Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Bonus Story
Pengumuman Hasil Pemilihan Umum Tsuwabuki!
Di ruang OSIS sepulang sekolah, dua siswi duduk saling berhadapan di atas kursi lipat.
Siswi pertama, ketua OSIS Basori Tiara, mengernyitkan alisnya yang tegas sambil menatap dokumen di tangannya.
"...Eh, ini apa ya?"
Siswi kedua adalah Koikawa Tsukushi dari klub surat kabar.
Sambil menyilangkan kaki yang tampak dari balik rok pendeknya, ia membentuk lingkaran dengan jari-jarinya.
"Hasil Pemilihan Umum Tsuwabuki sudah keluar. Wah, berkat itu acaranya jadi ramai banget."
"Oh iya, aku sempat dengar soal itu."
Tiara bergumam pelan sambil membaca dokumen.
"...Peringkat pertama ternyata Yanami-san dari klub sastra."
Terlepas dari pro dan kontra, Yanami Anna memang siswi populer berkat wajahnya yang imut dan kepribadiannya yang ceria.
Pidato dukungannya yang "unik" saat pemilihan ketua OSIS beberapa waktu lalu juga membuat namanya dikenal oleh siswa dari angkatan lain.
"Basori-san, ada yang mengganjal?"
"Oh, tidak. Memang dia populer, tapi kupikir Himemiya-san yang akan jadi nomor satu."
Mendengar isi hati yang tak sengaja terucap itu, Koikawa tersenyum kecut.
"Aah... Himemiya-san mengundurkan diri dari pencalonan. Pacarnya datang bersamanya dan bilang, 'Bagaimanapun juga, Karen cuma ingin jadi milikku.' Lalu mereka mulai bermesraan tepat di depan mataku..."
Entah teringat apa, Koikawa menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Berat sekali... serius deh, benar-benar berat..."
Apa sebenarnya yang disaksikan Koikawa Tsukushi?
Meski penasaran, Tiara mengembalikan dokumen itu tanpa bertanya.
"Terima kasih sudah repot-repot melapor. Semoga kegiatan klub surat kabarnya berjalan lancar."
"Kalau Basori-san yang bilang begitu, aku jadi lega. Soalnya ini kan acara yang diakui resmi oleh OSIS."
"...Memangnya begitu ceritanya?"
Dengan wajah penuh curiga, Tiara melihat Koikawa mengarahkan kameranya.
"Kalau begitu, boleh langsung mulai wawancaranya?"
"Hah? Wawancara apa?"
"Koran sekolah mau membuat liputan khusus tentang para peringkat teratas. Jadi, Basori-san, bagaimana perasaanmu setelah terpilih sebagai peringkat kedua?"
"Hah?! Aku?! Peringkat kedua?!"
Gatank!
Tiara berdiri begitu cepat hingga kursi lipatnya terjatuh ke lantai.
"Kurasa dampak pemilihan ketua OSIS kemarin memang besar. Ketua OSIS Si Merah ternyata diam-diam cukup populer."
"...Jadi aku dipanggil begitu?"
Dengan ekspresi rumit, Tiara menegakkan kembali kursinya.
"Daripada mewawancaraiku yang cuma peringkat dua, bukankah lebih baik pergi ke peringkat pertama?"
"Wawancara Yanami-san sudah selesai. Jadi sekarang giliran Basori-san yang nomor dua."
"...Setelah... Yanami-san."
Entah sadar atau tidak akan ekspresi pahit Tiara, Koikawa tersenyum sambil menyodorkan sebuah kantong kertas.
"Kita selesaikan sesi foto dulu, ya. Aku sudah menyiapkan kostumnya, jadi silakan ganti baju."
"Kostum? Tidak cukup pakai seragam?"
"Soalnya halaman koran akan lebih menarik kalau tampilannya lebih meriah. Lagi pula ini acara resmi OSIS."
"Seingatku OSIS tidak pernah meresmikan acara seperti ini."
Tiara menghela napas panjang.
"Yah... kalau cuma sebentar, aku akan menemanimu."
