NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 4 Interlude V

EX 5

Hari Esok Tanpamu


…Ini adalah keputusan yang terbaik, bukan?

Saat aku melihat Hiromichi-kun berjalan pergi tanpa keraguan, aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa inilah akhir yang memang ditakdirkan untuk kami capai.

Perbedaan antara Shigure dan aku bukan sekadar soal waktu atau kedekatan yang dimilikinya dengan Hiromichi-kun karena mereka tinggal bersama.

Shigure tahu Hiromichi-kun adalah pacarku, namun dia tetap mengambil tindakan.

Dia rela membiarkan hubungan kami runtuh asalkan itu berarti melakukan segalanya demi satu orang yang paling berarti baginya.

Dia mencintai Hiromichi-kun dan berjuang keras agar dicintai sebagai balasannya.

…Keputusasaan itu, kerelaan untuk melakukan apa pun—aku tidak memilikinya.

Karena bagiku, dicintai oleh Hiromichi-kun terasa seperti sesuatu yang wajar, sesuatu yang begitu saja kuterima tanpa usaha.

Aku berhenti mengerahkan upaya untuk menjaga cinta itu tetap hidup, berasumsi bahwa perasaan itu akan selalu ada di sana.

Sekarang, yang bisa kulakukan hanyalah meratapi kebodohanku sendiri.

Andai saja aku menyadari hal ini lebih cepat…

“Tidak, tidak. Sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang.”

Apa yang sudah terjadi, terjadilah.

Berdiri diam tidak akan menghentikan waktu untuk terus berjalan maju.

Patah hati ini telah membantuku tumbuh dewasa, meski hanya sedikit.

Aku akan menyimpan serpihan kenangan ini dan melangkah menuju hari esok yang baru.

Sama seperti Hiromichi-kun, aku tidak akan menoleh ke belakang.

Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai berjalan dengan tekad bulat, menuju stasiun yang berada di arah berlawanan dari Hiromichi-kun.

Aku mengayunkan lenganku dengan penuh semangat, melangkah dengan langkah lebar, dan berjalan dengan penuh tujuan.

Sambil berjalan, aku memikirkan bagaimana cara menghabiskan hari esokku.

Dengan putusnya hubungan ini dan keputusan keluar dari klub drama, aku tiba-tiba memiliki begitu banyak waktu luang.

Aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan sekarang.

Jadi, aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin.

Apa yang harus kulakukan?

Mungkin aku harus mencari percintaan baru.

Itu sepertinya menyenangkan. Aku pasti akan berbuat lebih baik kali ini—tidak ada lagi kesalahan seperti sebelumnya. Aku akan membuatnya berhasil.

…Tapi, yah, tidak ada orang seperti itu dalam hidupku saat ini.

Jadi, hal itu bisa menunggu. Aku akan memikirkannya nanti saat aku bertemu dengan orang yang tepat.

Bagaimana dengan belajar? Ujian tengah semesterku yang lalu berantakan karena aku sangat terkuras secara emosional. Aku benar-benar harus bangkit kembali.

…Oh, tapi tunggu. Tempat les andalanku biasanya adalah Hiromichi-kun dan Shigure. Meminta bantuan mereka sekarang? Ya, itu canggung luar biasa. Jelas tidak akan terjadi. Ditolak!

Bagaimana kalau aku bergabung kembali dengan klub drama? Ketua klub dan semua orang bilang aku disambut kembali kapan saja. Aku yakin mereka akan senang menerimaku lagi.

…Mereka mungkin akan senang. Tapi rasanya terlalu egois, bukan? Aku baru saja keluar, dan sekarang aku ingin kembali? Lagi pula, jika aku kembali naik panggung, ada kemungkinan besar kenangan buruk itu akan datang berbondong-bondong, dan aku akan kehilangan fokus selama pertunjukan.

Ah, semakin dipikirkan…

“Aku… aku benar-benar telah kehilangan segalanya…”

Pacar yang begitu sangat kucintai.

Akting yang begitu sangat kupinati.

Bahkan adik perempuan yang kutemui kembali setelah sekian lama berpisah.

Tidak ada apa pun, sama sekali tidak ada yang tersisa di dalam genggamanku.

“Hei, jadi soal latihan bagian drama hari itu…”

“Haha! Itu lucu banget!”

