NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V4 Chapter 3

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 3

Seorang heroine baru memiliki nilai jika hidup demi sang tokoh utama

Bagi diriku, Souda Hiromi adalah sosok yang melambangkan rasa takut.


Dia mengabdi sepenuhnya kepada Amada Teruhito dan memiliki rasa posesif yang sangat kuat.


Karena itu, dia membenci siapa pun yang berhubungan dengan Amada selain dirinya sendiri, lalu menyerang mereka.


Dalam kehidupan pertamaku, alasan hubunganku dengan Amada mulai renggang sejak semester dua jelas karena Souda Hiromi. Padahal Amada dulu yang mengajakku bicara, tetapi dari tempat yang agak jauh, dia selalu menatapku dengan wajah mengerikan. Saat Amada lengah, dia akan mendekatiku dan mengancam,


"Bisakah kau berhenti membuang waktu berharga milik Teru Teru?"


Karena takut pada Souda Hiromi, aku memilih menjauh dari Amada.


Sebagai karakter figuran saat itu, keputusan itu adalah hal yang wajar.


Tentu saja, ada beberapa orang yang diizinkan Souda untuk tetap berhubungan dengan Amada.


Tsukiyama, sahabatnya, para heroine lainnya, dan Hidaka Mikoto.


Sejak pertama kali pindah sekolah, Souda sudah memperlihatkan sisi mengerikannya. Namun setelah aku dijatuhi hukuman atas tuduhan palsu, tindakannya semakin menjadi-jadi. Bahkan jika ada siswa selain Amada yang mencoba berbicara denganku, dia akan mengancam orang itu hingga akhirnya aku benar-benar terasing.


Kenapa dia sampai sejauh itu?


Dalam kondisi mental yang nyaris hancur, aku mengumpulkan sisa keberanian yang kumiliki dan bertanya kepadanya.


"Keberadaanmu sendiri sudah membuatku muak."


Itulah hubungan antara aku dan Souda Hiromi di kehidupan pertama.


Namun di kehidupan kedua, semuanya berbeda.


Terlalu berbeda.


—"Maukah kau berpura-pura menjadi pacarku sampai hari Selasa?"


Dia meminta orang yang katanya sangat dibencinya di kehidupan pertama untuk berpura-pura menjadi kekasihnya.


Mana mungkin. 


Walaupun ini kehidupan kedua, perubahan itu terlalu besar.


Saat itu saja aku sudah cukup bingung, lalu tiba-tiba muncul kakak kembarnya, Souda Yumi.


Kenapa di kehidupan pertama Souda Hiromi begitu membenciku?


Kenapa di kehidupan pertama Souda Yumi tidak pernah muncul?


Aku tidak tahu bagaimana Amada menghabiskan liburan musim panasnya di kehidupan pertama.


Dan sekarang, karena ini sudah kehidupan kedua, seharusnya tidak ada lagi cara untuk mengetahuinya...


"......"


Tengah malam.


Aku memeriksa ponselku dari balik selimut agar cahaya layarnya tidak terlihat. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari.


"Suu... suu..."


Aku mengeluarkan kepala dari selimut dan melihat ke samping. Tsukiyama tertidur pulas dengan napas yang teratur.


"..."


Berusaha agar tidak membangunkannya, aku turun dari tempat tidur dengan hati-hati lalu perlahan memutar gagang pintu.


Tanpa menimbulkan suara langkah kaki, aku menuju ruang tamu di lantai satu.


Di sana, orang yang memanggilku sudah duduk di sofa dengan piyama lucu.


"Memanggil gadis secantik aku setelah semua orang tertidur. Ternyata kamu cukup berani juga ya."


Iba Kouki.


"Yang memanggil itu kau kan."


"Benar juga.... Kalau sampai diketahui Mikoto-san, mungkin aku akan dimarahi."


Tangannya sedikit gemetar saat meminum segelas air.


"Kalau begitu, mari langsung ke pokok pembicaraan."


"Tunggu dulu. Boleh aku bertanya lebih dulu?"


"...Silakan."


Perasaanku terhadap Iba Kouki sangatlah rumit.


Di kehidupan pertama, aku kehilangan segalanya.


Aku kehilangan semua teman yang seharusnya ada di SMA Hirasaka... Tidak, semua guru dan murid menjadi musuhku. Setiap hari aku menderita secara fisik maupun mental.


Kalau hanya diriku sendiri mungkin masih bisa bertahan. Namun taring mereka bahkan menjangkau keluargaku...


Ayah, ibu, dan Yuzu semuanya meninggal.


Orang yang menjatuhkanku ke neraka itu adalah Iba Kouki.


—"Aku ingin menjadi pacar Teru-san. Maukah kau membantuku?"


Itulah awal dari semuanya.


Sebagai karakter figuran saat itu, aku berpikir kalau aku bisa mengalami hal yang begitu spesial, maka aku mulai membantu percintaannya.


Namun itu hanyalah jebakan.


Iba berpura-pura meminta bantuanku agar bisa mendekatiku, lalu pada akhirnya menjadikanku tokoh jahat demi memerankan dirinya sebagai heroine yang malang.


Tentu saja sekarang aku tahu kenyataannya berbeda.


Iba juga hanya dimanfaatkan. Perasaan cintanya dimanfaatkan oleh Amada Teruhito agar dia menyingkirkanku.


Karena dia hanya dimanfaatkan, apakah itu berarti dia patut dikasihani?


Mana mungkin aku bisa menerimanya begitu saja. Walaupun dia hanya dimanfaatkan, walaupun dalang utamanya adalah orang lain, keluargaku tetap mati karena tindakan Iba.


Itu bukan sesuatu yang bisa kumaafkan.


Bagiku, orang yang paling kubenci setelah Amada adalah Iba Kouki. Namun entah sejak kapan, kesempatan kami untuk bersama semakin sering.


Terutama setelah Hitsujitani Miwa pindah sekolah.


Hampir setiap hari dia datang menemui aku dan Mikoto, bersikap layaknya seorang teman.


Saat Amada mencoba menjebakku dengan memanfaatkan Hitsujitani, Iba justru memihakku yang hanyalah karakter figuran, bukan Amada yang dulu dia cintai, lalu menggagalkan rencananya.


Awalnya dia musuh.


Sekarang dia menjadi sekutu yang bisa diandalkan.


Apa dia karakter populer di manga shounen atau bagaimana...


Aku bahkan sempat berpikir begitu.


Satu hal yang sedikit menggangguku adalah, saat bersama, dia kadang berbicara seolah mengetahui bahwa aku sedang menjalani kehidupan kedua.


Karena sejak awal Iba memang cerdas, aku hanya menganggap instingnya tajam.


Namun aku salah. Sekarang aku sudah tahu kenapa Iba Kouki bersikap seperti itu.


"Ada dua pertanyaan. Dua-duanya penting. Mau yang mana dulu?"


"Cara bertanya yang terlalu abstrak membuatku bingung. Kalau penting sekali... jangan-jangan salah satunya pengakuan cinta untukku? Fufu. Kalau begitu, aku akan kesulitan menjawabnya."


Entah kenapa, rasanya dia sengaja bercanda untuk mengulur waktu. Seolah dia tidak ingin mendengar pertanyaanku.


Dan aku sendiri membiarkan ucapannya selesai, mungkin karena aku juga takut.


Takut jika dugaanku ternyata benar.


Tetapi aku harus bertanya. Demi menghilangkan bahaya yang mengancam diriku dan orang-orang di sekitarku.


Karena itu, aku mengajukan satu pertanyaan yang sekaligus menjawab dua hal yang ingin kuketahui.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi selama perjalanan liburan musim panas di Okinawa."


"......"


Iba tidak langsung menjawab.

Dia hanya terdiam.


Namun beberapa saat kemudian, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum.


"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah sekarang kita sedang..."


"Tim tempat Shohei Ohtani bermain sejak tahun 2024 adalah Los Angeles Dodgers, benar?"


"...Sepertinya itu memang keceplosan."


Dia tersenyum pasrah. Namun entah kenapa, di balik senyum itu juga ada sedikit rasa lega.


Alasan aku menanyakannya berasal dari kejadian pagi tadi... lebih tepatnya kemarin pagi.


Saat aku bangun dan turun ke lantai satu, semua orang sedang menyiapkan sarapan.


Mikoto, Yuzu, dan Tsukiyama memasak dengan cekatan sambil menikmati pekerjaan mereka.


Sebaliknya, Iba dan Ushimaki hanya menatap lesu bahan makanan yang sudah berubah menjadi sesuatu yang mengenaskan.


Sampai di situ semuanya masih merupakan pemandangan biasa dalam liburan musim panas yang menyenangkan.


Namun ucapan Iba setelah itu tidak bisa kuabaikan.


Melihat Tsukiyama yang justru tampil luar biasa di Okinawa—berkebalikan dengan julukannya sebagai "Pangeran Mengecewakan"—Iba berkata,


"Ouji-kun sejak datang ke Okinawa benar-benar bermain seperti Ohtani-san di Dodgers...."


Saat mendengar kalimat itu, aku benar-benar terkejut.


Aku meninggal pada Juli 2025. 


Ketika sadar, aku sudah kembali ke April 2023, hari dimulainya kehidupan keduaku.


Mengerti, kan?


Sekarang masih tahun 2023. Pada tahun 2023, Shohei Ohtani belum bermain untuk Dodgers. Dia masih bermain untuk Angels.


Namun Iba menyebutnya sebagai "Ohtani-san di Dodgers."


Seolah itu adalah fakta yang sudah lumrah.


Saat itulah aku yakin.


Bukan hanya aku.


Ada orang lain selain diriku.


Iba Kouki juga...


