NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7

Situasi Keluarga di Rumah Kiyoko-san

1


Suara gemerisik jangkrik terdengar begitu riuh dan memekakkan telinga.


Musim panas di Kyoto—yang merupakan wilayah cekungan—terasa jauh lebih menyengat daripada tempat lain.


Pada hari-hari seperti ini, pilihan yang paling tepat adalah berdiam diri dengan tenang di dalam ruangan yang sejuk ber-AC.


——Namun, Torame Kouya yang saat itu baru menginjak kelas 2 sekolah dasar dan sedang berada di masa-masa aktifnya, tidak memiliki penilaian untuk diam manis di dalam rumah. 


Sesuai kodrat anak-anak pada umumnya, ia sangat ingin bermain di luar. Karena urusan orang tuanya, ia tiba-tiba dititipkan di sebuah kota bernama Kyoto.


Torame Kouya yang saat itu berusia 7 tahun mengajak anak perempuan dari penginapan tempatnya dititipkan untuk pergi ke tepi sungai. Sungai itu disebut Sungai Kamo (Kamogawa), sebuah sungai tersohor yang mengalir dari utara ke selatan membelah kota Kyoto.


——Namun, jika dibandingkan dengan Sungai Sumida yang ia lihat sejak kecil hingga tumbuh besar, lebar Sungai Kamo ini terasa sempit dan dasarnya pun dangkal. Jika ingin terdengar keren, mungkin bisa disebut sebagai sungai yang bersahaja, tetapi bagi Kouya, skala sungai ini cukup mengecewakan.


Menurut cerita orang-orang dewasa di penginapan, pada zaman dahulu ketika ibu kota Jepang masih berada di Kyoto, Sungai Kamo sering kali meluap hingga menimbulkan bencana banjir dan menyengsarakan masyarakat. Namun, sekarang setelah sistem penanggulangan banjirnya sudah tertata dengan sangat baik, sisa-sisa kebuasan sungai itu sama sekali tidak berbekas lagi.


Bagaimanapun juga, demi mencari kesejukan di tengah teriknya musim panas wilayah cekungan, sepasang anak laki-laki dan perempuan itu akhirnya datang ke Sungai Kamo.


Dengan pikiran dangkal khas anak-anak, mereka mengira area di dekat air setidaknya akan terasa lebih sejuk, tetapi dugaan itu keliru. Setelah sampai di Sungai Kamo, tempat ini sama sekali tidak terasa sejuk.


――――Yang namanya panas, ya tetap saja panas.


Sembari menahan keringat yang bercucuran di dahinya, Kouya memungut sebuah batu dari tepi sungai lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah permukaan air Sungai Kamo.


Plung! Batu itu langsung tenggelam ke dalam air. Sekali lagi, bocah itu melempar batu. Kali ini, ia memberinya sedikit efek putaran. Batu yang dilemparnya kali ini sempat memantul sekali di atas permukaan air sebelum akhirnya tenggelam ke dalam sungai.


Setelah itu, karena merasa penasaran dan tidak mau kalah, si bocah melempar batu berulang kali tanpa henti. Ini adalah permainan sendirian bernama 'mizukiri' (melempar batu datar ke air), sebuah permainan untuk mengadu seberapa banyak batu tersebut bisa memantul di atas permukaan air.


Seorang anak perempuan yang berdiri di sampingnya tampak terus mengawasi bocah laki-laki yang sedang asyik bermain 'mizukiri' seorang diri tersebut. Anak perempuan itu mengenakan gaun terusan berwarna kuning dan memakai topi jerami.


"Begitu Kouya-kun pulang ke Tokyo nanti, rumahku akhirnya bisa jadi tenang kembali, ya," gumam anak perempuan itu dengan lirih.


Bocah laki-laki itu menghentikan tangannya yang hendak melempar batu.


"......Kamu sebenarnya merasa kesepian kan karena aku mau pergi?" ujarnya, tanpa membalikkan badan ke arah anak perempuan tersebut.


"Benar juga, ya," jawab si anak perempuan sembari menundukkan pandangannya, mengakui hal itu dengan tenang.


Bocah laki-laki itu kembali mulai melempar batu.


"Kan aku sudah bilang kalau aku akan menulis surat untukmu nanti."


"Janji, lho, ya. Kouya-kun kan orangnya pelupa, jadi aku agak khawatir."


Batu yang dilemparkannya memantul 3 kali di atas air sebelum akhirnya tenggelam ke dalam sungai.


――――Keheningan pun seketika melanda.


Di akhir musim panas yang hanya menyisakan suara gemercik aliran sungai dan nyanyian jangkrik, cahaya matahari yang berada tepat di atas kepala memantul dan berkilauan di permukaan air. Saking silaunya pantulan cahaya tersebut, si bocah sampai harus menyipitkan matanya.


Musim panas bagi anak laki-laki dan perempuan itu akan segera berakhir. Dan akhir dari musim panas ini juga menandakan momen perpisahan bagi mereka berdua.


"Kii-chan,"


Setelah terjeda beberapa saat, si bocah kembali membuka suara, dan anak perempuan itu perlahan mendongakkan wajahnya.


"Apakah kamu akan terus tinggal di rumah itu selamanya?" tanya bocah laki-laki itu sembari sibuk memilah-milih batu berikutnya yang akan ia lempar.


"......Aku tidak tahu," jawab si anak perempuan sambil kembali menunduk.


Topi jerami berpinggiran lebar yang dikenakannya langsung menutupi dan menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Aku tidak suka melihat orang-orang yang bekerja di penginapan menangis. Aku juga tidak mau melihat Ayah dan Ibu menderita lebih dari ini. Makanya, aku sudah memutuskan untuk membantu melakukan apa saja. Tapi, setelah itu......"


Anak perempuan itu mencoba mencari kalimat yang tepat sembari meraba isi hatinya sendiri.


"Kalau penginapannya sudah bisa kembali berjalan dengan lancar seperti dulu, aku tidak tahu lagi setelah itu apa yang ingin kulakukan. Aku sendiri tidak tahu apakah aku benar-benar ingin terus membantu Ayah dan Ibu atau tidak. Apakah aku memang ingin tetap tinggal di rumah itu......"


"......Memangnya kalau begitu, kamu merasa senang?"


"Eh?"


