NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

NTR Eroge ni Tensei Shite Kon'yakusha o Netorareta Ore o Sukutta no wa, Chijou Saikyou no Torimaki Mobu Joshi A Deshita V1 Chapter Lea

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter Lea

Kenapa Aku Bisa Salah Memilih?

■ Sudut Pandang Lea Kleinert


——Aku hanya tidak ingin menerima takdir yang sudah ditentukan untukku.


Sebagai putri sulung keluarga Count Kleinert, sejak aku mulai mengerti dunia, selalu ada seorang teman masa kecil yang tumbuh bersamaku.


Namanya Nicholas Friedland.


Seorang anak laki-laki berambut hitam dengan mata abu-abu yang indah.


Meskipun ia adalah putra keluarga Marquis Friedland, salah satu keluarga bangsawan paling bergengsi di Kekaisaran, cara bicaranya santai, bahkan ia memperlakukan para pelayan layaknya teman sendiri. Dia memang sedikit aneh.


Menurutnya, "Hanya karena bangsawan lalu bersikap sok angkuh itu justru memalukan."


Aku sedikit tidak menyukainya.


Tentu saja aku tahu Nicholas—Nico adalah anak yang baik hati. Aku juga tahu keluarga maupun para pelayan sangat menyayanginya.


Bahkan aku sendiri sudah berkali-kali diselamatkan oleh kebaikannya.


Meski begitu, sayangnya aku tidak pernah bisa membayangkan masa depan bersamanya.


Saat ulang tahunku yang ketujuh, kedua orang tuaku memberitahuku bahwa pertunanganku dengan Nico telah resmi ditetapkan.


Kini aku mengerti. Sejak kecil aku selalu berada di sisinya karena kedua orang tuaku ingin menjalin hubungan dengan keluarga Friedland.


Beberapa waktu kemudian, diadakan pesta yang diselenggarakan keluarga kekaisaran.


Itu adalah acara tahunan untuk memperkenalkan para putra-putri bangsawan yang telah menginjak usia sembilan tahun.


Aku mengenakan gaun perak yang warnanya sama seperti rambutku, hadiah dari Nico, lalu memasuki aula istana kekaisaran dengan diantar olehnya.


Lalu...


"Wow... apa itu?"


"Ih... seram..."


Di sana berdiri seorang gadis bangsawan berambut biru tua yang menjadi pusat tatapan para anak bangsawan dari kejauhan.


Tubuhnya dipenuhi luka, dan ia terus menundukkan kepala dengan malu.


Penampilannya begitu menyedihkan hingga aku, sama seperti anak-anak bangsawan lainnya, tidak ingin berurusan dengannya.


"Hei, Nico, ayo ke sana."


Aku menarik tangannya agar kami berpindah tempat, karena tidak ingin terus melihat gadis yang penuh luka itu.


Namun...


"Maaf sebentar."


"Nico!?"


Ia melepaskan tanganku dan berlari menghampiri gadis itu.


"Hai, kamu tidak apa-apa?"


Di saat tak seorang pun mau mendekat, hanya Nico yang menyapanya.


Menurutku dia bodoh. Benar-benar aneh.


Apa gunanya melakukan hal seperti itu?


Seperti yang kuduga, Nico pun menjadi sasaran cibiran anak-anak bangsawan lainnya. Padahal seharusnya dia membiarkan gadis itu saja.


Namun...Nico justru tersenyum dan memuji gadis itu.


Dia memang aneh. Cara berpikirnya benar-benar berbeda denganku. Saat menyadari itu, rasanya Nico seperti makhluk yang sama sekali berbeda.


Tapi yang lebih membuatku kesal adalah...


Aku ini tunangannya, namun dia malah menghampiri gadis penuh luka itu.


Karena itu...


"Ya ampun... aku kira terjadi apa sampai meninggalkan tunanganmu..."


Aku segera menghampiri Nico. Agar aku tidak perlu terus merasa tidak nyaman.


