NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 11

Chapter 11

Cinta x Prasangka


"Ta-da! Coba lihat ini, Hiromichi-kun!"

Di awal bulan Juni, tak lama setelah hasil Ujian Tengah Semester dibagikan.

Haruka memanggilku ke kantin saat jam istirahat siang. Begitu duduk di meja, dia langsung memamerkan lembar jawabannya dengan wajah penuh kebanggaan.

Nilai tertingginya ada di angka 80, sementara yang terendah di angka 50-an. Rata-ratanya sekitar 70-an, lah.

"Ujian Tengah Semester kali ini aku dapat nilai tertinggi yang pernah kuraih, lho! Ini semua berkat Hiromichi-kun yang ngajarin aku habis-habisan sepulang sekolah!"

Haruka berterima kasih padaku dengan senyum lebar yang berseri-seri.

Ternyata, metode belajar konyol yang cuma bisa dipahami oleh otak pas-pasanku ini sangat cocok dengan Haruka, sehingga dia sukses mencetak rekor nilai terbaiknya di hampir seluruh mata pelajaran!

Karena dia dan Shigure memiliki darah yang sama, kapasitas belajarnya jelas jauh lebih baik dariku.

"Syukurlah kalau otakku yang pas-pasan ini berguna buatmu."

"Makanya, hari ini kita bakal merayakannya! Aku yang traktir hari ini, jadi bilang aja mau makan apa; biar aku yang beliin!"

"Nggak usah repot-repot, santai aja kali. ...Bisa belajar bareng Haruka aja udah bikin aku seneng banget, kok."

Ini murni dari lubuk hatiku yang terdalam.

Bisa belajar bareng pacar itu impian terbesarku, tahu!

Jadi aku sudah merasa sangat terpuaskan.

Meskipun aku berkata begitu, Haruka tetap menolaknya.

"Aku juga seneng banget, kok! Apalagi nilaiku juga jadi naik drastis berkatmu, masa traktir makan siang aja nggak boleh?"

"Lagian, kalau aku ditolong terus-terusan, ...aku jadi sungkan kalau mau minta tolong lagi."

"Eh, jangan gitu, dong."

Untuk ujian akhir nanti, juga ujian tengah semester berikutnya, aku ingin Haruka terus mengandalkanku selamanya!

Atau lebih tepatnya, seumur hidup!

Mengingat hal itu, aku akhirnya terpaksa menerima tawaran Haruka.

"Kalau gitu, roti yakisoba sama dua genkotsu menchi, ya."

"Yes, Sir! Haruka akan segera melaksanakan misi ini!"

Dengan gerakan hormat ala tentara yang dibuat-buat, Haruka berjalan riang menuju konter penjualan makanan di kantin.

Imutnya.

Hanya dengan melihat punggungnya yang meloncat-loncat girang itu saja sudah membuatku merasa sangat bahagia.

Habisnya, Haruka pergi membelikan roti khusus buatku, tahu!

Gadis seimut itu rela melakukan hal yang disukai olehku.

Luar biasa, kan?! Aku bener-bener bersyukur dilahirkan ke dunia ini!

"Kenapa wajah Kakak senyum-senyum mesum gitu?"

"Uwe?!"

Tiba-tiba saja, suara yang persis dengan suara Haruka terdengar dari belakangku. Saking kagetnya, aku membelalakkan mataku dan menoleh ke belakang.

Di sana, berdiri sosok Shigure yang berwajah persis seperti Haruka, tapi memakai seragam yang berbeda. Dia sedang membawa nampan berisi paket A di kedua tangannya.

"...Ternyata kamu, Shigure."

"Apa maksud Kakak dengan 'ternyata kamu'? Jahat banget sama adik manisnya sendiri."

Entah karena kantin sedang ramai, Shigure sama sekali tak menyembunyikan fakta kalau dia itu adikku.

Kemudian, mata besarnya tertuju pada lembar jawaban yang tergeletak di atas meja.

"Eh? Ini, lembar jawabannya Kak Haruka, ya?"

"Iya."

"...Hee. Padahal dari dulu Kak Haruka itu paling benci belajar, tapi nilainya lumayan bagus juga."

"Biasanya dia langganan nilai merah atau nyaris nggak lulus, sih, tapi kali ini dia belajar mati-matian; bareng aku."

"Oh iya, benar juga. Ternyata begitu, ibarat pepatah 'kalau mau menguasai bahasa asing, pacarilah orang lokal', ya. Ngomong-ngomong, pemilik ujian ini lagi ke mana?"