Mendapat pertanyaan yang sangat menohok dari si bocah, anak perempuan itu seketika melongo kebingungan. Bocah laki-laki itu menggenggam sebuah batu pipih yang pas di tangannya.


"Kamu selalu berusaha keras menjaga sikap di depan orang-orang dewasa. Terus-menerus memperhatikan ekspresi wajah orang di sekitarmu, berpura-pura menjadi anak baik... Memangnya kamu tidak merasa lelah?"


"Aku...... tidak bermaksud berpura-pura menjadi anak baik, kok......"


"Ah, masa."


"Aku cuma......"


Anak perempuan itu mencoba mencari kata-kata untuk membalas, tetapi karena tidak ada jawaban tepat yang terlintas di benaknya, ia akhirnya kembali menundukkan kepala.


Kouya menarik napas dalam-dalam lalu melemparkan batu pipih yang dipegangnya dengan penuh tenaga. Batu itu memantul sebanyak lima kali di atas permukaan air sebelum akhirnya tercebur ke dalam sungai.


Catatan 5 kali pantulan dalam permainan mizukiri ini sebenarnya merupakan rekor baru bagi si bocah, tetapi sayangnya, tidak ada petugas pencatat rekor di tempat itu, dan tidak ada juga orang yang akan memberikan ucapan selamat kepadanya.


"Jangan memaksakan diri," ujar bocah laki-laki itu dengan nada ketus, sembari tetap mengarahkan pandangan matanya ke permukaan air Sungai Kamo.


"Kamu itu... sudah berjuang dengan sangat keras, tahu."


Ia hanya menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya secara blak-blakan.


"............"


Tidak ada jawaban dari anak perempuan itu.


Meskipun si bocah tidak membalikkan badannya, ia bisa membayangkan dengan jelas seperti apa ekspresi wajah yang sedang dipasang oleh anak perempuan di sampingnya saat ini. Ia pasti sedang merasa kebingungan karena tidak bisa menjawab pertanyaannya.


Tanpa menoleh ke arah anak perempuan itu, Kouya pun berkata:


"Kalau kamu sudah merasa lelah, tidak apa-apa kalau kamu mau lari, kok. Jika saat itu tiba, aku yang bakal——"


————Setelah itu, apa kelanjutan kalimatnya?


Tepat pada detik ketika Torame Kouya hampir berhasil mengingatnya, pemuda berusia 16 tahun itu terbangun dari mimpinya.


Saat membuka mata, tempat itu bukanlah Sungai Kamo di Kyoto. Saat tersentak sadar, pemuda itu sedang berada di Tokyo, dan ia menyadari bahwa dirinya bukan lagi seorang anak kecil berusia 7 tahun.


Suara riuh pagi hari khas Asakusa mulai terdengar. 



Ia terbangun di tengah kepungan hawa panas musim panas yang membuat tubuh serasa lemas.


Ini adalah bagian pusat dari kota Tokyo.


Tentu saja, kamar miliknya juga dilengkapi dengan AC. Jika sudah memasuki puncak musim panas, ia biasanya tidur dengan menyalakan AC di malam hari.


——Namun, karena merasa sayang jika harus menyalakan AC terus-menerus sampai pagi, ia menyetel timer demi menghemat listrik sebelum tidur. Akibatnya, saat ia terbangun di pagi hari, AC tersebut tentu saja sudah dalam keadaan mati. Ditambah lagi, jendela kamarnya juga tertutup rapat.


Alhasil, meskipun waktu tidurnya terasa sangat nyaman, momen saat ia terbangun justru terasa bagai di neraka.


Kamar itu sudah berubah menjadi ruang sauna. Mandi uap. Hawa panasnya benar-benar terasa tidak masuk akal. Meskipun jika dipikir-pikir kembali, mungkin wilayah Kyoto masih jauh lebih panas.


Sembari merangkak malas keluar dari tempat tidur, Kouya melangkah gontai menuju wastafel kamar mandi.


2


Alasan kenapa ia mendadak mengingat kembali kejadian saat berada di Kyoto dulu, kemungkinan besar bukan murni karena faktor cuaca panas ini saja. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa hawa panas ini telah menjadi salah satu pemicu yang membangkitkan memori masa kecilnya—tentang hari-hari musim panas yang ia habiskan bersama Kiyoko.


————Benar. 


Torame Kouya, entah kenapa baru sekarang, berhasil mengingat kembali kejadian 10 tahun yang lalu. Memori masa sekolah dasar ketika Kouya dititipkan di rumah keluarga Kiyoko, dan momen saat ia pertama kali bertemu dengan gadis itu. Tentang seorang anak perempuan bergaun terusan yang datang menjemputnya hingga ke Stasiun Kyoto.


Hari-hari yang ia lalui bersama gadis itu berlalu dalam sekejap mata, hingga akhirnya kedua orang tua Kouya—yang bekerja sebagai anggota kelompok teater dan baru saja menyelesaikan pertunjukan panjang mereka di Asia—kembali ke Jepang.


1 tahun telah berlalu. Hari untuk pulang ke Tokyo pun akhirnya tiba. Dan itu artinya, hari itu juga merupakan hari perpisahan dengan anak perempuan yang ia temui di Kyoto. Mereka bertemu di hari musim panas, dan harus berpisah di hari musim panas 1 tahun kemudian. Bocah laki-laki yang dulunya berusia 6 tahun kini telah menginjak usia 7 tahun. Momen ketika ia mengajak anak perempuan itu bermain ke tepi sungai demi melarikan diri dari sengatan hawa panas, terjadi beberapa hari sebelum ia dijadwalkan pulang ke Tokyo. 


Karena merasa tidak tega melihat anak perempuan itu selalu memaksakan diri dan memasang senyum palsu di depan para pelanggan meskipun masih anak-anak, Kouya mengingat bahwa ia sempat mengucapkan kalimat, 'Kalau kamu sudah merasa lelah, tidak apa-apa kalau kamu mau lari, kan?'


Lalu setelah itu——


Setelah kalimat itu, apa yang ia ucapkan lagi, ya?


Rasanya ujung ingatan itu sudah hampir tergapai oleh jemarinya, tetapi tetap saja tidak tersentuh. Rasanya ingatan itu sudah hampir teringat, namun tetap tidak bisa diingat. Bahkan pada dasarnya, ia sendiri tidak tahu apakah memori itu adalah sesuatu yang memang harus ia ingat atau justru sebaiknya dibiarkan saja.