Namun justru aku yang hampir dibencinya. Benar-benar membuatku kesal.


Lebih parah lagi, Nico bahkan ingin mengajak gadis itu bergabung dengan kami. Bukankah itu keterlaluan?


Jadi aku menarik Nico secara paksa menjauh dari gadis penuh luka itu.


Saat itulah...


"...Itulah sebabnya aku membenci orang-orang yang hidup tanpa beban."


Sebuah suara dingin bergumam pelan dari belakangku. Seolah-olah sedang menyangkal seluruh dunia.


Aku refleks menoleh.


Di sana berdiri seorang anak laki-laki bermata biru yang menyimpan kegelapan sedalam jurang di dalam tatapannya.


"A-anu..."


"? Lea, ada apa?"


Saat aku hampir mengulurkan tangan kepadanya, Nico bertanya dengan wajah heran.


Di sela-sela itu, anak laki-laki bermata biru tersebut meninggalkan aula.


"Eh... Lea?"


"...Tidak apa-apa."


Kalau saja Nico tidak mengajakku bicara, mungkin tanganku sudah berhasil meraihnya.


Dengan kesal aku memalingkan wajah, lalu mataku bertemu dengan gadis penuh luka yang sedang menatapku.


Di balik mata birunya tampak rasa iri sekaligus kebencian.


(...Jangan-jangan dia iri karena Nico hanya bersikap seperti itu kepadaku?)


Menyadari tatapannya, aku sedikit mengangkat dagu.


Karena itulah, selama gadis itu terus melihat ke arah kami, aku sama sekali tidak memaafkan Nico.


Begitulah pertemuan pertamaku dengan anak laki-laki bermata biru itu—Julian Retzel.


◇◆◇◆◇


Aku bertemu kembali dengan Julian pada upacara penerimaan murid baru di Akademi Kekaisaran Luminous.


Dengan wajahnya yang cantik dan androgini serta pembawaannya yang anggun, ia seketika memikat hati banyak gadis bangsawan.


Namun, mata birunya yang dipenuhi kegelapan seperti enam tahun lalu tidak berubah sedikit pun.


Entah mengapa, melihatnya membuat dadaku terasa sesak.


"Hn? Lea, ada apa?"


"Hah?... Tidak, tidak apa-apa."


"Begitu ya. Tapi kalau ada sesuatu, bilang saja padaku."


"Iya. Aku tahu."


Sejak saat itu Nico memang sudah bertingkah layaknya seorang bangsawan, tetapi cara bicaranya tetap sama seperti waktu kecil.


Kasih sayang dan kebaikannya kepadaku juga tidak berubah.


Meski begitu, aku tetap tidak pandai bergaul dengannya.


Dibandingkan itu, perasaanku kepada Julian justru semakin membesar dan terus membara di dalam dada.


Karena itu aku selalu mencarinya dengan pandanganku.


Tak peduli Nico sedang berada di sampingku. Dan setiap malam, saat berbaring di tempat tidur, aku berulang kali membisikkan namanya.


Diiringi debaran yang belum pernah kurasakan saat bersama Nico. Namun, seberapa pun aku memikirkannya, tunanganku tetaplah Nico.


Sebagai seorang bangsawan, aku tahu pertunangan yang telah diputuskan kedua keluarga tidak mungkin dibatalkan.


Karena itu, hari ini pun aku kembali tersenyum.


Berpura-pura tersenyum kepada Nico yang berada di depanku, padahal sebenarnya senyum itu kutujukan kepada Julian yang berdiri di baliknya.


Setelah terbiasa dengan kehidupan akademi dan enam bulan pun berlalu, pada suatu sore sepulang sekolah...


Aku tanpa sengaja mendengar percakapan dua siswa laki-laki yang sedang mengobrol.


Mereka mengatakan bahwa setiap selesai sekolah, Julian selalu pergi ke belakang gedung akademi.


Begitu mengetahuinya, aku membatalkan kencan yang sudah kujanjikan dengan Nico dan pergi ke belakang gedung.


Di sana...


