Chapter 1:
Prolog yang Selalu Dimulai dengan Tidur Bersama
Meskipun tidak sampai panas
terik... malam musim panas di dunia lain ini lumayan panas juga. Padahal di
Punosis Territory yang berada di dataran tinggi pegunungan, malam hari di musim
panas pun tidak terasa begitu panas... Malam musim panas pertamaku di Royal
Capital ini lumayan membuatku susah tidur.
Meskipun begitu, jika mengingat
hari-hari hingga kemarin, ini sudah seperti surga.
Setelah menyelesaikan latihan
lapangan luar sekolah di Dorefon Territory yang dimulai sekitar satu bulan yang
lalu, kami akhirnya tiba kembali di Royal Academy pada lewat tengah hari tadi.
Aku mandi di tengah kelelahan
yang luar biasa dan ambruk ke tempat tidur sekitar waktu sore.
Setelah itu kesadaranku
menghilang, dan saat aku sadar, suasana di dalam kamar sudah menjadi gelap
gulita.
Sambil menahan rasa lapar dan
haus, aku mencoba untuk bangun perlahan, namun menyadari bahwa tubuhku terasa
sangat berat. Saat aku menundukkan pandanganku, kulihat dalam kegelapan ada
seseorang yang sedang memeluk erat tubuhku.
Ah... pantas saja terasa panas.
Aroma manis yang
menyerupai bunga Osmanthus menggelitik hidungku. Mataku yang mulai terbiasa
dengan kegelapan melihat rambut panjang keemasan yang sehalus sutra.
"Hugh... aku suka
padamu~..."
Gadis yang menggumamkan igauan tidur semanis madu ini bernama Lucretia von Ries. Dia adalah Seventh Putri dari Ries Kingdom, teman sekamarku—seorang gadis yang menyamar sebagai laki-laki—bernama Lugh Bect, dan kekasih tercintaku, Tia.
Tia, dalam balutan negligee hijau
tipis, merapatkan tubuhnya erat padaku.
Suhu tubuhnya dan sensasi lembut
yang samar namun nyata itu tersalurkan langsung padaku yang hanya mengenakan
sehelai kemeja.
Meskipun selama latihan lapangan
aku juga sering tidur bersamanya, rasanya sudah lama sekali sejak kami menempel
seerat ini. Mungkin terakhir kali adalah sebelum kami pergi latihan lapangan.
Perbedaan antara saat itu dan
sekarang adalah kenyataan bahwa aku dan Tia telah resmi berpacaran. Sebagai
buktinya, di jari manis tangan kanannya tersemat cincin yang kuberikan saat
ulang tahunnya.
Gulp, tanpa sadar aku menelan
ludah.
Tidak, tidak, tenanglah
diriku...! Meskipun aku sudah menjadi kekasih Tia, bukan berarti aku bisa
melakukan apa saja seenaknya.
Tia memiliki posisi sebagai
Seventh Putri dari Ries Kingdom, dan kakak kandungnya, Pangeran Lucas, sedang
berada di tengah-tengah konflik Royal Succession (perebutan takhta). Agar
pernikahan kami nantinya diakui, aku tidak boleh menjadi beban dengan melakukan
kesalahan di tempat seperti ini.
Lagipula, ibu Tia mungkin masih
mengawasinya dari atas sana...
Aku mengerahkan seluruh akal
sehatku untuk menepis pikiran-pikiran kotor. Tujuan utamaku adalah hubungan
romantis yang platonik. Setidaknya untuk saat ini, kami belum boleh melangkah
lebih jauh dari itu.
Aku menarik napas dalam-dalam
berulang kali untuk menenangkan diri, melemaskan tubuhku, dan kembali
memejamkan mata.
"...Muu. Hugh penakut."
Aku merasa mendengar gumaman
seperti itu, tapi pasti itu cuma halusinasiku yang mendengar igauan Tia.
Lebih baik aku menganggapnya
begitu saja.
---
Keesokan paginya, saat aku
perlahan membuka mata, rambut pirang yang berkilauan langsung menyambut
pandanganku. Ujung rambutnya menyentuh ujung hidungku, terasa geli hingga tanpa
sadar wajahku berkerut aneh. Melihat itu, tawa tertahan yang tak bisa dibendung
pun meledak.
"Selamat pagi, Tia. Apa
wajahku selucu itu?"
"Pfft, ma-maaf, Hugh.
Soalnya lucu banget... ahaha."
"Ya ampun..."
Sambil mengabaikan Tia yang
tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya, aku perlahan bangkit. Saat aku
terbangun tadi, rasanya wajah Tia sangat dekat denganku, tapi mungkin itu cuma
perasaanku saja.
Melihat jam, ini tepat waktunya
untuk berangkat latihan pagi. Kemejaku yang menempel di kulit karena keringat
terasa tidak nyaman, tapi aku akan mandi setelah latihan selesai saja...
Aku turun dari tempat tidur
dengan malas dan menuju wastafel untuk mencuci muka. Air yang keluar dari keran
Magic Tool itu terasa dingin dan menyegarkan meski di musim panas.
Ngomong-ngomong, aku sering menggunakannya tanpa pikir panjang, tapi terbuat dari
apa sebenarnya alat ini? Kalau aku bertanya pada Ryug, apakah dia akan
memberitahuku?
Sambil mengeringkan wajah dengan
handuk, aku kembali ke kamar. Tia yang sedang duduk di atas tempat tidurku
sambil memeluk boneka Nokonoko-san bertanya padaku.
"Sudah waktunya
pergi latihan, kan? Boleh aku ikut?"
"Kau mau mengayunkan
pedang lagi?"
"Bukan. Hari ini aku cuma
mau menonton. Aku ingin melihat sisi keren Hugh... Tidak boleh, ya?"
"B-Bukannya tidak
boleh..."
Memang tidak dilarang, tapi
tekanan untuk tidak terlihat menyedihkan itu luar biasa berat.
Selama latihan lapangan, aku
jarang menyentuh pedang, jadi ini adalah latihan yang sudah lama tak kulakukan.
