NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 Prologue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Prologue

Masa kedaluwarsa untuk tindak pidana yang ditetapkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana adalah 15 tahun.


Lantas, berapa tahunkah masa kedaluwarsa bagi cinta?


Sembari memikirkan hal tersebut, Shizukuishi Kiyoko menatap samar ke arah Stasiun Kyoto yang kian menjauh dari jendela Shinkansen.


Shizukuishi Kiyoko, 17 tahun. Gadis yang lahir dan besar di Kyoto itu, pada suatu hari di bulan Mei yang cerah, memantapkan hatinya untuk meninggalkan Kyoto dan pergi ke Tokyo.


10 tahun yang lalu, ia membuat sebuah janji dengan seorang anak laki-laki yang datang dari Asakusa, Tokyo. Anak laki-laki itu sempat tinggal di Kyoto selama 1 tahun, dan kini telah 10 tahun berlalu sejak ia kembali ke Tokyo.


Pada hari ini, Kiyoko bertolak dari Kyoto demi memastikan janji tersebut.


Apakah janji dengan anak laki-laki itu masih berlaku?


——Tanpa bisa menemukan jawabannya, Shinkansen pun tiba di Tokyo.



"Karena Ogata-sensei, wali kelasmu, sedang menghadiri rapat, saya yang akan mendampingi proses administrasi ini sebagai gantinya. ——Untuk sementara, silakan tulis nama dan alamatmu di dokumen ini."


Seorang guru perempuan berusia pertengahan 30 tahun menjalankan prosedur kepindahan sekolah tersebut dengan tenang.


Saat Kiyoko sedang menandatangani dokumen atas arahan guru tersebut, pintu ruang guru tiba-tiba terbuka secara mendadak selepas jam pelajaran usai.


"Permisi—"


Terdengar suara siswa laki-laki yang suaranya telah berubah dewasa. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang tampak ceria pun melangkah masuk.


Pada seketika itu juga, jantung Kiyoko berdegup kencang.


——Itu Kouya-kun!


Di samping Kiyoko yang mulai bertingkah gelisah, guru perempuan itu mengerjapkan matanya.


"Ah, Torame-kun, Shiga-san."


"Apakah Anda tahu di mana Ogata-sensei?"


"Sekarang sedang ada rapat guru. Ada apa memangnya?"


"Anu, loker di kelas agak rusak..."


"Apakah kalian yang merusaknya?"


"Bukan! Rusak sendiri kok!"


"Benar, itu karena faktor usia barang!"


Anak laki-laki dan anak perempuan itu saling bersahutan menyatakan bahwa mereka tidak bersalah.


"Benarkah? Bukankah kalian berdua memang sering berbuat usil bersama?"


""Kami tidak melakukannya!!""


Anak laki-laki dan anak perempuan itu membantah keras kecurigaan sang guru secara bersamaan.


Guru perempuan itu berpikir sejenak, lalu memberikan instruksi kepada kedua murid tersebut.


"Laporkan dan mintalah arahan kepada Fujiwara-sensei, Kepala Urusan Kesiswaan. Beliau seharusnya sedang berada di lapangan olahraga."


"Baik. Kami akan melakukannya—"


"Kalau begitu, kami permisi dulu—"


Kedua remaja itu pun bergegas meninggalkan ruang guru.


Setelah sosok mereka berdua menghilang, Kiyoko memberanikan diri untuk memandang guru perempuan di sampingnya.


"......Anak laki-laki yang tadi itu, apakah mungkin dia Torame Kouya-kun?"


"Oh, apakah dia kenalanmu? Bukankah Shizukuishi-san selama ini selalu berada di Kyoto?"


"Kouya-kun dulu pernah tinggal di Kyoto."


"Ah, begitu... Tapi tidak terlalu mengejutkan juga, sih. Kalau tidak salah, Torame-kun memang sering berpindah-pindah karena urusan orang tuanya..."


"Anu..."


Setelah sempat ragu sejenak, Kiyoko memantapkan niat dan bertanya kepada guru perempuan itu.


"Anak perempuan yang ada di samping Kouya-kun tadi, sebenarnya apa hubungan dia dengan Kouya-kun?"


"Maksudmu Shiga-san? Dia teman masa kecil Torame-kun. Seingat saya rumah mereka berdekatan. Mereka memang cukup sering bersama."


"......"


Kiyoko seketika terdiam seribu bahasa.


——Apakah selama ini hanya aku yang mengira bahwa akulah satu-satunya teman masa kecilnya?


Jika dipikirkan secara logis, tidak mungkin hal itu terjadi. Teman masa kecil yang kembali ke Tokyo tentu saja pasti memiliki teman masa kecil yang lain di Tokyo. Dan itulah kenyataan yang ada.


Dihadapkan pada kenyataan pahit tersebut secara tiba-tiba membuat Kiyoko jatuh ke dalam kondisi panik.


"Hawawawawa..."


"Shizukuishi-san?"


Melihat kepanikan mendadak dari murid pindahan baru ini, sang guru perempuan mengerutkan alisnya dengan heran.


"Tidak, saya tidak apa-apa. Saya baik-baik saja."


Meskipun berkata demikian kepada sang guru, wajah Kiyoko tampak memucat.


——Gawat. Kouya-kun ternyata memiliki teman masa kecil yang penting di sini.


Suasana di antara mereka berdua terasa sangat alami dan akrab.


Sebagai sesama teman masa kecil, hubungan seperti apa yang mereka miliki sekarang? Kekasih? Apakah mereka sepasang kekasih? Bagaimana jika perempuan itu adalah pacar Kouya-kun? Berarti aku telah datang sesuka hati kemari padahal dia sudah memiliki pacar.


Sembari sedikit panik, Kiyoko berusaha sekuat tenaga untuk menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang, lalu bertanya kepada guru perempuan itu seolah sedang bersandar pada harapan terakhir.


"Sensei, menurut Anda, apakah seorang perempuan yang datang mendekat tanpa diundang itu menyebalkan?"


"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Tentu saja hal seperti itu tergantung situasi dan kondisinya, kan?"


"Bagaimana jika pihak lawan ternyata sudah memiliki pasangan yang pasti?"


"Kalau itu namanya perselingkuhan, kan? Itu adalah sebuah pelanggaran."


"Hawawawawawa..."


"Ada apa, Shizukuishi-san! Wajahmu seperti mau menangis begitu."


"Saya sama sekali tidak memikirkannya (Artinya: Saya sangat memikirkannya)."


"Memikirkan apa?!"


"Saya telah membulatkan tekad untuk mengubur perasaan ini dan mendoakan awal kehidupan baru kedua remaja tersebut dari lubuk hati yang terdalam."


"Jadi, sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan, Shizukuishi-san?!"


"Saya akan menjaga jarak yang tepat agar tidak merusak hubungan pertemanan di antara semua orang di sekolah Tokyo ini!"


"Hah?"


Guru perempuan itu memiringkan kepalanya. 


Alih-alih mencoba memahami suasana hati gadis di hadapannya yang tiba-tiba kacau, ia memutuskan untuk fokus menyelesaikan prosedur kepindahan sekolah tersebut.


"Yah, terserahlah apa pun itu. Jika sudah menuliskan nama, silakan bubuhkan cap stempelmu di sampingnya. Dengan begitu, prosedur kepindahan sekolahmu selesai."


Guru perempuan itu mendesak sang siswi pindahan untuk menyelesaikan administrasi secara lugas.


Demikianlah, Kiyoko yang datang dari Kyoto kini resmi menjadi siswi di sebuah SMA di Tokyo.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close