NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Chapter 7

BAB VII


"Pembersihan selesai!"

 

Asrama putri Taman Ketujuh.

 

Di saat sinar mentari pagi mulai menyelinap masuk menyinari koridor asrama, Xue spontan menyuarakan hal itu bersamaan dengan kepuasan yang dirasakannya.

 

Mungkin karena hari masih teramat pagi, sebagian besar murid Taman

Ketujuh belum terbangun.

 

Satu-satunya orang yang sudah bangun paling-paling hanyalah Isabella.

Xue sempat melihat gadis itu sudah terbangun sejak pagi buta demi menjalankan tugasnya sebagai petugas harian lalu melangkah keluar meninggalkan asrama.

 

Namun, justru karena tidak ada satu pun orang yang terbangun di asrama, Xue sengaja membersihkan area tempat tinggal mereka ini.

 

Sebab, tugas membersihkan asrama sebenarnya merupakan pekerjaan milik Isabella yang bertindak sebagai petugas harian. Jika dia lancang mengerjakan tugas gadis itu secara sembarangan, maka keberadaan peraturan kelas yang ditetapkan oleh Theo akan menjadi tidak ada artinya.

 

Meski begitu,

 

──Karena aku tidak boleh merepotkan semuanya.

 

Xue mengepalkan kedua tangan kecilnya demi memicu semangat pada dirinya sendiri, lalu mendenguskan napas dengan tangguh.

 

Xue adalah seorang ras iblis.

 

Tepatnya, ras spirit. Sebuah ras yang sejak zaman dahulu telah mengikat kontrak dan memerintah spirit, sekaligus merupakan sosok keberadaan mengerikan yang telah melakukan pembantaian massal terhadap ras manusia dalam peperangan seratus tahun yang lalu.

 

Alasan kenapa Xue yang memegang status demikian sanggup menjalani kehidupan di Taman Ketujuh ini murni berkat keberadaan rekan-rekan di Taman Ketujuh.

 

Di dunia luar, diperlakukan layaknya seorang budak sudah menjadi hal yang lumrah. Dan jika tidak memilih untuk menjadi budak demi masuk ke dalam perlindungan kaum bangsawan, maka untuk mendapatkan fasilitas sandang, pangan, dan papan yang layak saja akan menjadi urusan yang sangat sulit untuk dilakukan.

 

Namun, rekan-rekan di Taman Ketujuh mutlak tidak pernah memperlakukan kejam Xue hanya karena fakta bahwa dirinya adalah seorang ras iblis.

Meskipun para murid dari kelas lain kerap melontarkan berbagai macam omongan kepadanya, tetapi selama berada di hadapan para guru, tindakan yang sampai melukainya secara fisik hampir tidak pernah terjadi.

 

Bagi ukuran ras iblis, ini merupakan sebuah lingkungan yang terhitung sangat diberkati.

 

Justru karena itulah, Xue merasa bersalah jika hanya menumpang tinggal tanpa melakukan tugas harian apa pun──alhasil dia sengaja membersihkan asrama secara diam-diam di saat hari masih pagi buta di kala semua orang belum terbangun.

 

"Ah……"

 

Saat melihat pantulan wujud dirinya pada permukaan kaca jendela, tubuhnya tampak sedikit kotor akibat aktivitas membersihkan asrama tadi.

 

Pelajaran di kelas akan segera dimulai tidak lama lagi, dan dia ingin membersihkan kotoran tersebut sebelum waktu itu tiba.

 

Sebagai formalitas, Lily Garden telah dilengkapi dengan fasilitas pemandian umum berukuran besar yang diperuntukkan bagi seluruh murid. Murid yang tidak menetap di asrama pun diizinkan untuk memanfaatkannya setelah pelajaran pertempuran sihir selesai. Tentu saja, Xue juga memiliki hak untuk menggunakannya. Namun,

……Mungkin akan ada orang yang merasa tidak nyaman jika aku pergi ke sana.

 

Xue mencoret fasilitas pemandian umum dari daftar pilihan di dalam hatinya, lalu melangkah menuju ke area belakang asrama sambil membawa selembar handuk bersih.

 

Di area belakang asrama, hamparan semak belukar tampak melebar luas.

 

Bangunan asrama Taman Ketujuh itu sendiri bertindak sebagai pembatas, sehingga tempat ini mutlak tidak akan bisa terlihat dari arah luar.

 

Meskipun demikian, Xue tetap mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling secara cemas, lalu melepaskan pakaiannya dengan penuh keraguan.

 

Begitu pundaknya yang kurus dan pucat terekspos ke udara bebas, dia langsung menggigil gemetaran akibat embusan angin yang dingin.

 

Meski begitu, dia tidak boleh kalah hanya oleh rasa dingin yang selevel ini saja.

 

Xue menciptakan sebongkah air yang melayang di udara menggunakan sihir, lalu memasukkan handuknya ke sana demi membasahinya.

 

Kemudian, dia mulai menyeka pundaknya yang terbuka──

Tepat pada saat itu, sebuah 'suara' bergema di sekelilingnya melalui frekuensi gelombang yang hanya sanggup ditangkap oleh pendengaran Xue saja.

 

Seseorang sedang berjalan mendekat ke arah sini.

 

Namun, di saat dia mengetahuinya, segalanya sudah terlambat.

 

"Loh, Amaryllis-san? Apa yang sedang kamu lakukan di tempat seperti ini?"

 

"Hya!"

 

Meskipun lirih, Xue tetap memekik kaget lalu bergegas membalikkan tubuhnya ke arah belakang dengan panik.

 

Sosok yang mendadak memunculkan wajahnya dari balik sudut bangunan asrama ternyata adalah guru perempuan yang berpenampilan menyerupai biarawati jubah putih──Ophelia Gardener.

 

Ophelia melangkahkan kakinya ke arah sini──lalu terpeleset dengan anggun, dan langsung terkapar babak belur di atas permukaan tanah bersamaan dengan suara erangan layaknya seekor katak yang terinjak.

 

Meski begitu, Ophelia langsung bangkit berdiri dengan gerakan yang teramat gesit seolah sudah terbiasa.

 

Sambil mengalirkan darah segar dari hidungnya.

"Saya sengaja datang ke asrama putri demi mencari Proteus-sensei, tetapi karena mendengar adanya suatu suara, tanpa sengaja saya malah mengintip ke arah sini……"

 

"B-begitu ya. Anu, apakah wajah Anda tidak apa-apa?"

 

"Ya, tidak apa-apa, kok. Kejadian seperti ini biasa terjadi sekitar lima kali dalam sehari. Saya sudah memperkirakan kalau momennya akan tiba tidak lama lagi."

 

"Apakah hal itu bisa diprediksi seperti sebuah jadwal……?"