Meskipun aku merasa sudah sedikit
lebih baik dibandingkan saat pertama kali mulai, kemampuanku masih jauh di
bawah Nona Alyssa atau Idiot. Padahal kami baru saja resmi menjadi sepasang
kekasih, aku tidak ingin memperlihatkan sisi menyedihkanku pada Tia...
Bagaimanapun caranya, aku harus
menghindari agar tidak dihajar habis-habisan oleh Nona Alyssa seperti biasanya.
Mendengar jawabanku, Tia
tersenyum senang sambil berkata "Hore!" dan turun dari tempat tidur.
Kemudian ia menuju lemarinya dan mengeluarkan seragam Royal Academy.
Ia langsung mengulurkan
tangan ke ujung negligee-nya dan mulai mengangkatnya. Dengan panik, aku
menutupi wajah dengan kedua tangan dan berbalik badan. Kumohon, setidaknya
miliki sedikit rasa malu...
Setelah beberapa saat
mendengar suara gesekan pakaian, aku mendengar suara "Sudah beres",
jadi aku menoleh dengan ragu-ragu.
Di sana berdiri Tia yang
telah berganti pakaian dengan seragam Royal Academy... namun,
"Rasa janggalnya luar biasa
ya..."
Penampilannya sangat tidak serasi
sampai-sampai aku tanpa sadar mengatakan hal itu. Tia yang menoleh sambil
mengibaskan rambut panjang keemasannya mengenakan seragam laki-laki Royal
Academy.
Aku sudah terbiasa melihatnya
berseragam dengan rambut perak pendek, tapi aku tidak menyangka hanya dengan
mengubah gaya dan warna rambut bisa membuat penampilannya terasa sangat tidak
seimbang.
"Ah, aku lupa!"
Sepertinya ia baru sadar setelah
melihat reaksiku. Tia tampak tersentak dan berlari menuju meja belajarnya. Di
atas meja, terdapat sebuah liontin yang dihiasi ornamen berbentuk mahkota bunga
dan permata seperti bulan purnama.
Ia mengalungkannya di leher, dan
saat tangannya menyentuh permata itu, rambut emas Tia memancarkan cahaya redup.
Cahaya itu mengubah warna
rambutnya dari emas menjadi perak keemasan, dan panjang rambutnya memendek
dengan cepat.
Ooh. Benar-benar seperti adegan transformasi di anime magical girl.
Tak lama kemudian, sosok Lugh yang sudah kukenal berlari menghampiriku
sambil berkata, "Maaf membuatmu menunggu."
"Ada apa, Hugh? Kenapa kau
tepuk tangan...?"
"Tidak, ini pertama kalinya
aku melihat rambutmu berubah, jadi kupikir itu luar biasa."
"Eh? Masa sih sehebat
itu?"
Lugh memiringkan kepalanya,
tampaknya kurang paham. Yah, rasa kagum ini muncul karena aku memiliki ingatan
dari kehidupan masa laluku... Dijelaskan pun mungkin dia tidak akan mengerti.
"Ayo kita berangkat
sekarang, Lugh."
"Um... ah, tunggu
sebentar."
Saat aku hendak berjalan menuju
pintu, Lugh menarik ujung kemejaku dengan erat untuk menghentikanku. Saat aku
menoleh untuk bertanya ada apa, ia menunduk dengan pipi merona dan tampak
ragu-ragu.
A-ada apa tiba-tiba...?
"Ehm, begini. Kita, anu,
kita sudah... berpacaran, kan?"
"A, ah. Benar."
Di dasar Dorefon Great Labyrinth,
kami telah saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
Tidak diragukan lagi bahwa kami
adalah sepasang kekasih. Malahan kami sudah berjanji untuk menikah, jadi kami
juga bertunangan, tapi karena itu bukan hal yang bisa kami putuskan sendiri,
untuk saat ini tidak perlu terlalu dipikirkan.
"Kalau begitu, aku ingin
melakukan itu."
"Itu...?"
"Ciuman 'selamat
jalan'."
...Aku merasa jantungku hampir
berhenti karena pacarku ini terlalu imut.
Boro-boro mau berkomentar
"Itu sih lebih cocok untuk pengantin baru daripada pacaran", ruang di
kepalaku untuk memikirkan hal itu sudah menguap entah ke mana.
Apa sebaiknya aku tidak usah
pergi latihan dan menghabiskan seharian bermesraan di kamar saja ya... Pikiran
kotor itu muncul, namun buru-buru kuusir dari kepalaku. Kalau aku sampai
melakukannya, aku tidak yakin bisa menahan diri hanya dengan ciuman.
"Waktu aku kecil, aku
melihat ibuku melakukannya pada ayah, dan aku pikir itu manis sekali. Jadi,
um... tidak boleh, ya?"
"Tentu saja boleh."
Begitu aku mengatakannya, wajah
Lugh langsung berseri-seri, dan ia melompat memelukku. Aku menangkap tubuhnya,
sedikit menekuk lutut agar pandangan kami sejajar, dan tanpa dikomando, bibir
kami pun bertemu.
"Ehehe... Hati-hati
di jalan, Hugh."
"Ya, aku berangkat.
...Eh? Bukannya kau ikut
juga?"
"...Ah."
Sepertinya ia sangat ingin
melakukan ciuman 'selamat jalan' itu sampai-sampai ia benar-benar lupa.
Yah, mau bagaimana lagi.
Sisi dirinya yang seperti itu pun
aku sangat menyukainya.
Setelah menenangkan diri, kami
berdua keluar dari kamar asrama. Kami berjalan berdampingan menuju lapangan
kosong di belakang asrama guru, tempat kami biasanya berlatih.
Jarak kami cukup dekat hingga
tangan kami hampir bersentuhan, namun kami menahan diri untuk tidak
bergandengan. Meski asrama masih diselimuti kesunyian pagi, kami tidak bisa
memastikan tidak akan berpapasan dengan seseorang.
Saat aku berjalan sambil
memperhatikan sekitar, Lugh menarik-narik lengan kemejaku.
