NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 4 Chapter 5

Chapter 38

Kecurigaan × Labirin


Tidak mungkin mereka berdua sedang membohongiku.

Sejak hari di taman itu, saat aku melihat Hiromichi-kun memberikan cincin kepada Shigure, sudah berapa kali aku mengulang-ulang kata-kata itu di dalam hati?

Namun begitu benih-benih keraguan itu mulai tumbuh, keraguan tersebut tidak pernah mau meninggalkan hatiku.

Karena… tidak peduli dari sudut pandang mana aku melihatnya, hal itu sama sekali tidak terasa benar.

Memberikan gelang kepada pacarnya dan sebuah cincin kepada saudara perempuannya?

Dan melakukannya secara diam-diam, hanya berdua saja?

…Apakah mereka berdua benar-benar hanya sekadar saudara?

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meragukan mereka.

Sebisa apapun aku berusaha mempercayai mereka, bayangan hari itu telah terpatri kuat di dalam benakku, menolak untuk memudar.

Jadi… setiap kali aku memejamkan mata di atas tempat tidur pada malam hari, aku tidak kuasa untuk tidak mengingatnya kembali.

Dan kemudian aku mulai bertanya-tanya… apa yang sedang dilakukan oleh mereka berdua saat berada di rumah?

Kecemasan dan ketakutan mencengkeram dadaku.

Air mata mulai berjatuhan, dan aku memanggil nama Hiromichi-kun. Namun tidak ada jawaban yang kembali.

Meskipun suara Shigure bergema di dalam rumah yang sama, jarak di antara kami terasa begitu jauh hingga suaraku tidak mampu menjangkaunya.

Malam-malam tanpa bisa tidur terus berlanjut.

Keraguan di dalam hatiku semakin membesar, hingga mulai mengganggu kehidupan sehari-hariku.

Tetapi,

"Selamat pagi! Hiromichi-kun!"

"Haruka. Kelasmu baru saja selesai juga, kan? Kamu datang cukup cepat."

"Aku berlari ke sini karena ingin makan bersamamu secepat mungkin."

"Nee-san penuh energi seperti biasanya."

"Hehe. Mungkin ini berkat hadiah yang diberikan Hiromichi-kun padaku. Memakai benda ini membuatku merasa begitu bersemangat."

…Aku terus berpura-pura tidak melihat apa pun.

Ada begitu banyak kesempatan untuk mengonfrontasi mereka, namun aku membiarkan semuanya berlalu begitu saja.

Karena… aku tidak sanggup.

Jika kecurigaan terburuk di dalam benakku ternyata benar-benar terjadi, jika aku dikhianati oleh kekasihku sekaligus saudari perempuanku, apa yang harus kulakukan?

Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya. Aku tidak ingin membayangkannya.

Itulah sebabnya aku tidak bisa mengambil langkah maju ke sana.

Aku menyembunyikan seluruh kecemasanku jauh di dalam dada dan berusaha sebaik mungkin untuk bersikap ceria, agar tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Meskipun aku tidak terlalu pandai melakukannya, tahun-tahun yang kuhabiskan di dunia teater akhirnya membantuku di saat-saat seperti ini.

Namun… tidak peduli seberapa baik aku menipu mereka berdua, atau orang lain di sekitarku, aku tidak bisa menipu diriku sendiri.

Stres mulai merusak kulitku, dan aku mulai mengenakan riasan wajah, sesuatu yang jarang kulakukan sebelumnya.

Napsu makanku hilang, dan berat badanku turun hingga lima kilogram dalam waktu sebulan saja.

Aku tidak bisa tidur di malam hari dan akhirnya mengandalkan pil tidur yang diresepkan oleh dokter.

Karena kondisi yang kacau itu, ujian tengah semesterku di semester kedua berakhir dengan sangat buruk.

Aku gagal di sebagian besar mata pelajaran dan akhirnya terjebak dalam ujian susulan serta kelas remedial untuk beberapa waktu. Hal ini membuatku sama sekali tidak memiliki waktu untuk menemui Hiromichi-kun.

Dan begitu saja, saat aku terus mengulur-ngulur waktu, hari festival budaya tiba tanpa pernah aku sempat mengonfrontasi mereka berdua.

× × ×

Hari festival budaya telah tiba.

