NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Chapter 6

BAB VI


Theo Proteus pernah kehilangan seluruh muridnya pada masa lalu.

 

Hal itu terjadi tidak lain karena ajaran dari Theo sendiri.

 

Oleh karena itu, saat dia harus menapaki kehidupan mengajar di

Putaran Kedua, dia memutuskan untuk mengubah metodenya.

 

Walau harus dibenci oleh para murid, bahkan meskipun sampai dijuluki sebagai Raja Iblis, demi tidak kehilangan mereka lagi, dia bersumpah pada dirinya sendiri untuk mendidik mereka menjadi kuat.

 

Namun, tentu saja dia sudah memperkirakan bahwa penolakan cepat atau lambat pasti akan terjadi.

 

Metode yang agresif dan sampai menginjak-injak impian para murid seperti ini tidak mungkin bisa dibenarkan begitu saja.

 

Karena itulah, saat dia menghancurkan Isabella secara total tempo hari, dia mengira sesuatu pasti akan terjadi, namun.

 

"Ini semua salahmu, kan! Tanggung jawab, dong!"

 

Lily Garden. Di area dapur asrama putri Taman Ketujuh.

 

Isabella berteriak dengan kedua pipi yang memerah padam.

Hari masih teramat pagi dan belum ada satu pun orang yang terbangun.

 

Di tengah keheningan yang seharusnya hanya menyisakan suara kicauan

burung saja, Isabella terus berteriak sekuat tenaga.

 

"Sejak duel waktu itu, tubuhku menjadi aneh! Setiap kali kamu menatapku dengan pandangan dingin, en-tah mengapa perutku menjadi merinding. Dan saat mengingat kejadian duel waktu itu, tubuhku en-tah mengapa menjadi panas…… bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkan hal ini?!"

 

"Mana kutahu, itu bukan salahku."

 

"Tidak mungkin! Ini pasti terjadi karena kamu menggunakan suatu sihir kepadaku!"

 

Isabella melontarkannya seolah sedang menyudutkan Theo, tetapi dia benar-benar tidak tahu apa-apa.

 

Memang benar, Theo menghancurkan Isabella secara total.

 

Namun sebagai akibatnya, siapa orang waras yang sanggup membayangkan bahwa orientasi kesenangan Isabella akan ikut berubah?

 

Beberapa hari telah berlalu sejak duelnya dengan Isabella. Di antara rentang waktu tersebut, Isabella tampaknya sudah bisa mengendalikan ketenangannya kembali, tetapi reaksi tubuhnya jelas-jelas telah berubah.

Hatinya tetap normal, tetapi tubuhnya telah diwarnai oleh kepuasan masokis, begitulah kira-kira.

 

Sambil mengembuskan napas panjang, Theo berkata.

 

"Isabella, kuucapkan berkali-kali, aku tidak menggunakan sihir semacam itu. Sayang sekali, tapi menyerahlah."

 

"Bo-bohong, kan?! D-dengar ya, aku tidak akan marah jadi katakan yang

sebenarnya!"

 

"Ini juga sepenuhnya di luar perkiraanku. Aku tidak menyangka kalau duel itu malah membuatmu bangkit dalam kepuasan masokis."

 

"Jangan bicara seperti itu! Ka-kalau sekarang, ini masih bisa dianggap

bercanda. Dengar, ini cuma bercandakan?!"

 

"Jika kamu ingin menerima permohonan maaf dariku, aku tidak keberatan untuk menundukkan kepala. Maafkan aku, Isabella."

 

"Kenapa malah minta maaf! Seolah-olah aku ini sudah terlambat untuk ditolong saja!"

 

Karena itulah yang sedang kukatakan.

 

Namun, dia tidak bisa meladeni gadis itu terus-menerus.

 

Theo berucap dengan nada suara yang dingin.

"Isabella, diamlah. Alasanmu berada di sini sejak pagi hari bukan untuk berteriak, kan?"

 

"I-itu memang benar, tapi tetap saja!"

 

"Aku tidak keberatan jika harus memaksamu untuk patuh, lho. Atau kamu ingin merasakan hal yang sama seperti saat duel waktu itu?"

 

Kejadian saat duel seharusnya menjadi trauma bagi Isabella.

 

Theo mendekatkan wajahnya sambil melontarkan ancaman, tetapi reaksi yang diterimanya justru di luar perkiraan.

 

Sambil memasang wajah yang memerah padam, Isabella memalingkan wajahnya ke arah lain lalu bergumam lirih.

 

"………………………………A-aku tidak keberatan meskipun harus seperti itu?"

 

"Hah?"

 

"──Ti-tidak ada apa-apa! Lu-lupakan! Tolong lupakan saja!"

 

Hah, apakah rasionya telah kembali, Isabella bergegas berteriak seketika.

 

Meski begitu, karena tidak sanggup menahan rasa malu, dia menangis

histeris sambil berteriak, "Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku ini!!!" lalu ambruk lemas di tempat.

 

Begitu ya, inilah hasil dari terpisahnya reaksi antara hati dan tubuh.

 

Beberapa menit kemudian. Sambil mengatur napasnya yang terengah-engah, Isabella bangkit berdiri.

 

Dan dia mulai berbicara seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

 

……Meskipun kedua matanya memerah padam akibat menangis

semalaman.

 

"……Jadi, Sensei. Hari ini aku hanya perlu membuat sarapan pagi, kan?"

 

"Ya. Pertama mulailah dari sana. Setelah itu, bersihkan asrama, dan kerjakan juga tugas harian dariku. Lalu──"

 

"Selesaikan seluruh tugas harian dengan menggunakan sihir, kan. Aku sudah paham…… ini pasti akan berakhir menjadi lembur semalaman."

 

Sambil menggumamkan keluhan bersahut-sahutan, Isabella menghadap ke arah meja dapur lalu mulai mengayunkan pedang tongkatnya.

 

Di atas meja dapur yang terbuat dari kayu, tampak berbagai macam bahan makanan diletakkan.

 

Walau hanya untuk porsi pagi hari ini saja, karena ini merupakan porsi untuk lima orang, jumlahnya tampak menumpuk bagaikan gunung kecil.

 

──Kenapa Isabella sampai harus membuat sarapan pagi?

 

'Bagi mereka yang unggul akan diberikan berkah, sedangkan bagi mereka yang tertinggal akan diberikan hukuman'.

 

Akibat Peraturan kelas yang ditetapkan oleh Theo, Isabella menempati peringkat nilai prestasi paling bawah, alhasil dia terpaksa harus mengerjakan seluruh tugas rumah tangga sampai periode berikutnya. Membuat sarapan pagi juga merupakan bagian dari hukuman tersebut.

 

Namun, hal yang diperintahkan Theo tidak sebatas itu saja.

 

Sebagai bentuk latihan sihir, dia memberikan batasan agar seluruh tugas rumah tangga wajib diselesaikan menggunakan sihir.

 

Isabella mengendalikan pisau menggunakan sihir untuk memotong bahan makanan, tetapi karena tidak terbiasa, gerakannya berjalan dengan teramat lambat.