 

Di saat Xue sedang dirundung rasa ngeri, Ophelia justru memperlihatkan keahlian menyembuhkan dirinya sendiri menggunakan sihir dengan santai.

 

Ophelia kabarnya merupakan seorang guru sihir yang teramat mahir dalam sihir pemulih yang berfokus khusus pada ras iblis. Meskipun bukan merupakan seorang ras iblis, apakah tingkat kemahiran sihir pemulihnya ikut berkembang justru karena dirinya sendiri terbilang sering mengalami luka secara fisik.

 

"Ngomong-ngomong, kenapa Amaryllis-san sampai melepaskan pakaian di tempat seperti ini?"

 

"Ti-tidak, ini, anu."

 

"……Jangan-jangan, kamu sengaja menyeka tubuhmu di sini karena sungkan untuk memanfaatkan fasilitas pemandian umum?"

 

Ekspresi wajah Ophelia seketika berubah menjadi serius.

 

Xue secara refleks berniat untuk mengelak sambil menggerakkan tangannya secara panik, tetapi dugaan tersebut memang tepat seperti kenyataannya.

 

Karena akhirnya memilih untuk pasrah, Xue menatap ke arah wajah

Ophelia sambil gemetaran cemas.

 

"Anu, bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"

 

"……Sebenarnya, saya pernah menghabiskan waktu tinggal bersama

dengan para ras iblis pada masa lalu. Pada waktu itu, ada pula anak yang mencemaskan hal yang sama persis seperti dirimu. Dia bilang kalau orang lain pasti akan merasa tidak nyaman…… padahal hal semacam itu sama sekali tidak perlu dipedulikan."

 

Wajah Ophelia tampak berkerut sedih saat mengenang hal itu.

 

Meski begitu, Xue mutlak tidak menganggap pola pikirnya sebagai suatu keanehan.

 

Meskipun tidak ada murid dari Taman Ketujuh yang akan bersikap demikian, tetapi jika itu adalah para murid dari kelas lain, mereka dipastikan tidak akan sudi untuk merendam tubuh di dalam fasilitas pemandian umum yang telah dimasuki oleh Xue yang memegang status sebagai ras iblis yang ternoda.

 

Mana mungkin orang dewasa seperti Ophelia tidak memahami logika semacam itu.

 

Namun tepat setelah itu, kalimat yang dilontarkan oleh Ophelia justru di luar perkiraan.

 

"……Kebetulan sekali, saya juga baru saja terbangun dari tidur dan sedang ingin menyegarkan badan."

 

"Eh?"

 

"Karena itu, Amaryllis-san, maukah pergi ke fasilitas pemandian umum bersama dengan saya?"

 

Ophelia melayangkan sebuah senyuman yang lembut.

 

"Eh, tapi, nanti kalau ada orang yang merasa tidak nyaman"

 

"Tidak apa-apa. Biarkan saja jika ada orang yang bersikap demikian."

 

"──Sebab jika sampai terjadi sesuatu nanti, saya dipastikan akan melindungimu."

 

Bersamaan dengan sebuah senyuman yang andal, Ophelia menarik tangan Xue secara sedikit memaksa.

Menerima bentuk kepedulian dari guru tersebut membuat hati Xue secara tidak sadar menjadi hangat.

 

Namun pada saat yang bersamaan, dadanya juga terasa berdenyut sakit.

Sebab genggaman tangan Ophelia, terasa teramat mirip dengan sosok

seseorang yang pernah ditemuinya pada masa lalu.

 

 

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan ke agenda berikutnya."

 

Lily Garden. Ruang guru.

 

Di tengah berkumpulnya para staf pengajar, sosok yang berhasil menarik perhatian dari seluruh orang yang berada di ruangan tidak lain adalah sang Kepala Sekolah, Anemone.

 

Anemone mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang lembut.

 

"Saya rasa Anda sekalian sudah mengetahui bahwa pergerakan monster di sekitar wilayah Celeste belakangan ini sedang aktif…… sebenarnya, pihak kerajaan telah melayangkan permohonan bantuan kepada jajaran staf pengajar Lily Garden kita."

 

Monster merujuk pada makhluk-makhluk mengerikan yang berkeliaran di berbagai penjuru dunia.

Makhluk mengerikan yang tidak dibekali fungsi kemampuan berbahasa seperti Goblin maupun Orc, sering kali dikategorikan sebagai monster.

 

Dan asal-usul dari makhluk tersebut kabarnya bersumber dari Raja Iblis dari Ras Demon Beast.

 

Sebagai bentuk pengulangan, ras iblis terbagi menjadi lima ras besar.

Ras peri, ras spirit, ras demi-god, ras naga, dan ras demon beast. Gabungan dari seluruh ras tersebut dinamakan sebagai ras iblis.

 

Para kaum ras iblis yang demikian, seratus tahun yang lalu sempat bersekutu demi mengobarkan peperangan melawan ras manusia.

 

Sebuah peristiwa yang kini tercatat di dalam sejarah sebagai Perang Besar.

 

Sebagai akhir cerita, pertempuran berhasil diselesaikan setelah Holy

Lily menyegel para raja dari masing-masing ras iblis di berbagai penjuru tempat.

 

Para pemimpin dari masing-masing ras pada masa itulah sosok-sosok yang kini dijuluki sebagai Raja Iblis.

 

Kelima Raja Iblis tersebut, seluruhnya dikabarkan merupakan para penyihir yang teramat luar biasa.

 

Detail mengenai kemampuan dari masing-masing Raja Iblis seluruhnya tidak diketahui secara pasti, tetapi di antara semuanya, kemampuan milik Raja Iblis dari ras demon beast merupakan yang paling terkenal.

 

Sebuah kemampuan untuk menciptakan bawahannya sendiri──artinya adalah kemampuan untuk melahirkan monster. Serta kemampuan untuk mengendalikan monster yang bertindak sebagai bawahannya tersebut.

 

Monster-monster yang hingga saat ini masih menetap dan mengamuk di berbagai tempat, bahkan sampai disebut-sebut sebagai sisa-sisa peninggalan yang dilahirkan oleh Raja Iblis dari ras demon beast untuk ditugaskan bertarung pada peperangan seratus tahun yang lalu.

 

"Sejak dahulu aktivitas pembasmian monster di sekitar wilayah ini merupakan pekerjaan milik kita. Saya akan meminta sebagian guru untuk tetap tinggal di sekolah, tetapi karena sebagian besar guru akan ikut bergerak bersama, mohon persiapkan diri kalian masing-masing dengan matang."

 

Aktivitas perburuan monster merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang penyihir.

 

Fakta bahwa sebagian besar penyihir berasal dari kaum bangsawan mungkin menjadi salah satu penyebabnya, tetapi karena memiliki kekuatan, mereka terkadang dituntut untuk melindungi rakyat jelata dari ancaman monster.

