Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 8
Selamat Tinggal kepada Gadis di Hari Musim Panas Itu
1
"Tempat ini tinggi sekali, ya!"
Shizukuishi Marika melontarkan sebuah kesan yang terdengar kekanak-kanakan. Namun, mengingat dia adalah seorang siswi kelas 1 SMP yang berusia 13 tahun dan baru saja lulus dari bangku sekolah dasar tahun lalu, sebenarnya sama sekali tidak ada yang aneh jika ia melontarkan kesan yang sederhana khas anak-anak seperti itu.
Ketika Torame Kouya datang mengunjungi Marika ke hotelnya, gadis itu berkata bahwa mumpung sudah telanjur sampai di sini, ia ingin pergi berjalan-jalan melihat pemandangan kota Tokyo. Karena alasan itulah, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat yang paling mudah terpikirkan, yaitu Skytree.
Tokyo Skytree, sebuah bangunan berbentuk menara setinggi 634 meter yang berdiri di Distrik Sumida, Tokyo, dan sudah sangat terkenal seantero jagat sebagai menara pemancar sekaligus fasilitas komersial dengan dek observasi yang merepresentasikan Jepang.
Kouya berjalan menemani gadis yang datang dari Kyoto itu menyusuri koridor observasi berdinding kaca menuju lantai 450 Skytree. Sembari melangkah di sepanjang koridor observasi, Marika mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kota Tokyo dengan perasaan campur aduk antara kagum dan sedikit ngeri.
"Apakah menyenangkan?" tanya Kouya mencoba memastikan.
Gadis yang sedari tadi menempel di jendela observasi itu langsung membalikkan badannya menatap sang pemuda asli kelahiran Asakusa tersebut.
"Iya! Di Kyoto tidak ada tempat yang setinggi ini. Ke mana pun saya memandang, sejauh mata memandang hanya ada pemandangan kota. Tapi, saya malah jadi bingung harus melihat ke arah mana."
"Tempat seperti ini kan fungsinya bukan untuk melihat satu titik objek tertentu secara spesifik, tapi untuk dinikmati dengan cara melihat pemandangan kota secara menyeluruh dengan santai."
"Kalau rumah Kouya-san sendiri ada di sebelah mana?"
"Di sebelah bawah sana," jawab Kouya dengan nada malas sembari menunjuk ke arah bawah kaki Marika menggunakan dagunya.
Marika langsung menatap tajam ke arah lantai bawah dari koridor observasi. Sambil menyipitkan matanya, gadis itu mencoba mencari keberadaan kedai kopi tempat kakaknya tinggal, namun tampaknya kemampuan daya pandang matanya tidak cukup kuat untuk menemukan tempat tersebut dari ketinggian ini.
Kouya menyandarkan tubuhnya ke dinding menara, lalu melemparkan pertanyaan kepada adik perempuan dari gadis yang tinggal serumah dengannya itu.
"Tadi, alasan kenapa kamu sampai datang ke Tokyo itu untuk apa, ya?"
"Untuk membuat Nee-san pulang," jawab putri kedua dari penginapan tradisional legendaris itu dengan cepat, sambil tetap menempel pada jendela observasi.
Haaah... Kouya mengembuskan napas panjang dengan sengaja untuk menunjukkan kekesalannya.
"Maksudmu, kamu mau menyuruh Kiyoko-san pindah sekolah lagi padahal dia baru 4 bulan di sini?"
"Kalau dia bisa bersabar menghadapi rumitnya prosedur administrasi, hal itu seharusnya tidak menjadi masalah, kan?"
"Hubungan antarmanusia itu bukan masalah prosedur administrasi, tahu. Dalam waktu 4 bulan, dia pasti sudah punya satu atau dua orang teman di sini......——"
Kalimat Kouya mendadak terhenti di tengah jalan.
Pada detik itu juga, bayangan sosok Shiga Meika mendadak melintas di dalam benaknya.
Belakangan ini, Kiyoko dan Meika memang sering mengobrol bersama, tapi apakah hubungan mereka berdua itu sudah bisa disebut sebagai teman?
Tidak, tampaknya belum bisa disebut teman.
"Mungkin waktu 4 bulan belum cukup untuk menyebutnya sebagai teman, tapi setidaknya sudah ada rasa saling percaya yang terbangun di antara mereka. Menyuruhnya melepaskan hal itu begitu saja bukankah terdengar sangat tidak adil?"
Alhasil, Kouya pun merevisi ungkapan kata 'teman' yang ia ucapkan sebelumnya. Marika yang sedari tadi menempel di jendela kini membalikkan badan menghadap Kouya.
"Pihak yang membutuhkan Nee-san adalah “Suimeisou”. Bukan orang-orang di Asakusa."
"......Tapi aku membutuhkannya, kok. Lagipula, bukankah kamu juga sama-sama dibutuhkan oleh orang-orang di “Suimeisou”?"
"............"
Mendengar perkataan Kouya, Marika seketika bungkam seribu bahasa. Desas-desus mengenai konflik perebutan posisi penerus yang beredar di masyarakat pasti sedang terlintas di dalam benak gadis itu.
"Apakah kamu sendiri tidak punya keinginan untuk mewarisi penginapan itu?"
Mendapat pertanyaan dari Kouya, Marika sedikit menundukkan kepalanya.
"......Saya adalah putri kedua."
"Membuat tingkatan hierarki hanya berdasarkan urutan kelahiran itu adalah tradisi kuno yang sudah usang."
"Kyoto adalah daerah yang memiliki keterikatan kuat dengan tradisi-tradisi kuno. Karena tempat itu adalah kota budaya kuno."
"Kenapa kamu tidak berpikir kalau dirimu sendirilah yang jauh lebih pantas untuk menjadi okami?"
"............"
Marika tidak menjawab. Bukannya ia tidak memiliki jawaban di dalam hatinya, melainkan ia tampaknya memang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Kouya tersebut.
"Kamu ini... sebenarnya punya semacam rasa bersalah yang aneh terhadap Kiyoko-san, kan?"
Tepat saat Kouya melayangkan tuduhan menohok itu, Marika langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Keheningan kembali melanda di antara mereka. Di samping mereka, sepasang kakak beradik kecil yang membawa gelas jus tampak berjalan melintas sambil bersenda gurau dengan ceria.
Setelah terjeda beberapa saat, Marika akhirnya membuka suara secara lirih.
"Saya rasa, Nee-san pergi meninggalkan Kyoto adalah karena kesalahan saya."
Begitulah pengakuan yang dilontarkan oleh Shizukuishi Marika. Kouya menatap tajam ke arah gadis itu.
"Bagaimana kalau aku bilang 'tidak mungkin hal seperti itu terjadi'?"
"Tidak perlu, Anda tidak usah bersikap tenggang rasa kepada saya. Kemungkinan besar ini adalah sebuah fakta. Jika saya tidak ada, Nee-san pasti tidak akan pergi meninggalkan Kyoto. Kouya-san pun setidaknya pasti bisa membayangkan hal sejauh itu, kan?"
"Bagaimana ya......"