Ada sisi di dalam dirinya yang tidak ingin merusak hubungan yang terjalin dengan Kiyoko saat ini. Ada bagian dari dirinya yang berpikir bahwa ia tidak ingin merusak keseimbangan hubungan nyaman yang telah terbangun dengan Kiyoko sekarang—sebuah hubungan yang tercipta justru karena ia telah melupakan kejadian di masa lalu tersebut.


"......Panas banget."


Sembari membawa perasaan mengganjal di dalam dadanya, Kouya kembali ke kamarnya dari wastafel dan langsung menghentikan jalan pikirannya akibat hawa panas yang menyengat.


Ia membuka jendela kamarnya, lalu melangkah turun ke ruang tengah di lantai 2. Di dalam ruangan sejuk yang sirkulasi udaranya terasa nyaman berkat pendingin ruangan itu, Kouya menyantap hidangan sarapan yang sudah disiapkan oleh kakeknya. Itu adalah sebuah pemandangan menjelang siang hari yang lumrah di masa liburan musim panas. Liburan musim panas sudah memasuki babak akhir. 


Sembari membatin bahwa ia harus segera menyelesaikan tumpukan tugas sekolahnya yang terbengkalai, Kouya justru berakhir menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tengah dan mulai membuka aplikasi di ponsel pintarnya. Di tengah aktivitasnya itu, terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang menaiki tangga dari pintu belakang.


Sebelum Kouya sempat menegakkan posisi duduknya, pintu masuk di lantai dua sudah terbuka lebar.


"Aku pulang~ Hari ini di luar juga panas sekali, ya."


Kiyoko kembali dengan membawa sebuah kantong kertas berukuran besar di pelukannya.


"Belanja?"


Melihat barang bawaan besar yang didekap oleh gadis itu, Kouya memiringkan kepalanya heran.


"Bukan, bukan. Aku baru saja mampir ke tempat laundry."


Sembari berbicara, Kiyoko mengeluarkan beberapa pasang pakaian dari dalam kantong kertas besar tersebut, lalu menjajarkannya dengan rapi di atas sofa.


Pakaian itu terdiri dari baju berkabung (moufuku) milik kakeknya, seragam sekolah milik Kiyoko, dan seragam sekolah milik Kouya. Mengingat hal itu, Kouya teringat bahwa tepat saat liburan musim panas baru dimulai, mereka memang memasukkan seragam sekolah mereka berdua secara bersamaan ke tempat laundry.


"Tolong serahkan baju berkabung yang itu kepada Juuro Oji-sama, ya."


Sembari berkata demikian, Kiyoko langsung melesat cepat menghampiri lemari es. Sambil terus menggerutu karena kegerahan, gadis itu menuangkan teh gandum (mugicha) yang sangat dingin untuk diminum. Namun, ia tampak mendadak mengingat sesuatu, lalu kembali melangkah berjalan menghampiri Kouya.


"Kouya-kun, ini barangmu yang tertinggal."


Kiyoko mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempang (pochette) yang tersampir di bahunya, lalu menyodorkannya kepada pemuda yang tinggal serumah dengannya itu.


"Ah."


Sebuah seruan refleks lolos dari mulut Kouya.


Benda itu adalah sebuah jimat. Itu adalah jimat keberhasilan cinta dari kuil jodoh yang diberikan—atau lebih tepatnya dipaksakan—oleh Taishi kepadanya, sebagai hadiah tanda terima kasih karena telah membantu kelas eksperimen sains waktu itu.


Karena ia memasukkannya ke dalam saku celana seragam tepat sebelum liburan musim panas dimulai, ia benar-benar telah melupakan keberadaan jimat tersebut sepenuhnya.


"Ibu pemilik laundry bilang benda ini ada di dalam saku celanamu, jadi dia menitipkannya kepadaku."


"Ah, begitu, ya (nada datar). Maaf, maaf (nada datar)."


Gawat! pikir Kouya sembari merebut jimat itu dari tangan Kiyoko dengan kalimat bernada datar yang terkesan dipaksakan.


Itu hanyalah sebuah jimat biasa. Namun entah mengapa, ia sama sekali tidak ingin dianggap telah sengaja membeli jimat keberhasilan cinta lalu menyimpannya dengan sangat hati-hati layaknya benda pusaka yang sangat berharga. Ia benar-benar tidak ingin Kiyoko salah paham seperti itu kepada dirinya. 


Jika benda ini adalah jimat keselamatan lalu lintas atau semacamnya, ia pasti tidak akan sepanik ini.


"Sejak pertama kali melihatnya tadi, aku sudah membatin, lho. Gambar kucing pembawa keberuntungan (maneki-neko) ini lucu sekali, ya."


"B-Benarkah?"


"Iya. Jarang-jarang ada jimat yang ada gambar lucunya begini. Ini jimat dari kuil mana?"


Kiyoko yang tampak sangat penasaran mulai mendekatkan wajahnya untuk mengintip jimat yang ada di telapak tangan Kouya.


"......Kuil Imado."


Mau tidak mau, Kouya akhirnya menjawab jujur.


Kiyoko mengerjipkan matanya beberapa kali.


"Heeh. Aku baru pertama kali mendengarnya."


"Kalau bukan orang asli sini, wajar saja kalau tidak tahu."


"Apakah itu kuil yang ada di dekat sini?"


"Ya, kalau dibilang dekat, memang lumayan dekat, sih."


"Apakah terkenal?"


"Lumayan."


Bagi Kouya, ia ingin topik pembicaraan ini segera berakhir dengan cepat. Namun entah mengapa, justru di saat-saat seperti inilah Kiyoko malah semakin tertarik dan terus mengejarnya.


Padahal gadis itu sendiri bukanlah orang yang religius. Padahal jika pulang ke kampung halamannya, di dekat rumahnya ada banyak sekali kuil bersejarah yang sekelas harta karun nasional.


"Kouya-kun sendiri sering pergi ke Kuil Imado itu?"


"Tidak juga."


"Nah, lihat, kan! Kamu sendiri ternyata juga tidak pernah pergi ke tempat wisata lokal yang ada di daerahmu sendiri."


Kiyoko tersenyum penuh kemenangan seolah-olah baru saja berhasil memojokkan Kouya.


