NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V4 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Heroine yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya saat ini, juga tidak akan pernah merasa puas di masa depan

Tambahan lagi, padahal masalah besar saja sudah ada, kini muncul lagi masalah yang jauh lebih besar.


Sejak pertama kali bertemu, aku memang sudah berpikir kalau dia perempuan yang sangat agresif sampai-sampai langsung meminta, "Tolong berpura-puralah menjadi pacarku." Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau ternyata dia adalah teman masa kecil Amada....


"Aku bakal pindah rumah sekitar akhir liburan musim panas. Di tempat baru nanti, aku pasti bisa bertemu lagi dengan Teru Teru! Aduh, dari sekarang saja aku sudah tidak sabar! Cepatlah liburan musim panas berakhir~!"


"Oh begitu...."


"Lho? Ada apa dengan kalian berdua?"


"Tidak ada apa-apa."


Aku dan Iba yang baru saja mendengar kisah horor yang, dalam arti tertentu, sangat cocok dengan suasana musim panas, memaksakan senyum di wajah kami yang sudah pucat pasi, benar-benar berkebalikan dengan Souda Hiromi yang tersenyum penuh kebahagiaan.


Sebelum datang ke perjalanan ini, kami sudah mencoba mencari informasi tentang Souda Hiromi kepada beberapa orang, tetapi tidak ada seorang pun yang mengenalnya (kecuali si berkacamata yang jelas-jelas pura-pura tidak tahu).


Karena itu, aku sempat mengira Amada dan Souda akan bertemu suatu saat selama liburan musim panas.


Dan ternyata itu benar... sekaligus salah besar.


Amada memang bertemu Souda saat liburan musim panas.


Namun itu bukanlah sebuah pertemuan pertama, melainkan pertemuan kembali.


"Ehmm..."


Tenanglah.


Bayangkan saja kami sedang berjalan di ladang ranjau. Kami harus sangat berhati-hati, jangan sampai dia sadar kalau kami mengenal Amada Teruhito. Pilih kata-kata sebaik mungkin sambil menggali informasi.


"Te-teman masa kecil... maksudnya, seperti apa hubungan kalian?"


"Eeh!? Kalian mau dengar cerita tentang aku dan Teru Teru? Ya sudah deh, kalau begitu!"


Memang mau bagaimana lagi.


Aku sebenarnya sama sekali tidak ingin mendengarnya. Tapi kami harus mendengarnya.


Tentang bagaimana tokoh utama romcom sampah itu menaklukkan heroine.


"Kurang lebih lima tahun yang lalu, waktu liburan musim panas. Saat itu aku pulang ke rumah kakek selama satu bulan penuh.... Sejujurnya, waktu itu benar-benar masa terburuk."


"Masa terburuk?"


"Aku tidak punya tempat di sana.... Semua orang lebih menyayangi Yumi. Karena itu, supaya semua orang bisa akur dengan Yumi, aku memilih mengalah dan hampir setiap hari bermain di luar."


Hiduplah sedikit lebih egois.


Kenapa harus perhatian berlebihan seperti itu?


Sayangnya, seandainya aku mengirim harapan itu ke masa lalu pun tidak ada gunanya.


Karena masa lalu tidak bisa diubah. Kalau aku yang mengatakannya, memang sama sekali tidak meyakinkan.


"Tapi ternyata aku salah. Liburan musim panasku bukanlah yang terburuk.... Justru yang terbaik."


Aku sudah bisa menebak ke mana arah ceritanya....


"Aku bertemu.... dengan orang yang ditakdirkan untukku."


Jangan sembarangan memakai kata takdir.

Takdir bukan sesuatu yang semurah itu.


"Aku memang keluar rumah, tapi tidak tahu harus melakukan apa, jadi aku sering pergi ke perpustakaan daerah.... Di sana ada seorang anak laki-laki yang jatuh sambil membawa banyak buku. Sepertinya dia benar-benar ingin membaca semuanya. Bukunya sampai berjatuhan, dan dia panik sekali.... Hehe."


"Dia memang melakukannya."


"Benar sekali."


"Eh?"


"Tidak usah dipikirkan."


"Jangan dipedulikan."


Jadi begitu ya.


Begitu kebetulan melihat gadis cantik bernama Souda Hiromi di perpustakaan, dia langsung menciptakan "pertemuan yang ditakdirkan".


Dan bukannya langsung mengajaknya bicara, dia malah memulai dengan aksi yang mencolok.


Dasar busuk.


Sejak kecil wataknya memang tidak berubah.


"Hari itu hanya sampai situ saja. Tapi keesokan harinya, lalu hari berikutnya lagi, anak itu kembali datang membawa setumpuk buku dan jatuh lagi sambil menjatuhkannya. Hehe. Teru Teru waktu itu lucu sekali...."


Curigailah sedikit. Bagaimanapun juga, tingkah laku itu jelas mencurigakan.


Heroine cantik yang kehilangan kesadaran diri karena rasa rendah diri memang benar-benar merepotkan.


"Akhirnya aku tidak tahan dan menyapanya. Aku bilang, kenapa tidak dibawa sedikit demi sedikit saja?"


Dasar. Kemampuan orang itu memancing heroine memang benar-benar luar biasa.


"Sejak saat itu, setiap kali kami bertemu di perpustakaan, kami jadi sering mengobrol. Ah, tentu saja bukan di dalam perpustakaannya ya? Kami keluar dan mengobrol berdua. Bangku di luar perpustakaan... tempat itu adalah kenangan terindahku."


Bangku memang tidak pernah membawa hal baik. Mending dibongkar saja semuanya dari seluruh negeri.


"Anak itu adalah Amada Teruhito. Teru Teru pernah berkata kepadaku....‘Kamu punya kelebihanmu sendiri. Pasti ada seseorang yang hanya akan melihatmu. Sama sepertiku.’"


Murahan sekali kata-kata itu.


"Untuk pertama kalinya aku merasa diakui. Untuk pertama kalinya aku merasa diterima. Sejak saat itu aku benar-benar tergila-gila pada Teru Teru. Liburan musim panas itu begitu menyenangkan hingga terasa berlalu dalam sekejap...."


Memang begitulah heroine yang gampang jatuh cinta....


"Tapi aku cuma pulang kampung sementara. Setelah itu aku harus kembali lagi. Aku tidak mau berpisah dengan Teru Teru. Aku ingin dia hanya menjadi milikku. Karena itu aku mempertaruhkan segalanya...."


"Itu yang disebut 'janji'?"


"Iya!"


Souda Hiromi mengangguk sambil tersenyum malu.


Jadi, sampah yang selalu memastikan stok heroine tidak pernah habis itu mengikat Souda Hiromi dengan sebuah janji.


"Kalau boleh tahu, isi janjinya apa?"


"Eeh!? Masa itu juga mau kuteruskan? Itu janji rahasia yang hanya diketahui aku dan Teru Teru!"


Kasih tahu, dong. Justru itu bagian yang paling penting.


Kalau begini terus, masa depanmu adalah menjadi "Crazy Maid" yang mengorbankan seluruh kebahagiaanmu sendiri demi mengabdi secara tidak normal kepada Amada.


"Teru Teru satu-satunya orang yang menyelamatkanku waktu itu. Teru Teru satu-satunya orang yang benar-benar melihatku...."


Wah....Tatapan matanya benar-benar penuh cinta....


"Karena itu, Teru Teru tidak akan kuberikan kepada siapa pun. Aku tidak mau kehilangan Teru Teru...."


Gawat....Heroine-heroine sebelumnya saja sudah cukup parah, tapi Souda Hiromi benar-benar berada di level yang berbeda.


Di tengah rasa rendah dirinya, hanya ada satu harapan yang tersisa.


Harapan itu berubah menjadi obsesi sekaligus ketergantungan yang sangat kuat terhadap Amada.


"Begitu ya.... Jadi karena itulah alasannya 'ingin membanggakan pacar kepada orang tua'...."


"Eh? Hime Hime, maksudmu apa?"


"Mungkin... tentang masa depan yang sebenarnya bisa saja terjadi...."


"Hmm?"


Baik di kehidupan pertama maupun kehidupan kedua, Souda Hiromi sama-sama meminta seorang pria berpura-pura menjadi pacarnya.


Namun ada dua perbedaan.


Perbedaan pertama adalah orang yang diminta.


Di kehidupan pertama adalah Amada Teruhito.

Di kehidupan kedua adalah Ishii Kazuki.


Ini masih bisa dimaklumi karena merupakan hasil dari tindakan kami sejauh ini.


Masalahnya adalah perbedaan kedua. Alasan Souda Hiromi meminta seseorang berpura-pura menjadi pacarnya.


Di kehidupan pertama alasannya adalah, "Aku ingin membanggakan pacarku kepada orang tuaku."


Sedangkan di kehidupan kedua alasannya adalah, "Aku ingin mengalahkan Yumi."


Sekilas terdengar mirip, tetapi sebenarnya sangat berbeda.


Kami selama ini tidak mengerti mengapa alasannya berubah. Namun sekarang aku akhirnya paham.


Yang benar adalah alasan di kehidupan kedua. Sedangkan alasan yang dia katakan di kehidupan pertama hanyalah kebohongan... atau lebih tepatnya, tujuannya berubah.


Kemungkinan besar, di kehidupan pertama pun awalnya dia memang berniat mencari seseorang untuk berpura-pura menjadi pacarnya demi mengalahkan Souda Yumi.


Namun secara kebetulan dia bertemu kembali dengan orang yang dicintainya, Amada Teruhito.


Perempuan yang sampai menyebutnya sebagai takdir seperti dia tentu saja akan menganggap pertemuan kembali secara kebetulan di Okinawa sebagai perkembangan terbaik.


Sayangnya, tidak semua hal berjalan mulus.


Sama seperti Hitsujitani Miwa di kehidupan pertama.


Dari fakta bahwa Iba bahkan tidak mengetahui kalau Amada dan Souda Hiromi adalah teman masa kecil, jelas terlihat bahwa Amada telah melupakan Souda Hiromi (atau mungkin hanya berpura-pura lupa).


Kalau begitu, tujuannya tidak mungkin tercapai.


Namun dia juga tidak bisa menyerah. Karena itu, Souda Hiromi memutuskan untuk menjalin kembali hubungan mereka.


Meskipun sejak awal sudah mencintai Amada, dia tetap mengatakan kebohongan, "Tolong berpura-puralah menjadi pacarku," demi memperoleh waktu bersama Amada.


Agar Amada mengingatnya.


Agar Amada jatuh cinta kepadanya.


Itulah sebabnya, di kehidupan pertama pun, ketika dia mati-matian memohon kepada Amada, dia sama sekali tidak mau mengalah walaupun Iba, yang lain, bahkan Souda Yumi datang.


Bagaimanapun juga, Souda Hiromi hanya ingin menjadi kekasih Amada.


Ponselku bergetar.


Saat kulihat, ternyata ada pesan dari Iba.


[Bagaimana kalau kita ceritakan semuanya tentang Amada Teruhito?]


Aku langsung menggeleng.


Menceritakan sifat asli Amada memang mungkin bisa menghilangkan rasa cinta Souda Hiromi.


Mungkin itulah tujuan Iba. Namun hasilnya hanya akan seperti menyiram minyak ke dalam api.


Hal itu sudah pernah terbukti.


Dulu, saat Hitsujitani Miwa mengetahui bahwa dirinya adalah teman masa kecil Amada, aku menceritakan semua yang pernah dilakukan Amada, termasuk sifat aslinya.


Namun rasa cintanya sama sekali tidak hilang. Sebaliknya, dia malah berkata,


"Kalau begitu, setidaknya aku saja yang harus tetap berada di pihaknya."


Perasaan cinta dan rasa ingin melindungi Amada justru semakin kuat.


Barulah setelah dia sendiri mengalami langsung kebusukan Amada, perasaannya benar-benar hilang. Namun sebelum itu, jauh di dalam hatinya pasti ada keyakinan bahwa,


—"Akulah orang yang berbeda."


Seberapa keras pun kami mencoba meyakinkannya dengan kata-kata, cintanya sama sekali tidak pernah goyah.


"Ya, begitulah ceritanya. Jadi kumohon, Ishii-kun! Tolong berpura-puralah menjadi pacarku, setidaknya untuk sementara!"


"Begini.... Apa kau benar-benar yakin dengan keputusan itu, Souda?"


"Maksudmu?"


"Kau punya janji dengan orang bernama Amada itu, kan? Kalau begitu menurutku tidak baik meminta pria lain berpura-pura menjadi pacarmu. Maksudku... bukankah lebih baik kalian bertemu lagi dan benar-benar menjadi sepasang kekasih...."


Dengan begitu, bukankah kau akan mengalahkan Souda Yumi?


