BAB VI
Theo Proteus pernah kehilangan seluruh
muridnya pada masa lalu.
Hal itu terjadi tidak lain karena ajaran
dari Theo sendiri.
Oleh karena itu, saat dia harus menapaki
kehidupan mengajar di
Putaran Kedua, dia memutuskan untuk
mengubah metodenya.
Walau harus dibenci oleh para murid,
bahkan meskipun sampai dijuluki sebagai Raja Iblis, demi tidak kehilangan
mereka lagi, dia bersumpah pada dirinya sendiri untuk mendidik mereka menjadi
kuat.
Namun, tentu saja dia sudah memperkirakan
bahwa penolakan cepat atau lambat pasti akan terjadi.
Metode yang agresif dan sampai
menginjak-injak impian para murid seperti ini tidak mungkin bisa dibenarkan
begitu saja.
Karena itulah, saat dia menghancurkan
Isabella secara total tempo hari, dia mengira sesuatu pasti akan terjadi,
namun.
"Ini semua salahmu, kan! Tanggung
jawab, dong!"
Lily Garden. Di area dapur asrama putri
Taman Ketujuh.
Isabella berteriak dengan kedua pipi yang
memerah padam.
Hari masih teramat pagi dan belum ada
satu pun orang yang terbangun.
Di tengah keheningan yang seharusnya
hanya menyisakan suara kicauan
burung saja, Isabella terus berteriak
sekuat tenaga.
"Sejak duel waktu itu, tubuhku
menjadi aneh! Setiap kali kamu menatapku dengan pandangan dingin, en-tah
mengapa perutku menjadi merinding. Dan saat mengingat kejadian duel waktu itu,
tubuhku en-tah mengapa menjadi panas…… bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkan
hal ini?!"
"Mana kutahu, itu bukan
salahku."
"Tidak mungkin! Ini pasti terjadi
karena kamu menggunakan suatu sihir kepadaku!"
Isabella melontarkannya seolah sedang
menyudutkan Theo, tetapi dia benar-benar tidak tahu apa-apa.
Memang benar, Theo menghancurkan Isabella
secara total.
Namun sebagai akibatnya, siapa orang
waras yang sanggup membayangkan bahwa orientasi kesenangan Isabella akan ikut
berubah?
Beberapa hari telah berlalu sejak duelnya
dengan Isabella. Di antara rentang waktu tersebut, Isabella tampaknya sudah
bisa mengendalikan ketenangannya kembali, tetapi reaksi tubuhnya jelas-jelas
telah berubah.
Hatinya tetap normal, tetapi tubuhnya
telah diwarnai oleh kepuasan masokis, begitulah kira-kira.
Sambil mengembuskan napas panjang, Theo
berkata.
"Isabella, kuucapkan berkali-kali,
aku tidak menggunakan sihir semacam itu. Sayang sekali, tapi menyerahlah."
"Bo-bohong, kan?! D-dengar ya, aku
tidak akan marah jadi katakan yang
sebenarnya!"
"Ini juga sepenuhnya di luar
perkiraanku. Aku tidak menyangka kalau duel itu malah membuatmu bangkit dalam
kepuasan masokis."
"Jangan bicara seperti itu! Ka-kalau
sekarang, ini masih bisa dianggap
bercanda. Dengar, ini cuma
bercandakan?!"
"Jika kamu ingin menerima permohonan
maaf dariku, aku tidak keberatan untuk menundukkan kepala. Maafkan aku,
Isabella."
"Kenapa malah minta maaf!
Seolah-olah aku ini sudah terlambat untuk ditolong saja!"
Karena itulah yang sedang kukatakan.
Namun, dia tidak bisa meladeni gadis itu
terus-menerus.
Theo berucap dengan nada suara yang
dingin.
"Isabella, diamlah. Alasanmu berada
di sini sejak pagi hari bukan untuk berteriak, kan?"
"I-itu memang benar, tapi tetap
saja!"
"Aku tidak keberatan jika harus
memaksamu untuk patuh, lho. Atau kamu ingin merasakan hal yang sama seperti
saat duel waktu itu?"
Kejadian saat duel seharusnya menjadi
trauma bagi Isabella.
Theo mendekatkan wajahnya sambil
melontarkan ancaman, tetapi reaksi yang diterimanya justru di luar perkiraan.
Sambil memasang wajah yang memerah padam,
Isabella memalingkan wajahnya ke arah lain lalu bergumam lirih.
"………………………………A-aku tidak keberatan
meskipun harus seperti itu?"
"Hah?"
"──Ti-tidak
ada apa-apa! Lu-lupakan! Tolong lupakan saja!"
Hah, apakah rasionya
telah kembali, Isabella bergegas berteriak seketika.
Meski begitu, karena tidak sanggup
menahan rasa malu, dia menangis
histeris sambil berteriak,
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku ini!!!" lalu ambruk lemas
di tempat.
Begitu ya, inilah hasil dari terpisahnya
reaksi antara hati dan tubuh.
Beberapa menit kemudian. Sambil mengatur
napasnya yang terengah-engah, Isabella bangkit berdiri.
Dan dia mulai berbicara seolah tidak
terjadi apa-apa sebelumnya.
……Meskipun kedua matanya memerah padam
akibat menangis
semalaman.
"……Jadi, Sensei. Hari ini aku hanya
perlu membuat sarapan pagi, kan?"
"Ya.
Pertama mulailah dari sana. Setelah itu, bersihkan asrama, dan kerjakan juga
tugas harian dariku. Lalu──"
"Selesaikan seluruh tugas harian
dengan menggunakan sihir, kan. Aku sudah paham…… ini pasti akan berakhir
menjadi lembur semalaman."
Sambil menggumamkan keluhan
bersahut-sahutan, Isabella menghadap ke arah meja dapur lalu mulai mengayunkan
pedang tongkatnya.
Di atas meja dapur yang terbuat dari
kayu, tampak berbagai macam bahan makanan diletakkan.
Walau hanya untuk porsi pagi hari ini
saja, karena ini merupakan porsi untuk lima orang, jumlahnya tampak menumpuk
bagaikan gunung kecil.
──Kenapa
Isabella sampai harus membuat sarapan pagi?
'Bagi mereka yang unggul akan diberikan
berkah, sedangkan bagi mereka yang tertinggal akan diberikan hukuman'.
Akibat
《Peraturan》
kelas yang ditetapkan oleh Theo, Isabella menempati peringkat nilai prestasi
paling bawah, alhasil dia terpaksa harus mengerjakan seluruh tugas rumah tangga
sampai periode berikutnya. Membuat sarapan pagi juga merupakan bagian dari
hukuman tersebut.
Namun, hal yang diperintahkan Theo tidak
sebatas itu saja.
Sebagai bentuk latihan sihir, dia
memberikan batasan agar seluruh tugas rumah tangga wajib diselesaikan
menggunakan sihir.
Isabella mengendalikan pisau menggunakan
sihir untuk memotong bahan makanan, tetapi karena tidak terbiasa, gerakannya
berjalan dengan teramat lambat.
