Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 2
Takdir mengendalikan separuh tindakan tokoh pendukung, dan menyerahkan separuh sisanya kepada tokoh pendukung itu sendiri
"Ganti sandalnya."
"Nggak mau~."
Pagi hari di hari Jumat, sebuah pertempuran kecil pecah di depan pintu masuk rumah keluarga Ishii.
Hari ini akhirnya tiba juga hari keberangkatan ke Okinawa.
Tempat berkumpulnya adalah stasiun terdekat dari SMA Hirasaka. Dari sana rencananya kami akan naik kereta menuju bandara, tetapi setelah ayah Tsukiyama mengetahui rencana ini, entah kenapa beliau jadi dipenuhi rasa tanggung jawab dan bersikeras, "Aku pasti akan mengantar kalian sampai bandara."
Akibatnya, meski kami masih siswa SMA, kami justru akan pergi ke bandara dengan seorang presiden direktur perusahaan besar sebagai sopir. Pak Direktur... memangnya tidak bekerja?
Yah, soal itu lupakan dulu. Masalahnya ada pada situasi saat ini.
Pagi-pagi sekali, bersama Hidaka yang datang dengan penuh semangat ke rumah keluarga Ishii, kami hendak berangkat sambil membawa tas Boston dan koper berisi pakaian untuk empat malam lima hari.
Namun, begitu sampai di pintu masuk, terjadi keanehan.
Entah kenapa, ada sepasang sandal jepit pantai.
Pelakunya mudah ditebak.
Hidaka Mikoto.
Perempuan ini benar-benar datang menginjak jalan beton dengan sandal yang seharusnya dipakai bermain pasir di pantai.
"Aku tetap berangkat pakai ini."
Dengan wajah cemberut seperti anak kecil, Hidaka mengenakan sandal pantainya sambil menunjukkan tekadnya lewat kata-kata dan tindakan.
Bagaimana caranya supaya perempuan ini mau mengerti?
Aku tanpa sadar meminta bantuan dengan melirik ke arah keluargaku, tetapi...
"Hmm... kalau Mikoto-chan sendiri tidak masalah, Ayah juga tidak keberatan..."
"Itu hadiah dari Kazuki, kan? Kalau begitu, tidak apa-apa."
Ayah maupun Ibu sama-sama memihak Hidaka.
Kalau begitu, satu-satunya harapan tinggal Yuzu...
"Miko-chan, kalau kakimu mulai sakit, bilang ya?"
"Iya. Aku pasti bilang!"
Malaikat berhati lembut itu menerima semuanya begitu saja.
...Sudah kuduga.
"Kazupyon... nggak boleh?"
Tatapan lemah seperti itu benar-benar curang...
"Kalau nanti susah jalan, harus ganti sepatu, ya?"
"...! Iya!"
Keluargaku memang terlalu memanjakan Hidaka.
Termasuk aku.
Momen itu benar-benar membuatku menyadarinya.
Setelah itu, bersama Hidaka dan Yuzu yang tampak sangat bersemangat, kami menuju stasiun terdekat SMA Hirasaka sebagai tempat berkumpul.
Setiap kali naik kereta bersama Hidaka, selalu ada satu hal yang kupikirkan.
Perhatian orang-orang benar-benar luar biasa.
Mungkin karena waktunya sedikit melewati jam sibuk sehingga keretanya agak lenggang, kecantikan Hidaka jadi jauh lebih mencolok dari biasanya. Tatapan seluruh penumpang seolah tertuju kepadanya.
Aku pura-pura tidak mendengar seseorang berbisik, "Eh, dia pakai sandal jepit ya?"
Begitu sampai di stasiun, Iba dan Ushimaki sudah lebih dulu tiba. Iba yang bermata tajam langsung melihat kaki Hidaka.
"Syukurlah ya, Mikoto-san."
Hanya dengan melihat Hidaka memakai sandal jepit pantai, entah bagaimana dia berhasil menebak dari mana sandal itu berasal sekaligus alasan kenapa Hidaka memakainya.
Tiga menit kemudian, Tsukiyama datang bersama ayahnya menggunakan mobil.
Meski beliau adalah presiden direktur perusahaan besar, beliau datang dengan mobil besar yang mirip jip, sehingga awalnya kesanku agak berbeda dari bayangan.
Namun ternyata aku hanya kurang pengetahuan. Setelah mencarinya lewat ponsel, aku baru tahu kalau itu adalah mobil mewah G-Class dari sebuah produsen mobil luar negeri.
Di dalam mobil menuju bandara, Tsukiyama yang duduk di kursi penumpang depan dengan bangga menceritakan tentang kami kepada ayahnya.
Entah kenapa rasanya sangat memalukan sampai membuatku sedikit tidak nyaman.
Ampun deh.
Sesampainya di bandara, kami mengucapkan terima kasih kepada ayah Tsukiyama sebelum naik pesawat.
Setelah penerbangan sekitar tiga jam, akhirnya kami tiba di Bandara Naha.
◇ ◇ ◇
"Waaah! Langitnya indah banget!"
"Mo-chan, Shisa! Ada patung Shisa!"
"Aku mau foto kenang-kenangan. Foto bersama untuk merayakan kedatangan kita."
Sejak sebelum tiba pun semangat mereka sudah tinggi, tetapi begitu keluar dari bandara, semangat itu mencapai puncaknya.
Kalau Yuzu dan Ushimaki yang memang ekspresif sih bisa dimengerti. Tapi bahkan Hidaka pun tampak lebih bersemangat dari biasanya.
Meski begitu, aku paham perasaannya.
Aku sendiri juga sama.
Biasanya aku sudah muak dengan panasnya musim panas. Namun panas Okinawa yang bahkan lebih tinggi daripada kampung halamanku justru membuatku berpikir,
"Jadi begini ya panasnya Okinawa."
Dan yang paling penting...
Pemandangannya benar-benar indah.
Pohon palem benar-benar tumbuh di sini....
"Permisi. Bolehkah kami minta tolong difotokan?"
Berbeda dengan kami yang sedang heboh, Iba tetap terlihat tenang. Seolah semuanya sudah direncanakan, ia langsung menghampiri petugas di luar bandara dan meminta bantuan untuk mengambil foto.
"Baik, saya ambil ya. Say cheese!"
Mengikuti aba-aba petugas, kami semua tersenyum.
Satu foto dengan latar belakang Bandara Naha pun berhasil diambil. Hidaka langsung mengirimkan foto itu ke grup kami, sementara Tsukiyama berkata dengan penuh kebanggaan,
"Hehe! Mau kukirim ke Ayah, ah."
Aku sendiri juga sempat diminta mengirim foto oleh perempuan aneh itu.
Tapi...foto ini tidak usah kukirim, kan?
Kurasa ini bukan foto yang dia inginkan.
Baru saja aku memikirkan itu, sebuah pesan masuk.
...Ternyata benar, dari perempuan itu.
[Minta foto yang ada puting legal dong~]
Kalau begitu, jelas foto ini tidak perlu kukirim.
Syukurlah dia sudah menyampaikan keinginannya dari awal.
Apa sebaiknya kublokir saja, ya?
◇◇◇
Dari bandara kami naik taksi.
Tsukiyama yang katanya setiap tahun selalu datang ke Okinawa dengan cekatan memandu kami hingga akhirnya tiba di vila keluarganya.
"Sampai! Ini dia vila milik Ayah!"
"Gila...."
"Iya kan!? Hebat, kan!?"
