NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 6

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 6

Tentang Kurosaki-san, Gyaru Anak Pertanian. Gap-nya Terlalu Imut

"K-Kurosaki-san... kalau tidur bersama sih... sepertinya agak berbahaya...?"


Di atas ranjang single yang sempit, hanya ada aku dan Kurosaki-san berdua.


Kalau aku menoleh, dia ada tepat di dekatku, dan ada sentuhan lembut di punggungku. Entah kenapa juga tercium aroma yang enak... alasan kenapa kami yang bahkan belum berpacaran bisa berada dalam situasi seperti ini adalah──


──Mundur beberapa hari sebelumnya.


Sepulang sekolah, aku tinggal lebih lama di kelas bersama anggota panitia olahraga lainnya untuk rapat mengenai festival olahraga.


Akhirnya pembicaraan selesai, dan saat kupikir sudah waktunya pulang, ketika menuju loker sepatu...


"Senpai, kerja keras ya."


Aku bertemu Kurosaki-san yang sedang sendirian.


"Sampai jam segini pasti capek ya," kata Kurosaki-san.


Saat aku sedang penasaran kenapa dia juga masih di sekolah sampai selarut ini, tanpa perlu bertanya pun dia langsung memberitahuku bahwa dia menunggu diriku.


"Ahahaha, pasti kaget ya. Sebenarnya aku mikir pengen pulang bareng Senpai, jadi aku sengaja menunggu di sini... tapi Senpai lama banget nggak datang ke loker sepatu... beberapa kali aku juga kepikiran buat pulang sih... tapi... hari ini aku belum sempat lihat wajah Senpai, jadi aku benar-benar ingin ketemu."


"B-Begitu ya..."


Setidaknya satu setengah jam... tidak, mungkin dua jam aku membuatnya menunggu.


Ngomong-ngomong sekarang jam berapa...? Aku melirik jam yang dipasang di dekat pintu masuk.


Biasanya aku tidak ikut klub, jadi selalu pulang paling cepat. Paling lambat pun aku keluar sekolah jam lima sore.


Tapi sekarang sudah jam tujuh malam.


"Kurosaki-san, berarti kamu menunggu lama sekali ya... maaf..."


Meskipun aku sama sekali tidak memintanya menunggu, rasanya tetap sedikit bersalah karena dia mau menunggu selama itu.


"Nggak kok, aku sendiri yang memutuskan begitu... tapi penantianku terbayar. Dari pagi tadi aku terus memikirkan Senpai. Rasanya benar-benar ingin cepat ketemu. Tapi karena bukan cuma beda tingkat, gedung sekolah kita juga beda, jadi susah cari kesempatan buat menemui Senpai."


Benar juga, sekolah kami termasuk sekolah unggulan, jadi gedung untuk siswa yang masuk sejak SMP dan yang masuk lewat ujian SMA dipisah dengan jelas.


Aku masuk sejak SMP melalui ujian, jadi Kurosaki-san mungkin baru masuk dari SMA.


Begitu ya... jadi makanya meskipun penampilannya agak mencolok tetap diperbolehkan...


Tapi tunggu... dari pagi dia memikirkan aku...?


Entah kenapa rasanya tingkat rasa sukanya kepadaku meningkat dibanding sebelumnya.


Kalau tidak, rasanya dia tidak mungkin mau menunggu selama ini...


Atau... jangan-jangan aku terlalu percaya diri...?


"K-Karena kamu sudah menunggu, mau pulang bareng?" tanyaku.


"Tentu saja! Aku memang menunggu untuk itu."


Kurosaki-san berbicara dengan gembira. Wajahnya terlihat lebih cerah.


Awal Oktober, jam tujuh malam tentu saja suasana sudah gelap.


Jalan dari gedung sekolah menuju gerbang diterangi lampu dengan indah. Kalau dilihat begini, sekolah kami ternyata lumayan bagus juga.


Berarti anak-anak klub olahraga yang sering pulang malam melihat pemandangan ini setiap hari ya...


Wah romantis sekali.


Kalau boleh jujur, suasananya jauh lebih bagus dibanding siang hari.


"Rasanya seperti masa muda ya."


Mungkin Kurosaki-san juga memikirkan hal yang sama.


"Aku baru tahu kalau sekolah malam hari bisa kelihatan sebagus ini."


"Aku juga biasanya langsung pulang sih, jadi nggak pernah terlalu memperhatikan."


Sambil mengobrol seperti itu, kami berjalan santai hingga akhirnya keluar dari gerbang sekolah.


"Ngomong-ngomong, rumah Kurosaki-san di daerah mana?"


Yang pasti dia naik kereta. Soalnya waktu karaoke sebelumnya, aku melihat sendiri dia masuk ke peron.


"Rumahku agak di desa sih, naik kereta sekitar dua puluh menit..."


Dua puluh menit...? Lumayan jauh ya...


"Sebenarnya keluargaku petani ubi jalar... di sekitar rumah isinya sawah semua. Jadi mungkin aku tinggal di tempat yang lebih pedesaan dari yang Senpai bayangkan. Banyak serangga juga. Sebentar lagi musim panen, jadi akhir pekan mulai sibuk..."


Aku sama sekali tidak menyangka kata "musim panen" keluar dari mulut gyaru yang penampilannya semencolok ini.


"Kalau sibuk berarti Kurosaki-san juga membantu panen?"


Kalau begitu... jangan-jangan dia gyaru anak pertanian...