Dibandingkan berbohong dengan membawa pacar palsu, bukankah jauh lebih baik punya pacar sungguhan?


Lagi pula, di akhir liburan musim panas nanti dia pasti pindah dan bisa bertemu Amada. 


Rasanya tidak perlu terburu-buru melakukannya hanya dalam waktu singkat selama perjalanan ini.


"Tentu saja, pada akhirnya aku juga berharap bisa seperti itu. Tapi...."


Tatapan mata gadis yang tadi penuh cinta tiba-tiba meredup menjadi penuh keraguan. Sambil sedikit menunduk, Souda Hiromi bergumam pelan.


"Soalnya... Teru Teru mungkin saja malah jatuh cinta kepada Yumi...."


"Bukankah kalian punya 'janji'?"


"Memang. Tapi janji tidak selalu mutlak. Lagi pula, sekalipun nanti aku dan Teru Teru benar-benar menjadi sepasang kekasih sesuai janji itu, bagaimana kalau setelahnya Teru Teru malah jatuh cinta kepada Yumi...?"


Jadi begitu. Janji yang mereka buat hanyalah janji bahwa mereka bisa menjadi sepasang kekasih. Bukan janji yang efeknya berlaku selamanya.


Sial. Kemungkinannya terlalu banyak, jadi aku sama sekali tidak bisa menebak isi janji itu.


"Selama ini semua anak laki-laki di sekitarku selalu menyukai Yumi. Semua orang memilih Yumi. Tidak pernah ada satu pun yang memilihku...."


"Tapi bukankah Amada-san memilihmu, Hiromi-san?"


Souda Hiromi hanya tersenyum pahit dengan wajah murung.


"Soalnya... Teru Teru belum pernah bertemu Yumi."


Andaikan saja aku bisa mengatakan yang sebenarnya.


Walaupun Amada bertemu Souda Yumi, dia tidak mungkin jatuh cinta kepadanya. Karena orang itu sudah lama memiliki perempuan yang benar-benar dia pilih.


Namun kebenaran itu adalah pedang bermata dua.


Begitu aku mengatakannya, patah hati Souda Hiromi juga akan dipastikan terjadi.


"Tolong, Ishii-kun! Aku benar-benar ingin mengalahkan Yumi! Aku tidak mau selamanya hanya menjadi cadangan Yumi!!"


Cadangan Yumi.


Sampai-sampai kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya.

Itu menunjukkan betapa terpojoknya Souda Hiromi.


Aku memang sudah tahu. Rasa rendah diri yang dia rasakan jauh lebih besar daripada yang selama ini dia ungkapkan.


Namun ternyata aku masih terlalu meremehkannya. Bahkan keluarganya sendiri tidak benar-benar melihat dirinya....


"Aku ingin punya sedikit saja rasa percaya diri. Sebelum bertemu lagi dengan Teru Teru, aku ingin memiliki sesuatu yang membuatku yakin bahwa Teru Teru tidak akan memilih Yumi...."


Dia ingin membangun rasa percaya diri sebelum bertemu kembali dengan Amada. Karena itulah dia meminta aku berpura-pura menjadi pacarnya.


Aku bisa memahami alasannya, tetapi....


"Jangan-jangan... ada seseorang yang memanfaatkan perasaannya itu...."


"Bukan tidak mungkin memang."


"Kupikir juga begitu..."


Iba mengangguk setuju mendengar gumamanku.


Kemungkinan besar, bahkan di kehidupan pertamanya pun Souda Hiromi telah lama disiksa oleh rasa rendah diri yang mendalam.


Apa pun yang terjadi, dia ingin mengalahkan Souda Yumi. Tapi bagaimana jika dia tetap tidak bisa menang?


Bukankah Amada yang memanfaatkan perasaan itu, lalu membuatnya membunuh Souda Yumi dengan tangannya sendiri?


Sekilas memang terlihat Amada tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari tindakan itu, tetapi sebenarnya ada satu keuntungan yang jelas.


Bagi orang itu juga, Souda Yumi adalah penghalang.


Dilihat dari sikapnya kemarin, Souda Yumi benar-benar membenci laki-laki. Selain itu, dia juga sangat menyayangi Souda Hiromi.


Kalau perempuan seperti itu terus berada di sisinya, mustahil menjadikan Souda Hiromi sebagai heroine.


Demi tujuannya sendiri, dia membunuh Souda Yumi secara tidak langsung. Membuat Souda Hiromi yang melakukannya.


Kalau itu Amada Teruhito... dia benar-benar mungkin melakukan hal seperti itu....


"Tolong! Benar-benar cuma sebentar saja! Tentu saja aku juga tidak berniat mengganggu kalau kalian berdua ingin membuat kenangan bersama, Hime Hime! Aku juga tahu kapan harus menjaga suasana! Kumohon!"


Makanya, aku sama Iba itu bukan pacaran. Dalam hati aku mengeluh seperti itu.


Bagaimana sekarang?


Menolak di sini memang mudah, tapi kalau begitu Souda Yumi akan berada dalam bahaya.


Karena aku sendiri pernah didorong sampai batas mental di kehidupan sebelumnya, aku mengerti.


Souda Hiromi sudah hampir mencapai batasnya.


Bahkan kalau dia tidak pernah bertemu Amada lagi sekalipun, kalau dia terus didesak seperti ini... kemungkinan dia melakukan tindakan nekat tetap sangat besar. Resikonya terlalu besar kalau aku menolak.


Namun, menerima permintaan itu juga memiliki risiko lain.


Entah itu hanya kebohongan ataupun kami menjelaskan semua keadaan yang sebenarnya, Hidaka pasti akan bersedih.


Baik di kehidupan pertama maupun kehidupan kedua, Hidaka selalu berpihak padaku.


Aku tidak boleh membuat Hidaka bersedih. Apa pun yang terjadi.


Harus bagaimana?


Apa yang seharusnya kulakukan?


"Hiromi-san. Maaf, tetapi aku juga tidak bisa menerima usulan agar Ishii-san berpura-pura menjadi kekasihmu."


Saat aku masih belum mampu mengambil keputusan, Iba berbicara dengan tegas.


"Eeeh! Hime Hime posesif banget sih!"


Hiromi langsung mengerutkan wajah sambil mengeluh.


Di kehidupan pertama aku belum pernah melihat Souda Hiromi begitu mementingkan perasaannya sendiri, jadi rasanya sedikit segar... tapi situasi ini benar-benar gawat.


"Bukan begitu. Aku berniat mengusulkan rencana lain."


"Hah? Rencana lain?"


"Kalau tetap memakai rencana yang penuh celah itu, pasti akan gagal. Karena itu, lebih baik kita membuat rencana baru agar Hiromi-san bisa mengalahkan Yumi-san."


"Penuh celah? Maksudnya?"


"Hehe...."


Pada saat itu, hawa dingin menjalar di sepanjang punggungku.


Penyebabnya tentu saja senyum Iba.


Aku sangat mengenal senyum itu. Mana mungkin aku bisa melupakannya.


Karena itulah senyum yang sama persis seperti saat dia memintaku, "Tolong bantu aku menjodohkanku dengan Amada," di kehidupan pertama.


"Alasan pertama kenapa aku tidak bisa membiarkan Ishii-san berpura-pura menjadi pacarmu bukan karena aku sedang berpacaran dengannya. Bukankah tadi sudah kubantah?"


"Hah? Tapi kalau dilihat bagaimana pun...."


"Bukan begitu. Aku hanyalah seseorang yang membuka kedua kakiku sesuai keinginan Ishii-san."


"Aku tidak pernah menginginkan itu!"


Dasar heroine yang jatuh....Jangan berubah menjadi makhluk aneh atas kemauanmu sendiri.


Senyum apa itu....


Saat itulah ponselku bergetar. Satu pesan masuk.


[Tolong ikuti pembicaraanku. Aku sudah menyiapkan rencananya.]


Sepertinya perempuan licik ini sedang merencanakan sesuatu. Kalau terus dipaksa berpura-pura menjadi pacar, aku juga bakal repot.


Baiklah, aku ikuti saja permainannya.


"Alasan Ishii-san tidak bisa berpura-pura menjadi pacar adalah karena dia sudah memiliki seseorang yang sedang dia kencani. Tentu saja bukan aku."


"Serius?"


"Ya. Benar begitu, kan, Ishii-san?"


Tolong hentikan senyum itu. Traumaku jadi sedikit terusik.


"I-Iya.... Memang begitu...."


Karena dia memintaku menyesuaikan pembicaraan, tentu saja aku akan mengikutinya.


Tapi apa maksudnya? Aku kan tidak punya pacar.


Lalu kenapa Iba....


Ponselku kembali bergetar. Satu pesan lagi.


[Tenang saja. Aku sudah menyampaikan semuanya kepada pihak satunya.]


Pihak satunya?


Apa yang sedang Iba—


"Namanya Hidaka Mikoto. Kemarin, saat Hiromi-san mengajak bicara Ishii-san, ada perempuan yang marah sekali, bukan? Dia itu kekasih Ishii-san."


Perempuan ini benar-benar melakukannya!


Hah!? Aku sama Hidaka pacaran!?


Hubungan kami belum sampai sejauh itu, kan! Lagi pula, sekalipun Hidaka tiba-tiba diberitahu seperti itu....


Tunggu. Iba tadi bilang, "Aku sudah menyampaikan semuanya kepada pihak satunya."


Jangan-jangan—Ponselku bergetar lagi.


Aku benar-benar tidak ingin membacanya.


[Aku benar-benar nggak mau Kazupyon pura-pura jadi pacar orang lain. Tapi ada satu pengecualian.]


Oh... Tuhan....


[Ini jalan terakhir agar aku bisa membawa Ishii-san pergi berdua denganku. Mohon dimaklumi.]


Yang sedang menderita itu aku, tahu.


Tadinya aku memang merasa aneh.


Seakrab apa pun kami, rasanya Hidaka tidak mungkin mengizinkan aku pergi berdua dengan Iba begitu saja.


Ternyata memang ada alasan yang jelas kenapa dia mengizinkannya.


Setelah ini, Souda Hiromi memang sudah berjanji akan bergabung dan bermain bersama kami. 


Karena itulah Iba meminta Hidaka, "Tolong berpura-puralah menjadi pacar Ishii."


Mustahil perempuan seagresif itu melewatkan kesempatan seperti ini. Karena itulah dia mengizinkan aku dan Iba bergerak berdua.


Semuanya demi keuntungan yang menunggunya nanti....


"Ah, aku ingat! Orang yang cantik banget itu, kan? Dia melotot ke arahku dengan wajah menyeramkan, jadi mustahil aku bisa lupa!"


"Benar. Mikoto-san sangat pencemburu dan benar-benar tidak suka ada perempuan yang mendekati Ishii-san. Jadi berpura-pura menjadi pacar jelas tidak bisa diterima. Begitu itu terjadi, keselamatan Hiromi-san akan terancam."


Masalahnya... bagian itu memang hampir semuanya benar.


"Tapi sekarang Hime Hime juga sedang berdua sama Ishii-kun, kan?"


Itu keberatan yang sangat masuk akal.


"Aku tahu diri sebagai wanita toilet, jadi aku masih dibiarkan."


"Oh... begitu ya...."


Jangan malah menerimanya begitu saja!

Tolong protes soal "wanita toilet"-nya!


"Jadi begitulah. Ishii-san tidak mungkin berpura-pura menjadi pacarmu. Lagi pula, sekalipun dia bersedia melakukannya, menurutku tujuan Hiromi-san tetap tidak akan tercapai."


"Hah? Kenapa?"


"Kalau Ishii-san benar-benar berpura-pura menjadi pacarmu, bagaimana rencanamu untuk mengalahkan Yumi-san?"


"Aku cuma mau memperlihatkan kami sedang bersama, lalu bilang, 'Orang ini pacarku,' sih...."


"Hanya karena tiba-tiba membawa seorang laki-laki lalu mengaku dia pacarmu, menurutmu Yumi-san akan langsung percaya?"


"Ugh!"


Iba benar.


Memang aku belum terlalu mengenal Souda Yumi.


Tapi kalau adik perempuanku tiba-tiba membawa seorang laki-laki saat sedang bepergian lalu memperkenalkannya sebagai pacarnya, aku jelas tidak akan langsung percaya.


Malah aku pasti akan curiga dan mengkhawatirkannya.


"Walaupun itu hanya pacar palsu, orang tersebut tetap harus benar-benar memahami Hiromi-san dan mampu bertingkah seperti sepasang kekasih sungguhan. Kalau tidak, tujuan Hiromi-san tidak akan tercapai."


"Benar juga.... Berarti sejak awal rencana ini memang—"


"Hehe. Tenang saja, Hiromi-san."


"Hah?"


