NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

NTR Eroge ni Tensei Shite Kon'yakusha o Netorareta Ore o Sukutta no wa, Chijou Saikyou no Torimaki Mobu Joshi A Deshita V1 Chapter 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 5

Aku Memutuskan untuk Membatalkan Pertunanganku

"Bagaimana? Bisa dilakukan?"


"Hmm... sulit, de gozaru."


Pagi hari sebelum pelajaran dimulai, tepat pada hari ketika hitung mundur menuju pembatalan pertunanganku dengan Lea akhirnya dimulai.


Di kelas sebelah, Hugo menyilangkan tangan sambil memasang wajah serius mendengar permintaanku.


"Payah juga kau. Hal begini saja tidak bisa."


"Cara bicaramu kejam sekali, de gozaru!?"


Benar-benar... masa hal semudah ini saja tidak bisa. Kau tidak pantas menyandang gelar otaku mesum spesialis kamera tersembunyi.


Memasang kamera di ruang OSIS saja, harusnya bisa beres dalam sekejap.


"Memangnya bagaimana caranya menyusup ke ruang OSIS, de gozaru!? Pasti ruangannya dikunci!"


"Nah, itu dia..."


Rencananya kami akan menyusup saat semua orang sedang berada di kelas. Masalahnya adalah bagaimana masuk ke dalam.


Kalau dipikir secara normal, satu-satunya cara adalah mendapatkan kunci ruang OSIS.


"Hugo, bukankah Skill-mu 【Teknisi Sihir Kelas Spesial】? Tidak bisakah kau membuat alat sihir yang bisa membuka kunci apa pun?"


"Itu mustahil, de gozaru! Memangnya ada berapa macam kunci di dunia ini!? Lagi pula, dari mana kau tahu Skill milikku!?"


"Hah? Memangnya belum pernah kubilang?"


Setelah dipikir-pikir, memang sepertinya aku baru memberi tahu Emma di akademi.


Tentu saja, kemampuan sebenarnya dari 【Status Open】 tidak mungkin kubocorkan.


"Sebenarnya kemampuan Skill-ku adalah mengetahui nama, jenis kelamin, umur, ras, pekerjaan, dan nama Skill seseorang."


"Buhi!? A-apa katamu!?"


Tidak perlu sekaget itu, kali.


Memang berguna untuk mengingat nama kenalan yang lama tak bertemu, tapi hanya sebatas itu.


"Pokoknya, Skill ini cuma Skill sampah yang nyaris tidak ada gunanya. Jangan dipikirkan."


"M-menurutku itu justru Skill yang luar biasa, de gozaru..."


Kalau kau tahu 【Status Open】 ini sebenarnya cuma spesialis game eroge, kau pasti mengerti betapa sampahnya skill ini.


...Ah, tidak juga. Untuk seorang perebut pasangan seperti dia, mungkin ini justru skill dewa.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Skill Emma-dono, de gozaru? Waktu latihan tempur kemarin kekuatannya luar biasa. Pasti skillnya hebat..."


"Hehehe... kalau memikirkan hal yang tidak perlu, kamu bisa mati, lho."


"Buhiii!?"


Emma tersenyum menyeramkan dengan mata yang kehilangan cahaya.


Benar-benar seperti babi yang sedang ditatap makhluk terkuat di dunia.


"Lagi pula, skill itu tidak penting. Menilai harga seseorang hanya dari skill itu konyol."


Aku memang terdengar keren mengatakannya, tetapi dunia ini pada akhirnya memang menganut supremasi skill. Bukan berarti aku membelanya karena skillku sampah, ya. Sungguh.


"...Memang Nico-san ya, tetap saja Nico-san."


Mendengar pembelaanku yang payah itu, Emma tersenyum selembut bunga yang mekar.


"T-tidak juga. Aku cuma berusaha menghibur diri karena Skill-ku terlalu menyedihkan..."


Entah kenapa aku jadi malu sendiri dan memalingkan wajah.


Ngomong-ngomong, bukankah Emma menilaiku terlalu tinggi?


Yah, memang menyenangkan sih.


"Hehe, tidak apa-apa. Selama hanya aku yang tahu kelebihan Nico-san."


"B-benarkah...?"


"Iya♪"


Astaga...kalau dia mengatakannya sambil tersenyum semanis itu, aku benar-benar bisa salah paham.


Malah jadi berpikir, biarkan saja Lea direbut orang, lalu aku sendiri bersama Emma...


"Ehem."


Gawat. Josephine yang sudah tak tahan menatapku dengan mata setengah menyipit.


Sekarang bukan waktunya suasana romansa. Urusan itu nanti saja setelah semuanya selesai.


"Jadi, mengenai cara masuk ke ruang OSIS... fufu, sepertinya akhirnya tiba juga giliranku."


Josephine maju selangkah dengan senyum penuh percaya diri. Terutama... bagian dadanya yang berukuran I-cup.


"Kalau soal kunci ruang OSIS, kebetulan aku mengenal seseorang."


"Tunggu. Orang yang kau maksud jangan-jangan Ketua OSIS?"


"Ara? Dari mana kau tahu?"


Yah, gagal total.


Sayangnya, Ketua OSIS Akademi Kekaisaran Luminous adalah salah satu perebut pasangan yang muncul di Broken Days of Luminous VIII, rute utama Josephine. Bahkan ketua dan wakil ketua OSIS sama-sama perebut pasangan.


Akademi ini benar-benar sudah tidak ada harapan.


"Dengarkan aku. Jangan sekali-kali memakai cara itu."


"Hmph... aku tidak puas."


Josephine mengembungkan pipinya dengan manis. 


Tapi kalau melakukan itu, sama saja memberikan kelemahan kepada si perebut pasangan. Mana mungkin menyerahkan bahan pemerasan sendiri.


...Eh, tunggu.


"Kalau dipikir-pikir... mungkin memang sebaiknya kita mengandalkan Ketua OSIS."


"Eh...?"


Begitu aku berkata demikian, wajah Josephine langsung berbunga-bunga.


Memang gampang sekali dibaca.


◇◆◇◆◇


"Jadi? Kudengar kalian ada urusan denganku."


Seorang pria berambut pirang klimis menyilangkan tangan dengan angkuh di ruang OSIS.


Dialah Ketua OSIS sekaligus salah satu perebut pasangan di volume VIII, Balthur Almehauser. Sebagai tambahan, dia adalah sepupu dari pihak ibu Josephine.


Di volume VIII, dia gemar melakukan perundungan terhadap anggota OSIS lainnya. Setelah Josephine menegurnya, dia menyimpan dendam, memanggilnya ke ruang OSIS, lalu memaksanya hingga akhirnya merebutnya.


Sampah sejati.


"Ya. Sebenarnya kami ingin meminjam kunci ruangan ini."


"Kunci ruang OSIS?"


Begitu Josephine mengatakannya dengan anggun, alis pria itu bergerak sedikit.


Meski Josephine adalah sepupunya, dia juga putri adipati sekaligus anggota keluarga kekaisaran. 


Karena itu dia berusaha tetap tenang, padahal dalam hati pasti sedang marah besar. Dia memang paling benci orang yang kedudukannya lebih tinggi darinya.


"Izinkan saya yang menjelaskan."


"...Kau siapa?"


"Saya Nicholas Friedland, murid tahun kedua."


Aku melangkah maju memperkenalkan diri.


Baiklah...Saatnya memakai kemampuan negosiasi yang kuasah selama menjadi budak perusahaan di kehidupan sebelumnya.


"Sebenarnya, tampaknya ada seseorang yang sedang berusaha menjebak Ketua OSIS. Mungkin karena Ketua adalah sosok paling hebat yang pernah dimiliki akademi ini, jadi ada yang menyimpan dendam."


"Apa?"


Ekspresinya langsung berubah serius.


Tapi aku tahu kok. Sebenarnya kau senang dipuji, bukan?


Soalnya orang ini haus pengakuan.


"Kemarin kami kebetulan mendengar seseorang berkata di pusat kota Kekaisaran, ‘Kalau orang seperti dia tetap jadi ketua, akademi ini tamat. Kita harus segera menyingkirkannya, kalau tidak masa depan kita juga akan hancur.’"