 

Hanya saja,

 

……Waktu terjadinya peristiwa ini juga sama persis, ya.

 

Theo bergumam di dalam hatinya sambil mengenang masa lalu.

 

Pada Putaran Pertama dahulu pergerakan monster di sekitar Celeste juga ikut aktif, dan aktivitas perburuan monster juga digelar dengan pola yang sama.

 

Artinya, sejauh ini segalanya masih berjalan sesuai dengan jalur pada Putaran Pertama.

 

Keunggulan terbesar milik Theo adalah pengetahuan dari Putaran Pertama ini. Meskipun dia tidak tahu seberapa besar dampak dari perubahan jalan hidup Isabella terhadap dunia, setidaknya untuk saat ini dia bisa bernapas lega.

 

"P-Proteus-sensei."

 

Sosok yang mendadak mengajaknya berbicara adalah Ophelia.

 

Ophelia mendekatkan wajahnya, lalu mulai berbisik secara lirih.

 

"Anu, apakah Kepala Sekolah benar-benar berniat untuk menyuruh kita para guru melakukan perburuan monster……?"

 

"……Apa maksud Anda?"

"Habisnya, perburuan monster itu sangat berbahaya, lho. Memang benar kalau kita adalah guru sihir…… tapi kita kan tipe penyihir yang jauh dari urusan pertempuran sesungguhnya. Aktivitas perburuan monster saja hanya pernah saya lihat dari arah belakang saat masih kecil dulu, saya bahkan belum pernah melakukannya sekalipun…… apakah orang seperti saya ini tidak apa-apa?"

 

Ophelia memasang ekspresi wajah muram karena cemas.

 

Menanggapi keraguan dari guru tersebut, Theo menyahutnya secara datar sambil mengingat kejadian pada Putaran Pertama.

 

"Tidak ada masalah, kok. Karena formasi pasukannya pasti akan disusun secara matang agar kekuatannya tidak timpang dan tetap berada dalam kondisi yang sempurna. ……Lagi pula belum tentu juga kita akan terpilih."

 

"Eh?"

 

"Bukankah Kepala Sekolah juga sudah mengatakannya tadi. Bahwa sebagian guru akan diminta untuk tetap tinggal di sekolah."

 

Pada Putaran Pertama dahulu, baik Theo maupun Ophelia sama-sama ditugaskan untuk menjaga Lily Garden.

 

Jika jalurnya sama, mereka dipastikan akan tetap ditinggalkan di dalam

Lily Garden yang aman sesuai dengan kejadian pada Putaran Pertama.

 

──Namun, meskipun melontarkan kalimat demikian, dia tahu betul bahwa Lily Garden mutlak bukanlah tempat yang aman.

 

Sebab jika segalanya berjalan sesuai dengan alur pada Putaran Pertama, insiden itu dipastikan juga akan pecah di dalam Lily Garden ini.

 

Sama seperti pada Putaran Pertama, Theo tentu saja sanggup bergerak untuk mencegah agar insiden tersebut tidak sampai membesar sebelum waktunya.

 

Namun, tindakan seperti itu tidak akan ada artinya.

 

Begitulah kalimat yang dilontarkan oleh Theo dengan nada suara yang dingin, membuat seluruh murid Taman Ketujuh patuh dan berlari sekuat tenaga.

 

……Meski begitu, sebenarnya apa yang sedang diwaspadai oleh Sensei?

 

Latihan menempuh jarak jauh. Latihan pemulihan memanfaatkan mana dari dunia luar.

 

Menguasai sihir praktis untuk pertempuran sesungguhnya, alih-alih mempelajari sihir mencolok yang biasa dikuasai oleh para Penyihir Istana. Dengan rentetan informasi yang berjejer seperti ini, mau tidak mau seseorang pasti akan menyadarinya.

 

Hal yang dipaksa Theo untuk dilakukan oleh murid Taman Ketujuh adalah latihan militer.

Namun, dia tidak tahu kenapa Theo sampai menyuruh mereka melakukan hal semacam itu.

 

Sebuah perkiraan yang mustahil, tetapi sikapnya benar-benar seolah-olah dia sudah tahu bahwa pertempuran skala besar akan pecah di masa depan──

 

"I-Isabella-chan!"

 

Sebuah suara terdengar dari arah belakang. Saat berbalik, Iris tampak sedang berusaha menyusul di belakangnya.

 

Namun, ekspresi wajahnya terlihat sangat tersiksa, dan napasnya sudah terengah-engah kritis. Meski begitu, dia tetap bersusah payah untuk terus berlari.

 

Hal ini juga merupakan dampak buruk dari Peraturan kelas yang ditetapkan oleh Theo.

 

Isabella tidak hanya dipaksa memanfaatkan sihir di dalam pelajaran

saja, melainkan untuk urusan tugas harian pun dia wajib menggunakannya.

 

Setiap hari, dia selalu menghabiskan seluruh mana miliknya sebelum malam tiba, lalu tidur layaknya sebongkah lumpur. Tingkat kekejaman latihan itu bahkan sampai memicu rasa iba dari para murid Taman Ketujuh lainnya.

Karena itulah, untuk tugas berikutnya yang akan menentukan siapa petugas harian selanjutnya, seluruh murid berusaha menduduki peringkat atas sekuat tenaga.

 

Siapa juga orangnya yang sudi menjalani kehidupan yang teramat menyiksa seperti itu.

 

Demi tujuan itu, dia tidak akan sudi menyerah hanya karena urusan batas stamina fisik semata.

 

Sambil berlari, Iris memasang sebuah senyuman ceria lalu mengajak berbicara.

 

"……A-anu, maukah kamu melakukan kesepakatan bersamaku!"

 

"Kesepakatan?"

 

"Kalau aku tidak bisa mencapai garis finish, aku akan menempati

peringkat paling bawah dan peluangku menjadi petugas harian akan menjadi semakin mutlak! Padahal kaki milikku sedang terluka…… ka-karena itu, setidaknya maukah kamu membawaku bersamamu sampai ke garis finish!"

 

Iris memasang ekspresi wajah yang teramat kesakitan, berlari sambil menyeret sebelah kakinya.

 

Untuk tugas yang menentukan petugas harian, jika mereka bahkan tidak sanggup mencapai garis finish sekalipun, penilaian Theo dipastikan akan menjadi sangat buruk.

 

Oleh karena itu, setidaknya dia ingin berhasil menggapai garis finish.

 

Meskipun demikian, saat ini pihak yang sedang bersaing sengit memperebutkan peringkat paling bawah adalah Isabella dan Iris. Jika dia menolong Iris di tempat ini, maka peluang Isabella untuk menjadi petugas harian kembali akan menjadi semakin besar.

 

Memang ketentuannya demikian, tetapi.

 

"……Aduh, mau bagaimana lagi ya."

