NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

NTR Eroge ni Tensei Shite Kon'yakusha o Netorareta Ore o Sukutta no wa, Chijou Saikyou no Torimaki Mobu Joshi A Deshita V1 Chapter Emma

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter Emma

Tetaplah Menjadi Milikku Seorang

—Sejak aku lahir, aku telah dipaksa untuk menjadi yang terkuat.


Aku terlahir sebagai putri keluarga Margrave Baltzer, keluarga yang sejak berdirinya Kekaisaran Luminous bertugas menjaga wilayah timur. Sejak mulai mengenal dunia, ayahku, Getz Baltzer, mendidikku secara khusus dalam hal bertarung.


...Tidak, lebih tepatnya, dia memaksaku dengan kekerasan.


Hari demi hari, aku terus dipaksa bertarung melawan prajurit dan ksatria dewasa. Tidak pernah sekalipun ada hari tanpa luka.


Sebelum kusadari, tak ada lagi bagian tubuhku yang bebas dari bekas luka. Bahkan wajahku pun dipenuhi bekas luka yang jelek.


Berkali-kali aku menangis, mengeluh bahwa aku tidak sanggup lagi, bahwa ini terlalu menyakitkan. Namun Getz tidak pernah mau mendengarkan.


Bahkan saat aku sudah roboh dan tak mampu menggerakkan satu jari pun, tanpa belas kasihan dia tetap menendang perutku.


Kenapa pria itu memperlakukanku sekejam itu?


Jawabannya sudah jelas.


Karena aku... adalah aib keluarga Baltzer.


Saat usiaku enam tahun, Getz mengatakannya dengan jelas kepadaku.


Pilihan yang tersisa bagiku hanya dua: terus bertahan menghadapi kekerasannya, atau mengakhiri hidupku sendiri.


Saat usiaku menginjak sembilan tahun, entah bagaimana aku masih berhasil bertahan hidup meski penuh luka.


Pada saat itu, keluarga kekaisaran mengadakan pesta perkenalan bagi putra-putri para bangsawan.


Aku benar-benar tidak ingin menghadiri pesta itu.


Karena aku tahu tubuhku penuh luka, dan aku pasti akan dipermalukan. Namun Getz tidak mengizinkanku menolak. Aku dipaksa menghadirinya.


Dan kemudian...


"Uwah... apa itu?"


"Ih... seram..."


Anak-anak bangsawan lain yang seusia denganku memandangku dari kejauhan sambil bergunjing.


Ya, tentu saja.


Tubuhku penuh luka. Aku memang jelek.


Walaupun aku tak ingin mendengarnya, bisikan-bisikan mereka tetap masuk ke telingaku. Sekalipun aku menutup telinga, tatapan mereka seolah terus mengatakan,


"Jelek." "Menjijikkan."


Aku ingin lari. Aku tidak ingin berada di tempat itu. Namun kalau aku kabur, Getz pasti akan menyiksaku lagi.


Aku sama sekali tidak punya tempat untuk melarikan diri.


(Kenapa aku harus mengalami semua penderitaan ini...?)


Tak tahu harus berbuat apa lagi, aku pun berjongkok sambil memeluk lutut.


Orang-orang dewasa di aula hanya memandangku dari jauh.


Tak seorang pun datang menolongku.


Saat itulah...


"Hei, kamu... tidak apa-apa?"


Seorang anak laki-laki mengusap punggungku dengan lembut sambil menyapaku.


Dengan mata abu-abu yang begitu indah, ia menatapku penuh kekhawatiran.


Dia adalah satu-satunya anak laki-laki yang benar-benar mengkhawatirkanku dari lubuk hatinya.


"Hei, kok kamu berani-beraninya bicara dengan cewek menjijikkan yang penuh luka itu?"


"Iya, benar. Mana mungkin."


Kini justru anak laki-laki itu yang menjadi sasaran ejekan mereka.


Mungkin mereka enggan mengatakannya langsung kepadaku karena menganggapku menjijikkan, tapi lebih mudah melampiaskannya kepadanya.


"A... aku..."


Aku tidak ingin merepotkan anak baik hati itu, jadi aku ingin menyuruhnya menjauh.


Namun karena terlalu gugup, aku tak sanggup mengucapkannya dengan baik.


...Tidak. Bukan begitu.


Sebenarnya...aku tidak ingin dia pergi. Namun anak-anak bangsawan itu terus melontarkan kata-kata kejam kepadanya tanpa belas kasihan.


Akan tetapi...


"Hmph. Aku tidak punya waktu buat meladeni orang-orang yang sama sekali tidak punya sopan santun seperti kalian. Lagi pula kalian mengganggu pandangan, jadi sana pergi."


Sambil mendengus, ia mencibir mereka.


Ia berdiri tegak di depanku. Seolah melindungiku.


Punggungnya memang kecil. Namun entah kenapa, bagiku terlihat begitu besar. 


Lebih besar daripada anak bangsawan mana pun di sini. Bahkan lebih besar daripada orang-orang dewasa.


Ya... bahkan daripada Getz.


"A-apa yang kamu katakan!? Membela perempuan menjijikkan yang penuh luka itu? Dasar bodoh!"