Di tengah kawasan yang dikelilingi laut dan pepohonan, berdiri sebuah vila megah yang langsung mencuri perhatian.
Besarnya benar-benar luar biasa. Sampai-sampai mengingatkanku pada rumah Tony Stark di Iron Man 3.
Dinding kacanya begitu besar hingga rasanya bukan lagi jendela, melainkan seluruh dindingnya terbuat dari kaca.
Aku sampai ingin bertanya bagaimana urusan privasi dan keamanannya.
Dari sana terbentang pemandangan laut yang indah. Hamparan pepohonan hijau, pasir putih, dan lautan biru dapat dinikmati sekaligus.
Yuzu, dengan mata berbinar-binar, bertanya kepada Tsukiyama,
"Boleh aku memotret?"
Lalu ia dengan gembira mengangkat ponselnya.
"Kazu, ada kolam renang! Ada kolam renang! Hebat ya!"
Yuzu memang luar biasa.
Padahal aku malah berpikir, "Lautnya sudah ada tepat di depan, kenapa masih ada kolam renang segala?"
Sedangkan Yuzu murni merasa senang.
Melihat malaikat yang bisa menemukan keindahan dalam apa pun, aku hanya bisa terharu.
Begitu tiba, Hidaka langsung berkata,
"Akhirnya sandal ini bisa dipakai sesuai fungsinya."
Ia ingin segera pergi ke pantai. Namun karena kami baru saja menempuh perjalanan jauh dan hari juga sudah mulai sore, akhirnya diputuskan pantainya besok saja.
Kami pun hendak membawa barang ke kamar.
Namun...masalah baru muncul.
"Pokoknya aku."
"Pokoknya aku!"
Di ruang tamu, Hidaka dan Ushimaki saling menatap tajam.
Di kehidupan pertamanya, seberapa pun kesalnya Ushimaki terhadap Hidaka, ia tidak pernah mengeluh. Namun di kehidupan kedua berbeda.
Ia menyampaikan keberatannya dengan jelas dan tidak mau mengalah dalam hal-hal tertentu.
Lalu, kenapa mereka bertengkar?
"Yang sekamar dengan Yuzu-chan pokoknya harus aku!"
Begitulah alasannya.
Vila Tsukiyama memiliki beberapa kamar tidur.
Satu kamar akan kupakai bersama Tsukiyama.
Sebenarnya aku juga ingin sekamar dengan Yuzu, tetapi tentu saja aku masih tahu diri.
Karena setiap kamar ditempati dua orang, akhirnya muncul masalah dalam pembagian kamar para perempuan.
Hidaka dan Ushimaki hampir bersamaan mengajak Yuzu sehingga pertarungan pun dimulai.
"Miko-chan kan setiap hari bisa ketemu Yuzu-chan! Aku cuma sesekali! Jadi yang sekamar harus aku!"
"Mo tadi duduk di sebelah Yuzu-chan waktu di mobil dan di pesawat. Jadi kamar jadi milikku."
Diam-diam cara Hidaka memanggil Ushimaki berkembang dari "Mo" menjadi "Moー". Namun Ushimaki yang sedang terbakar semangat sama sekali tidak menyadarinya.
Melihat keduanya, Iba bergumam,
"Begitu rupanya. Kalau anggota yang ikut seperti ini, memang jadinya begini..."
"Maksudmu?"
"Tidak usah dipikirkan."
Ia tidak menjawab pertanyaanku. Sebaliknya, ia terus mengoperasikan ponselnya dengan tenang.
Saat kutanya sedang apa, ia menjawab sedang mencari restoran untuk makan malam.
...Kenapa baru sekarang?
"Bukannya restorannya sudah dipilih?"
"Ya. Aku yang akan menentukan semuanya."
Selama perjalanan ini, semua restoran yang akan kami kunjungi—terutama untuk makan malam—ditentukan oleh Iba.
Kami memang memberi usulan tempat yang ingin dikunjungi. Namun keputusan akhirnya selalu berada di tangan Iba.
Bahkan ada beberapa restoran yang langsung ditolaknya dengan alasan, "Tempat itu berbahaya, jadi tidak boleh."
Entah berbahaya bagaimana.
Karena dia sudah memilih dengan sangat teliti...
"Kalau sudah dipilih, kenapa masih mencari lagi?"
"Untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Lebih baik punya beberapa pilihan."
Aku memang tahu dia orang yang berhati-hati.
Tapi tidak kusangka sampai sejauh ini.
Sambil melirik Iba yang benar-benar berhati-hati, aku kembali menyaksikan duel antara Hidaka dan Ushimaki.
"Kalau begitu, Miko-chan tadi juga bergandengan tangan dengan Yuzu-chan waktu datang! Di restoran keluarga kemarin juga duduk sebelahan!"
"Mo waktu belanja juga membeli sikat gigi yang sama dengan Yuzu-chan."
"Itu karena Miko-chan mau memakai sikat gigi yang sama dengan Ishii! Makanya beli dua lalu diam-diam menyelipkan satu ke barang bawaan Ishii!"
Hidaka-san. Aku baru dengar soal itu. Bukankah itu sudah terlalu agresif?
"Kalau tahu, aku akan beli dua. Gaya dua pedang. Akulah reinkarnasi Ohtani-san."
Ohtani-san masih hidup. Bahkan sangat sehat.
(TLN: Ohtani/Shohei Ohtani adalah pemain bisbol)
"Hmph!"
Mereka berdua akhirnya sadar bahwa perdebatan ini tidak akan ada habisnya.
Karena tak ada yang mau mengalah, lebih baik orang yang bersangkutan saja yang memutuskan.
"Yuzu-chan, kamu pilih yang mana?"
"Eh? Eeeh!?"
Dalam sekejap wajah marah berubah menjadi senyum.
Perubahan ekspresi mereka saat menoleh ke Yuzu benar-benar seperti Asura. Keduanya memang tersenyum manis. Tetapi mata mereka sama sekali tidak tersenyum.
"E-eh... Kazu...."
Bahaya. Melihat Yuzu yang berkaca-kaca meminta tolong membuat jantungku berdebar.
Benar. Malaikat seperti Yuzu tidak mungkin bisa menentukan pilihan sesulit ini. Di sinilah kakak yang bisa diandalkan harus turun tangan.
Serahkan padaku.
Dengan tekad itu aku melangkah maju menghadapi dua Asura tersebut.
Namun tepat saat itu...
Tsukiyama yang tadi memeriksa kamar kembali.
"Dua kamarnya tidak ada masalah. Kunci kamar perempuan kusimpan saja sama Iba?"
"Dua kamar?"
Suara dua Asura itu bertumpuk.
Kurasa mereka memiliki pertanyaan yang sama denganku.
Vila Tsukiyama memang memiliki beberapa kamar. Jadi kupikir kami akan memakai tiga kamar dengan pembagian dua orang setiap kamar.
Namun...
"Yang dipisah cuma kamar laki-laki dan kamar perempuan saja sudah cukup, kan? Kalau kamar perempuan juga dibagi dua, nanti malah ribut lagi soal siapa sekamar dengan siapa."
Mendengar jawaban santainya, aku langsung tertegun.
Serius? Memang benar sih...bahkan Iba yang berdiri di sampingku sampai gemetar.
"Ti-tidak bisa dipercaya.... Ouji-kun yang selama ini hanya bisa membuat orang kecewa ternyata menunjukkan perhatian yang luar biasa.... Apa benar itu dirinya?"