"Hei, Hugh."
"Hm? Ada apa?"
"Kapan kau akan menembak
Lily dan Lecty?"
"Pfft...!?"
Pertanyaan yang tak terduga itu
membuatku nyaris tersandung di jalan yang rata.
"E-eh, Nona Lugh...? Apa
maksud pertanyaan barusan...?"
"Fufu. Kenapa kau jadi
bicara formal begitu, Hugh?"
"Bukan, habisnya..."
Aku tidak pernah menyangka dia
akan bertanya kapan aku akan menyatakan cinta pada gadis lain. Apalagi tepat
setelah kami berciuman. Tentu saja aku jadi panik dan bahasaku menjadi formal.
Dan yang paling menakutkan, aku
tidak bisa membaca niat Lugh yang sebenarnya.
Apakah ini... semacam peringatan
untuk pacar yang mata keranjang...?
"Hugh juga menyukai Lily dan Lecty, kan?"
"A, ah. Itu, yah..."
Kalau ditanya suka atau tidak,
tentu saja aku suka.
Lily memelukku dengan penuh
gairah saat aku hampir hancur oleh tekanan Skill Physical Enhancement. Lecty
menerima dan berusaha sekuat tenaga untuk mendukungku.
Jika aku harus mengungkapkan
perasaanku pada mereka berdua, itu jelas merupakan perasaan romantis.
"Lily dan Lecty sudah
mengungkapkan perasaan mereka bahwa mereka sangat mencintai Hugh. Bahkan
setelah itu, mereka mendukungku agar hubunganku dengan Hugh berjalan lancar,
jadi kupikir sekarang giliranku untuk mendukung mereka berdua."
"Mendukung, ya..."
Aku tak pernah membayangkan bahwa
Tia akan mencoba menyatukanku dengan Lily dan Lecty. Karena aku mengira dia
adalah tipe gadis pencemburu yang posesif, aku bahkan sempat berpikir dia akan
berusaha memisahkanku dari mereka berdua...
Omong-omong soal itu, Lily
tampaknya sama sekali tidak khawatir... Karena mereka teman masa kecil, mungkin
Lily sudah sangat memahami karakter Tia.
"Ano... kau tidak keberatan?
Kalau aku mulai berpacaran dengan gadis lain?"
"Gadis lain? Memangnya ada
orang lain selain Lily dan Lecty? Jangan-jangan Rosalie!?"
"B-bukan, bukan begitu.
Tidak ada orang lain selain mereka berdua, jadi tenang saja."
Aku menenangkan Lugh yang
langsung menggeram dan menunjukkan kewaspadaan layaknya anjing penjaga.
Reaksinya sesuai dengan apa yang kuperkirakan di awal. Rupanya, hanya Lily dan
Lecty yang menjadi pengecualian khusus bagi Tia.
"Muu... Aku hanya
mengizinkan Lily dan Lecty saja lho. Kalau kau sampai berselingkuh dengan gadis
lain, aku tidak akan memaafkanmu."
"M-mengerti. Aku
akan mengingatnya baik-baik. Jangan khawatir."
Padahal aku baru saja
mulai berpacaran dengan gadis yang kucintai, mana mungkin aku berselingkuh
dengan gadis lain. ...Seharusnya aku bisa berkata keren seperti itu, tapi jujur
saja, ada bagian dari diriku yang merasa lega karena mendapat izin dari Tia.
Lily maupun Lecty
sama-sama gadis yang tak kalah menarik dari Tia, dan yang terpenting, mereka
memiliki perasaan padaku. Aku ingin menghadapi dan membalas perasaan mereka
dengan sungguh-sungguh.
Hanya saja, ada sesuatu
yang sedikit mengganjal di hatiku.
"Tapi, apa
benar-benar tidak apa-apa? Kalau aku berpacaran dengan Lily dan Lecty
juga."
"...Tidak apa-apa kok, kalau
itu Lily dan Lecty. Mereka mengetahui rahasiaku, dan mereka juga mau
menghormatiku sebagai First Wife. Lagi pula, aku juga sangat menyukai mereka
berdua. Kalau memang istrimu akan bertambah, kupikir lebih baik Lily dan Lecty."
"Jadi premisnya aku
akan menambah istri lagi ya..."
Aku tidak pernah berpikir
kalau diriku ini playboy yang seperti itu...
Yah, meskipun kenyataan
bahwa aku disukai oleh tiga orang gadis mungkin membuktikannya.
"Ini bukan soal
kemauanmu, Hugh, tapi sebagai seorang Bangsawan, bukankah itu hal yang wajar?
Bukankah wajar jika setiap keluarga memiliki hingga Istri Ke-tiga?"
Ah... Begitu ya, rupanya ada
perbedaan pemahaman di situ.
Bagi Tia yang lahir dan besar di
lingkungan keluarga Ries Kingdom, merupakan akal sehat bagi kepala keluarga
bangsawan untuk memiliki beberapa istri. Kenyataannya, Tia sendiri adalah putri
dari Third Consort Yang Mulia Raja.
Di sisi lain, Ayahku tidak
mengambil wanita lain sebagai istri selain Ibuku. Meskipun ia adalah bangsawan
dari pelosok perbatasan, jika ia mau, ia pasti bisa mengambil satu atau dua
istri lagi. Alasan ia tidak melakukannya mungkin karena Ayahku sangat tergila-gila
pada Ibuku.
Alasan lainnya mungkin karena
pertumbuhanku yang berjalan lancar. Jika aku terlahir sebagai perempuan, atau
jika aku mati muda, ia mungkin akan mengambil istri kedua untuk mengamankan
pewaris.
Tumbuh di lingkungan keluarga
seperti itu sejak kecil, ditambah dengan norma dan etika dari kehidupan masa
laluku yang belum hilang, membuatku memiliki sedikit penolakan atau kecemasan,
seperti "Apakah ini benar-benar tidak apa-apa..." terhadap konsep
poligami.
Sambil menyamarkan urusan
kehidupan masa laluku, aku menjelaskan hal itu pada Lugh. Dia tersenyum nakal
dan membalikkan pertanyaan padaku.
