NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 2 Chapter 7

Chapter 21

Riak × Tengah Malam


Setelah puas bermain di pantai pada siang hari, kesenangan masih tersisa lebih dari separuhnya.

Lagipula, hari ini kami melakukan rekreasi dengan menginap.

Untuk makan malam, kami mengadakan barbekyu sesuai dengan permintaan Haruka.

Tentu saja, gaya barbekyu meriah yang menusuk daging dan sayuran dengan tusukan besi lalu memanggangnya di atas kompor panggangan.

Aku yang bertugas memimpin acara memasaknya.

Sama seperti saat merakit tenda, aku sudah terbiasa karena saat kecil dulu ayahku lumayan sering mengajakku berkemah.

Di tengah-tengah, Shigure sempat mengusulkan, "Bukankah lebih gampang dimakan kalau kita memotongnya lebih kecil dan memanggangnya seperti yakiniku?". Namun, tentu saja bukan begitu esensinya.

Kami semua mengunyah daging berbau asap yang dibumbui secara kasar dengan saus, garam, dan rempah-rempah sampai mulut berlepotan cairan daging.

Aku bersikeras bahwa keseluruhan pengalaman inilah yang disebut barbekyu, lalu memaksa untuk melanjutkannya.

Barbekyu yang dibuat dengan filosofi warisan ayahku itu sangat populer di kalangan semuanya.

Para cowok rakus itu sudah pasti menyukainya, bahkan Kak Torako yang biasanya jarang memujiku pun ikut memberikan pujian.

Haruka juga terlihat senang dengan area sekitar mulutnya yang mengkilap akibat sisa makanan.

Yang terpenting, Shigure sampai bergumam, "Ini pengalaman baru, ya".

Hal itu membuatku sangat senang karena aku sangat mengetahui kemampuan memasaknya.

Setelah perut kenyang dengan barbekyu, rasa lelah akibat kegiatan di siang hari berubah menjadi kantuk yang tiba-tiba menyerang. Kurasa semuanya juga merasakan hal yang sama.

Sejak saat itu, kami semua jadi tidak terlalu banyak bergerak.

Kami hanya mengobrol santai, mendengarkan cerita dari Kak Torako tentang seperti apa kehidupan di universitas, dan saling menunjukkan video lucu di ponsel.

Namun, obrolan kami perlahan semakin berkurang.

Setelah Takeshi mulai tertidur sambil duduk, kami akhirnya memutuskan untuk tidur secara terpisah di tenda pria dan wanita.

──Akan tetapi, aku tidak boleh kalah oleh rasa kantuk. Bagaimana tidak, bagiku perkemahan ini baru akan benar-benar dimulai dari sekarang.

Tengah malam pukul 12, saat semua orang dan para pengunjung kemah di sekitar kami telah tertidur lelap.

Sembari menyamarkan gerakanku di balik suara dengkuran Takeshi yang seperti auman sapi, aku diam-diam keluar dari tenda.

Di luar, Haruka sudah menungguku.

"Ehehe. Ketemu lagi."

"Apa kamu menunggu lama?"

"Nggak, kok. Aku juga baru aja keluar."

Setelah berkata begitu, Haruka menengadah menatap langit.

"Luar biasa, ya. Nggak nyangka bakal bisa ngelihat bintang sebanyak ini. ...Cantik banget."

"Iya, ya. Mungkin karena sebagian besar lampu lampion pengunjung lain juga udah pada mati. Galaksi Bima Sakti jadi kelihatan lebih jelas dari yang tadi."

"Itu bintang Altair, ya? Mungkin ini pertama kalinya aku ngelihat bintang sebanyak ini."

"Mumpung udah sampai sini, mau nggak kita jalan lebih dekat ke laut? Siang tadi aku nemuin tempat yang bagus, lho."

"Setuju. Ayo, ayo."

Meskipun sudah bermain seharian, Haruka menggenggam tanganku dengan penuh semangat seolah-olah ia masih memiliki banyak energi.

Pantas saja ia merupakan anggota klub teater yang praktis sudah seperti klub olahraga.

"...Ngomong-ngomong, berjalan sambil berpegangan tangan kayak gini udah jadi hal yang biasa, ya. Padahal belum lama ini kita berdua canggung banget."

"Yah... kita ini kan sepasang kekasih. Kalau cuma pegangan tangan aja bisa bikin deg-degan, jantungku nggak bakalan kuat, deh."

Setelah berkata begitu, aku menarik tangan Haruka yang sedang kugenggam dan berjalan menuju tanggul di dekat sana.

Karena area ini adalah tempat pemandian laut, tentu saja kegiatan memancing dilarang.

Makanya, daerah sekitar tanggul tidak mungkin dipenuhi oleh orang-orang yang memancing di malam hari.

Di sana, kami pasti bisa meluangkan waktu berdua saja sambil menatap bintang dengan tenang.

Setidaknya begitu pikirku, tapi saat aku mendekati tanggul yang kutuju, aku mendengar suara orang yang sedang berbicara.

Begitu kulihat, terdapat dua sosok bayangan di ujung tanggul yang duduk berdampingan sembari membelakangi kami.

"Waduh. Udah ada orang duluan, ya."

"Eh? Tapi suara ini kan...."

Mendengar reaksi Haruka, aku pun menyadarinya.

Tentu saja aku mengenali suara ini.

Aku mempertajam pandanganku.

Lautan biru yang bersinar karena menyerap cahaya bintang.

Dua siluet punggung yang tampak jelas membelah pemandangan itu adalah Tomoe dan Kak Torako.

Begitu, ya. Ternyata mereka berdua juga memiliki pemikiran yang sama denganku. Aku sudah kalah cepat.

Di saat aku merasa kesal di dalam hati, arah angin sepertinya berubah, sehingga suara percakapan mereka terdengar dengan jelas.