Saat menerima kantong kertas itu, Tiara mengernyit karena terasa sangat ringan.
"...Kecil sekali."
"Begitu ya?"
Tiara membuka kantong itu lalu menyipitkan mata menatap isinya.
"...Ini cuma tali."
Koikawa mengangguk dengan wajah serius.
"Memang tali. Tapi sekaligus... juga baju renang."
"Hah? Baju renang..."
Tiara yang sempat memainkan tali berwarna emas itu dengan jarinya tiba-tiba memahami maksudnya. Seketika wajahnya memerah.
"Ini baju renang?!"
Ia buru-buru mengembalikan bikini bertali itu kepada Koikawa.
"Lho, tidak mau dipakai?"
"Tentu aja nggak! Ini bahkan hampir tidak menutupi apa pun!"
"Oh begitu. Jadi Basori-san bakal ada yang keluar ya."
"Tidak ada yang keluar?! Dan jangan mencatat hal seperti itu!"
Tiara terengah-engah karena lelah terus membalas ucapan Koikawa, sementara Koikawa justru tampak kecewa.
"Yah, sayang sekali. Basori-san tidak mau memakainya."
"Kenapa reaksimu seolah-olah itu hal yang aneh...?"
"Soalnya yang lain semuanya mau memakainya."
"Bohong, kan?!"
Tentu saja bohong. Namun Basori Tiara memang mudah dipengaruhi. Melihat ekspresinya, Koikawa yakin.
—Tinggal dorongan terakhir.
"Serius kok. Lagi pula mereka semua mau memakainya karena ini acara resmi OSIS. Kalau ketua OSIS yang justru tidak mau memakainya, bagaimana dong?"
"Ah-..."
Melihat Tiara mulai kehilangan kata-kata, Koikawa mendekat dengan wajah sendu.
"Kurasa mereka semua juga malu. Tapi karena ini acara resmi OSIS, mereka menahan rasa malu itu dan tetap membantu."
"T-tapi..."
Tiara menelan ludah saat menatap baju renang bertali emas itu. Tangannya yang gemetar hampir saja meraihnya, namun ia segera sadar dan berteriak keras.
"B-baju renang ini melanggar peraturan sekolah!"
Peraturan sekolah.
Bahkan Koikawa Tsukushi pun tak bisa mengabaikan kata itu.
Tiara mengeluarkan buku peraturan siswa lalu membuka halamannya dengan cepat.
"Pada Bab 1 'Kehidupan Sekolah', Pasal 5 Ayat 3 Butir 4 tertulis, 'Dalam pelajaran renang, siswa wajib menggunakan pakaian renang yang ditentukan sekolah atau pakaian renang kompetisi berwarna biru tua atau hitam.' Memang ini bukan pelajaran renang, tapi memakai pakaian renang seperti ini yang... ehm... terlalu mencolok di lingkungan sekolah jelas melanggar peraturan!"
"Kalau warnanya hitam berarti boleh? Mau kubawakan versi warna hitam?"
"Apa kau benar-benar mendengarkanku?!"
Menyadari bahwa memaksa lebih jauh tak akan berhasil, Koikawa pun menyimpan kembali bikini itu.
"Yah, tidak apa-apa. Yang ini kita lupakan saja."
"Syukurlah akhirnya kamu mengerti."
Tiara menghela napas lega. Namun Koikawa kembali tersenyum.
"Kalau begitu... baju renang sekolah boleh, kan?"
"...Eh?"
Koikawa mengeluarkan baju renang sekolah berwarna biru tua lalu menyodorkannya.
"Aku sudah menyiapkannya. Kurasa ukurannya pas."
"E-eh, tapi aku..."
"Aku tunggu di luar. Kalau sudah selesai ganti baju, panggil saja. Jangan lupa tutup gordennya."
Tanpa memberi kesempatan Tiara membalas, Koikawa keluar dari ruang OSIS.
Kini tinggal Tiara seorang diri menatap baju renang di tangannya.
"...Aku benar-benar harus memakainya?"
◇
"Basori-san, bagus! Bagus sekali! Sempurna!"