"Saya rasa Nee-san hanya sedang tahu diri dan mengalah. Kepada saya, yang merupakan putri kandung Ayah yang sebenarnya. Penginapan itu pada dasarnya adalah milik Ayah sejak awal. Karena itulah, Nee-san berpikir bahwa dirinya yang bukan merupakan putri kandung Ayah tidak seharusnya menjadi pemilik dari tempat itu. Pasti begitu."
Seorang pemuda dari Asakusa dan seorang adik perempuan yang datang dari Kyoto——di bawah kaki mereka berdua, pemandangan kota tampak membentang luas layaknya sebuah miniatur maket.
"Oleh karena itu, Nee-san pergi adalah karena kesalahan saya," tutur Marika, menumpahkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya.
Shizukuishi Kiyoko dan Shizukuishi Marika.
Meskipun keduanya sama sekali tidak saling membenci, mereka adalah sepasang kakak beradik yang memiliki jarak hubungan yang terasa canggung.
Sret, sret! Kouya mengacak-acak rambut kepalanya sendiri dengan gusar.
"Itu kan bukan sesuatu yang diucapkan langsung oleh Kiyoko-san. Itu hanyalah spekulasi sepihak dari dirimu saja, kan?"
"Tetapi kenyataannya dia tetap pergi meninggalkan rumah. Itu adalah sebuah fakta. Dia pergi pasti karena memiliki sebuah alasan. ——Jika bukan karena itu, apakah Kouya-san bisa menjelaskan alasan lain mengapa Nee-san sampai pergi meninggalkan Kyoto?"
"Entahlah."
Mendapat pertanyaan balik dari Marika, Kouya hanya memberikan jawaban yang samar dan menggantung. Kemungkinan besar spekulasi gadis itu memang tidak sepenuhnya salah, namun tidak 100% benar juga.
Kiyoko tidak menginginkan adanya perselisihan yang tidak berguna dengan adik tirinya. Itu adalah sebuah fakta. Namun, pasti ada alasan lain yang mendasari mengapa Kiyoko sampai nekat datang ke Tokyo.
"Lalu, kenapa kamu begitu menginginkan agar Kiyoko-san yang mewarisi penginapan itu? Apakah ada alasan lain di luar fakta bahwa dia adalah putri sulung?"
"Nee-san sudah berjuang dan merasakan kepahitan hidup jauh lebih lama daripada saya," jawab Marika seketika.
Mendengar poin yang ditunjukkan itu, Kouya juga menjadi serba salah untuk meresponsnya.
"Ya, itu kan karena rentang waktu usia kelahiran kalian berdua memang berbeda."
"Lagipula——"
"Lagipula apa?"
"――――"
Shizukuishi Marika tampak terdiam sejenak untuk mencari untaian kata yang tepat. Dan setelah berhasil menemukan kata yang paling pas, gadis itu mengangguk mantap sekali.
"Saya rasa pekerjaan itu adalah passion yang paling tepat untuk Nee-san."
"Passion, ya......"
Seperti yang dikatakan sang adik, sosok Shizukuishi Kiyoko memang sangat cocok jika bekerja di bidang industri pelayanan yang menangani pelanggan sendirian.
"Yah, kalau dibilang cocok bekerja melayani pelanggan sih memang benar, tapi pekerjaannya kan tidak harus melulu di penginapan tradisional juga——"
"Mari kita akhiri pembicaraan mengenai masalah ini sampai di sini saja. Ini bukan sesuatu yang pantas untuk diceritakan kepada orang luar."
Sembari memotong ucapan Kouya, Marika langsung menarik ujung lengan baju pemuda itu.
"Daripada membahas hal itu, Kouya-san. Saya ingin membeli beberapa oleh-oleh sebelum pulang. Maukah Anda menemani saya?"
Karena pembicaraan diputus secara sepihak dan dipaksa berakhir, pada akhirnya pembahasan mengenai Kiyoko pun selesai sampai di sana.
Setelah itu, Torame Kouya terpaksa harus menemani Shizukuishi Marika berjalan-jalan melihat-lihat tempat wisata di Skytree.
Hari itu, langit biru yang cerah tampak membentang luas di atas langit Asakusa, dihiasi oleh gumpalan awan putih yang berarak. Berbanding terbalik dengan awan mendung yang sedang menyelimuti hubungan sepasang kakak beradik tersebut, cuaca hari itu terasa begitu cerah, seolah sedang mengejek situasi mereka.
2
"—Terus, setelah beli kue Hato Sable buat oleh-oleh, kami jalan-jalan santai di mal terdekat. Kebetulan di sana lagi ada pertunjukan gratis dari grup idola bawah tanah yang misterius, jadi kami tonton sampai selesai, dan tahu-tahu hari sudah malam."
Di akhir musim panas, di dalam kedai kopi “Cassandra”.
Sembari mengisi giliran kerja paruh waktu terakhirnya di musim panas ini saat kakeknya pergi ke rumah sakit, Kouya menceritakan kronologi kejadian hari itu kepada Kiyoko.
Kiyoko yang sedang sibuk meniriskan air dari gelas-gelas yang selesai dicuci tampak melemparkan tatapan mata yang dingin.
"Oh, begitu ya. Intinya hari itu berakhir dengan damai tanpa ada insiden apa-apa, kan?"
"Ya memang begitu, sih. Tapi itu hari yang tidak buruk, kok."
"Kalau kamu senang bisa menikmati waktu bersama Marika, ya baguslah kalau begitu. (Arti tersirat: Kamu cuma melakukan hal yang tidak perlu, kan?)"
"Tidak, maksudku, kalau tidak ada kesempatan seperti ini, aku juga tidak akan pernah pergi ke Skytree, kan? Jadi hitung-hitung ini bagus buat bahan obrolan, ya begitulah......"
"Lagian idola di mal itu apa coba?"
"Itu grup idola bawah tanah yang namanya bahkan belum pernah kudengar sama sekali. Padahal mereka mengadakan pertunjukan gratis, tapi penontonnya sepi banget. Kalau kami berdua sampai ikutan pergi dari sana, rasanya kan tidak tega melihat mereka."
"Jadi karena alasan itu kamu menonton pertunjukannya sampai selesai?"
"Iya. Kasihan kalau penontonnya makin berkurang."
"Wah, beruntung sekali ya mereka bisa didukung oleh Kouya-kun, semoga saja nanti mereka bisa sukses dan terkenal. (Arti tersirat: Tolong sadar diri sedikit, dong)"
"Tapi performa mereka aslinya bagus, lho! Aku dan Marika bahkan sempat mengobrol, kalau nanti mereka sampai sukses, kita bisa pamer kalau kita pernah menonton pertunjukan mereka saat penontonnya masih sepi banget."
"Cerita yang bagus, ya. (Arti tersirat: Aku sama sekali tidak tertarik)"
Sambil merespons dengan ketus, Kiyoko mulai mengelap gelas yang baru selesai dicucinya.
"Tapi, terima kasih, ya. Sudah mau menemani Marika menggantikanku. (Arti tersirat: Walaupun tindakanmu itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah)"
Kemudian, seulas senyuman bernada sindiran yang dipaksakan kembali terpasang di wajah Kiyoko.