"..."


Lihat tuh. Dia mulai berpikir keras.


Pasti penasaran siapa pelakunya.


"...Siapa yang mengatakan itu?"


"Itulah masalahnya. Kami hanya kebetulan mendengarnya. Saat kami menoleh, yang terlihat hanya punggung orang itu sebelum menghilang di tengah kerumunan."


"Hmph. Tidak berguna."


Benar-benar menyebalkan.


"Tapi apa hubungannya dengan meminjam kunci ruang OSIS?"


"Hubungannya besar. Karena orang itu juga berkata, ‘Kalau dia sudah tidak ada, ketua berikutnya pasti aku.’"


"Apa!?"


"Artinya, pelakunya pasti salah satu anggota OSIS, bukan?"


Wajah Ketua OSIS makin suram.


Aku sengaja menatapnya dari bawah sambil memancing reaksinya.


"Kami berpikir begini. Akademi sekarang begitu hebat berkat Ketua. Kalau Ketua disingkirkan dari OSIS... bagaimana nasib akademi ini?"


"......"


"Karena itu... kami akan menemukan orang yang mencoba menjatuhkan Ketua. Dengan bersembunyi di ruang OSIS ini."


Aku mengepalkan tangan sambil berpura-pura penuh semangat. Aku sendiri merasa menjijikkan mengucapkannya, tapi semua ini demi mendapatkan kunci.


"Tunggu. Apa sebenarnya tujuanmu?"


"Tentu saja agar Ketua tetap memimpin dan menjaga akademi ini."


Aku menjawab tanpa sedikit pun malu.


Aku sadar betul kalimat-kalimat tadi membuatku terdengar memalukan. Kalau ada lubang, rasanya ingin langsung masuk ke dalamnya.


Ketua OSIS mengusap dagunya sambil berpikir.


Lalu...


"...Baiklah. Tapi jangan sekali-kali menyentuh barang-barang di dalam ruangan ini, apalagi membawanya keluar."


Berhasil! Kunci ruang OSIS akhirnya kami dapatkan.


Kalau tadi mengikuti cara Josephine, mungkin orang ini justru akan semakin membencinya dan akhirnya mulai menargetkannya.


"Tenang saja. Setelah menemukan pelakunya, kami akan segera melapor. Oh ya..."


Aku mendekatinya sambil memasang senyum paling ramah yang mampu kubuat.


"...Soal Ketua yang memakai uang kas OSIS untuk kepentingan pribadi, akan kusimpan sebagai rahasia."


"Apa!?"


Benar. Pria ini, di usia delapan belas tahun, sudah kecanduan judi dan menanggung utang yang jumlahnya tidak bisa diceritakan kepada siapa pun.


Alasan dia mengincar Josephine bukan hanya karena harga dirinya terluka setelah dikritik soal perundungan...


Ups, hampir saja salah pilih kata. Otakku benar-benar sudah dipengaruhi eroge.


Selain itu, Josephine juga mengetahui utang judinya dan menegurnya. Dia takut masalah itu terbongkar ke akademi maupun keluarganya.


Benar-benar manusia sampah.


"Kau...!"


"Bagaimanapun juga, aku berharap kita bisa tetap berhubungan baik mulai sekarang."


Sambil memutar gantungan kunci di ujung jariku, aku menyunggingkan senyum tipis.


Oh iya…  


――――――――――――――――――――  

Nama: Balthur Almehauser  

Jenis Kelamin: Pria  

Usia: 18  

Ras: Manusia  

Pekerjaan: Putra Marquis (siswa, Ketua OSIS)  

Skill: 【Sial】  

Jumlah Pasangan: 16 orang  

Tingkat Perkembangan (Mulut): 2  

Tingkat Perkembangan (Dada): 61  

Tingkat Perkembangan (Vagina): 0  

Tingkat Perkembangan (Pantat): 29  

Tingkat Kesukaan: 0  

――――――――――――――――――――


...Seperti dugaanku, dia ternyata juga sudah menjadikan murid lain sebagai korbannya.


Mungkin ada anggota OSIS lain yang juga sudah menjadi korban.


Meski begitu, Skill 【Sial】 benar-benar tidak cocok untuk berjudi. Yang bisa kulihat hanyalah masa depan di mana dia akan bangkrut total.


Yah, tapi...


(Kejahatan bajingan ini juga akan kurekam dengan kamera Hugo, lalu langsung kuhancurkan.)


"Nico-san!"


"Ya."


Aku melakukan tos dengan kedua tangan kecil Emma yang terangkat sambil tersenyum. Bunyi pak! yang renyah bergema di ruang OSIS.


...Eh? Josephine juga mengangkat kedua tangannya. Apa itu berarti dia juga ingin tos?


◇◆◇◆◇


"Fufufu... saatnya alat sihir buatanku menunjukkan taringnya, de gozaru."


Sambil memasang kamera supermini berkinerja tinggi di ruang OSIS, Hugo menyeringai dengan wajah licik.


Lagian, kamera itu memang tidak punya fungsi menyemburkan api. Fungsinya cuma merekam secara diam-diam.


Lalu Ketua OSIS si tukang kekerasan seksual ke mana?


Dia sudah lama kembali ke kelasnya. Lagi pula sekarang pelajaran sore sudah dimulai. Mungkin saat ini dia sedang gelisah setengah mati, takut aku membocorkan penggelapan dana OSIS yang dilakukannya.


Tidurlah sambil gemetar, bajingan.


"Baik. Tinggal menunggu sampai jam pulang sekolah."


"Itu sih bagus, tapi... apa yang akan kita lakukan sampai Julian dan Lea datang?"


"Kalau itu..."


Setidaknya dari percakapan kemarin, mereka baru akan datang setelah sekolah usai. Artinya, sampai saat itu kami tidak ada pekerjaan.


"...Yah, tinggal merekam bukti saja sih. Kalau terpaksa, aku sendiri pun..."


"Apa-apaan sih. Kita akan bersama sampai akhir, kan?"


"Haha, benar juga."


Emma mengembungkan pipinya sedikit sambil pura-pura marah.


Aku hanya bisa tersenyum pahit.


Mungkin dia sengaja tidak ingin membiarkanku sendirian.


"Aku juga ikut, de gozaru! Agar alat sihir ini bisa bekerja maksimal, kehadiranku mutlak diperlukan!"


"Jangan lupakan aku juga! Menemani sampai akhir itu... a-apa namanya... begitulah yang dilakukan teman!"


"...Aku juga harus melihat akhirnya. Demi bahan karya berikutnya."


Keempat orang itu rupanya memang berniat tetap bersamaku.


Meski tujuan Rosa agak berbeda. Yah, begitulah dia. Pasti dia sudah membayangkan membuat doujin BL berdasarkan kisah perselingkuhanku.


Kepada mereka semua, aku berkata,


"...Terima kasih. Hari ini akan kuakhiri semuanya."


Aku membungkukkan badan sedalam-dalamnya dengan penuh rasa syukur.


"Masih terlalu cepat berterima kasih. ...Setelah semuanya selesai, kali ini benar-benar ajak aku makan berdua, ya?"


Emma tersenyum jahil sambil menatap wajahku.


Benar-benar...tentu saja.


"Ya, tentu."


Aku mengangkat kepala dan mengangguk sambil tersenyum sebaik mungkin.


Kepada gadis luar biasa yang selama ini selalu berada di sisiku sejak mengetahui Lea telah direbut orang...


...NPC "Figuran A" terbaik.


◇◆◇◆◇


"...Mereka belum datang juga."


Sepulang sekolah, kami menunggu di bordes tangga menuju atap, tidak jauh dari ruang OSIS, sambil mengawasi kemunculan Lea dan Julian.


"Sudah lebih dari tiga puluh menit sejak pelajaran berakhir. Bukankah aneh kalau mereka belum datang?"


Josephine menatapku dengan mata menyipit. Sepertinya dia mulai curiga kalau kami mendapat informasi palsu.


"Aku juga mendengarnya sendiri. Jadi tidak mungkin salah. Tunangan Nico-san dan Wakil Ketua pasti akan datang."