"Terus... dengan kuku sepanjang itu, apa bisa menggali ubi? Nggak patah lagi? Seperti jari telunjuk waktu itu..."


Karena terlalu banyak hal yang membuat penasaran, aku tanpa sadar terus bertanya. Tapi Kurosaki-san menjawab semuanya perlahan dan dengan sopan.


"Tentu saja aku juga membantu panen. Soalnya kakek dan nenek hampir mengurus semuanya sendiri, jadi aku dan adikku juga biasanya membantu di ladang setiap akhir pekan saat musim seperti ini."


"Eh!? Kurosaki-san punya adik!?"


"Hehe, ada satu. Adik laki-laki kelas satu SD yang agak nakal."


"Bedanya lumayan jauh ya..."


"Iya. Dia masih seperti bayi, lucu banget."


"Senpai, jangan-jangan lagi mikir yang aneh-aneh?"


Dia langsung menyadarinya seolah bisa membaca isi kepalaku.


"Hah!? Nggak kok!"


Kenapa ya perempuan bisa membaca pikiran laki-laki seperti ini...


"Terus kuku ini juga masih bisa dipakai kerja kok. Cuma pakai sarung tangan sih nggak bisa. Ah, sama tanahnya masuk ke sela-sela kuku banyak banget."


Sambil tertawa, Kurosaki-san menusuk-nusuk pipiku dengan kukunya yang panjang.


"Lihat, pipi Senpai juga masih bisa dicubit-cubit begini."


"H-Hentikan dong… Tapi serius deh, aku kaget... nggak nyangka rumah Kurosaki-san ternyata petani ubi jalar."


"Begitu ya? Ya memang sih, soal bantu panen orang sering kaget. Soalnya dengan penampilanku begini, mungkin orang mengira aku jauh dari tanah atau serangga."


"Berarti di musim seperti ini bisa makan ubi tanpa batas dong...!?"


Ini benar-benar membuat iri. Soalnya aku sangat suka ubi jalar. Kalau musim seperti ini, berbagai restoran biasanya mulai mengadakan festival menu ubi.


Ubi brûlée dingin, sweet potato dengan banyak mentega, kroket ubi manis isi keju meleleh... semuanya luar biasa.


"Senpai, jangan-jangan suka ubi?"


"Iya! Aku suka banget sampai pernah makan ubi bakar setiap hari."


"Eh serius? Nggak nyangka. Senang sih dengarnya. Ubi kami lengket dan rasanya pekat, enak banget lho. Kalau dibuat ubi bakar, madunya sampai meleleh keluar. Nama mereknya 'Gokumitsu Mari-chan'."


Begitu tahu aku suka ubi, Kurosaki-san terlihat senang sambil menirukan gerakan memegang ubi bakar hangat.


"Gokumitsu Mari-chan ya... itu diambil dari nama Maria milik Kurosaki-san?"


"Iya. Kata kakek, namanya terinspirasi dariku. Gokumitsu Mari-chan. Lucu juga ya, seolah-olah aku manis banget."


Kalau dipikir-pikir memang agak lucu.


Bagaimanapun juga, keluarganya terlihat akrab sekali. Hanya dengan mendengarnya saja, hubungan keluarganya terasa hangat.


"Eh iya, akhir pekan nanti Senpai mau ikut nggak? Panen ubi di rumahku."


Tiba-tiba dia mengajakku.


"Aku boleh ikut...? Kalau tiba-tiba ada cowok asing datang tanpa alasan, kakekmu nggak khawatir...?"


"Ahahaha, kakekku nggak sekaku itu kok. Malah mungkin bakal menyambut dengan senang."


"S-Serius..."


Tapi...


Panen ubi terdengar seru banget!!


Terakhir kali aku melakukannya waktu TK. Setelah besar, hampir nggak pernah ada kesempatan seperti itu lagi...


Belakangan ini aku juga merasa lelah, mungkin menyentuh alam bisa membuatku segar lagi...


Hmm... gimana ya…


◆◇◆


Akhir pekan berikutnya──


Hari Sabtu, pukul sepuluh pagi.


Saat aku sadar, aku sudah berada di dalam kereta yang bergoyang pelan.


Beberapa hari lalu... saat aku masih bimbang mau ikut panen ubi atau tidak, Kurosaki-san yang mulai tidak sabar berkata...


"Kalau Senpai datang ke rumahku, Senpai juga bisa makan masakan ubi sepuasnya lho."


Dia mengeluarkan kalimat pamungkas seperti itu. 


Jadi akhirnya kupikir aku memang harus pergi... dan sekarang aku berada di sini.


Pada akhirnya, aku benar-benar terpancing oleh masakan ubi.


Rumah Kurosaki-san berada lima stasiun dari stasiun terdekat rumahku.


Sebenarnya tidak terasa terlalu jauh, tapi semakin banyak stasiun yang kulewati, pemandangannya berubah drastis.


Awalnya pemandangan dipenuhi gedung dan minimarket, lalu tanpa sadar jarak antar rumah mulai semakin renggang, bercampur dengan hamparan hijau sawah dan ladang.


Tak lama kemudian, aku sampai di stasiun tujuan Kurosaki-san dan keluar melewati gerbang tiket sambil melihat sekeliling.


"Nggak ada gedung tinggi. Dan... sedikit jalan saja isinya sudah sawah semua."


Persis seperti yang dikatakan Kurosaki-san, suasananya benar-benar pedesaan.


Lalu aku menarik napas dalam-dalam.