Meski begitu, sambil memusatkan
konsentrasi hingga keringat bercucuran di dahinya, Isabella terus
melanjutkannya tanpa mengeluh.
Lalu, entah sudah berapa lama waktu
berlalu.
Di saat Theo memperlihatkan keahlian luar
biasa berupa membalik halaman buku menggunakan sihir untuk dibaca sekaligus
menggerakkan pena menggunakan sihir untuk menilai lembar jawaban secara
bersamaan, Isabella mendadak mengajak
berbicara.
"Dengar, apakah kamu benar-benar
berpikir kalau aku akan bisa melakukannya?"
"Ada apa tiba-tiba, Isabella?"
"Aku paham kalau menyuruh kami
menyelesaikan tugas rumah tangga dengan sihir bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan sihir. Tapi, pengendalian sihir yang mendetail seperti ini biasanya
mustahil untuk dilakukan. Walau aku malas mengatakannya, bukankah hal ini hanya
bisa dilakukan karena kamu adalah seorang genius?"
Pandangan mata Isabella tertuju ke arah
Theo.
Theo memanfaatkan sihir tanpa bantuan
alat katalis seperti tongkat, menyelaraskan aktivitas membaca dan menilai
lembar jawaban secara paralel.
Sebaliknya, di tangan Isabella tampak
beberapa sayuran yang kulitnya baru terkelupas setengah tergeletak begitu saja.
Apakah karena salah dalam mengendalikan
sihir, bentuk potongan sayurannya juga terlihat tidak beraturan.
Singkatnya, karena targetnya terlalu jauh
dia menjadi kehilangan kepercayaan diri.
Dia tidak berniat untuk memberikan
perhatian khusus satu per satu.
Jika dia menghabiskan waktu demi mengurus
mental mereka, dan murid-muridnya tidak berhasil mencapai tingkat kekuatan
ideal yang diinginkan Theo hingga kelulusan tiba, maka segalanya akan menjadi
tidak ada artinya.
Namun, akan merepotkan juga jika hatinya
langsung patah secara mendadak.
Theo mengembuskan napas panjang perlahan,
lalu berbicara sambil mengenang masa lalu.
"……Isabella, hal yang kupaksa kamu
lakukan adalah bentuk modifikasi dari metode latihan keluarga Proteus, dan aku
sendiri juga pernah melakukannya pada masa lalu. Tapi, pada awalnya aku sama
sekali tidak bisa melakukannya, lho."
"Eh?"
Mata Isabella seketika membelalak karena
terperangah.
Namun, dia tidak sedang berbohong demi
memberikan semangat
semata.
"Keluarga
Proteus sejak zaman dahulu adalah silsilah keluarga penyihir yang berfokus
khusus pada sihir sistem pengendalian ruang, termasuk sihir penghalang. Saat
ini aku memang dianugerahi gelar 《Wadah》, tetapi hal itu juga bersumber dari sihir sistem
pengendalian ruang tersebut. Dan sihir sistem pengendalian ruang, secara khusus
menuntut pengendalian sihir yang teramat mendetail."
Alasan kenapa Theo sanggup mengembangkan
teori sihir mengenai
"menyimpan formula sihir ke dalam
wadah berupa equipment" sebagian besar didasari karena dia terlahir di
dalam keluarga Proteus.
Di dalam keluarga Proteus yang seperti
itu, Theo dipaksa untuk terus melakukan latihan pengendalian sihir sejak masa
kanak-kanak.
Salah satunya adalah latihan untuk
menyelesaikan segala urusan kebutuhan sehari-hari murni menggunakan sihir.
"Meskipun dipaksa melakukannya
setiap hari, ujung-ujungnya aku membutuhkan waktu tiga tahun sampai bisa
menguasainya secara sempurna. Jika dibandingkan dengan hal itu, Isabella,
kondisimu saat ini sama sekali tidak bisa dikatakan buruk. Lagi pula"
"Lagi pula?"
"Waktu yang tersisa itu terbatas.
Aku tidak akan sudi menghabiskan waktu secara sia-sia untuk hal yang kuanggap
mustahil bagi kalian."
"………………Hahaha."
Begitu Theo selesai merangkai kalimatnya,
sudut bibir Isabella tampak terangkat.
"……Benar-benar cara bicara yang
memutar. Padahal kamu tinggal bilang kalau aku pasti bisa."
"Apakah keluhanmu sudah selesai?
Kalau begitu jangan melontarkan celotehan tidak berguna dan cepat
selesaikan."
"Iya, iya, aku paham."
Sambil menyingsingkan lengan bajunya,
Isabella kembali memasang
kuda-kuda pedang tongkatnya.
Namun, sepasang matanya kini telah
diwarnai oleh secercah cahaya.
Mungkin karena dia berpikir kembali bahwa
dirinya juga pasti bisa mewujudkannya.
Dan di sana, Isabella berbalik ke arah
sini lalu bertanya.
"Ngomong-ngomong, Sensei. Cerita
tadi itu terjadi saat kamu menginjak usia berapa?"
"Kalau tidak salah sekitar usia dua
tahun. Karena tidak memiliki kekuatan fisik, memegang pisau sendiri pun rasanya
sangat berat, jadi latihan itu teramat menyiksa."
"……Kamu ini benar-benar manusia,
kan?"
Pipi Isabella spontan berkedut menegang.
Namun, obrolan sepele semacam inilah yang
menjadi rutinitas harian yang baru setelah duelnya dengan Isabella.
Sekitar satu bulan yang lalu, Theo
memulai kembali kehidupan mengajar di Putaran Kedua.
Namun, meskipun memiliki pengetahuan
tentang masa depan, tentu saja fisik yang terlatih selama peperangan serta
sihir-sihir yang telah dibangun dan disimpannya seluruhnya telah kembali
menjadi nol.
Dia tahu apa saja hal yang akan terjadi
sepanjang satu tahun ini.
Meski begitu, akan jauh lebih baik jika
dia mengembalikan kondisinya sampai ke tingkat di saat dia berhasil melintasi
peperangan pada masa lalu.
Oleh karena itu, di saat memiliki
kesempatan, Theo sengaja menyelinap keluar dari Lily Garden demi melakukan
latihan di dalam hutan sekitar.
"Ah, Sensei."
"…………Apa yang sedang kamu lakukan,
Xue?"
Latihan sihirnya baru saja selesai, di
saat matahari sudah hampir terbenam secara total.
Tepat di saat Theo kembali melintasi
gerbang sekolah Lily Garden, sosok
yang berpapasan dengannya secara mendadak
tidak lain adalah Xue.
Gadis berambut seputih es dengan fitur
wajah bagaikan boneka.
Sepasang tanduk tumbuh di atas kepalanya,
dan sepasang mata yang bagaikan batu permata tampak menatap ke arah sini secara
berkedip kilat.