"B-benarkah? Kalau begitu syukurlah..."


Hei, kenapa perlakuannya ke Emma jauh lebih percaya dibandingkan kepadaku?


Apa aku memang tidak bisa dipercaya?


Saat aku sedikit tertekan karena perlakuan Josephine...


"!? Mereka datang, de gozaru!"


Hugo yang sedang memantau keadaan ruang OSIS berseru. 


Di bola kristal penerima sinyal memang terlihat jelas sosok Lea dan Julian.


"...Lalu bagaimana?"


"Aku dan Emma akan mendekat ke ruang OSIS untuk mendengarkan percakapan mereka. Josephine-sama dan yang lain tetap mengawasi dari sini. Hugo, urusan rekaman kuserahkan padamu."


"Tentu saja, de gozaru!"


"Kapan kalian akan berhenti memanggilku 'Josephine-sama' dan mulai memanggil namaku saja!?"


Hugo menepuk dadanya dengan mantap.


Aku dan Emma pun menuju ruang OSIS.


Josephine masih berteriak dari belakang, tapi kuabaikan saja. Memanggilnya dengan embel-embel "sama" jauh lebih cocok dengan citra seorang putri bangsawan antagonis.


Aku tidak akan memanggilnya tanpa gelar. Lalu...


"...Di balik pintu ini, mereka berdua..."


Aku tidak tahu percakapan apa yang sedang terjadi di dalam.


...Bahkan kemungkinan terburuknya, mereka mungkin sudah mulai melakukan sesuatu.


(Bukankah kau sudah memantapkan tekadmu? Kenapa masih takut?)


Sejak mengingat kehidupan masa laluku dan melihat Status Erotis Lea hingga sadar dia telah direbut orang, aku sudah berjanji akan memutuskan pertunangan.


Lagi pula, di Broken Days of Luminous III, tidak ada akhir bahagia bagi tunangan yang dikhianati.


Satu-satunya pilihan bagiku hanyalah melepaskan Lea.


"Emma...?"


"Tidak apa-apa. Aku sudah berjanji akan tetap berada di samping Nico-san sampai akhir."


Meski kali ini bukan dengan nada bicara santainya yang biasa, suaranya tetap hangat, lembut, dan menenangkan.


Dan lebih dari itu...kata-katanya menyalakan kembali keberanian di hatiku yang hampir runtuh.


"Benar juga. Ada Emma di sisiku. Jadi ayo cepat akhiri sandiwara bodoh ini, lalu kita ulang lagi janji kemarin."


"Iya!"


Akhirnya aku bisa mengangkat kepala dan bercanda lagi.


Emma membalas dengan senyum cerah bagaikan bunga matahari. Padahal di dalam game dia cuma NPC "Figuran A" dengan tingkat kesukaan nol.


Benar-benar ada yang salah dengan game itu.


"Ayo."


Emma berjaga mengawasi sekitar. Sementara itu aku menempelkan telinga perlahan ke pintu ruang OSIS.


Lalu...


"Fufu... Tunanganmu benar-benar bodoh. Dia sama sekali tidak menyadari kalau gadis yang sangat berharga baginya kini masih terus mematuhi perintahku dan berdiri tanpa sehelai benang pun."


"......."


...Sepertinya Julian memaksa Lea untuk melepaskan pakaiannya. Setelah ini, mungkin dia akan benar-benar mulai bertindak.


"Jadi, bagaimana rasanya mengkhianati tunanganmu sendiri?"


"Bagaimana maksudmu..."


"Yah, tubuhmu memang jujur. Kau sudah tidak sabar ingin dipeluk olehku, bukan? Buktinya... lihat saja keadaan lantainya."


Tingkat "perkembangan" Lea sudah hampir mencapai titik akhir. Sekalipun hatinya ingin menolak, tubuhnya sudah berada di tahap yang nyaris tak mampu melawan.


Namun...Aku tidak akan menghentikannya.


Aku harus mendapatkan bukti yang jelas dalam bentuk rekaman, lalu menggunakannya sebagai dasar untuk membatalkan pertunangan.


Kemudian terdengar suara Lea.


"...Semua ini... kau lakukan demi balas dendam, bukan?"


"Balas dendam? Kepada siapa?"


"Kepada Kekaisaran yang telah mendorongmu sampai sejauh ini... dan kepada Marquis Retzel yang telah menyakitimu."


"..."


Julian Retzel, salah satu pria perebut tunangan, menurut latar resmi adalah putra keluarga Marquis Retzel yang bergerak diam-diam di balik layar Kekaisaran. Di permukaan ia dikenal sebagai wakil ketua OSIS yang berbudi luhur, tetapi di balik itu ia mewarisi ayahnya dengan melakukan berbagai kejahatan—benar-benar sosok penjahat.


Fakta bahwa ia adalah anak haram keluarga kekaisaran pun baru kuketahui setelah melihat statusnya.


Dilihat dari ucapan Lea barusan, tampaknya pihak Kekaisaran sendiri sudah kewalahan menghadapi keberadaan Julian. 


Ditambah lagi, sepertinya di keluarga Marquis Retzel pun ia diperlakukan dengan buruk.


Kalau melihat tingkat "perkembangan" bagian pantatnya, mungkin saja ia pernah dipaksa menyerahkan tubuhnya kepada ayah angkatnya, Marquis Retzel.


Karena latar belakang seperti itulah, mungkin ia melampiaskan kemarahan dan frustrasinya terhadap kenyataan yang tak bisa diubah dengan merebut gadis-gadis milik orang lain lalu menghancurkan mereka.


Kasihan? Mana mungkin aku bersimpati.


Aku sama sekali tidak peduli apa yang telah dialami Julian atau bagaimana ia bertahan hidup. Karena bajingan itu telah merebut tunanganku, yang kupikirkan hanyalah semoga ia masuk neraka.


Lagi pula, di dalam game pun aku tahu dia memang sampah yang tak punya harapan untuk diselamatkan.


"Omong kosong. Sudahlah, kau tinggal diam dan lakukan apa yang kukatakan. Dengan begitu, semuanya akan berjalan lancar."


Sok berkuasa sekali. Yang menunggu kalian hanyalah kehancuran.


"Ayo, kemarilah."


"Baik."


Saat Julian memanggil dengan suara rendah, Lea menjawab tanpa sedikit pun ragu dan segera menghampirinya.


Baiklah... sekarang tinggal menunggu semuanya selesai—


"Nico-san, tidak perlu menunggu sampai akhir."


Entah sejak kapan Emma, yang seharusnya sedang berjaga, sudah berdiri di sampingku. Ia meletakkan tangannya di punggungku sambil menggeleng.


"Tidak perlu menunggu sampai akhir... maksudmu?"


"Itu memang maksudnya. Tunanganmu sudah telanjang, dan wakil ketua yang memaksanya juga pasti sudah terekam kamera. Kalau begitu, menurutku itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti perselingkuhan."


"Itu..."


Emma benar. Sebagai bukti perselingkuhan, ini sudah cukup.


Lalu kenapa aku merasa harus menjadikan hubungan mereka sampai benar-benar terjadi sebagai bukti juga?


"...Kurasa Nico-san masih ingin percaya sampai saat terakhir. Bahwa sebenarnya tunanganmu tidak berselingkuh. Bahwa kalau belum sampai melakukan semuanya, itu belum bisa disebut perselingkuhan."


"..."


Aku tak mampu membantah satu kata pun.


Ya...benar juga. Jauh di lubuk hatiku, aku masih berharap Lea belum direbut, masih berharap semuanya bisa diperbaiki. Harapan yang mustahil.


Padahal sejak melihat statusnya, aku sudah tahu itu tidak mungkin. Padahal aku sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.


"...Terima kasih. Berkatmu, aku akhirnya sadar."


Setelah berkata begitu, aku menepuk kedua pipiku dengan keras.


"Ayo. Saatnya mengakhiri semuanya bagi mereka berdua."


"Ya!"


Aku dan Emma saling mengangguk, lalu kugenggam gagang pintu.


Saat itulah—


"Hhnn――!? "


Seolah-olah menunggu saat yang tepat, terdengar suara erangan Lea yang menggema dari dalam ruang OSIS, begitu keras hingga menyerupai raungan seekor binatang.