 

Isabella memperlambat langkah kakinya, lalu menyelaraskan posisi di samping Iris.

 

Iris mengembuskan napas lega sambil bergumam, "Isabella-chan……" lalu menghentikan langkah kakinya.

 

Dia sebenarnya bisa saja mengabaikan Iris begitu saja.

 

Namun, membiarkan Iris tertinggal demi melarikan diri dari peringkat paling bawah rasanya agak sedikit mengusik hatinya.

 

Akan tetapi pada detik berikutnya, hal yang tertangkap oleh ruang penglihatan Isabella adalah sebuah senyuman kemenangan mutlak dari Iris.

 

"Kena kau──Pelepasan Formula Sihir: Vine!"

 

"Eh?"

 

Lebih cepat dari rasa terkejutnya, rentetan akar tanaman menjalar keluar dari dalam hutan lalu melilit kedua kaki Isabella dengan rapat.

 

Seketika dia jatuh tersandung, terkapar telentang di atas permukaan tanah.

 

Sihir Rank kedelapan: Vine. Sebuah sihir tingkat dasar untuk mengendalikan tanaman di sekitar, tetapi memiliki tingkat efektivitas yang sangat tinggi untuk menahan pergerakan musuh.

 

"Huhuhu~"

 

Iris menyunggingkan sebuah senyuman jahat, menatap ke bawah ke arah Isabella.

 

Sebelum Isabella sempat menyuarakan protesnya, Iris sudah membusungkan dadanya dengan sok tahu.

 

"Isabella-chan terlalu lembek ya~ Tidak disangka kamu bisa terjebak oleh taktik cerdik milikku dengan semudah ini."

"……Tidak, alih-alih taktik cerdik, bukankah ini hanya sebuah serangan licik tingkat rendah?"

 

"Terjebak oleh taktik cerdik milikku!"

 

Tampaknya, dia bersikeras ingin menganggap tindakannya sebagai sebuah taktik cerdik.

 

Namun, proses memotong akar tanaman ini terbilang agak sedikit menyebalkan. Di saat dia bersusah payah memotongnya menggunakan sihir, wujud Iris sudah menjadi semakin mengecil di kejauhan.

 

"Maafkan aku ya, Isabella-chan! Tapi aku benar-benar paling tidak sudi jika harus menjadi petugas harian! Karena itu, tetaplah tertahan di sana──GYAAAAAHHHHHHHHHHH!"

 

Iris berniat pergi meninggalkan tempat itu bersamaan dengan kalimat ancamannya.

 

Namun, dia tidak sanggup merangkai kalimatnya hingga akhir.

 

Alasannya sederhana. Iris baru saja menginjak jebakan sihir yang dipasang oleh Theo sekuat tenaga.

 

Kedua kaki Iris terlilit oleh akar tanaman yang tumbuh dari sebuah pohon raksasa, membuatnya berakhir tergantung terbalik di udara.

 

Setelah berhasil memotong akar tanaman yang melilit dirinya, Isabella mendekati Iris lalu menatap ke atas secara diam seribu bahasa.

 

"A-anu~ Isabella-chan? I-itu, maukah kamu menolongku? P-posisi tubuhku sekarang tidak stabil jadi aku tidak bisa memotongnya sama sekali……"

 

"…………"

 

"A-aku rasa sikap saling menolong itu adalah urusan yang sangat penting! Dengar, kita kan rekan kerja! Kita juga sudah berjanji untuk mencapai garis finish bersama, kan!"

 

"…………"

 

"Aku paham! Aku tidak keberatan untuk menjilat sepatumu! Aku akan melakukan apa saja! Karena itu tolong selamatkan aku!"

 

"…………"

 

"Ah, jangan pergi! Aku tidak mau, kalau ditinggal di tempat seperti ini aku pasti akan diserang oleh monster hutan! Kembali! Aku mohon kembalilah, Isabella-chaaaaaaannnnn!"

 

Sambil mendengarkan jeritan histeris dari Iris, Isabella meninggalkan tempat tersebut lalu kembali fokus pada pelajaran kelas.

 

Entah sudah berapa puluh menit waktu berlalu setelah itu.

Seluruh murid Taman Ketujuh akhirnya berhasil menggapai garis finish di depan gerbang sekolah Lily Garden.

 

Setelah kejadian tadi, dia kemungkinan besar telah bersusah payah memotong akar tanaman itu murni menggunakan kekuatannya sendiri.

 

Meskipun menempati peringkat paling bawah, Iris juga berhasil

menggapai titik finish.

 

Termasuk Isabella, beberapa murid tampak menyusutkan badan mereka di atas tanah demi mengatur napas.

 

Aliran keringat bercucuran tanpa henti, dan rasa panas di dalam tubuh sama sekali tidak kunjung menurun.

 

……Latihan ini benar-benar sangat berat.

 

Dia sadar bahwa kekuatan fisiknya sudah menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

 

Namun, Isabella pada dasarnya merupakan tipe orang yang membenci aktivitas olahraga. Kondisinya saat ini paling-paling hanya sebatas berhasil memiliki kekuatan fisik yang setara dengan manusia normal pada umumnya.

 

"Apakah batas kalian sudah tiba?"

 

Mendengar sebuah suara yang mendadak turun dari atas kepalanya membuat Isabella mengangkat wajah.

 

Sosok yang sedang berdiri tepat di hadapannya tidak lain adalah Theo.

 

Menghadapi Theo yang sedang menatap ke bawah ke arahnya membuat Isabella bangkit berdiri bersamaan dengan nada suara yang tangguh.

 

"Tentu saja aku masih sanggup melanjutkannya. Aku tidak akan sudi mengeluh hanya karena latihan selevel ini saja."

 

"Begitu ya, baguslah. Jika kamu sampai melontarkan keluhan lemah, aku berniat menyuruhmu berlari terus sampai pingsan."

 

"-. Sa-sampai pingsan?"

 

"……Kenapa kamu malah terlihat sedikit senang?"

 

"T-tidak mungkin aku merasa senang! Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku ini!!!"

 

Berlari sampai pingsan. Membayangkan tingkat kekejaman dari hukuman tersebut membuat sudut bibirnya secara tidak sadar terangkat, meratapi kondisi dirinya yang demikian membuat Isabella langsung menangis sambil menyusutkan badannya di atas tanah.

 

"……Tapi, ya sudahlah. Hasil pencapaian kalian terhitung lumayan. Kalian memiliki kualifikasi untuk melangkah ke tahap berikutnya."

"……Tahap berikutnya?"

 

Di saat Isabella bertanya sambil menyeka air matanya, Theo mulai memberikan penjelasan sambil melangkah secara santai.

