NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 5

Tentang Miu yang Akan Menjadi Gyaru

【Sudut pandang Miu】


"Aku pulang..."


Setelah itu, dengan langkah yang masih terasa berat, aku akhirnya berhasil pulang ke rumah.


Karaoke bersama semuanya memang menyenangkan, tapi... rasa mengganjal ini tetap saja tidak hilang. Malah rasanya setelah telepon dengan Shintarou tadi, perasaan itu justru bertambah.


...Apa sih itu tadi, sikapnya?


Aku juga bahkan tidak tahu mereka bisa terhubung dari mana. Terlalu tiba-tiba, tahu-tahu dia dekat dengan gyaru mencolok seperti itu.


Padahal aku cuma ingin menanyakan itu saja...


Benar-benar menyebalkan karena dia tidak memberitahuku apa pun.


"Miu-chan? Selamat datang... kok kelihatannya murung? Ada apa?"


Onee-chan yang sedang memasak di dapur berbicara dengan nada khawatir.


Apa ekspresiku kelihatan ya...


"Nggak kok, cuma lagi ada sedikit yang kupikirkan."


"Ada masalah...? Kalau ke Onee-chan, cerita apa saja juga boleh lho."


"Ehm... anu... ini soal Shintarou."


"Shin-chan...? Memangnya kenapa?"


Onee-chan menghentikan tangannya yang sedang memasak lalu menoleh ke arahku.


"Belakangan ini Shintarou dekat sama gyaru dari sekolah yang sama. Katanya sih adik kelas, tapi entah kenapa... rasanya hubungan mereka mencurigakan."


"Gyaru...?"


Onee-chan menaruh tangan di mulutnya sambil menunjukkan ekspresi berpikir. 


Apa dia punya firasat tentang sesuatu?


"Gyaru itu... yang rambutnya warna pink sama kukunya mencolok itu?"


"...Iya! Onee-chan juga kenal dia!"


"Iya, waktu itu saat aku pergi bersama Shin-chan, dia tiba-tiba menyapa kami."


Eh... baru dengar...


Onee-chan pergi bersama Shintarou?


"Tapi..." Onee-chan melanjutkan.


Yang satu ini juga, yang itu juga... kepalaku mulai penuh dengan hal-hal yang membuat penasaran.


"Gyaru itu, kalau tidak salah namanya Kurosaki-san, kan?"


"Eh...? Ah iya."


"Kalau dari yang kulihat, mereka cuma ngobrol biasa sebagai kenalan kok?"


"Eh... tapi! Di sekolah kelihatannya nggak seperti itu."


"Benarkah? Menurutku sih tidak terlihat begitu... mungkin Miu-chan cuma salah paham...? Apa kamu sudah tanya langsung ke Shin-chan?"


"Aku sudah tanya, tapi dia malah mengalihkan pembicaraan... pokoknya dua orang itu mencurigakan."


"Begitu ya... tapi mungkin kamu terlalu banyak berpikir."


Sambil berkata begitu, Onee-chan tersenyum lembut padaku.


Onee-chan... reaksinya santai sekali. Apa dia sudah tidak tertarik lagi sama Shintarou?


Maksudku bukan sebagai laki-laki, tapi setidaknya sebagai teman masa kecil, rasanya wajar kalau dia sedikit penasaran.


Percakapannya malah diakhiri sepihak...


Entah kenapa aku masih belum puas. Hmmm.


"Ah sudahlah... aku mau mandi dulu."


Setelah mengatakan itu, aku berjalan menuju kamar mandi.


Memikirkan dia terus juga melelahkan. Aku mau melupakannya saja. Aku tidak akan memikirkannya lagi.


──Cebur.


"Haaah... mandi memang yang terbaik..."


Pewangi mandi yang selalu dibeli Onee-chan. Harumnya enak banget sampai rasanya benar-benar menenangkan...


