Chapter 35
Tidak Cocok × Emosi
Percakapan larut
malam di kamar rumah sakit itu menjadi kenangan terakhir liburan musim panas
selama tahun kedua SMA-ku bersama Haruka.
Alasannya karena
aku terlalu sibuk hingga tidak sempat memikirkan untuk pergi berkencan.
Bukan karena aku
menumpuk PR dan panik mencoba menyelesaikannya di akhir liburan musim panas.
Baik Shigure
maupun aku bukanlah tipe orang yang suka menunda-nunda seperti itu.
Alasan
kesibukanku adalah karena kami sedang mencari rumah baru untuk ditinggali
bersama anggota keluarga baru kami.
Setelah kejadian
itu, kami sempat menghabiskan waktu tinggal sebagai keluarga berempat di rumah
tua tersebut, tetapi tempat itu terasa sangat sesak.
Terjebak dalam
situasi yang saling bertatapan terus-menerus dengan orang tua membuat privasi
sama sekali tidak ada.
Hal ini tentu
merepotkan bukan hanya bagi kami anak-anak, tetapi juga bagi orang dewasa.
Bagaimanapun
juga, mereka adalah pasangan pengantin baru.
Jadi, keluarga
Sato menghabiskan sisa liburan musim panas untuk berburu rumah baru.
Untungnya, Ayah
dan Tsukiko-san, ibu tiriku, sudah mencoret-coret beberapa pilihan rumah secara
online sebelum mereka kembali ke Jepang. Sebagai anak-anak, kami hanya ikut
saat survei rumah dan memberikan pendapat kami.
Rumah baru yang
kami pilih jauh berbeda dari apartemen bobrok yang sepertinya melewatkan era
Heisei begitu saja. Tempat itu adalah kondominium yang indah.
Stasiun terdekat
memiliki layanan kereta ekspres yang berhenti di sana, dan ada sebuah
supermarket besar di dekatnya. Aku ingat bahkan ada pusat perbelanjaan dengan
bioskop yang bisa dicapai dalam waktu singkat menggunakan sepeda.
Hanya berjarak
satu atau dua stasiun, tinggal pacar Tomoe Wakabayashi, yaitu Torako-senpai,
yang sebelumnya pernah mengantar kami ke kamp pantai. Aku teringat bahwa saat
SMP, kami berempat, termasuk Takeshi, pernah pergi menonton film bersama.
Kondominium itu
sendiri dilengkapi dengan pintu masuk beristem auto-lock dan dua buah lift.
Kamar mandinya memiliki pemanas air modern, yang memungkinkan kami mengatur
suhu air hingga derajat yang tepat.
Lonjakan standar
hidup yang begitu mendadak ini rasanya membuat otakku hampir kelebihan muatan.
Apartemen
baru tersebut jauh lebih luas dengan tata letak 3LDK. Apartemen lama kami hanya
berukuran 1DK, jadi ini adalah peningkatan yang sangat masif. Sesuai janji
Ayah, Shigure dan aku masing-masing mendapatkan kamar berukuran enam tatami
milik sendiri.
Sejak
malam itu, keluarga Sato berada dalam pusaran aktivitas yang begitu sibuk. Kami
memfinalisasi keputusan rumah, menandatangani kontrak, mengepak barang-barang
ke dalam truk sewaan kecil, dan pindah. Begitu semua selesai, liburan musim panas telah usai, dan satu minggu
bahkan sudah berlalu.
Selama
periode itu, aku hampir tidak pernah berbicara dengan Haruka.
Sepulang
sekolah, Haruka memiliki kegiatan klub, dan aku harus mengerjakan pekerjaan
rumah tangga, jadi kami tidak pernah berjalan pulang bersama.
Haruka
tahu aku sedang sibuk dengan kepindahan selama akhir pekan, jadi kami bahkan
tidak memikirkan untuk pergi berkencan.
Karena
kami berada di jurusan yang berbeda, satu-satunya waktu kami bisa saling
melihat adalah saat istirahat siang yang singkat.
Bahkan
dalam waktu yang singkat itu, aku bisa merasakan bahwa Haruka sedang merasa
sedih.
Dia
memang tidak menangis tersedu-sedu seperti di rumah sakit, tetapi senyumannya
kurang bertenaga.
…Hal itu
wajar saja, mengingat dia baru saja menghadapi situasi yang tidak adil tepat
saat dia mencoba untuk menjadi kuat.