 

"Sebelum menjelaskan hal itu, mari kita luruskan faktanya demi kalian terlebih dahulu. Sepanjang satu bulan ini aku telah memaksa kalian untuk berlari sekuat tenaga, hal itu bertujuan untuk mencetak kalian menjadi penyihir yang sanggup bertahan hidup di dalam peperangan. Mungkin beberapa di antara kalian sudah ada yang bisa memperkirakannya."

 

Hal itu tepat seperti yang dipikirkan oleh Isabella sesaat yang lalu.

 

Saat mencuri pandang ke arah sekeliling, Karina dan Xue tampak menganggukkan kepala mereka seolah sudah menduganya. Momo tampak menguap secara malas karena tidak tertarik, sedangkan Iris membelalakkan matanya dengan lebar lalu bergumam, "Eh, jadi begitu ya?! Ternyata ada alasan yang mendalam seperti itu?!"

 

Namun, hal itu mutlak bukan berarti keraguan mereka telah sirna secara total.

 

Sebab, kondisi Kerajaan Sanctia saat ini terbilang sangat jauh dari urusan peperangan. Walau mereka terkadang harus bertarung dalam aktivitas penaklukan dungeon maupun perburuan monster, peperangan skala besar sudah sangat lama tidak pernah pecah di dalam sejarah kerajaan.

Artinya, sejak awal mereka sama sekali tidak memiliki urgensi untuk mengasumsikan terjadinya peperangan.

 

"Hal minimal yang dibutuhkan pada saat peperangan adalah kekuatan fisik dan mana yang sanggup digunakan untuk bertarung dalam jangka waktu panjang. Oleh karena itu, sepanjang satu bulan ini sambil memaksa kalian berlari, aku juga menyuruh kalian mengasah latihan pemulihan mana. Namun tentu saja, hanya dengan hal itu saja masih belum memadai."

 

"Mohon tunggu sebentar."

 

Sosok yang memotong pembicaraan di tempat itu adalah Karina.

 

Keraguan yang dirasakan oleh seluruh orang di ruangan dilontarkan secara langsung oleh Karina secara terang-terangan.

 

"Sebelum melangkah lebih jauh, kenapa tujuannya harus mencetak penyihir yang sanggup bertahan hidup di dalam peperangan? Kami tidak pernah berharap untuk menjadi sosok yang seperti itu──"

 

"Ya, tepat sekali. Di antara kalian pasti ada pula pihak yang tidak menginginkannya. Tapi, hal itu tidak ada hubungannya denganku."

 

"Tidak ada hubungannya?"

 

"Ini adalah kelasku. Kalian wajib mematuhi seluruh kebijakanku. Jika memiliki keluhan, silakan manfaatkan hak istimewa sebagai murid berprestasi berdasarkan peraturan kelas untuk mengubah keputusanku ini."

 

Peraturan kelas. Itu adalah sebuah aturan mutlak yang ditetapkan oleh Theo.

 

Bagi murid berprestasi, mereka diizinkan untuk mengajukan satu permohonan yang sanggup diwujudkan oleh Theo dalam kurun waktu dua puluh empat jam. Dia bermaksud menyuruh Karina memanfaatkan hak istimewa tersebut jika ingin mengubah keputusannya.

 

Kenyatannya, nilai prestasi untuk periode sebelumnya sudah diumumkan.

 

Peringkat paling bawah ditempati oleh Isabella. Dan murid berprestasinya adalah──

 

"……Murid berprestasi pada periode sebelumnya, kalau tidak salah adalah dirimu sendiri, kan. Lalu, bagaimana keputusanmu? Karina, demi mewujudkan impian yang kamu miliki, aku rasa menguasai kekuatan ini tidak akan memberikan kerugian apa pun bagi dirimu, lho."

 

"Hal itu, adalah……"

 

"Hal yang sama juga berlaku bagi yang lain. Aku tahu apa keinginan kalian yang sesungguhnya. Aku rasa latihan ini tidak akan mendatangkan kerugian bagi kalian, kan?"

Theo mengedarkan pandangan matanya ke arah sekeliling, tetapi tidak ada satu pun orang yang sanggup melayangkan suara.

 

Bagaimana bisa dia mengetahui keinginan mereka yang sesungguhnya.

 

Berbagai macam keraguan seketika membubung di dalam dada, tetapi tidak ada orang yang mengubahnya menjadi untaian kata.

 

Sebagai gantinya, Isabella menyuarakan keputusannya secara tenang.

 

"Sensei, apa sebenarnya yang akan kamu paksa untuk kami lakukan

setelah ini? Asalkan aku bisa menjadi kuat, aku tidak keberatan untuk melakukannya."

 

"……Isabella."

 

"Karina, katakan saja jika kamu memang tidak sudi melakukannya. Tapi, bukan berarti seluruh murid di kelas ini akan ikut mematuhimu, kan. Aku tidak keberatan untuk ikut bermain dalam rencana milik Sensei."

 

Mendengar kata-kata Isabella tersebut membuat Karina menggigit bibirnya dengan kesal.

 

Namun, tidak ada satu patah kata pun yang kembali keluar dari mulutnya.

 

Apakah Theo menganggap sikap tersebut sebagai sebuah persetujuan, dia melanjutkan pembicaraannya sambil mengedarkan pandangan secara santai.

 

"Baguslah. Kalau begitu, Isabella, aku akan menjawab keraguan milikmu. Hal berikutnya yang akan kupaksa untuk kalian lakukan adalah latihan melancarkan serangan menggunakan sihir."

 

Theo menyunggingkan sebuah senyuman licik yang tipis.

 

Namun, mereka tidak dapat menangkap maksud dari kalimat tersebut.

 

Melancarkan serangan menggunakan sihir. Hal semacam itu merupakan urusan yang teramat biasa dilakukan.

 

Termasuk Isabella, para murid Taman Ketujuh memasang ekspresi wajah yang kebingungan.

 

Namun, Theo melanjutkan kalimatnya bersamaan dengan nada suara

yang dingin.

 

"Melancarkan serangan dengan sihir. Kalian masih belum memahami makna sesungguhnya dari tindakan tersebut dengan benar. Oleh karena itu, aku akan menggelar pelajaran kelas dari awal sekarang juga. Perintah dariku hanya ada satu."

 

"──Bunuhlah aku menggunakan tangan kalian sendiri."

 

"……Menurutmu seberapa jauh dia bersikap serius?"

 

Sebuah hutan yang berada di sekitar wilayah Lily Garden.

 

Hamparan pepohonan tampak melebar luas menutupi langit, dan pancaran sinar mentari senja menyelinap masuk dari sela-sela ranting dan dedaunan.

 

Di bawah kaki mereka, akar dari pohon raksasa tampak menjalar bersahut-sahutan membuat permukaan tanah menjadi tidak rata, kondisi pijakannya mutlak tidak bisa dikatakan baik bahkan sebagai bentuk basa-basi sekalipun.