Ya, melakukan hubungan seperti itu sih silakan saja, tapi ini masih sepulang sekolah. Masih ada sebagian murid yang belum pulang, tahu? Kalau ada yang mendengar bagaimana?


Sempat mengkhawatirkan hal yang tidak penting seperti itu, aku pun menenangkan diri lalu membuka pintu dengan keras.


Di sana...


"!?!!"


Lea dan Julian sama-sama menahan napas saat melihat kami muncul. Meski begitu, bajingan Julian itu masih saja mencubit puting Lea, bahkan memutarnya dengan santai.


Lihat saja akibatnya. Lea jadi kebingungan apakah harus terus mengeluarkan erangan nikmatnya, atau sudah boleh masuk ke adegan serius.


Malah aku juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi suasana ini.


"Ahem... yah, pertama-tama, lepaskan dulu tanganmu itu."


Setelah aku berdeham dan menunjuk tangannya, barulah Julian sadar apa yang sedang ia lakukan, lalu perlahan melepaskan puting Lea.


Memang di game aku sudah berkali-kali melihat puting Lea, tapi tak pernah kusangka bakal melihat versi aslinya dengan cara seperti ini. Sial.


"Jadi begini. Julian... kau tahu Lea adalah tunanganku, tapi tetap saja kau merebutnya. Begitu, kan?"


"..."


Meski kutanya, Julian hanya menatapku tajam tanpa menjawab.


Yah, tak menjawab pun faktanya memang begitu.


"Lalu kau, Lea. Kau sudah lama menjalin hubungan dengan orang ini..."


"B-bukan! Hari ini pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini padaku! Dan juga... bagian yang penting masih..."


"Cukup. Diam."


"!?..."


Lea memotong ucapanku dan mulai melontarkan alasan-alasan penuh kebohongan, persis seperti heroine yang telah direbut pria lain.


Tentu saja aku tidak mau mendengarnya, jadi dengan suara dingin aku menyuruhnya diam.


Mungkin Lea sadar kalau terus membela diri hanya akan memperburuk keadaan, sehingga ia menunduk tanpa berkata apa-apa lagi.


"Lagi pula, mana mungkin ini pertama kalinya. Kami mendengar seluruh percakapan kalian tadi. Bahkan suara eranganmu juga terdengar jelas. Setidaknya kecilkan volumenya."


"..."


Begitu sadar aku mendengar erangannya, wajah Lea langsung memerah.


Justru kenapa dia mengira kami tidak akan mendengarnya? Dan lagi, sekarang dia telanjang bulat. Setidaknya tutupi tubuhmu sedikit.


Bagaimanapun juga...


"Lea... pertunangan kita berakhir. Mulai sekarang, jangan pernah muncul lagi di hadapanku."


Akhirnya kukatakan.


Kalimat yang sudah kujanjikan akan kuucapkan sejak hari ingatan kehidupan laluku kembali dan aku melihat status erotisnya.


Tidak seperti di dalam game, kali ini akulah sendiri yang mengakhiri hubungan ini.


"...Tidak semudah itu membatalkan pertunangan."


"Hah...?"


Julian yang tadi memelototiku kini malah tersenyum penuh percaya diri sambil mengejek.


Apa yang sedang dibicarakan orang ini?


"Pertama-tama, di mana buktinya kalau kami berselingkuh? Yang kalian lihat paling hanya aku memainkan puting perempuan ini. Lagi pula... menurutmu ada orang di negeri ini yang akan mempercayai kesaksian kalian?"


Ah, begitu rupanya.


Dia pasti berpikir, karena dirinya adalah anak haram keluarga kekaisaran, semua ini bisa ditutupi dengan kekuasaan negara.


Sayangnya...


"Fufu... terlalu naif! Ya ampun, bahkan lebih manis daripada kue buatan koki di rumah kami!"


Pintu terbuka lebar, dan muncullah gadis bangsawan antagonis berdada I-cup yang dadanya bergoyang hebat—Josephine Weidenfeller.


Ya ampun... aku sebenarnya tidak meminta kemunculan sang villainess. Bukannya dia tadi sedang melihat rekaman kamera bersama Hugo? Jangan seenaknya meninggalkan pos.


"Kau...!"


"Oh? Rupanya kau mengenalku. Tentu saja. Bagaimanapun juga aku adalah putri keluarga Duke Weidenfeller. Wajar kalau kau mengenalku. Terlebih lagi... sesama keturunan keluarga kekaisaran."


Menghadapi tatapan membunuh Julian, Josephine hanya menutupi mulutnya dengan kipas sambil mengejek.


Benar-benar seperti villainess sejati.


"Yang ingin kukatakan adalah, sekalipun kau mencoba menutupi fakta ini, aku tidak akan membiarkannya. Jangan kira kau akan dimaafkan setelah merebut tunangan sahabatku."


"......"


Josephine menutup kipasnya dengan bunyi keras, lalu memasang ekspresi tajam.


Eh?bEntah kenapa dia kelihatan keren juga.


"D-dan... kami juga punya buktinya!"


"...Seluruh keadaan di ruang OSIS sudah direkam menggunakan alat sihir milik Hugo-san."


Dua orang yang bersembunyi di belakang Josephine akhirnya menampakkan wajah dan berbicara lantang.


Berbeda dengan Josephine yang begitu gagah, dua orang yang berlindung di belakangnya justru terlihat agak menyedihkan.


"Menyerahlah."


Kupikir akhirnya Julian akan menyerah...


Namun ternyata tidak.


"...Benar-benar perempuan bodoh. Sekalipun kau putri keluarga Duke Weidenfeller, kau tidak bisa mengadiliku."


"...Apa maksudmu?"


"Mungkin kau tidak tahu, tapi aku memiliki semacam surat kekebalan. Sebuah izin resmi dari Kaisar yang membuatku boleh melakukan apa pun di negeri ini."


Sambil berkata demikian, Julian mengeluarkan sebuah bros emas bergambar lambang Kekaisaran.


Apa? Benda itu surat kekebalan? Apa yang dia bicarakan?


"Selama benda ini ada di tanganku, Kaisar tidak akan bisa berbuat apa-apa selain diam."


"Apa yang kau bicarakan..."


Julian berbicara dengan penuh keyakinan, sementara Josephine menatapnya dengan curiga.


"Kalau begitu silakan saja coba. Yang Mulia Kaisar pasti akan mengadili semuanya secara adil..."


"Bagaimana kalau benda ini berkaitan dengan kebenaran di balik kematian ayahku... Lorenz von Luminous, kakak Kaisar?"


"!?..."


Mendengar itu, mata Josephine langsung membelalak.


Benar juga. Bukankah dia putra kakak Kaisar?


Kalau dia memegang rahasia kematian ayahnya...


J-jangan-jangan...Tidak, tidak. Yang kuinginkan cuma membatalkan pertunangan dengan Lea.


Aku sama sekali tidak tertarik dengan intrik keluarga kekaisaran. Sama sekali.


"Serahkan itu!"


"Tentu saja tidak."


Julian menghindari Josephine yang mencoba merebut bros itu, lalu tersenyum penuh kemenangan.


Pantas saja dia begitu tenang sejak tadi. Karena kalau keadaan memburuk, dia tinggal memakai kelemahan Kaisar untuk menutup semuanya.


Tapi...


"Yakin kau tidak masalah memberitahukan itu kepada kami? Kalau begitu bukankah Kaisar justru akan melenyapkanmu?"


"Mana mungkin orang itu bisa melakukannya. Begitu terjadi sesuatu padaku, rahasia ini akan langsung tersebar ke seluruh Kekaisaran."


Begitu ya. Ternyata si perebut tunangan ini juga sudah memikirkan cara melindungi dirinya sendiri.


Meski begitu...


"Sejujurnya aku tidak peduli. Urusanmu sama sekali bukan urusanku. Kalau kalian mau menutupinya dengan kekuasaan, ya silakan. Kami tinggal menyebarkan rekaman ini ke seluruh akademi."


"Hah? Tinggal disita saja rekamannya lalu semua saksi dibungkam. Selesai."