"Iya.... Tsukiyama yang terkenal tidak peka ternyata bisa kepikiran sejauh ini...."
"Hei, kalian sadar nggak sih kalau itu keterlaluan...? Eh?"
Tsukiyama yang tadinya mengomel dengan wajah kesal langsung berubah ekspresi saat Yuzu menghampirinya.
Meski masih tampak sedikit gugup, Yuzu tersenyum sebaik mungkin lalu berkata,
"Ehm... Tsukiyama-san, terima kasih banyak! Benar-benar membantu!"
"Uffoh...."
Setelah itu, Hidaka dan Ushimaki yang tadi masih bertengkar saling tersenyum malu.
"Ini kan perjalanan liburan. Berantem terus juga nggak bagus ya."
Dengan begitu, masalah pembagian kamar pun akhirnya selesai dengan damai.
Perempuan memang menakutkan.
◇ ◇ ◇
Pukul lima sore.
Meski masih sedikit lebih awal, karena kami selesai merapikan barang lebih cepat dari rencana, kami memutuskan langsung pergi makan malam.
Setelah Iba memastikan kepada restoran yang telah ia reservasi apakah kami boleh datang lebih awal, kami pun berangkat.
Kami kembali naik taksi menuju pusat kota Okinawa, dan seperti yang diduga, suasananya benar-benar berbeda dengan kampung halaman kami.
Bahkan di tengah kota pun tumbuh pohon-pohon palem, sementara bangunan-bangunannya memiliki desain yang khas... ada yang bergaya retro, ada pula yang mengingatkan pada Amerika.
Rasanya juga lebih banyak melihat orang asing dibanding biasanya. Apa mereka juga wisatawan seperti kami?
"Semuanya, lewat sini."
Dengan ponsel di tangan, Iba memandu kami.
Saat berjalan di tengah kota, sesekali ada pria-pria yang tampaknya berniat mengajak bicara Hidaka dan yang lainnya.
Namun begitu mereka melihat Tsukiyama, mereka langsung mundur sambil mengomel, "Dasar berandalan harem."
Kalau aku?
Tidak ada yang bilang apa-apa.
Ya wajar saja sih, Tsukiyama lebih tinggi, lebih tampan.
Aku sama sekali tidak iri.
"Tolong tunggu di sini sebentar. Aku akan memastikan dulu."
Sesampainya di depan restoran, Iba masuk sendirian lebih dulu. Tak lama kemudian ia keluar kembali.
"Tidak ada masalah. Mari kita masuk."
Barulah kami semua ikut masuk.
Tempat duduk kami berada cukup jauh di dalam sehingga tidak terlalu mencolok.
◇◇◇
"Bukankah Fuuka-san agak lama?"
Saat makan, Ushimaki pergi ke toilet. Namun seperti kata Iba, ia tak kunjung kembali.
Kupikir tidak ada yang perlu dikhawatirkan—Tetapi tampaknya Iba berpikir lain. Ia berdiri dengan tatapan serius lalu mengarahkan pandangannya ke arah toilet.
"Sepertinya dia sedang mengobrol dengan pegawai restoran. Benar-benar membuatku cemas saja."
Padahal menurutku tidak ada yang perlu dicemaskan. Namun melihat ekspresi Iba yang tampak begitu lega, aku jadi tak sanggup berkata apa-apa.
"Ushimaki memang gampang akrab dengan orang, ya."
Melihat Ushimaki berbincang riang dengan ibu-ibu pegawai restoran, aku mengutarakan apa yang terpikir.
"Benar. Di antara kita, kemampuan komunikasinya memang yang terbaik."
"Iya. Mo memang pintar berteman."
Itu memang salah satu alasannya.
Selain itu, mungkin karena sedang berada di Okinawa saat liburan musim panas, lingkungan yang berbeda dari biasanya membuat Ushimaki semakin ceria.
Saat bersama kami, Ushimaki memang selalu ceria.
Namun di SMA Hirasaka berbeda. Meski tampaknya akrab dengan anggota klub atletik, selain itu ia hampir tidak pernah berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya. Bahkan cenderung menjaga jarak.
Karena berbagai kejadian di masa lalu, ia menjadi tidak percaya pada laki-laki.
Jangankan dengan teman sekelas, di seluruh siswa laki-laki SMA Hirasaka yang benar-benar akrab dengannya mungkin hanya aku dan Tsukiyama.
"Hei, hei! Aku dengar cerita menarik, lho!"
Sambil duduk kembali dan merapikan kaus tanpa lengan yang sedikit bergeser, Ushimaki membuka pembicaraan.
Sejujurnya, dibanding cerita menarik yang ingin ia sampaikan, aku malah lebih penasaran kenapa perempuan ini masih berani memakai pakaian dengan pertahanan serendah kaus tanpa lengan setelah sebelumnya mempermalukan dirinya sendiri.
Tali bagian dalamnya sedikit terlihat—
Hidaka-san, jangan ikut-ikutan menarik bajumu juga.
"Katanya, di sekitar sini ada sebuah legenda. Kalau pada malam tanggal tujuh Agustus seseorang berhasil menemukan bunga yang mekar di pantai, orang itu akan bisa terus bersama dengan orang yang paling dicintainya..."
Apaan itu? Legenda yang terlalu cocok untuk komedi romantis. Tanggal tujuh Agustus berarti lusa setelah besok.
Bukan tidak mungkin untuk pergi...
"Hmm... Aku baru pertama kali mendengarnya..."
Iba mengatakan sesuatu yang menurutku sangat wajar.
Kalaupun dicari sungguh-sungguh di internet mungkin memang ada. Namun legenda daerah seperti itu memang biasanya tidak diketahui orang luar.
"Kalau menemukan bunga di pantai pada hari itu, perasaan cintamu akan bermekaran.... Indah sekali, kan?"
"Memangnya ada bunga yang tumbuh di pantai?"
"Mungkin saja ada. Aku sendiri belum pernah melihatnya."
Entah memang dibuat agar legenda itu lebih sulit diwujudkan atau memang kami yang kurang pengetahuan. Pokoknya aku sama sekali tidak punya bayangan bunga tumbuh di pantai.
Mungkin karena selama ini tidak pernah memperhatikannya.
"Bukan itu maksudku! Bukankah legendanya romantis sekali?"
"Menurutku justru syaratnya cukup mudah."
"Begitukah? Bukankah laut di malam hari cukup berbahaya? Kita sering mendengar kecelakaan laut, jadi menurut saya ini legenda yang berbahaya."
Yah...kalau dipikir begitu memang benar juga.
"Dari tadi Ishii sama Hime nggak punya jiwa romantis sama sekali ya! Selagi di sini, bagaimana kalau kita pergi malam tanggal tujuh Agustus?"
Sambil mendengarkan Ushimaki, Iba mengoperasikan ponselnya.
"Menurut ramalan cuaca akan hujan. Pergi ke laut pada malam hari saat cuaca buruk jelas tidak mungkin."
"Kalau ternyata tidak hujan? Kalau begitu boleh, kan?"
"Tidak boleh. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"
"Yah! Kita cuma ke pantainya, bukan ke laut. Harusnya aman, kan?"
"Ushimaki, aku juga setuju dengan Iba. Kalau memang ada kemungkinan terjadi sesuatu, sebaiknya jangan pergi."
Kalau ini adalah kehidupanku yang pertama...
Mungkin aku akan pergi ke laut malam-malam sendirian.