Suara rana kamera bergema memenuhi ruang OSIS.
Dengan wajah merah karena malu, Tiara terus menarik bagian bawah baju renangnya.
"Maaf... tapi baju renang ini rasanya agak sempit di bagian pinggang, ya?"
"Memang lebih bagus kalau agak ketat... eh, maksudku pas."
Di ruangan redup dengan tirai tertutup, kulit putih Tiara yang dibalut baju renang sekolah biru tua tampak samar-samar.
Pemandangan baju renang sekolah model lama di ruang OSIS itu terasa begitu ganjil.
"Kalau begitu berikutnya kita semprot sedikit dengan air..."
"Maaf, boleh bertanya?"
"Ada apa? Baju renangnya cocok sekali, kok."
"Bukan itu... katanya ini baju renang sekolah, tapi desainnya agak asing bagiku..."
"Oh, itu."
Koikawa tersenyum santai.
"Itu model lama, yang biasa disebut sukumizu. Bagian bawahnya memang dibuat supaya air mudah keluar. Orang zaman dulu pintar juga ya."
"Begitu rupanya..."
Tiara mengangguk mengerti, tetapi masih ada pertanyaan lain.
"Lalu... tulisan di bagian dada yang berbunyi 'Kelas 2-F Basori Tiara' itu apa maksudnya?"
"Kan memang kamu siswa kelas 2-F."
Memang benar. Tiara mencoba menerima penjelasan itu, tetapi rasa penasarannya belum juga habis.
"Terus... baju renang ini terasa seperti sudah pernah dipakai."
"Oh, iya. Soalnya yang baru sudah susah didapat. Tapi tenang saja, dari ukurannya sepertinya cuma pernah dipakai perempuan."
"...Laki-laki memang tidak mungkin memakainya, kan?!"
—Yah... belum tentu juga.
Koikawa hampir mengatakannya, tetapi mengurungkan niat. Ada hal-hal di dunia ini yang memang lebih baik tidak diketahui.
"...Ah, mungkin sebaiknya aku melepas kaus kakiku."
"Jangan! Biarkan saja begitu. Ayo kita lanjut pemotretannya."
Terdesak oleh semangat Koikawa, Tiara pun mengangguk, dan sesi pemotretan kembali dilanjutkan.
◇
Setelah pemotretan selesai, Koikawa terus mengangguk puas sambil melihat layar LCD kameranya.
"Ya, bagus. Yang ini khusus untuk anggota premium—atau dijual satuan juga boleh. Sekalian saja dicetak ukuran L lalu dijual langsung...?"
Sambil bergumam soal hitung-hitungan uang, Tiara bertanya dengan ragu.
"Benarkah orang-orang lain juga difoto seperti ini? Rasanya untuk foto koran sekolah tidak perlu sampai disemprot air agar terlihat lembap."
"Kelembapan itu penting. Pernah dengar istilah sizzle kan?"
"Pernah sih..."
"Nah, maksudnya begitu. Semua yang lain juga menerimanya kok."
"...Benar-benar serius?"
Kecurigaan Tiara semakin besar. Koikawa sengaja mengabaikannya lalu mengeluarkan kostum berikutnya.
"Kalau begitu, selanjutnya kita coba kostum kelinci."
"K-kelinci?! Kali ini jelas tidak ada hubungannya dengan koran sekolah, kan?! Seragam saja sudah cukup!"
"Seragam...?"
Seolah mendapat ide, Koikawa memegang dagunya sambil berpikir.
"Seragam... seragam... seragam sailor... begitu ya, ternyata bisa juga."
"...Hah?"
"Oke! Berikutnya pakai seragam sailor! Aku pinjam dulu, tunggu sebentar!"
"E-eh, tung—"
Koikawa berlari keluar ruang OSIS dengan tergesa-gesa.
Dan Tiara pun ditinggalkan sendirian di ruang OSIS—masih mengenakan baju renang sekolah yang basah.
...Kalau ada orang melihat keadaan ini, pasti akan timbul salah paham.