 

Meski begitu, sambil memusatkan konsentrasi hingga keringat bercucuran di dahinya, Isabella terus melanjutkannya tanpa mengeluh.

 

Lalu, entah sudah berapa lama waktu berlalu.

Di saat Theo memperlihatkan keahlian luar biasa berupa membalik halaman buku menggunakan sihir untuk dibaca sekaligus menggerakkan pena menggunakan sihir untuk menilai lembar jawaban secara

bersamaan, Isabella mendadak mengajak berbicara.

 

"Dengar, apakah kamu benar-benar berpikir kalau aku akan bisa melakukannya?"

 

"Ada apa tiba-tiba, Isabella?"

 

"Aku paham kalau menyuruh kami menyelesaikan tugas rumah tangga dengan sihir bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sihir. Tapi, pengendalian sihir yang mendetail seperti ini biasanya mustahil untuk dilakukan. Walau aku malas mengatakannya, bukankah hal ini hanya bisa dilakukan karena kamu adalah seorang genius?"

 

Pandangan mata Isabella tertuju ke arah Theo.

 

Theo memanfaatkan sihir tanpa bantuan alat katalis seperti tongkat, menyelaraskan aktivitas membaca dan menilai lembar jawaban secara paralel.

 

Sebaliknya, di tangan Isabella tampak beberapa sayuran yang kulitnya baru terkelupas setengah tergeletak begitu saja.

 

Apakah karena salah dalam mengendalikan sihir, bentuk potongan sayurannya juga terlihat tidak beraturan.

Singkatnya, karena targetnya terlalu jauh dia menjadi kehilangan kepercayaan diri.

 

Dia tidak berniat untuk memberikan perhatian khusus satu per satu.

 

Jika dia menghabiskan waktu demi mengurus mental mereka, dan murid-muridnya tidak berhasil mencapai tingkat kekuatan ideal yang diinginkan Theo hingga kelulusan tiba, maka segalanya akan menjadi tidak ada artinya.

 

Namun, akan merepotkan juga jika hatinya langsung patah secara mendadak.

 

Theo mengembuskan napas panjang perlahan, lalu berbicara sambil mengenang masa lalu.

 

"……Isabella, hal yang kupaksa kamu lakukan adalah bentuk modifikasi dari metode latihan keluarga Proteus, dan aku sendiri juga pernah melakukannya pada masa lalu. Tapi, pada awalnya aku sama sekali tidak bisa melakukannya, lho."

 

"Eh?"

 

Mata Isabella seketika membelalak karena terperangah.

 

Namun, dia tidak sedang berbohong demi memberikan semangat

semata.

"Keluarga Proteus sejak zaman dahulu adalah silsilah keluarga penyihir yang berfokus khusus pada sihir sistem pengendalian ruang, termasuk sihir penghalang. Saat ini aku memang dianugerahi gelar Wadah, tetapi hal itu juga bersumber dari sihir sistem pengendalian ruang tersebut. Dan sihir sistem pengendalian ruang, secara khusus menuntut pengendalian sihir yang teramat mendetail."

 

Alasan kenapa Theo sanggup mengembangkan teori sihir mengenai

"menyimpan formula sihir ke dalam wadah berupa equipment" sebagian besar didasari karena dia terlahir di dalam keluarga Proteus.

 

Di dalam keluarga Proteus yang seperti itu, Theo dipaksa untuk terus melakukan latihan pengendalian sihir sejak masa kanak-kanak.

 

Salah satunya adalah latihan untuk menyelesaikan segala urusan kebutuhan sehari-hari murni menggunakan sihir.

 

"Meskipun dipaksa melakukannya setiap hari, ujung-ujungnya aku membutuhkan waktu tiga tahun sampai bisa menguasainya secara sempurna. Jika dibandingkan dengan hal itu, Isabella, kondisimu saat ini sama sekali tidak bisa dikatakan buruk. Lagi pula"

 

"Lagi pula?"

 

"Waktu yang tersisa itu terbatas. Aku tidak akan sudi menghabiskan waktu secara sia-sia untuk hal yang kuanggap mustahil bagi kalian."

 

"………………Hahaha."

Begitu Theo selesai merangkai kalimatnya, sudut bibir Isabella tampak terangkat.

 

"……Benar-benar cara bicara yang memutar. Padahal kamu tinggal bilang kalau aku pasti bisa."

 

"Apakah keluhanmu sudah selesai? Kalau begitu jangan melontarkan celotehan tidak berguna dan cepat selesaikan."

 

"Iya, iya, aku paham."

 

Sambil menyingsingkan lengan bajunya, Isabella kembali memasang

kuda-kuda pedang tongkatnya.

 

Namun, sepasang matanya kini telah diwarnai oleh secercah cahaya.

 

Mungkin karena dia berpikir kembali bahwa dirinya juga pasti bisa mewujudkannya.

 

Dan di sana, Isabella berbalik ke arah sini lalu bertanya.

 

"Ngomong-ngomong, Sensei. Cerita tadi itu terjadi saat kamu menginjak usia berapa?"

 

"Kalau tidak salah sekitar usia dua tahun. Karena tidak memiliki kekuatan fisik, memegang pisau sendiri pun rasanya sangat berat, jadi latihan itu teramat menyiksa."

 

"……Kamu ini benar-benar manusia, kan?"

 

Pipi Isabella spontan berkedut menegang.

 

Namun, obrolan sepele semacam inilah yang menjadi rutinitas harian yang baru setelah duelnya dengan Isabella.

 

Sekitar satu bulan yang lalu, Theo memulai kembali kehidupan mengajar di Putaran Kedua.

 

Namun, meskipun memiliki pengetahuan tentang masa depan, tentu saja fisik yang terlatih selama peperangan serta sihir-sihir yang telah dibangun dan disimpannya seluruhnya telah kembali menjadi nol.

 

Dia tahu apa saja hal yang akan terjadi sepanjang satu tahun ini.

 

Meski begitu, akan jauh lebih baik jika dia mengembalikan kondisinya sampai ke tingkat di saat dia berhasil melintasi peperangan pada masa lalu.

 

Oleh karena itu, di saat memiliki kesempatan, Theo sengaja menyelinap keluar dari Lily Garden demi melakukan latihan di dalam hutan sekitar.

 

"Ah, Sensei."

 

"…………Apa yang sedang kamu lakukan, Xue?"

 

Latihan sihirnya baru saja selesai, di saat matahari sudah hampir terbenam secara total.

 

Tepat di saat Theo kembali melintasi gerbang sekolah Lily Garden, sosok

yang berpapasan dengannya secara mendadak tidak lain adalah Xue.

 

Gadis berambut seputih es dengan fitur wajah bagaikan boneka.

Sepasang tanduk tumbuh di atas kepalanya, dan sepasang mata yang bagaikan batu permata tampak menatap ke arah sini secara berkedip kilat.