Tampaknya, pembuktian teori mengenai 'penduduk lokal yang secara mengejutkan jarang mendatangi tempat wisata di daerah mereka sendiri' masih terus berlanjut di dalam benak gadis itu. Kemudian, Kiyoko dengan antusias mengeluarkan ponsel pintarnya dan langsung membuka aplikasi pencarian. 


Kemungkinan besar ia langsung mencari informasi tentang Kuil Imado. Hasil pencariannya segera muncul, dan Kiyoko yang sedang membaca halaman situs tersebut tampak memiringkan kepalanya.


"Ini kuil perjodohan yang memuja Dewa Izanagi dan Dewi Izanami, ya. Mereka mengunggulkan ikon kucing pembawa keberuntungan, dan jimat yang dipegang Kouya-kun ini adalah jimat untuk keberhasilan cinta. ——......Kouya-kun, apakah kamu sedang punya orang yang kamu sukai?"


"Bukan begitu juga, kok......"


"Masa, sih? Tapi kamu sampai menyimpan jimat keberhasilan cinta ini di dalam sakumu dengan sangat hati-hati seperti itu."


"Bukan aku yang membelinya! Ini dipaksakan oleh Taishi kepadaku, lalu aku memasukkannya ke dalam saku dan melupakannya begitu saja!"


Kouya melayangkan bantahan dengan sangat keras. Namun, Kiyoko masih belum mau melepasnya begitu saja.


"Benarkah begitu?"


"Tentu saja benar!"


Sembari melayangkan argumen balasan, Kouya memutar otak memikirkan tempat untuk menyingkirkan jimat tersebut.


Demi mengakhiri topik pembicaraan ini, ia harus melakukan sesuatu agar jimat perjodohan ini menjauh dari hadapan mata Kiyoko. 


Apa yang harus ia lakukan? 


——Jika dimasukkan ke dalam saku lagi, kejadian yang sama pasti akan terulang kembali. Jika diikatkan di tas juga akan sama saja. Tapi kalau dibuang, rasanya tidak sopan dan tabu. Kouya mulai panik karena kebingungan harus memperlakukan jimat itu seperti apa.


————Eh, tunggu dulu. Lagian kenapa juga aku harus sepanik ini?


Apakah karena aku tidak ingin dia salah paham? Tapi, ya sudahlah. Mau salah paham juga tidak apa-apa, kan? Memangnya ada masalah apa kalau dia sampai salah paham?


"Kamu kenapa?"


Di saat isi kepala Kouya sedang berputar-putar memikirkan hal itu, Kiyoko yang tampak heran mulai mencondongkan tubuhnya untuk mengintip wajah Kouya.


"Eh, tidak ada apa-apa."


Tepat pada detik ketika pemuda itu mendongak menatap gadis yang tinggal serumah dengannya dari atas sofa, mata mereka berdua saling beradu.


Tatap pandang mereka saling bertubrukan. Ia harus segera membuat alasan. Ia harus menjelaskan alasan logis mengapa dirinya sampai sepanik ini saat jimat keberhasilan cinta itu terlihat oleh gadis yang tinggal serumah dengannya. Ia harus meluruskan kesalahpahaman ini.


Kouya berusaha mati-matian mencari untaian kata yang paling tepat untuk meredakan situasi saat ini.


Ya, dengan kata lain——


"Aku... terhadap Kiyoko-san itu——"


Secara spontan, kalimat yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan sebelumnya justru meluncur begitu saja dari mulut Torame Kouya.


Entah mengapa tepat di waktu seperti ini, sang pemuda yang sedang berada di masa pubertasnya itu justru malah mengucapkan satu kalimat tidak perlu, yang bahkan dirinya sendiri pun tidak mampu memahaminya.


Ia terlalu panik. Karena saking paniknya dan terdorong oleh keinginan untuk membuat alasan, ia benar-benar berbicara tanpa berpikir sama sekali, bahkan ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan.


"――――"


Alhasil, kelanjutan kalimat tersebut tidak kunjung terlintas di benaknya, dan si pemuda terpaksa harus berakhir dalam kondisi tubuh yang membeku kaku.


Kiyoko mengerjipkan matanya beberapa kali.


"Terhadap aku?" tanya gadis itu memastikan kembali.


"Eh, bukan, maksudku......"


Kouya menjadi semakin panik.


Sembari didera rasa panik, ia memundurkan posisi duduknya di atas sofa.


——Aduh, sebenarnya tadi aku mau ngomong apa, sih?


"Maksudku, itu,"


Kouya yang mendadak bicara dengan terbata-bata berusaha mati-matian mencari kata-kata demi bisa lolos dari situasi ini dengan damai.


"Terhadap aku?"


Dengan mata yang berbinar-binar penuh harap, Kiyoko sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dengan malu-malu. Kouya terus memundurkan tubuhnya secara perlahan.


Ayo, cepat ucapkan kata-kata yang keren untuk meredakan situasi ini, diriku!


Meskipun otaknya terus mendesak, kepalanya mendadak menjadi kosong melongpong dan ia tidak bisa memikirkan kata-kata berikutnya.


"Bukan, itu,"


"Kelanjutannya apa? (Arti tersirat: Bolehkah aku berharap?)"


"Makanya, maksudku, aku itu——"


"Tidak usah sungkan-sungkan, lho. (Arti tersirat: Cepat katakan saja)"


Perkembangan situasi macam apa ini...... Kenapa jadinya malah begini, sih?


Meskipun jika dirunut kembali, orang yang sudah memicu kalimat tidak perlu ini tidak lain dan tidak bukan adalah Kouya sendiri. Kini ia telah terperosok ke dalam situasi pelik yang membuatnya sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.


————Tolong hamba, ya Tuhan!


Tepat di saat sang pemuda memanjatkan doa yang teramat sangat dari lubuk hatinya, memang tidak bisa dipastikan apakah Tuhan yang entah berada di mana itu benar-benar mengabulkan permohonannya atau tidak. Namun yang pasti, sebuah bantuan tiba-tiba datang mengulurkan tangan kepadanya secara mendadak.


Ting tooong!


Waktu yang benar-benar sangat pas.


Seolah sengaja menyela pembicaraan mereka berdua, bel pintu belakang mendadak berbunyi.


Ini benar-benar bagaikan pertolongan dari langit.