Entah salah paham seperti apa, yang jelas kehidupan sekolahnya setelah ini pasti akan terganggu. Pertama-tama ia harus mengunci pintu.
Saat itulah, tanpa peringatan, pintu ruang OSIS terbuka.
"Permisi, saya datang untuk menyerahkan laporan kegiatan klub sastra..."
"Hih?!"
Orang yang masuk adalah ketua klub sastra, Nukumizu Kazuhiko.
Saat menyadari tatapan Nukumizu perlahan turun ke arah tubuhnya, Tiara buru-buru memeluk tubuhnya sendiri.
"A-apa yang kamu lihat?! Jangan menatapku terus begitu!"
"E-eh, kenapa pakai baju renang..."
Belum sempat Nukumizu menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara dari koridor.
"Nukumizu-san! Tolong tutup pintunya!"
"A-ah, baik!"
Nukumizu buru-buru menutup pintu—namun dirinya sendiri tetap berada di dalam ruangan.
"Kenapa malah masuk ke dalam?!"
"E-eh, ya... karena ada orang di sini..."
Suara orang di luar terdengar semakin dekat.
Sekarang bukan waktunya berdebat. Tiara segera berlari ke pintu, mendorong tubuh Nukumizu sambil menguncinya.
Detik berikutnya—Krek! Krek!
Pegangan pintu diputar dengan keras.
"Eh? Kok terkunci?"
"Tadi bukannya ada yang masuk ya?"
Percakapan dua siswi terdengar dari balik pintu.
"..."
"..."
Tiara dan Nukumizu berdiri rapat tanpa bersuara, menahan napas. Lalu bayangan seseorang tampak di kaca buram pintu.
Sepertinya mereka sedang mengintip ke dalam.
"Lampunya masih menyala, kan?"
"Jangan-jangan mereka lagi melakukan sesuatu yang aneh di dalam."
Siswi yang satunya tertawa mendengar candaan itu.
Beberapa saat kemudian mereka menyerah dan pergi sambil terus mengobrol.
Setelah memastikan langkah kaki mereka menjauh, Tiara akhirnya menghela napas lega.
"Nyaris saja. Kupikir bakal jadi masalah."
"E-eh, iya... itu..."
Melihat tingkah Nukumizu yang canggung, Tiara sempat merasa heran, lalu buru-buru menjauh.
"Ah! M-maaf!"
"T-tidak, justru aku yang minta maaf! Aku benar-benar tidak menyangka kamu berpakaian seperti itu."
Benar. Tiara masih mengenakan baju renang sekolah model lama.
"B-bukan berarti ini hobiku, ya?! Ada alasannya!"
"I-iya, tentu saja ada alasannya."
Memang begitu. Kalau sampai orang mengira dirinya perempuan yang hobi cosplay baju renang di ruang OSIS, itu masalah besar.
Tiara berdeham pelan.
"Jadi... aku hanya sedang menjalani sesi pemotretan memakai baju renang!"
"...Eh?"
Melihat ekspresi Nukumizu, Tiara memiringkan kepala.
Apa dia baru saja mengatakan sesuatu yang aneh? Bukankah dirinya hanya diminta berfoto oleh anggota klub surat kabar...
"B-bukan begitu maksudnya! Ini bukan kemauanku sendiri! Aku dipaksa demi liputan Pemilihan Umum Tsuwabuki!"
"Oh... klub surat kabar ya. Tidak apa-apa, tenang dulu. Tarik napas... hembuskan..."
"Baik... tarik napas... hembuskan..."
Setelah menarik napas dalam-dalam hingga tenang kembali, Tiara memalingkan wajahnya dengan malu.
"M-maaf sudah memperlihatkan penampilan memalukan seperti ini."
"Tidak, justru terima ka—"
Nukumizu buru-buru menutup mulutnya.
Melihat kepanikan itu, Tiara tersenyum kecil.
"Dalam situasi seperti ini... apa aku harus menjawab, 'Sama-sama' ya?"
"...Mungkin."
Saat keduanya saling berpandangan dan hampir tertawa—
Krek! Krek!
Pegangan pintu kembali diputar.