"Bahkan baunya juga beda banget dari stasiun dekat rumahku... udaranya enak banget~"


Cuacanya juga bagus, langit biru membentang tanpa satu pun awan.


Ini benar-benar hari yang sempurna untuk menyegarkan diri. Rasanya bakal jadi hari libur yang luar biasa.


Dengan mengandalkan petunjuk yang sebelumnya diberikan, aku berjalan menuju rumah Kurosaki-san.


"Ehm, kalau tidak salah belok kiri di gudang biru itu..."


Setelah berjalan beberapa saat mengikuti jalan, terlihat sebuah rumah dengan gerbang besar di depanku.


Tidak ada rumah lain di sekitarnya, jadi sepertinya memang ini tempatnya.


"Rumah yang megah ya..."


Dan di papan namanya tertulis Kurosaki.


Dari balik gerbang yang sedikit terbuka, terdengar suara seseorang tertawa.


Mungkin suara keluarga Kurosaki-san...?


Saat aku berdiri bengong di depan gerbang sambil memikirkan itu...


"Eh...? Anda siapa ya?"


Seorang wanita yang tampaknya nenek Kurosaki-san menyapaku.


"A-ah, anu... nama saya Miyata...!"


Aku yang tiba-tiba diajak bicara hampir saja suaraku pecah, tapi berhasil memperbaikinya.


"Miyata-san...? Wah~ ini anak tampan dari mana ya? Kakek~!"


"Ada apa sih teriak-teriak begitu... eh!? Jangan-jangan kamu gebetannya Mari-chan ya!?"


Tahu-tahu kakek dan nenek sudah berkumpul.


Gebetan!?


"Kakek, zaman sekarang sudah nggak bilang begitu lagi. Sekarang bilangnya darling♡"


Maaf mengganggu obrolan kalian yang seru, tapi aku bukan pacar atau darling atau apa pun...


Di saat seperti itu, penyelamatku muncul.


"Ahaha, kalau zaman sekarang bilangnya pacar, Nek. Lagi pula orang ini bukan pacarku kok."


"Oh begitu, bukan pacar ya. Kalau begitu calon menantu?"


"Makanya bukan begitu~"


"Lihat kan, dia jadi repot!"


Sambil berkata begitu, Kurosaki-san menarikku menjauh dari mereka dan mengajakku masuk ke dalam gerbang.


Setelah melewati gerbang, berdirilah rumah besar dua lantai.


Pintu masuknya terpisah, jadi mungkin rumah dua keluarga ya?


Di depan rumah terparkir mobil bak terbuka kecil, dan di bagian belakangnya bertumpuk kardus bertuliskan "Gokumitsu Mari-chan."


"Ah, selamat pagi Kurosaki-san."


"Pagi Senpai. Bisa menghabiskan hari libur bersama Senpai rasanya bahagia banget. Makasih sudah datang."


"T-Tidak kok... aku juga lumayan menantikannya...!"


Berbeda jauh dari seragam mencolok yang biasa kulihat di sekolah, hari ini Kurosaki-san mengenakan baju kerja hitam model terusan.


Rambut lurus panjangnya yang halus diikat menjadi twin tail.


Bagian atas baju terusan itu dilepas dan diikat di pinggang. Di dalamnya dia memakai tank top pink bermotif leopard yang membuat penampilannya agak seksi.


"Eh...? Kurosaki-san bisa pakai sarung tangan ya."


"Ah iya, kukunya ternyata mengganggu, jadi kemarin aku lepas nail art-nya."


"Begitu ya..."


Memakai baju kerja dan sarung tangan begini, meski tetap seksi, dia juga terlihat sehat dan keren.


Melihat perbedaan yang begitu besar itu...


Aku yang gampang terpengaruh hampir saja langsung jatuh hati. 


Kalau jujur...


Imutnya sampai nggak masuk akal...


"Senpai, ladang ubinya di sini."


Kurosaki-san mengajakku ke ladang di belakang rumah.


Begitu melewati pintu belakang, terbentang ladang yang luas.


"Taraa~ luas kan?"


Di bawah langit biru, Kurosaki-san merentangkan kedua tangannya sambil memasang wajah bangga.


............Hehe, imut banget.


Mungkin aku sudah terkena sihir ubi. Soalnya apa pun yang dilakukan Kurosaki-san sekarang terlihat imut bagiku.


──Gyaru anak pertanian... terbaik.


"Wah~ kalian berdua saling menatap nih, mesra sekali ya~♡ Jadi mengingatkanku pada masa muda kita ya, Kakek♡"


"Betul! Mirip aku waktu muda yang ganteng ini! Hohoho!"


K-Kapan mereka muncul lagi!?


Apa mereka punya kemampuan teleportasi?


Di ladang, kakek dan nenek ternyata sudah mulai bekerja.


"Ubi tahun ini bagus-bagus ya. Bulat dan besar."


"Senpai, pakai ini deh."


Kurosaki-san menyerahkan alat mirip sekop kepadaku. 


Alat logam kecil yang lebih ringan dari dugaanku. Pegangannya terbuat dari kayu dan pas di tangan. Ujungnya bercabang tiga dan terlihat cocok untuk mengorek tanah.


"Namanya garpu penggali ubi. Ya kurang lebih seperti cangkul."


"Ohh... kalau dipikir-pikir memang mirip garpu."


"Nih Senpai, coba gali di sini."


Aku menuruti perkataannya dan menusukkan alat itu ke tanah.


Tanahnya lebih lembut dari perkiraanku.