Xue entah mengapa tampak memanjat ke atas
sebuah dahan pohon. Di dalam kedua tangannya yang direntangkan sekuat tenaga,
seekor binatang kecil terlihat sedang digenggamnya dengan erat. Apakah dia baru
saja menangkap binatang kecil itu sesaat yang lalu?
Namun, menyapanya secara mendadak
bukanlah pilihan yang baik.
Tepat
di saat Xue membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Theo, dia kehilangan
keseimbangan di atas dahan pohon dan──
"Kya…… kyaaaaa!"
"Kamu tidak apa-apa?"
Puk. Xue jatuh
meluncur secara terbalik, lalu mendarat dengan anggun tepat di dalam dekapan
lengan yang diulurkan oleh Theo.
Sebuah posisi yang biasa disebut posisi
membopong putri.
Ketinggian jatuhnya memang setara dengan
tinggi dua orang manusia
yang berjejer secara vertikal, tetapi
karena ukuran tubuh Xue hanya sebatas murid sekolah dasar, benturan yang
ditimbulkannya sama sekali tidak terasa berat.
"Ma-maafkan aku. Aku akan, langsung
turun, ya."
Saat pandangan mata mereka saling
berpapasan, wajah Xue memerah padam dan dia bergegas menggerakkan kakinya
secara panik.
Begitu Theo menurunkannya dari dalam
dekapan lengan ke atas tanah,
Xue membungkukkan kepalanya.
"A-anu, terima kasih banyak."
"Bukan masalah…… tapi apa yang kamu
lakukan di tempat seperti itu?"
"Sebenarnya, anak ini sedang
terluka. Karena itu, aku berniat untuk menyembuhkannya."
Xue memperlihatkan seekor binatang kecil
yang berada di dalam dekapannya.
Apakah kaki binatang kecil itu sedang
terluka, sesuatu yang menyerupai bekas luka tampak terlihat oleh Theo.
"Mohon tunggu sebentar ya. Aku akan
langsung menyembuhkannya."
Begitu selesai berbicara, Xue menjulurkan
tangan kecilnya ke arah binatang kecil itu.
Tepat setelah itu, bersamaan dengan
pancaran cahaya yang bersinar temaram, kaki binatang kecil itu sembuh dalam
sekejap mata.
Meskipun diselesaikan dengan santai, itu
adalah sihir tanpa mantra yang sempurna.
Bagi ukuran penyihir normal, tindakan
tersebut merupakan sebuah keahlian luar biasa yang memadai.
Dalam
sihir generasi keempat, penyihir menggunakan 'kata' untuk memilih dan
mengaktifkan sihir dari 《Wadah》 berupa equipment atau barang lainnya.
Padahal jalurnya demikian, tetapi
menyelesaikan proses sejak pemilihan hingga pengaktifan murni menggunakan
keinginan tanpa melibatkan satu patah kata pun, merupakan ranah yang tidak akan
pernah bisa digapai oleh penyihir biasa.
Tentu saja, jika sosok itu adalah Xue,
bukan hal yang aneh meskipun dia sanggup melakukannya dengan santai.
"Anu, maaf membuat Anda menunggu……
eh, mengenai kemampuan
yang tadi, mungkin Anda sudah
mengetahuinya."
"Ya, aku tahu. Kamu masuk ke Lily
Garden karena kemampuanmu itu dinilai tinggi, kan?"
"Benar!"
Xue langsung memancarkan senyuman yang
ceria.
Kekuatan milik Xue merupakan sebuah
kemampuan yang sangat langka bahkan jika dilihat di seantero dunia. Para murid
Taman Ketujuh dikumpulkan murni berdasarkan bakat sihir semata, tanpa
memedulikan kepribadian maupun asal-usul kelahiran mereka. Sosok
Xue benar-benar contoh yang paling ideal
dari murid yang dimaksud.
Namun.
"Apakah kamu sampai memanjat pohon
murni hanya demi menolong binatang itu?"
Saat Theo bertanya dengan nada suara yang
datar, Xue menjawab dengan penuh keraguan.
"Ya. Karena kakinya tampak
kesakitan."
"……Setidaknya aku rasa binatang itu
masih bisa bergerak hingga sanggup memanjat pohon, lho."
Sulit untuk berpikir kalau binatang itu
terluka di atas pohon.
Kemungkinan besar dia memanjat ke atas
pohon setelah terluka.
Keadaannya tidak terkesan memiliki
tingkat urgensi yang tinggi.
Meski begitu, menanggapi gumaman dingin
dari Theo, Xue menyahutnya bersamaan dengan sebuah senyuman.
"Benar. Tapi tidak apa-apa, kok. Aku
tidak akan bisa mengabaikan anak yang sedang kesulitan."
"……Begitu ya."
Hal inilah yang menjadi kelebihan
sekaligus kekurangan dari Xue Amaryllis.
Dia pasti akan mengulurkan tangan jika
ada seseorang yang sedang berada dalam kesulitan. Walau harus mengorbankan
dirinya sendiri hingga terluka.
Dan bagaimana akhir cerita dari sikapnya
itu, Theo sudah
mengetahuinya dengan sangat baik.
──Tiba-tiba.
Setelah mengedarkan pandangan matanya ke
sekeliling secara panik,
Xue memiringkan kepala kecilnya dengan
anggun.
"Anu, apa yang sedang Sensei lakukan
di luar ruangan?"
"……Bukan hal yang penting. Aku hanya
sedang berlatih sihir."
"Apakah Sensei juga melakukan
latihan sihir?"
Saat Theo menjawab setelah sempat ragu
sejenak, mata Xue seketika membelalak karena terkejut.
Alasan kenapa dia sempat ragu adalah
karena dia bingung seberapa jauh dirinya harus membeberkan hal ini kepada Xue.
Namun, meminta Xue untuk memastikan hasil
sihir buatannya juga bukan pilihan yang buruk.
Setelah menentukan keputusan tersebut,
Theo mengeluarkan benda yang disembunyikannya di balik jubah.
"Aku membuat benda ini menggunakan
sihir."
"Wah, menggemaskan sekali!"
Benda yang dikeluarkan dari balik jubah
untuk diperlihatkan adalah seekor tikus berbulu hitam.
Ukuran totalnya hanya sebatas muat di
dalam genggaman tangan. Tikus itu bergerak dengan lincah di atas lengannya,
lalu merangkak naik hingga ke atas bahu.
"Jangan-jangan, ini adalah sihir
Familiar?"
"Ya, hebat sekali kamu bisa langsung
mengetahuinya."
Sihir Familiar, singkatnya adalah sebuah
sihir di mana penyihir menjinakkan binatang untuk diperintah.
Penyihir sanggup berbagi informasi
penglihatan maupun pendengaran melalui perantara binatang yang diperintah
tersebut, dan sihir ini kerap digunakan saat penyihir ingin berbicara dengan
orang yang berada di tempat jauh.
Namun, apakah Xue merasakan suatu
kejanggalan, dia memiringkan kepalanya dengan bingung.
"……Tapi, rasanya agak sedikit
aneh."
