NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Isekai Rakuraku Mujinto Life Volume 4 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Lanjutan Hari Kesembilan

Malam hari kesembilan. Setelah tidur dan bangun nanti, event kedua akan dimulai.


Event yang diselenggarakan oleh sosok misterius itu memiliki hadiah. Pada event sebelumnya, kami memperoleh "Hak Kepulangan", sesuatu yang diperlukan untuk kembali ke Bumi.


Pada event berikutnya, kami bisa mendapatkan hingga lima Hak Kepulangan.


Ini adalah event yang sangat penting. 


Namun, waktu yang kuhabiskan bersama orang yang datang mengunjungiku sebelum tidur juga sama pentingnya.


Shijou Minori.


Ketua kelas yang sangat serius, selalu berjuang menjaga ketertiban kelas setiap hari sambil mengayunkan rambut hitamnya yang diikat ponytail.


Mungkin karena sikapnya yang selalu benar sekaligus tegas, banyak orang merasa sungkan mendekatinya sehingga ia tidak memiliki banyak teman. Meski begitu, aku selalu memiliki kesan yang baik terhadapnya.


Kemampuan yang dipilihnya adalah—"Sihir Atribut."


Di sekolah aku tidak pernah mengetahuinya, tetapi ternyata dia juga memiliki impian menjadi seorang penyihir seperti kebanyakan orang.


Setelah bertemu kembali di pulau ini, hubungan kami dengan cepat menjadi semakin dekat. Dan hari ini, kami hendak melangkah melewati batas terakhir dalam hubungan kami.


Setelah jam tidur, ia datang mengunjungiku ke kamar.


Di tangannya tergenggam sebuah lentera yang menerangi wajahnya dengan cahaya redup.


Matanya tampak basah, pipinya memerah, dan bibirnya berkilau. Dari tubuhnya tercium aroma bunga yang samar.


"Jadi... kau langsung memakai lip balm itu?"


Lip balm yang kubuat untuk semua orang. Saat kupakai sendiri, rasanya hanya melembapkan seperti biasa. Namun melihat bibir Minori yang tampak begitu memesona, jantungku berdegup kencang.


"I-iya. Apa terlihat aneh?"


"Tidak, sangat cocok untukmu."


Entah kenapa Minori tampaknya kurang percaya diri dengan penampilannya, jadi aku menyampaikan kesan yang kurasakan dengan jujur.


"B-benarkah? Terima kasih. Akan kujaga dan kugunakan baik-baik."


"Kalau habis nanti kubuatkan lagi, jadi pakailah sesukamu."


"Hehe, maksudku bukan akan kupakai sehemat mungkin."


"Aku tahu kok."


Yang ingin ia sampaikan adalah bahwa ia akan menggunakannya dengan penuh rasa syukur.


Mendengar candaku, Minori tersenyum. Semoga saja ketegangannya sedikit berkurang.


"Emm... Sousuke-san?"


"Ya?"


"B-boleh kita pindah tempat?"


"T-tentu saja."


Aku keluar ke lorong bersamanya.


Tempat yang ia tuju adalah perpustakaan.


Saat ini markas kami diterangi oleh Sihir Cahaya dan Panas milik Luminous-sensei. Namun ketika jam tidur tiba, semua cahaya padam secara bersamaan. Itulah sebabnya Minori datang ke kamarku sambil membawa lentera.


Akan tetapi, perpustakaan masih terang. Beberapa bola cahaya melayang di dekat langit-langit.


"Aku yang meminta tolong kepada Asahi-sensei. Aku ingin berbicara sebentar denganmu, Sousuke-san."


"Begitu ya."


Meski kami telah membuat dan memasang banyak rak, buku-buku yang seharusnya mengisinya masih hampir tidak ada.


Selain rak buku yang tampak kosong, meja dan kursinya sudah tersedia sehingga suasananya hampir sama persis dengan perpustakaan sekolah.


"Aku... sudah lama memimpikannya. Suatu hari bisa belajar bersama Sousuke-san di perpustakaan."


Minori menarik kursi, duduk, lalu tersenyum kepadaku.


"Benarkah? Kalau begitu seharusnya kau menyuruhku datang saat ada PR yang sulit."


Aku duduk di kursi di sampingnya.


"Hehe, benar juga ya. Kalau kau mengandalkanku, aku pasti akan sangat senang. Tapi sebelum kita datang ke pulau ini... hubungan kita belum sedekat itu."


"...Kurasa memang begitu."


Sejak awal kami hanya saling memanggil dengan nama keluarga. Jangankan bermain bersama, bertukar kontak saja belum pernah.


Minori yang sangat serius dan ketat terhadap peraturan sering kali terasing di kelas. Memang aku lebih sering berbicara dengannya dibanding teman-teman sekelas yang lain, tetapi kami bukanlah teman dekat.


"Mungkin terdengar menyeramkan, tapi... aku mengingat semua hal yang pernah kau lakukan untukku. Saat guru meminta seluruh catatan kelas dibawa ke ruang guru, kau membantuku membawanya. Saat hujan dan payungku hilang, kau meminjamkan payungmu. Saat aku tidak masuk sekolah karena sakit, ketika aku kembali kau mengkhawatirkanku dan meminjamkan catatan pelajaran yang tertinggal. Dan ketika aku hampir bertengkar dengan teman sekelas, kau diam-diam menjadi penengah."


Ada yang kuingat kembali setelah ia mengatakannya, ada pula yang sama sekali tidak kuingat.


Hal-hal yang bagiku hanyalah tindakan kecil ternyata sangat berarti baginya.


"Aku tidak menganggapmu menyeramkan."


"Terima kasih... Aku selalu iri pada mereka. Pada Chiyu-san yang merupakan teman masa kecilmu, pada Shouko-san yang selalu berbicara denganmu sambil tertawa, bahkan pada Kagemori-san yang menjadi pengurus perpustakaan bersamamu tahun lalu."


Kagemori Fumi. Seorang gadis pecinta sastra yang biasanya pendiam meski kadang berbicara sangat cepat. Tahun lalu kami menjadi sedikit akrab karena sama-sama bertugas di perpustakaan. Tak kusangka Minori bahkan mengetahui hal itu.


"Setelah datang ke pulau ini, aku juga iri pada Shion-san. Semua orang begitu pandai mendekatimu. Aku terus bertanya-tanya kenapa hanya aku yang tidak bisa."


"Menurutku, di pulau ini aku juga sudah menjadi lebih dekat denganmu, Minori."


Mendengar perkataanku, Minori tersenyum tipis.


"Benar juga. Kita menjadi jauh lebih akrab daripada yang pernah kubayangkan saat masih di kelas. Tapi tetap saja aku merasa takut. Takut kalau apa yang kukatakan malah akan merepotkanmu..."


Tangannya gemetar.


Aku perlahan menumpangkan tanganku di atas tangannya. Sebelum dipindahkan ke dunia ini, aku tidak akan pernah berani melakukan hal seperti itu.


"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai beban."


Minori bertanya seolah ingin memastikan.


"Sungguh?"


Karena itu aku mengangguk dengan mantap.


"Ya."


Mendengar jawabanku, ia mengangguk sekali, menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dari kursinya.