"Benar. Tapi tetap saja seluruh murid sudah keburu melihat sisi memalukan kalian, kan? Setelah itu disita pun sudah terlambat."


"!?!!"


Kalau seluruh murid melihat rekaman Julian sedang memainkan puting Lea yang telanjang bulat...


Anak-anak laki-laki pasti akan heboh. Anak-anak perempuan pasti akan mencemooh mereka. Seluruh akademi akan membicarakan mereka.


Apa? Mungkin nanti akan ada perintah tutup mulut?


Bisa saja. Tapi ingatan para murid tidak akan hilang.


Semua aib kalian akan terus melekat. Dalam keadaan seperti itu, apa kalian masih sanggup terus bersekolah di akademi tanpa rasa malu?


Kalau aku sih tidak mungkin. Malu sampai ingin mati.


"Jadi begitu deh. Kalau mau memakai kekuasaan untuk membungkam orang, silakan saja. Kami juga akan melakukan apa yang kami mau."


"...Aku juga bisa mengusirmu dari akademi."


"Kalau mau, lakukan saja. Yang lebih penting bagiku adalah membuat kalian menerima akibatnya, lalu membatalkan pertunanganku dengan Lea."


Mungkin karena sadar aku serius, Julian kembali menatapku tajam.


"Kalau begitu sejak awal kami tinggal memastikan kalian tidak sempat menyebarkan bukti itu..."


"Bodoh sekali kau. Kalau sampai melakukan itu, negara ini justru akan hancur."


Memang aku bukan anggota keluarga kekaisaran. Namun keluargaku adalah keluarga Marquis Friedland, salah satu bangsawan paling berpengaruh di Kekaisaran.


Keluarga Emma adalah keluarga Margrave.


Hugo berasal dari keluarga Count.


Rosa juga berasal dari keluarga Marquis.


Sedangkan Josephine adalah putri keluarga Duke terbesar di Kekaisaran yang bahkan memiliki darah keluarga kekaisaran.


Kalau kau menyentuh putra-putri keluarga seperti kami...


Menurutmu apa yang akan terjadi?


Seluruh keluarga besar kami pasti akan mengangkat senjata bersama, dan Kekaisaran akan kacau balau.


"Aku tidak tahu seberapa ampuh rahasia yang kau pegang itu, tapi Yang Mulia Kaisar tidak sebodoh itu."


"..."


Telak. Kalau sama-sama menuju kehancuran, Kaisar tentu akan memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Dan orang pertama yang akan dikorbankan pasti Julian.


Lagi pula, di kehidupan laluku aku pernah menjadi budak perusahaan hitam. Dengan mulut ini aku berkali-kali lolos dari rentetan pelecehan dan tekanan atasanku.


Pengalamanku jelas jauh lebih banyak daripada bocah enam belas tahun yang sedang kerasukan obsesi seperti dirimu.


"Keluarga Friedland akan secara resmi mengirimkan pemberitahuan pembatalan pertunangan kepada keluarga Lea. Tentu saja disertai bukti."


"..."


"Dan tentu saja kami juga akan menyerahkan bukti itu kepada pihak akademi. Bagaimanapun juga, semua ini terjadi karena kelalaian pihak akademi dalam melakukan pengawasan."


Selama ini mungkin dia bisa mengancam Kaisar dan bertindak sesuka hati, tetapi setelah dipaksa menerima semua kenyataan sampai sejauh ini, tampaknya Julian sudah benar-benar kehabisan kata-kata.


Mungkin dia akhirnya sadar bahwa jika benar-benar mencoba mencelakai kami, maka hidupnya sendiri akan benar-benar berakhir.


Kalau begitu, semua pengorbanannya sampai rela menyerahkan dirinya kepada Marquis Retzel demi tetap hidup akan menjadi sia-sia.


"Kalau begitu, sampai jumpa. Semuanya, ayo kita pergi."


Bagaimanapun juga, aku sudah lelah.


Pertunangan yang selama ini menjadi beban, yaitu dengan Lea, akhirnya bisa dibatalkan dengan aman. Mungkin untuk sementara aku akan mengurung diri di rumah orang tuaku dan menikmati hidup sebagai pengangguran.


Sambil memikirkan hal itu, aku mengajak semua orang keluar dari ruang OSIS.


Saat itulah—


"Nico!"


Sebuah teriakan yang penuh kepedihan terdengar dari belakangku.


Ah... tanpa menoleh pun aku tahu.


Sejak dulu aku sudah terlalu sering mendengar suara itu.


Benar, bukan?


Mantan teman masa kecilku, sekaligus mantan tunanganku—


"Tolong... mari kita bicara baik-baik, ya?"


—Lea Kleinert.


"Sayangnya aku tidak berniat bicara denganmu. Bahkan aku juga tidak ingin bicara."


"Jangan bilang begitu... Kita kan tunangan dan teman masa kecil."


"Hei, kau lupa menambahkan kata 'mantan'."


Aku menjawab dingin kepada Lea, yang hanya saat seperti ini saja membawa-bawa hubungan teman masa kecil dan tunangan.


Kami sudah memegang bukti. Julian bahkan sudah berhenti menyembunyikan fakta bahwa dia telah merebutmu.


Artinya dia sudah mengakui semuanya.


Bagaimanapun juga, masa depan di mana pertunangan kita dibatalkan sudah tidak bisa diubah.


"Lagi pula, kau sudah menyerahkan tubuhmu kepada sampah ini. Kenapa kau masih berpikir hubungan kita bisa berlanjut? Jelas tidak mungkin."


Kalimat yang tak mungkin pernah kuucapkan kepada Lea sebelum ingatan kehidupan laluku kembali.


Namun sekarang kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku, sampai aku sendiri merasa heran.


"Aku sibuk sekarang. Aku harus melapor kepada keluargaku dan menyerahkan bukti-bukti ini kepada akademi."


Kali ini benar-benar selesai.


Aku berbalik dan kembali hendak keluar dari ruang OSIS...


"...Lepaskan."


"Tidak."


Wanita itu malah mencengkeram ujung seragamku agar aku tidak pergi. Menjijikkan.


"Sudah kubilang lepaskan."


"Aku tidak mau! Kenapa kau tidak mengerti? Aku tidak bisa hidup tanpa Nico!"


"Bukan urusanku. Bukankah pasanganmu sekarang adalah pria bangsawan berdarah lebih tinggi itu?"


"Tidak bisa!"


"Wah!?"


Tiba-tiba Lea berteriak, lalu mendorong punggungku dengan keras hingga aku terdorong ke depan. Saat aku berbalik, dia menatapku dengan wajah penuh amarah.


Kurasa ini pertama kalinya aku melihatnya semarah ini.


Tapi bukankah ini cuma marah karena ketahuan?


"Apa maksudmu tidak bisa? Kalau memang begitu, kenapa kau malah direbut pria ini?"


Pada akhirnya memang begitu.


Lea telah direbut oleh pria bajingan ini.


...Meskipun, sama seperti di dalam game, mungkin ada alasan karena keluarganya terlilit utang dan dia terpaksa.


Tetapi itu bukan urusanku.


Saat memainkan game itu di kehidupan sebelumnya aku memang tidak memikirkannya sedalam ini. Tapi kalau memang begitu, kenapa kau tidak meminta bantuanku?


Benar, kan?


Kalau saja kau berkata, "Tolong selamatkan aku," lalu bersandar kepadaku, aku pasti akan melakukan apa pun demi dirimu.


Namun—


(Bahkan sampai sekarang pun, kau tidak meminta bantuanku.)


Dengan alasanmu sendiri dan keegoisanmu sendiri, kau justru menolakku, orang yang dulu adalah teman masa kecil sekaligus tunanganmu.


Andai semua itu kuucapkan sekarang, mungkin aku akan merasa jauh lebih lega.


Namun setidaknya aku memilih untuk diam. Itulah belas kasihan terakhir yang masih bisa kuberikan kepadamu.


"Soalnya... soalnya kasihan sekali!"


"...Hah?"


Apa?


Apa yang sebenarnya dia katakan?


Kasihan... jangan-jangan yang dia maksud adalah aku?