"...Kenapa... aku masih harus terus hidup setelah mengalami semua ini...!"


Julian berdiri sambil menggenggam erat tinjunya, air mata mengalir di pipinya.


Mata birunya yang diterpa cahaya senja begitu indah hingga seolah mampu menyedot siapa pun yang memandangnya.


Karena itu...


"!?"


"Kamu boleh menangis sepuasnya..."


Melihat Julian yang kebingungan, dadaku terasa sesak hingga tak sanggup menahannya lagi.


Aku memeluknya dari belakang.


Dengan erat. Sangat erat.


Julian sempat meronta dengan wajah tegang, tetapi tak lama kemudian tubuhnya melemas dan ia mulai terisak sambil menggigil.


Yang bisa kulakukan hanyalah memeluknya seperti ini.


Entah berapa lama waktu berlalu.


Setelah akhirnya berhenti menangis, Julian berbalik dan menatapku dengan mata birunya.


"Kau... orang yang aneh."


"Benarkah...?"


Julian perlahan melepaskan diri dariku dan hendak pergi.


Namun sebelum itu...


"...Jangan katakan pada siapa pun."


"Iya, aku mengerti."


Dengan wajah sedikit malu, Julian memperingatkanku.


Aku hanya memandangi punggungnya yang menjauh, lalu mengangguk sambil tersenyum.


◇◆◇◆◇


Sejak hari itu, setiap selesai sekolah dan ada waktu luang, aku selalu pergi ke belakang gedung akademi.


Awalnya Julian selalu terang-terangan memasang wajah kesal setiap kali melihatku. Namun sekarang, bahkan saat aku duduk di sampingnya, ia tak lagi mengatakan apa pun.


Bahkan...


"Hei... apa tidak apa-apa kau terus bersamaku di tempat seperti ini? Bukankah... kau punya tunangan?"


"Benar. Tapi... aku sudah bilang pada Nico kalau ada urusan, jadi tidak apa-apa."


Nico itu baik hati. Ia selalu mempercayai setiap perkataanku.


Tentu saja aku juga tidak berniat melakukan sesuatu yang tidak pantas meski sudah memiliki tunangan. Aku berniat tetap menjaga batas dengan Julian.


Aku datang ke sini hanya karena ingin sedikit meringankan penderitaan yang ia tanggung.


Jadi, ini sama sekali bukan berarti aku mengkhianati Nico.


"Oh..."


Julian yang tampak sedikit kesal tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahuku.


Sisi dirinya yang seperti anak kecil itu... entah kenapa terasa lucu... eh!?


"Kyaa!?"


"Kalau aku melakukan ini, apa kau masih bisa mengatakan hal yang sama?"


Tiba-tiba Julian menjatuhkanku ke tanah dan menatapku dengan senyum menantang.


Namun aku tahu semuanya. Ia hanya sedang menggodaku.


"Ya, ya. Sudahlah."


"Hmph... membosankan."


Saat aku menjawab dengan nada pasrah, Julian pun menjauh sambil tampak sedikit kesal.


Pada akhirnya, ia memang tidak berniat melakukan hal semacam itu. Bahkan ia juga tidak punya keberanian.


Karena kalau aku berhenti datang ke sini, dia pasti tidak akan menyukainya.


Aku tahu, kok. Setiap kali melihatku, wajahnya selalu sedikit melembut karena senang.


Baiklah. Sepertinya sudah waktunya.


"Kalau begitu, aku pulang dulu, ya."


"!?... A-anu... tidak, tidak apa-apa."


"Dasar Julian, aneh."


Aku terkekeh, menepuk debu di rokku, lalu hendak meninggalkan belakang gedung...


"T-tunggu..."


"Ada apa...?"


"Ada... sesuatu yang ingin kudengar kau dengarkan..."


Julian menahanku sambil memasang wajah penuh penderitaan.


Aku sudah tahu apa yang ingin ia katakan, bahkan tanpa mendengarnya. Pasti tentang kegelapan yang selama ini terus ia pendam.


