NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Masalah Bersama Teman Sekelas dari Kota Tua

1


Orang tua yang merupakan anggota kelompok teater adalah segelintir orang yang bisa "bertahan hidup dengan melakukan apa yang mereka sukai". Meski telah menjadi orang tua dari seorang anak, hingga saat ini mereka masih terus hidup mengejar impian mereka sendiri. 


Bagi Kouya, ibunya yang merupakan seorang aktris musikal dan ayahnya yang seorang sutradara panggung adalah orang tua yang membanggakan. Namun, di saat yang sama, tidak sepenuhnya benar jika dikatakan ia tidak memiliki rasa benci sama sekali terhadap orang tuanya. Ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya yang sensitif dengan dititipkan di rumah kakeknya. Jangankan orang tuanya, bahkan ketika kakeknya sedang sibuk, ia pernah tiba-tiba dititipkan di rumah seorang kenalan di Kyoto selama 1 tahun penuh.


Saat itu, Kouya kecil yang masih duduk di kelas 1 sekolah dasar harus pergi ke Kyoto dalam keadaan dongkol, bahkan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman sekelasnya di sekolah Tokyo yang baru saja akrab dengannya. Ia masih ingat betul bagaimana ia memantapkan hati kala itu: Toh, nanti juga bakal berpisah lagi dengan cepat, jadi aku tidak akan mau berteman dengan siapa pun. 


Saat itu, kakeknya sedang dirawat di rumah sakit, dan orang tuanya bahkan tidak berada di Jepang. Sambil menggendong satu ransel di punggungnya, tanpa ada seorang pun yang mengantarkan, ia naik Shinkansen dari Stasiun Shinagawa menuju Kyoto pada hari libur musim panas. Hari itu adalah hari yang sangat panas, sampai-sampai berjalan saja membuat keringat bercucuran.


Ia masih ingat langit biru yang ironis serta awan kumulonimbus yang mengapung di sana hari itu. Begitu pula dengan suara jangkrik yang bising dan mengganggu telinga. 


Saat Kouya merasa muak dengan hawa panas yang luar biasa di Stasiun Kyoto begitu turun dari Shinkansen yang ber-AC, ia melihat seorang gadis bertopi jerami melambaikan tangan padanya. Di samping gadis itu, berdiri seorang pengemudi paruh baya yang mengenakan happi (pakaian tradisional pekerja Jepang) milik sebuah penginapan (ryokan). Seharusnya ada nama penginapan yang tertulis di happi pengemudi itu, tetapi ia tidak mengingatnya. 


——Kalau dipikir-pikir sekarang, tempat itu pasti “Suimeisou”.


"Kamu Kouya-kun, kan? Karena ayah dan ibumu bilang mereka sibuk, jadi aku yang datang menjemputmu."


Gadis bertopi jerami itu menyambut Kouya di ibu kota kuno, Kyoto. Orang tua gadis itu juga sibuk dengan pekerjaan——yaitu membangun kembali penginapan mereka. Dalam artian tertentu, Kouya dan gadis itu bernasib serupa. Selama di Kyoto, Kouya tidak mencari teman, tetapi hanya gadis itulah yang selalu berada di sisinya.


——Itu adalah kisah saat Kouya berusia enam tahun, kisah yang sudah berlalu sepuluh tahun yang lalu.


Ingatan masa kecilnya telah terdorong ke masa lalu. Ia bahkan sudah tidak bisa lagi mengingat wajah gadis yang bersamanya di Kyoto, dan ia juga tidak ingat nama asli gadis itu. Hanya memori bahwa ia memanggilnya "Kii-chan" yang masih tersisa.


Namun, yang namanya jodoh atau ikatan memang aneh. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ia akan kembali tinggal di bawah satu atap yang sama dengan "Kii-chan dari Kyoto" ke rumahnya. 


Terlebih lagi, kali ini giliran sang gadis yang datang ke ibu kota timur (Tokyo)——.



Setelah Kiyoko dan Kouya mulai tinggal bersama, sebuah insiden kecil terjadi. Insiden yang dimaksud adalah masalah berangkat dan pulang sekolah.


Torame Kouya dan Shizukuishi Kiyoko tinggal di rumah yang sama dan pergi ke sekolah yang sama. Tentu saja, rute perjalanan sekolah mereka pun sama. Akibat keluar rumah di waktu yang sama dan berjalan berdampingan di jalan yang sama, dalam sekejap hal itu menjadi rumor di seantero sekolah.


"Torame dari kelas 2, kenapa si brengsek itu jalan bareng Shizukuishi-san?"


"Ada hubungan apa mereka? Bukannya kemarin mereka juga pulang bareng?"


"Apa mereka pacaran?"


"Bodoh kah. Mana mungkin."


"Paling cuma kebetulan bareng aja. Lagian Shizukuishi-san kan baru aja pindah sekolah."


Begitulah para murid saling berbisik satu sama lain. Kiyoko menjadi pusat perhatian seluruh murid di sekolah, dan berada bersama Kiyoko berarti membuat Kouya ikut menjadi pusat perhatian juga.


Menghadapi hal ini, langkah yang diambil Kiyoko sangat cepat.


"Kouya-kun, di sekolah kita pura-pura jadi orang asing saja, yuk. Kalau tidak, rasanya tidak enak sama pacarmu."


"Aku tidak punya pacar, tahu."


"Tapi pasti ada anak perempuan yang kelihatan dekat seperti pacar, kan? Pokoknya demi menghindari masalah, mulai hari ini kita adalah orang asing."


Terlepas dari urusan pacar atau semacamnya, apa yang dikatakan Kiyoko memang benar. Menjelaskan kepada orang-orang di sekitar bahwa mereka tinggal bersama rasanya sangat merepotkan. 


Menjelaskan keadaan keluarga yang mendasari kenapa mereka sampai tinggal bersama jauh lebih merepotkan lagi, dan dirundung kehebohan orang-orang juga terasa menyebalkan. Alhasil, keduanya memutuskan untuk membuat kesepakatan untuk berpura-pura tidak saling kenal di sekolah.


2


——Tinggal bersama.


Itu berarti orang asing yang memiliki kebiasaan berbeda, menjalani kehidupan bersama di bawah satu atap.


Di dunia ini, bahkan orang tua dan saudara kandung pun tidak luput dari pertengkaran. Bahkan keluarga yang terikat hubungan darah pun tidak bisa sepenuhnya saling memahami satu sama lain. Apalagi jika itu adalah orang asing yang tumbuh besar dengan budaya dan adat istiadat yang berbeda.


Kiyoko dan Kouya pun tidak terkecuali.


"Let's sing music ♪ Yeah ♪"


Satu minggu setelah mereka mulai tinggal bersama, di suatu malam, Kouya kembali bernyanyi dengan gembira sambil memegang gitar listriknya yang berwarna merah menyala. Salah satu dari sekian banyak hobi Torame Kouya adalah musik. Mungkin karena ia tumbuh besar di lingkungan di mana orang tuanya terlibat dalam dunia teater musikal, musik selalu ada di sekitarnya sejak ia lahir. Akibat pengaruh itu, Kouya sendiri suka bernyanyi dan memainkan alat musik.


Ngomong-ngomong, soal kemampuannya, persis seperti peribahasa Monzen no kozou narawanu kyou wo yomu (anak magang di depan gerbang kuil bisa melafalkan sutra tanpa belajar)—kemampuannya sama sekali tidak buruk. Namun, tidak bisa dibilang berada di tingkat profesional yang bisa menghasilkan uang seperti orang tuanya. Untuk menghasilkan uang dari musik, yang dibutuhkan bukanlah lingkungan, melainkan bakat.