Aku tidak
tega mendesak Haruka lebih jauh ketika dia jelas-jelas sedang berjuang. Setelah
aku memeluknya dan mencoba menghiburnya, rasanya semakin sulit untuk mengangkat
topik pembicaraan itu.
Meskipun
hal itu tampak diperlukan saat itu, aku menyadari bahwa berbohong adalah sebuah
kesalahan.
Begitu
kamu mulai berbohong, kamu harus terus berbohong untuk menutupinya, yang hanya
akan membuat keadaan semakin buruk.
Tetapi
pada akhirnya, aku tidak bisa terus berbohong selamanya.
Suatu saat nanti,
aku harus berbicara dengannya tentang perpisahan.
Perasaanku sudah
bulat.
Masalahnya adalah
soal waktu. Hal itu memang rumit, tetapi ada batas waktu yang jelas.
Hari
Sabtu terakhir di bulan September, hari ulang tahun Haruka.
Sepertinya
yang terbaik adalah membereskannya sebelum hari itu tiba.
Jadi,
begitu semua urusan di rumah beres, aku mengirimkan pesan kepada Haruka melalui
LINE, mengajaknya berkencan berjalan pulang bersama. Aku ingin memahami
kondisinya saat ini dengan lebih baik untuk mencari momen yang tepat guna
membahas soal perpisahan itu.
Haruka
membalas dengan penuh antusias, "Aku juga tadinya berniat meminta kamu
berjalan pulang bersamaku hari ini!"
Balasannya
yang ceria justru memenuhiku dengan rasa bersalah yang membakar saat aku
mengetik, "Aku akan menunggumu di perpustakaan sampai kegiatan klubmu
selesai."
Tepat saat aku
hendak menekan tombol kirim,
Saat itulah hal
itu terjadi.
Aku
mendengar seseorang memanggil namaku dari lorong.
Aku
mendongak dan melihat seorang tamu tak diundang—siswi kelas tiga yang tinggi
dengan rambut hitam bergelombang panjang hingga ke pinggang.
Dia adalah ketua
klub drama Haruka.
× × ×
"Maaf
memanggilmu ke sini saat jam istirahat siang, Boyfriend-kun. Tempatnya sangat
berantakan."
"T-tidak,
ini..."
Kata-kata itu
tersangkut di tenggorokanku.
Ruang klub drama,
tempat aku dibawa saat jam istirahat siang, berantakan kacau.
Properti dan set
panggung untuk pertunjukan mereka berserakan di mana-mana.
Buku, manga, dan
novel meluap dari rak hingga ke lantai, dan beberapa rak pakaian penuh sesak
dengan kostum. Kostum yang tidak bisa digantung ditumpuk di atas rak, membentuk
sebuah gunung kecil.
Aku pernah
melihat Haruka berlatih di gym dan di belakang sekolah, tetapi ini adalah
pertama kalinya aku masuk ke ruang klub, dan aku dibuat terdiam.
Haruka pernah
menyebutkannya saat datang ke rumahku beberapa hari lalu.
Dia
bilang dibanding ruang klub mereka, kamar apa pun akan terlihat bersih.
Sekarang
aku mengerti alasannya.
"Yah,
duduklah di sofa. Kamu bisa mendorong barang-barang di atasnya ke lantai. Kamu mau kopi atau teh?"
"Tidak,
tolong jangan repot-repot."
"Biar aku
saja. Aku harus menunjukkan sedikit kesopanan, kan?"
"Kalau
begitu, tolong kopi saja."
"Baiklah,
aku akan merebus air sebentar, jadi tunggulah sebentar."
Mengikuti arahan
sang ketua, aku memindahkan manekin dan majalah yang tergeletak di atas
sofa—yang bantalannya sudah robek dengan busa kuning mencuat keluar—lalu duduk.
Bantalannya sudah aus, membuat tempat duduk itu terasa sangat tidak nyaman.
Hal itu membuatku
ingin membuang semuanya dan membereskan tempat ini.
"Teater
membutuhkan banyak biaya untuk properti, jadi kami menyimpan semua yang kami
buat kalau-kalau bisa digunakan kembali. Makanya tempat ini jadi sangat
berantakan."
"B-begitu
ya..."
Dia menjelaskan,
mungkin menyadari ketidaknyamananku.