3


Rumah Torame Juuro yang merangkap sebagai kedai kopi “Casandra” ini terdiri dari lantai 1 untuk area toko, serta lantai 2 dan 3 untuk area tempat tinggal, di mana masing-masing bagian memiliki pintu masuknya sendiri.


Di bagian belakang kedai terdapat tangga luar yang terhubung langsung ke area tempat tinggal. Di sana juga terdapat sebuah gerbang dengan papan nama bertuliskan "Torame" serta sebuah perangkat interkom.


『Permisii~』


Dari balik interkom pintu belakang tersebut, terdengar suara seorang perempuan.


Itu adalah suara yang asing.


Di luar lingkaran kenalan, orang yang datang melalui pintu belakang rumah keluarga Torame biasanya sudah bisa ditebak adalah kurir jasa pengiriman barang untuk keperluan rumah tangga umum.


Karena kurir pengantar barang yang berkaitan dengan kedai kopi selalu datang melalui pintu depan toko, pihak-pihak yang berhubungan dengan bisnis kedai tidak akan pernah memutar ke pintu belakang.


Hari itu, suara yang memanggil dari pintu belakang memang terdengar seperti suara perempuan, tetapi belakangan ini perusahaan jasa pengiriman barang besar memang sudah memiliki banyak staf wanita.


"Iya, sebentaaar!"


Tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun dan mengira bahwa itu adalah paket kiriman, Kouya bergegas menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Meskipun Kiyoko sempat memasang wajah tidak puas, Kouya memilih untuk berpura-pura tidak menyadarinya. Namun, tepat pada detik ketika ia sampai di pintu belakang dan melihat sosok yang berdiri di depan interkom, ia langsung menyadari bahwa dugaannya ternyata meleset total.


————Lho, kok?


Orang yang menekan tombol interkom bukanlah seorang kurir wanita dari jasa pengiriman barang. Bahkan jika dilihat sekilas saja, dia jelas-jenis bukanlah seorang pekerja kantoran atau orang dewasa. Dia adalah seorang gadis yang usianya lebih muda—kira-kira masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Gadis itu memiliki paras wajah yang rapi dan bersih dengan rambut yang diikat 2. Ia tampak menggendong sebuah ransel besar yang dihiasi gantungan kunci maskot yang lucu.


Itu adalah gadis yang sama sekali tidak ia kenal. Setidaknya, Kouya yakin dia bukan anak-anak yang tinggal di sekitar lingkungan sini.


"Apakah benar Shizukuishi Kiyoko tinggal di tempat ini?" tanya gadis itu dengan nada bicara yang sangat sopan.


Meskipun ia berbicara menggunakan bahasa formal, intonasi bicaranya terasa berbeda dengan aksen wilayah Kanto. Hanya dengan mendengar sepatah kata saja, langsung ketahuan kalau dia memiliki aksen bahasa daerah Kansai yang kental.


"Anu, maaf, Anda siapa ya?" 


Kouya justru balik bertanya sebelum memberikan jawaban.


Di zaman sekarang ini, rasanya tidak bijaksana jika harus membeberkan informasi pribadi seseorang secara blak-blakan kepada orang yang belum jelas asal-usulnya.


"Mohon maaf atas keterlambatan saya dalam memperkenalkan diri, nama saya adalah Shizukuishi Marika."


Gadis itu membungkukkan badannya dengan sangat dalam. Gantungan kunci maskot yang terpasang di ransel besar yang digendongnya pun tampak bergoyang-goyang.


"Ah, si bocah cilik itu......"


Kouya seketika teringat kembali pada masa-masa saat ia dititipkan di kediaman keluarga Shizukuishi di Kyoto dulu.


Di keluarga Shizukuishi, di bawah sosok anak perempuan yang dibawa oleh sang ibu pemilik penginapan dari pernikahan sebelumnya, terdapat seorang adik perempuan kecil yang lahir setelah pernikahan kedua mereka.


Pada masa itu, karena dampak dari kesibukan kedua orang tuanya, sang adik lebih sering dititipkan di sekolah TK dalam waktu yang lama, sehingga Kouya tidak memiliki banyak memori tentang menghabiskan waktu bersama dengannya. Namun, ia ingat dengan pasti bahwa Kiyoko memang memiliki seorang adik perempuan.


Meskipun jujur saja, mengingat pertemuan terakhir mereka adalah saat sang adik masih menjadi bocah TK berusia 3 tahun dan sekarang sudah menjelma menjadi seorang anak SMP, Kouya sama sekali tidak bisa merasakan sisa-sisa kemiripan atau bayangan masa lalunya.


"Sudah lama tidak berjumpa, Kouya-san. Dan juga, saya mohon maaf. Sungguh memalukan, tetapi saya pribadi hampir sama sekali tidak mengingat tentang diri Anda." 


Shizukuishi Marika meminta maaf kepada Kouya dengan wajah yang sangat serius.


"Ah, ya kalau itu sih wajar saja."


Jangankan Marika, Kouya sendiri pun hampir tidak mengingatnya. Itu adalah cerita 10 tahun yang lalu. Jika seorang bocah TK bisa mengingat dengan sangat jelas tentang sosok anak SD yang hanya menumpang tinggal selama satu tahun di rumahnya, hal itu justru malah terasa tidak wajar. Memori anak usia 3 tahun memang biasanya hanya sebatas itu.


"Saya datang berkunjung karena mendengar dari Ayah bahwa Kakak berada di tempat ini."


"Dia memang ada di sini, sih. Tapi, gaya bahasamu itu terdengar agak kaku dan formal sekali ya seperti kepada orang asing."


"Apakah begitu?"


"Iya, benar."


"Saya baru saja membulatkan tekad untuk datang berkunjung setelah mendengar dari Ayah kalau Kakak sedang menumpang hidup dan dibantu di kediaman ini." 


Shizukuishi Marika menjelaskan dengan sangat serius.


Hanya melalui sekilas interaksi singkat tersebut, entah bagaimana Kouya sudah bisa meraba bahwa hubungan antara Shizukuishi bersaudara ini tampaknya sangat jauh dari bayangan "hubungan kakak-beradik" yang ada di dalam imajinasinya. 


Itu adalah sebuah jarak unik yang tidak bisa dibilang bermusuhan, namun tidak bisa disebut akrab juga. Lagipula, dari nada bicaranya, Shizukuishi Marika tampaknya sama sekali tidak memberikan kabar atau menghubungi Kiyoko terlebih dahulu sebelum datang. 