Terlepas dari hal itu, malam itu pun Kouya sedang asyik bernyanyi di kamarnya sendiri sambil memetik gitar seperti biasa. Saat itulah terdengar suara ketukan pintu di kamar pemuda itu. 


Tok, tok.


Setelah meletakkan headphone dan gitarnya, Kouya membuka pintu kamarnya.


"Kiyoko-san?"


Kiyoko yang mengenakan piyama bermotif kelinci sedang berdiri di sana. Kouya melirik sekilas ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Saat Kouya merasa heran dan bertanya-tanya ada urusan apa gadis itu di jam seperti ini, Kiyoko tersenyum manis padanya.


"Kouya-kun, kamu suka menyanyi, ya. Suaramu terdengar jelas sampai ke kamarku, lho."


"Eh..."


"Kamu bernyanyi dengan penuh semangat, ya."


Wajahnya memang tersenyum, tetapi nada suaranya entah mengapa terasa dingin. Bukan, meskipun itu adalah senyuman, ini adalah senyuman yang menyimpan kegelapan.


"Kamu hebat sekali, ya (Artinya: Berisik tahu!)."


"............"


Suara hati Kiyoko terdengar dengan sangat jelas. Kouya langsung menyadari situasi yang terjadi. Gadis itu sedang marah besar. Shizukuishi Kiyoko sedang memperingatkan tindakan pemuda di kamar sebelah secara tidak langsung.


Seketika, muncul pergulatan batin di dalam diri Kouya. Sebuah dilema antara memahami maksud gadis itu lalu meminta maaf dengan patuh, atau berpura-pura tidak menyadari ironi dalam ucapan gadis itu dan melanjutkan nyanyiannya.


——Malaikat di dalam diri Kouya berbisik:


Tinggal bersama orang lain membutuhkan tenggang rasa dan kompromi. Di sini, kamu harus mengikuti keinginan Kiyoko.


——Iblis di dalam diri Kouya berbisik:


Kenapa kamu harus menahan diri melakukan hobimu di rumahmu sendiri? Ini memang bukan rumah pribadi Kouya, tapi ini rumah kakek kandungmu yang sudah sangat kamu kenal luar-dalam. Kenapa kamu harus mengalah pada Kiyoko, orang asing yang baru datang dari Kyoto?


Dua perasaan yang bertolak belakang itu saling berbenturan.


Setelah bimbang beberapa saat, Kouya menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk mengambil jalan tengah di dalam dirinya.


"Aku tadi berpikir untuk membuat peraturan. Begini, kalau menyanyi terlalu malam, nanti bisa mengganggu tetangga."


Kouya memutuskan untuk mengajukan usulan kompromi.


"Aku tidak akan bermain musik lewat dari jam 10 malam. Sebelum jam itu pun, kalau bermain alat musik di malam hari, aku tidak akan pakai gitar listrik melainkan gitar biasa. Jendela dan pintu akan kututup. Tapi, aku tidak akan berhenti menyanyi sama sekali. ——Bagaimana kalau begitu?"


"Oh, begitu ya. Maaf ya, rasanya aku seperti sudah mengganggu kegiatan Kouya-kun (Artinya: Baguslah kalau sadar, cepat hentikan!)."


Merespons usulan Kouya, Kiyoko memasang wajah menyesal dan mencoba mengarahkan situasi seolah-olah Kouya-lah yang berinisiatif untuk berhenti atas kemauannya sendiri. Kemampuan aktingnya sungguh luar biasa.


——Ya, lewat rangkaian kejadian seperti inilah, konser malam hari yang mengganggu tetangga oleh pemuda bernama Torame Kouya akhirnya resmi berakhir.


Shizukuishi Kiyoko adalah tipe wanita yang tidak akan pernah mengatakan "Aku tidak suka, jadi hentikan" secara langsung di depan wajahmu. Justru karena Kouya pernah tinggal di Kyoto dan merupakan teman masa kecilnya, ia bisa menyadari bahwa dirinya sedang diperingatkan secara tidak langsung. Namun, Kouya merasa khawatir bahwa teman-teman sekelasnya di SMA daerah Asakusa pasti tidak akan bisa memahami cara penyampaian seperti ini. Dan tidak lama kemudian, kekhawatiran Kouya benar-benar menjadi kenyataan.


3


——Bukannya menjadi kenyataan, lebih tepat jika dikatakan situasi terlanjur menjadi kacau.


Di kelas 2-3 SMA tempat Kouya bersekolah, ada seorang gadis bernama Shiga Meika. 


Jika mendeskripsikan tipenya, dia adalah seorang gadis berambut semi-long pendek dengan kepribadian yang mencerminkan "Gadis Kota Tua Sejati". Dia adalah tipe siswi yang energik, blak-blakan, dan selalu mengutarakan apa yang ada di pikirannya secara jujur. Baik atau buruk, Shiga Meika adalah tipe orang yang bekerja dengan cepat, namun sayangnya, pekerjaannya cenderung sedikit ceroboh.


Sebagai informasi, ada kenyataan bahwa Shizukuishi Kiyoko curiga kalau Meika dan Kouya adalah teman masa kecil yang sebenarnya saling menyukai. Kebetulan, posisi tempat duduk Nona Meika ini berada tepat di depan Shizukuishi Kiyoko, yang berarti mereka berdua berada di kelompok yang sama saat pembagian kelompok di kelas.


Ketika sudah menjadi murid SMA, kegiatan kelas yang melibatkan kerja kelompok memang berkurang, tetapi tugas-tugas seperti piket kebersihan digilir per kelompok.


Dengan kata lain, Kiyoko dan Meika yang berada di kelompok yang sama, ditempatkan pada posisi duduk yang mewajibkan mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas kelas bersama-sama.


——Kejadiannya bermula pada waktu istirahat siang di suatu hari yang diguyur hujan.


Di sekolah Kouya, ada waktu piket kebersihan dengan sistem giliran per kelompok yang dilakukan di antara waktu makan siang dan dimulainya jam pelajaran sore. Hari itu cuaca buruk karena hujan turun sejak pagi, dan tidak banyak murid yang pergi bermain ke lapangan sekolah. Di tengah kondisi itu, Shiga Meika yang sudah selesai makan siang, merampungkan tugas piketnya dengan kecepatan super tinggi. Saking super cepatnya, waktu yang dihabiskan Meika untuk bersih-bersih konon hanya 1 menit saja.


Di kemudian hari, Meika memberikan alasan kepada Kouya bahwa dia sedang terburu-buru karena ada janji dengan temannya di kelas sebelah dan takut terlambat. Namun, itu hanyalah urusan pribadinya saja, dan sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk membersihkan kelas asal-asalan.


Tentu saja, ruang kelas sama sekali belum bersih. Debu-debu masih tertinggal di keempat sudut kelas, dan sampah di tempat sampah pun dibiarkan begitu saja tanpa dibuang. Alih-alih dibilang ceroboh, itu adalah pembersihan asal-asalan yang sangat tidak becus. Dan bagi Kiyoko yang tumbuh besar di lingkungan penginapan, kemalasan seperti itu tampaknya tidak bisa ditoleransi.


Kiyoko, yang berada di kelompok yang sama dengan Meika, akhirnya membersihkan ulang ruang kelas yang ditinggalkan Meika dengan asal-asalan. Setelah itu, dia menghentikan Meika dan menegurnya dengan cara yang halus.