"Kau juga menjalani kehidupan kedua, kan?"


"Ya. Akhirnya kamu menyadarinya ya."


Dia berusaha tersenyum setenang mungkin, tetapi tangan yang memegang gelas itu masih gemetar.


Sebenarnya dia tidak ingin aku mengetahuinya.

Namun dia merasa harus memberitahuku.


Begitulah sikapnya.


"Sejak kapan kau tahu kalau aku juga menjalani kehidupan kedua?"


"Awalnya hanya curiga. Baru benar-benar yakin setelah liburan musim panas dimulai... tepatnya saat kita pergi berbelanja hari itu. Karena kamu mengetahui seseorang yang seharusnya belum kamu kenal, yaitu Souda Hiromi-san. Saat itulah aku yakin."


"Begitu ya...."


Jadi dia memastikannya setelah aku menyebut nama seseorang yang baru akan kutemui di masa depan.


Bahwa aku memang menjalani kehidupan kedua.


"Sungguh, saat itu aku hampir terkena serangan jantung. Bahkan kalau digabung dengan kejadian lainnya, mungkin itu kejutan terbesar sepanjang hidupku."


"Kalau digabung dengan kejadian lainnya ya." 


Aku langsung memahami maksud tersembunyi di balik ucapannya.


Namun masih ada satu hal yang belum kumengerti.


Tindakan Iba selama semester pertama.


Kalau memang dia memiliki ingatan kehidupan pertama, seharusnya hanya ada dua jalan yang bisa dipilihnya.


Kalau dia masih mencintai Amada, dia bisa memanfaatkan ingatan itu sepertiku dan kali ini benar-benar menjadi kekasihnya.


Kalau cintanya sudah hilang, dia tinggal menjauhi Amada.

Namun dia tidak memilih keduanya.


Sama seperti kehidupan pertama, dia sempat menjadi boneka Amada dan menyerangku.


Tetapi di tengah jalan, seolah semua tindakannya sebelumnya adalah kebohongan, dia mulai terang-terangan memusuhi Amada dan berdiri di pihakku.


"Kenapa kau melakukan semua itu di semester pertama...?"


"Karena aku mendapatkan kembali ingatanku lebih lambat daripada kamu."


"Mendapatkan kembali ingatan."


Ungkapan itu membuatku heran.


Saat sadar, aku langsung kembali ke hari upacara masuk sekolah. 


Bukan mendapatkan kembali ingatan, melainkan kesadaranku berpindah ke masa itu.


Apakah Iba berbeda?


"Aku masuk ke SMA Hirasaka, jatuh cinta pada Amada Teruhito, lalu berusaha menyingkirkanmu demi mewujudkan keinginannya dan gagal. Kurang lebih sejak saat itulah... aku mulai sering bermimpi aneh. Mimpi tentang masa depan yang mengerikan, terasa begitu nyata...."


Berarti Iba yang ada di awal kehidupan keduaku memang masih Iba yang sama seperti di kehidupan pertama.


"Perlahan-lahan mimpi itu berubah menjadi ingatanku sendiri. Kalau ditanya apakah aku sudah mengingat semuanya, sejujurnya aku tidak yakin...."


"Berbeda denganku. Aku langsung sadar dan kembali ke hari upacara masuk sekolah."


"Fufu. Kalau begitu, mungkin kamulah tokoh utama dunia ini."


"Jangan bicara seperti itu. Aku muak mendengarnya."


"Setidaknya bagiku memang begitu. Berkatmu, aku terbebas dari pria menjijikkan itu. Mungkin itulah yang menjadi kunci hingga ingatanku kembali."


"Itu pertanyaan yang tidak akan pernah punya jawaban."


Pria menjijikkan....dia pasti menyebut Amada seperti itu karena, bukan hanya di kehidupan kedua, di kehidupan pertama pun dia akhirnya mengetahui sifat asli Amada.


Kalau saja dia menyadarinya sedikit lebih cepat...

Tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang.


"Benar...."


Iba tersenyum pahit. Lalu dia turun dari sofa dan duduk bersimpuh tepat di depanku.


Setelah menatap lurus ke arahku, dia menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Bahkan sampai melakukan dogeza.


"Aku sungguh... sungguh minta maaf...!"


Suara yang dipenuhi penyesalan mendalam.


Semua neraka yang kualami di kehidupan pertama bermula dari Iba. Semua berawal dari ucapannya,


—"Aku ingin menjadi pacar Teru-san. Maukah kau membantuku?"


"Tak ada pembelaan?"


"Apa pun yang kukatakan tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku melakukannya. Karena itu, aku akan mematuhi semua perkataanmu. Kalau kamu menyuruhku menghilang, aku akan menghilang. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menebus dosa...."


Masih dengan kepala tertunduk, dia mengatakannya.


Wanita yang dulu membunuhku dan keluargaku.


Di kehidupan kedua, aku bisa menerimanya karena dia tidak memiliki ingatan kehidupan pertama. 


Namun kalau ternyata dia memang sudah mengingat semuanya...


Itu berbeda.


Tetapi aku...


"Jangan menghilang. Semua orang pasti akan sedih."


"...Eh?"


Aneh sekali.


Tidak...sebenarnya aku sudah tahu sejak lama. Di dalam hatiku sudah tidak ada lagi kemarahan.


Aku ternyata sudah memaafkan Iba. Kalau aku masih menyimpan amarah seperti dulu, sejak pagi tadi aku pasti sudah bertindak.


Namun aku justru menunggu sampai malam, sampai ada kesempatan berbicara berdua.


Itulah bukti terbesar bahwa aku sudah memaafkannya.


"Benarkah...?"


Di kehidupan kedua, entah kenapa Iba selalu menjadi sekutu mutlak bagi aku dan Mikoto.


Seperti yang dia katakan tadi...


Semua itu pasti adalah penebusan dosanya. Atas apa yang telah dia lakukan di kehidupan pertama.


"Sudah. Angkat kepalamu. Duduk saja di sofa seperti biasa."


"Tapi, apa yang telah kulakukan..."


Benar. Apa yang dilakukan Iba memang tidak bisa dibenarkan. Tetapi sekarang sudah cukup.


Dulu aku pernah menduga jangan-jangan Iba juga menjalani kehidupan kedua. Namun pikiran itu segera lenyap.


Karena untuk bisa menjalani kehidupan kedua, ada satu syarat yang pasti harus terpenuhi...


"Iba ada di sini. Berarti kau juga sudah mengakhirinya, kan?"


"......."


Aku mengakhiri hidupku sendiri pada 7 Juli 2025.


Dan kalau Iba juga menjalani kehidupan kedua...


Berarti memang begitu.


Aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Dan aku juga tidak berniat bertanya. Namun semua tindakannya selama ini sudah cukup membuktikannya.


Bahwa dia adalah sekutuku.


"Kalau begitu, kau tidak perlu minta maaf lagi. Dan kau juga tidak perlu menghilang."


Hah...siapa sangka suatu hari nanti aku akan mengatakan hal seperti ini kepada Iba.


"Tetaplah bersama kami."


"...!"


Iba perlahan mengangkat wajahnya.


Air mata mengalir dari kedua matanya.


Ini adalah kedua kalinya aku melihat Iba menangis.


Yang pertama adalah air mata penuh kebohongan saat dia menjebakku dengan tuduhan palsu.


Yang ini...tidak ada sedikit pun kebohongan di dalamnya.


Ini pasti air mata yang tulus.


"Te-terima kasih banyaaak..."


Mungkin karena tidak ingin memperlihatkan dirinya menangis, dia kembali menundukkan kepala.


Di ruang tamu yang sunyi hanya terdengar suara isak tangisnya.


Setelah akhirnya berhasil menenangkan diri...dia mengusap matanya berkali-kali, mengenakan kembali kacamatanya, lalu berkata,


"Baik di kehidupan pertama maupun kedua, kau benar-benar terlalu baik. Itulah kenapa kau mudah ditipu."


"Berisik. Cepat berdiri."


Orang yang menipuku justru yang mengatakan itu.


Setelah mendengar ucapanku, Iba tampak canggung, membuka dan menggenggam tangan kanannya berulang kali.


"Kalau kau mengulurkan tangan kepada saya sekarang, tingkat kesukaanku kepadamu pasti akan meningkat. Apa kau benar-benar tidak membutuhkannya?"


"Sama sekali tidak."


Sepertinya semangatmu sudah kembali.


Ya. Memang begitulah dirimu.


"Dasar pengecut. Padahal jantungku sudah berdebar sampai rasanya ingin memelukmu saat ini, tetapi kau malah melewatkan kesempatan emas yang datang sekali seumur hidup ini. Padahal kau baru saja mendapatkan seorang selingkuhan yang sangat menguntungkan."


"Kita bahkan belum menikah."


"Ya. Benar sekali.... Fufu."


Aku sudah beberapa kali melihat senyuman Iba, tetapi ini pertama kalinya aku melihat senyuman seperti ini.


Bukan senyum yang biasanya masih menyisakan sedikit kesan usil, melainkan senyum yang begitu lembut.


Yah, menurutku memang imut. Meski Hidaka tetap lebih imut.


"Aku merasa kau sedang memikirkan sesuatu yang sangat tidak sopan."


"Aku cuma berpikir kalau senyumanmu imut. Meski Hidaka tetap lebih imut."


"Hm. Dengan menambahkan kalimat terakhir itu, kau berusaha menurunkan tingkat kesukaanku padamu untuk menghapus perasaan yang seharusnya tidak muncul di dalam dirimu, ya? Ishii-san yang seperti itu juga terasa imut."


"Berhenti bicara yang tidak penting dan cepat duduk di sofa."


"Duduk berdampingan bukankah agak berbahaya?"