 

Di seberang ruang penglihatan mereka, Theo sedang berdiri seorang diri sambil memutar-mutar tongkat di dalam genggaman tangannya.

 

Sebaliknya, di sekeliling Isabella tampak seluruh murid Taman Ketujuh sedang berkumpul lengkap.

 

Setelah kejadian tadi, lokasi yang dituju berdasarkan instruksi dari Theo adalah hutan yang bertindak sebagai salah satu area latihan milik Lily Garden ini. Pelajaran berikutnya kabarnya akan digelar di dalam hutan ini. Isinya merupakan sebuah pertempuran sihir melawan Theo.

 

Saat Isabella membalikkan tubuhnya akibat mendengar sebuah suara yang menyapanya secara mendadak, Karina sudah berdiri di sampingnya.

Sambil terus memusatkan pandangan matanya ke arah Theo, Karina berucap secara tenang.

 

"Sensei memang bilang 'Bunuhlah aku menggunakan tangan kalian sendiri', tapi mana mungkin kita bisa membunuhnya secara harfiah. Aku rasa kalimat itu bermaksud 'Seranglah aku dengan niat untuk membunuh', tapi bagaimana menurutmu, Isabella?"

 

"Entahlah, aku tidak tahu."

 

Isabella menyahut sambil menggerakkan kedua lengannya demi melakukan pemanasan fisik.

 

"Jangankan membunuh, mendaratkan satu tembakan sihir saja pasti akan sangat sulit untuk dilakukan. Jika memang berniat membunuhnya, pertempuran jarak dekat sepertinya memiliki peluang terbesar. Bagaimanapun juga, memikirkannya sekarang hanya akan menjadi sia-sia saja. Niat sesungguhnya dari Sensei dipastikan akan langsung kita ketahui mau tidak mau setelah pertempuran dimulai nanti."

 

"……Isabella sudah berubah ya."

 

"Benarkah? Di bagian mana? Sejak dulu aku memang begini, lho?"

 

Isabella memiringkan kepalanya dengan bingung, tetapi Karina hanya mengulas sebuah senyuman simpul tanpa memberikan jawaban apa pun.

Sebagai gantinya, Karina bergumam layaknya sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

 

"……Seiring dengan bertambahnya waktu yang kuhabiskan bersama dengan Sensei, rasa janggal di dalam hatiku justru menjadi semakin membubung…… aku tidak bisa menyuarakannya dengan baik, tapi ada sesuatu yang aneh……"

 

"Eh?"

 

"Tidak, bukan apa-apa. Berbicara murni berdasarkan intuisi saja merupakan hal yang buruk ya."

 

Karina menggelengkan kepalanya lalu menutup mulutnya rapat-rapat.

 

Isabella secara refleks berniat untuk mengejarnya lebih jauh, tetapi sebelum sempat melakukannya, suara Theo sudah bergema terlebih dahulu.

 

"Kalian, apakah persiapannya sudah selesai?"

 

Theo masih tetap berdiri dengan tenang di seberang hutan seperti biasanya.

 

Namun, posisi berdirinya terlihat sangat mantap secara janggal.

 

Benar-benar persis layaknya seorang penyihir berpengalaman yang sedang memasang kuda-kuda bertarung.

Seketika, atmosfer ketegangan yang pekat langsung mengalir di antara para murid Taman Ketujuh.

 

"……Tapi, apakah benar-benar tidak apa-apa? Menjadikan kami semua sebagai lawanmu secara bersamaan."

 

Hal itulah bentuk penjelasan yang mereka terima sebelum datang ke dalam hutan ini.

 

Karina melanjutkan untaian kalimatnya secara ragu-madu.

 

"Sehebat apa pun diri Sensei, jika harus menghadapi kami berlima sekaligus──"

 

"Tidak ada masalah. Karena jika kalian menghadapiku satu per satu, kalian mutlak tidak akan bisa menjadi lawanku. Ini sudah terhitung pas."

 

Menanggapi argumen dari Karina tersebut, Theo justru membalasnya secara ketus.

 

Sama seperti kejadian saat duel dengan Isabella waktu itu, Theo terlihat teramat terbiasa dalam urusan pertempuran.

 

Theo merupakan seorang akademisi, dan seharusnya bukan merupakan seorang penyihir yang berfokus khusus pada pertempuran

sesungguhnya.

Sebenarnya di mana dia berhasil menguasai keahlian bertarung yang sepadan ini?

 

Namun, mereka tidak memiliki kemewahan waktu untuk menyuarakan keraguan tersebut.

 

Sambil melemparkan tatapan mata yang datar ke arah sini, Theo

memberikan deklarasi.

 

"Apakah tidak ada pertanyaan tambahan lagi. Kalau begitu tampaknya

sudah tidak ada masalah ya. ──Kalau begitu, mari kita mulai pelajaran kelasnya."

 

Kalimat tersebut merupakan genderang perang tanda pertempuran dimulai.

 

Theo mengarahkan ujung tongkatnya ke arah sini secara perlahan.

 

"Koneksi Mulai"

 

Kalimat yang disuarakan oleh Theo merupakan pemberitahuan bahwa persiapan bertarung telah selesai diselesaikan.

 

Kobaran mana dalam jumlah masif seketika menggetarkan udara sekitar, bahkan sampai memicu terciptanya embusan angin kencang.

 

Dampak dari gelombang mana yang teramat dahsyat itu memicu sensasi merinding yang mengerikan di seantero tubuh. Tepat di saat instingnya membunyikan lonceng peringatan, Isabella langsung menendang permukaan tanah untuk berlari menerjang maju.

 

"──Pelepasan Formula Sihir: Flare"

 

Tepat pada saat nama sihir itu dilontarkan dari mulut Theo, sebuah

aliran kobaran api yang dahsyat langsung melebar memenuhi seluruh ruang penglihatan mereka.

 

Karena seluruh murid Taman Ketujuh sedang berada dalam kondisi lengang, formasi pasukan mereka berakhir menjadi berantakan.

 

Di barisan depan ditempati oleh Momo dan Iris, barisan tengah ditempati oleh Isabella dan Karina, sedangkan barisan belakang ditempati oleh Xue.

 

Namun tanpa memedulikan formasi pasukan yang demikian, kobaran api tersebut melesat dengan cepat seolah hendak menelan seluruh murid

Taman Ketujuh secara serempak.

 

Pada dasarnya Flare merupakan sihir Rank keenam. Sihir tingkat menengah yang seharusnya tidak mungkin memiliki daya rusak yang sampai sanggup membakar habis seisi hutan, tetapi akibat mana milik

Theo yang teramat melimpah ruah, kekuatannya telah diperkuat hingga ke tingkat yang tidak masuk akal.

 

"Xue!"

