Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Kata Penutup
Halo semuanya, sudah lama tidak bertemu. Saya, Takibi Amamori.
Syukurlah volume 9 akhirnya selesai, dan saya benar-benar merasa lega.
Semakin banyak volume yang saya tulis, semakin saya sadar bahwa "laci ide" yang saya miliki masih belum sebanyak yang saya bayangkan.
Seperti biasa, Imigimuru-sensei kembali menggambar ilustrasi yang benar-benar luar biasa untuk volume ini.
Setelah kalian selesai membaca buku ini, saya harap kalian melihat sekali lagi senyum Hokobaru di sampulnya.
Dan kepada editor saya, Iwasa-san, sekali lagi terima kasih atas semua bantuannya. Di tengah kesibukan yang luar biasa, Anda masih meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan saya berkali-kali.
Nah, kali ini adalah kisah tentang Hokobaru Hibari dan Sakurai Hiroto.
Mungkin nuansanya sedikit berbeda dari volume-volume sebelumnya, tetapi saya rasa ini adalah kisah yang tidak bisa dihindari, baik bagi mereka maupun bagi Nukumizu-kun.
Dan akhirnya, volume berikutnya akan mencapai angka dua digit—volume 10!
Saat volume pertama terbit, saya sama sekali tidak pernah membayangkan bisa terus menulis hingga sejauh ini.
Ketika baru debut, target saya hanyalah mencapai volume 3 agar ketiga heroine yang "kalah" itu bisa tampil di sampul. Namun berkat dukungan kalian semua, saya berhasil sampai di titik ini.
Lalu, siapa yang akan menghiasi sampul volume 10?
Mohon tunggu sedikit lagi.
Mulai sekarang pun saya akan terus menantang diri untuk menggambarkan masa muda para heroine yang kalah.
Saya harap kalian akan terus mengikuti perjalanan "Terlalu Banyak Heroine yang Kalah!" hingga akhir!
Kenangan
"Waaah! Hiro-kun, bunga renge tahun ini luar biasa banyak ya!"
Begitu menginjak hamparan ladang bunga renge yang membentang sejauh mata memandang, Mizushima Koharu sedikit mengangkat ujung roknya agar seragam SMP Sasayuri yang dikenakannya tidak kotor.
Melihat langkahnya yang begitu hati-hati, bertolak belakang dengan nada bicaranya yang ceria, Hiroto merasakan sesuatu yang aneh.
Kalau Koharu yang dulu, pasti ia sudah berlari-lari dengan riang.
Apakah karena sekarang mereka sudah SMP sehingga ia mulai peduli pada pandangan orang lain? Ataukah Koharu sendiri memang telah berubah?
"Ya. Sepertinya bakal jadi pupuk yang bagus."
"Ah, Hiro-kun, suasananya jadi rusak."
"Maaf, maaf."
Sambil tertawa, Hiroto mengejar langkah Koharu.
Hubungan mereka berdua sebenarnya harus disebut apa?
Di mata orang-orang, Hiroto dan Koharu adalah sepasang kekasih. Karena itu mereka berusaha selalu bersama dan berbicara layaknya pasangan yang sedang berpacaran.
Namun...
Di antara mereka tidak pernah ada janji apa pun. Sejak menyatakan di depan orang-orang dewasa bahwa mereka berpacaran, mereka hanya terus berpura-pura menjadi sepasang kekasih.
Bahkan tanpa pernah benar-benar sepakat untuk berpura-pura; semuanya mengalir begitu saja. Mereka berbicara dengan hati-hati, seolah sedang menginjak lapisan es yang tipis.
Begitulah hubungan mereka sekarang.
Koharu yang sedang memandangi bunga renge tiba-tiba membuka suara.
"...Maaf ya, Hiro-kun."
Tanpa menoleh, dengan suara yang sedikit lebih pelan dari biasanya.
"Ada apa tiba-tiba?"
"Waktu itu... saat aku bilang kalau kita berpacaran. Karena itulah sampai sekarang kamu masih mau tetap bersamaku, kan?"
—Kejadian di Penginapan Hokobaru.
Luka itu masih terlalu baru, sehingga mereka sama-sama menghindari pembicaraan tersebut.
Saat Hiroto kebingungan memilih kata, Koharu berbalik menghadapnya.
"Tapi... perasaanku pada Hiro-kun itu sungguhan."
Mungkin karena takut melihat reaksinya, ia langsung melanjutkan perkataannya tanpa memberi kesempatan.
"Makanya aku ingin semuanya tetap seperti sekarang. Meskipun ini cuma hubungan palsu, bagiku itu sudah cukup. Jadi..."
Ia akhirnya berhasil mengucapkan sampai di situ, lalu kembali bergumam pelan,
"Jadi..."
Setelah itu ia terdiam.
Bunga-bunga renge yang bergoyang tertiup angin mengeluarkan suara gemerisik yang lembut.
"Aku sendiri... sebenarnya tidak terlalu paham soal pacaran atau semacamnya."
"...Iya, ya."
Melihat Koharu menundukkan kepala, Hiroto buru-buru menambahkan,
"Tapi... dibilang kalau aku berpacaran dengan Koharu, aku tidak merasa keberatan."
Seolah baru teringat sesuatu, Hiroto merogoh sakunya.
Yang ia keluarkan adalah gantungan karakter bergaya chibi. Dengan wajah sedikit malu, ia meletakkannya di telapak tangan Koharu.
"Koharu... suka karakter ini, kan?"
Sebuah gantungan karet karakter anime.
Karakter bernama Karasuya dari "Atenaru Mono." Koharu menatap gantungan itu dengan ekspresi seolah tak percaya.
Lalu Hiroto berkata,
"Aku juga ingin meminta sesuatu. Maukah... untuk sementara ini tetap menjadi pacarku?"
"...Iya!"
Senyum Koharu mekar seindah bunga. Namun pada detik berikutnya, air mata sebesar butiran mutiara mulai mengalir dari kedua matanya.
"Maaf... Padahal aku senang. Entah kenapa malah jadi menangis."
"Enggak apa-apa."
Hiroto mengusap air mata Koharu dengan sapu tangannya.
Melihat senyum Koharu yang tetap merekah di tengah tangisnya, entah mengapa dada Hiroto terasa perih seperti ditusuk jarum.
Seberapa banyak pun kebohongan yang mereka tumpuk...
Senyum Koharu tetaplah nyata.
Meskipun awalnya dimulai dari kebohongan, kalau suatu hari semuanya menjadi kenyataan, bukankah itu sudah cukup?
"...Begini sudah benar, kan... Hiba-nee."
Gumaman itu larut bersama bisikan bunga renge yang bergoyang diterpa angin, dan tak pernah sampai ke telinga siapa pun.
Takibi Amamori
Mohon teruslah menyaksikan bagaimana kisah cinta mereka akan berakhir.



Post a Comment