NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 3 Chapter 2.4

Chapter 26.4


Aku memikirkan sebuah ide untuk memanfaatkan fobia Shigure terhadap laba-laba.

Hari itu, saat bekerja, aku menghabiskan banyak waktu memikirkannya, tapi ternyata itu hanya buang-buang waktu saja.

Karena aku tidak bisa mengendalikan laba-laba itu secara langsung, bagaimana aku bisa menggunakannya sebagai alat intimidasi?

Meskipun mungkin ada beberapa toko yang menjual laba-laba, akan terlalu mencolok jika membelinya hanya untuk mengerjainya, dan yang lebih penting, aku tidak ingin memelihara laba-laba.

Lagi pula, aku sendiri tidak begitu menyukai laba-laba.

Pada akhirnya, di penghujung hari, saat aku mematikan lampu di kamarku dan berbaring di atas futon, aku kembali ke titik awal.

"... Saatnya tidur."

Saat aku membaringkan kepalaku di atas bantal, terbebani oleh terlalu banyak pikiran.

Saat itulah...

Pintu geser yang memisahkan kamarku dan kamar Shigure terbuka secara perlahan.

"Um, Onii-san, kamu sudah bangun?"

"Hmm? Ada apa?"

Aku menoleh dan melihat Shigure berdiri di balik pintu dengan pakaian tidurnya, sambil memeluk bantal.

Sangat tidak biasa baginya untuk terjaga pada jam segini, karena dia biasanya bangun lebih awal dariku untuk menyiapkan sarapan.

Ketika aku bertanya kepadanya ada apa, dia berkata,

"Um, apa boleh aku tidur di kamarmu malam ini?"

"Haaaah?"

Seharusnya aku tidak mengucapkannya. Hari sudah larut malam namun aku malah meninggikan suaraku begitu keras.

Para tetangga mungkin akan mengeluh besok, tapi mau bagaimana lagi karena apa yang dia katakan sangat tidak masuk akal.

... Oh, tidak mungkin, apakah ini ancaman lainnya?

Dia memaksaku mengatakan cinta, menciumku, dan sekarang dia ingin tidur bersamaku! Pada titik ini, aku sudah bisa membayangkan apa ancaman berikutnya.

Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.

Shigure, apakah kamu benar-benar mengabaikan perasaanku dan perasaan Haruka demi mendorongku sampai ke titik di mana aku tidak bisa kembali lagi?

Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu! Seberapa pun besar kamu menggodaku, pasti ada batasnya...




"Aku tidak bisa tenang kalau membayangkan laba-labar itu masuk lagi."

B-begitu saja?

Aku merasa terkejut, bertanya-tanya mengapa aku sempat berpikir untuk berbuat tidak masuk akal seperti itu.

Mengingat kamar kita sebenarnya hanya dipisahkan oleh satu pintu geser saja, tidak masalah jika dia ingin tidur di sini... tapi tunggu dulu?

Tunggu sebentar. Bukankah ini bisa menjadi kesempatan bagus untukku?

Aku sempat membuang ide itu tadi karena mengiranya tidak berguna, tapi ini mungkin kesempatan bagiku untuk menggunakan laba-laba tersebut sebagai alat tawar-menawar agar dia menghentikan aksi intimidasinya.

Jika dia ingin tidur di sini, aku bisa balik mengancamnya dan menyuruhnya berhenti memeras.

Cara itu pasti akan berhasil.

Aku bisa mengetahuinya hanya dengan melihat ekspresi wajahnya yang menyerupai anak anjing terlantar sambil memeluk bantal.

Jika aku tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku mungkin tidak akan pernah membayangkan kalau Shigure yang biasanya selalu terlihat tanpa rasa takut bisa memasang ekspresi seperti itu.

Dia benar-benar sangat membenci laba-laba.

Itu adalah pemandangan yang sama sekali tidak cocok untuknya. Jika aku menekan posisinya sekarang, kemungkinan besar dia akan menuruti permintaanku. Ini adalah kesempatan yang sangat langka. Ya, benar sekali. Meskipun begitu... Ah, terserahlah.

"... Aku tidak mau berbagi futon. Ambil saja futonmu sendiri."