"Torako. Kerja bagus hari ini."

"Oh. Anak-anak zaman sekarang energinya nggak habis-habis ya biarpun udah larut malam."

"Ngomong apaan, sih. Padahal umur kita juga cuma beda dua tahun."

"Tapi nggak nyangka ya si Hiromichi bisa dapet pacar semanis itu. Hebat juga dia bisa menggaet cewek kayak gitu."

"Katanya sih mereka temen sekelas pas SD, ya? Walaupun orangnya sendiri kayaknya udah lupa."

"Waktu dia tiba-tiba minta tolong padaku buat jadi supir acara kemah, aku sempet nggak percaya, lho. Soalnya ini pertama kalinya dia minta tolong padaku."

"Hiro itu tipe orang yang bikin batasan nggak penting dalam hal mengandalkan orang lain, sih. Padahal kan kita teman, nggak apa-apa lho kalau dia mau lebih santai."

"Si Hiromichi yang suka sungkanan dan terlalu banyak pertimbangan itu rupanya bisa berubah jadi cowok berani kalau demi cewek, ya. Untung aja dia bukan cowok loyo."

"Tentu saja dia bakal berusaha keras kalau demi pacar semanis itu, kan?"

Ukh, rasanya cukup memalukan menjadi bahan pembicaraan di tempat yang tidak ada diriku.

Aku tidak tahu serangan nyasar apa lagi yang akan terlontar, jadi lebih baik aku segera menjauh dari sini.

Aku baru saja akan menarik tangan Haruka, tetapi tiba-tiba nada suara Kak Torako berubah.

"...Manis, ya. Tomoe juga pasti lebih suka cewek yang bener-bener kayak cewek gitu, kan?"

"Jangan-jangan, kamu lagi mbandingin dirimu sendiri sama Haruka-chan?"

"Habisnya... aku kan, bisa dibilang nggak ada hubungannya sama hal-hal manis kayak gitu, atau lebih tepatnya aku ini emang biasa aja dan nggak cantik...."

"...Yah, emang sih Torako itu nggak manis."

"Kh──"

"Torako yang ngomong hal bodoh kayak gitu emang nggak manis. Makanya aku yang harus bikin kamu jadi manis."

"...Nnh."

Tepat setelah itu, bayangan wajah mereka berdua yang tersinari cahaya bulan saling tumpang tindih.

Mereka berciuman.

Tomoe memegang rahang Kak Torako dengan jarinya dan melumat bibirnya.

Gerakannya yang begitu lihai membuatku tanpa sadar menahan napas.

Hebat sekali.... Padahal aku ini belum bisa memintanya untuk berciuman kalau tidak menyiapkan acara seperti ini.

"Apa aku udah sedikit lebih manis?"

"...Aku masih ngerasa cemas, jadi... aku mau ciuman lagi."

Ciuman mereka berdua terus berlanjut.

Awalnya hanya sekadar menempelkan bibir, tetapi perlahan berubah menjadi ciuman agresif yang saling menekan.

Setelah itu, perlahan berlanjut pada sentuhan fisik di mana mereka saling membelai tubuh satu sama lain, hingga bayangan mereka berdua terlihat seakan menyatu──

"K-K-Karena kelihatannya mereka lagi sibuk, kita pergi ke tempat lain aja, yuk!"

"I-Iya! Ayo! Kita pergi sekarang juga!"

Karena merasa sangat malu, aku dan Haruka melarikan diri dari sana dengan wajah memerah.

× × ×

Kami lari ke arah yang berlawanan dari laut, menyeberangi jalan raya pesisir teluk menuju sebuah area peristirahatan kecil yang dilengkapi dengan bangku lapuk dan mesin penjual otomatis.

"A-Ahaha. Walaupun itu urusan orang lain, entah kenapa aku masih ngerasa deg-degan."

"Aku ngerti banget...."

Entah bagaimana menjelaskannya, jika dilihat dari luar, ternyata interaksi antar pacar bisa jadi seliar itu, ya.

Mencium bagian tengkuk atau membelai sembari merangkul pinggang.

Pantas saja mereka dibilang pasangan berpengalaman, sangat berbeda dengan kami yang masih pemula.

"Tapi emang bener ya, orang dewasa itu luar biasa. Mereka bisa ciuman dengan jago banget kayak gitu. Bikin iri, deh."

Apakah itu berarti Haruka juga menginginkan ciuman yang terlihat erotis semacam itu?

Aku sempat berdebar sesaat, tetapi ternyata bukan itu maksudnya.

Haruka bergumam dengan ekspresi wajah yang sedikit merasa bersalah.

"Semenjak kencan waktu itu, kita udah nggak pernah ciuman lagi, kan? Padahal aku pengin banget ciuman lagi sama Hiromichi-kun... tapi aku takut buat ngomongnya."

"Takut?"

"...Padahal belum lama ini, kita bahkan kesusahan banget cuma buat pegangan tangan, kan? Tapi sekarang hal itu juga udah jadi biasa aja. Hiromichi-kun juga udah nggak deg-degan sama sekali, kan? Pas ciuman emang rasanya deg-degan banget sampai dada kerasa sakit, dan aku seneng banget, tapi aku takut suatu saat deg-degan ini juga bakal jadi hal yang biasa dan perasaan berdebar sebagai kekasih bakalan perlahan hilang... dan aku jadi cemas kalau Hiromichi-kun bakalan bosan denganku. Makanya... aku nggak berani bilang."

...Aku sama sekali tidak tahu. Ternyata Haruka memikirkan hal semacam itu.

Artinya, bukan ciuman kedua orang itu yang membuat Haruka merasa iri, melainkan hubungan mereka yang bisa saling menuntut secara terang-terangan tanpa perlu merasakan kecemasan semacam itu.

...Astaga. Aku merasakan kemarahan yang luar biasa pada diriku sendiri di dalam dadaku.

