NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Gyaru no Jitensha o Naoshitara Natsuka Reta Volume 1 Afterword + Short Story

Kata Penutup


Halo, salam kenal. Saya Shoga Neiya, sang penulis.

Terima kasih banyak telah membeli volume pertama dari " Gyaru no Jitensha wo Naoshitara."

Bagaimana menurut kalian tentang kisah romansa antara seorang gal yang agresif dan cowok introvert yang punya keunikan tersendiri? Saya berusaha keras menyusun cerita yang tidak membosank

an dengan menonjolkan sisi imut gal yang jatuh cinta sungguhan pada cowok introvert.

Saya juga menyelipkan unsur kejutan dari si cowok yang tiba-tiba mengeluarkan barang-barang aneh. Saya akan sangat senang jika kalian menyukai ceritanya.

Volume pertama ini saya akhiri di titik awal menuju musim panas yang penuh kegaduhan dan tak tergantikan. Saya harap kalian menantikan kelanjutan ceritanya di volume kedua dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya menyampaikan rasa terima kasih melalui kata-kata ini. Pertama-tama, terima kasih banyak kepada pihak penerbit dan editor yang telah mengajak saya bekerja sama.

Tidak pernah terbayangkan dalam mimpi saya bahwa hanya dalam satu tahun lebih sejak mulai menulis, saya bisa menerbitkan karya ini. Ini adalah kebahagiaan yang melampaui harapan saya.

Kepada SuperPig-sensei, terima kasih banyak atas ilustrasi yang luar biasa. Ilustrasi yang membawa pesona Seika menjadi berkali-kali lipat lebih hidup itu benar-benar yang terbaik.

Terakhir, kepada bagian koreksi, desain, humas, percetakan, distribusi, dan toko buku yang telah menyediakan karya ini.

Hati saya penuh dengan rasa syukur karena menyadari bahwa buku ini bisa sampai ke tangan pembaca berkat dukungan kalian semua.

Terima kasih banyak.




Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Pawang Hujan Kousei

Sehari sebelum acara olahraga sekolah. Langit sudah tampak sangat mendung sejak pagi, dan tepat lewat tengah hari, hujan turun sangat deras seolah-olah tumpah dari ember.

Suara tetesan hujan menghantam kaca jendela kamarku dengan suara gemeretak.

Sepertinya ada angin kencang juga. Mama pergi bekerja di hari seperti ini. Semoga saja hujan sudah reda saat dia pulang nanti.

Ting

Suara notifikasi Rain berbunyi. Siapa, ya? Saat kubuka ruang obrolannya:

"Hujannya deras sekali! Kira-kira besok bakal tetap turun hujan tidak, ya?"

Itu pesan dari Kousei. Tumben sekali, dia bahkan menyertakan emotikon wajah tersenyum lebar.

Apa dia masih belum menyerah?

Padahal dia sudah berusaha keras latihan vokal dan segala macam, bukannya dia bisa menganggapnya sebagai ajang unjuk gigi saja? Lagipula, ya.

"Kalau pun dibatalkan karena hujan, acaranya pasti ditunda, kan? Paling cuma diundur ke minggu depan atau semacamnya, bukan?"

"Tapi bagaimana kalau itu terjadi sampai beberapa kali?"

Sampai beberapa kali? Maksudmu apa? Keajaiban macam apa yang kau harapkan, Kousei?

"Jika sampai lima atau enam kali... mungkin tahun ini bakal ditiadakan karena dianggap kutukan Dewa Naga."

"Bakal ditiadakan", apanya. Dari mana datangnya Dewa Naga? Ini zaman Heian atau apa? Benar-benar orang yang lucu.

"Apa kau benar-benar tidak ingin melakukannya?"

"Iya!"

Semangat sekali.

Sejujurnya, aku masih belum terlalu mengerti.

Bukankah siaran langsung itu bukan masalah besar?

Malah menurutku, pekerjaan mengurus acara yang Kousei anggap biasa saja itu jauh berkali-kali lipat lebih melelahkan.

Mungkin setiap orang punya pandangan berbeda.

Aku punya harapan kecil kalau dia punya keberanian untuk berbicara di depan umum, mungkin dia akan bisa mulai mengobrol dengan teman sekelasnya.

"Tapi kan, kita sudah berjuang keras sebagai anggota panitia bersama-sama. Rasanya lebih menyenangkan kalau acaranya terlaksana. Kalau batal gara-gara kutukan Dewa Naga, rasa semangat ini jadi tidak tersalurkan."

Saat memikirkannya, aku sadar kalau aku memang ingin menjalani acara olahraga sekolah bersama Kousei.

Setelah mempertimbangkan kata-kataku, Kousei berhenti membalas pesannya. Beberapa menit kemudian, dia mengirim pesan:

"Kalau begitu, bagaimana kalau acaranya batal, kita mengadakan 'panitia bayangan' berdua saja di rumahku untuk saling memuji perjuangan kita?"

Jawaban yang luar biasa. "Panitia bayangan"? Bukankah itu cuma berarti mengobrol kosong? Lagipula, kita sama sekali belum berjuang apa-apa.

...Tapi entah kenapa, aku merasa kesal karena dia terdengar agak menikmati idenya.

Kousei pasti bakal melakukan "siaran bayangan" di mana Miyasaka dipukuli habis-habisan dalam permainan.

"Untuk saat ini, aku akan menggantung tiga boneka teru-teru bozu ukiran kayu secara terbalik."

Memangnya ada yang ukiran kayu? Kamu benar-benar membuat apa saja, ya. Semuanya hal yang tidak berguna pula.

"Semuanya adalah kelas ace, jadi besok pasti bakal hujan lagi!"

Memangnya kamu membuat boneka sampai bisa memilih yang kelas ace?

Yah, aku rasa tidak apa-apa kalau acaranya diundur sekali saja demi membuat Kousei senang.

Akhirnya, aku sampai berpikir begitu. Aku membalas pesannya dengan "Semangat!" dan menutup Rain.

Lalu... keesokan paginya.

Di bawah langit biru yang cerah seolah hujan deras kemarin hanyalah kebohongan, aku berangkat sekolah sambil menahan tawa melihat wajah Kousei yang sangat serius.

Omong-omong, katanya semua "ace" miliknya sudah diturunkan ke tim cadangan.



Previous Chapter | ToC

Post a Comment

Post a Comment

close