"Aneh?"
"Mungkin hanya perasaanku saja, tapi
hawanya terasa seperti hawa
keberadaan yang sedikit kukenal."
"……Begitu ya."
"Ma-maafkan aku. Aku sudah
mengatakan hal yang aneh."
"Tidak apa-apa. Justru hal itulah
yang ingin kudengar."
"……?"
Mendengar kata-kata Theo membuat Xue
mengerjapkan matanya dengan bingung.
Meski begitu, hal yang ingin diketahuinya
kini telah berhasil dipastikan.
Jika dia sudah mendapatkan jaminan dari
Xue, maka sihirnya dipastikan telah berhasil diselesaikan tanpa ada masalah.
Tiba-tiba, dari arah jauh terdengar suara
dentang lonceng.
Itu adalah suara lonceng dari gereja yang
berada di dekat Lily Garden.
Begitu mendengar suara itu, Xue memasang
ekspresi wajah yang terkejut seolah baru saja mengingat suatu hal.
"Ah, sepertinya aku sudah harus
segera pulang."
"Apakah untuk sarapan malam?"
"Benar. Karena aku sudah berjanji
dengan semuanya. Sensei, terima kasih banyak karena sudah menolongku
tadi!"
Sambil memberikan senyuman yang teramat
ceria, Xue membungkukkan badannya dalam-dalam, lalu bergegas berlari pergi
meninggalkan tempat itu.
Pada Putaran Pertama, Xue tewas dibunuh
secara tragis oleh prajurit musuh di medan perang.
Jika mengingat hal itu, pemandangan Xue
yang memperlihatkan senyuman kepadanya saat ini terasa bagaikan sebuah mimpi
semata.
Namun, dia tidak akan membiarkan
segalanya berakhir sebagai mimpi saja.
Satu minggu yang lalu, Theo telah
berhasil mengubah jalan hidup Isabella. Jika pemikiran Theo memang tepat,
Isabella dipastikan akan berkembang hingga sanggup menghindari kematiannya di
Putaran
Pertama.
Dan, murid berikutnya juga sudah
ditentukan.
Xue Amaryllis.
Gadis itulah murid yang kini akan diubah
takdir hidupnya oleh Theo berikutnya.
"Sensei. Sesuai dengan perintahmu,
aku sudah membawa buku-buku ini dari perpustakaan bawah tanah…… tapi benda ini
mau digunakan untuk apa?"
Lily Garden. Ruang persiapan mengajar.
Isabella bertanya sambil meletakkan
tumpukan buku yang didekap oleh kedua lengannya ke atas meja.
Ruang persiapan mengajar merupakan sebuah
kamar pribadi yang dialokasikan untuk setiap guru di gedung sekolah.
Mungkin karena merupakan gedung sekolah
yang bersejarah, atmosfernya terasa agak kuno.
Namun jika Theo sedang malas untuk pulang
ke asrama staf pengajar, dia sengaja membawa berbagai macam barang ke ruang
persiapan mengajar ini agar bisa menghabiskan malam di sini. Isinya sudah
lengkap mulai dari bahan makanan hingga peralatan sihir, sampai-sampai bisa
digunakan untuk tinggal selama sekitar satu minggu.
Peralatan sihir merujuk pada alat yang
diciptakan menggunakan teori sihir generasi keempat agar siapa pun bisa
memanfaatkan sihir. Artinya adalah alat yang dibuat menggunakan rekayasa sihir.
Dan pada seluruh dinding ruangan, tampak
lemari buku dipasang memenuhi tempat tersebut hingga nyaris tidak menyisakan
celah sedikit pun.
Theo berbicara tanpa mengangkat wajahnya
yang sedang fokus
membaca buku dari atas kursi.
"Untuk pengumpulan informasi. Karena
semakin banyak informasi yang dimiliki, maka akan semakin bagus. Berikutnya
pergilah ke ruang perpustakaan, lalu bawakan buku-buku yang kutentukan."
"Iya, iya, aku paham. Tapi bukankah
tugas harian ini agak terlalu banyak? Memang benar kalau aku sudah bilang akan
mengerjakan tugas harianmu…… tapi bukankah tindakanmu ini sudah terlewat
memanfaatkan situasiku dengan praktis?"
"Apakah kamu tidak suka?"
"A-aku tidak bilang kalau tidak
suka! Aku kan hanya mengeluh saja!"
Bukankah hal itu mengindikasikan kalau
dia memang tidak suka.
Saat Theo melemparkan tatapan mata yang
pasrah, Isabella merona merah lalu menggerakkan tubuhnya dengan gelisah.
"Tu-tunggu dulu, tolong hentikan
tatapan matamu yang seperti itu. Anu,
saat ditatap dengan sepasang mata dingin
itu…… tu-tubuhku menjadi merinding……"
"……Tidak, aku kan hanya sedang
melihat ke arahmu saja."
"B-bajingan licik. Kamu berpikir aku
akan tunduk hanya dengan tatapan mata yang seperti itu?!"
"Tidak,
makanya aku bilang aku hanya melihatmu──"
"Tapi ingat ya! Seberapa keras pun
aku disiksa, hatiku mutlak tidak akan pernah kalah!"
"Sebenarnya dari tadi kamu sedang
bertarung melawan siapa?"
"Aku sendiri juga ingin tahu!
Menyebalkan sekali!!!"
Pada akhirnya Isabella berteriak seolah
sedang mengamuk meluapkan kekesalannya.
Tidak lama kemudian dia melangkah pergi
dengan lesu sambil bergumam, "Aku akan pergi ke ruang perpustakaan……"
Tampaknya dia
masih tersiksa oleh perbedaan reaksi
antara hati dan tubuhnya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu
setelah itu.
Isabella kembali ke ruang persiapan
mengajar sambil mendekap tumpukan buku dalam jumlah besar dari ruang
perpustakaan.
Namun pada saat itu, dia sudah tidak
datang seorang diri lagi.
"……Gardener-sensei?"
"Ehehe, maafkan saya. Karena melihat
Lumiere-san sedang mengangkut buku, saya menjadi penasaran."
Sosok
yang menyembul dari balik punggung Isabella tidak lain adalah guru perempuan
yang berpenampilan menyerupai biarawati jubah putih──Ophelia Gardener.
Namun dalam artian tertentu, situasi ini
justru terasa tepat.
Sebab, Ophelia bisa dikatakan sebagai
seorang pakar mengenai hal yang
ingin diketahui oleh Theo saat ini.
Ophelia memiringkan kepalanya sambil
mengambil buku yang diangkut oleh Isabella.
"Ngomong-ngomong, apa yang sedang
Anda cari tahu? Sepanjang penglihatan saya, buku-buku ini semuanya mengenai ras
iblis…… jika
Anda ingin tahu mengenai ras iblis,
mungkin saya bisa membantu!"
Ophelia tersenyum simpul.
Mendengar tawaran itu membuat Isabella
membelalakkan matanya dengan bingung.