"Aku sudah mempersiapkannya untuk berjaga-jaga kalau situasi seperti ini terjadi. Seseorang yang akan mengabulkan semua keinginan Hiromi-san."


◇ ◇ ◇


Setelah selesai berbicara dengan Souda Hiromi, kami kembali ke vila milik Tsukiyama.


Namun yang kembali bukan hanya aku dan Iba.


Kami datang berempat.


"Aku Ushimaki Fuuka! Salam kenal!"


"Aku Ishii Yuzuki. Umm... salam kenal."


"Aku Tsukiyama Ouji. Senang bertemu denganmu! Walaupun mungkin buat Hiromi tidak perlu perkenalan lagi ya?"


"Ih, Ouji-kun. Jahat banget sih~"


Sambil tersenyum jahil, Tsukiyama menggoda Hiromi.


Meskipun baru pertama kali bertemu, cara mereka bercakap-cakap sudah seperti pasangan.


"Aku Hidaka Mikoto, pacarnya Kazupyon. Kami berdua benar-benar mesra. Iya, kan, Kazupyon?"


"Iya.... Kami memang mesra...."


"...Bagus."


Baru saja kembali, Hidaka Mikoto langsung melingkarkan lengannya ke lenganku seperti seekor ular.


Yuzu—dan Ushimaki—menatapku dengan tatapan tajam yang jelas menunjukkan mereka sama sekali belum menerimanya.


Suasananya benar-benar membuatku tidak nyaman.


"A... aku Souda Yumi. Hari ini mohon bantuannya."


"Kalau begitu aku juga! Aku Souda Hiromi. Salam kenal ya!"


Walaupun usianya seumuran, mungkin karena masih gugup bertemu orang yang belum dikenalnya, Souda Yumi menundukkan kepala dengan sopan.


"Vilanya luar biasa sekali. Aku cuma pernah melihat tempat seperti ini di televisi."


Sepertinya dia masih sedikit tegang karena baru pertama kali datang ke vila semewah ini, tetapi Souda Yumi memandangi seluruh ruangan dengan penuh rasa ingin tahu.


"Benar, kan? Aku sudah bilang sebelumnya kalau vila Ouji-kun itu luar biasa!"


Meski berkata begitu, dalam hati Hiromi sendiri pasti sangat terkejut. Tatapan matanya terus berkeliaran ke sana kemari.


"Haha! Hiromi memang suka melebih-lebihkan. Lagi pula yang hebat itu ayahku, bukan aku."


Saat Souda Hiromi mengajakku berkenalan secara terang-terangan (?), Tsukiyama sedang tidak berada di sana, jadi ini adalah pertemuan pertama mereka. Meski begitu, alasan kenapa mereka sudah bisa bercakap begitu akrab... yah, begitulah.


Rencana awal Souda Hiromi adalah memintaku berpura-pura menjadi pacarnya, lalu memperkenalkanku kepada Souda Yumi agar dia bisa sedikit lebih unggul dibanding adiknya.


Namun, rencana itu penuh lubang layaknya keju.


Karena itulah Iba mengubah rencana Souda Hiromi menjadi sesuatu yang jauh lebih meyakinkan.


Pertama, yang akan berpura-pura menjadi pacar Souda Hiromi bukan aku, melainkan Tsukiyama.


Kemarin, saat aku hendak memperkenalkan Tsukiyama kepada Souda Hiromi, dia berkata, "Dia terlalu sempurna, jadi tidak mungkin." Itu muncul karena rasa percaya dirinya yang sangat rendah.


—"Perempuan sepertiku... kalau tiba-tiba menjadi pacar orang sehebat itu, Yumi pasti tidak akan percaya."


Karena berpikir seperti itulah dia memilihku, yang menurut standarnya "pas". Agak menyebalkan memang, tapi itu cuma berdasarkan standarnya sendiri, jadi tidak penting. 


Benar-benar tidak penting. Sungguh, benar-benar tidak penting. Namun, berkat bujukan Iba, akhirnya dia menyerah.


"Memang benar, sekilas Ouji-kun terlihat memiliki semua syarat yang sempurna, tetapi sayangnya dia juga punya banyak sisi yang mengecewakan, jadi tidak masalah."


Karena memang tidak ada pilihan lain, Souda Hiromi pun menerima usulan itu dengan berat hati.


Ternyata Iba juga sudah lebih dulu membicarakan hal ini dengan Tsukiyama. Awalnya dia ragu dan berkata, "Apa aku bisa melakukannya?" Namun setelah mendengar saran Iba,


"Anggap saja kau sedang berinteraksi dengan Ishii-san."


dia langsung menjawab,


"Kalau begitu gampang."


dan menyetujuinya tanpa ragu. Aku memilih untuk tidak memikirkan lebih jauh kenapa berpura-pura menjadi pacar berarti cukup bersikap seperti saat bersamaku.


Setelah berhasil mendapatkan pemeran pacar, misi berikutnya adalah memperlihatkan kepada Souda Yumi bahwa Souda Hiromi benar-benar memiliki pacar. Karena itu, kami meminta Souda Hiromi mengajak adiknya datang.


Sejak kemarin sudah jelas bahwa Souda Yumi sangat menyayangi adiknya. Karena itu kami memperkirakan kalau Souda Hiromi berkata,


"Pacarku juga sedang ada di Okinawa, jadi hari ini aku akan bermain bersama dia dan teman-temannya."


Yumi pasti akan mengikutinya karena khawatir.


Dan memang benar begitu. Dengan begitu, kami berhasil mengamankan orang terpenting, yaitu Souda Yumi.


Iba sendiri sangat percaya diri saat menjelaskan rencana ini, dan sekarang aku mengerti alasannya. Memang benar-benar rencana yang luar biasa.


Saat ini kami memiliki dua masalah.


"Kematian Souda Yumi" dan "perasaan cinta Souda Hiromi."


Yang paling penting tentu saja kematian Souda Yumi.


Kalau Tsukiyama berhasil berpura-pura menjadi pacarnya dan perlahan mengurangi rasa rendah diri Souda Hiromi, maka salah satu kemungkinan, yaitu "pembunuhan karena iri hati", bisa kami hilangkan.


Kalaupun ternyata masih ada penyebab lain, sekarang Souda Yumi berada bersama kami. Selama dia tetap berada di dekat kami, kami bisa melindunginya sekaligus mencari tahu penyebab kematiannya di masa depan.


Masalah kedua, yaitu perasaan cinta Souda Hiromi, mungkin juga bisa diselesaikan oleh Tsukiyama yang sekarang.


Kemungkinannya memang sangat kecil. Tetapi selama bukan nol, itu sudah lebih dari cukup.


Begitulah akhirnya kami sampai pada situasi sekarang....


Sejujurnya, kemampuan Iba terlalu hebat sampai membuatku sedikit merinding. Dalam menjalankan rencana ini, dia sekaligus menyelesaikan dua masalah:


Membuat Souda Hiromi menyerah memintaku berpura-pura menjadi pacarnya. Dan Hidaka yang tidak suka ada perempuan asing ikut bergabung.


Semua itu hanya dengan satu cara, yaitu membuat Hidaka Mikoto berpura-pura menjadi pacarku.


Kemampuannya menjebakku dulu benar-benar dimanfaatkan sepenuhnya.


Melihat Souda Yumi yang masih tampak gugup, Tsukiyama tersenyum ramah.


"Ngomong-ngomong, kita seumuran, kan? Jadi nggak usah pakai bahasa formal. Kecuali kalau memang lebih nyaman seperti Iba."


"Benarkah?"


"Iya. Santai saja."


"...Baiklah. Kalau begitu aku bicara biasa saja ya. Makasih, Tsukiyama-kun."


"Sama-sama."


Melihat senyumnya yang lembut dan tenang, aku jadi paham kenapa dia populer di kalangan laki-laki—"Kazupyon?"—tidak, tetap saja Hidaka yang paling hebat. Hidaka memang yang terbaik.


"Ngomong-ngomong, Tsukiyama-kun, ada satu hal yang ingin kutanyakan...."


"Tanya saja sebanyak yang kau mau."


"Makasih. Kalau begitu...."


Mata Souda Yumi tiba-tiba memancarkan cahaya yang mencurigakan.


"Bagian mana dari Hiromi yang membuatmu jatuh cinta?"


Serem banget....


Sebelumnya Souda Hiromi memang sudah memperingatkan,

"Aku malu mengatakannya sendiri, tapi Yumi benar-benar terlalu menyayangiku.... Jadi dia pasti akan banyak bertanya."


Dan ternyata dia langsung mempraktikkannya.


"Yumi, hentikan dong! Ouji-kun juga jadi bingung!"


Ya, wajar saja panik. Begitu ketahuan ada kebohongan, semuanya langsung terbongkar.


Sementara aku sendiri tetap tenang.


Hal begini tidak akan membuatku panik.


Tolong ya, Tsukiyama. Serius, selamatkan keadaan.


"Diam dulu, Hiromi. Bisa saja orang ini sebenarnya cuma bajingan sombong yang besar kepala karena merasa tampan dan berasal dari keluarga kaya."


Jangan asal bicara.


Tsukiyama, sahabatku yang berharga, bukan orang seperti itu.


Dia memang orang yang mengecewakan karena terlalu percaya diri dengan ketampanan dan latar belakang keluarganya.


Jangan sampai salah lagi. Itu penghinaan terhadap para bajingan. Minta maaf sana kepada para bajingan.


"Haha! Hampir semuanya benar tuh!"


"Hah?"


"Aku memang tampan, pintar, jago olahraga, dan anak seorang presiden direktur. Dulu aku memang berpikir wajar kalau semua orang menyukaiku. Tapi ternyata aku salah. Ada seseorang yang mengajarkanku itu. Hi... Hiromi."


"Bagaimana maksudnya?"


Nyaris saja.


Untungnya bagian "Hi..." itu tidak dipermasalahkan.


"Sejak bertemu Hiromi, aku berubah. Dia selalu mengatakan apa yang dipikirkannya dengan terus terang, jadi aku sadar kalau selama ini aku salah. Melihat Hiromi yang selalu berusaha sekuat tenaga membuatku berubah. Karena itu aku benar-benar berterima kasih padanya...."


Rasanya sempat terdengar suara aneh seperti narasi tambahan dari suatu tempat. Tapi pasti cuma perasaanku.


"....Tsukiyama-kun."


Hei, Souda Hiromi yang sedang terharu. Jangan lupa pengaturan kalau kalian harus saling memanggil nama.


Dan sadarlah. Kalian baru saling mengenal sekitar satu menit.


"Cuma berterima kasih? Yang kutanyakan bukan itu."


Namun Souda Yumi tampaknya masih belum puas. Dia terus menatap Tsukiyama dengan curiga.


"Aku tahu kok. Maksudmu bagian mana yang paling kusukai, kan? Yang paling kusukai dari Hiromi adalah dia menunjukkan kebaikannya lewat tindakan, bukan sekadar kata-kata. Kata-kata baik itu bisa diucapkan siapa saja. Tapi orang yang benar-benar bisa melakukan tindakan baik jumlahnya sedikit. Dan Hiromi adalah orang seperti itu."


"Begitu ya...."


Berhentilah, Tsukiyama.


Souda Yumi sampai tanpa sadar menghela napas kagum.


Jangan lanjutkan lagi. 


Entah kenapa aku jadi malu. Malu banget.


"Gimana? Ouji-kun keren, kan?"


Dipuji habis-habisan oleh pria yang baru dikenalnya satu menit membuat Souda Hiromi mulai sedikit besar kepala.


Yah, selama rasa rendah dirinya berkurang, itu justru kabar baik.


"Yah, untuk sementara lulus deh. Nilainya pas-pasan sih."


Sepertinya Souda Yumi akhirnya menerima penjelasan itu.


Terima kasih banyak, Tsukiyama. Seperti biasa, pria yang kesan pertamanya selalu sempurna.


"Nah, sekarang aku mau menyiapkan kopi atau teh. Kalian maunya yang mana?"


"Aku teh!"


"Aku bantu ya. Rasanya nggak enak kalau cuma terus merepotkan kalian."


"Hm? Oh, kalau begitu—"


"Aku saja yang bantu. Yumi tidak usah. Ayo, Ouji-kun."


Saat Souda Yumi hendak ikut Tsukiyama ke dapur, Souda Hiromi langsung menghentikannya.


Aku sempat berpikir samar-samar kalau perhatian-perhatian kecil seperti itulah yang mungkin membuat Souda Yumi lebih disukai orang-orang dibanding kakaknya.


Melihat keduanya pergi, Souda Yumi tiba-tiba bergumam.


"Hei...."


Hanya 3 huruf. Tapi entah kenapa membuat bulu kudukku merinding.


"Kalian semua orang-orang yang kemarin berbicara dengan Hiromi, kan?"