"Apa boleh langsung digali begini...?"


Karena belum terbiasa, aku takut merusak ubinya, jadi aku mengorek perlahan dan hati-hati. Setelah menggali beberapa saat, akhirnya ubi berwarna ungu mulai terlihat.


"Wahhh! Kelihatan!"


Aroma tanah yang agak lembap dan bau rumput segar menggelitik hidungku.


"──Hacchiinn!!"


"Ahaha, jangan-jangan Senpai menghirup debu tanah? Bersinnya imut ya."


"Kubilang dipanggil imut sama cewek yang lebih muda itu agak gimana gitu..."


Saat aku hendak menarik ubi yang mulai terlihat itu—


"Harus digali sedikit lagi, nanti patah lho."


Dia mengajariku dengan lembut.


"Kalau begitu sedikit lagi... di sekitar sini..."


"Waaah!"


Dari dalam tanah tiba-tiba muncul cacing besar.


Cacing itu menggeliat-geliat di atas tanah.


Sudah lama aku tidak melihatnya, jadi...


Agak menjijikkan.


"Senpai, jangan-jangan nggak suka serangga? Tanah yang banyak serangganya itu tandanya penuh nutrisi lho~"


Sambil berkata begitu, dia dengan santai mencubit cacing itu dan memindahkannya ke tempat lain.


Eh...Kurosaki-san...


Ternyata tipe gyaru yang bisa pegang serangga juga… Perbedaan ini malah semakin terasa...


Kuat…


Terlalu kuat...


Gyaru macam apa ini, tangguh sekali...


Setelah menggali banyak ubi, seluruh tubuhku penuh tanah. Keringat bercucuran dan pergelangan tanganku juga agak sakit.


Tapi semuanya terasa sangat segar dan menyenangkan.


Tak lama kemudian siang pun tiba, dan nenek Kurosaki-san membawakan bekal makan siang. Isinya nasi ubi berbentuk onigiri, dua potong ayam goreng, dan acar.


Di bawah langit biru cerah, makan bersama Kurosaki-san di atas tikar biru terasa luar biasa nikmat.


Di tempat yang agak jauh, kakek dan nenek makan onigiri bersama dengan akrab.


"Mereka benar-benar akur ya."


"Iya, dari dulu memang begitu. Aku mungkin belum pernah melihat mereka bertengkar. Aku juga bermimpi menghabiskan masa tua seperti itu. Hidup santai setiap hari bersama orang yang dicintai."


Wah...


Kurosaki-san benar-benar kebalikan dari penampilannya.


Awalnya aku mengira saat akhir pekan dia pergi ke klub malam atau naik kapal pesiar bersama teman-teman yang mencolok...


Memikirkan prasangkaku sendiri membuatku merasa bersalah.


"Senpai, nanti makan malam juga di sini kan? Aku bakal masakin sesuatu."


"Eh!? Kurosaki-san juga bisa masak!?"


"Ahaha, kenapa kaget banget deh?"


"Pandai mengurus adik, gyaru anak pertanian, sekarang bisa masak juga..."


"Hahaha, gimana? Senpai jadi pengen punya pacar seperti aku?"


"...Pacar? Kurosaki-san jadi pacarku...?"


"Ah, cuma bercanda kok bercanda. Senpai langsung bikin wajah bingung lagi sih. Oh iya, yang waktu itu juga bercanda lho~"


...Yang waktu itu?


Ah, yang 'jadi cowokku saja' ya...


Aku jadi mengingatnya lagi. Malu banget.


"Ayo, lanjut sesi sore: pengemasan~"


"Baik!”


◆◇◆


──Sore hari.


"Ngahh~ capek banget~"


Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Setelah merasakan langsung satu hari kehidupan sebagai petani ubi jalar, tubuhku juga mulai dipenuhi rasa lelah yang pas...


"Kurasa sudah waktunya mulai menyiapkan makan malam. Senpai, makasih juga sudah bantu seharian ini. Kamu benar-benar banyak membantu."


Kurosaki-san tersenyum lembut padaku.


Rambut merah mudanya yang diterpa cahaya matahari senja berkilau sambil tertiup angin.


"Ah, tidak sama sekali! Aku juga senang bisa merasakan pengalaman seperti ini. Tapi ya ampun... aku jadi lumayan kotor..."


Karena seharian menyentuh tanah, rambut dan bajuku jadi penuh debu.


"Oi, calon menantu. Kau juga mau makan malam di sini, kan? Jangan sungkan, sekalian mandi juga sana."


Saat menoleh, kulihat kakek Kurosaki-san sedang membereskan alat-alat di pinggir ladang.


"Kalau sampai mandi juga... rasanya terlalu merepotkan..."


Di rumah Kurosaki-san yang baru kukenal belum lama ini... selain ditraktir makan, sekarang sampai dipersilakan mandi juga...


"Ah, tidak usah dipikirkan. Kalau masuk rumah dengan badan penuh lumpur begitu, nenek nanti malah marah, tahu? Jadi jangan sungkan."


Beliau menyipitkan mata sambil tertawa.


...Benar juga. Kalau dibilang begitu aku jadi sulit menolak.


"Kalau begitu... aku terima kebaikannya."


"Yup, ada baju ganti milik Papa juga, jadi Senpai mandi dulu aja."


"...Terima kasih, Kurosaki-san."


Lalu Kurosaki-san membuka pintu masuk rumah.


Dan saat itu...


Dug dug dug dug.