"Dia mau nraktir aku makan siang sebagai ucapan terima kasih karena udah diajarin pas UTS, sekarang lagi ngantre beli."

Aku menunjuk ke arah punggung Haruka yang sedang berdesakan di konter penjualan.

Mendengar penjelasanku, Shigure menghela napas panjang dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.

"Baru juga jadian udah langsung jadi cowok benalu, hidup Kakak emang enak banget, ya."

"Enak aja, ini namanya bayaran yang setimpal!"

"Yah, sudahlah. Kalau teman semeja Kakak itu Kak Haruka, lebih baik aku segera menyingkir saja."

"Eh? Kenapa?"

"Pemandangan aku dan Kakak yang lagi barengan terus kepergok Kak Haruka itu nggak bakal bawa untung sedikit pun! Kalau sampai Kakak keceplosan ngomongin soal urusan rumah, tamatlah riwayat kita."

"Aku nggak sebodoh itu, kali. Makan bareng aja di sini, Haruka juga pasti seneng, kok."

"Lagian, kalau ngelihat wajah bodoh Kakak, aku jadi harus nahan diri mati-matian biar nggak ngejahilin Kakak; itu berat banget, tahu!"

"Ya udah, cepetan nyingkir sana! Hurry!"

Kalau sampai aku dipermainkan oleh adiknya di depan pacarku sendiri, harga diriku sebagai cowok bakal hancur lebur!

Makanya, aku mengusir Shigure dengan mengibaskan tanganku.

Namun, reaksiku agak sedikit terlambat.

"Ah! Ada Shigure~! Yaho~!"

"...Aku kecolongan."

Haruka yang kembali membawa makan siang kami tiba jauh lebih cepat dari dugaan kami berdua.

Aku terlalu meremehkan kemampuan fisik seorang mantan anggota klub drama.

Wajar saja kalau klub teater sering disamakan dengan klub olahraga karena butuh stamina setara!

Sesampainya di meja, Haruka meletakkan makanan pesananku di hadapanku.

"Ini dia, roti yakisoba sama dua genkotsu menchi, maaf nunggu lama~"

"A-Ah, makasih."

"Shigure juga baru mau makan siang, ya?"

"Iya, begitulah. Berhubung Hiromichi-san kelihatannya kesepian karena menduduki meja empat orang sendirian, aku baru saja berniat menemaninya makan kalau memang dia nggak punya teman, sih."

"Aku punya teman, tahu!"

"Begitulah kelihatannya. Berhubung aku nggak mau mengganggu momen mesra sepasang kekasih, aku bakal nyari tempat duduk lain saja."

Sambil berkata demikian, Shigure berniat untuk menjauh dari kami.

Namun seperti dugaan, Haruka menahannya.

"Eeeh. Makan bareng kami aja, Shigure."

"Terima kasih atas tawarannya, tapi aku nggak mau kena tendangan kuda, lho."

"Tapi meja yang lain udah pada penuh semua, kan?"

"............"

Begitu Haruka bilang begitu, aku melihat sekeliling kantin. Kantin ini sedang ramai-ramainya, bahkan aku belum pernah melihatnya seramai ini selama setahun terakhir; semua kursi selain di meja kami sudah terisi penuh!

...Perasaanku saja atau tadi pas aku ngobrol sama Shigure masih ada kursi yang kosong, deh?! Dari mana munculnya orang-orang ini di saat yang nggak pas begini?!

Kalau sudah begini ceritanya, aku juga jadi nggak enak mau ngusir Shigure yang udah telanjur bawa nampan isi paket A.

"Hiromichi-kun, nggak apa-apa, kan, kalau Shigure gabung?"

"A-Ah, iya. Aku sih nggak keberatan. Kamu juga gabung aja, Shigure."

"Nah, Hiromichi-kun juga udah bilang gitu, jadi nggak apa-apa, kan?"

"...Kalau begitu, aku terima tawaran kalian."

Karena kalah berdebat, Shigure akhirnya duduk di sebelah Haruka, yang berarti berhadapan menyilang denganku. Sambil duduk, dia menatapku dengan sorot mata penuh protes.

'Kenapa nggak ditolak, sih?!'

'Memangnya aku bisa bilang nggak?! Nggak ada tempat duduk lain, kan. Lagian aku nggak mau dibilang cowok egois berhati sempit terus dibenci sama dia!'

