NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 4 Chapter 7

Chapter 7: Jangan Lari Pengecut!!


Setelah itu, perjalanan kami berlanjut dengan lancar tanpa terkendala cuaca buruk maupun masalah lainnya. Pada siang hari menjelang sore di hari kesepuluh sejak meninggalkan Royal Capital, kereta kuda kami tiba di Lily Garden, ibu kota Puridy Territory.

"Hee, jadi ini yang namanya Lily Garden."

"Sesuai dengan sebutannya sebagai ibu kota Puridy Territory, kota ini benar-benar makmur ya, Lily Garden."

"Ada banyak bunga lily mekar di mana-mana ya, Lily Garden."

"Kalian sengaja, kan!?"

Lily menggembungkan pipinya yang merona merah dan membuang muka, tampak cemberut.

Yah, seperti yang bisa ditebak, nama kota 'Lily Garden' ini rupanya diubah untuk merayakan kelahiran Lily.

Menurut penjelasan Nona Plum, pada awalnya kota ini dibangun di atas bukit tempat bunga lily putih mekar, sehingga dulu disebut White Garden. Nama Lily juga diambil dari bunga tersebut, sehingga penggantian nama menjadi Lily Garden kabarnya diterima dengan penuh suka cita dan berkah oleh seluruh penduduk wilayah.

Betapa dicintainya Lily di Puridy Territory bahkan bisa dirasakan dari dalam kereta kuda.

Para penduduk yang menyadari kepulangan Lily saat melihat lambang keluarga di kereta kuda segera menghentikan aktivitas mereka dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat datang kembali!" ke arah kereta.

Lily dengan malu-malu membalas lambaian tangan mereka dari jendela.

"Nona Lily benar-benar sangat populer, ya."

"Iya, persis seperti seorang putri raja, ya."

"Tuan Putri yang asli ini bicara apa, sih."

Sambil menimpali komentar Tia, Lily terus tersenyum dan membalas lambaian tangan para penduduk wilayahnya. Penampilannya yang rupawan sejak lahir ditambah dengan sikapnya yang ramah seperti ini mungkin adalah alasan mengapa ia sangat dicintai oleh rakyatnya.

Dari jendela kereta kuda, aku bisa melihat bahwa ibu kota Lily Garden ini adalah kota benteng kokoh yang dikelilingi oleh tiga lapis tembok pertahanan.

Tampaknya, di antara tembok lapis pertama dan kedua terdapat area perumahan dan pertokoan yang luas. Di antara tembok lapis kedua dan ketiga adalah zona industri seperti pandai besi dan manufaktur lainnya. Dan terakhir, di balik tembok lapis ketiga adalah lokasi mansion keluarga Puridy.

"Konstruksinya sangat kokoh, ya. Benar-benar terlihat seperti sebuah kastel."

"Bukan 'terlihat seperti', tapi keseluruhan kota ini memang sebuah kastel. Sekitar dua ratus tahun yang lalu, Puridy Territory ini adalah ujung paling timur Ries Kingdom. Karena ini adalah kastel garis depan yang dibangun tepat di depan mata negara musuh, makanya dibangun dengan sangat kokoh. Seharusnya ini sudah dibahas di pelajaran Sejarah, kan?"

"...Ah, masa sih?"

"Hugh, tahun depan kita beda kelas, ya..."

Tia melambaikan tangan dengan sedih dan sudut alis yang menurun, seolah mengucapkan "Dah-dah". Sial, dia sudah menyerah padaku. Tunggu saja, semester dua nanti aku akan belajar lebih keras dan membuktikannya pada kalian semua...!

Sambil mengobrol santai seperti itu, kereta kuda kami melewati gerbang tembok kedua dan memasuki distrik industri.

Popularitas Lily di sini juga sangat luar biasa. Entah mendengar dari mana tentang kedatangan kereta kuda Lily, para perajin bahkan sampai menghentikan pekerjaan mereka dan turun ke jalan untuk menyambutnya.

"Selamat datang kembali, Nona Lily!"

"Kami baru saja membuat gaun baru khusus untuk Nona! Tolong cobalah!"

"Hei, curang kau! Saya membuat perhiasan!"

"Saya membuat sepatu hak tinggi! Mohon berikan saran Anda!"

Para perajin membawa berbagai macam pakaian, aksesori, dan barang-barang lainnya dengan kedua tangan mereka, meminta Lily untuk mencobanya. Selera estetika Lily tampaknya juga sangat diakui oleh penduduk wilayahnya. Popularitas Lily ini, kalau di Jepang di kehidupan sebelumnya, mungkin setara dengan idol atau influencer.

"Benar-benar luar biasa populer, ya. Waktu hampir menikah dengan Duke Lechery, bagaimana reaksi penduduk di sini?"