Aku belum
pernah bergabung dengan teater, jadi aku hanya bisa membayangkan. Dengan semua
kostum dan properti yang ada, sepertinya teater membutuhkan lebih banyak
perlengkapan dibandingkan klub lainnya.
Membuat
barang baru untuk setiap pertunjukan akan terlalu mahal dan memakan waktu.
Menggunakan
kembali apa pun yang bisa dipakai adalah hal yang masuk akal, meskipun berujung
pada kekacauan ini.
Sambil
memikirkan hal itu, aku mendengar suara logam berderik di belakangku.
Menoleh
ke belakang, aku melihat sang ketua sedang mengunci pintu.
"Ketua?
Kenapa pintunya dikunci?"
"Yah,
aku tidak mau ada penyusup yang mengganggu kita."
Penyusup?
Obrolan rahasia
macam apa ini?
Aku merasa tidak
memiliki hubungan yang signifikan dengannya, jadi aku memiringkan kepala karena
bingung.
Kemudian, sesuatu
yang tidak masuk akal terjadi tepat di hadapanku.
Rok seragam sang
ketua melorot turun dari pinggangnya hingga ke lantai dengan suara gemerisik
lembut.
"Eh?
Ehhhhh!?"
Kenapa!? Apakah
roknya robek!?
Awalnya
aku mengira ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi melihatnya dengan tenang
melepas dasinya tanpa ada reaksi apa pun terhadap pakaian dalamnya yang
terekspos, aku menyadari diriku keliru.
Roknya
tidak robek. Dia melepasnya sendiri!
"S-sedang
apa kamu, Ketua!? Wah! Wah!"
"Menurutmu
bagaimana? Hanya ada satu hal yang biasa dilakukan saat kita berdua saja di
sini."
Satu hal? Apa
maksudnya dengan itu!?
Berdua saja,
laki-laki dan perempuan... apa maksudnya itu!?
Tetapi apakah
ketua dan aku memiliki hubungan romantis?
Apakah dia
menumbuhkan perasaan padaku saat aku sedang menonton Haruka berlatih? Itu tidak
mungkin benar karena yang dibicarakan ini adalah diriku!
Aku
benar-benar panik akibat rentetan kejadian mendadak itu.
Sementara itu,
sang ketua sudah melepas jaketnya, menyisakan pakaian dalam saja di tubuhnya.
Tunggu, bukankah
aku pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya?
Untuk sesaat, aku
merasakan sensasi déjà vu, tetapi kemudian pemandangan sang ketua yang mendekat
dengan pakaian dalam, memasang ekspresi melankolis sambil berbisik
"Boyfriend-kun," menarikku kembali ke kenyataan.
Aku harus keluar
dari tempat itu, cepat!
Aku bangkit
melompat, tetapi kakiku tersangkut pada majalah di lantai, membuatku justru
terjerembab semakin dalam ke sofa.
Benar-benar
kecerobohan yang fatal!
Sebelum aku
sempat bangkit, sang ketua sudah berdiri tepat di hadapanku.
Seorang gadis
seusiaku, hanya mengenakan pakaian dalam, berada tepat di depanku, dan derasnya
aliran darah yang naik membuatku merasa pusing.
Aku memejamkan
mata rapat-rapat lalu tergagap,
"T-Tunggu!
A-aku sudah punya seseorang yang kucintai—!"
"Aku
benar-benar, benar-benar minta maaf!"
...Huh?
"Serius, aku
minta maaf banget! Aku
tidak bermaksud mengganggu kencan kalian! Aku biasanya tinggal di rumah atau di
ruang klub untuk mengerjakan naskah, jadi aku benar-benar lupa kalau hari itu
adalah hari festival kembang api! Dan aku membawamu ke tempat itu karena pikir itu ide bagus, tapi kemudian
hal itu terjadi... Aku sangat malu dan menyesal...!"
Aku membuka mata
yang tadinya tertutup rapat.
Sang ketua sedang
membungkuk dalam-dalam di kakinya.
Tunggu... apakah
dia membicarakan soal festival kembang api? Kencan ku dengan Haruka? Tapi apa
maksudnya mengganggu kencan itu? Oh, benar juga! Haruka sempat bilang kalau dia
harus membatalkan kencan kami karena ketua memanggilnya untuk rapat.
Apakah dia
meminta maaf karena hal itu?
"Aku
benar-benar, benar-benar minta maaf!!"
Sepertinya dia
benar-benar tulus meminta maaf.