"Benar! Lagi pula dia cocok sekali dengan orang bodoh sepertimu!"


Karena marah oleh ucapannya, mereka semakin menghujaninya dengan cacian.


Aku merasa sangat bersalah. Aku begitu menyedihkan. Aku ingin menghilang saat itu juga. Namun...


"Hei... jangan-jangan mata kalian sudah busuk? Menjijikkan? Bagian mana?"


Dengan nada heran, anak laki-laki itu berkata demikian.


Padahal sudah jelas.


Siapa pun pasti tahu kalau aku yang penuh luka ini jelek.


"Apa yang kamu bilang? Sekali lihat saja sudah jelas perempuan itu jelek."


"Benar. Dibanding dia, kami jauh lebih..."


"Iya. Dia jauh lebih imut."


"...!?"


"Hahhhhh?!"


Mendengar ucapannya, aku refleks menahan napas.


Anak-anak bangsawan di sekeliling pun ikut tercengang.


A-apakah aku tidak salah dengar?


Dia bilang...Aku lebih imut?


"Sudah kuduga kamu memang bodoh! Mana mungkin perempuan penuh luka seperti itu imut..."


"Tidak. Dia memang imut. Imut banget. Justru aneh kalau kalian tidak bisa melihatnya. Mata kalian benar-benar bermasalah."


"Hah!? Jangan bercanda!"


"Mana mungkin kami kalah dari perempuan seperti itu!"


"Iya!"


Suara pertengkaran memenuhi aula dengan kami sebagai pusatnya. Namun dia tetap memasang wajah santai.


Atau mungkin lebih tepatnya...ia benar-benar merasa heran.


"Lho?"


Ia mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat dan memperhatikanku baik-baik. Lalu ia tersenyum.


"Hm... ya. Dilihat dari sudut mana pun, kamu benar-benar imut banget."


"T-tapi... aku... seperti yang mereka bilang... tubuhku penuh luka... sama sekali tidak imut..."


"Tidak begitu. Luka-luka seperti itu tidak mungkin bisa menyembunyikan betapa imutnya dirimu."


"Ah..."


Tak peduli seberapa keras aku menyangkal, dia selalu membantahnya.


Meskipun tubuhku penuh luka...dia tetap mengatakan aku imut. Dan untuk membuktikan bahwa ucapannya bukan kebohongan...


Ia menatapku lurus dengan mata abu-abunya yang jernih.


"Hiks... uee... ueeeeeeeen..."


"Hah!? Jangan menangis dong!?"


Karena terlalu bahagia, aku pun menangis.


Dia terus panik sambil berusaha menghiburku.


Anak laki-laki pertama…dan satu-satunya...yang pertama kali memperlakukanku dengan lembut sejak aku lahir.


Itulah pertemuan pertamaku...


Dengan anak laki-laki paling luar biasa di dunia—Nico-san.


◇◆◇◆◇


"Sudah lebih tenang?"


"Hiks... I-iya..."


Setelah akhirnya aku berhenti menangis, ia dengan lembut menyodorkan sapu tangan kepadaku.


Dari ekspresi dan sikapnya yang penuh perhatian, aku semakin yakin bahwa dia benar-benar orang yang baik.


Lalu...


"Astaga... aku pikir kenapa tunanganku menghilang..."


"Ah, maaf, maaf."


Tiba-tiba muncul seorang gadis berambut perak panjang dengan ekspresi sedikit kesal.


Kulitnya putih bening. Sangat berbeda denganku yang dipenuhi bekas luka. Melihatnya saja sudah membuatku sadar betapa menyedihkannya diriku.


Terlebih lagi, mata biru mudanya yang memandangku dipenuhi rasa jijik. Tatapan itu dengan jelas mengatakan bahwa dunia kami berbeda.


"Nico, ayo ke sana. Kalau terus begini nanti kamu juga bakal kena masalah..."


"...Aku tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu darimu, Lea."


"...! M-maaf..."


Saat gadis itu—Lea—menarik lengannya hendak membawanya pergi, dia menjawab dengan nada kecewa.


Lea buru-buru meminta maaf. Namun itu bukan karena merasa bersalah kepadaku.


Ia hanya takut dibenci olehnya.


Tatapan yang diarahkan kepadaku tetap penuh penolakan.


Tidak...justru karena dia membelaku, rasa jijik di mata Lea berubah menjadi permusuhan.


Namun...


(Hehe... jadi namanya Nico-san ya...)


Aku begitu senang akhirnya mengetahui namanya.


Aku begitu bahagia karena dia telah melindungiku.


Tatapan perempuan itu sama sekali tidak menggangguku.


Aku hanya terus menikmati kehangatan pertama yang pernah kuterima dalam hidupku. Mengulang-ulangnya dalam hati, seolah sedang mengecap rasa manisnya.


Meskipun aku tahu...perhatian Nico-san tertuju pada tunangannya, Lea.


"Pokoknya ayo. Di sana ada makanan yang kelihatannya enak sekali."


"Serius? Ayo!"


Mendengar itu, mata Nico-san langsung berbinar.


Melihat kepolosannya saja sudah cukup membuat jantungku berdebar.