Ditanya begitu oleh Tia, Lily mengerutkan kening dan memegangi dahinya.

"Waktu itu keadaannya benar-benar kacau. Reputasi buruk Lechery sudah sampai ke Puridy Territory. Karena mereka merasa tidak mungkin menyerahkanku kepada pria seperti itu, kudengar penduduk pria maupun wanita, tua maupun muda berkumpul dan bersiap untuk angkat senjata kapan saja."

"Angkat senjata... bukankah itu terlalu berlebihan...?"

"...Tidak. Kudengar benar-benar ada sekitar lima puluh ribu orang yang berkumpul hanya dari Puridy Territory saja. Ibunda bahkan dengan serius merencanakan persiapan senjata, pelindung, dan logistik, jadi itu tidak salah lagi."

"S-seriusan."

Dilihat dari ekspresi Lily, ini sama sekali bukan lelucon.

"Seandainya kau tidak menyelamatkanku dan aku tetap menikah dengan Lechery, pasti akan terjadi perang besar-besaran melawan keluarga Duke Lechery... Kau adalah pahlawan yang menyelamatkan nyawa penduduk wilayah ini, lho."

"Ini benar-benar Fine Play dari Hugh, ya!"

"O-oh..."

Tanpa kusadari, aku ternyata telah mencegah terjadinya peperangan...

Atau lebih tepatnya, lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan betapa kacaunya tingkah Lechery dan Pangeran Sleigh... Yah, tapi penolakan sekeras ini dari penduduk memang sedikit di luar dugaan.

Terlebih lagi, fakta bahwa ibunda Lily malah dengan semangatnya merencanakan persiapan persenjataan dan logistik, entah bagaimana harus menanggapinya...

"Ngomong-ngomong, jangan-jangan aku bukan cuma harus minta restu dari ibu Lily, tapi dari seluruh penduduk Puridy Territory juga...?"

Aku jadi sangat cemas apakah orang-orang yang hampir melakukan pemberontakan bersenjata karena menentang pertunangan Lily dan Lechery itu mau menerimaku...

"Kau tidak perlu bersikap terlalu waspada begitu. Kau tidak punya reputasi buruk seperti Lechery, dan lagipula aku memilihmu atas kemauanku sendiri. Aku yakin Ibunda maupun semua penduduk pasti akan menerimamu."

"Kuharap begitu..."

Meski aku sadar aku jauh lebih baik kalau dibandingkan dengan Lechery, aku tetap ragu apakah aku ini sosok pria yang ideal untuk Lily di mata ibunya dan para penduduk.

Pertama-tama, keluarga Punosis hanyalah keluarga Baron miskin dari desa terpencil di wilayah perbatasan, perbedaan status sosial kami sangat jauh.

Bahkan meskipun dalam waktu dekat keluargaku akan naik pangkat menjadi Count, statusnya tetap di bawah keluarga Marquis Puridy.

Selain itu, posisinya bukan sebagai Istri Utama, melainkan Istri Ke-dua. Bagi beberapa orang, mungkin hal ini bisa membuat mereka meledak marah.

Gawat, memikirkan hal itu malah membuatku semakin gugup untuk bertemu dengan ibunda Lily.

...Tapi, aku sudah sampai sejauh ini, aku tidak mungkin lari.

Lagi pula, sekalipun ibunda Lily atau para penduduk wilayah menentang keras, perasaanku pada Lily tidak selemah itu untuk bisa menyerah...!

Sementara aku membulatkan tekadku, kereta kuda melewati gerbang ketiga dan tiba di kediaman keluarga Puridy. Di ujung taman yang dipenuhi hamparan bunga lily putih yang mekar sempurna, berdirilah sebuah mansion besar dengan dinding luar berwarna putih.

Dan di depannya, menanti kedatangan kami, adalah seorang wanita yang mengenakan gaun semerah mawar.

Rambut merahnya diikat ke belakang menjadi satu ikatan. Tatapan matanya yang tajam menyorot tajam, dan bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus. Tidak salah lagi, wanita ini adalah ibunda Lily. Wajah dan bentuk tubuhnya sangat mirip dengan Lily.

Ibunda Lily berdiri tegak dengan sikap mengintimidasi (Nioh-dachi), menyambut kami yang baru saja turun dari kereta. E-entah kenapa, apa cuma aku yang merasakan tekanannya...

Untuk saat ini, aku hanya harus memastikan tidak melakukan kesalahan sedikit pun.

"Aku pulang, Ibunda. Syukurlah Anda tampak sehat."

"Selamat datang kembali, Lily. Kau juga tampak sehat. Sempat ada masa di mana aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, tapi syukurlah sekarang kau terlihat bersenang-senang."