Pipinya memerah. Dengan wajah tegang yang dipenuhi empat puluh persen harapan dan enam puluh persen kecemasan, ia menatapku lalu berkata,


"Sousuke-san... sejak dulu aku selalu menyukaimu. Aku menyukai dirimu yang begitu alami dalam selalu berada di sisi orang lain."


Rasanya seperti jantungku tertusuk.


"Aku juga menyukaimu, Minori. Kau pekerja keras, serius, cerdas, dan baik hati."


Tak peduli sudah berapa kali seseorang menyatakan cinta, momen itu tetap membuat gugup. Meski tahu perasaan itu akan terbalas, jantung tetap berdetak seolah hendak meledak.


Mata Minori membelalak. Ia berkedip beberapa kali.


"...Benarkah?"


Mendengar pertanyaan itu lagi, aku berdiri dan mengangguk kuat.


"Iya."


Matanya mulai berkaca-kaca, lalu air mata yang tertahan akhirnya mengalir.


"Aku... bahagia."


Aku mengeluarkan sapu tangan dan dengan lembut menyeka air matanya.


"...Terima kasih. Ini sapu tangan yang dulu kau pinjamkan kepada Shouko-san, ya?"


"A-ah, iya. Sehari sebelum kami dipindahkan ke sini, Shouko menumpahkan air ke seragamnya... Kau tahu juga, ya."


Karena kusimpan di Inventory saat tidak digunakan, sapu tangan itu selalu bersih.


"Aku melihatnya. Saat itu aku berpikir, kalau yang mengalami hal yang sama adalah aku, apa kau juga akan meminjamkannya kepadaku?"


Ternyata Minori benar-benar selalu memperhatikanku.


Aku sama sekali tidak menyadarinya. Mungkin memang benar seperti yang pernah dikatakan Chiyu, dulu aku terlalu tidak peka. Semoga sekarang aku sudah sedikit berubah.


"Tentu saja akan kupinjamkan."


"Terima kasih."


Air matanya berhenti, lalu senyum yang begitu indah menghiasi wajahnya.


Aku sampai terpaku memandanginya.


"Hehe... dengan begitu, sekarang aku menjadi pacarmu yang keempat."


Ucapan itu langsung mengembalikanku pada kenyataan.


Seperti yang dikatakan Minori, saat ini aku juga berpacaran dengan Chiyu, Shion, dan Shouko.


Entah kenapa aku tiba-tiba merasa diriku benar-benar brengsek hingga sempat murung.


"...Ya, memang begitu."


"Jangan membuat wajah seperti itu. Kami semua sudah membicarakannya bersama dan menerimanya."


Rupanya para gadis sering memanfaatkan waktu mandi dan kesempatan lainnya untuk saling berbagi informasi serta berdiskusi.


"B-begitu, ya…"


Sebelum dipindahkan ke dunia ini, aku tidak pernah sekalipun membayangkan akan memiliki lebih dari satu pacar. Namun kenyataannya, kami benar-benar dipindahkan ke pulau terpencil di dunia lain ini, dan selama menghabiskan waktu bersama, kami saling jatuh cinta.


Sekarang sudah terlambat untuk menyangkal semua itu.


"Aku rasa kalau tidak datang ke pulau ini, aku juga tidak akan bisa sedekat ini dengan semua orang. Dan juga... kurasa aku tidak akan pernah melakukan berbagai hal denganmu, Sousuke-san."


Entah karena mengingat semua yang telah kami lakukan hingga sekarang, wajah Minori memerah.


Minori yang dahulu sangat keras terhadap hubungan lawan jenis yang dianggap tidak pantas, kini setiap kali kami pergi ke hutan untuk mengumpulkan bahan, justru sering larut bersamaku dalam kemesraan di alam terbuka. Siapa yang bisa membayangkan hal seperti itu?


Aku sendiri ikut teringat berbagai sisi dirinya, membuat wajahku ikut memanas.


"...Sousuke-san, barusan kau memikirkan hal-hal yang tidak senonoh, bukan?"


"Ugh... I-iya."


Kalau dulu, dia pasti akan menegurku dengan berkata, "Memikirkan hal seperti itu tidak boleh." Namun Minori yang sekarang berbeda.


"Orang yang kau pikirkan itu... siapa? Kalau orang lain... tentu aku akan sedih."


Dengan wajah yang hampir menangis, Minori menatapku dengan pandangan penuh rasa kesal bercampur cemburu.


"Dirimu."


Rasanya begitu memalukan hingga wajahku seperti terbakar. Namun jika aku ragu menjawab di sini, mungkin aku akan menyakitinya. Tak boleh ada keterlambatan sedetik pun.


Tubuh Minori gemetar, lalu ia langsung menerjang dan memelukku.


"Wah!"


Aku pun memeluknya dengan lembut.


Setelah saling menatap selama beberapa detik, tanpa ada yang memulai lebih dulu, bibir kami saling bertemu.


Saat bibir kami terlepas, Minori seolah masih belum puas dan kembali mendekatkan bibirnya.


Suara kecupan pelan terus terdengar beberapa saat.


Ketika napas kami mulai sedikit memburu, sambil merasakan kehangatan dan sentuhan tubuhnya, ia menatapku dari bawah lalu berkata,


"...Kali ini, bolehkah aku masuk ke kamarmu, Sousuke-san?"


Merasakan aroma tubuh dan kehangatannya, serta mendengar suaranya yang sedikit bergetar, aku menelan ludah.


"T-tentu saja."


"...Atau justru, Sousuke-san lebih... bersemangat kalau di luar?"


Memang, kami cukup sering berada dalam suasana seperti itu saat berada di luar.


"Itu kita simpan untuk lain kali saja."


Aku menganggapnya sebagai lelucon darinya, jadi aku pun membalas dengan nada bercanda. Namun entah mengapa, ia malah tersenyum bahagia, sementara matanya memancarkan cahaya yang menggoda.


"Benar juga. Hari ini... di kamarmu saja."


Minori mengambil lentera.


Dengan jantung yang berdetak keras, aku berjalan bersamanya menuju kamarku.


Lorong terasa gelap. Cahaya lentera yang dibawanya bergoyang, begitu pula bayangan kami berdua.


Sesampainya di kamarku, aku mempersilahkannya masuk.


"Aku memang sudah pernah melihatnya, tapi kamarmu tetap terasa luas ya."


Hanya kamarkulah yang dipisahkan menjadi ruang pribadi dan kamar tidur. Bukan hanya itu, ukuran kamarnya sendiri juga lebih besar daripada milik semua orang.


"Iya. Kalau nanti kita kembali ke Jepang, kurasa kamarku yang dulu akan terasa sempit."


"Benar. Dipindahkan ke pulau terpencil, tetapi malah tinggal di kamar yang lebih luas daripada sebelumnya. Aneh juga kalau dipikir."


"Memang."


Kami saling berpandangan lalu tertawa. Tak lama kemudian, ekspresi Minori kembali serius.


"Semua ini berkat dirimu, Sousuke-san."


"Kalau soal mendapatkan kayu dan batu, itu berkat sihirmu, Minori. Dulu aku bahkan harus menebang pohon dengan kapak selama berjam-jam."


Aku teringat saat baru dipindahkan ke dunia ini, ketika akhirnya berhasil menebang satu pohon sambil membuat kedua tanganku penuh luka.