Airnya berwarna putih susu dan sedikit kental, membuat kulitku terasa lembut dan lembap.


"Hari ini kulitku juga kenyal banget~~~~"


Haaah, si Shintarou itu... sekarang dia lagi apa ya?


Jangan-jangan lagi main game mesum lagi. Atau baca manga gyaru atau semacamnya...


───Gyaru.


Ah, nggak mau. Padahal aku berusaha tidak memikirkannya. Aku malah jadi mengingatnya lagi.


Hmph. 


Ngomong-ngomong gyaru itu... maksudku Kurosaki-san. Sepertinya ukurannya sama besarnya dengan Onee-chan.


Maksudku──... dadanya.


Benar-benar tipe yang disukai Shintarou belakangan ini.


Tanpa sadar aku menurunkan pandangan ke dadaku sendiri.


Belakangan ini aku juga sedang rajin diet...


"Hmm... kurang. Sekecil ini mana bisa bersaing."


Aku sebenarnya tidak pernah terlalu memikirkan ukuran dadaku, tapi dibandingkan dengan Onee-chan, milikku terasa sangat sederhana. Tapi mungkin memang Onee-chan saja yang terlalu besar.


Tapi... katanya kalau dipijat bisa membesar atau semacamnya.


Sepertinya aku pernah dengar dari seseorang, mungkin dari Onee-chan juga...?


Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarku, aku perlahan menyentuh dadaku sendiri. Maksudku, memang ini kamar mandi jadi jelas tidak ada orang, tapi ya untuk jaga-jaga.


............Remas.


Hmm... pijat itu sebenarnya bagaimana sih...


Seperti memijat bahu? Apa begini caranya...


Hmm, rasanya aneh.


"Hah! Apa begini benar-benar bisa jadi lebih besar?"


Bodoh banget.


Bagaimana caranya agar bisa lebih menarik perhatian Shintarou? Aku berpikir keras.


Kalau aku jadi tipe kesukaan Shintarou saja?


Tipe yang disukai Shintarou sekarang... iya, kalau aku jadi gyaru mungkin dia bakal memperhatikanku...!?


"Ini dia."


Aku mendapatkan keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap ide yang baru saja muncul.


Anak laki-laki pasti sederhana. Kalau cewek yang sesuai selera mereka muncul di depan mata, tidak mungkin mereka bisa mengabaikannya.


Kalau begitu, saatnya persiapan tempur.


Sebelum tidur, aku membuka toko online dan mencari loose socks. Jenisnya banyak sekali, dan ternyata panjangnya juga bermacam-macam.


"Kalau gyaru ya pasti loose socks."


Untuk sementara, tanpa terlalu paham apa-apa, aku langsung memesan loose socks ukuran 120 cm.


Katanya besok sudah sampai.


"Kaos kaki 120 cm... panjangnya memang seberapa sih...? Ah, tapi kaos kaki thigh-high yang biasa kupakai juga lumayan panjang..."


◆◇◆


──Dua hari kemudian, pagi yang terasa menyegarkan.


Aku bangun pagi dengan penuh semangat.


Begitu melihat loose socks yang sudah sampai, aku langsung tidak bisa menahan rasa antusias.


Untuk menaikkan semangat sejak bangun tidur, aku membuka ponsel dan memutar lagu Go! Party milik Yumekawa Nana.


Lagu yang dinyanyikan Kurosaki-san waktu karaoke.


Untung aku sempat mencatatnya untuk berjaga-jaga.


Baiklah, persiapan untuk menjadi gyaru sudah selesai.


Hari ini aku berbeda dari biasanya. Soalnya hari ini adalah hari menjalankan operasi membuat Shintarou menoleh kepadaku.


Kalau begitu, mulai dari makeup dulu.


Biasanya aku cuma pakai makeup sekolah sederhana seperti tabir surya dan lip balm.


Aku juga tidak menggambar alis ataupun memakai maskara.


Blush sih... punya, tapi jarang dipakai...


