BAB VII
"Pembersihan selesai!"
Asrama putri Taman Ketujuh.
Di saat sinar mentari pagi mulai
menyelinap masuk menyinari koridor asrama, Xue spontan menyuarakan hal itu
bersamaan dengan kepuasan yang dirasakannya.
Mungkin karena hari masih teramat pagi,
sebagian besar murid Taman
Ketujuh belum terbangun.
Satu-satunya orang yang sudah bangun
paling-paling hanyalah Isabella.
Xue sempat melihat gadis itu sudah
terbangun sejak pagi buta demi menjalankan tugasnya sebagai petugas harian lalu
melangkah keluar meninggalkan asrama.
Namun, justru karena tidak ada satu pun
orang yang terbangun di asrama, Xue sengaja membersihkan area tempat tinggal
mereka ini.
Sebab, tugas membersihkan asrama
sebenarnya merupakan pekerjaan milik Isabella yang bertindak sebagai petugas
harian. Jika dia lancang mengerjakan tugas gadis itu secara sembarangan, maka
keberadaan peraturan kelas yang ditetapkan oleh Theo akan menjadi tidak ada
artinya.
Meski begitu,
──Karena
aku tidak boleh merepotkan semuanya.
Xue mengepalkan kedua tangan kecilnya
demi memicu semangat pada dirinya sendiri, lalu mendenguskan napas dengan
tangguh.
Xue adalah seorang ras iblis.
Tepatnya, ras spirit. Sebuah ras yang
sejak zaman dahulu telah mengikat kontrak dan memerintah spirit, sekaligus
merupakan sosok keberadaan mengerikan yang telah melakukan pembantaian massal
terhadap ras manusia dalam peperangan seratus tahun yang lalu.
Alasan kenapa Xue yang memegang status
demikian sanggup menjalani kehidupan di Taman Ketujuh ini murni berkat
keberadaan rekan-rekan di Taman Ketujuh.
Di dunia luar, diperlakukan layaknya
seorang budak sudah menjadi hal yang lumrah. Dan jika tidak memilih untuk
menjadi budak demi masuk ke dalam perlindungan kaum bangsawan, maka untuk
mendapatkan fasilitas sandang, pangan, dan papan yang layak saja akan menjadi
urusan yang sangat sulit untuk dilakukan.
Namun, rekan-rekan di Taman Ketujuh
mutlak tidak pernah memperlakukan kejam Xue hanya karena fakta bahwa dirinya
adalah seorang ras iblis.
Meskipun para murid dari kelas lain kerap
melontarkan berbagai macam omongan kepadanya, tetapi selama berada di hadapan
para guru, tindakan yang sampai melukainya secara fisik hampir tidak pernah
terjadi.
Bagi ukuran ras iblis, ini merupakan
sebuah lingkungan yang terhitung sangat diberkati.
Justru
karena itulah, Xue merasa bersalah jika hanya menumpang tinggal tanpa melakukan
tugas harian apa pun──alhasil dia sengaja membersihkan asrama secara diam-diam
di saat hari masih pagi buta di kala semua orang belum terbangun.
"Ah……"
Saat melihat pantulan wujud dirinya pada
permukaan kaca jendela, tubuhnya tampak sedikit kotor akibat aktivitas
membersihkan asrama tadi.
Pelajaran di kelas akan segera dimulai
tidak lama lagi, dan dia ingin membersihkan kotoran tersebut sebelum waktu itu
tiba.
Sebagai formalitas, Lily Garden telah
dilengkapi dengan fasilitas pemandian umum berukuran besar yang diperuntukkan
bagi seluruh murid. Murid yang tidak menetap di asrama pun diizinkan untuk
memanfaatkannya setelah pelajaran pertempuran sihir selesai. Tentu saja, Xue
juga memiliki hak untuk menggunakannya. Namun,
……Mungkin akan ada orang yang merasa
tidak nyaman jika aku pergi ke sana.
Xue mencoret fasilitas pemandian umum
dari daftar pilihan di dalam hatinya, lalu melangkah menuju ke area belakang
asrama sambil membawa selembar handuk bersih.
Di area belakang asrama, hamparan semak
belukar tampak melebar luas.
Bangunan asrama Taman Ketujuh itu sendiri
bertindak sebagai pembatas, sehingga tempat ini mutlak tidak akan bisa terlihat
dari arah luar.
Meskipun demikian, Xue tetap mengedarkan
pandangan matanya ke sekeliling secara cemas, lalu melepaskan pakaiannya dengan
penuh keraguan.
Begitu pundaknya yang kurus dan pucat
terekspos ke udara bebas, dia langsung menggigil gemetaran akibat embusan angin
yang dingin.
Meski begitu, dia tidak boleh kalah hanya
oleh rasa dingin yang selevel ini saja.
Xue menciptakan sebongkah air yang
melayang di udara menggunakan sihir, lalu memasukkan handuknya ke sana demi
membasahinya.
Kemudian,
dia mulai menyeka pundaknya yang terbuka──
Tepat pada saat itu, sebuah 'suara'
bergema di sekelilingnya melalui frekuensi gelombang yang hanya sanggup
ditangkap oleh pendengaran Xue saja.
Seseorang sedang berjalan mendekat ke
arah sini.
Namun, di saat dia mengetahuinya,
segalanya sudah terlambat.
"Loh, Amaryllis-san? Apa yang sedang
kamu lakukan di tempat seperti ini?"
"Hya!"
Meskipun lirih, Xue tetap memekik kaget
lalu bergegas membalikkan tubuhnya ke arah belakang dengan panik.
Sosok
yang mendadak memunculkan wajahnya dari balik sudut bangunan asrama ternyata
adalah guru perempuan yang berpenampilan menyerupai biarawati jubah
putih──Ophelia Gardener.
Ophelia
melangkahkan kakinya ke arah sini──lalu terpeleset dengan anggun, dan langsung
terkapar babak belur di atas permukaan tanah bersamaan dengan suara erangan
layaknya seekor katak yang terinjak.
Meski begitu, Ophelia langsung bangkit
berdiri dengan gerakan yang teramat gesit seolah sudah terbiasa.
Sambil mengalirkan darah segar dari
hidungnya.
"Saya sengaja datang ke asrama putri
demi mencari Proteus-sensei, tetapi karena mendengar adanya suatu suara, tanpa
sengaja saya malah mengintip ke arah sini……"
"B-begitu ya. Anu, apakah wajah Anda
tidak apa-apa?"
"Ya, tidak apa-apa, kok. Kejadian
seperti ini biasa terjadi sekitar lima kali dalam sehari. Saya sudah
memperkirakan kalau momennya akan tiba tidak lama lagi."
"Apakah hal itu bisa diprediksi
seperti sebuah jadwal……?"