"Hei! Kamu juga ikut..."


"Nico! Cepat!"


"Wah!? Hei!?"


Nico-san hendak mengulurkan tangan kepadaku. Namun Lea menyeretnya pergi dengan paksa.


Ia pun menjauh dari tempat itu.


Begitu dia pergi, rasa sepi, sedih, dan kerinduan kepadanya langsung menyerbu hatiku. Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah memandanginya dari kejauhan.


Tetapi, selama aku masih memiliki kenangan bahwa Nico-san pernah mengajakku tanpa memedulikan tatapan orang-orang maupun keberatan Lea...


Aku pasti bisa terus bertahan.


...Tidak. Mustahil aku merasa puas hanya dengan itu.


Kalau ingin bertemu lagi dengan Nico-san...


Aku tidak boleh terus seperti ini.


Saat aku membulatkan tekad sambil memandangi dirinya yang sedang lahap menikmati makanan dari kejauhan...


"...Eh?"


Aku melihatnya.


Padahal karena cemburu Lea tadi memisahkanku dari Nico-san...namun kini justru Lea terpaku menatap pria lain yang berambut dan bermata biru.


"...Tak bisa kumaafkan."


Padahal dia menerima begitu banyak perhatian dari Nico-san. Namun dia malah terpikat oleh pria lain.


Padahal Nico-san begitu luar biasa.


Namun dia malah mengabaikannya.


Karena itu...


"Aku... akan menjadi lebih kuat...!"


Agar suatu hari nanti aku pantas berdiri di sisi Nico-san.


Agar bisa menyingkirkan Lea yang tidak pantas berada di sisinya...


Dan semua wanita lain di sekelilingnya.


Aku menatap Lea dengan sorot mata yang seolah ingin membunuhnya, sambil mengepalkan tinjuku sekuat tenaga.


Tanpa menyadari bahwa niat membunuh yang memancar dari tubuhku telah membuat semua anak bangsawan yang tadi mengejekku terjatuh ke lantai sambil mulut mereka berbusa.


◇◆◇◆◇


"...Justru karena bertemu dengan Nico-san, aku bisa menjadi sekuat ini."


Sambil memanggul battle axe di bahuku, aku tersenyum kecil, mengenang hari pertama saat bertemu dengan Nico-san.


Demi bisa bertemu dengannya lagi, dan demi menyingkirkan Lea dari sisinya, aku terus mengejar kekuatan tanpa henti.


Hasilnya, aku menjadi lebih kuat daripada siapa pun. Aku pun memberikan penghinaan terbesar kepada Getz, orang yang selama ini mencaci, menghina, dan menyebutku sebagai aib keluarga Baltzer.


Sekarang, seluruh kekuasaan keluarga Baltzer berada di tanganku.


Getz bagaimana?


Tentu saja aku menjadikannya budak kelas paling rendah. Karena lebih praktis begitu, untuk sementara aku masih membiarkannya tetap menyandang gelar Margrave.


"Sekarang aku memang sudah bisa mengenal Nico-san, tapi... butuh waktu yang sangat lama untuk menyelidikinya..."


Hal pertama yang kulakukan setelah menguasai keluarga Baltzer adalah mengumpulkan informasi tentang Nico-san.


Bagaimanapun juga, satu-satunya hal yang kuketahui saat pesta perkenalan dulu hanyalah nama panggilannya, "Nico".


Aku ingin tahu lebih banyak lagi... seperti usianya, hobinya, ukuran tubuhnya, susunan keluarganya, hubungan pertemanannya, tentu saja Lea harus disingkirkan, dan kalau masih ada perempuan lain di sekitarnya, Nico hanya milikku, jadi tak akan kuberikan kepada siapa pun. Aku tak akan pernah memaafkan perempuan sialan seperti itu. Wajah mereka harus kuhancurkan sampai tak bisa dikenali lagi. Di samping Nico hanya boleh ada aku. Tidak, memang hanya aku yang boleh berada di sana. Mulai sekarang aku akan selalu bersamanya. Aku akan menjaganya selama dua puluh empat jam agar dia tak bisa pergi ke mana pun. Dari pagi, siang, malam, dari ucapan selamat pagi sampai selamat tidur, aku akan mencintainya sepenuh hati setiap saat...


...Ah, tidak boleh. Aku malah melantur lagi.


Kalau sedang memikirkan Nico-san, perasaanku memang selalu sulit dikendalikan.


Sambil memendam perasaan itu, aku mengerahkan seluruh kekuatan keluarga Baltzer untuk mengumpulkan informasi tentangnya...


Tapi...


(Hanya keluarga Marquis Friedland yang benar-benar tidak bisa kutembus...)


Aku berhasil memperoleh informasi dari seluruh Kekaisaran, bahkan sampai ke dalam Istana Kekaisaran.


Namun anehnya, setiap mata-mata yang kukirim ke keluarga Friedland tidak ada satu pun yang kembali.


Mungkin memang ada sesuatu yang luar biasa pada keluarga itu. Namun di sisi lain, hal itu juga membuatku yakin bahwa keluarga Friedland memang rumah asal Nico-san.