Jauh-jauh datang dari Kyoto ke Tokyo hanya demi mengunjungi kakaknya tanpa memberi kabar terlebih dahulu adalah sesuatu yang biasanya sulit dipercaya......


Dari sisi sang kakak pun, saat meninggalkan rumahnya di Kyoto dulu, ia seolah pergi begitu saja tanpa memberi tahu tempat tujuannya kepada sang adik.


Di saat Kouya sedang sibuk berspekulasi sendiri mengenai bagaimana sebenarnya kualitas hubungan di antara Shizukuishi bersaudara ini, sosok kakak yang sedang dipikirkannya itu tampak membuka pintu di lantai 2.


"Kouya-kun, apa kamu sedang sibuk?"


Entah ini adalah waktu yang tepat atau justru sebaliknya.


Kiyoko yang tampaknya sudah habis kesabaran karena Kouya tidak kunjung kembali, akhirnya memutuskan untuk ikut turun ke pintu belakang.


"Lho,"


Kiyoko menghentikan langkah kakinya di tengah anak tangga saat menyadari sosok tamu yang sangat ia kenal berada di sana.


Adik perempuannya yang seharusnya tidak mungkin berada di tempat seperti ini, kini sedang berdiri di depan matanya.


"Kenapa Marika bisa ada di tempat seperti ini?"


Di salah satu sudut daerah Asakusa ini, Shizukuishi Kiyoko yang berhasil dipertemukan kembali dengan adik perempuannya yang seharusnya berada di Kyoto, hanya bisa mengerjapkan matanya dengan penuh kebingungan.


"Sudah lama tidak berjumpa, Nee-san."


Gadis itu——Shizukuishi Marika—tampak membungkukkan kepalanya dengan sopan. Adik perempuan yang seharusnya berada di Kyoto, kini benar-benar ada di sini. Dengan kata lain, tidak sulit untuk membayangkan bahwa sang adik datang memang untuk menemuinya.


"Kalau mau datang ke sini, harusnya kamu kasih kabar dulu, biar Kakak bisa jemput sampai ke Stasiun Tokyo," ucap Kiyoko, melontarkan kalimat yang lazim diucapkan oleh seorang kakak perempuan.


Namun, ia tampaknya sama sekali tidak menaruh curiga atau mempertanyakan alasan mengapa adik kandungnya itu tidak memberi kabar terlebih dahulu sebelum datang.


"Tidak, saya tidak bisa melakukan itu," 


Shizukuishi Marika menggelengkan kepalanya merespons perkataan sang kakak. 


"Sebab, jika saya memberi tahu Nee-san terlebih dahulu tentang kedatangan saya, Kakak pasti tidak akan menyambut saya dengan baik, kan?"


"Hah?"


Bukan Kiyoko, melainkan Kouya yang sedang mendengarkan percakapan di samping gadi itu yang langsung dibuat terperangah kebingungan.


Entah apa yang terjadi, tetapi atmosfer di antara mereka mendadak terasa mencekam. Kalimat "tidak menyambut dengan baik" mungkin terdengar sebagai ungkapan yang diperhalus, tetapi intinya itu sama saja dengan sebuah "penolakan".


——Kalian kan saudara kandung, kenapa situasinya malah jadi seserius ini, sih?


"Saya mengatakannya karena saya tahu bahwa saya memang tidak disambut di sini."


Tanpa ada pelukan reuni yang mengharukan dengan kakak perempuan yang sudah lama tidak ia temui, Shizukuishi Marika menatap lurus ke arah Kiyoko dan menyampaikannya secara blak-blakan.


"Nee-san, maukah pulang ke rumah?"


"Eh......!?"


Lagi-lagi, hanya Kouya yang dibuat terkejut setengah mati. Sementara Kiyoko sendiri sama sekali tidak menggerakkan sepasang alisnya, ia hanya mendengarkan tuntutan adiknya dalam diam tanpa sepatah kata pun.


"Nee-san adalah orang yang seharusnya mewarisi “Suimeisou”."


Di depan pintu belakang sebuah kedai kopi di Asakusa, Shizukuishi Marika menegaskan masa depan dari penginapan tradisional legendaris di Kyoto tersebut.


Di daerah Asakusa yang baru saja melewati pertengahan festival Bon, sebuah badai mendadak bersiap untuk menerjang dengan tiba-tiba.


————Suara riuh jangkrik terdengar memekakkan telinga.


Bersamaan dengan keringat tidak nyaman yang mengalir membasahi dahi, leher, hingga tulang punggungnya, sekelebat potongan memori masa kecil saat menghabiskan waktu di Kyoto sempat melintas sesaat di dalam benak Torame Kouya.


Setiap kali mendengar suara jangkrik, sayup-sayup suara gemercik air Sungai Kamo itu seolah kembali terdengar di telinganya.


4


Meskipun Shizukuishi Marika adalah adik kandung dari Shizukuishi Kiyoko, keduanya merupakan saudara perempuan yang lahir dari ayah yang berbeda.


Dengan kata lain, Marika adalah adik tiri Kiyoko dari pihak ibu.


Jika diceritakan, kisahnya akan sangat panjang. 


Ibu Kiyoko—yang kerap disorot oleh berbagai media sebagai ibu pemilik ikonis dari penginapan tradisional legendaris “Suimeisou”—memiliki masa lalu di mana ia kehilangan suami pertamanya di usia muda.


Sebagai seorang ibu tunggal yang membesarkan anak perempuan dari suami pertamanya, ibu Kiyoko kala itu bekerja di sebuah bank cabang Kanagawa, sebelum akhirnya dipindahtugaskan ke Kyoto akibat perintah mutasi kerja.


Momen itulah yang menjadi titik balik kehidupannya, yang di kemudian hari juga turut mengubah takdir dari sebuah penginapan tradisional kuno di ibu kota lama yang saat itu berada di ambang kebangkrutan.


Dipandu oleh takdir yang unik, sang ibu tunggal akhirnya menginjakkan kaki di kota Kyoto.