"Ehm... coba cari cara makeup gyaru..."


Hmm... pakai base makeup, lalu eye makeup...


Aku nggak punya bulu mata palsu~~


Hmmm... sudahlah! Pokoknya jalan saja!


──Sepuluh menit kemudian...


Untuk sementara makeup selesai. Atau lebih tepatnya, karena biasanya aku terlalu memakai makeup natural, aku sama sekali tidak tahu cara memakai makeup tebal.


Sulit juga jadi gyaru.


...Kalau Kurosaki-san sih kelihatannya baik, mungkin dia mau mengajariku cara makeup gyaru...


Eh salah! Dia kan saingan!


"Berikutnya tata rambut ya... hmm... ah!"


Ngomong-ngomong aku punya scrunchie pink yang kubeli dulu. Dan lagi motif leopard, sangat terasa gaya gyaru.


Sebagai kolektor scrunchie, waktu itu aku beli online, tapi saat sampai ternyata terlalu mencolok... jadi belum pernah kupakai sama sekali.


"Yup, hari ini pakai ini saja♩"


Aku mengikat rambut samping lalu membuat twin tail rendah.


Setelah mengganti pakaian sekolah, aku melipat rok berkali-kali supaya lebih pendek dari biasanya...


Saat melihat diriku di cermin tubuh penuh, aku sampai terkejut.


"Waaah... ini sih kayaknya hampir kelihatan celana dalamnya. Rasanya seperti bilang 'silakan lihat' saja."


Hmm... aku nggak punya keberanian keluar begini... tapi gyaru identik dengan rok mini... sebelum berangkat pakai celana pendek ketat saja deh.


Setelah itu tinggal memakai loose socks 120 cm...


"Ahh! Gawat! Aku bakal telat!"


Saat sadar, ternyata sudah waktunya berangkat. Aku buru-buru mengambil tas sekolah lalu keluar dari kamar.


"Onee-chan! Aku hampir telat, jadi berangkat dulu ya!"


Aku memanggil Onee-chan yang sedang sarapan di ruang tamu.


"Miu-chan...? Miu!? Ada apa dengan penampilanmu itu...?!"


Onee-chan refleks berdiri dengan suara keras.


Meja sampai bergoyang dan kopinya hampir tumpah dari mug. Padahal menurutku tidak perlu sampai sekaget itu...


"Yang ini? Lucu kan♩ Sesekali ganti gaya dong~"


Onee-chan membelalakkan mata melihat penampilanku yang seperti gyaru.


"Rok itu nggak boleh! Nanti orang aneh mendekat! Miu! Tunggu!"


Pemandangannya benar-benar seperti ibu dan anak perempuan yang sedang masa pemberontakan.


"Nggak apa-apa kok! Aku pergi dulu yaa!"


"Tunggu, Miu!"


Agar tidak tertangkap Onee-chan yang berjalan cepat menyusuri lorong, aku buru-buru keluar rumah.


"Hari ini aku benar-benar beda dari biasanya♩”


Aku tanpa sadar tersenyum-senyum saat melihat bayanganku yang terpantul di cermin lift dan kaca lobi apartemen.


Soalnya, siapa pun yang melihat pasti menganggap diriku sekarang benar-benar seorang gyaru♩ Karena suasana hatiku bagus, aku berlari kecil menuju rumah Shintarou.


Rutinitas menjemput pagi seperti biasa.


Sudah pasti dia masih tidur.


Aku bakal membangunkannya dengan penampilan gyaru dan bikin dia kaget.


Pagi ini langkah kakiku terasa ringan, dan tahu-tahu aku sudah sampai dekat rumah Shintarou. 


Kalau belok di tikungan itu, rumah Shintarou sudah ada di depan mata...


"Hm...? Ah, itu Shintarou...?"


Shintarou yang masih agak jauh sepertinya menyadari keberadaanku dan menoleh ke arahku.