"Apa matamu tidak melihat kalau masih ada kursi lain?"


"Jadi, tanpa banyak bicara kau membiarkanku memakai sofa yang paling nyaman. Kelihatannya kasar, tapi sebenarnya perhatian sekali. Kalau begitu, akan kuterima kebaikanmu itu... sambil sedikit menaikkan tingkat kesukaanku padamu, Ishii-san."


"Terserah."


Mengatakannya dengan santai, Iba kembali duduk di sofa.


Suasana berat yang tadi terasa kini sudah menghilang. Karena itu, aku juga menarik sebuah kursi yang ada di dekat situ lalu duduk.


Fakta bahwa Iba juga menjalani kehidupan kedua benar-benar di luar dugaan. Namun, dalam situasi sekarang, keberadaannya sangatlah berharga.


Bagaimanapun juga, dia mengetahui hal-hal tentang kehidupan pertama yang tidak kuketahui.


"Kalau begitu, sekarang jawab pertanyaan pertamaku."


"Tentu. Dengan sepenuh hati, aku akan mempersembahkan seluruh diriku kepada Ishii-san."


"Tak usah sampai segitunya."


Ceritakan padaku apa yang terjadi saat perjalanan musim panas ke Okinawa.


Itulah pertanyaan pertama yang kulontarkan kepada Iba.


Di kehidupan pertama, Amada selalu menceritakan dengan penuh semangat tentang pertemuan dan kenangannya bersama para heroine.


Namun, mengenai perjalanan musim panas ke Okinawa, dia tidak pernah mengatakan apa pun.


Begitu pula dengan kelompok Amada.


Iba, Ushimaki, Kanie, Hitsujitani, bahkan Tsukiyama sekalipun, semuanya bungkam seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa mereka tidak boleh membicarakan perjalanan ke Okinawa.


Lalu, pada hari pertama semester dua, hanya Souda Hiromi yang datang sebagai murid pindahan ke SMA Hirasaka.


Aku bahkan tidak mengenal Souda Yumi. 


Aku sama sekali tidak tahu kalau Souda Hiromi memiliki saudara kembar.


"Ada dua hal yang ingin kutanyakan. Yang pertama adalah perubahan Souda Hiromi. Dibandingkan kehidupan pertama, kepribadiannya berubah terlalu jauh. Aku ingin tahu kenapa dia menjadi seperti itu. Yang kedua adalah keberadaan Souda Yumi. Aku bahkan tidak tahu kalau Souda Hiromi punya kakak kembar. Kalau memang hanya tidak pindah ke SMA Hirasaka sih tidak masalah, tapi...."


"...Dia... Souda Yumi-san... bukan tidak pindah sekolah. Dia memang tidak bisa pindah...."


Ucapan itu langsung membuat suasana menjadi berat.


"Memang benar-benar tidak berjalan sesuai harapan.... Aku sudah berusaha menghindarinya sebisa mungkin...."


"Maksudmu?"


"Dalam... kehidupan kedua kali ini, banyak hal berubah karena tindakan Ishii-san. Karena itu aku berharap kita tidak akan bertemu dengan Hiromi-san. Kalau begitu, mungkin tragedi yang menunggu setelah ini juga tidak akan terjadi...."


"Tragedi?"


"Ya."


Iba menatapku lurus.


"Apa yang akan terjadi setelah ini?"


"............"


Iba mengepalkan kedua tangannya erat-erat sambil menggertakkan gigi.


Sepertinya dia benar-benar tidak ingin mengatakannya.


Sampai seserius itukah tragedi itu.


"Dua pertanyaan yang tadi Ishii-san sampaikan sebenarnya berasal dari satu kejadian yang sama. Apa yang akan terjadi setelah ini akan menjadi penyebab perubahan kepribadian Hiromi-san, sekaligus membuat Yumi-san tidak bisa pindah ke SMA Hirasaka."


Saat aku bertemu Souda Hiromi tadi, Iba memang mengatakan...


Kalau terus begini, masa depan terburuk akan datang.


Ini jelas bukan sekadar pertengkaran saudara yang membuat mereka pindah ke sekolah berbeda.


"Kakak Souda Hiromi, Souda Yumi-san......Sebentar lagi akan kehilangan nyawanya."


"...Apa?"


Meninggal?


Gadis yang baru kutemui hari ini?


"Di kehidupan pertama, kami sama sekali tidak pernah membicarakan perjalanan ke Okinawa. Alasannya adalah ini. Ada korban meninggal selama perjalanan. Karena itulah kami tidak pernah membahasnya."


"Kalau begitu, perubahan kepribadian Souda Hiromi...."


"Kurasa... atau lebih tepatnya, aku yakin kematian Yumi-san ada hubungannya. Setidaknya, kepribadian Hiromi-san saat ini sama persis dengan saat kami pertama kali bertemu dengannya di kehidupan pertama...."


Souda Hiromi yang begitu mengabdikan diri kepada Amada Teruhito dan membenci pria lain secara berlebihan.


Dibanding heroine lainnya, kedekatannya dengan Amada memang jauh lebih besar, tetapi tak seorang pun mempermasalahkannya.


Jadi, ternyata karena itu....karena semua orang berharap Amada bisa menjadi penyembuh luka besar di hati Souda Hiromi setelah kakaknya meninggal....


"P-penyebab kematiannya?"


Iba menggeleng.


"Aku tidak tahu...."


"Apa?"


"Untuk sementara, akan kuceritakan semua informasi yang kuketahui. Setelah itu, bagaimana kalau kita memikirkan apa yang harus kita lakukan mulai sekarang?"


"...Baik."


Daripada aku terus memotong pembicaraan dengan pertanyaan, lebih baik dia mengeluarkan semua informasi lebih dulu.


Itulah yang menurutnya paling efisien.


Dan memang benar.


"Kalau begitu, akan kuceritakan apa yang terjadi selama liburan musim panas di kehidupan pertama...."


Gelas Iba sudah kosong, jadi aku menuangkan air ke dalamnya.


"Terima kasih...."


Suara pelan itu terdengar.


Setelah aku kembali duduk di kursi, Iba mulai bercerita.


"Pada liburan musim panas di kehidupan pertama, kami datang ke Okinawa sama seperti sekarang. Lalu, di hari pertama setelah tiba, Amada Teruhito bertemu Hiromi-san di sebuah restoran tempat kami makan."


Hei, alurnya berbeda.


Aku bertemu Souda justru di pantai pada hari kedua.


Aku hampir saja mengatakannya, tetapi kutahan.


Karena aku akhirnya sadar. Dalam perjalanan kali ini, semua restoran yang kami datangi dipilih oleh Iba.


Bisa saja itu dilakukan agar kami tidak bertemu dengan Souda....


"Hiromi-san kemudian menghampiri Amada Teruhito yang baru kembali dari toilet dan memintanya berpura-pura menjadi pacarnya. Dia benar-benar ingin Amada Teruhito melakukannya. Bahkan ketika kami datang ataupun Yumi-san datang, dia sama sekali tidak menyerah dan terus memohon kepada Amada Teruhito."


Kalau dalam kasusku, begitu Souda Yumi muncul, dia langsung menyerah. 


Begitulah bedanya protagonis romansa dengan tokoh sampingan.


Yah, sudahlah.


"Alasannya adalah karena dia ingin membanggakan kepada orang tuanya bahwa dia punya pacar. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia begitu ingin memamerkan hal itu kepada orang tuanya, tetapi dia benar-benar tidak mau mengalah."


Entah kenapa alasannya terdengar mencurigakan.


Namun, karena di kehidupan kedua dia juga memintaku berpura-pura menjadi pacarnya, berarti ada alasan lain yang tidak bergantung pada siapa orangnya, bahkan kalau bukan Amada sekalipun.


Mungkin Iba menyadari aku meragukan alasan yang diucapkan Souda Hiromi.


Dengan sedikit cemberut, dia bergumam pelan,


"Aku tidak berbohong, lho."


Sejak awal aku memang tidak pernah meragukan Iba.


Yang kuragukan adalah Souda Hiromi.


"Pada akhirnya Amada Teruhito mengalah karena kegigihannya... tidak, sekarang kupikir dia hanya berpura-pura mengalah. Dia berpura-pura terpaksa ikut terseret masalah itu, lalu menerima permintaan untuk berpura-pura menjadi pacar Hiromi-san."


Yah, mana mungkin Amada melewatkan kesempatan semenarik itu. Berpura-pura menjadi pacar gadis cantik yang ditemui secara kebetulan di tempat wisata.


Tiba-tiba aku teringat ucapan Souda Hiromi di pantai.


—"Bukankah ini juga kesempatan buatmu? Dengan berpura-pura menjadi pacar gadis secantik aku, lama-kelamaan benih cinta bisa tumbuh, lalu cinta palsu berubah menjadi cinta sungguhan... siapa tahu itu bisa terjadi?"


Dan ternyata di kehidupan pertama memang benar-benar terjadi seperti itu.


"Setelah itu, Amada Teruhito lebih banyak menghabiskan waktu bersama Hiromi-san daripada bersama kami, jadi kami juga tidak tahu apa yang mereka lakukan. Lalu, tiga hari setelah Amada Teruhito dan Hiromi-san bertemu... Yumi-san kehilangan nyawanya."


Kalau dalam situasi sekarang, pertemuannya terlambat satu hari.


Berarti tinggal dua hari lagi.


"Penyebab kematiannya juga tidak diketahui. Saat itu dia dinyatakan hilang, dan kematiannya baru dipastikan setelah kami pulang dari perjalanan."


"Orang meninggal, kan? Apa tidak masuk berita?"