Yah, saat aku menyelidiki keluarga Kleinert—keluarga wanita itu—aku berhasil memastikan kebenarannya.


Setelah itu, demi bisa sedekat mungkin dengan Nico-san, di Akademi Kekaisaran Luminous aku mendekati Josephine-sama dan menjadi salah satu pengikutnya agar punya alasan untuk datang ke kelas Nico-san.


Sayangnya, Nico-san sudah tidak mengingatku.


Meski begitu...


Hanya dengan memandanginya. Hanya dengan menghirup udara yang sama dengannya...


Aku sudah merasa sangat bahagia.


...Rahasia ya, tapi karena tak bisa menahan diri, aku pernah diam-diam mengubur wajahku ke seragam olahraganya, membawa pulang sampah miliknya, bahkan menjilat meja dan kursinya.


"Hanya Lea Kleinert yang telah membuat Nico-san bersedih dan menderita... dialah satu-satunya yang tidak akan pernah kumaafkan."


Perempuan tak tahu malu yang dengan santainya berdiri di samping Nico-san—satu-satunya keberadaan yang tak tergantikan di dunia ini, sosok terindah, satu-satunya, bahkan dewa pun akan bertekuk lutut di hadapannya.


Meski begitu, dia mengkhianati Nico-san dan malah memilih Julian Retzel, pria tak berarti yang hanya kebetulan merupakan anak haram keluarga kekaisaran.


Mana mungkin aku bisa memaafkan perempuan seperti itu.


Tapi sebelum itu...


"Setidaknya aku harus membersihkan tempat ini dulu."


"Apa!? Siapa kau!?"


Saat aku menghancurkan tembok yang mengelilingi kediaman keluarga Marquis Retzel yang seleranya buruk itu, dua orang ksatria penjaga gerbang menghunuskan pedang ke arahku.


Jadi...Mereka memang ingin mati, ya.


"Hehe... Aku Emma Baltzer dari keluarga Margrave Baltzer."


Sambil menempelkan ujung jari kelingking ke bibir dan tersenyum, aku mengayunkan battle axe dengan santai.


"Guaaahhhhhhh!?"


Ksatria itu menjerit menyedihkan sebelum tubuhnya terlempar jauh.


Bagian seperti ini benar-benar sama dengan Getz yang tidak becus. Sikapnya besar, tapi kemampuannya tidak seberapa.


Setelah itu...


"Berhenti! Berhentilah!"


"Hei! Cepat panggil bala bantuan! Kita sudah tidak sanggup lagi!"


Setelah menghancurkan seluruh tembok dan mulai mengincar bangunannya, semakin banyak ksatria bermunculan untuk menghentikanku mati-matian.


Kalau diperhatikan baik-baik, ada beberapa orang yang tampak mencurigakan bercampur di antara para ksatria.


Kalau orang-orang seperti itu berada di sini, berarti Marquis Retzel memang bukan orang yang benar.


Meski begitu...


"Itu tidak ada hubungannya denganku."


"Hiiiii!"


"Monster! Tolong...!?"


Aku melumpuhkan seluruh bala bantuan yang datang silih berganti.


Pada akhirnya mereka berteriak seperti itu dan lari tunggang-langgang.


Menyebutku monster...kurang ajar sekali.


Benar-benar mengganggu.


"...Sudah cukup. Jangan menghalangiku lagi."


"!!"


Saat kulemparkan tatapan penuh niat membunuh kepada mereka, semua orang di depanku langsung berbusa di mulut dan roboh ke tanah.


Hmm. Harusnya dari tadi saja kulakukan begini.


"Meski begitu... jumlah mereka memang banyak, tapi bahkan lebih lemah daripada sampah."


Bahkan orang-orang di wilayah Baltzer masih ada dua puluh persen yang mampu bertahan dari tekanan niat membunuhku.


Latihan mereka benar-benar kurang.


Yah, orang-orang rendahan yang hanya bisa bergerak di balik layar memang cuma segini kemampuannya.


"Baiklah, sekarang pengganggunya sudah tidak ada."


Aku menatap rumah besar di depanku sambil menggenggam battle axe dan menyemangati diri.


Namun saat itu...


"Astaga. Pantas saja begitu berisik. Jadi ini ulahmu rupanya?"


Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.


Aku perlahan menoleh.


Di sana berdiri seorang wanita dengan mata berwarna amber yang tersenyum ramah.


Di tangan kanannya, ia mencengkeram kerah seorang pria gemuk setengah baya yang terus mengerang kesakitan.


(...Tak kusangka ada seseorang yang bisa menyelinap ke belakangku.)


Sudah bertahun-tahun hal seperti ini tidak pernah terjadi.


Artinya...Wanita ini sangat kuat. Mungkin setara denganku.


"Maaf... boleh aku bertanya? Siapa Anda?"


"Hehe, sebenarnya siapa pun aku tidak penting. Tapi tentu saja kau tidak akan puas dengan jawaban seperti itu."


Wanita itu berkata dengan nada ceria.


Aku menggenggam battle axe lebih erat sambil membalas senyumannya.


"Benar. Aku ada urusan dengan pria gemuk itu. Kalau tidak salah... dia Marquis Retzel, kan?"