"Oh, Miu... pagi...?"


"Yahho~! Pagi~! Jarang-jarang kamu bangun pagi ya!"


"Ah, iya. Bukan, maksudku..."


"...? Kenapa?"


Shintarou menatapku dengan wajah bingung.


"Apa? Ada sesuatu di wajahku?"


"Kamu... apa-apaan penampilanmu itu..."


Begitu melihat penampilanku yang berbeda dari biasanya, dia langsung terkejut.


Hahaha, lucu. Dia menatapku dari atas sampai bawah seolah menjilat dengan matanya...


Eh? Jangan-jangan dia terpukau? Apa ini artinya strategiku berhasil?


"Yang ini? Aku gyaru lho♩ Lucu kan~♩"


Aku memegang kedua twin tail-ku dengan tangan lalu menggoyangkannya sambil memamerkan diri.


"Gaya rambutmu sih nggak beda dari biasanya, tapi... kaos kaki itu! Dan rok itu pendek apaan sih!? Sedikit gerak saja kelihatan celana dalammu tahu!!"


Shintarou langsung meninggikan suara dengan wajah seperti iblis.


"Hei, kecilkan suaramu! Lihat tuh, orang yang lewat jadi kaget! Ssst!"


Mbak-mbak yang sedang berangkat kerja dan om-om pegawai kantor menatap kami dengan pandangan aneh.


Yah, kalau ngomong sekeras ini memang jadi menarik perhatian. Mungkin mereka mengira kami sedang bertengkar... ah memalukan...


"Dengar ya, sebenarnya kamu lagi meniru apa sih tiba-tiba begini?"


Seolah berkata ikut sini, dia menarik lenganku dan menyeretku ke depan pintu rumahnya.


"Sakit tahu!"


Rasanya baru kali ini dia menarikku sekuat ini. Bahkan dari genggaman tangannya saja aku bisa merasakan amarahnya. Karena digenggam begitu erat, lenganku sampai agak memerah.


Cuma karena aku sedikit mengubah penampilan, memangnya kenapa sih… Lagi pula dia kelihatan sangat kesal. Aku benar-benar nggak paham.


"Itu rok, turunkan dulu."


Entah kenapa dia sangat tidak suka panjang rokku sampai-sampai menunjukinya dengan jari.


"Nggak mau! Memangnya kenapa!"


"Kamu serius mau pergi ke sekolah dengan rok sependek itu...!?"


"Tentu saja. Mulai hari ini aku gyaru."


"Mulai hari ini gyaru...? Jangan-jangan pengaruh Kurosaki-san?"


...Glek.


"B-bukan begitu! Gyaru era Heisei lagi populer sekarang. Aku cuma ikut tren saja."


Hmph... ini bukan karena pengaruh Kurosaki-san. Tapi memang benar awal masalahnya karena Shintarou suka gyaru.


Padahal aku sudah mempersiapkan semuanya beberapa hari ini supaya sesuai seleramu, tapi reaksimu kok di luar ekspektasi...? Bukannya kamu bilang suka gyaru?


"Terserah sih, tapi setidaknya balikin panjang rokmu. Bahkan pantatmu juga hampir kelihatan."


"Kyaa! Mesum! Aku nggak memperlihatkan pantatku!"


"...! Siapa juga yang mau lihat pantatmu!"


Apaan sih orang ini... kasar banget.


"Lagi pula, supaya celana dalamku nggak kelihatan, aku sudah menyiapkan antisipasinya! Jadi nggak perlu khawatir!"


"Nih!"


Aku menunjukkan isi dalam rok yang kuangkat. Di atas celana dalam, aku memakai spats hitam, jadi tidak masalah.


...Seharusnya sih...


Eh...Kok bagian bawah terasa dingin...


"K-kamu..."


Nggak mungkin, kan? Jangan-jangan...


Sebelum berangkat tadi aku yakin sudah memakainya...


—"Sebelum keluar rumah pakai spats pendek saja deh."


Iya, sampai sini aku ingat.


—"Ah! Gawat! Aku bakal telat!"


Di sini... habis sudah. Karena terlalu sibuk menyiapkan semuanya sejak pagi sampai waktunya berangkat tiba...


Aku benar-benar lupa memakai spats.


Kalau begitu...


Yang tadi kutunjukkan ke Shintarou...


Bukan spats. Tapi celana dalamku.


Rasa malu perlahan menyerangku. Aku bisa merasakan wajahku makin panas sedikit demi sedikit.


Harus tenang... tenang...


Nggak bisa nggak bisa nggak bisa!!


"Tidakkkk~~!! Jangan lihattt!! Mesum!!"


"Haaah?!"


──Klik.


"Ada apa!? Ada kejadian apa ini!?"


Ibu Shintarou muncul di pintu dengan wajah terkejut.


Ini semua gara-gara Shintarou.


"Miu-chan... apa-apaan penampilanmu itu!"


Aduh... sekarang malah dimarahi tante juga...


"Hmm... kamu kelihatan seperti gyaru era Heisei ya...?"


"Eh, Tante tahu gyaru?"


"Tentu saja! Tante dulu juga gyaru lho♡ Gyaru era Showa♡"


Kelihatannya dia malah senang.


"Ugh... kenapa pagi-pagi aku harus dengar cerita masa muda Ibu sih... capek banget..."


Meski masih asyik mengobrol, ibu Shintarou diam-diam mulai membenarkan panjang rokku.


"Kalau rokmu sependek ini nanti orang aneh mendekat, tahu? Kamu masih anak-anak. Kakinya juga terlalu kelihatan. Setidaknya panjangnya segini ya."


Rokku pun diatur menjadi sedikit lebih panjang dari sebelumnya.


Sejak dulu, ibu Shintarou sudah seperti ibu keduaku.


Aku tidak bisa membantah perkataan tante. Jadi mau tidak mau aku menerima panjang rok itu. Lagi pula orang ini juga berisik.


"Hebat, Bu! Dia nggak pernah dengar omonganku."


"Pasti kamu ngomong yang aneh-aneh lagi kan! Tiba-tiba pakai pakaian begini! Ini sama sekali nggak seperti Miu-chan... ups, Tante hampir jadi nenek cerewet. Sana pergi! Nanti kalian telat!"


Lalu punggung kami didorong kuat seolah diusir keluar dari pintu.


"Hehe, kami pergi~"


"Haaah... padahal masih pagi, tapi aku sudah capek banget..."


Shintarou berjalan di depanku sambil membungkukkan punggung. Padahal yang marah dan ribut sendiri itu kamu lho...


"Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu marah banget soal panjang rokku?"


Jarang-jarang Shintarou marah sampai seperti itu.


"Apanya yang kenapa? Ibu juga bilang tadi kan. Aku cuma mengingatkan karena berbahaya."


"Hmm... itu cuma selama perjalanan ke sekolah kan?"


"Hah?"


"Kalau sudah sampai sekolah, berarti rok pendek nggak masalah kan?"


"Hah? Kok jadi begitu?"


"Eh? Bukannya kalau rok panjang supaya aku nggak kenapa-kenapa di jalan?"


"Dengar ya... di sekolah juga banyak kan! Cowok-cowok berbahaya! Misalnya... ya, Morishita."


M-Morishita-kun...


Begitu ya...kalau begitu...


──Apa ini artinya dia cemburu...?


"Padahal waktu melihat celana dalamku kamu nggak bereaksi apa-apa, tapi kamu nggak mau cowok lain melihatnya... gitu...?"


"Gawat, kamu... salah pahamnya kelewatan."


"Tapi tapi, bukannya memang begitu?"


"Ahh sial, berisik banget sih! Jalan cepat sana!"