SMA Seiun, sekolah terkenal di prefektur ini karena keunggulan akademisnya, biasanya memiliki para siswa yang cukup tenang. Namun pada hari ini, suasananya begitu meriah dan penuh dengan energi.

Kelas ku bergabung dengan kelas sebelah untuk mengelola sebuah kasino.

Tentu saja, kami tidak berjudi dengan menggunakan uang sungguhan; sebagai gantinya, kami menggunakan chip yang dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah.

Aku berdandan sebagai gadis kelinci (meskipun sebenarnya itu hanya seragam sekolahku yang dipadukan dengan bantal telinga kelinci) dan bertugas memikat pengunjung di pintu masuk kelas. Lalu—

"Ah! Bukankah kamu Haruka-san dari foto ‘Miracle Shot’ itu!?"

"Wah, beneran! Aku melihatnya di Insta!"

"Boleh kami minta foto bareng denganmu!?"

"Eh, tentu saja. Tidak masalah."

Interaksi semacam itu sudah terjadi sekitar sepuluh kali sejak pagi hari.

Beberapa orang bahkan mengatakan kepadaku bahwa mereka menantikan pertunjukan teaternya, yang langsung memenuhiku dengan rasa bersalah.

Ada juga beberapa orang yang menyebalkan, seperti cowok-cowok yang memaksa meminta jabat tangan atau mencoba mendapatkan kontak LINE-ku.

"Ah, maaf ya kawan-kawan, tapi menyentuh Bunny-chan dilarang keras di sini. Sebagai permintaan maaf, aku akan menjabat tangan kalian dan bahkan memberikan LINE-ku, jadi kita anggap pas ya, oke?"

"T-Tidak! Kami lewat saja!!"

Setiap kali itu terjadi, Takeshi-kun, yang mengenakan setelan kembung dengan kancing-kancing yang hampir copot serta kacamata hitam yang mengintimidasi, akan turun tangan. Dia akan menggunakan otot-ototnya untuk mengusir orang-orang menyebalkan itu.

"Ah, terima kasih, Takeshi-kun."

"Heh. Kamu salah paham, Saikawa. Hari ini, aku bukan Takeshi. Aku adalah Strong-Take, penjaga pintu Casino Rabbit Hole."

Sambil menyeringai nakal, dia merapikan dasinya. Dia benar-benar mendalami karakternya.

"Berkat dirimu, Saikawa, para pengunjung berdatangan dengan deras, tapi seperti yang sudah diduga, orang-orang aneh juga mulai muncul. Yah, makanya aku ada di sini. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu bisa bertukar posisi dengan salah satu dealer di dalam."

Takeshi-kun memang orang yang penuh perhatian seperti itu.

Dia mungkin memiliki wajah yang menyeramkan dan tubuh yang kekar, tapi dia adalah orang yang berhati baik.

Namun aku mengatakan kepadanya bahwa aku baik-baik saja.

"Aku sedang mengambil waktu istirahat di jam-jam paling sibuk ini, jadi ini adalah hal paling minimal yang bisa kulakukan."

"Begitukah? Kalau ada orang aneh lagi yang muncul, pastikan untuk memanggilku, ya?"

"Ya, akan kulakukan."

Setelah itu, aku kembali bekerja.

Karena semua orang di kelas memahami situanku, hal paling minimal yang bisa kulakukan adalah memanfaatkan ketenaran mendadakku dari insiden “Miracle Shot” saat kamp musim panas untuk membantu semampuku.

Meskipun ada beberapa masalah kecil, pagi hari berlalu dengan lancar, dan tepat saat aku selesai bekerja, Hiromichi-kun datang untuk menjemputku.

"Haruka. Aku datang untuk menjemputmu."

"Oh, Hiromichi-kun!"

"Jadi, pakai bantal telinga kelinci karena ini kasino, ya?"

"Ya, tadinya mereka berencana menggunakan kostum gadis kelinci sungguhan, tapi pihak sekolah tidak mengizinkannya."

"Haha, tentu saja tidak. …Jadi, bagaimana? Aku datang agak lebih cepat, tapi apa kamu bisa menyelinap keluar sekarang?"

Aku melirik ke arah konter penukaran chip di dekat pintu masuk kelas untuk memeriksa.