Aku hanyalah tokoh sampingan yang haus akan kisah romansa. Pasti aku akan mati-matian mencari bunga itu demi berharap bertemu gadis cantik secara kebetulan.
...Tapi sekarang berbeda.
Manusia bisa mati dengan mudah.
Karena sudah mengalaminya sendiri, kalau memang ada sedikit saja kemungkinan bahaya, aku tidak ingin mendekatinya.
"Tidak boleh ada yang pergi sendiri juga. Kalau sampai terjadi kecelakaan, itu bukan hal yang bisa ditertawakan."
"Uuh... baiklah..."
Meski masih tampak tidak puas, setelah kusebutkan dengan nada sedikit lebih tegas, Ushimaki akhirnya mengalah.
Sambil mengerucutkan bibir ia bergumam,
"Padahal kalau kita menemukannya, kita semua bisa terus bersama selamanya..."
Namun hal seperti itu bukan sesuatu yang seharusnya diserahkan kepada legenda.
Itu harus diwujudkan dengan usaha kami sendiri.
◇ ◇ ◇
Keesokan harinya.
Aku terbangun karena suara ramai dari balik pintu.
Melihat ke samping, Tsukiyama sudah tidak ada di ranjang sebelah.
Sepertinya dia bangun lebih dulu dariku.
Saat membuka pintu dan menuruni tangga, di dapur terlihat Hidaka, Yuzu......dan Tsukiyama sedang menyiapkan sarapan.
Dengan mengenakan celemek, Tsukiyama mengaduk sup di dalam panci yang mengepul pelan. Ia menyendok sedikit sup, menuangkannya ke mangkuk kecil, lalu memberikannya kepada Hidaka dan Yuzu.
"Bagaimana?"
"Enak. Kecewa. Hebat sekali."
"Ya kan?"
"Wah! Enak sekali! Tsukiyama-san, ternyata jago memasak ya!"
Hei. Sejak perjalanan ini dimulai, nilai dirimu naik terus, ya?
Kenapa anak seorang presiden direktur yang kelihatannya jauh dari urusan dapur justru jago memasak?
"Merupakan kehormatan terbesar bagiku bila masakanku bisa menjadi salah satu penyusun sel-sel malaikat."
"Begitu ya..."
Kurasa Tsukiyama tidak mengatakan sesuatu yang aneh. Namun entah kenapa Yuzu tampaknya tidak terlalu menyukainya.
Ia menghela napas pelan sambil bergumam,
"Padahal aku pikir kita akhirnya bisa akrab..."
"Kazupyon, selamat pagi!"
"A-ah... selamat pagi..."
Hidaka menoleh sambil tersenyum mengenakan celemek.
Daya hancurnya benar-benar luar biasa.
Aku jadi malu sendiri dan buru-buru mengalihkan pandangan.
Di sana kulihat Ushimaki dan Iba sedang duduk memeluk lutut dengan wajah muram.
"Selamat pagi, Ishii..."
"Selamat pagi, Ishii-san..."
Suasananya benar-benar bertolak belakang dengan dapur yang penuh keceriaan. Aku langsung bisa menebak penyebabnya.
Di depan mereka ada sebuah meja.
Di atas meja itu berserakan sesuatu yang dulunya mungkin bisa disebut bahan makanan.
Sambil mengambil gumpalan kuning sebesar ibu jari dengan bentuk yang aneh, aku bertanya,
"Ini apa?"
"...Kentang."
Di atas meja juga terdapat sesuatu yang tampak seperti kulit kentang dengan daging kentang yang masih menempel tebal.
Pengupas kentang yang digenggam Ushimaki seolah sedang menangis, "Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini..."
Di sampingnya terdapat segumpal hitam legam seperti arang.
"Kalau yang ini?"
"...Telur orak-arik."
Pantas saja tadi tercium sedikit bau gosong.
Jadi ini penyebabnya. Bagaimana caranya sampai telur orak-arik bisa berubah menjadi hitam pekat begini?
"Waktu memecahkan telurnya sih berhasil.... Tapi tahu-tahu jadinya seperti ini..."
Bukankah itu berarti gagal sejak tahap paling awal?
Jadi Ushimaki dan Iba ternyata tidak pandai memasak.
Kalau Ushimaki sih masih bisa dimengerti.
Tapi Iba cukup mengejutkan.
"Kalau Miko-chan sama Yuzu-chan sih aku sudah tahu. Tapi siapa sangka Tsukiyama..."
"Aku benar-benar percaya Ouji-kun akan memperlihatkan sisi cerobohnya...."
Jadi penampilan luar biasa Tsukiyama memberi pukulan yang jauh lebih besar dari dugaan mereka.
"Sejak datang ke Okinawa, Ouji-kun benar-benar tampil seperti Ohtani-san dari Dodgers..."
Iba bergumam pelan.
Hidaka maupun Iba...entah kenapa musim panas tahun 2023 selalu dipenuhi pembicaraan tentang Ohtani-san.
"Hei, Ishii juga termasuk kubu kami, kan? Kamu juga nggak bisa masak, kan?"
"Yah, aku memang tidak pernah memasak."
Meski baru mengetahui fakta mengejutkan itu, aku menjawab dengan tenang tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan.
"Ya kan! Aku tahu!"
"Untungnya kita berhasil bertahan di batas paling akhir."
Tentu saja aku tidak akan sampai mengupas kentang hingga tinggal sebesar ibu jari atau mengubah telur orak-arik menjadi arang. Namun pikiran itu kusimpan saja dalam hati.
Seperti biasa, roti lapis buatan Hidaka dan Yuzu sangat enak. Namun pot-au-feu buatan Tsukiyama juga luar biasa lezat sampai-sampai aku menambah satu porsi lagi.
Sebenarnya aku hendak menuangkannya sendiri. Namun Tsukiyama dengan gerakan luar biasa cepat merebut piringku sambil berkata,
"Biar aku yang ambilkan! Tunggu sebentar! Nih, sudah!"
Lalu ia menyerahkan semangkuk pot-au-feu dengan senyum lebar.
Ya... sebenarnya tidak masalah sih.
Tapi Iba. Kenapa kamu memotretnya?
Pembagian tugas memang penting. Karena sudah dibuatkan makanan, maka yang membereskan menjadi tugas anggota lain.
Setelah sarapan selesai, aku, Ushimaki, dan Iba bertugas mencuci piring.
Awalnya aku khawatir akan muncul "Penghancur Peralatan Makan", tetapi Ushimaki dan Iba justru bekerja dengan kecepatan yang luar biasa, sehingga malah aku yang paling tidak berguna.
Setelah semuanya selesai, Tsukiyama bertanya,
"Mau kopi atau teh?"
Lalu menyiapkan minuman sesuai keinginan masing-masing. Namun karena keduanya sama-sama enak, pada akhirnya kami semua meminum kopi sekaligus teh.
Kenapa pria sesempurna ini bisa berubah menjadi seperti itu saat berada di SMA Hirasaka?
Sampai kapan sebenarnya dia akan terus menaikkan nilai dirinya?
Aku sempat memikirkan hal itu. Namun tak lama kemudian, ia dengan santainya muncul mengenakan pakaian renang seorang diri sambil berkata,
"Gimana? Ototku keren banget, kan? Gila, kan?"
Tanpa sedikit pun rasa malu, ia memamerkan tubuhnya.
Melihat itu, aku justru merasa sangat lega.