Di saat Xue sedang dirundung rasa ngeri,
Ophelia justru memperlihatkan keahlian menyembuhkan dirinya sendiri menggunakan
sihir dengan santai.
Ophelia kabarnya merupakan seorang guru
sihir yang teramat mahir dalam sihir pemulih yang berfokus khusus pada ras
iblis. Meskipun bukan merupakan seorang ras iblis, apakah tingkat kemahiran
sihir pemulihnya ikut berkembang justru karena dirinya sendiri terbilang sering
mengalami luka secara fisik.
"Ngomong-ngomong, kenapa
Amaryllis-san sampai melepaskan pakaian di tempat seperti ini?"
"Ti-tidak, ini, anu."
"……Jangan-jangan, kamu sengaja
menyeka tubuhmu di sini karena sungkan untuk memanfaatkan fasilitas pemandian
umum?"
Ekspresi wajah Ophelia seketika berubah
menjadi serius.
Xue secara refleks berniat untuk mengelak
sambil menggerakkan tangannya secara panik, tetapi dugaan tersebut memang tepat
seperti kenyataannya.
Karena akhirnya memilih untuk pasrah, Xue
menatap ke arah wajah
Ophelia sambil gemetaran cemas.
"Anu, bagaimana Anda bisa
mengetahuinya?"
"……Sebenarnya, saya pernah
menghabiskan waktu tinggal bersama
dengan para ras iblis pada masa lalu.
Pada waktu itu, ada pula anak yang mencemaskan hal yang sama persis seperti
dirimu. Dia bilang kalau orang lain pasti akan merasa tidak nyaman…… padahal
hal semacam itu sama sekali tidak perlu dipedulikan."
Wajah Ophelia tampak berkerut sedih saat
mengenang hal itu.
Meski begitu, Xue mutlak tidak menganggap
pola pikirnya sebagai suatu keanehan.
Meskipun tidak ada murid dari Taman
Ketujuh yang akan bersikap demikian, tetapi jika itu adalah para murid dari
kelas lain, mereka dipastikan tidak akan sudi untuk merendam tubuh di dalam
fasilitas pemandian umum yang telah dimasuki oleh Xue yang memegang status
sebagai ras iblis yang ternoda.
Mana mungkin orang dewasa seperti Ophelia
tidak memahami logika semacam itu.
Namun tepat setelah itu, kalimat yang
dilontarkan oleh Ophelia justru di luar perkiraan.
"……Kebetulan sekali, saya juga baru
saja terbangun dari tidur dan sedang ingin menyegarkan badan."
"Eh?"
"Karena itu, Amaryllis-san, maukah
pergi ke fasilitas pemandian umum bersama dengan saya?"
Ophelia melayangkan sebuah senyuman yang
lembut.
"Eh, tapi, nanti kalau ada orang
yang merasa tidak nyaman"
"Tidak apa-apa. Biarkan saja jika
ada orang yang bersikap demikian."
"──Sebab
jika sampai terjadi sesuatu nanti, saya dipastikan akan melindungimu."
Bersamaan dengan sebuah senyuman yang
andal, Ophelia menarik tangan Xue secara sedikit memaksa.
Menerima bentuk kepedulian dari guru
tersebut membuat hati Xue secara tidak sadar menjadi hangat.
Namun pada saat yang bersamaan, dadanya
juga terasa berdenyut sakit.
Sebab genggaman tangan Ophelia, terasa
teramat mirip dengan sosok
seseorang yang pernah ditemuinya pada
masa lalu.
◇
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan
ke agenda berikutnya."
Lily Garden. Ruang guru.
Di tengah berkumpulnya para staf
pengajar, sosok yang berhasil menarik perhatian dari seluruh orang yang berada
di ruangan tidak lain adalah sang Kepala Sekolah, Anemone.
Anemone mengedarkan pandangan matanya ke
sekeliling sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang lembut.
"Saya
rasa Anda sekalian sudah mengetahui bahwa pergerakan monster di sekitar wilayah
Celeste belakangan ini sedang aktif…… sebenarnya, pihak kerajaan telah
melayangkan permohonan bantuan kepada jajaran staf pengajar 《Lily
Garden》 kita."
Monster merujuk pada makhluk-makhluk
mengerikan yang berkeliaran di berbagai penjuru dunia.
Makhluk mengerikan yang tidak dibekali
fungsi kemampuan berbahasa seperti Goblin maupun Orc, sering kali dikategorikan
sebagai monster.
Dan
asal-usul dari makhluk tersebut kabarnya bersumber dari 《Raja
Iblis dari Ras Demon Beast》.
Sebagai bentuk pengulangan, ras iblis
terbagi menjadi lima ras besar.
Ras peri, ras spirit, ras demi-god, ras
naga, dan ras demon beast. Gabungan dari seluruh ras tersebut dinamakan sebagai
ras iblis.
Para kaum ras iblis yang demikian,
seratus tahun yang lalu sempat bersekutu demi mengobarkan peperangan melawan
ras manusia.
Sebuah
peristiwa yang kini tercatat di dalam sejarah sebagai 《Perang
Besar》.
Sebagai akhir cerita, pertempuran
berhasil diselesaikan setelah Holy
Lily menyegel para raja dari
masing-masing ras iblis di berbagai penjuru tempat.
Para
pemimpin dari masing-masing ras pada masa itulah sosok-sosok yang kini dijuluki
sebagai 《Raja Iblis》.
Kelima Raja Iblis tersebut, seluruhnya
dikabarkan merupakan para penyihir yang teramat luar biasa.
Detail mengenai kemampuan dari
masing-masing Raja Iblis seluruhnya tidak diketahui secara pasti, tetapi di
antara semuanya, kemampuan milik Raja Iblis dari ras demon beast merupakan yang
paling terkenal.
Sebuah
kemampuan untuk menciptakan bawahannya sendiri──artinya adalah kemampuan untuk
melahirkan monster. Serta kemampuan untuk mengendalikan monster yang bertindak
sebagai bawahannya tersebut.
Monster-monster yang hingga saat ini
masih menetap dan mengamuk di berbagai tempat, bahkan sampai disebut-sebut
sebagai sisa-sisa peninggalan yang dilahirkan oleh Raja Iblis dari ras demon
beast untuk ditugaskan bertarung pada peperangan seratus tahun yang lalu.
"Sejak dahulu aktivitas pembasmian
monster di sekitar wilayah ini merupakan pekerjaan milik kita. Saya akan
meminta sebagian guru untuk tetap tinggal di sekolah, tetapi karena sebagian
besar guru akan ikut bergerak bersama, mohon persiapkan diri kalian
masing-masing dengan matang."
Aktivitas perburuan monster merupakan
salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang penyihir.
