Chapter 21
Riak × Tengah Malam
Setelah puas bermain di pantai pada siang hari,
kesenangan masih tersisa lebih dari separuhnya.
Lagipula, hari ini kami melakukan rekreasi dengan
menginap.
Untuk makan malam, kami mengadakan barbekyu sesuai
dengan permintaan Haruka.
Tentu saja, gaya barbekyu meriah yang menusuk daging
dan sayuran dengan tusukan besi lalu memanggangnya di atas kompor panggangan.
Aku yang bertugas memimpin acara memasaknya.
Sama seperti saat merakit tenda, aku sudah terbiasa
karena saat kecil dulu ayahku lumayan sering mengajakku berkemah.
Di tengah-tengah, Shigure sempat mengusulkan,
"Bukankah lebih gampang dimakan kalau kita memotongnya lebih kecil dan
memanggangnya seperti yakiniku?". Namun, tentu saja bukan begitu
esensinya.
Kami semua mengunyah daging berbau asap yang dibumbui
secara kasar dengan saus, garam, dan rempah-rempah sampai mulut berlepotan
cairan daging.
Aku bersikeras bahwa keseluruhan pengalaman inilah
yang disebut barbekyu, lalu memaksa untuk melanjutkannya.
Barbekyu yang dibuat dengan filosofi warisan ayahku
itu sangat populer di kalangan semuanya.
Para cowok rakus itu sudah pasti menyukainya, bahkan
Kak Torako yang biasanya jarang memujiku pun ikut memberikan pujian.
Haruka juga terlihat senang dengan area sekitar
mulutnya yang mengkilap akibat sisa makanan.
Yang terpenting, Shigure sampai bergumam, "Ini
pengalaman baru, ya".
Hal itu membuatku sangat senang karena aku sangat
mengetahui kemampuan memasaknya.
Setelah perut kenyang dengan barbekyu, rasa lelah
akibat kegiatan di siang hari berubah menjadi kantuk yang tiba-tiba menyerang.
Kurasa semuanya juga merasakan hal yang sama.
Sejak saat itu, kami semua jadi tidak terlalu banyak
bergerak.
Kami hanya mengobrol santai, mendengarkan cerita dari
Kak Torako tentang seperti apa kehidupan di universitas, dan saling menunjukkan
video lucu di ponsel.
Namun, obrolan kami perlahan semakin berkurang.
Setelah Takeshi mulai tertidur sambil duduk, kami
akhirnya memutuskan untuk tidur secara terpisah di tenda pria dan wanita.
──Akan tetapi, aku tidak boleh kalah oleh rasa kantuk.
Bagaimana tidak, bagiku perkemahan ini baru akan benar-benar dimulai dari
sekarang.
Tengah malam pukul 12, saat semua orang dan para
pengunjung kemah di sekitar kami telah tertidur lelap.
Sembari menyamarkan gerakanku di balik suara dengkuran
Takeshi yang seperti auman sapi, aku diam-diam keluar dari tenda.
Di luar, Haruka sudah menungguku.
"Ehehe. Ketemu lagi."
"Apa kamu menunggu lama?"
"Nggak, kok. Aku juga baru aja keluar."
Setelah berkata begitu, Haruka menengadah menatap
langit.
"Luar biasa, ya. Nggak nyangka bakal bisa
ngelihat bintang sebanyak ini. ...Cantik banget."
"Iya, ya. Mungkin karena sebagian besar lampu
lampion pengunjung lain juga udah pada mati. Galaksi Bima Sakti jadi kelihatan
lebih jelas dari yang tadi."
"Itu bintang Altair, ya? Mungkin ini pertama
kalinya aku ngelihat bintang sebanyak ini."
"Mumpung udah sampai sini, mau nggak kita jalan
lebih dekat ke laut? Siang tadi aku nemuin tempat yang bagus, lho."
"Setuju. Ayo, ayo."
Meskipun sudah bermain seharian, Haruka menggenggam
tanganku dengan penuh semangat seolah-olah ia masih memiliki banyak energi.
Pantas saja ia merupakan anggota klub teater yang
praktis sudah seperti klub olahraga.
"...Ngomong-ngomong, berjalan sambil berpegangan
tangan kayak gini udah jadi hal yang biasa, ya. Padahal belum lama ini kita
berdua canggung banget."
"Yah... kita ini kan sepasang kekasih. Kalau cuma
pegangan tangan aja bisa bikin deg-degan, jantungku nggak bakalan kuat,
deh."
Setelah berkata begitu, aku menarik tangan Haruka yang
sedang kugenggam dan berjalan menuju tanggul di dekat sana.
Karena area ini adalah tempat pemandian laut, tentu
saja kegiatan memancing dilarang.
Makanya, daerah sekitar tanggul tidak mungkin dipenuhi
oleh orang-orang yang memancing di malam hari.
Di sana, kami pasti bisa meluangkan waktu berdua saja
sambil menatap bintang dengan tenang.
Setidaknya begitu pikirku, tapi saat aku mendekati
tanggul yang kutuju, aku mendengar suara orang yang sedang berbicara.
Begitu kulihat, terdapat dua sosok bayangan di ujung
tanggul yang duduk berdampingan sembari membelakangi kami.
"Waduh. Udah ada orang duluan, ya."
"Eh? Tapi suara ini kan...."
Mendengar reaksi Haruka, aku pun menyadarinya.
Tentu saja aku mengenali suara ini.
Aku mempertajam pandanganku.
Lautan biru yang bersinar karena menyerap cahaya
bintang.
Dua siluet punggung yang tampak jelas membelah
pemandangan itu adalah Tomoe dan Kak Torako.
Begitu, ya. Ternyata mereka berdua juga memiliki
pemikiran yang sama denganku. Aku sudah kalah cepat.
Di saat aku merasa kesal di dalam hati, arah angin
sepertinya berubah, sehingga suara percakapan mereka terdengar dengan jelas.
"Torako. Kerja bagus hari ini."
"Oh. Anak-anak zaman sekarang energinya nggak
habis-habis ya biarpun udah larut malam."
"Ngomong apaan, sih. Padahal umur kita juga cuma
beda dua tahun."
"Tapi nggak nyangka ya si Hiromichi bisa dapet
pacar semanis itu. Hebat juga dia bisa menggaet cewek kayak gitu."
"Katanya sih mereka temen sekelas pas SD, ya?
Walaupun orangnya sendiri kayaknya udah lupa."
"Waktu dia tiba-tiba minta tolong padaku buat
jadi supir acara kemah, aku sempet nggak percaya, lho. Soalnya ini pertama
kalinya dia minta tolong padaku."
