NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 10

Chapter 10

Serangan Kejutan x Manisnya Cinta


"Yaaay, lembur anak SMA hari ini selesai~!"

Sekitar pukul sepuluh malam di hari kerja. Setelah menyelesaikan PR-nya, Shigure langsung melempar pensil mekaniknya ke atas meja lipat usai berucap demikian.

"Kerja bagus. Anak peringkat dua seangkatan emang beda cepatnya."

"Kakak juga cepetan kelarin PR-nya, dong! Habis itu kita main Mario Kart, ayo main Mario Kart; kalau mau, Kakak nyontek PR-ku juga boleh, lho!"

"Nggak, nyontek itu nggak ada gunanya, tahu."

"Wah, nggak sopan; emangnya Kakak pikir jawabanku salah?"

"Bukan gitu maksudnya, PR-nya yang jadi nggak ada gunanya, kan. Tujuan dikasih PR itu bukan cuma sekadar diselesaikan!"

"Tumben banget Kakak ngomong hal yang bener, padahal nggak cocok sama Kakak. Hentikan, dong; aku jadi kelihatan kayak siswi SMA yang otaknya ampas, nih!"

"Bodo amat."

Omong-omong, progres PR-ku sendiri masih jauh dari kata selesai. Hari ini, entah kenapa PR dari setiap mata pelajaran menumpuk segunung!

Niat membunuh yang jelas dari kelas unggulan seakan tersalurkan lewat pesan, "Jangan harap kalian bisa santai cuma gara-gara Ujian Tengah Semester udah lewat!".

"Lagian, kalau PR-ku udah selesai, aku harus siap-siap buat materi besok; jadi kalau kamu mau main game, main aja sendirian."

"Eeeh~, masa gitu, sih, nggak seru, tahu! Main game itu kan baru kerasa seru kalau ada lawan main di sebelah kita!"

"Kalau gitu, kenapa kamu nggak ikutan nyiapin materi besok sekalian, Shigure?"

"Emangnya ngerjain persiapan sama review materi itu ada gunanya? Normalnya kan kalau udah diajarin sekali kita bakal langsung paham dan nggak bakal lupa, kan?"

"Kalau kamu ngomong gitu pas musim ujian masuk universitas, pembunuhan bisa beneran terjadi, lho."

"Menurutku sih, malah aneh kalau ada orang yang nggak bisa ngelakuin hal sesepele itu; emangnya pas pelajaran di kelas mereka ngapain aja, coba?"

Oh, jadi begini cara pandang orang genius, ya. Yah, tingkat konsentrasi tiap orang itu kan beda-beda.

Di dunia ini memang ada orang yang bisa mengingat segunung angka dan huruf hanya dengan melihatnya sekilas. Shigure pastilah termasuk dalam golongan yang seperti itu.

"Lagian, cewek SMA super cantik sepertiku itu nggak butuh ilmu pengetahuan, lho. Jujur aja, sejak lahir aku ini udah dipastikan menang telak dalam hidup!"

"Satu-satunya hal yang nggak ada ruginya kumiliki itu paling cuma ilmu psikologi buat memanipulasi cowok sesuka hatiku!"

"Shigure emang kelihatan jago banget, sih. Kalau urusan begituan."

"Itu semua berkat keberadaan sandsack yang sangat enak buat dipukuli, lho... Kakak♪"

"Y-Ya, sama-sama."

Padahal statusku cuma kakaknya saja sudah dibikin muak, cowok yang jadi suaminya nanti pasti bakal tersiksa banget. Dia pasti bakal dipermainkan setiap hari sampai mentalnya hancur berantakan.

Yah, berhubung itu adalah akhir mengenaskan dari cowok bodoh yang tertipu wajah cantiknya tanpa bisa melihat sifat aslinya, aku sama sekali nggak bakal kasihan, sih!

"Beda dengan Shigure-san yang otak dan wajahnya sempurna itu, wajahku ini nggak bisa ngehasilin duit dan kemampuanku juga pas-pasan, makanya aku butuh belajar buat besok!"

"Kalau kamu nggak mau main game sendirian dan nggak mau belajar juga, mending nonton TV aja sana. Tapi kecilin suaranya lho, ini udah malam."

"Padahal udah diajakin sama cewek yang wajahnya mirip banget sama pacarnya, tapi Kakak bener-bener dingin, ya."