"Masuk. Tapi hanya berita lokal yang harus dicari sendiri kalau ingin menemukannya. Bahkan di sana pun tidak dijelaskan secara rinci, hanya disebutkan bahwa Souda Yumi telah meninggal...."


Berarti penyebab kematian Souda Yumi memang masih belum diketahui.


Kalau saja penyebabnya diketahui pasti akan lebih mudah....


Tidak, berkat Iba aku sudah mendapatkan informasi yang seharusnya tidak mungkin kudapatkan.


Aku seharusnya sudah cukup bersyukur.


"Itulah semua yang kuketahui."


"Begitu ya...."


Yang dia tahu hanya sampai pertemuan mereka.


Setelah itu dia juga tidak tahu apa yang terjadi.


Yah, memang begitulah cara yang disukai Amada.


Sebelum memasukkan seseorang ke dalam haremnya, dia selalu menciptakan masa di mana dia memperdalam hubungan dengan heroine itu sendirian.


Begitulah caranya menipu begitu banyak perempuan.


"...Menurutmu, Amada Teruhito yang membunuhnya?"


Setelah beberapa saat terdiam, Iba bertanya.


"Kurasa dia tidak akan mengotori tangannya sendiri. Tapi kalau secara tidak langsung... mungkin saja."


Dari yang kulihat hari ini, hubungan Souda Hiromi dan Souda Yumi memang tidak terlalu baik. Namun yang membenci hanyalah Souda Hiromi.


Souda Yumi sendiri sangat menyayangi adiknya.


Bisa saja Souda Yumi yang selalu melindungi Hiromi dianggap menghalangi, lalu Amada memanfaatkan sisi gelap dalam hati Hiromi agar Yumi menemui ajalnya....


Kalau Amada, hal seperti itu bukan tidak mungkin.


"Malah aku berharap memang begitu. Kalau begitu, kali ini tidak akan terjadi apa-apa."


Di kehidupan kedua, Amada Teruhito tidak bisa datang ke Okinawa.


Kalau penyebab kematian Souda Yumi memang tindakan Amada, berarti kami sudah berhasil mengubah takdir itu.


Namun tentu saja aku tidak bisa berpikir seoptimistis itu.


Kami harus bertindak dengan menganggap kemungkinan terburuklah yang akan terjadi.


"Tapi bisa juga bukan begitu, kan?"


"...Benar. Terlebih lagi, kalau Hiromi-san berubah menjadi seperti di kehidupan pertama...."


Perubahan Souda Hiromi akibat kematian kakaknya.


Itu harus dicegah bagaimanapun caranya. Karena aku sudah mengalaminya sendiri.


Souda Hiromi yang menakut-nakuti semua murid laki-laki dan membuatku benar-benar terasing di SMA Hirasaka.


"Ishii-san... ibumu dalam bahaya."


"...Apa?"


Tunggu dulu. Yang kutakuti adalah kemampuan Souda Hiromi menguasai para murid laki-laki lewat rasa takut.


Apa hubungannya dengan ibu?


Seharusnya tidak ada hubungannya.


"D-di kehidupan pertama... yang terjadi pada... ibumu...."


Sepertinya dia benar-benar tidak ingin mengatakannya.


Dengan suara yang terputus-putus, Iba mulai bercerita.


Di kehidupan pertama, seluruh keluargaku meninggal.


Ayah, Yuzu, dan juga ibu.


Di antara semuanya, penyebab kematian ibu adalah...ditikam sampai meninggal.


Dalam kecelakaan yang merenggut nyawa ayah, seorang gadis ikut menjadi korban. Lalu ibu gadis itu kehilangan kendali dan....


"Hiromi-san memberi tahu ibu korban kecelakaan itu. Dia berkata, ‘Keluarga yang membunuh putrimu sekarang hidup bahagia.’"


"...Kalian sampai melakukan sejauh itu?"


"Bukan begitu! Setelah kejadian yang menimpa Ishii-san, kami mulai menyadari sifat asli Amada Teruhito dan perlahan menjauh darinya! Tapi Hiromi-san tetap berada di sisinya... dan terus mengabdi padanya...."


Jadi demi Amada, dia membuat ibuku sampai terbunuh....


Tidak. Kemungkinan besar Amada yang memanipulasi Souda Hiromi. 


Lalu karena itu, ibu....


"Saat itu Hiromi-san berkata, 'Dia masih punya adik perempuan, kan? Aku sudah tidak punya lagi.... Teru Teru juga bilang kalau yang paling adil adalah semua orang sama.'"


Alasan yang benar-benar tidak masuk akal.


Hanya karena dia kehilangan kakaknya, lalu dia mengambil ibuku?


"...Apa yang akan kita lakukan?"


Kurasa Iba sendiri sudah memutuskan apa yang ingin dilakukannya.


Amada tidak berada di Okinawa. 


Jadi kemungkinan Amada menghasut Souda Hiromi hingga Souda Yumi meninggal memang sudah hilang. Namun bukan berarti kemungkinan kematian Souda Yumi menjadi nol.


Justru kalau penyebabnya bukan Amada, situasinya jauh lebih berbahaya.


Kalau Amada tidak terlibat, berarti ada penyebab lain yang akan membuat Souda Yumi kehilangan nyawa.


Entah kecelakaan lalu lintas, pembunuhan yang disengaja, atau apa pun itu, mendekatinya jelas berbahaya. Tetapi meski begitu, Iba tetap berniat menyelamatkan Souda Yumi.


Bahkan kalau aku memilih untuk tidak ikut campur.


Tentu ada alasan karena dia tidak bisa membiarkan seseorang mati begitu saja.


Namun yang lebih besar dari itu adalah...demi melindungiku dan keluargaku. Padahal nyawanya sendiri juga bisa berada dalam bahaya.


"Bisakah kau memberitahuku di mana Amada bertemu Souda Hiromi di kehidupan pertama?"


"...Apa kau yakin?"


Kalau begitu, aku tidak bisa membiarkan Iba menanggung semuanya sendirian.


Sebenarnya aku sudah tidak ingin terlibat lagi.


Aku bukan orang suci yang penuh belas kasih. Kalau ada orang asing mati di suatu tempat di dunia, selama orang-orang yang kusayangi tetap bahagia, itu sudah cukup bagiku.


Tapi...agar mereka tetap bisa bahagia, aku harus menyelamatkan Souda Yumi.


"Mau bagaimana lagi. Kalau sesuatu benar-benar terjadi, ibu akan berada dalam bahaya. Bukan cuma ibu, ayah dan Yuzu juga...."


Berbeda dengan kehidupan pertama, masa depan di mana ayah dipecat dari perusahaan Tsukiyama lalu bekerja di perusahaan hitam sudah benar-benar lenyap.


Namun itu bukan berarti keselamatan kami sudah terjamin.


Selama masih ada kemungkinan Souda Hiromi menjadi gila lalu menjadi heroine Amada Teruhito, masa depan itu harus dihapuskan.


"Baiklah. Katanya Hiromi-san dan Amada Teruhito bertemu di hotel tempat Hiromi-san menginap. Jadi kalau kita pergi ke sana, kita seharusnya bisa bertemu mereka."


"Terima kasih. Maaf, tapi bisakah kau membantu mengelabui Hidaka dan yang lainnya?"


"Ya. Kita harus menjelaskan kepada mereka supaya mereka bisa menerima kalau kita akan bergerak secara terpisah."


"Hah? Tunggu, Iba...."


"Masa aku membiarkan Ishii-san pergi sendirian?"


Aku menatap lurus ke arahnya, dan Iba berkata,


"Aku sudah merepotkanmu sebanyak itu di kehidupan pertama. Kali ini, izinkan aku menebus semuanya dengan sungguh-sungguh."


Padahal dia sendiri juga sudah mati, jadi seharusnya itu sudah impas.


Aku sempat berpikir begitu, tapi kurasa Iba tidak akan pernah bisa menerima anggapan seperti itu.


"Baiklah. Tapi jangan gugup lalu melakukan hal yang aneh."


"Hehe. Kalau begitu terjadi, aku harap Ishii-san mau membantuku."


Siapa sangka, setelah bertengkar separah itu di kehidupan pertama, sekarang kami justru akan bekerja sama.


Benar-benar, kehidupan kedua ini dipenuhi hal-hal yang sama sekali tak pernah kuduga.


"Ngomong-ngomong, ada satu hal yang perlu diperhatikan."


Iba mengangkat satu jari sambil memperlihatkan senyum yang sedikit menggoda.


"Apa?"


"Aku ini wanita yang begitu mudah ditaklukkan sampai-sampai bisa jatuh pada Amada Teruhito. Jadi, bisa saja tanpa sengaja aku mulai menaruh perasaan pada Ishii-san."


"Iya, iya. Akan kuwaspadai. Sekarang tidur saja, yuk."


"Baik. Selamat malam... Ishii-san."


"Ya. Selamat malam, Iba."


Setelah itu aku menuju kamar tempat Tsukiyama tidur, sedangkan Iba menuju kamar tempat Hidaka dan yang lain tidur.


Karena kamar kami berdampingan, sebelum membuka pintu kami sempat saling berpandangan. Dengan wajah yang terasa jauh lebih lega, seolah beban di pundaknya telah lenyap, Iba melambaikan tangan kecil kepadaku.


Aku membalasnya dengan mengangkat tangan sebentar, lalu masuk ke kamarku—


"Kazukiii! Ke mana saja kau! Waktu aku bangun kau sudah tidak ada, jadi aku kesepian... Memangnya kau lagi buang air besar sebesar pegulat sumo apa sih!"


"Jangan remehkan aku. Bukan sebesar pegulat sumo, tapi sebesar Neptunus."


"Diameternya 49.528 kilometer!!"


Kenapa kau tahu ukuran planet segala, sih?