 

Xue entah mengapa tampak memanjat ke atas sebuah dahan pohon. Di dalam kedua tangannya yang direntangkan sekuat tenaga, seekor binatang kecil terlihat sedang digenggamnya dengan erat. Apakah dia baru saja menangkap binatang kecil itu sesaat yang lalu?

 

Namun, menyapanya secara mendadak bukanlah pilihan yang baik.

 

Tepat di saat Xue membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Theo, dia kehilangan keseimbangan di atas dahan pohon dan──

 

"Kya…… kyaaaaa!"

 

"Kamu tidak apa-apa?"

 

Puk. Xue jatuh meluncur secara terbalik, lalu mendarat dengan anggun tepat di dalam dekapan lengan yang diulurkan oleh Theo.

 

Sebuah posisi yang biasa disebut posisi membopong putri.

 

Ketinggian jatuhnya memang setara dengan tinggi dua orang manusia

yang berjejer secara vertikal, tetapi karena ukuran tubuh Xue hanya sebatas murid sekolah dasar, benturan yang ditimbulkannya sama sekali tidak terasa berat.

 

"Ma-maafkan aku. Aku akan, langsung turun, ya."




Saat pandangan mata mereka saling berpapasan, wajah Xue memerah padam dan dia bergegas menggerakkan kakinya secara panik.

 

Begitu Theo menurunkannya dari dalam dekapan lengan ke atas tanah,

Xue membungkukkan kepalanya.

 

"A-anu, terima kasih banyak."

 

"Bukan masalah…… tapi apa yang kamu lakukan di tempat seperti itu?"

 

"Sebenarnya, anak ini sedang terluka. Karena itu, aku berniat untuk menyembuhkannya."

 

Xue memperlihatkan seekor binatang kecil yang berada di dalam dekapannya.

 

Apakah kaki binatang kecil itu sedang terluka, sesuatu yang menyerupai bekas luka tampak terlihat oleh Theo.

 

"Mohon tunggu sebentar ya. Aku akan langsung menyembuhkannya."

 

Begitu selesai berbicara, Xue menjulurkan tangan kecilnya ke arah binatang kecil itu.

 

Tepat setelah itu, bersamaan dengan pancaran cahaya yang bersinar temaram, kaki binatang kecil itu sembuh dalam sekejap mata.

 

Meskipun diselesaikan dengan santai, itu adalah sihir tanpa mantra yang sempurna.

 

Bagi ukuran penyihir normal, tindakan tersebut merupakan sebuah keahlian luar biasa yang memadai.

 

Dalam sihir generasi keempat, penyihir menggunakan 'kata' untuk memilih dan mengaktifkan sihir dari Wadah berupa equipment atau barang lainnya.

 

Padahal jalurnya demikian, tetapi menyelesaikan proses sejak pemilihan hingga pengaktifan murni menggunakan keinginan tanpa melibatkan satu patah kata pun, merupakan ranah yang tidak akan pernah bisa digapai oleh penyihir biasa.

 

Tentu saja, jika sosok itu adalah Xue, bukan hal yang aneh meskipun dia sanggup melakukannya dengan santai.

 

"Anu, maaf membuat Anda menunggu…… eh, mengenai kemampuan

yang tadi, mungkin Anda sudah mengetahuinya."

 

"Ya, aku tahu. Kamu masuk ke Lily Garden karena kemampuanmu itu dinilai tinggi, kan?"

 

"Benar!"

 

Xue langsung memancarkan senyuman yang ceria.

Kekuatan milik Xue merupakan sebuah kemampuan yang sangat langka bahkan jika dilihat di seantero dunia. Para murid Taman Ketujuh dikumpulkan murni berdasarkan bakat sihir semata, tanpa memedulikan kepribadian maupun asal-usul kelahiran mereka. Sosok

Xue benar-benar contoh yang paling ideal dari murid yang dimaksud.

 

Namun.

 

"Apakah kamu sampai memanjat pohon murni hanya demi menolong binatang itu?"

 

Saat Theo bertanya dengan nada suara yang datar, Xue menjawab dengan penuh keraguan.

 

"Ya. Karena kakinya tampak kesakitan."

 

"……Setidaknya aku rasa binatang itu masih bisa bergerak hingga sanggup memanjat pohon, lho."

 

Sulit untuk berpikir kalau binatang itu terluka di atas pohon.

 

Kemungkinan besar dia memanjat ke atas pohon setelah terluka.

 

Keadaannya tidak terkesan memiliki tingkat urgensi yang tinggi.

 

Meski begitu, menanggapi gumaman dingin dari Theo, Xue menyahutnya bersamaan dengan sebuah senyuman.

"Benar. Tapi tidak apa-apa, kok. Aku tidak akan bisa mengabaikan anak yang sedang kesulitan."

 

"……Begitu ya."

 

Hal inilah yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan dari Xue Amaryllis.

 

Dia pasti akan mengulurkan tangan jika ada seseorang yang sedang berada dalam kesulitan. Walau harus mengorbankan dirinya sendiri hingga terluka.

 

Dan bagaimana akhir cerita dari sikapnya itu, Theo sudah

mengetahuinya dengan sangat baik.

 

──Tiba-tiba.

 

Setelah mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling secara panik,

Xue memiringkan kepala kecilnya dengan anggun.

 

"Anu, apa yang sedang Sensei lakukan di luar ruangan?"

 

"……Bukan hal yang penting. Aku hanya sedang berlatih sihir."

 

"Apakah Sensei juga melakukan latihan sihir?"

 

Saat Theo menjawab setelah sempat ragu sejenak, mata Xue seketika membelalak karena terkejut.

Alasan kenapa dia sempat ragu adalah karena dia bingung seberapa jauh dirinya harus membeberkan hal ini kepada Xue.

 

Namun, meminta Xue untuk memastikan hasil sihir buatannya juga bukan pilihan yang buruk.

 

Setelah menentukan keputusan tersebut, Theo mengeluarkan benda yang disembunyikannya di balik jubah.

 

"Aku membuat benda ini menggunakan sihir."

 

"Wah, menggemaskan sekali!"

 

Benda yang dikeluarkan dari balik jubah untuk diperlihatkan adalah seekor tikus berbulu hitam.

 

Ukuran totalnya hanya sebatas muat di dalam genggaman tangan. Tikus itu bergerak dengan lincah di atas lengannya, lalu merangkak naik hingga ke atas bahu.

 

"Jangan-jangan, ini adalah sihir Familiar?"

 

"Ya, hebat sekali kamu bisa langsung mengetahuinya."

 

Sihir Familiar, singkatnya adalah sebuah sihir di mana penyihir menjinakkan binatang untuk diperintah.

 

Penyihir sanggup berbagi informasi penglihatan maupun pendengaran melalui perantara binatang yang diperintah tersebut, dan sihir ini kerap digunakan saat penyihir ingin berbicara dengan orang yang berada di tempat jauh.

 

Namun, apakah Xue merasakan suatu kejanggalan, dia memiringkan kepalanya dengan bingung.

 

"……Tapi, rasanya agak sedikit aneh."

 

"Aneh?"