Dari ujung lorong terdengar suara langkah kaki. Suara itu makin mendekat, lalu sesosok bayangan kecil muncul dan melesat lurus ke arahku.


"Wuah!?"


Karena dorongannya terlalu kuat, tubuhku hampir terjatuh, tapi aku berhasil menahan diri.


"Yo, Kakak! Aku udah dengar dari Nenek! Katanya Kakak calon suami Kakakku!"


Bocah kecil itu mendadak memelukku sambil bersuara nyaring dan penuh semangat.


Akrab banget anak ini... jadi ini adik Kurosaki-san ya...?


Dia jauh lebih kecil dari yang kubayangkan... suaranya juga tinggi seperti anak perempuan. Kalau kukatakan mungkin dia bakal marah... tapi dia jauh lebih mungil dan imut dari perkiraanku.


"Hei, Youta. Dia bukan calon suami Kakak atau apa pun. Lagi pula dia tamu, tahu? Bersikap sopan."


Kurosaki-san berbicara seperti kakak yang benar-benar tegas.


...Jadi di depan adiknya dia seperti ini ya.


Aku kembali menemukan sisi lain dirinya.


"Youta, tadi menyenangkan? Jalan-jalannya sama Mama dan Papa? Oh iya, orang ini Miyata-san. Dia dari sekolah yang sama dengan Kakak. Nah, antarkan dia ke kamar mandi ya."


Setelah berkata begitu, Kurosaki-san pergi ke arah dapur.


"Kakak beruntung banget! Bisa nikah sama Kakakku~♪"


...Hah? Barusan dia bilang nikah? 


Bukan begitu maksudnya... Kurosaki-san kan baru saja menjelaskannya...


Dan tanpa menunggu jawabanku, Youta melanjutkan,


"Kakakku hebat lho! Soalnya gede banget!"


Sambil berkata begitu, Youta membuat gerakan melengkung di depan dadanya.


Apaan anak ini...Dasar bocah mesum...!!! Maaf ya Kurosaki-san, tapi aku langsung menilainya seperti itu.


Jadi dia mandi bareng bocah mesum beginian...!?


Tapi ya... mereka keluarga sih... mungkin normal-normal saja...? Entahlah.


"Di sini kamar mandinya. Kakak bisa mandi sendiri? Mau aku temenin?"


Sekarang malah dia mengkhawatirkanku dengan alasan aneh. Sayangnya aku sudah dewasa. Aku beda dengan bocah mesum ini. Aku ingin mandi sendirian.


"Nggak apa-apa, Youta. Sana bantu Kakakmu."


"Oke!"


Oh, ternyata dia penurut juga.


Aku terkejut melihat kamar mandi yang luas, tapi memanfaatkan kebaikan mereka dan membersihkan tubuh serta pikiranku dengan nyaman.


Saat keluar dari kamar mandi, aroma harum gorengan sudah memenuhi lorong.


──Grrr...


"Ah... perutku bunyi..."


"Senpai, sudah segar lagi?"


Entah dari mana muncul Kurosaki-san. Celemek putih dengan renda sangat cocok dipakainya.


"Ah, iya! Berkat kalian."


"Barusan perut Senpai bunyi ya?"


"Ketahuan ya... hehe."


Kalau dipikir-pikir, mungkin sudah lama sejak terakhir kali aku makan masakan rumahan buatan orang selain Ibu.


Yah, meskipun yang pernah kumakan juga cuma masakan Momo-nee dan Miu.


"Semuanya sudah siap."


Aku pun dibawa ke ruang keluarga.


Di sana berkumpul lengkap kakek, nenek, bocah mesum Youta, ibu, dan ayah Kurosaki-san.


Gawat...


Kenapa aku ada di sini sih...


Melihat semua anggota keluarga berkumpul, aku jadi sangat gugup.


Ayah Kurosaki-san... kelihatannya serem banget... badannya besar sekali… Sementara ibunya sangat ramping dengan rambut hitam panjang. Dan cantiknya luar biasa.


"Te-terima kasih sudah meminjamkan kamar mandi! Nama saya Miyata!"


Aku kembali memperkenalkan diri.


"Hahaha, tidak usah setegang itu. Ayo duduk."


Ternyata suara ayah Kurosaki-san jauh lebih lembut daripada penampilannya.


"Tadaa~ hari ini menu andalan keluarga kita, tempura~"


Yang dihidangkan adalah sepiring besar penuh tempura.


Ada udang, kerang scallop, ubi jalar sebagai menu utama, juga jamur shiitake dan labu. Jumlahnya sangat banyak sampai rasanya mustahil habis dimakan semua orang di sini.


Ditambah salad ubi jalar dan sup miso ubi jalar, benar-benar menu serba ubi yang sangat sesuai seleraku.


...Apa pun yang kumakan rasanya sempurna.


Yang paling penting, makan bersama banyak orang seperti ini terasa sangat ramai dan menyenangkan.


Aku anak tunggal, dan Ayah sering sibuk bekerja sehingga jarang di rumah.


Saat makan, biasanya hanya aku dan Ibu berdua.


Karena itu, pemandangan ini terasa sangat membuat iri.


"Senpai, sudah kenyang?"


Sambil membawa teh hijau dingin, Kurosaki-san memperhatikan reaksiku.


"Iya! Kenyang banget! Kurosaki-san ternyata jago masak ya! Tempuranya juga renyah dan enak~"


"Ahaha, aku senang kalau Senpai suka."


"Menurutmu putriku bakal jadi istri yang baik, nggak, Miyata-kun?"