"Pintunya sudah kami kunci, jadi—"
Belum selesai Tiara berbicara, terdengar bunyi klik.
Kuncinya terbuka.
"!"
"!"
Di depan mereka berdua yang terpaku, pintu perlahan terbuka sambil mengeluarkan bunyi berderit.
"Kelihatannya... kalian sedang... bersenang-senang..."
Orang yang muncul di balik pintu adalah mantan pengurus OSIS, Shikiya Yumeko.
Ia meluncur masuk ke dalam ruangan lalu mengunci pintu kembali dari belakang.
"B-bukan! Bukan seperti yang kamu pikirkan!"
"Aku... belum mengatakan apa-apa... lho...?"
Shikiya mendekati Tiara dengan langkah pelan, lalu memeluk tubuhnya dengan kedua tangan.
"Aku juga... mau ikut..."
"Tidak ada yang bisa diikuti?! Tolong jangan menempel terus!"
Tiara berusaha melepaskan diri, tetapi lengan Shikiya terus melingkari tubuhnya.
"Lembap... Nukumizu... dan sukumizu... bunyinya mirip..."
"Memang mirip, tapi apa sekarang waktunya mengatakan itu?! Nukumizu-san, jangan cuma diam saja, tolong bantu—eh? Kenapa malah mengeluarkan ponsel?!"
"Yah... entahlah, reflek saja."
Pesta kecil tiga orang di ruang OSIS sepulang sekolah itu baru berakhir setelah Sakurai datang terlambat dan menghentikan semuanya.
◇
Di ruang klub pada sore hari.
Dengan wajah penuh kemenangan, Yanami mengangkat sebatang Pocky tinggi-tinggi.
"Hei, Komari-chan. Pocky ini kelihatan seperti bentuk sesuatu ya?"
"Hah? A-aku tidak tahu."
Komari menjawab dengan kesal lalu kembali membaca novel saku di tangannya.
Tak peduli dengan tanggapan dingin itu, Yanami terus mendekat.
"Coba lihat baik-baik. Ini seperti angka satu... bentuk yang penuh kejayaan, seperti angka 1, kan?"
"M-maksudmu apa sih?"
"Tidak apa-apa. Komari-chan lucu, jadi itu sudah cukup."
Dengan suasana hati yang sangat baik, Yanami menyelipkan Pocky ke mulut Komari.
Sambil melihat Komari mengunyah Pocky dengan pasrah, aku menghela napas.
...Keadaannya benar-benar merepotkan.
Kabarnya Yanami berhasil meraih peringkat pertama dalam acara mencurigakan bernama Pemilihan Umum Tsuwabuki.
Entah karena berbagai kesalahpahaman yang bertumpuk, masalah utamanya adalah sikap Yanami setelah mengetahui hasil itu.
—Dia benar-benar besar kepala.
Bahkan mulai bertingkah sok hebat. Sungguh menyebalkan.
Setiap kali mata kami bertemu, dia memberiku camilan sampai sakuku penuh. Lalu saat dia lapar, dia mengambil camilan itu sendiri dari sakuku dan memakannya. Seolah-olah aku hanyalah kantong camilan pribadinya.
"Tapi tetap saja, masa bisa juara satu..."
Aku bergumam pelan agar tidak terdengar.
Yanami memang cantik.
Tapi isi kepalanya seperti itu. Dinilai terlalu tinggi hingga jauh dari kenyataannya tidak akan baik untuk dirinya sendiri.
Kalau dia terlalu mencolok, orang-orang yang mengidealkannya akan berdatangan. Mungkin aku harus mengingatkan Himemiya-san agar berhati-hati.
Memang benar, klub surat kabar itu kelompok pembawa bencana...
Ngomong-ngomong, tadi Basori-san juga sempat menyebut soal Pemilihan Umum Tsuwabuki.
Jangan-jangan dia juga masuk peringkat atas? Kalau memang begitu... kenapa harus memakai baju renang sekolah?
Katanya sedang wawancara, tapi dia sendirian di ruang OSIS tanpa mengunci pintu. Itu juga menggangguku. Katanya ada orang yang justru bersemangat jika dilihat orang lain.