Dua buah sepeda melintas di sebelahku, dikendarai oleh para siswa dari Akademi Seiun.

Keduanya berseragam sekolah, satu laki-laki dan satu perempuan.

Ini hari Minggu, jadi tidak ada sekolah. Mungkin mereka sedang menuju ke latihan pagi untuk klub mereka.

Sosok mereka berpapasan di dalam pikiranku dengan Hiromichi-kun dan Shigure.

“…”

Shigure pasti masih tinggal di rumah itu.

Apakah mereka sudah saling bertemu?

Jika mereka sudah bertemu, Hiromichi-kun mungkin sudah memberitahunya—

Bahwa dia telah mengakhiri semuanya denganku.

Dengan begitu, tidak ada lagi yang bisa menghentikan mereka berdua.

Mereka bisa berjalan ke sekolah bersama setiap hari, duduk di ruang kelas yang sama, dan pulang ke rumah yang sama.

Dalam rutinitas harian itu… aku sama sekali tidak ada di sana.

Tidak akan ada lagi momen menunggu Hiromichi-kun di perpustakaan setelah kegiatan klubku selesai.

Tidak ada lagi makan ramen bersama di dalam perjalanan pulang.

Tidak ada lagi kencan di akhir pekan, tidak ada lagi ciuman.

Sama seperti para siswa yang bahkan tidak melirikku saat mereka lewat, sama seperti Hiromichi-kun, yang tidak pernah sekalipun menoleh ke belakang saat berjalan pergi—

Aku tidak akan ada lagi di dalam pandangan mereka.

“ah…”

Rasanya kekuatan di kedua kakiku telah menghilang sepenuhnya, seolah separuh bagian bawah tubuhku telah lenyap.

Aku ambruk ke jalanan, tidak mampu mengumpulkan niat untuk berdiri.

Semuanya yang bangkit di dalam diriku hanyalah rasa penyesalan.

Karena kenyataannya, aku sama sekali belum bisa menerima semua ini.

Aku mengerti ini adalah hasil dari tindakanku sendiri, akhir yang seharusnya memang terjadi.

Namun tetap saja—

“Rasanya begitu sepi…!”

Memahaminya bukan berarti aku bisa menerimanya. Aku tidak sanggup menghadapinya.

Kesepian, rasa sakit, kesedihan—ini semua sungguh tak tertahankan.

Kenangan tentang Hiromichi-kun, kepingan-kepingan hancur dari cinta pertamaku, terkubur di dalam hatiku, menusukku hingga berdarah.

Apakah kenangan menyakitkan ini benar-benar akan menjadi harta karun suatu hari nanti?

Aku tidak bisa mempercayainya. Sama sekali tidak.

Kenapa aku malah meminta kejujuran?

Aku sudah tahu semuanya akan berakhir seperti ini.

Hiromichi-kun tidak akan membohongiku dengan kata-kata manis lagi.

Mulai esok hari, aku akan hidup sendirian.

Hiromichi-kun, yang dulunya berada di sisiku, kini akan bersama Shigure.

Aku hanya bisa memandangi mereka dari kejauhan, tidak mampu melangkah masuk ke dalam dunia mereka.

Saat karyawisata sekolah, di tahun ketiga kita, di universitas, dan bahkan setelah itu—

Kapan pun aku melihat mereka secara tidak sengaja, aku akan memasang senyum palsu dan mengucapkan selamat kepada mereka.

Itulah hari esok yang menantiku. Dan hal itu akan terus berlanjut, terus dan terus, sepanjang sisa hidupku.

Aku bisa membayangkannya dengan begitu jelas.

Dan pada pemikiran itu… aku tertawa.

Sebenarnya untuk apa semua omongan tentang melangkah menuju hari esok yang baru itu?

Nilai apa yang dimiliki hari esok seperti itu bagiku?

Tidak ada sama sekali.

Satu-satunya hal yang memiliki arti bagiku sekarang… hanyalah masa lalu.

Ya, benar sekali. Masa lalu adalah satu-satunya yang tersisa untukku.

Jika memang begitu… Hiromichi-kun… aku… aku…

“Aku tidak mau pergi ke mana-mana lagi… Hiromichi-kun…”





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close