NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V4 Chapter 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 5

Heroine yang tidak memiliki cinta, tidak akan pernah menjadi heroine yang baik

Perjalanan yang menyenangkan ini akhirnya akan berakhir besok.


Pagi nanti kami hanya perlu membereskan barang-barang, membersihkan vila, lalu menuju bandara untuk pulang dengan pesawat.


Kalau dipikir-pikir, hari ini praktis bisa dibilang sebagai hari terakhir.


Namun sayangnya cuaca sedang buruk. Hujan turun tanpa henti. Padahal kami sempat berencana mencoba scuba diving dan banana boat, tetapi semuanya terpaksa dibatalkan.


Sebagai gantinya, kami memutuskan pergi ke akuarium yang terkenal di Okinawa. Meskipun rencana awal batal, semua orang tetap bersemangat karena ada kemungkinan kami bisa bertemu lagi dengan kakak beradik Souda.


Hari ini Souda Hiromi dan Souda Yumi juga berencana pergi ke akuarium. Mungkin saja kami bisa bertemu lagi.


Walaupun baru mengenal mereka sehari, semua orang sudah menyukai kakak beradik Souda.


Para gadis rupanya sudah saling bertukar kontak dengan mereka. Begitu diputuskan akan pergi ke akuarium, mereka langsung mengirim pesan, "Kami juga akan pergi ke akuarium."


Namun sayangnya, waktu kami tidak cocok.


[Maaf ya. Kami sudah pindah ke tempat lain.]


[Kami perginya pagi tadi.]


Begitulah balasan dari Souda Hiromi dan Souda Yumi.


Kami baru berangkat ke akuarium pada sore hari, sedangkan mereka sudah datang sejak pagi.


Memang kami jadi saling terlewat, tetapi Iba tampak tersenyum lega karena setidaknya mereka membalas pesannya.


Setelah selesai berkeliling akuarium, kami makan siang lalu pulang ke vila lebih awal.


Karena tidak ada lagi yang harus dilakukan, kami mulai merapikan barang dan mempersiapkan keberangkatan besok.


Selama itu pula, Iba terus bertukar pesan dengan Souda Yumi.


"Tenang saja. Yumi-san terus membalas pesanku."


Begitulah caranya memastikan kalau mereka baik-baik saja.


Sekarang pukul tujuh malam.


Hujan yang turun sejak pagi semakin deras. Bahkan dari dalam rumah pun suara hujan terdengar begitu jelas.


Aku duduk melamun di ruang tamu sambil meminum teh yang diseduhkan Tsukiyama, menjadikan suara hujan sebagai musik latar.


Tsukiyama berada di dapur sambil berkata, "Aku lagi menyiapkan sarapan besok."


Di depanku, Iba duduk serius menatap layar ponselnya.


Sementara itu, Hidaka, Ushimaki, dan Yuzu yang tidak ada di sini rupanya sangat menyukai kamar mandi vila yang bahkan lebih luas daripada ruang tamu rumahku.


"Karena ini terakhir kalinya, kita harus menikmatinya sampai puas!"


Begitu kata mereka sebelum kembali masuk ke kamar mandi.


Untuk berjaga-jaga aku sempat memperingatkan Ushimaki,


"Kalau nanti kaget gara-gara suara petir, pakai baju dulu sebelum keluar."


Namun balasannya hanya satu.


"Memangnya kau menganggap aku ini apa!"


Padahal itu murni saran berdasarkan pengalaman dan rekam jejaknya. Tapi sepertinya dia tidak menyukainya.


—"Aku akan berusaha! Kali ini bukan pura-pura lagi. Aku pasti akan mendapatkan pacar sungguhan!"


Entah kenapa, kata-kata Souda Hiromi semalam kembali terngiang di kepalaku.


Kami memang berhasil menghapus takdir kematian yang seharusnya menimpa Souda Yumi. Namun bukan berarti semua pertanyaan telah terjawab.


Yang paling mengganjal adalah perubahan Souda Hiromi.


Di kehidupan pertama, Hiromi sudah melepaskan perasaannya kepada Amada dan hanya hidup demi mengabdi kepadanya.


Selain itu, dia sangat membenci laki-laki. Semua murid laki-laki selain Amada dan Tsukiyama selalu dia perlakukan dengan permusuhan tanpa alasan.


(Selain Amada dan Tsukiyama), semua murid laki-laki di SMA Hirasaka takut kepadanya. Namun Hiromi yang kutemui di kehidupan kedua sama sekali berbeda.


Memang rasa percaya dirinya rendah, tetapi dia ceria, aktif, dan selalu cocok dengan senyuman.


Perbedaannya terlalu besar.


Semua heroine Amada sejauh ini memang mengalami perubahan pola pikir antara kehidupan pertama dan kedua, tetapi tidak ada yang sampai berubah kepribadiannya.


Satu-satunya pengecualian hanyalah Kanie Kokoro, tetapi itu karena dia sejak awal menyembunyikan sifat aslinya. Saat masih berpura-pura baik pun, kepribadiannya tidak jauh berbeda dari kehidupan pertama.


"...Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"


"Aku cuma bertanya-tanya apa masalahnya benar-benar sudah selesai... Masih ada satu pertanyaan besar."


"Untuk yang itu... kita hanya bisa percaya kalau semuanya akan terselesaikan bersama kasus Yumi-san..."


Kalau kematian Souda Yumi berhasil dicegah, maka Souda Hiromi tidak akan berubah menjadi gila.


Hanya itu yang bisa kami percayai sekarang.


"Tapi... sekalipun tidak berubah, saat semester dua dimulai nanti, Hiromi-san tetap akan..."


Dikendalikan oleh Amada Teruhito. Sama seperti kehidupan pertama. Dan kami tidak punya cara untuk menghentikannya.


Yang bisa kami lakukan hanyalah...


"Yah, pasti nanti ada jalannya. Bukankah dulu seseorang juga begitu?"


"Hehe. Jahat sekali ucapannya."


Kalaupun Souda Hiromi menjadi musuh kami, bukan berarti selamanya akan begitu.


Coba pikirkan kehidupan kedua ini.


Tsukiyama, Iba, Ushimaki, Hitsujitani, bahkan Kanie...


Awalnya mereka semua adalah musuhku.


Namun sekarang berbeda. Setidaknya hubungan kami jauh lebih baik daripada di kehidupan pertama.


Meski begitu, bukan berarti ada jaminan hal yang sama akan terjadi pada Souda Hiromi.


Soalnya... Hiromi yang berubah itu benar-benar menyeramkan.


Aku masih mengingat jelas hari ketika dia pindah sekolah pada kehidupan pertama.


—"Semua keinginan Teru Teru... akan kupenuhi semuanya..."


Dengan senyum yang begitu lebar hingga seolah mulutnya hendak robek, Hiromi mengatakan itu.


Awalnya aku hanya menganggapnya gadis cantik dengan gaya rambut twin-tail bergaya country dan tahi lalat di bawah mata kanan.


Namun kesan itu langsung lenyap...


"...Eh?"


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba mengeluarkan suara aneh begitu?"


Iba menatapku dengan bingung. Namun aku bahkan tidak punya ruang untuk menjawab.


Tunggu sebentar.


Tidak...Aku pasti salah ingat.


Aku mati-matian mencoba menepis kemungkinan yang baru muncul di kepalaku. Namun seperti rantai yang saling terhubung, satu demi satu potongan itu mulai menyatu.


Semuanya cocok.


"I-Iba..."


"Ada apa?"


Souda Hiromi yang kukenal di kehidupan pertama.


Kalau dijelaskan secara halus, dia adalah sosok yang sangat senang merawat orang lain dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Amada. Namun tidak ada cinta di sana.


Semua yang dia lakukan semata-mata demi kebahagiaan Amada.


Selain itu, dia sangat membenci laki-laki dan tidak pernah mau berurusan dengan siapa pun selain Amada dan Tsukiyama.


Kalau ada murid laki-laki lain yang mendekatinya, mereka akan dihujani makian yang luar biasa kejam.


Aku mengenal seseorang yang sangat cocok dengan gambaran itu.


Tidak. Tidak mungkin.


Aku terus menyangkal dalam hati. Namun semuanya sia-sia. Karena ada satu cara untuk membuktikannya.


"I-Iba... ada sesuatu... yang ingin... kuingatkan padamu..."


"Ishii-san?"


Jantungku berdegup semakin kencang. Suaraku bergetar. 


Aku bahkan tidak bisa berbicara dengan benar.


Iba memiringkan kepalanya melihat keadaanku.


Tolong...semoga aku hanya salah ingat.


Kalau ternyata bukan...berarti kami telah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.


"Di kehidupan pertama... tahi lalat di bawah mata Souda Hiromi... ada di mata sebelah mana... kau masih ingat?"


"Tentu. Itu ciri khasnya yang sangat mencolok. Hiromi-san punya tahi lalat di bawah mata kanan..."


Ucapan Iba tiba-tiba terhenti.


Dia langsung mengambil ponselnya.


Tangannya gemetar hebat hingga sulit mengoperasikannya.


Aku pun segera berpindah duduk di sampingnya.


"T-Tidak mungkin! Tidak mungkin...!"


Dengan tangan gemetar, Iba membuka foto yang kami ambil kemarin siang.


Foto saat Tsukiyama dan Souda Hiromi berpose di depan patung shisa sebagai pasangan pura-pura. Setelah itu Tsukiyama menyuruh kakak beradik Souda berfoto berdua.


Di foto itu tampak Souda Hiromi yang sedikit malu-malu dan Souda Yumi yang tersenyum lebar.


"...Di mata kiri. Hiromi-san... tahi lalatnya ada di bawah mata kiri..."


Jawaban Iba menghancurkan harapanku.


Benar. Souda Hiromi yang kami temui di kehidupan kedua memang memiliki tahi lalat. Tetapi letaknya berbeda.


Bukan di mata kanan. Melainkan di mata kiri.


"...Y-Yang memiliki tahi lalat di bawah mata kanan adalah... Yumi-san."


Aku tidak tahu apakah hal seperti itu mungkin terjadi. Namun kenyataannya memang demikian pada kehidupan pertama.


Yang pindah ke SMA Hirasaka pada semester dua...


Bukan Souda Hiromi.


Melainkan…Souda Yumi yang menyamar sebagai Souda Hiromi.


Kalau begitu...


Ke mana Souda Hiromi yang asli?


Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


Dengan rasa takut yang luar biasa, akhirnya aku mengucapkan kesimpulan yang berhasil kucapai.


"Yang akan mati... adalah Souda Hiromi..."


Di kehidupan pertama, Souda Hiromi selalu membenciku dengan sangat dalam.