Tanya ayah Kurosaki-san.


"Mari-chan dari kecil memang sering membantu masak, lho. Sekarang dia bisa bikin apa saja."


Ibu Kurosaki-san berbicara dengan bangga.


"Menurutku dia pasti bakal jadi istri yang hebat...!"


"Haha, syukurlah. Jadi makin menantikan masa depannya."


Seluruh keluarga Kurosaki-san tampak sangat puas.


Eh…


Hmm? Perasaan ini...


Jangan-jangan suasananya benar-benar jadi seperti aku bakal menikah dengan Kurosaki-san di masa depan...? Rasanya seperti seluruh keluarganya sedang menutup jalan pelarian...


Tidak, pasti cuma perasaanku saja.


Apa pun itu, melihat Kurosaki-san tampak sangat bahagia dikelilingi keluarga yang hangat membuat hatiku ikut terasa hangat.


"Kakak! Mau main lagi nggak? Yuk main game di kamar Kakak!"


Seolah sudah menunggu dari tadi, Youta langsung mengajak bermain.


Imut juga bocah ini. Kalau aku punya adik laki-laki mungkin rasanya seperti ini ya.


"Senpai, aku habisin cuci piring dulu terus nyusul. Youta, antarkan ya."


"Iya, Kak."


"Kalau begitu... terima kasih untuk makanannya!"


Setelah berpamitan pada keluarga Kurosaki-san, kami meninggalkan ruang keluarga.


Rumah ini besar sekali... bahkan lorong menuju lantai dua juga panjang banget.


──Klik.


"Kakak, ini kamar Kakakku. Masuk aja."


"O-oh... makasih, Youta..."


Aku masuk ke kamar Kurosaki-san yang ditunjukkan Youta.


Aroma musk manis memenuhi ruangan. Mungkin ini aroma parfum Kurosaki-san. 


Baunya sama seperti saat pertama kali kami bertemu.


"Wah... tak kusangka kamarnya rapi ya..."


Memang cuma prasangka sepihak, tapi entah kenapa aku membayangkan gyaru tidak pandai merapikan kamar... bajunya berserakan di mana-mana sampai tidak ada tempat berpijak.


"Lihat, Kakak! Topeng Hentai~!"


Entah dari mana Youta mengambil bra besar milik Kurosaki-san dan memakainya sebagai topeng.


"Itu bahaya banget! Cepat balikin ke tempat semula sebelum Kakakmu datang!"


Dasar bocah mesum...!


Nanti aku juga ikut dipandang aneh!!!


Tapi... ngomong-ngomong memang besar banget ya… Sampai wajah Youta tertutup seluruhnya. Desainnya juga sangat mencolok, kain merah muda mengilap dengan renda hitam.


Jadi Kurosaki-san pakai yang begini ya... melihat selera seperti ini membuatku sadar lagi kalau dia memang gyaru.


Kalau dibandingkan dengan Miu...


Sport bra hitam polos dengan bagian terbuka yang minim. Anak itu benar-benar tidak punya daya tarik seksi sama sekali...


"...Kakak?"


"Hm? Ah... iya, kita mau main game ya?"


"Iya!"


Youta sudah siap sambil memegang konsol game. Sepertinya dia ingin memamerkan desa yang dibuatnya.


Di saat seperti itu, Kurosaki-san akhirnya datang.


"Kalian berdua tiduran sambil main game? Ahaha. Kalau dilihat dari belakang, kalian benar-benar mirip saudara kandung."


"Ah... Kurosaki-san, permisi mengganggu."


"Hehe, aku tahu kok. Silakan santai saja."


Sambil mengikat rambutnya menjadi satu, Kurosaki-san menunjukkan senyum lembut pada kami.


...Tapi aku juga harus mulai bersiap pulang... kalau terlalu malam nanti malah merepotkan...


Sambil berpikir begitu, aku melirik layar ponsel.


Sekarang waktu sudah lewat pukul tujuh malam──


Aku main sebentar lagi dengan Youta... lalu mengembalikan baju pinjaman dan pulang.


Ya, saat itu memang itulah yang kupikirkan.


Setidaknya... sampai saat itu────


◆◇◆


Saat berikutnya aku membuka mata, yang langsung masuk ke pandanganku adalah... ruangan yang remang-remang.


Hanya lampu kamar berwarna hangat yang sedikit menerangi sekeliling.


Hah... Youta ke mana? Tadi seingatku kami sedang main game bersama...Lagi pula, kenapa gelap begini...? Dan Kurosaki-san di mana...


──Pakkk.


"Ah, Senpai. Sudah bangun ya?"


Kurosaki-san kembali masuk ke kamar dengan rambut yang masih sedikit basah.


Pakaiannya berbeda dari sebelumnya: camisole hitam dipadukan celana pendek abu-abu, benar-benar pakaian santai khas dipakai di rumah.


"Senpai ketiduran waktu lagi main game sama Youta."


"Eh...! Maaf banget... aku benar-benar nggak menyangka bakal ketiduran..."


"Yah, hari ini lumayan banyak kerja fisik sih, jadi Senpai pasti capek."


Kurosaki-san duduk di depan meja di tengah kamar, lalu mulai mengoleskan lotion di depan cermin.


"Ah, jadi habis mandi ya."


"Iya. Soalnya Senpai ketiduran, jadi kupikir sekalian hapus makeup aja."


Kalau dipikir-pikir benar juga, dia sekarang tanpa makeup...