"Astaga... kuduga memang begitu. Jadi tujuanmu pria ini rupanya..."


Sambil menyentuh pipinya, wanita itu menghela napas pelan dengan wajah muram.


Jadi...dia tidak berniat menyerahkan Marquis Retzel kepadaku.


"Lebih tepatnya, dia juga termasuk targetku. Nah, bagaimana? Kalau perlu aku tidak keberatan menggunakan kekerasan."


"Tunggu."


Tepat ketika suasana hampir meledak, muncul seorang pria paruh baya berwibawa dan seorang pemuda bermata tajam.


Di samping mereka berdiri seorang pria tua berjas tuksedo hitam yang membawa dua pemuda dengan tangan dibelenggu kayu.


Tak perlu dijelaskan lagi.


Kedua orang itu adalah...Lea dan Julian.


"Syukurlah. Sepertinya kalian berhasil menangkap mereka."


"Ya. Mereka berdua berada di townhouse keluarga Kleinert."


Wanita itu tersenyum, dan pemuda tersebut mengangguk.


Dilihat dari penampilan mereka, hubungan mereka lebih cocok disebut ibu dan anak daripada atasan dan bawahan.


Namun...kalau seluruh keluarga mereka ikut turun tangan terhadap keluarga Retzel...


"Lalu."


Pemuda itu menoleh ke arahku.


"Dari seragam Akademi Kekaisaran yang kau kenakan, sepertinya usiamu kurang lebih seumuran dengan adikku."


"Adik Anda?"


"Ya. Namanya Nicholas."


Setahuku, di Akademi Kekaisaran hanya ada satu orang bernama Nicholas.


Yaitu...Nico-san.


Dan mereka juga menangkap Lea dan Julian.


...Kalau begitu...


Sepertinya aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar.


"E-eh... jangan-jangan... Anda adalah kakak Nico-san...?"


"Benar. Dan yang ini..."


"Huhu, aku Sabine, ibu Nico."


Begitu mengetahui bahwa aku mengenal Nico-san, niat membunuh wanita itu menghilang.


Sebaliknya, Ibu Sabine tersenyum lembut.


Ya. Sekarang sudah pasti. Aku benar-benar telah membuat kesalahan. Kalau begitu...


"Maafkan saya!"


Yang harus kulakukan sekarang hanya satu.


Bersujud meminta maaf.


Ya. Meminta maaf dengan sepenuh hati. Bahkan saat disiksa Getz dulu, aku belum pernah sampai melakukan hal seperti ini.


"Astaga, tidak apa-apa. Justru kami yang minta maaf karena tidak tahu kalau kau kenalan Nico."


Ibu Sabine tertawa lepas sambil menepuk bahuku. Namun entah kenapa, tekanan yang kurasakan darinya jauh lebih mengerikan daripada niat membunuh.


"Kalau begitu, kurasa tujuan kita sama. Kita datang untuk membuat orang-orang yang telah menyakiti Nico merasakan neraka, bukan?"


"Masa sih... Neraka saja terlalu ringan. Aku datang untuk membuat mereka menyesal sampai berharap lebih baik mati."


"Astaga♪ Ternyata memang sama."


Ibu Sabine mengangguk puas. Sebaliknya, wajah tiga orang di belakangnya semakin pucat.


"Pria ini menjadi besar kepala karena memegang kelemahan Kaisar. Ditambah lagi, dia mempermainkan keponakan Kaisar yang sebenarnya sudah diberi belas kasihan untuk tetap hidup meski hanya anak haram kakak Kaisar yang kalah dalam perebutan takhta. Tentu saja Kaisar sangat murka."


"Oh... begitu ya, Kaisar..."


Sejujurnya aku tidak peduli bagaimana perasaan Kaisar terhadap Marquis Retzel. Bagiku, dia hanyalah salah satu penyebab penderitaan Nico-san.


...Sepertinya sesuai rencana, Kaisar juga harus kubuat merasakan keputusasaan.


"Astaga, itu tidak boleh. Kalau begitu, Nico justru akan semakin menderita."


Rupanya niat membunuhku tanpa sadar bocor hingga Ibu Sabine memperingatkanku.


Kalau beliau sekuat ini...akan sulit bertindak sesuka hati.


"Tapi... aku tetap tidak bisa menerimanya. Penyebab utama semua ini hidup nyaman tanpa menerima hukuman apa pun. Bukankah itu cuma mengorbankan bawahan saja?"


"Aku mengerti. Maksudku hanya satu, yaitu ada cara yang lebih baik. Menyelesaikan semuanya dengan kekerasan bukan satu-satunya jalan."


"Kalau begitu..."


"Tentu saja Kaisar juga akan menerima rasa sakit yang setimpal."


Sambil tersenyum tipis, Ibu Sabine memandang Julian lalu membisikkan sesuatu di telingaku.


...Ah, begitu. Memang itu bisa menjadi cara yang bagus.


"Tapi... kalau begitu bukankah rencana itu hanya berhasil kalau pria itu masih punya nilai di mata Kaisar?"