"Hiro itu tipe orang yang bikin batasan nggak
penting dalam hal mengandalkan orang lain, sih. Padahal kan kita teman, nggak
apa-apa lho kalau dia mau lebih santai."
"Si Hiromichi yang suka sungkanan dan terlalu
banyak pertimbangan itu rupanya bisa berubah jadi cowok berani kalau demi
cewek, ya. Untung aja dia bukan cowok loyo."
"Tentu saja dia bakal berusaha keras kalau demi
pacar semanis itu, kan?"
Ukh, rasanya cukup memalukan menjadi bahan pembicaraan
di tempat yang tidak ada diriku.
Aku tidak tahu serangan nyasar apa lagi yang akan
terlontar, jadi lebih baik aku segera menjauh dari sini.
Aku baru saja akan menarik tangan Haruka, tetapi
tiba-tiba nada suara Kak Torako berubah.
"...Manis, ya. Tomoe juga pasti lebih suka cewek
yang bener-bener kayak cewek gitu, kan?"
"Jangan-jangan, kamu lagi mbandingin dirimu
sendiri sama Haruka-chan?"
"Habisnya... aku kan, bisa dibilang nggak ada
hubungannya sama hal-hal manis kayak gitu, atau lebih tepatnya aku ini emang
biasa aja dan nggak cantik...."
"...Yah, emang sih Torako itu nggak manis."
"Kh──"
"Torako yang ngomong hal bodoh kayak gitu emang
nggak manis. Makanya aku yang harus bikin kamu jadi manis."
"...Nnh."
Tepat setelah itu, bayangan wajah mereka berdua yang
tersinari cahaya bulan saling tumpang tindih.
Mereka berciuman.
Tomoe memegang rahang Kak Torako dengan jarinya dan
melumat bibirnya.
Gerakannya yang begitu lihai membuatku tanpa sadar
menahan napas.
Hebat sekali.... Padahal aku ini belum bisa memintanya
untuk berciuman kalau tidak menyiapkan acara seperti ini.
"Apa aku udah sedikit lebih manis?"
"...Aku masih ngerasa cemas, jadi... aku mau
ciuman lagi."
Ciuman mereka berdua terus berlanjut.
Awalnya hanya sekadar menempelkan bibir, tetapi
perlahan berubah menjadi ciuman agresif yang saling menekan.
Setelah itu, perlahan berlanjut pada sentuhan fisik di
mana mereka saling membelai tubuh satu sama lain, hingga bayangan mereka berdua
terlihat seakan menyatu──
"K-K-Karena kelihatannya mereka lagi sibuk, kita
pergi ke tempat lain aja, yuk!"
"I-Iya! Ayo! Kita pergi sekarang juga!"
Karena merasa sangat malu, aku dan Haruka melarikan
diri dari sana dengan wajah memerah.
× × ×
Kami lari ke arah yang berlawanan dari laut,
menyeberangi jalan raya pesisir teluk menuju sebuah area peristirahatan kecil
yang dilengkapi dengan bangku lapuk dan mesin penjual otomatis.
"A-Ahaha. Walaupun itu urusan orang lain, entah
kenapa aku masih ngerasa deg-degan."
"Aku ngerti banget...."
Entah bagaimana menjelaskannya, jika dilihat dari
luar, ternyata interaksi antar pacar bisa jadi seliar itu, ya.
Mencium bagian tengkuk atau membelai sembari merangkul
pinggang.
Pantas saja mereka dibilang pasangan berpengalaman,
sangat berbeda dengan kami yang masih pemula.
"Tapi emang bener ya, orang dewasa itu luar
biasa. Mereka bisa ciuman dengan jago banget kayak gitu. Bikin iri, deh."
Apakah itu berarti Haruka juga menginginkan ciuman
yang terlihat erotis semacam itu?
Aku sempat berdebar sesaat, tetapi ternyata bukan itu
maksudnya.
Haruka bergumam dengan ekspresi wajah yang sedikit
merasa bersalah.
"Semenjak kencan waktu itu, kita udah nggak
pernah ciuman lagi, kan? Padahal aku pengin banget ciuman lagi sama
Hiromichi-kun... tapi aku takut buat ngomongnya."
"Takut?"
"...Padahal belum lama ini, kita bahkan kesusahan
banget cuma buat pegangan tangan, kan? Tapi sekarang hal itu juga udah jadi
biasa aja. Hiromichi-kun juga udah nggak deg-degan sama sekali, kan? Pas ciuman
emang rasanya deg-degan banget sampai dada kerasa sakit, dan aku seneng banget,
tapi aku takut suatu saat deg-degan ini juga bakal jadi hal yang biasa dan
perasaan berdebar sebagai kekasih bakalan perlahan hilang... dan aku jadi cemas
kalau Hiromichi-kun bakalan bosan denganku. Makanya... aku nggak berani
bilang."
...Aku sama sekali tidak tahu. Ternyata Haruka
memikirkan hal semacam itu.
Artinya, bukan ciuman kedua orang itu yang membuat
Haruka merasa iri, melainkan hubungan mereka yang bisa saling menuntut secara
terang-terangan tanpa perlu merasakan kecemasan semacam itu.
...Astaga. Aku merasakan kemarahan yang luar biasa
pada diriku sendiri di dalam dadaku.
Bagaimana tidak, aku ini sangat menyedihkan karena
membuat kekasihku merasa cemas dan berpikir 'dia mungkin bakal bosan denganku'.
"...Maaf."
"Kenapa Hiromichi-kun yang minta maaf?"
"Soalnya kan gara-gara aku, Haruka jadi ngerasa
cemas kayak gitu."
"B-Bukan, kok. Ini semua karena aku nggak pede
sama diriku sendiri... jadi aku yang seharusnya minta maaf karena nggak berani
ngomong dari awal──"
Bukan begitu. Seandainya aku bisa menunjukkan secara
terang-terangan dan terus-menerus melalui sikapku bahwa aku sangat menyukai
Haruka, ia pasti tidak akan merasakan kecemasan seperti ini.
Hanya saja, ada satu kesalahpahaman Haruka yang ingin
kuluruskan. Hal itu harus segera diluruskan.
Karena itulah aku menggenggam erat tangan Haruka yang
sedang duduk di sampingku, lalu berkata kepadanya.
"...Hanya saja, Haruka. Ada satu hal yang kuminta
jangan sampai kamu salah paham. Memang benar, aku udah nggak ngerasa deg-degan
lagi kayak dulu saat kita berpegangan tangan atau pas manggil namamu secara
langsung, tapi... aku sama sekali nggak nganggap hal itu sebagai rasa
'bosan'."