"Lalu, apakah Hugh rela jika
Lily dan Lecty menikah dengan pria lain?"
"Aku benar-benar
tidak sudi."
Baru membayangkannya saja
sudah membuatku ingin muntah darah.
"Fufu. Kalau begitu, tidak
ada pilihan lain selain Hugh yang membahagiakan mereka, kan?"
"...Kau benar."
Mana mungkin masuk akal jika aku
berkata tidak akan membalas perasaan kalian, tapi aku juga tidak ingin melihat
kalian menikah dengan pria lain. Kalau begitu, hal yang harus kulakukan
hanyalah satu.
Lily, maupun Lecty. Apapun yang
terjadi, aku akan mengambil tanggung jawab dan membahagiakan mereka...!
"Tentu saja, kau juga harus
membahagiakanku lho?"
"Aku akan berusaha
semaksimal mungkin."
Apakah hanya perasaanku saja,
bahwa di masa depan yang tak terlalu jauh, aku sepertinya tidak akan bisa
mengangkat kepala di hadapan istri-istriku...?
---
Setelah kami meninggalkan asrama
putra dan berjalan menuju asrama guru, kami sudah bisa mendengar suara pedang
kayu yang saling beradu dengan keras bahkan sebelum kami mencapai bagian
belakang gedung. Apakah Nona Alyssa dan Idiot sudah memulai latihan lebih dulu?
Tapi sepertinya ini terlalu intens.
Sambil merasa heran, aku berjalan
ke belakang asrama, dan ternyata yang sedang bertukar serangan pedang kayu di
sana adalah Nona Alyssa dan Nona Cecily.
Nona Alyssa adalah tangan kanan
Roan Ashblade—yang menjabat sebagai Vice Commander dari Royal Knights dan
diakui sebagai kesatria terkuat di kerajaan—dan ia memiliki kekuatan tepat di
bawah Roan.
Dan Nona Cecily, seorang Paladin
yang ditunjuk sebagai pengawal Saint Rosalie, yang ditetapkan oleh Divine
Church.
Kalau tidak salah, mereka berdua adalah senior dan junior saat masih di
Royal Academy.
Menghadapi serangan Nona Cecily yang gencar, Nona Alyssa menangkisnya dengan
santai, bahkan dengan ekspresi seolah ia bisa bersenandung.
...Namun, tebasan pedang Nona Cecily luar biasa tajam, dan setiap ayunannya
terlihat sangat berat. Jika aku mencoba menahannya secara langsung, aku tak
akan sanggup menahan tiga pukulan.
"Majuuu! Di situ! Hajar dia,
Cecily!"
"Bisakah kau menonton dalam
diam saja, Lady Rosalie..."
Di bawah naungan pohon tak jauh
dari posisi Nona Alyssa dan Nona Cecily, Rosalie dan Idiot sedang menonton
pertandingan mereka. Rosalie benar-benar tenggelam dalam suasana menyemangati,
tapi Idiot mengamati gerakan mereka berdua dengan penuh konsentrasi.
Di tingkat keahlian Idiot, ia
pasti bisa belajar banyak dari pertarungan mereka berdua.
Aku juga ingin menyerap sesuatu
dari situ, tapi perbedaan tingkat kami terlalu jauh sampai aku tidak tahu apa
yang harus kupelajari dan bagaimana caranya.
Untuk saat ini, aku memutuskan
untuk berteduh di bawah pohon terdekat bersama Lugh dan menonton pertandingan
mereka.
"Taaahhhhhhh!"
"Langkahmu kurang dalam,
Nona Cecily! Selain itu, kebiasaanmu membiarkan fokusmu tersita ke sisi kiri
pandanganmu masih belum berubah sejak zaman kau bersekolah. Kau gampang sekali
tertipu gertakan kecil."
"Mana mungk—!?"
"Nah kan, kena tipu."
Tebasan yang datang dari sisi
kanan pandangan Nona Cecily dengan mudah menerbangkan pedang kayunya. Pedang
yang terpental itu melayang lurus ke arah Rosalie, namun Idiot menangkisnya
dengan mudah menggunakan pedang kayunya.
"A-terima kasih, Tuan
Idiot."
"Bukan apa-apa."
Idiot mengatakannya dengan wajah
sok keren, tapi itu adalah trik yang tidak bisa kutiru.
Kalau pedang itu terbang ke
arahku, aku hanya punya pilihan untuk menerimanya dengan tubuhku...
"Anda tidak terluka,
Lady Rosalie!?"
"Ya, Tuan Idiot
telah melindungiku."
Mendengar bahwa Rosalie
aman, Nona Cecily menghela napas lega.
Di sisi lain, Nona Alyssa
tampaknya tidak terlalu peduli. Bukan karena dia tidak memedulikan keselamatan
Rosalie, tapi ia pasti yakin bahwa Idiot akan melindunginya.
"Fufun, kau masih kurang,
Nona Cecily. Dengan ini, kemenanganku genap empat ratus kali."
"Kemenangan ketiga ratus
tujuh puluh empat! ...Astaga, Senior memang selalu asal-asalan seperti
biasa."
Melihat Nona Alyssa yang
membusungkan dada dengan wajah bangga, Nona Cecily memanyunkan bibirnya dengan
kesal.
Agak mengejutkan. Kupikir Nona
Cecily memiliki kesan sebagai wanita dewasa yang tenang, tapi ternyata ia bisa
menunjukkan reaksi kekanak-kanakan di hadapan Nona Alyssa.
Saat aku sedang memperhatikan
Nona Cecily sambil memikirkan hal itu, Lugh yang berada di sebelahku menarik
ujung kemejaku. Saat aku menoleh padanya, Lugh sedang menggembungkan pipinya
dan menatapku.
"Muu~, Nona Cecily tidak
boleh, ya."
"A-aku mengerti, aku
mengerti. Aku bukan tipe orang yang mau menjadikan siapa saja istriku kok, jadi
tenang saja."