Sembari memalingkan pandangan matanya, Kouya tetap mencoba berusaha keras untuk memperbaiki hubungan di antara sepasang kakak beradik tersebut.
"Ah, iya. Adikmu itu sebenarnya sama sekali bukan anak yang buruk, kok."
"......Memangnya sejak awal siapa yang bilang kalau Marika itu anak yang buruk?"
"Bukan begitu, tapi dari cara kalian berinteraksi, kelihatan jelas kalau ada jurang pemisah di antara kalian berdua, kan?"
"Tolong jangan seenaknya membuat keluargaku sendiri terkesan seperti tokoh jahat."
"Tapi atmosfer canggung yang menyelimuti kalian berdua itu nyata, kan? Itu benar-benar gambaran nyata dari perasaan sungkan dan jarak hubungan."
"Anak itu hanya sedang berasumsi sepihak kalau aku—yang tidak memiliki hubungan darah dengan Ayah—merasa sungkan terhadap keluarga Shizukuishi."
"Oh. Ternyata kamu paham betul, ya."
"Tentu saja aku paham. Mana mungkin hal yang bisa dipikirkan oleh orang asing seperti Kouya-kun, tidak bisa dipahami oleh aku yang merupakan kakak kandungnya."
Secara mengejutkan, Kiyoko memotong argumen Kouya dengan tegas.
Kouya berpikir bahwa karena mereka berdua sebenarnya sama-sama paham tapi memilih untuk tidak mengutarakannya secara jujur, masalahnya justru malah menjadi semakin rumit. Namun, atmosfer yang dipancarkan oleh Kiyoko saat ini seolah menegaskan agar Kouya jangan ikut campur dalam urusan internal orang lain.
Akan tetapi, tempat ini adalah Asakusa, sebuah kota yang penuh dengan kehangatan dan rasa kepedulian antarmanusia.
Bagi Kouya, nasi sudah telanjur menjadi bubur dan ia sudah telanjur basah dalam masalah ini. Ia tidak mungkin mundur begitu saja di tengah jalan. Anggap saja ia sedang mengajukan diri untuk ikut campur ke dalam lingkaran hubungan manusia yang rumit ini.
"Terlepas dari masalah saudara tiri atau status anak sulung, alasan Marika menyuruhmu pulang ke Kyoto adalah karena dia menganggapmu sangat berbakat untuk menjadi seorang okami."
Begitu Kouya merangkum inti dari argumen yang disampaikan oleh Marika, Kiyoko tampak sedikit terbungkam dalam diam.
Tanpa memedulikannya, Kouya terus berbicara.
"Anak itu bahkan bilang kalau pekerjaan di penginapan tradisional adalah 'passion' milik Shizukuishi Kiyoko."
"............"
Untuk beberapa saat, Kiyoko tetap bertahan dalam keheningannya. Gadis itu pasti sadar betul bahwa dirinya memang memiliki bakat di bidang industri pelayanan pelanggan.
Setelah terjeda beberapa saat, Kiyoko akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Anak itu... dia benar-benar salah paham terhadapku."
"Salah paham dalam hal apa?"
"Dia mengira kalau aku menarik diri dari rumah demi kebaikan penginapan tradisional itu. Walaupun bagiku “Suimeisou” adalah tempat yang sangat penting, aku pergi meninggalkan Kyoto bukan karena alasan tersebut."
"Nah, kalau soal itu, sebenarnya aku juga ingin menanyakannya sejak awal. Kenapa sih kamu mendadak nekat datang ke Tokyo?"
Kouya menatap lurus ke arah Kiyoko, melemparkan rasa penasaran dan pertanyaan polos yang selama ini terendam di dalam lubuk hatinya.
"......Kenapa, ya. Percuma saja kalau aku mengatakannya."
"Hah?"
"Habisnya, Kouya-kun sendiri sama sekali tidak mengingatnya, kan?"
Tatapan mata dingin Kiyoko yang tampak merajuk seketika menghunjam tepat ke arah Kouya.
"Eh?"
————Lho, gawat, apakah aku baru saja menginjak ranjau?
Kepada sang pemuda yang mendadak didera rasa panik itu, Kiyoko hanya memberikan sekilas tatapan mata yang dingin.
"Ya sudahlah, lupakan saja."
"Kalau dibilang tidak apa-apa sih ya sudahlah...... Tapi, jangan biarkan hubunganmu dengan adikmu yang jauh-jauh datang dari Kyoto itu berakhir dalam kondisi canggung saat berpisah nanti, dong. Kan kasihan uang tiket kereta Shinkansen-nya jadi terbuang sia-sia."
"Makanya, aku sudah bilang kalau hubungan kami itu tidak sedang renggang atau canggung."
"Kalau begitu aku ralat kalimatku. Selesaikan 'kesalahpahaman tipis' di antara kalian berdua. Masalah seperti itu kan harusnya bisa selesai dengan cepat jika dibicarakan."
"......Lalu aku harus bagaimana?"
"Dia berpikir kalau kakaknya adalah orang yang paling berhak mewarisi rumah. Kamu juga harus mengutarakan isi hatimu yang sesungguhnya kepada adikmu secara jujur, Kiyoko-san."
"Kami berdua justru sengaja memilih untuk tidak saling mengutarakan isi hati yang sesungguhnya."
"Hubungan saudara yang aneh dan menyebalkan......"
Melihat ekspresi wajah Kouya yang tampak berkerut masai, Kiyoko hanya meresponsnya dengan mengangkat kedua bahunya pasrah.
"Ini adalah bentuk pertahanan diri. Bukankah lebih baik menghindari konflik yang tidak berguna?"
"Itu memang keputusan yang cerdas, tapi sebenarnya sangat bodoh. Alhasil, kalian tidak akan pernah bisa saling memahami satu sama lain."
"Kalau kamu sampai bicara sejauh itu, memangnya kalau kami saling mengutarakan isi hati yang sesungguhnya lalu terjadi sesuatu yang buruk setelahnya, kamu mau ikut bertanggung jawab?"
Mendengar nada bicara yang dilontarkan oleh Kiyoko, Kouya mendadak merasa tersulut emosi, dan—
"Katakan saja! Jika terjadi sesuatu setelahnya, aku yang akan bertanggung jawab!"
Sambil menepis segala keraguan, Kouya akhirnya balas berseru dengan kelabakan.
————Tepat pada detik ketika kalimat itu meluncur dari mulutnya, ia mendadak didera perasaan déjà vu yang teramat sangat.
Ia yakin betul bahwa dirinya pernah melontarkan untaian kalimat yang mirip seperti ini kepada gadis ini di masa lalu. Memori masa lalu itu pun seketika bangkit dan membayang kembali di dalam benak Torame Kouya.
Suara riuh jangkrik yang memekakkan telinga dan gemercik aliran air Sungai Kamo. Seorang bocah laki-laki yang datang jauh-jauh dari Tokyo, berkata kepada seorang anak perempuan di sampingnya tanpa membalikkan badan.
————Kalau kamu sudah merasa lelah, tidak apa-apa kalau kamu mau lari, kok.