"Aku sempat berpikir apakah kamu sengaja menyisakan pekerjaan ini untukku, tapi kalau kamu bersih-bersih secepat itu, orang yang kamu taksir bisa-bisa terkejut, lho."


Peringatan tidak langsung dari Kiyoko tampaknya menyinggung perasaan Meika.


"Maksudmu, kamu sedang menegurku? Lagipula, apa hubungannya dengan orang yang kutaksir?"


"Aku mengatakan ini demi memikirkan masa depan Shiga-san."


"Hah? Masa depanku?"


"Maksudku, kalau kamu terbiasa melakukan sesuatu dengan ceroboh, nanti calon suamimu bisa kesusahan."


"......Menikah? Apa-apaan sih yang kamu bicarakan? Lagipula ya, Shizukuishi-san, kita sudah berada di kelompok yang sama selama seminggu penuh sejak kamu pindah sekolah ke sini, jadi kamu pasti tahu bagaimana sifatku. Sifatku memang sudah begini dari sananya!"


"Aku belum benar-benar mengobrol banyak dengan Shiga-san, sih. Lagipula, meskipun namamu Shiga (bisa merujuk pada Prefektur Shiga), keberadaanmu itu setingkat dengan Wakayama atau Mie (prefektur yang dianggap kurang menonjol)..."


"Minta maaf sana kepada Wakayama dan Mie! Tidak sopan tahu, mengatai mereka tidak punya hawa keberadaan!"


"......Aku tidak mengatakan sampai sejauh itu, kok."


"Aku, dikatai tidak punya hawa keberadaan? Seumur hidupku belum pernah ada yang bicara begitu padaku, tahu?"


"Oh, ya?"


"Iya, tahu! Kamu cuma mau menyindirku saja, kan?"


"Aku tidak bilang begitu, kan? Aku ini bicara demi memikirkan Shiga-san—"


"Kamu mengatakannya secara berputar-putar. Kamu ini tipe orang yang punya kepribadian buruk!"


"Paling tidak, katakanlah kalau aku ini 'ikezu' (bahasa dialek Kyoto untuk 'jahil/jahat')."


"Sama saja, kan?!"


"Karena kamu berpikir itu sama saja, makanya semua pekerjaanmu jadi asal-asalan."


Di akhir adu mulut yang sia-sia itu, ucapan halus yang dilontarkan Kiyoko justru membuat kemarahan Meika berada di ambang ledakan.


"————っ!"


Sambil mengertakkan gigi dan pundak yang gemetar, Meika mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


——3 detik sebelum kemarahan meledak.


Puttchin! Tepat sesaat sebelum tali kesabaran gadis kota bawah itu putus,


"Tunggu dulu!"


Sebuah suara yang menginterupsi perdebatan mereka menggema di dalam ruang kelas 2-3 yang sedang dalam jam piket kebersihan di waktu istirahat siang. Kiyoko dan Meika menghentikan adu mulut mereka sejenak dan menoleh ke arah sumber suara.


Seorang murid laki-laki dari bangku barisan depan kelas 2-3—yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran mereka sambil membaca buku—perlahan meletakkan buku novel sakunya, bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati kedua gadis itu.


Dia adalah seorang pemuda bertubuh jangkung dengan tinggi di atas 180 cm, memancarkan aura yang cerdas dan berintelektual.


Sambil menaikkan gagang kacamata dengan jarinya, pemuda jangkung itu pun menyatakan:


"Kalian tidak boleh melanjutkan pertikaian sia-sia yang tidak membuahkan hasil ini lebih jauh lagi. Oleh karena itu, biarkan aku yang menangani situasi di tempat ini."


Kiyoko tampak kebingungan melihat kedatangan si penyusup yang tiba-tiba ini.


"Uhm, Dazai-kun...... bukan, ya?"


Sebagai informasi, Shizukuishi Kiyoko yang tumbuh besar di lingkungan keluarga yang melayani pelanggan, sebenarnya sangat pandai mengingat wajah orang. Tentu saja, meskipun dia berbicara seperti itu, aslinya dia juga mengingat kepribadian Meika dengan sangat baik.


"Benar sekali. Aku adalah ketua sekaligus satu-satunya anggota Klub Sains, Dazai Taishi."


Penyusup berkacamata—Taishi—memperkenalkan dirinya, sementara Kiyoko memiringkan kepalanya dengan heran.


"......Klub Sains dengan satu orang anggota?"


"Fufu. Shizukuishi-kun, mari kujawab pertanyaanmu itu. Di sekolah kita, sebuah kelompok tidak akan diakui sebagai klub resmi dan tidak akan mendapatkan anggaran dana klub jika tidak memiliki minimal 5 orang anggota."


"Oh, begitu ya."


"Akan tetapi, di Klub Sains kita yang bersejarah ini, saat ini anggota yang tersisa hanyalah aku seorang. Jika statusnya diturunkan menjadi kelompok hobi biasa, anggaran dana tidak akan turun, dan kami bahkan tidak akan bisa membeli reagen kimia untuk eksperimen. Untuk menghindari situasi tersebut, aku membungkuk dan memohon kepada empat orang kenalanku yang merupakan anggota klub pulang-cepat agar mereka mau meminjamkan nama mereka. Alhasil, di atas kertas daftar pustaka, Klub Sains memiliki 5 orang anggota termasuk aku sebagai ketuanya, sehingga secara formal memenuhi syarat sebagai kegiatan klub. Artinya, dengan dalih bahwa klub ini berjalan secara sah, Klub Sains kami tetap mendapatkan anggaran dana kegiatan dari sekolah, lho."


"Itu terdengar mirip seperti Hostess Girls Bar ilegal, ya. Tipe tempat terselubung yang berkedok sebagai tempat pertemuan biasa antara pria dan wanita, padahal di dalamnya ada transaksi terselubung."


"Jangan samakan kegiatanku dengan bisnis ilegal, dong!"


"Intinya, anggota yang aktif melakukan kegiatan memang cuma Dazai-kun sendiri, kan?"


"Tepat sekali! Pada kenyataannya, anggotanya cuma aku sendiri! Padahal ini adalah kegiatan klub yang baru diakui jika memiliki 5 orang anggota, tapi anggotanya cuma aku! Oleh karena itu, sebagai satu-satunya anggota sekaligus ketua Klub Sains, bisa dibilang aku adalah one-man army di sekolah ini!!"


"Bukannya itu namanya penipuan?"


"Aku juga berpikir begitu, tapi kesampingkan dulu hal itu, Shizukuishi-san."


Meika kembali melotot ke arah Kiyoko, yang sejak tadi terus memberikan komentar sarkas dengan nada santai.


"Karena aku tidak bisa berbicara dengan gaya sok manis atau disaring memakai kertas pembungkus obat, aku akan mengatakannya secara blak-blakan saja. Aku benar-benar tidak suka cara bicaramu yang berputar-putar seperti itu."


"Suka atau tidak suka itu adalah kebebasan masing-masing individu, jadi aku tidak punya hak untuk melarangmu, sih."


"! Nah, lihat kan? Dia bicara dengan gaya seperti itu lagi—"


"Tenanglah kalian berdua!"


Dazai Taishi segera menengahi dan masuk ke sela-sela kedua gadis yang sedang bersitegang tersebut.


Secara harfiah dan fisik, ia menyelipkan tubuh jangkungnya tepat ke celah ruang di antara Meika dan Kiyoko. Ketua Klub Sains yang bertubuh jangkung itu menjadi dinding pemisah di antara Meika dan Kiyoko, lalu mengumumkan dengan lantang:


"Biar ketua Klub Sains, Dazai Taishi, yang membereskan tempat ini!"