'Minimal Kakak bisa pakai alasan mau berduaan sama Kak Haruka, kek. Dasar cowok nggak peka!'

'Alasan kayak gitu nggak bakal bikin Haruka seneng, tahu!'

'...Mungkin Kakak benar, sih.'

Karena tak punya bantahan, Shigure tak lagi memprotes keputusanku.

Sebagai adik kandung, dia pasti sangat memahami sifat kakaknya.

'Pokoknya, berhubung udah telanjur, kita harus kerja sama buat ngelewatin makan siang ini.'

'Tolong jangan mancing-mancing di depan Haruka, ya! Aku juga punya wibawa sebagai pacar, lho!'

'Tanpa Kakak bilang pun aku udah tahu, kali. Aku nggak peduli sama wibawa Kakak, tapi aku nggak mau bikin Kak Haruka khawatir. Justru Kakak yang harus hati-hati, jangan sampai keceplosan ngomongin soal rumah!'

'I-Iya, iya, aku bakal hati-hati.'

Kami saling beradu pandang dan mengadakan rapat kilat lewat kontak mata.

Mungkin karena kami tinggal serumah, aku merasa kalau komunikasi non-verbal kami sudah lumayan terlatih.

...Ngomong-ngomong, anak ini kalau di luar sama di dalam rumah bener-bener beda orang, ya!

Padahal di rumah dia selalu bikin aku kerepotan, tapi di sekolah dia malah terasa bisa diandalkan.

Ternyata, Haruka itu memang orang yang paling berharga bagi Shigure, ya.

Setelah itu, kami bertiga pun mulai makan siang bersama.

Topik obrolan utama kami adalah seputar Ujian Tengah Semester yang baru saja lewat.

Shigure lah yang pertama kali melempar topik itu.

Dia pasti sengaja memimpin jalannya obrolan agar tak menjurus ke arah topik pribadi.

Kemampuannya membaca situasi benar-benar tanpa celah.

Aku pun berinisiatif mengikuti alur obrolannya, dan ikut nimbrung dengan membahas keluhan soal guru-guru demi menyambung obrolan kami.

Makan siang pun berlalu dengan aman tanpa ada insiden yang membahayakan.

Namun,

Saat jam istirahat siang hampir berakhir, Haruka malah mengangkat topik yang lumayan bikin repot.

"Oh iya, Hiromichi-kun dan Shigure itu duduknya bersebelahan, kan? Kalian akrab, nggak?"

"...!"

Jantungku langsung berdegup kencang.

Apa gara-gara aku terlalu asyik mengobrol sama Shigure, dia jadi mikir kami akrab banget?!

Yah, emang nggak ada salahnya, sih.

Tapi masalahnya, wajah Shigure itu kembar persis dengan Haruka.

Bisa saja hal sesepele ini memicu rasa curiga di benak Haruka.

Kalau curiganya diarahkan padaku sih nggak apa-apa, tapi dengan sifat Haruka, aku takut dia malah menyalahkan dirinya sendiri.

Jadi, di sini aku harus tegas──

"Nggak kok, sama sekali nggak akrab. Malahan, kami ini ibarat anjing dan kucing yang saling benci, itu SAKIT TAHU?!"

"Itu cuma bercanda kok, kami cuma sebatas teman yang saling nyapa kalau kebetulan papasan aja. Sejak pindah tempat duduk sehabis UTS, belakangan ini kami jarang ngobrol, sih."

Tulang keringku! Anak ini nendang tulang keringku dengan tepat sasaran!

'Mau ngapain kamu?!' Saat aku memelototinya sebagai bentuk protes, Shigure malah membalas tatapanku dengan tajam.

'Kakak bego, ya?! Kalau Kakak musuhan sama teman cewek, nilaimu di mata pacarmu bakal turun drastis, tahu! Apalagi aku ini adik kandungnya Kak Haruka, lho! Kakak mau dibenci sama Kak Haruka?!'

Eh, emangnya gitu, ya?

Kalau aku jadi cowok sih, mau pacarku musuhan sama cowok lain juga aku nggak bakal peduli.

Lagian, aku juga nggak minat ngurusin pacar temanku sendiri. Apa cuma aku doang yang mikir gini?

'Nggak usah sebegitunya jaga jarak kali. Cukup anggap aja kita ini teman sekelas biasa.'

'M-Maaf, deh. Untung kamu ngingetin.'