Karena aku sudah berbicara dengan mereka sebelumnya, teman-teman sekeluasku memberikan anggukan ramah.

"Kerja bagus, Saikawa. Astaga, efek ‘Miracle Shot’ itu luar biasa banget. Stok hadiah kita hampir habis ludes padahal ini masih pagi. Sepertinya kita mengunci posisi juara pertama dalam penjualan!"

"Kami akan urus sisanya, jadi silakan nikmati waktumu sampai jam bersih-bersih."

"Terima kasih!"

Aku menyerahkan bantal telinga kelinci itu ke konter dan mulai berjalan bersama Hiromichi-kun.

Lalu, aku tiba-tiba menyadari bahwa Shigure sama sekali tidak terlihat.

Kami seharusnya menonton pertunjukan bersama-sama, bertiga.

"Oh, soal Shigure—karena dia adalah ketua kelas, dia tidak bisa meninggalkan kelasnya terlalu lama. Dia meminta kita untuk pergi menonton pertunjukan bersama-sama, hanya berdua saja, dan nanti kita bisa menemuinya setelah selesai untuk berkumpul."

"Begitu ya."

Aku merasa lega di dalam hati.

Sejak hari itu, melihat mereka berdua akur sedemikian rupa membuat dadaku terasa sesak. Semakin sulit bagiku untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa atau tidak melihat apa pun.

"Hei, kita masih punya waktu luang. Ayo kita lihat-lihat sebentar."

"Kalau dipikir-pikir, aku belum makan apa pun. Bagaimana kalau kita mencari camilan sebelum pertunjukan?"

"Ide bagus! Temanku bilang kafe Milik Klub Sains itu enak banget! Ayo kita cek!"

Aku mengucapkannya dengan seceria mungkin, lalu merangkul lengan Hiromichi-kun dengan penuh antusias.

Hiromichi-kun tampak terkejut dengan keenergianku yang mendadak, matanya terbuka lebar, namun kemudian dia tersenyum lembut.

"Meskipun kamu disibukkan dengan ujian susulan dan kelas remedial, kamu tetap penuh energi ya, Haruka."

"Ya! Aku sangat berenergi! Penuh energi!"

"Baiklah kalau begitu, ayo kita menuju ke Klub Sains."

"Ayo, ayo!"

Klub Sains telah mendirikan sebuah kafe di ruang sains, yang berada di jalur dari kelasku menuju gedung olahraga tempat pertunjukan itu dilangsungkan.

Kami mampir dan memesan menu panekuk yang direkomendasikan oleh temanku.

Setelah menunggu sebentar, sebuah piring mewah tersaji di hadapan kami, sama sekali tidak terlihat seperti menu buatan Klub Sains. Menu itu berupa sepotong roti panggang yang diberi es krim buatan rumah di atasnya, disiram dengan sirup maple, serta ditaburi bubuk kayu manis.

Tampilannya terlihat lezat, dan rasanya memang benar-benar enak.

"Wah, ini enak banget gila. Aku tidak percaya ini buatan Klub Sains…"

"Ya, ini luar biasa! Aku penasaran apakah ada anggota klub yang jago masak."

"Mungkin karena semuanya dibuat sendiri di rumah tanpa bahan tambahan yang tidak perlu, jadi cita rasanya benar-benar menonjol."

"Roti panggang yang hangat berpadu dengan es krim dingin yang meresap ke dalamnya rasanya pas banget."

Kalau dipikir-pikir, saat kami berkemah di tepi laut, kami duduk berhadap-hadapan seperti ini dan makan es krim.

Meskipun waktu itu bentuknya adalah es serut.

…Padahal itu baru terjadi sekitar dua bulan lalu, tapi rasanya sudah begitu lama berlalu.

Apakah itu berarti… kini telah tercipta jarak antara aku dan Hiromichi-kun?

Tidak… itu tidak mungkin.

"Hiromichi-kun, katakan 'aah'."

"T-Tidak, tidak apa-apa. Waktu itu kita punya rasa yang berbeda, tapi hari ini kita berdua sama-sama makan es krim vanila."

"…Tapi aku ingin menyuapimu, Hiromichi-kun. Bolehkan?"

Aku mengulurkan tangan, mencoba mempertahankan kenangan-kenangan itu.