Fakta bahwa sebagian besar penyihir
berasal dari kaum bangsawan mungkin menjadi salah satu penyebabnya, tetapi
karena memiliki kekuatan, mereka terkadang dituntut untuk melindungi rakyat
jelata dari ancaman monster.
Hanya saja,
……Waktu terjadinya peristiwa ini juga
sama persis, ya.
Theo bergumam di dalam hatinya sambil
mengenang masa lalu.
Pada Putaran Pertama dahulu pergerakan
monster di sekitar Celeste juga ikut aktif, dan aktivitas perburuan monster
juga digelar dengan pola yang sama.
Artinya, sejauh ini segalanya masih
berjalan sesuai dengan jalur pada Putaran Pertama.
Keunggulan terbesar milik Theo adalah
pengetahuan dari Putaran Pertama ini. Meskipun dia tidak tahu seberapa besar
dampak dari perubahan jalan hidup Isabella terhadap dunia, setidaknya untuk
saat ini dia bisa bernapas lega.
"P-Proteus-sensei."
Sosok yang mendadak mengajaknya berbicara
adalah Ophelia.
Ophelia mendekatkan wajahnya, lalu mulai
berbisik secara lirih.
"Anu, apakah Kepala Sekolah
benar-benar berniat untuk menyuruh kita para guru melakukan perburuan
monster……?"
"……Apa maksud Anda?"
"Habisnya, perburuan monster itu
sangat berbahaya, lho. Memang benar kalau kita adalah guru sihir…… tapi kita
kan tipe penyihir yang jauh dari urusan pertempuran sesungguhnya. Aktivitas
perburuan monster saja hanya pernah saya lihat dari arah belakang saat masih
kecil dulu, saya bahkan belum pernah melakukannya sekalipun…… apakah orang
seperti saya ini tidak apa-apa?"
Ophelia memasang ekspresi wajah muram
karena cemas.
Menanggapi keraguan dari guru tersebut,
Theo menyahutnya secara datar sambil mengingat kejadian pada Putaran Pertama.
"Tidak ada masalah, kok. Karena
formasi pasukannya pasti akan disusun secara matang agar kekuatannya tidak
timpang dan tetap berada dalam kondisi yang sempurna. ……Lagi pula belum tentu
juga kita akan terpilih."
"Eh?"
"Bukankah Kepala Sekolah juga sudah
mengatakannya tadi. Bahwa sebagian guru akan diminta untuk tetap tinggal di
sekolah."
Pada Putaran Pertama dahulu, baik Theo
maupun Ophelia sama-sama ditugaskan untuk menjaga Lily Garden.
Jika jalurnya sama, mereka dipastikan
akan tetap ditinggalkan di dalam
Lily Garden yang aman sesuai dengan
kejadian pada Putaran Pertama.
──Namun,
meskipun melontarkan kalimat demikian, dia tahu betul bahwa Lily Garden mutlak
bukanlah tempat yang aman.
Sebab jika segalanya berjalan sesuai
dengan alur pada Putaran Pertama, insiden itu dipastikan juga akan pecah di
dalam Lily Garden ini.
Sama seperti pada Putaran Pertama, Theo
tentu saja sanggup bergerak untuk mencegah agar insiden tersebut tidak sampai
membesar sebelum waktunya.
Namun, tindakan seperti itu tidak akan
ada artinya.
Begitulah kalimat yang dilontarkan oleh
Theo dengan nada suara yang dingin, membuat seluruh murid Taman Ketujuh patuh
dan berlari sekuat tenaga.
……Meski begitu, sebenarnya apa yang
sedang diwaspadai oleh Sensei?
Latihan menempuh jarak jauh. Latihan
pemulihan memanfaatkan mana dari dunia luar.
Menguasai sihir praktis untuk pertempuran
sesungguhnya, alih-alih mempelajari sihir mencolok yang biasa dikuasai oleh
para Penyihir Istana. Dengan rentetan informasi yang berjejer seperti ini, mau
tidak mau seseorang pasti akan menyadarinya.
Hal yang dipaksa Theo untuk dilakukan
oleh murid Taman Ketujuh adalah latihan militer.
Namun, dia tidak tahu kenapa Theo sampai
menyuruh mereka melakukan hal semacam itu.
Sebuah
perkiraan yang mustahil, tetapi sikapnya benar-benar seolah-olah dia sudah tahu
bahwa pertempuran skala besar akan pecah di masa depan──
"I-Isabella-chan!"
Sebuah suara terdengar dari arah
belakang. Saat berbalik, Iris tampak sedang berusaha menyusul di belakangnya.
Namun, ekspresi wajahnya terlihat sangat
tersiksa, dan napasnya sudah terengah-engah kritis. Meski begitu, dia tetap
bersusah payah untuk terus berlari.
Hal
ini juga merupakan dampak buruk dari 《Peraturan》
kelas yang ditetapkan oleh Theo.
Isabella tidak hanya dipaksa memanfaatkan
sihir di dalam pelajaran
saja, melainkan untuk urusan tugas harian
pun dia wajib menggunakannya.
Setiap hari, dia selalu menghabiskan
seluruh mana miliknya sebelum malam tiba, lalu tidur layaknya sebongkah lumpur.
Tingkat kekejaman latihan itu bahkan sampai memicu rasa iba dari para murid
Taman Ketujuh lainnya.
Karena itulah, untuk tugas berikutnya
yang akan menentukan siapa petugas harian selanjutnya, seluruh murid berusaha
menduduki peringkat atas sekuat tenaga.
Siapa juga orangnya yang sudi menjalani
kehidupan yang teramat menyiksa seperti itu.
Demi tujuan itu, dia tidak akan sudi
menyerah hanya karena urusan batas stamina fisik semata.
Sambil berlari, Iris memasang sebuah
senyuman ceria lalu mengajak berbicara.
"……A-anu, maukah kamu melakukan
kesepakatan bersamaku!"
"Kesepakatan?"
"Kalau aku tidak bisa mencapai garis
finish, aku akan menempati
peringkat paling bawah dan peluangku
menjadi petugas harian akan menjadi semakin mutlak! Padahal kaki milikku sedang
terluka…… ka-karena itu, setidaknya maukah kamu membawaku bersamamu sampai ke
garis finish!"
Iris memasang ekspresi wajah yang teramat
kesakitan, berlari sambil menyeret sebelah kakinya.
Untuk tugas yang menentukan petugas
harian, jika mereka bahkan tidak sanggup mencapai garis finish sekalipun,
penilaian Theo dipastikan akan menjadi sangat buruk.
Oleh karena itu, setidaknya dia ingin
berhasil menggapai garis finish.
Meskipun demikian, saat ini pihak yang
sedang bersaing sengit memperebutkan peringkat paling bawah adalah Isabella dan
Iris. Jika dia menolong Iris di tempat ini, maka peluang Isabella untuk menjadi
petugas harian kembali akan menjadi semakin besar.