Jangan-jangan Basori-san juga...
Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku kepikiran, jadi sebagai teman mungkin aku perlu memastikannya.
Foto Yuri dengan baju renang sekolah tadi memang sudah dihapus Basori-san, tapi mungkin masih bisa dipulihkan...
Saat sedang mengutak-atik ponsel, sebatang Pocky muncul di depan mataku.
"Nih, Nukumizu-kun juga makan. Dari tadi serius banget lihat apa?"
"Aku cuma sedang mencari sesuatu yang penting... ah, tidak usah disuapi, aku bisa makan sendiri."
Aku mengambil Pocky itu sambil diam-diam membalik ponselku.
"Jadi tadi lihat apa?"
"Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, Yanami-san, waktu Pemilihan Umum Tsuwabuki kemarin..."
Topik yang kulempar untuk mengalihkan pembicaraan langsung membuat mata Yanami berbinar.
"Pemilihan Umum Tsuwabuki! Ya! Ada apa? Tanyakan apa saja kepada aku yang juara satu!"
"Eh... maksudku, apakah kamu juga diwawancarai klub surat kabar?"
"Tentu saja! Kan aku peringkat satu!"
Yanami menjatuhkan tubuhnya ke kursi lalu menyibakkan rambutnya dengan gaya berlebihan.
"Yah, mungkin karena aku ini semacam perwakilan murid Tsuwabuki, atau sosok yang dikagumi? Pokoknya hal-hal seperti itu yang membuatku mendapat banyak suara."
"Begitu ya."
"Aku kan selalu jadi diriku sendiri. Jadi sebenarnya agak kaget kalau dipandang seperti itu. Tapi memenuhi harapan para penggemar juga bagian dari tugasku."
"Oh..."
Kapan cerita ini selesai ya... panjang sekali...
Sambil menggigit Pocky, aku memandang Yanami yang terus berbicara penuh semangat.
"Aku sebenarnya tidak terlalu suka difoto, tapi mereka bilang ingin memasang fotoku di halaman depan koran sekolah. Mereka juga bilang aku fotogenik. Menurutmu bagaimana, Nukumizu-k—"
"Pas pemotretan... Yanami-san juga disuruh memakai itu?!"
Aku tanpa sadar meninggikan suara.
Yanami memiringkan kepala dengan bingung.
"Itu apa?"
"Yaitu... semacam baju renang... atau pemotretan ala gravure..."
"Apa sih itu? Aku difoto pakai seragam sekolah kok."
Sambil menggigit Pocky hingga berbunyi krek-krek, Yanami menyeringai jahil.
"Nukumizu-kun ternyata ingin melihat foto gravure-ku ya? Hehe... ternyata Nukumizu-kun juga laki-laki."
"Bisa berhenti membuat pernyataan yang bikin orang salah paham?"
Ucapan Yanami membuat Komari, yang sejak tadi memilih diam, melotot tajam kepadaku.
"...Mati saja."
Nah, kan. Inilah yang disebut fitnah.
Saat aku pasrah menerima tuduhan yang tidak kulakukan, Yanami kini mulai mengganggu Komari.
"Komari-chan, ayo makan lagi. Pocky kejayaan nomor sa—eh, maksudku Pocky."
"A-aku sudah bilang cukup! Jangan didorong sampai ke tenggorokan!"
Sudahlah. Yang bisa makan Pocky lewat tenggorokan cuma Yanami.
Sambil menjadikan jeritan Komari sebagai musik latar, aku kembali mencoba memulihkan foto baju renang sekolah tadi.
...Oh, sepertinya berhasil.
Foto saat Basori-san dipeluk Shikiya-san ternyata berhasil terselamatkan dengan cukup baik.
Saat memandangi foto itu, tanpa sadar aku teringat kembali sensasi tubuh Basori-san yang tadi terasa melalui kain baju renang sekolah.
Basori-san ternyata badannya lumayan berisi juga...
Begitu pikiran itu muncul, aku buru-buru menggelengkan kepala untuk mengusirnya.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment