NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

NTR Eroge ni Tensei Shite Kon'yakusha o Netorareta Ore o Sukutta no wa, Chijou Saikyou no Torimaki Mobu Joshi A Deshita V1 Chapter 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 2

Pria Selingkuhan Kedua adalah Seorang Otaku Gendut yang Menjijikkan

"Hari ini juga sepertinya tidak ada gerakan yang mencurigakan."


Seminggu setelah pria berandal itu dikeluarkan dari akademi, sepulang sekolah.


Sambil mengintip ke dalam kelas sebelah, aku mengangguk puas.


Sebenarnya, salah satu pria perebut berada di kelas itu, jadi setiap hari aku mengawasinya.


Cara pengawasannya bukan hanya mengintip dari luar kelas agar tidak ketahuan. Kebetulan Josephine dan dua pengikutnya merupakan teman sekelas pria itu, jadi aku memanfaatkan hal tersebut dengan berpura-pura punya urusan dengan mereka dan datang ke kelas itu setiap hari untuk mengamatinya.


Namun...


"Dia datang lagi...."


"Bukankah tunangannya hampir diserang anak kelas D dan sekarang sedang cuti dari sekolah? Tapi dia malah rajin datang ke kelas ini demi menemui nona bangsawan lain. Keterlaluan juga, ya...."


"Walaupun Josephine-sama memang orang yang luar biasa, tetap saja...."


Akibatnya, aku dicurigai macam-macam oleh orang-orang di sekitarku dan sekarang rasanya seperti duduk di atas tikar berduri. Sial, tatapan mereka benar-benar menyakitkan.


"Haaah... reputasimu makin memburuk, tahu? Aku mengerti kalau bukan seperti yang dirumorkan orang, tetapi setidaknya tahan dirilah sedikit."


Begitulah, setiap kali bertemu, Josephine selalu menghela napas dan menegurku seperti ini.


Karena aku tahu itu semua berasal dari niat baiknya, aku hanya bisa menerimanya sambil merasa sedikit bersalah.


"Ngomong-ngomong, tunangan Nicholas-san masih belum kembali ke sekolah, ya."


Emma berkata demikian dengan nada bicara santainya yang khas.


Memang aku paham Lea mengalami syok setelah hampir diserang pria berandal itu. Namun kalau dipikir-pikir, yang dialaminya hanyalah lengannya ditarik paksa dan dadanya diraba.


Bukan berarti ia mengalami luka yang begitu parah. Jadi seperti yang dikatakan Emma, seharusnya sudah waktunya ia kembali masuk sekolah.


"...Mungkin ada alasan kenapa dia belum bisa kembali."


Pengikut B... maksudku Rosa, berkata datar tanpa ekspresi.


Kalau dipikir-pikir, rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar suaranya.


Tapi alasan tidak bisa kembali ke sekolah, ya....


Aku malah bisa memikirkan banyak kemungkinan.


Misalnya, dengan memanfaatkan masa cuti sekolah untuk terus menjalani "pelatihan" bersama pria perebut lain sehingga memang tidak punya waktu datang ke akademi....


...Tidak, rasanya kemungkinan itu terlalu berlebihan.


Selama seminggu terakhir aku terus mengamati tiga pria perebut lainnya selain pria berandal tadi, dan mereka semua tetap hadir ke akademi seperti biasa.


Lagi pula sekarang Lea berada di wilayah keluarga Count Kleinert. Tempat itu cukup jauh dari akademi ini.


"Pokoknya, untuk sementara jangan datang lagi ke kelas ini.... Meskipun aku mengerti kau mengkhawatirkan tunanganmu. J-Jadi mulai besok, kamilah yang akan datang ke kelasmu."


Setelah berkata begitu, Josephine memalingkan wajahnya.


Kalau diperhatikan baik-baik, telinganya merah padam.


"Yah, benar juga. Siapa tahu Pangeran Lambert yang sibuk itu besok datang ke akademi untuk sedikit bersantai."


"A-Apa yang sedang kau katakan!?"


Saat aku menggodanya sedikit, Josephine langsung berteriak.


Bukan hanya wajah dan telinganya yang memerah, bahkan lehernya pun ikut merah. Namun sudut bibirnya tampak begitu rileks hingga jelas-jelas tidak bisa menyembunyikan rasa antisipasinya.


Berbeda dengan tunanganku, syukurlah heroine seri VIII masih belum direbut pria lain.


"...Jangan-jangan... Nicholas-san mulai berubah pikiran dan malah menyukai Josephine-sama, ya?"


"Hah? Mana mungkin."


Entah kenapa Emma menatapku dengan mata setengah menyipit sambil bertanya seperti itu.


Aku langsung menjawab dengan wajah heran.


Saat itu.


"Guhehe."


Seorang murid laki-laki bertubuh pendek dan gempal, mirip Humpty Dumpty, menoleh ke arah kami sambil menyeringai menjijikkan.


Dengan rambut yang bentuknya seperti buah nanas, dialah salah satu pria perebut Lea, Hugo Knapp.


Di Broken Days of Luminous III, dia adalah tipe pria otaku mesum. 


Modusnya adalah diam-diam memotret Lea dalam keadaan yang memalukan, lalu mengancam akan menyebarkan foto-foto tersebut agar Lea menyerah kepadanya.


Mungkin terdengar aneh karena dunia ini adalah dunia fantasi bergaya Eropa abad pertengahan, tetapi memiliki alat pemotret.


Namun sebenarnya Hugo memiliki latar belakang sebagai teknisi sihir jenius.


Karena itulah ia mampu membuat sendiri alat yang menyerupai kamera superkecil dari kehidupan masa laluku, dan di dalam game ia menggunakannya untuk memotret berbagai keadaan memalukan Lea.


Benar-benar pemborosan bakat. Sebagai tambahan, lokasi pemotretannya adalah kamar Lea di asrama, kamar mandi, dan juga toilet.


Artinya...


(Jadi di dalam game, orang ini benar-benar menyusup ke asrama putri....)


Karena para putra dan putri bangsawan tinggal di asrama, tempat itu dijaga ketat oleh para penjaga.


Meski begitu, entah bagaimana caranya ia berhasil menyusup dan memasang kamera-kamera kecil itu.


Bagaimanapun juga, aku harus menghentikannya sebelum ia sempat melakukan hal semacam itu. Lagi pula, kamera yang keterlaluan seperti itu harus kusita.


...Perlu kujelaskan dulu, walaupun aku memang bisa memanfaatkan kamera itu untuk berbagai hal, bukan berarti aku berniat menggunakannya untuk mengintip, ya?


(Oh ya, aku hampir lupa memeriksa status hari ini.)


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Hugo yang hendak meninggalkan kelas, lalu melakukan pemeriksaan status yang belakangan ini sudah menjadi rutinitas harianku.


――――――――――――――――――――  

Nama: Hugo Knapp  

Jenis Kelamin: Pria  

Usia: 16  

Ras: Manusia  

Pekerjaan: Putra Count (siswa)  

Skill: 【Teknisi Sihir Kelas Spesial】  

Jumlah Pasangan: 1 orang  

Tingkat Perkembangan (Mulut): 7  

Tingkat Perkembangan (Dada): 31  

Tingkat Perkembangan (Vagina): 0  

Tingkat Perkembangan (Pantat): 24  

Tingkat Kesukaan: 30  

――――――――――――――――――――


Sial. Bajingan ini ternyata sudah berhasil memangsa salah satu gadis.


Namun, aku ingat kalau saat terakhir kulihat statusnya sepulang sekolah kemarin, hampir semua parameternya, termasuk jumlah pengalaman seksualnya, masih nol. Berarti setelah itu pasti telah terjadi sesuatu.


"...Maaf. Aku pulang dulu."


"E-Eh, tunggu sebentar, ada apa sebenarnya!?"


Mungkin karena menyadari suasana hatiku berubah, Josephine tampak kebingungan.


Mungkin dia mengira aku tersinggung karena tadi dia menyuruhku agar tidak datang ke kelas ini.


"Yah, sebenarnya aku baru ingat ada urusan yang sempat kulupakan. Cukup mendesak, jadi aku harus buru-buru."


"B-Begitu ya..."


Tak ingin membuatnya merasa bersalah, aku sengaja menyampaikan alasan bohong itu dengan nada ceria.


Mendengarnya, Josephine memperlihatkan wajah lega. Syukurlah, kesalahpahaman itu berhasil diluruskan.


Bagaimanapun juga, aku tidak ingin membuat seorang heroine kesulitan hanya karena salah paham.


Karena itu, aku segera kembali ke kelasku, mengambil tas, lalu berniat mengejar Hugo... tapi...


"Aku juga ikut ya~."


"Emma!?"


Ternyata Emma sudah selesai bersiap pulang dan menungguku sambil tersenyum di depan kelas.


Sepertinya dia berniat ikut membuntuti Hugo.


"T-Tunggu dulu, memangnya kau tahu aku mau pergi untuk apa!?"


"Tahu kok~. Kita mau mengikuti Hugo dari kelasku, kan?"


Wah... tepat sasaran. Malah, bagaimana dia bisa tahu?


"Hehehe~. Soalnya setiap kali Nicholas-san datang ke kelas kami, pandanganmu selalu tertuju pada Hugo-san. Apalagi hari ini, ekspresimu langsung berubah begitu melihatnya."


Emma menatap wajahku dengan ekspresi bangga.


Tak kusangka, saat aku mengamati pria perebut pasangan itu, justru aku yang diamati olehnya. Hubungan ini benar-benar seperti bagan hubungan karakter di komedi romantis. Tentu saja berbeda dengan bagan hubungan dari eroge terkenal yang menampilkan tokoh utama bajingan itu.


"Lagi pula kita pernah bekerja sama menghadapi pria berkulit hitam yang mesum itu, kan~? Jadi kali ini juga pasti ada hubungannya dengan tunanganmu, ya?"


"........................"


Menghadapi ketajaman pengamatan Emma, aku sampai kehilangan kata-kata.


Apa tindakanku memang semudah itu dibaca? Rasanya tidak.


"Diam berarti mengaku ya~. Jadi kalau tidak cepat mengejarnya, nanti kita kehilangan jejak."


"Tunggu!?"


Emma langsung menarik tanganku dengan paksa, dan kami pun mengejar Hugo.


◇◆◇◆◇


"...Aku sama sekali tidak menyangka kalau Hugo-san ternyata punya pacar~."


Sesampainya di pintu masuk akademi, kami melihat Hugo sedang bersama seorang siswi berpenampilan sederhana.


Begitu ya... jadi gadis itulah yang menjadi korbannya. Sial, bahkan aku yang termasuk kehidupan sebelumnya pun masih perjaka.


"Nicholas-san, apa kamu mengenal perempuan itu~?"


"Tidak, baru pertama kali melihatnya."


Bukan hanya di Broken Days of Luminous III, tetapi di seluruh seri Luminous, tidak pernah ada siswi seperti itu.


Memang ada kemungkinan dia hanyalah NPC yang hanya muncul sebagai karakter chibi dua dimensi seperti Emma atau Rosa. Kalau begitu, mustahil mengetahui siapa dirinya.


"Ah, mereka mulai bergerak~."


Hugo menyunggingkan senyum mesum, melingkarkan tangan di pinggang gadis sederhana itu, lalu keluar dari pintu masuk akademi.


Kami juga mengikuti mereka diam-diam sambil bersembunyi di balik berbagai tempat agar tidak ketahuan.


(Bajingan itu...!)


Ternyata Hugo tidak puas hanya merangkul pinggang gadis itu. Kini dia mulai mengelus-elus bokongnya yang besar.


Padahal masih ada orang-orang yang lalu-lalang. Berani sekali dia. Iri se... ehem, maksudku, benar-benar keterlaluan.


"Wah... kalau begitu bukankah itu sudah termasuk pelecehan seksual ya~...?"


"Tergantung apakah dilakukan atas dasar persetujuan kedua belah pihak atau tidak. Namun bagaimanapun juga, itu tetap termasuk tindakan tidak senonoh di tempat umum."


Ngomong-ngomong, di kehidupan sebelumnya ada sebuah situs penjualan digital untuk produk doujin. Karena perusahaan kartu kredit luar negeri memperketat penyensoran terhadap konten dewasa, beberapa kata, termasuk istilah yang berkaitan dengan pelecehan seksual, tidak lagi boleh digunakan.


Karena itu, di situs tersebut kata-kata terlarang disamarkan, bahkan ada yang diganti dengan istilah seperti "rabaan rahasia" atau "mesum sambil tidur".


Eh? Apa di game ini juga ada istilah seperti "rabaan rahasia" atau "mesum sambil tidur"? Tentu saja ada.


Baiklah, kembali ke pokok pembicaraan.


(Jadi gadis sederhana itu adalah pasangan yang membuat Hugo kehilangan keperjakaannya, ya?)


Dengan begitu, seperti biasa aku pun mengaktifkan kemampuan 【Status Open】.


――――――――――――――――――――  

Nama: Rita Eisner  

Jenis Kelamin: Perempuan  

Usia: 17  

Ras: Manusia  

Pekerjaan: Putri Viscount (siswa)  

Skill: 【Ratu / Queen】  

Jumlah Pasangan: 189 orang  

Tingkat Perkembangan (Mulut): 98  

Tingkat Perkembangan (Payudara): 92  

Tingkat Perkembangan (Vagina): 99  

Tingkat Perkembangan (Pantat): 93  

Tingkat Kesukaan: 30  

――――――――――――――――――――


...Hah?


Meskipun masih belum bisa menandingi Ibuku, jumlah pasangan seksualnya ternyata sudah mencapai seratus orang.


Tingkat "perkembangannya" juga di atas 90 pada semua parameter. Bahkan lebih tinggi daripada Lea, yang telah "dikembangkan" oleh pria perebut pasangan itu hingga mendekati akhir cerita.


Yang paling penting, dari skill 【Ratu】 saja sudah jelas kalau gadis sederhana itu adalah pihak yang menyerang... tidak, pihak yang menyiksa. Dengan kata lain, seorang sadis (S).


Kalau begitu, saat tadi Hugo mengusap bokongnya dan dia mati-matian menahan rasa malu serta desahan, mungkin itu memang sengaja dilakukan sebagai permainan berpura-pura menjadi pihak yang pasif, agar saat permainan sesungguhnya dimulai dia bisa berubah menjadi sadis terkuat.


"...Sepertinya mereka berpisah di sini ya~."


Seperti yang dikatakan Emma, Hugo melepaskan tangannya dari bokong gadis itu, lalu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan sedikit pun.


Eh? Terus bagaimana dengan sesi berikutnya? Padahal aku sedikit menunggu... ehem, maksudku, berniat memergoki mereka di tempat.


Gadis sederhana yang ditinggalkan itu memandangi punggung Hugo, lalu menjilat bibirnya perlahan.


Melihat itu, aku langsung sadar kalau dia berniat menahan hasratnya sampai hari "acara utama" tiba.


"B-Baiklah. Kita coba bicara dengan siswi itu."


"Baik."


Aku menguatkan hati yang hampir ciut karena gugup, lalu mendekatinya dengan tekad bulat.


"U-Um... boleh bicara sebentar?"


"...? Y-Ya..."


Dilihat dari statusnya dia tampaknya lebih tua dariku, jadi aku berbicara dengan bahasa yang sopan meski gerak-gerikku agak canggung.


Gadis sederhana itu menatapku dengan ekspresi curiga dan sedikit waspada. Namun aku tidak melewatkan kilatan aneh di mata hitamnya.


Sepertinya aku benar-benar sudah menjadi target incarannya. Memang aku ingin suatu hari lulus dari status perjaka, tapi kalau harus menjadi "saudara seperjuangan" dengan Hugo, sebisa mungkin aku ingin menolak.


"Sebenarnya, aku teman sekelas orang yang tadi bersama Senpai. Belakangan ini dia jarang bergaul dengan kami, jadi aku kepikiran... apa jangan-jangan kalian berdua memang... punya hubungan seperti itu."


Meskipun semuanya bohong belaka, kurasa alasan ini cukup masuk akal untuk mengajaknya bicara.


Dengan begini semoga dia tidak terlalu mencurigaiku.


"...Aku tidak mengerti hubungan seperti apa yang kau maksud."


"Itu... yah..."


Tatapan mata hitamnya semakin tajam dan misterius, sementara ekspresinya sedikit menegang saat menjawab.


Menghadapi aura misteriusnya, aku tanpa sadar kehilangan kata-kata.


"Hehehe~. Maksudnya tentu saja apakah kalian berdua berpacaran."


Wah, Emma, bagus sekali. Kalau teman sekelasnya yang bertanya langsung, tentu jauh lebih alami daripada aku.


"Jangan-jangan... kau menyukai Hugo-san?"


"Tidak kok~. Kebetulan saja kami melihat kalian berdua tampak akrab, jadi sebagai teman sekelas aku jadi penasaran."


Wah, Emma benar-benar menusuk tepat sasaran. 


Soalnya yang dimaksud "tampak akrab" itu adalah saat Hugo mengusap-usap bokong gadis itu. Pasti sulit baginya untuk menjawab.


Nah, sekarang bagaimana reaksinya?


"Kalau begitu akan kujelaskan. Aku dan dia bukan sepasang kekasih."


Ya, memang benar mereka bukan pasangan. Dilihat dari nama skill-nya, hubungan mereka lebih mirip antara seorang Ratu dengan seekor babi.


"Begitu ya~. Kalau begitu, berarti kamu membiarkan orang yang bahkan bukan pacarmu menyentuh bokongmu."


"...!"


Mendengar perkataan Emma, tatapan gadis itu langsung berubah tajam.


Ekspresi itu sama sekali tidak cocok dengan penampilannya yang biasa dan mudah tenggelam di antara keramaian. Benar-benar pantas disebut seorang Ratu. Menyeramkan.


"...Karena dia adalah milikku. Sesekali aku harus memberinya hadiah."


"Milikmu, ya~."


"Benar. Kalau hanya itu yang ingin kalian tanyakan, aku permisi."


Seolah tidak ingin meladeni kami lebih jauh, gadis sederhana itu—atau lebih tepatnya sang Ratu—langsung pergi.


Lagi pula, cara bicaranya juga sudah berubah total. Tidak lagi gugup seperti tadi, melainkan sangat percaya diri. Mungkin memang itulah kepribadiannya yang asli.


"Nicholas-san, maaf ya~. Aku malah membuatnya marah..."


Emma meminta maaf sambil menundukkan bahu dengan sedih.


"Tidak, justru kau banyak membantuku. Berkatmu aku jadi tahu sifat aslinya."


Setidaknya aku sendiri pasti tidak akan berani bertanya sejauh itu. Bisa-bisa malah aku yang akhirnya menjadi mangsanya dan berakhir menjadi "saudara seperjuangan" Hugo.


Syukurlah aku berhasil lolos dari cengkeraman sang Ratu.


"A-Ahaha... kalau begitu syukurlah aku bisa membantu Nicholas-san~."


Seketika Emma tersenyum cerah.


Memang, dia benar-benar imut. Bahkan jika dibandingkan para heroine seri Luminous, dia sama sekali tidak kalah. Terlepas dari kebiasaan anehnya itu.


Ngomong-ngomong...


(Jadi untuk saat ini Hugo ternyata bukan pelakunya.)


Kini aku tahu kalau pria yang merebut Lea bukanlah Hugo. Namun, cepat atau lambat dia pasti akan menggunakan kamera mini berkualitas tinggi yang dikembangkannya untuk merekam secara diam-diam.


Sebelum itu terjadi, aku harus menghentikannya dan mendapatkan kameranya... ehem, maksudku, menemukan pelaku yang sebenarnya.


"Kenapa Nicholas-san sampai sejauh ini? Termasuk soal pria berkulit hitam yang sudah dikeluarkan itu."


Meski masih tersenyum, Emma tidak lagi berbicara dengan nada santainya yang biasa. Dia menatapku dengan mata yang benar-benar serius.


"Yah... Lea kan tunanganku. Jadi kalau ada masalah yang menimpanya, tentu aku harus melindunginya..."


"Benarkah... hanya itu alasannya?"


"..."


Didesak Emma, aku tanpa sadar mengalihkan pandangan.


Saat ini aku sebenarnya sedang mengumpulkan bukti agar bisa membatalkan pertunanganku dengan Lea. Untuk itu, aku harus menemukan siapa pria yang telah merebutnya.


"Waktu pria genit berkulit hitam itu mencoba berbuat buruk kepada tunanganmu, memang Nicholas-san menghentikannya. Tapi kalau memang hanya itu tujuanmu, seharusnya kau menghentikannya jauh lebih awal."


"........"


"Tolong katakan padaku. Apa sebenarnya yang ingin Nicholas-san lakukan?"


Dengan mata birunya yang menatap lurus ke arahku, Emma memohon jawaban.


Kenapa dia begitu ingin mengetahui alasanku?


Namun...


"...Kau benar. Aku sebenarnya bukan melakukan semua ini demi menyelamatkan Lea."


Padahal tidak perlu kukatakan.


Tetapi entah kenapa aku justru mengungkapkan isi hatiku.


"Yah... memang belum ada bukti pasti, tapi kurasa Lea mungkin... berselingkuh."


"Berselingkuh...?"


Emma mengulang kata itu pelan.


Aku mengangguk. Tentu saja aku tidak mungkin menceritakan soal kemampuan melihat status erotis seseorang.


"Tepatnya mungkin bukan perselingkuhan... seperti pria genit itu tadi. Bisa saja Lea dipaksa atau diancam sehingga terpaksa menuruti kemauan seseorang, lalu akhirnya menjalin hubungan dengannya."


"......"


"Tapi aku juga tidak punya keberanian untuk bertanya langsung kepada Lea. Jadi kupikir satu-satunya cara adalah menyelidikinya sendiri dan memastikan apakah dia benar-benar berselingkuh atau tidak."


Padahal sebenarnya bukan perselingkuhan, melainkan direbut orang lain.


Dan meskipun aku berkata "masih mencurigai", sebenarnya aku sudah yakin. Yang kulakukan sekarang hanyalah mengumpulkan bukti agar pertunangan kami bisa dibatalkan.


"Yah... begitulah. Ini murni alasan pribadiku."


Aku mengangkat bahu sambil tersenyum masam.


Kalau dipikir-pikir, alasanku memang terdengar konyol.


Memang aku berniat menghukum pria itu dan membatalkan pertunangan dengan Lea, tapi setelah itu aku bahkan belum memikirkan apa pun.


Kalau dibandingkan kisah-kisah balas dendam terhadap pasangan selingkuh yang sering muncul di novel web atau video gratis, tindakanku ini terasa sangat lunak.


"Maaf ya. Aku malah menyeretmu ke dalam urusan yang tidak penting seperti ini..."


"Tidak sama sekali kok."


Emma menggenggam tanganku dan menatapku.


Wajahnya masih tersenyum seperti biasa. Namun entah kenapa, bagiku dia tampak seperti hampir menangis.


"Jadi maksudnya, Nicholas-san sedang berusaha memastikan apakah tunanganmu benar-benar berselingkuh atau tidak. Dan pria berkulit hitam itu maupun Hugo-san adalah kandidat orang yang kau curigai."


"Cepat sekali kau memahaminya."


Aku mengangguk setenang mungkin. Padahal pada akhirnya aku hanya mengakui kalau tunanganku telah direbut pria lain. Lalu kenapa justru hatiku terasa lebih ringan?


Mungkin selama ini aku terlalu lama memendam semua kenyataan pahit itu sendirian.


"...Kalau begitu, sampai kita tahu kebenarannya, aku akan membantu Nicholas-san."


"T-Tidak perlu. Setelah mendengar ceritaku, kau pasti tahu sendiri kalau ini bukan sesuatu yang harus kau ikuti. Mulai sekarang biar aku saja yang..."


"Tidak boleh. Aku akan menemanimu sampai akhir."


Sepertinya Emma sama sekali tidak berniat mundur.


Sungguh... mengumpulkan bukti soal Lea dan menghukum pria yang merebutnya bukanlah sesuatu yang menyenangkan.


Aku bahkan tidak ingin memperlihatkan sisi buruk manusia seperti ini kepada Emma. Namun...


"...Terima kasih."


"Sama-sama~."


Karena dia tetap mau membantuku setelah mendengar semuanya, aku mengucapkan terima kasih dengan tulus.


Emma pun tampak sangat senang karena aku menerima tawarannya. Cara bicaranya kembali seperti biasa, dan senyumnya bahkan terasa tiga kali lebih cerah dari biasanya.


"Tapi... kenapa kau sampai ingin membantuku?"


"Hehehe~. Tidak usah dipikirkan."


Sayangnya, dia tampaknya tidak berniat menjawab. Lagi pula, Emma adalah gadis cantik yang tidak kalah dari para heroine seri Luminous. Kalau dia bersikap sebaik ini, siapa pun pasti akan mudah jatuh hati padanya.


...Tentu saja, selama tidak lupa bahwa dia juga memiliki sisi yang sangat unik. Meski begitu, kurasa nilai kesukaanku terhadap Emma pasti sudah melonjak drastis...


(Tunggu... kalau begitu, bagaimana dengan tingkat kesukaan Emma kepadaku...?)


Untuk pertama kalinya, aku mengalihkan pandanganku pada sesuatu yang selama ini sengaja kuhindari.  


――――――――――――――――――――  

Nama: Emma Baltzer  

Jenis Kelamin: Perempuan  

Usia: 16  

Ras: Manusia  

Pekerjaan: Putri Marquis Perbatasan (siswa)  

Skill: 【Makhluk Terkuat di Dunia】  

Jumlah Pasangan: 0 orang  

Tingkat Perkembangan (Mulut): 0  

Tingkat Perkembangan (Payudara): 0  

Tingkat Perkembangan (Vagina): 0  

Tingkat Perkembangan (Pantat): 100  

Tingkat Kesukaan: 0  

――――――――――――――――――――


Hmm... seperti dugaanku, tingkat kesukaannya tetap nol. Nol yang begitu menyedihkan.


Di Broken Days of Luminous III, nilai afeksi memiliki angka standar 30, lalu akan naik atau turun tergantung hubungan dan pilihan yang diambil setelahnya. Tentu saja nilai maksimumnya adalah 100.


Artinya, tingkat kesukaan Emma kepadaku berada di titik terburuk.


...Jangan-jangan status ini sebenarnya bug?


"...? Ada apa ya~?"


"!? T-Tidak, tidak ada apa-apa kok!"


Saat sadar, wajah Emma sudah berada sangat dekat di depanku. Aku sampai refleks memundurkan tubuh karena terkejut.


Apa dia tidak sadar kalau dirinya itu gadis yang sangat cantik? Benar-benar tidak baik untuk jantung.


"B-Baiklah. Karena kita juga sudah kehilangan jejak Hugo, kurasa untuk hari ini kita sudahi saja dan pulang."


"Baik!"


Karena suasana terasa sedikit canggung, aku berkata dengan agak kikuk, dan Emma mengangguk penuh semangat sambil tersenyum.