Bagaimana tidak, aku ini sangat menyedihkan karena membuat kekasihku merasa cemas dan berpikir 'dia mungkin bakal bosan denganku'.

"...Maaf."

"Kenapa Hiromichi-kun yang minta maaf?"

"Soalnya kan gara-gara aku, Haruka jadi ngerasa cemas kayak gitu."

"B-Bukan, kok. Ini semua karena aku nggak pede sama diriku sendiri... jadi aku yang seharusnya minta maaf karena nggak berani ngomong dari awal──"

Bukan begitu. Seandainya aku bisa menunjukkan secara terang-terangan dan terus-menerus melalui sikapku bahwa aku sangat menyukai Haruka, ia pasti tidak akan merasakan kecemasan seperti ini.

Hanya saja, ada satu kesalahpahaman Haruka yang ingin kuluruskan. Hal itu harus segera diluruskan.

Karena itulah aku menggenggam erat tangan Haruka yang sedang duduk di sampingku, lalu berkata kepadanya.

"...Hanya saja, Haruka. Ada satu hal yang kuminta jangan sampai kamu salah paham. Memang benar, aku udah nggak ngerasa deg-degan lagi kayak dulu saat kita berpegangan tangan atau pas manggil namamu secara langsung, tapi... aku sama sekali nggak nganggap hal itu sebagai rasa 'bosan'."

Tidak pernah terlintas sekalipun pemikiran semacam itu.

"Memanggil namamu. Menyentuhmu seperti ini. Semua itu berubah dari sebuah debaran yang istimewa... menjadi sebuah 'kebahagiaan' yang sudah sewajarnya kudapatkan. Aku sangat bahagia akan hal itu, soalnya... aku merasa hal itulah yang disebut dengan 'ikatan'. Semua itu adalah bukti terbentuknya 'ikatan' berharga yang tak tergantikan antara diriku dan Haruka."

"...!"

"Makanya aku──ingin mengubah ciumanku bersamamu, menjadi 'kebahagiaan' semacam itu juga."

Bila saat itu tiba, kami pasti akan terikat oleh ikatan yang jauh lebih kuat dari saat ini.

Jika sudah begitu, aku pasti bisa membicarakannya tanpa perlu menunggu orang tuaku kembali.

Sebuah rahasia yang tidak bisa kukatakan kepada Haruka. Termasuk soal hubunganku dengan Shigure.

Untuk itulah,

"Boleh aku menciummu?"

"...Iya. Aku juga pengin dicium sama Hiromichi-kun."

Haruka menanggapi permintaanku dengan sedikit rasa malu namun sambil tersenyum.

Tidak ada pantulan bulan maupun bintang di sepasang matanya yang bersinar basah, melainkan hanya sosokku seorang yang terpantul di sana.

Sepasang mata itu pun tertutup perlahan, dan bibirnya sedikit menguncup seolah sedang menggodaku. Jantungku kembali berdebar dengan kencang.

Muncul sebuah dorongan yang mirip dengan rasa lapar; aku ingin segera menerjang bibir Haruka yang selama ini ingin kusentuh.

Namun, aku menahan dorongan tersebut dan dengan lembut menyatukan bibir kami agar tidak mengejutkannya.

"Nnh...."

Pada saat itu juga, aku teringat akan semuanya. Perasaan haru di hari itu yang sempat kulupakan akibat ciuman dari Shigure.

Aroma ini, kelembutan ini, kehangatan ini, dan──ketegangan Haruka yang tersalurkan melalui bibir kami. Aku tahu semuanya.

Aku mengingat semuanya. Aku sangat menyukai semuanya.

"Ternyata emang deg-degan banget. Sampai dada rasanya sakit...."

Begitu aku melepaskan bibirku, Haruka mengatakan hal itu sembari memegangi dadanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku memahaminya. Karena saat bibir kami bersentuhan, aku juga bisa merasakan detak jantung Haruka.

Namun ketika aku bertanya, "Apa kamu kesakitan?", Haruka menggelengkan kepalanya pelan.

"Karena aku juga pengin ngejadiin debaran ini sebagai 'kebahagiaan' yang udah sewajarnya, boleh nggak kali ini aku yang nyium duluan?"

"...Iya. Aku juga pengin dicium sama Haruka."

Setelah aku memintanya, kali ini giliran Haruka yang menempelkan bibirnya ke bibirku.

Ciuman itu bukanlah ciuman penuh gairah yang meluluhkan akal sehat seperti milik Shigure.

Ia mengecupku perlahan, sedikit demi sedikit mulai masuk lebih dalam dan lebih lama──sebuah ciuman berhati-hati yang berusaha menghapus jarak di antara kami. Malu. Takut. Namun, ingin mendekat.

Perasaan dan isi hati Haruka yang tersalurkan lewat perilakunya ini terasa begitu menggemaskan.

"Aku menyukaimu, Haruka."

"...!"

Seolah-olah memotong ciumannya, kali ini aku kembali meminta ciuman padanya. Ciuman yang lebih dalam dan lebih lama dibandingkan ciuman pertamaku, maupun ciuman yang ia berikan.

"Aku sangat menyukaimu."

Rasa kasih sayangku padanya meluap-luap bagai bendungan yang jebol.

Setiap kali mengambil napas, aku menyuarakan rasa cinta yang terus-menerus muncul dalam hatiku.

Bagaimana tidak, jika aku tidak mengutarakannya lewat kata-kata, aku merasa akan mati lemas karena perasaan yang meluap-luap ini.

Akan tetapi, ah akan tetapi, semakin banyak kata yang kuucapkan, rasanya semakin menyesakkan.

Kenapa jumlah kata yang bisa digunakan untuk menyampaikan perasaan cinta hanya sedikit?

Rasanya sama sekali tidak cukup untuk mengutarakan semua perasaan yang meluap di dalam dadaku ini.