"Iya."


Aku sendiri tidak tahu alasannya. Tetapi setiap berbicara dengan Souda Yumi, aku selalu merasakan ketegangan dan rasa takut yang aneh.


Padahal ini seharusnya baru pertama kalinya kami berbicara dengan benar.


"Maaf kalau pertanyaanku lancang, tapi kenapa kemarin suasananya terlihat begitu tegang? Kalau memang Tsukiyama-kun dan Hiromi benar-benar berpacaran...."


"Sampai kemarin pun kami juga tidak tahu kalau Ouji-kun punya kekasih. Katanya Ouji-kun dan Hiromi-san memang sudah saling menghubungi sebelumnya dan sempat berkata, 'Semoga nanti kita bisa bertemu di Okinawa,' tetapi itu hanya percakapan pribadi mereka. Kami sama sekali tidak diberi tahu."


Mulut Iba benar-benar lancar sekali.


"Lalu, ketika Hiromi-san kebetulan melihat Ouji-kun sedang bersama Ishii-san dan ingin bertemu dengannya, dia pun menghampiri Ishii-san. Namun di situlah terjadi sedikit kesalahpahaman."


"Kesalahpahaman?"


"Aku tidak akan memaafkan perempuan yang mendekati Kazupyon. Karena aku pacarnya. Aku pacarnya."


Hidaka-san....Dekat banget.


Dari tadi benar-benar dekat sekali.


"Miko-chan, jangan terlalu menempel dong."


"Iya! Tahu tempat dan waktu juga!"


Yuzu dan Ushimaki langsung memprotes.


Kalau cuma Ushimaki mungkin akan diabaikan, tapi karena Yuzu juga ikut berkata begitu, Hidaka akhirnya melepaskan diri dengan wajah penuh penyesalan.


...Sekitar lima sentimeter.


"Oh begitu. Jadi Hiromi menghampiri Ishii-kun karena ingin bertemu Tsukiyama-kun, tapi Hidaka-san malah mengira dia sedang mengajak Ishii-kun berkenalan?"


"Ya. Syukurlah kamu cepat mengerti."


Hebat juga Iba. Bohongnya mengalir begitu saja tanpa ragu.


"Kalau begitu syukurlah.... Soalnya kalau ternyata kalian berdua berniat mempermainkan Hiromi, aku harus menguliti puting susu kalian."


Serem banget ucapannya.


Rasa rendah diri Souda Hiromi ternyata jauh lebih parah dari dugaanku. Begitu juga rasa sayang berlebihan Souda Yumi kepada kakaknya.


Sedikit tertekan oleh ucapan yang mengerikan itu, Iba membetulkan posisi kacamatanya sebelum bertanya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan orang tua kalian? Tidak apa-apa meninggalkan mereka berdua saat liburan seperti ini?"


"Hehe. Tidak apa-apa kok. Malah lebih cocok begini. Selama kami ada, mereka berdua jarang punya kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua."


Kupikir dia terlalu mudah menerima ajakan kami.

Ternyata itu juga demi kedua orang tuanya.


Mengikuti keinginan Souda Hiromi sampai datang ke tempat orang-orang asing, bahkan masih sempat memikirkan orang tuanya.


Kalau mengabaikan ucapannya yang mengerikan tadi, dia sebenarnya perempuan yang luar biasa.


...Sayangnya bagian itu tidak bisa diabaikan.


"Baiklah. Kalau begitu kami juga akan bertanggung jawab memastikan Yumi-san menikmati waktunya bersama kami."


"Aku akan senang kalau begitu."


Iba dan Souda Yumi.


Keduanya sama-sama berbicara dengan lembut....


Tapi kenapa ya?


Entah mengapa aku merasa ada kegelapan pekat yang memancar dari mereka berdua....


"Ishii-san, ada apa?"


"Ishii-kun, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


Senyum gelap mereka itu.... Serius deh, dua orang ini benar-benar menakutkan.


Tepat saat itu, Tsukiyama kembali sambil membawa nampan berisi cangkir untuk semua orang.


"Enak, lho. Kalian pasti bakal kaget. Oh ya, gula dan susunya ada di sini."


"Iya, makasih."


Souda Yumi menerima teh itu dari Tsukiyama dengan senyum lembut.


Memikirkan bahwa gadis ini mungkin akan kehilangan nyawanya dalam waktu dekat membuat perasaanku campur aduk....


Eh? Ada apa, Hidaka?


Dari tadi dia terus menarik-narik bajuku.


Saat aku menoleh, entah kenapa Hidaka memasukkan sesendok gula ke dalam mulutnya.


"Kazupyon, tinggal masukkan tehnya ke dalam mulutku, nanti gulanya akan tercampur sempurna. Sebagai sepasang kekasih, seperti biasa kita lakukan mouth-to-mouth untuk menuangkan tehnya...."


"Tahu tempat dan waktu, ya."


Perempuan ini benar-benar memanfaatkan peran "pacar pura-pura" sepuas-puasnya.


"Kazu! Aku juga mau duduk di sofa!"


Yuzu menggembungkan pipinya dengan wajah yang terlalu imut hingga aku berniat berdiri, tetapi—


"Kazu nggak boleh berdiri!"


"Tapi kalau begitu, nanti nggak ada tempat buat Yuzu."


Sofa yang kududuki adalah sofa tiga orang.


Saat ini, aku duduk di tengah, dengan Hidaka di satu sisi dan Iba di sisi lainnya. Kupikir memang sudah tidak ada tempat lagi untuk Yuzu....


"Kalau begitu... di sini saja."


Masih dengan wajah cemberut, Yuzu langsung duduk di atas pangkuanku.


Tubuh mungil Yuzu pas sekali berada di pangkuanku, dan tanpa kusadari air mataku menetes.


"Terima kasih banyak!"


"Nggak perlu berterima kasih, kan? Miko-chan, jangan macam-macam ya!"


"...Sayang sekali."


Maaf ya, Hidaka. Dalam segala hal di dunia ini, perkataan Yuzu selalu menjadi prioritas utama.


Saat kuelus kepalanya, biasanya dia akan menepis tanganku. Tapi hari ini dia tidak melakukan apa pun.


"Yuzu, tehnya enak?"


"Yup."


Lucunya benar-benar keterlaluan. Dengan wajah sedikit malu, tubuhnya mengecil sambil memegang cangkir teh dengan kedua tangan. Benar-benar seperti malaikat.


Kenapa dia bisa selucu ini?


Karena dia memang Yuzu.


"............"


"Ada apa, Souda Yumi?"


"Mungkin ini pertama kalinya ada orang yang memanggilku dengan nama lengkap."


"Soalnya ada dua orang bermarga Souda."


"Kalau begitu panggil saja pakai nama depan."


"Kutolak."


Selama aku belum memanggil Hidaka dengan nama depannya, aku juga tidak akan memanggil gadis lain dengan nama depan.


Itu adalah aturan mutlak yang kubuat sendiri.


"Hehe. Begitu ya...."


Entah kenapa, setiap kali melihat senyum Souda Yumi, rasa takut yang aneh selalu muncul dalam diriku.


Bukan cuma karena ucapannya yang mengerikan tadi.


Entahlah....Gadis ini memang menakutkan.


"Ishii-kun dan Yuzu-chan akrab sekali ya...."


Nada suaranya terdengar sedikit iri. Mungkin karena hubungannya sendiri dengan Souda Hiromi tidak terlalu baik.


Souda Yumi memang sangat menyayangi Hiromi, tetapi perasaan itu hanya bertepuk sebelah tangan.


Sebaliknya, Souda Hiromi menyimpan rasa rendah diri yang besar terhadap kakaknya hingga sikapnya sering kali menjadi kasar.


"Yah, menurutku hubungan kalian juga sebenarnya nggak buruk."


"Benarkah? ...Kalau memang begitu, aku senang."


Kalau memang di kehidupan pertama Souda Yumi benar-benar dibunuh oleh Souda Hiromi....


Apa yang sebenarnya dia rasakan saat itu?


Dikhianati oleh adik perempuan yang paling dicintainya, lalu kehilangan nyawa.


Itu pasti sangat menyakitkan....


◇ ◇ ◇


Setelah melihat kakak beradik Souda minum kopi setelah menghabiskan teh, aku jadi tersenyum sendiri sambil berpikir, "Mereka benar-benar mengingatkanku pada kami kemarin."


Setelah itu kami mulai membahas mau pergi ke mana.


Ke pantai atau jalan-jalan?


Yang dipilih akhirnya adalah jalan-jalan.


Awalnya Tsukiyama mengusulkan pergi ke akuarium, tetapi karena besok kakak beradik Souda sudah berencana pergi ke akuarium bersama keluarganya, usulan itu dibatalkan.


Tsukiyama memang sangat pandai berpura-pura menjadi pacar.


Tapi mengetahui bahwa dasar dari semua itu adalah sistem "Anggap saja lawan bicaramu itu Ishii Kazuki" membuat perasaanku jadi sangat rumit.


Dari vila Tsukiyama kami naik taksi. Karena jumlah kami delapan orang, kami dibagi menjadi dua kelompok.


Taksi pertama berisi Tsukiyama, Iba, dan kakak beradik Souda.


Taksi kedua berisi Ushimaki, Yuzu, aku, dan Hidaka.


Aku sebenarnya ingin tetap berada di dekat Souda Yumi agar bisa mencari tahu penyebab kematiannya.


Tapi kali ini memang tidak ada pilihan.


Kumohon, Iba. Walaupun sedikit saja, semoga kau bisa mendapatkan petunjuk.


Sambil memendam harapan itu, kami pun naik ke taksi yang datang.


Awalnya aku hendak duduk di kursi depan, tetapi Ushimaki berkata,


"Pasangan harus duduk berdampingan. Nanti kalau mencurigakan bakal repot."


Alasan itu terlalu masuk akal untuk dibantah. Akhirnya Ushimaki duduk di kursi depan. Sedangkan di kedua sisiku duduk Yuzu dan Hidaka.


Karena akhirnya bisa menjauh dari kakak beradik Souda, aku menjelaskan semua keadaan.


Bahwa awalnya Souda Hiromi memintaku berpura-pura menjadi pacarnya.


Bahwa agar dia menyerah, kami membuat cerita kalau aku sudah punya pacar.


Bahwa Souda Hiromi memiliki rasa ingin menang atas Souda Yumi, walau hanya sedikit.


Aku memang tidak menceritakan soal kematian Souda Yumi maupun hubungan Amada Teruhito dengan Souda Hiromi.


Selain dua hal itu, semuanya kuceritakan.


Setelah mendengar seluruh penjelasanku, Ushimaki yang duduk di depan bergumam pelan,


"Kalau begitu, aku juga bisa, kan."


Namun tidak ada seorang pun yang menanggapinya.


Hanya saja...


Hidaka semakin menempel padaku.


◇ ◇ ◇


Tempat yang kami datangi adalah sebuah jalan pertokoan yang menjadi salah satu objek wisata terkenal di Okinawa, dengan deretan pertokoan bergaya retro dan pohon-pohon palem yang menjadi ciri khasnya.


Kemarin kami juga datang ke sini untuk makan.


Tetapi suasananya benar-benar berbeda saat dilihat pada siang hari.


Karena taksi kami tiba lebih dulu, kami menunggu di tempat.


Dua menit kemudian, taksi yang ditumpangi Tsukiyama dan yang lainnya pun tiba.


"Hei, Tsukiyama-kun. Soal ongkos taksinya...."


"Sudah kubayar kok. Tenang saja."


"Bukan itu maksudku. Bagian kami tetap harus kami bayar...."


Sepertinya Souda Yumi memang orang yang sangat serius dalam urusan seperti ini.


Kalau kelompok kami, semua orang patungan untuk biaya transportasi, lalu ongkosnya dibayar dari situ.


"Hmm.... Tadinya kami memang sudah berencana menyewa dua taksi meskipun kalian tidak ikut...."


"Tetap saja, itu bukan alasan supaya kami tidak membayar, kan?"


Souda Yumi menatap Tsukiyama lurus-lurus, seolah mengatakan dia sama sekali tidak akan mengalah.


Dompetnya bahkan sudah siap dibuka kapan saja.


"Kalau begitu nanti traktir kami sesuatu di sini saja. Anggap impas. Gimana?"


"Kalau sengaja pilih yang murah, aku bakal marah, lho."


"Kalau pilih yang mahal?"


"Aku bakal lebih marah."


Hebat juga Tsukiyama.


Aku saja dari tadi takut setengah mati sama Souda Yumi. Sedangkan dia malah masih bisa bercanda dan tertawa bersamanya.


Apa dia memang tidak takut pada Souda Yumi?


...Yah, lupakan dulu soal itu.


"Hei, Hime Hime! Ada shisa! Yuk foto bareng!"