Ehehehe♡ Memang hasilnya agak berbeda dari yang kubayangkan, tapi hari ini sudah cukup deh♩ 


Rasanya ini pertama kalinya Shintarou cemburu, jadi untuk operasi kali ini...


Kemenangannya milikku...


...Tapi entah kenapa masih terasa mengganjal.


"Sebenarnya ya, hari ini... aku melakukan semua ini demi kamu lho, Shintarou."


"Demi aku? Maksudmu apa...?"


"Soalnya kamu bilang suka gyaru... jadi... aku berpikir kalau aku bisa sedikit lebih mendekati seleramu..."


"Bodoh banget sih kamu. Itu kan cuma cerita dunia manga. Aku sama sekali nggak bilang itu selera nyataku. Lagi pula──"


"...Lagi pula?"


"Kamu paling cocok dengan penampilanmu yang biasa."


Eh... bohong...


Shintarou memujiku...? Berarti dia suka diriku yang biasa...?


...Begitu ya.


Mungkin aku terlalu memaksakan diri. 


Kebetulan saja selera Shintarou dan Kurosaki-san bertabrakan... dan aku jadi panik berlebihan.


Mungkin Shintarou sudah menyadari hal itu dan mengatakan ini demi menenangkanku.


Haaah... aku ini memang bodoh.


Selalu begini.


"Belakangan ini aku merasa Shintarou jadi dingin... aku berpikir keras gimana caranya menarik perhatianmu, dan hasilnya ya begini."


Begitu aku mengatakan itu, Shintarou tertawa terbahak-bahak. Tapi setelah itu dia langsung memasang wajah serius.


"Nggak, sebenarnya aku juga sempat mikir kalau waktu itu aku agak terlalu dingin padamu. Yang waktu pulang karaoke itu."


Jadi Shintarou juga memikirkannya...


"Jadi waktu itu kamu memang marah...? Aku juga merasa mungkin aku terlalu memaksa bertanya."


"Nggak sampai marah sih, cuma rasanya pembicaraan kita nggak nyambung sama sekali. Aku benar-benar nggak ada apa-apa dengan Kurosaki-san, dan aku juga cuma beberapa kali bicara dengannya. Tapi kamu malah──"


"Maaf ya, aku memang cewek yang merepotkan. Aku sudah sadar kok. Sepertinya memang nggak ada apa-apa antara kamu dan Kurosaki-san, jadi mulai sekarang aku nggak akan ikut campur berlebihan lagi."


"Ikut campur apanya? Memang nggak ada apa-apa dari awal."


"Aku tahu kok."


Kali ini memang murni salah pahamku...


Aku terlalu banyak berpikir sampai malah bertindak berlebihan.


Mulai sekarang aku berhenti mencurigai hubungan Shintarou dan Kurosaki-san.


Kalau begitu... ini artinya kami sudah baikan, ya...


Yah... meskipun Shintarou bahkan bukan pacarku, aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa posesif begini.


Tapi... mungkin inilah yang disebut cinta.


Soalnya kami sudah selalu bersama sejak kecil. Mana mungkin aku membiarkan seorang gadis yang tiba-tiba muncul merebut Shintarou milikku.


Tapi rasa mengganjal selama beberapa hari ini rasanya akhirnya hilang, dan hatiku jadi lebih lega.


Mulai sekarang mungkin aku akan lebih jujur────


"Eh, pulangnya nanti mau pulang bareng?"


"Aah, hari ini kayaknya nggak bisa. Aku pulangnya bakal telat karena harus tinggal buat urusan festival olahraga."


"Begitu ya... kalau gitu lain kali saja. Akhir-akhir ini kamu sibuk ya, Shintarou."


"Hmm, ya begitulah. Tapi tahun ini juga tahun terakhir."


"Tahun terakhir kehidupan SMA ya..."


"Iya."


"...Semangat ya."


"Mm, makasih."


"Kalau begitu, hari ini juga mari berjuang santai saja…”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close