Tetapi…

"Yah, bukan begitu… Tapi, kamu tahu kan, pertunjukan akan segera dimulai. Kalau kita terlalu banyak makan es krim sekarang, kita bisa-bisa harus pergi ke kamar mandi di tengah pertunjukan."

"…Haha. Ya, kamu benar."

Tangan yang kuulurkan ditepis dengan lembut.

Argumennya cukup masuk akal—makan terlalu banyak es krim bukanlah ide bagus, terutama dengan durasi pertunjukan selama 45 menit di depan mata.

Itu adalah penjelasan yang sangat logis.

Namun…

Bahkan tindakan-tindakan yang masuk akal itu terasa seolah-olah aku sedang dihindari, dan aku tidak bisa menghentikan pikiranku untuk berpikir ke arah sana.

Benar juga. Apa yang kulakukan sama sekali tidak memiliki arti nyata.

Jauh di dalam lubuk hati, aku sudah menyadari hal itu.

Bahkan jika aku berpura-pura tidak tahu apa-apa, bersikap ceria, dan menutupi semuanya di permukaan, kenyataan yang kulihat hari itu tidak akan lenyap begitu saja, dan aku juga tidak bisa melupakannya.

Kecuali aku mengonfrontasi kebenaran tersebut, aku akan terus berputar-putar di dalam kabut gelap ini.

Aku tahu itu. Aku tahu… tapi,

Aku tidak punya keberanian untuk menghadapi kenyataan itu.

Rasanya mengambil satu langkah itu akan membawaku jatuh ke dalam jurang yang gelap.

Karena, karena…

Hiromichi-kun… akhir-akhir ini tidak pernah menciumku, bahkan satu kali pun.

× × ×

"Hah…"

Setelah menonton pertunjukan—yang tadinya seharusnya kubintangi—bersama Hiromichi-kun, aku melepaskan desahan napas yang panjang di dalam toilet perempuan.

Ketika aku mendongak menatap cermin, aku melihat versi diriku yang terlihat begitu letih dan berantakan sedang menatap balik ke arahku.

"Aku terlihat mengerikan… Rasanya aku kembali menjadi diriku yang dulu."

Saat aku sedang terpuruk setelah perceraian orang tuaku.

Sebelum aku mengenal Hiromichi-kun di tempat penitipan sepulang sekolah, seperti inilah penampilanku dulu.

Sungguh luar biasa aku berhasil menipu Hiromichi-kun dengan wajah seperti ini.

Atau… apakah dia sudah berhenti memperhatiku sampai-sampai dia bahkan tidak menyadari bahwa aku mulai terlihat seperti diriku yang dulu lagi?

Bagaimana bisa semuanya berakhir menjadi seperti ini?

Apa kulakukan kesalahan?

Apakah aku telah melakukan sesuatu yang membuat Hiromichi-kun membenciku?

Tidak ada satupun yang terlintas di pikiranku…

Jika aku harus menebaknya… mungkin itu karena aku menolaknya saat dia mencoba melakukan sesuatu yang intim.

Namun Hiromichi-kun dengan cepat memahami perasaanku.

Kami sepakat untuk memelihara cinta yang murni dan tulus, bukan sekadar hubungan yang didasari oleh hasrat fisik semata…

Aku pikir dia mengahamiku.

"…Selama kamu berhati-hati, kurasa itu adalah bagian dari saling memahami kok. Setidaknya, itulah caraku melihatnya."

Shigure… apa kamu tidur dengannya?

Apa Hiromichi-kun berselingkuh denganmu karena kamu mengizinkannya? Karena kamu bersedia melakukannya, sedangkan aku tidak?

Hiromichi-kun…

Jika itu benar, lalu kenapa… kenapa kamu harus merahasiakannya dariku?

Itulah bagian yang sama sekali tidak kupahami.

Bahkan jika, seandainya saja, mereka berselingkuh, aku tidak mengira Hiromichi-kun adalah tipe orang yang akan menyembunyikannya.

Karena… hal itu akan terasa terlalu kejam.

Berpura-pura masih mencintaiku padahal dia sudah tidak lagi merasakannya, sekadar mempermainkan perasaanku…

itu terlalu berat.