Aku ingin menyampaikannya lebih banyak lagi.

Aku ingin dia lebih memahaminya.

Aku ingin menyampaikan betapa besarnya perasaanku kepada gadis yang berada di dekapanku ini.

Apa yang harus kulakukan?

Saat aku mencari jawabannya, tubuhku memberikan responnya secara alami.

"Nnh, ...!"

Aku memindahkan tanganku dari bahu kecil Haruka, menyusuri punggung hingga ke tengkuknya.

Membelainya secara perlahan lalu memeluknya.

Sama seperti yang dilakukan Tomoe dan Kak Torako tadi.

Saat itu, barulah aku menyadarinya.

Awalnya aku mengira menyentuh tubuh lawan jenis itu selalu disertai dengan niat terselubung, tapi ternyata bukan seperti itu.

Aku hanya merasa bahwa sentuhan itu harus dilakukan demi menyampaikan rasa cinta yang tak bisa diucapkan melalui kata-kata.

Namun kalau dipikir-pikir lagi, hal itu mungkin memang sewajarnya terjadi.

Karena sejak peradabannya dimulai, manusia tidak langsung memiliki bahasa seperti sekarang ini.

Tentunya ini merupakan mekanisme biologis yang tertanam di dalam darah.

Karena itulah aku menuruti dorongan murni tersebut. Aku menggerakkan tanganku ke tubuhnya untuk mencari kehangatan Haruka.

Di punggungnya, pinggangnya, payudaranya──aku ingin menyentuh seluruh bagian tubuh orang yang berharga bagiku; aku menekankan bibirku dengan kuat dan menjulurkan lidahku.

Masih belum. Ini masih belum cukup.

Aku masih ingin lebih.

Aku masih ingin menyampaikannya.

Semua ini demi mengekspresikan perasaan meluap di dalam dadaku yang sama sekali tidak bisa disampaikan hanya dengan kata-kata belaka.

Lebih dekat, lebih dalam ────Akan tetapi,

"Kh~~~~~~~, jangan!!!!"

Sedetik kemudian, Haruka mendorongku dengan kuat.

× × ×

"Haru, ka?"

"...Barusan, apa-apaan?"

Haruka yang baru saja mendorongku, menatapku dengan raut wajah tidak percaya.

Menatap wajahnya itu, aku bisa merasakan aliran darahku membeku.

"Barusan, kamu masukin... lidah, terus kamu juga nyentuh... payudaraku...."

"M-Maaf. Apa kamu nggak suka?"

Keringat dingin bercucuran setelah aku menerima penolakan mendadak yang begitu kuat untuk pertama kalinya.

Kulihat, kini tidak ada lagi kasih sayang di sepasang mata Haruka yang sebelumnya terlihat begitu menggemaskan.

Perasaan yang terlihat sebagai gantinya adalah... rasa takut.

"Maaf banget! Tadi aku kelewat nafsu! Pas ciuman sama kamu, rasa cintaku meluap-luap, dan waktu aku mikir pengin nyampein perasaan itu sekeras mungkin, tanpa sadar aku udah nggak bisa menahannya lagi...! Apalagi, tadi Tomoe juga ngelakuinnya, makanya aku...."

"Bukan kayak gitu.... Perilaku barusan itu namanya bukan rasa 'suka'."

"...Eh?"

Haruka memeluk dirinya sendiri seolah sedang melindungi tubuhnya.

"Soalnya, cara nyentuh sama ciuman pakai lidah yang kayak tadi itu, ciuman yang dilakuin pas mau berhubungan intim, tahu? Kak Torako emang udah mahasiswi, tapi kita ini kan berdua masih anak SMA, makanya kita nggak boleh berhubungan intim, kan? Tapi kenapa hal kayak gitu...."




"Tunggu dulu! Bukan begitu maksudku! Aku cuma pengin ciuman sambil memelukmu, dan aku... sama sekali nggak kepikiran buat berhubungan intim!"

"...Tadi kamu bilang nggak bisa menahan perasaanmu, tapi apa kamu berani jamin... kalau kamu terus-terusan nyium dan nyentuh aku kayak gitu, kamu nggak bakalan kepengin berhubungan intim?"

I, itu...,

Aku kehabisan kata-kata saat ditatap oleh mata Haruka yang berkaca-kaca menahan air mata.

Karena, mana mungkin aku berani menjamin hal tersebut.

"Padahal aku mikirnya Hiromichi-kun bakalan bisa ngertiin hal itu."

"Haruka...."

Aku mengulurkan tanganku ke arah Haruka yang sedang gemetaran.

Namun, sebelum tanganku sempat menyentuh bahunya, Haruka berdiri dari bangku seakan menolak sentuhan dariku.

"Maaf. Hari ini, aku pulang duluan, ya."

Lalu, ia lari terbirit-birit layaknya sedang melarikan diri dariku.

Bukan layaknya. Haruka memang benar-benar melarikan diri.

Dariku.

Ia melarikan diri dariku.

Kenyataan itu membuatku hancur, hingga aku bahkan tak bisa memanggil sosok punggungnya yang semakin menjauh.

× × ×

...Entah sudah berapa lama waktu berlalu semenjak saat itu.

Aku hanya terduduk di bangku itu tanpa bisa bergerak.

Aku terus menengadah ke langit sembari bersandar di bangku seperti boneka yang dibuang.

Entah sejak kapan lautan bintang yang sebelumnya terlihat begitu jelas kini mulai tertutupi oleh tirai hitam.

Cahaya bintang meredup, dan kegelapan malam semakin pekat dan membebani.

Aku merasa hal itu sama persis dengan hatiku saat ini.

'Padahal aku mikirnya Hiromichi-kun bakalan bisa ngertiin hal itu.'

Kata-kata perpisahan Haruka terngiang di kepalaku.