Memang ketentuannya demikian, tetapi.
"……Aduh, mau bagaimana lagi
ya."
Isabella memperlambat langkah kakinya,
lalu menyelaraskan posisi di samping Iris.
Iris mengembuskan napas lega sambil
bergumam, "Isabella-chan……" lalu menghentikan langkah kakinya.
Dia sebenarnya bisa saja mengabaikan Iris
begitu saja.
Namun, membiarkan Iris tertinggal demi
melarikan diri dari peringkat paling bawah rasanya agak sedikit mengusik
hatinya.
Akan tetapi pada detik berikutnya, hal
yang tertangkap oleh ruang penglihatan Isabella adalah sebuah senyuman
kemenangan mutlak dari Iris.
"Kena
kau──《Pelepasan Formula Sihir: Vine》!"
"Eh?"
Lebih cepat dari rasa terkejutnya,
rentetan akar tanaman menjalar keluar dari dalam hutan lalu melilit kedua kaki
Isabella dengan rapat.
Seketika dia jatuh tersandung, terkapar
telentang di atas permukaan tanah.
Sihir Rank kedelapan: Vine. Sebuah sihir
tingkat dasar untuk mengendalikan tanaman di sekitar, tetapi memiliki tingkat
efektivitas yang sangat tinggi untuk menahan pergerakan musuh.
"Huhuhu~"
Iris menyunggingkan sebuah senyuman
jahat, menatap ke bawah ke arah Isabella.
Sebelum Isabella sempat menyuarakan
protesnya, Iris sudah membusungkan dadanya dengan sok tahu.
"Isabella-chan terlalu lembek ya~
Tidak disangka kamu bisa terjebak oleh taktik cerdik milikku dengan semudah
ini."
"……Tidak, alih-alih taktik cerdik,
bukankah ini hanya sebuah serangan licik tingkat rendah?"
"Terjebak oleh taktik cerdik
milikku!"
Tampaknya, dia bersikeras ingin
menganggap tindakannya sebagai sebuah taktik cerdik.
Namun, proses memotong akar tanaman ini
terbilang agak sedikit menyebalkan. Di saat dia bersusah payah memotongnya
menggunakan sihir, wujud Iris sudah menjadi semakin mengecil di kejauhan.
"Maafkan
aku ya, Isabella-chan! Tapi aku benar-benar paling tidak sudi jika harus
menjadi petugas harian! Karena itu, tetaplah tertahan di
sana──GYAAAAAHHHHHHHHHHH!"
Iris berniat pergi meninggalkan tempat
itu bersamaan dengan kalimat ancamannya.
Namun, dia tidak sanggup merangkai
kalimatnya hingga akhir.
Alasannya sederhana. Iris baru saja
menginjak jebakan sihir yang dipasang oleh Theo sekuat tenaga.
Kedua kaki Iris terlilit oleh akar
tanaman yang tumbuh dari sebuah pohon raksasa, membuatnya berakhir tergantung
terbalik di udara.
Setelah berhasil memotong akar tanaman
yang melilit dirinya, Isabella mendekati Iris lalu menatap ke atas secara diam
seribu bahasa.
"A-anu~ Isabella-chan? I-itu, maukah
kamu menolongku? P-posisi tubuhku sekarang tidak stabil jadi aku tidak bisa
memotongnya sama sekali……"
"…………"
"A-aku rasa sikap saling menolong
itu adalah urusan yang sangat penting! Dengar, kita kan rekan kerja! Kita juga
sudah berjanji untuk mencapai garis finish bersama, kan!"
"…………"
"Aku paham! Aku tidak keberatan
untuk menjilat sepatumu! Aku akan melakukan apa saja! Karena itu tolong
selamatkan aku!"
"…………"
"Ah, jangan pergi! Aku tidak mau,
kalau ditinggal di tempat seperti ini aku pasti akan diserang oleh monster
hutan! Kembali! Aku mohon kembalilah, Isabella-chaaaaaaannnnn!"
Sambil mendengarkan jeritan histeris dari
Iris, Isabella meninggalkan tempat tersebut lalu kembali fokus pada pelajaran
kelas.
Entah sudah berapa puluh menit waktu
berlalu setelah itu.
Seluruh murid Taman Ketujuh akhirnya
berhasil menggapai garis finish di depan gerbang sekolah Lily Garden.
Setelah kejadian tadi, dia kemungkinan
besar telah bersusah payah memotong akar tanaman itu murni menggunakan
kekuatannya sendiri.
Meskipun menempati peringkat paling
bawah, Iris juga berhasil
menggapai titik finish.
Termasuk Isabella, beberapa murid tampak
menyusutkan badan mereka di atas tanah demi mengatur napas.
Aliran keringat bercucuran tanpa henti,
dan rasa panas di dalam tubuh sama sekali tidak kunjung menurun.
……Latihan ini benar-benar sangat berat.
Dia sadar bahwa kekuatan fisiknya sudah
menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Namun, Isabella pada dasarnya merupakan
tipe orang yang membenci aktivitas olahraga. Kondisinya saat ini paling-paling
hanya sebatas berhasil memiliki kekuatan fisik yang setara dengan manusia
normal pada umumnya.
"Apakah batas kalian sudah
tiba?"
Mendengar sebuah suara yang mendadak
turun dari atas kepalanya membuat Isabella mengangkat wajah.
Sosok yang sedang berdiri tepat di
hadapannya tidak lain adalah Theo.
Menghadapi Theo yang sedang menatap ke
bawah ke arahnya membuat Isabella bangkit berdiri bersamaan dengan nada suara
yang tangguh.
"Tentu saja aku masih sanggup
melanjutkannya. Aku tidak akan sudi mengeluh hanya karena latihan selevel ini
saja."
"Begitu ya, baguslah. Jika kamu
sampai melontarkan keluhan lemah, aku berniat menyuruhmu berlari terus sampai
pingsan."
"-. Sa-sampai pingsan?"
"……Kenapa kamu malah terlihat
sedikit senang?"
"T-tidak mungkin aku merasa senang!
Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku ini!!!"
Berlari sampai pingsan. Membayangkan
tingkat kekejaman dari hukuman tersebut membuat sudut bibirnya secara tidak
sadar terangkat, meratapi kondisi dirinya yang demikian membuat Isabella
langsung menangis sambil menyusutkan badannya di atas tanah.
"……Tapi, ya sudahlah. Hasil
pencapaian kalian terhitung lumayan. Kalian memiliki kualifikasi untuk
melangkah ke tahap berikutnya."
"……Tahap berikutnya?"
Di saat Isabella bertanya sambil menyeka
air matanya, Theo mulai memberikan penjelasan sambil melangkah secara santai.