...Tetapi kenapa
dia harus menanggalkan pakaiannya!?
Oh, benar, aku
ingat. Dia juga sempat melucuti pakaiannya saat meminta maaf sebelumnya.
Aku teringat
adegan ketika dia datang untuk menjemput Haruka. Apakah ini kebiasaan? Semacam
ritual aneh? Sungguh merepotkan. Aku harus menghentikannya.
"Kalau kamu
tidak bisa memaafkanku, aku sudah memastikan tidak ada orang yang akan
mengganggu kita, jadi kamu bisa melakukan apa saja padaku—masak aku, panggang
aku, atau unggah tentang aku di media sosial!"
"A-aku tidak
akan melakukan hal seperti itu! Tolong hentikan! Tidak ada yang perlu kamu
sesali! Ini malah membuat keadaan jadi sulit!"
"B-benar.
Permintaan maaf yang tidak tulus bisa membuat orang lain merasa tertekan untuk
memaafkan, atau kalau tidak, mereka akan dicap sebagai pendendam. Kalau kamu
benar-benar menyesal, hanya membungkuk saja tidak cukup. Aku mengerti, Tuan
Pacar. Jadi! Permintaan maaf penuh berarti lepas pakaian penuh!"
"Tidak,
bukan begitu! Kamu cuma seorang pervert aneh yang hobi telanjang sambil
membungkuk! Hentikan! Jangan sentuh bra-mu, jangan lepas kaitnya, semuanya
nanti berhamburan keluar—oh tidak, jangan, jangan, jangan!!!"
× × ×
Pada
akhirnya, hal yang menyelamatkanku adalah suara ketel air yang sedang mendidih.
Gangguan
itu sepertinya berhasil membuatnya agak tenang (apakah benar-benar tenang?),
lalu sang ketua mengenakan kembali pakaiannya, menyeduh dua cangkir kopi
instan, dan menyerahkan salah satunya kepadaku.
Dia
kemudian duduk di kursi lipat di seberangku sambil tersenyum malu-malu.
"Aku
benar-benar minta maaf. Keinginanku yang meluap-luap untuk meminta maaf malah
kebablasan, sampai-sampai aku memaksakannya padamu. Itu tadi sungguh
memalukan."
Tidak,
jelas ada hal yang jauh lebih memalukan yang baru saja kamu lakukan.
"Meskipun
aku tidak tahu Takao-san akan muncul hari itu, fakta bahwa aku mengundangnya
tidak berubah. Aku hanya merasa harus meminta maaf soal itu."
Tapi kamu
tidak perlu melucuti pakaianmu cuma untuk melakukan hal itu.
Aku
dengan cepat memejamkan mata, tetapi bayangan dirinya yang hanya mengenakan
pakaian dalam masih terpatri jelas di benakku.
Dia
memang satu tahun lebih tua dariku, tetapi tetap saja, melihat seorang gadis
seusiaku dalam kondisi seperti itu… Dan dia bukan sekadar gadis biasa; dia
adalah seorang siswi SMA berparas cantik sekaligus penulis yang pernah diliput
media.
Penampilannya
sangat luar biasa, berbeda dari Haruka maupun Shigure, dengan tubuh tinggi dan
lekuk figur yang memukau.
Melihatnya
membungkuk dalam keadaan seperti itu benar-benar bisa merusak pikiranku. Itu
sangat menakutkan.
…Ada
begitu banyak hal yang ingin kukeluhkan, tetapi jujur saja, aku tidak ingin
memperpanjang topik ini. Jadi, aku menelan seluruh keluhan itu bersama tegukan
kopi dan hanya menyuarakan apa yang perlu disampaikan.
"Ketua, kamu
kan hanya berniat membantu Haruka meraih mimpinya. Haruka tidak menaruh dendam sama sekali, dan
aku pun begitu."
Saat mengatakan
itu, aku mendadak menyadari sesuatu.
Cara bicara sang
ketua mengisyaratkan bahwa dia tahu Takao adalah dalang dari masalah ini.
"Apakah
Haruka menceritakan apa yang terjadi malam itu kepadamu?"
"Ya, dia
menceritakan semuanya karena merasa sudah menyusahkan diriku. Dia bahkan
memberi tahu tentang masa lalunya dengan Takao-san. Setelah tahu semua itu,
wajar saja kalau dia tidak sanggup kembali ke tempat itu."
Begitu ya. Jadi
Haruka sudah menjelaskan semuanya padanya.