Setelah bertukar sapa singkat dengan putrinya, ibunda Lily menoleh ke arah kami dan menundukkan kepalanya dalam diam. Gerakannya begitu anggun dan sempurna hingga membuatku tanpa sadar menahan napas.

"Saya Rose Puridy, ibu dari Lily. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda semua."

Rose... Dia memang cantik bagaikan bunga mawar, tapi di saat yang sama memancarkan kesan tajam dan berduri... Saat aku sedang memikirkan hal itu, Tia menyodok pelan pinggangku dengan sikunya.

Ah, benar juga. Aku harus membalas salamnya...!

"Lama tidak berjumpa, Marchioness Puridy. Saya Hugh, putra dari Mike Punosis, Lord dari Punosis Territory."

"Saya ingat. Terima kasih sudah mau menjadi teman bermain Lily waktu itu. Saya benar-benar senang kita bisa bertemu lagi seperti ini, sungguh."

"S-saya merasa tersanjung..."

Entah seberapa serius perkataannya, Nona Rose menatapku dengan tatapan tajam seolah-olah sedang menilaiku. Terasa seperti aku sedang diamati dengan saksama dari ujung kepala hingga ujung kaki.




Setidaknya, pakaian yang kupakai hari ini adalah pilihan Lily, jadi seharusnya tidak ada masalah...

Saat aku merasa cemas, Rose akhirnya mengalihkan pandangannya dariku dan berbalik menghadap Lily.

"Lily, kau mewarisi kecantikan dan kecerdasanku tanpa ada yang terlewat. Tapi sepertinya, aku juga telah menurunkan sesuatu yang tidak perlu kepadamu."

"Um, Ibu...? Maksudnya apa?"

Menanggapi Lily yang kebingungan, Rose melirikku sekilas dan menjawab dengan singkat.

"—Selera terhadap pria."

Ucapnya, lalu menghela napas kecil.

...Um, bolehkah aku kabur saja sekarang?

"Akan kuantar. Silakan lewat sini."

Rose berbalik dan berjalan cepat memasuki mansion.

Dia tidak... sepertinya tidak membenciku. Saat aku melirik Lily, ia balas mengangguk kecil. Untuk saat ini, sepertinya lebih baik mengikuti Rose dari belakang.

Barang-barang kami akan dibawakan oleh para pelayan mansion, jadi kami langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah di bawah panduan Rose.

Tata letak dan interiornya hampir sama persis dengan mansion keluarga Puridy di Royal Capital.

Namun, dilihat dari tingkat keausannya, bangunan ini tampaknya jauh lebih tua.

Di dinding tangga yang mengarah ke lantai dua, tepat setelah masuk ke dalam mansion, tergantung sebuah lukisan potret besar yang menggambarkan Lily saat masih kecil dengan sangat imut.

"I-Ibu!? Aku sudah menulis di surat agar lukisan itu diturunkan, kan!?"

"Ya, benar. Tapi, menyembunyikan lukisan sebagus ini di tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun adalah tindakan yang tidak sopan kepada pelukisnya. Bagaimana menurutmu, Hugh Punosis? Lukisannya digambar dengan sangat baik, bukan?"

"Ya, benar. Kurasa keimutan Lily semasa kecil tergambar dengan sangat baik."

Dalam lukisan bergaya realis tersebut, Lily duduk manis di sebuah kursi sambil tersenyum bagaikan malaikat.

Sosok itu tampak begitu menggemaskan, sekaligus memancarkan keanggunan dan kelembutan seorang lady yang masih terbawa hingga ia dewasa sekarang.

"Matamu cukup bagus."

Mendengar kesanku, Rose mengangguk puas.

Orang ini, jangan-jangan dia sangat menyukai Lily, ya?

"M-malu, jadi tolong jangan dilihat terus..."

Lily yang wajahnya memerah berdiri di depan lukisan itu untuk menghalangi pandangan kami.

Namun, karena lukisan potret itu terlalu besar, tubuh ramping Lily sama sekali tidak mampu menutupi wujud masa kecilnya. Ukuran lukisan itu jauh lebih besar daripada dirinya yang sekarang sudah dewasa.

Ngomong-ngomong, kualitas lukisan potret itu sangat tinggi sehingga terlihat seperti foto.

...Ah, benar juga. Kalau aku mengubah skill-ku menjadi Painter (pelukis), aku mungkin bisa mengabadikan wujud mereka.

Nanti kalau uangku sudah terkumpul, aku harus pergi membeli perlengkapan melukis.

Tepat saat aku memikirkan hal itu,

"Mirip banget sama Lily waktu masih kecil ya... eh."

Ucap Putri ceroboh yang tanpa sadar keceplosan, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Ya ampun, reaksi itu sama saja seperti memberikan kunci jawaban...

"Kalian yang seperti itu justru sangat mirip dengan Lutiana semasa sekolah, ya."