Tidak pernah terlintas sekalipun pemikiran semacam
itu.
"Memanggil namamu. Menyentuhmu seperti ini. Semua
itu berubah dari sebuah debaran yang istimewa... menjadi sebuah 'kebahagiaan'
yang sudah sewajarnya kudapatkan. Aku sangat bahagia akan hal itu, soalnya...
aku merasa hal itulah yang disebut dengan 'ikatan'. Semua itu adalah bukti
terbentuknya 'ikatan' berharga yang tak tergantikan antara diriku dan
Haruka."
"...!"
"Makanya aku──ingin mengubah ciumanku bersamamu,
menjadi 'kebahagiaan' semacam itu juga."
Bila saat itu tiba, kami pasti akan terikat oleh
ikatan yang jauh lebih kuat dari saat ini.
Jika sudah begitu, aku pasti bisa membicarakannya
tanpa perlu menunggu orang tuaku kembali.
Sebuah rahasia yang tidak bisa kukatakan kepada
Haruka. Termasuk soal hubunganku dengan Shigure.
Untuk itulah,
"Boleh aku menciummu?"
"...Iya. Aku juga pengin dicium sama
Hiromichi-kun."
Haruka menanggapi permintaanku dengan sedikit rasa
malu namun sambil tersenyum.
Tidak ada pantulan bulan maupun bintang di sepasang
matanya yang bersinar basah, melainkan hanya sosokku seorang yang terpantul di
sana.
Sepasang mata itu pun tertutup perlahan, dan bibirnya
sedikit menguncup seolah sedang menggodaku. Jantungku kembali berdebar dengan
kencang.
Muncul sebuah dorongan yang mirip dengan rasa lapar;
aku ingin segera menerjang bibir Haruka yang selama ini ingin kusentuh.
Namun, aku menahan dorongan tersebut dan dengan lembut
menyatukan bibir kami agar tidak mengejutkannya.
"Nnh...."
Pada saat itu juga, aku teringat akan semuanya.
Perasaan haru di hari itu yang sempat kulupakan akibat ciuman dari Shigure.
Aroma ini, kelembutan ini, kehangatan ini,
dan──ketegangan Haruka yang tersalurkan melalui bibir kami. Aku tahu semuanya.
Aku mengingat semuanya. Aku sangat menyukai semuanya.
"Ternyata emang deg-degan banget. Sampai dada
rasanya sakit...."
Begitu aku melepaskan bibirku, Haruka mengatakan hal
itu sembari memegangi dadanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku memahaminya. Karena saat bibir kami bersentuhan,
aku juga bisa merasakan detak jantung Haruka.
Namun ketika aku bertanya, "Apa kamu
kesakitan?", Haruka menggelengkan kepalanya pelan.
"Karena aku juga pengin ngejadiin debaran ini
sebagai 'kebahagiaan' yang udah sewajarnya, boleh nggak kali ini aku yang nyium
duluan?"
"...Iya. Aku juga pengin dicium sama
Haruka."
Setelah aku memintanya, kali ini giliran Haruka yang
menempelkan bibirnya ke bibirku.
Ciuman itu bukanlah ciuman penuh gairah yang
meluluhkan akal sehat seperti milik Shigure.
Ia mengecupku perlahan, sedikit demi sedikit mulai
masuk lebih dalam dan lebih lama──sebuah ciuman berhati-hati yang berusaha
menghapus jarak di antara kami. Malu. Takut. Namun, ingin mendekat.
Perasaan dan isi hati Haruka yang tersalurkan lewat
perilakunya ini terasa begitu menggemaskan.
"Aku menyukaimu, Haruka."
"...!"
Seolah-olah memotong ciumannya, kali ini aku kembali
meminta ciuman padanya. Ciuman yang lebih dalam dan lebih lama dibandingkan
ciuman pertamaku, maupun ciuman yang ia berikan.
"Aku sangat menyukaimu."
Rasa kasih sayangku padanya meluap-luap bagai
bendungan yang jebol.
Setiap kali mengambil napas, aku menyuarakan rasa
cinta yang terus-menerus muncul dalam hatiku.
Bagaimana tidak, jika aku tidak mengutarakannya lewat
kata-kata, aku merasa akan mati lemas karena perasaan yang meluap-luap ini.
Akan tetapi, ah akan tetapi, semakin banyak kata yang
kuucapkan, rasanya semakin menyesakkan.
Kenapa jumlah kata yang bisa digunakan untuk
menyampaikan perasaan cinta hanya sedikit?
Rasanya sama sekali tidak cukup untuk mengutarakan
semua perasaan yang meluap di dalam dadaku ini.
Aku ingin menyampaikannya lebih banyak lagi.
Aku ingin dia lebih memahaminya.
Aku ingin menyampaikan betapa besarnya perasaanku
kepada gadis yang berada di dekapanku ini.
Apa yang harus kulakukan?
Saat aku mencari jawabannya, tubuhku memberikan
responnya secara alami.
"Nnh, ...!"
Aku memindahkan tanganku dari bahu kecil Haruka,
menyusuri punggung hingga ke tengkuknya.
Membelainya secara perlahan lalu memeluknya.
Sama seperti yang dilakukan Tomoe dan Kak Torako tadi.
Saat itu, barulah aku menyadarinya.
Awalnya aku mengira menyentuh tubuh lawan jenis itu
selalu disertai dengan niat terselubung, tapi ternyata bukan seperti itu.
Aku hanya merasa bahwa sentuhan itu harus dilakukan
demi menyampaikan rasa cinta yang tak bisa diucapkan melalui kata-kata.
Namun kalau dipikir-pikir lagi, hal itu mungkin memang
sewajarnya terjadi.
Karena sejak peradabannya dimulai, manusia tidak
langsung memiliki bahasa seperti sekarang ini.
Tentunya ini merupakan mekanisme biologis yang
tertanam di dalam darah.
Karena itulah aku menuruti dorongan murni tersebut.
Aku menggerakkan tanganku ke tubuhnya untuk mencari kehangatan Haruka.
Di punggungnya, pinggangnya, payudaranya──aku ingin
menyentuh seluruh bagian tubuh orang yang berharga bagiku; aku menekankan
bibirku dengan kuat dan menjulurkan lidahku.
Masih belum. Ini masih belum cukup.
Aku masih ingin lebih.
Aku masih ingin menyampaikannya.
Semua ini demi mengekspresikan perasaan meluap di
dalam dadaku yang sama sekali tidak bisa disampaikan hanya dengan kata-kata
belaka.
