Ekstra Story:
Menaruh Harapan pada Skill Brainwash
Angin dingin yang bertiup turun
dari pegunungan menerobos masuk melalui celah-celah kayu lapuk, dan setiap kali
itu terjadi, pintu tua berderak keras dengan suara yang mengusik telinga. Rasa
dingin yang menusuk hingga ke tulang membuat tangan dan kakiku kaku, sementara
napas yang kuembuskan bersama helaan lelah berubah menjadi putih lalu
menghilang di dalam ruangan yang remang-remang.
Aku menghentikan rajutan yang
sedang kukerjakan untuk mencari nafkah, lalu menoleh ke arah pria yang tertidur
tepat di sampingku.
Mendengar suara napasnya yang
pelan namun teratur, aku mengembuskan napas lega.
Rambutnya, yang dahulu berwarna
seperti langit malam, kini telah kehilangan pigmennya dan berubah menjadi
putih.
Wajahnya yang dulu tampan kini
kurus kering. Lengan berotot yang dahulu memelukku dengan kuat kini begitu
kurus hingga terasa seolah akan patah hanya dengan sentuhan, bagaikan ranting
yang mengering.
Tubuh Hugh telah melemah
sampai-sampai terasa ajaib ia masih hidup.
Sejak hari tiga bulan lalu ketika
kami mengirim anak-anak ke masa lalu, Hugh kehilangan kesadaran dan hanya
terbaring di tempat tidur. Aku, Tia, dan Merry telah berusaha mati-matian
membangunkannya, tetapi sekeras apa pun kami memanggil namanya, tak pernah
sekalipun ia menjawab.
Hanya napasnya yang nyaris tak
terdengar dan detak jantungnya yang begitu lemah yang memberi tahu kami bahwa
Hugh masih hidup.
Dokter yang akhirnya bersedia
memeriksanya dengan bayaran dari sisa uang kami mengatakan bahwa bukan hanya
kondisinya tidak membaik, bahkan penyebabnya pun sama sekali tidak diketahui.
Mungkin... dia tidak akan pernah
membuka matanya lagi.
Yang bisa kami lakukan hanyalah
menunggu tubuhnya terus melemah hingga suatu saat nyala kehidupannya padam.
"Hugh... suamiku
tercinta...?"
Perlahan kuusap bibirnya yang
kering dengan ujung jariku. Aku ingin bibir itu bergerak lagi dan memanggil namaku. Atau lebih baik
lagi, memelukku erat seperti dulu dan memberiku ciuman penuh gairah seperti
saat kami masih muda—
"Lily? Bukannya aku
sudah bilang jangan mengerjai Hugh?"
Suara dari belakang
membuatku tersentak. Aku memekik pelan dan buru-buru menoleh.
Yang berdiri di sana
sambil tersenyum manis dengan sendok sayur di tangan adalah seorang wanita
berpenampilan seperti gadis muda, berambut keemasan dan mengenakan celemek.
Sahabat masa kecilku
yang, bahkan setelah berhasil membesarkan putrinya hingga dewasa sebagai
seorang ibu, nyaris tidak berubah sedikit pun sejak masa sekolah.
"B-Bukan begitu,
Tia. Aku sama sekali tidak berpikir kalau Hugh mungkin akan bangun kalau
kucium. Sama sekali tidak!"
"Benarkah? Soalnya
kalau aku lengah sedikit, Lily selalu saja mencoba 'menyerang' Hugh."
"I-Itu
tidak..."
...Yah, sebenarnya aku
juga tidak bisa membantahnya sepenuhnya. Soalnya aku kesepian....
Pada siang hari ketika
Merry pergi bekerja memanfaatkan skill miliknya, hanya ada aku, Tia, dan Hugh
di gubuk reyot ini.
Tia menangani seluruh
pekerjaan rumah, sedangkan aku terus mengerjakan pekerjaan sambilan di sisi
Hugh agar setidaknya bisa membantu biaya hidup.
Sampai tiga bulan lalu,
gubuk ini jauh lebih ramai.
Meski kehilangan penglihatannya,
Hugh masih bisa bangun dari tempat tidur. Anak-anak juga masih sangat
merepotkan sehingga setiap hari selalu sibuk.
Hari-hari itu memang melelahkan,
tetapi justru kesibukan itulah yang membuatku lupa akan kecemasan.
Namun setelah ketiga anak itu
pergi, gubuk ini menjadi sunyi.