Rose menyipitkan matanya dengan penuh nostalgia, lalu perlahan mengulurkan tangan menyentuh rambut perak Tia.

"Ini adalah Magic Item pengubah warna rambut yang sengaja dibuat oleh Yang Mulia Raja hanya agar dia bisa menyelinap bermain ke bawah kota bersama Lutiana yang sangat penasaran itu. Kalau terlalu sering dipakai, akar rambutmu bisa mati dan kau akan botak, jadi berhati-hatilah."

"Eh—!?"

"Bercanda."

Rose mengakuinya sebagai kebohongan dengan ekspresi tanpa dosa kepada Tia yang sedang memegang kepalanya sambil bergetar dan hampir menangis. M-meskipun itu cuma candaan, tapi itu terlalu menakutkan, tahu...

"Tenanglah. Aku sudah memahami situasinya dari surat yang dikirim oleh Pangeran Lucas dan suamiku. Aku berada di pihakmu, Yang Mulia Lucretia. Sebagai teman Lutiana, aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu. Aku yakin kau mungkin tidak bisa mempercayai kata-kataku, mengingat aku bahkan tidak pernah mengirimkan surat..."

"Tidak. Kurasa keluarga Puridy juga punya situasi mereka sendiri, dan masa-masa wabah penyakit dulu adalah waktu yang sulit bagi siapa pun... Lagipula, bahkan setelah terkena penyakit, Ibu selalu terlihat sangat senang saat menceritakan kenangannya tentang Rose Auntie. Kalau aku sampai tidak percaya pada kata-kata Rose Auntie yang sangat dicintai oleh Ibu, aku pasti akan dimarahi oleh Ibu."

"............Kalian benar-benar mirip sekali, ya."

Rose dengan jemari yang bergetar dengan lembut menyentuh rambut perak Tia, lalu membelainya dengan penuh kelembutan. Tia menyipitkan matanya karena merasa geli dan bersandar pada Rose.

Setelah menunggu beberapa saat hingga Rose tenang, kami kembali mulai berjalan.

Kami diantar menuju ruang santai di mansion tersebut. Kami duduk di sofa yang saling berhadapan. Di sebelah Rose duduk Tia, dan di sebelah Tia adalah Lecty. Sementara di seberang mereka adalah aku dan Lily.

Saat duduk berhadapan seperti ini, dia benar-benar sangat mirip dengan Lily. Kemiripannya begitu kuat hingga aku mungkin akan percaya jika dia memperkenalkan diri sebagai Lily yang datang dari masa depan sepuluh tahun kemudian.

Meskipun tatapan matanya tetap tajam seperti sebelumnya, aku tidak lagi merasakan rasa takut.

Melihat lukisan potret Lily kecil yang dipajang, atau saat ia tersentuh hingga bernostalgia mengingat Lutiana pada diri Tia, aku bisa memahami kepribadian aslinya.

Lagi pula, dia adalah ibu yang diidolakan oleh Lily. Dia tidak mungkin hanya sekadar seorang wanita yang menakutkan.

Tak lama kemudian, setelah menyesap teh hitam yang disuguhkan oleh Nona Plum, Rose membuka suara dengan tenang.

"Baiklah, langsung saja pada intinya. Aku merestui pernikahan kalian."

"Eh..."

Begitu saja dengan mudahnya, Rose mengizinkan pernikahanku dengan Lily.

Aku mengira aku akan ditentang atau diberi semacam syarat, jadi karena terlalu mudah, aku sampai dibuat melongo dan saling bertukar pandang dengan Lily.

"Kalian tidak perlu heran begitu, kan? Ada banyak alasan untuk menyetujuinya, tapi sama sekali tidak ada alasan untuk menolaknya."

"Tidak, itu... Minta maaf kalau lancang, tapi bagaimana dengan perbedaan status sosial kami..."

"Pernikahan antara keluarga Marquis dan keluarga Baron bukanlah hal yang langka. Seorang pria dari keluarga Marquis mengambil wanita dari keluarga Baron sebagai istrinya adalah hal yang lumrah. Kali ini keadaannya hanya terbalik saja. Lagipula, aku mendengar bahwa keluarga Punosis akan dianugerahi gelar Count atas jasa penaklukan Black Dragon. Dari rumor yang beredar, kau juga akan menyambut Yang Mulia the Seventh Putri sebagai Istri Utama."

"Ugh..."

"Yah, kalau Istri Utama-nya adalah anggota Royalty, tidak akan ada masalah meski putri keluarga Marquis dijadikan sebagai Istri Ke-dua. Meskipun ada beberapa hal yang mengganjal di hatiku, itu tetap bukan alasan untuk menolak."

Rose menyesap tehnya lagi dengan wajah tanpa ekspresi.