Benar juga, kebohongan yang terlalu menyimpang dari kenyataan justru bakal lebih mudah ketahuan.

Aku menundukkan kepalaku sedikit sebagai tanda terima kasih atas dukungan Shigure.

Namun, mendengar ucapan Shigure barusan, Haruka justru memiringkan kepalanya bingung seolah masih belum yakin.

"Oh, gitu ya? Padahal kukira kalian berdua akrab banget, lho."

"K-Kenapa kamu mikir gitu?!"

"Habisnya, Hiromichi-kun manggil Shigure cuma dengan nama 'Shigure' tanpa tambahan apa pun, kan? Padahal butuh waktu lama banget lho sampai Hiromichi-kun berani manggil nama depanku, 'Haruka'. Makanya aku mikir kalau kalian itu pasti akrab banget."

Detik itu juga, tendangan keras mendarat lagi di tulang kering yang sama seperti tadi!

'...Kakak bener-bener NGGAK BISA DIANDALKAN, YA! Makanya aku tadi nggak mau makan bareng!'

'Aku nggak punya alasan buat membela diri.'

Nggak ada celah buat ngeles, ini murni kesalahanku seutuhnya!

Gara-gara aku terlalu memaksakan diri membiasakan manggil dia 'Shigure' tanpa embel-embel apa pun pas di rumah, kebiasaan itu jadi terbawa sampai ke sekolah!

Gawat. Mengingat aku butuh waktu dua minggu buat sekadar berani manggil Haruka dengan nama depannya, situasi ini benar-benar GAWAT!

Apa yang harus kujadikan alasan...

"Kak, itu karena margaku saat ini juga 'Sato'. Berhubung marganya Hiromichi-san juga 'Sato', rasanya aneh banget kan kalau saling manggil dengan marga yang sama; makanya kami sepakat buat saling manggil nama depan aja. Jadi, bukan karena kami ada hubungan khusus atau akrab banget, kok."

"Ah, iya juga, ya! Karena aku selalu manggil Shigure dengan namanya, aku sampai lupa kalau margamu sekarang udah berubah jadi Sato."

Shigure-san...!

Hebat banget bisa ngeluarin alasan mulus yang sangat masuk akal kayak gitu tanpa jeda sedikit pun!

Jujur, ini benar-benar sangat bisa diandalkan.

Saking hebatnya, sampai-sampai aku refleks menambahkan gelar '-san' di dalam hati!

Melihat Shigure-san mem-back up-ku dengan segenap kemampuannya, rasanya aku bisa melewati masalah ini dengan aman.

Begitulah yang sempat kupikirkan, TAPI...

"Tapi, aku sih pengennya Shigure sama Hiromichi-kun bisa lebih akrab lagi, lho."

Tiba-tiba saja Haruka menunjukkan ketidakpuasannya atas hubungan kami yang dangkal ini!

Reaksi yang benar-benar di luar dugaan.

Seorang gadis yang berharap agar cewek berwajah sama persis dengannya bisa akrab dengan sang pacar!

Shigure pun sedikit terkejut dan membalas dengan menanyakan alasannya.

"Kenapa Kakak mikir begitu?"

"Soalnya dulu kan Shigure itu orangnya pemalu banget, kan?"

"Eh? Aku?"

"Padahal menurutku kamu nggak kelihatan pemalu sama sekali, sih."

"Mana ada! Walau kelihatannya gampang akrab sama siapa pun, aslinya kamu nggak mau orang lain masuk terlalu dalam ke wilayahmu, kan; dan kamu juga nggak pernah berusaha buat nimbrung di kelompok orang. Kalau itu nggak disebut pemalu, terus apa, coba?"

Ah, kalau dipikir-pikir benar juga, sih.

Dia cuma menjalin hubungan sebatas basa-basi, dan tak pernah berusaha berinteraksi lebih dari itu.

Itu memang bisa disebut sebagai sifat pemalu.

"Makanya aku sempet khawatir kamu bakal terisolasi karena pindah di tahun kedua ini. Tapi kalau Hiromichi-kun bisa akrab sama Shigure, aku kan jadi bisa tenang."

"Apalagi Hiromichi-kun itu orangnya sangat bisa diandalkan!"

""Bfftt.""

Seketika itu juga, aku dan Shigure menyemburkan makanan kami bersamaan.

...Yah, bukannya mau merendahkan diri sendiri, sih, tapi kata 'bisa diandalkan' itu benar-benar nggak cocok buatku, tahu!

