NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

NTR Eroge ni Tensei Shite Kon'yakusha o Netorareta Ore o Sukutta no wa, Chijou Saikyou no Torimaki Mobu Joshi A Deshita V1 Chapter Final

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter Final

Hari-Hari Bahagia yang Akhirnya Menghampiri Sang Suami yang Diselingkuhi

"Bosan banget ya."


"Iya."


Seminggu setelah pertunanganku dengan Lea dibatalkan, saat jam istirahat siang.


Entah kenapa, aku malah sedang berjemur di halaman tengah bersama Hugo.


Selama ini kami sibuk ke sana kemari mengumpulkan bukti perselingkuhan Lea. Sekarang semua urusan sudah selesai, jadi rasanya seperti kehilangan tujuan.


"Meski begitu, meskipun berhasil mendapatkan buktinya, tetap saja menyakitkan karena alat sihir itu disita..."


kata Hugo sambil menjatuhkan bahunya.


Sehari setelah pembatalan pertunangan, kami melaporkan semua perbuatan Julian dan Lea kepada pihak akademi.


Para instruktur sampai membungkuk berkali-kali dengan penuh hormat saat menerima bukti yang kami bawa.


Kalau hanya sampai situ sih tidak masalah.


Sayangnya, salah satu instruktur menyadari betapa luar biasanya kamera sihir mini berkinerja tinggi itu. Katanya benda itu harus dilaporkan kepada Kekaisaran, lalu saat itu juga langsung disita.


"Yah, kalau begitu... bagaimana kalau membuat alat sihir itu lagi..."


"Tidak mungkin... Membuat benda itu saja menghabiskan uang sakuku selama dua tahun."


"Begitu ya..."


Aku memang tidak tahu Hugo mendapat uang saku sebanyak apa, tapi bagaimanapun dia tetap putra seorang Count. Jumlahnya pasti lumayan besar.


Apa aku harus menyumbangkan uang sakuku yang sedikit itu kepadanya? Ya jelas tidak mau.


Saat itulah...


"Aah! Jadi kalian ada di sini!"


Seorang siswi berlari menghampiri sambil menggembungkan pipinya dengan wajah sedikit kesal.


Tak perlu dijelaskan lagi, itu Emma.


Di belakangnya juga ada "Figuran B", yaitu Rosa si gadis fujoshi.


"Aduh. Jangan pergi begitu saja tanpa bilang, dong."


"Maaf, maaf. Tapi ya..."


"Benar sekali. Jujur saja, kami tidak sanggup melihat pemandangan seperti itu."


Ya...kelas kami hari ini benar-benar kacau.


Pangeran Kedua, Lambert, yang sejak upacara pembukaan belum pernah sekalipun masuk kelas, akhirnya muncul.


Akibatnya Josephine menjadi luar biasa bahagia.


Sejak pagi dia mengabaikan pelajaran dan terus menetap di kelas kami, menempel terus pada Pangeran Lambert.


Pangeran Lambert sendiri terlihat benar-benar tidak nyaman. Namun Josephine sama sekali tidak peduli, malah dengan senang hati terus mengurusinya.


Melihat ketulusan Josephine seperti itu, semua murid laki-laki di kelas—termasuk aku dan Hugo—langsung memasang wajah penuh amarah.


Memangnya dia pikir dia siapa cuma karena seorang pangeran? Dasar menyebalkan!


Meski begitu...


(Kalau nanti bertemu Kakak, aku harus mengucapkan terima kasih.)


Kalau dipikir-pikir, alasan Pangeran Lambert akhirnya mau datang ke akademi pasti karena Kakak memenuhi permintaanku.


Memang, setiap kali aku meminta sesuatu kepada Kakak, beliau selalu segera mengabulkannya.


Aku benar-benar bersyukur.


Sedangkan soal Lea dan Julian...


Sudah jelas, mereka berdua sama-sama keluar dari akademi. 


Sayangnya, mereka bukan dikeluarkan sebagai hukuman dari pihak akademi. Statusnya hanya mengundurkan diri secara sukarela. 


Padahal aku lebih ingin mereka pergi sebagai bentuk balasan atas perbuatan mereka.


Yah, tapi...


(Video memalukan mereka sudah telanjur tersebar ke seluruh akademi.)


Sehari setelah kami menyerahkan bukti kepada pihak akademi, entah bagaimana rekaman kejadian hari itu—tepatnya video Julian sedang memainkan puting Lea—malah diputar secara terbuka di aula akademi.