Di dalam hati, aku mengembuskan napas lega yang sebesar-besarnya.

Hal yang paling kukhawatirkan adalah perbedaan status sosial dan kenyataan bahwa Lily akan dijadikan Istri Ke-dua. Fakta bahwa Rose menyatakan hal itu tidak masalah memberikanku ketenangan yang besar.

"...Yang terpenting, aku memiliki hutang budi kepadamu yang tidak akan pernah bisa kubayar lunas. Seandainya kau tidak membantuku menjembatani hubungan dengan Pangeran Lucas, entah akan jadi apa Lily dan Puridy Territory saat itu..."

Ucap Rose sambil menatapku dengan mata hijau zamrudnya.

Ia menegakkan posisinya, lalu membungkuk dalam-dalam ke arahku.

"Sebagai ibu Lily, dan mewakili seluruh Puridy Territory, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Tuan Hugh Punosis. Terima kasih banyak atas bantuanmu saat itu."

"T-tidak. Aku hanya ingin menyelamatkan Lily..."

Saat itu aku hanya ingin menyelamatkan gadis yang merupakan teman masa kecilku, dan aku sama sekali tidak memikirkan hal lain. Aku merasa sangat salah tingkah saat ibu Lily membungkuk hormat padaku.

Rose mengangkat wajahnya, tersenyum kecil melihat sikapku yang kebingungan.

"Tanpa ambisi ataupun perhitungan, kau rela menentang Royalty dan keluarga Duke hanya karena dorongan ingin menyelamatkan seseorang. Adakah pria lain selain dirimu yang akan memperlakukan dan menghargai Lily sehebat ini? Kalau saja suamiku tidak ada, aku sendiri bahkan ingin menikah denganmu."

"...Eh?"

"Ibu?"

"............Canda."

Bercandanya susah ditebak, ya!

Aku melontarkan bantahan di dalam hati kepada Rose yang melontarkan candaan yang bukan lagi membuatku berdebar, melainkan membuatku merinding kedinginan. Kalau saja Marquis Puridy mendengarnya, aku pasti sudah dijadikan sisa-sisa karat pedang untuk kedua kalinya.

Meskipun begitu... Sisi iseng yang sesekali ditunjukkan oleh Lily pasti diwarisi dari Rose. Wanita ini, wajahnya memang terlihat serius, tapi aslinya jangan-jangan dia orang yang sangat periang dan suka berkelakar, ya?

"Ada candaan yang boleh diucapkan dan ada yang tidak, Ibu! Hugh adalah Suamiku!"

Ucap Lily yang duduk di sebelah kirinya sambil memeluk erat lengan kiriku.

Dada empuknya membungkus lengan kiriku dengan erat (muniu).

Sambil menerima tatapan dingin (jito—) dari Tia dan Lecty, aku mati-matian memasang wajah setenang mungkin, tapi aku masih belum punya ketahanan mental terhadap kelembutan tubuh Lily yang menggoda.

Bagaimanapun aku berusaha merapikan ekspresiku, panas di wajahku tak bisa dihindari.

"Kau berhasil menemukan suami yang luar biasa ya, Lily?"

"Ya...! Suami kebanggaanku!"

"Begitu ya. Fufu, jadi teringat masa-masa mudaku dulu."

Mendengar jawaban putrinya, Rose melembutkan ekspresi wajahnya yang tadinya kaku dan tersenyum lembut. Kemudian ia berbalik ke arahku dan kembali membungkuk dalam-dalam.

"Kumohon, jaga putriku dengan baik."

"—Ya. Aku pasti akan membuatnya bahagia."

Sambil menggenggam erat tangan kanan Lily dengan kedua tanganku, aku bersumpah di hadapan Rose.

Aku melirik sekilas ke arah Lily dengan ekor matanya. Air mata menggenang di mata zamrudnya, namun ia tersenyum bahagia, dan anting batu giok di telinganya bergoyang perlahan.

Aku akan bersumpah berapa kali pun.

Gadis yang luhur dan cerdas, cantik dan menggemaskan. Penakut, tidak pandai berolahraga, suka merawat orang lain, suka mengurusi orang, suka usil, penuh gairah, dan selalu mendukungku dengan penuh pengabdian—Lily.

Aku mencintainya dari lubuk hatiku yang terdalam.

---

Kami tinggal di mansion keluarga Puridy selama dua hari.

Selama waktu itu, Tia menghabiskan waktu dengan bermakna dengan membaca surat-surat korespondensi yang telah dilanjutkan oleh Rose dan Lutiana sejak masa sekolah mereka, sementara Lecty belajar tentang perilaku seorang Bangsawan lady dari Rose.

Adapun aku dan Lily, kami bermain dengan adik laki-laki Lily.

Leopard Puridy. Berusia tiga tahun.