Sebuah nada suara yang diiringi kekecewaan, kesedihan, dan ketakutan.

...Apa yang baru saja kulakukan. Aku telah membuat kesalahan.

Tidak, ini bukan hanya sekadar kesalahan biasa.

Aku sangat tahu kalau Haruka itu cewek pemalu dan lugu, tapi aku malah memaksakan keinginanku padanya.

Aku ingin merasa lebih terhubung dengan Haruka. Aku ingin membentuk ikatan dengannya.

Secepat mungkin. Aku melampiaskan kecemasan akibat ketidakmampuanku kepada Haruka dan membuatnya ketakutan.

"Dasar bodoh banget sih, aku..."

Hanya karena Haruka mau menerima ciumanku, aku jadi besar kepala dan mendesak Haruka hanya demi memuaskan hasrat yang bergejolak di dalam diriku.

...Aku memang cowok brengsek. Ini sama saja dengan para cowok yang menggoda Haruka siang tadi.

Kalau aku dianggap sama dengan mereka, aku tidak bisa protes.

Memang benar..., tapi,

'Rasa "suka" itu bukan kayak gitu.'

Bukan, bukan, bukan begitu.

Memang benar kalau aku mungkin terlalu terburu-buru.

Sejak insiden dengan Shigure waktu itu, aku terus-menerus memikirkan ingin berciuman dengan Haruka, demi itu aku menyusun rencana kemah, dan ketika semuanya berjalan lancar dan aku benar-benar bisa menciumnya, aku memang jadi sangat bersemangat.

Namun, semangatku itu murni karena rasa sayangku pada Haruka.

Aku tidak seperti pria-pria hidung belang tadi siang yang bahkan tidak mengetahui nama Haruka dan hanya menginginkan tubuhnya.

Aku tahu banyak tentang Haruka, dan aku menyukai semua tentangnya, karena itu... aku berpikir bahwa aku ingin menyentuhnya.

Padahal begitu, tapi──

"Eh..."

Pandanganku tiba-tiba mengabur. Air mata menggenang di sudut mataku, lalu menetes membasahi pipiku.

Air mata apa ini. Kenapa aku menangis.

Padahal aku ini adalah pelaku yang sudah membuat Haruka ketakutan.

...Sekalipun akal sehatku sudah menghardikku sedemikian rupa, ada perasaan yang tak bisa kubendung.

"Uuuughh~~~~!!"

Sedih. Sedih. Sedih. Kesal...!

Perasaan egois ini merembes keluar sebagai isak tangis.

Bagaimana tidak, aku dibilang kalau perasaan ini bukan rasa 'suka'.

Padahal aku sangat menyukai Haruka sampai-sampai perasaanku tak bisa diutarakan dengan kata-kata, tapi kenapa semua itu harus ditolak, ditakuti, dan disangkal.

Memang benar, mungkin caraku menyampaikannya memang buruk.

Mungkin benar begitu, tapi apakah sampai harus menolak perasaanku sebegitu kerasnya... menyangkal perasaan yang meluap-luap di dalam dadaku saat itu!?

Apakah Haruka yang berkata suka padaku, tidak pernah merasakan gejolak perasaan yang sama sepertiku?

Jika memang begitu,

Jika memang demikian,

Jika ia memang tidak merasakannya, Apakah Haruka benar-benar────menyukaiku?

"Kakak."

"Kh────!?"

Pada saat itulah. Dari arah Haruka melarikan diri, terdengar suara yang sama persis dengan Haruka.

Suara langkah kaki yang menginjak tanah semakin mendekat.

Di tengah malam dengan cahaya bintang yang meredup, pandanganku yang buram karena air mata hanya bisa menangkap siluetnya saja.

Namun, meski tak bisa melihatnya, aku tahu siapa itu.

"Ternyata Kakak ada di sini, ya."

"Shigure...."

× × ×

"...Wajah Kakak kacau banget."

"Kenapa kamu, ada di sini...."

Padahal tempat ini sepi dan jauh dari area perkemahan maupun laut.

"Kak Haruka pulang ke tenda sambil nangis, jadi aku mikir mungkin ada apa-apa sama Kakak. Kakak abis berantem sama Kak Haruka, ya?"

...Berantem.

Berantem, ya. Kalau cuma berantem biasa, dua-duanya pasti terluka. Dua-duanya sama-sama bersalah. Seandainya memang begitu, pasti aku bakalan sedikit merasa lega.

Aku menggelengkan kepala.

"...Kami nggak berantem, kok. Ini cuma karena kebodohanku sendiri. Aku bener-bener bodoh. Ini semua murni salahku. Padahal Haruka udah mau nyium aku lagi, tapi aku malah kegirangan, bertindak kelewat batas, dasar cowok bodoh nggak ketolong...!"

"............Kakak."

"Bisa kamu percaya? Haruka yang pemalu itu, aku membelai-belai tubuhnya, pinggangnya, pantatnya dengan cara yang kotor, bahkan pas ciuman aku nyoba masukin lidahku. Pantes aja Haruka ketakutan...! Kelakuanku udah persis kayak preman mesum, kan!"

Aku menceritakan semua perbuatanku pada Shigure dan menyalahkan diriku sendiri.

Aku yang salah. Aku yang salah. Dasar cowok brengsek.

Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Ini berbeda dengan sebuah pengakuan dosa.

Lebih tepatnya, ini mirip seperti mengecap diriku sendiri. Mengecap bahwa aku ini adalah seorang pendosa.

Menyatakan bahwa semua ini adalah kesalahanku karena telah membuat Haruka ketakutan.

Aku mencoba mengukir hal itu di dalam diriku, untuk memenuhi kepalaku dengan kemarahan terhadap diriku sendiri.

Karena jika tidak begitu, ──'Pertanyaan terburuk' yang tadi sempat muncul di kepalaku akan mulai menampakkan dirinya.