Saat dia menyadarinya, Karina sudah berteriak sambil berlari lincah demi menghindari terjangan kobaran api.

 

Meskipun hanya sebatas memanggil namanya saja, maksud dari kalimat tersebut tampaknya berhasil tersampaikan kepada Xue dengan baik.

 

Mereka tidak menghabiskan waktu selama dua tahun bersama sejak masuk ke Lily Garden secara sia-sia.

 

"Serahkan padaku!"

 

Xue mengulurkan tangan kecilnya ke arah depan sekuat tenaga, lalu merapalkan nama sihirnya.

 

Bukan sihir untuk menyerang, melainkan sihir yang berfokus khusus

untuk melindungi.

 

"Pelepasan Formula Sihir──Frost Tidal!"

 

Tepat setelah teriakan Xue bergema, sebuah tsunami es mendadak muncul dari dalam permukaan tanah.

 

Itu adalah sihir spirit. Sebuah sihir berkecepatan tinggi yang menggabungkan teori sihir generasi keempat dengan kekuatan dari spirit. Penyihir normal biasa mengaktifkan sihir murni hanya berdasarkan spesifikasi yang mereka miliki saja, tetapi Xue sanggup meminjam kekuatan dari spirit juga.

Meskipun demikian, sebagai gantinya, bukan berarti Xue sanggup mengaktifkan segala jenis sihir secara bebas.

 

Dia hanya bisa mengaktifkan sihir yang disukai oleh spirit saja, alhasil sihir sistem es menjadi fokus utamanya.

 

Saat gelombang es berbenturan dengan aliran kobaran api, sebuah uap

panas berwarna putih langsung meledak bersamaan dengan gaung suara gemuruh yang dahsyat.

 

Ruang penglihatan seketika tertutupi oleh kabut uap putih, membuat mereka tidak bisa melihat apa pun lagi.

 

Namun, kondisi yang sama juga berlaku bagi Theo. Suara Karina terdengar bergema dari balik kabut uap putih tersebut.

 

"Semuanya! Sekarang adalah kesempatan emas! Sehebat apa pun diri Sensei, jika menerima serangan bertubi-tubi dari kita semua secara bersamaan──"

 

"──Serangan bertubi-tubi memangnya kenapa?"

 

Wusss! Sebuah embusan angin kencang mendadak bertiup dengan dahsyat, menerbangkan kabut uap putih dalam sekejap mata.

 

Dan di seberang kabut uap yang telah sirna tersebut, hal yang tertangkap oleh ruang penglihatan mereka adalah.

 

"Momo! Iris-senpai!"

 

Tepat di saat Isabella berteriak histeris, Theo sudah mencengkeram kepala kedua orang itu menggunakan kedua tangannya lalu menghantamkannya ke atas tanah dengan keras.

 

Hanya dalam satu pukulan. Momo dan Iris yang berada di barisan depan langsung terkapar tidak sadarkan diri akibat kesadaran mereka yang direnggut paksa secara instan.

 

Di tengah kabut uap tadi, Theo ternyata telah menghilangkan hawa

keberadaannya lalu mendekati kedua orang itu dengan cepat.

 

──Kecepatan gerakannya terlampau gila!

 

Baru sekitar sepuluh detik sejak pertempuran dimulai, dua orang di antara mereka sudah gugur dari arena.

 

Tingkat kekuatannya benar-benar terlampau tangguh. Begitu memahami fakta tersebut, Isabella dan Xue secara refleks langsung menendang permukaan tanah untuk melompat mundur demi mengambil jarak aman.

 

Namun, hanya ada satu orang, Karina seorang yang justru melangkahkan kakinya menerjang maju ke arah depan.

 

"──Haaaaahhhhhhh!"

Bersamaan dengan teriakan yang dipenuhi oleh fokus konsentrasi yang mendalam, Karina melayangkan rentetan pukulan ke arah Theo secara bertubi-tubi tanpa henti.

 

Karina adalah tipe penyihir yang bertarung dengan jarak sangat dekat, sebuah pengecualian bagi seorang penyihir.

 

Karena terlahir sebagai rakyat jelata, dia biasanya tidak akan bisa masuk ke institusi pendidikan sihir ternama, tetapi bakatnya sebagai penyihir teramat mendominasi hingga tidak membiarkan orang lain mendekatinya. Bahkan di dalam keluarga Lumiere sekalipun, bakat selevel itu belum pernah terlihat.

 

Hanya saja, karena Karina sendiri sangat kikuk, dia tidak bisa menggunakan sihir yang mendetail dengan becus.

 

Meski begitu, hal yang dikuasainya adalah sihir Physical Enhance. Dia

bertarung dengan sihir yang menjadi semakin kuat seiring dengan semakin banyaknya mana yang dialirkan. Itulah gaya pertempuran jarak dekat tingkat tinggi milik Karina.

 

Setiap kali Karina menggerakkan lengan maupun kakinya, angin bertiup dengan kencang, dan suara hantaman angin bergema di sekeliling.

 

Jika dia adalah penyihir biasa, dia dipastikan tidak akan bisa mengimbangi kecepatan Karina.

Namun, hal yang mengejutkan adalah Theo justru sanggup menahan rentetan serangan Karina secara datar dalam pertempuran jarak dekat yang sama.

 

Bagaikan sudah mengetahuinya sejak awal, dia sama sekali tidak terlihat goyah oleh gaya pertempuran jarak dekat tingkat tinggi milik Karina, lalu mengalirkan setiap pukulan maupun tendangan gadis itu.

 

"Isabella, Xue, sekarang jalannya!"

 

"──Aku paham!"

 

Menanggapi teriakan Karina yang sedang melayangkan serangan empat

anggota tubuhnya, Isabella langsung berlari menuju ke titik buta Theo.

 

Dalam sekejap, Karina melayangkan sebuah tendangan sekuat tenaga.

 

Bugh! Theo mengangkat kedua lengannya di depan wajah demi menahan tendangan Karina. Namun, dia tidak sanggup meredam momentum daya dorongnya secara total. Theo melangkah mundur ke belakang sambil menyisakan bekas gesekan sepatu di atas permukaan tanah.

 

Momen itulah yang menjadi kesempatan emas bagi serangan Isabella.

 

"-"

 

Sambil memprediksi posisi mundur Theo, Isabella sudah berlari menuju ke arah tersebut terlebih dahulu.

 

Setelah memasang sihir Physical Enhance di seujung tubuh, dia

mendekat dari titik buta Theo.

 

Jika hanya menggunakan sihir sederhana, dengan tingkat keahlian Theo, Isabella tahu serangannya pasti akan bisa dihindari.

 

Karena itulah, hal yang dipilih oleh Isabella adalah pertempuran jarak dekat.