"...Baik."


Aku kembali duduk di tempat tadi dan mempersilahkannya duduk di sampingku.


Lalu... aku mendengarkan seluruh ceritanya.


"Mana mungkin... ini..."


Untuk pertama kalinya, aku mengetahui kegelapan yang dipikul Julian.


Ayahnya dibunuh oleh Yang Mulia Kaisar.


Lalu, demi tetap hidup, ia dipaksa menyerahkan tubuhnya setiap kali bertemu Marquis Retzel, keluarga yang ditugaskan mengawasinya.


Semua itu... demi bertahan hidup di dunia ini.


"Kau... pasti jijik padaku, kan...? Tubuhku... sudah benar-benar kotor..."


Julian menggigit bibirnya sambil menundukkan kepala.


Melihat dirinya seperti itu, aku tak sanggup lagi menahan diri.


"Ah..."


"Kau... sama sekali tidak kotor..."


Seperti hari itu di belakang gedung akademi, aku kembali memeluk Julian seerat mungkin.


Menahan air mata yang hampir tumpah.


Karena yang benar-benar sedih... yang benar-benar menderita adalah Julian. 


Bukan aku yang boleh menangis.


"Kau benar-benar... bodoh."


"Aku tahu... kau juga pernah mengatakannya dulu..."


Begitulah, di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, aku dan Julian saling berpelukan.


◇◆◇◆◇


Setelah Julian mencurahkan isi hatinya, hubungan kami pun berubah.


Walaupun aku masih menjadi tunangan Nico, kami akhirnya menyatukan tubuh.


Mungkin ini hanyalah cara kami saling menyembuhkan luka.


Meski begitu, kami bahagia. Namun, jika terus seperti ini, aku dan Julian tidak akan pernah bisa bersama.


Karena itu...kami memilih jalan yang menurut kami adalah pilihan terbaik.


"Lea... maafkan kami... semua ini terjadi karena kami tidak becus..."


Saat aku dipanggil pulang ke rumah, Ayah memberitahuku bahwa usahanya gagal dan keluarga kami menanggung utang yang sangat besar kepada keluarga Marquis Retzel.


Sebagai pembayaran utang itu, mereka akan menyerahkan putri mereka—aku.


Orang biasa tentu tidak akan bisa menerima hal seperti itu. Bagaimanapun juga, aku dijual oleh keluargaku sendiri.


Namun...


"...Baik. Aku mengerti."


Aku menerimanya tanpa banyak protes.


"Lea...!"


"Tapi bagaimana dengan pertunanganku dengan Nico? Kalau sekarang pertunangan itu dibatalkan, bukankah keluarga Kleinert benar-benar akan hancur?"


"Itu..."


Jika pertunangan antarbangsawan dibatalkan karena kesalahan pihak kami, keluarga Kleinert akan kehilangan seluruh kepercayaan di Kekaisaran dan benar-benar akan jatuh.


"Ayah, jangan sampai keluarga Friedland mengetahui soal ini. Jangan khawatir. Pihak sana bilang tidak masalah kalau secara resmi aku tetap bertunangan dengan Nico."


"Lea... maafkan Ayah... maafkan Ayah..."


Ayah menangis sambil terus meminta maaf. Namun berbeda dengannya, hatiku justru dipenuhi kebahagiaan.


Karena...


"Ayo. Mulai hari ini, kau adalah milikku."


"Ya..."


Dengan begitu, aku akhirnya menjadi milik Julian.


◇◆◇◆◇


(Padahal aku tahu... semua ini tidak mungkin dimaafkan...)


Benar. Setelah semua rahasia terbongkar dan Nico memutuskan pertunangan kami, keluarga Friedland tentu tidak mungkin memaafkanku.


Sekarang aku berada di sebuah kamar rumah bordil di kawasan hiburan ibu kota kekaisaran, tempat yang tampaknya disiapkan oleh keluarga Friedland.


Tubuhku dipermainkan oleh ribuan serangga yang merayap memasuki setiap lubang di tubuhku.