4


——Orang tidak kompeten yang sok rajin hanya akan menambah beban pekerjaan orang-orang di sekitarnya. Sayangnya, hal itu sudah menjadi rahasia umum di masyarakat.


Kouya, yang sedari tadi mengawasi jalannya situasi, langsung panik melihat kemunculan Taishi. Sebenarnya, Torame Kouya dan Dazai Taishi adalah teman dekat yang suka bikin onar bersama. Hubungan mereka sudah terjalin sejak zaman SMP, dan kalau boleh jujur, Torame Kouya adalah salah satu anggota bayangan yang meminjamkan namanya demi kelangsungan Klub Sains tersebut. 


Tentu saja, ia melakukan itu karena diminta oleh Taishi, padahal ia sendiri sama sekali tidak tertarik pada Klub Sains. Ia tidak pernah melakukan aktivitas apa pun yang berbau sains. Bagi Kouya yang terlihat pandai bersosialisasi namun sebenarnya tidak punya banyak teman, Dazai Taishi adalah salah satu dari sedikit teman yang ia miliki. Ketidakseriusan Kouya muda dalam mencari teman mungkin merupakan trauma masa kecil akibat terseret-seret oleh urusan pekerjaan orang tuanya, tapi mari kita kesampingkan dulu hal itu untuk saat ini.


Masalah utamanya adalah Torame Kouya sangat mengenal sifat dan kepribadian Dazai Taishi. Kouya tahu betul dari pengalamannya sendiri bahwa meskipun penampilan Taishi terlihat intelektual dan memancarkan aura orang yang kompeten, realitanya sama sekali tidak seperti itu. 


Tentu saja, karena menyandang gelar ketua Klub Sains, nilai pelajaran sains Taishi memang bagus. Namun, ia benar-benar payah dalam hal lainnya—terutama dalam hubungan antarmanusia. Kepintaran dalam belajar dan kepintaran dalam bersosialisasi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Khusus dalam urusan hubungan antarmanusia, belum pernah sekalipun si brengsek ini maju ikut campur dan berhasil menyelesaikan masalah dengan mulus. Dazai Taishi memang memiliki kemampuan berpikir logis, tetapi emosi dalam hubungan antarmanusia sama sekali tidak membutuhkan logika. Alhasil, setiap kali ketua Klub Sains ini ikut campur dalam urusan yang melibatkan perasaan orang lain, situasinya selalu berakhir semakin parah.


"Tunggu sebentar, Taishi! Kamu tidak ada hubungannya dengan masalah ini, kan?" 


Kouya meletakkan kotak bekalnya dan melangkah menuju tempat perdebatan, berpikir bahwa situasi pasti akan menjadi semakin kacau jika dibiarkan.


Kouya mencengkeram bahu sahabatnya itu, lalu berbicara dengan suara lirih agar tidak terdengar oleh Kiyoko dan Meika.


"Kalau orang sepertimu ikut campur, urusannya malah bakal jadi makin rumit, tahu!"


"Haha, wahai sahabatku Kouya. Ada alasan yang sangat logis kenapa aku harus menengahi perselisihan mereka."


"Alasan logis, katamu?"


"Benar sekali. Aku ikut campur karena alasan ingin menyatukan tempat ini dengan kemampuan mediasiku yang luar biasa, lalu mendapatkan rasa hormat dari mereka."


"Untuk apa?"


"Sudah jelas, kan! Aku cuma ingin terlihat keren di depan Meika-kun, itu saja!" 


Taishi menegaskan hal itu kepada Kouya, sembari mengecilkan suaranya agar tidak terdengar oleh Meika dan yang lainnya.


"............"


Torame Kouya tercengang sesaat mendengar argumen temannya itu.


"Tunggu, motivasimu itu sama sekali tidak ada logis-logisnya! Itu 100% cuma keinginan yang penuh dengan kepentingan pribadi!" 


Setelah tersadar, Kouya langsung melayangkan protes.


"Fufu," ketua sekaligus anggota tunggal Klub Sains itu merapikan rambutnya dan membusungkan dada.


"Apa salahnya dengan keinginan untuk terlihat keren di depan gadis yang disukai? Kouya, apakah kamu hendak menyangkal keberadaan burung-burung dari negeri selatan yang berdandan mencolok, menari dengan lincah, dan bernyanyi dengan merdu hanya demi menarik perhatian burung betina? Memunculkan sebuah peristiwa demi menarik lawan jenis agar menguntungkan bagi kelestarian keturunan—ini adalah insting dasar makhluk hidup! Ini tidak lain adalah logika kehidupan yang mencakup kita sebagai umat manusia! Dengan kata lain, ini adalah strategi bertahan hidupku demi menyelamatkan Meika-kun dengan gagah dan mendapatkan cintanya!"


"Lupakan teori anehmu itu! Pokoknya, berhenti ikut campur saat tidak ada yang memanggilmu dan malah memperburuk situasi, bisa tidak?!" 


Kouya menjerit pelan, tentu saja dengan volume suara yang sekiranya tidak terdengar oleh kedua gadis itu.


Ya, Dazai Taishi menyukai Shiga Meika. Karena itulah motif tindakannya sangat sederhana dan jelas. Sudah sangat gamblang bahwa meskipun ia memasang sikap seolah-olah menjadi mediator yang adil, ia sebenarnya diam-diam memihak Meika dan mencoba mencari muka di depan gadis itu. Cara seperti itu tidak akan mungkin bisa menenangkan situasi.


Kiyoko sedikit mengernyitkan alisnya, lalu menatap Meika.


"Apakah orang ini teman yang berada di pihakmu, Shiga-san?"


"Bukan, tahu! Jangan asal menyamakan aku dengannya, kamu ini cepat sekali mengambil kesimpulan, ya," potong Meika dengan nada kesal.


"Bukankah ucapanmu itu seperti sedang berkaca pada diri sendiri tanpa menyadari kekuranganmu?"


"Apa katamu?!"


Tepat ketika perdebatan antara Kiyoko dan Meika tampaknya akan dimulai kembali—membuat interupsi Taishi berakhir sia-sia—sebuah suara lain terdengar.


"Tunggu sebentar!"


Suara lantang dari gadis ketiga bergema di dalam ruang kelas pada jam istirahat siang itu.


Pintu kelas 2-3 terbuka, dan di sana berdirilah seorang siswi berambut kepang yang tampak sangat serius. Singkatnya, dia adalah seorang teman sekelas yang baru saja kembali ke ruang kelas dengan kotak bekal kosong di tangannya setelah selesai makan siang di tempat lain.


Karena gadis ketiga ini adalah murid kelas 2-3, tentu saja Kouya tahu nama sekaligus jabatan gadis itu di kelas ini.


"Ketua Kelas..."


Kouya menggumamkan potongan informasi tentang gadis ketiga itu dengan lesu.


——Uwah. Muncul lagi satu orang yang merepotkan.


Begitulah kesan jujur yang ada di dalam benak Kouya. Jabatan gadis itu adalah Ketua Kelas 2-3, dan nama aslinya adalah Higuchi Hitoha.


Pada dasarnya dia adalah orang yang memiliki rasa keadilan yang tinggi, tetapi dia adalah contoh tipikal di mana rasa keadilan tersebut tidak selalu berjalan ke arah yang baik.


"Shizukuishi-san, Shiga-san, aku memang tidak mendengarkan pembicaraan kalian dan tidak tahu apa yang terjadi. Tapi melihat situasinya, sepertinya telah terjadi sesuatu, jadi biar aku yang menyelesaikannya. Lagipula, aku adalah Ketua Kelas 2-3."