Sekarang, berkat sihir anginnya, pohon-pohon bisa ditebang dengan mudah. Itu benar-benar sangat membantu.


"...Kalau aku bisa berguna, aku senang."


Minori bergumam pelan dengan senyum yang benar-benar bahagia.


"Kau berpengetahuan luas, tenang, pekerja keras... Kau benar-benar sudah banyak membantuku, Minori."


"B-benarkah..."


Dengan malu-malu, Minori memainkan rambut ponytailnya. Lalu, sekitar sepuluh detik berlalu dalam keheningan.


Saat itulah aku menyadari sesuatu.


Selama ini, kamar pribadiku sekaligus merupakan kamar tidur, sehingga setelah para gadis datang berkunjung, suasananya bisa mengalir dengan sendirinya.


Bahkan sejak awal kami sering mengobrol sambil duduk di atas tempat tidur. Namun sekarang kamar tidur dipisahkan. Artinya, aku harus mengajaknya masuk ke kamar tidur.


Aku kembali sadar bahwa selama ini aku sangat terbantu oleh keberanian para gadis dalam mengambil inisiatif.


"Minori."


"Y-ya."


Suaranya terdengar tegang.


Aku menggenggam tangannya, lalu dengan lembut menariknya menuju kamar tidur.


"...Boleh?"


Cara bicaraku benar-benar canggung, tetapi tampaknya Minori memahami maksudku.


"I-iya."


Aku pun mengajaknya memasuki kamar tidur.


Di sana berdiri sebuah tempat tidur yang begitu besar hingga membuatku ingin berkomentar, "Ini tempat tidur raja, ya?"


Yah, yang membuatnya juga aku sendiri, jadi sama saja aku mengomentari hasil buatanku sendiri.


Aku menerima lentera dari Minori dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. Sementara itu, Minori sudah berjalan ke tengah ranjang.


Ia menjatuhkan tubuhnya perlahan hingga telentang, lalu menatapku.


"Sedikit membuatku kesal karena rasanya aku tertinggal dari tiga orang lainnya.... Tapi mungkin justru begini lebih baik."


"Maksudmu?"


"Karena... di tempat tidur ini, akulah yang pertama."


Aura menggoda yang terpancar dari Minori yang biasanya begitu serius membuatku tanpa sadar menelan ludah.


Aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan mendekatinya.


Biasanya wajahnya tampak tegas, tetapi saat ini matanya terlihat sayu seolah sedang mabuk oleh rasa hangat yang memenuhi dirinya.


Melihat dirinya seperti itu, aku menahan dorongan untuk langsung memeluknya, lalu perlahan membungkukkan tubuh di atasnya.


Aku mendekatkan wajahku dan menyentuhkan bibir kami. Minori membalasnya dengan lembut. Kami pun berulang kali saling mengecup.


"...Mm... Sousuke-san..."


Minori melingkarkan kedua lengannya di punggungku, seolah tidak ingin membiarkanku menjauh.


Aku pun membalas pelukannya sambil kembali mengecup bibirnya berkali-kali.


Aroma tubuhnya memenuhi indra penciumanku, sementara kehangatan tubuh kami seolah menyatu.


"Sou...suke-san... mm... chuu... mm..."


Awalnya ciuman kami hanya berupa sentuhan bibir yang ringan, tetapi perlahan berubah menjadi ciuman yang lebih dalam dan penuh perasaan. Bahkan saling menggigit bibir dengan lembut pun mulai terasa kurang memuaskan. Naluriku seolah berkata bahwa itu saja tidak cukup untuk mengungkapkan keinginan kami yang semakin besar untuk saling mendekat.


Ketika lidahku menyentuh bibirnya, Minori sempat tampak terkejut. Namun tak lama kemudian, ia membalas dengan lembut.


Saat aku membuka mata, pandangan kami bertemu. Ia tersenyum dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan.


Melihat senyum manisnya, ciuman kami menjadi semakin penuh perasaan.


Setelah lama saling berciuman hingga lip balm yang baru dipakainya hampir hilang, aku perlahan mengangkat tubuhku ketika pelukannya mulai mengendur.


Aku mulai membuka kancing seragamnya satu per satu.


Seperti Chiyu dan yang lainnya, tampaknya ia juga datang tanpa mengenakan pakaian dalam.


Wajah Minori langsung memerah. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan sambil mengalihkan pandangan karena malu.


"...Uu... malunya..."


Aku membelai tubuhnya dengan lembut, menikmati kedekatan yang kami rasakan.


Setelah beberapa saat, aku perlahan melepaskan tanganku dan membelai bagian lain tubuhnya dengan hati-hati.


"...Mm... ah..."


Setiap kali terdengar suaranya yang lirih, perasaanku pun semakin berdebar. Aku memperhatikan reaksinya dengan saksama agar sentuhanku tetap lembut dan tidak membuatnya tidak nyaman.


"Tangan Sousuke-san... rasanya nyaman..."


Tak lama kemudian, tubuhnya sedikit melengkung, seolah berusaha menenangkan luapan perasaan yang memenuhi dirinya.


Pinggangnya beberapa kali bergerak pelan sebelum akhirnya ia kembali merebahkan diri di atas tempat tidur sambil mengatur napas.


Melihat Minori yang biasanya selalu tenang kini menunjukkan sisi dirinya yang begitu rapuh dan jujur, dadaku dipenuhi rasa sayang.


Aku segera merapikan pakaianku.


Minori menatapku dengan mata yang masih tampak berkabut.


"...K-kita akan melakukannya... ya?"


"Iya... kalau kau memang menginginkannya."


"A-aku tidak keberatan. Justru... aku senang kalau pertama kalinya bersama Sousuke-san..."


Mendengar ucapannya yang begitu tulus, aku pun tak mampu berkata apa-apa lagi.


Aku menyiapkan alat pelindung yang telah kami sediakan sebelumnya, lalu berhenti sejenak.


Aku khawatir ia akan merasa kesakitan.


Seolah memahami isi pikiranku, Minori tersenyum.


"...Mm. Chiyu-san sudah menggunakan sihir untukku, jadi tidak apa-apa."


Rupanya Chiyu telah menggunakan sihir Pereda Rasa Sakit. Menurut penjelasannya, sihir itu dapat sangat mengurangi rasa sakit pada pengalaman pertama.


Aku pun bergerak dengan sangat perlahan dan hati-hati.


"...Ah... ah..."


Minori mengeluarkan suara pelan saat merasakan pengalaman yang sama sekali baru baginya.


"...Sousuke-san... sekarang benar-benar bersamaku. Kali ini benar-benar..."


"Kali ini...?"


"So-soalnya sebelumnya... kita hanya..."


Melihat ia ragu melanjutkan ucapannya, aku langsung mengerti.


Selama ini kami memang sering saling bermesraan tanpa benar-benar melangkah lebih jauh. Karena itulah, baginya momen ini terasa benar-benar berbeda.


"Ya. Aku juga senang."


"...Mm. Dan... aku juga senang karena bisa melihat wajahmu seperti ini."


Minori mengulurkan tangannya perlahan dan membelai pipiku.


"Iya... selama ini kita memang lebih sering dalam posisi yang membuat kita tidak bisa saling menatap."


"A-aku juga tidak keberatan dengan posisi itu. Hanya saja... sekarang aku benar-benar bahagia."