Seperti angin yang menggoyangkan
pintu melalui celah-celah dinding, kesunyian itu terus mengguncang hatiku. Sama
seperti saat kehilangan Lecty, ada kalanya aku tak mampu lagi mengendalikan
emosiku....
"Lily, sudah waktunya makan
siang. Bisa bantu sebentar?"
Melihatku terdiam, Tia
memanggilku dengan lembut.
Aku mengangguk pelan,
lalu ia berbalik menuju dapur.
Tak lama kemudian, ia
kembali membawa semangkuk bubur jelai yang encer.
Kami berdua bekerja sama
mengangkat tubuh Hugh agar bisa duduk.
"Hugh, sudah waktunya makan
siang. Makan sedikit saja, ya."
Tia menyuapkan sesendok bubur ke
mulut Hugh yang sedikit terbuka.
Beberapa saat kemudian,
tenggorokannya bergerak pelan menelan.
"Hehe... enak?"
Tentu saja Hugh tidak menjawab. Namun
setiap kali Tia menyuapkan bubur, ia selalu menelannya. Entah kenapa, itu
terasa seperti jawaban, seolah ia berkata, 'Enak.'
"Uu..."
Aku menggigit bibirku erat-erat,
menahan keinginan untuk menangis sekeras-kerasnya.
Hugh sangat menyukai masakan Tia.
Bahkan saat Tia pertama kali
memasak setelah diajari Ibu Rain, Hugh sampai menangis haru. Wajahnya yang
tersenyum bahagia sambil terus berkata "Enak... enak sekali..." kini
kembali terbayang di benakku.
Dengan mata birunya yang mulai
berkaca-kaca, Tia terus menyuapkan bubur hingga mangkuk itu kosong.
Setelah membaringkan Hugh
kembali, kami pun mulai makan siang.
Menu kami sama: bubur jelai
encer.
Hanya diberi sedikit garam yang
sangat berharga, sehingga rasanya nyaris hambar.
Bahkan jelainya sendiri sangat
sedikit. Saat disendok, hampir seluruh isinya hanyalah air.
Meski begitu, itu tetap jauh
lebih baik daripada tidak makan sama sekali.
Kami adalah pengungsi dari
Kerajaan Liese yang kini hidup di daerah perbatasan Kerajaan Naibel, dipandang
sebagai beban oleh penduduk setempat.
Setelah Naga Hitam Dorefon
meluluhlantakkan seluruh benua, Kerajaan Naibel—yang belum terkena
dampaknya—dibanjiri para pengungsi.
Kekurangan pangan semakin parah.
Kami para pengungsi membuka hutan di wilayah perbatasan sambil berbagi sedikit
makanan yang ada.
Sebenarnya kami masih tergolong
beruntung.
Bekas rakyat wilayah Pnosis yang
melarikan diri bersama kami masih rela membagi sedikit makanan mereka demi kami
dan Hugh.
Berkat kemurahan hati merekalah
Hugh masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.
...Namun musim gugur hampir
berakhir.
Kerajaan Naibel yang berada di
utara adalah negeri bersalju lebat. Begitu musim dingin tiba, dunia akan
tertutup salju.
Dengan persediaan makanan yang
hampir habis, musim dingin kali ini pasti akan sangat berat.
Mungkin kami masih bisa
bertahan...
Tetapi Hugh....
Sendok di tanganku terlepas dan
jatuh ke dalam bubur dengan bunyi plung.
"Lily...!?"
Kenyataan yang tak bisa kuhindari
menghantamku sekaligus. Saat aku menutupi wajahku, Tia buru-buru memelukku.
Air mata mengalir deras seperti
serangan mendadak, napasku memburu hingga sulit bernapas.
Aku tak sanggup menahannya lagi.
Aku pun akhirnya menangis
sejadi-jadinya.
Kalau begini terus, Hugh akan
mati.
Aku takut.
Aku tidak mau.
Kenapa?
Hari-hari bahagia kami seolah
dicoret habis oleh kegelapan.
Apa yang sebenarnya salah?
Di mana aku melakukan kesalahan?
Kenapa semuanya harus menjadi
seperti ini!?
"Lily, tenang! Tidak
apa-apa! Semuanya akan baik-baik saja!"
Di dalam pelukan Tia, aku hanya
bisa terus menangis.
Padahal Tia sendiri pasti juga
takut.
Melihat Hugh seperti ini, pasti
ia pun ingin menangis sekeras-kerasnya.