"Benar. Tapi coba pikirkan baik-baik. Kenapa Kaisar membiarkan Marquis Retzel bertindak semaunya sampai sekarang... dan kenapa Julian Retzel masih bisa hidup dengan tenang."


"Begitu rupanya..."


Jadi Kaisar masih menyimpan rasa bersalah terhadap Julian. Padahal demi merebut takhta, Kaisar sendiri yang membunuh ayahnya.


Benar-benar munafik.


"Karena itu, kami memutuskan setidaknya membiarkan pria itu tetap hidup sampai ajal menjemputnya. Itulah batas maksimal kompromi yang bisa kami berikan."


Sambil berkata demikian, Ibu tersenyum masam, sedangkan Kakaknya memasang ekspresi muram.


Namun, dari nada bicaranya barusan... kalau saja Kaisar tidak mau menerima usulan itu, apakah Ibu Nico-san memang berniat menyingkirkan Kaisar?


"Kalau begitu, bagaimana dengan wanita itu?"


"Dia sendiri yang ingin bersama pria itu meski harus mengkhianati Nico. Kalau begitu, bukankah sudah seharusnya mereka tetap bersama sampai akhir?"


Begitu ya. Sampai maut memisahkan mereka.


Sungguh sangat... sangat "romantis."


"...Baiklah. Kalau begitu, aku juga akan menerima penyelesaian itu."


"Syukurlah kau mau mendengarkannya. Terus terang, menghadapi dirimu juga bukan perkara mudah."


Ibu mengangkat bahu, dan aku pun tersenyum sambil mengangguk.


Benar juga. Dibandingkan melawan Kaisar, bertarung melawan Ibu jelas jauh lebih merepotkan.


... Lagi pula, aku tidak mau sampai dibenci Nico-san, jadi aku sama sekali tidak berniat melakukan hal seperti itu.


"Kalau begitu, orang-orang ini akan kami bawa."


"Ya, silakan saja."


"T-tunggu! Kumohon... setidaknya ampuni nyawaku...!"


Marquis Retzel yang sejak tadi hanya gemetar ketakutan tiba-tiba memeluk kaki Ibu Nico-san yang sedang menyeretnya.


Wajahnya penuh air mata, ingus, dan air liur.


Benar-benar menjijikkan.


"Diam."


"Hiiih!?"


"...Apa ini bisa disebut kanibalisme? Setidaknya kau akan menjadi makanan bagi sesama babi. Bersyukurlah. Jacob."


"Baik."


"Tidaaaak! Aku tidak muuuuuuuu!!"


Marquis Retzel dipasangi belenggu oleh pria tua bernama Jacob—orang yang sebelumnya mengawal Lea dan Julian—lalu dilemparkan ke dalam kereta yang terparkir di depan rumah besar itu.


Setelah ini, mungkin dia benar-benar akan diolah agar mudah dimakan, lalu dikirim entah ke mana.


"Sayang, mari pulang."


"Hm."


Pria paruh baya yang selama ini hanya diam—ayah Nico-san—mengangguk kepada Ibu yang menggandeng lengannya.


Keduanya pun berjalan menuju kereta. Namun...


"Permisi. Sebelum itu, bolehkah aku meminta satu hal?"


"Oh? Apa itu?"


Ibu Nico-san menatapku dengan senyum lembut, meski matanya tampak sedikit heran.


Tenang saja. Aku sama sekali tidak berniat mengingkari janji sekarang.


"Aku ingin berbicara sebentar dengan Lea."


Ya...ada sesuatu yang harus kusampaikan kepada wanita itu.


Agar dia benar-benar mengerti betapa bodohnya dirinya...


Dan betapa tidak pantasnya dia berada di sisi Nico-san.


"Tentu saja boleh. Kurasa kau juga punya banyak hal yang ingin kau katakan."


Ibu tersenyum lalu membawaku ke hadapan Lea.


Lea sendiri menundukkan kepala sambil gemetar ketakutan.


Namun...


"Hehe... bagaimana perasaanmu sekarang?"


"A-anu...!"


Melihatku membungkuk mendekat, Lea mengangkat wajahnya seolah telah membulatkan tekad.


Apa dia mau memohon agar dibiarkan hidup? Kalau begitu, aku harus memberitahunya bahwa dia memang akan tetap hidup.


Tentu saja, bukan berarti hidupnya akan bahagia.


Begitulah yang kupikirkan. Namun…


"Aku tidak peduli apa yang terjadi padaku! Tapi... tolong... selamatkan Julian saja...!"


"...Apa?"


Wanita ini...dalam keadaan seperti ini pun masih mengatakan hal semacam itu? 


Padahal dia sudah mengkhianati Nico-san. Masih saja ingin berlagak sebagai pahlawan wanita yang tragis?


Benar-benar membuatku muak.


"Sudah, diam saja."


"Hii!?"


Ah, tidak bagus. Karena terlalu marah, aku tanpa sadar kembali menggunakan gaya bicaraku yang asli.


Padahal cara terbaik membuat wanita ini putus asa bukan dengan rasa takut, melainkan membuatnya benar-benar sadar.


"Nggak usah khawatir. Kalian berdua akan tetap bersama selamanya kok. Ibu tadi sudah mengatakannya."


"Ah..."