"Sebelum menjelaskan hal itu, mari
kita luruskan faktanya demi kalian terlebih dahulu. Sepanjang satu bulan ini
aku telah memaksa kalian untuk berlari sekuat tenaga, hal itu bertujuan untuk
mencetak kalian menjadi penyihir yang sanggup bertahan hidup di dalam
peperangan. Mungkin beberapa di antara kalian sudah ada yang bisa
memperkirakannya."
Hal itu tepat seperti yang dipikirkan
oleh Isabella sesaat yang lalu.
Saat mencuri pandang ke arah sekeliling,
Karina dan Xue tampak menganggukkan kepala mereka seolah sudah menduganya. Momo
tampak menguap secara malas karena tidak tertarik, sedangkan Iris membelalakkan
matanya dengan lebar lalu bergumam, "Eh, jadi begitu ya?! Ternyata ada
alasan yang mendalam seperti itu?!"
Namun, hal itu mutlak bukan berarti
keraguan mereka telah sirna secara total.
Sebab, kondisi Kerajaan Sanctia saat ini
terbilang sangat jauh dari urusan peperangan. Walau mereka terkadang harus
bertarung dalam aktivitas penaklukan dungeon maupun perburuan monster,
peperangan skala besar sudah sangat lama tidak pernah pecah di dalam sejarah
kerajaan.
Artinya, sejak awal mereka sama sekali
tidak memiliki urgensi untuk mengasumsikan terjadinya peperangan.
"Hal minimal yang dibutuhkan pada
saat peperangan adalah kekuatan fisik dan mana yang sanggup digunakan untuk
bertarung dalam jangka waktu panjang. Oleh karena itu, sepanjang satu bulan ini
sambil memaksa kalian berlari, aku juga menyuruh kalian mengasah latihan
pemulihan mana. Namun tentu saja, hanya dengan hal itu saja masih belum
memadai."
"Mohon tunggu sebentar."
Sosok yang memotong pembicaraan di tempat
itu adalah Karina.
Keraguan yang dirasakan oleh seluruh
orang di ruangan dilontarkan secara langsung oleh Karina secara
terang-terangan.
"Sebelum
melangkah lebih jauh, kenapa tujuannya harus mencetak penyihir yang sanggup
bertahan hidup di dalam peperangan? Kami tidak pernah berharap untuk menjadi
sosok yang seperti itu──"
"Ya, tepat sekali. Di antara kalian
pasti ada pula pihak yang tidak menginginkannya. Tapi, hal itu tidak ada
hubungannya denganku."
"Tidak ada hubungannya?"
"Ini adalah kelasku. Kalian wajib
mematuhi seluruh kebijakanku. Jika memiliki keluhan, silakan manfaatkan hak
istimewa sebagai murid berprestasi berdasarkan peraturan kelas untuk mengubah
keputusanku ini."
Peraturan kelas. Itu adalah sebuah aturan
mutlak yang ditetapkan oleh Theo.
Bagi murid berprestasi, mereka diizinkan
untuk mengajukan satu permohonan yang sanggup diwujudkan oleh Theo dalam kurun
waktu dua puluh empat jam. Dia bermaksud menyuruh Karina memanfaatkan hak
istimewa tersebut jika ingin mengubah keputusannya.
Kenyatannya, nilai prestasi untuk periode
sebelumnya sudah diumumkan.
Peringkat
paling bawah ditempati oleh Isabella. Dan murid berprestasinya adalah──
"……Murid berprestasi pada periode
sebelumnya, kalau tidak salah adalah dirimu sendiri, kan. Lalu, bagaimana
keputusanmu? Karina, demi mewujudkan impian yang kamu miliki, aku rasa
menguasai kekuatan ini tidak akan memberikan kerugian apa pun bagi dirimu,
lho."
"Hal itu, adalah……"
"Hal yang sama juga berlaku bagi
yang lain. Aku tahu apa keinginan kalian yang sesungguhnya. Aku rasa latihan
ini tidak akan mendatangkan kerugian bagi kalian, kan?"
Theo mengedarkan pandangan matanya ke
arah sekeliling, tetapi tidak ada satu pun orang yang sanggup melayangkan
suara.
Bagaimana bisa dia mengetahui keinginan
mereka yang sesungguhnya.
Berbagai macam keraguan seketika
membubung di dalam dada, tetapi tidak ada orang yang mengubahnya menjadi
untaian kata.
Sebagai gantinya, Isabella menyuarakan
keputusannya secara tenang.
"Sensei, apa sebenarnya yang akan
kamu paksa untuk kami lakukan
setelah ini? Asalkan aku bisa menjadi
kuat, aku tidak keberatan untuk melakukannya."
"……Isabella."
"Karina, katakan saja jika kamu
memang tidak sudi melakukannya. Tapi, bukan berarti seluruh murid di kelas ini
akan ikut mematuhimu, kan. Aku tidak keberatan untuk ikut bermain dalam rencana
milik Sensei."
Mendengar kata-kata Isabella tersebut
membuat Karina menggigit bibirnya dengan kesal.
Namun, tidak ada satu patah kata pun yang
kembali keluar dari mulutnya.
Apakah Theo menganggap sikap tersebut
sebagai sebuah persetujuan, dia melanjutkan pembicaraannya sambil mengedarkan
pandangan secara santai.
"Baguslah. Kalau begitu, Isabella,
aku akan menjawab keraguan milikmu. Hal berikutnya yang akan kupaksa untuk
kalian lakukan adalah latihan melancarkan serangan menggunakan sihir."
Theo menyunggingkan sebuah senyuman licik
yang tipis.
Namun, mereka tidak dapat menangkap
maksud dari kalimat tersebut.
Melancarkan serangan menggunakan sihir.
Hal semacam itu merupakan urusan yang teramat biasa dilakukan.
Termasuk Isabella, para murid Taman
Ketujuh memasang ekspresi wajah yang kebingungan.
Namun, Theo melanjutkan kalimatnya
bersamaan dengan nada suara
yang dingin.
"Melancarkan serangan dengan sihir.
Kalian masih belum memahami makna sesungguhnya dari tindakan tersebut dengan
benar. Oleh karena itu, aku akan menggelar pelajaran kelas dari awal sekarang
juga. Perintah dariku hanya ada satu."
"──Bunuhlah
aku menggunakan tangan kalian sendiri."
"……Menurutmu seberapa jauh dia
bersikap serius?"
Sebuah hutan yang berada di sekitar
wilayah Lily Garden.
Hamparan pepohonan tampak melebar luas
menutupi langit, dan pancaran sinar mentari senja menyelinap masuk dari
sela-sela ranting dan dedaunan.
Di bawah kaki mereka, akar dari pohon
raksasa tampak menjalar bersahut-sahutan membuat permukaan tanah menjadi tidak
rata, kondisi pijakannya mutlak tidak bisa dikatakan baik bahkan sebagai bentuk
basa-basi sekalipun.