Dan sang diri di masa kecilnya dulu, seharusnya melanjutkan kalimat itu seperti ini:
"Kalau terjadi sesuatu setelahnya, aku yang akan bertanggung jawab, jadi datanglah ke tempatku!"
Bocah laki-laki itu mengucapkannya dengan penuh rasa percaya diri.
"Ah."
Begitu memori itu teringat kembali, Kouya seketika berdiri terpaku dalam keheningan yang kosong.
Sampai detik ini, ia benar-benar telah melupakan janji tersebut sepenuhnya. Jika dia melupakannya, maka urusan tanggung jawab atau apa pun itu menjadi tidak ada gunanya lagi. Melihat sang pemuda yang sedang didera rasa syok, Kiyoko tampak mencondongkan tubuhnya untuk mengintip wajah Kouya dengan penuh rasa penasaran.
"Kamu kenapa, Kouya-kun?"
"Eh, tidak. Aku merasa sepertinya dulu sekali aku pernah mengucapkan kalimat yang mirip seperti ini......——"
"Ah......"
Seolah-olah baru saja mendapatkan kepastian dan pencerahan, gadis asal Kyoto yang merupakan teman masa kecilnya itu mengangguk mantap sekali,
"Ternyata kamu baru mengingatnya sekarang, ya. (Arti tersirat: Kamu lambat sekali, bodoh)"
Kiyoko dengan nada bicara merajuk, seolah sedang menyalahkan dirinya.
Sebuah janji lama di hari musim panas yang telah lama berlalu. Memori itu bangkit kembali, dan sang pemuda seketika jatuh ke dalam kondisi kepanikan tingkat rendah.
Diriku 10 tahun yang lalu sudah bilang akan bertanggung jawab kepada Kiyoko-san. Aku memang benar-benar mengucapkannya. ——Eh, tapi tunggu dulu. Sebenarnya tanggung jawab yang dimaksud itu apa, sih?
Secara konkret, bertanggung jawab itu harus melakukan apa? Apakah memikul jalan hidup orang lain itu yang dinamakan tanggung jawab? Secara fisik? Tapi kalau begitu, itu artinya aku harus bertanggung jawab atas seluruh kehidupan Kiyoko-san, kan. Aku harus bagaimana, coba! Kenapa juga diriku sepuluh tahun yang lalu sampai nekat mengucapkan kalimat seperti ini, sih. Bodoh sekali.
Terus ya, jangan-jangan... Kiyoko-san nekat datang ke Tokyo ini karena menganggap serius ucapan diriku 10 tahun yang lalu? Bukankah ini gawat banget? Aku harus bagaimana menghadapi ini!?
Aliran deras dari pergolakan jalan pikiran yang menggelegar itu melintas dengan cepat di dalam benak sang pemuda.
Alhasil, sirkuit sistem berpikir Torame Kouya seketika mengalami overheat, dan ia mendadak didera dorongan kuat untuk merosot berjongkok sembari memegangi kepalanya yang pening.
Sembari menahan diri mati-matian agar tidak sampai memegangi kepalanya, Kouya mengarahkan pandangan matanya ke arah Kiyoko dengan sangat berhati-hati.
"Kouya-kun......!"
Di depan matanya saat ini, sosok gadis itu tampak sedang memasang ekspresi wajah yang secara terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya sedang menantikan sesuatu. Kiyoko kini sudah meninggalkan Kyoto, dan sekarang berada di tempat ini.
Sesuai dengan janji di masa kecil mereka dulu, gadis itu benar-benar sudah datang ke tempatnya.
Intinya, untuk saat ini, untuk saat ini saja! Mari kita kesampingkan dulu pembahasan mengenai janji dan tanggung jawab ini.
Mari kita alihkan pembicaraan, dan kembalikan topik obrolan yang sempat melenceng jauh ini ke jalur yang semestinya! Pertama-tama, masalah dengan sang adik harus segera diselesaikan terlebih dahulu.
Ehem! Kouya sengaja berdeham dengan keras untuk mencairkan suasana.
"Pokoknya, pokoknya! Marika mengira kalau Kakaknya pergi meninggalkan rumah adalah karena kesalahannya sendiri."
"Terus?"
"Luruskan kesalahpahaman itu."
"Caranya?"
"Utarakan alasan asli kenapa Kiyoko-san begitu ingin tinggal di Tokyo secara jujur kepadanya!"
"............"
"Kenapa kamu malah memalingkan muka, sih?"
"......Habisnya, memalukan, tahu," gumam Kiyoko dengan suara yang teramat lirih.
"Hah?"
Kouya mengerjipkan matanya kebingungan.
Kiyoko memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu berusaha keras untuk membuat alasan pembelaan diri.
"Kalau aku menceritakan kenyataan yang sebenarnya, lalu adik kandungku sendiri sampai mengira kalau kakaknya ini adalah tipe orang yang gampang hanyut oleh suasana romansa, itu kan rasanya memalukan sekali!"
"Memangnya kenapa, tidak masalah, kan. Apa salahnya kalau kamu berbicara jujur mengenai kenyataan yang sebenarnya?"
"Di dalam benak Marika, aku ini bukan sosok kakak perempuan yang suka membicarakan hal-hal yang tidak berbobot seperti itu, tahu."
"Mana aku tahu soal urusan begitu!"
"Ini adalah bagian dari image strategy."
"Mau strategi citra atau apa pun itu, tidak ada gunanya jika berhadapan dengan adik kandung sendiri, tahu. Cepat pergi dan bicaralah secara jujur kepadanya!"
"Tapi,"
"Tidak ada tapi-tapi! Aku akan ikut mengawasimu dari sini nanti."
"Jangan, dong. Malah bikin makin malu, tahu! Kalau ada Kouya-kun di sana, masalah yang harusnya bisa selesai dengan baik malah bakal jadi makin runyam."
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan melihatnya, jadi yang penting kamu harus bicara jujur kepadanya, ya!"
Tanpa menerima bantahan lebih lanjut, Kouya langsung menegaskan argumennya sembari mengambil ponsel pintar miliknya, lalu menekan nomor telepon Marika.
"Biar aku yang memanggilnya ke sini, jadi kamu harus berbicara jujur kepadanya nanti. Mengerti, kan!"
"Jangan mengatakannya setelah kamu telanjur menekan tombol teleponnya, dong. ......Kouya-kun ini benar-benar orang yang suka ikut campur, ya,"
Gumam Shizukuishi Kiyoko sembari menggelengkan kepalanya pasrah di samping Kouya yang sedang menekan tombol panggilan, sebelum akhirnya ia menambahkan satu kalimat kecil dengan lirih:
"——......Lagipula, kalau soal sifatmu yang seperti itu, aku sih sudah tahu sejak dulu sekali."
3
————Hari terakhir di masa liburan musim panas, di dalam kedai kopi “Cassandra”.
Di salah satu sudut kursi dekat jendela di kedai kopi yang bernuansa cukup modis dan estetis di pinggiran daerah Asakusa tersebut, seorang gadis SMP tampak sedang duduk bersila dengan raut wajah yang memancarkan ketegangan yang teramat sangat.