Setelah dia sendiri menghancurkan hubungan kami, bagaimana bisa dia seenaknya berkata seperti itu...!


"Hei kau! Jangan bercanda—"


"Julian itu, tidak seperti dirimu, benar-benar sendirian! Dia sebatang kara!"


Mendengar kata-kata Lea itu, tubuhku membeku.


Jadi yang dia maksud "kasihan" sejak tadi bukan aku yang dikhianati...Melainkan pria perebut itu sejak awal?


"Dengar baik-baik. Ayah Julian dibunuh Kaisar. Sejak kecil dia tumbuh dikelilingi musuh tanpa seorang pun di sisinya. Dia selalu hidup dalam penderitaan."


"..."


"Kau tahu? Kaisar menyerahkannya kepada Marquis Retzel yang menjijikkan itu. Dalam keadaan di mana dia bisa dibunuh kapan saja, menurutmu apa yang harus dilakukan Julian agar bisa tetap hidup?"


Sambil mencengkeram kerah bajuku, Lea memohon.


Aku belum pernah melihatnya sesungguh-sungguh ini sejak mengenalnya.


"Dia menyerahkan tubuhnya! Kepada manusia sampah yang menganggap anak-anak hanya sebagai pelampiasan nafsu! Kalau dia tidak melakukannya... dia tidak akan bisa bertahan hidup..."


Lea perlahan melepaskan genggamannya dari kerah bajuku dan menundukkan kepala sambil menangis.


Begitu rupanya...jadi begitu.


Di dalam Broken Days of Luminous III, memang semua rute utama berakhir dengan sang heroine direbut pria lain. Namun ada satu akhir di mana heroine diselamatkan.


Yaitu akhir bersama pria perebut itu—


"Nico!"


—akhir cinta sejati.


"Tolong! Dengarkan aku baik-baik!"


Karena melihat aku melamun meski dia sudah berbicara mati-matian, Lea menjadi marah. Dengan wajah seperti iblis, dia memukul dadaku dengan kepalan tangannya.


"Dan lagi! Julian bahkan dilarang oleh Kaisar memiliki anak! Katanya kalau dia punya anak, masalah perebutan takhta bisa menghancurkan negara!"


"......"


"Kejam, kan? Menyedihkan, kan? Kalau begitu, untuk apa Julian dilahirkan? Nico, coba jawab aku!"


Kenapa wanita ini menceritakan semua itu kepadaku?


...Tidak, aku bahkan tidak perlu berpikir.


Lea berniat membesarkan anak Julian sebagai anakku.


Jadi...Dia sebenarnya berniat membuatku membesarkan anak hasil hubungannya dengan pria lain seolah-olah anakku sendiri.


...Ah. Sekarang akhirnya aku mengerti arti status tingkat kesukaan itu. Dalam Broken Days of Luminous III, pemain menikmati proses Lea sebagai heroine direbut pria lain.


Artinya—selama ini sudut pandangnya adalah sudut pandang si pria perebut.


"Jadi ya, Nico... menikahlah denganku. Lalu kita punya banyak anak dan membesarkan mereka bersama. Nico yang baik pasti mau melakukannya... kan?"


Dengan mata biru muda sebening aquamarine yang dipenuhi air mata, Lea memohon sambil bergantung padaku.


Astaga...kenapa aku harus mendengar semua ini?


Padahal yang kuinginkan hanya membatalkan pertunangan dan terbebas dari semua beban...


BRAAK!!


"Ugeeh!?"


"Bisa berhenti bicara dengan mulut bau yang sudah dipakai menjilat barang kotor milik sampah itu? Dasar perempuan brengsek."


Eh... eh?


Lea baru saja ditampar Emma sampai tubuhnya terpental ke ujung ruangan. Bahkan dia menjerit dengan suara yang sama sekali tidak pantas dimiliki seorang heroine.


...Eh? Kalau diperhatikan, gigi depannya sampai patah.


"A-apa yang kau—"


"Apa hah? Justru itu yang ingin kukatakan. Kukira kau mau mengatakan sesuatu yang masuk akal, ternyata malah mengoceh seperti orang yang otaknya kemasukan belatung. Ya, memang cocok untuk perempuan brengsek sepertimu."


"P-perempuan brengsek terus dari tadi... ughhh!!"


"Sudah kubilang mulutmu bau, jadi jangan bicara lagi. Belajarlah mengerti."


Emma kembali menampar pipi satunya.


Lea kembali terpental hingga menghantam dinding di seberang ruangan. Kali ini bukan cuma gigi depan, bahkan gigi gerahamnya ikut beterbangan.


Lebih tepatnya...


Aku sendiri sudah tidak mampu memahami apa yang sedang kulihat. Tapi ternyata bukan hanya aku.


Josephine, Hugo, dan yang lain juga sama. Saat kulihat mereka, semuanya berdiri dengan mulut setengah terbuka.


"Hei, perempuan brengsek."


"Hii!? S-sakit..."


"Kalau mau, aku bisa menghabisi nyawamu dan si sampah itu di sini juga, lho? Sampah sepertimu cuma bernapas saja sudah merugikan orang lain."


"Hiiiiiiiiiiiii!!"


Emma menarik rambut Lea hingga wajahnya terangkat paksa.


Melihat senyum Emma yang melengkung seperti bulan sabit dengan ekspresi menyeramkan, Lea menjerit histeris.


Dia tampak begitu ketakutan hingga tanpa sadar mengompol. Cairan kekuningan telah menggenang di lantai.


"Hei, sampah."


"!?"


Masih dengan ekspresi yang sama seperti saat menatap Lea, Emma memutar lehernya ke arah Julian dengan sudut yang aneh.


Julian menelan ludah dan tubuhnya mulai gemetar.


"Aku tidak peduli kau tidak bisa punya anak atau apa pun itu. Jangan membuat Nico repot... atau akan kuhancurkan kau."


"A... u..."


Diancam Emma, Julian mundur selangkah.


Dia juga pernah menyaksikan sendiri kekuatan Emma saat latihan tempur melawan monster. Jadi aku sangat paham kenapa dia begitu ketakutan.


"A-aku ini putra kakak Kaisar... Aku memegang kelemahan Kaisar…"


"Kalau begitu, coba saja panggil bantuan. Bros yang berisi rahasia kematian ayahmu itu, kan? ...Kalau memang benda itu bisa menyelamatkan nyawamu."


"Hii!?"


Mustahil sebuah bros sekecil itu bisa menahan satu serangan dari makhluk terkuat di dunia.


Kalaupun ada yang datang menolong, kemungkinan besar mereka akan dibunuh lebih dulu, atau malah ikut terbunuh bersama orang yang datang menyelamatkan.


Bagaimanapun juga, yang menunggu mereka hanyalah takdir menjadi "bintang". Benar-benar menyedihkan.


"A-aku... aku..."


"Apa? Bicara yang jelas, dasar sampah."


Sambil menempelkan tangan ke telinganya, Emma mendekat perlahan dengan suara yang begitu mengintimidasi.


Julian hanya bisa menunduk dan gemetar ketakutan.


Bagaimanapun, kurasa kali ini semuanya benar-benar sudah selesai. Walaupun pada akhirnya Emma yang mengambil alih seluruh panggung.


"Terima kasih, Emma. Sudah cukup."


"Nico-san..."


Aku meletakkan tangan di bahunya sambil tersenyum.


Emma menoleh seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi segera kembali memasang senyum cerianya yang biasa.


Hmm….meskipun sosoknya yang begitu mendominasi sebagai makhluk terkuat di dunia memang luar biasa, tetap saja aku lebih menyukai wajahnya yang selalu tersenyum seperti ini.


"Sampai jumpa."


"Kalau kalian berani muncul lagi di hadapan Nico-san, saat itulah ajal kalian tiba. ...Hehe♪ Yah, meskipun aku akan memastikan kesempatan itu tidak pernah ada."


Setelah Emma mengucapkan kalimat penutup yang mengerikan itu, kami akhirnya meninggalkan ruang OSIS yang rasanya seperti tempat pembuangan sampah.


Semua orang yang tadi hanya menjadi penonton juga ikut keluar dengan wajah masih kebingungan.