Lebih dekat, lebih dalam ────Akan tetapi,
"Kh~~~~~~~, jangan!!!!"
Sedetik kemudian, Haruka mendorongku dengan kuat.
× × ×
"Haru, ka?"
"...Barusan, apa-apaan?"
Haruka yang baru saja mendorongku, menatapku dengan
raut wajah tidak percaya.
Menatap wajahnya itu, aku bisa merasakan aliran
darahku membeku.
"Barusan, kamu masukin... lidah, terus kamu juga
nyentuh... payudaraku...."
"M-Maaf. Apa kamu nggak suka?"
Keringat dingin bercucuran setelah aku menerima
penolakan mendadak yang begitu kuat untuk pertama kalinya.
Kulihat, kini tidak ada lagi kasih sayang di sepasang
mata Haruka yang sebelumnya terlihat begitu menggemaskan.
Perasaan yang terlihat sebagai gantinya adalah... rasa
takut.
"Maaf banget! Tadi aku kelewat nafsu! Pas ciuman
sama kamu, rasa cintaku meluap-luap, dan waktu aku mikir pengin nyampein
perasaan itu sekeras mungkin, tanpa sadar aku udah nggak bisa menahannya
lagi...! Apalagi, tadi Tomoe juga ngelakuinnya, makanya aku...."
"Bukan kayak gitu.... Perilaku barusan itu
namanya bukan rasa 'suka'."
"...Eh?"
Haruka memeluk dirinya sendiri seolah sedang
melindungi tubuhnya.
"Soalnya, cara nyentuh sama ciuman pakai lidah yang kayak tadi itu, ciuman yang dilakuin pas mau berhubungan intim, tahu? Kak Torako emang udah mahasiswi, tapi kita ini kan berdua masih anak SMA, makanya kita nggak boleh berhubungan intim, kan? Tapi kenapa hal kayak gitu...."
"Tunggu dulu! Bukan begitu maksudku! Aku cuma
pengin ciuman sambil memelukmu, dan aku... sama sekali nggak kepikiran buat
berhubungan intim!"
"...Tadi kamu bilang nggak bisa menahan
perasaanmu, tapi apa kamu berani jamin... kalau kamu terus-terusan nyium dan
nyentuh aku kayak gitu, kamu nggak bakalan kepengin berhubungan intim?"
I, itu...,
Aku kehabisan kata-kata saat ditatap oleh mata Haruka
yang berkaca-kaca menahan air mata.
Karena, mana mungkin aku berani menjamin hal tersebut.
"Padahal aku mikirnya Hiromichi-kun bakalan bisa
ngertiin hal itu."
"Haruka...."
Aku mengulurkan tanganku ke arah Haruka yang sedang
gemetaran.
Namun, sebelum tanganku sempat menyentuh bahunya,
Haruka berdiri dari bangku seakan menolak sentuhan dariku.
"Maaf. Hari ini, aku pulang duluan, ya."
Lalu, ia lari terbirit-birit layaknya sedang melarikan
diri dariku.
Bukan layaknya. Haruka memang benar-benar melarikan
diri.
Dariku.
Ia melarikan diri dariku.
Kenyataan itu membuatku hancur, hingga aku bahkan tak
bisa memanggil sosok punggungnya yang semakin menjauh.
× × ×
...Entah sudah berapa lama waktu berlalu semenjak saat
itu.
Aku hanya terduduk di bangku itu tanpa bisa bergerak.
Aku terus menengadah ke langit sembari bersandar di
bangku seperti boneka yang dibuang.
Entah sejak kapan lautan bintang yang sebelumnya
terlihat begitu jelas kini mulai tertutupi oleh tirai hitam.
Cahaya bintang meredup, dan kegelapan malam semakin
pekat dan membebani.
Aku merasa hal itu sama persis dengan hatiku saat ini.
'Padahal aku mikirnya Hiromichi-kun bakalan bisa
ngertiin hal itu.'
Kata-kata perpisahan Haruka terngiang di kepalaku.
Sebuah nada suara yang diiringi kekecewaan, kesedihan,
dan ketakutan.
...Apa yang baru saja kulakukan. Aku telah membuat
kesalahan.
Tidak, ini bukan hanya sekadar kesalahan biasa.
Aku sangat tahu kalau Haruka itu cewek pemalu dan
lugu, tapi aku malah memaksakan keinginanku padanya.
Aku ingin merasa lebih terhubung dengan Haruka. Aku
ingin membentuk ikatan dengannya.
Secepat mungkin. Aku melampiaskan kecemasan akibat
ketidakmampuanku kepada Haruka dan membuatnya ketakutan.
"Dasar bodoh banget sih, aku..."
Hanya karena Haruka mau menerima ciumanku, aku jadi
besar kepala dan mendesak Haruka hanya demi memuaskan hasrat yang bergejolak di
dalam diriku.
...Aku memang cowok brengsek. Ini sama saja dengan
para cowok yang menggoda Haruka siang tadi.
Kalau aku dianggap sama dengan mereka, aku tidak bisa
protes.
Memang benar..., tapi,
'Rasa "suka" itu bukan kayak gitu.'
Bukan, bukan, bukan begitu.
Memang benar kalau aku mungkin terlalu terburu-buru.
Sejak insiden dengan Shigure waktu itu, aku
terus-menerus memikirkan ingin berciuman dengan Haruka, demi itu aku menyusun
rencana kemah, dan ketika semuanya berjalan lancar dan aku benar-benar bisa
menciumnya, aku memang jadi sangat bersemangat.
Namun, semangatku itu murni karena rasa sayangku pada
Haruka.
Aku tidak seperti pria-pria hidung belang tadi siang
yang bahkan tidak mengetahui nama Haruka dan hanya menginginkan tubuhnya.
Aku tahu banyak tentang Haruka, dan aku menyukai semua
tentangnya, karena itu... aku berpikir bahwa aku ingin menyentuhnya.
Padahal begitu, tapi──
"Eh..."
Pandanganku tiba-tiba mengabur. Air mata menggenang di
sudut mataku, lalu menetes membasahi pipiku.
Air mata apa ini. Kenapa aku menangis.
Padahal aku ini adalah pelaku yang sudah membuat
Haruka ketakutan.
...Sekalipun akal sehatku sudah menghardikku
sedemikian rupa, ada perasaan yang tak bisa kubendung.
"Uuuughh~~~~!!"
Sedih. Sedih. Sedih. Kesal...!
Perasaan egois ini merembes keluar sebagai isak
tangis.