Namun justru akulah yang selalu
merepotkannya.
"Maaf... maafkan
aku...."
Tia hanya terus memelukku sampai
aku benar-benar tenang.
Entah berapa lama berlalu.
Saat napasku akhirnya kembali
normal, bubur kami sudah dingin.
Kami lalu duduk berdampingan
sambil menghabiskan bubur yang telah dingin itu bersama-sama.
"Aku cuci piring dulu ya.
Lily istirahat saja sebentar."
Sambil membawa
piring-piring kosong, Tia menuju dapur.
Aku pun menuruti
sarannya.
Aku menyelinap ke tempat
tidur Hugh, memeluk lengannya, lalu memejamkan mata.
Tak lama kemudian rasa kantuk
membawaku kembali pada kenangan singkat lebih dari dua puluh tahun lalu.
Hari ujian masuk Akademi
Kerajaan.
Hari ketika aku bertemu keluarga
paling berharga dalam hidupku.
Seorang anak laki-laki berambut
warna langit malam dengan pakaian perjalanan yang dihiasi lambang keluarga
Pnosis.
Seorang gadis berambut biru pucat
kusam dengan mata sewarna kecubung, mengenakan pakaian penuh tambalan.
Seorang putri berambut perak
pendek yang menyamar sebagai laki-laki demi menyusup ke akademi.
Masa-masa itu memang penuh
kesulitan.
Namun lebih dari itu, kehidupan
di akademi begitu menyenangkan.
Meski hanya beberapa bulan,
kenangan itu tetap menjadi harta yang tak tergantikan bagiku.
"Lily."
Lecty memanggil namaku dengan
seragam Akademi Kerajaan yang dulu begitu kukenal.
Namun suaranya terdengar samar.
Aku bahkan tak lagi bisa
mengingat tinggi rendah ataupun warna suaranya.
Wajahnya pun mulai memudar.
"Jangan... jangan
pergi...!"
Aku mengulurkan tangan sekuat
tenaga kepada Lecty yang perlahan menghilang seperti kabut.
Namun seberapa keras pun aku
berusaha, tanganku tak pernah mampu meraihnya.
Di dalam diriku, dirinya
perlahan menghilang.
Padahal ia begitu berharga bagiku.
Padahal aku sangat mencintainya.
Ah...
Kenapa...?
Kenapa kau pergi...?
"Lecty...."
Di dalam kegelapan tanpa dasar,
tubuhku terus terjatuh menuju jurang keputusasaan.
Cahaya kecil yang tampak di
kejauhan...
Mungkin hanyalah ilusi yang lahir
dari harapanku sendiri.
◇
"Bu... bangun, Bu!"
Suara seseorang terdengar dari
kejauhan.
Tubuhku diguncang pelan, dan aku
perlahan membuka mata.
Yang kulihat adalah seorang gadis
bermata hijau muda.
Rambut merah mudanya yang diikat
dua bergoyang pelan, begitu mirip dengan rambutku saat muda.
Harta paling berharga milikku dan
Hugh.
Putri kami, Merry, sedang
mengguncang tubuhku dengan wajah penuh semangat.
"Ayo bangun, Bu! Ada sesuatu
yang luar biasa terjadi!"
"Sesuatu yang luar
biasa...?"
Sambil memegangi kepalaku yang
masih berat karena baru bangun, aku duduk.
"Apa yang terjadi,
Merry?"
"Pokoknya cepat ikut
aku!"
"T-Tunggu dulu...!"
Semua orang bilang Merry sangat
mirip denganku ketika muda.
Tapi sifat cerobohnya ini
sebenarnya meniru siapa, ya?
Padahal aku selalu mengajarinya
bahwa seorang wanita anggun harus tetap tenang dalam situasi apa pun.
Merry terus menarik tanganku
hingga memaksaku berdiri.
Kulihat matahari sudah mulai
condong ke barat.
Sepertinya aku tertidur cukup lama.
"Ayo cepat!"
"Tunggu, Merry. Aku tidak tahu kau mau membawaku ke mana, tapi aku
tidak bisa meninggalkan Hugh."
Bagaimana kalau saat aku pergi...
Napas Hugh berhenti?
Hanya memikirkannya saja membuat
kakiku gemetar.
"Ibu ini memang
selalu terlalu khawatir. Kan cuma keluar rumah sebentar."
"T-Tapi...."
Saat aku masih ragu-ragu,
Merry menghela napas pasrah.
Tepat saat itu pintu terbuka dan
Tia masuk.