"Kalau tidak dengar dari awal, tidak usah ikut campur, dong."


Kouya melayangkan protes dengan tenang kepada Hitoha, tetapi gadis itu tidak mau mendengarkan.


"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Lagipula aku ini Ketua Kelas di kelas ini. Jika mengatakannya dalam bahasa Inggris, aku adalah Chairperson."


"Kenapa harus diterjemahkan ke bahasa Inggris, sih? Tidak jelas banget."


"Karena rasanya seperti orang hebat di Asosiasi Sepak Bola atau semacamnya, jadi terkesan punya kedudukan yang lebih tinggi. Tidak ada alasan mendalam lainnya, kok."


Hitoha menyatakannya dengan sangat tegas. 


Jika harus menggambarkan sifat Higuchi Hitoha dalam satu kata, kata itu adalah "Sok Peduli". Dia adalah tipe orang yang niat baiknya jarang sekali membuahkan hasil yang berguna bagi orang lain.


Merasa terancam dengan kehadiran Hitoha dalam arti yang berbeda dari Kouya, Taishi pun langsung mengajukan protes kepada gadis itu.


"Mundurlah, Hitoha-kun. Aku sudah memutuskan bahwa akulah yang akan menyelesaikan masalah di tempat ini. Kalau kamu yang menyelesaikannya, aku jadi kehilangan panggung untuk pamer, kan?!"


"Apakah kamu berpikir kalau aku akan merebut prestasimu? Kamu ini orang yang berhati sempit, ya."


Hitoha melemparkan tatapan penuh penghinaan ke arah Taishi.


Hikuri. Otot pipi sang ketua Klub Sains tampak berkedut.


"Berhati sempit...... Memang, aku harus mengakui bahwa ada benarnya juga poin yang kamu sebutkan itu. Namun, Hitoha-kun. Kapasitasku yang sempit ini jika dibandingkan dengan bumi, hanyalah sebagian kecil yang tidak berarti. Apalagi jika dibandingkan dengan sistem tata surya, galaksi Bima Sakti yang membentang di belakangnya, serta alam semesta yang tak terbatas, maka ukurannya hampir setara dengan nol."


"Teori sesat apa lagi itu? Membandingkan sesuatu dengan alam semesta lalu menganggap angka yang kecil sama dengan tidak ada, matematika mungkin bisa memaafkannya, tapi kantor pajak tidak akan tinggal diam! Memangnya kamu bisa bilang kepada petugas kantor pajak kalau penghasilan tahunanmu yang beberapa juta yen itu setara dengan nol jika dibandingkan dengan luasnya galaksi, jadi kamu tidak perlu membayar pajak?!"


"Jangankan kantor pajak, matematika pun tidak akan memaafkan hal itu, tahu."


"Kan kamu sendiri yang mulai membicarakannya! Apa-apaan sih kamu ini?!"


"Bukankah itu karena kemampuan membaca-pemahamanmu (reading comprehension) saja yang kurang, Hitoha-kun?"


"Berani-beraninya kamu meragukan kemampuan membaca-pemahamanku, padahal aku selalu membaca minimal 1 buku dalam seminggu! Memangnya kamu siapa?!"


"Memangnya kenapa? Aku ini bisa melahap habis 7 buku dalam waktu satu minggu, lho! Rata-rata satu buku sehari! Berbeda denganmu yang membaca novel Shoujo yang penuh dengan ilustrasi gambar manga, aku membaca buku-buku ilmiah dari penerbit Iwanami Bunko!"


"Bagaimana bisa Dazai-kun tahu label penerbit buku yang kubaca?!"


——Aduh, orang-orang ini tidak ada yang beres.


Bukannya mereda, situasinya malah semakin melantur ke arah yang tidak jelas.


Kouya melirik sekilas ke arah jam dinding yang berada di depan podium guru.


Saat itu menunjukkan pukul 1:17 siang. Tinggal 3 menit lagi bel akan berbunyi, dan jam pelajaran sore akan segera dimulai. Ia harus segera mengakhiri kekacauan ini bagaimanapun caranya.


"Tolong berhenti sebentar."


Kouya melangkah masuk dan menengahi lingkaran perdebatan tersebut.


"Kouya-kun."


Kiyoko mengerjapkan matanya karena terkejut. Kouya memutuskan untuk menyelesaikan masalah orang-orang ini satu per satu.


Pertama-tama, Kouya berbalik menghadap Hitoha dan berbicara kepadanya.


"Ketua Kelas."


"Ya?"


"1 menit lagi pelajaran akan dimulai. Masalah ini tidak akan selesai kalau ada kamu, jadi tolong mundurlah. Biar aku yang mengurus tempat ini."


"......Mengatakan masalah tidak akan selesai kalau ada aku, bukankah itu hanya prasangka burukmu saja, Torame-kun?"


"Kenyataannya, sampai detik ini pun masalahnya belum selesai, kan? Ada bantahan?"


"......Tidak. Memang benar, aku tidak bisa menyangkal hal itu."


Hitoha menghela napas panjang, lalu mundur satu langkah dengan enggan.


Berikutnya, Kouya melotot ke arah sahabatnya, sang ketua Klub Sains.


"Taishi."


"Ada apa?"


"Menjauh sana."


"Perintah yang sangat blak-blakan, ya."


"Aku berutang padamu. Nanti akan kuganti rugi. Jangan banyak protes dan cepat mundur."


"......Baiklah. Tapi ingat, ini utang. Jangan lupakan kata-katamu itu. Aku ini bukan lembaga amal, ya. Meskipun kamu temanku, utang yang telah dibuat harus tetap dibayar kembali."


Kouya merasa bahwa ia akan terlibat dalam masalah yang merepotkan di kemudian hari, tetapi untuk saat ini, Taishi juga ikut mundur satu langkah dari tempat itu.


Berikutnya, ia mengalihkan pandangannya kepada salah satu pelaku utama, Shizukuishi Kiyoko.


Kiyoko yang datang dari Kyoto selalu menggunakan caranya sendiri, yaitu menghindari menyatakan sesuatu dengan jelas dan menuntut lawan bicaranya untuk peka memahami maksudnya. Namun, cara seperti itu tidak akan mempan di daerah Asakusa ini.


Meskipun Kiyoko berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, wajahnya tampak sedikit merasa bersalah. Dia terlihat seperti seekor kucing yang tahu kalau dirinya akan dimarahi.


Kouya menggelengkan kepalanya lalu menghela napas.


"Kiyoko-san."


"......Ada apa?"


Kiyoko balik bertanya sambil memasang sikap sedikit waspada.


"Gaya bicaramu itu, aku sih bisa paham."


"......Ya."


"Tapi, bagi orang-orang di Asakusa sini, gaya bicara seperti itu sangat sulit untuk dimengerti."


"......Begitu, ya."


"Lebih baik kamu menyampaikan perasaanmu yang sebenarnya secara langsung."


"Aku akan berhati-hati (Artinya: Tapi aku tidak berniat untuk mengubahnya, sih)."


"............"


Suara hati Kiyoko tersampaikan dengan sangat jelas, membuat Kouya menatapnya dengan pandangan setengah jengkel. Tidak peduli apa pun yang dikatakan oleh mulutnya, sudah sangat gamblang bahwa orang Kyoto yang satu ini sama sekali tidak berniat untuk mengubah gaya bicaranya yang telah tertanam sepanjang hidupnya.