Huff... setidaknya aku sudah sedikit lebih tenang.


Begitulah, kami pun berjalan kembali menuju asrama.


Di tengah perjalanan...


"E-Emm... sebenarnya keluarga dan orang-orang dekatku memanggilku 'Nico'. Jadi mulai sekarang, aku ingin Emma juga memanggilku begitu."


"!"


"Baik! Nico-san!"


Astaga... ternyata aku memang gampang sekali luluh. Hanya dipanggil "Nico" saja sudah membuatku sangat senang. Padahal tingkat kesukaan Emma kepadaku masih nol....


Namun...


"Hehehe... Nico-san, Nico-san."


Saat dia mengulang-ulang nama panggilanku dengan senyum yang begitu ceria, tanpa memedulikan berapa pun angka kesukaannya, pipiku langsung mengendur karena bahagia.


◇◆◇◆◇


"Nico-san~. Hari ini juga kita akan mengawasi Hugo-san, kan?"


Keesokan paginya, Emma yang menemani Josephine datang ke kelasku untuk melihat apakah Pangeran Lambert sudah datang, lalu membisikkan hal itu kepadaku.


Apa ini? Rasanya seperti adegan rahasia antara tokoh utama dan heroine dalam novel komedi romantis.


"Itu rencananya. Sebelum Lea kembali masuk sekolah, aku harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang kemungkinan perselingkuhannya."


Aku juga membalas dengan berbisik. Walaupun sebenarnya sudah dipastikan kalau Hugo bukan pelakunya.


Pria yang merebut Lea tinggal tersisa dua orang lagi. Lalu, kalau begitu bukankah mengawasi Hugo sudah tidak perlu lagi?


Jangan suruh aku mengulanginya terus. Kalau semuanya berjalan sesuai skenario game, Hugo pasti akan mencoba merebut Lea suatu saat nanti. Jadi mencegahnya sejak awal adalah hal yang wajar agar masalah tidak bertambah.


Meskipun sebenarnya...


(...Target utamaku adalah kamera mini berkinerja tinggi milik Hugo.)


Sudah berkali-kali kukatakan, aku bukan menginginkan kamera itu untuk mengintip orang. Sama sekali bukan.


Aku hanya ingin memanfaatkannya untuk mendapatkan bukti bahwa Lea telah direbut pria lain....


"Hei, kamu! Kenapa Yang Mulia belum juga datang!?"


"Wah!?"


Josephine tiba-tiba menyela di antara aku dan Emma sambil menggebrak meja. Aku sampai berseru kaget.


"M-Meskipun kau bertanya begitu kepadaku...."


"Tapi kemarin kau sendiri yang bilang, 'Mungkin besok Pangeran Lambert akan datang ke akademi untuk melepas penat'!"


"Memang aku bilang begitu!"


Tapi aku juga sudah mengawalinya dengan kata "mungkin", kan? Ini benar-benar tidak adil.


"Padahal aku kira hari ini akhirnya bisa bertemu Pangeran Lambert...."


"Josephine-sama..."


Semangat Josephine langsung menghilang dan dia tampak sangat murung. Dua gadis pengikutnya mengusap punggungnya sambil menatapnya dengan cemas.


Hmm... tapi memang agak kasihan juga.


Dalam Broken Days of Luminous VIII, Pangeran Lambert terlalu sibuk bersaing memperebutkan takhta dengan kakak laki-lakinya yang merupakan putra mahkota pertama, sehingga mengabaikan Josephine.


Memanfaatkan celah itu, para pria perebut pasangan pun berhasil merebut Josephine. Kalau terus seperti ini, semuanya akan berjalan persis seperti skenario.


(...Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi.)


Setidaknya untuk saat ini, Josephine masih belum terlihat berhubungan dengan salah satu dari mereka. Kalau salah satu dari mereka mendekatinya, aku akan mengusirnya habis-habisan.


Kalau hanya menikmati cerita NTR sebagai fiksi memang tidak masalah. Tapi kalau orang yang kukenal mengalaminya di dunia nyata, mana mungkin aku bisa diam.


Apalagi sekarang aku sendiri sedang mengalami hal serupa dengan tunanganku.


"Haaah... bagaimanapun juga, seharusnya dia lebih menghargai tunangannya."


"Kurasa bukan Nico-kun yang pantas mengatakan itu."


Theo yang mendengar gumamanku langsung menjawab dengan tatapan datar. Padahal aku sendiri tidak merasa pernah mengabaikan Lea.


"Menurutku, alasan Lea belum bisa kembali sekolah sampai sekarang sedikit banyak juga karena ulahmu."


"Hah? Kenapa begitu?"


"Coba pikirkan baik-baik. Sejak Lea cuti sekolah, memangnya kau pernah menjenguknya? Yah, karena jauh memang sulit. Tapi setidaknya pernah mengirim sepucuk surat?"


Ugh... dia menusuk tepat sasaran.


Sejak tahu Lea telah direbut pria lain, sejujurnya aku memang jadi tidak ingin terlalu banyak berhubungan dengannya.


"Kelihatannya kau sadar juga. Kenapa tidak menulis surat hari ini saja? Kalau tidak begitu, nanti dia bisa saja benar-benar berselingkuh tanpa kau sadari."


Padahal dia sendiri adalah pria yang akan merebut heroine di volume VII, tapi komentarnya malah sangat tepat. Dasar perebut pasangan.


Namun memang benar. Menulis surat setidaknya tidak akan merugikan siapa pun.


"Baiklah. Nanti setelah kembali ke asrama, aku akan menulis sura—"


Saat hendak mengatakan itu, seorang siswi masuk ke dalam kelas. Dia adalah...


"E-Emm... maaf sudah membuat semua orang khawatir...."


Sambil menggaruk kepalanya dengan malu-malu, tunanganku—Lea.


"Jadi mulai hari ini kamu kembali sekolah! Syukurlah!"


"Kami benar-benar mengkhawatirkanmu, Lea!"


Dalam sekejap teman-teman sekelas mengerumuninya dan menyambutnya satu per satu.


Sayangnya aku terlambat bergerak, sehingga tidak sempat ikut masuk ke dalam kerumunan itu.


Theo? Dia juga sudah berada di samping Lea sambil ikut bersukacita, sama sekali tidak memedulikanku.


"Kamu tidak akan menghampirinya?"


Josephine memandangku seolah ingin mengatakan sesuatu.


Aku hanya membalasnya dengan senyum canggung.


Memang ada sedikit keraguan karena aku merasa belum mampu memasang kembali topeng sebagai tunangan yang baik.


Namun yang lebih penting...Sebelum menghampiri Lea, ada satu hal yang harus kupastikan terlebih dahulu.


Karena itu….