 

Isabella telah menguasai ilmu pedang berdasarkan kebijakan dari keluarga Lumiere. Sambil memanfaatkan secara penuh fisik yang telah ditempa sepanjang satu bulan ini, dia menyiapkan pedang tongkatnya lalu menerjang maju dalam satu sentakan.

 

Theo merasakan hawa keberadaan Isabella lalu bergegas memalingkan wajahnya ke arah sini, tetapi segalanya sudah terlambat.

 

Dia sudah masuk ke dalam jarak jangkauan pedang tongkat. Di saat dia baru menyadarinya sekarang, mustahil serangan ini akan bisa dihindari.

 

Tentu saja, jika lawannya adalah penyihir biasa.

 

──Tapi, kalau itu kamu, serangan ini pasti juga akan dihindari, kan!

 

Bersamaan dengan intuisi yang kuyup oleh keyakinan, Isabella menusukkan pedang tongkatnya.

 

Jika itu adalah Theo yang dilihatnya selama ini, serangan selevel ini pasti akan bisa dihindari dengan mudah.

 

Justru karena itulah, pada detik berikutnya, Isabella tidak sanggup mempercayai pemandangan yang tersaji tepat di hadapan matanya.

 

"────────Eh"

 

Cipratan darah. Pedang tongkat milik Isabella telah tertancap menembus perut Theo.

 

Darah segar yang hangat tampak tepercik mengenai wajah Isabella.

 

Melalui perantara pedang tongkatnya, sensasi nyata saat merobek daging manusia terukir dengan sangat jelas di tangannya. Itu adalah sebuah sensasi vulgar yang belum pernah dirasakannya sepanjang hidup, dan──

 

"Ada apa?"

 

Theo masih berada dalam kondisi tertancap pedang tongkat, tetapi dia sama sekali tidak bergeming sedikit pun, lalu menatap ke bawah ke arah sini dengan sepasang mata yang dingin.

 

"Bukankah sudah kukatakan untuk membunuhku. Kenapa, kamu malah menjadi ciut hanya karena tusukan selevel ini?"

 

"-"

 

"Kamu pikir kamu bisa membunuh seseorang hanya dengan tingkat tekad selevel itu? Ulangi lagi dari awal."

 

"────Guh!"

 

Tendangan Theo bersarang telak di perut Isabella, membuatnya terlempar ke udara tanpa ampun. Setelah tubuhnya terguling berkali-kali di atas permukaan tanah, gerakannya baru berhenti setelah menghantam sebuah pohon raksasa dengan keras.

 

Bukan berarti dia menerima luka dalam yang parah. Namun,

 

"……Ah."

 

Tekadnya untuk bangkit berdiri kini telah sirna secara total.

 

Penyihir yang sanggup bertahan hidup di dalam peperangan. Tidak memahami makna sesungguhnya dari melancarkan serangan menggunakan sihir.

 

Dari rentetan kalimat tersebut, dia sebenarnya sudah memprediksi apa yang ingin disampaikan oleh Theo sebelumnya.

Manusia bisa dibunuh dengan sangat mudah menggunakan sihir. Hal itulah yang ingin disampaikan oleh Theo.

 

Jika seseorang baru menyadari kemungkinan tersebut untuk pertama kalinya di medan perang lalu berakhir ciut, maka penyihir itu tidak akan bisa bertarung lagi.

 

Namun, meskipun sudah mempersiapkan mentalnya, tubuh Isabella tetap saja gemetaran secara otomatis.

 

Secara logika dia paham betul bahwa manusia bisa dibunuh dengan sangat mudah menggunakan sihir. Hal yang sama juga berlaku untuk satu sihir Physical Enhance yang baru saja digunakannya tadi. Sebab fisik yang sanggup bergerak dengan kecepatan yang teramat gila itu sendiri sudah bisa bertindak sebagai sebuah senjata pembunuh.

 

Isabella bersusah payah untuk sekadar mengangkat wajahnya, tetapi

Karina maupun Xue hanya bisa mematung diam seribu bahasa.

Secara khusus, wajah Xue tampak memucat padam akibat darah yang menyusut dari wajahnya. Dia terlihat seperti akan ambruk lemas kapan saja saat ini juga.

 

Theo menarik lepas pedang tongkat dari dalam perutnya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas tanah. Darah segar mengalir deras keluar, menciptakan sebuah genangan merah pekat di atas tanah becek.

 

Di tempat ini, orang yang menerima luka paling parah dipastikan adalah

Theo sendiri.

Meskipun demikian, pemandangan tersebut justru merampas habis niat bertarung dari seluruh murid yang berada di arena.

 

"Sensei! Cepat obati lukamu sekarang juga!"

 

"Kalian, apakah kalian tidak mendengarkan kalimat yang kuucapkan tadi?"

 

Menanggapi teriakan dari Karina tersebut, Theo justru melontarkannya secara datar.

 

"Sudah kukatakan 'Bunuhlah aku', kan? Padahal sekarang adalah kesempatan yang paling emas, kenapa kalian tidak kunjung menyerangku? Apakah kalian benar-benar memiliki niat untuk latihan?"

 

"Bukan hal semacam itu yang sedang dibicarakan! Di saat ada orang yang sedang terluka──"

 

"Justru hal semacam itulah yang sedang dibicarakan, Karina."

 

Meskipun disuarakan dengan nada suara yang tenang, kata-kata Theo terdengar dengan sangat jelas secara janggal.

 

"Di dalam peperangan, di dalam pertempuran, kamu wajib melukai dan membunuh seseorang. Itulah tugas yang dibebankan kepada seorang penyihir. Orang yang tidak sanggup melakukan hal itu, seberapa hebat pun kemampuan sihir yang dimilikinya, dia tetaplah seorang penyihir kelas tiga. Sihir yang sedang kalian pelajari saat ini, adalah hal yang seperti itu."

 

Jika melayangkan pedang tongkat setelah memperkuat fisik, jika sihir serangan berhasil mendarat, maka musuh akan mati dengan sangat mudah.

 

Secara logika, dia mengira dirinya sudah memahami urusan yang

sewajarnya seperti itu.

 

Namun, ternyata dia sama sekali belum memahaminya.

 

Dan sekarang, di saat makna sesungguhnya dari tindakan tersebut telah berhasil dipahami secara nyata, niat mereka untuk bertarung justru telah direnggut paksa hingga ke akarnya.

 

"Nah, mari kita lanjutkan pelajaran kelasnya."

 

"…………-"

 

Sambil terus mengalirkan darah segar dari tubuhnya, Theo melangkahkan kakinya maju ke arah depan.

 

Sosok wujudnya saat ini, benar-benar tampak persis layaknya seorang prajurit yang telah melintasi berbagai medan pertempuran.

 

Murid-murid Taman Ketujuh saat ini, mutlak tidak memiliki kesiapan mental yang memadai untuk menghadapi penyihir yang seperti itu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close