Ibu Kiyoko yang dimutasi ke Kyoto, datang sebagai pegawai bank dengan tugas untuk menarik kembali dana pinjaman yang macet——jika diperhalus bahasanya memang demikian, tetapi intinya ia bertindak sebagai penagih utang dari lembaga keuangan, yang melangkahkan kakinya menuju tempat para nasabah yang sudah tidak mampu membayar utang mereka.


Benar sekali. Tempat yang ia datangi untuk menagih utang tersebut tidak lain adalah penginapan tradisional legendaris “Suimeisou”.


Seorang wanita penagih utang dan seorang pria yang terlilit utang.

Kouya sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana cerita dari latar belakang awal yang seperti itu bisa berkembang menjadi sebuah kisah romansa. Namun yang pasti, sang tuan muda (wakadanna) dari “Suimeisou” jatuh hati setengah mati kepada sang pegawai bank yang berstatus ibu tunggal tersebut. Setelah melewati berbagai lika-liku yang panjang, keduanya pun akhirnya resmi dipersatukan dalam ikatan pernikahan.


Berdasarkan cerita yang beredar, perjuangan ibu Kiyoko yang bertransformasi dari seorang pegawai bank biasa menjadi seorang okami di penginapan tradisional legendaris yang terlilit utang dan nyaris bangkrut, benar-benar bukanlah sesuatu yang mudah.


Meskipun cerita tersebut tampak sudah banyak diperindah dalam tayangan dokumenter, nyatanya di tengah strategi bisnis yang cukup ekstrem hingga akhirnya penginapan tradisional itu berhasil kembali ke jalur yang benar, sepasang suami istri pemilik penginapan tersebut telah dikaruniai seorang anak perempuan.


Anak itu adalah Shizukuishi Marika.


Dengan kata lain, Marika adalah anak yang lahir dari hubungan antara ibu Kiyoko dengan suami keduanya saat ini, yang merupakan anggota dari keluarga pendiri penginapan “Suimeisou”.


————Menurut desas-desus yang beredar, penginapan tradisional legendaris “Suimeisou” di Kyoto saat ini sedang menghadapi perselisihan internal terkait perebutan posisi sebagai penerus okami berikutnya.


Para karyawan memang sangat memuja dan setia kepada sang okami saat ini yang telah berhasil membangkitkan kembali “Suimeisou”. Namun, mengenai siapa di antara kedua anak perempuan sang okami yang paling berhak untuk mewarisi penginapan tersebut, opini para karyawan tampak terpecah menjadi dua kubu.


Ini adalah masalah tentang siapa yang lebih berhak memimpin: Marika, si putri kedua yang mengalir darah langsung dari keluarga pendiri, atau Kiyoko, si putri sulung yang meskipun tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga pendiri, tetapi berstatus sebagai anak pertama.


Orang-orang di sekitar mereka tampaknya sering menggunjingkan masalah ini. Bahkan dengan volume suara yang cukup keras hingga bisa terdengar oleh Kiyoko sendiri yang merupakan orang yang bersangkutan——


"Jadi maksudmu, kamu kabur ke sini demi menghindari konflik perebutan takhta itu?"


Di ruang tengah lantai dua rumah Torame Juuro, Kouya mengembuskan napas panjang sembari memasang wajah jengkel.


Di dalam ruang tengah tersebut, kini hanya ada Kouya dan Kiyoko berdua saja.


Sebelumnya, Kouya menyuruh Marika untuk kembali saja dulu ke hotel tempatnya menginap dengan alasan bahwa ia memiliki jadwal kerja paruh waktu, dan menyarankan agar pembicaraan panjang mereka dilanjutkan di hari lain saja.


Tentu saja, alasan mengenai kerja paruh waktu itu bukanlah sebuah kebohongan, tetapi karena Kouya merasakan atmosfer di antara Kiyoko dan Marika sedang tidak baik, ia sengaja menggunakan alasan yang tepat untuk memisahkan mereka berdua untuk sementara waktu. Bukan berarti ada pihak yang salah dalam hal ini, tetapi ini memang merupakan sebuah masalah yang rumit.


Semakin tinggi reputasi dan nama baik yang diraih oleh penginapan tersebut, maka dari tahun ke tahun, ekspektasi dan tuntutan dari orang-orang di sekitar mereka pun akan semakin besar.


Kedua putri dari sang okami ini kerap kali muncul di berbagai media, sehingga bisa dibilang mereka sudah seperti wajah dari humas penginapan tersebut. Sang okami sendiri selalu bersikap netral dengan memuji kedua putrinya, tetapi seiring dengan tumbuhnya sang adik menjadi semakin dewasa, situasi tampaknya sudah tidak bisa diredam dengan cara seperti itu lagi.


"Tolong jangan sebut itu kabur, sebut saja itu sebagai tindakan preventif untuk sedia payung sebelum hujan. Aku ini cuma menarik diri sebelum masalahnya menjadi semakin besar dan runyam, tahu. Lagipula, alasan utama kenapa aku datang ke Tokyo itu bukan karena hal itu, kok," potong Kiyoko melayangkan argumen bantahan dari atas sofa dengan wajah yang tidak puas.


"Hah? Kalau begitu, apa dong alasan sebenarnya yang membuat Kiyoko-san sampai datang ke Tokyo?"


"Itu bukan sesuatu yang bisa kubicarakan sekarang. Aku juga punya banyak urusan yang harus dipikirkan, tahu."


Entah mengapa wajah Kiyoko mendadak merona merah, dan ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ah, begitu. Ya sudah kalau tidak mau cerita, aku juga tidak memaksa, kok."


Jika dipikir-pikir kembali, Shizukuishi Kiyoko adalah murid pindahan yang datang di musim yang tidak biasa.


Dia tidak pindah pada bulan April saat tahun ajaran baru dimulai, melainkan baru masuk pada bulan Mei, 1 bulan setelahnya.


Seandainya dia sudah membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan keluarganya dan mempersiapkan kepindahannya secara terencana, dia pasti sudah masuk sejak bulan April di awal semester baru. Namun kenyataannya, situasinya tidak seperti itu.


Kemungkinan besar, gadis ini kabur meninggalkan Kyoto secara impulsif tanpa rencana yang matang sama sekali. Dan dia pasti tidak mengatakan apa-apa kepada orang-orang di sekitarnya.


Tanpa berdiskusi dengan keluarganya, ia mengambil keputusan secara mendadak dan langsung pergi ke Tokyo.


