Kata Penutup
Halo, salam
kenal. Saya Shoga Neiya, sang penulis.
Terima kasih banyak telah membeli volume pertama dari "
Gyaru no Jitensha wo Naoshitara."
Bagaimana menurut kalian tentang kisah romansa antara
seorang gal yang agresif dan cowok introvert yang punya keunikan
tersendiri? Saya berusaha keras menyusun cerita yang tidak membosank
an dengan menonjolkan sisi imut gal yang jatuh cinta
sungguhan pada cowok introvert.
Saya juga menyelipkan unsur kejutan dari si cowok yang
tiba-tiba mengeluarkan barang-barang aneh. Saya akan sangat senang jika kalian
menyukai ceritanya.
Volume pertama ini saya akhiri di titik awal menuju musim
panas yang penuh kegaduhan dan tak tergantikan. Saya harap kalian menantikan kelanjutan ceritanya di volume kedua dan
seterusnya.
Terakhir, izinkan
saya menyampaikan rasa terima kasih melalui kata-kata ini. Pertama-tama, terima
kasih banyak kepada pihak penerbit dan editor yang telah mengajak saya bekerja
sama.
Tidak pernah
terbayangkan dalam mimpi saya bahwa hanya dalam satu tahun lebih sejak mulai
menulis, saya bisa menerbitkan karya ini. Ini adalah kebahagiaan yang melampaui
harapan saya.
Kepada
SuperPig-sensei, terima kasih banyak atas ilustrasi yang luar biasa. Ilustrasi
yang membawa pesona Seika menjadi berkali-kali lipat lebih hidup itu
benar-benar yang terbaik.
Terakhir, kepada
bagian koreksi, desain, humas, percetakan, distribusi, dan toko buku yang telah
menyediakan karya ini.
Hati saya penuh
dengan rasa syukur karena menyadari bahwa buku ini bisa sampai ke tangan
pembaca berkat dukungan kalian semua.
Terima kasih
banyak.
Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Pawang Hujan Kousei
Sehari sebelum
acara olahraga sekolah. Langit sudah tampak sangat mendung sejak pagi, dan
tepat lewat tengah hari, hujan turun sangat deras seolah-olah tumpah dari
ember.
Suara
tetesan hujan menghantam kaca jendela kamarku dengan suara gemeretak.
Sepertinya ada
angin kencang juga. Mama pergi bekerja di hari seperti ini. Semoga saja hujan
sudah reda saat dia pulang nanti.
Ting
Suara notifikasi Rain
berbunyi. Siapa, ya? Saat kubuka ruang obrolannya:
"Hujannya
deras sekali! Kira-kira besok bakal tetap turun hujan tidak, ya?"
Itu pesan dari
Kousei. Tumben sekali, dia bahkan menyertakan emotikon wajah tersenyum lebar.
Apa dia masih
belum menyerah?
Padahal dia sudah
berusaha keras latihan vokal dan segala macam, bukannya dia bisa menganggapnya
sebagai ajang unjuk gigi saja? Lagipula, ya.
"Kalau pun
dibatalkan karena hujan, acaranya pasti ditunda, kan? Paling cuma diundur ke
minggu depan atau semacamnya, bukan?"
"Tapi
bagaimana kalau itu terjadi sampai beberapa kali?"
Sampai beberapa
kali? Maksudmu apa? Keajaiban macam apa yang kau harapkan, Kousei?
"Jika sampai
lima atau enam kali... mungkin tahun ini bakal ditiadakan karena dianggap
kutukan Dewa Naga."
"Bakal
ditiadakan", apanya. Dari mana datangnya Dewa Naga? Ini zaman Heian atau
apa? Benar-benar orang yang lucu.
"Apa kau
benar-benar tidak ingin melakukannya?"
"Iya!"
Semangat sekali.
Sejujurnya, aku
masih belum terlalu mengerti.
Bukankah siaran
langsung itu bukan masalah besar?
Malah menurutku,
pekerjaan mengurus acara yang Kousei anggap biasa saja itu jauh berkali-kali
lipat lebih melelahkan.
Mungkin
setiap orang punya pandangan berbeda.
Aku punya
harapan kecil kalau dia punya keberanian untuk berbicara di depan umum, mungkin
dia akan bisa mulai mengobrol dengan teman sekelasnya.
"Tapi kan,
kita sudah berjuang keras sebagai anggota panitia bersama-sama. Rasanya lebih
menyenangkan kalau acaranya terlaksana. Kalau batal gara-gara kutukan Dewa
Naga, rasa semangat ini jadi tidak tersalurkan."
Saat
memikirkannya, aku sadar kalau aku memang ingin menjalani acara olahraga
sekolah bersama Kousei.
Setelah
mempertimbangkan kata-kataku, Kousei berhenti membalas pesannya. Beberapa menit
kemudian, dia mengirim pesan:
"Kalau
begitu, bagaimana kalau acaranya batal, kita mengadakan 'panitia bayangan'
berdua saja di rumahku untuk saling memuji perjuangan kita?"
Jawaban yang luar biasa. "Panitia bayangan"?
Bukankah itu cuma berarti mengobrol kosong? Lagipula, kita sama sekali belum
berjuang apa-apa.
...Tapi entah kenapa, aku merasa kesal karena dia terdengar
agak menikmati idenya.
Kousei pasti
bakal melakukan "siaran bayangan" di mana Miyasaka dipukuli
habis-habisan dalam permainan.
"Untuk saat
ini, aku akan menggantung tiga boneka teru-teru bozu ukiran kayu secara
terbalik."
Memangnya ada
yang ukiran kayu? Kamu benar-benar membuat apa saja, ya. Semuanya hal yang
tidak berguna pula.
"Semuanya
adalah kelas ace, jadi besok pasti bakal hujan lagi!"
Memangnya kamu
membuat boneka sampai bisa memilih yang kelas ace?
Yah, aku rasa
tidak apa-apa kalau acaranya diundur sekali saja demi membuat Kousei senang.
Akhirnya, aku
sampai berpikir begitu. Aku membalas pesannya dengan "Semangat!" dan
menutup Rain.
Lalu... keesokan
paginya.
Di bawah langit
biru yang cerah seolah hujan deras kemarin hanyalah kebohongan, aku berangkat
sekolah sambil menahan tawa melihat wajah Kousei yang sangat serius.
Omong-omong,
katanya semua "ace" miliknya sudah diturunkan ke tim cadangan.



Post a Comment