Prolog
Akademi Yutrea digemparkan oleh berita pertandinganku
yang—mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah—melibatkan penggunaan roh
jahat. Seluruh akademi kini tak henti-hentinya membahas hal tersebut.
Ke mana pun aku pergi, selalu saja ada yang menyapa dan
mengorek informasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal setiap
harinya.
"Ternyata bohong ya, waktu kamu bilang tidak punya roh
kontrak!"
"Jadi
benar, kamu mengontrak roh jahat!?"
"Apa
kamu mengontrak roh berbahaya yang sengaja kamu sembunyikan!?"
Sudah
hampir dua minggu berlalu sejak pertandingan itu berakhir. Meski begitu,
pertanyaan serupa yang dulu kuterima di ruang kesehatan terus saja dilontarkan
tanpa henti, dan setiap kali pula aku harus menyangkalnya.
Namun,
setiap kali aku menyangkal, mereka justru merespons dengan cara yang aneh...
"Oke,
oke. Aku mengerti, itu cuma aktingmu saja, kan?"
"Tenang
saja, meskipun kamu mengontrak roh jahat, aku akan tetap di pihakmu."
"Begitu
ya... pasti ada alasan tersendiri kenapa kamu merahasiakannya..."
Mereka mengatakan
hal tersebut sambil memasang wajah sok tahu, lalu pergi meninggalkanku dengan
gaya yang sangat percaya diri.
Sepertinya,
meskipun mereka bertanya dalam bentuk kalimat tanya, mereka sebenarnya sudah
membuat kesimpulan sendiri di dalam kepala dan hanya ingin aku membenarkannya.
Jika mereka tidak
mendapatkan jawaban yang diinginkan, mereka justru akan memutarbalikkan fakta
sesuka hati agar sesuai dengan kesimpulan mereka.
Tolonglah,
hentikan itu. Tidak ada gunanya bertanya padaku kalau ujung-ujungnya begitu.
"…………Lelah
sekali."
Aku yang merasa
benar-benar hampa duduk di bangku yang sepi di belakang gedung sekolah, menatap
langit dengan tatapan mata yang mati.
Saat melihat
langit biru yang cerah tanpa awan, aku jadi berharap bisa berubah menjadi
burung dan terbang menjauh ke angkasa.
"Kenapa
jadinya malah begini…"
Padahal, aku
sudah memberanikan diri untuk berterus terang demi meluruskan kesalahpahaman,
tapi hasilnya justru berbalik 180 derajat.
Yah, bagi diriku
sendiri, mengaku tidak memiliki roh kontrak membuatku merasa lebih lega
daripada sebelumnya, dan tatapan orang-orang di sekitarku pun terasa lebih
ramah.
Namun, di sisi
lain, situasi ini justru terasa semakin memburuk tanpa henti.
Meskipun begitu,
karena aku sendiri yang menyangkalnya tapi tetap tidak dipercaya, tidak ada
cara lain untuk menyelesaikannya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Hah…"
Tanpa sadar,
helaan napas panjang lolos dari mulutku.
Mengapa, setelah
melewati ujian berat dan Pertandingan Peringkat, aku justru merasa sangat lelah
bukannya merasa puas?
"Wajahmu itu
sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan
Pertandingan Peringkat terakhir di semester ini."
"……Hah?"
Saat aku terus
melamun menatap langit, aku mendengar suara yang sudah familiar.
Dengan perasaan
malas, aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok pria tampan nan
elegan, Gareth Orrot, berdiri di sana.
"Yo."
"Ada perlu
apa?"
"Yah,
sebenarnya aku memang ada perlu... tapi sepertinya kamu jauh lebih lelah dari
yang kubayangkan."
"Ya jelas
saja. Kamu akan merasakan hal yang sama kalau setiap hari dibombardir dengan
pertanyaan seperti itu."
Mendengar
ucapanku, Gareth tersenyum kecut.
"Wajar saja,
pertandingan itu kan jadi topik hangat di mana-mana."
"Yah, kamu
benar juga, sih…"
Meskipun aku yang
mengatakannya sendiri, kali ini lawanku adalah Trallus, dan aku bertarung
menggunakan roh jahat meski hanya melalui kontrak sementara. Jadi, aneh rasanya
jika hal itu tidak menjadi perbincangan.