◇ ◇ ◇


Keesokan harinya, berdasarkan informasi dari Iba, kami menuju hotel tempat kakak beradik Souda menginap.


Memang ini berbeda dari rencana semula, tetapi saat aku bangun pagi, semua orang sudah menerimanya dan mengantarkan kami berdua. Bahkan Hidaka mengantarku dengan senyum yang luar biasa cerah sambil berkata, "Kazupyon, semangat ya. Aku juga bakal berusaha!"


Aku sempat bertanya kepada Iba bagaimana caranya meyakinkan mereka, tetapi dia hanya menjawab dengan wajah penuh kemenangan,


"Ara? Apa Ishii-san jadi begitu penasaran denganku?"


Entah kenapa itu membuatku kesal, jadi aku tidak bertanya lebih jauh.


Yang penting sekarang aku bisa bergerak dengan bebas.


Begitulah, aku dan Iba tiba di hotel tempat kakak beradik Souda menginap...


"Walaupun kita tahu hotelnya, belum tentu kita bisa bertemu mereka, kan?"


"Untuk bagian itu, kita hanya bisa mengandalkan kekuatan romcom milik Ishii-san."


"Padahal kekuatan romcom-ku hancur total."


Kupikir itu sama saja dengan mengatakan kami tidak mungkin bertemu mereka, tetapi entah kenapa Iba tampak percaya diri.


"Bukannya Ishii-san juga tidak kalah?"


Dan, seolah memenuhi harapan Iba, Souda Hiromi benar-benar muncul.


Oi, oi, serius? Berarti kekuatan romcom-ku juga lumayan—


"Yahho! Ishii-kun, Hime Hime! Kalian benar-benar datang! Senang sekali!"


"Hime Hime?"


Tanpa sadar aku langsung mengucapkan pertanyaan itu.


"Tadi malam, saat Ishii-san dan Ouji-kun sedang mandi, aku pergi menemui Hiromi-san. Kebetulan kami bertemu di sini, lalu kami juga saling bertukar kontak."


Sambil mendorong kacamatanya, dia memperlihatkan wajah penuh kemenangan yang sama seperti tadi pagi.


"Bukannya kita mau mengandalkan kekuatan romcom-ku?"


"Ishii-san. Berdasarkan struktur tubuh manusia, manusia tidak bisa terbang. Jadi... begitulah."


Aku benci orang ini.


"Senang sekali! Wajar sih, aku tidak punya teman di sini! Hari ini mohon bantuannya ya!"


"Hehe. Kami juga mohon bantuannya."


Sejak bertemu kakak beradik Souda kemarin, rupanya Iba sudah memutuskan akan bergerak. Jadi, apa pun jawabanku, dia sudah mempersiapkan semuanya.


Kalau jadi sekutu, dia benar-benar bisa diandalkan.


Walaupun menyebalkan.


"Hmmm. Heee..."


Hiromi bergantian menatapku dan Iba dengan penuh rasa ingin tahu. Lalu dia bertanya,


"Kalian pacaran?"


Apa maksudnya kami harus berpura-pura jadi pasangan?


Sejujurnya aku ingin menghindari itu, jadi aku melirik Iba, berharap dia mengerti maksudku.


"Tidak, kami tidak berpacaran."


Berarti cukup mengaku sebagai teman.


Kalau begitu, secara alami—


"Hubungan majikan dan budak mungkin lebih tepat. Aku tidak akan pernah membangkang pada perintah Ishii-san dan akan mematuhi semuanya. Seorang wanita pemuas nafsu yang kapan pun akan membuka kedua kakinya demi kenyamanan tuannya. Itulah diriku."


"Uwaaaaaaaah!? Bukan begitu! Sama sekali bukan hubungan seperti itu!!"


Apa yang sebenarnya dia katakan!?


Sejak kapan dia membuang rasa malunya?


"Jahat sekali... Padahal kemarin aku sudah bersujud sepenuh hati..."


"Hah? Ishii-kun, kau menyuruh gadis secantik ini bersujud?"


"Aku tidak menyuruhnya! Dia sendiri yang melakukannya!"


"Benar sekali. Sambil bersujud aku berkata, ‘Aku akan mematuhi semua perkataan Ishii-san.’"


"Iya sih, memang kau mengatakannya!"


Tolong jangan cuma mengatakan fakta yang membuatku makin terpojok!


Lihat saja, Hiromi sampai benar-benar tercengang.


"Itu karena Ishii-san memasang wajah yang tidak suka."


Kenapa malah kau yang cemberut? Aku tidak melakukan apa-apa, kan?


"Gimana ya... Kalian berdua ternyata sudah sejauh itu..."


"Sudah kubilang bukan begitu! Kami cuma teman!"


"Hehe. Katanya cuma teman."


Kenapa dia malah tertawa senang? Apa memang hobimu menjebakku? Dasar mantan kriminal.


"Oke, oke! Anggap saja begitu!"


Ah, dia tidak percaya sama sekali.


Jangan seenaknya memasangkan aku dengan Iba.


"Hehehe. Percuma mencoba mengelak sambil menunjukkan kalau kalian saling percaya begitu."


Padahal kami hanya mengatakan yang sebenarnya, tapi malah dibilang mengelak.


Hiromi melihat ke sekeliling, lalu bertanya kepada Iba.


"Jadi, kita ngobrol di sini?"


"Tidak. Tadi aku melihat ada kafe tidak jauh dari hotel. Mari ke sana."


"Wah, mantap! Hime Hime benar-benar bisa diandalkan!"


"Aku ingin Ishii-san banyak memujiku, jadi tanpa sadar aku jadi berusaha."


Aku masih belum benar-benar mengerti, tetapi rupanya Iba sudah menyiapkan sesuatu sebelumnya. Rupanya dia benar-benar sudah keterlaluan sampai memiliki hobi aneh, yaitu berpura-pura menyukaiku hanya demi menjebakku.


Setidaknya jelaskan dulu hal seperti itu kepadaku.


Aku memprotes dengan tatapan, tetapi tentu saja dia mengabaikannya.


Dengan langkah yang tampak sedikit lebih ringan, Iba berjalan bersama Hiromi.


◇ ◇ ◇


Dalam perjalanan sekitar lima menit dari hotel, Iba menjelaskan situasinya secara singkat.


Tadi malam, dia kebetulan bertemu Hiromi di lobi hotel.


Karena sebelumnya mereka sudah saling mengenal saat bertemu di pantai, Iba pun menyapanya.


Setelah itu, mereka langsung akrab.


Karena Iba bersikap seolah sudah mengenalnya sejak lama, Hiromi pun segera membuka hatinya dan mereka menjadi teman. Benar-benar memanfaatkan pengetahuan dari kehidupan pertama secara maksimal.


Mereka bahkan berjanji akan bermain bersama lagi hari ini, meski belum menentukan akan melakukan apa.


Alasan belum menentukan rencananya adalah karena Iba ingin melihat keputusanku.


Dia berniat mengubah isi kegiatan tergantung apakah aku akan mencoba menyelamatkan Souda Yumi atau tidak.


Dan karena aku memilih untuk menyelamatkannya...


"Nanti setelah mengadakan rapat strategi, kita akan bergabung dengan yang lain bersama Hiromi-san."


Jadi itulah cara dia meyakinkan semua orang.


Dia mengatakan bahwa gadis yang menyapa kami kemarin ingin ikut bermain bersama.


Karena datang ke tempat wisata tetapi tidak tahu harus melakukan apa dan tidak punya teman, gadis itu ingin bergabung dengan kami.


Begitulah penjelasan Iba kepada semua orang.


Dia terlalu cakap sampai-sampai agak membuatku merinding.


Tetapi, bukan berarti semuanya berjalan mulus. 


Bagaimanapun juga, yang berhasil diajak hanya Hiromi. Yumi tidak ada. Padahal yang akan kehilangan nyawanya dalam waktu dekat adalah Yumi, bukan Hiromi.


Jadi sekarang, bagaimana caranya mengajak Yumi juga.


Itulah hal yang paling penting.


"Hime Hime, ini enak banget!"


"Benar, kan?"


Di sebuah kafe bergaya klasik, Iba dan Hiromi memesan tart buah yang penuh dengan aneka buah dan menikmatinya bersama.


Tak seorang pun di sini menyadari bahwa di balik percakapan santai dua gadis cantik pada pagi hari ini, ada persoalan hidup dan mati seseorang.


"Hah? Kau pernah ke sini?"


"Iya. Dulu aku pernah datang sekali. Awalnya aku tidak berencana datang kali ini, tetapi setelah bertemu Hiromi-san, aku mengubah pikiranku."


"Berarti aku spesial dong? Aduh, Hime Hime!"


Di kehidupan pertama mereka memang pernah datang ke sini. Namun di kehidupan kedua, Iba awalnya sengaja menghindari tempat ini karena khawatir akan bertemu kakak beradik Souda. Tetapi karena akhirnya tetap bertemu mereka, dia memutuskan datang juga.


Memang, tart buah di sini benar-benar enak.


Dalam hati aku diam-diam bertekad akan mengajak Yuzu dan Hidaka ke sini nanti.


"Ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan pada Hiromi-san..."


"Apa tuh?"


Saat tart mereka tinggal setengah, Iba mulai membuka pembicaraan.


"Kemarin, kenapa Hiromi-san meminta Ishii-san berpura-pura menjadi pacar?"


"Aah... soal itu..."


Senyum ceria di wajah Hiromi sedikit memudar, berganti dengan ekspresi pahit.


Menurut cerita Iba, di kehidupan pertama Hiromi mengatakan bahwa alasannya meminta Amada berpura-pura menjadi pacarnya adalah karena ingin membanggakan kepada orang tuanya bahwa ia punya pacar.