"Terima kasih banyak~"

Dengan senyuman yang jauh lebih cerah daripada rembulan, Shigure bergegas bangkit untuk mengambil futon miliknya.

Sambil melepas kepergiannya, aku menghela napas lega.

Kamu benar-benar orang yang bodoh, kawan.

Sementara aku sibuk meratapi diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Shigure menyeret futonnya tepat ke sebelah futon-ku dan merebahkan diri di atasnya.

"Ha~ Ada banyak sekali masalah dengan atap rumah ini, seperti banyaknya serangga, kebocoran, angin dari celah-celah, dan atapnya menyerap panas begitu kuat hingga terasa sangat gerah di siang hari. Lantai dua apartemen kayu ini benar-benar rapuh."

"Tapi rumah yang dulu kalian tinggali juga menggunakan pemanas air dengan ketel samping (balance boiler), kan? Bukankah situasinya sama saja?"

"Kami tinggal di bangunan beton bertulang UR. Lagi pula, kami berada di lantai lima, jadi tidak banyak serangga atau hal semacam itu yang masuk."

"Begitu ya. Yah, Laba-laba Pemburu tidak akan mendekati manusia atas kemauan mereka sendiri, jadi kita berdua akan baik-baik saja."

"Entahlah. Aku tidak bertanya langsung kepada laba-laba itu, jadi kurasa informasi ini tidak bisa diandalkan. Onii-san, apa kamu pernah pergi berlibur ke pantai saat SMP dulu?"

"Oh, ya. Aku pernah."

Kami menghabiskan malam di sebuah hotel dekat pantai dan melakukan kegiatan kano.

"Jadi suatu ketika, kami harus menginap di sebuah penginapan bobrok di pedesaan, dan keesokan paginya saat aku terbangun, aku mendapati seekor laba-laba besar persis seperti tadi, sedang merayap di atas wajahku."

"Uwa..."

"Aku masih bisa merasakan bulu kakinya di pipiku. Itulah sebabnya aku tidak tahan dengan laba-laba."

"Yah, kamu pasti mengalami pengalaman yang sangat menakutkan, pantas saja kamu benci laba-laba. Tapi kamu tidak akan bisa tidur jika terus memikirkannya. Lupakan saja dan tidurlah, aku akan berada di sini bersamamu."

Jujur saja, tidur berdampingan dengan seorang gadis, meskipun di atas futon yang berbeda, membuatku merasa gugup. Tapi karena ini Shigure, aku yakin tidak akan sulit untuk memejamkan mata.

Setiap malam kita tidur dibatasi oleh pintu geser murah yang bahkan tidak memiliki kunci pengaman. Begitu aku memejamkan mata, aku bahkan tidak akan bisa melihat wajahnya.

Dengan pikiran tersebut, aku mengalihkan pandanganku dari Shigure dan membalikkan badan.

Namun tiba-tiba, Shigure mencolek punggungku dengan jarinya.

"Ada apa...? Apa ada yang salah?"

"Umm, bolehkah aku memegang tanganmu?"

"Untuk apa?"

Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan dengan tanganku?

Sambil berbalik menghadap Shigure, aku mengeluarkan tangan kananku dari balik selimut.

Dia kemudian meraih tanganku, menyelipkan jemarinya di sela-sela jariku.

"A-apa yang kamu lakukan...?"

"... Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir kalau Nee-san tidak akan pernah membayangkan Onii-san sedang berpegangan tangan dengan adiknya di kamar yang sama pada larut malam seperti ini."

"Kamu ini, mulai lagi... Aku tidak mau tidur denganmu kalau kamu terus bersikap begitu."

"Bukankah seharusnya kamu merasa senang? Maksudku, kamu bisa menggunakan kejadian ini sebagai alat tawar-menawar."

"...!"

Dia menatap tajam ke dalam mataku dengan tatapan menyelidik.

Rupanya, dia tahu kalau aku sempat berpikir untuk mencoba menghentikan ancamannya.

Dia benar-benar memiliki mata yang tajam.

Yah... ya, aku punya firasat kalau melakukan hal ini pasti akan membuatku menyesal.

Tapi aku tidak bisa melakukannya, karena dia tadi benar-benar... ketakutan.

Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika aku mengancamnya lalu dia memutuskan untuk pergi?