"Eh, benarkah……? Apakah Sensei
merupakan guru untuk mata pelajaran ilmu sihir ras iblis?"
"T-tidak, bukan seperti itu, sih……
hanya saja keluarga Gardener sejak zaman dahulu merupakan faksi yang bersahabat
dengan ras iblis. Di dalam wilayah kami dulu, para ras iblis tinggal bersama
dengan hubungan yang sangat baik. Walau setelah itu wilayah kami terpaksa
lenyap karena suatu alasan…… saat menginjak usia remaja, saya pergi
meninggalkan rumah kerabat lalu tinggal bersama dengan para ras iblis."
Ophelia menatap ke arah kejauhan seolah
sedang mengenang masa lalu.
"Mereka sudah benar-benar seperti
keluarga kandung sendiri, lho. Di antara mereka bahkan ada pula anak yang
kusayangi layaknya seorang adik perempuan…… walau sekarang kami sudah terpisah,
tetapi karena saya menjalani kehidupan yang seperti itu, saya menjadi agak
sedikit tahu mengenai ras iblis."
Ophelia tertawa dengan nada suara yang
tampak sedih.
Di saat tidak ada satu pun orang yang
sanggup memotong pembicaraan mengenai masa lalu tersebut, Ophelia bertepuk
tangan sekali seolah hendak mengubah atmosfer ruangan secara kilat. Artinya
kisah masa lalu sudah selesai sampai di sini.
"Tapi jumlah koleksi buku di sini
benar-benar luar biasa, ya. Di Sanctia, jumlah peredaran buku mengenai ras
iblis tidaklah terlalu banyak…… tidak disangka bahkan sampai ada dokumen kuno
juga."
Sambil berbicara, Ophelia mengambil
dokumen kuno yang menumpuk tinggi lalu mulai membuka halamannya.
Meskipun diambil dengan santai, gerakan
tangannya terlihat sangat berhati-hati. Sebuah bukti bahwa dia sudah terbiasa
menanganinya.
"Isinya
mengenai 《Perang Besar》
melawan ras iblis seratus tahun yang lalu, ya. Apakah Anda sedang mencarinya
demi keperluan pelajaran di kelas?"
Pandangan mata Ophelia tampak bergerak
mengikuti untaian baris tulisan.
Meskipun merupakan sebuah dokumen kuno,
dia dipastikan sanggup memahaminya dengan benar.
Bagi kaum bangsawan terpandang, kemampuan
untuk membaca dokumen kuno merupakan bagian dari edukasi yang wajib dikuasai.
Apakah Ophelia juga tidak terkecuali dan
dipaksa untuk menghafalnya
sejak masa kanak-kanak.
"Ya, tepat sekali. Karena hal ini
mungkin akan diperlukan nanti."
"Sikap untuk memahami segalanya
hingga ke setiap sudut seperti itu benar-benar sangat mengagumkan. Saya juga
harus menirunya, ehehe."
Ophelia tertawa secara malu-malu, tetapi
kalimat yang dilontarkan oleh
Theo murni merupakan sebuah kebohongan
semata.
Theo sudah menentukan bahwa murid
berikutnya yang harus diubah
jalan hidupnya adalah Xue.
Dan meskipun arah tujuannya juga sudah
ditentukan, dia tidak boleh lalai dalam mengumpulkan informasi.
Sebab Xue adalah seorang ras iblis, dan
asal-usul kelahirannya juga terbilang agak sedikit unik.
Justru karena itulah dia sengaja menyuruh
mengumpulkan buku mengenai ras iblis.
Tanpa mengetahui niat tersembunyi milik
Theo tersebut, Isabella memiringkan kepalanya sambil mengintip ke arah buku
yang digenggam oleh Ophelia.
"Hmm. Tapi buku ini bukankah lebih
banyak menuliskan tentang ras spirit, daripada membahas mengenai ras iblis
secara keseluruhan?"
"Ah,
kalau soal itu, saya rasa karena ada banyak ras manusia yang tewas dibunuh oleh
ras spirit di masa 《Perang Besar》
dahulu. Dokumen yang ditulis oleh ras manusia pada masa itu seluruhnya dipenuhi
oleh hal semacam itu akibat rasa takut terhadap ras spirit. Lalu sisanya
mungkin mengenai ras demon beast."
Penjelasan yang dilontarkan oleh Ophelia
memang tepat seperti kenyataannya.
Pada masa lalu, ras manusia memang
terlibat peperangan dengan ras iblis, tetapi jenis ras yang sering ditulis di
dalam literatur kuno pada masa itu sebagian besar berfokus pada dua ras besar
saja.
Pertama, ras demon beast. Sebuah ras yang
memiliki populasi terbesar di antara ras iblis, tetapi kenyataannya istilah
tersebut hanyalah sebutan serempak untuk berbagai macam ras yang dijadikan satu
kelompok saja.
Dimulai dari ras beastman hingga ras ogre
dan yang lainnya, seluruhnya
berakhir dikelompokkan sebagai ras demon
beast.
Pada masa lalu, masing-masing ras
tersebut kabarnya merupakan sebuah faksi kekuatan yang besar tersendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, jumlah
populasi ras mereka terus berkurang, hingga berakhir dikelompokkan menjadi satu
berdasarkan definisi dari ras manusia.
Dan ras lain yang teramat sering muncul
di dalam literatur kuno sejak zaman dahulu tidak lain adalah ras spirit. Ras
ini mutlak bukan merupakan ras dengan jumlah populasi yang banyak, tetapi
karena ada banyak sekali ras manusia yang tewas terbunuh akibat suatu sihir
milik mereka, sosok ras ini akhirnya menjadi sering ditulis di dalam dokumen
kuno.
Sambil menurunkan pandangannya ke arah
dokumen kuno, Ophelia
melanjutkan.
"Di dalam buku ini, secara khusus
menuliskan tentang sihir spirit. Mengenai sihir spirit…… apakah saya tidak
perlu menjelaskannya lagi?"
"Itu sihir yang diaktifkan
menggunakan spirit yang telah mengikat kontrak dengan ras spirit, kan?"
"Ya, tepat sekali. Ngomong-ngomong,
apakah kamu tahu keunggulannya?"
"Ke-keunggulan?"
Menyaksikan ekspresi wajah Isabella yang
kebingungan membuat Theo melontarkan jawabannya.
"Keunggulan terbesar dari sihir
spirit adalah penyihir sanggup memanfaatkan resource milik spirit juga.
Sebagai contoh, jika pada sihir normal kapasitas kemampuan satu orang penyihir
merupakan batas maksimalnya, maka pada sihir spirit, seluruh kekuatan dari
spirit yang telah mengikat kontrak dapat digunakan."
"Anu…… aku samar-samar bisa paham
maksudnya, tapi secara spesifik di mana letak kehebatannya?"