Bagaimana tidak, aku dibilang kalau perasaan ini bukan
rasa 'suka'.
Padahal aku sangat menyukai Haruka sampai-sampai
perasaanku tak bisa diutarakan dengan kata-kata, tapi kenapa semua itu harus
ditolak, ditakuti, dan disangkal.
Memang benar, mungkin caraku menyampaikannya memang
buruk.
Mungkin benar begitu, tapi apakah sampai harus menolak
perasaanku sebegitu kerasnya... menyangkal perasaan yang meluap-luap di dalam
dadaku saat itu!?
Apakah Haruka yang berkata suka padaku, tidak pernah
merasakan gejolak perasaan yang sama sepertiku?
Jika memang begitu,
Jika memang demikian,
Jika ia memang tidak merasakannya, Apakah Haruka
benar-benar────menyukaiku?
"Kakak."
"Kh────!?"
Pada saat itulah. Dari arah Haruka melarikan diri,
terdengar suara yang sama persis dengan Haruka.
Suara langkah kaki yang menginjak tanah semakin
mendekat.
Di tengah malam dengan cahaya bintang yang meredup,
pandanganku yang buram karena air mata hanya bisa menangkap siluetnya saja.
Namun, meski tak bisa melihatnya, aku tahu siapa itu.
"Ternyata Kakak ada di sini, ya."
"Shigure...."
× × ×
"...Wajah Kakak kacau banget."
"Kenapa kamu, ada di sini...."
Padahal tempat ini sepi dan jauh dari area perkemahan
maupun laut.
"Kak Haruka pulang ke tenda sambil nangis, jadi
aku mikir mungkin ada apa-apa sama Kakak. Kakak abis berantem sama Kak Haruka,
ya?"
...Berantem.
Berantem, ya. Kalau cuma berantem biasa, dua-duanya
pasti terluka. Dua-duanya sama-sama bersalah. Seandainya memang begitu, pasti
aku bakalan sedikit merasa lega.
Aku menggelengkan kepala.
"...Kami nggak berantem, kok. Ini cuma karena
kebodohanku sendiri. Aku bener-bener bodoh. Ini semua murni salahku. Padahal
Haruka udah mau nyium aku lagi, tapi aku malah kegirangan, bertindak kelewat
batas, dasar cowok bodoh nggak ketolong...!"
"............Kakak."
"Bisa kamu percaya? Haruka yang pemalu itu, aku
membelai-belai tubuhnya, pinggangnya, pantatnya dengan cara yang kotor, bahkan
pas ciuman aku nyoba masukin lidahku. Pantes aja Haruka ketakutan...!
Kelakuanku udah persis kayak preman mesum, kan!"
Aku menceritakan semua perbuatanku pada Shigure dan
menyalahkan diriku sendiri.
Aku yang salah. Aku yang salah. Dasar cowok brengsek.
Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Ini berbeda
dengan sebuah pengakuan dosa.
Lebih tepatnya, ini mirip seperti mengecap diriku
sendiri. Mengecap bahwa aku ini adalah seorang pendosa.
Menyatakan bahwa semua ini adalah kesalahanku karena
telah membuat Haruka ketakutan.
Aku mencoba mengukir hal itu di dalam diriku, untuk
memenuhi kepalaku dengan kemarahan terhadap diriku sendiri.
Karena jika tidak begitu, ──'Pertanyaan terburuk' yang
tadi sempat muncul di kepalaku akan mulai menampakkan dirinya.
"Aku bener-bener cowok brengsek. Nggak mikirin
perasaan Haruka sama sekali! Jangan-jangan selama ini aku emang cuma pengin
ngelakuin hal kotor sama Haruka!"
"Kakak."
"Cowok kayak aku emang pantes dibenci! Cowok
brengsek kayak aku ini──"
"Kakak!!"
"Kh...!?"
Tepat pada saat itu.
Setelah membentakku dengan suara keras, Shigure
memeluk kepalaku yang sedang duduk di bangku ke dalam dekapannya.
"Sudah diam. Jangan bicara apa-apa lagi."
"Shigu──Mugh!?"
"Kan sudah kubilang jangan bicara. Sudahlah,
tarik napas dalam-dalam dulu."
Pelukannya sama sekali tidak terasa lembut.
Itu adalah sebuah pengekangan paksa yang mengandalkan
tenaga, bahkan sampai terasa sakit.
Aku menarik napas panjang, berniat untuk meneriakinya
tentang apa maksud semua ini.
Namun tiba-tiba, aroma yang menguar dari kulit Shigure
yang menempel padaku menyeruak masuk ke dalam rongga hidungku.
...Aroma ini. Ini adalah aroma yang sama dengan
Haruka.
Aroma dari kekasih tercintaku yang sejak tadi sangat
kuinginkan──
"...."
Aroma itu seketika memadamkan amarah yang membakar
diriku, amarah yang sebelumnya susah payah kukobarkan.
Saat amarah yang kubuat-buat itu menghilang, tenaga
dari tubuhku pun ikut terkuras habis.
Mungkin karena melihat keadaanku yang seperti itu,
Shigure mengendurkan pelukannya.
"...Jangan melukai diri Kakak sendiri dengan
mengucapkan hal-hal yang tidak sesuai dengan isi hatimu. Kakak bukannya cuma
menginginkan tubuhnya, kan."
"...Kakak benar-benar menyukai Kak Haruka, kan?
Kakak merasa sangat mencintainya sampai kata-kata pun tidak cukup untuk
menyampaikannya, tapi Kakak tetap ingin berusaha menyampaikannya, kan?"
Shigure mengatakannya sembari mengelus kepalaku.
"Kena, pa...."
Kenapa kamu bisa tahu hal itu. Shigure tersipu malu
saat aku menanyakannya.
"Tentu saja aku tahu. Karena──aku juga merasakan
hal yang sama waktu itu."
"...!"
...Begitu, ya. Apakah Shigure yang mendesakku hari itu
juga memendam perasaan sekuat ini.
Kekalutan yang mengerikan itu. Gairah yang membara
itu.
Waktu itu aku sangat terkejut hingga tak bisa
memahaminya, tetapi sekarang aku sangat memahaminya sampai rasanya menyakitkan.
Pasti aku juga... memasang ekspresi seperti itu tadi.
"Asal Kakak tahu, ya. Apa Kakak tahu bagaimana
cara kucing menyampaikan rasa sayangnya pada lawan jenis yang disukainya?"
"Mereka akan menggigit pelan bagian lehernya.
Anjing juga akan menjilat wajah pasangannya, kan. Manusia itu juga hewan,
lho."