 

"Mungkin hanya perasaanku saja, tapi hawanya terasa seperti hawa

keberadaan yang sedikit kukenal."

 

"……Begitu ya."

 

"Ma-maafkan aku. Aku sudah mengatakan hal yang aneh."

 

"Tidak apa-apa. Justru hal itulah yang ingin kudengar."

 

"……?"

 

Mendengar kata-kata Theo membuat Xue mengerjapkan matanya dengan bingung.

 

Meski begitu, hal yang ingin diketahuinya kini telah berhasil dipastikan.

Jika dia sudah mendapatkan jaminan dari Xue, maka sihirnya dipastikan telah berhasil diselesaikan tanpa ada masalah.

 

Tiba-tiba, dari arah jauh terdengar suara dentang lonceng.

 

Itu adalah suara lonceng dari gereja yang berada di dekat Lily Garden.

 

Begitu mendengar suara itu, Xue memasang ekspresi wajah yang terkejut seolah baru saja mengingat suatu hal.

 

"Ah, sepertinya aku sudah harus segera pulang."

 

"Apakah untuk sarapan malam?"

 

"Benar. Karena aku sudah berjanji dengan semuanya. Sensei, terima kasih banyak karena sudah menolongku tadi!"

 

Sambil memberikan senyuman yang teramat ceria, Xue membungkukkan badannya dalam-dalam, lalu bergegas berlari pergi meninggalkan tempat itu.

 

Pada Putaran Pertama, Xue tewas dibunuh secara tragis oleh prajurit musuh di medan perang.

 

Jika mengingat hal itu, pemandangan Xue yang memperlihatkan senyuman kepadanya saat ini terasa bagaikan sebuah mimpi semata.

 

Namun, dia tidak akan membiarkan segalanya berakhir sebagai mimpi saja.

 

Satu minggu yang lalu, Theo telah berhasil mengubah jalan hidup Isabella. Jika pemikiran Theo memang tepat, Isabella dipastikan akan berkembang hingga sanggup menghindari kematiannya di Putaran

Pertama.

 

Dan, murid berikutnya juga sudah ditentukan.

 

Xue Amaryllis.

 

Gadis itulah murid yang kini akan diubah takdir hidupnya oleh Theo berikutnya.

 

"Sensei. Sesuai dengan perintahmu, aku sudah membawa buku-buku ini dari perpustakaan bawah tanah…… tapi benda ini mau digunakan untuk apa?"

 

Lily Garden. Ruang persiapan mengajar.

 

Isabella bertanya sambil meletakkan tumpukan buku yang didekap oleh kedua lengannya ke atas meja.

 

Ruang persiapan mengajar merupakan sebuah kamar pribadi yang dialokasikan untuk setiap guru di gedung sekolah.

 

Mungkin karena merupakan gedung sekolah yang bersejarah, atmosfernya terasa agak kuno.

 

Namun jika Theo sedang malas untuk pulang ke asrama staf pengajar, dia sengaja membawa berbagai macam barang ke ruang persiapan mengajar ini agar bisa menghabiskan malam di sini. Isinya sudah lengkap mulai dari bahan makanan hingga peralatan sihir, sampai-sampai bisa digunakan untuk tinggal selama sekitar satu minggu.

 

Peralatan sihir merujuk pada alat yang diciptakan menggunakan teori sihir generasi keempat agar siapa pun bisa memanfaatkan sihir. Artinya adalah alat yang dibuat menggunakan rekayasa sihir.

 

Dan pada seluruh dinding ruangan, tampak lemari buku dipasang memenuhi tempat tersebut hingga nyaris tidak menyisakan celah sedikit pun.

 

Theo berbicara tanpa mengangkat wajahnya yang sedang fokus

membaca buku dari atas kursi.

 

"Untuk pengumpulan informasi. Karena semakin banyak informasi yang dimiliki, maka akan semakin bagus. Berikutnya pergilah ke ruang perpustakaan, lalu bawakan buku-buku yang kutentukan."

 

"Iya, iya, aku paham. Tapi bukankah tugas harian ini agak terlalu banyak? Memang benar kalau aku sudah bilang akan mengerjakan tugas harianmu…… tapi bukankah tindakanmu ini sudah terlewat memanfaatkan situasiku dengan praktis?"

 

"Apakah kamu tidak suka?"

 

"A-aku tidak bilang kalau tidak suka! Aku kan hanya mengeluh saja!"

 

Bukankah hal itu mengindikasikan kalau dia memang tidak suka.

 

Saat Theo melemparkan tatapan mata yang pasrah, Isabella merona merah lalu menggerakkan tubuhnya dengan gelisah.

 

"Tu-tunggu dulu, tolong hentikan tatapan matamu yang seperti itu. Anu,

saat ditatap dengan sepasang mata dingin itu…… tu-tubuhku menjadi merinding……"

 

"……Tidak, aku kan hanya sedang melihat ke arahmu saja."

 

"B-bajingan licik. Kamu berpikir aku akan tunduk hanya dengan tatapan mata yang seperti itu?!"

 

"Tidak, makanya aku bilang aku hanya melihatmu──"

 

"Tapi ingat ya! Seberapa keras pun aku disiksa, hatiku mutlak tidak akan pernah kalah!"

 

"Sebenarnya dari tadi kamu sedang bertarung melawan siapa?"

"Aku sendiri juga ingin tahu! Menyebalkan sekali!!!"

Pada akhirnya Isabella berteriak seolah sedang mengamuk meluapkan kekesalannya.

 

Tidak lama kemudian dia melangkah pergi dengan lesu sambil bergumam, "Aku akan pergi ke ruang perpustakaan……" Tampaknya dia

masih tersiksa oleh perbedaan reaksi antara hati dan tubuhnya.

 

Entah sudah berapa lama waktu berlalu setelah itu.

 

Isabella kembali ke ruang persiapan mengajar sambil mendekap tumpukan buku dalam jumlah besar dari ruang perpustakaan.

 

Namun pada saat itu, dia sudah tidak datang seorang diri lagi.

 

"……Gardener-sensei?"

 

"Ehehe, maafkan saya. Karena melihat Lumiere-san sedang mengangkut buku, saya menjadi penasaran."

 

Sosok yang menyembul dari balik punggung Isabella tidak lain adalah guru perempuan yang berpenampilan menyerupai biarawati jubah putih──Ophelia Gardener.

 

Namun dalam artian tertentu, situasi ini justru terasa tepat.

 

Sebab, Ophelia bisa dikatakan sebagai seorang pakar mengenai hal yang

ingin diketahui oleh Theo saat ini.

Ophelia memiringkan kepalanya sambil mengambil buku yang diangkut oleh Isabella.

 

"Ngomong-ngomong, apa yang sedang Anda cari tahu? Sepanjang penglihatan saya, buku-buku ini semuanya mengenai ras iblis…… jika

Anda ingin tahu mengenai ras iblis, mungkin saya bisa membantu!"

 

Ophelia tersenyum simpul.

 

Mendengar tawaran itu membuat Isabella membelalakkan matanya dengan bingung.