Awalnya seorang murid menemukannya lalu membicarakannya di kelas.


Tak lama kemudian kabar itu menyebar ke seluruh akademi, hingga semua murid berbondong-bondong menuju aula.


Pihak akademi memang segera menghentikan pemutaran video dan berusaha menutupi kejadian itu. Namun semuanya sudah terlambat.


Hampir semua murid sudah melihat rekaman tersebut.


Reputasi Wakil Ketua OSIS yang tampan itu pun jatuh hingga ke titik terendah. Tentu saja, semua orang juga sudah tahu bahwa Lea memiliki tunangan, yaitu aku.


Artinya, perselingkuhan yang dialaminya juga ikut terbongkar.


Sejak saat itu, teman-teman sekelas—terutama Theo—terus menghibur dan bersimpati kepadaku.


Kalau menurutku sih...malah mengganggu.


Itulah sebabnya, terlepas dari kedatangan Pangeran Lambert, sejak hari itu aku lebih sering kabur dari kelas dan berkeliaran bersama Hugo.


"Lalu... umm... Nico-san... apa kamu sudah makan siang...?"


Emma bertanya sambil gelisah, wajahnya lebih malu dari biasanya.


Ada apa dengannya?


"Belum. Kami juga baru sampai di halaman tengah."


"Syukurlah!"


Emma langsung tersenyum lebar. Lalu ia meletakkan sesuatu yang sejak tadi disembunyikan di belakang punggungnya.


Itu adalah...


"Wooo... Jangan-jangan ini... benda legendaris itu...!"


"Hehe... Hari ini aku bangun pagi dan berusaha keras membuatnya."


Tak perlu dijelaskan lagi. Benda yang selalu menjadi impian setiap laki-laki. Bekal makan siang buatan seorang gadis.


"B-boleh aku memakannya?"


"Tentu saja! Soalnya... aku membuatnya khusus untuk Nico-san..."


...


Gawat. Kalimat seperti itu benar-benar mematikan bagi seorang perjaka.


Senyum malu-malu Emma memberikan efek yang luar biasa. Serangan kebahagiaannya benar-benar menghantamku.


"Grrr...! Kenapa cuma Nicholas-dono yang mendapat perlakuan seenak ini de gozaru!? Tidak adil de gozaru!"


"...Aku juga mau."


Hugo menggertakkan giginya dengan wajah kesal. Sementara Rosa menatap bekal itu penuh keinginan sambil memasukkan jarinya ke mulut.


Maaf. Tidak akan kuberikan.


Ini semua milikku.


"Tenang saja. Aku juga membuatkan untuk kalian semua."


"Benarkah!?"


"...Memang Mama yang terbaik. Sepertinya aku harus bergantung padanya seumur hidup."


Oh…Jadi bukan hanya khusus untukku. 


Hampir saja aku salah paham.


Dan Rosa...Emma itu bukan mamamu. Dia mamaku.


...Eh, bukan.


"Nico-san... enak?"


"Enak banget."


Emma mengintip wajahku dengan gugup.


Aku langsung mengacungkan jempol. Lalu...


"Ehehe..."


Emma menyatukan kedua tangannya di depan mulut sambil tersenyum lebar dengan pipi memerah.


Apa-apaan ini. Lucu banget.


Imut sampai rasanya aku bisa mati.


"Nico-san, ini juga! Tolong makan yang ini juga!"


"Tunggu!?"


Karena senang bekalnya dipuji, Emma mulai menyuapiku tanpa henti. Satu demi satu lauk dimasukkannya ke mulutku.


Aku hampir tersedak sampai tidak bisa bernapas. Tapi...


(Sial... bahagia banget.)


Saat kesadaranku mulai menghilang karena sesak napas, aku melihat Emma terus tersenyum bahagia sambil menyodorkan lauk berikutnya.


Dan hanya itulah yang ada di pikiranku.


◇◆◇◆◇


"Nico-san! Jadi... kapan janji kita yang waktu itu...?"


Setelah dipaksa menelan terlalu banyak lauk hingga pingsan karena tersedak...


Begitu sadar kembali, Emma langsung bertanya sambil tersenyum cerah.


Senang melihat dia sedang dalam suasana hati yang baik.


Meski sebenarnya…aku hampir saja bereinkarnasi ke dunia lain lagi gara-gara dia.


"Hmm... kalau begitu, lusa bagaimana? Kebetulan hari Minggu, akademi juga libur."