Julian juga dibawa ke rumah bordil yang sama.


Dari kamar sebelah, tanpa henti terdengar suaranya—entah jeritan kesakitan atau erangan, bahkan sulit dibedakan.


Namun...


(Apa kami benar-benar pantas menerima semua ini...?)


Kalau mereka langsung membunuh kami, mungkin itu jauh lebih baik.


Namun keluarga Friedland memberikan penderitaan yang bahkan lebih kejam daripada penyiksaan.


Siang dan malam, tanpa henti, kami dipermainkan monster, serangga, dan benda-benda menyerupai tentakel.


Setiap hari kami disembuhkan dengan sihir penyembuhan dan ramuan mahal. Bahkan mati pun tidak diizinkan.


Yang paling kejam adalah...


Mereka sengaja menyisakan sedikit harapan bagi kami.


Mereka sengaja membiarkan sedikit celah di jendela agar kami masih bisa melihat dunia luar.


Mereka juga sengaja menempatkan kami di kamar yang berdampingan agar kami masih bisa mendengar suara satu sama lain.


Mungkin suatu hari kami bisa keluar dari sini.


Mungkin suatu hari kami bisa bertemu lagi.


Harapan yang mustahil itu terus mereka sisakan.


Karena kami menderita...karena kami tersiksa...kami tidak punya pilihan selain terus berpegang pada harapan itu.


Padahal kami tahu, harapan itu tak akan pernah terwujud.


...Ah, tapi meski begitu, mungkin bertemu lagi dengan Julian memang mustahil.


Karena ia terus mengutukku tanpa henti.


"Kalau saja aku tidak pernah membuka hati pada perempuan itu... semua ini tidak akan terjadi...!"


Lihat? Julian terus berteriak bahwa semua ini adalah salahku.


Setiap hari. Setiap hari. Dari balik dinding di sebelah.


Kalau sudah begini, aku pun tidak bisa terus mencintainya. Padahal demi dirinya, aku bahkan siap mengkhianati Nico yang begitu baik dan mengandung anaknya.


Entah sudah berapa hari berlalu.


Suatu senja, saat tubuhku kembali dipenuhi serangga, aku hanya memandang kosong ke jalanan kawasan hiburan dari balik jendela.


Lalu...


(Itu...!)


Keajaiban terjadi.


Aku melihat sepasang pria dan wanita yang sangat kukenal berjalan melewati depan rumah bordil.


"Nnggh... Mgh... ooooohhhh!!"


(Nico... NICOOOOOOOOOO!!)


Meski mulutku dipenuhi serangga, aku tetap berteriak sekuat tenaga.


Mungkin suaraku sama sekali tidak terdengar seperti memanggil "Nico". Namun aku tetap percaya mantan tunangan sekaligus teman masa kecilku itu akan menyadarinya.


Mungkin doaku terkabul.


Nico...


Nico benar-benar berhenti melangkah.


(Ah... ah...!)


Aku akan diselamatkan. Nico pasti akan menyelamatkanku.


Tanpa alasan yang jelas, aku yakin akan hal itu sambil menatapnya dari balik jendela.


Namun...


"A... A... Ah..."


Seolah menghancurkan harapanku, wanita yang berada di sampingnya menoleh ke arahku lalu tersenyum mengejek.


Seakan menertawakan kebodohanku.


Seakan berkata, "Nico adalah milikku."


(Nico... kenapa... kenapa...?)


Kenapa aku bisa mengambil jalan yang salah...?


Kalau sejak awal aku hanya memandang Nico...


Semua ini tidak akan pernah terjadi.


Yang bisa kulakukan hanyalah memandangi punggung Nico saat ia kembali berjalan menjauh.


Itulah—penampakan terakhir Nico yang kulihat di dunia ini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

1

1 comment

  • Agus Dedi Prasetya
    Agus Dedi Prasetya
    10/8/26 10:42
    Jejak vol 1 chapter lea
    Reply
close