 

"Eh, benarkah……? Apakah Sensei merupakan guru untuk mata pelajaran ilmu sihir ras iblis?"

 

"T-tidak, bukan seperti itu, sih…… hanya saja keluarga Gardener sejak zaman dahulu merupakan faksi yang bersahabat dengan ras iblis. Di dalam wilayah kami dulu, para ras iblis tinggal bersama dengan hubungan yang sangat baik. Walau setelah itu wilayah kami terpaksa lenyap karena suatu alasan…… saat menginjak usia remaja, saya pergi meninggalkan rumah kerabat lalu tinggal bersama dengan para ras iblis."

 

Ophelia menatap ke arah kejauhan seolah sedang mengenang masa lalu.

 

"Mereka sudah benar-benar seperti keluarga kandung sendiri, lho. Di antara mereka bahkan ada pula anak yang kusayangi layaknya seorang adik perempuan…… walau sekarang kami sudah terpisah, tetapi karena saya menjalani kehidupan yang seperti itu, saya menjadi agak sedikit tahu mengenai ras iblis."

 

Ophelia tertawa dengan nada suara yang tampak sedih.

 

Di saat tidak ada satu pun orang yang sanggup memotong pembicaraan mengenai masa lalu tersebut, Ophelia bertepuk tangan sekali seolah hendak mengubah atmosfer ruangan secara kilat. Artinya kisah masa lalu sudah selesai sampai di sini.

 

"Tapi jumlah koleksi buku di sini benar-benar luar biasa, ya. Di Sanctia, jumlah peredaran buku mengenai ras iblis tidaklah terlalu banyak…… tidak disangka bahkan sampai ada dokumen kuno juga."

 

Sambil berbicara, Ophelia mengambil dokumen kuno yang menumpuk tinggi lalu mulai membuka halamannya.

 

Meskipun diambil dengan santai, gerakan tangannya terlihat sangat berhati-hati. Sebuah bukti bahwa dia sudah terbiasa menanganinya.

 

"Isinya mengenai Perang Besar melawan ras iblis seratus tahun yang lalu, ya. Apakah Anda sedang mencarinya demi keperluan pelajaran di kelas?"

 

Pandangan mata Ophelia tampak bergerak mengikuti untaian baris tulisan.

 

Meskipun merupakan sebuah dokumen kuno, dia dipastikan sanggup memahaminya dengan benar.

 

Bagi kaum bangsawan terpandang, kemampuan untuk membaca dokumen kuno merupakan bagian dari edukasi yang wajib dikuasai.

 

Apakah Ophelia juga tidak terkecuali dan dipaksa untuk menghafalnya

sejak masa kanak-kanak.

 

"Ya, tepat sekali. Karena hal ini mungkin akan diperlukan nanti."

 

"Sikap untuk memahami segalanya hingga ke setiap sudut seperti itu benar-benar sangat mengagumkan. Saya juga harus menirunya, ehehe."

 

Ophelia tertawa secara malu-malu, tetapi kalimat yang dilontarkan oleh

Theo murni merupakan sebuah kebohongan semata.

 

Theo sudah menentukan bahwa murid berikutnya yang harus diubah

jalan hidupnya adalah Xue.

 

Dan meskipun arah tujuannya juga sudah ditentukan, dia tidak boleh lalai dalam mengumpulkan informasi.

 

Sebab Xue adalah seorang ras iblis, dan asal-usul kelahirannya juga terbilang agak sedikit unik.

 

Justru karena itulah dia sengaja menyuruh mengumpulkan buku mengenai ras iblis.

Tanpa mengetahui niat tersembunyi milik Theo tersebut, Isabella memiringkan kepalanya sambil mengintip ke arah buku yang digenggam oleh Ophelia.

 

"Hmm. Tapi buku ini bukankah lebih banyak menuliskan tentang ras spirit, daripada membahas mengenai ras iblis secara keseluruhan?"

 

"Ah, kalau soal itu, saya rasa karena ada banyak ras manusia yang tewas dibunuh oleh ras spirit di masa Perang Besar dahulu. Dokumen yang ditulis oleh ras manusia pada masa itu seluruhnya dipenuhi oleh hal semacam itu akibat rasa takut terhadap ras spirit. Lalu sisanya mungkin mengenai ras demon beast."

 

Penjelasan yang dilontarkan oleh Ophelia memang tepat seperti kenyataannya.

 

Pada masa lalu, ras manusia memang terlibat peperangan dengan ras iblis, tetapi jenis ras yang sering ditulis di dalam literatur kuno pada masa itu sebagian besar berfokus pada dua ras besar saja.

 

Pertama, ras demon beast. Sebuah ras yang memiliki populasi terbesar di antara ras iblis, tetapi kenyataannya istilah tersebut hanyalah sebutan serempak untuk berbagai macam ras yang dijadikan satu kelompok saja.

 

Dimulai dari ras beastman hingga ras ogre dan yang lainnya, seluruhnya

berakhir dikelompokkan sebagai ras demon beast.

 

Pada masa lalu, masing-masing ras tersebut kabarnya merupakan sebuah faksi kekuatan yang besar tersendiri.

 

Namun seiring berjalannya waktu, jumlah populasi ras mereka terus berkurang, hingga berakhir dikelompokkan menjadi satu berdasarkan definisi dari ras manusia.

 

Dan ras lain yang teramat sering muncul di dalam literatur kuno sejak zaman dahulu tidak lain adalah ras spirit. Ras ini mutlak bukan merupakan ras dengan jumlah populasi yang banyak, tetapi karena ada banyak sekali ras manusia yang tewas terbunuh akibat suatu sihir milik mereka, sosok ras ini akhirnya menjadi sering ditulis di dalam dokumen kuno.

 

Sambil menurunkan pandangannya ke arah dokumen kuno, Ophelia

melanjutkan.

 

"Di dalam buku ini, secara khusus menuliskan tentang sihir spirit. Mengenai sihir spirit…… apakah saya tidak perlu menjelaskannya lagi?"

 

"Itu sihir yang diaktifkan menggunakan spirit yang telah mengikat kontrak dengan ras spirit, kan?"

 

"Ya, tepat sekali. Ngomong-ngomong, apakah kamu tahu keunggulannya?"

 

"Ke-keunggulan?"

Menyaksikan ekspresi wajah Isabella yang kebingungan membuat Theo melontarkan jawabannya.

 

"Keunggulan terbesar dari sihir spirit adalah penyihir sanggup memanfaatkan resource milik spirit juga. Sebagai contoh, jika pada sihir normal kapasitas kemampuan satu orang penyihir merupakan batas maksimalnya, maka pada sihir spirit, seluruh kekuatan dari spirit yang telah mengikat kontrak dapat digunakan."

 

"Anu…… aku samar-samar bisa paham maksudnya, tapi secara spesifik di mana letak kehebatannya?"