Nama gadis itu adalah Shizukuishi Marika.
Gadis yang sedari pagi berada di hotel tempatnya menginap itu langsung bergegas datang ke kedai kopi tempat kakaknya menumpang hidup setelah menerima panggilan dari sang kakak.
Sambil menegakkan tulang punggungnya di kursi dekat jendela, gadis itu tampak sedang menanti kedatangan kakaknya dengan perasaan harap-harap cemas.
"Silakan,"
Sang master tua pemilik kedai kopi meletakkan sebuah parfait spesial super mewah yang dipenuhi beraneka ragam buah-buahan musim segar tepat di hadapan Marika.
"Eh? Tapi saya tidak memesan hidangan seperti ini......"
Dengan raut wajah yang tampak kebingungan, gadis itu mendongak menatap sang master tua.
"Ini servis gratis untukmu, kok," ucap Juro Torame—sang master tua—sembari tersenyum ramah, lalu melangkah kembali menuju ke bagian dalam kedai tanpa meninggalkan nota tagihan sama sekali.
"............"
Setelah sempat terdiam dan menatap tajam ke arah parfait mewah tersebut untuk beberapa saat, Marika akhirnya mengambil sebuah sendok perak yang ada di dekatnya, lalu menyendok es krim dari parfait tersebut.
Tepat di saat ia sedang menikmati es krim di dalam mulutnya dan hendak mengulurkan jari jemarinya ke arah buah ceri yang menjadi hiasan di atas parfait tersebut, sosok orang yang sedari tadi ia nanti-nantikan akhirnya datang menghampiri.
"Maaf ya sudah membuatmu menunggu."
Mendengar suara bernada familier yang teramat sangat ia rindukan itu terdengar di dekatnya, Marika langsung mendongakkan kepalanya.
"Nee-san."
Seorang gadis dengan rambut panjang yang usianya sedikit lebih tua darinya tampak sedang berdiri di sana dengan mengenakan pakaian khas musim panas. Gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Shizukuishi Kiyoko, kakak perempuan tiri dari pihak ibunya sendiri.
"Apakah boleh kalau aku ikut duduk di sini?"
"Ah, iya. Tentu saja boleh."
Entah mengapa, Marika memberikan anggukan kepalanya sembari didera perasaan gugup yang mendalam di hadapan kakak kandungnya sendiri. Kiyoko kemudian mengambil posisi duduk di kursi yang berada tepat di hadapan adiknya.
"............"
Setelah itu, keheningan yang mencekam seketika melanda di salah satu sudut kursi dekat jendela di dalam kedai kopi tersebut.
Baik sang kakak maupun sang adik, tidak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif untuk melontarkan untaian kalimat berikutnya.
Di tengah atmosfer kecanggungan yang melanda itu, Marika memilih untuk menikmati parfait di hadapannya secara perlahan sedikit demi sedikit. Dalam hati, ia merasa bahwa dirinya benar-benar harus berterima kasih kepada sang master tua yang sudah berbaik hati menyuguhkan parfait ini kepadanya.
Sepasang kakak beradik yang hanya terikat oleh separuh hubungan darah. Bukannya mereka saling membenci, hubungan di antara keduanya juga sebenarnya mengalir layaknya kakak beradik pada umumnya, namun ada sebuah jarak alami yang terasa begitu unik yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua selaku saudara perempuan.
——Dan hal itulah yang membentuk pondasi dari kualitas hubungan mereka berdua selama ini.
Marika yakin betul bahwa seandainya ia mencoba menjelaskan kualitas jarak hubungan yang teramat sangat unik ini kepada orang lain, esensinya pasti tidak akan pernah bisa tersampaikan dengan akurat.
Pihak yang akhirnya berinisiatif untuk memecah keheningan di antara mereka terlebih dahulu adalah sang kakak.
Sembari menarik napas dalam-dalam sekali, Shizukuishi Kiyoko kemudian melemparkan sebuah pertanyaan kepada adik perempuannya.
"Marika, menurutmu berapa tahun sih masa kedaluwarsa dari sebuah hubungan percintaan?"
Kiyoko melontarkan sebuah pertanyaan misterius yang sama sekali tidak pernah terduga sebelumnya oleh sang adik.
"............Hah?"
Mendapat pertanyaan yang sama sekali berada di luar perkiraannya dari sang kakak, Shizukuishi Marika secara refleks langsung menatap wajah kakaknya dua kali demi memastikan pendengarannya.
Akan tetapi, sang kakak—Shizukuishi Kiyoko—sama sekali tidak terlihat sedang menunjukkan gelagat ingin bercanda, melainkan ia sedang memasang ekspresi wajah yang teramat sangat serius.
"Anu...... itu, bukankah di dalam hubungan percintaan itu pada dasarnya tidak ada yang namanya masa kedaluwarsa......? Saya sendiri kurang tahu pasti, sih. Soalnya kalau pernikahan saja ada masa kedaluwarsanya, suami istri pasti bisa berujung bercerai begitu saja secara sepihak setelah masanya habis, kan......"
Meskipun dalam hati ia sempat membatin 'Untuk ukuran anak SMP, kenapa caraku berbicara terkesan sok tahu sekali ya', Marika tetap mencoba menyampaikan apa yang ada di dalam jalan pikirannya untuk saat ini.
"Benar juga ya," jawab sang kakak tampak terbenam dalam pikirannya sejenak.
"......Anu. Sebenarnya Nee-san ini sedang membicarakan tentang masalah apa, sih?"
Mendengar pertanyaan mendesak yang dilayangkan oleh adiknya yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi itu, sang kakak dengan raut wajah yang tampak sedikit sayu langsung menegaskan intinya secara blak-blakan.
"Maksudku adalah masalah bahwa kamulah yang harus mewarisi penginapan tradisional kita, Marika."
Melihat topik pembicaraan mengenai masa kedaluwarsa cinta mendadak melompat jauh berubah menjadi urusan suksesi warisan keluarga seperti itu, Marika yang didera kebingungan yang teramat sangat langsung mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Tidak, Nee-san lah orang yang jauh lebih berbakat dan cocok untuk melakukan pekerjaan itu."
Kiyoko menggelengkan kepalanya merespons perkataan sang adik.
"”Suimeisou” adalah tempat yang harus dan wajib diwarisi oleh Marika," tutur sang kakak menegaskan posisinya dengan sangat jelas.
"Tapi Nee-san——"
"Dengarkan aku baik-baik, Marika," ucap sang kakak memotong kalimat adiknya, lalu mulai membeberkan apa yang menjadi urusan pribadi dan isi hatinya yang sesungguhnya.
"Aku akan berbicara jujur kepadamu. Alasan aku ada di sini adalah karena aku memiliki orang yang aku sukai di kota ini."
"Ehー..."
"Aku datang jauh-jauh ke Tokyo ini karena memegang teguh dan memercayai sebuah janji sepihak yang pernah kubuat dengan orang tersebut dulu."
"Eh, maksud Nee-san... itu seperti istilah wanita yang nekat datang menyodorkan diri untuk menjadi istri? Nee-san yang melakukannya!? Ini benar-benar pertama kalinya bagi saya mendengar cerita seperti itu, lho."