"Aku bener-bener cowok brengsek. Nggak mikirin perasaan Haruka sama sekali! Jangan-jangan selama ini aku emang cuma pengin ngelakuin hal kotor sama Haruka!"

"Kakak."

"Cowok kayak aku emang pantes dibenci! Cowok brengsek kayak aku ini──"

"Kakak!!"

"Kh...!?"

Tepat pada saat itu.

Setelah membentakku dengan suara keras, Shigure memeluk kepalaku yang sedang duduk di bangku ke dalam dekapannya.

"Sudah diam. Jangan bicara apa-apa lagi."




"Shigu──Mugh!?"

"Kan sudah kubilang jangan bicara. Sudahlah, tarik napas dalam-dalam dulu."

Pelukannya sama sekali tidak terasa lembut.

Itu adalah sebuah pengekangan paksa yang mengandalkan tenaga, bahkan sampai terasa sakit.

Aku menarik napas panjang, berniat untuk meneriakinya tentang apa maksud semua ini.

Namun tiba-tiba, aroma yang menguar dari kulit Shigure yang menempel padaku menyeruak masuk ke dalam rongga hidungku.

...Aroma ini. Ini adalah aroma yang sama dengan Haruka.

Aroma dari kekasih tercintaku yang sejak tadi sangat kuinginkan──

"...."

Aroma itu seketika memadamkan amarah yang membakar diriku, amarah yang sebelumnya susah payah kukobarkan.

Saat amarah yang kubuat-buat itu menghilang, tenaga dari tubuhku pun ikut terkuras habis.

Mungkin karena melihat keadaanku yang seperti itu, Shigure mengendurkan pelukannya.

"...Jangan melukai diri Kakak sendiri dengan mengucapkan hal-hal yang tidak sesuai dengan isi hatimu. Kakak bukannya cuma menginginkan tubuhnya, kan."

"...Kakak benar-benar menyukai Kak Haruka, kan? Kakak merasa sangat mencintainya sampai kata-kata pun tidak cukup untuk menyampaikannya, tapi Kakak tetap ingin berusaha menyampaikannya, kan?"

Shigure mengatakannya sembari mengelus kepalaku.

"Kena, pa...."

Kenapa kamu bisa tahu hal itu. Shigure tersipu malu saat aku menanyakannya.

"Tentu saja aku tahu. Karena──aku juga merasakan hal yang sama waktu itu."

"...!"

...Begitu, ya. Apakah Shigure yang mendesakku hari itu juga memendam perasaan sekuat ini.

Kekalutan yang mengerikan itu. Gairah yang membara itu.

Waktu itu aku sangat terkejut hingga tak bisa memahaminya, tetapi sekarang aku sangat memahaminya sampai rasanya menyakitkan.

Pasti aku juga... memasang ekspresi seperti itu tadi.

"Asal Kakak tahu, ya. Apa Kakak tahu bagaimana cara kucing menyampaikan rasa sayangnya pada lawan jenis yang disukainya?"

"Mereka akan menggigit pelan bagian lehernya. Anjing juga akan menjilat wajah pasangannya, kan. Manusia itu juga hewan, lho."

"Saat kita menyukai seseorang, wajar saja kalau kita ingin menyentuhnya. Kakak ingin menyentuhnya karena Kakak sangat menyukai Kak Haruka."

"Menyalahkan hal yang wajar seperti itu justru merupakan sebuah kesalahan. Kakak sama sekali tidak salah, kok."

"Shigure...."

"Kasihan sekali, Kakak. Padahal Kakak sudah mengumpulkan banyak keberanian demi Kak Haruka, tapi Kakak merasa menderita karena Kak Haruka tidak memahaminya, ya."

"Pasti rasanya menyakitkan saat perasaan suka dari lubuk hatimu malah dicaci dan ditolak."

Setelah mengatakan itu, Shigure berkali-kali mengelus kepalaku yang berada di dalam dekapannya. Setiap kali ia menyisir rambutku dengan lembut, bagian dalam dadaku terasa berdenyut nyeri.

Rasa sedih yang berusaha kuabaikan dengan meyakinkan diriku bahwa ini salahku, serta air mata yang kutahan agar tidak terlihat oleh orang lain, kini mulai merembes keluar.

Sekalinya air mata itu tumpah, aku tak bisa lagi menghentikannya.

Isak tangis lolos dari sela-sela gigiku yang terkatup rapat.

Aku berpegangan erat pada Shigure, karena rasanya aku akan hancur jika tidak berpegangan pada sesuatu.

Kepada diriku yang seperti itu, ──Shigure pun berbisik.

"Padahal kalau aku, aku takkan membuat Kakak merasa seperti ini...."

"...Eh."

"Kalau aku, saat Kakak memelukku, aku akan menyandarkan tubuhku perlahan lalu membalas pelukan Kakak."

"Saat Kakak membelai tubuhku dengan lembut, aku juga akan membelai dada Kakak dengan lembut lalu menyandarkan pipiku di sana."

"Lalu... jika Kakak menginginkanku dengan ciuman yang kuat, aku akan menginginkan Kakak lebih kuat dan lebih dalam dari Kakak, dan terus membisikkannya semalaman suntuk. ──Aku suka. Aku sangat menyukaimu, Hiromichi-kun."

Tangan Shigure yang membelai kepalaku seolah sedang menenangkanku kini meluncur ke arah pipiku.

Ia mengangkat wajahku yang tertunduk dengan kelembutan seolah sedang memegang kerajinan kaca.

Di pandanganku yang buram karena air mata saat mendongak, terdapat hal yang saat ini sangat kuinginkan dari lubuk hatiku.

"Hiromichi-kun. Cium... aku."

Sosok kekasih tercinta yang menatapku, yang hanya memantulkan diriku di matanya, dan yang menginginkan diriku. Itu hanyalah ilusi.