 

"Artinya, semakin banyak jumlah kontrak yang diikat dengan spirit, maka kecepatan pengaktifan sihir juga akan menjadi semakin cepat. Sebagai contoh, ada sihir Rank pertama yang membutuhkan waktu hingga dua hari sampai bisa aktif, tetapi jika ada spirit yang memiliki spesifikasi setara dengan manusia, prosesnya bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu hari saja."

 

Kecepatan pengaktifan sihir kabarnya ditentukan berdasarkan kecepatan pemrosesan otak seorang penyihir.

 

Sesama penyihir sering kali menentukan kemenangan atau kekalahan berdasarkan spesifikasi otak yang mereka miliki.

 

Namun jika menjinakkan spirit, spesifikasi dari spirit tersebut dapat ikut dimanfaatkan oleh penyihir. Penyihir sanggup mengaktifkan sihir yang berbeda secara bersamaan, atau sekadar mempercepat waktu pengaktifan dari satu sihir saja.

 

"Menghadapi seorang penyihir spirit setara dengan menghadapi beberapa orang penyihir sekaligus. Penyihir hebat dari ras spirit sanggup menjinakkan beberapa spirit yang levelnya berada di atas manusia, dan untuk tingkat raja ras spirit sendiri, dia bahkan sanggup menjinakkan beberapa spirit tingkat mitologi secara bersamaan. Alasan kenapa ras manusia tidak sanggup menang jika berhadapan langsung adalah karena hal itu."

 

"Meskipun demikian, proses untuk mengikat kontrak dengan beberapa spirit sekaligus merupakan urusan yang sangat sulit untuk dilakukan, lho. Karena hal itu setara dengan membangun sebuah harem dan wajib menjaga agar tidak ada satu pun pihak yang melayangkan protes."

 

"Apakah perumpamaan itu tepat?"

 

Isabella memasang ekspresi wajah yang curiga, tetapi perumpamaan itu tidak sepenuhnya salah.

 

Hal itu pulalah yang menjadi penyebab kenapa jumlah penyihir spirit

terbilang sedikit di luar ras spirit.

 

Ras spirit sejak lahir diberkahi sifat yang disukai oleh spirit, tetapi jika ada ras manusia yang disukai oleh spirit, hal itu sudah dihitung sebagai sebuah bakat anugerah yang luar biasa. Spirit memiliki tingkat pemilih yang teramat sangat tinggi. Jika berniat menjinakkan beberapa spirit yang seperti itu sekaligus, entah berapa banyak usaha keras yang harus dikeluarkan hanya demi menenangkan masing-masing spirit tersebut.

 

"……Ah, maafkan saya. Padahal saya datang berkunjung secara

sembarangan, tetapi saya malah sibuk berceloteh dengan sok tahu."

 

“Ehehe,” Ophelia tertawa secara malu-malu.

 

Namun, informasi yang diberikannya terbilang bermanfaat.

 

Tepat di saat Theo hendak menyampaikan rasa terima kasihnya, dia menahan pergerakan mulutnya sebelum sempat mengeluarkan kata-kata.

 

Sebab di saat sekelompok murid melintas di koridor luar ruangan,

mereka tampak sedang membicarakan suatu hal yang mengusik perhatiannya.

 

Apakah mereka sedang terbuai oleh obrolan mereka sendiri, volume suara mereka terdengar dengan sangat jelas hingga ke dalam ruangan.

 

"Hei, kamu sudah dengar belum? Itu loh, ras iblis yang ada di sekolah kita. Tepat baru saja beberapa saat yang lalu, kabarnya ada orang yang melihat dia sedang diserang di dalam kota. Benar, benar."

 

"Ih, andai saja dia langsung lenyap begitu saja dari sini, pasti akan bagus ya."

 

 

"Hen…… mohon hentikan……!"

 

Celeste, sebuah kota tempat ilmu sihir dan sejarah saling berbaur dengan selaras, lokasi di mana Lily Garden didirikan.

 

Di dalam sebuah gang kecil di area komersial kota tersebut, Xue sedang berusaha keras berlari menembus jalanan sekuat tenaga.

 

Alasannya sederhana. Murni hanya karena dia merupakan seorang ras iblis, dia diserang oleh para petualang.

 

"Hei! Gadis ras iblis, cepat menyerahlah! Setelah ini kami kan mau pergi ke tempat pedagang budak!"

 

Aksi kejar-kejaran ini sudah berlangsung selama tiga puluh menit.

 

Meski begitu, suara lengket dari para petualang di belakangnya tidak kunjung terputus sama sekali.

 

Alasan Xue menilai para pengejarnya sebagai petualang adalah karena mereka tampak mengenakan sebuah medali yang dikalungkan di leher menggunakan seutas tali.

 

Meskipun tidak tahu secara mendetail, medali itu seharusnya merupakan benda yang membuktikan identitas sebagai seorang petualang.

Setiap kali suara dari para petualang itu menyentuh telinganya, sebuah sensasi merinding langsung menjalar di dalam tubuh Xue.

 

Alasan Xue pergi meninggalkan Lily Garden menuju ke area komersial adalah demi membeli barang keperluan untuk asrama.

 

Di tengah jalan pulang.

 

Tudung jubahnya terlepas akibat embusan angin kencang, dan sialnya sepasang tanduk miliknya langsung terlihat oleh para petualang.

Saat mencuri-curi pandang ke arah belakang, total ada tiga orang petualang yang sedang mengejarnya.

 

Komposisinya terdiri dari satu orang pria petualang yang bertindak sebagai pemimpin, dan dua orang pria yang bertindak sebagai anak buah.

 

Sang pemimpin merupakan seorang berandalan murahan yang memiliki bekas luka di pipinya.

 

Wajahnya memerah padam karena mabuk, tetapi langkah kakinya terlihat sangat mantap. Dia dipastikan memiliki keahlian yang memadai sebagai seorang petualang.

 

Saat ini, alasan kenapa Xue masih bisa bertahan tanpa tertangkap murni hanya karena dia memiliki pemahaman medan jalanan yang lebih baik.

 

Para petualang itu kemungkinan besar bukan berasal dari kota ini.

Kota bernama Celeste ini merupakan tempat di mana perdagangan dari arah barat dan timur berkembang dengan sangat pesat, sehingga arus keluar-masuk manusia juga teramat padat. Xue berpikir para petualang itu pasti sedang memanfaatkan jalur perdagangan tersebut untuk

menuju ke suatu dungeon──atau mungkin baru saja kembali dari sana.

 

Namun, seberapa baik pun pemahaman medannya, ada batasnya bagi Xue untuk terus melarikan diri dari kejaran tiga orang petualang

sekaligus.

 

"-"

 

Sebuah dinding mendadak muncul di hadapan Xue.

 

Jalan buntu. Di saat dia memahaminya, segalanya sudah terlambat.

 

Tiga orang petualang tampak berdiri di belakangnya. Dua orang anak buah berdiri di barisan depan, sedangkan sang pemimpin yang memiliki bekas luka di pipi berdiri di barisan belakang.

 

"Wah, wah, kita benar-benar sedang beruntung ya~"

 

Sambil menyeringai lebar, sang pemimpin yang memiliki bekas luka di pipi menatap ke arah Xue.