"Saat kita menyukai seseorang, wajar saja kalau
kita ingin menyentuhnya. Kakak ingin menyentuhnya karena Kakak sangat menyukai
Kak Haruka."
"Menyalahkan hal yang wajar seperti itu justru
merupakan sebuah kesalahan. Kakak sama sekali tidak salah, kok."
"Shigure...."
"Kasihan sekali, Kakak. Padahal Kakak sudah
mengumpulkan banyak keberanian demi Kak Haruka, tapi Kakak merasa menderita
karena Kak Haruka tidak memahaminya, ya."
"Pasti rasanya menyakitkan saat perasaan suka
dari lubuk hatimu malah dicaci dan ditolak."
Setelah mengatakan itu, Shigure berkali-kali mengelus
kepalaku yang berada di dalam dekapannya. Setiap kali ia menyisir rambutku
dengan lembut, bagian dalam dadaku terasa berdenyut nyeri.
Rasa sedih yang berusaha kuabaikan dengan meyakinkan
diriku bahwa ini salahku, serta air mata yang kutahan agar tidak terlihat oleh
orang lain, kini mulai merembes keluar.
Sekalinya air mata itu tumpah, aku tak bisa lagi
menghentikannya.
Isak tangis lolos dari sela-sela gigiku yang terkatup
rapat.
Aku berpegangan erat pada Shigure, karena rasanya aku
akan hancur jika tidak berpegangan pada sesuatu.
Kepada diriku yang seperti itu, ──Shigure pun
berbisik.
"Padahal kalau aku, aku takkan membuat Kakak
merasa seperti ini...."
"...Eh."
"Kalau aku, saat Kakak memelukku, aku akan
menyandarkan tubuhku perlahan lalu membalas pelukan Kakak."
"Saat Kakak membelai tubuhku dengan lembut, aku
juga akan membelai dada Kakak dengan lembut lalu menyandarkan pipiku di
sana."
"Lalu... jika Kakak menginginkanku dengan ciuman
yang kuat, aku akan menginginkan Kakak lebih kuat dan lebih dalam dari Kakak,
dan terus membisikkannya semalaman suntuk. ──Aku suka. Aku sangat menyukaimu,
Hiromichi-kun."
Tangan Shigure yang membelai kepalaku seolah sedang
menenangkanku kini meluncur ke arah pipiku.
Ia mengangkat wajahku yang tertunduk dengan kelembutan
seolah sedang memegang kerajinan kaca.
Di pandanganku yang buram karena air mata saat
mendongak, terdapat hal yang saat ini sangat kuinginkan dari lubuk hatiku.
"Hiromichi-kun. Cium... aku."
Sosok kekasih tercinta yang menatapku, yang hanya
memantulkan diriku di matanya, dan yang menginginkan diriku. Itu hanyalah
ilusi.
Aku tahu itu. Ini bukan Haruka. Dia bukan kekasihku.
Akan tetapi, adik perempuan di hadapanku ini terlalu
mirip dengan sosok yang kuinginkan untuk bisa kutolak.
Lalu, hatiku sudah terlalu beku kedinginan.
"...."
Jangan. Hentikan.
Tidak boleh. Suara akal sehatku yang menjerit terasa
sangat jauh.
Layaknya orang kedinginan yang mengulurkan tangannya
pada kehangatan, aku menginginkan bibir Shigure.
Bagaimana tidak, aku sangat tahu seberapa hangatnya
bibir itu, ...aku tak bisa menolaknya.
Bibir kami pun menyatu. Berbeda dengan sebelumnya,
kali ini aku yang memulainya.
Tidak ada penolakan darinya. Ia membalas ciumanku yang
hanya sekadar bersentuhan itu dengan ciuman lembut seolah memberikan simpati
padaku.
Hanya dengan sedikit sentuhan itu saja, rasa panas
mulai meresap ke dalam hatiku yang membeku.
Kasih sayang mengalir masuk.
Kasih sayang yang seharusnya tak boleh kuterima.
Perasaan cinta yang sebelumnya kutolak karena tak bisa
kubalas, kini datang layaknya pada hari itu. Aku melahap semua itu dengan
rakus.
Padahal aku tak bisa membalasnya dengan perasaan yang
sama. Betapa dangkalnya perbuatanku ini.
Akan tetapi,
"Kakak tidak salah, kok. Kan aku ini adik kembar
Kak Haruka."
"Suara, wajah, maupun aromaku, semuanya sama
dengan Kak Haruka. Saat Kakak terluka karena kata-kata kejam dari Kak Haruka,
lalu ada perempuan seperti itu yang mendekati dan meminta ciuman pada Kakak,
wajar saja kalau Kakak jadi begini."
"Bukan Kakak yang salah. Akulah yang salah karena
memanfaatkan Kakak yang sedang lemah, padahal aku tahu betul betapa
menderitanya perasaan Kakak."
"...Makanya, Kakak tidak usah merasa bersalah,
lebih baik manfaatkan aku saja. Perasaan menderita karena ditolak Kak
Haruka."
"Perasaan tidak menyenangkan yang membuat Kakak
hampir meragukan Kak Haruka. Serta perasaan yang ingin terus menyalahkan diri
sendiri."
"...Tolong lupakan semua itu sekarang, dan
bermanjalah pada sosok Kak Haruka yang Kakak lihat di dalam diriku."
Gadis ini memaafkanku yang lemah dan dangkal.
Ia memberikanku alasan agar aku bisa memaafkan diriku
sendiri.
"Tidak apa-apa. Kakak hanya melihat Kak Haruka
melaluiku."
"Semua perasaan ini hanya ditujukan untuk Kak
Haruka. Ini bukanlah perselingkuhan."
"Ayo, katakanlah. Aku suka Haruka. Aku sangat
menyukai Haruka. Cobalah ucapkan dengan suara keras?"
"Ha... ruka, Haruka... ugh, aku suka. Haruka...
Haruka."
"Aku juga sangat menyukaimu."
Di dalam sepasang mata Shigure itu, aku menenggelamkan
diriku. Aku semakin tenggelam ke dalam diri Shigure.
Meskipun orang yang kucium sekarang bukanlah Haruka,
dan aku sangat menyadarinya, aku tak bisa menyalahkan diriku sendiri yang
menginginkannya.
Aku menginginkan bibirnya lebih dalam dari sebelumnya.
Menjulurkan lidahku untuk masuk lebih dalam lagi.
Shigure menyambut lidahku itu dengan lidahnya sendiri.