Kira-kira di bagian manaku sih Haruka bisa mikir kayak gitu?!

'Pffft, kuku. Ternyata Kakak jago banget ya nipu pacarnya.'

'Aku paham sih kenapa kamu pengen ketawa, tapi tolong jangan mancing-mancing deh! Tadi katanya kamu nggak mau bikin Haruka khawatir curiga?!'

'I-Iya, iya, aku tahu. Tadi aku cuma agak kaget aja karena serangan kejutan. Aku bakal menyesuaikan diri, kok.'

Shigure meneguk habis sup misonya lalu menghela napas panjang.

Kemudian dia menahan senyum iblis yang biasanya dia perlihatkan di rumah, lalu memasang senyum standar yang biasa dia tunjukkan di sekolah, dan membalas ucapan Haruka.

"...Fuh. Benar juga, ya. Waktu baru awal-awal pindah ke sini... mungkin karena aku ini adiknya Kakak... dia yang duduk di sebelahku memang banyak bantuin aku, sih... S-Sangat, sangat bisa d-diandalkan, lho!"

Anak ini bener-bener payah banget kalau disuruh jilat ludah sendiri!

"Oh, gitu, ya! Kalau gitu, aku seneng banget kalau ke depannya kalian berdua bisa makin akrab!"

"Tentu saja! Nggak perlu kamu suruh pun, aku pasti bakal ngelakuinnya, kok!"

Karena sekarang ini, aku adalah kakaknya Shigure.

Mendengar jawabanku yang tanpa ragu sedikit pun, Haruka tersenyum senang. Namun, tak lama kemudian raut wajahnya kembali berubah cemas.

"Ah, tapi... kalau dipikir-pikir, ada hal yang bikin aku khawatir, deh."

"Khawatir? Khawatir soal apa?"

"Habisnya, kalau Shigure tahu seberapa baik dan kerennya Hiromichi-kun, bisa-bisa dia malah jatuh cinta sama kamu!"

"Gehuk?! UHUK!!"

Masuk ke tenggorokanku! Serpihan tepung panir dari genkotsu menchi-nya yang kasar nyangkut di tenggorokanku!

G-G-G-Gimana ini?! Pacarku itu aslinya tipe orang yang suka ngomong hal memalukan tanpa sadar, ya?!

Yah, aku emang seneng, sih! Dipuji kayak gitu sama pacar sendiri itu adalah anugerah terindah sebagai cowok!

Tapi, tolong jangan diomongin di depan orang lain, dong!

Kalau sampai cerita sekonyol ini sampai di telinga Shigure, iblis usil itu mana mungkin bisa diam saja!

Kira-kira, ekspresi macam apa yang sedang dia tunjukkan sekarang──

"Khhh~~~~... K-K-Kelihatannya... i-itu memang... s-sebuah situasi yang berbahaya, y-ya~"

Dia bener-bener lagi gemetaran nahan tawa!

Otot pipinya kelihatan jelas berkedut-kedut gara-gara menahan tawanya!

Sebelum dia meledak, aku harus segera membungkam mulut Haruka...!

"H-Hahaha, aku ini cowok biasa-biasa aja kok, jadi mana mungkin hal kayak gitu bisa terjadi?! Haruka kayaknya ngeliat aku dengan sudut pandang yang terlalu dilebih-lebihkan, deh! Benar-benar dilebih-lebihkan!"

"Nggak, kok! Hiromichi-kun itu jantan dan keren, lho! Makanya aku bisa sampai jatuh cinta padamu."

"Nggak mungkin, nggak mungkin. Sebelum Haruka nyatain cinta padaku, nggak ada satu pun cewek yang ngelirik aku, tahu!"

"Itu karena mereka aja yang buta. Kalau pas kita masih di penitipan anak sih itu udah terlalu lama, jadi biarin aja; tapi contohnya, waktu beres-beres festival budaya tahun lalu, padahal kita beda kelas, tapi kamu mau ngebawain kantong sampah besar yang lagi kubawa, kan?"

"Katamu, 'Kerjaan berat kayak gini itu bagiannya cowok.' Terus waktu aku ngucapin makasih, kamu cuma ngelambai pelan tanpa balik badan... Saat itu, kamu keren banget, tahu!"

HIIIIIIIIIIII!!

Dipuji keren emang bikin seneng! Bikin seneng sih, tapi HIIIIIIIIIIII!!