Hei, pacar palsu. Lupa sama peranmu sendiri dan malah kegirangan begitu.


"Hiromi-san, bukankah ada orang yang seharusnya kamu ajak lebih dulu daripada aku?"


Iba berkata demikian sambil tersenyum anggun.


"Ah! I-Iya juga! Ouji-kun, yuk foto bareng!"


"Oke! Ayo!"


"Kalau begitu aku yang fotoin. Hiromi, pinjam ponselmu."


"Iya. Makasih, Yumi."


Tsukiyama dan Souda Hiromi berdiri berdampingan di samping patung shisa sambil tersenyum ke arah kamera.


Memanfaatkan kesempatan itu, aku mendekati Iba.


"Ada yang kau temukan?"


"Maaf. Aku belum mendapatkan informasi yang benar-benar berguna.... Kalau harus menyebutkan sesuatu, setidaknya aku bisa memastikan bahwa Yumi-san tidak memiliki masalah kesehatan."


Artinya, dia tidak meninggal karena penyakit.


"Itu saja sudah cukup. Setidaknya satu kemungkinan sudah gugur."


"Hanya itu saja sudah cukup? Padahal aku sudah siap mempersembahkan payudaraku sebagai bahan latihan sebagai permintaan maaf karena gagal mendapatkan hasil...."


"Nggak perlu."


Kenapa perempuan ini sedikit-sedikit langsung menawarkan tubuhnya? Latihan apaan coba?


"Ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan selama di taksi?"


"Sebagian besar Yumi-san terus bertanya kepada Hiromi-san dan Ouji-kun. Mulai dari bagaimana mereka bertemu, sampai bagian mana dari Hiromi-san yang disukai Ouji-kun...."


"Itu aman?"


"Iya. Pertanyaan-pertanyaan itu memang sudah kami perkirakan sebelumnya, jadi kami sudah menyiapkan jawabannya. Kurasa Yumi-san tidak menaruh curiga."


Memperkirakan pertanyaan yang mungkin muncul lalu menyiapkan jawabannya terlebih dahulu.


Memang itu hal yang wajar.


Tetapi tetap saja, Iba benar-benar luar biasa.


"Hiromi, aku sudah ambil sekitar tiga foto. Mau tambah lagi?"


"Nggak. Sudah cukup!"


Setelah selesai memotret, Souda Yumi hendak mengembalikan ponsel kepada Hiromi.


Namun saat itu Tsukiyama berkata,


"Baiklah. Sekarang giliran Hiromi dan Yumi. Pinjam ponselnya."


"Eh?"


Kakak beradik Souda membelalakkan mata bersamaan.

Reaksi yang benar-benar khas saudara kembar.


"Ehm... kami sih nggak perlu...."


"Mumpung sudah datang ke Okinawa, bukannya lebih baik diabadikan? Atau kalian nggak mau?"


"Bukan nggak mau sih...."


Hubungan Souda Hiromi dan Souda Yumi memang tidak baik.


Tsukiyama pasti tahu itu....


Tidak. Justru karena tahu, dia sengaja mengusulkannya. Mungkin dengan caranya sendiri, dia ingin memperbaiki hubungan mereka.


"Kalau begitu... kita foto?"


"...Iya."


Souda Hiromi mengalihkan pandangannya dengan malu-malu sambil meminta persetujuan. Sebaliknya, Souda Yumi tersenyum bahagia lalu langsung memeluk lengan Hiromi.


"Jangan nempel terus dong."


"Ah, nggak apa-apa lah. Masa begini aja marah, hehe."


Mungkin sejak perjalanan ini dimulai, kakak beradik Souda belum pernah sekali pun berfoto bersama. Namun berkat usulan Tsukiyama, akhirnya mereka melakukannya.


Ekspresi Souda Hiromi yang malu-malu dan senyum Souda Yumi yang benar-benar bahagia meninggalkan kesan yang sangat kuat.


"Hiromi, cepat kirim fotonya. Aku juga mau."


"Iya, iya. Jangan buru-buru dong."


"Yes!"


Begitu menerima foto itu di ponselnya, Souda Yumi langsung tersenyum bahagia sambil melihatnya. Lalu dia bergumam pelan.


"Enak ya, Hiromi. Punya pacar sehebat Tsukiyama-kun...."


"...Iya, kan~? Yumi juga jangan cuma terus mengurusiku. Cari orang baik buat dirimu sendiri!"


"Hehe. Kalau memang ada orang seperti itu."


Souda Hiromi membusungkan dadanya dengan bangga di depan kakaknya.


Kalau tujuan Hiromi, yaitu "mengalahkan Yumi", benar-benar tercapai dan itu bisa menyelamatkan nyawa Souda Yumi....


Itu tentu menjadi hasil yang paling ideal.


"Kazupyon, ada apa?"


"Aku cuma berpikir... seumur hidupku rasanya belum pernah ada perkembangan yang berjalan seideal ini...."


Ini memang hanya firasat tanpa dasar. Tapi rasanya semuanya tidak akan semudah itu.


Kemungkinan besar...


Kami masih belum berhasil menghindari takdir kematian Souda Yumi.


Kalau terus begini, Souda Yumi akan....


"Kalau begitu kita semua harus membuat akhir yang ideal bersama-sama."


"Hah?"


"Kazupyon terlalu sering berusaha sendirian. Bersandarlah pada orang yang bisa diandalkan, lalu mari kita semua menciptakan akhir yang ideal bersama. Walaupun orang itu bukan aku... meski aku akan merasa kesepian, aku tetap bisa menerimanya."


"............"


Kurasa Hidaka sudah menyadarinya. Bahwa aku dan Iba sedang bergerak dengan tujuan lain.


"Kalau kita semua berusaha bersama, pasti akan berhasil. Jadi jangan memaksakan diri sendirian lagi, ya?"


"Iya... makasih."


Mendengar ucapannya bahwa tidak harus dirinya yang selalu ada di sisiku, aku justru merasa sedih.


Aku pun menggenggam tangan Hidaka erat-erat.


Lagi pula, sekarang kami memang sedang berpura-pura menjadi sepasang kekasih.


Melakukan hal seperti ini justru terasa wajar.


Kami menuju ke sebuah toko suvenir yang merupakan salah satu yang terbesar di kawasan pertokoan itu.


Karena tokonya cukup luas, masing-masing bebas berkeliling melihat-lihat suvenir.


"Hei, Yumi. Kalau makanan ringan kan bisa dibeli di tempat lain. Buat Papa dan Mama lebih baik beli yang lain, ya?"


"Kau memang mau beli oleh-oleh? Menurutku sih tidak perlu."


"...Mumpung sudah di sini, ayo beli. Mereka pasti senang."


"Kalau Hiromi yang bilang begitu..."


Souda Hiromi tampak bersemangat membeli oleh-oleh, sedangkan Souda Yumi tidak terlalu tertarik.


Melihat mereka berdua, aku pun berkata,


"Hei, Iba. Entah kenapa, hubungan kakak-adik mereka ternyata jauh lebih akur dari yang kukira."


"Benar. Hiromi-san tidak sebenci itu kepada Yumi-san... malah lebih terasa kalau sebenarnya dia sangat menyayanginya."


Namun, pada kehidupan pertamaku, Souda Yumi telah meninggal. Dan yang pindah ke SMA Hirasaka hanyalah Souda Hiromi.


Memang hanya dia yang datang, tapi...


"Ada apa?"


Perasaan janggal yang sejak tadi terus menggangguku.


Aku tidak punya bukti maupun alasan yang jelas, tapi tetap memutuskan untuk memberitahunya pada Iba. Lagi pula, Hidaka juga bilang padaku, "Andalkan semua orang."


"Apa kau tidak merasa ada yang aneh?"


"Aneh?"


Di kehidupan kedua ini, baru sehari sejak kami bertemu si kembar Souda.


Memang sulit mengatakan apa yang bisa diketahui hanya dalam sehari, tetapi aku dan Iba memiliki ingatan dari kehidupan pertama.


"Souda Hiromi. Penampilannya memang sama seperti di kehidupan pertama... ah, tidak. Gaya rambutnya berbeda."


Sekarang rambutnya diikat ke samping dengan gaya country, tetapi saat datang pada semester kedua di kehidupan pertama, rambutnya diikat dua dengan gaya country.


"Alasan soal itu mungkin memang seperti dugaan kita..."


"...Ya."


Sekarang baik Souda Hiromi maupun Souda Yumi sama-sama memakai side tail. Namun saat semester kedua nanti, Hiromi berubah menjadi twintail. Mungkin itu adalah tekadnya untuk hidup juga demi kakaknya yang telah meninggal.


"Itu saja yang membuatmu penasaran?"


"Tidak, masih ada satu lagi... malah yang ini justru inti masalahnya. Ada sesuatu dari Souda Hiromi di kehidupan pertama dan yang sekarang yang rasanya tidak cocok."


Hiromi yang kutemui di kehidupan pertama adalah perempuan yang telah membuang seluruh kebahagiaannya sendiri dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Amada seperti orang yang kehilangan akal.


Tapi Hiromi yang sekarang berbeda.


—"Karena itu... hanya Teru Teru yang tidak akan kuberikan. Aku tidak mau menyerahkan Teru Teru kepada siapa pun..."


Perasaan yang ia ungkapkan terhadap Amada di kafe.


Bisakah seseorang yang memiliki perasaan seperti itu benar-benar membuang semuanya hanya karena kakaknya meninggal?


"Mungkin cara mengatakanku agak aneh, tapi... Hiromi di kehidupan pertama memang mengabdi pada Amada, tapi kalau ditanya apakah dia benar-benar mencintai Amada... bukankah itu meragukan?"


"Benar... Meski itu masa depan yang tidak ingin kuingat lagi, saat itu kami juga tidak terlalu waspada terhadap Hiromi-san. Kurasa alasannya memang seperti dugaan Ishii-san."


Jadi para heroine lain yang berada di dekat Amada juga menganggap Hiromi tidak mencintai Amada dan tidak berniat menjadi kekasihnya.


Mungkin itulah sebabnya mereka membiarkannya bergerak bebas pada kehidupan pertama.


"Kalau begitu, Hiromi yang sekarang memang aneh, kan?"


"Benar... Dibandingkan kehidupan pertama, sekarang dia jelas sedang jatuh cinta. Menurutmu, perbedaan inilah yang berkaitan dengan kematian Yumi-san?"


"Bukan tidak mungkin."


Awalnya kupikir penyebab kematian Souda Yumi adalah ulah Amada yang memanfaatkan rasa rendah diri Hiromi.


Tapi mungkin... tidak, pasti bukan itu penyebabnya.


Memang Hiromi memiliki rasa rendah diri yang besar terhadap Yumi. Namun di saat yang sama, dia juga sangat menyayanginya.


Tak mungkin dia tega membunuh orang yang begitu berharga baginya hanya karena dihasut oleh laki-laki yang disukainya.


"Andai saja kita bisa menemukan jawabannya..."


"Kita pasti akan menyelidikinya sampai tuntas. Kalau kau merasa ada yang aneh, sekecil apa pun, katakan saja padaku. Meskipun ternyata salah."


"Oh? Rupanya kau lebih mengandalkanku daripada yang kubayangkan."


Iba berkata sambil tersenyum usil.


"Ya tentu saja."


"...Kalau terus menaikkan nilai kesukaanku seperti ini, yang repot justru aku."


Mungkin karena malu mendengar ucapanku, Iba menggaruk pipinya lalu memalingkan wajah.


Aku pun ikut merasa canggung dan menoleh ke arah Hiromi.

Dia sedang asyik memilih oleh-oleh bersama Yumi.


Hei... bukannya kau seharusnya terus berada di dekat Tsukiyama yang berperan sebagai pacar palsumu? Kenapa cepat sekali lupa dengan skenario itu?


"Ah! Ada makanan yang bisa dicicipi! Kalau begitu..."


"Tunggu, Hiromi. Sebelum itu, lap dulu tanganmu pakai ini. Tadi kau juga habis makan yang lain, kan?"


Saat Hiromi mengulurkan tangan ke makanan contoh, Yumi langsung menyodorkan tisu basah.


"Setelah selesai makan, lap lagi ya? Terus kalau mau coba yang lain juga jangan kebanyakan."


"Iya, iya, aku tahu!"


Wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti orang yang benar-benar paham. Lalu entah menemukan apa, wajahnya langsung berseri-seri.


"Eh, gantungan kunci pasir bintang! Yumi, mau beli bareng?"


"Hehe. Usulan yang menyenangkan, tapi... memang boleh denganku?"


"Ah! Eh... anu... Tsuki... Ouji-kun! Ouji-kuuun!"


Hiromi buru-buru mencari Tsukiyama dan memanggilnya.