Dulu aku tidak pernah mengerti alasannya. Aku hanya bertanya-tanya kenapa selalu aku yang menjadi sasaran.


Namun sekarang aku mengerti.


Iba pernah memberitahuku. Tentang perkataan Souda Hiromi setelah dia sengaja membuat ibuku kehilangan nyawa.


—"Bukankah dia masih punya adik perempuan? Jadi tidak masalah, kan?"


Saat pertama kali mendengar cerita itu, kukira Hiromi iri karena aku punya saudara.


Ternyata bukan.


Yang dia iri adalah...karena aku masih memiliki adik perempuan.


Kupikir kepribadian Hiromi berubah terlalu drastis antara kehidupan pertama dan kedua. Ternyata bukan itu masalahnya.


Yang berbeda bukan kepribadiannya. Melainkan orangnya.


Tidak ada cinta kepada Amada?


Tentu saja. Karena itu adalah perasaan Souda Hiromi.


Bukan perasaan Souda Yumi.


Setelah kehilangan Hiromi di kehidupan pertama, Yumi kehilangan tempat untuk mencurahkan seluruh kasih sayangnya.


Karena itulah dia mengalihkannya kepada Amada.


Dia percaya bahwa membuat pria yang paling dicintai adiknya bahagia adalah penghormatan terakhir terbaik yang bisa diberikannya kepada sang adik.


"A-Apa yang harus kita lakukan?! Kita sudah melakukan kesalahan yang sangat besar...!"


"Tenang!"


Aku memegang kedua bahu Iba sambil berusaha menenangkannya.


Meskipun Hiromi meninggal di kehidupan pertama, bukan berarti hal yang sama pasti terjadi di kehidupan kedua.


"Lagi pula, bukan berarti semuanya salah. Kemungkinan besar penyebab kematiannya tetap sesuai dugaan kita."


Penyebab kematian Hiromi kemungkinan tetap kecelakaan laut.


"Kalau begitu kita harus segera pergi!"


"Makanya tenang dulu! Kalau kita ke sana dan ternyata dia tidak ada, justru kita yang dalam bahaya!"


Belum.


Sekarang belum waktunya bergerak.


Kalau kami nekat mencari Hiromi di tengah hujan badai seperti ini, justru nyawa kami sendiri yang terancam.


"Seharusnya dia tidak punya alasan untuk pergi... Meskipun dia sangat mencintai Amada..."


Walaupun Hiromi sangat bergantung pada Amada, itu saja seharusnya tidak cukup menjadi alasan untuk mempertaruhkan nyawanya.


Karena dia sendiri yang pernah mengatakan...


—"Sebelum berpisah, kami juga sudah membuat janji!"


Kalau janji itu masih berlaku, seharusnya tidak ada alasan baginya pergi ke laut.


Kemungkinan besar di kehidupan pertama janji itu telah batal, sehingga Hiromi yang sudah bergantung pada Amada akhirnya pergi ke laut.


Namun kehidupan kedua berbeda.


Amada tidak datang ke Okinawa.


Artinya...kalaupun janji itu sebenarnya batal, Hiromi tidak mungkin mengetahuinya.


Jadi...pasti tidak apa-apa.


Seharusnya memang begitu...


"Wah, Kazuki, Iba, kenapa? Kalian berdua kelihatan panik banget."


Saat itulah Tsukiyama yang sudah selesai memasak datang ke ruang tamu masih mengenakan celemek.


"Maaf. Kami sedang memikirkan kakak beradik Souda..."


"Ah iya. Memang mereka berdua menarik banget. Tapi kurasa kalian tidak perlu khawatir, deh."


"Lagi pula...aaat semester dua dimulai nanti, kita pasti bisa bertemu lagi dengan mereka, kan?"


"...Hah?"


Kata-kata Tsukiyama itu membuat pikiranku langsung kosong.


Tunggu dulu. Kenapa Tsukiyama bisa tahu soal itu?


Yang tahu hal itu seharusnya hanya aku dan Iba, yang menjalani kehidupan kedua....


"Hah? Hiromi belum cerita? Soal mereka mau pindah."


"Dia memang sempat bilang..., tapi dari mana kau tahu soal itu, Tsukiyama?"


"Kemarin kan aku sama Hiromi pergi beli es krim berdua? Waktu itu kami sempat ngobrol soal itu. Aku benar-benar kaget. Siapa sangka Hiromi dan Yumi bakal segera pindah ke kota tempat kita tinggal."


Kemarin, aku dan Iba sengaja menyuruh yang lain pergi ke toko es krim agar kami bisa berbicara secara pribadi dengan Souda Yumi.


Jadi, saat itulah Tsukiyama mengobrol dengan Souda Hiromi.


"Ouji-kun, selain soal pindahan, apa kalian membicarakan hal lain waktu itu?"


"Bukan cuma itu. Yah..., sebenarnya agak susah buat ngomonginnya...."


Tsukiyama memasang ekspresi canggung.


Hanya dari reaksinya saja, aku langsung tahu topik apa yang mereka bicarakan.


"Tidak apa-apa. Ceritakan saja, Tsukiyama."


"Soal... Teru. Katanya Hiromi dan Teru sudah saling kenal sejak SD. Dia nanya macam-macam ke aku. Tentang... Teru."


"...! Apa yang dia tanyakan!? Apa yang Hiromi bicarakan...!?"


"Umm..., misalnya soal gadis yang disukai Teru...."


Ini perkembangan terburuk....Souda Hiromi sudah mengetahui siapa orang yang disukai Amada Teruhito.


"Terus dia juga bilang katanya punya janji sama Teru...."


"Apa dia sempat memberitahumu isi janji itu?"


"Nggak. Sampai situ aku nggak tanya. Soalnya itu kan janji cuma antara Teru dan Hiromi."


"...Begitu ya."


"M-maaf! Ini salahku! Seharusnya aku menjelaskan keadaan sebenarnya kepada Ouji-kun lebih dulu...."


"Jangan memikul semuanya sendirian. Aku juga sama."


"Hah? Maksudmu apa?"


Tsukiyama menatapku dengan cemas.


Tapi ini sama sekali bukan salah Tsukiyama. Sejak awal dia memang tidak tahu rincian masalahnya. Justru kami yang seharusnya berterima kasih karena dia bersedia berpura-pura menjadi pacar Souda Hiromi tanpa mengetahui apa pun.


Jadi ini kesalahan kami.


Seandainya sejak awal kami menjelaskan hubungan antara Souda dan Amada...!


Tidak. Menyesali apa yang sudah terjadi bisa dilakukan nanti.


Sekarang yang paling penting adalah mengetahui isi janji yang dibuat Amada dan Souda Hiromi.


Aku tidak punya cara untuk mengetahuinya sendiri.


Tapi....


"Tsukiyama, aku mau minta satu bantuan."


"Ya. Boleh."


"Aku bahkan belum bilang bantuannya apa."


"Mana mungkin aku menolak permintaan Kazuki."


Sungguh, orang ini terlalu percaya padaku. Kalau suatu hari nanti dimanfaatkan orang, bagaimana?


Tapi...Terima kasih.


Aku benar-benar senang.


"Tolong hubungi Amada dan cari tahu isi janji itu."


"Ishii-san, itu....!"


Iba langsung panik.


Meski begitu, aku tetap melanjutkan penjelasanku kepada Tsukiyama.


"Aku tahu ini tidak sopan. Tapi aku benar-benar harus tahu isi janji antara Amada dan Souda Hiromi. Kalau aku sendiri yang bertanya, dia pasti tidak akan menjawab. Bahkan siapa pun dari kami yang bertanya, Amada tetap tidak akan menjawab. Tapi...."


Kalau Tsukiyama, masih ada sedikit harapan.


Iba dan Ushimaki hampir benar-benar putus hubungan dengannya.


Kalau aku dan Hidaka, tak perlu dijelaskan lagi.


Tapi Tsukiyama... orang yang terus datang menjenguk Amada bahkan setelah dia berhenti masuk sekolah....


"...Baik."


Tanpa bertanya apa pun, Tsukiyama langsung mengeluarkan ponselnya.


Kenapa aku ingin tahu?


Untuk apa aku ingin tahu?


Seharusnya dia punya banyak pertanyaan. Tapi dia tidak bertanya apa pun dan langsung menghubungi Amada.


"............"


Di tengah keheningan, terdengar nada panggil dari ponsel Tsukiyama.


Tolong....


Angkat....


Tolong angkat....


"Ah, Teru? Maaf ya nelpon malam-malam begini.... Eh, sebenarnya belum terlalu malam juga sih."


Diangkat!


Benar juga, hanya Tsukiyama yang masih punya sedikit hubungan dengan Amada....


"Kemarin aku kebetulan ketemu seseorang di Okinawa. Kau masih ingat Souda Hiromi?"


"Tentu ingat... Maksudku, jelas aku ingat! Hah!? Kau ketemu Hiromi!?"


Suara Amada begitu keras hingga kami semua bisa mendengarnya.


Mungkin dia sadar seorang heroine baru akan muncul untuknya. Ini pertaruhan yang sangat besar.


Berhasil ataupun gagal, kami tetap memberi Amada informasi bahwa seorang heroine akan muncul di hadapannya. Tapi kami tidak punya pilihan.


"Iya. Kami kebetulan kenalan. Dia juga masih ingat sama kamu."


"Wah! Senangnya bukan main! Makasih ya, Tsuki!"


"Eh... ngomong-ngomong...."


Nah. Sekarang bagian pentingnya.


"Kalian dulu pernah bikin janji atau semacamnya?"


Setelah itu Amada tampaknya kembali tenang, sehingga kami tidak bisa lagi mendengar suaranya. Namun percakapan dengan Tsukiyama masih terus berlanjut.


"Iya."


"Begitu ya."


"Ayolah, jangan begitu. Ceritakan saja."


...Tolong, Tsukiyama.


Apa pun caranya, gali informasinya...!


"Oke. Mengerti. Sampai ketemu lagi semester dua...."


Dengan kata-kata itu, panggilan mereka berakhir.


Tsukiyama memasukkan ponselnya ke saku, lalu berkata,


"Kalau nanti kita bertemu lagi dan kita sama-sama belum menyukai orang lain, ayo kita jadi pacar."


"Itulah janji antara Hiromi dan Teru."


Dia berhasil mengetahuinya. Tsukiyama berhasil mencari tahu.


Namun isi janji itu....


"Janji yang paling buruk...."


Dasar bajingan. Sejak awal... tidak, bahkan sebelum membuat janji itu, dia memang tidak pernah berniat menepatinya.


Sejak saat itu kau sudah menjadikan Hidaka sebagai heroine utamamu, kan? Tapi kau tetap menipu Souda Hiromi dengan janji seperti itu....