Kalau diperhatikan baik-baik, wajahnya kelihatan jauh lebih muda. Rasanya seperti orang yang berbeda dibanding saat memakai makeup...


"Kurosaki-san, mungkin wajah tanpa makeup malah lebih imut..."


Tanpa sadar kata-kata itu terlepas begitu saja.


Karena kesan tegas yang biasanya muncul saat memakai makeup sama sekali menghilang, digantikan wajah bulat dan wajah imut Kurosaki-san yang terlihat sangat manis.


Aku kembali menemukan sisi lain dirinya...


"Jam berapa sekarang ya...? Aku harus segera pulang."


Eh, baterai ponselku habis. Gawat.


"Kurosaki-san, sekarang jam berapa...?"


"Eetto, tunggu sebentar ya~ ... sekarang... sudah lewat jam sebelas."


──Hah!? Jauh lebih larut dari yang kubayangkan.


Aku... tidur selama apa sih...!?


"Kenapa nggak menginap aja? Kereta terakhir juga sebentar lagi habis."


Kurosaki-san malah mengusulkan hal yang tak terduga.


Kamu ini... membiarkan cowok yang baru dikenal menginap di kamar... terlalu tidak waspada...!?


"Tidak... menginap di kamar cewek itu... rasanya agak nggak enak... maksudku..."


"Kakek sama yang lain juga bilang suruh Senpai istirahat saja, jadi nggak usah dipikirkan."


Setelah selesai mengoleskan lotion, Kurosaki-san menatap ke arahku.


"Aah... tapi..."


Hm...? Apa sebenarnya dia ingin aku pulang?


Ya memang wajar sih... maksudku aku juga berniat pulang. Mana mungkin nyaman membiarkan pria asing menginap di kamar.


"Soalnya nggak ada futon, jadi berarti kita harus tidur di ranjang yang sama. Nggak masalah kan, Senpai?"


"...Eh?"


"Bukannya... Senpai nggak keberatan kan...?"


"Eh!? Bukan nggak keberatan sih...! Tapi... itu... aku bisa tidur nggak ya... dalam berbagai arti..."


"Dalam berbagai arti...?"


Kurosaki-san menampilkan tanda tanya di atas kepalanya beberapa saat.


"Ahh~ jadi begitu. Ahahaha."


Kelihatannya dia memahami sendiri maksudnya.


"Kalau nggak bisa tidur juga nggak apa-apa kan? Bisa jadi kenangan juga."


Kurosaki-san pindah ke ranjang.


"Nih, jangan berdiri terus, tidur sana. Kalau malu, aku menghadap ke dinding kok."


Dia bahkan masih memperhatikanku.


...Tapi masalahnya bukan itu.


Pertama-tama, ranjang itu...! Ranjang single terlalu sempit untuk dipakai dua orang...!!


Sebisa mungkin agar tidak menyentuhnya, aku perlahan menaikkan tubuh ke atas ranjang.


Jangan sampai menyentuhnya sedikit pun...


Bukan cuma jari, bahkan sehelai rambut pun jangan...


"Ehm... permisi di sebelah..."


Agar debaran jantungku tidak ketahuan, aku mengecilkan tubuhku dan menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Kurasa mustahil bisa tidur dalam keadaan seperti ini... tapi lebih baik daripada tanpa sengaja menyentuhnya dan dibenci.


"Ahaha, Senpai tegang banget."


Padahal tadi Kurosaki-san tidur membelakangiku, tapi tiba-tiba dia membalikkan badan menghadap ke arahku.


"Tu-tunggu! Kurosaki-san... jangan menghadap sini, bahaya!!"


Mungkin karena tidur menyamping, dadanya yang tertahan gravitasi terlihat seolah hampir keluar dari camisole yang dipakainya.


Panjang camisole itu juga terlalu pendek sampai pusarnya terlihat jelas, ditambah lagi dia memakai celana pendek...


Kalau pandanganku sedikit saja turun, pahanya langsung memenuhi seluruh bidang pandangku.


Kulit yang terlihat terlalu banyak...!!


Aku tidak boleh melihat. Aku akan kalah.


...Dan dari sinilah pertarunganku melawan akal sehat dimulai.


"Senpai, mumpung begini, ngobrol sambil saling menghadap yuk?"


Tanpa mengetahui perasaanku sedikit pun... Kurosaki-san mengatakannya dengan santai.


"Nggak bisa. Aku nggak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa."


Aku menolaknya dengan tegas.


"Hah...? Aku bakal diapain ya sama Senpai...?"


"B-bukan begitu! Aku nggak akan melakukan apa-apa kok...!"


"Aku tahu. Aku yakin Senpai pasti nggak akan macam-macam."


Sambil berkata begitu, Kurosaki-san menarik lenganku lalu menyelinap ke sisi tubuhku.


Kemudian dia melingkarkan tangannya di sekitar perutku, sementara satu kakinya disandarkan di atas pahaku.


Ini sudah sepenuhnya diperlakukan seperti bantal peluk, ya?


…………Hmm. Dipeluk begini sih sebenarnya tidak buruk juga.


……Eh, tidak! Tidak tidak tidak, tidak mungkin bisaaa...!!


"Kurosaki-san...!? A-aku rasa... sebaiknya jangan melakukan hal seperti ini...!!"


"Hmm~? Tenang aja, aku nggak bakal minta lebih dari ini kok~......"


Kurosaki-san menempelkan pipinya ke sekitar bahuku dengan lembut, seolah sedang mencari posisi tidur yang paling nyaman.