Tentu saja Nona Cecily
memang wanita yang sangat menarik, tapi aku sama sekali tak berniat
menjadikannya calon istri keempat atau kelima. Setidaknya, aku sadar dirilah.
...Atau lebih tepatnya,
Nona Cecily sendiri pasti sama sekali tidak menaruh perasaan apa-apa padaku.
"Nah, selanjutnya
giliranmu, Bocah Idiot. Karena
kau akan kupekerjakan mati-matian selama liburan musim panas, aku akan
menempamu agar kau siap digunakan mulai sekarang."
"Hmph, itu yang
kuharapkan."
Didesak oleh Nona Alyssa, Idiot
mengambil pedang kayunya dan berhadapan dengannya.
Keluarga Hotness, yang
mengabaikan Royal Decree dan berkonspirasi dengan Pangeran Sleigh dalam
mendalangi insiden penculikan Lecty, telah diturunkan gelarnya dari Marquis
menjadi Baron. Idiot, yang kini menjadi kepala keluarga Hotness, harus
bergabung dengan Royal Knights dan meraih pencapaian demi memulihkan kehormatan
nama keluarganya.
Itu pasti sangat berat, tapi
satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah mendukungnya dari lubuk hati
terdalam...
Kalau Nona Alyssa sibuk melatih
Idiot, aku harus berlatih sendiri. Ya sudah, sebaiknya aku melakukan ayunan
pedang kosong saja...
"Kalau begitu, dengan segala
hormat, izinkan saya yang membimbing latihan Anda, Tuan Hugh."
"Eh? Nona Cecily?"
"Apakah Anda keberatan?"
"Tidak, tidak sama sekali. Justru aku yang ingin memintanya pada
Anda."
Gaya berpedang Nona Cecily memberikanku kesan seperti kristalisasi dari
terus-menerus menguasai fondasi dasar. Itu adalah ilmu pedang yang mirip namun
berbeda dengan milik Nona Alyssa, yang menjadi bebas dan tak terduga setelah
menguasai fondasinya.
Jika harus memilih, kurasa ilmu pedang Nona Cecily lebih cocok untukku.
"Mohon bimbingannya, Nona Cecily."
"Baiklah. Mari kita mulai."
Bimbingan pedang Nona Cecily berbanding terbalik dengan Nona Alyssa yang
terus-menerus mengulangi pertarungan sungguhan. Mulai dari sudut lengan saat
memegang pedang, hingga posisi kaki untuk menghasilkan ayunan yang paling kuat.
Itu adalah pelatihan logis yang mencari gerakan optimal berdasarkan struktur
tubuhku.
"Tuan Hugh, bisakah Anda mencoba mengayunkan pedang sekali lagi dengan
kuda-kuda yang tadi?"
"Baik."
Aku mengayunkan pedang sesuai instruksi Nona Cecily. Pedang yang kuayunkan
dengan gerakan tubuh yang mulus menghasilkan tebasan yang lebih tajam dan
berisi beban tubuh dibandingkan biasanya. Tentu ini masih belum sebanding
dengan ayunan pedang Nona Cecily yang kulihat tadi, tapi bukankah ini cukup
bagus?
Saat aku memikirkan hal itu, Nona Cecily yang melihat gerakanku memiringkan
kepalanya. Ia meletakkan
pedang kayunya di tanah, melangkah mendekatiku, dan berkata,
"Masih sedikit
kurang tepat. Tolong buka sudut lengan Anda sedikit lebih lebar, dan tarik kaki
kanan Anda setengah langkah ke belakang. Lalu ketiak Anda—"
"N-Nona Cecily.
I-ini terlalu dekat, bukan!?"
"Terlalu dekat,
ya?"
Tepat di depan mata dan
hidungku, Nona Cecily yang berwajah rupawan memiringkan kepalanya kebingungan.
Aroma segar seperti citrus menggelitik hidungku, dan tubuhnya menempel
sedemikian rupa hingga sensasi lembut menekan dadaku.
B-bimbingan nempel dengan
jarak nol sentimeter ini benar-benar terlalu merangsang!
Melihat reaksiku yang
kebingungan dan panik, Nona Cecily sepertinya baru menyadari bahwa dadanya
menempel padaku.
"Ah, iya, ternyata mengenai
Anda. Mohon maaf, Tuan Hugh. Tolong tahan sedikit lagi."
"Eeeeeh!?"
Ternyata bimbingannya tetap
dilanjutkan!
Dengan ekspresi yang sangat
serius, Nona Cecily berkonsentrasi membetulkan posisi tangan, kaki, dan
posturku. Tampaknya fakta bahwa dadanya menempel padaku bukanlah masalah besar
bagi dirinya. Dia
tidak sedang menggodaku, tapi benar-benar murni memberiku instruksi pedang
dengan sangat serius.
Justru karena itulah ini sangat
gawat. Karena di saat yang sama, aku tak tahu bagaimana harus beralasan
terhadap tatapan dingin yang menusuk punggungku...
Bagaimanapun juga, aku sama
sekali tidak boleh melakukan hal yang mengkhianati kebaikan hati Nona Cecily.
Sepertinya latihan hari ini akan
lebih menguji kekuatan mentalku daripada Swordsmanship!
---
Satu jam kemudian,
"Mari kita akhiri latihan
hari ini sampai di sini."
Mendengar kata-kata Nona Cecily,
aku langsung terduduk lemas di tempat.
L-lelahnya... Rasanya lelah ini
membuat latihan biasa di mana aku dihajar habis-habisan oleh Nona Alyssa terasa
jauh lebih mendingan.
"Kerja keras yang bagus,
Tuan Hugh."
"T-terima kasih..."
Meskipun Nona Cecily yang
tersenyum mengapresiasi kerja kerasku, aku hanya bisa membalasnya dengan senyum
masam.
Aku mengelus dada lega karena
entah bagaimana berhasil tidak melakukan hal memalukan. Jujur saja, tadi itu
sangat berbahaya.
"Bagaimana jika Anda
membandingkannya sendiri? Apakah Anda merasakan perbedaan seperti kemudahan
dalam mengayunkan pedang?"