 

"Aku kira hasil dari dungeon kali ini akan zonk total, tidak disangka kita malah bisa bertemu dengan gadis ras iblis dari spesies langka. Dengan penampilan yang semenarik ini, kamu pasti akan sangat populer di kalangan kolektor."

 

Meskipun kalau aku pribadi sih ogah dengan ras iblis, begitulah.

 

Tepat setelah melontarkan kalimat itu, sang pemimpin dengan bekas luka di pipi langsung menarik pedangnya.

 

Menyelaraskan gerakan tersebut, dua orang di barisan depan juga ikut menyiapkan senjata mereka.

 

Meskipun mabuk dan memasang senyuman yang menjijikkan, mereka telah menutup jalan pelarian Xue dengan rapat.

 

Sebuah situasi di mana dia tidak punya pilihan selain menghadapi mereka.

 

Namun, kedua kaki Xue hanya bisa gemetaran tanpa bisa digerakkan sama sekali.

 

"Mungkin ini akan terasa sakit, tapi tahan saja ya. Habisnya, lawan kami

selama ini kan sebagian besar adalah monster!"

 

"────-"

 

Tepat di saat sang petualang mengayunkan pedangnya ke arah bawah, Xue secara refleks mengobarkan mana miliknya sambil memejamkan mata dengan rapat.

Namun pada detik berikutnya, hanya dengan tindakan sebatas itu saja, dia berhasil mengaktifkan sihirnya.

 

Sebuah dinding es yang luar biasa indah tampak melebar menutupi wujud Xue demi menyembunyikannya. Tepat di saat sang petualang hendak menebaskan pedangnya ke bawah, serangannya tidak kunjung bisa menggapai Xue. Pedang itu langsung terpental kembali akibat menghantam dinding es.

 

Di seberang dinding es, para petualang tampak melontarkan berbagai macam makian secara bersahut-sahutan.

Kata-kata yang kotor, kata-kata provokasi, serta kalimat yang menolak keberadaan dari sosok Xue itu sendiri.

 

"…………-"

 

Sebuah gang kecil yang dipenuhi oleh tumpukan sampah. Sisa

muntahan seseorang bahkan tampak terlihat tergeletak di atas permukaan tanah.

 

Meski begitu, Xue tetap menyusutkan badannya sambil menutup kedua telinganya erat-erat menggunakan kedua tangan.

 

Sebab dia sama sekali tidak ingin mendengar apa pun, dan tidak ingin melihat apa pun lagi.

 

──Ras iblis ditakdirkan untuk selalu menerima persekusi ke mana pun mereka pergi.

Sebagai akibat dari tindakan menentang ras manusia dan kalah dalam peperangan pada masa lalu, ras iblis didepak dan disingkirkan dari masyarakat.

 

Sebagian di antara mereka memilih untuk mendirikan perkampungan di tempat yang terisolasi dari pemukiman manusia, menjalani kehidupan di antara sesama ras iblis saja tanpa diketahui oleh orang luar.

 

Keluarga milik Xue merupakan bagian dari kaum ras iblis yang seperti itu.

 

Di saat dia mulai mengingat lingkungan sekitar, kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi di dunia.

 

Meskipun demikian, rekan-rekan sesama ras iblis bersedia menerima

Xue dan memperlakukan dirinya sebagai bagian dari 'keluarga'.

 

Di antara mereka bahkan ada pula orang yang menyayangi dirinya layaknya seorang adik perempuan sendiri. Meskipun hidup dalam kemiskinan, masa-masa pada waktu itu dipastikan merupakan sebuah kebahagiaan yang nyata bagi dirinya.

 

Sampai insiden itu pecah.

 

Sejak insiden itu terjadi, Xue kehilangan keluarganya dan luntang-lantung berpindah-pindah ke berbagai tempat.

 

Dia hidup sebatang kara, bahkan sempat ada hari-hari di mana dia harus mengais sisa makanan demi bisa bertahan hidup.

 

Bukan karena memiliki hasrat yang besar untuk hidup, dia terus melanjutkan hidup murni hanya karena takut pada kematian.

 

Di tengah masa-masa itulah, Kepala Sekolah, Anemone Blackwood, muncul di hadapan Xue.

 

──Di antara ras iblis pun, kamu memiliki kekuatan yang jauh lebih istimewa.

 

──Maukah kamu meminjamkan kekuatan itu demi impianku?

 

Anemone mengulurkan tangan sambil mengucapkan kalimat itu.

 

Kisah itu baru terjadi sekitar tiga tahun yang lalu──

 

"Flare"

 

Bersamaan dengan gema suara yang terdengar secara mendadak tersebut, sebuah gelombang panas yang kuat langsung menerjang.

 

Kesadarannya seketika ditarik paksa kembali ke realitas.

 

Saat mengangkat wajahnya dengan panik, kobaran api telah melebar tepat di hadapannya.

Dinding es yang selama ini melindungi Xue mencair dengan cepat lalu runtuh.

 

Di depan matanya, sang pemimpin petualang yang memiliki bekas luka di pipi tampak sedang menjulurkan lengan sambil mengibaskan sisa-sihir api.

 

Di jarinya terpasang sebuah cincin yang tampaknya dimanfaatkan sebagai katalis untuk mengaktifkan sihir.

 

"Hah, terima kasih banyak untuk Theo Proteus-sama."

 

Sang pemimpin petualang melangkah maju sambil menginjak hancur serpihan dinding es yang telah runtuh.

 

"Petualang yang tidak berpendidikan seperti aku pun sekarang sudah bisa menggunakan sihir. Kamu tahu tidak, Gadis? Belakangan ini, siapa pun bisa menggunakan sihir murni hanya dengan membeli peralatan sihir yang sudah dipasangi formula sihir."

 

Hal itulah yang menjadi keunggulan dari teori sihir generasi keempat.

 

Sihir generasi ketiga menyimpan Formula Sihir di dalam otak penyihir, lalu mengaktifkan sihir dengan cara mengonsumsi mana.

 

Di sisi lain, sihir generasi keempat yang dikembangkan oleh Theo sanggup menyimpan Formula Sihir di dalam equipment.

Melalui hal tersebut, siapa pun akhirnya bisa menggunakan sihir asalkan memiliki alat serta mana.

 

Sang petualang menyunggingkan senyuman sambil kembali memicu sihir api di tangannya.

 

"Benar-benar dunia yang praktis ya. Rasanya aku ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung kepada orangnya."

 

"──Begitu ya. Kalau begitu, silakan sampaikan langsung sekarang."

 

"─!"

 

Niat membunuh.

 

Sang pemimpin petualang bergegas melompat mundur ke belakang dengan panik, tetapi dua orang lainnya tidak sempat menghindar.

 

Bugh, sebuah hantaman keras bergema, dan kedua orang itu langsung

ambruk lemas ke atas tanah.

 

Sosok yang muncul dari dalam kehampaan secara bersamaan tidak lain adalah sang guru sihir jubah hitam, Theo Proteus sendiri.