Aku tahu itu. Ini bukan Haruka. Dia bukan kekasihku.

Akan tetapi, adik perempuan di hadapanku ini terlalu mirip dengan sosok yang kuinginkan untuk bisa kutolak.

Lalu, hatiku sudah terlalu beku kedinginan.

"...."

Jangan. Hentikan.

Tidak boleh. Suara akal sehatku yang menjerit terasa sangat jauh.

Layaknya orang kedinginan yang mengulurkan tangannya pada kehangatan, aku menginginkan bibir Shigure.

Bagaimana tidak, aku sangat tahu seberapa hangatnya bibir itu, ...aku tak bisa menolaknya.

Bibir kami pun menyatu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku yang memulainya.

Tidak ada penolakan darinya. Ia membalas ciumanku yang hanya sekadar bersentuhan itu dengan ciuman lembut seolah memberikan simpati padaku.

Hanya dengan sedikit sentuhan itu saja, rasa panas mulai meresap ke dalam hatiku yang membeku.

Kasih sayang mengalir masuk.

Kasih sayang yang seharusnya tak boleh kuterima.

Perasaan cinta yang sebelumnya kutolak karena tak bisa kubalas, kini datang layaknya pada hari itu. Aku melahap semua itu dengan rakus.

Padahal aku tak bisa membalasnya dengan perasaan yang sama. Betapa dangkalnya perbuatanku ini.

Akan tetapi,

"Kakak tidak salah, kok. Kan aku ini adik kembar Kak Haruka."

"Suara, wajah, maupun aromaku, semuanya sama dengan Kak Haruka. Saat Kakak terluka karena kata-kata kejam dari Kak Haruka, lalu ada perempuan seperti itu yang mendekati dan meminta ciuman pada Kakak, wajar saja kalau Kakak jadi begini."

"Bukan Kakak yang salah. Akulah yang salah karena memanfaatkan Kakak yang sedang lemah, padahal aku tahu betul betapa menderitanya perasaan Kakak."

"...Makanya, Kakak tidak usah merasa bersalah, lebih baik manfaatkan aku saja. Perasaan menderita karena ditolak Kak Haruka."

"Perasaan tidak menyenangkan yang membuat Kakak hampir meragukan Kak Haruka. Serta perasaan yang ingin terus menyalahkan diri sendiri."

"...Tolong lupakan semua itu sekarang, dan bermanjalah pada sosok Kak Haruka yang Kakak lihat di dalam diriku."

Gadis ini memaafkanku yang lemah dan dangkal.

Ia memberikanku alasan agar aku bisa memaafkan diriku sendiri.

"Tidak apa-apa. Kakak hanya melihat Kak Haruka melaluiku."

"Semua perasaan ini hanya ditujukan untuk Kak Haruka. Ini bukanlah perselingkuhan."

"Ayo, katakanlah. Aku suka Haruka. Aku sangat menyukai Haruka. Cobalah ucapkan dengan suara keras?"

"Ha... ruka, Haruka... ugh, aku suka. Haruka... Haruka."

"Aku juga sangat menyukaimu."

Di dalam sepasang mata Shigure itu, aku menenggelamkan diriku. Aku semakin tenggelam ke dalam diri Shigure.

Meskipun orang yang kucium sekarang bukanlah Haruka, dan aku sangat menyadarinya, aku tak bisa menyalahkan diriku sendiri yang menginginkannya.

Aku menginginkan bibirnya lebih dalam dari sebelumnya.

Menjulurkan lidahku untuk masuk lebih dalam lagi. Shigure menyambut lidahku itu dengan lidahnya sendiri.

Aku merasa tak sabar melihat tubuh kami yang terpisah di saat bibir kami bertaut dengan dalam, aku pun merangkul tubuh Shigure. Aku memeluknya dengan erat.

Dalam pelukan yang terasa sampai menyakitkan itu, Shigure menggesekkan tubuhnya seolah memintaku lebih.

"Aku suka... ngh, ugh, ...aku menyukaimu...."

Ciuman yang dalam. Pelukan yang panas. Bisikan yang manis.

Ia memberikanku semua yang kuinginkan. Kalau begitu, mana mungkin aku bisa melepaskannya.

Aku menginginkannya dengan lebih kuat dan lebih dalam. Air liur kami yang bercampur meluncur turun ke tenggorokanku dengan sensasi panas layaknya air mendidih.

Panas yang terkumpul di dalam perutku merambat melalui tulang hingga ke sumsum otak, mengaburkan akal sehatku bagaikan demam tinggi.

Di dalam kesadaranku yang berkabut itu, aku terus mengulang-ulang perkataannya tadi.

Ini bukan perselingkuhan. Benar. Ini bukan perselingkuhan. Aku tidak berselingkuh.

Bagaimana tidak, aku ini hanya mencintai Haruka. Aku sedang melihat Haruka di dalam diri Shigure.

Aku takkan pernah melakukan hal seperti ini pada Shigure. Karena Shigure adalah adik perempuanku.

Lagi pula aku sudah punya orang yang kusukai, yaitu Haruka. Makanya, orang yang sedang kucium sekarang ini adalah Haruka.

Tidak ada yang perlu diragukan. Mari kita menginginkan apa yang kita mau, dan saling mencintai sesuai yang kita harapkan.

Lagipula, selama aku melakukannya, selama aku menyentuh bibir ini, aku tidak perlu lagi memikirkan tentang pertanyaan terburuk yang sempat melintas di benakku tadi.

× × ×

Setelah itu, aku terus melumat bibir Shigure hingga rintik hujan yang mulai turun dari langit yang mendung itu benar-benar mengganggu kami.

Akan tetapi, begitu semuanya berhenti dan aku sadar dari mabuk kepayangku, mau tak mau kenyataan pun kembali menghantamku.