"Ah... ini baru Tsukiyama yang biasanya."
◇ ◇ ◇
"Wah! Dari jauh aja udah kelihatan indah, tapi dari dekat ternyata lebih indah lagi!"
"Hei, Mo-chan! Ayo balapan! Balapan!"
"Hehe. Boleh aja. Tapi kubilang dulu ya, aku nggak bakal mengalah."
Akhirnya... saat yang kutunggu-tunggu pun tiba.
Entah kenapa rasanya seperti ada suara dari langit yang berkata, "Maaf sudah membuatmu menunggu."
Mungkin itu cuma suara hatiku saja.
Sebenarnya, berkat kekuatan "borjuis Tsukiyama", kami punya pilihan untuk menggunakan pantai pribadi milik keluarganya.
Namun karena ingin benar-benar menikmati suasana Okinawa, kami memutuskan tidak memakainya.
Begitulah, kami pun datang ke pantai Okinawa yang dipenuhi orang, benar-benar mencerminkan suasana liburan musim panas.
Setelah memasang payung pantai sewaan dan membentangkan tikar untuk mengamankan tempat, terdengar beberapa orang di sekitar berseru kagum.
Alasannya tentu saja jelas.
"Hmph. Sepertinya semua orang terpikat oleh keindahan tubuhku."
...Tentu saja bukan itu alasannya. Yang menjadi pusat perhatian adalah para gadis, terutama Hidaka.
"Kazupyon, gimana?"
Tubuhnya yang indah dan proporsional benar-benar membuatku terpana.
Bagaikan sebuah karya seni. Namun anehnya, alih-alih memamerkan tubuhnya sendiri, Hidaka malah dengan bangga menunjukkan sandal jepit pantainya.
Justru ketidakseimbangan itulah yang membuat pesonanya semakin kuat.
"Yah... iya. Menurutku cocok."
"Hehe. Makasih."
Seharusnya tadi kami memakai pantai pribadi saja.
Kulit putihnya begitu indah sampai-sampai keinginan untuk memilikinya seorang diri muncul begitu saja.
Memang dulu aku sudah melihatnya saat memilih baju renang. Namun melihatnya langsung di pantai memberikan kesan yang sama sekali berbeda.
Dada yang jauh lebih menonjol dibanding saat memakai seragam. Pinggang ramping. Kulit bening yang bahkan tanpa disentuh pun sudah pasti terasa halus. Dan kaki indah yang membuatku ingin berseru kagum.
Kalau sampai tidak menarik perhatian orang, justru aneh.
Pokoknya aku tidak boleh membiarkan Hidaka berjalan sendirian.
Tanpa sepengetahuannya, aku meminta Tsukiyama,
"Kalau aku sedang tidak bisa menemaninya, tolong tetap berada di dekat Hidaka."
"Mikoto-san, syukurlah ya."
"Iya. Usahaku tidak sia-sia."
Karena datang ke pantai, Iba melepas kacamatanya.
Entah kenapa, itu memberikan kesan yang segar.
Dulu saat memilih baju renang aku belum sempat melihat pakaian renang Iba. Kupikir ia akan memakai model pareo.
Ternyata ia mengenakan baju renang model one-piece berhiaskan ruffle.
Aneh juga. Padahal biasanya kami selalu bersama, tetapi melihat mereka memakai baju renang membuat kesannya benar-benar berbeda.
Tsukiyama baik-baik saja, kan?
Apa diam-diam dia juga gugup...
"Laut bersama Kazuki.... Naik banana boat bareng.... Dadaku berdebar-debar...."
Justru rasa menjijikkanmu itu sekarang terasa bisa diandalkan.
Yang membuatmu berdebar sebenarnya apa sih?
"Hei, Kazupyon."
"O-oh... ada apa?"
Jangan tiba-tiba mendekat dengan penampilan seperti itu.
Serius... aku benar-benar gugup.
Entah sadar atau tidak dengan kegugupanku, Hidaka tersenyum lembut, lalu menyodorkan sesuatu kepadaku sebelum berbaring tengkurap di atas tikar.
"Tolong oleskan tabir surya."
"...Hah?"
Yang diberikan kepadaku ternyata krim tabir surya.
Mengoleskan? Artinya aku harus menyentuh tubuh Hidaka yang begitu indah sambil meratakan krim yang licin ini?
Benarkah? Serius boleh?
"Tenang. Kazupyon boleh menyentuhku."
Seolah mendesakku agar cepat, ia menggoyangkan tubuh bagian atasnya dengan gerakan yang sangat menggoda.
Apa benar ada laki-laki di dunia ini yang sanggup menahan godaan seperti ini? Benar-benar seperti godaan iblis.
Sebagai manusia biasa, aku jelas tidak punya cara untuk melawannya—
"Nggak boleh! Aku yang akan mengoleskan tabir surya ke Miko-chan!"
Dalam sekejap, tabir surya yang kugenggam menghilang.
Yuzu langsung mulai mengoleskannya ke punggung Hidaka.
Biar kukatakan tanpa malu.
Pemandangan ini juga sangat bagus.
"Hei, Hime. Tolong oleskan ke aku juga! Nanti gantian aku yang oleskan ke kamu!"
Ushimaki ikut berbaring di samping Hidaka sambil melepaskan tali di punggung baju renangnya.
Eh? Ushimaki juga pakai tabir surya?
Di kehidupan pertamaku, saat semester dua dia malah terlihat sudah kecokelatan. Kupikir karena dia tidak peduli kulitnya terbakar matahari dan terlalu asyik bermain di laut.
Ternyata bukan begitu.
"Baiklah. Keinginan Fuuka-san agar seseorang melihat dirinya yang sekarang daripada dirinya yang sudah terbakar matahari akan aku wujudkan."
"Jangan ngomong yang nggak perlu—"
"Kalau kamu bangun sekarang, sesuatu yang luar biasa akan terlihat."
"A-Ah! Uuuuh!"
Benar juga, tali di punggung Ushimaki sudah dilepas.
Kalau dia tiba-tiba bangun...sesuatu yang jauh lebih luar biasa daripada kentang Baron akan muncul.
"E-eh, Kazuki. Gimana kalau kita juga pakai krim..."
"Nggak. Sana terbakar sampai gosong."
"Jahat! Padahal aku udah nungguin!"
Sebenarnya tujuanmu ikut liburan ini apa?
Jangan habiskan semua nilai plus yang susah payah sudah kamu kumpulkan.
Setelah selesai memakai tabir surya, masing-masing mulai bermain sesuka hati.
Yuzu dan Ushimaki langsung berlari ke laut sambil berkata ingin balapan.
Tak lama kemudian terdengar suara Yuzu yang lucu.
"Asiiiin!"
Tsukiyama dan Iba menjadi juri perlombaan mereka.
Start dimulai dari pelampung pembatas area berenang. Siapa yang lebih dulu menyentuh juri adalah pemenangnya.
Menurutku sebenarnya satu juri saja sudah cukup.
Namun sebelum pergi, Iba hanya berkata,
"Aku termasuk orang yang tahu membaca suasana."
Lalu berjalan pergi.
Jadilah sekarang yang tinggal menjaga barang hanyalah aku dan Hidaka.
"Makasih ya, Kazupyon."
"Buat apa?"
"Karena ini liburan musim panas paling menyenangkan yang pernah kurasakan."
"Itu justru kalimatku... Miko-san."
Memang bukan benar-benar hanya berdua. Namun kurang lebih rasanya seperti itu. Sesekali begini tidak masalah, kan?