"Ya karena aku memang baru menceritakannya sekarang."
"Saya bahkan baru pertama kali ini mendengar kalau Nee-san ternyata memiliki sebuah janji yang berkaitan dengan hubungan asmara. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hal itu, lho."
"Itu adalah cerita lama di masa lalu. Tapi, bukankah baru saja kamu sendiri yang bilang kalau di dalam hubungan percintaan itu tidak ada yang namanya masa kedaluwarsa, Marika?"
"Ahー... jangan-jangan, orang yang dimaksud itu adalah......"
Di dalam benak Marika, bayangan sosok cucu pemilik kedai kopi ini yang kemarin baru saja menemaninya berjalan-jalan melihat pemandangan di Skytree langsung melintas sebagai flashback.
Meskipun demikian, karena pengakuan dari kakaknya ini terasa teramat sangat mendadak, kemampuan berpikir Marika rasanya masih belum sanggup untuk mengejar dan mencerna situasi sepenuhnya.
"Bukan begitu, maksud saya itu... dia memang tidak terlihat sebagai orang yang jahat, sih. Tapi, kalau dipikir-pikir apakah dia benar-benar cocok bersanding dengan Nee-san ya...... Ah, tidak, ini bukan kapasitas saya untuk ikut campur atau berkomentar macam-macam, sih. Anu, tapi kalau dipikir-pikir, ternyata Nee-san itu tipe orang yang pola dasar tindakannya didasari oleh cara berpikir yang condong ke arah asmara seperti ini, ya......"
"Tolong jangan sebut aku berotak asmara seperti itu, dong."
"Ah, maafkan saya."
Mendapat tatapan mata tajam dari kakaknya, sang adik langsung menyampaikan alasan pembelaan diri dengan terbata-bata.
Haaah... Kiyoko mengembuskan napas panjang.
"Oleh karena itulah, aku ingin tetap tinggal di sini, dan aku juga memiliki hal yang ingin kuwujudkan di kota ini."
"Hal yang ingin Nee-san wujudkan itu... apa?" tanya Marika sembari mendongakkan kepalanya dengan sangat berhati-hati.
"Aku ingin mengelola dan menjalankan sebuah kedai bersama dengan orang tersebut," tutur sang kakak mulai membeberkan apa yang menjadi impian dan ambisi pribadinya dengan nada suara yang terdengar datar namun mantap.
"Aku punya rencana untuk menitipkan dan menjual kue-kue hasil buatanku sendiri di kedai ini nanti. Dan seandainya respons dan reputasinya bagus, aku juga berpikir untuk memasukkan produk kue buatanku tersebut ke “Suimeisou”."
"............"
"Kamu kenapa, Marika?"
"Nee-san, apakah Nee-san benar-benar serius saat mengatakan semua hal itu? Atau sebenarnya cuma sedang bercanda?"
Sang adik mencoba mencari kepastian sembari memasang ekspresi wajah yang teramat sangat serius.
Sang kakak menyibakkan sehelai rambut yang jatuh di bahunya dengan ujung jari, lalu tersenyum.
"Aku tidak sedang bercanda, kok. Walaupun perkara aku seserius ini dengan apakah usahaku nanti bakal sukses atau tidak itu adalah dua hal yang berbeda, sih."
"Ya...... benar juga, sih."
"Benar, kan? Semua orang pasti berpikir ingin sukses, tapi tidak semua orang bisa benar-benar meraih kesuksesan itu. Aku pun setidaknya paham hal sementah itu. ——Tapi, aku benar-benar ingin melihat dan mewujudkan impian itu bersama dengan Kouya-kun."
"Aku... benar-benar baru pertama kali ini mendengar cerita seperti itu......"
"Ya karena aku memang baru menceritakannya sekarang."
"......Kenapa Nee-san tidak pernah menceritakannya kepadaku sebelumnya?"
"Kenapa, ya. Habisnya memalukan, tahu. Banyak hal yang bikin gengsi."
"Kalau Nee-san yang melakukannya, Nee-san pasti akan sukses!"
Gebrak! Shizukuishi Marika memukul meja pelan sembari menegaskan argumennya.
"Marika, kamu kenapa mendadak jadi begini......?"
Kepada sang kakak yang dibuat terkejut karena adiknya mendadak menaikkan volume suara, sang adik justru semakin mencondongkan tubuhnya ke depan dan terus bersikeras.
"Nee-san pasti akan sukses. Karena Nee-san sudah melewati masa-masa paling hancur dan paling melelahkan saat keluarga kita terlilit utang di “Suimeisou” bersama dengan Ayah dan Ibu! Jika dibandingkan dengan tumpukan utang luar biasa milik keluarga kita dulu, meluluhkan hati pria idaman lalu mengelola sebuah toko kecil itu sama sekali bukan apa-apa!" tutur Shizukuishi Marika penuh semangat.
Kemudian, setelah terjeda beberapa saat, ia menurunkan kembali tensi bicaranya dan menambahkan:
"Yah, mumpung...... seandainya skenario terburuknya tidak berjalan lancar pun, kurasa tidak akan ada masalah selama Nee-san menjalani hidup dengan sederhana di kediaman keluarga Torame."
"Kamu mendadak menurunkan ekspektasimu ya, Marika."
"Aku cuma sedang memikirkan kemungkinan seandainya rencanamu gagal, kok. ——......Tapi, aku benar-benar ingin Nee-san bisa hidup bahagia. Sungguh."
"Terima kasih, ya. Aku sangat senang kamu mau mendoakanku seperti itu."
Kiyoko sedikit menurunkan pandangan matanya, lalu kembali menatap ke arah sang adik.
"Karena situasinya sudah jelas seperti ini, jadi kamulah yang harus mewarisi “Suimeisou”, Marika. Buat tempat itu menjadi jauh lebih besar dari yang sekarang, lalu kalau nanti perusahaannya sudah melantai di bursa saham, bagilah beberapa lembar sahamnya kepadaku, ya."
"Ah, Nee-san sudah mulai berkhayal menghitung keuntungan sebelum usahanya berjalan."
““toratanu” itu maksudnya apa?”
“Itu dari pepatah toranu tanuki no kawa zanyou (menghitung kulit rakun yang belum ditangkap).”
“Marika, kamu juga nanti harus bantu ngurus penginapan, jadi yang rajin ya.”
“Ah, iya.”
Dengan punggung ditegakkan, Shizukuishi Marika secara refleks memperbaiki posturnya. Melihat adiknya seperti itu, Kiyoko mengarahkan sendok perak yang entah dia ambil sendiri ke arahnya.
“Itu, boleh aku minta setengahnya?”
“Eh?”
Marika sempat bengong, lalu sadar kalau yang dimaksud adalah parfait-nya, dan buru-buru menyodorkan gelasnya ke sang kakak.
“Ah, iya. Tentu saja. Silakan.”
“Makasih. Dari tadi aku lihat kelihatannya enak, tapi nggak sempat makan.”
“...Bukannya bisa bikin sendiri? Katanya kamu kerja paruh waktu.”