――――――――――――――――――――  

Nama: Lea Kleinert  

Jenis Kelamin: Perempuan  

Usia: 16  

Ras: Manusia  

Pekerjaan: Putri Count (siswa)  

Skill: 【Kecantikan yang Menghancurkan Negara】  

Jumlah Pasangan: 1 orang  

Tingkat Perkembangan (Mulut): 91  

Tingkat Perkembangan (Payudara): 94  

Tingkat Perkembangan (Vagina): 97  

Tingkat Perkembangan (Pantat): 48  

Tingkat Kesukaan: 100  

――――――――――――――――――――


Sial... fitur seks anal sudah terbuka.


Kalau diperhatikan lebih teliti, tingkat perkembangan bagian tubuh lainnya juga sedikit meningkat, bahkan perkembangan pada vaginanya sudah hampir mencapai batas maksimum.


Tapi, apa maksudnya ini?


Sejak insiden pria genit itu, Lea seharusnya terus berada di wilayah keluarga orang tuanya. Sementara para pria perebut pasangan tetap datang ke akademi seperti biasa, jadi seharusnya mereka tidak mungkin sempat bertemu.


Kalau begitu, perubahan status ini sebenarnya disebabkan oleh apa...?


"Ayo! Nico-kun, bilang sesuatu juga dong!"


"Hah!?"


Dasar Theo. Aku sedang berpikir serius, jangan asal menarik tanganku. Parahnya lagi, dia sengaja menyeretku tepat ke depan Lea.


"Hn......"


"I-Iya..."


Bukan hanya aku, Lea juga tampak canggung. Kami sama-sama mengalihkan pandangan sambil gelisah. Apa-apaan ini.


Lagi pula sekarang aku memang tidak ingin berbicara dengannya. Dan Lea juga pasti ingin menghindariku, mengingat selama cuti sekolah dia bertemu dengan pria perebut pasangan itu.


Namun, ada satu hal yang tidak kumengerti.


(Tingkat kesukaan Lea kepadaku masih mentok di angka seratus...)


Perasaannya kepadaku ternyata tidak berubah, bahkan setelah semua yang terjadi. Kalau begitu, kemungkinan terbesar tetap sama.


Lea pasti dipaksa atau diancam oleh pria itu sehingga tidak punya pilihan selain menuruti keinginannya....


"Ehm... begini. Memang pria genit itu sudah tidak ada lagi di akademi, tapi kalau masih ada hal yang membuatmu khawatir atau kesulitan, jangan sungkan untuk mengatakannya. Bagaimanapun juga... aku ini tunanganmu...."


Aku tidak mungkin bisa hidup bersama Lea setelah dia direbut pria lain. Aku tetap akan membatalkan pertunangan kami. Keputusan itu tidak berubah.


Namun tetap saja...sebelum semua ini terjadi, aku memang benar-benar menyayanginya sebagai teman masa kecil... sekaligus sebagai tunanganku.


Jadi wajar kalau aku masih ingin menyelamatkannya dari cengkeraman pria itu.


"Iya. Kalau nanti aku membutuhkannya, aku akan meminta bantuanmu."


Eh? Respons Lea berbeda dari yang kubayangkan.


Karena dia jelas sudah berhubungan dengan pria lain, kupikir ucapanku barusan akan membuatnya merasa bersalah. Paling tidak dia akan meminta maaf, memohon bantuanku, atau setidaknya bersikap sungkan.


Namun yang kuterima justru bukan itu.


Sikapnya terasa dingin... seolah-olah tawaranku hanya mengganggu dirinya.


"H-Hey, Lea..."


Tanpa sadar aku hampir saja bertanya,


"Kau masih menganggapku penting sebagai tunanganmu, kan?"


Untungnya aku segera menahan diri.


Aku memang tahu lewat status bahwa kesukaannya masih seratus, tetapi tidak ada seorang pun—termasuk Lea sendiri—yang mengetahui hal itu.


Kalau begitu, percuma saja menanyakan hal seperti itu.


(...Tidak. Bukan begitu.)


Lea kembali dikerumuni teman-teman sekelas yang menyambut dan menyemangatinya.


Aku menarik kembali tangan yang sempat terulur, lalu kembali ke tempat dudukku...


"..."


Eh...Emma sedang menatap Lea dengan tajam sekali.


◇◆◇◆◇


"Maaf, sudah membuatmu menunggu."


Setelah pelajaran selesai, aku menyapa Emma yang sudah menungguku di depan kelas.


Hari ini pun kami berniat membuntuti Hugo untuk memastikan dia tidak melakukan hal aneh.


"Ehm... menurutku, setidaknya hari ini Nico-san sebaiknya beristirahat."


Tidak seperti biasanya, Emma tidak tersenyum ceria, melainkan menatapku dengan wajah khawatir.


Hmm...Apa wajahku memang terlihat seburuk itu?


"Aku tidak apa-apa. Lagi pula kalau hari ini aku bermalas-malasan, lalu besok terjadi sesuatu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, itu baru benar-benar masalah."


"Begitu ya...."


Karena kami tidak tahu kapan Hugo akan mulai bergerak, satu-satunya cara adalah terus mengawasinya. Jadi sekalipun lelah, aku tidak bisa berhenti.


"Kalau begitu, Hugo sekarang di mana?"


"Tadi dia sudah keluar dari kelas. Mungkin sekarang sudah di pintu masuk akademi."


"Begitu. Kalau begitu kita percepat langkah agar tidak kehilangan jejak."


"Baik."


Kami pun menuju pintu masuk akademi. Untung saja kami masih sempat melihat Hugo yang sedang pulang bersama gadis sederhana itu—atau lebih tepatnya, sang Ratu.


"Hari ini mereka mau pergi ke mana ya~."


"Entahlah."


Kemarin, setelah insiden rabaan itu, tidak ada perkembangan apa pun. Hari ini semoga saja ada petunjuk baru. Dan tentu saja bukan dalam arti yang aneh.


Setelah mengikuti mereka selama sekitar lima belas menit...


"Wah...."


Keduanya masuk ke sebuah penginapan yang berada di pinggiran kawasan hiburan ibu kota kekaisaran.


Omong-omong, penginapan itu memang khusus digunakan pasangan untuk melakukan hubungan intim. Kalau memakai istilah dari kehidupan sebelumnya, itu adalah hotel cinta.


"Jadi... maksudnya Hugo-san dan perempuan itu akan melakukan hal-hal mesra di sana ya...."


"Y-Ya."


Kelihatannya Emma sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam penginapan itu.


Apa dia tidak malu?


...Begitulah pikirku. Namun setelah kupikir lagi, Emma memang memiliki ketertarikan yang cukup unik terhadap hal-hal semacam itu.


"... Nico-san. Kalau kita cuma berjaga di luar, kita tidak akan tahu apa yang terjadi di dalam."


"Y-Ya memang...."


"Kalau begitu menurutku kita juga harus masuk. Tentu saja demi mengawasi mereka."


Tanpa disadari, Hugo dan sang Ratu justru telah memberikan alasan yang sempurna bagi Emma untuk masuk ke penginapan itu. Namun...


"Tidak."