"Tia Mama! Sudah
selesai?"
"Iya. Lily, biar aku yang
menjaga Hugh. Pergilah keluar bersama Merry. Kau pasti juga akan
terkejut."
"Eh?"
Tia berkata demikian sambil
mengusap air mata di sudut matanya.
Apa sebenarnya yang ada di luar?
Apa Merry berhasil menangkap babi
hutan besar lagi?
Kalau begitu memang akan sangat
membantu untuk persediaan musim dingin....
Merry terus menarik lenganku
dengan tergesa-gesa hingga aku bangkit dari tempat tidur.
Saat itulah aku mendengar suara
ramai dari luar rumah.
Sepertinya banyak orang berkumpul
di depan.
Mantan rakyat wilayah kami...?
Namun suara-suara yang terdengar
justru terasa sangat akrab.
"Bu, jangan sampai kaget
terus pingsan ya!"
"Jangan perlakukan aku
seperti nenek. Memangnya kau menangkap apa sih—"
Belum sempat aku menyelesaikan
kalimatku, pintu terbuka.
"Lily Mamaaa!"
Seorang gadis berambut abu-abu
memelukku erat.
Mataku membelalak.
"Selamat pulang! Aku
pulang, Lily Mama!"
"Lu... Lu...?"
Lu Pnosis.
Putri pertama Hugh dan Tia.
Ia memelukku erat sambil
menyembunyikan wajahnya di dadaku.
"K-Kenapa kau ada di sini?
Bukankah kau...."
Bukankah Hugh telah mengirimnya
ke masa lalu?
Kami seharusnya takkan pernah
bertemu lagi.
Perjalanan waktu hanya bisa satu
arah.
Setidaknya, skill Hugh saat ini
tidak mungkin membawa mereka kembali.
Kami sudah menangis sambil
merelakan Lu, Ryuug, dan Tina demi masa depan mereka yang bahagia.
Apa perjalanan waktunya gagal?
Tidak.
Hugh sudah mempertaruhkan
nyawanya berkali-kali dalam eksperimen itu.
Kalau begitu...
Apa ini...?
"Karena skill <Brainwashing> milik Ayah mampu membuat hal yang
mustahil menjadi mungkin!"
"...!"
Mendengar jawaban Lu yang begitu
penuh keyakinan, aku spontan mengangkat kepala.
Barulah saat itu aku benar-benar
melihat siapa saja yang berdiri di sana.
Bukan hanya Ryuug dan Tina.
Di sana berdiri empat orang
dengan seragam Akademi Kerajaan yang begitu kurindukan.
"Ah...."
Suara serak keluar dari
tenggorokanku.
Tina mendorong pelan punggung
seseorang agar berjalan mendekat.
Rambut biru pucatnya bergoyang
lembut.
Mata kecubungnya menatapku yang
kini berambut kusut dan berpakaian penuh tambalan.
"Lily."
Suara bening itu...
Bukan halusinasi.
Bukan mimpi.
Ah...
Benar....
Kenapa aku sampai melupakan suara
ini...?
"Le... Lecty...?"
Emosi yang selama ini kutahan
meluap begitu saja.
Air mata membuat pandanganku kabur.
Aku mencoba melangkah mendekatinya, tetapi kakiku kehilangan tenaga hingga
tubuhku nyaris terjatuh.
Lecty segera memelukku.
Harum lembut seperti
bunga kamomil.
Kehangatan tubuhnya...
Begitu kurindukan.
"Lecty... Lecty...!"
Air mataku mengalir tanpa henti.
Aku tahu.
Dia bukan Lecty yang
kukenal.
Aku mengerti itu.
Namun bagiku...
Dia tetap Lecty.
Perasaanku tak sanggup
lagi dibendung.
"Ah... aah...!
Lecty... aku... aku...! Setelah kau pergi, aku tak tahu harus bagaimana
lagi...! Maaf... maafkan aku...!"
"Tidak apa-apa,
Lily."
Lecty mengusap kepalaku
dengan lembut.
"Aku sudah mendengar
banyak cerita tentangmu dari Tina dan Lu. Terima kasih sudah menjaga putri-putriku
menggantikanku."
"Bukan... bukan begitu....
Aku tidak bisa melakukan apa-apa.... Aku hanya menjadi beban bagi semua
orang...."
"Itu tidak benar!"
"Lu...?"
Lu mengepalkan tangannya dengan
mata berkaca-kaca.