"Tolong.... Angkatlah.... Tolong angkat...!"


Air mata mengalir di wajah Iba saat dia mati-matian mencoba menghubungi seseorang lewat ponselnya.


Yang dia hubungi pasti Souda Hiromi.


──"Aku akan berusaha! Kali ini bukan kebohongan lagi. Aku akan mendapatkan pacar sungguhan!"


Dengan perasaan seperti apa Hiromi mengucapkan kata-kata itu?


Dia bahkan tidak menyalahkan kami karena menyembunyikan keberadaan Amada, hanya tersenyum pasrah....


"Kenapa tidak diangkat, Hiromi-san!? ...Kalau begitu, Yumi-san!"


Meski mulai frustrasi, Iba tetap tidak menyerah dan terus menghubungi mereka.


"Yumi-san!? Syukurlah! Umm...."


Untungnya dia menyalakan mode pengeras suara, jadi kami semua bisa mendengarnya.


"Iba-san, Hiromi ada di sana? Tadi dia bilang sudah kenyang lalu kembali ke kamar duluan, tapi sekarang dia tidak ada di mana-mana...."


Begitu mendengar kata-kata itu, aku langsung sadar bahwa kemungkinan terburuk telah terjadi.


Tidak salah lagi. Souda Hiromi sedang menuju laut.


"Sudah berapa lama!? Berapa lama sejak Hiromi kembali ke kamar!?"


"Hah? Ishii-kun? Umm..., sekitar sepuluh menit yang lalu...."


Kalau begitu, mungkin kami masih sempat.


Aku tahu risikonya. Bisa saja orang yang hendak menolong malah ikut menjadi korban.


Tapi kami tidak bisa tinggal diam.


"Iba! Tsukiyama! Tolong jelaskan semuanya pada Hidaka dan yang lain!"


"Tunggu, Ishii-san! Pergi sendirian itu—"


Sebelum Iba sempat menyelesaikan kalimatnya, aku sudah berlari keluar dari vila Tsukiyama.


◇ ◇ ◇


Kalau Souda Hiromi benar-benar pergi, kemungkinan besar dia berada di pantai yang kami datangi pada hari kedua.


Pantai itu masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari vila Tsukiyama.


Masih ada kemungkinan kami tiba tepat waktu.


"Hah... hah... sial! Dingin sekali!"


Aku mengenakan sepatu lalu berlari sekuat tenaga.


Hujan turun sangat deras hingga pakaianku basah kuyup.

Butiran hujan yang menghantam wajah terasa menusuk.


Dari arah laut terdengar suara ombak yang begitu keras.


Kalau siang mungkin terdengar gagah. Tapi suara ombak di malam hari ternyata semenakutkan ini....


Kalau terus begini, Souda Hiromi akan mati.


Bukan berarti aku punya ikatan yang begitu dalam dengannya. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkannya mati.


Pokoknya aku harus segera menemukannya....


"Kazuki! Kau mau ke mana?"


"Tsukiyama!? Kenapa kau ikut!?"


"Kalau Kazuki sedang kesulitan, sudah pasti aku ikut."


Sama sepertiku, dia berlari tanpa payung sehingga pakaiannya basah kuyup. Dia memakai baju olahraga dengan celemek, kombinasi yang benar-benar aneh.


Kalau tidak salah, itu baju olahraga merek mahal yang dulu dengan bangga dia pamerkan sambil berkata,


"Keren, kan? Ayah yang membelikannya."


"Pulang sana! Bagaimana kalau kau ikut celaka!?"


"Aku justru ingin mengembalikan pertanyaan itu padamu. Kalau Kazuki tidak pulang, aku juga tidak akan pulang!"


Sungguh membuatku tak habis pikir. Bagaimana bisa kau masih tersenyum setenang itu dalam situasi seperti ini?


"Kalau begitu terserah! Menurutku Hiromi ada di pantai yang kita datangi hari kedua! Dia pasti ada di suatu tempat di sana!"


"Mengerti! Jadi kita tinggal menemukan Hiromi, kan?"


Kenapa dia percaya begitu saja kalau Hiromi ada di sana?


Untuk apa dia ikut?


Seharusnya dia punya banyak pertanyaan. Tapi dia tidak bertanya apa pun dan tetap ikut bersamaku. Padahal kalau salah sedikit saja, nyawanya bisa melayang....


"Aaaaaaaah! Kau ini benar-benar orang yang baik!!"


"Bukan begitu! Aku cuma mau menolong orang yang kusayangi!"


"Itu dia yang kusuka dari dirimu, bodoh!"


"Sial! Gelap sekali!"


Akhirnya kami sampai di pantai, tetapi tidak ada seorang pun di sekitar kami──atau lebih tepatnya, kami hampir tidak bisa melihat apa pun.


Memang sejak awal tidak ada lampu, ditambah hujan yang turun begitu deras. Bahkan sosok Tsukiyama di sampingku pun baru bisa terlihat samar-samar.


"Tunggu sebentar, Kazuki! Aduh! Sulit sekali mengoperasikannya gara-gara hujan!... Berhasil!"


Tsukiyama akhirnya berhasil menyalakan senter di ponselnya. Namun itu sama sekali tidak banyak membantu.


Walaupun sedikit lebih terang, tetap saja hampir tidak ada yang bisa kami lihat.


"Dia pasti ada.... Dia pasti ada di suatu tempat...."


Berhati-hati agar tidak terlalu dekat ke laut, kami berlari mati-matian menyusuri pantai.


Aku pasti akan menemukannya....


Aku pasti akan menyelamatkannya....


"Kazuki... kenapa kau berusaha sejauh ini demi Hiromi?"


Sambil mengamati sekeliling, Tsukiyama bertanya kepadaku. Pertanyaan yang wajar.


Bahkan jika nyawanya terancam, sebenarnya tidak ada alasan bagiku untuk mempertaruhkan diri sejauh ini demi Souda Hiromi.


Memang resikonya akan besar saat semester dua dimulai, tapi aku juga bisa saja memilih untuk membiarkannya.


Namun, aku tidak bisa melakukan itu. Karena... dia tidak melakukan kesalahan apa pun.


── "Aku Souda Hiromi! Kalau kamu?"


Saat pertama kali bertemu, karena masih membawa ingatan kehidupan pertama, aku begitu takut pada Souda Hiromi.


Namun itu hanyalah kesalahpahamanku sendiri. Bahkan jika menghitung kehidupan pertama, itulah pertama kalinya kami benar-benar bertemu.


── "Hei, jangan diabaikan dong~. Ada cewek secantik ini yang lagi ngajak ngobrol, lho~?"


Awalnya kupikir dia hanya besar kepala.


Tapi ternyata bukan.


Dia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Meski dalam segala hal kalah dari Souda Yumi, dia juga tetap gadis yang cantik.


Agar tidak hancur oleh rasa rendah dirinya, dia terus memaksa dirinya percaya bahwa dirinya juga cantik....


── "Tolong, Ishii-kun! Aku benar-benar ingin mengalahkan Yumi! Aku tidak mau terus jadi cadangan Yumi!!"


Dia mati-matian memohon agar aku berpura-pura menjadi pacarnya.


Perkataannya tidak bohong. Namun ada satu hal yang tidak pernah dia ceritakan kepada kami.


Dia tidak pernah mengungkapkan tujuan lainnya.


── "Andai saja Yumi mau sedikit lebih memperhatikan orang-orang di sekitarnya...."


Sekarang aku akhirnya mengerti.


Mengerti kenapa Souda Hiromi begitu ingin mengalahkan Souda Yumi.


Mengerti kenapa dia begitu ingin menjadi kekasih Amada Teruhito.


Memang, dia benar-benar mencintainya. Namun, ada perasaan lain yang bahkan lebih besar daripada itu....


"Hei, Kazuki. Kenapa kau sampai berusaha sejauh ini demi Hiromi...?"


Sekali lagi Tsukiyama mengulang pertanyaan yang sama.


Kenapa aku ingin menyelamatkan Souda Hiromi?


Jawabannya sudah jelas.


"Karena dia mirip denganku! Karena aku ingin mewujudkan keinginannya!"


Jadi...jangan mati.


Tetaplah hidup, dan capailah tujuanmu.


"Sial! Kenapa pantainya seluas ini!"


"Apa tidak ada petunjuk? Misalnya tempat yang punya kenangan khusus?"


"Kalau ada tempat semudah itu...."


Aku terdiam.


Ada satu tempat yang terlintas di pikiranku. Namun tempat itu bukan tempat yang menyimpan kenangan istimewa.


Hanya tempat yang tiba-tiba terpikir olehku.


Baik bagiku maupun bagi Souda Hiromi, tempat itu sama sekali tidak memiliki kenangan berarti.


Tapi....


"Tsukiyama, ikut aku! Mungkin percuma, tapi aku akan bertaruh pada sebuah keajaiban!"


"Bertaruh pada apa?"


Aku jelas tidak punya kekuatan seperti itu. Tapi aku tahu seseorang yang memilikinya. Karena itu, bahkan untuk tokoh sampingan sepertiku...


Bahkan untuk diriku yang sudah pernah mati dan mengakhiri semuanya....


"Pada kekuatan romcom!"


Tidak apa-apa, kan? 


Setidaknya sedikit saja aku juga boleh memiliki kekuatan semacam itu.


◇ ◇ ◇


Tempat yang kami tuju adalah lokasi pertama kali aku bertemu Souda Hiromi.


Bagi Hiromi, aku bukanlah seseorang yang istimewa.

Jadi seharusnya dia tidak ada di sana.


Tapi kalau memang keajaiban itu ada....


"Kazuki!"


"...Ada! Dia benar-benar ada!"


Di sana memang ada Souda Hiromi.


Berbeda dengan kami, dia memakai payung, sementara ponselnya disetel ke mode senter sebagai penerangan.


Namun posisi tempatnya sangat berbahaya. Dia berdiri sangat dekat dengan laut sambil terus menyorot tanah dan mencari sesuatu.


"Aku pasti akan menemukannya.... Aku juga... aku juga...."


"Soudaaaaa!!"


"Hiromiiiiii!!"


"Eh? Ishii-kun? Tsukiyama-kun juga?"


Suara kami masih nyaris terdengar di tengah hujan, tetapi wajahnya sama sekali tidak terlihat jelas.


Namun tempat itu terlalu berbahaya.


"Kemari! Di situ—"


Saat itu juga...


Seolah ingin mengatakan bahwa tragedi memang tak bisa dihindari, ombak besar menerjang ke arah tubuh Souda Hiromi—


Tsukiyama langsung meraih pergelangan tangan Hiromi sekuat tenaga. Refleks, aku segera mencengkeram pergelangan tangan Tsukiyama.