"Eeh!"


Emma langsung menunjukkan wajah kecewa.


Ya bagaimana lagi.


Terus terang aku juga penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan... ehem, maksudku, aku penasaran dengan percakapan mereka.


Tapi bagaimanapun alasannya, kalau seorang pria dan seorang wanita masuk ke tempat seperti itu bersama, orang-orang pasti akan salah paham.


"Jadi kita tunggu saja sampai mereka keluar. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, baru kita tanyakan. Oke?"


"Hmph... Nico-san pengecut. Tidak punya nyali."


Dia benar-benar mengataiku habis-habisan.


Tapi demi mengumpulkan bukti untuk membatalkan pertunangan dengan Lea, aku tidak boleh melakukan tindakan yang bisa menjadi kelemahanku sendiri.


...Yah, kalau suatu hari nanti aku benar-benar sudah lajang, mungkin aku tidak akan melewatkan kesempatan seperti ini...


Tidak, bohong. Kurasa saat itu pun aku tetap tidak akan berani. Begitulah.


"...Mereka belum keluar juga ya."


"Iya."


Sambil menenangkan Emma yang masih cemberut, kami mengawasi pintu penginapan dari balik gang.


Sudah dua jam sejak mereka masuk. Kalau hanya menyewa kamar untuk beberapa saat, seharusnya mereka sudah keluar...


"!"


"Nico-san!"


"Ya."


Akhirnya Hugo dan sang Ratu keluar dari penginapan.


Entah karena merasa puas atau bagaimana, wajah keduanya tampak begitu segar dan berseri.


"Baiklah... sekarang kita dekati mereka."


"Baik."


Saat kami mulai mendekat dari belakang untuk menyapa mereka...


"...Luar biasa. Tak kusangka benda seperti itu bisa dibuat."


"Gufufufu... dengan benda ini, kamar mandi, toilet, semuanya bisa diintip sesuka hati."


Mereka malah sedang terang-terangan membicarakan rencana jahat. Dilihat dari isi percakapannya, tidak diragukan lagi mereka sedang membahas alat sihir berupa kamera mini berperforma tinggi ciptaan Hugo.


"Lalu, apa sebenarnya yang kau ingin aku lakukan?"


"Tentu saja aku ingin Rita-sama memasangnya di seluruh penjuru asrama. Di kamar mandi, ruang ganti, toilet, bahkan kamar para siswi...."


"...Berani sekali seekor babi menyuruh-nyuruhku. Apa kau benar-benar berniat memanfaatkan diriku?"


"B-Buhi!? S-Sama sekali tidak! Hamba hanya ingin permainan bersama Rita-sama menjadi lebih menyenangkan...."


"Kalau begitu, tidak perlu memasangnya di kamar perempuan lain, kan? Bukankah cukup di kamarku saja?"


"..."


Dengan anggukan setuju terhadap perkataan Sang Ratu yang sangat masuk akal itu, aku mengangguk-angguk dari belakang mereka berdua.


Di dalam game pun aku sempat bertanya-tanya bagaimana Hugo bisa memasang kamera itu, tapi ternyata dia sampai menjadikan Sang Ratu sebagai kaki tangannya.


Karena selama ini kupikir dia benar-benar tipe pria yang sama sekali tidak punya hubungan dengan perempuan, hal seperti ini benar-benar di luar dugaanku.


Lagi pula, kenapa dua orang ini sama sekali tidak menyadari kehadiran kami?


"Nico-san, kita bagaimana nih?"


"Tentu saja kita sapa mereka."


Aku mendekati mereka berdua, lalu menepuk pelan bahu Hugo.


"Yo, lagi ngobrol yang menarik ya."


""!?""


Keduanya menahan napas dan perlahan menoleh.


Sepertinya mereka sama sekali tidak menyangka pembicaraan mereka didengar orang lain. Sang Ratu masih terlihat tenang, tapi Hugo jelas sangat panik.


"Kamu adalah..."


"Kemarin terima kasih ya."


Aku menjawab dengan nada santai, dan Sang Ratu pun menyipitkan matanya.


Meski status erotisnya membuatku punya banyak hal untuk dipikirkan, tetap saja dia memang cantik. ...Eh, Emma, tolong jangan menatapku seperti itu.


"Kalau tidak salah... kau teman si babi, ya?"


"Buhi!? H, hamba tidak punya teman! Semua orang di akademi selain Rita-sama adalah musuh!"


Begitu ya. Jadi Hugo memang penyendiri.


Di Broken Days of Luminous III, bukan hanya di adegan event, bahkan di bagian normal pun dia tidak pernah terlihat bersama siapa pun. Menyedihkan.


"Jangan bilang begitu dong. Kita kan teman sekelas."


Emma menyembulkan kepalanya dari belakangku dan berbicara dengan nada santai tanpa sedikit pun rasa tegang.


Saat itu juga Sang Ratu melotot ke arah Hugo di sampingnya. Mungkin dia tidak suka kalau ternyata selain dirinya masih ada perempuan lain di sekitar Hugo.


Yah, bagaimanapun juga, tidak ada gunanya terus mengobrol di pinggir jalan kawasan pertokoan seperti ini.


Karena itu...


"Kuberi tahu ya. Kami melihat kalian berdua keluar dari penginapan mencurigakan itu, dan kami juga mendengar jelas rencana jahat kalian. Kalau hal ini sampai diketahui akademi, kira-kira apa yang akan terjadi?"


""!?""


Aku menggertak mereka dengan gertakan kosong. Sekarang tinggal melihat bagaimana reaksi mereka...


".................."


".................."


Mereka saling berpandangan dalam diam. Lalu...


"...Apa sebenarnya tujuan kalian...?"


Yang pertama memecah keheningan adalah Hugo.


"Pokoknya, kalau terus bicara di sini tidak akan ada habisnya. Ayo pindah tempat."


Begitu kuusulkan, mereka kembali saling berpandangan. Setelah Sang Ratu mengangguk seolah sudah mengambil keputusan...


"Baiklah. Pimpin jalannya."


"Terima kasih."


Aku membungkuk seolah tulus, lalu mengajak mereka masuk ke sebuah kafe di kawasan pertokoan.


Tempat ini cocok untuk berbicara.


"J-jadi... ada perlu apa dengan kami? Tapi sebelumnya kubilang dulu, kami tidak melakukan hal yang mencurigakan..."


"Padahal baru saja kami menegurmu soal hal mencurigakan itu. Lagi pula, kalian tadi berniat memasang kamera di toilet dan kamar mandi, kan?"


"Kamera? Apa itu?"


Istilah "kamera" berasal dari kehidupan masa laluku, jadi Hugo memiringkan kepala kebingungan. Namun begitu kujelaskan bahwa yang kumaksud adalah alat sihir, dia langsung bersiap melindungi Sang Ratu.


Sok jadi pahlawan yang melindungi heroine, ya.