Dasar wanita bodoh. Dia malah tampak lega. Seolah-olah merasa telah diselamatkan.


Padahal...mana mungkin begitu.


"Oh ya, perlu kukatakan juga... kalian memang akan selalu bersama. Tapi yang menanti kalian hanyalah penderitaan. Sampai-sampai kalian akan berharap bisa mati saat itu juga."


"!!"


Tahukah kalian?


Dalam hukuman mati atau penyiksaan, penderitaan bukan hanya saat menjalaninya.


Waktu menunggu yang tak bisa dihindari sebelum hukuman itulah yang justru paling menyiksa.


Jadi...gunakan waktu itu sepuasnya untuk menyesal.


"Kalian pasti tahu kenapa semua ini terjadi, tapi akan kukatakan juga... Semua ini karena kau mengkhianati, melukai, dan meninggalkan Nico-san—satu-satunya sosok paling luar biasa di dunia—lalu memilih pria rendahan seperti ini."


Hehehe...kelihatan sekali dia mulai terpukul.


Saat rasa takut sudah memenuhi hati, lalu diberi tahu bahwa semua ini adalah balasan atas perbuatannya...


Tentu saja dia akan menyesal. Namun...


"A-aku tidak pernah mengkhianati Nico... semuanya... tidak bisa dihindari..."


Lea mengalihkan pandangannya.


Dia memang merasa bersalah. Tetapi tetap ingin menganggap dirinya tidak salah.


Karena menurutnya...dia punya alasan.


Namun...


"Alasanmu itu... karena keluargamu terlilit utang lalu Julian membelimu, ya?"


Kalau memang semua itu sudah direncanakan sejak awal atas persetujuan kedua belah pihak, ceritanya tentu berbeda.


"...Ya."


"...! J-jangan berca—"


"Siapa yang mengizinkanmu bicara?"


"Uh..."


Julian sempat maju dengan marah. Namun setelah kutatap tajam, dia langsung ciut dan menundukkan kepala.


Hehe...berkat kebodohan Lea, hubungan mereka mulai retak.


Lumayan juga.


"Begitu ya. Jadi meskipun kau mendekati Julian karena utang keluargamu, menurutmu itu bukan pengkhianatan. Hebat sekali."


"...! K-kenapa..."


"Hehe... tepat sasaran, ya?"


Benar. Lea mulai menyukai Julian jauh sebelum keluarga Count Kleinert bangkrut dan terlilit utang.


Dengan kata lain...


Sejak awal wanita ini sudah mengkhianati Nico-san.


"Kau juga sangat senang, ya? Hanya karena seorang wanita yang kebetulan mendengar keluh kesahmu di belakang gedung sekolah yang sepi lalu bersikap baik kepadamu."


"Bagaimana kau bisa tahu itu!?"


"Kenapa? Aku hanya merasa begitu saja."


Julian tampak sangat terkejut.


Padahal meski bagian belakang gedung sekolah memang sepi, kalau setiap hari dia mengeluh di sana sambil menganggap dirinya tokoh utama dalam kisah tragis, bukan hal aneh kalau seseorang akhirnya mendengarnya.


Benar-benar bodoh.


"Lalu demi mendapatkan Lea yang kau sukai sejak saat itu, atas saran seseorang kau sengaja membuat keluarga Kleinert terlilit utang dan memojokkan mereka, bukan?"


"Ah... uh..."


Karena semua rahasianya terbongkar, Julian benar-benar kehilangan kata-kata.


Tapi, mengapa Lea bisa muncul di tempat yang seharusnya jarang didatangi orang itu?


Hehehe….Mungkin ada seseorang yang sengaja membisikkan informasi itu ke telinganya.


Sama seperti orang yang memberi ide kepada Julian.


Kira-kira siapa ya?♪


"Yah, berkat semua itu aku jadi bisa sedekat ini dengan Nico-san. Jadi aku hanya bisa berterima kasih."


"...! J-jangan bilang...!"


Sepertinya Lea akhirnya menyadari sesuatu.


Namun...sudah terlambat.


"Hehe... tapi syukurlah, bukan? Akhirnya kau bisa bersama pria yang sudah membuatmu berpaling sejak pesta perkenalan tujuh tahun lalu. ...Dengan mengkhianati Nico-san."


Ya, wanita ini memang telah mengkhianatinya. Selama tujuh tahun...selagi terus berdiri di sisinya.


"...Kalau saja kau berhenti dan membuat Nico-san bisa hidup bahagia... sebenarnya aku berniat menyerah. Tapi..."


"Ah... aaah..."


"Kau sama sekali tidak mengecewakan harapanku! Kalau kau benar-benar sedikit saja mencintainya, kau tidak mungkin berpaling kepada sampah seperti ini dan merencanakan hal serendah itu!"


"Tidakkkkkkk!!"


Menangis...Berteriak...Menyesal...


Semuanya sudah terlambat.


Meskipun akulah yang telah menyiapkan semua keadaan ini. Kalau memang dia benar-benar mencintai Nico-san, semua ini tidak akan pernah terjadi.


Karena itu, terimalah balasanmu sepuasnya.