Shigure memang
menyarankan agar cerita ini tidak disebarluaskan, tetapi memberi tahu sang
ketua adalah langkah yang masuk akal.
Bagaimanapun
juga, dialah yang mengenalkan Haruka kepada sang produser dan mengatur
semuanya. Walaupun itu bukan
kesalahan Haruka, hal tersebut tetap saja merepotkan dirinya.
"Ketua,
apakah kamu menceritakan hal ini kepada orang lain?"
"Tidak,
tidak sama sekali. Ini topik yang sangat sensitif di industri hiburan, dan
Haruka sendiri tidak ingin membesarkan masalah ini."
Baguslah. Dia
mungkin orang yang aneh, tetapi setidaknya dia tidak gegabah. Seorang yang
aneh, tapi bukan orang yang gegabah.
"Itoi-san—produser
yang tertarik pada Haruka? Aku sudah berhasil meminta maaf dan membereskan urusan dengannya. Tentu saja, peran figuran itu sudah bukan
lagi menjadi pilihan."
"Terima
kasih."
Saat mengucapkan
terima kasih, aku berpikir betapa khasnya Haruka yang tidak ingin memperkeruh
keadaan.
Namun, apa yang
berencana dia lakukan sekarang?
Selama dia masih
berkecimpung di dunia hiburan, dia tidak akan bisa menghindari campur tangan
Takao.
Kami harus
menemukan cara untuk menghadapinya, tetapi Haruka belakangan ini tidak mau
terlalu banyak membahasnya.
"Ketua,
bagaimana keadaan Haruka di klub? Karena kesibukan pindah rumah, aku hanya
punya waktu untuk bertemu dengannya saat istirahat siang."
"────"
Sang ketua
menyesap kopinya dengan ekspresi serius, membisu sejenak sebelum akhirnya
bersuara.
"Mmm, aku
tidak berniat membuatmu khawatir, tapi tidak ada gunanya juga
menyembunyikannya. Lagipula, ini ada hubungannya dengan alasanku memanggilmu ke
sini hari ini. Tadi pagi, Haruka menyerahkan ini padaku."
Sang ketua
menyerahkan sesuatu kepadaku—selembar kertas yang dilipat tiga.
"Surat…
pengunduran diri dari klub?"
"Ya.
Haruka, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, memang tidak begitu pandai
berakting. Namun ketidakmampuannya itu terasa sangat memikat. Antusiasme dan
gairahnya terpancar dengan cara yang begitu menggemaskan. Rasanya seperti
melihat anak-anak kecil menampilkan drama; secara tak terduga sangat
menghangatkan hati. Haruka
memiliki kepolosan serupa yang membuat aktingnya terasa sangat memikat. Dia
adalah semacam genius, dengan bakat unik yang menarik."
Aku teringat
bagaimana sang ketua memuji Haruka sebagai bakat yang unik saat kami terakhir
kali bertemu.
"Tapi karena
itulah emosi negatifnya juga ikut terpancar jelas. Dia tidak bisa menyembunyikannya dalam akting.
Sejak insiden itu, penampilannya menurun drastis. Dia melarikan diri dari
kesempatan penting, kehilangan tujuan besar, dan kini emosinya tidak lagi
menyatu dengan aktingnya. Keterampilannya saja tidak cukup untuk menopangnya.
Dia tidak lagi layak untuk memainkan peran utama. Jadi kemarin, aku memberi tahu dia bahwa kami
harus menggantinya. Dan hari ini, dia membawakan ini padaku."
Aku memahami
situasinya.
Haruka memiliki
alasan atas tindakannya, tetapi sang ketua pasti juga menyadari hal itu.
Namun dia tetap
menerima surat ini tanpa berusaha menghentikannya.
"Anu…
rasanya tidak adil mengatakan ini setelah aku mengaku tidak menaruh dendam,
tapi tidakkah kamu merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi? Bukankah terlalu kejam mencabut
perannya dan langsung menerima pengunduran diri ini?"
"Akting
itu bukan cuma tentang pemeran utama. Ini adalah kerja sama yang melibatkan semua orang. Sebagai ketua klub
drama, aku tidak boleh membiarkan masalah satu orang merusak pertunjukan bagi
anggota lainnya."