Dia adalah adik laki-laki Lily yang terpaut usia cukup jauh, dan merupakan putra sulung dari keluarga Puridy. Bocah laki-laki dengan rambut cokelat kemerahan cerah dan mata zamrud yang sangat mirip dengan Lily ini sangat akrab denganku.

Di mansion itu memang ada beberapa pelayan pria, tapi mereka semua sibuk sehingga tidak punya banyak waktu untuk menemani Leopard. Rose dan para pelayan wanita tidak sanggup mengikuti stamina bocah tiga tahun yang seolah tidak ada habisnya itu, rupanya membuat Leopard merasa bosan.

Namun, dalam hal ini, aku memiliki sedikit kepercayaan diri pada staminaku. Begitu aku mengangkatnya tinggi-tinggi, mengajaknya bermain kuda-kudaan, dan bermain pedang-pedangan, dalam waktu kurang dari tiga menit dia langsung menjadi sangat lengket padaku.

Tingkat kelekatannya sangat luar biasa; dia bahkan makan malam di sebelahku dan mandi bersama.

Dia juga merengek ingin tidur bersama di malam hari, jadi akhirnya aku tidur bersama Leopard.

Tia sempat menggembungkan pipinya dengan sebal (puku-puku), tapi kurasa dia merasa tidak dewasa jika harus cemburu dan berebut aku dengan anak berusia tiga tahun.

"Biarin, hari ini aku mau tidur bertiga bareng Lily dan Lecty!" ucapnya sambil cemberut, lalu membawa kedua gadis itu masuk ke kamar tidurnya. Bahkan selama perjalanan di tengah jalan pun, ketiga gadis itu beberapa kali tidur di kamar yang sama, dan jika tidur bertiga, Tia sepertinya tidak mengalami mimpi buruk. Nah, kalau dipikir-pikir mungkin lain kali mereka bisa terus tidur bertiga saja ya... tapi, yah, kurasa tidak perlu diucapkan secara blak-blakan.

Begitulah, selama menginap di mansion keluarga Puridy, aku menghabiskan hampir seluruh waktuku bersama Leopard.

Rose sempat melontarkan komentar yang tidak jelas apakah itu candaan atau bukan, "Kami butuh kau sebagai guru pendidik Leopard. Cepatlah menikah dengan Lily dan tinggallah di mansion ini." Tapi tentu saja aku tidak mungkin keluar dari Royal Academy.

Jika aku ingin menikahi bukan hanya Lily, melainkan juga Tia dan Lecty, itu kemungkinan besar baru akan terjadi setelah lulus dari akademi. Sampai saat itu tiba, hubungan kami berempat adalah sebagai tunangan.

Aku harus berusaha dengan tulus dan sehat agar pertunanganku tidak sampai dibatalkan...

Setelah berjanji untuk bertemu lagi dengan Leopard yang menangis tersedu-sedu saat kami hendak berangkat, kami meninggalkan Lily Garden diantar oleh Rose.

Dari sana, perjalanan berlanjut selama sekitar dua minggu lagi.

Bergerak dengan lancar, rombongan kami akhirnya tiba di sebuah kota kecil yang paling dekat dengan Punosis Territory. Dari titik ini dan seterusnya, jalan raya yang membentang menuju Punosis Territory hampir tidak beraspal sama sekali.

Sebenarnya, kereta kuda masih bisa dipaksakan lewat, tapi kerusakan pada bodi kendaraan tentu tidak bisa dihindari. Sepuluh tahun yang lalu, ketika rombongan keluarga Puridy melewati Punosis Territory untuk pergi ke negara tetangga, kereta kuda mereka tidak mampu menahan kondisi jalan yang buruk hingga akhirnya rusak dan mogok di tengah jalan.

"Waktu itu, jalan raya yang seharusnya kami lewati ternyata tidak bisa dilalui karena tanah longsor. Jadi kami terpaksa mengambil jalan memutar dari Punosis Territory. Walaupun saat itu usiaku masih anak-anak, aku punya ingatan kalau itu adalah perjalanan yang sangat berat..."

"Perjalanan dari Punosis Territory dan seterusnya kan harus mendaki gunung juga ya..."

Terlebih lagi, wilayah itu adalah kawasan pegunungan yang dijuluki 'Pusat Benua' (Navel of the Continent), tempat berbarisnya pegunungan dengan ketinggian mencapai tiga ribu meter di atas permukaan laut. Rupanya keluarga Puridy saat itu memiliki urusan yang mengharuskan mereka melewati jalur tersebut menuju Negara Tetangga, Kerajaan Naible. Tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perjalanan yang sangat berbahaya dan melelahkan.