Aku merasa tak sabar melihat tubuh kami yang terpisah
di saat bibir kami bertaut dengan dalam, aku pun merangkul tubuh Shigure. Aku
memeluknya dengan erat.
Dalam pelukan yang terasa sampai menyakitkan itu,
Shigure menggesekkan tubuhnya seolah memintaku lebih.
"Aku suka... ngh, ugh, ...aku
menyukaimu...."
Ciuman yang dalam. Pelukan yang panas. Bisikan yang
manis.
Ia memberikanku semua yang kuinginkan. Kalau begitu,
mana mungkin aku bisa melepaskannya.
Aku menginginkannya dengan lebih kuat dan lebih dalam.
Air liur kami yang bercampur meluncur turun ke tenggorokanku dengan sensasi
panas layaknya air mendidih.
Panas yang terkumpul di dalam perutku merambat melalui
tulang hingga ke sumsum otak, mengaburkan akal sehatku bagaikan demam tinggi.
Di dalam kesadaranku yang berkabut itu, aku terus
mengulang-ulang perkataannya tadi.
Ini bukan perselingkuhan. Benar. Ini bukan
perselingkuhan. Aku tidak berselingkuh.
Bagaimana tidak, aku ini hanya mencintai Haruka. Aku
sedang melihat Haruka di dalam diri Shigure.
Aku takkan pernah melakukan hal seperti ini pada
Shigure. Karena Shigure adalah adik perempuanku.
Lagi pula aku sudah punya orang yang kusukai, yaitu
Haruka. Makanya, orang yang sedang kucium sekarang ini adalah Haruka.
Tidak ada yang perlu diragukan. Mari kita menginginkan
apa yang kita mau, dan saling mencintai sesuai yang kita harapkan.
Lagipula, selama aku melakukannya, selama aku
menyentuh bibir ini, aku tidak perlu lagi memikirkan tentang pertanyaan
terburuk yang sempat melintas di benakku tadi.
× × ×
Setelah itu, aku terus melumat bibir Shigure hingga
rintik hujan yang mulai turun dari langit yang mendung itu benar-benar
mengganggu kami.
Akan tetapi, begitu semuanya berhenti dan aku sadar
dari mabuk kepayangku, mau tak mau kenyataan pun kembali menghantamku.
Bagaikan efek samping obat-obatan, aku terus disiksa
oleh rasa penyesalan itu hingga fajar menyingsing. Dan hal itu berlanjut hingga
saat ini.
Aku memandangi lautan pagi yang belum didatangi oleh
pengunjung dengan tatapan kosong layaknya ikan mati.
"...."
Aku telah melakukan hal yang sangat gila.
Kalah oleh rasa kesepian, lalu secara sukarela meminta
ciuman dari orang lain yang bukan pacarku, apalagi dia itu adiknya pacarku
sendiri.
Itu bukanlah perbuatan manusia normal.
Aku pasti sudah gila.
...Akan tetapi, mau bagaimana lagi.
Kalau aku tidak melakukannya, aku takkan sanggup
berdiri lagi semalam.
Seandainya aku hancur di tempat itu, entah akan jadi
apa diriku ini.
Bisa jadi aku akan tertelan ke dalam rawa perasaan
negatif yang jauh lebih gelap, yang terus meluap dari lubuk hatiku yang
terdalam.
Untuk mencegah hal itu terjadi, aku tak punya pilihan
lain selain bergantung pada Shigure.
"Kakak selalu menuntut kesempurnaan dari diri
Kakak sendiri, tapi bahkan tidak ada orang dewasa yang bisa melakukan hal
seperti itu, lho."
"Setiap orang pasti pernah mengalami malam yang
begitu menyakitkan sampai-sampai mereka tak sanggup berdiri tanpa bersandar
pada sesuatu. Dan bagi Kakak, malam ini adalah saatnya. Hanya sesederhana itu,
kok."
Itulah kata-kata Shigure kemarin saat ia melepaskan
tubuhku setelah aku tersadar dari mabukku. Kupikir dia memang benar.
Sosok pria ideal yang kuinginkan dan kubayangkan.
...Ternyata diriku sebagai manusia tidak cukup kuat untuk mewujudkan hal
tersebut.
"Hiromichi-kun...."
"...!"
Saat aku sedang tenggelam dalam penyesalan dan
kebencian terhadap diriku sendiri, sebuah suara memanggilku dari belakang.
Suara dari orang yang saat ini paling tidak ingin
kutemui.
Bagaimana tidak, bagaimana tidak... dengan wajah
seperti apa aku harus berbicara dengannya.
Aku tidak tahu. Sama sekali tidak bisa kubayangkan.
...Namun, karena ia sudah memanggilku, aku tidak bisa
mengabaikannya. Aku pun berbalik.
"Haruka...."
"Anu..., soal semalam, aku minta maaf."
Reaksi yang Haruka tunjukkan padaku saat aku berbalik
sungguh tak terduga. Haruka menundukkan kepalanya seolah merasa sangat
bersalah.
"Setelah kupikir-pikir semalaman. Kata-kataku
yang bilang kalau itu bukan rasa 'suka', kayaknya emang kelewatan, deh. Padahal
aku tahu persis kalau Hiromichi-kun itu menyukaiku."
"...."
"Anu, karena malam itu suasananya bagus banget,
makanya kamu jadi sedikit bersemangat dan kelewatan batas, kan? Aku benar-benar
minta maaf karena udah ngomong hal kayak gitu tanpa mikirin perasaan
Hiromichi-kun."
Melihat Haruka yang meminta maaf, rasa bersalah di
dalam perutku mendidih tak karuan. ...Kumohon hentikan.
Aku telah melakukan perbuatan yang jauh lebih
mengerikan daripada Haruka. Aku sama sekali tidak pantas menerima permintaan
maaf darinya seperti ini.
Aku harus mengatakannya. Mengatakan semua kesalahanku.
Pada Haruka──
"...Y-Yang harusnya minta maaf itu aku. Maaf ya
udah bikin kamu takut."
...Woi. Bukan begitu, kan. Aku memang membuatnya
ketakutan, tapi masalahnya bukan cuma itu saja, kan.
Meskipun aku menyadarinya, kata-kataku seakan
terhenti.
"A-Aku sama sekali nggak ngerasa takut, kok.
...Cuma agak kaget dikit aja, sih."
"B-Begitu, ya. Syukurlah...."
Tidak, apanya yang syukurlah. Katakanlah. Kenapa kamu
tidak bisa mengucapkannya.
Apa aku berniat... untuk membiarkannya berlalu tanpa
mengatakannya.