"Artinya, semakin banyak jumlah
kontrak yang diikat dengan spirit, maka kecepatan pengaktifan sihir juga akan
menjadi semakin cepat. Sebagai contoh, ada sihir Rank pertama yang membutuhkan
waktu hingga dua hari sampai bisa aktif, tetapi jika ada spirit yang memiliki
spesifikasi setara dengan manusia, prosesnya bisa diselesaikan hanya dalam
waktu satu hari saja."
Kecepatan pengaktifan sihir kabarnya
ditentukan berdasarkan kecepatan pemrosesan otak seorang penyihir.
Sesama penyihir sering kali menentukan
kemenangan atau kekalahan berdasarkan spesifikasi otak yang mereka miliki.
Namun jika menjinakkan spirit,
spesifikasi dari spirit tersebut dapat ikut dimanfaatkan oleh penyihir.
Penyihir sanggup mengaktifkan sihir yang berbeda secara bersamaan, atau sekadar
mempercepat waktu pengaktifan dari satu sihir saja.
"Menghadapi seorang penyihir spirit
setara dengan menghadapi beberapa orang penyihir sekaligus. Penyihir hebat dari
ras spirit sanggup menjinakkan beberapa spirit yang levelnya berada di atas
manusia, dan untuk tingkat raja ras spirit sendiri, dia bahkan sanggup
menjinakkan beberapa spirit tingkat mitologi secara bersamaan. Alasan kenapa
ras manusia tidak sanggup menang jika berhadapan langsung adalah karena hal
itu."
"Meskipun demikian, proses untuk
mengikat kontrak dengan beberapa spirit sekaligus merupakan urusan yang sangat
sulit untuk dilakukan, lho. Karena hal itu setara dengan membangun sebuah harem
dan wajib menjaga agar tidak ada satu pun pihak yang melayangkan protes."
"Apakah perumpamaan itu tepat?"
Isabella memasang ekspresi wajah yang
curiga, tetapi perumpamaan itu tidak sepenuhnya salah.
Hal itu pulalah yang menjadi penyebab
kenapa jumlah penyihir spirit
terbilang sedikit di luar ras spirit.
Ras spirit sejak lahir diberkahi sifat
yang disukai oleh spirit, tetapi jika ada ras manusia yang disukai oleh spirit,
hal itu sudah dihitung sebagai sebuah bakat anugerah yang luar biasa. Spirit
memiliki tingkat pemilih yang teramat sangat tinggi. Jika berniat menjinakkan
beberapa spirit yang seperti itu sekaligus, entah berapa banyak usaha keras
yang harus dikeluarkan hanya demi menenangkan masing-masing spirit tersebut.
"……Ah, maafkan saya. Padahal saya
datang berkunjung secara
sembarangan, tetapi saya malah sibuk
berceloteh dengan sok tahu."
“Ehehe,” Ophelia tertawa secara
malu-malu.
Namun, informasi yang diberikannya
terbilang bermanfaat.
Tepat di saat Theo hendak menyampaikan
rasa terima kasihnya, dia menahan pergerakan mulutnya sebelum sempat
mengeluarkan kata-kata.
Sebab di saat sekelompok murid melintas
di koridor luar ruangan,
mereka tampak sedang membicarakan suatu
hal yang mengusik perhatiannya.
Apakah mereka sedang terbuai oleh obrolan
mereka sendiri, volume suara mereka terdengar dengan sangat jelas hingga ke
dalam ruangan.
"Hei, kamu sudah dengar belum? Itu
loh, ras iblis yang ada di sekolah kita. Tepat baru saja beberapa saat yang
lalu, kabarnya ada orang yang melihat dia sedang diserang di dalam kota. Benar,
benar."
"Ih, andai saja dia langsung lenyap
begitu saja dari sini, pasti akan bagus ya."
◇
"Hen…… mohon hentikan……!"
Celeste, sebuah kota tempat ilmu sihir
dan sejarah saling berbaur dengan selaras, lokasi di mana Lily Garden
didirikan.
Di dalam sebuah gang kecil di area
komersial kota tersebut, Xue sedang berusaha keras berlari menembus jalanan
sekuat tenaga.
Alasannya sederhana. Murni hanya karena
dia merupakan seorang ras iblis, dia diserang oleh para petualang.
"Hei! Gadis ras iblis, cepat
menyerahlah! Setelah ini kami kan mau pergi ke tempat pedagang budak!"
Aksi kejar-kejaran ini sudah berlangsung
selama tiga puluh menit.
Meski begitu, suara lengket dari para
petualang di belakangnya tidak kunjung terputus sama sekali.
Alasan Xue menilai para pengejarnya
sebagai petualang adalah karena mereka tampak mengenakan sebuah medali yang
dikalungkan di leher menggunakan seutas tali.
Meskipun tidak tahu secara mendetail,
medali itu seharusnya merupakan benda yang membuktikan identitas sebagai
seorang petualang.
Setiap kali suara dari para petualang itu
menyentuh telinganya, sebuah sensasi merinding langsung menjalar di dalam tubuh
Xue.
Alasan Xue pergi meninggalkan Lily Garden
menuju ke area komersial adalah demi membeli barang keperluan untuk asrama.
Di tengah jalan pulang.
Tudung jubahnya terlepas akibat embusan
angin kencang, dan sialnya sepasang tanduk miliknya langsung terlihat oleh para
petualang.
Saat mencuri-curi pandang ke arah
belakang, total ada tiga orang petualang yang sedang mengejarnya.
Komposisinya terdiri dari satu orang pria
petualang yang bertindak sebagai pemimpin, dan dua orang pria yang bertindak
sebagai anak buah.
Sang pemimpin merupakan seorang
berandalan murahan yang memiliki bekas luka di pipinya.
Wajahnya memerah padam karena mabuk,
tetapi langkah kakinya terlihat sangat mantap. Dia dipastikan memiliki keahlian
yang memadai sebagai seorang petualang.
Saat ini, alasan kenapa Xue masih bisa
bertahan tanpa tertangkap murni hanya karena dia memiliki pemahaman medan
jalanan yang lebih baik.
Para petualang itu kemungkinan besar
bukan berasal dari kota ini.
Kota bernama Celeste ini merupakan tempat
di mana perdagangan dari arah barat dan timur berkembang dengan sangat pesat,
sehingga arus keluar-masuk manusia juga teramat padat. Xue berpikir para
petualang itu pasti sedang memanfaatkan jalur perdagangan tersebut untuk
menuju
ke suatu dungeon──atau mungkin baru saja kembali dari sana.
Namun, seberapa baik pun pemahaman
medannya, ada batasnya bagi Xue untuk terus melarikan diri dari kejaran tiga
orang petualang
sekaligus.
"-"
Sebuah dinding mendadak muncul di hadapan
Xue.
Jalan buntu. Di saat dia memahaminya,
segalanya sudah terlambat.
Tiga orang petualang tampak berdiri di
belakangnya. Dua orang anak buah berdiri di barisan depan, sedangkan sang
pemimpin yang memiliki bekas luka di pipi berdiri di barisan belakang.