Aku cukup mengenal Hiromichi-kun untuk memastikan hal ini.

Dia bukan tipe orang yang suka mempermainkan orang lain hanya demi bersenang-senang, seperti Takao-san.

Sekalipun perasaan cintanya kepadaku telah berubah, Hiromichi-kun pasti akan memberitahuku secara jujur.

Setidaknya, itulah yang aku yakini.

Itulah sebabnya… aku tidak mengerti bagaimana dia bisa melakukan hal semacam itu dengan Shigure dan tetap bersikap begitu baik kepadaku.

Aku sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang kebohongan lagi…

“…………”

Aku terus berputar-putar di dalam lingkaran, tersesat di dalam kabut gelap ini.

Tetapi… aku sudah bisa melihat bahwa hal ini tidak bisa terus berlanjut selamanya.

Aku tidak bisa melanjutkan hidup sambil meragukan dua orang yang paling berharga bagiku.

Pada akhirnya, aku akan berbalik membenci mereka berdua.

Sebelum hal itu terjadi, aku harus mengetahui kebenarannya.

Begitu aku mengetahuinya, semua ini mungkin hanya sekadar kesalahpahaman yang konyol. Aku yakin memang begitulah kenyataannya. Jadi—

…Shigure akan segera bergabung dengan kami.

Begitu dia datang… aku akan mengambil langkah itu.

Menuju kebenaran.

Selagi aku masih peduli pada mereka berdua.

× × ×

"Apakah perutmu baik-baik saja?"

“Hehe. Ya, udara tadi agak dingin saja, itu saja kok.”

Setelah keluar dari kamar mandi, aku berbohong kepada Hiromichi-kun.

Kemudian, kami berdua berjalan menuju halaman yang terletak di antara gedung sekolah lama dan baru.

Kami sudah berencana untuk bertemu dengan Shigure di sana.

“Shigure belum datang ya?”

“Ya. Tapi dia baru saja mengirim pesan LINE bilang kalau dia akan segera keluar sebentar lagi, jadi kita tunggu saja di sini. Aku juga agak kelelahan karena keramaian tadi.”

Aku mengangguk lalu duduk di atas rerumputan.

Tidak banyak orang di sekitar sini.

Sebagian besar arus orang bergerak di antara gedung lama dan baru atau menuju ke arah stan-stan yang didirikan di lapangan sekolah. Hanya sedikit orang yang tinggal di area halaman ini, yang menjadikannya tempat yang sempurna untuk beristirahat.

Sambil menunggu kedatangan Shigure, kami mulai membicarakan pertunjukan teater yang baru saja kami saksikan.

Aku tadi lebih banyak berpura-pura menonton, jadi tidak banyak hal yang benar-benar melekat di dalam ingatanku, namun karena itu adalah pementasan yang tadinya harus kubintangi, aku cukup memahami alur cerita secara garis besar untuk bisa mengimbangi percakapan tersebut.

Aku mengangguk-angguk menyetujui komentar Hiromichi-kun sambil menunggu Shigure tiba.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan menjaga agar tekadku tidak goyah.

Saat aku melakukannya, Hiromichi-kun tiba-tiba berbicara dengan suara yang lembut.

Tapi, aku benar-benar senang. Karena kamu sudah merasa lebih baik, Haruka.”

“…Eh?”

Kata-kata “merasa lebih baik” terasa begitu jauh dari apa yang sebenarnya sedang kurasakan, jadi aku tidak kuasa untuk tidak mendongak menatap Hiromichi-kun, yang sedang duduk di sebelahku.

Dia melanjutkan ucapannya.

“Haruka yang pemalu, yang mengumpulkan keberanian dan bekerja begitu keras demi merebut kesempatan masuk ke dunia hiburan, harus mendapatinya hancur karena ulah orang dewasa brengsek… dan bahkan kemudian kamu sampai keluar dari klub yang dulunya sangat kamu sukai itu. Sejujurnya, aku sangat mengkhawatirkanmu waktu itu. Kamu tampak… sedikit kacau.”

“Kacau…?”

“Haruka yang kukenal tidak akan pernah menciumku di depan gerbang sekolah sepulang sekolah, dengan begitu banyak orang di sekitar. Itu sama sekali tidak mirip dengan dirimu. Aku takut kamu bertindak karena putus asa, bahwa guncangan sekecil apa pun bisa menghancurkanmu. Tapi… akhir-akhir ini, kamu tampak jauh lebih baik, dan hal itu benar-benar membuatku merasa tenang.”

