamu bakal percaya?"

"AAAAAA~~~~!!!!"

Shigure langsung tenggelam dalam kehancuran! Dia berjongkok di tempat sambil memegangi kepalanya kuat-kuat.

Lalu dengan gerakan meliuk-liuk bagai ulat bulu, dia merayap kembali ke kamarnya yang berada di balik pintu geser fusuma.

"E-Eh, kenapa bisa aku nggak pakai spats?! Padahal aku udah beneran pinjam dari Kak Haruka, ini aneh banget!"

"A-Ah, tapi ngomong-ngomong pas baru pulang tadi rumah gerah banget... Ditambah aku buru-buru pengen pulang duluan sebelum Kakak, jadinya aku keringetan parah dan karena risi aku lepas bajunya; a, A, A, AAAAA~~~~"

Dari balik pintu geser tipis itu, terdengar suara komat-kamit tak jelas dan suara orang guling-gulingan. Kelihatannya insiden pamer celana dalam tepat di depan mataku ini benar-benar memukul mentalnya dengan telak.

Pada akhirnya, Shigure sama sekali tidak keluar dari kamarnya sepanjang hari itu. Jaring keadilan langit memang luas dan tak pernah luput.

Ini adalah hukuman yang setimpal karena berani menodai sosok pacarku! ...Tapi, yah, gitu deh; ternyata kamu itu masih punya konsep rasa malu, ya.

Bagi seorang kakak, hal itulah yang paling mengejutkan, lho.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close