“Lebih enak kalau dibuatkan orang lain.”
“Ngerti sih perasaan itu.”
Sebagai anak dari keluarga yang bergerak di bidang pelayanan, ia mengangguk dalam-dalam, lalu hanya memperhatikan kakaknya yang makan parfait dengan wajah puas.
――――Pada akhirnya, kakak beradik itu tidak lagi membicarakan soal keluarga.
Setelah itu, percakapan mereka hanya hal-hal ringan tanpa makna khusus. Namun bagi mereka berdua, itu sudah cukup.
4
“Nanti aku kabari begitu sampai di rumah. — Kalau begitu, Nee-san.”
Bel keberangkatan berbunyi, dan Shizukuishi Marika yang memanggul ransel besar membungkuk kecil.
“Mampir lagi ya. Lain kali kasih kabar dulu. Aku juga bisa jemput ke stasiun kok.”
Marika menoleh ke pemuda di sebelah kakaknya dan berkata,
“Kouya-san, tolong jaga kakakku ya. Sungguh, ya.”
“Ah, iya.”
Kouya menjawab samar, dan entah kenapa merasa seperti dilototi sedikit oleh Marika—mungkin cuma perasaannya saja.
“Hati-hati di jalan ya.”
Shizukuishi Kiyoko melambaikan tangan ke arah adiknya di dalam kereta, dan pintu Shinkansen pun menutup, memisahkan mereka.
Kereta mulai bergerak perlahan.
Hari terakhir liburan musim panas, di Stasiun Shinagawa. Kiyoko dan Kouya mengantar Marika yang akan kembali ke Kyoto dengan Nozomi 393 tujuan Shin-Osaka.
Saat kereta sudah tak terlihat lagi, keduanya berbalik dan mulai berjalan santai menuju eskalator di dalam stasiun.
“Bayar 150 yen cuma buat antar sampai peron tuh curang nggak sih?”
“Kita masuk tanpa diminta sampai peron, ya wajar bayar tiket masuk.”
“Aku sih gak mau. Kayak pemerintah daerah pelit yang narik biaya cuma buat lihat kembang api.”
“Itu kan sumber pendapatan penting.”
“Harusnya kuil-kuil aja yang bayar pajak.”
Sambil ngobrol hal-hal sepele, dua remaja itu berjalan santai pulang ke kedai kopi di Asakusa.
Di bawah terik matahari, pantulan panas dari aspal membakar mereka.
“Panas banget... beli minuman dulu yuk.”
“Tadi pas berangkat ada toko deket sini jual ramune. Yang botolan.”
“Yang ada kelerengnya? Nostalgia banget.”
“Aku juga terakhir minum ramune botol gitu pas Jizoubon.”
“Jizoubon apaan?”
“Nggak tahu? Di Kyoto itu semacam festival kecil, anak-anak sekitar kumpul di sekitar patung Jizou.”
“Nggak tahu.”
“Ah iya. Kamu kan datang musim panas, pulangnya juga musim panas.”
Di tengah panas yang menyengat, mereka membeli ramune dingin dan pulang.
“Aku pulang—”
Sesampainya di rumah Torame, Kouya melempar botol ramune kosong dan menjatuhkan diri ke sofa. Karena tadi pergi dengan AC tetap menyala, ruangan sudah cukup sejuk.
Kiyoko, sambil membawa botol kosong, berjalan ke arah dapur.
“Kouya-kun, kelereng dari ramune ini mau disimpan? Bisa dipakai buat apa ya?”
“Buat apa coba. Bukan anak kecil lagi.”
“Kalau dikasih ke anak kecil yang datang ke toko sebagai bonus, mungkin mereka senang.”
“Kalau kamu pikir begitu, ya terserah. Punyaku juga ambil aja.”
Kouya menyerahkan botol kosongnya ke Kiyoko.
Kiyoko dengan cekatan mengambil kelerengnya saja, lalu membuang botolnya.
“Sedikit balik jadi anak kecil, ya?”
“Cuma gara-gara ramune doang.”
“Padahal waktu SD kamu suka banget ngumpulin barang remeh dari snack.”
Kiyoko mengenang masa SD mereka, lalu menyipitkan mata dengan senyum nostalgia.
“Dulu, waktu aku lagi capek, kamu bilang aku boleh datang ke tempatmu. Katanya kamu yang bakal tanggung jawab... aku benar-benar senang waktu itu.”
Kiyoko bergumam pelan.
“――――”
Sesaat, Kouya jadi gelisah.
Seolah-olah keberadaan janji sepuluh tahun lalu yang sudah ia lupakan sedang dipertanyakan.
Dulu, dia pernah asal bicara soal bertanggung jawab atau menulis surat kepada Kiyoko, tapi pada akhirnya tidak ada satu pun yang ia lakukan. Semua cuma omongan kosong—dia bahkan tidak pernah sekali pun menulis surat. Dia telah mengkhianati harapan Kiyoko.
“Aku—”
Ia merasa harus mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tak keluar.
Saat pandangan Kouya mengembara ke lantai, Kiyoko malah meregangkan badan di ruangan ber-AC itu dan mulai berbicara tentang dirinya sendiri.
“Dulu, sampai beberapa waktu yang lalu, aku cukup bimbang soal masa depanku. Waktu kecil aku ingin membangun kembali ryokan bersama ayah dan ibu, tapi begitu ryokan itu mulai berjalan di jalur yang benar, mimpiku malah terasa sudah tercapai, dan aku jadi nggak tahu sebenarnya aku ingin melakukan apa.”
“......Sampai saat itu kamu cuma terlalu sibuk dengan kenyataan sampai nggak punya pilihan lain, kan?”
“Iya sih. Kebetulan Marika juga sudah mulai besar, dan mulai terdengar omongan orang-orang soal siapa yang bakal jadi okami berikutnya—. Aku juga mulai mikirin masa depan, tapi setiap kali begitu—”
Kiyoko menundukkan pandangan.
“Setiap kali?”
“Aneh ya, wajah Kouya waktu masih SD selalu muncul di kepalaku.”
“――――”
“Kouya sekarang sehat nggak ya? Lagi ngapain ya sekarang? Udah lama banget nggak kontak, jangan-jangan dia juga sudah lupa sama aku... aku sering kepikiran begitu.”
“......Maaf, aku lupa.”
“Ya sudah kuduga.”
Kiyoko tersenyum pahit melihat pengakuan jujur si pemuda dengan wajah canggung. Lalu dia menghentikan senyumnya dan melanjutkan.
“Pas saat seperti itu, kebetulan Juuro Oji-sama telepon.”
“Kakekku?”
“Iya. Katanya kenalan ayah di Tokyo meninggal.”
“Ngomong-ngomong, beberapa waktu lalu kakek sempat keluarin baju duka, ya.”
Beberapa bulan lalu, di awal liburan musim panas, mereka sempat mengirim baju duka milik kakek yang terbengkalai bersama seragam Kouya ke laundry.
Setelah itu, kejadian heboh soal jimat keberuntungan cinta yang ada di saku juga jadi kenangan tersendiri.
“Karena Juuro Oji-sama telepon ke telepon rumah, aku sempat ngobrol cukup lama.”