Saat itu—


"Wah!?"


"Nico-san... Nico-san..."


Tiba-tiba wajahku terjepit di antara sepasang payudara raksasa berukuran H-cup hingga aku nyaris kehabisan napas.


Malah, karena rasanya terlalu nyaman, aku merasa kalau mati sekarang pun rasanya tidak masalah.


"A-ada apa, Emma? Kenapa tiba-tiba begini...?"


"Sudah tidak perlu menahannya lagi, kan...? Sejak tahu perempuan brengsek itu berselingkuh, pasti selama ini Nico-san sangat menderita. Tapi supaya orang-orang tidak khawatir, Nico-san sengaja bersikap ceria, berpura-pura tidak peduli, terus memaksakan diri..."


"Memaksakan diri", ya...


Sejak ingatan kehidupan laluku kembali dan aku sadar dunia ini adalah dunia Broken Days of Luminous III, aku juga sadar bahwa aku adalah pihak yang dikhianati.


Saat melihat status erotis Lea pun, aku hanya berpikir,


"Ah... jadi memang begitu."


Sejak awal memang sudah tidak ada yang bisa kulakukan.


Kalau sebelum dia direbut mungkin masih ada harapan, tetapi setelah semuanya terjadi, tidak ada lagi yang bisa diubah. 


Karena itu seharusnya aku tidak terlalu memikirkannya.


Aku tidak sedang memaksakan diri. Seharusnya begitu.


Tapi...


"Nico-san... Nico-san..."


Kenapa Emma justru terlihat lebih sedih daripada aku sendiri?


Kenapa dia menangis lebih banyak dariku?


Ini... ini...


"Aku... aku... sebenarnya apa salahku...?"


"Nico-san sama sekali tidak bersalah! Yang salah semuanya adalah perempuan brengsek itu! Nico-san... Nico-san itu orang yang sangat baik, sangat hangat, dan sangat luar biasa! Jadi Nico-san sama sekali tidak bersalah...!"


"Uh... uuh..."


Aku memeluk tubuh Emma sambil mengepalkan tanganku.


Lalu—


"U... uaa... uwaaaaaaaaaaa..hiks….!"


Di lorong akademi yang tidak ada seorang pun selain kami, aku menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.


Emma memelukku erat sambil ikut menitikkan air mata.


Josephine dan yang lainnya hanya berdiri diam, mengawasi kami dengan tenang.


◇◆◇◆◇


"Astaga... memalukan sekali..."


Setelah akhirnya tenang, aku menutupi wajahku dengan kedua tangan sambil menunduk.


Padahal usiaku sudah enam belas tahun...


Tidak, kalau ditambah umur kehidupan sebelumnya, aku bahkan sudah melewati empat puluh tahun.


Tetapi aku malah menangis sejadi-jadinya di depan banyak orang.


"Hiks... ehehe, tidak kok. Kalau sedang sedih, menangis itu tidak apa-apa. Lagi pula... kalau Nico-san mau, dadaku selalu siap menjadi tempat bersandar kapan pun."


Sambil mengusap air matanya dengan jari, Emma tersenyum lembut.


Apa dia dewi? Atau malah seperti seorang ibu?


Bagaimanapun juga, karena sudah mendapat izin darinya, kalau saatnya tiba aku akan menyelam sekuat tenaga ke dalam H-cup miliknya.


"Grrr... iri sekali... Padahal tunangan Nicholas-dono direbut orang lain de gozaru, kenapa setelah itu masih ada gadis secantik Emma-dono yang menunggunya dengan gozaru...!"


Terdengar suara penuh iri dari Hugo, tapi kuabaikan saja.


Memang beginilah bedanya kebaikan yang dikumpulkan oleh kekasih yang dikhianati dengan pria perebut.


"Hm."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Seperti yang Nicholas katakan, kurasa pria itu tidak akan langsung menyerang kita. Tetapi kita tetap tidak boleh lengah."


"Tentu saja aku akan pulang ke rumah dan melaporkan pembatalan pertunangan ini. Sekalian juga akan menceritakan identitas asli Julian."


Kalau begitu, keluargaku pasti akan mengurus sisanya. Lagi pula keluargaku memang bukan orang biasa.


Ayahku seorang marquis dengan gelar 'Jenius yang Hanya Muncul Sekali dalam Seratus Tahun'.


Ibuku adalah pemimpin serikat pembunuh dengan gelar 'Rubah Siluman Berekor Sembilan'.


Kakakku juga merupakan ajudan Pangeran Kedua dengan gelar 'Ahli Strategi Tiada Tanding'.


Pekerjaan dan kemampuan mereka benar-benar mengerikan.


"...Yah, tidak perlu khawatir. Selama ada aku, tidak akan kubiarkan siapa pun menyentuh kalian."


Josephine berkata demikian dengan ekspresi penuh tekad. 


Sifatnya yang selalu melindungi teman-temannya memang sangat keren. Berbeda dengan tunangannya, Pangeran Lambert, yang terus membiarkannya sendirian.


Tidak heran kalau akhirnya tunangannya direbut pria lain. Meskipun salah satu pria perebut itu sudah kusingkirkan.


(Saat melaporkan pembatalan pertunangan nanti, sekalian saja kuminta kakak menegur Pangeran Lambert.)


Berbeda denganku, kakakku memang luar biasa.


Sejak masih menjadi siswa akademi, bakatnya sudah menonjol hingga dipilih menjadi ajudan Pangeran Kedua Lambert.


Bahkan kabarnya Ayah juga berniat menyerahkan jabatan kepala keluarga kepadanya dalam waktu dekat.


Benar-benar beruntung punya kakak sehebat itu.


Sedangkan aku yang berniat menumpang hidup pada keluargaku bisa menjalani masa depan dengan tenang.


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Maksudnya ke rumah keluarga kami di ibu kota. Lagi pula seluruh keluargaku sedang tinggal di townhouse itu. Besok aku tetap akan datang ke akademi seperti biasa."


"Umm... Nico-san... bolehkah aku ikut juga...?"


"Tidak apa-apa. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Kalau terus bergantung padamu, nanti aku bisa kena hukuman."


Aku mengangkat bahu sambil menolak dengan lembut tawaran Emma.


Aku sangat berterima kasih. Namun seperti yang kukatakan, aku tidak ingin terus merepotkannya.


"Begitu ya... Tapi kalau terjadi apa-apa, tolong bilang padaku kapan saja, ya?"


"Tentu. Kalau memang perlu, aku pasti akan meminta bantuanmu."


Setelah berpamitan dengan semua orang, aku meninggalkan akademi dan menuju townhouse keluarga Friedland tempat keluargaku menginap.


Hanya saja...


"...Hehe♪ Tidak apa-apa. Besok pagi semuanya sudah selesai."


Aku tidak mendengar apa-apa.


Sama sekali tidak mendengar apa-apa.


◇◆◇◆◇


"Tuan Muda. Sebentar lagi Alexis-sama juga akan segera pulang."


Jacob, kepala pelayan keluarga kami, melaporkan hal itu kepada diriku yang sedang meringkuk memeluk lutut di kamar karena terlalu gugup.


Aku selalu penasaran. Kakak selalu dipanggil dengan embel-embel "Tuan", sementara aku sampai sekarang masih dipanggil "Tuan Muda".


Memang di dunia ini, sama seperti di kehidupan sebelumnya, seseorang baru dianggap dewasa saat berusia delapan belas tahun. Tapi bagaimanapun juga aku sudah menjadi murid Akademi Kekaisaran Luminous, lho. Akhir-akhir ini aku benar-benar ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.


"A-aku mengerti. Kalau begitu aku juga akan ke ruang tamu."


Sebentar lagi aku harus melaporkan kepada keluargaku bahwa aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Lea, dan bahwa Julian—anak haram keluarga kekaisaran—telah menjadikanku sebagai target.


Astaga...apa ya yang akan mereka pikirkan?


Meskipun Lea yang sepenuhnya bersalah, tetap saja membatalkan perjanjian pertunangan antarbangsawan bukanlah sesuatu yang bisa diterima begitu saja.