Namun, Kouya tidak patah semangat di sini.


Sambil menyunggingkan senyum kecut di wajahnya yang tegang, Kouya langsung mendesak dengan cepat.


"Kalau kamu merasa bersalah, minta maaf sana pada Meika."


"......Maaf ya, Shiga-san. Aku juga salah karena sudah asal menunjuk-nunjuk kenyataan. Tapi, aku berpikir kalau kamu terus-terusan melakukan pekerjaan dengan asal-asalan seperti ini, orang yang berharga bagimu bisa-bisa ikut kecewa nanti."


Kiyoko berbalik menghadap Meika dan membungkukkan kepalanya.


"......Apa dia baru saja mengajakku ribut lagi?"


Meika menggeram dengan suara lirih.


Biarpun begitu, paling tidak secara formal Kiyoko sudah meminta maaf. Kalau begitu, sisanya tinggal——,


"Meika."


"Apaan sih."


Sambil melipat kedua tangannya, Meika balik bertanya dengan nada ketus. Seolah-olah ingin menegaskan bahwa dirinya tidak salah.


Kouya menghela napas panjang di dalam hati.


"Kiyoko-san belum terbiasa dengan gaya bicara blak-blakan yang biasa kamu pakai. Dia bukannya bermaksud menyindirmu, tapi dia benar-benar menegurmu karena memikirkan masa depanmu. Alhasil, situasinya malah jadi saling sahut-sahutan dengan emosi seperti tadi."


"............"


"Lagipula, fakta kalau kamu bersih-bersih dengan asal-asalan itu memang kenyataan yang objektif, kan?"


Begitu disinggung mengenai pembersihan kelas 1 menit yang menjadi akar masalahnya, Meika tampaknya menyadari bahwa posisinya sedang tidak menguntungkan, lalu ia pun terdiam.


Kouya langsung mendesaknya sekaligus.


"Minta maaf sana soal bersih-bersih yang asal-asalan itu."


"Iya, iya, maaf ya!"


Dengan nada agak kesal dan putus asa, Meika melontarkan permintaan maaf yang sekadar formalitas belaka.


Kouya sangat yakin bahwa di lubuk hati terdalamnya, Meika pasti tidak merasa dirinya bersalah. Namun, karena ia sudah berhasil mendapatkan permintaan maaf dari kedua belah pihak yang bersangkutan, setidaknya masalah ini tidak akan memburuk lebih jauh lagi.


Sebelum bicara soal saling memahami, Kouya merasa bahwa pada dasarnya kecocokan sifat mereka berdua sebagai manusia memang buruk. Meski begitu, setidaknya ia harus memberikan penjelasan penengah.


"Kiyoko-san itu sejak kecil sudah terbiasa membantu pekerjaan di penginapan keluarganya, makanya dia jadi sensitif terhadap hal-hal yang mendetail. Anggap saja itu penyakit akibat profesi dan awasi saja dia dengan santai."


"Oh, apakah seseorang yang akan menjadi calon Ibu Pemilik Penginapan (Okami) generasi berikutnya harus mengerjakan pekerjaan serabutan seperti bersih-bersih?"


Taishi, yang sejak tadi mendengarkan percakapan dari samping, melipat tangannya sambil memiringkan kepala keheranan. Di dalam benaknya, pekerjaan seorang Okami tampaknya memiliki citra yang jauh lebih mewah dan anggun.


Kiyoko menyunggingkan senyum kecut yang tampak serba salah.


"Soal calon Okami berikutnya itu cuma salah paham. Lagipula, pekerjaan di penginapan itu justru merupakan puncak dari segala pekerjaan serabutan. Di rumahku kekurangan tenaga kerja, jadi demi menghemat biaya staf, aku akan melakukan apa saja yang bisa kulakukan. Bersih-bersih, merapikan tempat tidur, resepsionis, melayani tamu, urusan logistik belanja, merangkai bunga, menata interior, membuat brosur atau menu, sampai mengelola media sosial, pokoknya benar-benar apa saja kulakukan."


"Eh. Shizukuishi-san, apakah itu berarti kamu bisa membuat poster yang terlihat sedikit estetik dan menarik?"


Sang Ketua Kelas tiba-tiba menyela pembicaraan dan merangsek maju.


"Eh, yaa... karena aku sering membuat media pengumuman di penginapan, kalau cuma selevel itu sih bisa saja."


"Kalau begitu, dalam waktu dekat ini akan ada kompetisi olahraga, bisakah kamu membantu kami untuk membuat posternya?"


Dengan mata yang penuh harap, Hitoha menatap ke arah Kiyoko.


"Di sekolah kita, OSIS-nya tidak berfungsi dengan baik, jadi acara-acara sekolah dijalankan oleh komite eksekutif yang mengumpulkan para ketua kelas. Tapi jujur saja, poster atau situs web yang dibuat oleh sekumpulan ketua kelas yang modalnya cuma sifat rajin dan serius itu benar-benar terlihat sangat amatir dan kuno."


"Kamu malah menghina diri sendiri, toh!"


Sambil mengabaikan protes dari Kouya, Sang Ketua Kelas melangkah semakin mepet ke arah Kiyoko.


"Ketika orang-orang yang tidak memiliki bakat kreativitas berkumpul, selera seni tidak akan bisa berkembang. Sederhananya, media publikasi sekolah kami selalu norak. Kasarnya, super norak. Di zaman sekarang ini, membagikan poster yang dibuat menggunakan jenis huruf rainbow-color di Word rasanya benar-benar membuatku sangat malu."


Hitoha perlahan menggenggam tangan Kiyoko.


Ia mengerahkan tenaga pada tangannya, seolah mendesak dan tidak membiarkan putri dari penginapan tua itu melarikan diri.


"Sudilah kiranya kamu menggunakan kekuatan yang telah membangun kembali penginapan tua itu untuk melepaskan media sekolah kami dari jerat kenorakan yang hakiki ini?!"


"Kalau cuma membuat poster sih tidak apa-apa, tapi..."


Meskipun Kiyoko merasa kebingungan oleh tekanan dari Sang Ketua Kelas, ia tidak memiliki alasan khusus untuk menolak, sehingga ia pun mengangguk samar.


Tepat pada saat itu, dari balik jendela koridor, terlihat guru untuk jam pelajaran berikutnya sedang berjalan menuju ruang kelas.


Waktu habis. Kouya memilih untuk menyudahi situasi di tempat tersebut.


"Guru sudah datang, ayo kita akhiri masalah ini. Kedua belah pihak sama-sama salah, bubar!"


Meskipun kedua gadis itu terlihat masih belum saling memahami, setidaknya perang di antara mereka telah resmi berakhir untuk saat ini.


"Kalau kamu mau membuat poster, aku juga akan ikut membantu, kok."


Sambil berpikir bahwa hal ini mungkin bagus agar Kiyoko bisa membaur dengan kelas, Kouya menawarkan bantuan dengan mudahnya. Namun, Kiyoko justru melemparkan pandangan setengah jengkel dan penuh keraguan kepada pemuda itu.


"Kouya-kun bisa mengoperasikan Illustrator atau aplikasi sejenisnya?"


"Sama sekali tidak bisa."


"............Aku menghargai niat baikmu (Artinya: Berarti kamu tidak berguna, ya)."


Tepat ketika Kiyoko menghela napas di dalam hati karena menyadari bahwa Kouya sama sekali tidak bisa diandalkan sebagai tenaga bantuan, bel yang menandakan dimulainya jam pelajaran kelima pun berbunyi.