"Eh? Kyaa!"


"Oryaaaaaa!!"


"Tsukiyamaaaaaaa!!"


Tepat sebelum ombak menyeret kakinya...Tsukiyama menarik tubuh Souda Hiromi. Aku menarik tubuh Tsukiyama.


Dan akhirnya kami bertiga terhempas jatuh ke pasir dengan sangat menyedihkan.


Payung yang dipegang Hiromi terlepas dari tangannya dan hanyut terbawa ombak.


Namun Hiromi sendiri...


"Uwee... pasir masuk ke mulutku. Jijik banget...."


Dia hidup. Dia benar-benar masih berada di samping kami. Namun belum saatnya merasa lega.


"Ini bukan waktunya ngomong begitu! Pokoknya kita harus menjauh dari sini!"


"Tunggu! Aku masih—"


"Kau hampir mati!!"


"...Ah...."


"Cepat pergi dari sini! Ayo!"


Dengan tekad untuk tidak membiarkannya mendekati laut lagi, aku menggenggam tangan Souda Hiromi erat-erat, lalu kami bertiga segera menjauh dari pantai.


Kami berhasil menyelamatkan Souda Hiromi.


Benar-benar hanya selisih sedikit saja.


Setelah menjauh dari laut, kami akhirnya tiba di tempat yang cukup aman. Kami bertiga sama-sama basah kuyup.


"Kenapa kalian berdua ada di sini?"


Hiromi bertanya dengan suara yang terdengar penuh rasa bersalah.


Sebenarnya aku ingin langsung membawanya kembali ke vila Tsukiyama. Namun sepertinya dia masih belum menyerah pada legenda itu.


Tatapannya masih terus mengarah ke laut dengan penuh penyesalan.


Kalau begini tidak akan berhasil. Bahkan jika kubawa ke vila, ada kemungkinan dia akan diam-diam keluar lagi dan kembali ke pantai.


"Karena Souda Yumi bilang kau menghilang."


"Meski begitu, kalian kan tidak mungkin tahu kalau aku ada di sini."


"...Ugh."


Pertanyaan yang benar-benar menyulitkan. Tsukiyama yang berdiri di sampingku juga tampaknya penasaran.


Karena situasinya sudah relatif aman, dia menatapku penuh rasa ingin tahu.


"Kenapa, Kazuki?"


Namun kalau kukatakan yang sebenarnya, mereka pasti tidak akan percaya.


"Karena kupikir kau akan bergantung pada legenda itu."


Legenda yang konon mengatakan, "Jika pada malam tanggal tujuh Agustus kau menemukan bunga yang mekar di pantai, maka kau akan bisa bersama orang yang paling kau cintai selamanya."


Selain mempercayai legenda yang meragukan itu, Hiromi memang sudah tidak punya pilihan lain.


"...Eh?"


"Maaf.... Kami menyembunyikan soal Amada darimu...."


"...Begitu ya. Tsukiyama-kun yang memberi tahu kalian."


"Iya.... Maaf...."


"Tidak apa-apa. Aku juga dengar hubungan Ishii-kun dengan Teru Teru memang tidak terlalu baik...."


Aku melirik Tsukiyama. 


Dia memalingkan wajah dengan ekspresi canggung.


Yah, sebenarnya itu memang benar…bahkan bisa dibilang penjelasan yang sangat diperhalus.


"Tapi itu tetap bukan jawabannya. Kenapa hanya karena aku tahu soal Teru Teru, kalian langsung tahu aku ada di sini?"


"Karena kau tahu janji itu tidak akan pernah ditepati."


"Ishii-kun bahkan tidak tahu isi janjinya...."


"‘Kalau saat kita bertemu lagi nanti tidak ada orang lain yang kita sukai, mari kita jadi sepasang kekasih.’ Begitu, kan?"


"...! Dari mana kau tahu!? Janji itu cuma aku dan Teru Teru yang...."


"Karena kami bertanya langsung pada Amada Teruhito."


Begitu mendengar itu, Souda Hiromi mendongak ke langit yang masih diguyur hujan dengan tatapan pasrah.


"...Begitu ya.... Jadi bagi Teru Teru, janji denganku memang hanya berarti segitu saja...."


"Aku tahu perasaanmu sungguh-sungguh. Tapi perasaan itu...."


Dimanfaatkan.


Aku tidak sanggup mengucapkan kata-kata itu. Namun dari raut wajahnya, Hiromi pasti sudah mengerti.


Perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.


Dan janji itu tidak akan pernah terwujud.


"Pada akhirnya... semuanya gagal.... Pada akhirnya tetap tidak ada seorang pun yang memilihku...."


"Hiromi!"


Saat itu terdengar suara dari kejauhan.


Itu Souda Yumi. Di sampingnya ada Iba Kouki.


Sambil menangis, Yumi berlari menghampiri Hiromi. Sedangkan Iba menatapku dengan ekspresi lega yang begitu dalam.


"Jangan bikin aku khawatir! Hiromi... Hiromi...."


Yumi menjatuhkan payung yang dipegangnya, lalu memeluk Hiromi sekuat tenaga.


Aku tidak tahu sejauh mana Iba sudah menjelaskan semuanya. Namun sepertinya mereka tahu bahwa Hiromi datang ke pantai malam-malam demi legenda itu.


"Ishii-kun, Tsukiyama-kun... terima kasih.... Berkat kalian, Hiromi...."


Mendengar ucapan terima kasih dari Yumi yang masih menangis, entah kenapa aku merasa canggung, jadi aku hanya membalas dengan melambaikan tangan.


Iba yang sudah berada di sampingku berbisik pelan.


"Apakah sekarang semuanya sudah baik-baik saja?"


"Belum...."


Kemungkinan besar, di kehidupan pertama, Souda Hiromi meninggal terseret ombak tadi.


Kami memang berhasil menghindari takdir itu. Namun bukan berarti semua masalah telah selesai. Masih ada masalah besar yang membayangi kakak beradik Souda.


Kalau itu tidak diselesaikan, semua ini tidak akan berarti.


"...Lepaskan aku, Yumi."


"Tidak mau! Kau mau kembali ke laut lagi, kan?"


"...Aku tidak akan pergi."


Jawabannya terdengar penuh keraguan.


Jelas masih ada penyesalan yang tertinggal di hatinya.


"Pembohong! Kenapa kau keras kepala sekali! Apa memang kau mencintai orang itu sampai segitunya!? Orang seperti itu pasti bajingan! Dia sampai membuatmu melakukan hal seberbahaya ini—"


"Bukan begitu, Souda Yumi."


"...Eh?"


Sebenarnya aku tidak perlu ikut campur sejauh ini.


Namun aku sudah memutuskan.


Aku akan mengabulkan semua keinginan Souda Hiromi.

Aku akan menyelamatkannya sampai akhir.


"Memang benar Souda Hiromi bergantung pada legenda itu demi mendapatkan kekasih yang sesungguhnya. Dia ingin mendapatkan kekasih sungguhan, lalu akhirnya mengalahkanmu. ...Tapi itu bukan tujuan utamanya."


"Ishii-kun... jangan-jangan...."


Mungkin Hiromi sendiri tidak pernah menyangka aku bisa memahami sampai sejauh itu.


Namun aku mengerti.


Hanya aku yang bisa mengerti. Karena Souda Hiromi memiliki sisi yang sangat mirip denganku.


"Yang sebenarnya dia inginkan adalah agar kau dan kedua orang tuamu bisa akur kembali."


Itulah tujuan Hiromi yang sesungguhnya. Karena itulah dia mati-matian berusaha mengalahkan Souda Yumi.


Dia yakin, apa pun yang terjadi, dia harus menang.


"Aku... dan mereka? Kenapa harus begitu?"


Souda Yumi hanya bisa tercengang, tidak memahami maksud perkataanku. Namun Souda Hiromi berbeda.


Selama ini dia terus menahannya.


Namun kini dia sudah mencapai batasnya.


Air mata besar mulai mengalir tanpa henti dari kedua matanya.


"Kenapa... kenapa kau bisa tahu sampai sejauh itu.... Padahal aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun...."


"Hiromi?"


"Aku sangat menyayangimu, Yumi.... Tapi, aku juga sangat menyayangi Ayah dan Ibu.... Hanya saja, Yumi membenci Ayah dan Ibu, dan selalu berpura-pura tersenyum.... Aku tidak suka melihat itu...."


"…………!"


—"Mereka selalu memujiku. Mereka hanya melihatku, dan tidak pernah melihat Hiromi yang sangat berharga bagiku. Mereka selalu menyakiti Hiromi.... Aku tidak akan pernah memaafkan mereka...."


Itulah kata-kata yang diucapkan Souda Yumi kepadaku kemarin.


Souda Yumi sangat menyayangi Souda Hiromi. Tapi, hanya Hiromi. Ia sangat bergantung pada Hiromi, dan tak akan pernah memaafkan siapa pun yang menyakiti Hiromi.


Akibatnya, hubungannya dengan kedua orang tua mereka mungkin memang tidak pernah berjalan baik.


—"Yah, kalau mau punya pacar, coba lihat sekelilingmu sedikit. Yumi terlalu tidak memperhatikan orang lain."


—"Aku cuma berharap kau mau sedikit lebih memperhatikan orang-orang di sekitarmu."


Souda Hiromi tahu bahwa Souda Yumi terlalu bergantung padanya. Karena itu, ia berusaha mencari pacar agar perasaan ketergantungan itu sedikit demi sedikit berkurang.


Memang ada keinginan agar dirinya sendiri bisa bahagia.

Namun, tujuan utamanya bukan itu.


Ia ingin membebaskan Yumi dari ketergantungan itu dan memperbaiki hubungan Yumi dengan kedua orang tua mereka.


—"Hei, Yumi. Oleh-oleh seperti camilan bisa dibeli di tempat lain, kan? Untuk Ayah dan Ibu, lebih baik kita belikan yang lain, ya?"


—"Memangnya mau beli oleh-oleh? Kurasa mereka tidak membutuhkannya."


—"Selagi ada kesempatan, ayo kita beli. Mereka pasti senang, kok."


—"Kalau Hiromi bilang begitu...."


Demi kebahagiaannya sendiri, sekaligus demi kebahagiaan keluarganya....


Bagaimana mungkin aku tidak membantunya?


"Kalau aku bisa mengalahkan Yumi dan Yumi berhenti terus mengkhawatirkanku, kupikir Yumi akan akur lagi dengan Ayah dan Ibu.... Soalnya, aku ingin kita semua bisa akur...."