"…"
Aku mengerti,
tapi tetap saja…
"Belakangan
ini, Haruka berusaha berakting hanya karena rasa kewajiban, merasa tertekan
untuk membuktikan bahwa dia layak terpilih sebagai pemeran utama mengalahkan
senior kelas tiga. Sangat menyakitkan melihatnya memaksakan diri ketika hatinya
sudah tidak ada di sana."
"Haruka
tidak bertujuan untuk menjadi profesional… Dia hanya bekerja keras karena
kesempatannya ada. Dia mencintai akting demi akting itu sendiri. Dia tidak akan
melakukannya hanya karena kewajiban…"
"Sekali
seseorang menetapkan tujuan dan mulai berusaha mencapainya, kehilangan tujuan
itu bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Tidak mudah untuk berpindah
haluan dan kembali ke keadaan semula. Kamu, yang tahu betapa seriusnya dia
menjalani ini, seharusnya paham akan hal itu."
"……────"
"Selama
menjadi bagian dari klub, dia harus mengikuti jadwal dan menjaga kualitas
karyanya. Aku harus menegakkan hal itu secara tegas. Haruka menyadari hal ini,
makanya dia menyerahkan pengunduran dirinya. Aku percaya keputusannya adalah
hal yang tepat. Dia butuh waktu istirahat dari dunia akting untuk merenungkan
apa yang benar-benar penting baginya."
Namun kemudian
sang ketua menatapku secara langsung dengan sangat lekat.
"Aku hanya
bisa mendukung Haruka melalui akting. Saat ini, satu-satunya orang yang
benar-benar bisa mendukungnya adalah kamu, pacarnya."
Matanya yang
hitam, serius, dan tulus, dibingkai oleh bulu mata yang panjang, memohon
padaku.
"Alasan
utama aku memanggilmu ke sini hari ini adalah untuk meminta bantuan ini padamu.
Haruka telah memberikan segalanya untuk akting, mendedikasikan hampir seluruh
hidupnya untuk itu. Sekarang
setelah hal itu mendadak hilang, ada ruang kosong yang sangat besar dalam
hidupnya. Ruang kosong ini akan terisi oleh penyesalan atas mimpi yang dia
tinggalkan dan kekecewaan karena gagal memenuhi harapan. Hanya kamu yang bisa
mengisi kekosongan itu untuknya. Tolong dampingi Haruka, bantu dia sampai dia
bisa memilih akting kembali dengan hasrat, bukan karena kewajiban atau
penyesalan. Ketika saat itu
tiba, aku juga akan melakukan segalanya untuk membantunya."
Tatapan dan
kata-katanya yang serius menunjukkan betapa dalam kepeduliannya pada Haruka.
Niatnya sangat
jelas—sebuah kepedulian yang tulus.
Aku merasa sangat
malu pada diriku sendiri karena sempat mencurigainya tadi.
Dia adalah orang
yang baik, yang benar-benar ingin membantu Haruka dari lubuk hatinya yang
paling dalam.
"Tanpa
diminta pun aku pasti melakukan hal itu..."
Ucapku
sambil mengalihkan pandangan dan mengangguk.
× × ×
"Hah..."
Saat aku
berjalan menuju loker sepatu seusai sekolah, langkah kakiku terasa begitu
berat.
Aku masih
tidak percaya kalau Haruka telah keluar dari klub drama.
Itu
adalah kejutan yang sangat besar karena aku tahu betul betapa besarnya gairah
yang dia miliki untuk berakting. Rasanya sangat menyakitkan saat memikirkannya.
Insiden
dengan Takao memang mengerikan, tetapi karena Haruka sejak awal tidak pernah
berniat menjadi profesional, kukira dia akan menjauhkan diri dari industri
hiburan atau melawan Takao habis-habisan, tetapi tetap melanjutkan aktingnya
bagaimanapun juga.
"…"
Mengingat
keadaannya, rasanya mustahil untuk membahas tentang perpisahan sebelum hari
ulang tahun Haruka.
Dia baru saja
kehilangan sesuatu yang sangat dia cintai.
Waktu dua minggu
rasanya terlalu singkat untuk menyembuhkan luka sebesar itu.
Luka emosional
Haruka masih sangat baru.
Aku tidak sanggup
memperburuk keadaan dengan menambah rasa sakitnya.
Meskipun
perasaanku pada Haruka telah berubah, aku tidak ingin menyakitinya tanpa
alasan.
Aku tidak ingin
membuat segalanya menjadi lebih sulit baginya.