"Pasti para
guru juga menanyakan banyak hal, kan?"
"Ah, itu dia
yang paling menguras tenagaku."
Setelah
pertandingan usai dan kondisiku pulih, aku dipanggil oleh para guru untuk
diinterogasi mengenai roh jahat tersebut.
Terutama Profesor
Albert yang tampak sangat bersemangat di luar batas kewajarannya; ia bertanya
dengan sangat detail mulai dari bagaimana aku bertemu roh itu sampai proses
kontrak sementaranya. Benar-benar sangat melelahkan.
"Apakah kamu
juga menceritakan soal roh kontrakmu?"
"Ya, percuma
juga menyembunyikannya sekarang. Meskipun sepertinya mereka lebih terpaku pada
masalah roh jahat itu daripada hal lainnya…"
Mungkin bagi
mereka, fakta bahwa aku bisa mengendalikan roh jahat jauh lebih mengejutkan
daripada ada atau tidaknya roh kontrakku. Tapi, selama para guru tidak
mempermasalahkannya, ya sudahlah.
"Yah,
bagaimanapun juga, seorang penyihir roh yang bisa mengontrak roh jahat dalam
kondisi sadar itu adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kalau tidak
hati-hati, ini bisa jadi kegemparan bukan cuma di akademi, tapi di seluruh
negeri, lho."
"Tolong,
jangan sampai itu terjadi. Jangan biarkan rumor tentang diriku tersebar lebih jauh lagi…"
Gareth
berbicara dengan nada bercanda, sementara aku hanya bisa menutupi wajah dengan
tangan sambil meratap.
Membayangkan
rumor itu menyebar ke seluruh negeri saja sudah membuatku ngeri.
Di dalam
akademi saja rumornya sudah simpang siur dan ditambah-tambah, apalagi kalau
sampai ke luar negeri. Entah bakal jadi seperti apa cerita sebenarnya nanti.
"Nah,
di tengah situasi yang rumit ini, aku punya satu kabar untukmu."
"Apakah itu
urusan yang kamu maksud tadi? Ngomong-ngomong, ini kabar baik atau kabar
buruk?"
"Bagaimana, ya?"
"Eh, jangan begitu, aku jadi takut."
Melihat Gareth tersenyum penuh arti, rasa cemas mulai
merayapi hatiku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku melakukan kesalahan lagi?
Terlalu banyak hal yang kulakukan akhir-akhir ini
sampai-sampai aku tidak tahu apa yang ia bicarakan.
"Misha
memintaku untuk mengajakmu ikut Pelatihan Gabungan."
"Pelatihan… Gabungan?"
Aku benar-benar bingung mendengar isi urusan Gareth yang
sama sekali tidak kuduga.
"Ya, kabarnya mereka akan mengadakan pelatihan bagi
para anggota terpilih untuk menghadapi Festival Seni Bela Diri Roh Agung."
"Festival Seni Bela Diri Roh Agung… Tunggu, aku juga
termasuk?"
"Tentu saja."
……Serius? Apa mereka benar-benar ingin mengikutsertakan aku
yang tidak punya roh kontrak ke Festival Seni Bela Diri Roh Agung? Apa mereka sudah gila?
"Ini saatnya
kamu membulatkan tekad, Rourke. Tapi lebih jelasnya, coba pergi ke ruang OSIS
dan tanyakan langsung pada Misha."
"…………"
Festival Seni
Bela Diri Roh Agung.
Sebuah festival
besar yang bisa disebut sebagai panggung impian bagi para penyihir roh muda.
Sesaat setelah
aku berhasil melewati Pertandingan Peringkat, aku kini harus kembali menyadari
bahwa hari itu sudah semakin dekat.
*****
"Kami akan
mengadakan pelatihan gabungan."
"Pelatihan
gabungan…"
Sesuai saran
Gareth, aku pergi ke ruang OSIS dan disambut langsung oleh Misha dengan kalimat
tersebut.
"Ya.
Beberapa hari lalu, pihak penyelenggara mengumumkan bahwa Festival Seni Bela
Diri Roh Agung tahun ini akan diadakan dalam format pertarungan tim antar
sekolah."