"Begitulah..."
Terus terang, karena aku terlalu
sibuk mati-matian menepis pikiran kotor, agak meragukan apakah aku benar-benar
meresapi bimbingan Nona Cecily. Tapi, memang ada sesuatu yang kudapatkan.
"Berkat bimbingan Nona
Cecily yang sangat teliti mengenai gerakan tubuh, rasanya aku mulai menangkap
trik untuk memasukkan berat badan ke dalam ayunan pedang."
Teknik ini mungkin lebih dekat ke
seni bela diri fisik (Martial Arts) daripada sekadar Swordsmanship.
Aku hampir lupa karena Nona
Alyssa dan Nona Cecily memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi pada dasarnya
dalam Swordsmanship, wanita jauh lebih tidak diuntungkan dibandingkan pria.
Ada berbagai faktor seperti
perbedaan struktur tubuh dasar, tinggi badan, dan pembentukan otot;
menjembatani perbedaan tersebut tidaklah mudah dengan usaha yang biasa-biasa
saja.
Namun, Nona Alyssa dan Nona
Cecily sama-sama menguasai Swordsmanship dari pendekatan yang berbeda, dan
sukses memperoleh kekuatan yang mampu menutupi perbedaan gender tersebut.
Nona Alyssa melakukannya melalui
pengulangan postur dasar secara menyeluruh, serta insting dan kemampuan
adaptasi fleksibel yang diasah lewat simulasi pertarungan nyata. Sedangkan Nona
Cecily melakukannya dengan memperdalam pemahaman tentang struktur tubuh dan
memaksimalkan kemampuan fisiknya sendiri.
"Tuan Hugh juga diberkati
dengan fisik yang bagus, jadi jika Anda terus berlatih seperti ini, saya yakin
Anda bisa menjadi pendekar pedang yang hebat. Setelah lulus, pastikan
untuk bergabung dengan Holy Knights dari Divine Church."
"Ah, umm. Saya harus
mewarisi keluarga saya, jadi mohon maaf."
"Begitu ya..."
Nona Cecily menundukkan bahunya
dengan kecewa. Jika saja aku bertemu dengan Nona Cecily sebelum Tia, Lily, dan
yang lainnya, mungkin masa depan seperti itu... tidak, tidak akan terjadi.
Tujuanku tetaplah kehidupan Slow
Life. Baik Royal Knights maupun Holy Knights dari Divine Church sama-sama
terlihat seperti tempat kerja yang mengeksploitasi, jadi bergabung dengan
mereka itu agak...
Saat aku sedang memikirkan hal
itu, tiba-tiba terdengar suara benturan pedang kayu, dan aku pun mengarahkan
pandanganku ke sana.
Di sana, Idiot terus-menerus
menerima serangan bertubi-tubi dari Nona Alyssa.
Skill Guardian milik
Idiot adalah skill berbasis pedang yang berspesialisasi dalam pertahanan.
Pertahanan dinding besinya itu tidak bisa ditembus bahkan dengan Skill
Swordmanship yang telah mencapai Lv. Max melalui Skill Brainwash.
...Seharusnya begitu.
"Ya, kau mati."
Pedang kayu Nona Alyssa
kini menempel di ketiak kanan Idiot. Jika ini adalah medan perang sungguhan, lengan kanan Idiot mungkin sudah
tertebas putus dari bahunya.
"M-mustahil...!?"
Idiot menunjukkan ekspresi
terkejut yang luar biasa. Aku juga sama terkejutnya.
Mampu menembus itu, seberapa kuat
sebenarnya Nona Alyssa...!?
"Mungkin hari ini sampai di
sini saja, ya~"
"T-tunggu! Sekali lagi! Kali
ini aku pasti akan menang!"
"Tidak, tidak, kalau kita
teruskan nanti waktu sarapanmu akan habis, kan~. Lanjutannya besok lagi
ya~"
Nona Alyssa mengangkat bahu
dengan pasrah dan berbalik menuju asrama guru.
Idiot meninju tanah
dengan penuh rasa frustrasi.
Aku ingin mengatakan sesuatu
kepadanya, tapi apakah sebaiknya kubiarkan saja untuk saat ini...
Untuk saat ini, mari kita ikuti
Nona Alyssa dan sudahi latihan hari ini.
Begitulah yang kupikirkan, tapi
Idiot kembali berdiri dan mulai mengayunkan pedang kayunya.
"Idiot, kau tidak pergi
makan?"
"Maaf, pergilah kalian
berdua saja. Aku akan terus mengayunkan pedang sampai kelas dimulai."
Sepertinya dia benar-benar kesal
karena kalah dari Nona Alyssa...
Aku bisa memahami perasaannya. Di
saat-saat seperti ini, seseorang pasti ingin terus mengayunkan pedangnya sampai
merasa puas.
"Mengerti. Kalau
begitu--"
"Kita akan pergi sarapan,
Tuan Idiot!"
Mencegahku yang hendak pamit
sambil berpesan agar ia tidak memaksakan diri, Rosalie memanggil Idiot. Idiot berhenti mengayunkan
pedangnya dan menatap Rosalie dengan ekspresi tercengang.
"Apakah kau tidak
mendengar percakapan kami tadi, Nona Rosalie?"
"Tentu saja aku
mendengarnya. Itu adalah pertukaran kata yang sederhana antar pria namun terasa
penuh persahabatan! T-a-p-i,
karena aku bukan seorang pria, mohon maaf saja ya."
"Nona Rosalie, kumohon
jangan mengganggu."
"Permisi ya. Meskipun begini
aku ini adalah seorang Sister, jadi sifatku tidak bisa menahan diri untuk tidak
ikut campur. Sarapan adalah sumber energi untuk seharian, mengabaikannya adalah
hal yang tidak masuk akal."
"Melewatkan sarapan sehari
saja tidak akan membuatku mati."
"Apa Anda pikir Anda bisa
mengalahkan Nona Alyssa hanya dengan mengayunkan pedang seharian?"