"Kenapa Hiromi harus melakukan semua itu? Kau tahu, kan, apa yang mereka lakukan padamu? Mereka selalu memujiku, membandingkanku denganmu, dan terus menyakitimu!"


"Aku tahu.... Tapi mereka tetap Ayah dan Ibu kita.... Ayah dan Ibu yang cuma kita punya satu-satunya...."


Sambil mengusap air mata yang mengalir, Hiromi mati-matian memohon kepada Yumi.


"Tapi mereka tidak pernah melihatmu. Aku tahu, lho? Berkali-kali mereka bertanya padaku, 'Menurutmu Yumi bakal senang kalau kami melakukan apa?' Dengan begitu mereka terus menyakitimu...."


"Tapi mereka juga punya sisi baik, kan? Mereka berusaha memperbaiki hubungan denganmu, Yumi. Mereka sengaja mengambil cuti, menghabiskan banyak uang, lalu mengajak kita liburan, kan?"


"…………"


"Jangan cuma lihat sisi buruk mereka.... Coba lihat sisi baik mereka juga...."


Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang punya sisi baik dan sisi buruk. Namun, Hiromi adalah tipe orang yang lebih memilih melihat "sisi baik" daripada "sisi buruk."


Tak peduli seberapa diabaikan dirinya oleh orang-orang di sekitarnya, ia sanggup menutupi penderitaannya sendiri demi orang-orang yang disayanginya....


"Tapi tetap saja tidak ada yang memilihku. Bahkan setelah Tsukiyama berpura-pura menjadi pacarku, Teru Teru tetap tidak memilihku.... Kalau begini, tidak ada yang akan berubah...."


Benar. Itulah masalah terbesar kali ini.


Tujuan Hiromi adalah memperbaiki hubungan Yumi dengan keluarganya. Untuk itu, rasa ketergantungan Yumi terhadap adiknya harus berkurang.


"Ishii-san, mulai dari sini...."


"…………"


Iba bertanya kepadaku, tetapi aku tidak menjawab.


Masalah yang sesungguhnya sudah berhasil kusampaikan kepada Yumi.


Namun, mulai dari sini....


"Aku ingin benar-benar setara dengan Yumi.... Aku ingin kau akur lagi dengan Ayah dan Ibu...."


"Hiromi, tidak apa-apa! Aku akan akur dengan mereka! Kalau itu yang kau inginkan, aku akan melakukan apa pun...."


"Bukan itu! Bukan itu maksudku!"


Mungkin tanpa sadar, karena selalu unggul dalam segala hal, Yumi memandang adiknya dari posisi yang lebih tinggi.


"Karena Hiromi hanya punya aku."


Pikiran seperti itu tidak mungkin dimiliki terhadap seseorang yang benar-benar dianggap setara.


"Hiks.... Yumi bodoh! Kenapa kau tidak mengerti juga!"


"Walaupun kau bilang begitu, aku tetap tidak mengerti! Soalnya, Hiromi membutuhkan aku...."


Tanpa kusadari, Yumi pun ikut menangis, dan situasi benar-benar tidak terkendali.


Mereka akhirnya bisa saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Namun, kalau terus begini, tidak ada yang akan terselesaikan.


Dan... bukan berarti tidak ada yang bisa kulakukan.


"Eh... Iba...."


"Ada... apa?"


Hanya dengan membayangkannya saja, rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku.


Apa yang hendak kulakukan sekarang adalah tindakan yang resikonya sangat besar. Lagi pula, tidak ada jaminan akan berhasil.


Kalau gagal, bukan cuma Hiromi dan Yumi yang akan memusuhiku dengan jelas, bahkan hubunganku dengan Hidaka pun bisa memburuk.


Aku tahu betul, tidak ada alasan bagiku menanggung resiko sebesar itu demi Hiromi, yang bahkan tidak terlalu dekat denganku.


Tetap diam adalah pilihan yang benar.


Bagaimanapun juga, kau cuma tokoh sampingan.


Suara dalam diriku sendiri terus mengatakan itu.


Aku juga tahu. 


Tapi Hiromi bukan berjuang demi dirinya sendiri.

Ia berjuang demi keluarganya.


"Kalau terjadi sesuatu nanti, lindungi aku mati-matian."


"Hah? Ishii-san, apa yang...."


Setelah mengambil langkah pengamanan sekadarnya, aku melangkah mendekati si kembar.


Mereka masih terus menangis, terombang-ambing dalam masalah yang belum menemukan jalan keluar.


Baiklah. Aku harus melakukannya.


Sudah sejauh ini, tidak ada pilihan selain maju!


"Souda Hiromi itu cantik, ya."


Saat itu juga, waktu seolah berhenti.


Yah, sebenarnya tidak berhenti, tapi rasanya memang begitu.


Saat melirik ke arah Iba, ia menatapku dengan sorot mata yang seolah berkata, "Apa sebenarnya yang baru saja kau katakan?"


"Hah?"


Tatapan dingin yang menusuk langsung diarahkan oleh kedua saudari itu kepadaku.


Aku sendiri sadar kalau yang kukatakan barusan benar-benar tidak masuk akal, jadi kumohon jangan tatap aku seperti itu.


"Hiromi bilang ia ingin menjadi setara dengan Yumi.... Tapi menurutku, itu salah."


"Benar! Hiromi juga punya banyak kelebihan. Dari awal kami memang setara!"


"Tidak. Justru Souda Yumi yang berada di bawah."


"...?"


Menakutkan. Benar-benar menakutkan....suara rendah yang seharusnya tidak pernah keluar dari seorang gadis terdengar dari mulut Yumi.


"Hei, Ishii Kazuki. Maksudmu apa aku lebih rendah daripada Hiromi?"


Syukurlah sedang hujan. Kalau sekarang aku sampai mengompol sedikit pun, mungkin hujan akan menyamarkannya.


Seseram itu Yumi sekarang.


Serius, menakutkan sekali.


"Soalnya, menurutku Hiromi lebih cantik daripada Yumi."


"…………!"


Hiromi hanya ingin menang atas Yumi dalam satu hal saja.


Kalau begitu, aku tinggal memberikan "satu hal" itu kepadanya.


"Hei, Ishii-kun. Kau tidak perlu memaksakan diri demi aku...."


"Benar. Jangan berbohong seperti itu lalu malah menyakiti Hiromi. Tentu saja... itu bohong, kan?"


Syukurlah aku memiliki ingatan kehidupan pertamaku.


Kalau ini pengalaman pertamaku, pasti aku sudah langsung menarik ucapanku dan buru-buru membenarkan perkataan Yumi.


Tapi dengarkan baik-baik.


Ini sudah kehidupan keduaku.


Jangan remehkan aku, sialan!


"Aku tidak sedang memaksakan diri, dan aku juga tidak berbohong. Jangan asal menyimpulkan."


Aku sendiri tidak tahu apakah kata-kataku bisa membuat Hiromi lebih percaya diri. Namun, kata-kataku sama sekali bukan basa-basi ataupun kebohongan.


Aku benar-benar percaya bahwa Yumi masih kalah dibanding Hiromi. Karena itulah aku bisa mengatakannya.


"Kalau soal wajah, ya kurang lebih sama. Tapi dari segi kepribadian, aku jauh lebih suka Hiromi. Sifat cerobohnya membuatku merasa ingin menjaganya. Lalu, seperti tadi, dia juga tidak mudah percaya kepada orang lain, dan aku suka itu. Tapi alasan terbesar adalah perasaannya terhadap keluarganya. Aku sangat menyukai orang yang bisa berjuang demi keluarganya. Karena itu, kalau Hiromi sedang kesulitan, aku ingin membantunya."


"Hyaa! M-makasih...."


Wajah Hiromi langsung memerah.


Dengan malu-malu, ia mengalihkan pandangannya dariku.


Kalau perasaanku sudah tersampaikan, itu sudah cukup....


Tapi, setelah ini bagaimana?


Aku hampir tidak punya rencana. Aku cuma mengatakan fakta apa adanya, tanpa memikirkan langkah selanjutnya.


"Seperti yang kuduga dari Kazuki! Sebenarnya aku juga berpikiran sama!"


Lalu terdengar suara mengecewakan dari samping.


Tsukiyama.


"Memang, kan? Dibanding Yumi, jelas Hiromi! Yumi itu kelihatannya seperti, 'Aku bisa melakukan apa saja,' jadi rasanya merepotkan. Tapi Hiromi selalu berusaha mati-matian, jadi aku juga jadi ingin ikut berjuang bersamanya!"


Itu bantuan yang sangat berharga. Kalau bukan cuma aku, tapi Tsukiyama juga berkata begitu, maka—


"Syukurlah, Kazuki! Ternyata selera perempuanmu tidak separah yang kukira!"


Kapal penyelamat berlayar.


Lima detik kemudian langsung menabrak gunung es.


Kenapa orang ini tidak pernah bisa berbicara tanpa menambahkan embel-embel yang tidak perlu?


"H-heee...."


Baru sekarang aku tahu kalau wajah manusia ternyata memiliki pembuluh darah sebanyak itu.


Ekspresi Yumi berubah seperti wajah seseorang yang sedang mati-matian menahan amarah.


"Padahal semua cowok lain selalu bilang mereka lebih memilih Yumi. Setelah menyatakan perasaan pada Yumi, mereka selalu bilang begitu padaku...."


"Memangnya aku peduli dengan cowok lain? Setidaknya menurutku kau yang lebih cantik. Dan kalau aku harus menyatakan perasaan kepada salah satu dari kalian, orang pertama yang akan kutembak adalah kau."


Yumi? Begitu melihatnya saja, pilihanku cuma satu: kabur.


"Benar! Jangan samakan kami dengan cowok-cowok biasa itu, dong! Sebagai informasi, aku ini putra tunggal presiden direktur perusahaan raksasa Tsukitate Manufacturing! Ditambah lagi, aku tampan dan jago olahraga! Seorang pria sempurna sepertiku dan sahabatku ini sama-sama bilang kalau kau yang lebih cantik."


"Itu... kau memuji dirimu sendiri begitu saja?"


Sambil tersenyum kecil, Hiromi berkata begitu.


"Tentu saja! Soalnya aku memang sangat menyukai diriku sendiri!"


Bahan untuk menyangkalnya memang hampir tidak ada. Tapi, ada satu hal yang perlu kutambahkan.


Meski memiliki semua syarat yang begitu sempurna, julukan Tsukiyama di sekolah justru "Pangeran Mengecewakan."


Aneh, bukan?


"Yah, aku memang tidak sehebat Tsukiyama, tapi... entahlah. Aku tidak tahu apakah ini bisa membuatmu lebih percaya diri atau tidak, tapi... setidaknya ada dua pria yang rela mempertaruhkan nyawa demi dirimu...."