Namun alasan itu terdengar mencurigakan.


Mungkin memang tidak ada alasan baginya untuk berbohong kepada Amada yang baru pertama kali ditemuinya, tetapi aku tetap merasa ada alasan lain.


Sepertinya Iba juga berpikir demikian.


"...Hmm."


Hiromi meneguk teh untuk menelan sisa tart di mulutnya, lalu mengembuskan napas pelan.


"Yah, sudahlah. Setelah perjalanan ini selesai, belum tentu kita bisa bertemu lagi."


Itulah penilaian Hiromi terhadap kami.


Hubungan kami memang belum sedekat itu. Kalau hanya kenalan yang kebetulan bertemu saat liburan, kemungkinan besar kami tidak akan berhubungan lagi setelah ini.


Karena itulah, justru ada hal-hal yang bisa ia ceritakan.


"Aku ingin menang dari Yumi..."


Hiromi berkata dengan suara yang dipenuhi penyesalan.


"Yumi... Kakakmu, kan?"


"Walaupun disebut kakak, dia cuma lahir sedikit lebih dulu dariku. Jadi aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai kakak."


Seperti dugaanku, hubungan antara Souda Hiromi dan Souda Yumi memang tidak terlalu baik.


Dilihat dari kejadian kemarin, sepertinya yang membenci secara sepihak hanyalah Hiromi. Souda Hiromi melanjutkan ceritanya.


"Tapi, aku nggak pernah bisa menang dari Yumi dalam hal apa pun. Nilai, olahraga, semuanya Yumi yang lebih hebat. Yang lebih populer di kalangan cowok di sekolah juga Yumi.... Bahkan ada cowok yang bilang, 'Kalau kakaknya nggak bisa, adiknya aja deh.' Seolah-olah aku juga mau sama kalian. Enak aja!"


Souda Hiromi yang ceria dan penuh semangat, dan Souda Yumi yang lembut serta baik hati. Keduanya memang gadis cantik, tetapi yang lebih cocok dengan citra madonna idaman para cowok mungkin memang Souda Yumi.


"Papa sama Mama juga selalu marah sambil bilang, 'Jadilah seperti Yumi yang lebih bisa diandalkan.' Nyebelin banget."


Jadi penyebab hubungan kakak-beradik mereka memburuk bukan karena ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua, melainkan karena omongan orang-orang di sekitar. Lingkungan memang bisa mengubah hubungan seseorang. Merepotkan.


"Aku ya aku, Yumi ya Yumi. Tolong lihat kami sebagai orang yang berbeda."


"Itu memang berat...."


"...Kau mengerti?"


Mungkin penderitaan Souda Hiromi jauh lebih besar daripada yang ia ungkapkan.


Dan aku bisa memahaminya. Karena dulu aku juga sama....


Di kehidupan pertama, sosok yang paling kukagumi adalah Amada Teruhito. Menghadapi Amada yang disukai semua gadis cantik di sekolah, aku selalu dipenuhi rasa rendah diri.


Untungnya Amada bukan tipe yang hebat dalam pelajaran ataupun olahraga, jadi aku masih bisa mengalahkannya dalam nilai ujian. Saat itu aku benar-benar bahagia. Aku merasa diriku juga punya nilai.


Namun, Hiromi berbeda.


"Kalau nggak bisa menang dalam apa pun, rasanya seperti dirimu sendiri nggak punya nilai...."


"............Ah."


Kalau kalah dalam pelajaran, olahraga, popularitas, pokoknya di semua bidang, wajar kalau seseorang ingin setidaknya menang dalam satu hal.


"Maaf. Aku nggak bisa bilang kalau aku benar-benar memahami semuanya. Tapi... kurasa aku bisa sedikit mengerti."


"A-Ahaha.... Aku kaget. Selama ini aku sudah cerita ke beberapa teman, tapi nggak ada yang benar-benar mengerti. Jangan-jangan, Ishii-kun juga pernah mengalami hal yang mirip?"


"Iya. Aku pernah merasa sangat rendah diri terhadap seorang bajingan yang benar-benar keterlaluan."


"Begitu ya.... Kalau begitu, Ishii-kun pasti mengerti kenapa aku minta kau berpura-pura jadi pacarku."


"Setidaknya, aku dan Iba akan lebih memprioritaskanmu daripada Souda Yumi."


Begitu kukatakan, Souda Hiromi berbisik pelan,


"...Makasih."


Menang dari Souda Yumi. Itulah alasan Hiromi memintaku berpura-pura menjadi pacarnya, tetapi tujuan sebenarnya berbeda.


Yang ia inginkan adalah ada orang lain yang memilih dirinya dibanding Souda Yumi.


Mungkin... itulah tujuan sesungguhnya.


"Kenapa kau memilihku?"


"Soalnya pas banget. Kalau orang sekampung kan nanti ditanya, 'Kenalnya dari mana?' Tapi kalau orang yang lagi liburan di sini, tinggal bilang, 'Kami memang sudah saling kenal, terus kebetulan ketemu lagi di tempat wisata.'"


"Begitu ya...."


Sambil berpura-pura menerima penjelasan Hiromi, aku melirik ke arah Iba.


Kemungkinan besar, setelah mendengar cerita ini, Iba juga memiliki pertanyaan yang sama denganku.


Bahkan bukan cuma satu, melainkan beberapa.


Pertanyaan pertama tentu saja perbedaan alasannya.


Sampai pada bagian meminta seorang cowok seumuran yang sedang berlibur untuk berpura-pura menjadi pacarnya, kehidupan pertama dan kedua sama persis.


Namun setelah itu alasannya berubah.


Di kehidupan pertama, alasannya adalah, "Aku ingin pamer ke orang tuaku kalau aku punya pacar."


Sedangkan di kehidupan kedua menjadi, "Aku ingin mengalahkan Yumi karena aku juga punya pacar."


Memang sama-sama berkaitan dengan keluarga, tetapi keduanya jelas berbeda.


Lalu pertanyaan kedua adalah tindakan Hiromi di kehidupan pertama.


Pada hari pertama perjalanan, Hiromi bertemu Amada secara kebetulan di restoran, lalu memohon agar Amada berpura-pura menjadi pacarnya.


Bahkan ketika Iba dan para heroine lain saat itu, juga Souda Yumi datang, Hiromi sama sekali tidak berubah pikiran dan terus memohon kepada Amada.


Kalau alasan yang baru saja kudengar, yaitu "Aku ingin mengalahkan Yumi karena punya pacar," memang benar, maka tindakannya itu justru bertentangan dengan alasannya.


Bagaimanapun juga, ia meminta Amada berpura-pura menjadi pacarnya tepat di depan Yumi.


Kalau tujuan utamanya memang agar ada orang lain yang memilih dirinya dibanding Yumi, memang kedua alasan itu masih bisa cocok.


Meski begitu, tindakannya tetap terasa aneh.


Perilaku aneh Hiromi di kehidupan pertama... mungkin itu juga sesuatu yang harus kami cari tahu.


"Jadi begitu! Ishii-kun, selama kita di Okinawa aja, jadilah pacarku, ya!"


"Jadi kau belum menyerah juga?"


Dasar, tetap saja agresif dan optimis seperti biasa.


"Ya iyalah! Malah sekarang kondisinya lebih menguntungkan!"


"Maksudmu?"


"Soalnya Ishii-kun kan pacaran sama Hime Hime? Kalau begitu tinggal minta izin Hime Hime di sini, jadi nggak bakal timbul salah paham aneh."


Barusan juga sudah kami bantah, kan? Lagi pula itu sama sekali bukan alasan.


"Kalaupun aku memang punya pacar, kenapa itu justru menguntungkan buatmu?"


"Eh! Nanya itu? Penasaran, ya?"


Hiromi menyeringai lebar, seolah memang sudah menunggu pertanyaan itu. Di sebelahku, Iba entah kenapa menggaruk pipinya dengan wajah malu.


"Kalau kita sama-sama sudah punya orang yang benar-benar disukai, kan hubungan palsu ini nggak bakal berubah jadi sungguhan?"


"Hm?"


"Rahasia, yaa~. Sebenarnya aku juga punya!"


"Punya apa?"


"Orang yang benar-benar kusukai!"


"H-Hee...."


Ucapan itu disampaikan dengan senyum polos. Namun bulu kudukku langsung merinding hebat.


Tidak... tidak mungkin.


Tidak mungkin sampai begitu.


Aku mati-matian menyangkalnya dalam hati, tetapi kemungkinan terburuk sudah terlintas di kepalaku.


"H-hei, Iba...."


Saat kulihat ke arahnya, rupanya Iba juga sampai pada kesimpulan yang sama.


Keringat dingin mengucur deras di wajahnya, lalu dengan mata berkaca-kaca ia berkata,


"Aku tidak pernah mendengar cerita seperti itu!"


Tunggu dulu. 


Bukannya ini sudah pernah terjadi dengan Hitsujitani Miwa?


Belum cukup sama-sama jadi murid pindahan, sekarang sampai mengulang pola yang sama?


Tenang. Belum tentu benar.


Namanya juga Souda....

(TLN: Souda bisa berarti ‘benar juga’/ ‘begitulah’ dalam bahasa Jepang)


Bukan saatnya bercanda.


"Hah? Ada apa, Ishii-kun? Hime Hime?"


Hiromi yang sama sekali tidak menyadari ketakutan kami memiringkan kepala dengan mata bulat polos.


Tenggorokanku terasa kering hingga sulit bicara.


Aku langsung menghabiskan segelas air yang ada di meja.


"Itu... airku...."


Keluhan kecil dari Iba.


Aku sama sekali tidak punya waktu untuk menanggapinya.