5


"Semuanya, silakan duduk di kursi masing-masing. Jam pelajaran kelima akan segera dimulai."


Pelajaran sore dimulai, dan seorang guru bahasa nasional wanita paruh baya masuk ke kelas 2-3 dengan membawa buku absen di tangannya. Kelompok yang tadi siang berdebat dan kelompok yang datang melerai langsung bubar dan duduk di kursi mereka masing-masing. Meskipun Meika dan Kiyoko tidak bisa dibilang berdamai sepenuhnya, setidaknya situasi berhasil diredam.


Tepat saat Kouya menghela napas lega dan berpikir bahwa semua telah berakhir dengan baik, sang guru bahasa nasional memanggil namanya.


"Torame-kun, tolong hapus papan tulisnya."


Perintah itu langsung tertuju dengan menyebut namanya.


"Eh, kenapa saya?"


"Kamu piket harian hari ini."


Begitu guru bahasa nasional mengatakannya, Kouya baru tersadar dan melihat rumus-rumus matematika dari pelajaran tadi pagi masih tersisa di papan tulis. Dan di sudut papan tulis, tertulis nama murid yang bertugas piket hari itu. Tentu saja, seperti yang ditunjukkan oleh sang guru, nama Torame Kouya tertera di sana.


"Ah, maaf. Saya hapus sekarang."


Kouya pun terburu-buru mulai menghapus papan tulis.


Guru bahasa nasional itu menggelengkan kepalanya.


"Sudah berapa kali seperti ini? Kelas ini benar-benar belum bisa melakukan hal-barang dasar dengan becus. Tolong lebih cekatan sedikit, Torame-kun."


"Eh. Ibu mengatakannya kepada saya......?"


"Kalau bukan kepadamu, lalu kepada siapa lagi?"


"Kepada Ketua Kelas, mungkin..."


"Keberatan!"


Higuchi Hitoha yang duduk di barisan depan mengangkat tangannya dan menyela ucapan guru bahasa nasional tersebut.


"Saya sudah menjalankan tugas saya dengan baik. Membereskan kecerobohan petugas piket harian bukanlah tanggung jawab seorang ketua kelas."


"Yah, itu memang benar, sih."


Guru bahasa nasional itu menepuk pundaknya sendiri dengan buku absen secara perlahan.


"Memang benar seperti yang dikatakan Higuchi-san. Menimpakan semua beban dan tanggung jawab kepada satu orang yang memiliki jabatan tertentu itu adalah hal yang salah. Intinya, sangat penting bagi seluruh siswa di kelas untuk memiliki kesadaran dalam menjalankan perannya masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Paham? Secara spesifik, maksud Saya adalah kelas ini butuh atmosfer di mana jika ada petugas piket yang lupa akan tugasnya, orang lain bisa mengingatkannya secara spontan tanpa rasa canggung."


Gara-gara salah bicara, mereka malah dihujani ceramah oleh guru bahasa nasional tersebut. 


Di tengah cuaca yang buruk, ruang kelas yang sudah kehilangan semangat sejak awal pelajaran sore akibat mode ceramah sang guru, menjadi saksi saat Kouya selesai menghapus papan tulis dan kembali ke kursinya sendiri. Kursinya berada di barisan belakang dekat jendela. 


Tiba-tiba, ia merasakan pandangan seseorang tertuju padanya. Ketika ia mengalihkan pandangannya ke arah asal tatapan itu, matanya bertemu dengan mata Kiyoko yang duduk di barisan dekat koridor.


Tepat pada saat mata mereka saling bertemu, Kiyoko tiba-tiba memalingkan wajahnya.


"?"


Gadis itu tampaknya sedang memikirkan sesuatu.


Kouya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tempat yang sempat ditatap oleh Kiyoko sesaat lalu. Itu adalah kaca jendela kelas.


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hari itu cuaca buruk karena diguyur hujan. Akibat pengembunan di hari hujan, kaca jendela benar-benar buram dan berkabut, bahkan lapangan sekolah pun tidak terlihat sama sekali. Di atas kaca yang berembun itulah, berderet tulisan pendek yang digoreskan menggunakan jari tangan.


Hanya satu kata yang terdiri dari sembilan huruf.


——Terima kasih.


Begitu bunyinya.


Tanpa sadar Kouya kembali menatap ke arah Kiyoko yang berada di barisan dekat koridor, tetapi gadis itu sedang menatap papan tulis dengan lekat. Ia sama sekali tidak berniat untuk menoleh ke arah Kouya. Cara seperti itu memang sangat mencerminkan dirinya sekali.


Sejak zaman sekolah dasar, gadis itu memang tipe orang yang seperti ini. Sama sekali tidak berubah.


"Kiyoko-san ini, ya......"


Kouya menghela napas panjang.


"Kiyoko-san, benar-benar deh, ya......"


Kata-kata serupa terlontar dari mulut Kouya sebanyak dua kali, dan setelah itu tidak ada kalimat lanjutan yang keluar lagi.


——Itu adalah sebuah peristiwa di kelas 2-3 pada suatu hari yang diguyur hujan.


6


"Hmm, rasanya masih agak kurang dinamis, ya...... Coba kalau rasionya dinaikkan lalu latar belakangnya dibuat blur. ——Nah, kalau begini bagaimana?"


Ruang kelas 2-3 sepulang sekolah. Sambil mengoperasikan Illustrator dan Photoshop melalui laptop yang dibawanya dari rumah dengan metode coba-coba, Kiyoko memproses foto kompetisi olahraga yang diambil oleh klub fotografi, lalu menempelkannya.


"Kouya-kun, menurutmu di antara dua ini, mana yang lebih bagus?"


Gadis asal Kyoto yang dikerahkan untuk mengedit poster itu menampilkan dua pola desain purwarupa di layar, lalu memanggil pemuda yang juga sedang menghadap laptop di sampingnya.


"Sepertinya yang kanan. Logonya sudah selesai, nih. Baru saja kukirim."


Kouya berbicara sambil mengirimkan file logo yang sebelumnya diminta oleh Kiyoko untuk disesuaikan kembali keharmonisan warnanya.


"Hmm, kalau begitu mari kita pakai yang kanan. Wah, logonya bagus juga. ——Tinggal tempel ini di sini...... Sip, selesai!"


Tepat pada saat Kiyoko menyelesaikan proses penyuntingan dan menekan tombol simpan, alunan musik 'Hotaru no Hikari' (Auld Lang Syne versi Jepang) mulai bergema di seantero sekolah.


Waktu untuk pulang sekolah sudah semakin dekat.


"Aku pergi panggil Ketua Kelas dulu, ya."


Kouya bangkit berdiri untuk menyerahkan hasil karya mereka kepada gadis yang telah meminta dibuatkan poster tersebut. Namun, tanpa mengucap sepatah kata pun, Kiyoko mencengkeram ujung lengan baju Kouya untuk menahannya.


"?"


"......Sebenarnya kemarin aku melewatkan kesempatan untuk bertanya, tapi bolehkah aku menanyakan satu hal?"


"Tanya apa?"


Kiyoko menatap lekat pemuda yang kini sedang mengerjapkan matanya kebingungan.


Bagi Kiyoko, ada satu hal yang benar-benar harus ia pastikan. Hal ini sudah mengusik pikirannya sejak kemarin.


"......Kouya-kun, kenapa kamu memanggil Shiga-san langsung dengan nama depannya?"


"Hah?"


Mendapat pertanyaan dari sudut yang sama sekali tidak terduga membuat Kouya kembali mengerjapkan matanya.