Atau lebih tepatnya, waktu denger cerita itu diceritain orang lain begini, aku rasanya MENYEDIHKAN BANGET!

Ngapain coba waktu itu aku sok pamer gaya keren padahal aslinya garing banget?!

Tunggu, jadi cewek waktu itu Haruka, ya?! Aku baru tahu sekarang, lho!

Saking malunya, aku sampai nggak berani nengok ke belakang, makanya aku sama sekali nggak ingat wajahnya!

"Belum lagi waktu kencan pertama kita kemarin, lho!"

"MASIH ADA LAGI?! T-Tunggu! Haruka, tolong jangan dilanjutin, ya?! KUMOHON!"

Refleks aku langsung memohon padanya. Tapi Haruka membalas dengan, "Ngga~ak bo~leh," yang imut namun tak kenal ampun.

"Habisnya, Hiromichi-kun sendiri yang bilang kalau dirimu itu cowok biasa-biasa aja. Sebagai pacarmu, aku nggak bisa ngebiarin pemahaman yang keliru itu, tahu."

"Makanya aku mau ngingetin kamu lagi; waktu hari kencan pertama kita, kamu selalu milih jalan di pinggir trotoar yang ngadep ke jalan raya, kan? Waktu kita mau duduk di bangku taman, kamu gelarin saputanganmu buat alas duduk; terus pas kita lagi istirahat minum teh, kamu diam-diam udah bayar tagihannya pas aku lagi ke toilet."

"Gara-gara perlakuanmu itu, aku ngerasa diperlakukan layaknya seorang putri; aku seneng banget, lho."

"Saat itu aku langsung mikir, 'Oh, jadi yang namanya Gentleman itu ya cowok kayak Hiromichi-kun ini, ya~'!"

AAAAAAARRRGGGGGHHHHHH!!

HENTIKAAAAAAAAN!! Jangan beberin rencana kencan yang kubuat gara-gara saking paniknya sampai nge-Google "Kencan Pertama Tanpa Gagal - Etiket" secara blak-blakan begini, dong!

Mau gimana lagi?! Cuma internet satu-satunya tempat cowok perjaka macam aku ini bisa meminta petunjuk, tahu!

Untung saja Haruka itu anaknya rada polos, makanya dia menerimanya dengan senang hati; tapi kalau buat Shigure yang sifatnya busuk, cerita ini pasti bakal jadi bahan tertawaan seumur hidupnya!

Dengan perasaan takut yang luar biasa, aku melirik pelan ke arah Shigure.

Dan seketika, aku dibuat terkejut.

Padahal cerita memalukan yang bahkan bikin diriku sendiri ingin tertawa barusan baru saja diceritakan, tapi tak ada setitik pun senyum licik yang biasanya menghiasi bibirnya.

"...Kakak bener-bener sangat menyukai Hiromichi-san, ya."

"Tentu saja! Kalau nggak, aku mana mungkin berani nembak duluan! Makanya, aku emang pengen banget kalian berdua akrab, TAPI AWAS KALAU SAMPAI KAMU NAKSIR SAMA DIA, YA!"

"...Seandainya itu terjadi, Kakak mau ngapain?"

"Eh?"

"Seandainya aku beneran naksir sama Hiromichi-san, apa Kakak rela mundur demi adik tercintamu ini?"

H-Hei, tunggu! Omongan macam apa itu?!

Lagipula, nanya hal yang mustahil terjadi begitu pada Haruka sama sekali tak ada gunanya.

Karena tak bisa menebak niat Shigure, aku pun dilanda kebingungan.

Tepat saat aku hendak membuka mulut untuk mempertanyakan maksudnya──

"NGGAK MAU. AKU NGGAK BAKAL RELA. Hal kayak gitu nggak bakal pernah kumaafkan."

Ucapan Haruka yang tajam memotong niatku seketika, hingga membuat kata-kataku tertahan di tenggorokan.

Saat aku melihat ke arah Haruka, dia menatap Shigure dengan sorot mata yang sarat akan permusuhan.

...A-Ada apa dengan suasana yang menegangkan ini?!

Kenapa dari cerita lucuku malah berubah jadi suasana mengerikan begini?!

Namun, kesunyian yang mencekam itu tak berlangsung lama.

Seolah tak bisa menahan tawanya lagi, Shigure mendengus pelan.

"Haaaaaa~. Ya ampun, aku sampai kenyang banget ngelihatnya!"