"Wah, wah, kita benar-benar sedang
beruntung ya~"
Sambil menyeringai lebar, sang pemimpin
yang memiliki bekas luka di pipi menatap ke arah Xue.
"Aku kira hasil dari dungeon kali
ini akan zonk total, tidak disangka kita malah bisa bertemu dengan gadis ras
iblis dari spesies langka. Dengan penampilan yang semenarik ini, kamu pasti
akan sangat populer di kalangan kolektor."
Meskipun kalau aku pribadi sih ogah
dengan ras iblis, begitulah.
Tepat setelah melontarkan kalimat itu,
sang pemimpin dengan bekas luka di pipi langsung menarik pedangnya.
Menyelaraskan gerakan tersebut, dua orang
di barisan depan juga ikut menyiapkan senjata mereka.
Meskipun mabuk dan memasang senyuman yang
menjijikkan, mereka telah menutup jalan pelarian Xue dengan rapat.
Sebuah situasi di mana dia tidak punya
pilihan selain menghadapi mereka.
Namun, kedua kaki Xue hanya bisa
gemetaran tanpa bisa digerakkan sama sekali.
"Mungkin ini akan terasa sakit, tapi
tahan saja ya. Habisnya, lawan kami
selama ini kan sebagian besar adalah
monster!"
"────-"
Tepat di saat sang petualang mengayunkan
pedangnya ke arah bawah, Xue secara refleks mengobarkan mana miliknya sambil
memejamkan mata dengan rapat.
Namun pada detik berikutnya, hanya dengan
tindakan sebatas itu saja, dia berhasil mengaktifkan sihirnya.
Sebuah dinding es yang luar biasa indah
tampak melebar menutupi wujud Xue demi menyembunyikannya. Tepat di saat sang
petualang hendak menebaskan pedangnya ke bawah, serangannya tidak kunjung bisa
menggapai Xue. Pedang itu langsung terpental kembali akibat menghantam dinding
es.
Di seberang dinding es, para petualang
tampak melontarkan berbagai macam makian secara bersahut-sahutan.
Kata-kata yang kotor, kata-kata
provokasi, serta kalimat yang menolak keberadaan dari sosok Xue itu sendiri.
"…………-"
Sebuah gang kecil yang dipenuhi oleh
tumpukan sampah. Sisa
muntahan seseorang bahkan tampak terlihat
tergeletak di atas permukaan tanah.
Meski begitu, Xue tetap menyusutkan
badannya sambil menutup kedua telinganya erat-erat menggunakan kedua tangan.
Sebab dia sama sekali tidak ingin
mendengar apa pun, dan tidak ingin melihat apa pun lagi.
──Ras
iblis ditakdirkan untuk selalu menerima persekusi ke mana pun mereka pergi.
Sebagai akibat dari tindakan menentang
ras manusia dan kalah dalam peperangan pada masa lalu, ras iblis didepak dan
disingkirkan dari masyarakat.
Sebagian di antara mereka memilih untuk
mendirikan perkampungan di tempat yang terisolasi dari pemukiman manusia,
menjalani kehidupan di antara sesama ras iblis saja tanpa diketahui oleh orang
luar.
Keluarga milik Xue merupakan bagian dari
kaum ras iblis yang seperti itu.
Di saat dia mulai mengingat lingkungan
sekitar, kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi di dunia.
Meskipun demikian, rekan-rekan sesama ras
iblis bersedia menerima
Xue dan memperlakukan dirinya sebagai
bagian dari 'keluarga'.
Di antara mereka bahkan ada pula orang
yang menyayangi dirinya layaknya seorang adik perempuan sendiri. Meskipun hidup
dalam kemiskinan, masa-masa pada waktu itu dipastikan merupakan sebuah
kebahagiaan yang nyata bagi dirinya.
Sampai insiden itu pecah.
Sejak insiden itu terjadi, Xue kehilangan
keluarganya dan luntang-lantung berpindah-pindah ke berbagai tempat.
Dia hidup sebatang kara, bahkan sempat
ada hari-hari di mana dia harus mengais sisa makanan demi bisa bertahan hidup.
Bukan karena memiliki hasrat yang besar
untuk hidup, dia terus melanjutkan hidup murni hanya karena takut pada
kematian.
Di tengah masa-masa itulah, Kepala
Sekolah, Anemone Blackwood, muncul di hadapan Xue.
──Di
antara ras iblis pun, kamu memiliki kekuatan yang jauh lebih istimewa.
──Maukah
kamu meminjamkan kekuatan itu demi impianku?
Anemone mengulurkan tangan sambil
mengucapkan kalimat itu.
Kisah
itu baru terjadi sekitar tiga tahun yang lalu──
"《Flare》"
Bersamaan dengan gema suara yang
terdengar secara mendadak tersebut, sebuah gelombang panas yang kuat langsung
menerjang.
Kesadarannya seketika ditarik paksa
kembali ke realitas.
Saat mengangkat wajahnya dengan panik,
kobaran api telah melebar tepat di hadapannya.
Dinding es yang selama ini melindungi Xue
mencair dengan cepat lalu runtuh.
Di depan matanya, sang pemimpin petualang
yang memiliki bekas luka di pipi tampak sedang menjulurkan lengan sambil
mengibaskan sisa-sihir api.
Di jarinya terpasang sebuah cincin yang
tampaknya dimanfaatkan sebagai katalis untuk mengaktifkan sihir.
"Hah, terima kasih banyak untuk Theo
Proteus-sama."
Sang pemimpin petualang melangkah maju
sambil menginjak hancur serpihan dinding es yang telah runtuh.
"Petualang yang tidak berpendidikan
seperti aku pun sekarang sudah bisa menggunakan sihir. Kamu tahu tidak, Gadis?
Belakangan ini, siapa pun bisa menggunakan sihir murni hanya dengan membeli
peralatan sihir yang sudah dipasangi formula sihir."
Hal itulah yang menjadi keunggulan dari
teori sihir generasi keempat.
Sihir
generasi ketiga menyimpan 《Formula Sihir》 di
dalam otak penyihir, lalu mengaktifkan sihir dengan cara mengonsumsi mana.
Di
sisi lain, sihir generasi keempat yang dikembangkan oleh Theo sanggup menyimpan
《Formula Sihir》 di
dalam equipment.
Melalui hal tersebut, siapa pun akhirnya
bisa menggunakan sihir asalkan memiliki alat serta mana.
Sang petualang menyunggingkan senyuman
sambil kembali memicu sihir api di tangannya.
"Benar-benar dunia yang praktis ya.
Rasanya aku ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung kepada
orangnya."
"──Begitu
ya. Kalau begitu, silakan sampaikan langsung sekarang."
"─!"
Niat membunuh.
Sang pemimpin petualang bergegas melompat
mundur ke belakang dengan panik, tetapi dua orang lainnya tidak sempat
menghindar.
Bugh, sebuah hantaman
keras bergema, dan kedua orang itu langsung
ambruk lemas ke atas tanah.
Sosok yang muncul dari dalam kehampaan
secara bersamaan tidak lain adalah sang guru sihir jubah hitam, Theo Proteus
sendiri.