Sepertinya rasa kantuk benar-benar menyerangnya, karena matanya masih tertutup.


"Senpai...... aku...... mungkin udah sampai batasnya...... Suu...... suu......"


"Kurosaki-san...?"


Serius...? Orang ini ketiduran...


Ah sial... sekarang aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu pagi tiba...


Karena terlalu gugup, mataku juga masih melek lebar dan rasanya mustahil bisa tidur...


Tapi kalau dipikir-pikir...... wajah tidurnya imut banget...


Karena kepala Kurosaki-san pas berada di bahu kiriku, aroma sampo manisnya juga ikut tercium.


Kenapa ya cewek-cewek bisa wangi begini?


Momo-nee juga selalu harum sih......


──Sebenarnya aku sedang melakukan apa di sini?


Entah kenapa...... aku jadi tidak bisa berhenti memikirkan mereka berdua.


Ini pertama kalinya aku menjadi sedekat ini dengan seorang gadis selain kakak beradik itu.


Kurosaki-san imut, keluarga Kurosaki-san juga orang-orang baik semua...... dan aku juga harus main lagi dengan Youta nanti...


Padahal tidak diragukan lagi kalau aku bersenang-senang, tapi kenapa ya? Perasaan seperti rasa bersalah ini tidak mau hilang......


──Keesokan paginya. Hari Minggu.


Aku dibangunkan oleh Kurosaki-san.


Sepertinya tadi malam, saat sedang tenggelam dalam pikiran, tanpa sadar aku malah tertidur.


Setelah sarapan, ayah Kurosaki-san bilang akan mengantarku sampai stasiun, jadi setelah mengucapkan terima kasih kepada semuanya, aku pun meninggalkan rumah keluarga Kurosaki.


"Senpai, hati-hati ya. Ah benar, festival olahraga minggu depan, ayo lakukan yang terbaik."


"Tentu! Sampai ketemu lagi di sekolah."


◆◇◆


Setelah berpisah dengan Kurosaki-san dan beberapa saat kemudian sampai di rumah, aku menyadari ada sepatu Miu di pintu masuk.


"...Kenapa Miu ada di rumah...? Ah sudahlah... Bu, aku pulang~"


Untuk sementara aku menuju ruang tamu dan memberi tahu ibu kalau aku sudah pulang.


"Kamu ini... kalau mau menginap di suatu tempat setidaknya bilang dulu dong...!"


Entah kenapa dia marah, padahal aku yakin sudah mengirim pesan...


"Ngomong-ngomong, Miu-chan datang lho."


"Ah iya, aku tahu. Tadi lihat sepatunya."


"Dia nunggu di kamarmu."


Tidak tidak... waktu aku tidak ada, ngapain dia datang ke sini...


Jangan-jangan bakal ngomel lagi...


Dengan langkah berat aku menaiki tangga. Mungkin dia sadar dari suara langkah kakiku, karena Miu muncul dari kamarku sambil menengok keluar.


"Yahho~ aku datang nih."


"Iya... tapi kenapa pagi-pagi begini? Lagian hari ini libur."


"Aku tahu kok. ...Sebenarnya nggak ada urusan sih, cuma pengen ketemu aja jadi aku datang. Memangnya salah?"


"Bukan bilang salah sih..."


Selama ini dia belum pernah datang ke rumah tanpa kabar di hari libur...


Ngomong-ngomong, rasanya nyaman juga kembali ke kamar sendiri setelah sehari.


Aku menjatuhkan diri ke atas kasur.


"Ngomong-ngomong, tadi kamu ke mana? Dari pagi-pagi begini."


"...Eh?"


Jangan-jangan dia belum sadar.


Jadi dia cuma mengira aku pergi sejak pagi, ya.


Hah...... syukurlah.


Aku kira dia lagi menyelidik, terus bakal teriak, "Menginap di rumah Kurosaki-san!?" sambil marah besar.


Belakangan ini tingkahnya memang agak aneh soalnya...


"Jadi...? Kamu tadi ke mana?"


Sambil berkata begitu, Miu duduk di sampingku.


Lalu sambil berkata, "Hmm..." dia menunjukkan ekspresi seperti menyadari sesuatu.


"Ada yang...... terasa aneh. Ini bukan bau kamu...... ada bau manis banget."


Miu mulai mengendus-endus di sekitar.


"A-apa maksudmu...?"


"Bau itu dari badanmu. Manis banget...... rasanya seperti pernah mencium bau ini...... apa? Kamu pakai parfum?"


"...Eh? N-nggak kok? Mungkin ibu ganti pelembut pakaian?"


......Anak ini...... terlalu tajam nggak sih...? Rasanya seperti kucing peliharaan yang marah karena cemburu saat pemiliknya pulang setelah mengelus kucing lain.


Selevel itu penciumannya tajam...


"Hmm, ya sudahlah. Nggak terlalu penting juga."


Huaaah... bahaya banget... siapa yang nyangka bisa ketahuan cuma gara-gara bau...


"N-ngomong-ngomong, gimana kalau kita pergi makan siang? Sudah lama juga soalnya."


Aku benar-benar ingin keluar dari kamar ini secepat mungkin, jadi aku coba mengajaknya makan siang.


"Eh, asyik~♪ Rasanya bakal jadi hari libur yang menyenangkan~♪"


"Kamu gampang senang banget sih..."


"Hah? Maksudnya apa?"


"Nggak, nggak ada."


"Maksudnya apa coba~!! Ih! Kesal!”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close