Sejak tadi sikap Minori yang begitu manis membuat jantungku terus berdebar.


Aku kembali mengecup bibirnya, sementara kami saling mendekap dalam kehangatan dan kebahagiaan yang kami rasakan bersama.


"Chuu, nnh… ah, Sousuke-san…"  


Suara pinggang yang saling beradu semakin cepat dan kencang. Suara basah dari tempat rahasia, suara bibir yang saling bertemu, serta derit ranjang memenuhi seluruh kamar tidur.  


"Sousuke-san… Sousuke-san… chuu… suka… chuu… aku suka kamu…"  


Kata-kata rayuan yang terucap di sela-sela ciuman membuat rasa senang yang melebihi sekadar kenikmatan fisik membuncah, memenuhi dadaku dengan rasa puas yang luar biasa.  


Sambil mengayunkan pinggang dalam posisi menindihnya, kami saling menggenggam tangan dan berbisik kata-kata cinta.  


Sosok Minori yang biasanya sangat rasional, kini berantakan di atas ranjang, membuatku tak terbendung lagi bersemangat.  


"So-Sousuke-san, e-enak… le-lebih… bergerak sesukamu…"  


Aku memang tidak berniat menahan diri sepenuhnya, tapi sepertinya dia menyadari bahwa aku masih berhati-hati karena ini pertama kalinya bersama Minori.  


"B-boleh…?"  


"Iya. Jangan ragu… manjakan aku…"  


Mendengarnya berkata begitu dengan mata yang berkaca-kaca, aku tidak mungkin menahan diri. Aku pun menenggelamkan diri sepenuhnya ke dalam perbuatan itu, seolah ingin menelan Minori.  


Bunyi pan-pan, pachu-pachu yang cabul keluar dari tempat kami bersatu. Bunyi gishi-gishi dari ranjang yang berderit.  


Desahan manis dari Minori, napas kasar dari kami berdua.  

Semua bersahutan sekaligus.  


Aku larut dalam kenikmatan yang membuat otak seolah mencair untuk beberapa saat. 


Akhirnya, saat batas itu tiba.  


"Minori…!"  


"Iya… berikan milik Sousuke-san…!"  


Dengan suara yang terdengar sudah tak terkendali, namun tetap berusaha menerima semuanya, aku terus menggerakkan pinggang. Di detik terakhir, aku menghujam sampai ke titik terdalam, lalu melepaskan semuanya sambil kepala menjadi putih.  


Seiring kejang di pinggangku, batang itu berdenyut hebat, menyemburkan cairan putih kental yang memaksa ujung kondom mengembang. Aku sendiri bisa merasakannya.  


"Ah… byuu-byuu… milik Sousuke-san… keluar dengan deras sekali…"  


Suara Minori yang penuh kenikmatan terdengar manis di telingaku. Tubuhnya gemetar pelan sambil memelukku. Aku pun pelan-pelan memeluknya kembali.  


Setelah napas kami mereda, aku menegakkan tubuh dan perlahan menarik batang keluar.  


Di saat itu, ujung kondom yang penuh cairan putih keluar dengan bunyi nupupu, lalu bitan! menempel di seprai.  


Benar-benar jumlah yang luar biasa, bahkan menurutku sendiri.  


"He-hebat… banyak sekali yang kamu keluarkan…"  


Minori pelan-pelan bangkit, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati melepaskan kondom itu, dan tanpa ragu memasukkannya ke mulutnya.  


Sepertinya di antara para wanita, sudah tersebar informasi bahwa melakukan itu akan membuatku senang. 


Melihat gadis yang biasanya serius dengan tenang melakukan perbuatan cabul seperti itu, batangku kembali mengeras perlahan.  


Dan karena aku memang senang, mungkin memang sesuai dengan dugaan mereka.  


"Nguk… nguk… Ah."  


Menyadari kondisi batangku, Minori tersenyum senang, lalu membelakangi aku dan merangkak empat kaki. Kemudian perlahan menyingkap roknya.  


"A-aku juga… ingin… beberapa kali… seperti yang lainnya…"  


Rupanya Minori juga punya rasa kompetitif terhadap yang lain.  


"Tentu saja. Tapi… tidak dari depan juga tidak apa-apa?"  


"Sousuke-san sepertinya… menyukai pantatku… jadi… aku ingin memanfaatkan kelebihanku…"  


Sambil berkata begitu, Minori menggoyangkan pantatnya kecil-kecil dengan menggoda. Bokongnya yang besar memang sangat menggoda.  


"Uh…"  


"Atau… aku salah duga…?"  


Suaranya terdengar sedikit cemas.  


"Tidak sama sekali."  


Hanya saja aku sedikit malu karena preferensiku terbaca.  


Aku pun berlutut, memasang kondom kedua, lalu kali ini masuk dari belakang.  


"Nnh…"  


Malam bersama pacar baruku yang serius sekaligus cabul itu, berlanjut lama setelahnya.



Setelah melewati malam pertama bersama Minori, entah sejak kapan kami kembali tertidur.


Dan seperti sudah sewajarnya, kami pun terbangun di Area Bonus.


Ini adalah bonus yang diberikan karena aku tidak menggunakan "Hak Kepulangan" yang kudapatkan pada event pertama. Setiap malam kami dipindahkan ke sebuah tempat yang menyerupai pusat perbelanjaan di kampung halaman kami, tempat kami bisa memperoleh berbagai keuntungan.


Kami memulai di aula pusat perbelanjaan dengan kesepuluh orang berdiri bersama.


"Mm. Wajahmu terlihat puas. Wajah Sou-kun tampak segar."


Yang berkata demikian sambil mengintip wajahku adalah teman masa kecil sekaligus kekasihku yang berambut perak dan bermata biru safir—Iyama Chiyu.


Ia selalu berbicara dengan nada datar dan nyaris tanpa ekspresi, tetapi sebagai teman masa kecilnya, aku tahu bahwa sebenarnya perasaannya sangat kaya.


Sehelai rambut yang berdiri di atas kepalanya—yang biasa disebut ahoge—bergoyang kecil ketika ia memiringkan kepalanya.


Di kedua sisi rambutnya terpasang jepit berbentuk daun semanggi, masing-masing berwarna merah muda dan biru muda. Rambutnya diikat menjadi semacam half twintail, hanya sebagian kecil rambut di kedua sisi yang diikat, sementara sisanya dibiarkan terurai ke belakang.


Wajahnya begitu sempurna hingga orang mungkin akan percaya jika dikatakan bahwa ia adalah boneka yang dibuat oleh seorang pengrajin dengan keterampilan terbaiknya.


Yah, kalau memang begitu, berarti pengrajin itu pasti sangat menyukai dada besar.


Tubuhnya yang mungil sama sekali tidak sebanding dengan dadanya yang sangat berisi. Siapa pun pasti akan tanpa sadar meliriknya.


"Itu karena aku sudah memberikan sihir Pereda Rasa Sakit dan Penguat Stamina."


Kemampuan yang dibawa Chiyu ke pulau ini adalah Sihir Penyembuhan. Selain menyembuhkan luka, ia juga bisa membersihkan dan mensterilkan, memperkuat kemampuan fisik, mengurangi rasa sakit, menenangkan pikiran, dan berbagai sihir pendukung lainnya layaknya seorang penyihir putih.