"Hehe."
Sedikit beban terasa di bahuku, rambutnya menyentuh pipiku.
Aroma segar yang samar memenuhi hidungku. Dalam keadaan biasa saja aku sudah tidak sanggup kalau diperlakukan seperti ini.
Apalagi sekarang dia memakai baju renang.
Benar-benar mematikan.
Aku jadi gugup sampai tidak bisa bergerak.
"Senang sekali ya...."
Selama ini liburan musim panas bersama keluarga memang selalu menyenangkan. Namun tahun ini benar-benar berbeda.
Bukan hanya bersama keluarga.
Menghabiskan musim panas bersama Miko-san dan yang lainnya baru dimulai beberapa hari saja, tetapi aku sudah yakin ini adalah liburan musim panas paling menyenangkan yang pernah kualami.
Tatapan dari orang-orang di sekitar—terutama para pria—seolah berkata,
"Kenapa harus dia?"
Kalau soal itu, justru aku juga ingin tahu.
"Syukurlah. Berarti aku dan Kazupyon saling menyukai."
"......"
Dalam situasi seperti ini sebenarnya aku ingin langsung menjawab, "Benar."
Namun aku tidak bisa. Masih ada masalah yang belum sepenuhnya selesai.
...Dan sekarang malah muncul masalah baru.
"Hei, Kazupyon..."
"Ada apa?"
Dengan suara yang dipenuhi kecemasan yang sama sekali tidak cocok dengan suasana liburan, Hidaka berbicara kepadaku.
"Sebenarnya... ada satu hal yang sedikit ingin kucoba..."
Mata misteriusnya menatapku. Tatapan yang membuatku ingin mengabulkan permintaan apa pun.
"Boleh aku tahu?"
"Boleh. Karena Kazupyon spesial."
Astaga. Kalau dia bilang begitu, bagaimana mungkin aku bisa menolak?
Selama aku mampu, apa pun akan kulakukan—
"Aku ingin latihan pernapasan buatan untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu."
"Tidak perlu."
Manusia punya batas.
Kalau memang tidak bisa, ya memang tidak bisa.
◇ ◇ ◇
Ternyata Yuzu dan Ushimaki bermain jauh lebih heboh dari dugaan.
Padahal baru sekitar tiga puluh menit sejak kami tiba di pantai, tetapi keduanya sudah kembali dalam keadaan kelelahan.
Hasil perlombaannya adalah Ushimaki menang empat kali dan kalah satu kali.
Di perlombaan terakhir, Ushimaki kehabisan tenaga sehingga Yuzu yang sejak awal menyimpan staminanya berhasil menang.
Yuzu memang anak yang pintar. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah kembali adalah,
"Haus banget..."
Tanpa sadar aku langsung berdiri.
"Di sini nggak ada tempat jualan gitu?"
Aku melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan tempat seperti itu.
Kalau begitu... mungkin ada mesin penjual minuman.
"Hei, hei. Kamu. Sendirian, ya?"
Suara seorang perempuan terdengar dari belakang.
Mana mungkin.
Aku melihat sekeliling. Tidak ada laki-laki lain yang sedang berjalan sendirian selain aku.
Kalau begitu...
Apa ini semacam penipuan?
Mau menipu anak SMA? Bukankah sebaiknya cari target yang lebih kelihatan punya uang?
"H-hei! Jangan diabaikan dong!"
Tertipu oleh penipuan murahan seperti itu adalah tindakan bodoh.
Aku terus berjalan sambil mengabaikannya.
Perempuan itu buru-buru memotong jalanku.
Saat itulah pikiranku langsung berhenti.
"Hei! Aku lagi manggil kamu! Atau jangan-jangan kamu nggak pede jadi mikir bukan kamu yang kupanggil?"
Melihat perempuan yang menatapku dengan mata yang dipenuhi semangat sekaligus kesungguhan itu, aku hanya bisa tercengang.
"K-kamu..."
Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
Orang yang kukenal memiliki gaya rambut twintail ala country. Namun sekarang ia memakai side tail ala country.
Tatapan matanya yang sedikit tajam sangat khas.
Ini memang pertemuan pertama kami. Namun bagiku bukan benar-benar pertemuan pertama.
Aku mengenalnya.
Dia adalah...
"Aku Souda Hiromi! Kalau kamu?"
Tokoh utama wanita yang akan pindah ke sekolah pada semester dua.
Souda Hiromi.
"......"
Serius...
Jadi dia muncul di sini...
Meski pikiranku dipenuhi keterkejutan, entah kenapa aku juga merasa masuk akal.
Di kehidupan pertamaku, Amada memang tidak pernah menceritakan bagaimana ia bertemu Souda. Namun ada satu hal lagi yang juga tidak pernah ia ceritakan.
Yaitu perjalanan mereka ke Okinawa.
Anggotanya adalah Amada Teruhito, Tsukiyama Ouji, Ushimaki Fuuka, Iba Kouki, Kanie Kokoro, dan Hitsujitani Miwa.
Kebetulan jumlahnya juga enam orang, sama seperti perjalanan kami sekarang.
Yang kutahu hanyalah fakta bahwa mereka pernah pergi ke Okinawa bersama.
Pada hari pertama masuk sekolah di semester dua, mereka memang asyik membicarakan kenangan liburan musim panas di kelas.
Anehnya...Mereka sama sekali tidak pernah membahas perjalanan ke Okinawa. Seolah-olah ada kesepakatan tak tertulis bahwa topik itu tidak boleh dibicarakan.
"Hei, jangan cuekin aku dong~. Ada gadis secantik aku yang lagi ngajak ngobrol, lho~?"
Meskipun terdengar terlalu percaya diri, anehnya ucapan itu juga tidak sepenuhnya salah.
Cara bicaranya yang agresif mungkin berasal dari rasa percaya dirinya terhadap penampilannya.
Dasar gadis cantik....
"...Aku Ishii Kazuki."
"Oh, Ishii-kun! Nama keluargamu umum banget, ya!"
Mengabaikannya lalu pergi sebenarnya bisa saja kulakukan, tetapi aku sengaja memperkenalkan diri demi memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
Kemungkinan besar, di kehidupan pertama, Amada menyelesaikan event Souda di sini, sehingga Souda akhirnya masuk ke harem Amada. Kalau begitu, bagaimana dengan kehidupan kedua?
—"Menurutmu ini nggak terasa seperti pertemuan yang ditakdirkan?"
Ya, benar. Takdir yang benar-benar menguntungkan.
Bagiku, perkembangan yang paling buruk adalah jika Amada dan Souda ternyata sudah saling mengenal sejak dulu.
Kalau begitu, tingkat kesukaan Souda kepada Amada sudah pasti langsung maksimal sejak awal. Dalam keadaan seperti itu, apa pun yang kulakukan, Souda tetap akan menjadi heroine Amada.
Tapi ternyata bukan begitu.
Mereka bertemu di sini... di Okinawa, lalu Souda menjadi heroine. Artinya, titik awal dari masalah besar yang akan muncul di semester dua berhasil kuhancurkan.
"Cuma ada cewek aneh yang tiba-tiba ngajak ngobrol."
"Hei! Minimal bilang aja kalau aku lagi ngegombalin kamu!"
Tentu saja, hanya menghancurkan satu flag pertemuan saja bukan berarti aku bisa merasa tenang.