Bagaimanapun, rasanya tidak enak jika merusak kereta kuda yang dipinjam dari keluarga Puridy, dan ada risiko kecelakaan karena kondisi jalan yang sangat buruk. Dari titik ini, lebih baik beralih menggunakan moda perjalanan dengan berjalan kaki.

Namun, Plum telah bekerja sebagai kusir sepanjang perjalanan ini, dan ia terlihat sangat kelelahan.

Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa ia akan ditinggal di kota bersama kereta kuda sekalian untuk beristirahat.

"Kalau begitu, dengan senang hati saya akan memanfaatkan kesempatan ini untuk beristirahat. Tuan Hugh, mohon jaga Nona-nona sekalian dengan baik."

"Serahkan padaku, Plum."

Setelah menerima perlengkapan berkemah dan barang-barang lainnya dari Plum, kami mulai melangkah maju menyusuri jalan raya yang mengarah ke Punosis Territory.

Meskipun barang bawaan kami lebih ringan dibandingkan saat latihan lapangan, jalan raya yang dilalui sama sekali tidak beraspal dan memiliki perbedaan ketinggian yang drastis. Saat latihan lapangan dulu kami berjalan di atas jalan raya yang beraspal rapi, jadi rasa lelahnya mungkin justru lebih besar kali ini.

Penyebab jalan raya ini tidak kunjung diperbaiki dengan baik adalah karena perbedaan ketinggian yang ekstrem ini...

Lokasi di mana jalan bisa dibuat pun sangat terbatas, sehingga mau tidak mau jalan tersebut harus dibuat berkelok-kelok mengikuti kontur pegunungan.

Sebenarnya akan sangat bagus kalau bisa membuat terowongan, tapi sepertinya itu tidak sebanding dengan nilainya. Volume lalu lintasnya pun bisa ditebak, dan bahkan jika terowongan dibuat, masih meragukan apakah hal itu akan membuat Punosis Territory berkembang secara ekonomi. Alasan ayahku tidak serius memperbaiki jalan raya ini pasti karena hal itu.

Kira-kira setengah hari setelah meninggalkan kota, Lily sudah berada di ambang batas menyerah.

Sebenarnya barang-barang bawaannya telah dibagi untuk dibawa oleh aku dan Lecty yang memiliki Skill Physical Enhancement, tapi rupanya perjalanan ini tetap terasa sangat berat bagi Lily yang kecemasannya terletak pada daya tahannya.

Ia menduduki sebatu yang tampak bisa dijadikan tempat duduk di pinggir jalan, lalu mengatur napasnya yang terengah-engah.

"M-maafkan aku. Aku sudah berusaha keras untuk membangun stamina..."

"Mau bagaimana lagi, Lily. Aku juga sudah lelah setengah mati kok."

Tia berkata sambil duduk di sebelah Lily untuk menyemangatinya. Walaupun Tia memiliki stamina yang cukup baik, ia tidak mendapatkan berkah dari Skill Physical Enhanchement seperti aku yang sebelumnya sudah beralih ke Skill  Saint atau Lecty yang memiliki Skill Saintess. Bagi seorang gadis biasa, rute perjalanan seperti ini tentu saja sangat menyiksa.

"Ternyata Punosis Territory itu benar-benar berada jauh di dalam pegunungan ya. Aku benar-benar terkejut karena melebihi perkiraanku."

"A-aku jadi merasa tidak enak..."

Tia dan Lily sama-sama ikut dalam perjalanan pulang kampungku ini, dan melihat mereka kelelahan membuatku merasa tersiksa oleh rasa bersalah yang tak kasat mata. Tia berkata, "Bukannya Hugh yang harus minta maaf, kan?" tapi tetap saja...

"Umm, Tuan Hugh."

Lecty dengan ragu-ragu menarik ujung lengan bajuku secara pelan. Saat aku menoleh untuk melihat apa yang terjadi, Lecty menunjuk ke arah Punosis Territory sambil mendongak menatap langit.

"Sepertinya cuaca akan sedikit memburuk..."

"Ah..."

Seperti yang dikatakan Lecty, awan hitam tampak sedang mengalir dari arah Punosis Territory menuju ke tempat kami berada.

Meskipun kurasa itu hanyalah jenis hujan lewat atau hujan badai sore hari, sepertinya hujan itu akan turun dengan deras disertai sambaran petir...

Mengingat lokasi kami yang berada di wilayah pegunungan, hujan lebat akan sangat berbahaya.

Tidak akan ada cukup waktu untuk berpindah ke tempat yang aman dan mendirikan tenda untuk berteduh.

Bahkan di musim panas, suhu di sekitar sini tergolong rendah. Sekarang kami tidak terlalu merasakannya karena sedang bergerak, tapi jika sampai basah kuyup karena hujan, suhu tubuh kami akan turun drastis. Terkena flu atau hipotermia adalah skenario terburuk.