Meskipun Broken Days of Luminous III berlatar dunia fantasi ala Eropa abad pertengahan, akal sehat masyarakatnya sama seperti dunia modern.


Artinya satu minggu terdiri dari tujuh hari dan hari Minggu adalah hari libur. 


Hari ini tepat hari Jumat.


"...! T-tentu saja! Umm... nanti aku akan berdandan secantik mungkin!"


"O-oh..."


Emma langsung menggenggam tanganku. Dengan senyum cerah bak bunga matahari, ia tampak benar-benar bahagia.


Entah kenapa...sejak pertunanganku dengan Lea dibatalkan, rasanya keberuntunganku dalam urusan cinta meningkat luar biasa.


"Nicholas-dono. Jangan-jangan... kau berniat berkencan dengan Emma-dono de gozaru...?"


Hugo menghentikan makannya lalu menatapku dengan mata setengah menyipit.


Berkencan? 


Kalau bukan kencan memangnya apa lagi? Kalau ini bukan kencan, berarti konsep "kencan" di dunia ini harus dihapus sekalian.


"Umm... bagaimana menurut Nico-san...?"


Emma bertanya malu-malu.


Di mata birunya...entah kenapa terasa ada harapan.


"Y-yah... kalau seorang laki-laki dan perempuan pergi berdua... bisa dibilang itu semacam kencan... kan?"


Sayangnya status tingkat kesukaan masih tetap ditampilkan dari sudut pandang Julian. Jadi aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Emma.


Karena itu aku memilih jawaban yang sedikit aman. Lagi pula, sudah berkali-kali kukatakan.


Aku masih perjaka. Bahkan sejak kehidupan sebelumnya. Wajar kalau aku melindungi mental selembut tahu milikku sekuat tenaga.


"Ehehe... kalau begitu... yang kali ini bagaimana ya...?"


"Itu... umm..."


Emma tersenyum malu-malu, tetapi juga tampak usil.


Serius. Aku mulai curiga dunia ini sudah berubah. Bukan lagi dunia game NTR. Melainkan dunia komedi romantis.


"Y-yang itu... baru bisa dipastikan nanti hari Minggu! Ya!"


"Eh—... ya sudah deh."


Karena aku mati-matian mengalihkan pembicaraan, Emma sedikit cemberut.


Meski begitu, dia tetap terlihat sangat bahagia.


Dan tentu saja...


Aku juga benar-benar menantikan hari lusa.


◇◆◇◆◇


"Nico-saaan! Di sini!"


Hari Minggu pun tiba dengan cepat.


Emma sudah lebih dulu berada di depan air mancur di alun-alun jalan utama, tempat kami berjanji bertemu.


Begitu melihatku, ia langsung melambaikan tangan sekuat tenaga.


"Maaf, aku sedikit terlambat."


"Hehe, tidak apa-apa. Kan belum waktunya."


Benar juga. Masih ada tiga puluh menit sebelum waktu yang dijanjikan. Padahal aku merasa sudah datang lebih awal.


Sebenarnya sejak jam berapa Emma menungguku?


Yang lebih penting lagi...


"Umm... pakaianmu... cocok sekali."


Emma mengenakan blus putih dipadukan dengan rok pinggang tinggi bersuspender.


Imut sekali.


Dan rok itu juga semakin menonjolkan dadanya yang besar. Benar-benar serangan mematikan bagi seorang perjaka sepertiku.


"Ah... ehehe... Syukurlah aku memilih pakaian ini..."


Ah...


Sudah tidak tertolong. Melihat Emma tersenyum malu-malu dengan pipi memerah seperti itu...


Benar-benar terlalu imut.


Jangan-jangan hari ini aku sudah menghabiskan seluruh keberuntunganku, lalu setelah ini malah mati?


"N-ngomong-ngomong, Emma bilang ada tempat yang ingin kamu kunjungi, ya...?"


"Iya! Ada kafe yang lucu banget!"


Benar. Sebenarnya kemarin Emma yang mengusulkannya, dan aku langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.


Sejujurnya aku sempat bertanya pada Theo dan yang lain serta mencari tahu tentang berbagai tempat, tetapi tidak ada yang terasa cocok. Jadi usulan Emma benar-benar datang di saat yang tepat.


"Jadi, kafe itu ada di mana...?"


"Ke sini!"


"Eh, tunggu!?"


Tiba-tiba Emma menarik tanganku dan mulai berjalan menuju kafe tujuan.