Itulah kebenaran di balik sosok Shizukuishi Kiyoko, sang murid pindahan di musim yang tidak biasa.


"Ini, minumlah."


Kouya menyodorkan secangkir teh Earl Grey yang masih mengepulkan uap panas kepada Kiyoko. Aroma jeruk bergamot yang menenangkan langsung tercium dan menggelitik rongga hidungnya dengan nyaman.


Sebagai informasi, cangkir porselen putih, teko, hingga daun tehnya adalah barang-barang yang ia selundupkan secara diam-diam dari kedai kopi di lantai bawah.


"Terima kasih."


Kiyoko menerima teh beraroma itu dengan jujur.


"Jadi? Pada akhirnya, apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan?" 


Meskipun kalimatnya tidak memiliki objek yang spesifik, ia tidak perlu menjelaskannya secara panjang lebar agar bisa dimengerti. Tentu saja, yang dimaksud adalah masalah Marika dan urusan suksesi penginapan tradisional milik keluarganya.


"Apanya yang apa?"


Sembari tetap memegang cangkirnya, Kiyoko sengaja balik bertanya seolah-olah tidak mengerti.


Kouya mengerutkan kedua alisnya.


"Maksudku, tentang urusan “Suimeisou”."


"Aku ada di sini karena aku memang tidak punya niat untuk mewarisinya. Kalau aku punya niat untuk mewarisi tempat itu, aku tidak akan berada di Asakusa sekarang."


"Ya, kalau itu sih memang benar, tapi......"


Apa yang dikatakan gadis itu memang sepenuhnya benar. Jika dia benar-benar berniat untuk meneruskan bisnis keluarganya, dia pasti masih berada di Kyoto sampai sekarang.


"Selain mewarisi penginapan tradisional, aku sebenarnya punya impian lain, kok," ucap Kiyoko dengan nada suara yang tenang.


"......Kalau itu tentang aku dan “Casandra”, kamu tidak perlu memikirkannya, kok."


Merasa tidak enak hati, Kouya langsung memalingkan pandangannya dari gadis yang datang dari Kyoto tersebut.


Kenyataan bahwa Kouya juga sempat berniat memanfaatkan kehadiran Kiyoko demi keuntungannya sendiri adalah sebuah fakta yang tidak bisa dibantah.


"......Tentang tawaran apakah kamu mau membuka tokomu sendiri di dalam kedai kopi, kamu boleh melupakannya saja, kok. ——Waktu itu, gara-gara ucapan dari pelanggan setia kita, aku baru menyadari kalau Kakek tidak akan bisa selamanya menjadi manajer kedai ini....... Aku tidak ingin kedai yang sangat berharga bagi Kakek ini sampai hancur dan tutup. Tapi, karena aku tidak punya rasa percaya diri untuk mengelola kedai kopi sendirian, aku malah melibatkanmu dan berniat untuk bergantung kepadamu. ——Itu tindakan yang egois dan licik, kan. Makanya, aku minta maaf."


Mendengar permintaan maaf dari sang pemuda, Kiyoko perlahan menggelengkan kepalanya lalu meraih dan menggenggam tangan Kouya.


"Aku dengan senang hati mau terlibat dalam urusan itu, kok. Aku justru merasa sangat senang karena kamu mau mengajakku."


Kiyoko menghentikan kalimatnya sejenak, lalu mendongak menatap Kouya seolah sedang mencari kepastian.


"Aku juga ingin melihat dan mewujudkan impian Kouya-kun bersama-sama."


Kemudian, seolah sempat merasa ragu sejenak, ia menambahkan kalimatnya.


"Ini adalah perasaanku yang sesungguhnya, tanpa ada maksud tersembunyi apa pun."


Hanya dengan mengucapkan kalimat itu, gadis asal Kyoto tersebut langsung melepaskan genggaman tangannya. Kemudian, demi menyembunyikan rasa malunya, ia mulai menyesap secangkir teh di tangannya.


"......Apakah boleh, kalau aku mulai bergantung dan bermanja kepadamu?"


"Boleh, kok. Jangan sungkan-sungkan," jawab Kiyoko sembari mengangguk menikmati tehnya.


Jika dia berkata demikian, maka sesuai dengan perkataannya, Kouya memutuskan untuk menerima kebaikan tersebut dan mulai bergantung kepadanya. Namun, demi membuat Kiyoko bisa tetap tinggal di sini, masih ada satu hal yang tersisa yang harus ia selesaikan.


Kouya mengembuskan napas panjang lalu mengambil ponsel pintarnya.


"......Tapi, urusan dan kepentinganku ini kan sama sekali tidak ada hubungannya dengan adikmu."


"Marika tinggal mewarisi penginapan itu saja, kok. Ada banyak karyawan yang mendukungnya di sana, tahu. Itu pasti karena mereka sudah melihat sendiri bagaimana kerja keras Marika selama ini."


Sembari mendengarkan cerita Kiyoko, Kouya mulai mencari nomor telepon yang baru saja ia dapatkan dari Marika di dalam daftar kontak ponsel pintarnya.


"Terkadang, hal seperti ini akan lebih mudah dibicarakan jika melalui pihak ketiga, jadi biar aku saja yang meneleponnya."


Bahkan sebelum Kiyoko sempat memberikan respons, Kouya sudah menekan ikon berlambang gagang telepon di layarnya.


"Kouya-kun, kamu ini benar-benar orang yang suka mencampuri urusan orang lain ya......" gumam Kiyoko dengan nada sedikit merajuk.


————Tentu saja. Ini adalah urusan internal keluarga orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.


Hubungan di antara kedua saudara perempuan itu sebenarnya tidak bisa dibilang rusak parah. Di depan matanya saat ini, hanya ada sepasang kakak-beradik yang memiliki jarak hubungan yang terasa begitu nyata sekaligus canggung.


Seperti yang dikatakan Kiyoko, Kouya sangat sadar bahwa dirinya memang sedang bertindak sok ikut campur. Meskipun hal itu sudah menjadi bagian dari sifat dasarnya, namun ada alasan lain yang jauh lebih mendasar di balik tindakannya ini.


"......Soalnya kalau Kiyoko-san sampai dibawa pulang, aku sendiri yang bakal kesusahan," bisik sang pemuda dengan suara yang teramat pelan, hingga tidak sampai terdengar oleh Kiyoko yang berada di dekatnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close