"Ah...."


"Aku rasa aku sudah membuktikannya bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan tindakan.... Apa masih belum tersampaikan?"


"Bukan.... Sudah.... Sudah benar-benar tersampaikan...."


Aku memang tidak berniat membuatnya berutang budi. Tapi kalau ini bisa menjadi sumber kepercayaan diri Souda Hiromi, itu sudah cukup.


Kemungkinan besar, aku dan Tsukiyama kini sudah dianggap musuh oleh Souda Yumi. Tapi kami sudah siap menerima itu.


Tsukiyama melanjutkan.


"Seratus pria yang menyukai Yumi pun masih kalah jauh dibanding kami! Yang lebih kasihan justru Yumi. Soalnya yang menyukainya cuma pria-pria biasa!"


"...Dasar pria-pria menjijikkan yang mengecewakan....!"


Ini sudah bukan sekadar dianggap musuh lagi. Sepertinya kami akan dianggap musuh bebuyutan.


Dengan gerakan pelan bagaikan hantu dalam film horor, Souda Yumi berjalan mendekati Tsukiyama.


Datang. Pasti datang.


"Fu... fufufu.... Memang benar-benar mengecewakan ya kamu. Sampai tidak bisa melihat pesonaku."


"Aku tidak tertarik dengan pesona perempuan yang bahkan tidak mau melihat kebaikan orang lain."


"Guh! Grrr....!"


Suara gemeretak giginya benar-benar mengerikan.


"Oh? Kalau begitu coba jelaskan padaku apa kelebihanmu. Setelah itu aku akan menjelaskan kelebihanku—"


"Hah? Kamu suka sama aku?"


Memang hanya kata "hebat" yang pantas untuknya.... 


Bagaimana bisa dia begitu akurat menginjak ranjau setiap saat?


"A-Aku tidak mungkin suka sama kamu! Tipeku itu pria yang lembut dan penuh pengertian—"


"Aku tahu. Tidak usah dilanjutkan."


"Biarkan aku menyelesaikannya!"


Tak kusangka, setelah Ushimaki, sekarang Souda Yumi pun kena ditolak oleh Tsukiyama....


Padahal dua-duanya bahkan belum sempat menyatakan perasaan. Kenapa bisa jadi begini?


"Sebagai informasi, aku juga punya banyak kelebihan dibanding Hiromi! Nilai pelajaran maupun olahraga, semuanya aku lebih unggul! Padahal kalian bahkan tidak tahu itu...."


"Yumi, yang penting itu bukan nilai maupun olahraga.... Melainkan cara pandang terhadap hidup. Karena itulah aku tidak bisa membalas perasaanmu. Maafkan aku."


"Yang perlu kamu minta maaf itu hal lain!!"


Sebenarnya aku sudah menduganya....


Ternyata harga diri Souda Yumi memang tinggi. Kalau tidak begitu, mana mungkin dia bisa berkata, "Hiromi hanya punya aku."


Dan kini harga dirinya telah kami berdua, aku dan Tsukiyama, hancurkan berkeping-keping.


"Memangnya kalau kehilangan kalian berdua kenapa! Masih banyak pria hebat lain yang pasti memilihku!"


"Tapi aku dan Kazuki tidak."


"Selain kalian berdua juga masih banyak pria hebat!"


"Kalau menurutmu bagaimana, Kazuki?"


"Perempuan seseram ini? Mustahil."


Sudahlah. Bagaimanapun juga Tsukiyama pasti akan terus memperparah keadaan. Kalau begitu, sekalian saja kukatakan semua yang ingin kukatakan.


Sekarang setelah aku tahu bahwa sosok yang selama ini kutakuti sebenarnya adalah Souda Yumi, hasil seperti ini memang sudah sewajarnya.


"Guh!"


Entah karena ucapanku memang mengenai sasaran, Souda Yumi menggertakkan giginya sekuat tenaga.


Mungkin ini pertama kalinya semua orang melihatnya sesal seperti ini.


Akhirnya, Souda Hiromi tak mampu menahan diri lagi dan mulai tertawa.


"Ahaha.... Ahahaha! Kalian berdua hebat sekali! Bisa membuat Yumi semarah itu!"


Dengan senyum seolah beban beratnya telah terlepas, Souda Hiromi berkata demikian.


Setelah puas tertawa, ia memasang wajah penuh kemenangan.


"Yumi, semangat ya."


"~~~~~~!! Hiromi! Semua ini gara-gara kamu!"


"Eeh? Tapi mau bagaimana lagi? Ishii-kun sama Tsukiyama-kun ternyata lebih suka aku, kan? Kalau memang tidak bisa, ya harus menyerah dong."


"Aku memang dari awal tidak mengharapkan apa-apa!"


Syukurlah....


Benar-benar syukurlah semuanya berjalan baik.


Apakah kata-kataku bisa membuat Souda Hiromi lebih percaya diri sebenarnya hanyalah sebuah pertaruhan. Tapi berkat Tsukiyama ikut membantu, akhirnya kami berhasil memberinya kepercayaan diri....


"Ini... mungkin saja... benar-benar mungkin berhasil...."


Iba bergumam pelan.


"Nih~ Ishii-kun, Tsukiyama-kun. Aku lebih imut daripada Yumi, kan~?"


"Ya. Benar sekali!"


"Yah... memang begitu."


Souda Hiromi menatap kami dengan mata berbinar sambil tersenyum puas. Kalau diperhatikan baik-baik, pipinya pun memerah.


"Hehe! Yumi, dengar itu? Mereka berdua bilang aku yang paling imut!"


""Kalau yang itu, tidak.""


"Hah?"


Saat itu juga, suaraku dan Tsukiyama bertumpuk dengan sempurna hingga Souda Hiromi membeku.


Astaga....


Memang kami mengakui dia imut. Tapi sejak kapan dia jadi besar kepala begini?


Yang paling imut? Jangan bercanda.


"Yang paling imut tentu saja Yuzu-sama. Menganggap dirimu nomor satu itu terlalu sombong. Jangan besar kepala."


"Kau memang mengerti, Tsukiyama. Tapi bagiku, Yuzu sudah melampaui konsep 'nomor satu' dan masuk ke aula kehormatan."


"Oh! Jadi masih bisa begitu ya! Kalau begitu gelar nomor satu diberikan ke Hiromi?"


"Jangan bodoh. Masih ada Hidaka. Yuzu masuk aula kehormatan. Hidaka nomor satu. Kalau Souda Hiromi... yah... paling banter peringkatnya sedikit di luar lima besar."


"Kalau begitu, karena kasihan, biar jadi nomor satuku saja. Hiromi, memang kau gagal jadi nomor satu bagi Kazuki, tapi setidaknya kau bisa jadi nomor satuku. Puaslah dengan itu."


"............"


Entah kenapa Souda Hiromi menatapku dengan wajah yang sangat kesal. Tapi soal ini aku tidak akan mengalah.


Memang benar kau gadis yang menarik.


Sayangnya, aku terlalu beruntung. Jangan kira semudah itu bisa masuk lima besar. Sudah ada Yuzu yang masuk aula kehormatan, lalu Hidaka dan Ibu, ditambah Iba—


"Ternyata berharap pada kalian adalah kebodohanku.... Benar-benar mengecewakan...."


Hm? Kenapa Iba malah terlihat kecewa?


Ah, mungkin dia mengira Souda Hiromi sedang sedih. Kalau begitu, sebaiknya kuhibur saja.


"Tenanglah, Souda Hiromi. Kau memang imut. Tapi dunia ini luas. Ada jurang yang tidak akan pernah bisa dijembatani antara orang biasa dan malaikat."


"Ya sudah deh."


Entah kenapa Souda Hiromi kembali tenang. Ia memungut payung yang tadi dijatuhkan Souda Yumi lalu membukanya agar dirinya dan Yumi tidak kehujanan.


Hei, hei. Kami bertiga masih basah kuyup, tahu.


Bukankah itu keterlaluan?


Iba menghampiri si kembar Souda.


"Untuk sementara, pakaian kalian berdua sudah basah. Bagaimana kalau ikut ke vila Ouji-kun? Di sana ada pemandian yang sangat besar, jadi kalian bisa beristirahat dengan nyaman."


"Benarkah? Makasih ya, Hime Hime!"


"Terima kasih, Iba-san. Ayo, Hiromi."


"Iya. Ayo, Yumi."


Begitulah, mereka berdua berjalan berdampingan di bawah satu payung, mengikuti Iba.


Entah kenapa kami malah ditinggalkan, jadi kami buru-buru mengejar mereka bertiga.


Saat itulah aku menyadarinya.


"Ah, tunggu sebentar, Souda Hiromi."


"Apa?"


Tatapannya memang masih tajam, tapi tetap ada sesuatu yang harus kusampaikan.


"Coba lihat bahu kananmu."


"Hah? Memangnya ada ap—... Ah!"


Aku tidak tahu apakah ini benar-benar sesuai legenda.


Mungkin saja bunga itu hanya terbawa ombak. Atau mungkin diterbangkan angin. Tapi yang pasti, di bahu Souda Hiromi memang ada....


"Bunga!"


—"Jika pada malam tanggal tujuh Agustus kau berhasil menemukan bunga yang mekar di pantai, kau akan bisa bersama orang yang paling kau cintai selamanya."


Aku tidak tahu dengan siapa sebenarnya Souda Hiromi ingin terus bersama.


Tapi... yah....


Semoga saja keinginannya benar-benar terkabul.


◇ ◇ ◇


Setelah kembali ke vila Tsukiyama, hal pertama yang kami lakukan adalah mengeringkan tubuh.


Katanya Iba sudah menjelaskan secara singkat kepada Hidaka dan yang lain mengenai kejadian tadi. Meski begitu, aku tetap dimarahi habis-habisan. Terutama Yuzu yang menangis sambil memukul dadaku, sehingga aku hanya bisa memeluknya sambil meminta maaf.


Aku sempat melirik si kembar Souda seolah berkata, "Lihat, kan? Malaikat." Tapi mereka hanya menatapku dengan dingin.


Setelah itu, Ushimaki dan Hidaka juga memarahiku habis-habisan dan memperingatkanku agar jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi.


Anehnya, Tsukiyama sama sekali tidak dimarahi siapa pun.


Sungguh tidak adil.


Karena kami bertiga basah kuyup, akhirnya kami menuju kamar mandi.


Souda bersaudari dan Iba mandi lebih dulu, sementara kami bertiga menunggu sambil mengeringkan badan dengan handuk.


Setelah mereka selesai, giliran kami masuk.