Setelah tenggorokanku sedikit lega, aku kembali bertanya kepada Hiromi.


"Ngomong-ngomong... orang yang kau suka itu seperti apa?"


"Hmm.... Gimana ya. Kelihatannya sih nggak terlalu bisa diandalkan, tapi sebenarnya dia benar-benar bisa diandalkan! Sekilas cuma kelihatan seperti cowok biasa, tapi saat harus bertindak, dia selalu bisa diandalkan."


Sudahlah. Jangan terus-terusan menambahkan informasi yang mengubah firasatku menjadi keyakinan.


"Aku ketemu dia lima tahun yang lalu, waktu pulang ke rumah Kakek. Tapi sejak itu kami belum pernah bertemu lagi. Yah, sebentar lagi sih bakal ketemu lagi!"


Di semester dua nanti, Souda Hiromi akan pindah ke SMA Hirasaka. Alasan pindahnya mungkin karena pekerjaan orang tuanya.


Artinya, cowok yang tinggal di sekitar sana adalah orang yang ia sukai.


Tenang. Masih banyak kemungkinan.


"Jadi ya, bisa dibilang kami teman masa kecil! Sebelum berpisah, kami juga sempat bikin janji!"


Jangan. Tolong jangan ada janji sebelum berpisah.


Itu benar-benar klise khas romcom.


"Kira-kira dia masih ingat janjinya nggak ya...."


Dengan senyum paling bahagia yang pernah ia tunjukkan, Hiromi mengatakannya.


Informasi yang ia berikan satu demi satu memang mengarah ke kemungkinan terburuk. Namun masih belum ada bukti yang benar-benar memastikan.


Kalau bisa, aku sebenarnya tidak ingin bertanya.


Tapi aku harus.


Di sampingku, Iba berusaha menyembunyikan tangan yang gemetar di bawah meja, sambil menggenggam erat bajuku.


"N-Ngomong-ngomong.... Sekadar tanya saja...."


Aku harus bertanya. Tidak ada pilihan lain.


"Siapa... nama orang itu?"


Souda Hiromi. Adik dari gadis kembar cantik yang secara kebetulan kami temui saat liburan di Okinawa.


Sejak pertama bertemu, ia sudah meminta hal yang tidak masuk akal, yaitu agar aku berpura-pura menjadi pacarnya. Dan setelah itu pun ia terus mendekat tanpa ragu.


Lalu, identitas sebenarnya dari orang yang ia sukai adalah....


"Teru Teru... namanya Amada Teruhito!"


Sialan.


Sebenarnya berapa banyak teman masa kecil yang dimiliki orang itu?


◇ ◇ ◇


【Souda Hiromi】


"Papa sama Mama selalu marah sambil bilang, 'Jadilah seperti Yumi yang lebih bisa diandalkan.' Nyebelin banget. Aku ya aku, Yumi ya Yumi. Tolong lihat kami sebagai orang yang berbeda."


"Itu memang berat...."


"...Kau mengerti?"


Walaupun aku bertanya begitu, sebenarnya dalam hati aku sudah menyerah.


Aku pernah menceritakan hal ini kepada beberapa teman.


Tapi tak seorang pun benar-benar mengerti.


Tentu saja bukan salah mereka. Ada batas pada apa yang bisa disampaikan hanya dengan kata-kata.


Karena itu, kupikir Ishii-kun juga....


"Kalau nggak bisa menang dalam apa pun, rasanya seperti dirimu sendiri nggak punya nilai...."


"............Ah."


Dia mengerti?


Ishii-kun benar-benar mengerti?


Dia mengerti betapa menderitanya aku selama ini....


………………


…………


……


"Yes! Delapan puluh tiga!"


Semuanya bermula saat aku masih SD.


Hari itu aku mendapat nilai ujian yang cukup bagus. 


Aku serius mendengarkan pelajaran di kelas, lalu belajar lagi di rumah. Nilai itu adalah hasil dari semua usahaku.


Nanti kalau pulang, aku akan memamerkannya kepada Papa dan Mama. Pasti mereka akan memujiku.


"Yumi! Nilai ujianku hari ini bagus banget! Delapan puluh tiga! Delapan puluh tiga!"


"Ah.... Iya.... Hiromi memang sudah berusaha keras...."


"Iya!"


Di perjalanan pulang, karena tidak sabaran, aku malah lebih dulu membanggakannya kepada Yumi.


Tapi reaksinya tidak seperti yang kuharapkan.


Dalam hati aku malah mengeluh, "Aku maunya dia bereaksi lebih heboh."


Tanpa pernah memikirkan kenapa Yumi bereaksi seperti itu....


Sesampainya di rumah, aku dan Yumi menunjukkan hasil ujian kami kepada Papa dan Mama.


"Luar biasa, Yumi! Seratus!"


"Iya.... Terima kasih...."


Saat itulah aku akhirnya mengerti kenapa Yumi tadi bereaksi begitu hati-hati.


Di ujian yang sama, Yumi mendapat nilai seratus.


Makanya dia bereaksi seperti itu.


Papa dan Mama terus memuji Yumi.


"Nilai terbaik di sekolah!"


"Kamu benar-benar bekerja keras!"


"Yumi memang anak yang bisa diandalkan."


Semua kata-kata yang ingin kudengar...semuanya diberikan kepada Yumi. Sedangkan aku tidak mendapatkan apa pun.


Di tengah kegembiraan mereka, Yumi menoleh kepadaku lalu berkata,


"Papa, Mama. Nilai Hiromi juga bagus kok...."


"Ah, iya juga.... Iya! Hiromi juga sudah berusaha."


Delapan puluh tiga setelah nilai seratus.


Papa dan Mama memang memujiku. Tapi pujian itu terasa dipaksakan.


Tolong....


Jangan menyangkal semua usahaku....


Aku tahu Yumi memang lebih hebat. Tapi aku juga sudah berusaha. Tolong pujilah aku....


Akui juga usahaku....


Malam itu, aku merobek-robek kertas ujianku yang bernilai delapan puluh tiga.


Saat acara olahraga sekolah, aku terpilih menjadi pelari estafet campuran. Bahkan aku menjadi pelari terakhir.


Aku sangat senang.


Aku benar-benar ingin berjuang demi kelasku. Tapi saat itu, salah satu anak laki-laki berkata,


"Tapi bukannya Souda lebih lambat daripada kakaknya?"


Terus kenapa? Kalau Yumi sekelas denganku sih aku masih mengerti, tapi dia kan kelas lain.


Sekarang yang sedang dibahas adalah siapa yang akan menjadi pelari terakhir di kelas kami, jadi kenapa malah membawa-bawa Yumi?


Seorang anak laki-laki yang lain berkata,


"Ya mau bagaimana lagi? Tidak ada orang lain kan."


Walaupun aku adalah pelari tercepat di kelasku, karena masih lebih lambat dari Yumi, aku dipilih menjadi pelari terakhir hanya karena "terpaksa". Bahkan sebelum lomba dimulai, rasanya keberadaanku sudah disangkal.


Aku tidak akan kalah.... Aku pasti akan mengalahkan Yumi. Aku akan membuktikan kalau aku lebih hebat.


Lalu tibalah hari perlombaan olahraga.


Aku menjadi pelari terakhir. Yumi juga menjadi pelari terakhir.


"Hiromi, ayo kita sama-sama berusaha ya!"


"...Iya."


Sambil menunggu baton sampai, Yumi menghampiriku dengan wajah ceria. Tapi aku tidak suka.


Karena sejak tadi aku terus mendengar suara-suara itu.


"Ini pertarungan saudari Souda."


"Kira-kira kakaknya atau adiknya yang menang?"


Sudah pasti aku yang menang. Aku sudah berlatih mati-matian sampai hari ini.


Aku akan membuat semua orang yang berkata "tidak ada pilihan lain" menyesal....


Begitulah yang kupikirkan....


Namun harapanku tidak terkabul.


"Ayo semangat! Tidak apa-apa! Pasti bisa!"


Sorakan Yumi terdengar dari sebelah.


Tidak usah bersorak sekeras itu juga. Kelasmu kan sedang berada di posisi pertama.


Sedangkan kelasku berada di posisi keempat. Nomor dua dari belakang.


"Jangan menyerah! Sedikit lagi! Tinggal sedikit lagi!"


Untuk pertama kalinya dalam hidupku, suara yang setiap hari kudengar terasa begitu mengganggu.


Cepat....


Cepatlah....


Sedikit saja sudah cukup....


Pelari dari kelas Yumi yang berada di posisi pertama berlari menuju Yumi sambil membawa baton.


"Haa... haa... Yumi, kami mengandalkanmu!"


"............Iya!"


Setelah menatapku sesaat, Yumi menerima baton dan mulai berlari.


Meninggalkanku di belakang, hanya Yumi yang sudah mulai berlari. Sedangkan aku masih belum bisa bergerak.


Aku hanya bisa menunggu di titik start.


"Selanjutnya terserah padamu!"


"...!"


Ucapan santai anak laki-laki itu membuatku kesal. Kenapa napasmu bahkan tidak terengah-engah? 


Kalau saja kau berlari sedikit lebih sungguh-sungguh, mungkin selisihnya tidak akan sejauh ini.


Begitu akhirnya menerima baton, aku berlari sekuat tenaga.


Aku berlari mati-matian.


"Hah! Hah! Hah!"


Aku menyalip satu orang, lalu satu orang lagi....


Yang tersisa di depanku hanyalah Yumi. Namun saat aku berhasil sampai sedekat itu, Yumi sudah berada tepat di depan pita finish.


Sorak sorai terdengar.


Namun itu bukan sorakan untukku yang masih berlari.


Saat aku mencapai garis finis, sorakan itu sudah mereda, dan aku diam-diam melewati garis finish yang bahkan sudah tidak lagi memiliki pita.