Belum lagi...aku juga akan melemparkan masalah besar berupa Julian, bom waktu yang bahkan Kaisar sendiri enggan menyentuhnya.


Kalau sial, aku mungkin saja diusir dari keluarga.


Aku hampir ingin muntah karena cemas, tetapi berhasil menahannya dan memasuki ruang tamu.


"Hm... kau sudah datang."


"Astaga, ada apa hari ini?"


Ayah, yang seperti biasa duduk dengan pose Gendo, menatapku tajam. Sementara Ibu menyentuhkan tangan ke pipinya dan bertanya dengan nada lembut.


Baiklah...


Perlu kukatakan dulu, kalau berbohong mungkin masih bisa terhadap Ayah, tapi tidak akan pernah berhasil terhadap Ibu. Jadi aku hanya bisa mengatakan yang sebenarnya.


(Tapi... susah sekali mengatakannya...)


Maksudku, bagaimana mungkin aku berkata, "Tunanganku direbut pria lain, jadi saya ingin membatalkan pertunangan!"


atau, "Pria itu ternyata putra kakak Kaisar dan sekarang saya menjadi target orang yang sangat berbahaya!"


Kalau sampai kukatakan begitu, mereka mungkin bisa pingsan. Tapi aku juga tidak mungkin menyembunyikannya.


Aku harus memantapkan hati.


Jadi...


"Umm... aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Lea..."


Aku mengatakannya dengan sangat hati-hati.


Saat itu juga ekspresi Ayah berubah menjadi serius.


"Kenapa? Bukankah pertunangan dengan Lea itu sejak awal merupakan keinginanmu sendiri?"


"..."


Ayah benar. Sebenarnya pertunangan dengan Lea memang keinginanku sendiri.


Karena dia adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertamaku, saat berusia tujuh tahun aku memohon kepada kedua orang tuaku agar menjodohkan kami.


Mana mungkin waktu itu aku membayangkan semuanya akan berakhir seperti ini. Tetapi aku tetap harus menjelaskan alasannya.


Ini juga bentuk pertanggungjawabanku sendiri.


"Sebenarnya..."


"Astaga, bukankah alasannya tidak penting? Ibu setuju."


Ibu memotong perkataanku sambil tersenyum.


Aku memang bersyukur, tapi...apa benar semudah itu?


Bagaimanapun juga pernikahanku dengan Lea juga merupakan perjanjian resmi antar keluarga bangsawan.


"Begitu saja sudah cukup, kan?"


"...Benar. Kalau Sabine sudah berkata begitu, aku juga tidak keberatan."


Didesak oleh senyum Ibu, Ayah akhirnya mengangguk.


Apa benar tidak apa-apa?


...Yah, di keluarga kami, perkataan Ibu memang mutlak. Kalau begitu seharusnya pembicaraan selesai sampai di sini.


"Alexis-sama telah tiba."


Namun rupanya keadaan berubah.


Kalau Kakak datang, pasti dia akan menginterogasiku habis-habisan soal alasan pembatalan pertunangan.


"Nico, aku sudah mendengar dari Jacob. Kau ingin membatalkan pertunanganmu dengan Lea-sama, begitu?"


Kakakku yang bermata sipit semakin menyipitkan matanya sambil menatapku begitu memasuki ruangan.


Sekarang aku benar-benar harus menjelaskan.


Aku mengumpulkan keberanian dan membuka mulut.


"...Ya. Aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Lea. Alasannya..."


"Aku sampai buru-buru kembali dari istana karena katanya ada urusan penting..."


Kakak memotong ucapanku, memegang pelipisnya, lalu menghela napas pendek.


Ugh...padahal Kakak sangat sibuk. Aku benar-benar merasa bersalah sudah merepotkannya.


"Sungguh... benar-benar urusan yang sepele. Ayah, Ibu, aku harus segera kembali ke istana. Masih banyak hal yang harus kuurus."


"Hm."


"Baiklah."


Apa Kakak benar-benar kecewa dengan masalah pertunanganku? Sampai-sampai dia bahkan tidak mau mendengarkan alasanku.


Yah, wajar juga. Dulu aku sendiri yang memohon agar dijodohkan, sekarang malah ingin membatalkannya.


Reaksi seperti itu memang pantas.


Yah, lupakan dulu soal itu.


"Umm... Kakak, maaf mengganggu di tengah kesibukanmu..."


"...Apa?"


"Sebenarnya soal Pangeran Lambert... bisakah Kakak menyampaikan kepadanya agar sesekali datang ke akademi dan menemui tunangannya, Josephine-sama? Beliau selalu menunggunya."


Dalam masalah Lea dan Julian, Josephine sudah banyak membantuku. Setidaknya aku harus membalas budi itu.


Lagipula...aku sendiri sudah berakhir seperti ini.


Aku ingin Josephine tetap mendapatkan kebahagiaannya.


"...Baik. Akan kusampaikan kepada Yang Mulia."


"Terima kasih."


Tanpa menoleh sedikit pun, Kakak keluar dari ruangan.


Pada akhirnya aku hampir tidak sempat menjelaskan apa pun. Tapi setidaknya urusan pembatalan pertunangan...


Ah, aku lupa mengatakan satu hal.


"Ngomong-ngomong, Ayah. Ada hal lain yang ingin kutanyakan. Apakah Ayah mengenal seorang putra keluarga Marquis Retzel bernama Julian?"


"Julian dari keluarga Marquis Retzel?"


Begitu nama Julian keluar dari mulutku, tatapan Ayah langsung berubah sangat tajam.


Apa jangan-jangan...Ayah memang tahu siapa sebenarnya Julian?


"Ya. Maaf karena setelah meminta pembatalan pertunangan, sekarang aku malah membawa masalah lagi. Sebenarnya aku sempat berselisih dengannya..."


"Lalu?"


"Aku mendengar dari Josephine-sama dari keluarga Duke Weidenfeller bahwa pria bernama Julian itu memiliki latar belakang yang rumit, jadi..."


Penjelasanku memang agak menggantung.


Tapi kurasa itu sudah cukup. Dilihat dari reaksinya, Ayah tampaknya memang mengetahui identitas Julian.


"Astaga. Nico tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Perselisihan antar bangsawan, meskipun melibatkan anak-anak mereka, seharusnya diselesaikan oleh keluarga masing-masing."


"B-benarkah?"


"Tentu saja. Jadi setelah ini serahkan semuanya kepada kami."


Sambil berkata begitu, Ibu menepuk dadanya.


Karena ukurannya hampir sebesar milik Emma, suara "plop" terdengar sangat pas.


Apa yang besar?


Ya, tentu saja... dadanya yang penuh aura keibuan itu.


"Nico, hanya itu yang ingin kau bicarakan?"


"Y-ya... kurang lebih begitu."


"Kalau begitu hari ini istirahatlah dengan tenang di kamarmu. Sisanya akan kami urus."


"Baik... terima kasih."


Aku membungkukkan badan dalam-dalam, lalu meninggalkan ruangan sementara Ayah dan Ibu memperhatikanku.


Serius...aku gugup sekali.


"Ternyata mereka sama sekali tidak mempertanyakan soal pembatalan pertunangan."


Kupikir mereka akan menginterogasiku habis-habisan.


Padahal dulu saat aku meminta bertunangan dengan Lea, Ayah, Ibu, bahkan Kakak sekalipun menginterogasiku seperti sedang menyelidiki tersangka.


Padahal waktu itu aku baru berusia tujuh tahun.


"Yah, bagiku justru melegakan."


Mengatakan kepada keluargaku bahwa tunanganku telah direbut pria lain benar-benar terlalu berat. Dalam banyak hal, aku merasa sangat diselamatkan.


Mungkin karena sejak mendapatkan skill 【Status Open】 dan mengingat kembali kehidupan laluku, terlalu banyak hal yang terjadi.


(Aku mengantuk sekali... bahkan membuka mata saja rasanya tidak sanggup.)


Begitu kembali ke kamarku, seluruh rasa lelah yang selama ini kutahan langsung menyerbu.


Sesaat setelah merebahkan diri di atas tempat tidur, aku pun langsung terlelap ke dalam mimpi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close