 

Dia kemungkinan besar memanfaatkan sihir Spectrum yang digunakannya saat berduel dengan Isabella waktu itu.

 

"……Ada urusan apa kamu mendadak menyelinap masuk campur tangan, hah?"

 

Apakah karena menyadari adanya perbedaan kekuatan, sebutir keringat dingin tampak menetes dari dahi sang pemimpin petualang.

 

"Bagaimana kalau kukatakan aku adalah Theo Proteus sendiri?"

 

"……Haha, jangan bercanda. Mana mungkin guru akademisi berada di tempat seperti ini. ──Hei, kita pergi."

 

Setelah menilai situasinya buruk, sang pemimpin petualang memanggil kedua anak buahnya.

 

Sambil merintih kesakitan, kedua orang itu berusaha keras untuk bangkit berdiri. Mereka melangkah pergi dengan langkah kaki yang terhuyung-huyung lemah.

 

"Sampai jumpa lagi ya, Gadis."

 

Sepasang mata sang pemimpin petualang tetap terlihat berkilat tajam saat melontarkan kalimat ancaman itu sebelum pergi.

 

Setelah para petualang itu lenyap dari pandangan.

 

Apakah karena tanpa sadar terus menahan napas sepanjang waktu, Xue bergegas mengatur napasnya berulang kali secara panik.

Begitu kondisinya mulai tenang, dia membungkukkan kepalanya kepada Theo.

 

"……Se-sensei…… terima kasih banyak."

 

Theo terus menatap ke arah sini secara diam seribu bahasa bersamaan

dengan ekspresi wajah serius seolah sedang memikirkan suatu hal.

 

Dia sama sekali tidak membalas ucapan terima kasih dari Xue. Sebagai gantinya, dia melayangkan sebuah pertanyaan.

 

"Kenapa kamu tidak membalas serangan mereka?"

 

"……Eh?"

 

"Aku bertanya kenapa kamu tidak menggunakan kekuatan spirit untuk membalas serangan mereka. Dengan kemampuan yang kamu miliki, mengusir mereka seharusnya adalah hal yang mudah."

 

"──Sebab Xue, kamu adalah penyintas dari ras spirit, kan?"

 

Sebuah ras bereputasi buruk yang telah melakukan pembantaian massal terhadap ras manusia.

 

Rentetan suara dari orang-orang yang selama ini terus menyudutkan dirinya seketika bangkit kembali di dalam benak, hingga dia secara tidak sadar menahan napas.

Pikirannya mandek dan tidak ada satu patah kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya. Hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak mencoba merangkai kata tanpa suara.

 

Namun, meskipun mengarahkan pandangan mata yang dingin ke arah sini, Theo sama sekali tidak mendesak Xue.

 

Padahal jika itu adalah guru-guru sebelum ini, mereka dipastikan sudah melontarkan kata-kata kejam kepada Xue.

 

Setelah keheningan berlalu beberapa saat. Begitu berhasil mengendalikan ketenangannya kembali, Xue membuka mulutnya secara ragu-madu.

 

"Anu…… karena, i-itu sakit."

 

"Sakit?"

 

"Ya. Karena aku berpikir…… akan buruk, kalau para petualang itu sampai merasa kesakitan."

 

"…………"

 

Apakah jawaban yang diberikannya salah. Theo hanya terdiam tanpa

sepatah kata pun.

 

Di saat Xue sedang dirundung rasa cemas, Theo bergumam lirih.

 

"Begitu ya, aku paham. Xue, kalau kamu bisa berjalan, cepatlah pulang."

 

"……I-iya…… aku paham."

 

Dia membungkukkan kepalanya berkali-kali.

 

Sama sekali tidak ada satu pun emosi Theo yang sanggup dibacanya.

 

Karena tidak tahan berada di dalam atmosfer tempat ini, Xue bergegas berlari pergi dengan panik.

 

 

Sambil memperhatikan sosok Xue yang sedang pergi menjauh, Theo diam-diam membuntutinya dari belakang.

 

Bukan berarti para petualang tadi akan langsung mengincarnya kembali saat ini juga, tetapi ini hanya demi kewaspadaan semata.

 

──Begitu mendengar rumor mengenai Xue di Lily Garden, Theo langsung bergegas menuju ke dalam kota saat itu juga.

 

Sejujurnya, kejadian seperti ini merupakan sebuah anomali.

 

Tentu saja bagi ukuran masyarakat umum, ras iblis sudah sewajarnya disingkirkan kecuali jika mereka merupakan peliharaan milik kaum bangsawan.

 

Namun, di kota bernama Celeste yang menjadi markas dari Lily Garden

ini, terdapat sebuah aturan tidak tertulis.

 

Yaitu, sebuah peraturan untuk tidak menyentuh ras iblis yang mengenakan seragam sekolah Lily Garden.

 

Pengaruh dari nama Kepala Sekolah, Anemone Blackwood, terbilang sebesar itu, sehingga Xue bisa berjalan-jalan di dalam Celeste dengan relatif bebas.

 

Meskipun demikian, logika tersebut mutlak tidak akan berlaku bagi pendatang yang tidak mengetahui seragam sekolah Lily Garden, seperti keberadaan para petualang yang tadi.

 

Hanya saja,

 

"……Karena takut jika mereka merasa kesakitan, ya."

 

Sejak masa Putaran Pertama dahulu, Xue memang merupakan seorang gadis yang lembut.

 

Tidak hanya itu, dia juga penakut dan cenderung menutup diri di dalam kamar.

 

Theo pada Putaran Pertama menganggap hal itu sebagai hal yang baik, bahkan sempat percaya bahwa hati yang lembut merupakan sebuah senjata.

 

Namun, dia sudah tahu betul bahwa sikap seperti itu tidak boleh dibiarkan.

 

──Dan dia juga mengobati prajurit musuh yang mengalami luka

parah…… tepat setelah selesai memberikan pertolongan pertama, dia langsung dibunuh.

 

──Karena aku berpikir…… akan buruk, kalau para petualang itu sampai merasa kesakitan.

 

Xue memiliki sebuah kekurangan yang masif.

 

Namun, karena dia sudah mengambil keputusan untuk mengubah jalan hidup Xue, hal ini merupakan urusan yang mutlak tidak bisa dihindari.

 

Kekurangan terbesar dari Xue adalah tidak bisa bertarung.

 

Jika tahu bahwa sihir miliknya akan melukai orang lain, akibat hatinya yang lembut dia pasti akan ragu untuk mengaktifkannya. Dengan tingkat kemampuan setinggi dirinya, mana mungkin dia bisa terbunuh oleh prajurit terluka yang baru saja selesai diberikannya pertolongan pertama pada Putaran Pertama dahulu.

 

Karena itulah, hal yang harus dilakukan oleh Theo di Putaran Kedua ini sudah ditentukan.

 

Membuat Xue Amaryllis menjadi sanggup bertarung.

 

Itulah tugas Theo berikutnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close