"Ya jelaslah, kamu kan bukan Haruka."

"Seandainya aku ini Kak Haruka, apa Kakak mau main bareng aku?"

"Apa gunanya coba ngomongin pengandaian yang mustahil terjadi itu?"

"...Benar juga, sih. Kalau gitu, ayo kita main permainan yang bisa dilakukan walau Kakak sambil belajar!"

Hah? Apaan, tuh?

Melihatku memelototinya dengan pandangan curiga, Shigure kembali memamerkan senyum iblis liciknya.

"Permainan adu tatap. Aku bakal terus menatap Kakak lekat-lekat, jadi kalau konsentrasi Kakak buyar dan nggak bisa belajar, Kakak kalah."

"Dih, aku nggak mau ikutan."

"Biarpun Kakak nggak mau, aku bakal tetap main, kok! Oke, START!"

Malah dimulai sepihak dong! Bener-bener cewek pemaksa!

Dari seberang meja lipat, Shigure menopang dagu dengan lengannya, lalu menatapku lekat-lekat dengan efek suara "Jiiiii".

Ugh...

Kalau ditatap terang-terangan begini, aku jadi malu sendiri!

Wajahnya yang mirip Haruka itu adalah wajah yang sangat kucintai, jadi kalau ditatap lekat-lekat begini jantungku tak pelak berdebar kencang!

Aku berusaha keras mengalihkan pandanganku dan fokus belajar. Yah, lebih tepatnya aku mencoba fokus.

Tapi meski mataku sudah kualihkan, aku tetap bisa merasakan tatapannya yang menusuk.

Saat aku melirik sekilas, benar saja, Shigure masih menatapku lekat-lekat tanpa bosan.

Koten, dia mengendurkan sikunya lalu menyandarkan pipinya ke atas meja lipat sambil menatapku dengan tatapan memelas dari bawah.

Di bawah bulu matanya yang panjang, sosokku terpantul utuh di dalam bola matanya yang besar nan bulat.

...SIALAN, anak ini ternyata beneran imut, ya!

Nggak salah dia melabeli dirinya cewek SMA super cantik.

Gimana bilangnya, ya, dia itu tahu persis bagaimana cara memancarkan pesonanya. Kalau soal memamerkan pose menggoda kayak gini, Shigure udah pasti jauh di atas Haruka.

Kalau saja aku nggak punya pacar seperti Haruka, pikiranku pasti udah dibikin gila oleh anak ini.

Tapi, aku punya Haruka.




Justru karena itulah, aku nggak mau konsentrasiku buyar tepat seperti yang diharapkan iblis kecil ini!

Aku mengalihkan pandanganku kembali ke buku catatan, bukan sekadar melihat, tapi mendekatkan mataku sampai seolah mau menelannya bulat-bulat demi mempersempit sudut pandangku.

Taktik ini lumayan membuahkan hasil.

Aku berhasil fokus memecahkan soal matematika selama beberapa saat.

Namun tak lama kemudian, dari sudut atas pandanganku tiba-tiba muncul jari-jari putih yang menyembul keluar.

Itu jari-jarinya Shigure!

Aku berusaha keras untuk mengabaikannya.

Karena terus kuabaikan, jari putih dengan kuku mengilap itu mulai menggaruk-garuk ujung buku catatanku.

Tunggu, lebih tepatnya dia baru mulai bertingkah seakan sedang menggaruk-garuknya.

Srek, srek, srek, srek.

Sampai di titik ini, batas kesabaranku benar-benar sudah habis.

"AH, NGESELIN BANGET, SIH! Maumu itu apa sebenarnya?!"

"Yay, aku menang~ Kakak nggak perlu mikirin kenapa bisa kalah, jadi sekarang ayo main game bareng aku!"

"AKU NGGAK PERNAH DENGER ATURAN KAYAK GITU! Lagian, ngapain coba dari tadi garuk-garuk gitu?!"

"Itu lho, dari awal angkanya udah salah; Kakak ngitung angka 6 jadi 9, kan."

"KALAU GITU KASIH TAHU DARI AWAL KEK?!"

Uwah, beneran, dong.

Di tempat jari Shigure tadi menggaruk... Angka pertama dari rumus yang kutulis di buku catatan itu memang salah!

Ini pasti gara-gara aku terlalu mempersempit sudut pandangku sampai jadi senjata makan tuan.