Di seberang ruang penglihatan mereka,
Theo sedang berdiri seorang diri sambil memutar-mutar tongkat di dalam
genggaman tangannya.
Sebaliknya, di sekeliling Isabella tampak
seluruh murid Taman Ketujuh sedang berkumpul lengkap.
Setelah kejadian tadi, lokasi yang dituju
berdasarkan instruksi dari Theo adalah hutan yang bertindak sebagai salah satu
area latihan milik Lily Garden ini. Pelajaran berikutnya kabarnya akan digelar
di dalam hutan ini. Isinya merupakan sebuah pertempuran sihir melawan Theo.
Saat Isabella membalikkan tubuhnya akibat
mendengar sebuah suara yang menyapanya secara mendadak, Karina sudah berdiri di
sampingnya.
Sambil terus memusatkan pandangan matanya
ke arah Theo, Karina berucap secara tenang.
"Sensei memang bilang 'Bunuhlah aku
menggunakan tangan kalian sendiri', tapi mana mungkin kita bisa membunuhnya
secara harfiah. Aku rasa kalimat itu bermaksud 'Seranglah aku dengan niat untuk
membunuh', tapi bagaimana menurutmu, Isabella?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
Isabella menyahut sambil menggerakkan
kedua lengannya demi melakukan pemanasan fisik.
"Jangankan membunuh, mendaratkan
satu tembakan sihir saja pasti akan sangat sulit untuk dilakukan. Jika memang
berniat membunuhnya, pertempuran jarak dekat sepertinya memiliki peluang
terbesar. Bagaimanapun juga, memikirkannya sekarang hanya akan menjadi sia-sia
saja. Niat sesungguhnya dari Sensei dipastikan akan langsung kita ketahui mau
tidak mau setelah pertempuran dimulai nanti."
"……Isabella sudah berubah ya."
"Benarkah? Di bagian mana? Sejak
dulu aku memang begini, lho?"
Isabella memiringkan kepalanya dengan
bingung, tetapi Karina hanya mengulas sebuah senyuman simpul tanpa memberikan
jawaban apa pun.
Sebagai gantinya, Karina bergumam
layaknya sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
"……Seiring dengan bertambahnya waktu
yang kuhabiskan bersama dengan Sensei, rasa janggal di dalam hatiku justru
menjadi semakin membubung…… aku tidak bisa menyuarakannya dengan baik, tapi ada
sesuatu yang aneh……"
"Eh?"
"Tidak, bukan apa-apa. Berbicara
murni berdasarkan intuisi saja merupakan hal yang buruk ya."
Karina menggelengkan kepalanya lalu
menutup mulutnya rapat-rapat.
Isabella secara refleks berniat untuk
mengejarnya lebih jauh, tetapi sebelum sempat melakukannya, suara Theo sudah
bergema terlebih dahulu.
"Kalian, apakah persiapannya sudah
selesai?"
Theo masih tetap berdiri dengan tenang di
seberang hutan seperti biasanya.
Namun, posisi berdirinya terlihat sangat
mantap secara janggal.
Benar-benar persis layaknya seorang
penyihir berpengalaman yang sedang memasang kuda-kuda bertarung.
Seketika, atmosfer ketegangan yang pekat
langsung mengalir di antara para murid Taman Ketujuh.
"……Tapi, apakah benar-benar tidak
apa-apa? Menjadikan kami semua sebagai lawanmu secara bersamaan."
Hal itulah bentuk penjelasan yang mereka
terima sebelum datang ke dalam hutan ini.
Karina melanjutkan untaian kalimatnya
secara ragu-madu.
"Sehebat
apa pun diri Sensei, jika harus menghadapi kami berlima sekaligus──"
"Tidak ada masalah. Karena jika
kalian menghadapiku satu per satu, kalian mutlak tidak akan bisa menjadi
lawanku. Ini sudah terhitung pas."
Menanggapi argumen dari Karina tersebut,
Theo justru membalasnya secara ketus.
Sama seperti kejadian saat duel dengan
Isabella waktu itu, Theo terlihat teramat terbiasa dalam urusan pertempuran.
Theo merupakan seorang akademisi, dan
seharusnya bukan merupakan seorang penyihir yang berfokus khusus pada
pertempuran
sesungguhnya.
Sebenarnya di mana dia berhasil menguasai
keahlian bertarung yang sepadan ini?
Namun, mereka tidak memiliki kemewahan
waktu untuk menyuarakan keraguan tersebut.
Sambil melemparkan tatapan mata yang
datar ke arah sini, Theo
memberikan deklarasi.
"Apakah tidak ada pertanyaan
tambahan lagi. Kalau begitu tampaknya
sudah
tidak ada masalah ya. ──Kalau begitu, mari kita mulai pelajaran kelasnya."
Kalimat tersebut merupakan genderang
perang tanda pertempuran dimulai.
Theo mengarahkan ujung tongkatnya ke arah
sini secara perlahan.
"《Koneksi
Mulai》"
Kalimat yang disuarakan oleh Theo
merupakan pemberitahuan bahwa persiapan bertarung telah selesai diselesaikan.
Kobaran mana dalam jumlah masif seketika
menggetarkan udara sekitar, bahkan sampai memicu terciptanya embusan angin
kencang.
Dampak dari gelombang mana yang teramat
dahsyat itu memicu sensasi merinding yang mengerikan di seantero tubuh. Tepat
di saat instingnya membunyikan lonceng peringatan, Isabella langsung menendang
permukaan tanah untuk berlari menerjang maju.
"──《Pelepasan
Formula Sihir: Flare》"
Tepat pada saat nama sihir itu
dilontarkan dari mulut Theo, sebuah
aliran kobaran api yang dahsyat langsung
melebar memenuhi seluruh ruang penglihatan mereka.
Karena seluruh murid Taman Ketujuh sedang
berada dalam kondisi lengang, formasi pasukan mereka berakhir menjadi
berantakan.
Di barisan depan ditempati oleh Momo dan
Iris, barisan tengah ditempati oleh Isabella dan Karina, sedangkan barisan
belakang ditempati oleh Xue.
Namun tanpa memedulikan formasi pasukan
yang demikian, kobaran api tersebut melesat dengan cepat seolah hendak menelan
seluruh murid
Taman Ketujuh secara serempak.
Pada
dasarnya 《Flare》 merupakan sihir Rank keenam. Sihir tingkat
menengah yang seharusnya tidak mungkin memiliki daya rusak yang sampai sanggup
membakar habis seisi hutan, tetapi akibat mana milik
Theo yang teramat melimpah ruah,
kekuatannya telah diperkuat hingga ke tingkat yang tidak masuk akal.
"Xue!"