"Kalau begitu, selamat tinggal untuk selamanya. Aku pasti akan membuat Nico-san bahagia. Kalian berdua silakan menderita sampai hari kematian kalian."


Aku meletakkan tangan di dada lalu membungkuk dalam-dalam.


Namun karena terlalu bahagia...


Aku benar-benar tidak sanggup menahan tawaku.


Baiklah, urusan Lea dan Julian sudah selesai. Sekarang tinggal biarkan mereka hidup di dunia yang telah disiapkan Ibu Nico-san...bersama sampai maut memisahkan mereka.


"...T-tunggu! Anak buah keluarga Retzel tersebar di seluruh Kekaisaran! Kalau terjadi sesuatu padaku, semua skandal Kaisar akan terbongkar sekaligus...!"


"Astaga... kau masih bermimpi seperti itu?"


Julian mencoba menghentikanku yang hendak pergi.


Namun Ibu, yang sejak tadi hanya mengawasi dengan tenang, mengusap dagunya pelan menggunakan jari.


Julian langsung menelan ludah.


Pria ini benar-benar bodoh. Masih saja menolak menghadapi kenyataan.


"Mata-mata keluarga Retzel? Tentu saja mereka sudah kami habisi sejak lama."


"Tidak mungkin! Bahkan kalian tidak mungkin tahu siapa saja mata-mataku!"


"Tentu kami tahu. Bahkan tanpa urusan Nico pun, kami sudah mengetahui semua anggota organisasi yang suka bermain sebagai dalang di balik layar."


Melihat Julian berteriak kebingungan, Ibu hanya mengangkat bahu seolah itu hal yang wajar.


Ibu memang sangat kuat. Sepertinya beliau juga mengenal Kaisar. Tak heran jika pengetahuannya tentang dunia gelap Kekaisaran jauh melampaui Marquis Retzel.


Aku sendiri pernah mencoba menyelidiki Nico-san dan keluarganya dengan mengerahkan orang-orang keluarga Baltzer. Namun...


Tak satu pun dari mereka pernah kembali.


"Jadi, menyerahlah dengan tenang... Ah, benar. Hampir saja aku lupa sesuatu yang penting."


Ibu menyunggingkan senyum tipis lalu mendekatkan wajahnya kepada Julian.


"Ini pesan dari Kaisar yang sangat kau benci. Katanya, ‘Tempuhlah jalan yang sama seperti ayahmu.’"


"Ah... aaah..."


Begitu ya, benar-benar pukulan penutup yang sempurna. 


Julian adalah pria yang sepanjang hidupnya terombang-ambing oleh kenyataan bahwa dirinya adalah anak haram keluarga kekaisaran, dan terobsesi akan hal itu.


Kini, nasibnya dipastikan akan berakhir sama seperti ayah kandungnya.


Pada akhirnya, tak ada satu pun hal yang berhasil ia raih.


Hatinya pun hancur berkeping-keping.


"Hehe, sekarang sudah cukup?"


"Ya! Aku sangat puas!"


"Syukurlah."


Ibu tersenyum lembut lalu naik ke kereta dengan dikawal Ayah.


"Kalau begitu, sampai jumpa."


Ibu melambaikan tangan dari jendela kereta.


Kereta yang membawa Ibu, Ayah, dan ketiga tawanan itu pun melaju pergi.


Yang tersisa di tempat itu, selain orang-orang keluarga Retzel yang bergelimpangan, hanyalah aku dan Kakak Nico-san.


Melihat wajah Kakak yang mengernyit, sepertinya beliau akan membereskan semua kekacauan di sini.


"Kalau begitu, apa rencanamu sekarang?"


"Tentu saja kembali ke asrama. Besok masih ada kelas."


Aku menjawab sambil tersenyum.


Akademi Kekaisaran adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa bertemu Nico-san.


Karena itu...sekalipun bencana besar terjadi, bahkan jika dunia akan kiamat...tetap bukan alasan bagiku untuk tidak pergi.


"Begitu ya... Tolong terus jaga Nico mulai sekarang."


"H-hah!? A-apa!?"


A-apa yang harus kulakukan!?


Kakaknya Nico-san... meminta tolong kepadaku!?


T-tentu saja aku akan menjaga Nico-san sepenuh hati!


Tapi... tapi...bukankah ini berarti keluarganya sudah mengakuiku!? Benar, kan!?


"Y-ya! Mohon bimbingannya juga untuk waktu yang sangat lama!"


Aku langsung membungkuk sedalam mungkin, sampai rasanya tubuhku hampir membentuk sudut seratus delapan puluh derajat.


Bagaimanapun juga, beliau nantinya akan menjadi kakak iparku.


"Kalau begitu, permisi."


Kakak menaiki kudanya lalu memacu pergi menuju Istana Kekaisaran.


Aku melambaikan tangan lebar-lebar untuk mengantarnya.


Baiklah, sekarang semuanya sudah selesai.


Pengganggu bernama Lea Kleinert juga sudah benar-benar tersingkir.


Mulai besok aku akan mendekati Nico-san dengan segenap kemampuanku! Lalu...


"Hehe♪"


—Aku pasti... pasti akan menjadikan Nico-san hanya milikku seorang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close