Mungkin karena baru saja melewati begitu banyak masalah, rasanya ini adalah mandi paling nyaman sepanjang hidupku.


"Haa.... Aku keluar duluan ya. Kazuki, bagaimana?"


"Aku masih mau berendam sebentar. Kau duluan saja."


Ternyata mandi saat tubuh kelelahan memang senyaman ini.


Sebenarnya aku sudah berniat keluar, tapi karena rasanya begitu nikmat, aku jadi ingin menikmatinya sedikit lebih lama.


"Baiklah. Nanti kusiapkan minuman dingin."


"Makasih."


Setelah berkata begitu, Tsukiyama si six-pack keluar dari kamar mandi.


Aku sendirian memandangi langit-langit kamar mandi dengan linglung. Entah kenapa jadi mengantuk.


Tapi aku harus menahannya. Kalau sampai tertidur di sini jelas berbahaya.


"Yah... hasil akhirnya bagus juga...."


Souda Hiromi dan Souda Yumi.


Karena sama-sama saling menyayangi, mereka justru mengalami kesalahpahaman. Namun, untungnya penyimpangan itu berhasil kami luruskan.


Aku masih belum tahu apa yang akan terjadi saat mereka nanti bertemu Amada setelah pindah sekolah di semester dua.


Tapi setidaknya, hasilnya tidak akan sama seperti kehidupan pertamaku. Lagi pula, kali ini mereka akan pindah sekolah bersama.


Saat sedang memikirkan itu, terdengar suara pintu dibuka.


Dasar Tsukiyama.


Bukannya tadi sudah keluar?


Atau jangan-jangan dia berubah pikiran dan ingin berendam lagi—


"Sekarang saatnya diperlihatkan."


"Gyaaaaaaaaaa!!"


Jeritanku menenggelamkan suara datar itu.


Meski tubuh bagian bawahku sudah terendam, aku langsung menyelam sampai kepalaku ikut masuk ke air.


Lalu aku segera mengangkat kepala saja, memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, dan berteriak.


"A-Apa yang sedang kau lakukan!? Kenapa masuk ke kamar mandi...?!"


"Tenang. Aku memakai baju renang."


Kalimat itu memang benar. Tapi sekaligus juga salah.


Yang masuk bukan Tsukiyama. Melainkan Hidaka Mikoto yang mengenakan baju renang. Namun, itu bukan baju renang yang ia kenakan saat di pantai Okinawa.


Itu baju renang yang berbeda.


"Masalahnya justru ada di baju renang itu!"


V! V! V! Victory!


Dengan mengenakan baju renang berdesain luar biasa aneh seperti itu, gadis itu pun muncul di hadapanku.


"Kazupyon, ingatlah apa yang kita bicarakan beberapa waktu lalu..."


"Beberapa waktu lalu itu kapan!"


"Waktu perjalanan pulang setelah masalah Hitsujitani selesai."


Setelah masalah Hitsujitani selesai? Kalau tidak salah, waktu itu yang kami bicarakan adalah...


—"Pergi ke Okinawa sih boleh, tapi kamar kita tetap terpisah."


—"Baik. Ngomong-ngomong, Kazupyon lebih suka baju renang yang seksi atau yang anggun?"


—"...Yang anggun."


—"Baik. Aku akan membawa dua-duanya. Kalau kita sedang berdua saja, aku akan memakai yang seksi."


Benar... wanita ini memang pernah mengatakan itu...


Dia bilang akan memakai yang seksi saat kami hanya berdua. Tidak, ini sudah bukan sekadar soal seksi!


Benar-benar hanya bagian yang paling penting saja yang tertutup!


"Kazupyon, bagaimana?"


Sambil melangkah perlahan, Hidaka "Victory" terus mendekat.


Kalau berendam di air panas, darah akan tersebar ke seluruh tubuh. Cepatlah, air panas. Sebarkan darahku!


"Kalau tidak melihat dengan benar, aku akan masuk ke bak mandi, lho?"


"...Apa aku benar-benar boleh melihatnya?"


"Benar."


Begitu ya. Kalau begitu, mau bagaimana lagi.


Benar juga. Ini bukan kecelakaan yang membuat situasinya jadi begini. Hidaka sendiri yang datang kemari.


Kalau begitu, tidak melihatnya dengan benar justru akan menjadi tindakan yang tidak sopan.


Entah kenapa kepalaku terasa sedikit melayang karena air panas, tapi kurasa aku masih tenang.


Tidak apa-apa. Aku cuma akan melihat. Tidak akan ada masalah sama sekali──


"Kazu, ada apa... Miko-chaaaaan!! Kenapa pakaianmu seperti itu!?"


"Yuzu-chan, ini salah paham. Aku hanya sedang berusaha menciptakan fakta yang tak terbantahkan..."


"Itu sama sekali bukan kalimat yang bisa disalahpahami! Kazu, jangan sekali-kali melihat ke sini, ya!"


Tak lama kemudian, Hidaka "Victory" yang berhasil diamankan oleh Yuzu diseret keluar dari kamar mandi.


Namun, pemandangan itu sudah terpatri jelas di mataku.


Memang cuma sesaat, tapi aku sempat melihat sosok Hidaka Mikoto dengan penampilan yang luar biasa itu...


Hidup Okinawa!


【Souda Yumi】


Aku tidak bisa hidup tanpa Hiromi.


Aku baru menyadari hal itu setelah Hiromi menghilang...


Malam itu kami sedang makan di restoran hotel. Hiromi, yang entah kenapa makan lebih terburu-buru dari biasanya, berkata, "Aku balik ke kamar dulu, ya," lalu pergi.


Yang tertinggal hanya aku dan kedua orang tuaku. Dalam hati, aku sedikit kesal pada Hiromi.


Kenapa dia meninggalkanku sendirian bersama mereka? Padahal aku hanya ingin bersama Hiromi.


Aku sudah punya firasat buruk, dan ternyata benar. Begitu Hiromi pergi, kedua orang tuaku seolah memanfaatkan kesempatan itu untuk terus mengajakku bicara tanpa henti. Benar-benar menjengkelkan.


Sejujurnya, perjalanan ke Okinawa ini mungkin adalah perjalanan terburuk sepanjang hidupku.


Bukan cuma kedua orang tuaku yang terus mengganggu.


Ada satu orang yang jauh lebih mengganggu.


Pria bernama Amada Teruhito itu.


Sepertinya Hiromi sudah mengenalnya sejak lama. Kalau hanya sebatas kenalan, mungkin tidak masalah.


Masalahnya, Hiromi jatuh cinta pada Amada Teruhito.


Kalau saja Amada Teruhito pria yang baik, mungkin aku tidak akan membencinya sampai sejauh ini.


Tapi kenyataannya berbeda.


Tatapannya saat memandang Hiromi seolah sedang menilai barang dagangan. Lalu setelah itu, dia memandangku dengan tatapan yang hampir sama. Rasanya menjijikkan.


Hiromi tidak boleh berhubungan dengan pria seperti itu. Pasti ada pria yang jauh lebih baik.


Aku sudah berusaha mati-matian membujuk Hiromi, tapi dia tidak mau mendengarkan. Seolah sedang terkena hipnosis, Hiromi hanya terus berkata, "Aku cuma punya Teru Teru."


Sebenarnya pria itu sudah melakukan apa pada Hiromiku?


Aku tidak akan pernah memaafkannya.


Parahnya lagi, selama perjalanan ke Okinawa ini, Amada Teruhito akan berpura-pura menjadi pacar Hiromi.


Hiromi memang bilang, "Aku ingin pamer ke orang tuaku kalau aku punya pacar."


Tapi tujuan sebenarnya bukan itu. Dia hanya ingin punya alasan untuk terus bersama Amada Teruhito.


Aku yang ingin selalu bersama Hiromi.


Hiromi yang seharusnya tidak bisa hidup tanpaku...


Aku tidak akan membiarkan mereka berdua sendirian.


Aku tidak akan menyerahkan Hiromi kepada pria seperti itu.


Aku benci.


Aku benci.


Aku sangat membencinya.


Kebencianku pada Amada Teruhito begitu besar.


Namun pada hari itu...aku menemukan seseorang yang bahkan lebih kubenci daripada Amada Teruhito.


Karena kedua orang tuaku terus mengajakku bicara, aku terlambat kembali ke kamar tempat Hiromi berada.


Perasaan kesalku masih ada, tapi kupikir aku bisa menghilangkannya dengan mengobrol bersama Hiromi.


Dengan pikiran itu aku membuka pintu kamar.


Namun Hiromi tidak ada di sana.


Dia pergi ke mana?


Saat sedang berpikir begitu, ponselku bergetar.


"Hei, aku mendapat pesan dari Hiromi..."


Yang menghubungiku adalah Amada Teruhito, orang yang paling kubenci.


Katanya, "Kalau mau berpura-pura jadi pacar, sebaiknya kita saling bertukar kontak," lalu dia meminta nomor kami berdua.


Membiarkan pria seperti dia mengetahui nomor teleponku membuatku muak. Tapi kali ini aku justru bersyukur.


Karena mungkin saja Hiromi sedang menemui Amada.


"Memangnya isi pesannya apa?"


Meski kesal, aku tetap bertanya.


"Eh... katanya, kalau mau berpura-pura jadi pasangan, akan lebih bagus kalau kekuatan legenda itu juga ikut membantu..."


"Hah?"


Kepalaku langsung kosong mendengar perkataannya.


Legenda yang tanpa sengaja kudengar pada hari pertama perjalanan.


—"Kalau pada malam tanggal tujuh Agustus kau menemukan bunga yang mekar di pantai, kau akan bisa terus bersama orang yang paling kau cintai selamanya."


Saat kulihat ke luar, hujan turun begitu deras hingga pemandangan sama sekali tidak terlihat.


"Hei... jangan-jangan Hiromi..."


Bahkan sebelum Amada menyelesaikan ucapannya, aku sudah berlari keluar kamar.


Tidak mungkin.


Tidak mungkin begitu.


Hiromi tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Sambil terus meyakinkan diriku sendiri, aku berlari secepat mungkin menuju pantai.


"Hiromi! Hiiiromiiiiii!!"


Teriakanku tenggelam oleh suara hujan dan deburan ombak.


Hiromi pasti ada di suatu tempat.


Aku pasti akan menemukannya. Kalau begitu, dia pasti akan mengatakan seperti biasanya, dengan wajah yang tampak kesal.


—"Tidak usah ikut campur."


Aku yakin dia akan berkata begitu.


Namun...saat aku terus berlari mati-matian, kakiku menendang sesuatu.


Sepasang sepatu.


Dan sebuah ponsel yang tertutup pasir serta air laut.