Maka kemungkinan besar seperti pagi tadi, dia akan meringkuk ketakutan seperti itu.

Entah bagaimana caranya, aku sangat tidak menyukai hal itu.

Memang benar bahwa Shigure sedang mengancamku.

Tetapi akulah yang memanfaatkan dirinya demi kepentinganku sendiri dan menginginkannya agar merahasiakan hal ini dari Haruka.

Aku rasa dia, yang sedang mengancamku ini, juga memiliki kepribadian yang buruk, tetapi akar dari semua keburukan itu adalah diriku sendiri.

Jika aku memaksakan kehendak egois-ku pada adikku dengan memanfaatkan ketakutannya, aku tidak akan sanggup lagi menatap wajahnya, itu akan sangat memalukan. Oleh karena itu,

"Aku tidak bisa memikirkan apa pun. Aku menyesalinya."

"... Kalau kamu berkata seperti itu."

Dan kemudian, Chuu~ aku merasakan sentuhan basah di jemariku.

Itu adalah bibir Shigure.

Saat aku masih terkejut, Shigure tersenyum miring dan berkata,

"Asal tahu saja, alasan kenapa aku menyukaimu, alasan kenapa aku menciummu, alasan kenapa aku mengancammu, semuanya adalah karena dirimu, Onii-san! Bukan salahku kalau kamu tidak pernah membiarkanku membencimu. Dan kamu sudah menyadari hal itu."

"..."

Dia kemudian menatapku seolah-olah sedang mengamati sebuah harta karun yang sangat berharga.

Matanya yang basah tidak berusaha menyembunyikan rasa cintanya padaku.

Aku memalingkan wajah dan memejamkan mata rapat-rapat.

Aku merasa seolah-olah hampir tenggelam dalam luberan rasa cinta yang terpancar dari matanya.

Sambil terus berpikir, aku tidak lama kemudian mendengar suara napasnya yang teratur.

Aku mengintip ke samping dan melihat bahwa dia telah tertidur sambil menggenggam tanganku.

Wajahnya terlihat begitu damai. Aku tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya biasanya saat tidur, tapi sepertinya dia tidak sedang mengalami mimpi buruk.

Syukurlah. Jika tidak, tidur di kamar yang sama sama sekali tidak ada artinya.

---Pokoknya.

"... Tangan yang sangat kecil."

Aku balas menggenggam tangannya dengan lembut dan merenungkan perkataan Shigure tentang bagaimana ini semua adalah salahku karena tidak membiarkannya membenciku.

Aku bertanya-tanya apakah aku bisa menyelesaikan banyak masalah jika aku menepis tangan kecil ini dengan kasar.

Tetapi... dengan tangan-tangan inilah, dia memasakkan makanan lezat untukku setiap hari.

Dengan tangan-tangan inilah, dia memelukku ketika aku berada dalam kepedihan yang begitu mendalam hingga aku tidak sanggup menanggungnya lagi.

Tidak mungkin aku bisa memperlakukannya dengan kasar.

Namun...

Jika aku benar-benar mencintai Haruka, apakah suatu saat nanti aku harus melakukan hal itu?

"..."

Shigure benar, Haruka, yang mungkin sedang tidur lelap sekarang, bahkan tidak akan pernah memimpikan situasi seperti ini.

Aku tidak menyangka Shigure bisa tertidur di sini sambil menggenggam tanganku.

Seiring berjalannya hari, semakin banyak rahasia yang tidak bisa kukatakan kepada Haruka.

Waktu terbaik untuk menceritakan tentang kita kepada Haruka adalah tahun depan ketika orang tua kami pulang ke rumah.

Tetapi, berapa banyak rahasia yang akan menumpuk pada saat itu tiba?

Di tengah helaan napas penuh kecemasan, aku mendengar suara notifikasi LINE dari ponselku yang sedang diisi daya di sebelah tempat tidur.

Siapa yang mengirim pesan pada jam segini?

Aku mengulurkan tangan bebasku untuk meraih ponsel dan melihat notifikasi tersebut.

Haruka: "Um, Hiromichi-kun. Bolehkah aku pergi ke rumahmu akhir pekan ini?"

Seketika itu juga, aku lupa cara bernapas.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close