Dan juga... sihir untuk meningkatkan stamina.


...Kalau dipikir-pikir, mungkin itulah sihir yang paling sering kubantu olehnya.


"Hehe, selamat ya, Minori-chan. Mulai sekarang, sesama kekasih Sousuke-kun, mari kita akur."


Yang tersenyum lembut kepada Minori adalah gadis cantik berpenampilan anggun berambut hitam panjang dengan sedikit semburat ungu dan mata merah keunguan—kekasihku, Yomiumi Shion.


Meski bertubuh ramping, dadanya besar dan pahanya berisi, memiliki bentuk tubuh yang bisa dibilang merupakan impian banyak laki-laki.


Bando putih yang dikenakannya semakin memperkuat kesan anggun, sementara kaus kaki putih setinggi lutut semakin menonjolkan keindahan pahanya.


"T-terima kasih. Aku juga mohon kerja samanya."


Minori menjawab sambil tersipu malu.


Shion memiliki Kemampuan Mengetahui Kebohongan. 


Kekuatan itu sangat hebat dalam berhadapan dengan orang lain. Karena lawan tidak akan bisa menipunya dalam negosiasi apa pun.


"N-ngomong-ngomong... Minorin, gimana rasanya?"


Dengan wajah semerah tomat dan suara pelan, yang bertanya kepada Minori adalah gadis gyaru berambut pirang dengan side-tail dan mata berwarna amber—kekasihku, Kanna Shouko.


Dengan tubuh bak model dan kepribadian yang ceria serta mudah bergaul, sebelum dipindahkan ke dunia ini ia merupakan salah satu pusat perhatian di kelas.


Mungkin karena dadanya terlalu besar, beberapa kancing seragamnya sengaja dibiarkan terbuka lebar.


Pita besar yang menggantung di bagian kerah memang sedikit menutupi kulitnya, tetapi tetap saja pemandangannya cukup membuat jantung berdebar.


Kemampuan Memanggil Makhluk Berbulu miliknya memungkinkan ia memanggil bukan hanya hewan nyata, tetapi juga makhluk mitologi.


Dengan memanggil domba atau kambing kasmir, kami memperoleh serat hewani. Ia juga bisa memanggil Fenrir maupun naga hitam. Kemampuannya menjadi salah satu penopang utama kehidupan dan mobilitas kami.


"G-gimana ya... luar biasa... kurasa..."


Dengan wajah menunduk dan suara pelan, yang menjawab adalah ketua kelas yang baru saja menjadi kekasihku—Shijou Minori, gadis berambut hitam panjang berkuncir dengan mata hijau giok.


Entah sudah berapa tahun ia memanjangkan rambutnya, rambut hitamnya yang berkilau sangat panjang dan bergoyang ringan seperti ekor kuda setiap kali ia bergerak.


Tatapan matanya yang tegas memang indah, tetapi tampaknya banyak teman sekelas yang merasa sulit mendekatinya.


Dada dan pinggulnya besar, sesuatu yang dahulu menjadi rasa rendah dirinya. Namun belakangan ia mulai menganggapnya sebagai kelebihannya. Dan karena itu memang sangat efektif terhadapku, rasanya aku harus terus meyakinkannya bahwa cara berpikir itu tidak salah.


"Uu... aku terlalu malu untuk mengatakannya!"


Berkat pengetahuan Minori yang sangat luas, banyak kerajinan yang berhasil kami buat dengan baik.


Selain menjadi petarung yang andal dengan Sihir Atribut, ia juga sangat dapat diandalkan dalam mengumpulkan berbagai bahan.


"...Kalau mau mengadakan rapat rahasia sesama perempuan, lakukan saja saat aku tidak ada."


Karena terlalu canggung, aku akhirnya menyela pembicaraan.


"Mm. Nanti akan kami interogasi sampai puas."


Interogasi?


Pokoknya, Chiyu akhirnya menghentikan pembahasannya untuk sementara.


Tiga anggota baru—Luminous-sensei, Urume, dan Miyao—yang belum ikut berbicara tampaknya masih terpana melihat Area Bonus.


Walaupun sebelumnya sudah kami jelaskan, tetap saja tidak mudah menerima kenyataan ini begitu saja.


"...Jadi benar-benar ada tempat seperti ini."


Yang berkata demikian adalah wakil wali kelas yang sangat bertanggung jawab, Asahi Luminous-sensei, dengan rambut cokelat kekuningan yang diikat di belakang kepala.


Di antara kami semua yang memakai seragam sekolah, hanya beliau yang mengenakan blus putih dan rok pensil hitam.


Dadanya bahkan lebih besar daripada milik Chiyu. Kancing blusnya selalu terlihat seperti hampir copot, tetapi entah bagaimana tetap bertahan dengan luar biasa.


Luminous-sensei dipindahkan ke pulau ini belakangan.


Karena beliaulah yang bersedia menjadi perwakilan untuk bernegosiasi dengan para siswa lainnya, kami akhirnya memutuskan menjelajahi seluruh pulau. Baru lulus kuliah lalu langsung dipindahkan ke dunia lain memang nasib yang buruk, tetapi meski berada dalam situasi seperti ini, beliau tetap berusaha menjadi seorang guru yang baik.


"Hah? Ini benar-benar mal yang biasa kita datangi, tapi... kita sebenarnya belum pulang?"


Yang berkata demikian adalah gyaru berkulit gelap yang gemar menggoda orang lain, Shoubu Urume, dengan rambut abu-abu panjang yang sebagian diikat di sisi kanan belakang kepalanya.


Ia bersama Shouko yang berambut pirang merupakan dua gyaru paling terkenal di kelas kami.


Kemampuan Menyelesaikan Tata Rias Seketika miliknya mendapat dukungan luar biasa dari para gadis.


Aku sendiri masih belum tahu bagaimana perasaannya terhadapku, tetapi ia sering membuatku gugup, misalnya dengan santai memperlihatkan tubuhnya di ruang ganti.


"E-entah kenapa rasanya agak menyeramkan.... Tempat ini terang dan terlihat seperti masih buka, tapi tidak ada seorang pun..."


Yang tampak cemas adalah gadis tertinggi di kelompok kami, Mamonaka Miyao, dengan rambut merah sebahu.


Sepertinya tahun lalu pernah terjadi sesuatu antara aku dan dirinya, tetapi sayangnya aku tidak mengingatnya. Miyao sendiri juga belum menceritakan detailnya.


Yang kutahu hanyalah bahwa ia anggota klub voli, termasuk dalam kelompok pertemanan Shouko di kelas, dan memilih Kemampuan Berubah Wujud.


Kemampuan ini memungkinkan dirinya berubah menjadi makhluk apa pun yang pernah ia lihat, bahkan makhluk mitologi.


Jika dikombinasikan dengan kemampuan Shouko, kemungkinan penggunaannya menjadi jauh lebih luas.


"Tenang saja. Tidak akan terjadi sesuatu yang berbahaya."


Setelah ketiganya sedikit lebih tenang, aku kembali menjelaskan secara singkat apa yang harus kami lakukan di Area Bonus.


Kami bisa berada di sini selama tiga jam dalam waktu nyata.


Setiap orang mendapat 1 poin, yang dapat digunakan untuk memilih satu barang yang dijual di dalam mal dan membawanya kembali ke pulau.