Sebenarnya aku ingin menghindari cara ini, tapi...

"Umm, kalau aku mengganti Skill milikku, mungkin kita bisa langsung sampai ke Punosis Territory dalam sekejap..."

Bolehkah aku menggunakannya? Saat aku bertanya kepada calon-calon istriku, mereka mengangguk bersamaan (un-un).

Mendapat persetujuan dari mereka, kali ini aku akan sedikit bersantai. Setelah memastikan dengan Skill bahwa tidak ada kehadiran makhluk lain di sekitar kami selain kami berempat, aku mengeluarkan cermin tangan dari saku dada.

"Batalkan Brainwash. Hugh Punosis, Skill-mu adalah Teleportation."

Ada sensasi seperti sesuatu yang terklik dengan bunyi klik.

Skill: Teleportation Lv.Max — Memungkinkan untuk berteleportasi secara aman ke koordinat arbitrer. Pada saat yang sama, dimungkinkan juga untuk memindahkan orang dan objek dalam radius lima meter yang berpusat pada diri sendiri.

Skill Teleportation.

Sejak menyadari bahwa aku bisa mengganti Skill menggunakan Brainwash, aku sempat berpikir alangkah praktisnya jika aku bisa menggunakannya sejak awal. Namun, trauma hebat akan fenomena yang disebut 'berada di dalam batu' membuatku terus ragu untuk menggantinya.

Meskipun demikian, saat aku terseret dalam bencana keruntuhan tebing di Labirin Besar Drephon, jika saja saat itu aku bisa menggunakan Skill Brainwash, aku tidak akan sampai terluka parah dan hampir mati.

Segera setelah kembali dari latihan lapangan, aku mencoba mengganti skill-ku menjadi Teleportation sebagai percobaan.

Hasilnya, deskripsi Skill tersebut bertuliskan: 'Berteleportasi secara aman ke koordinat arbitrer'. Rupanya, Skill ini secara otomatis mendeteksi rintangan, orang, atau bahkan titik-titik yang berbahaya untuk jatuh di lokasi tujuan, lalu melakukan penyesuaian kecil ke titik aman sebelum memindahkan kami.

Benar-benar Lv.Max yang dapat diandalkan. Jika Skill ini secara otomatis mencegah kondisi 'berada di dalam batu', maka aku bisa menggunakannya dengan aman. Terlebih lagi, yang bisa dipindahkan bukan hanya diriku sendiri, tetapi juga orang dan benda apa pun selama berada dalam radius lima meter.

Aku sudah mencobanya beberapa kali, dan objek yang melebihi batas radius lima meter memang tidak bisa ikut berpindah. Selain itu, Skill ini tidak akan secara tidak sengaja menyeret orang atau benda lain ke dalam teleportasi, jadi tidak perlu khawatir akan kecelakaan yang tidak disengaja.

Jika tahu faktor keamanannya sekokoh ini, seharusnya aku menggunakannya sejak dulu. Yah, meski begitu, karena kemampuan berpindah tempat secara instan ini pada dasarnya adalah hal yang mencolok, situasi di mana aku bisa menggunakannya tetap terbatas.

"Kalian bertiga, tolong bawa barang bawaan kalian dan berkumpullah di sisiku."

Begitu aku memanggil mereka, Tia langsung berseru, "Yey!" sambil melompat memeluk dadaku dari depan. Kemudian, Lily memeluk erat lengan kananku, sementara Lecty memeluk dan mencengkeram kuat lengan kiriku.

Di depan, kanan, dan kiri, aku dikelilingi oleh kelembutan tubuh yang empuk serta aroma manis yang membuatku serasa mau pingsan.

"Eh, anu, sebenarnya kalian tidak perlu sampai memelukku begitunya..."

"Eh? Padahal Hugh sebenarnya senang kan, tapi tidak jujur ya."

"Bukankah dengan saling menempel erat justru membuat Skill-nya lebih mudah digunakan? Fufu, atau jangan-jangan kamu gugup sampai tidak bisa menggunakan Skill-nya, ya?"

"Aku akan menemani Tuan Hugh sampai ke mana pun!"

Kasih sayang yang melimpah dari ucapan ketiga gadis dengan reaksi yang berbeda-beda itu membuat dadaku terasa penuh.

Apakah boleh aku merasa sebahagia ini?

Jangan-jangan, persis di bawah kaki kami, ada sebuah lubang perangkap yang sangat dalam yang jika sampai terjatuh, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Sambil dipenuhi oleh rasa bahagia yang bahkan menimbulkan kecemasan semacam itu,

"Teleportation!"

Aku mengaktifkan Skill tersebut, dan bersama dengan calon-calon istriku, aku berhasil menyelesaikan perjalanan pulang kampung ke Punosis Territory.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close