Seberapa keras pun aku berusaha, kenyataan bahwa Souda Hiromi akan pindah ke sekolah kami pada semester dua tidak akan berubah.
Kalau begitu, meskipun flag pertemuan ini sudah kuhancurkan, masih sangat mungkin Amada tetap berhasil menaklukkan Souda.
Karena itulah, yang harus kulakukan adalah memastikan bahwa meskipun Souda Hiromi pindah ke sekolah kami nanti, dia tidak akan bisa ditaklukkan oleh Amada Teruhito.
"Ishii-kun datang ke sini buat liburan juga, kan? Aku juga, lho."
"Kok kamu bisa tahu?"
"Karena gerak-gerikmu agak mencurigakan... bercanda kok! Hahaha! Kau lagi nyari sesuatu, kan? Toilet atau pondok pantai mungkin. Kalau orang sini, pasti nggak bakal kelihatan kebingungan begitu."
Lalu... bagaimana caranya?
Empat malam lima hari. Waktu liburan selama itu tetap terasa terlalu singkat untuk menghancurkan semua flag.
"Kau jeli juga ya."
"Hehe! Mata Detektif Hiromi nggak bisa dibohongi!"
Sambil tersenyum bangga, dia mengedipkan sebelah mata.
Melihat tingkahnya pun, yang kurasakan bukanlah rasa tertarik, melainkan ketakutan.
Penyebabnya adalah ingatan dari kehidupan pertama.
Souda Hiromi adalah wanita yang sangat ahli memanipulasi hati orang lain, sampai mampu mengendalikan seluruh murid laki-laki lewat rasa takut.
Dilihat dari luar, sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang mampu melakukan hal seperti itu.
Tapi kenyataannya, dia memang berhasil. Lalu di SMA Hirasaka, dia membuatku benar-benar terisolasi.
Kalau heroine seperti itu berhasil didapatkan Amada, sudah pasti dia akan menjadi ancaman bagi aku dan Hidaka.
Karena itu, aku harus melakukannya.
Tak peduli sesingkat apa pun waktunya...
"Aku datang sama keluargaku. Ishii-kun juga?"
"Keluargaku juga ada, tapi aku datang sama teman-teman."
"Gitu ya! ...Mereka benar-benar temanmu, kan?"
"...iya."
"Syukurlah! Kalau begitu sekarang giliranmu bertanya satu hal! Supaya kita bisa saling mengenal!"
"Kau benar-benar Souda Hiromi, kan?"
"Iya! Memangnya kenapa...? Pertanyaan macam apa itu? Masa baru mulai aja udah kehabisan bahan sih."
Sambil berkata begitu, Souda memukul ringan dadaku dengan kepalan tangannya.
Aneh...
Apa dia benar-benar Souda Hiromi yang kukenal?
Penampilan dan cara bicaranya memang sama. Tapi kepribadiannya terlalu berbeda. Di kehidupan pertama, Souda Hiromi punya dua ciri khas.
Yang pertama, dia mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Amada.
Dan yang kedua...dia sangat membenci laki-laki.
Selain Amada, Souda benar-benar membenci semua laki-laki.
Bukan cuma tidak mau mengajak bicara, bahkan kalau ada laki-laki berdiri sedikit saja di dekatnya, dia akan langsung melontarkan kata-kata pedas.
Satu-satunya laki-laki selain Amada yang masih ditoleransi berada di dekatnya hanyalah Tsukiyama, sahabat Amada.
Wanita seperti itu malah ngajak cowok kenalan?
Bersikap ramah kepadaku?
Mana mungkin.
"Kalau begitu, pertanyaan kedua dariku! Ishii-kun bakal di Okinawa sampai kapan?"
"Sampai hari Selasa."
"Hehe. Sama dong! Berarti malah pas banget!"
"Pas buat apa?"
"Supaya kau bisa mengabulkan permintaanku!"
Apa mungkin perubahan kepribadian Souda yang sangat berbeda dari kehidupan pertama ini disebabkan karena Amada mengabulkan permintaan itu?
Sebenarnya, apa yang...
"Maukah kau berpura-pura menjadi pacarku sampai hari Selasa?"
Kepalaku semakin kacau.
Souda Hiromi yang itu...
Memintaku berpura-pura menjadi pacarnya?
"Lihat, bukankah ini juga kesempatan bagus buatmu? Siapa tahu setelah pura-pura jadi pacar gadis secantik aku, lama-lama benih cinta mulai tumbuh, lalu cinta palsu berubah menjadi cinta sungguhan... bisa saja, kan?"
Di kehidupan pertama, orang yang berhasil melakukan itu pasti Amada Teruhito.
Monster romcom itu benar-benar tidak mengenal batas.
Tentu saja, aku tidak akan memilih jalan itu.
Kemampuan romcom-ku jauh sekali dibandingkan Amada. Mengubah cinta palsu menjadi cinta sungguhan bukanlah sesuatu yang bisa kulakukan.
Lagi pula, kalau aku berpura-pura menjadi pacarnya, ada seorang gadis yang pasti akan sangat sedih.
"Kalau itu, aku nggak bisa. Tapi aku bisa mengenalkanmu pada cowok lain."
Kalau begitu, Tsukiyama.
Giliranmu tampil.
"Eeh? Orang itu ganteng?"
Dasar cewek materialistis. Jadi kau memang cari yang ganteng, ya?
Eh, tunggu. Kalau syaratnya begitu, berarti menurut Souda aku termasuk ganteng? Lumayan juga dia.
Sedikit saja aku jadi ingin bersikap baik padanya.
"Iya. Ganteng banget. Nilainya bagus, jago olahraga, perhatian sama orang lain, jago masak pula. Belum lagi dia anak tunggal seorang presiden perusahaan."
"Serius? Spesifikasinya terlalu tinggi sampai malah terdengar mencurigakan..."
Maaf. Aku juga berpikir hal yang sama.
Kenapa pria dengan spesifikasi sehebat itu malah dijuluki Pangeran Mengecewakan? Nggak masuk akal.
"Yang lebih mengejutkan lagi, semua itu memang benar. Dia juga tipe yang nggak bakal membiarkan gadis yang sedang kesusahan, jadi pasti mau membantumu."
"Hmm..."
Ini adalah langkah terbaik yang bisa kulakukan saat ini.
Sebelum Souda Hiromi jatuh cinta kepada Amada, buat dia jatuh cinta kepada pria yang lebih baik.
Tentu saja, kalau Tsukiyama menolak, aku harus memikirkan strategi lain. Tapi aku juga belum bisa menanyakannya sekarang, jadi sementara ini rencananya begitu.
"Maaf. Orang itu nggak usah deh. Terlalu sempurna, jadi nggak cocok. Aku lebih suka orang yang biasa-biasa aja."
Jadi maksudmu aku bukan ganteng...cuma lumayan ganteng, ya? Boleh kupukul nggak?
Saat amarahku hampir memuncak...dari belakang Souda muncul seorang gadis yang jauh lebih marah dariku.
"Kazupyon. Siapa perempuan itu?"
Tentu saja, Hidaka Mikoto.
Di sampingnya berdiri Iba.
"...Ini benar-benar perkembangan yang paling buruk."
Dengan wajah sepucat lautan Okinawa, Iba bergumam.
"T-tunggu! Bukan begitu! Dia tiba-tiba aja ngajak ngobrol! Kami sama sekali nggak punya hubungan aneh..."
"Tunggu dulu, Ishii-kun! Cantik banget siapa ini!? Kau punya wanita secantik ini tapi masih mau pura-pura jadi pacarku!?"