Barang-barang yang telah disepakati sebelumnya harus dibawa kembali ke aula sebelum batas waktu berakhir.


Setelah selesai memilih pun kami tidak langsung mengakhiri sesi. Kami biasanya memanfaatkan sisa waktu untuk mempertimbangkan barang berikutnya atau memeriksa bahan-bahan yang mungkin bisa dibuat menggunakan Kemampuan Crafting milikku.


"Kalau begitu, ada satu hal yang ingin sensei tanyakan."


Luminous-sensei mengangkat tangan.


"Apa yang ingin Anda tanyakan?"


"Barang-barang yang kita bawa pulang itu... bukan benar-benar barang yang diambil dari mal di dunia nyata, kan?"


"—Ah."


Aku benar-benar lupa memikirkan hal itu. Bahkan aku sama sekali tidak pernah terpikir bahwa mal ini mungkin terhubung dengan mal yang asli.


Meski begitu, bukan berarti hal itu mustahil.


Aku menoleh ke monitor untuk mencari jawaban.


[Seluruh barang yang ditempatkan di Area Bonus telah kami siapkan sendiri dan tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap dunia nyata.]


Melihat tulisan itu muncul, Luminous-sensei menghela napas lega.


"Syukurlah..."


Karena kekhawatiran itu sudah terjawab, kami pun mulai berpencar menjelajahi mal.


"Ngomong-ngomong, Asahi-sensei. Apa Anda benar-benar yakin dengan keputusan ini?"


Minori bertanya untuk memastikan.


Luminous-sensei mengangguk.


"Tentu. Setelah mendengar usulan Shijou-san, sensei sangat terkesan. Mari kita kumpulkan buku pelajaran dan buku referensi semua mata pelajaran secepat mungkin agar kita bisa menyediakan waktu belajar. Untuk matematika, sensei juga bisa mengajarkannya."


Sepertinya suatu saat nanti kami benar-benar akan mengadakan pelajaran matematika.


Karena itu, Minori dan Luminous-sensei memutuskan masing-masing mengambil buku pelajaran untuk satu mata pelajaran.


"Aku sama Miyaa ambil shower portabel itu."


"Iya. Benar-benar praktis. Aku tidak pernah menyangka bisa mandi dengan shower di pulau terpencil."


Urume dan Miyao sama-sama memilih shower portabel.


Sekarang jumlah anggota perempuan sudah menjadi sembilan orang, sementara shower portabel hanya ada tiga buah, sehingga mereka harus bergantian dalam tiga kelompok.


Kalau jumlahnya menjadi lima, cukup dibagi menjadi dua kelompok saja, sehingga kami memutuskan membawa pulang dua unit lagi.


"Aku sama Roa-chi ambil pengering rambut."


"Ya. Kalau rambut tetap basah, kita bisa masuk angin. Jadi menurutku itu perlu."


Dengan alasan yang sama seperti shower, Shouko dan Roa memutuskan membawa pulang dua pengering rambut tambahan.


"Kalau aku pilih beras. Aku akan mencari yang enak dan isinya paling banyak."


Shion mengepalkan kedua tangannya dengan penuh semangat.


Di pulau terpencil itu, setiap malam kami selalu dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan yang memperoleh suara terbanyak dari para orang yang dipindahkan akan mulai tersedia pada hari berikutnya.


Saat itu, beras kalah dalam pemungutan suara melawan gandum. Kalaupun suatu hari nanti ditambahkan, mungkin masih akan membutuhkan waktu yang sangat lama.


Karena ada banyak masakan yang lebih enak jika menggunakan nasi, akhirnya kami memutuskan untuk membawanya pulang kali ini.


Dengan begitu, total poin yang sudah digunakan menjadi 7 poin. Sisa 3 poin kami jadikan sebagai pilihan bebas.


Artinya, aku, Chiyu, dan Yumekai boleh memilih apa pun yang kami butuhkan.


"Aku sudah tahu mau ambil apa. Aku ikut Mino-chan dan Luminous-sensei."


Barang yang diinginkan Chiyu tampaknya ada di toko buku.


Mungkin dia ingin memilih manga. Nanti aku juga akan meminjamnya untuk kubaca.


"Kayaknya setiap kali aku bilang begini juga percuma, tapi aku lewat aja. Pilih saja barang yang kamu inginkan, Kuno."


Jawaban yang memang khas Yumekai.


"Baiklah. Kalau begitu, Yumekai, ikut aku sebentar, ya? Ada sesuatu yang ingin kuambil, tapi aku ingin mendengar pendapatmu. Anggap saja ini membantuku."


"...Boleh."


Aku sengaja memintanya karena kupikir jika ini merupakan kesempatan baginya untuk membalas budi kepadaku, ia tidak akan menolak.


Dan ternyata dugaanku benar. Kami meninggalkan aula dan menuju toko yang menjadi tujuan masing-masing.


Meski selain kami tidak ada siapa pun di dalam mal, eskalator dan lift tetap beroperasi, sehingga rasanya tidak berbeda dengan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan biasa.


"...Tempat ini..."


Sesampainya di tujuan, Yumekai bergumam pelan.


Tempat yang kami datangi adalah sebuah toko CD.


"Akhir-akhir ini orang lebih sering mendengarkan musik lewat layanan streaming, jadi aku sudah jarang datang ke tempat seperti ini. Kalau kamu bagaimana, Yumekai?"


"...Kadang-kadang."


Pintu otomatis terbuka, dan kami pun masuk ke dalam toko.


Musik mengalun di seluruh ruangan, sementara monitor-monitor yang dipasang di berbagai sudut menayangkan iklan dan video musik.


"Begitu ya. Aku juga ingin bisa mendengarkan lagu-lagu favorit di pulau itu, tapi kan kita tidak punya ponsel ataupun internet."


"...Tunggu."


Yumekai berhenti melangkah.


"Kenapa?"


"Dengar... jangan-jangan kamu sudah merencanakan ini sejak malam hari ketujuh?"


Melihat tatapan curiganya, aku hanya mengangkat bahu.


"...Kamu memang peka ya."


"Kamu beli laptop yang ada CD drive, besoknya beli tablet, lalu hari ini malah datang ke toko CD.... Apa? Kamu mau memasukkan lagu-lagu ke tablet lalu memberikannya kepadaku?"


Sebenarnya lagu memang bisa diputar langsung di laptop. Namun laptop itu juga digunakan Minori untuk membuat berbagai dokumen.


"Kurang lebih begitu."


"...Padahal aku tidak pernah memintanya."


Yumekai memasang ekspresi yang rumit. Ia tampak tidak ingin menolak niat baikku, tetapi di saat yang sama juga merasa tidak pantas menerimanya.


"Memang sih..."


Roa, sang pelayan, memiliki kemampuan mengetahui apa yang diinginkan seseorang.


Menurut kemampuannya, Yumekai sangat menyukai musik dan sebenarnya ingin tetap bisa mendengarkan lagu-lagu favoritnya meski tinggal di pulau terpencil.


Namun, karena merasa masih berutang budi kepadaku, ia pasti tidak akan meminta hal itu dengan kemauannya sendiri.


Karena itulah aku menyusun rencana ini.


Pertama-tama kami membeli berbagai barang yang memang berguna bagi seluruh kelompok. Setelah itu, barulah kami mampir ke toko CD.