Tapi rupanya kamera supermini berperforma tinggi itu sekarang dipegang Sang Ratu.


"Itu... itu kubuat agar Rita-sama dan aku bisa menikmatinya secara pribadi! Jadi sama sekali tidak berniat menggunakannya untuk hal buruk..."


"Benarkah? Kalau begitu kenapa tadi kalian membicarakan soal memasangnya di kamar gadis lain?"


"Menguping itu tidak baik, tahu!?"


Kalau pun tidak menguping, aku sudah tahu dari awal.


Kau memang berniat, kalau ada kesempatan, merekam keadaan memalukan gadis-gadis lain dengan kamera itu. Dan di dalam game, salah satu gadis yang direkam adalah Lea.


"Ratu... ehm... Rita-senpai. Apa pendapatmu tentang itu?"


"...Aku tidak bisa memaafkan babi yang berniat menggunakan benda itu kepada perempuan selain aku."


Sambil berkata begitu, dia melotot tajam ke arah Hugo.


Eh? Jangan-jangan ini... rasa cemburu Sang Ratu? Padahal Hugo cuma karakter mesum yang menjijikkan. Tidak bisa diterima. Sama sekali tidak bisa diterima.


"Begitulah katanya... Masa iya kau tetap berniat diam-diam merekam gadis lain padahal Rita-senpai sudah bilang begitu?"


"B-buhi..."


Aku merangkul bahu Hugo, mendekatkan wajahku, lalu mengintimidasinya seperti ketua geng dalam manga berandalan.


Dia sendiri hanya menunduk dengan wajah pahit. Melihat reaksinya, jelas sekali dia memang masih berniat merekam gadis lain.


"Rita-senpai... Aku punya usul. Bagaimana kalau alat sihir buatan Hugo itu kami saja yang menyimpannya?"


"!? T-tidak boleh! Itu adalah hasil jerih payah, darah, keringat, dan air mata yang kubuat demi tujuan yang mulia..."


"Diam."


Hugo yang hendak membantah langsung terdiam karena satu kalimat dingin dari Sang Ratu.


Aku paham perasaanmu, tapi aku juga menginginkan kamera supermini berperforma tinggi itu. Jadi menyerahlah.


"Tentu saja setiap kali kalian ingin menggunakannya untuk permainan kalian, kami akan mengembalikannya. Jadi... bagaimana, Rita-senpai?"


"...Baiklah."


"Buhiiiiii..."


Diputuskan bahwa karya terbaiknya akan disita, Hugo pun langsung ambruk berlutut.


Kupikir-pikir, karena dia sendiri yang membuat alat sihir itu, bukankah tinggal membuat yang baru saja? Tapi untuk saat ini aku tidak berniat mengatakannya.


"Kalau begitu negosiasi selesai. Kami berjanji tidak akan melaporkan kalian berdua ke akademi."


"Tentu saja."


"Kalau begitu, alat sihirnya..."


Aku mengulurkan tangan hendak menerima kamera dari Sang Ratu...Namun...


"Hehe. Yang ini biar aku saja yang menyimpannya."


"Emma!?"


Ternyata Emma lebih dulu merebut kamera itu dariku.


Hei, hei, apa yang kau lakukan?


"Tidak usah khawatir. Kalau Rita-senpai atau Hugo-san ingin memakainya, nanti akan kuberikan kok. ...Tapi jangan-jangan Nico-san sendiri berniat menggunakannya, ya...?"


"T-tentu saja tidak! Mana mungkin!"


Ditatap oleh mata birunya yang kehilangan cahaya, aku hanya bisa mengangguk berkali-kali seperti boneka rusak. Kalau salah memilih jawaban di sini, aku yakin hidupku tamat.


"Kalau begitu urusan kami sudah selesai, kami permisi dulu."


"Tunggu."


Saat kami hendak berdiri, Sang Ratu menghentikan kami.


"Kalian sudah menerima usulku, jadi sekarang jawab beberapa pertanyaanku. Tujuan kalian pada akhirnya adalah mendapatkan alat sihir buatan babi itu, kan? Kalau begitu, untuk apa kalian ingin menggunakannya?"


Sang Ratu menatap kami tajam.


Wah, repot juga. Masa aku harus bilang kalau aku ingin mendapatkan bukti perselingkuhan tunanganku?


"Hehe. Tujuan kami bukan memakai alat sihir ini, melainkan memastikan Hugo-san tidak bisa memakainya."


"Apa maksudnya...?"


"Tidak mengerti? Kalau alat sihir itu tetap berada di tangan Hugo-san, seperti yang tadi dikatakan Nico-san, ada kemungkinan dia mengintip siswi lain, kan? ...Kalau dia sampai menggunakannya untuk mengancam perempuan, bagaimana?"


"!?... Jadi begitu."


Dengan senyum yang berbeda dari senyum cerianya biasanya, Emma menjelaskan. Sang Ratu pun langsung mengerti dan mengangguk setuju.


Tapi hebat juga Emma. Padahal aku belum menjelaskan fungsi kamera supermini itu, tapi dia langsung memahami tujuan dan kekhawatiranku.


Diam-diam, Emma ternyata gadis yang sangat cakap, ya?


"Jadi begitu deh. Karena itu alat sihir ini akan kusimpan dan kujaga dengan penuh tanggung jawab. Oh ya, untuk berjaga-jaga, apakah masih ada alat sihir lain yang sama, atau bisa dibuat lagi dengan mudah?"


"T-tidak mungkin! Alat sihir itu memakai bahan yang mahal dan langka! Bukan sesuatu yang bisa dibuat dalam waktu singkat! Itu satu-satunya di dunia! Hanya milikku sendiri!"


Hugo berteriak dengan nada marah.


Melihat sikapnya, aku tahu dia tidak sedang berbohong.


...Yah, sayang sekali. Kalau memang ada cadangan atau bisa dibuat lagi, bukan berarti aku ingin mendapatkannya juga! Bukan! Aku sama sekali tidak menginginkannya!


"Syukurlah kalau begitu. ...Kalau tidak, aku sempat berpikir mungkin kami harus mengurung Hugo-san."


"Hii!?"


Aura membunuh yang dipancarkan Emma membuat Hugo kali ini mengeluarkan jeritan murni, bukan "buhi". Untuk pertama kalinya aku melihat secuil wujud makhluk terkuat di dunia itu.


Aku juga harus benar-benar berhati-hati padanya.


"Kalau begitu, Nico-san, sekarang kita benar-benar pergi ya. Selamat menikmati waktu kalian berdua."


"Uwooo!?"


Emma menyeretku secara paksa keluar.


Dengan tatapan bingung dari dua orang yang tertinggal, kami pun meninggalkan kafe.


Namun...


"Nico-saaan... Aku ingin mendengar penjelasanmu tentang banyak hal."


"Baik..."


Di hadapan senyum Emma yang tetap ceria namun terasa mengintimidasi, aku akhirnya menyerah dan mengangguk.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close