“…”

“Shigure memberitahuku. Kamu sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Takao, tapi bukan berarti kamu membenci dunia akting itu sendiri. Kalau kamu kehilangan minat atau mulai membencinya, kamu pasti tidak akan mau datang menonton pertunjukan hari ini. Kamu pasti masih mencintai akting, Haruka. Kamu begitu menikmati hari-hari saat berlatih setiap hari sampai gerbang sekolah hampir ditutup. Kamu bahkan bekerja begitu keras selama liburan musim panas. Aku ada di sampingmu sepanjang waktu, jadi aku tahu betul hal itu.”

“────”

“Sekarang… kamu mungkin masih merasa sakit karena Takao membuatmu ketakutan dan hal itu membangkitkan kenangan buruk, tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, rasa sakit semacam itu akan memudar sedikit demi sedikit. Jadi… jika menonton pementasan hari ini membuatmu merasa ingin mencoba berakting lagi, meskipun hanya sedikit… kenapa tidak mencobanya sekali lagi?”

Dengan ekspresi yang lembut, Hiromichi-kun mendorongku untuk kembali bergabung dengan klub drama.

Melihatnya bersikap seperti itu, aku… mengerti.

Aku akhirnya menyadari kenapa Hiromichi-kun menyembunyikan rahasianya tentang Shigure dariku.

Kenapa seseorang sepertinya, yang tidak akan pernah mempermainkan perasaanku, tega mengucapkan kebohongan kepadanya.

Alasannya.

—Ah, begitu ya. Hiromichi-kun…

Dia hanya tidak sanggup memberitahuku karena dia merasa kasihan padaku.

“Ketua klub bilang kamu selalu disambut dengan baik kalau mau kembali. Dan kamu begitu berdedikasi padanya; akan sangat disayangkan jika menyerah begitu saja hanya karena beberapa orang dewasa yang bodoh. Aku benar-benar berpikir akting adalah sesuatu yang penting bagimu, Haruka.”

Sejak malam ketika Takao-san mengancamku, aku kehilangan kemampuan untuk menikmati akting, sesuatu yang tadinya pernah kucurahkan seluruh jiwa ragaku ke dalamnya.

Aku merasa bersalah karena menjadi pemeran utama dalam pementasan ketika aku tidak lagi memiliki komitmen penuh, jadi aku memutuskan keluar dari klub.

Dengan perginya klub teater, yang dulunya mengisi sebagian besar hidupku, aku mencoba mengisi ruang kosong itu dengan waktu yang dihabiskan bersama Hiromichi-kun.

Karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi… selain Hiromichi-kun.

Dan dia tidak sanggup menambah rasa sakitku dengan merenggut dirinya—kekasihku—dariku juga.

Yang tersisa di dalam dirinya sekarang hanyalah “kewajiban” sebagai seorang pacar. Dia tidak tega memutus hubungan karena dia terlalu baik.

Dia berpura-pura masih menjadi pacarku karena dia merasa kasihan padaku, karena dia mengira aku begitu rapuh.

Dia sedang berbohong, bergelut dengan peran tersebut, menunggu sampai aku pulih cukup kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri sebelum akhirnya dia mengatakan kepadaku…

Bahwa semuanya sudah berakhir.

…Di satu sisi, hal itu sangat mencerminkan diri Hiromichi-kun.

Tindakan-tindakannya sangat cocok dengan citra yang kumiliki tentang dirinya.

Masuk akal mengapa dia terus berbohong padaku.

Dia mungkin ingin bersikap jujur dan langsung mengatakan yang sebenarnya kepadaku.

Karena dia memang sudah tidak lagi melihatku sama sekali.

Dia bahkan bilang aku tampak “lebih baik,” meskipun penampilanku persis sama seperti saat-saat sulitku di tempat penitipan sepulang sekolah dulu.

Dia bahkan tidak melihat ekspresi wajah seperti apa yang sedang kutunjukkan, padahal aku berada tepat di sampingnya.

Begitu jauh sudah hatinya melayang pergi.