Maksud dari pertanyaan itu tentu saja tentang mengapa ia memanggil Shiga Meika dengan nama "Meika", bukan dengan nama marganya, "Shiga". Namun, karena ditanya hal yang selama ini tidak pernah ia sadari secara sadar, pemuda itu pun tampak kebingungan.


"Tidak ada alasan khusus, sih...... Kami satu distrik sekolah dan sudah berteman sejak zaman sekolah dasar. Jadi, rasanya aku cuma meneruskan cara memanggil yang lama dari masa lalu......"


Memang benar bahwa di antara teman sekelas sejak zaman taman kanak-kanak atau sekolah dasar, ada beberapa orang yang setelah memasuki masa pubertas mengubah cara memanggil mereka dari nama depan menjadi nama marga. Namun dalam kasus Kouya dan Meika, sengaja mengubah cara memanggil terasa merepotkan, dan karena mereka berdua pun tidak memedulikannya, hubungan itu tetap berjalan apa adanya. Alasan yang mendasarinya hanyalah sebatas itu, tetapi——


"Oh, begitu ya......"


Sudah kuduga, batin Kiyoko. 


Sambil merasa sedikit syok, entah mengapa ia menjadi sangat wajar.


Kiyoko juga memiliki teman sekelas lawan jenis yang satu taman kanak-kanak dengannya dulu di Kyoto, tetapi pada akhirnya, saat mereka hendak masuk SMP, mereka berdua otomatis saling memanggil dengan nama marga masing-masing. Fakta bahwa Meika dan Kouya tetap saling memanggil dengan nama depan berarti mereka berdua bisa saling mentoleransi satu sama lain meskipun muncul rumor yang tidak-tidak dari orang-orang di sekitar.


Bahkan di mata guru pun, Meika dan Kouya sering terlihat beraktivitas bersama. Karena itu, Kiyoko secara alami berpikir bahwa mereka berdua pasti memiliki perasaan suka terhadap satu sama lain, setidaknya dalam jumlah yang tidak sedikit.


"Yah, mereka berdua memang terlihat serasi, sih......"


Kiyoko menggumamkan isi hatinya dengan lirih.


Ada rasa kesepian yang terselip di sana. Namun, karena ia ingin pemuda teman masa kecilnya ini bahagia, sebuah rasa kewajiban yang misterius mendadak muncul di dalam diri Kiyoko: Aku harus memastikan mereka berdua bisa bersatu dengan selamat. Tanpa alasan yang jelas, Kouya mendadak panik.


"A... apa-apaan sih reaksi begitu?"


Ia merasa seolah-olah sedang terjadi kesalahpahaman yang sangat besar mengenai dirinya dan Meika.


Bukannya ia merasa keberatan atau merasa terganggu jika disalahpahami. Baik atau buruk, hubungannya dengan Meika adalah hubungan yang blak-blakan dan santai, di mana ia tidak akan merasakan desaran romantis apa pun meskipun orang-orang salah paham. Namun, fakta bahwa ia mungkin sedang disalahpahami oleh Kiyoko entah mengapa membuat Kouya merasa sangat panik sampai-sampai ia sendiri tidak mengerti alasannya.


"Tidak apa-apa, kok, kamu tidak perlu merasa sungkan kepadaku. Meskipun aku sama-sama teman masa kecilmu, Shiga-san lah yang sudah jauh lebih lama memperhatikan dan berada di samping Kouya-kun."


"Kiyoko-san, sepertinya kamu salah paham?"


"Salah paham bagaimana—"


Tepat saat Kiyoko hendak membuka mulutnya, pintu kelas 2-3 terbuka dengan suara keras, memotong percakapan mereka berdua di sana.


"Shizukuishi-san, apakah posternya sudah selesai?"


Higuchi Hitoha, sang Ketua Kelas yang menjadi dalang dari semua ini, memunculkan wajahnya di pintu kelas.


"Kebetulan baru saja selesai, nih.......Bagaimana menurutmu?"


Saat Kiyoko menyerahkan poster yang sudah jadi, Hitoha langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dengan mata yang berbinar-binar.


"Ini luar biasa sekali! Ini benar-benar berbeda bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan format pelangi norak buatan komite kami yang dibuat menggunakan Word! Dengan begini, sekolah kita akhirnya bisa mengucapkan selamat tinggal pada poster yang penuh dengan kesan amatir!"


"Apakah ini hasil dari keahlian profesional yang telah membangun kembali penginapan tua itu?! Hebat sekali, Shizukuishi-san!!"


"Ah, ini bukan sesuatu yang hebat-hebat amat, kok......"


"Selera seni yang mampu bertahan di garis depan industri ini benar-benar tiada duanya! Ah, begini, bolehkah aku meminta bantuan lagi? Jika kamu tidak keberatan, sekalian tolong buatkan brosur untuk festival budaya musim gugur nanti, ya?"


"Yah, kalau waktu itu aku sedang senggang sih boleh saja......"


Karena tidak memiliki alasan kuat untuk menolak, Kiyoko akhirnya mengangguk samar sembari merasa sedikit kebingungan. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kemampuan kerja serabutan yang ia pelajari demi menghemat biaya staf penginapan justru bisa mendatangkan rasa terima kasih yang sebesar ini dari orang lain.


Sambil menggulung poster dan mendekapnya di ketiak, Hitoha yang merasa sangat gembira karena berhasil mendapatkan janji dari Kiyoko, langsung menggenggam kedua tangan Kiyoko lalu mengayunkannya naik turun dengan penuh semangat.


"Terima kasih banyak! Izinkan aku membalas kebaikanmu. Hari ini, setelah ini apakah kamu punya waktu luang?"


"Aku tidak punya rencana apa-apa lagi, sih."


"Aku punya dua lembar kupon gratis Baskin-Robbins, ayo kita pergi makan es krim bersama!"


Tanpa memberikan kesempatan untuk menolak, Sang Ketua Kelas langsung mengajak Kiyoko pergi. Kemudian, ia tampak tersadar akan keberadaan Kouya di sana. Ia menyadari bahwa ia hanya memiliki kupon gratis untuk dirinya sendiri dan Kiyoko, dan benar-benar melupakan bagian milik Kouya yang sudah ikut membantu.


Kouya sengaja menghela napas dengan dramatis, lalu menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar.


"Pergilah kalian berdua saja. Aku tidak usah."


"Aku tidak keberatan memberikan bagianku kepada Torame-kun agar kalian berdua yang pergi bersama, tapi——"


"Tidak perlu. Es krim itu makanan lembek untuk perempuan dan anak-anak, aku sama sekali tidak tertarik."


"Tiba-tiba sekali kamu berubah ke mode hard-boiled begitu...... Lagipula, es krim itu tidak lembek, tahu."


Untuk mendorong punggung Sang Ketua Kelas yang tampak bimbang mengenai apa yang harus dilakukan dengan dua lembar kupon tersebut, Kouya mengambil tasnya lalu bangkit berdiri dengan sikap acuh tak acuh.


"Kalau begitu, aku pulang duluan, ya."


"Ah...... Kouya-kun."


"Baguslah kalau begitu. Akhirnya kamu dapat teman, kan?"


Setelah meninggalkan kalimat itu agar Kiyoko bisa menikmati waktu bersama teman barunya, Kouya melambaikan tangannya dengan santai lalu melangkah keluar meninggalkan ruang kelas.


Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara obrolan yang akrab antara Sang Ketua Kelas dan Kiyoko dari dalam kelas, membuat Kouya merasa sedikit lega di dalam hatinya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close