Kupikir dengan begitu ia akan lebih mudah menerimanya.


Kalau harus menggunakan beberapa pilihan hanya demi mendengarkan musik, mungkin ia akan merasa sungkan. Tetapi kalau hanya membeli CD, mungkin ia masih bisa menerimanya.


"Kuno... sebenarnya kenapa kamu sampai melakukan semua ini? Aku sudah berutang banyak padamu, dan aku juga sudah menjalankan tugasku dengan baik..."


Rupanya Yumekai benar-benar tidak mengerti alasanku melakukan semua ini.


Ia menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.


"Soalnya aku ingin sebisa mungkin membuat barang-barang yang dibutuhkan teman-teman menggunakan Kemampuan Crafting milikku. Tapi CD tidak mungkin kubuat. Dan aku tahu kamu pasti akan sungkan memilihnya sendiri di Area Bonus. Jadi aku mencoba mencari cara supaya kamu bisa memilihnya secara alami."


"...Karena aku temanmu, jadi kamu mau melakukan semua ini?"


"Kurasa begitu. Toh kita akan hidup bersama cukup lama. Aku juga ingin kita bisa akrab."


"......."


Sepertinya Yumekai memang tidak ingin semakin berutang budi kepadaku.


Namun dari sudut pandangku, kalau memang ada kesempatan mendapatkan sesuatu yang diinginkan, aku tidak ingin seorang teman harus menahan diri.


Kami bahkan tidak tahu berapa lama kehidupan di pulau terpencil ini akan berlangsung.


Aku sendiri sudah membawa pulang permainan.


Sedikit demi sedikit kehidupan kami semua menjadi lebih nyaman.


Aku hanya ingin Yumekai juga bisa menikmati hal yang sama.


Meski begitu, aku juga tidak berniat memaksanya.


"Yah, aku tidak akan memaksamu. Kalau kamu memang tidak mau, ya sudah. Aku saja yang memilih dua keping CD sesuai seleraku. Besok ruang keluarga bakal dipenuhi lagu-lagu anime dengan volume keras, jadi tahan saja, ya."


Supaya ia merasa bebas untuk menolak, aku sengaja mengatakannya dengan nada bercanda.


"...Haa.... Lagu anime memang bagus sih, tapi menurutku lebih baik ada beberapa genre. Semua orang pasti akan lebih senang."


Setelah menghela napas, Yumekai mulai berjalan menyusuri toko.


Kalau begitu, berarti dia bersedia menerimanya, kan?


"...Haha, benar juga. Kalau menurutmu, album apa yang bagus?"


"...Waktu itu kamu punya ide membeli satu set buku lengkap, kan? Musik juga sama. Menurutku lebih baik beli album daripada hanya satu lagu."


"Benar juga. Isinya lebih banyak, jadi lebih menguntungkan."


Kalau untuk anime, bahkan ada album yang berisi seluruh lagu pembuka dan penutup dari sebuah seri.


"...Bagaimana kalau kamu pilih satu album, lalu aku pilih satu album?"


"Ya, begitu saja."


"Baik.... Hei, Kuno."


"Ada apa?"


"...Terima kasih."


Yumekai mengatakannya pelan tanpa menoleh.


Aku tidak bisa melihat ekspresinya, tetapi telinganya yang terlihat dari belakang memerah. Mungkin ia sedang malu.


"Sama-sama."


Aku merasa lega karena akhirnya ia mau menerima niat baikku, lalu kami berdua melanjutkan berkeliling toko CD bersama.



Setelah semua orang selesai memilih barang, area bonus kembali berubah menjadi ruang putih.


Papan tulis hitam yang melayang di udara masih ada.


Seperti sebelumnya, meja dan kursi para siswa tersusun sesuai urutan bergabung mereka.


Di kelas sungguhan, susunannya tujuh orang per baris dan enam kolom. Namun di ruang mimpi ini, kursi diisi secara mendatar: aku, Chiyu, Shouko, Shion, Minori, dan Roa.


Di belakangku, baris berikutnya ditempati Serina, Urume, dan Miyao.


Kursi untuk Luminous-sensei tidak ada, mungkin karena beliau bukan murid.


Sebagai gantinya, sebuah kursi lipat ditempatkan di samping papan tulis, dan beliau tampaknya dipanggil ke sini dalam keadaan sudah duduk di sana.


Tulisan mulai muncul di papan tulis misterius.


[Hari ke-9 telah berakhir]


[Seperti yang telah diumumkan sebelumnya, mulai hari ke-10 akan diselenggarakan Event Antar Party A]


—Tentang Event Antar Party A


Periode: Mulai pagi hari ke-10 setelah hari ke-9 berakhir hingga seluruh pertandingan selesai.


Isi: Hanya party yang terdiri dari lima orang yang dapat berpartisipasi.


Semua party peserta akan bertanding dalam sistem liga penuh.


Hadiah: Apabila ada party yang memenangkan seluruh pertandingan, seluruh anggota party tersebut akan memperoleh Hak Kepulangan.


Sampai di sini sama seperti penjelasan sebelumnya.


[Party yang terdiri dari lima orang wajib mengikuti event.


Setelah bangun tidur akan diberikan waktu persiapan selama lima belas menit.


Apabila tidak ingin ikut, silakan membubarkan party sementara atau mengeluarkan anggota party.


Bila membentuk party baru beranggotakan lima orang selama masa persiapan, party tersebut juga wajib ikut.]


"Begitu ya. Jadi hanya mereka yang membentuk party beranggotakan lima orang saat masa persiapan yang akan ikut."


Aku sempat ingin bertanya bagaimana jika anggota party lebih dari lima orang, tetapi ternyata memang diatur seperti ini.


"Mm. Kalau tidak mau ikut tinggal bubarkan party sementara. Cukup masuk akal."


Ucapan Chiyu membuat semua orang mengangguk setuju.


Memang, akan sulit jika orang-orang yang sama sekali tidak ingin bertarung dengan sesama peserta pemindahan tetap dipaksa ikut.


Dengan aturan ini, mereka bisa memilih untuk tidak berpartisipasi.


Tulisan berikutnya muncul.


—Aturan Event Antar Party A


Setelah waktu persiapan selesai, seluruh peserta akan dipindahkan ke arena pertandingan.


Begitu pemindahan selesai, pertandingan pertama langsung dimulai. Setelah setiap pertandingan akan ada waktu istirahat sepuluh menit.


Setiap pertandingan mempertemukan dua party.


Pada awal pertandingan, masing-masing party akan diberikan sebuah markas yang harus dipertahankan.


Kemenangan hanya diperoleh apabila berhasil menghancurkan markas lawan atau melumpuhkan seluruh anggota lawan.


"...Ini benar-benar mode perebutan markas."


Yumekai bergumam pelan.


"Dari yang terdengar, aturannya tidak terlalu rumit. Meski masih ada beberapa hal yang membuat penasaran."


Minori berbicara dengan wajah serius. Memang masih ada banyak hal yang ingin kami tanyakan.


"Mm. Dengan aturan seperti ini, pertarungan antar peserta pasti bisa terjadi. Tapi pada event sebelumnya ada hukuman untuk tindakan yang melukai orang lain. Kali ini bagaimana?"


Pertanyaan pertama datang dari Chiyu.