Saat dia menyadarinya, Karina sudah
berteriak sambil berlari lincah demi menghindari terjangan kobaran api.
Meskipun hanya sebatas memanggil namanya
saja, maksud dari kalimat tersebut tampaknya berhasil tersampaikan kepada Xue
dengan baik.
Mereka tidak menghabiskan waktu selama
dua tahun bersama sejak masuk ke Lily Garden secara sia-sia.
"Serahkan padaku!"
Xue mengulurkan tangan kecilnya ke arah
depan sekuat tenaga, lalu merapalkan nama sihirnya.
Bukan sihir untuk menyerang, melainkan
sihir yang berfokus khusus
untuk melindungi.
"《Pelepasan
Formula Sihir》──《Frost Tidal》!"
Tepat setelah teriakan Xue bergema,
sebuah tsunami es mendadak muncul dari dalam permukaan tanah.
Itu adalah sihir spirit. Sebuah sihir
berkecepatan tinggi yang menggabungkan teori sihir generasi keempat dengan
kekuatan dari spirit. Penyihir normal biasa mengaktifkan sihir murni hanya
berdasarkan spesifikasi yang mereka miliki saja, tetapi Xue sanggup meminjam
kekuatan dari spirit juga.
Meskipun demikian, sebagai gantinya,
bukan berarti Xue sanggup mengaktifkan segala jenis sihir secara bebas.
Dia hanya bisa mengaktifkan sihir yang
disukai oleh spirit saja, alhasil sihir sistem es menjadi fokus utamanya.
Saat gelombang es berbenturan dengan
aliran kobaran api, sebuah uap
panas berwarna putih langsung meledak
bersamaan dengan gaung suara gemuruh yang dahsyat.
Ruang penglihatan seketika tertutupi oleh
kabut uap putih, membuat mereka tidak bisa melihat apa pun lagi.
Namun, kondisi yang sama juga berlaku
bagi Theo. Suara Karina terdengar bergema dari balik kabut uap putih tersebut.
"Semuanya!
Sekarang adalah kesempatan emas! Sehebat apa pun diri Sensei, jika menerima
serangan bertubi-tubi dari kita semua secara bersamaan──"
"──Serangan
bertubi-tubi memangnya kenapa?"
Wusss! Sebuah embusan
angin kencang mendadak bertiup dengan dahsyat, menerbangkan kabut uap putih
dalam sekejap mata.
Dan di seberang kabut uap yang telah
sirna tersebut, hal yang tertangkap oleh ruang penglihatan mereka adalah.
"Momo! Iris-senpai!"
Tepat di saat Isabella berteriak
histeris, Theo sudah mencengkeram kepala kedua orang itu menggunakan kedua
tangannya lalu menghantamkannya ke atas tanah dengan keras.
Hanya dalam satu pukulan. Momo dan Iris
yang berada di barisan depan langsung terkapar tidak sadarkan diri akibat
kesadaran mereka yang direnggut paksa secara instan.
Di tengah kabut uap tadi, Theo ternyata
telah menghilangkan hawa
keberadaannya lalu mendekati kedua orang
itu dengan cepat.
──Kecepatan
gerakannya terlampau gila!
Baru sekitar sepuluh detik sejak
pertempuran dimulai, dua orang di antara mereka sudah gugur dari arena.
Tingkat kekuatannya benar-benar terlampau
tangguh. Begitu memahami fakta tersebut, Isabella dan Xue secara refleks
langsung menendang permukaan tanah untuk melompat mundur demi mengambil jarak
aman.
Namun, hanya ada satu orang, Karina
seorang yang justru melangkahkan kakinya menerjang maju ke arah depan.
"──Haaaaahhhhhhh!"
Bersamaan dengan teriakan yang dipenuhi
oleh fokus konsentrasi yang mendalam, Karina melayangkan rentetan pukulan ke
arah Theo secara bertubi-tubi tanpa henti.
Karina adalah tipe penyihir yang
bertarung dengan jarak sangat dekat, sebuah pengecualian bagi seorang penyihir.
Karena terlahir sebagai rakyat jelata,
dia biasanya tidak akan bisa masuk ke institusi pendidikan sihir ternama,
tetapi bakatnya sebagai penyihir teramat mendominasi hingga tidak membiarkan
orang lain mendekatinya. Bahkan di dalam keluarga Lumiere sekalipun, bakat
selevel itu belum pernah terlihat.
Hanya saja, karena Karina sendiri sangat
kikuk, dia tidak bisa menggunakan sihir yang mendetail dengan becus.
Meski begitu, hal yang dikuasainya adalah
sihir Physical Enhance. Dia
bertarung dengan sihir yang menjadi
semakin kuat seiring dengan semakin banyaknya mana yang dialirkan. Itulah gaya
pertempuran jarak dekat tingkat tinggi milik Karina.
Setiap kali Karina menggerakkan lengan
maupun kakinya, angin bertiup dengan kencang, dan suara hantaman angin bergema
di sekeliling.
Jika dia adalah penyihir biasa, dia
dipastikan tidak akan bisa mengimbangi kecepatan Karina.
Namun, hal yang mengejutkan adalah Theo
justru sanggup menahan rentetan serangan Karina secara datar dalam pertempuran
jarak dekat yang sama.
Bagaikan sudah mengetahuinya sejak awal,
dia sama sekali tidak terlihat goyah oleh gaya pertempuran jarak dekat tingkat
tinggi milik Karina, lalu mengalirkan setiap pukulan maupun tendangan gadis
itu.
"Isabella, Xue, sekarang
jalannya!"
"──Aku
paham!"
Menanggapi teriakan Karina yang sedang
melayangkan serangan empat
anggota tubuhnya, Isabella langsung
berlari menuju ke titik buta Theo.
Dalam sekejap, Karina melayangkan sebuah
tendangan sekuat tenaga.
Bugh! Theo mengangkat
kedua lengannya di depan wajah demi menahan tendangan Karina. Namun, dia tidak
sanggup meredam momentum daya dorongnya secara total. Theo melangkah mundur ke
belakang sambil menyisakan bekas gesekan sepatu di atas permukaan tanah.
Momen itulah yang menjadi kesempatan emas
bagi serangan Isabella.
"-"
Sambil memprediksi posisi mundur Theo,
Isabella sudah berlari menuju ke arah tersebut terlebih dahulu.
Setelah memasang sihir Physical Enhance
di seujung tubuh, dia
mendekat dari titik buta Theo.
Jika hanya menggunakan sihir sederhana,
dengan tingkat keahlian Theo, Isabella tahu serangannya pasti akan bisa
dihindari.
Karena itulah, hal yang dipilih oleh
Isabella adalah pertempuran jarak dekat.