Aku langsung tahu itu milik siapa.


Mustahil aku salah mengenalinya. Casing ponsel yang kubujuk agar kami membeli sepasang. Sepatu yang sama denganku, hanya berbeda warna.


Keduanya milik Hiromi.


Tapi...Hiromi tidak ada.


Tidak ada di mana pun.


"A... aaah... AAAAAAAAAAH!!"


Hei, Hiromi.


Sebenarnya kau ada di sini, kan?


Kau cuma sedang ingin membuatku terkejut, kan?


Sambil memeluk harapan yang mustahil menjadi kenyataan, aku terus berteriak. Lalu, seorang pria muncul dari belakangku.


"Maaf... ini salahku... Kalau saja aku lebih memperhatikan Hiromi..."


Kebencian meluap dari seluruh tubuhku.


Benar. Kalau pria ini tidak ada, Hiromi pasti...!


"Hiromi pernah bilang... ‘Aku ingin sekali mengalahkan Yumi. Kalau aku bisa mandiri dan lepas dari Yumi, Yumi pasti bisa akur lagi dengan semua orang.’"


"Hah?"


Bersamaan dengan kata-kata itu...Kebencianku berhenti.


Ingin mengalahkanku?


Mandiri dariku?


Berarti... Hiromi melakukan semua itu demi aku...?


Aku tidak mengerti.


Aku tidak mengerti apa pun.


Tapi setelah mendengar kata-kata itu, ada satu hal yang akhirnya kupahami.


"...Aku... yang membunuh Hiromi?"


"Bukan! Ini cuma kecelakaan yang menyedihkan!"


Amada Teruhito memegang kedua bahuku sambil memohon dengan sungguh-sungguh.


"Jangan pernah memikul semua tanggung jawab ini! Mulai sekarang, hiduplah juga untuk bagian Hiromi!"


Seolah-olah dia sudah memastikan bahwa Hiromi telah mati. Tapi...memang begitulah kenyataannya.


Hiromi sudah mati. Hiromi sudah tidak ada.


...Benarkah?


Benarkah Hiromi sudah tidak ada?


Tidak.


Yang menghilang bukan Hiromi.


Yang menghilang adalah...


...Yumi.


"Fu... fufufu... Apa yang kau bicarakan, Teru Teru?"


"...Eh?"


Benar. Hiromi tidak menghilang.


Hiromi ada di sini. Bagaimanapun juga, kami adalah saudara kembar. Kalau tentang Hiromi, aku tahu segalanya.


"Teru Teru, terima kasih sudah mau berpura-pura menjadi pacarku! Nanti akan kubalas dengan hadiah yang besar!"


"Bukan... kau..."


"Aku Souda Hiromi."


Yumi yang telah membunuh Hiromi tidak lagi diperlukan.


Yumi boleh mati. Dengan begitu...Hiromi bisa tetap hidup.


Tidak apa-apa, Teru Teru.


Aku...Hiromi… akan membuatmu, pria yang dicintai Hiromi, menjadi orang yang paling bahagia.


Apa pun akan kulakukan. Aku akan membuatmu bahagia, sejauh apa pun itu.


"...Begitu ya. Ya, aku mengerti... Mulai sekarang juga, senang bekerja sama denganmu."


"Iya! Senang bekerja sama, Teru Teru!"


Aku tidak akan pernah melupakan senyum Amada Teruhito yang begitu ganjil saat itu.


Tapi tidak apa-apa. Tidak ada lagi yang penting. Karena aku sudah memutuskan apa yang harus kulakukan.


Aku akan membuat Amada Teruhito sebahagia mungkin.


Aku akan mewujudkan harapan Hiromi.


Dan setelah semuanya selesai.....aku juga akan pergi menemui Yumi. Karena Yumi itu kesepian.


Aku tidak akan pernah membiarkannya sendirian…


◆ ◆ ◆


Pagi hari, saat aku terbangun di atas ranjang, Hiromi sedang tertidur di sampingku dengan napas yang teratur.


Rasanya aku baru saja bermimpi buruk, tetapi aku tidak ingat isi mimpinya.


Yah, memang begitulah mimpi. Aku pun membuangnya begitu saja dari pikiranku.


"Mm... mmm..."


Karena kami berdua tidur di satu dari dua ranjang yang tersedia, tempatnya terasa agak sempit. Tapi justru kesempitan itu terasa nyaman.


Saat aku memeluk Hiromi yang masih tertidur, dia mengeluarkan suara seperti merasa sedikit terganggu.


Hiromi membuka matanya.


"Selamat pagi, Hiromi."


Entah kenapa, air mataku mengalir. Padahal wajar saja kami tidur bersama. Namun melihat Hiromi benar-benar ada di sini terasa begitu istimewa, hingga tanpa sadar aku memeluknya sekuat tenaga.


"...Yumi, sesak."


"Hehe... tahan saja."


Setelah bangun dari ranjang dan bersiap-siap, Hiromi berkata,


"Yang terjadi kemarin, jangan bilang ke Papa sama Mama ya."


"Kemarin juga kita berhasil menyembunyikannya, kan?"


Kami memang tidak menceritakan kejadian semalam kepada mereka.


Sepertinya mereka tahu kami sempat keluar dari hotel, jadi mereka bertanya kami pergi ke mana. Kami hanya menjawab, "Kami pergi menemui teman yang baru kami kenal."


Dan mereka langsung menerimanya. Kami tidak dimarahi.


Tidak... mungkin bukan karena mereka tidak ingin marah, melainkan karena mereka tidak berani.


Karena mereka takut hubungan mereka denganku akan semakin memburuk....mungkin itu juga alasan mereka memesan dua kamar untuk perjalanan kali ini, bukannya satu.


"...Ada sisi baik dan sisi buruk, ya...."


Tiba-tiba kata-kata Hiromi kemarin terlintas di kepalaku.


Selama ini mereka selalu mencurahkan kasih sayang kepadaku, sementara kepada Hiromi jauh lebih sedikit.


Tapi itu hanya sudut pandangku.


Dari sudut pandang Hiromi, mungkin dia juga menerima kasih sayang dengan caranya sendiri.


Hanya karena kami anak kembar, bukan berarti semuanya harus sama persis. Hal yang sesederhana itu justru luput dari pandanganku.


Tapi sekarang aku berbeda.


Karena seseorang sudah mengajarkannya kepadaku....


"Yumi, sudah selesai siap-siap?"


Tanpa kusadari Hiromi sudah selesai bersiap dan bertanya padaku.


"Belum. Kamu duluan saja."


"Eh!?"


Hehe. Hiromi benar-benar terkejut.


Ya juga sih.


Biasanya aku selalu berkata, "Tunggu sampai aku selesai."


Tapi bukankah itu yang kamu inginkan? Bahwa aku adalah diriku sendiri, dan Hiromi adalah dirinya sendiri.


"Nggak apa-apa. Aku tunggu...."


Dengan wajah sedikit malu-malu, Hiromi duduk manis di tepi ranjang.


Setelah aku selesai bersiap, kami pun pergi ke restoran untuk sarapan.


Karena sarapannya prasmanan, restoran pagi itu cukup ramai. Namun meja tempat kami duduk justru sangat sunyi, hampir tidak ada percakapan.


Dua orang yang duduk di depanku hanya menundukkan kepala dengan canggung sambil diam-diam menyantap makanan.


Dulu, saat masih kecil, mereka terlihat begitu besar.


Aku menganggap mereka sempurna, dan semua yang mereka lakukan pasti benar. Tapi sekarang berbeda.


Mereka terlihat sangat... kecil. Dan anehnya, itu membuat mereka tampak sedikit menggemaskan.


—"Aku tidak tertarik pada perempuan yang bahkan tidak mau memahami kebaikan orang lain."


Perkataan orang itu kembali terlintas di benakku.


Kemarin dia memang mengatakan banyak hal yang mengejutkan.


Tapi yang paling membekas adalah kalimat itu.


Aku memang tidak pernah mencoba memahami kelebihan orang lain. Aku hanya memaksakan nilai-nilaiku sendiri.


Aku seenaknya mengambil kesimpulan, seenaknya menyerah, dan terus bergantung pada Hiromi.


Tapi... memang benar....


Seharusnya tidak seperti itu....


Aku juga punya kekurangan. Hiromi juga punya kekurangan.


Karena itu....


"Hei...."


Saat aku membuka suara, mereka berdua tampak terkejut.


Tidak, bukan hanya mereka. 


Hiromi pun membelalakkan matanya.


Aku memang belum bisa memaafkan semuanya.

Aku juga belum bisa menerima semuanya.


Meski begitu....


"Kurasa perjalanan berikutnya cukup satu kamar saja."


Sedikit demi sedikit. Mari kita saling mendekat sedikit demi sedikit. Karena kami adalah keluarga. Karena kalian adalah satu-satunya Papa dan Mama yang kami miliki.


"Aku setuju! Menurutku perjalanan berikutnya juga cukup satu kamar!"


Begitu Hiromi berkata dengan penuh semangat, Papa dan Mama pun tersenyum.


"Kalau begitu, nanti kita pesan satu kamar saja. Perjalanan berikutnya kita ke mana? Yumi dan Hiromi ingin pergi ke mana?"


Papa bahkan mengusulkan agar seminggu lagi kami pergi liburan lagi, tetapi Mama langsung memarahinya karena kami sebentar lagi harus bersiap pindah rumah.


Melihat mereka seperti itu, Hiromi tertawa.


Aku ikut tertawa.


Papa dan Mama juga tertawa.


Sudah lama sekali....


Entah sejak kapan terakhir kali suasana sehangat ini terasa begitu nyaman.


Ah....Ternyata hal sesederhana ini saja dulu tidak bisa kulakukan. Selama ini aku benar-benar penuh dengan kesalahan.


Tapi sekarang aku berbeda.


Karena seseorang telah menunjukkan kesalahanku.


Karena itu, sebagai balasannya....


Aku juga harus meluruskan kesalahan orang itu.


Dia bilang pesonaku kalah dibanding Hiromi?


Mana mungkin begitu.


Akan kutunjukkan padamu. Aku akan mengajarkan pesonaku sampai tuntas, membuat hati dan tubuhmu tak bisa hidup tanpaku.


Jadi, nantikan saja.


"Hei, Yumi! Setelah perjalanan ini selesai nanti... Em!"


"Ada apa, Hiromi?"


"I-Itu... Yumi. Wajahmu kok kelihatan menyeramkan...."


"Hehe. Kamu cuma salah lihat."


Akan kukoreksi....


Akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi, akan kukoreksi.


"Aku tidak sabar ingin segera bertemu... dengan orang itu."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close