"Itu..."
Kata-kata Idiot tercekat.
...Yah, apa yang dikatakan
Rosalie ada benarnya. Terus-menerus mengayunkan pedang sambil melewatkan
sarapan tidak menjamin Idiot bisa menang melawan Nona Alyssa. Tentu saja itu
bukan usaha yang sia-sia, tetapi maknanya sedikit lebih dari sekadar melampiaskan
rasa frustrasi atas kekalahannya.
"Aku memang benar-benar
amatir soal pedang, tapi aku telah mendengarkan masalah banyak orang, lho? Di
antara mereka, banyak juga yang menekuni ilmu pedang. Jika aku boleh bicara
berdasarkan pengalaman tersebut, bersikap terburu-buru hanya akan mempersempit
sudut pandang Anda."
"Mempersempit sudut
pandang...?"
"Benar. Bagi manusia,
menjaga ketenangan hati setiap saat adalah ideal, tetapi itu sangat sulit
dilakukan. Namun, justru ketika merasa terburu-buru, Anda harus secara sadar
melepaskan ketegangan. Dengan begitu, secara alami, sudut pandang yang menyempit
akan meluas dan Anda bisa melihat berbagai hal dari sudut yang sedikit berbeda.
Menurutku, apa yang Tuan Idiot butuhkan saat ini adalah melepaskan
ketegangan."
Idiot, yang mendengarkan dengan
tenang kata-kata Rosalie yang mengalir lancar, akhirnya menghela napas dan
melemaskan bahunya.
"Baiklah. Aku akan menuruti
perkataanmu untuk hari ini, Nona Rosalie. Akan sangat merepotkan jika kau terus
berceramah di sampingku selama aku berlatih ayunan pedang."
"Kalau sudah diputuskan, ayo
kita segera ke ruang makan! Perutku sudah sangat keroncongan!"
"T-tunggu sebentar Nona
Rosalie! Setidaknya
biarkan aku mandi dan ganti baju dulu!?"
Rosalie setengah menyeret
Idiot kembali ke arah asrama. Nona Cecily pun menyusul di belakang mereka.
"Ayo kita kembali juga,
Lugh."
"...Hmph."
Saat aku memanggilnya, Lugh
menggembungkan pipinya dan memalingkan muka.
Dia datang untuk melihat sisi
keren pacarnya, tetapi malah dipaksa menonton pacarnya terus-menerus menempel
erat dengan wanita lain selama satu jam penuh.
Tentu saja suasana hatinya jadi
buruk ya...
Bahkan selama kami kembali ke
asrama putra, mandi, berganti seragam, dan berjalan menuju ruang makan, Lugh
terus memasang wajah cemberut.
"U-um, Nona Lugh...?"
"Ada apa, Tuan Hugh."
...Bahasa formal!?
Aku tidak ingat pernah
mendengarnya menggunakan bahasa formal sejak pertama kali kami bertemu sebagai
Lucretia.
Mendapat tatapan sinis yang
tajam, aku tanpa sadar kehabisan kata-kata.
A-aku ingin meminta maaf tapi
tidak ada kata yang terlintas di kepalaku.
Jika aku membuka mulut sekarang,
aku mungkin hanya akan melontarkan berbagai alasan. Itu terlalu tidak tulus.
Kalau bisa, aku ingin meminta maaf dengan tenang dan bijak.
Tetapi aku tidak bisa menemukan
kata-kata, dan sebelum kusadari, kami sudah tiba di ruang makan.
Kami mengambil sarapan di
konter dan mencari tempat duduk yang kosong. Kemudian, aku melihat Lily dan Lecty melambaikan
tangan ke arah kami. Sepertinya mereka telah mengamankan tempat duduk untuk
kami.
Setelah saling bertukar salam
"Selamat pagi" dan duduk, Lily, yang sepertinya menyadari sesuatu
dari tingkah Lugh, tersenyum kecil sambil bertanya kepada kami.
"Jangan-jangan,
kalian sedang di tengah-tengah pertengkaran suami-istri?"
"Tidak, kami bukan
suami-is--"
Tepat saat aku hendak
menyelesaikan kata 'istri', Lugh memutar kepalanya dan menatapku.
Di wajahnya tergambar
senyum yang penuh dengan tekanan intimidasi.
"Bukannya tidak,
tapi untuk sekarang, masih belum."
"Fufu. Pokoknya
tidak salah lagi kalau kalian sedang bertengkar, kan?"
"...Yah
begitulah."
Secara harfiah, alih-alih
bertengkar, rasanya aku cuma sedang dipojokkan...
Menyangkal hal itu pun sama
sekali tidak akan menyelamatkanku.
Lily melihat reaksiku,
menggumamkan "Hmm", dan mengalihkan pandangannya ke arah Lugh.
"Jadi, kesalahan apa yang
telah Hugh perbuat?"
"Dia berselingkuh dengan
Nona Cecily tepat di depan mataku."
"Tidak, tidak!"
"Hee, sepertinya kita perlu
mendengar cerita detailnya, ya?"
Lily menyipitkan matanya,
mengarahkan pupil berwarna zamrud miliknya kepadaku. Di sebelahnya, Lecty juga
ikut mengangguk-angguk. Ugh... Kalau mereka bertiga bergabung, tekanannya
benar-benar kuat.
"Tidak, um..."
Saat aku mengedarkan pandangan
untuk mencari pertolongan, aku menemukan sosok Idiot di meja yang agak jauh.
Haruskah aku memilih
mundur secara taktis dan melarikan diri ke tempat Idiot?
Pikiran seperti itu sempat
terlintas di kepalaku, tapi...
"Lihat, Tuan Idiot. Roti ini
enak sekali lho. Anda
harus mencobanya! Aaam, ya!"
"H-hentikan, Nona Rosalie!
Kau bisa melihat bahwa roti yang sama juga ada di piringku, kan!?"
Idiot yang tersipu malu sedang
dipaksa oleh Rosalie yang menyodorkan roti ke mulutnya.
...Sepertinya aku hanya akan
merusak suasana jika mengganggu mereka.