Namun… nuraninya tidak membiarkannya untuk mengatakannya secara terang-terangan.

Meskipun dia membenci kebohongan, dia tetap melakukannya demi aku, demi melindungiku.

Sama seperti dia merahasiakan fakta bahwa dia dan Shigure lebih dari sekadar saudara kandung.

Kemungkinan besar memang itulah alasannya.

Yang berarti…

Selama aku terlihat menyedihkan di matanya, Hiromichi-kun tidak akan pernah bisa meninggalkanku.

“Jangan bercanda.”

“…Huh? Haruka?”

“Hiromichi-kun. Setelah melalui hal yang begitu menakutkan, hal yang begitu mengerikan, apa kamu benar-benar berpikir aku bisa menikmati akting lagi? Aku tidak pernah ingin… berurusan dengan teater lagi selamanya.”

“T-Tapi… kamu bilang pada Shigure kalau kamu tidak sampai membencinya…”

“Aku adalah kakak perempuannya. Tentu saja aku harus memasang wajah tegar di depannya. Tapi kenyataannya, aku sama sekali baik-baik saja. Satu-satunya alasan aku bisa berpura-pura terlihat baik-baik saja adalah karena ada kamu, Hiromichi-kun.”

Aku mendekatkan gelang yang melingkar di pergelangan tanganku erat-erat ke dadaku.

“Aku mungkin telah belajar membenci akting, tapi aku masih memilikimu, Hiromichi-kun. Kekasih tercitaku ada di sini bersamaku. Hanya dengan memikirkan hal itu saja sudah memberiku kekuatan. Jadi, akting sudah tidak penting lagi bagiku. Berada bersamamu adalah hal yang membuatku paling bahagia. Selama aku memilikimu, aku tidak butuh apa-apa lagi.”

Aku perlahan meletakkan tanganku di atas tangan Hiromichi-kun, yang sedang duduk di sampingku.

Kemudian, aku menggenggamnya erat-erat dan berkata,

“Jadi, Hiromichi-kun… kumohon tetaplah berada di sisiku, ya? Karena jika kamu sampai pergi… bahkan untuk sesaat saja, aku… aku mungkin akan mati.”

Seketika itu juga, wajah Hiromichi-kun menjadi sangat pucat.

Aku… tersenyum miring dalam hati.

Ah, sudah kuduga.

Orang ini… dia benar-benar tidak bisa meninggalkan seseorang yang menyedihkan sepertiku.

“A-apa yang kamu bicarakan? Kamu terlalu berlebihan, kan… haha.”

“Berlebihan? Kalau kamu bukan pacarku, Hiromichi-kun… aku rasa aku tidak akan bisa bertahan melewati semua ini. Satu-satunya alasan aku bisa melaluinya adalah karena kamu, Hiromichi-kun. Jadi—”

“Onii-san! Nee-san! Maaf, aku terlambat!”

Tepat saat itu, Shigure berlari memasuki area halaman.

Aku buru-buru melepaskan tangan Hiromichi-kun dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar olehnya, agar Shigure tidak menyadarinya.

“Rahasiakan apa yang baru kukatakan tadi dari Shigure, ya?”

Aku berbisik pelan, lalu mencium bibirnya sekilas.

× × ×

Setelah festival budaya berakhir, setelah pesta perpisahan selesai, aku pulang ke rumah sedikit lebih larut dari biasanya.

Ayah masih belum pulang dari tempat kerjanya.

Aku berjalan terhuyung-huyung ke kamarku bahkan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.

“…Heh.”

Terbaring di atas ranjang, aku memutar ulang kejadian hari itu di dalam kepalaku dan melepaskan tawa hambar.

Begitu tawa itu dimulai, tawanya tidak mau berhenti, seperti orang cegukan.

“Ahahahahaha! Apa sebenarnya yang sedang kulakukan!?”

Namun bukan hanya tawanya saja yang tidak mau berhenti.

Air mata itu juga terus mengalir tanpa henti.

Bantal di bawah wajahku menjadi panas dan basah oleh air mata tersebut.

“Aku benar-benar bodoh…! Apa yang baru saja kulakukan!?”

Apa yang telah kuperbuat?

Semakin aku memikirkan kata-kata yang baru saja kuucapkan, semakin aku diliputi oleh rasa benci pada diri sendiri.