"Haa... haa... haa...."


"Hiromi, hebat sekali! Tidak kusangka kau bisa naik sampai peringkat dua!"


Orang pertama yang menghampiriku bukan teman-teman sekelasku, melainkan Yumi.


Teman-teman satu timku hanya memandang kami dengan wajah kecewa.


"Ah.... Kakaknya menang ya."


"Yah, mau bagaimana lagi? Memang tidak ada orang lain."


Jangan bercanda.


Kalian juga pelari estafet yang sama denganku, kan? 


Kenapa estafet yang seharusnya dijalankan oleh satu tim malah berubah menjadi pertandingan antara aku dan Yumi?


Kenapa seolah-olah kami kalah karena aku?


Aku sudah berusaha, kan?


Awalnya kami di posisi empat, tapi aku berhasil membawa tim naik sampai posisi dua.


Lalu kenapa tidak ada yang memujiku?


Kalau kami mulai dari posisi yang sama, pasti aku yang menang.


Akulah yang akan menang....


Setelah perlombaan olahraga selesai dan kami pulang ke rumah, yang tetap dipuji adalah Yumi.


"Hebat bisa juara satu."


"Semua orang benar-benar mempercayaimu ya."


"Kau cepat sekali!"


Sama seperti saat ujian. Semua kata-kata yang ingin kudengar diberikan kepada Yumi.


"Hiromi juga cepat kok."


Dan sama seperti saat ujian, lagi-lagi aku menerima belas kasihan dari Yumi.


"Iya. Hiromi juga hebat bisa juara dua."


Hebat karena juara dua. Aku tidak tahu apakah Papa benar-benar bermaksud begitu atau tidak.


Tapi di telingaku, kata-kata Papa terdengar seperti,

"Yang paling hebat setelah Yumi."


Sejak hari itu, aku berhenti berlari dengan sungguh-sungguh.


Karena aku sadar, meski sudah berusaha mati-matian dan mendapatkan hasil, pada akhirnya akulah yang akan disalahkan....


Memasuki SMP, ketika tubuhku mulai berubah menjadi tubuh seorang gadis, tatapan anak-anak laki-laki pun ikut berubah.


Bukan lagi "suka" seperti anak SD, melainkan "suka" ala anak SMP.


Mungkin bisa dibilang sedang jatuh cinta pada cinta itu sendiri?


Semakin banyak orang yang ingin memiliki pacar.


Tapi aku berbeda. Saat itu aku sudah bertemu dengan orang yang ditakdirkan untukku, jadi aku tidak pernah menganggap anak laki-laki di sekitarku istimewa.


Karena itu aku tidak peduli.


Aku tidak punya alasan untuk peduli—Bohong.


"Hiromi, maaf. Aku terlambat."


Saat sedang memainkan ponsel di depan gerbang sekolah, Yumi datang dengan langkah sedikit tergesa-gesa.


Yumi adalah gadis yang sangat populer di sekolah kami.


Baik hati, lembut, dan sopan. Bagi anak laki-laki, dia seperti madonna yang dikagumi. Karena itu Yumi sering sekali ditembak.


Padahal kalau hanya wajah, kami berdua sangat mirip....


"Berarti kau kembali sendirian?"


"Iya. Aku menolaknya."


Yumi menjawab dengan santai tanpa sedikit pun merasa bersalah.


"Padahal menurutku dia lumayan tampan. Tidak apa-apa kan?"


"Kalau cuma wajahnya saja bagus ya percuma. Cara dia menyatakan perasaan juga seperti, 'Kalau orang setampan aku pasti langsung diterima.' Benar-benar menjijikkan."


Banyak anak laki-laki yang tidak tahu, tapi Yumi sebenarnya cukup pedas kalau berbicara. Dia baik kepadaku dan kepada gadis-gadis lain, tapi sangat keras kepada anak laki-laki.


Istilahnya memang "benci laki-laki".


Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu.Saat kusadari, Yumi sudah mulai membenci laki-laki.


"Hiromi, kau juga hati-hati ya. Jangan sampai tertipu laki-laki brengsek."


"Iya, iya."


Mana mungkin. Karena aku sudah memiliki orang yang ditakdirkan untukku.


Amada Teruhito.


Orang yang kutemui saat liburan musim panas.

Orang yang hanya melihatku seorang.


"Kalau nanti ada orang yang kau sukai, kau harus bilang kepadaku. Mengerti?"


"...Kau terlalu khawatir."


Sedikit rasa bersalah muncul di dadaku. 


Karena aku belum pernah menceritakan tentang Teru Teru kepada Yumi.


Soalnya... aku takut....


"Aku memang harus khawatir. Kau kan adik yang paling berharga bagiku."


Takut kalau Teru Teru memilih Yumi... bukan aku.


Keesokan harinya, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.


"Hiromi, maukah kau menjadi pacarku?"


Bukan Yumi, yang ditembak justru Hiromi.


Tapi aku sama sekali tidak senang. Perasaan yang muncul di dalam diriku justru kebalikannya.


Tidak percaya.


Tidak bisa memaafkan.


Menjijikkan.


Yang terus memenuhi dadaku hanyalah amarah dan rasa muak. Karena orang ini....


"Kemarin kau baru saja menyatakan perasaan kepada Yumi, kan?"


"Ugh! Jadi kau tahu?"


Ya jelas tahu.


Kami ini saudara kembar. Hal seperti itu pasti kami bicarakan. Tapi rupanya dia menganggap aku tidak seharusnya mengetahui hal yang merugikannya itu.


"Jadi Yumi tipe orang yang suka membocorkan hal begitu ya.... Benar-benar tidak masuk akal...."


Yang tidak masuk akal itu kau. Jangan menjatuhkan Yumi demi membenarkan dirimu sendiri.


"Memang lebih baik Hiromi. Kau jauh lebih baik daripada Yumi."


Padahal kau belum pernah sekalipun berbicara denganku, kan? Lalu kenapa tiba-tiba memanggilku dengan nama depan?


Menjijikkan.


Menjijikkan.


Menjijikkan.


"Benar-benar menjijikkan...."


Hanya itu yang kukatakan sebelum berlari pergi.


Sejak awal aku memang tidak berniat menerima pengakuan siapa pun.


Siapa pun yang menembakku, aku pasti akan menolaknya.


Karena aku sudah memiliki Teru Teru.


Tapi ini keterlaluan. Hanya karena Yumi menolaknya, lalu aku dijadikan pilihan kedua....


"Itu padahal pengakuan cinta pertama yang pernah kuterima...."


Hari itu aku menangis sendirian di kamar.


Yumi datang dengan wajah khawatir untuk melihat keadaanku, tapi aku tidak mengatakan apa-apa.


Karena kalau aku mengatakannya, rasanya sama saja dengan mengakui bahwa aku memang kalah dari Yumi....


Dan bagi diriku, mimpi buruk itu belum berakhir.


Mulai keesokan harinya, semua orang mulai mengatakan kalau aku "berkepribadian buruk". Karena bajingan yang menyatakan cinta kepadaku itu menyebarkan cerita bohong.


—"Aku sudah menyatakan perasaanku dengan sungguh-sungguh, tapi dia malah bilang aku menjijikkan."


Jangan bercanda.


Kau menembakku karena sudah ditolak Yumi, kan?

Lalu kenapa justru aku yang menjadi orang jahat?


Yang salah itu semuanya adalah dirimu.


Setelah itu pun, aku berkali-kali ditembak.


"Hiromi lebih baik daripada Yumi."


"Hanya aku yang benar-benar berpihak padamu."


"Yang lain cuma belum mengenalmu."


Kata-kata kotor yang dipenuhi kebohongan dan nafsu entah mereka dapatkan dari mana.


Apa kalian pikir aku tidak tahu?


Aku tahu. Kalian semua pernah menyatakan cinta kepada Yumi dan ditolak olehnya....


◇ ◇ ◇


Sejak kapan ya?


Aku tidak bisa lagi memandang senyum Yumi dengan tulus.


Yumi yang memiliki wajah yang sama denganku, tetapi diberkahi dengan segalanya melebihiku.


Yumi yang baik hati selalu menungguku di gerbang sekolah.


Yumi yang baik hati selalu membuatku terlihat lebih menonjol.


Yumi yang baik hati selalu memikirkanku.


Tapi justru kebaikan itu terasa menyakitkan. Karena itu, perlahan-lahan aku mulai menjauh dari Yumi.


Pernah juga aku sengaja membuat alasan palsu agar tidak pulang bersamanya. Saat pulang terlambat, Papa dan Mama memarahiku.


"Jangan membuat kami khawatir. Yumi sudah pulang dengan selamat."


Kalau saja mereka berhenti di kalimat pertama, mungkin aku masih akan senang....


"Hei, Yumi itu tipe laki-lakinya seperti apa sih?"


Mana aku tahu. Tanya sendiri kepadanya.


"Kepribadian Yumi memang bagus banget ya. Di rumah juga begitu?"


Tidak. Di rumah dia bahkan lebih baik kepadaku.


Terlalu baik kepadaku....


"Hei, menurutmu apa yang bisa membuat Yumi senang?"


Papa, Mama....


Tolong jangan menanyakan hal seperti itu kepadaku....


Anak laki-laki, teman-teman, Papa, Mama....Semuanya melihat Yumi, bukan aku.


Aku hanyalah cadangan Yumi. Aku hanyalah pengganti Yumi. Aku hanyalah versi inferior Yumi.


Aku tidak mau seperti itu. Apa saja tidak masalah....Asal ada satu hal saja.... satu hal saja yang bisa membuatku mengalahkan Yumi....


Kalau tidak.... aku….


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close