Hei, Souda. Jangan bikin situasinya makin rumit.
"Mana ada! Aku cuma mau mengenalkanmu ke cowok lain!"
"Tapi kan aku udah nolak! Berarti sekarang satu-satunya pilihan tinggal kau, Ishii-kun!"
"Situasi dipahami."
Dengan suara datar seperti android, Hidaka berdiri di depanku lalu menatap tajam ke arah Souda.
"Kazupyon sama sekali tidak akan berpura-pura jadi pacar siapa pun."
Kemampuan membaca situasinya benar-benar mengerikan.
"A-awawawa..."
Benar-benar seperti katak yang ditatap ular.
Tubuh Souda gemetar, lalu dia menatapku memohon bantuan.
Sayangnya, aku bukan pihak yang membelanya.
Meski begitu, kalau hubungan dengan Souda putus di sini gara-gara Hidaka, itu juga masalah.
Supaya nanti dia tidak ditaklukkan Amada di semester dua, hubungan kami setidaknya harus tetap ada.
Untung Iba ada di sini.
Dia pasti bisa menenangkan Hidaka...
Eh? Ada apa dengan Iba?
Tadi memang wajahnya pucat, tapi sekarang jauh lebih parah. Tubuhnya gemetar sambil bergumam,
"Harus... harus melakukan sesuatu..."
"E-eh... dia pacarnya Ishii-kun?"
"Bukan. Aku dan Kazupyon bukan sepasang kekasih."
"A-ah... begitu ya..."
"Malam ini kami akan berusaha membuat anak."
"Kita nggak akan melakukan itu! Kau melompati terlalu banyak tahap!"
Kami ini masih anak SMA.
Vila Tsukiyama tidak akan dipakai untuk hal seperti itu.
"Pokoknya, Souda. Pembicaraan kita untuk sementara ku..."
"Tolong jangan apa-apakan Hiromi!"
"...Hah?"
Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat pikiranku benar-benar berhenti.
Mungkin dia mengira Souda sedang diganggu oleh kami.
Dia langsung berdiri di depan Souda seolah melindunginya, menatap kami dengan tatapan tegas meski terlihat sedikit ketakutan.
Namun...
Reaksi Souda sama sekali berbeda dari yang kubayangkan.
"Hiromi, kau nggak apa-apa? Mereka nggak melakukan macam-macam, kan?"
"Ugh…"
Terhadap gadis yang kemungkinan besar datang untuk menolongnya itu, Souda justru menunjukkan rasa jijik yang sangat terang-terangan.
Namun, sikap Souda tidaklah penting.
Masalahnya adalah wajah gadis yang baru muncul itu.
Gaya rambutnya sama seperti Souda, yaitu side-tail bergaya country. Bedanya, jika Souda mengikat rambutnya di sebelah kanan, gadis ini mengikatnya di sebelah kiri. Lalu, tahi lalat di bawah matanya pun berada di sisi yang berlawanan dengan Souda, yakni di bawah mata kanan.
Gadis yang muncul itu...
"Kalau Hiromi melakukan sesuatu, aku yang akan minta maaf. Tapi tolong jangan melakukan hal aneh padanya."
Memiliki wajah yang benar-benar identik dengan Souda Hiromi.
Karena pikiranku masih kacau, aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Sementara itu, gadis yang baru datang itu berusaha mati-matian melindungi Souda. Meski kakinya gemetar, dia membentangkan kedua tangannya dan menatap kami dengan tajam.
"Jangan ikut campur."
"Eh? Tapi..."
Terhadap gadis yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran itu, Souda bersikap dingin.
Dia mengibaskan tangan dengan ekspresi jengah, lalu menghela napas panjang.
"Haaah... Jadi males. Serius deh. Aku kan udah berkali-kali bilang jangan ikut campur."
"Tapi... aku khawatir sama Hiromi..."
"Aku nggak minta."
Meskipun belum mendengar penjelasan apa pun dari mereka sendiri, entah kenapa aku mulai bisa menebak hubungan di antara keduanya.
Tapi justru karena itu, ada satu hal yang tidak kumengerti.
"Bye ya, Ishii-kun. Terus, maaf juga udah merepotkan kalian semua. Kalau nanti kita ketemu lagi, ayo akur ya."
Setelah mengatakan itu, Souda berjalan pergi dengan langkah sedikit lebih cepat.
Gadis yang tertinggal tampak bimbang apakah harus mengejar Souda atau tidak, tetapi akhirnya memilih memastikan keadaan kami lebih dulu.
"Umm... apa jangan-jangan Hiromi tadi..."
"Iya. Dia tiba-tiba mengajakku bicara..."
"M-maafkan aku!"
Gadis itu buru-buru menundukkan kepalanya.
Sepertinya dia orang yang serius dan baik hati—
"Aku salah paham mengira seorang pria sampah yang dipenuhi nafsu sedang mengganggu Hiromi yang sangat berharga bagiku, sampai sempat terpikir untuk menghancurkan tengkoraknya lalu membiarkan otaknya mengalir ke laut Okinawa. Aku benar-benar minta maaf."
...Orang yang serius dan baik hati, hanya saja ucapan-ucapannya agak terlalu ekstrem.
"Ah, nggak apa-apa... Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Ah... Mungkin dari wajah kami sudah bisa ditebak..."
Di tengah perkembangan yang tak terduga, muncul jawaban yang justru sangat mudah ditebak. Dengan wajah semirip itu, jelas bukan sekadar mirip saudara biasa.
"Aku Souda Yumi. Kakak kembar Hiromi."
Sudah kuduga...
Tapi justru karena itu, muncul pertanyaan yang lebih besar.
Kenapa yang pindah ke SMA Hirasaka hanya Souda Hiromi?
Apa mereka memang bersekolah di SMA yang berbeda sejak awal meskipun saudara kembar?
"Kalau begitu, permisi."
Namun, aku tidak mungkin bisa mengetahui jawabannya sekarang. Bagaimanapun, yang kumiliki hanyalah informasi dari kehidupan sebelumnya, dan bagi mereka kami baru pertama kali bertemu.
Kalau tiba-tiba kutanya, 'Setelah liburan musim panas selesai, kau akan pindah ke sekolah mana?', aku pasti hanya akan dianggap orang aneh, dan mereka tidak akan memberitahuku apa pun.
"Hiromi, jangan tinggalin aku..."
Sambil mengucapkan kegelisahannya, Souda Yumi bergegas mengejar Souda Hiromi.
Aku hanya bisa memandangi mereka dengan linglung.
Saat itulah Iba, yang wajahnya masih pucat, berbicara pelan kepadaku.
"I-Ishii-san... malam ini, bolehkah aku berbicara sebentar denganmu? Berdua saja."
"...Hah?"
Aku dan dia berbicara berdua?
Bagi Iba yang selama ini selalu berhati-hati agar Hidaka tidak salah paham, ajakan seperti ini terasa sangat berani. Meski begitu, usulan Iba justru menguntungkanku juga.
Sebenarnya, ada sesuatu yang memang ingin kubicarakan dengannya secara berdua.
"Boleh aku tahu alasannya dulu?"
Menyembunyikan pikiranku sendiri, aku balik bertanya kepada Iba.
Iba tetap dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit gemetar, lalu berkata kepadaku.
"Kalau keadaan terus seperti ini... masa depan yang paling buruk akan terjadi."




Post a Comment