Aku memutuskan
untuk menunggu sampai Haruka mendapatkan kembali kekuatannya sebelum
mendiskusikan tentang perpisahan.
"Semuanya
memang tidak pernah berjalan lancar, ya..."
Aku sudah
menemukan siapa sosok yang paling penting bagiku. Jawaban itu kini sudah tak
tergoyahkan, dan aku bisa mengatakannya dengan penuh keyakinan.
Namun keadaan
tidak mengizinkanku untuk menyatakannya.
Jika
bukan karena insiden dengan Takao, aku tidak akan merasa sesesak ini.
Berpura-pura
masih memiliki perasaan yang sebenarnya sudah hilang terasa sangat menjijikkan.
Aku menyadari hal
ini saat aku tidak sanggup menatap mata sang ketua.
Rasanya sakit.
Sangat menyiksa. Rasa benci pada diri sendiri terus membesar tanpa henti.
Namun
dibandingkan dengan penderitaan Haruka, seberapa berartinya rasa tidak nyamanku
ini?
Haruka telah
kehilangan gairahnya dalam berakting dan pada akhirnya akan kehilangan
pacarnya. Dan orang yang kucintai justru saudari kembar Haruka sendiri, orang
yang sangat dia percayai.
Haruka pasti akan
sangat hancur.
Dibandingkan
dengan rasa sakit yang akan timbul akibat perbuatanku padanya kelak, rasa tidak
nyamanku saat ini tidak ada apa-apanya.
Aku telah
berbohong kepada Haruka hanya demi memudahkan diriku sendiri. Terus berbohong
sedikit lebih lama rasanya adalah hal minimal yang bisa kulakukan untuknya.
Shigure pasti
akan mengerti.
Tenggelam dalam
lamunan ini, aku tiba di area loker sepatu.
Berjarak dari
aliran siswa yang sedang berjalan pulang, Haruka berdiri bersandarkan
punggungnya pada sebuah pilar besar, menungguku.
Saat melihatku,
dia tersenyum dan berlari menghampiri bagaikan seekor anak anjing yang gembira.
"Hiromichi-kun!"
"Maaf ya
sudah membuatmu menunggu."
"Hehe, tidak
apa-apa kok. Lagipula biasanya kan aku yang selalu membuatmu menunggu."
Itu benar. Haruka
yang menungguku adalah situasi yang cukup langka.
Bahkan, ini
mungkin pertama kalinya sejak dia menyatakan cintanya padaku.
Juga tidak biasa
bagi kami untuk berjalan pulangbersama di tengah kerumunan siswa yang begitu
ramai.
Haruka biasanya
pulang terlambat karena kegiatan klub, kecuali saat masa-masa ujian.
Namun hari ini,
dia selesai lebih awal karena telah keluar dari klub. Secara alami, hal itu
menjadi topik pembicaraan pertama kami.
"Tadi saat
istirahat siang, ketua memberi tahu aku kalau kamu keluar dari klub
drama."
"…Ehm,
iya."
"Apakah itu
karena Takao?"
Tanyaku saat kami
berjalan menuju gerbang sekolah.
Haruka
tampak mengangguk pelan, tetapi dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Memang
benar sejak saat itu aku tidak bisa fokus pada kegiatan klub. Tapi… keluar dari
klub bukan sepenuhnya karena Takao-san. Aku… aku dipecat dari peran utama untuk
festival budaya. Ketua bilang aku tidak bisa mengatasinya dalam keadaanku yang
sekarang, dan… aku malah merasa lega."
"…"
"Aku sangat
senang saat terpilih menjadi pemeran utama, dan aku ingin berusaha keras. Tapi
aku sadar dalam keadaanku yang sekarang, aku hanya akan menjadi beban bagi
semua orang."
"Aku tidak
berpikir ketua menganggapmu sebagai beban, Haruka. Dia sangat
mengkhawatirkanmu. Dia menerima pengunduran dirimu karena berpikir akan lebih
baik bagimu untuk istirahat sejenak dari akting dan memikirkan apa yang penting
bagimu."
"Iya, aku
tahu kok."
"Dia juga
bilang akan mendukungmu kapan pun kamu ingin kembali berakting."
"Iya… tapi
sekarang sudah tidak apa-apa."
"Tidak
apa-apa?"
"Aku sudah
tahu apa yang benar-benar penting bagiku."
"Haruka?"
Haruka
mendadak menghentikan langkahnya.