Astaga… Kan kau sendiri yang meminta semua ini. Jalankan peran sebagai pacar palsunya dengan benar. Kalau sampai ketahuan, semua usaha kita bakal sia-sia.


"Pacar, ya... Melihat Hiromi dan Tsukiyama-kun, aku jadi ikut ingin punya pacar juga."


Untung saja Yumi jauh lebih tidak peka daripada yang kami perkirakan, sehingga semuanya masih bisa ditutupi.


"Hmph. Kalau begitu, pertama-tama kau harus belajar menilai laki-laki dulu."


"Iyakah? Aku yakin aku tidak kalah dari Hiromi."


"Padahal sekarang saja kau sudah kalah."


"Jangan bilang begitu."


Yumi memasang wajah cemberut karena sedikit kesal.


Ternyata perempuan juga ingin punya pacar, ya.

Aku selama ini mengira cuma laki-laki yang begitu.


"Yah, kalau mau punya pacar, cobalah lebih memperhatikan orang-orang di sekitarmu. Kau terlalu tidak peduli dengan sekeliling."


Dia berkata dengan wajah penuh kemenangan, padahal sedang membawa pacar palsu.


Perhatikan sekitar, ya...


Apa jangan-jangan Hiromi...


"Tapi laki-laki di sekitarku tidak ada yang bagus. Kau juga tahu itu, kan, Hiromi?"


"Ah... ya, mungkin benar."


"Haaah... Andai saja aku bisa bertemu seseorang yang istimewa... Mungkin aku harus meminjam kekuatan legenda itu."


Ngomong-ngomong, memang ada legenda seperti itu.


Legenda yang didengar Ushimaki dari pegawai restoran pada hari pertama kami tiba di Okinawa.


—"Kalau pada malam tanggal tujuh Agustus kau menemukan bunga yang mekar di pantai, kau akan bisa bersama orang yang paling kau cintai selamanya."


Legenda khas komedi romantis yang entah benar atau tidak.


Yumi juga tahu soal legenda itu...yunggu sebentar.


Jangan-jangan... tidak, bagaimana kalau...


Aku spontan menoleh ke arah Iba.


Dan ternyata Iba juga membelalakkan mata, seolah sampai pada kesimpulan yang sama denganku.


"Iba, kalau tidak salah cuaca besok..."


"Hujan. Bahkan sepanjang hari. Kalau malam harinya pergi ke laut dalam kondisi seperti itu..."


"...Mungkin besok malam aku akan ke sana."


Gumaman pelan Yumi semakin menguatkan firasat kami.


Jangan-jangan... inilah penyebab kematian Souda Yumi?


Kecelakaan laut yang terjadi karena pergi ke pantai pada malam tujuh Agustus saat cuaca sedang buruk.


Dan alasan dia mempertaruhkan nyawanya adalah demi menemukan 'bunga yang mekar di pantai'.


"Tapi..."


Tanpa sadar aku bergumam.


Karena iri adiknya punya pacar, lalu bergantung pada sebuah legenda. Bukan berarti alasannya sama sekali tidak masuk akal.


Tapi... apakah Souda Yumi benar-benar menginginkan pacar?


Dia begitu menyayangi Hiromi, bahkan menunjukkan kewaspadaan yang kuat terhadap Tsukiyama dan aku.


Lagi pula dia sendiri bilang, "Di sekitarku tidak ada laki-laki yang bagus."


Sulit rasanya percaya dia akan mengandalkan legenda 'bisa bersama orang yang paling dicintai selamanya'.


"Selama masih ada kemungkinan, kita harus membicarakannya."


Iba mengucapkannya dengan nada tegas, seolah mengusir keraguanku.


"Benar juga... Mau kita lakukan sekarang?"


"Tidak. Sekarang Hiromi-san masih bersama dengannya. Lebih baik jangan. Nanti kita cari kesempatan untuk berbicara dengan Yumi-san berdua. Saat itulah kita konfirmasi."


"Kau banyak membantu. Terima kasih."


"Hehe. Serahkan saja padaku."


◇ ◇ ◇


Setelah selesai melihat-lihat toko suvenir, kami pergi ke sebuah toko es krim yang terkenal di Okinawa.


Memang pantas terkenal. Rasanya benar-benar luar biasa enak.


"Enaknyaa! Selagi di sini, aku mau beli satu lagi..."


"Memang susah ya, Hiromi. Kalau begitu—"


"Kalau begitu, bagaimana kalau pergi membeli bersama Ouji-kun? Bukankah kalian masih sanggup jalan bersama?"


Iba bergerak. Dia segera memotong ucapan Yumi lalu mengalihkan pembicaraan kepada Tsukiyama.


"Hm? Ya, satu lagi sih masih kuat."


"Benarkah? Ayo!"


Hiromi pun pergi bersama Tsukiyama menuju antrian panjang dengan wajah penuh semangat.


Setelah itu Iba memberi isyarat kepada Hidaka.


Lalu Hidaka berkata, "Yuzu-chan, Mo, bagaimana kalau kita juga ikut?" dan mengajak Yuzuki serta Ushimaki menyusul ke antrean, sedikit terlambat dari Tsukiyama dan yang lain.


Meski tidak tahu rincian keadaan, Hidaka tetap bergerak demi membantu kami.


Aku benar-benar senang akan hal itu.


Yang tertinggal hanyalah aku, Iba, dan Souda Yumi.

Kesempatan sempurna yang sengaja kami ciptakan.


Lalu Yumi berkata,


"Jangan-jangan kalian ingin membicarakan sesuatu denganku?"


Mungkin memang terlalu kelihatan...namun tujuan tahap pertama kami sudah tercapai, jadi tidak masalah.


Justru, yang sulit adalah setelah ini.


"Ya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan..."


Masalahnya adalah bagaimana cara menyampaikannya kepada Souda Yumi.


Kalaupun kami berkata, "Jangan pergi ke laut pada malam tujuh Agustus," kemungkinan dia akan menurut sangat kecil.


Sebenarnya ada cara untuk meningkatkan peluang itu...


Namun kami harus mengatakan yang sebenarnya. Bahwa Tsukiyama Ouji dan Souda Hiromi sebenarnya bukan sepasang kekasih.


Kalau itu diberitahukan, dan seandainya Yumi memang memiliki rasa saing terhadap Hiromi, mungkin perasaan itu akan hilang.


Alasannya pergi ke laut pun bisa lenyap. Namun kalau dugaan kami salah, akibatnya justru paling buruk.


Setelah mengetahui kebenaran, kemungkinan besar Yumi akan menanyai Hiromi soal itu.


Kalau begitu terjadi, rasa rendah diri Hiromi yang mungkin sudah mulai memudar bisa muncul lagi, dan hubungan kakak-adik mereka malah memburuk.


"Jadi... begini..."


"Jangan-jangan yang ingin kau katakan adalah kalau Tsukiyama-kun dan Hiromi sebenarnya tidak berpacaran?"


"...Hah?"


"Jadi benar, ya."


"Bukan... aku belum mengatakan hal seperti itu..."


"Dengan ekspresi seperti itu, rasanya sulit mengatakan 'bukan', kan?"


Sial...Tak kusangka Yumi akan menjebakku seperti ini. 


Hal yang seharusnya belum boleh diketahui malah terbongkar semudah ini...


Brengsek. Apa yang kulakukan?


"Tenanglah. Belum semuanya berakhir."


Berkat kata-kata Iba, aku akhirnya bisa sedikit menenangkan diri.


Benar.


Belum berakhir.


Souda Yumi masih hidup.


"Hehehe. Tidak usah terlalu dipikirkan. Angka sembilan puluh sembilan persen cuma berubah menjadi seratus persen saja."


"Jadi, Yumi-san sebenarnya sudah menyadarinya?"


"Tentu saja. Hiromi melakukan banyak hal yang terasa aneh kalau memang benar mereka berpacaran..."


Kalau sudah begitu, kami memang tidak bisa membantah.


Hiromi ternyata jauh lebih ceroboh daripada perkiraan kami.


Dia malah menikmati jalan-jalan seperti biasa, bahkan terus bersama Yumi di toko suvenir seolah lupa kalau sedang berpura-pura menjadi pasangan.


Mungkin sejak saat itulah Yumi sudah tahu.


"Yang paling jelas adalah cara memanggilnya."


"Cara memanggil?"


"Hiromi itu, kalau sudah akrab dengan seseorang, dia akan memanggilnya dengan nama panggilan. Misalnya, dia memanggil Iba-san dengan 'Hime Hime', kan? Tapi coba ingat, dia memanggil Tsukiyama-kun apa?"


"Ouji-kun, begitu dia memanggilnya..."


Benar juga. Dia juga memanggil Amada dengan "Teru Teru."


"Itulah alasannya. Jadi aku langsung tahu kalau mereka sebenarnya tidak berpacaran."


"Kalau begitu, kenapa selama ini..."


"Karena berpura-pura tertipu justru lebih menguntungkan bagiku."


"Dalam arti apa?"


Dengan senyum yang sedikit muram, Souda Yumi mulai berbicara.


"Hiromi adalah adik yang paling berharga di dunia bagiku... Demi dia, kurasa aku bisa melakukan apa saja. Tapi sebagai gantinya, hanya ada satu hal yang ingin kuminta darinya."


"Satu hal yang ingin kau minta?"


"Aku ingin dia tetap sangat menyayangiku. Sama seperti besarnya rasa sayangku kepada Hiromi…"


Aku sudah tahu kalau Souda Yumi sangat menyayangi adiknya. Namun, bukan berarti Yumi memiliki sifat rela berkorban tanpa batas. Yang ia inginkan hanyalah menerima cinta yang setara dengan cinta yang ia berikan. Itu adalah keinginan yang sangat wajar.


"Dulu kami benar-benar akur. Kami selalu bersama, ke mana pun pergi kami selalu berdua. Tapi entah sejak kapan, Hiromi mulai menjauh dariku..."


Sejak Souda Hiromi mulai menyadari rasa rendah dirinya, jarak di antara mereka perlahan semakin melebar.


Dan jarak itu terus bertambah... hingga akhirnya hubungan mereka menjadi seperti sekarang.


"Alasan kenapa hubungan kalian tidak terlalu baik... Hiromi sudah pernah cerita?"


"Soal nilai ujian, olahraga... yah, dan masih banyak lagi..."


"Makasih sudah menyampaikannya dengan halus... Ishii-kun memang baik ya."


Kalau seseorang terus terang mengatakan bahwa dirimu lebih buruk, itu pasti menyakitkan. Tapi di sisi lain, terus-menerus dianggap lebih unggul juga sama menyakitkannya. Terlebih lagi jika orang yang dibandingkan adalah adik yang paling kau sayangi.


"Kalau aku pernah melakukan kesalahan lalu Hiromi membenciku, mungkin aku masih bisa menerimanya. Tapi bukan itu yang terjadi. Hubungan kami dirusak oleh orang-orang di sekitar kami. Makanya aku membenci mereka semua. Orang yang kusukai cuma Hiromi. Orang-orang yang merusak hubungan kami... lebih baik lenyap saja..."


Bukan cuma Souda Hiromi. Souda Yumi juga sudah berada di ambang batas secara mental.


Orang yang paling berharga baginya hanyalah adiknya. Lalu aku segera menyadari ada sosok besar yang tidak termasuk dalam daftar itu.


"Maaf ya. Sebenarnya aku juga tadi berbohong. Waktu kubilang, 'Mereka berdua sulit mendapatkan waktu berduaan karena kami selalu ada,' itu bohong. Mereka selalu memuji aku. Mereka cuma melihatku, tapi tidak pernah melihat Hiromi yang sangat berharga bagiku. Mereka selalu menyakiti Hiromi... Aku tidak akan pernah memaafkan mereka..."


Orang tuanya. Bahkan orang tuanya sendiri sudah bukan lagi sosok yang Yumi cintai.


Tiba-tiba aku teringat percakapan mereka di toko oleh-oleh.


—"Hei, Yumi. Makanan ringan kan bisa dibeli di tempat lain. Buat Papa dan Mama kita cari yang lain saja ya?"


—"Memangnya mau beli oleh-oleh? Menurutku sih tidak perlu."


Karena mereka bukan lagi orang yang ia cintai, maka tidak perlu membeli oleh-oleh untuk mereka.


Justru karena aku sendiri sangat menyayangi keluargaku, perasaan Yumi terasa begitu menyakitkan bagiku.


Menjadi keluarga bukan berarti otomatis akan saling mencintai. Bahkan karena selalu bersama, saat kebencian mulai tumbuh, akibatnya bisa menjadi yang paling buruk.


"Yah, tapi mereka masih lebih baik daripada para bajingan itu."


"Yang kau maksud bajingan itu..."


"Gerombolan monyet yang cuma ingin pamer kalau mereka punya pacar."