Isabella telah menguasai ilmu pedang
berdasarkan kebijakan dari keluarga Lumiere. Sambil memanfaatkan secara penuh
fisik yang telah ditempa sepanjang satu bulan ini, dia menyiapkan pedang
tongkatnya lalu menerjang maju dalam satu sentakan.
Theo merasakan hawa keberadaan Isabella
lalu bergegas memalingkan wajahnya ke arah sini, tetapi segalanya sudah
terlambat.
Dia sudah masuk ke dalam jarak jangkauan
pedang tongkat. Di saat dia baru menyadarinya sekarang, mustahil serangan ini
akan bisa dihindari.
Tentu saja, jika lawannya adalah penyihir
biasa.
──Tapi,
kalau itu kamu, serangan ini pasti juga akan dihindari, kan!
Bersamaan dengan intuisi yang kuyup oleh
keyakinan, Isabella menusukkan pedang tongkatnya.
Jika itu adalah Theo yang dilihatnya
selama ini, serangan selevel ini pasti akan bisa dihindari dengan mudah.
Justru karena itulah, pada detik
berikutnya, Isabella tidak sanggup mempercayai pemandangan yang tersaji tepat
di hadapan matanya.
"────────Eh"
Cipratan darah. Pedang tongkat milik
Isabella telah tertancap menembus perut Theo.
Darah segar yang hangat tampak tepercik
mengenai wajah Isabella.
Melalui
perantara pedang tongkatnya, sensasi nyata saat merobek daging manusia terukir
dengan sangat jelas di tangannya. Itu adalah sebuah sensasi vulgar yang belum
pernah dirasakannya sepanjang hidup, dan──
"Ada apa?"
Theo masih berada dalam kondisi tertancap
pedang tongkat, tetapi dia sama sekali tidak bergeming sedikit pun, lalu
menatap ke bawah ke arah sini dengan sepasang mata yang dingin.
"Bukankah sudah kukatakan untuk
membunuhku. Kenapa, kamu malah menjadi ciut hanya karena tusukan selevel
ini?"
"-"
"Kamu pikir kamu bisa membunuh
seseorang hanya dengan tingkat tekad selevel itu? Ulangi lagi dari awal."
"────Guh!"
Tendangan Theo bersarang telak di perut
Isabella, membuatnya terlempar ke udara tanpa ampun. Setelah tubuhnya terguling
berkali-kali di atas permukaan tanah, gerakannya baru berhenti setelah
menghantam sebuah pohon raksasa dengan keras.
Bukan berarti dia menerima luka dalam
yang parah. Namun,
"……Ah."
Tekadnya untuk bangkit berdiri kini telah
sirna secara total.
Penyihir yang sanggup bertahan hidup di
dalam peperangan. Tidak memahami makna sesungguhnya dari melancarkan serangan
menggunakan sihir.
Dari rentetan kalimat tersebut, dia
sebenarnya sudah memprediksi apa yang ingin disampaikan oleh Theo sebelumnya.
Manusia bisa dibunuh dengan sangat mudah
menggunakan sihir. Hal itulah yang ingin disampaikan oleh Theo.
Jika seseorang baru menyadari kemungkinan
tersebut untuk pertama kalinya di medan perang lalu berakhir ciut, maka
penyihir itu tidak akan bisa bertarung lagi.
Namun, meskipun sudah mempersiapkan
mentalnya, tubuh Isabella tetap saja gemetaran secara otomatis.
Secara logika dia paham betul bahwa
manusia bisa dibunuh dengan sangat mudah menggunakan sihir. Hal yang sama juga
berlaku untuk satu sihir Physical Enhance yang baru saja digunakannya tadi.
Sebab fisik yang sanggup bergerak dengan kecepatan yang teramat gila itu
sendiri sudah bisa bertindak sebagai sebuah senjata pembunuh.
Isabella bersusah payah untuk sekadar
mengangkat wajahnya, tetapi
Karina maupun Xue hanya bisa mematung
diam seribu bahasa.
Secara khusus, wajah Xue tampak memucat
padam akibat darah yang menyusut dari wajahnya. Dia terlihat seperti akan
ambruk lemas kapan saja saat ini juga.
Theo menarik lepas pedang tongkat dari
dalam perutnya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas tanah. Darah segar
mengalir deras keluar, menciptakan sebuah genangan merah pekat di atas tanah
becek.
Di tempat ini, orang yang menerima luka
paling parah dipastikan adalah
Theo sendiri.
Meskipun demikian, pemandangan tersebut
justru merampas habis niat bertarung dari seluruh murid yang berada di arena.
"Sensei! Cepat obati lukamu sekarang
juga!"
"Kalian, apakah kalian tidak
mendengarkan kalimat yang kuucapkan tadi?"
Menanggapi teriakan dari Karina tersebut,
Theo justru melontarkannya secara datar.
"Sudah kukatakan 'Bunuhlah aku',
kan? Padahal sekarang adalah kesempatan yang paling emas, kenapa kalian tidak
kunjung menyerangku? Apakah kalian benar-benar memiliki niat untuk
latihan?"
"Bukan
hal semacam itu yang sedang dibicarakan! Di saat ada orang yang sedang
terluka──"
"Justru hal semacam itulah yang
sedang dibicarakan, Karina."
Meskipun disuarakan dengan nada suara
yang tenang, kata-kata Theo terdengar dengan sangat jelas secara janggal.
"Di dalam peperangan, di dalam
pertempuran, kamu wajib melukai dan membunuh seseorang. Itulah tugas yang
dibebankan kepada seorang penyihir. Orang yang tidak sanggup melakukan hal itu,
seberapa hebat pun kemampuan sihir yang dimilikinya, dia tetaplah seorang
penyihir kelas tiga. Sihir yang sedang kalian pelajari saat ini, adalah hal
yang seperti itu."
Jika melayangkan pedang tongkat setelah
memperkuat fisik, jika sihir serangan berhasil mendarat, maka musuh akan mati
dengan sangat mudah.
Secara logika, dia mengira dirinya sudah
memahami urusan yang
sewajarnya seperti itu.
Namun, ternyata dia sama sekali belum
memahaminya.
Dan sekarang, di saat makna sesungguhnya
dari tindakan tersebut telah berhasil dipahami secara nyata, niat mereka untuk
bertarung justru telah direnggut paksa hingga ke akarnya.
"Nah, mari kita lanjutkan pelajaran
kelasnya."
"…………-"
Sambil terus mengalirkan darah segar dari
tubuhnya, Theo melangkahkan kakinya maju ke arah depan.
Sosok wujudnya saat ini, benar-benar
tampak persis layaknya seorang prajurit yang telah melintasi berbagai medan
pertempuran.
Murid-murid Taman Ketujuh saat ini,
mutlak tidak memiliki kesiapan mental yang memadai untuk menghadapi penyihir
yang seperti itu.



Post a Comment