"Berkat tata krama yang Lily
Mama ajarkan, Lu bisa akrab dengan Paman Lucas di masa lalu! Karena Paman
Lucaslah kami bisa kembali ke sini bersama Ayah! Semua ini berkat Lily
Mama!"
Begitu selesai berkata, Lu
langsung memelukku erat.
Belum sempat aku
bereaksi, seseorang memelukku dari belakang.
"Benar! Mama bukan
beban! Mama adalah ibu yang paling berharga bagiku! Karena Mama mengajariku
banyak hal, aku bisa menjadi diriku yang sekarang!"
Merry menempelkan wajahnya di
punggungku.
"Pelajaran yang Lily Mama
ajarkan memang berat banget, tapi semuanya berguna di masa lalu! Jadi jangan
bilang Mama tidak melakukan apa-apa lagi...."
Bahkan Tina ikut memelukku.
Kini aku dipeluk dari empat arah
sekaligus bersama Lecty.
Dari kejauhan terdengar
percakapan,
"Kamu tidak ikut memeluk
juga?"
"Kurasa aku tidak
usah...."
...Tapi itu tidak penting.
Hatiku yang selama ini membeku
perlahan dipenuhi kehangatan.
Sejak kehilangan Lecty, kupikir
aku hidup bagai cangkang kosong.
Aku hanya bergantung pada Hugh,
Tia, dan anak-anak.
Yang bisa kulakukan hanyalah
mengajari mereka tata krama dan pelajaran.
Aku bahkan merasa hampir tidak
pernah menjadi ibu yang baik bagi Merry maupun Ryuug.
"Ini bukan ilusi. Ini
kenyataan yang Ibu ciptakan."
Ryuug menatapku sambil
tersenyum.
"Benar, Lily."
Lucletia muda ikut tersenyum
cerah.
Di sampingnya, diriku di masa
lalu berdiri dengan tangan terlipat dan wajah canggung.
"Yah, sesekali tidak ada
salahnya memuji dirimu sendiri. Aku tahu betul bagaimana rasanya kehilangan
Lecty karena aku juga dirimu. Aku sudah membaca semua buku harianmu.
Menurutku... kau sudah berusaha sebaik mungkin."
Mendengar diriku sendiri
mengatakan itu terasa sangat aneh.
Namun justru karena itu...
Kata-kata tersebut begitu mudah
meresap ke dalam hatiku.
"Terima kasih, Lily."
Sebuah tangan besar mengusap
kepalaku.
Sentuhan kasar itu...
Begitu hangat.
Begitu kurindukan.
"Serahkan sisanya padaku. Aku pasti akan memastikan semuanya
tidak berakhir sebagai tragedi."
Setelah berkata demikian
dengan penuh keyakinan, ia menggaruk pipinya dengan sedikit malu, lalu
tersenyum sambil bercanda.
"Kalau
begitu... aku pergi sebentar buat mengacak-acak dunia dengan skill 〈Brainwashing〉 milikku!"
Kata Penutup
Halo, selamat datang di catatan
penutup!
Kali ini jumlah halamannya
mencapai 3 halaman. Jumlah halaman catatan penutup ini terus bertambah dengan
lancar. Aku KT.
Volume keempat dari Isekai
Musou!? (Brainwashing Skill to Dominate Another World!?) berhasil kami
persembahkan kepada kalian semua dengan selamat. Volume pertama dirilis pada
bulan Juni tahun lalu, dan tidak disangka dalam waktu satu tahun satu bulan
kami sudah bisa merilis buku keempat. Ini semua berkat kalian para pembaca yang terus setia membaca hingga sejauh
ini. Terima kasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam.
Selain itu, volume pertama dari
versi komik Isekai Musou!? yang digambar oleh Sensei Shiiramasa-Iki juga
dirilis pada bulan yang sama.
Aku akan sangat senang
jika kalian juga berkenan mengambil dan membacanya.
Nah, mumpung di sini, bagaimana
kalau aku menulis sedikit tentang kabar sirkulasi kehidupanku saat ini?
Meskipun bisa dibilang ini
terjadi pada tahun lalu, aku diundang oleh almamaterku, Departemen Seni Sastra
di Osaka University of Arts, dan dalam format bincang-bincang dengan dosen yang
dulu merawatku selama kuliah, aku berbicara banyak hal kepada para mahasiswa di
sana.