Padahal aku sudah melakukan hal semacam itu pada adik
kembarnya, beraninya aku mencoba melanjutkan hubungan seperti sedia kala dengan
berpura-pura diam.
Jangan bercanda. Katakan. Ayo katakanlah.
"...Tapi, menurutku tetep aja kelakuan kayak gitu
nggak pantes dilakuin sama anak SMA kayak kita. Soalnya kalau perasaan kita
terlalu menggebu-gebu... nanti repot urusannya kalau sampai bikin
kesalahan."
"Lagi pula, aku itu bener-bener sangat menyukai
Hiromichi-kun, makanya aku pengin banget jaga hubungan kita baik-baik. Aku
nggak mau cuma gara-gara perasaan sesaat kayak anak kecil yang nggak
bertanggung jawab, jadinya malah ngotorin hubungan kita ini...."
"Makanya, kita jangan lakuin hal yang kayak gitu
lagi, ya?"
"────"
Tatapan mata Haruka yang menatapku bergetar
menyiratkan sebuah 'perasaan'. Saat itulah aku menyadarinya.
Bahwa saat ini diriku sedang berdiri di posisi yang
sangat berbahaya. Haruka bukan merasa ketakutan.
Ia merasa 'jijik'. Kepada diriku yang semalam. Dan
rasa jijik itu pun masih tersisa hingga kini.
Karena itulah Haruka ingin menjaga jarak dariku. Ia
tak ingin melakukan ciuman semacam itu lagi. Karena itu akan menodainya.
Kalau aku menceritakan masalahku dengan Shigure kepada
Haruka yang seperti ini..., sudah pasti,
"A-Ah, iya. Apa yang diomongin sama Haruka emang
bener, kok. Kita ini cuma anak-anak yang masih dihidupi sama orang tua, makanya
kita harus... tetap jaga batas."
"Makasih, ya! Udah kuduga kalau Hiromichi-kun
pasti bakalan ngertiin hal itu!"
...Mana mungkin aku bisa mengatakannya.
Namun, akan tetapi, ..................kalau
dipikir-pikir lagi, justru inilah yang terbaik.
Bagaimana tidak, aku rasa perbuatanku ini belum bisa
disebut sebagai sebuah perselingkuhan.
Aku memang berciuman dengan Shigure, itu adalah sebuah
fakta.
Fakta, tetapi saat itu aku terus-menerus memanggil
nama Haruka.
Seandainya Haruka mau merespons ciumanku dengan baik
pada saat itu, pasti hal ini takkan pernah terjadi dari awal, jadi rasanya
kurang tepat jika menyebut ini sebagai perselingkuhan.
Lagi pula, ciuman semalam bukan murni kesalahanku
saja. Shigure juga sangat terlibat di dalamnya.
Shigure-lah yang menggodaku.
Kalau dia tidak menggodaku dengan cara seperti itu,
aku juga tidak akan menciumnya.
Jika aku mengakuinya, ada kemungkinan besar hal ini
akan menimbulkan keretakan hebat dalam hubungan kakak beradik antara Shigure
dan Haruka.
Itu bukanlah hal yang bagus. Sebuah pilihan yang
takkan bisa membahagiakan siapa pun. Lebih baik aku diam saja.
Hanya karena dia pacarku, bukan berarti aku wajib
menelanjangi semua perbuatanku tanpa ada yang kututupi darinya.
Sudah pasti kalau sepasang kekasih yang jumlahnya
sebanyak bintang di dunia ini juga memiliki satu atau dua rahasia yang
disembunyikan.
Hal yang seharusnya kulakukan bukanlah merasa
ketakutan dan bimbang hanya karena satu rahasia belaka.
Melainkan mengungkapkan rasa cintaku yang meluap-luap
kepada Haruka seperti yang kutunjukkan pada Shigure semalam, dengan cara yang
diinginkan dan dapat diterima oleh Haruka.
Dengan cara begitulah, aku akan merajut ikatan kami.
Sudah pasti begitu. Pasti. Sudah pasti────
──Aku menyusun sebanyak mungkin alasan mengapa aku
tidak perlu mengakui kesalahanku pada Haruka. Untuk sedikit menjustifikasi
perbuatanku.
Untuk memberikan sedikit alasan pada kebohonganku.
Bagaimana tidak, ...karena tidak ada hal lain lagi
yang bisa kulakukan.
Mana mungkin aku bisa mengaku kalau aku telah
berciuman dengan Shigure.
Kalau aku mengatakannya, aku akan kehilangannya.
Kekasih tercintaku yang saat ini sedang tersenyum
manis di hadapanku.
Aku menyukai gadis ini.
Aku sangat menyukainya.
Hanya hal itu saja yang sama sekali tidak ada
kebohongan di dalamnya.
Oleh karena itu, aku............ takkan pernah bisa
memilih untuk kehilangannya dengan tanganku sendiri.
"Woi, pasangan bodoh di sana. Mau sampai kapan
kalian kelayapan terus. Kan udah kubilang kita beres-beres sebelum jalanannya
macet!"
"Iyaaa! Ayo kita pergi, Hiromichi-kun!"
"...Iya."
Aku memutuskan di dalam hatiku untuk menyembunyikan
kejadian semalam.
Lalu, sambil berusaha menyembunyikan tekad gelasku itu
dari wajahku, aku mencoba meraih tangan Haruka yang terulur kepadaku. ──Akan
tetapi,
Tanganku membeku kaku tepat sebelum menyentuh tangan
Haruka.
"Ukh............"
"...? Kamu kenapa, Hiromichi-kun. Ayo kita pergi
bareng?"
Haruka memiringkan kepalanya dengan heran sembari
mengulurkan tangannya.
Aku merespons isyarat Haruka yang mengayunkan
tangannya pelan untuk mendesakku agar segera menggenggamnya.
Aku pun menggenggam tangannya.
Seketika, jantungku berdegup kencang bagai lonceng
kecemasan.
Kekuatan genggamanku ini... apa sudah pas.
Bukankah kekuatannya malah akan membuat Haruka merasa
tak nyaman.
Atau mungkin genggaman ini malah terlalu lemah dan
membuatnya merasa curiga.
Aku tak tahu. Selama ini, aku bahkan tak tahu seberapa
kuat aku menggenggam tangan Haruka.
Tepat, sejak saat itulah. Bergandengan tangan.
Perlakuan yang tadinya mulai menjadi kebahagiaan yang wajar di antara kami berdua, kini di dalam diriku, telah berubah menjadi sebuah penderitaan yang disertai rasa cemas dan ketakutan kalau-kalau aku akan dibenci oleh Haruka....



Post a Comment