Hanya saja...


(Waaah... aku benar-benar tidak tahu harus mengarahkan pandanganku ke mana...!)


Sialnya lagi, kafe itu ternyata berada di seberang kawasan hiburan malam yang harus dilewati lewat sebuah gang belakang.


Meskipun jalan ini memang rute tercepat, tetap saja ini bukan tempat yang pantas dilewati laki-laki dan perempuan berdua.


"Ayo, cepat, cepat!"


Namun Emma sama sekali tidak memedulikan hal itu dan terus menarik tanganku.


Akhirnya aku hanya bisa menunduk sambil berusaha mengabaikan para wanita berpakaian cosplay yang sedang menggoda calon pelanggan.


Lalu...


—"A-aku sudah tidak tahan lagi! Tolong berhenti... aaaaah!"


Dari bangunan yang baru saja kami lewati—jelas-jelas sebuah rumah bordil—terdengar suara seorang pria muda yang meminta tolong dari lantai dua, tetapi tak lama kemudian suaranya berubah menjadi erangan.


Namun...


(Suara tadi... rasanya pernah kudengar di suatu tempat...)


Aku memberanikan diri melirik ke arah rumah bordil itu.


Dari celah jendelanya muncul tentakel... Tentakel!? Itu benar-benar tentakel, kan!?


Memang di seri Luminous ada monster klasik seperti tentakel, tetapi itu bukan monster yang seharusnya berada di rumah bordil! Di tengah kota lagi! Permainan macam apa yang mereka lakukan!?


"E-Emma! Ayo cepat pergi dari sini... eh!?"


Saat hendak menarik tangan Emma agar segera menjauh, aku melihat sesuatu.


Dari celah jendela kamar di sebelahnya tampak gerombolan serangga hitam mengilap yang bergerak-gerak... Tidak salah lagi.


Itu adalah G. 


Bahkan, di tengah-tengah kumpulan G itu ada wajah seorang gadis yang sedang menatap ke arahku.

(TL/N: G disini adalah Gokiburi atau kecoak)


Sebagai catatan, meskipun aku seorang penggemar game dewasa, aku benar-benar tidak tahan dengan hal-hal yang berhubungan dengan serangga. Itu sama sekali bukan seleraku.


Yah, kalau kumbang badak atau kumbang rusa sih tidak masalah. Yang tidak bisa kuterima hanyalah jika dijadikan bagian dari permainan seperti itu.


Sementara gadis itu justru tampak menikmati permainan bersama serangga. Sesuai judul game ini, semuanya memang sudah kacau.


Yah, lupakan soal itu dulu.


(Gadis itu...)


Wajahnya hampir tidak terlihat karena tertutup serangga, tetapi entah kenapa rasanya sangat familiar.


Terutama mata berwarna aquamarinenya...


"...Ah, tidak mungkin."


Sesaat aku teringat pada seorang gadis, tetapi langsung menggeleng.


Mana mungkin seleranya adalah G. Lagi pula, dia dulu sangat membenci serangga. Meski sudah meyakinkan diri begitu, tetap saja rasa penasaranku tidak hilang.


Kalau memakai 【Status Open】, aku bisa langsung mengetahui siapa gadis itu.


Aku pun bersiap mengaktifkan skill itu sambil kembali menatap jendela.


(...Tidak, tidak mungkin. Menjijikkan.)


Bagaimana kalau, seandainya saja, setelah skill itu aktif aku malah harus melihat status erotis para G itu? Aku yakin akan langsung pingsan di tempat.


(Y-yah, mengintip status seorang gadis yang sedang menikmati permainan seperti itu juga jelas tidak sopan.)


Sambil mencari-cari alasan, aku menarik tangan Emma dan segera meninggalkan tempat itu...


"........................ Hehe♪"


Entah kenapa, Emma tiba-tiba menoleh ke arah kamar berisi G di rumah bordil itu dan seolah-olah tersenyum mengejek.


"E-Emma...?"


"? Ada apa, Nico-san?"


...Tidak, pasti cuma perasaanku.


"Maaf, tidak apa-apa."


"Eeh, Nico-san aneh deh."


Melihat Emma yang tersenyum ceria meski sedikit mengernyitkan alisnya, aku memutuskan untuk melupakan sepenuhnya apa yang baru saja kulihat dan melanjutkan perjalanan menuju kafe.


——Tanpa menyadari seorang gadis bermata aquamarine yang terus menatapku sambil berteriak, "Nico!"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close