Dengan berlinang air mata, aku terpaksa mengerjakan ulang rumus itu dari awal.

Melihat penderitaanku, Shigure berkomentar dengan nada keheranan.

"Kakak ini lumayan gila belajar juga, ya. Tiap ada waktu luang pasti dipakai belajar; emangnya Kakak nggak pernah main sama teman atau kerja sambilan gitu?"

"Bukannya nggak pernah main, sih... Tapi kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini aku memang jarang main."

Biasanya aku lumayan sering main game semalaman suntuk bareng Tomoe dan yang lainnya di rumah ini.

Tapi gara-gara Shigure mulai tinggal di sini, ditambah UTS yang sudah di depan mata, serta jadwal kerja sambilan Tomoe dan kegiatan klub Takeshi yang bentrok, akhir-akhir ini kami jadi jarang punya kesempatan ngumpul.

"Tapi rencananya aku mau kerja sambilan sedikit pas liburan musim panas nanti, sih; aku mau beliin hadiah ulang tahun buat Haruka. Cuma karena aku juga mau ikut bimbingan belajar musim panas, jadi aku harus pinter-pinter ngatur jadwal."

"Kakak belajar giat banget buat apa, sih? Emangnya ada cita-cita yang pengen dicapai?"

"Nggak ada, sih." Aku menggelengkan kepala.

Untuk saat ini, aku sama sekali tak punya cita-cita khusus.

Targetku memang masuk Universitas Imperial, tapi aku juga nggak punya hal spesifik yang ingin kulakukan di sana.

Hanya saja, "Justru karena aku tak punya cita-cita dan nggak tahu mau ngapain, makanya minimal aku harus belajar."

"....?"

"Dulu Ayahku pernah bilang begini: 'Kalau kamu menemukan impianmu, kejarlah dengan sekuat tenaga; mau sampai putus sekolah pun nggak masalah. Tapi kalau kamu nggak punya impian khusus, minimal kamu harus belajar; dengan begitu, saat suatu hari nanti kamu menemukan hal yang ingin kamu lakukan, riwayat pendidikanmu takkan menjadi belenggu'."

"Hee. Maaf kalau aku lancang, tapi buat ukuran Ayah mertua, itu adalah pendapat yang sangat masuk akal, lho."

"Iya, kan? Yah, soalnya Ayahku itu baru kepikiran pengen jadi pakar dinosaurus justru setelah dia lulus SMA dan kerja kantoran."

"Makanya kurasa dia lumayan kesulitan pas berjuang meraihnya dulu."

Seingatku, dia berhenti dari pabrik lokal tempatnya bekerja setelah lulus SMK, lalu gagal ujian masuk empat kali sampai akhirnya berhasil masuk Tokyo University di usia kepala tiga, dan setelah itu dia lanjut kuliah ke Kanada.

Sebagai anak, aku jujur berpikir kalau riwayat hidupnya itu sangatlah gila; pria paruh baya penggila dinosaurus sepertinya bisa mencari nafkah dengan melakukan hal yang dia sukai itu pasti berkat riwayat pendidikannya.

"Mungkin aku ini nggak punya bakat apa-apa, tapi biarpun tanpa bakat, riwayat pendidikan itu masih bisa dikejar. Makanya orang sepertiku ini justru harus belajar."

Lagipula, riwayat pendidikan──atau lebih tepatnya ujian masuk universitas──adalah dunia yang memiliki jawaban pasti.

Ada solusi yang pasti, dan jalur untuk mencapainya pun sudah ditetapkan.

Makanya, semua itu bisa diatasi dengan usaha dan kegigihan.

Sangat berbeda dengan dunia olahraga, seni, atau akademis murni yang langsung membelah manusia menjadi dua kubu: mereka yang terlahir dengan bakat, dan mereka yang tidak.

"Lagi pula, kalau pada akhirnya aku tetap tak bisa menemukan hal yang ingin kulakukan, di negara ini asalkan lulus dari universitas bagus, orang pas-pasan sepertiku pun bisa jadi karyawan tetap di perusahaan top atau jadi pegawai negeri, kan. ...Aku nggak mau bikin Haruka hidup melarat, tahu."

"...Bisa-bisanya Kakak udah mikirin hal sejauh itu dari sekarang. ...BERAT BANGET!"

"B-Bawel! Lebih mending daripada nggak mikir apa-apa sama sekali, kan?!" Aku melayangkan protes pada Shigure yang merespons sambil menarik tubuhnya menjauh.