—"Aku mungkin akan mati."

Itu adalah sebuah kutukan.

Sebuah kutukan untuk mengikat Hiromichi-kun.

Mengucapkan kalimat seperti itu akan membuat Hiromichi-kun yang berhati lembut menjadi tidak bisa meninggalkanku.

Tidak peduli seberapa jauh hatinya melayang pergi, tidak peduli betapa hal itu menyakitinya untuk terus berbohong, dia tidak akan bisa melarikan diri dariku.

Kata-kata itu bagaikan rantai belenggu.

Namun kata-kata itu… juga menghancurkan segalanya tentang hubungan antara Hiromichi-kun dan diriku.

Karena… setelah mengucapkan hal seperti itu, Hiromichi-kun tidak akan pernah bisa bersikap jujur lagi kepadaku.

Dan jika itu terjadi… kita tidak akan pernah bisa membangun hubungan yang didasari oleh rasa percaya dan kepedulian yang tulus.

Yang tersisa di antara kita hanyalah kebohongan-kebohongan manis. Tidak akan ada cinta sejati di mana pun.

Selamanya…

Dengan kata lain, aku…

Aku telah menghancurkan masa depan yang kuinginkan… dengan tanganku sendiri.

Menghancurkannya berkeping-keping hingga tidak akan pernah bisa disatukan kembali.

“Uhhh…!”

Air mata ini tidak mau berhenti.

Bagaimana bisa semuanya berakhir menjadi seperti ini?

Apa kulakukan kesalahan?

Aku tidak tahu.

Namun satu hal yang kutahu pasti adalah… jika aku membiarkan keadaan terus berjalan seperti ini, Hiromichi-kun akan meninggalkan sisiku.

Shigure… Shigure akan merenggut Hiromichi-kun dariku.

Shigure… Shigure, Shigure…! Kenapa!? Aku mempercayaimu! Aku begitu mempercayaimu, aku sangat menyayangimu!

“Kenapa kamu tega melakukan ini padaku!?”

Hiromichi-kun begitu baik.

Dia terlalu baik untuk pernah mengkhianatiku atas kemauannya sendiri.

Pasti ada seseorang yang telah memaksanya masuk ke dalam situasi ini.

…Aku tidak bisa memaafkannya.

Ini semua, ini semua adalah salah Shigure.

Dia pasti telah menggoda Hiromichi-kun dan mengubah isi hatinya.

Dia merayunya dengan tubuhnya ketika dia ingin melakukan sesuatu yang intim.

Bagaimanapun juga, Shigure memiliki wajah yang sama persis sepertiku.

Ya, benar sekali. Tidak mungkin Hiromichi-kun yang berhati lembut akan dengan sengaja mengkhianatiku.

Dia telah tertipu. Diperdaya oleh wanita itu.

Dia menjeratnya, membuatnya melakukan sesuatu yang salah, sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya, bahkan tanpa dia sadari.

Sama seperti… seperti apa yang terjadi pada Ibu.

Shigure itu mirip seperti Takao-san.

Seseorang mengerikan yang menggunakan seks untuk memanipulasi orang lain.

Dia pasti telah berubah menjadi orang seperti itu selama kita terpisah.

Jika tidak, dia tidak mungkin melakukan hal semacam itu dengan Hiromichi-kun, padahal dia tahu betul bahwa pria itu adalah pacarku.

Aku harus menyelamatkannya.

Aku harus melindungi Hiromichi-kun.

Dia bukanlah tipe orang yang suka berselingkuh dan melukai kekasihnya sendiri.

Aku gagal melindungi Ibu, tapi aku harus melindungi Hiromichi-kun.

Karena… karena bayangan hidup tanpa Hiromichi-kun… terasa begitu menakutkan untuk dibayangkan.

“…Aku tidak akan pernah melepaskannya…”

Aku tidak akan menyerahkannya.

Hiromichi-kun adalah pacarku.

Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya dariku. Bagaimanapun caranya.

Apapun yang diperlukan, aku harus membuatnya tetap bersamaku.

Sekalipun aku harus menggunakan rasa bersalah atau cara apa pun yang lain.

“Aku tidak akan pernah… membiarkannya kabur.”



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close