Sebagai seorang penulis
"sombong" yang baru debut selama setengah tahun, aku mendatangi
almamaterku dengan penuh rasa percaya diri dan berkata kepada para mahasiswa di
sana bahwa meskipun dunia penulisan novel ringan ini kejam karena menerbitkan
buku saja tidak menjamin kalian mendapatkan penghasilan yang besar, industri
ini memiliki mimpi yang luar biasa di mana karakter dari karya kalian bisa
digambarkan oleh ilustrator, bahkan diadaptasi ke dalam bentuk komik!
Begitulah niatku berbicara kepada
mereka.
Namun, aku malah lupa melanjutkan
kalimat setelah kata "dunia yang kejam" tersebut.
Aku malah berakhir melakukan
gerakan khas "alumni brengsek" yang hanya bisa mengatakan bahwa dunia
ini begitu kejam, jadi sungguh, maafkan aku ya para junior...
Tapi impian itu benar-benar ada,
kok! Walaupun penghasilannya memang agak begitu, ya, melihat cerita yang
kutulis diadaptasi menjadi komik itu sungguh sangat mengharukan, tahu! Jadi,
bagi siapa pun yang membaca catatan penutup ini dan bercita-cita menjadi
penulis novel ringan, kalian tidak perlu khawatir! Impian itu benar-benar ada!
Sungguh!
Kalau aku diundang lagi ke
almamaterku, aku berjanji akan membicarakan kisah-kisah yang penuh mimpi di
kesempatan berikutnya.
Bahkan setelah bincang-bincang
dengan dosen selesai, dua orang junior menghampiriku dan kami berbicara tentang
dunia kreatif selama sekitar empat jam. Hal yang paling membuatku terkejut saat
itu adalah kenyataan bahwa mereka berdua menulis novel menggunakan smartphone.
Mendengar hal itu, bagiku yang
bahkan kesulitan mengetik flick dengan benar, hal tersebut terasa sangat sulit
dipercaya... Ngomong-ngomong, saat aku pertama kali mendapat tawaran untuk
menerbitkan buku, editor juga sepertinya sempat bertanya kepadaku, "Bagaimana
cara Anda menulis novel?"
Begitu ya, era di mana menulis
menggunakan komputer sudah bukan lagi sebuah kehalalan mutlak di masa kini...
Di masa depan yang lebih jauh
lagi, mungkin akan tiba era di mana kita bahkan tidak perlu menggunakan tangan,
melainkan menghubungkan chip yang ditanamkan di dalam otak agar AI mengoreksi
kata-kata yang melintas di kepala menjadi sebuah kalimat... entah era seperti
itu akan datang atau tidak.
Kurasa, bahkan jika era itu
datang, aku sepertinya akan tetap mengetik katakata di papan ketik komputer.
Karena mengetik sambil
berbunyi katakata itulah cara paling menyenangkan bagiku.
Halamannya sudah terisi dengan
pas, jadi aku akan masuk ke bagian ucapan terima kasih.
Kepada editor yang bertanggung jawab, O-sama. Terima kasih banyak atas kerja keras dan dedikasi
Anda dalam membantu penerbitan karya ini sekali lagi. Aku kadang menerima
balasan email dari Anda larut malam, apa Anda beristirahat dengan benar? Tolong
jaga kesehatan Anda, dan mohon dukungannya terus ke depannya.
Kemudian, kepada ilustrator
Oyazuri-sensei. Ada begitu banyak adegan yang kusempatkan tulis kali ini karena
aku sangat ingin digambarkan oleh Sensei, terima kasih banyak. Para pembaca
versi Web pasti sangat puas, ya (ketawa). Mohon dukungannya terus ke depannya.
Kepada mangaka adaptasi komik,
Shiiramasa-Iki-sensei. Selamat atas perilisan volume pertama komik! Aku akan
sangat senang jika seri ini bisa menjadi batu loncatan bagi lompatan besar
Sensei. Tidak hanya sebagai penulis asli, tetapi juga sebagai seorang pembaca,
aku selalu menantikan name (sketsa manga) dan naskahnya setiap kali terbit.
Mohon dukungannya terus ke depannya.
Terakhir, aku ingin mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh staf Departemen Editorial
Overlap dan semua pihak terkait yang telah membantu penerbitan karya ini, para
pembaca yang telah memberikan dukungan sejak masa serialisasi web, serta kamu
yang telah mengambil buku ini di tanganmu.
Kalau begitu, sampai jumpa lagi
di catatan penutup volume kelima! Saradaba!



Post a Comment