...Apa mungkin obrolan semacam ini terasa menjijikkan di mata cewek, ya?

Memang sih ini terlalu awal, tapi jujur saja menghabiskan waktu bersama pacar tanpa memikirkan masa depan sama sekali itu tingkat kesulitannya kelewat tinggi buatku.

Di saat aku mulai merasa sebal, "Yah mau gimana lagi, aku juga repot kalau Kakak nantinya cuma jadi cowok benalu yang numpang hidup ke Kak Haruka; jadi kurasa aku takkan menggigitmu selama kamu lagi belajar."

Shigure berdiri dan berjalan menuju dapur. Saat aku mengintip apa yang mau dilakukannya, dia mulai memanaskan ketel di atas kompor.

Sepertinya dia mau menyeduh kopi. Rupanya dia benar-benar sudah menyerah menggangguku.

...TAPI BOHONG, aku nggak sepolos itu buat percaya begitu saja!

Aku sudah paham betul dengan trik andalan cewek ini!

Pada dasarnya dia nggak punya sifat terpuji untuk langsung mundur teratur cuma karena diyakinkan oleh omonganku.

Dia pasti cuma pura-pura mundur, padahal aslinya sedang mengumpulkan tenaga buat melancarkan serangan telak yang jauh lebih mematikan padaku!

Sudah pasti begitu! Makanya aku takkan lengah sedikit pun!

Dan benar saja, tak lama kemudian Shigure kembali mendekatiku. Tuh, kan, tebakanku benar!

Tapi, dia takkan bisa mencari celah karena aku sama sekali tidak menurunkan kewaspadaanku.

Sambil membatin "Mau ngapain kamu, Brengsek", aku memelototinya tajam dan mengintimidasinya lewat tatapan demi mematikan langkahnya sejak awal.

"Ini, buat Kakak."

"...Eh?"

Pada diriku yang tegang ini, Shigure justru menyodorkan salah satu dari dua cangkir mug yang dibawanya.

"Pikirku kalau buat nemenin belajar mending susu dan gulanya di-skip aja, makanya kuseduhin kopi hitam."

"Kamu... nyeduhin buatku juga?"

"Cuma sekalian, kok; lagian mau masak air buat satu atau dua orang, repotnya tetap sama, kan?"

Usai berkata demikian, Shigure duduk di seberangku dan menyalakan TV dengan remote.

Lalu dengan volume yang dikecilkan, dia mulai menonton TV sambil menyesap isi mug-nya pelan.

...Jangan-jangan, dia benar-benar sudah menyerah menggangguku?

Melihatku yang dilanda keraguan paranoid, Shigure berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.

"Soal obrolan tadi, itu memang berat sih; tapi aku suka, lho. Menurutku, cowok yang memikirkan masa depannya dengan matang itu jauh lebih luar biasa daripada monyet yang hidup tanpa pikiran sama sekali."

"...O-Oh, makasih, ya." Mendengar pujian langsung seperti itu, jujur saja aku merasa sedikit senang.

Karena hawa permusuhanku sudah sepenuhnya menguap, aku meminum kopi hitam yang dibuatkannya untuk menyembunyikan rasa maluku.

Tepat pada detik itu juga, aku nyaris menjatuhkan cangkir mug di tanganku!

"Kh?! A-ASTAGA, MANIS BANGET! MANIS BANGEEET!!"

"Aha Itu pasti karena rasa cintaku yang tercampur di dalamnya"

"JANGAN BOHONG! Kamu masukin minimal lima bungkus gula ke dalamnya, kan?!"

"Eeeeh~, ini beneran karena cinta, lho, cinta! Suer, deh!"

Shigure tertawa renyah dengan raut wajah sangat puas. ...Ampun, deh, lengah sedikit saja langsung jadi begini akibatnya!

Ini sih bukan cinta, tapi kasih sayang yang berlumuran niat jahat!

Sambil merasa jengkel, aku berusaha berpikir positif 'Yah, kalau buat nemenin belajar, asupan kafein yang dibarengi glukosa pasti bakal jauh lebih bagus, kan' dan kembali mengerjakan PR sambil menyesap kopi super manis itu.

Kalau saja aku sudah tahu ini kopi manis, kopi buatan Shigure ini sebenarnya lumayan enak.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close