Nada suaranya bukan lagi marah. Melainkan penuh kebencian.


"Ditolak sama aku, terus malah nembak Hiromi? Jijik banget. Gara-gara itu, Hiromi mulai menjauh dariku. Sampai akhirnya kami hampir tidak pernah bicara lagi..."


Aku pernah mendengar kalau sejak suatu saat Yumi menjadi sangat membenci laki-laki.


Ternyata inilah penyebabnya.


Hubungannya dengan adik yang paling ia cintai dihancurkan oleh perasaan murahan seperti itu...


"Semua laki-laki sebaiknya mati saja..."


Setelah mengucapkannya, ia buru-buru menambahkan,


"Yah, kecuali Ishii-kun dan Tsukiyama-kun."


Alasan kami berdua dikecualikan mungkin.....karena kami adalah orang-orang yang bisa mewujudkan keinginannya.


"Jadi alasanmu berpura-pura tertipu..."


"Benar. Buatku juga jauh lebih menguntungkan seperti ini."


Ia mengatakannya dengan santai, seolah mengakui kesimpulan yang akhirnya kudapatkan.


"Karena kalau aku kalah dari Hiromi, kupikir hubungan kami bisa kembali seperti dulu."


"Kalau kau sudah sadar, kenapa tidak sengaja mengalah saja..."


"Aku sudah pernah mencobanya dan gagal. Waktu itu aku sengaja sedikit mengerjakan ujian dengan asal, tapi Hiromi malah marah besar dan bilang, 'Jangan mengasihaniku.' Makanya aku harus benar-benar serius... lalu kalah darinya."


Aku memang belum memahami semuanya. Tapi sedikit demi sedikit, akhirnya aku mulai mengerti. Mengapa pada kehidupan pertama Souda Yumi kehilangan nyawanya.


"Hiromi memang sangat berarti bagimu ya."


"Iya... Dia satu-satunya adikku. Aku paling tahu seberapa keras Hiromi berusaha. Makanya aku ingin dia benar-benar bahagia..."


Cara berpikirnya memang terasa terlalu pasrah. Tapi mungkin lingkungan tempat ia dibesarkanlah penyebabnya.


Karena selama ini ia terus melihat adiknya berjuang mati-matian tanpa pernah dihargai, sebagai kakak ia hanya bisa berharap Hiromi mendapatkan kebahagiaan.


"Bukankah itu sudah terlalu mengorbankan diri?"


"Karena Hiromi cuma punya aku."


Ucapan itu terasa begitu berat.


Ia sungguh-sungguh.


Yumi benar-benar hidup hanya demi Hiromi.


"Keluarga, teman-teman sekolah... semuanya cuma melihatku, tidak pernah melihat Hiromi. Kalau begitu, akulah yang harus melihatnya. Setidaknya aku harus selalu berada di pihak Hiromi. Hiromi membutuhkan aku."


Mendengar kata-kata yang terdengar begitu tulus itu...aku justru merasa sangat takut.


Ini sudah bukan sekadar "menyayangi." Perasaannya justru kebalikannya. Bukan Hiromi yang hanya memiliki Yumi. 


Melainkan…


Yumi-lah yang hanya memiliki Hiromi.


"Kalau begitu, waktu kau tadi membahas legenda itu, memang cuma bagian dari sandiwaramu saja?"


"Tentu saja. Tapi kalau Hiromi benar-benar punya seseorang yang dia cintai, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin aku benar-benar akan pergi mencari bunga itu... supaya Hiromi dan orang itu bisa terus bersama selamanya. Hehe."


Ia mengedipkan sebelah mata sambil bercanda.


Jadi memang begitu rupanya...Di kehidupan pertama, orang yang berpura-pura menjadi pacar Souda Hiromi adalah Amada Teruhito.


Dan bagi Hiromi, Amada Teruhito bukan sekadar "orang yang ingin kuminta berpura-pura menjadi pacarku."


Dia adalah "orang yang benar-benar ingin kujadikan pacar."


Sayangnya, cinta Hiromi hanya bertepuk sebelah tangan.


Mungkin Yumi pada kehidupan pertama menyadari hal itu. Karena itulah ia mengambil tindakan.


Bukan hanya demi kebahagiaan Hiromi.


Tapi juga demi kebahagiaannya sendiri.


Kalau Hiromi dan Amada Teruhito benar-benar menjadi sepasang kekasih, itu berarti Yumi akhirnya kalah seperti yang ia inginkan.


Dan ia percaya setelah itu hubungannya dengan Hiromi akan kembali seperti dulu. Namun, di kehidupan kedua semuanya berubah.


Amada Teruhito tidak datang ke Okinawa.


Ditambah lagi...


"Kalau terus berpura-pura tertipu seperti ini, pasti hubungan kami bisa kembali seperti semula. Jadi tidak ada alasan bagiku mengambil resiko demi mengandalkan legenda itu."


Ternyata memenuhi keinginan Hiromi kali ini adalah cara untuk menghindari takdir kematian Yumi.


Apa yang kami lakukan selama ini...tidak sia-sia.


"Kalau begitu, sepertinya semuanya akan baik-baik saja."


"Iya..."


Suara kami memang pelan. Namun, rasa pencapaian yang kurasakan begitu besar. Kalau orang lain mendengarnya, mungkin mereka akan menertawakan usaha kami.


Lagi pula yang kami lakukan cuma...mencarikan pacar palsu untuk seorang adik yang ingin mengalahkan kakaknya.


Hanya itu.


Namun tetap saja, usaha itu memiliki arti. Dengan begini, Souda Yumi tidak akan kehilangan nyawanya.


Kami berhasil mengubah masa depan.


"Nanti tolong sampaikan rasa terima kasihku juga pada Tsukiyama-kun ya? Soalnya, dialah orang yang paling ingin kuucapkan terima kasih."


"Tentu saja... Tapi sebagai gantinya..."


"Ada apa?"


"Besok malam, jangan sekali-kali pergi ke laut, ya?"


"Hehehe. Ishii-kun suka mengkhawatirkan hal yang aneh ya. Eh, Iba-san juga ternyata."


Meskipun masa depan mungkin sudah berubah, kami tidak boleh lengah sampai saat terakhir.


Kami baru benar-benar bisa tenang setelah melihat kedua saudari Souda masih bersama sampai hari terakhir perjalanan di Okinawa.


"Baiklah. Aku janji tidak akan pergi. Begitu sudah cukup?"


"Iya. Terima kasih."


Kalau masa depan berubah di sini, Souda Hiromi tidak akan menjadi gila.


"Kalau begitu, untuk hari ini, tolong tetap ikuti sandiwara kami."


"Serahkan saja padaku."


Tepat saat pembicaraan kami selesai, Tsukiyama dan Souda Hiromi kembali.


Tsukiyama hanya membawa satu es krim. Sedangkan Hiromi membawa dua.


"Yumi, aku nggak sanggup menghabiskan semuanya sendirian. Temani aku makan ya!"


"Kalau begitu tadi beli satu saja kan cukup?"


"Aku pengen coba dua rasa. Ya, boleh kan?"


"Hehe. Dasar, memang tidak ada obatnya."


Hiromi dan Yumi saling tersenyum hangat.


Melihat mereka berdua, aku pun memanggil.


"Hei, Souda Hiromi."


"Hm? Ada apa, Ishii-kun?"


Sebenarnya ini tidak perlu. Aku sama sekali tidak punya alasan untuk mengatakan hal seperti ini.


Tapi melihat Yumi sampai tidak lagi bisa mempercayai bahkan kedua orang tuanya sendiri, aku ingin setidaknya sedikit membantunya.


Karena itu aku bertanya kepada Hiromi.


"Kau sebenarnya sayang pada Souda Yumi, kan?"


"Hah?"


Hiromi membelalakkan mata karena pertanyaanku yang tiba-tiba.


Yumi juga tampaknya sama terkejutnya. Tatapannya kepadaku seolah berkata, "Apa sebenarnya yang sedang kau tanyakan?"


Seram sekali.


"Ehm... itu..."


Aku tidak menanyakan ini untuk memaksanya berbohong. Justru karena aku sudah yakin setelah melihat mereka seharian ini.


Setidaknya... agar luka di hati Yumi bisa sedikit terobati.


"Ayolah, bilang saja. Kami sudah banyak membantumu, kan?"


"Ugh! Cara ngomongmu nyebelin banget..."


Hiromi langsung mengernyit.


Di sampingnya, Yumi menatap adiknya dengan wajah penuh kecemasan. Menyadari tatapan itu, Hiromi memalingkan wajah dengan malu-malu lalu berkata,


"Yah... aku memang sayang padanya... Dia kakakku yang paling berharga..."


Itulah kata-kata yang selama ini ingin didengar Yumi.


"Aduh! Malu banget! Kenapa sih tiba-tiba nanya begini──Uwaaah!"


"Hiromi, aku juga sayang sekali sama kamu! Kamu orang yang paling kusayangi!"


"Jangan tiba-tiba meluk aku, Yumi! Nanti jatuh! Es krimnya bisa jatuh!"


Seolah kesabarannya sudah habis, Yumi langsung memeluk erat Hiromi.


Hiromi memang terus berteriak protes, tetapi pipinya memerah.


Jelas sekali ia sebenarnya tidak benar-benar keberatan.


Sejak awal….kedua saudari ini memang selalu saling menyayangi.


◇ ◇ ◇


Malam itu, setelah selesai makan malam, kami kembali ke vila milik Tsukiyama.


"Ishii-kun, Hime Hime, terima kasih banyak untuk hari ini!"


Di balkon vila, Souda Hiromi mengucapkan terima kasih kepada aku dan Iba dengan senyum polos.


Sementara itu, Souda Yumi sedang bermain kartu dengan Yuzuki dan yang lain di ruang tamu sambil tertawa riang.


"Bukan apa-apa. Apa sekarang kau jadi sedikit lebih percaya diri?"


"Yup! Lagi pula, ini juga jadi latihan!"


"Latihan?"


"Iya! Kali ini bukan bohong. Latihan buat saat aku nanti punya pacar sungguhan!"


"Begitu, ya..."


Pada akhirnya, kami tetap tidak bisa menghilangkan perasaan Souda Hiromi terhadap Amada Teruhito.


Kalau liburan musim panas berakhir dan semester dua dimulai, Souda Hiromi pasti akan bertemu kembali dengan Amada Teruhito.


Saat itu terjadi, tidak diragukan lagi dia akan menjadi musuh kami. Mungkin dia tidak akan kehilangan akal sehat separah di kehidupan pertama, tapi tetap saja dia akan menjadi boneka yang dikendalikan Amada....


"Hehehe. Ada apa, Hime Hime? Wajahmu kok kelihatan rumit begitu?"


"Bukan apa-apa..."


Mungkin Iba juga merasakan hal yang sama denganku.


Di kehidupan kedua kami memang baru mengenalnya sebentar, tapi di kehidupan pertama kami sudah menghabiskan waktu bersama cukup lama.


Pasti banyak hal yang terlintas di pikirannya.


"Pokoknya ya, aku benar-benar berterima kasih sama kalian berdua! Bukan cuma karena mau mengabulkan permintaanku yang egois... tapi juga karena kalian mau akrab dengan Yumi."


"Dengan Yumi?"


"Iya! Umm... Yumi itu memang populer, tapi orang yang benar-benar dia percaya itu hampir... atau lebih tepatnya sama sekali nggak ada...."


Di akhir kalimatnya, dia bergumam pelan.


"...Selain aku."


Aku langsung mengerti kenapa orang yang dipercaya Souda Yumi begitu sedikit.


Bagi Souda Yumi, keberadaan yang paling penting adalah Souda Hiromi. Kalau ada orang yang mengabaikan Hiromi, bahkan orang tuanya sendiri pun tidak akan dia maafkan.


Perasaan itulah yang perlahan menghapus kepercayaannya kepada orang-orang di sekitarnya.


"Tapi, Yumi benar-benar percaya sama Ishii-kun dan Hime Hime. Itu luar biasa, lho! Aku senang sekali! Soalnya sudah lama aku nggak lihat Yumi tersenyum senatural itu!"


Mungkinkah alasan sebenarnya Souda Hiromi begitu ingin mengalahkan Souda Yumi adalah....


"Aku cuma berharap dia mulai sedikit lebih memperhatikan orang-orang di sekitarnya."


Sebuah harapan besar yang diucapkan lirih.


Dia meminta seseorang berpura-pura menjadi pacarnya agar bisa mengalahkan Souda Yumi dan menghilangkan rasa rendah dirinya.


Itulah tujuan Souda Hiromi.


Tapi, selain itu... tidak, lebih baik jangan kupikirkan sekarang.


Kami hanya akan menghabiskan satu hari bersama kakak beradik Souda.