"Shigure?"

"Perutku udah kepenuhan, tahu. Bisa-bisanya Kakak bikin ekspresi seram begitu, Hiromichi-san juga nggak bisa diremehin, ya."

Shigure tersenyum lebar dengan senyum jahil yang menghiasi bibirnya.

Itu adalah senyum khas Shigure yang sangat kukenal.




Melihat ekspresi Shigure itu, Haruka pun bernapas lega.

"Ya ampun, jangan bikin kaget gitu dong! Kebiasaan burukmu yang suka ngerjain orang itu ternyata nggak berubah dari dulu, ya."

"Emangnya gitu?"

"Iya, tahu! Dari dulu Shigure itu emang usil banget."

"Pas aku jadi takut sama boneka gara-gara film horor, besoknya dia malah mulai mainan boneka yang biasanya nggak pernah dia sentuh; terus biarpun dia tahu aku takut tonggeret, dia malah sengaja nangkap serangga itu banyak banget di kandang serangganya!"

B-Bener-bener nggak ada kemajuan sama sekali...!

Tentu saja aku nggak bisa bilang kalau dia ngelakuin hal yang sama persis kepadaku yang notabene kakaknya ini, jadi aku cuma bisa melayangkan protes lewat tatapan mata.

Shigure menjulurkan lidahnya sedikit lalu berkata.

"Udah bawaan lahir, sih. Aku kan emang suka ngejahilin orang yang kusuka."

Tepat pada saat itulah. Bel peringatan tanda berakhirnya jam istirahat siang berbunyi nyaring.

Mendengar bel tersebut, Haruka langsung beranjak dari kursinya.

"Gawat, abis ini kelasku olahraga, jadi aku harus buru-buru ganti baju...! Ah iya, Hiromichi-kun."

"Ada apa?"

"Hari ini kegiatan klubku bakal sampai telat, jadi kamu pulang duluan aja, ya. Sebagai gantinya, akhir pekan nanti bakal kubayar tuntas, kok!"

"Oke, paham. Aku bakal nungguin akhir pekannya, semangat ya klubnya!"

"Um! Shigure juga, dadah~!"

"Sampai jumpa."

Haruka berlari menjauh dengan rok pendeknya yang berkibar-kibar.

Sambil melepas kepergiannya, Shigure berucap tanpa nada usil seperti biasanya, melainkan dengan nada yang lebih terdengar kagum.

"Kakak benar-benar dicintai, ya."

"...Iya. Walau kadang bikin aku malu, sih."

"Tapi Kakak seneng banget digituin, kan?"

"Yah, jelaslah."

SENENG BANGET, TAHU! Di dunia yang seluas ini, ada seorang gadis yang sebegitu mencintaiku.

Rasa puas yang memenuhi hatiku ini benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Haaah, Kak Haruka kelihatannya seneng banget. Aku juga pengen punya pacar, deh~"

"Tinggal cari aja, kan. Kalau kamu sih pasti bakal langsung banyak yang nyambar, secara kamu sama cantiknya dengan Haruka."

"Aku pengennya pacar gentleman yang mau nurutin semua keegoisanku, tingginya di atas 180 sentimeter, badannya ramping dengan tipe wajah shiogao, punya penghasilan pasif 40 juta yen setahun, bakal selalu belain aku apa pun yang terjadi, tetap lembut walau aku marah tanpa alasan, nggak ngelihat cewek dari kacamata seksual tapi murni penuh cinta, dan punya properti di Tokyo~!"

"Hentikan daftar permintaan marukmu itu!"

Mana ada cowok kayak gitu di dunia ini! Mending nyari Tsuchinoko sekalian, jauh lebih berfaedah!

"Yah, pokoknya gitu deh. Mumpung lagi masa-masa SMA, semoga kamu juga cepat nemu cowok yang baik, ya."

"...Sebenarnya sih cowok yang baik itu udah ada."

"Hm? Kamu tadi ngomong sesuatu?"

"Bukan apa-apa, kok. Daripada itu, mending kita juga segera balik biar nggak telat masuk kelas."

"Ah, gawat!"

Aku segera berdiri sambil membawakan nampan paket A milik Shigure.

Walau tadi aku sempat dibuat ketar-ketir, hari ini aku bener-bener sangat tertolong olehnya. Rasanya aku bakal merasa bersalah kalau nggak ngebantuin sekadar ngembaliin nampan makanannya ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close