Saat aku kembali mengedarkan
pandangan, Brown dan Anne sedang duduk di meja lain. Mereka berdua juga saling
menyuapi roti dan sup dengan malu-malu; ini sudah sepenuhnya menjadi dunia
milik mereka berdua.
Tidak ada tempat di mana aku bisa
kabur. Lagipula kalau kabur pun tidak akan menyelesaikan masalah ya...
Satu-satunya pilihan yang tersisa untukku adalah meminta maaf dengan tulus.
Setelah mengubah pikiran dan
mengembalikan pandanganku, ketiga gadis itu sedang menatap lekat-lekat ke
arahku... bukan, ke arah Idiot dan Rosalie.
"U-umm, mengenai hal
dengan Nona Cecily..."
"Itu sudah tidak
apa-apa."
"Eh, benarkah!?"
"Lagipula, aku tidak
berpikir kau memiliki keberanian maupun kelihaian untuk berselingkuh."
"Apakah aku sedang
dipercayai atau diremehkan..."
"Lagi pula, aku tidak akan
membiarkanmu berkata kau tidak puas ketika kau dikelilingi oleh gadis-gadis
yang sangat manis seperti ini, tahu?"
Lily memunculkan senyum yang
menawan. Lugh dan Lecty kemudian mengintip wajahku. Ketiganya adalah
gadis-gadis cantik dan manis yang rasanya terlalu berharga bagiku, dan mereka
semua menaruh hati padaku. Tidak mungkin aku merasa tidak puas. Justru aku merasa
terlalu dipenuhi kasih sayang sampai-sampai rasanya hampir tenggelam.
"Sama sekali tidak,
Nona-nona. Saya adalah pria yang sangat beruntung."
"Fufu, tentu saja. Lugh,
bukankah ini saatnya kau memaafkannya?"
"Muu..."
Didesak oleh Lily, Lugh akhirnya
mengempiskan pipinya yang sebelumnya menggembung.
"Maaf aku sudah bersikap
jahat, Hugh."
"T-tidak. Aku juga salah,
maafkan aku. Mulai sekarang aku akan meminta Nona Cecily untuk menjaga jarak
saat melatihku, jadi tenang saja."
Adalah fakta bahwa aku telah
membuat Lugh merasa cemas. Jadi aku menundukkan kepala dengan sungguh-sungguh
untuk meminta maaf.
Lugh tersenyum sambil berkata
"Tidak apa-apa" lalu mengelus-elus kepalaku.
Aku merasa lega, tapi di saat
yang sama juga merasa malu...
"Kalian ini
benar-benar pamer kemesraan sejak pagi... Kita juga tidak boleh kalah, Lecty."
"B-benar. Tuan Hugh."
Namaku dipanggil oleh Lecty, dan
saat aku menoleh kepadanya, Lecty telah menyobek sepotong kecil roti,
menjepitnya dengan jari-jarinya yang lentik, lalu menyodorkannya ke arahku.
"A-aaam, ya."
Dengan pipi merona malu, Lecty
mendesakku untuk membuka mulut.
T-tentu saja itu membuatku...
hampir ragu, tetapi melihat ekspresi Lecty, sangat jelas bahwa ia sedang
mengerahkan seluruh keberaniannya. Tidak mungkin aku bisa menolaknya.
"A-aaam..."
Aku membuka mulut dan
menerimanya. Ujung jari Lecty yang ramping menyentuh bibirku, dan roti itu
masuk ke mulutku. Rasa manis yang samar kurasakan, mungkinkah karena roti itu
baru saja dipanggang...
"B-bagaimana...?"
"A-ah. Enak sekali, Lecty.
Terima kasih."
"T-tidak apa-apa!"
Wajah Lecty memerah padam, ia
menutupi mulutnya dengan kedua tangan menahan malu.
Sosoknya yang
menggoyangkan badannya dengan senang benar-benar sangat manis.
"Muu! Lecty curang!
Aku juga mau menyuapi Hugh aaam!"
"Hei, tenang Lugh!
Satu roti utuh itu ukurannya tidak bisa dimakan dengan sekali suapan
aaam!"
Pada saat aku akhirnya
berhasil menyelesaikan sarapanku sembari berjuang menahan serangan Lugh yang
mencoba menjejalkan roti ke mulutku, waktu sudah menunjukkan kami nyaris
terlambat untuk kelas jam pertama.
Kami buru-buru
membereskan nampan sarapan, berterima kasih kepada bibi juru masak, dan
berjalan cepat menuju kelas. Saat itu, Lily yang berjalan di sebelahku
menarik-narik lengan seragamku.
Saat aku menoleh untuk
melihat ada apa, Lily memperhatikan sekeliling lalu berbisik.
"Um, apa kau ingat mengenai
rencana makan malam dengan Ayah?"
"Ah, iya. Apakah tanggalnya
sudah ditentukan?"
"Aku menerima surat dari
Ayah yang menanyakan bagaimana jika tiga hari lagi di malam hari. Di awal
minggu kita ada ujian akhir, jadi ini bukanlah waktu yang tepat,
tetapi..."
"Aku sama sekali tidak
keberatan kok."
Meskipun itu ujian akhir, karena
kami melakukan latihan lapangan selama sebulan hingga kemarin, cakupan ujiannya
tidak terlalu luas. Pasti ada cukup waktu luang untuk sekadar makan malam
semalam.
"Begitu, syukurlah. Aku akan
membalas surat Ayah."
Lily mengangguk dan tersenyum
seolah-olah ia merasa lega. Jangan-jangan ia merasa gugup?
Aku mengerti jika aku yang gugup,
tapi ini pertama kalinya aku merasa Lily gugup.
"Umm, ini cuma sekadar makan
malam saja, kan...?"
Memiliki firasat buruk tentang
hal itu, aku pun bertanya, dan Lily tersenyum jahil, berkata
"Entahlah?" sambil mengangkat bahunya.
Sepertinya, aku harus
benar-benar mempersiapkan mentalku.



Post a Comment