Ada apa?
Aku
berhenti dan berbalik menatapnya.
Kemudian, dia
mencengkeram kerah jas sekolahku, menarikku mendekat, dan menciumku.
"Mmff!?"
Aku begitu
terkejut hingga pikiranku mendadak kosong.
Haruka tidak
pernah menciumku terlebih dahulu sebelumnya, terlebih lagi di tempat yang
dipenuhi banyak orang seperti ini.
Siswa-siswi di
sekitar kami mulai berbisik-bisik, tetapi Haruka tidak menarik dirinya.
Rasa terkejutku
berubah menjadi kepanikan yang luar biasa.
Apa yang terjadi?
Ini sama sekali tidak seperti Haruka yang biasanya.
Saat aku berdiri
mematung dalam kebingungan, Haruka akhirnya mengakhiri ciuman itu dan bersuara.
"Hari itu,
saat Shigure bertanya apa yang ingin kulakukan selanjutnya, aku tidak bisa
menjawabnya. Tapi saat aku sudah tenang dan memikirkannya, jawabannya sangat
jelas. Karena saat aku tertangkap oleh pria itu, satu-satunya hal yang
terlintas di pikiranku hanyalah kamu, Hiromichi-kun."
Haruka mendongak
menatapku dari jarak di mana aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Saat kamu
memeluk dan menghiburku, seluruh rasa sakit dan ketakutan itu sirna begitu saja
seperti sebuah kebohongan. Aku menyadari bahwa kamu adalah tempat paling hangat
di dunia bagiku, dan kamu adalah orang yang paling penting untukku."
Dia kemudian
menyandarkan tubuhnya dengan lembut ke dadaku, menumpukan seluruh berat
badannya padaku.
"Terima
kasih ya, Hiromichi-kun. Terima kasih karena selalu mengerti dan menyayangiku.
Sekarang karena aku tidak punya kegiatan klub lagi, kita bisa menghabiskan
lebih banyak waktu bersama. Ada banyak sekali acara seru di semester kedua ini,
seperti festival budaya dan karya wisata. Dan kita masih harus pergi ke
Disneyland, yang batal karena aku sempat dirawat di rumah sakit. Mari kita buat
banyak kenangan bersama-sama."
Haruka
melingkarkan kedua tangannya di punggungku.
Di sekitar kami,
orang-orang mulai menggoda kami karena berpelukan di tengah jalan, tetapi
Haruka tidak melepaskannya.
Perilakunya
sangat berbeda dari dirinya yang dulu.
Kehilangan
gairah dalam berakting jelas telah membawa perubahan besar pada dirinya.
Dan entah
mengapa, perubahan itu justru membuatku… marah.
"──────"
Kenapa harus
sekarang?
Kenapa mengatakan
hal ini di saat seperti sekarang?
Ini bukan saatnya
aku ingin mendengar kata-kata tersebut.
Aku tidak
menginginkan pelukan dan ciumannya sekarang.
Aku
menginginkannya di hari festival kembang api itu. Lebih tepatnya, setiap momen
sebelum aku menyatakan perasaanku kepada Shigure malam itu.
Kata-kata cinta
yang dulu sangat kuhargai dari Haruka, cinta yang begitu sangat kuinginkan,
kini justru memenuhiku dengan amarah.
Ini sungguh
keterlaluan. Rasanya terlalu egois.
Dia hanya
memanfaatkanku untuk menghibur dirinya sendiri.
Dia melontarkan
alasan-alasan manis untuk bersandar padaku di saat-saat sulitnya, padahal dia
telah mencampakkanku saat aku sedang berjuang.
Amarah dan emosi
itu terangkat menjadi kata-kata.
"…Iya, aku
juga tidak sabar menunggu saat-saat itu…"
Namun akal
sehatku menahan kata-kata tajam itu.
Haruka sedang
terluka dan sangat rentan saat ini.
Dan aku justru
akan menyakitinya jauh lebih dalam lagi.
Aku tidak
memiliki hak sedikit pun untuk merasa marah soal ini.
Aku menekan
perasaanku dan menyembunyikan emosi asliku di balik senyuman palsu.
Bagaimana Haruka
menafsirkan senyuman burukku itu?
Dia
tampak bahagia dan tersenyum dengan sangat hangat.
Pada momen tersebut, aku merasakan jarak yang sangat teramat jauh membentang di antara kami berdua.



Post a Comment