Karena baru bisa bertemu lagi saat semester dua dimulai, sekarang bukan waktunya ikut campur terlalu jauh.


Namun, ketika semester dua dimulai nanti, Souda Hiromi akan....


"──Ah, tapi aku juga nggak boleh terus bergantung pada kalian! Tenang saja! Sisanya akan kuatasi sendiri!"


Di balik senyumnya yang cerah tersembunyi tekad yang begitu besar.


Dan mungkin, hal yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu adalah....


"Ngomong-ngomong, gimana menurutmu Tsukiyama? Dia cowok yang baik, kan?"


"Iya! Menurutku dia orang yang baik banget!"


Orang yang baik, ya.


Sering kali artis di televisi kalau ditanya tipe pasangan ideal menjawab, "orang yang baik" atau "orang yang lucu."


Tapi menurutku itu cuma omong kosong. Justru pria seperti itu sering kali malah tidak dianggap sebagai pasangan romantis.


Kalau cuma baik, membosankan.


Kalau cuma lucu, rasanya kurang.


Artinya, bagi Souda Hiromi, Tsukiyama hanyalah orang seperti itu.


Ya memang sudah sewajarnya. Lagi pula dia cuma meminta Tsukiyama berpura-pura menjadi pacarnya.


"Hei, kalau aku sendiri gimana? Menurutmu aku bisa berhasil sama Teru Teru?"


Melihat Souda Hiromi yang menatapku dengan mata berbinar karena cinta yang begitu tulus, perasaanku menjadi sangat rumit.


Memang kami baru saling mengenal sebentar. Tapi ada satu hal yang sudah kupahami.


Souda Hiromi bukanlah orang jahat.


Dia memang sedikit emosional dan ceroboh, tapi dia selalu berusaha sekuat tenaga dengan caranya sendiri.


Karena itulah melihatnya nanti dikendalikan Amada...


Melihatnya menjadi musuh kami...rasanya menyakitkan.


Namun, kami tidak memiliki cara untuk mengubah takdir itu.


Bahkan, saat bertemu lagi di semester dua nanti, mungkin dia malah akan marah karena kami tidak pernah memberitahunya bahwa kami bersekolah di tempat yang sama dengan Amada Teruhito.


"Kurasa... kau cantik, jadi pasti dia juga akan senang."


"Hehe. Benarkah...? Kalau begitu aku senang...."


Membayangkan Amada yang akan ditemuinya kembali di semester dua, Souda Hiromi tersenyum seolah telah menerima semuanya.


"Aku pasti akan menjadi pacar Teru Teru. Aku pasti akan membuat kami benar-benar menjadi sepasang kekasih...."


"...Iya. Semangat."


Walaupun hatiku dipenuhi perasaan yang rumit, kata-kata itu bukanlah kebohongan.


Aku memang sangat membenci Amada.


Tapi kalau suatu hari nanti dia benar-benar menjadi pacar Souda Hiromi dan benar-benar menyayanginya...


Mungkin itu juga bukan masa depan yang buruk.


Meski kemungkinannya nyaris tidak ada....


"Wah, Kazuki! Hidaka terlalu jago, aku nggak bisa menang main Old Maid! Jadi, Kazuki juga ikut main dong!"


Tsukiyama datang ke balkon dengan wajah penuh coretan lucu sambil berkata begitu.


Kalau kalah memang wajahnya dicoret, ya.


Entah sudah berapa kali dia kalah berturut-turut.


"Hahaha! Tsukiyama-kun, mukamu lucu banget! Kumismu tebal banget!"


"Anggap saja ini gaya yang modis."


"Itu sih maksa banget. Oh iya, makasih ya!"


"Hm?"


"Kan kamu sudah mau pura-pura jadi pacarku."


"Oi, kecilin suaramu! Gimana kalau Yumi dengar?"


"Ah! Iya juga! Maaf!"


Astaga. Setidaknya pertahankan sandiwaranya sampai akhir.


Untungnya Souda Yumi sudah tahu semuanya, jadi sekalipun mendengar, dia pasti akan pura-pura tidak mendengar. Tapi jangan sampai kau keceplosan tepat di depan orangnya.


"Hehe. Kayaknya aku memang selalu gagal, ya."


Entah kenapa senyumnya terlihat begitu rapuh.


Apa karena diterpa cahaya bulan? 


Atau karena akhirnya dia sudah bisa menerima rasa rendah dirinya?


Aku tidak tahu.


"Kalau sering gagal juga nggak masalah. Selama pada akhirnya kau berhasil, semuanya akan selesai."


"Terima kasih, Ishii-kun. Iya... benar juga. Berkat kata-katamu aku jadi lebih berani."


Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, lalu menengadah ke langit seolah sedang menyampaikan harapan kepada bulan.


Tiga detik kemudian, dia menoleh kepada kami dengan senyum puas.


"Aku akan berusaha! Kali ini bukan bohong. Aku pasti akan mendapatkan pacar sungguhan!"


Melihat senyum yang memadukan pesona gadis seusianya dengan kedewasaan yang anggun, tanpa sadar aku berpikir,


Cantik sekali.


Semangatlah, Souda Hiromi....


【Amada Teruhito (1)】


Liburan musim panas ini benar-benar yang terbaik!


Empat heroine pendamping yang imut dan satu sahabat.


Seperti dugaanku, memang aku ini protagonis terpilih!


Belum lagi sahabatku itu anak orang super kaya sampai mau meminjamkan vila pribadinya di Okinawa.


Benar-benar sempurna....


...Oke, maaf. Barusan aku cuma sok kuat.


Kalau jujur sih, sama sekali nggak sempurna.


Soalnya dia nggak ada.


Heroine utama, Hidaka Mikoto.


Dasar Mikoto, bikin susah aja. Masa cuma karena ingin memonopoli aku, dia malah menolak ajakan liburan ke Okinawa?


Kalau orang normal, meskipun heroine lain ikut, pasti tetap datang sambil mencari kesempatan untuk berduaan denganku.


Tapi dia malah nggak datang.


Rasa ingin memilikinya kuat banget, ya.


Mikoto memang heroine utama yang sempurna dari segi penampilan, tapi dia kurang sadar diri.


Yah, heroine utama yang terlalu sadar diri juga nggak menarik, jadi begini juga nggak masalah.


Begitulah. Karena tidak ada pilihan lain, aku datang berlibur bersama heroine-heroin cadangan.


Ini kan event pantai.


Pokoknya kasih aku banyak kejadian enak, ya. 


Ketemu cewek di kamar mandi, baju renang lepas, itu semua sudah wajib, ngerti?


Dengan harapan seperti itu aku datang ke Okinawa. Tapi ternyata ada kejadian yang sedikit di luar dugaanku.


Hari pertama kami tiba di Okinawa, kami masuk ke sebuah restoran untuk makan....


"Eh... eh! Kamu ini...!"


Saat kembali dari toilet, tiba-tiba seorang gadis memanggilku.


Oh, jadi event liburan ini memang tipe pertemuan cinta musim panas, ya.


Kalau begitu sebagai protagonis....


Eh, tunggu sebentar. Bukankah itu Souda Hiromi?


"Umm..."


Pipinya memerah dan matanya berbinar menatapku.


Tidak salah lagi. Itu memang Souda Hiromi.


Aku masih ingat dia.


Waktu liburan musim panas SD, kebetulan aku bertemu gadis yang lumayan cantik di perpustakaan, jadi sementara kusimpan sebagai kandidat heroine.


Tapi ternyata dia cuma sedang pulang kampung ke kota tempat tinggalku, lalu setelah itu kembali lagi.


Kalau tidak salah dia juga memaksaku membuat janji yang merepotkan.


"Maaf... kamu siapa, ya?"


"Eh!?"


Jangan-jangan dia mengira ini pertemuan yang ditakdirkan.


Sayangnya aku tidak butuh.


Heroine-ku sudah banyak. Lagi pula kau itu cuma teman masa kecilku, kan? Ganggu saja.


Posisi teman masa kecil sudah ditempati Mikoto. Bahkan Miwa yang memang teman masa kecil asli saja sudah kusingkirkan dari posisi itu.


Jadi kenapa kau malah muncul sekarang?


Baca situasi dong.


"Aku... Souda Hiromi...."


Iya iya, lucu kok. Memangnya kalau bicara dengan suara pelan aku bakal kasihan?


Heroine pendamping yang mencoba naik menjadi heroine utama tidak pantas dikasihani.


"Kalau begitu... aku Amada Teruhito...."


"...Ternyata memang kamu ya."


Jangan ngomong yang aneh-aneh.


Yah, suaramu pelan, jadi anggap saja aku tidak dengar.


Begitulah protagonis romcom. Selalu gagal mendengar kata-kata yang paling penting.


"Kalau begitu, aku pergi dulu...."


"Tunggu!"


Menyebalkan.


Kubilang ya, karena kau sudah menggangguku, sekarang bahkan jadi heroine pendamping pun aku tidak berminat.


Pertemuan kita di sini sudah selesai.


Setelah ini cari saja cowok lain lalu pacaran.


Wajahmu lumayan, pasti bisa.


"Umm... mau nggak jadi pacar pura-puraku?"


Serius deh. Cewek ini benar-benar sinting.


Menjijikkan.


Mana mungkin aku mau menerima permintaan seperti itu.


Tahu diri sedikit, sampah.


"Nggak bisa. Aku lagi liburan sama teman-temanku...."


"Maaf! Aku tahu permintaanku keterlaluan! Tapi tolong!"


Hei, heroine-heroin cadangan! Cepat datang dan selamatkan aku. Itu tugas kalian, kan?


Singkirkan cewek pengganggu ini. 


Aku malas turun tangan sendiri.


"Tolong! Cuma kamu! Aku cuma punya kamu!"


Mana peduli. Mungkin buatmu aku satu-satunya.


Tapi buatku, kau cuma figuran. Kenapa aku yang protagonis harus meluangkan waktu demi figuran?


"Hiromi, lagi ngapain?"


Saat itulah muncul seorang gadis lain yang wajahnya sangat mirip dengan Souda Hiromi. Tapi auranya berbeda.


Berbanding terbalik dengan Hiromi yang ribut, gadis ini jauh lebih tenang. Wajahnya memang sama persis, tapi kesannya benar-benar berbeda.


"Yumi, diam dulu dong! Aku lagi ngomongin hal penting!"


"Tapi orang itu kelihatannya terganggu, lho?"


Oh. Dia mengerti juga rupanya.


Bagus. Kau sesuai seleraku. Boleh juga masuk daftar heroine pendampingku. Lumayan aku suka.


Kalau begitu....


"Umm... aku boleh pergi sekarang?"


"Nggak boleh! Sebelum kamu mengabulkan permintaanku, kamu nggak boleh pergi!"


Nah, begitu dong. Memang tadinya aku mau menolak. Tapi sekarang rencananya berubah. Silakan saja kau berjuang mati-matian dengan menyedihkan.


Nanti aku pura-pura dengan berat hati mengabulkan permintaanmu.


"Hiromi, hentikan. Ayo cepat kembali."


"Yumi, aku sudah bilang diam, kan!"


"Teru-san, ada apa?"


"Hei, kamu! Lagi ngapain sama Teru!"


"Terucchi, kamu lagi godain cewek lagi yaa?"


"Teru-kun, kamu nggak apa-apa?"


Pas sekali. Heroine-heroin pendampingku akhirnya datang.


Dunia ini benar-benar selalu memihakku.


"Kalau begitu, Souda Hiromi-san, ya? Coba ceritakan dulu apa yang sebenarnya terjadi."


"Iya. Jadi...."


Ternyata Souda Hiromi tiba-tiba memintaku berpura-pura menjadi pacarnya karena katanya dia ingin pamer kepada orang tuanya.


Yah, jelas itu bohong. Karena aku melupakanmu, kau ingin mempererat hubungan kita lagi, kan?


Sayangnya bagiku kau cuma stok cadangan.

Kalau tidak dibutuhkan ya tidak kupakai.


Tapi Souda Yumi berbeda.


Dia punya hak menjadi heroine pendampingku. Karena itu, demi menjadikan Souda Yumi heroine pendampingku, aku memutuskan menerima permintaan Souda Hiromi.


Selama liburan di Okinawa, aku akan berpura-pura menjadi pacarnya.


Tapi kalau cuma mengikuti permintaannya begitu saja, Souda Yumi tidak akan menjadi heroine pendampingku.


Harus ada event lain yang lebih menguntungkan buatku....


Ah, benar. Ada satu event yang pas sekali.


Event yang tepat untuk menyingkirkan gadis yang tidak tahu diri ini dan menjadikan Souda Yumi heroine pendampingku.


Yah, kalau aku sih pasti berhasil.


Soalnya...


Akulah protagonis dunia ini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close