“Sama kakek?”
“Iya. Juuro Oji-sama kayaknya tahu soal rumor perebutan pewaris ryokan kami, jadi beliau sangat khawatir. Terus kami ngobrol soal kabar terbaru dan hal-hal lain, sampai akhirnya topiknya jadi ke kamu, Kouya.”
“............”
“Pas lagi ngobrol itu, entah kenapa aku jadi sangat ingin ketemu kamu—”
Dengan pandangan tertunduk dan suara tenang, gadis dari Kyoto itu menceritakan saat itu.
“Aku jadi ingat dulu kamu pernah bilang, ‘kalau capek, datang saja ke tempatku.’ Begitu ingat itu, di detik berikutnya hatiku sudah bulat. Aku mau ke Tokyo—ke tempatmu, Kouya. Tahu-tahu, lewat telepon aku bilang ke Juuro Oji-sama kalau aku berencana pindah ke SMA di Tokyo, saking terbawanya suasana.”
“Eh? Kamu memutuskan pindah sekolah cuma karena kepikiran saat lagi telepon?”
Kouya terkejut, dan Kiyoko mengangguk malu-malu.
“Iya. Sebenarnya belum ada yang diputuskan, tapi tahu-tahu aku sudah bilang mau pindah.”
“‘Tahu-tahu’ itu kamu sendiri yang ngomong, kan!?”
“Rasanya kayak kepala sama mulutku jalan sendiri-sendiri. Sampai saat itu aku sama sekali nggak kepikiran hal begitu, tapi begitu bayangan kamu muncul di pikiranku, mulutku langsung bilang aku akan pindah ke sekolah di Asakusa tanpa kusadari. Mungkin karena dorongan emosi.”
“Kakek nggak ngerasa aneh!?”
“Karena dia tahu soal perebutan pewaris itu, dia malah kayak mikir ‘ya nggak apa-apa juga’ sih...”
“......Dia salah paham, dong.”
“Iya.”
“Jangan-jangan sampai sekarang masih salah paham?”
“Dia tahu Marika datang ke sini, jadi pasti mikir masalahnya sudah selesai.”
“Hal sepenting itu kok kamu diam saja selama ini...”
“Soalnya kamu sendiri juga nggak ingat apa-apa, Kouya-kun.”
“Ya... itu sih salahku.”
Kalau sudah disinggung soal itu, Kouya tidak bisa membantah. Bahkan bagi Kiyoko sendiri, ide mendadak dan kecepatan keputusannya memang di luar nalar.
Begitu hatinya bulat, semuanya berjalan sangat cepat.
Seolah semua kebimbangannya selama ini bohong belaka, hanya dalam beberapa jam Shizukuishi Kiyoko sudah mengumpulkan informasi sekolah tujuan, meminta formulir pendaftaran secepat mungkin, dan menyelesaikan prosedur dengan kecepatan tinggi.
Sebelum orang-orang di sekitarnya sempat menghentikannya, dia sudah tiba di Tokyo.
Pergi ke tempat yang ingin dituju ternyata sesederhana itu. Seharusnya dari awal dia melakukan ini—pada hari di bulan Mei itu, saat ia mengetuk pintu rumah Torame Juuro, Kiyoko merasa seperti telah melepaskan sesuatu, dengan perasaan segar yang bahkan ia sendiri sulit percaya.
Seperti kehidupan baru akan dimulai.
Hari di bulan Mei saat ia mulai tinggal bersama Kouya kini terasa seperti masa yang sangat lama. Ia bahkan merasa seperti sudah lama sekali tinggal di rumah keluarga Torame. Mungkin karena tempat ini memang senyaman itu.
Kiyoko meninggalkan dapur dan berjalan menuju jendela ruang tamu. Pemandangan Asakusa yang kini sudah sangat familiar terbentang di luar.
“Setelah telepon dari Juuro Oji-sama itu, tanpa banyak mikir aku langsung kirim formulir, ikut ujian, urus ini-itu, tahu-tahu sudah bulan Mei saja.”
“......Makanya kamu pindah sekolah di waktu aneh begitu.”
Akhirnya Kouya memahami kenapa Kiyoko pindah setelah Golden Week, sebulan setelah tahun ajaran baru dimulai. Alasannya sederhana: pindah mendadak tanpa rencana, jadi tidak sempat masuk di awal April.
Bagaimanapun juga, itu adalah aksi yang luar biasa nekat. Namun menurut Kiyoko, alasan dia datang ke Tokyo adalah karena ucapan asal-asalan Kouya di masa kecil.
Kata-kata seorang anak yang seharusnya tanpa tanggung jawab, setelah hampir sepuluh tahun, justru mengubah hidupnya. Kouya pun sedikit merasa bertanggung jawab.
“......Kalau dulu aku nggak ngomong sembarangan, kamu nggak akan datang ke Tokyo?”
Dengan perasaan berat atas pengaruh kata-katanya, Kouya bertanya.
“Siapa tahu ya.”
Kiyoko menjawab samar.
“Kalau aku sih—aku senang kamu ada di sini.”
Dengan pandangan mengalihkan, Kouya bergumam pelan.
Ya, benar. Dia tidak ingin Kiyoko kembali ke Kyoto.
Dia tidak ingin dia—Shizukuishi Kiyoko—menghilang dari rumah ini, dari hadapannya. Pemuda itu akhirnya menyadari perasaan itu dengan jelas.
Sambil tetap menatap kota di luar jendela, Kiyoko sedikit tersenyum.
“Waktu kecil dulu, setelah kamu pulang, aku menangis terus.”
“......Soal surat itu, aku benar-benar minta maaf.”
“Tapi sekarang aku bukan anak kecil lagi.”
Dengan satu gerakan, Kiyoko membuka jendela.
“Sekarang aku bukan anak kecil, jadi aku bisa mengejarmu ke mana pun sendirian. —Makanya, selamat tinggal untuk hari musim panas itu saat aku menangis.”
Dari jendela yang terbuka lebar, hawa panas kota besar di tengah musim panas langsung masuk tanpa ampun, meniup habis suasana sentimental Kouya.
“Oi, AC nyala, jangan buka jendela!”
Kouya mengeluh dengan wajah kesal, dan Kiyoko terkikik.
“Pelit banget sih. Aku cuma mau bikin suasana saja.”
“Hemat listrik!”
“Benar-benar pelit. Nggak ada romantis-romantisnya sama sekali.”
Kiyoko tertawa.
“Tapi kamu juga sebenarnya suka kan, tinggal bareng aku?”
Dengan setengah bercanda, Kouya berkata.
“Iya ya, aku memang cukup suka bersama kamu, Kouya-kun.”
Bersandar di dekat jendela, Kiyoko mengakuinya dengan santai.
“―――――”
Melihat Kouya yang terkejut, bukan senyum sosial seperti yang ia tunjukkan ke pelanggan, tapi senyum yang benar-benar tulus, Shizukuishi Kiyoko berbisik pada pemuda Asakusa itu.
“Kouya-kun, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuatku jujur, ya?”
Begitulah katanya.....






Post a Comment