"Tahun
ini formatnya tim, ya…"
Format
Festival Seni Bela Diri Roh Agung selalu berubah setiap tahunnya.
Karena
festival ini juga berfungsi sebagai ritual pemujaan roh, bentuk acaranya
disesuaikan dengan kehendak roh itu sendiri.
Itulah
sebabnya terkadang diadakan secara individu, dan terkadang dalam format tim
antar sekolah seperti tahun ini.
"Benar.
Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengadakan pelatihan intensif selama
masa liburan bersama anggota yang telah kami pilih berdasarkan hasil
Pertandingan Peringkat."
"Begitu rupanya… Jadi, aku termasuk dalam anggota
itu?"
"Tentu saja.
Kamu adalah salah satu kekuatan utama kami."
Mendengar jawaban
lugasnya, aku jadi sedikit merasa canggung.
"Apa tidak
apa-apa mengikutsertakan aku?"
"Apa
maksudmu?"
"Karena di
Pertandingan Peringkat kemarin, aku menggunakan roh jahat…"
Begitu aku
mengucapkannya, Misha sepertinya memahami maksudku dan mengangguk dengan
ekspresi yang cukup meyakinkan.
"Tidak ada
masalah sama sekali. Bukankah kamu berhasil mengendalikannya dengan baik saat
itu?"
"Tapi,
selain itu, masalah kontrak rohku…"
"Bukankah
itu cuma rumor belaka?"
"Bukan!
Rumor kalau aku punya roh kontrak itu yang bohong!!"
Kenapa kebenaran
yang kusampaikan justru dianggap sebagai bentuk penyangkalan!? Tolong hentikan
itu!
Saat aku
berteriak frustrasi, Misha tampak sedikit terkejut sebelum berbisik,
"Begitu ya."
"Jadi kalau
kamu salah paham—"
"Tidak
peduli apakah kamu tidak memiliki roh kontrak atau justru mengikat kontrak
dengan roh jahat, Rourke Areas, kamu tetaplah penyihir roh kebanggaan akademi
kami."
Tatapan mata
birunya yang indah menatap tajam ke arahku.
Mendengar Misha
mengatakannya dengan begitu tegas, aku tak bisa lagi berkata apa-apa.
"Bukankah
aku sudah pernah mengatakannya sebelumnya? Bahwa pandanganku terhadapmu tidak
akan pernah berubah…"
"……Ah, iya,
benar juga."
Ingatan saat kami
berbelanja di pasar besar terlintas di kepalaku. Aku teringat kata-kata yang
diucapkannya saat itu, lalu perlahan menghela napas.
"………Baiklah,
aku akan ikut."
"Terima
kasih banyak."
Melihat Misha
tersenyum, aku hanya bisa tersenyum kecut. Dia sudah begitu mempercayaiku, jadi
tidak mungkin aku menolak ajakannya untuk ikut pelatihan.
"Mengenai
jadwal dan lokasinya, nanti akan saya hubungi lagi. Tidak perlu terburu-buru,
tapi tolong siapkan dirimu."
"Mengerti,
kalau sudah ada kepastian, tolong beritahu aku ya."
Aku
mengangguk, lalu berbalik meninggalkan ruang OSIS.
Mungkin
di pelatihan nanti, aku akan butuh lebih banyak roh lagi. Lebih baik aku mulai
mengumpulkan roh untuk kontrak sementara sejak sekarang.
"Rourke
Areas."
Saat aku
memegang gagang pintu, seseorang memanggil namaku dari belakang. Aku menoleh
dan mendapati Misha sedang tersenyum dengan cara yang jarang ia
tunjukkan—senyum yang terasa sangat tulus dan sesuai dengan usianya.
"Mari
kita berjuang bersama demi meraih kemenangan di Festival Seni Bela Diri Roh
Agung."
"………I-itu,
berkali-kali aku katakan, aku ini tidak punya roh kontrak, lho? Tolong pahami
itu baik-baik saat memilih anggota tim."
Sesaat sebelum pergi, aku mencoba menjawab dengan perasaan ingin membalas kepercayaannya, tapi pada akhirnya, kata-kata yang keluar justru terdengar begitu menyedihkan.
Illustasi | ToC | Next Chapter



Post a Comment