Dalam event menangkap bola cahaya sebelumnya memang ada penalti sebesar 365 poin. Itu setara dengan hukuman koma selama satu tahun.


Kalau sebelumnya melukai orang lain dihukum, sedangkan kali ini justru aturannya mendorong pertarungan, tentu kami penasaran mengenai hal itu.


Papan tulis menjawab.


[Selama berlangsungnya Event Antar Party A, tubuh para peserta tidak akan benar-benar terluka.


Setelah setiap serangan akan dihitung nilai kerusakan, dan akumulasi kerusakan tersebut akan membuat tubuh semakin sulit bergerak.


Apabila kerusakan mencapai batas tertentu, peserta akan menjadi tidak mampu bertindak dan tidak dapat lagi ikut campur dalam pertandingan tersebut.


Yang dimaksud dengan "seluruh anggota dikalahkan" adalah ketika semua anggota party telah berada dalam keadaan tidak mampu bertindak.]


"Hah? Maksudnya gimana?"


Urume tampak kebingungan.


"Kurang lebih... bukannya terluka sungguhan, tetapi stamina akan terus berkurang. Saat mencapai batas, tubuh tidak bisa bergerak lagi."


Luminous-sensei menyimpulkan.


"Ohh... jadi kayak karakter di game."


Urume mengangguk mengerti.


Mungkin karena sudah terbiasa dengan berbagai kejadian aneh sejak dipindahkan ke pulau ini, semuanya menerima penjelasan itu dengan cukup tenang.


"Kerusakan yang diterima selama pertandingan nanti bagaimana?"


Tanya Shouko.


[Kerusakan akan direset setelah setiap pertandingan.]


Jawabannya langsung muncul.


"Kalau begitu... apakah sihir penyembuhan Chiyu juga bisa menyembuhkan kerusakan selama pertandingan?"


Kali ini giliran Shion bertanya.


[Seluruh kemampuan dapat digunakan tanpa pembatasan khusus.]


Kalau begitu, kami tampaknya berada di posisi yang cukup menguntungkan.


Meski kehidupan di pulau itu sendiri memang sudah memberi kami banyak keuntungan, tetap saja kami tidak boleh lengah.


Namun jelas kami memiliki peluang besar.


"Anda mengatakan markas dapat dihancurkan. Bagaimana cara menghancurkannya?"


Roa mengangkat tangan dengan sopan.


Benar juga, di ruang kelas ini ia kembali mengenakan seragam sekolah. Karena sudah terbiasa melihatnya memakai pakaian pelayan, penampilan ini justru terasa baru.


[Markas akan hancur apabila berhasil disentuh sebanyak tiga kali, baik secara langsung maupun tidak langsung.]


"Berarti disentuh langsung... atau dilempari batu sampai kena juga boleh?"


Tafsiran Miyao terdengar benar. Kalau begitu, kemampuan khusus yang menghasilkan kontak tentu juga berlaku.


Kalau markas musuh sudah ditemukan, aku bahkan bisa menggunakan kemampuan Penempatan untuk menjatuhkan hujan kerikil dari atas.


Yang benar-benar harus diwaspadai adalah pengguna kemampuan.


"Kalau aku ikut event dan dipindahkan ke arena pertandingan... apakah penghalangku akan hilang?"


Yumekai bertanya.


Itu memang penting. Penghalangnya selama ini melindungi markas kami di pulau.


Namun jika ia dipindahkan jauh ke arena pertandingan, mungkin saja kemampuan itu tidak bisa dipertahankan.


[Seluruh kemampuan akan berakhir apabila pengguna berada di luar jangkauan efeknya.]


"...Begitu ya."


Kalau begitu, mungkin lebih aman bila Serina tetap tinggal menjaga markas.


Bila yang ikut adalah aku, Chiyu, Shouko, Minori, dan Serina...maka yang tinggal di markas adalah Shion, Roa, Urume, Luminous-sensei, dan Miyao.


Karena sebagian besar bukan petarung, itu cukup mengkhawatirkan.


"Kalau begitu, Serina. Biar aku saja yang menggantikanmu. Aku bisa berubah menjadi makhluk fantasi juga. Mungkin tidak terlalu hebat bertarung, tapi setidaknya bisa membantu dalam mobilitas."


Miyao menawarkan diri.


"...Ya. Kalau Kuno setuju, biar Miyaa saja yang menggantikanku."


"Aku juga setuju."


Saat melihat ke sekeliling, semua orang mengangguk.


Sekarang anggota party kami sudah berjumlah sepuluh orang sehingga sebenarnya bisa dibagi menjadi dua tim.


Namun kami memutuskan untuk tidak melakukannya. Kalau beberapa tim bisa sama-sama memperoleh Hak Kepulangan tentu lain cerita.


Tetapi kali ini hanya party yang menyapu bersih seluruh kemenangan yang akan mendapat hadiah. Ditambah lagi Luminous-sensei sendiri tidak menyukai pertarungan.


Karena itu kami memutuskan untuk memusatkan seluruh kekuatan dalam satu tim.


Tulisan baru muncul.


[Pertanyaan: Mana yang lebih dibutuhkan untuk kehidupan selanjutnya?]


[Ikan laut / Ikan sungai]


Seperti dugaan, meski ada pembahasan event, pemungutan suara harian tetap berlangsung.


"...Ikan ya."


"Bukannya dulu sudah pernah ada pilihan ikan?" Tanya Shouko.


"Iya. Hari pertama. Waktu itu semua memilih daging, jadi ikan tidak pernah ditambahkan." Shion menjawab.


"Kalau begitu... barang yang pernah kalah akan dipecah menjadi pilihan yang lebih rinci saat muncul lagi?"


Dulu hanya ada pilihan ikan, tetapi sekarang dipisah menjadi ikan laut dan ikan sungai.


"Belum bisa dipastikan, tapi mungkin memang begitu." Minori menanggapi.


"Kalau yang dimaksud ikan sungai hanyalah ikan air tawar murni, bukankah jenisnya akan jauh lebih sedikit?"


Roa berpikir sambil menyentuh dagunya.


Papan tulis menjawab.


[Beberapa spesies termasuk dalam kedua kategori tersebut.]


Artinya, ikan laut yang juga masuk ke sungai akan muncul baik memilih ikan laut maupun ikan sungai.


Kalau begitu tidak perlu terlalu dipikirkan. Namun saat itu juga suara untuk ikan sungai bertambah dengan sangat cepat.


—Berarti memang hanya sedikit peserta yang tinggal dekat laut.


Padahal, karena sungai dihuni monster Arvank, saat ini laut justru lebih aman untuk menangkap ikan. Namun mungkin banyak peserta yang bahkan sulit mencapai laut. Bahkan mungkin ada yang belum pernah melihat laut sama sekali.


Mengingat sulitnya perjalanan menuju laut, wajar jika banyak yang memilih ikan sungai.


[Karena jumlah suara telah melampaui mayoritas, pemungutan suara ditutup.]


[Mulai hari ke-10, "ikan sungai" akan ditambahkan ke lingkungan.]




Syukurlah yang ditambahkan adalah bahan makanan, bukan monster baru.


Namun pikiranku tetap lebih tertuju pada event yang mempertaruhkan beberapa Hak Kembali.


[Hari ke-10 dimulai]


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close