Dia
kemungkinan besar memanfaatkan sihir 《Spectrum》 yang digunakannya saat berduel dengan Isabella
waktu itu.
"……Ada urusan apa kamu mendadak
menyelinap masuk campur tangan, hah?"
Apakah karena menyadari adanya perbedaan
kekuatan, sebutir keringat dingin tampak menetes dari dahi sang pemimpin
petualang.
"Bagaimana kalau kukatakan aku
adalah Theo Proteus sendiri?"
"……Haha,
jangan bercanda. Mana mungkin guru akademisi berada di tempat seperti ini.
──Hei, kita pergi."
Setelah menilai situasinya buruk, sang
pemimpin petualang memanggil kedua anak buahnya.
Sambil merintih kesakitan, kedua orang
itu berusaha keras untuk bangkit berdiri. Mereka melangkah pergi dengan langkah
kaki yang terhuyung-huyung lemah.
"Sampai jumpa lagi ya, Gadis."
Sepasang mata sang pemimpin petualang
tetap terlihat berkilat tajam saat melontarkan kalimat ancaman itu sebelum
pergi.
Setelah para petualang itu lenyap dari
pandangan.
Apakah karena tanpa sadar terus menahan
napas sepanjang waktu, Xue bergegas mengatur napasnya berulang kali secara
panik.
Begitu kondisinya mulai tenang, dia
membungkukkan kepalanya kepada Theo.
"……Se-sensei…… terima kasih
banyak."
Theo terus menatap ke arah sini secara
diam seribu bahasa bersamaan
dengan ekspresi wajah serius seolah
sedang memikirkan suatu hal.
Dia sama sekali tidak membalas ucapan
terima kasih dari Xue. Sebagai gantinya, dia melayangkan sebuah pertanyaan.
"Kenapa kamu tidak membalas serangan
mereka?"
"……Eh?"
"Aku bertanya kenapa kamu tidak
menggunakan kekuatan spirit untuk membalas serangan mereka. Dengan kemampuan
yang kamu miliki, mengusir mereka seharusnya adalah hal yang mudah."
"──Sebab
Xue, kamu adalah penyintas dari ras spirit, kan?"
Sebuah ras bereputasi buruk yang telah
melakukan pembantaian massal terhadap ras manusia.
Rentetan suara dari orang-orang yang
selama ini terus menyudutkan dirinya seketika bangkit kembali di dalam benak,
hingga dia secara tidak sadar menahan napas.
Pikirannya mandek dan tidak ada satu
patah kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya. Hanya bibirnya saja yang
bergerak-gerak mencoba merangkai kata tanpa suara.
Namun, meskipun mengarahkan pandangan
mata yang dingin ke arah sini, Theo sama sekali tidak mendesak Xue.
Padahal jika itu adalah guru-guru sebelum
ini, mereka dipastikan sudah melontarkan kata-kata kejam kepada Xue.
Setelah keheningan berlalu beberapa saat.
Begitu berhasil mengendalikan ketenangannya kembali, Xue membuka mulutnya
secara ragu-madu.
"Anu…… karena, i-itu sakit."
"Sakit?"
"Ya. Karena aku berpikir…… akan
buruk, kalau para petualang itu sampai merasa kesakitan."
"…………"
Apakah jawaban yang diberikannya salah.
Theo hanya terdiam tanpa
sepatah kata pun.
Di saat Xue sedang dirundung rasa cemas,
Theo bergumam lirih.
"Begitu ya, aku paham. Xue, kalau
kamu bisa berjalan, cepatlah pulang."
"……I-iya…… aku paham."
Dia membungkukkan kepalanya berkali-kali.
Sama sekali tidak ada satu pun emosi Theo
yang sanggup dibacanya.
Karena tidak tahan berada di dalam
atmosfer tempat ini, Xue bergegas berlari pergi dengan panik.
◇
Sambil memperhatikan sosok Xue yang
sedang pergi menjauh, Theo diam-diam membuntutinya dari belakang.
Bukan berarti para petualang tadi akan
langsung mengincarnya kembali saat ini juga, tetapi ini hanya demi kewaspadaan
semata.
──Begitu
mendengar rumor mengenai Xue di Lily Garden, Theo langsung bergegas menuju ke
dalam kota saat itu juga.
Sejujurnya, kejadian seperti ini
merupakan sebuah anomali.
Tentu saja bagi ukuran masyarakat umum,
ras iblis sudah sewajarnya disingkirkan kecuali jika mereka merupakan
peliharaan milik kaum bangsawan.
Namun, di kota bernama Celeste yang
menjadi markas dari Lily Garden
ini, terdapat sebuah aturan tidak
tertulis.
Yaitu, sebuah peraturan untuk tidak
menyentuh ras iblis yang mengenakan seragam sekolah Lily Garden.
Pengaruh dari nama Kepala Sekolah,
Anemone Blackwood, terbilang sebesar itu, sehingga Xue bisa berjalan-jalan di
dalam Celeste dengan relatif bebas.
Meskipun demikian, logika tersebut mutlak
tidak akan berlaku bagi pendatang yang tidak mengetahui seragam sekolah Lily
Garden, seperti keberadaan para petualang yang tadi.
Hanya saja,
"……Karena takut jika mereka merasa
kesakitan, ya."
Sejak masa Putaran Pertama dahulu, Xue
memang merupakan seorang gadis yang lembut.
Tidak hanya itu, dia juga penakut dan
cenderung menutup diri di dalam kamar.
Theo pada Putaran Pertama menganggap hal
itu sebagai hal yang baik, bahkan sempat percaya bahwa hati yang lembut
merupakan sebuah senjata.
Namun, dia sudah tahu betul bahwa sikap
seperti itu tidak boleh dibiarkan.
──Dan
dia juga mengobati prajurit musuh yang mengalami luka
parah…… tepat setelah selesai memberikan
pertolongan pertama, dia langsung dibunuh.
──Karena
aku berpikir…… akan buruk, kalau para petualang itu sampai merasa kesakitan.
Xue memiliki sebuah kekurangan yang
masif.
Namun, karena dia sudah mengambil
keputusan untuk mengubah jalan hidup Xue, hal ini merupakan urusan yang mutlak
tidak bisa dihindari.
Kekurangan terbesar dari Xue adalah tidak
bisa bertarung.
Jika tahu bahwa sihir miliknya akan
melukai orang lain, akibat hatinya yang lembut dia pasti akan ragu untuk
mengaktifkannya. Dengan tingkat kemampuan setinggi dirinya, mana mungkin dia
bisa terbunuh oleh prajurit terluka yang baru saja selesai diberikannya
pertolongan pertama pada Putaran Pertama dahulu.
Karena itulah, hal yang harus dilakukan
oleh Theo di Putaran Kedua ini sudah ditentukan.
Membuat Xue Amaryllis menjadi sanggup
bertarung.
Itulah tugas Theo berikutnya.



Post a Comment