Bagaikan efek samping obat-obatan, aku terus disiksa oleh rasa penyesalan itu hingga fajar menyingsing. Dan hal itu berlanjut hingga saat ini.

Aku memandangi lautan pagi yang belum didatangi oleh pengunjung dengan tatapan kosong layaknya ikan mati.

"...."

Aku telah melakukan hal yang sangat gila.

Kalah oleh rasa kesepian, lalu secara sukarela meminta ciuman dari orang lain yang bukan pacarku, apalagi dia itu adiknya pacarku sendiri.

Itu bukanlah perbuatan manusia normal.

Aku pasti sudah gila.

...Akan tetapi, mau bagaimana lagi.

Kalau aku tidak melakukannya, aku takkan sanggup berdiri lagi semalam.

Seandainya aku hancur di tempat itu, entah akan jadi apa diriku ini.

Bisa jadi aku akan tertelan ke dalam rawa perasaan negatif yang jauh lebih gelap, yang terus meluap dari lubuk hatiku yang terdalam.

Untuk mencegah hal itu terjadi, aku tak punya pilihan lain selain bergantung pada Shigure.

"Kakak selalu menuntut kesempurnaan dari diri Kakak sendiri, tapi bahkan tidak ada orang dewasa yang bisa melakukan hal seperti itu, lho."

"Setiap orang pasti pernah mengalami malam yang begitu menyakitkan sampai-sampai mereka tak sanggup berdiri tanpa bersandar pada sesuatu. Dan bagi Kakak, malam ini adalah saatnya. Hanya sesederhana itu, kok."

Itulah kata-kata Shigure kemarin saat ia melepaskan tubuhku setelah aku tersadar dari mabukku. Kupikir dia memang benar.

Sosok pria ideal yang kuinginkan dan kubayangkan. ...Ternyata diriku sebagai manusia tidak cukup kuat untuk mewujudkan hal tersebut.

"Hiromichi-kun...."

"...!"

Saat aku sedang tenggelam dalam penyesalan dan kebencian terhadap diriku sendiri, sebuah suara memanggilku dari belakang.

Suara dari orang yang saat ini paling tidak ingin kutemui.

Bagaimana tidak, bagaimana tidak... dengan wajah seperti apa aku harus berbicara dengannya.

Aku tidak tahu. Sama sekali tidak bisa kubayangkan.

...Namun, karena ia sudah memanggilku, aku tidak bisa mengabaikannya. Aku pun berbalik.

"Haruka...."

"Anu..., soal semalam, aku minta maaf."

Reaksi yang Haruka tunjukkan padaku saat aku berbalik sungguh tak terduga. Haruka menundukkan kepalanya seolah merasa sangat bersalah.

"Setelah kupikir-pikir semalaman. Kata-kataku yang bilang kalau itu bukan rasa 'suka', kayaknya emang kelewatan, deh. Padahal aku tahu persis kalau Hiromichi-kun itu menyukaiku."

"...."

"Anu, karena malam itu suasananya bagus banget, makanya kamu jadi sedikit bersemangat dan kelewatan batas, kan? Aku benar-benar minta maaf karena udah ngomong hal kayak gitu tanpa mikirin perasaan Hiromichi-kun."

Melihat Haruka yang meminta maaf, rasa bersalah di dalam perutku mendidih tak karuan. ...Kumohon hentikan.

Aku telah melakukan perbuatan yang jauh lebih mengerikan daripada Haruka. Aku sama sekali tidak pantas menerima permintaan maaf darinya seperti ini.

Aku harus mengatakannya. Mengatakan semua kesalahanku. Pada Haruka──

"...Y-Yang harusnya minta maaf itu aku. Maaf ya udah bikin kamu takut."

...Woi. Bukan begitu, kan. Aku memang membuatnya ketakutan, tapi masalahnya bukan cuma itu saja, kan.

Meskipun aku menyadarinya, kata-kataku seakan terhenti.

"A-Aku sama sekali nggak ngerasa takut, kok. ...Cuma agak kaget dikit aja, sih."

"B-Begitu, ya. Syukurlah...."

Tidak, apanya yang syukurlah. Katakanlah. Kenapa kamu tidak bisa mengucapkannya.

Apa aku berniat... untuk membiarkannya berlalu tanpa mengatakannya.

Padahal aku sudah melakukan hal semacam itu pada adik kembarnya, beraninya aku mencoba melanjutkan hubungan seperti sedia kala dengan berpura-pura diam.

Jangan bercanda. Katakan. Ayo katakanlah.

"...Tapi, menurutku tetep aja kelakuan kayak gitu nggak pantes dilakuin sama anak SMA kayak kita. Soalnya kalau perasaan kita terlalu menggebu-gebu... nanti repot urusannya kalau sampai bikin kesalahan."

"Lagi pula, aku itu bener-bener sangat menyukai Hiromichi-kun, makanya aku pengin banget jaga hubungan kita baik-baik. Aku nggak mau cuma gara-gara perasaan sesaat kayak anak kecil yang nggak bertanggung jawab, jadinya malah ngotorin hubungan kita ini...."

"Makanya, kita jangan lakuin hal yang kayak gitu lagi, ya?"

"────"

Tatapan mata Haruka yang menatapku bergetar menyiratkan sebuah 'perasaan'. Saat itulah aku menyadarinya.

Bahwa saat ini diriku sedang berdiri di posisi yang sangat berbahaya. Haruka bukan merasa ketakutan.

Ia merasa 'jijik'. Kepada diriku yang semalam. Dan rasa jijik itu pun masih tersisa hingga kini.

Karena itulah Haruka ingin menjaga jarak dariku. Ia tak ingin melakukan ciuman semacam itu lagi. Karena itu akan menodainya.

Kalau aku menceritakan masalahku dengan Shigure kepada Haruka yang seperti ini..., sudah pasti,

"A-Ah, iya. Apa yang diomongin sama Haruka emang bener, kok. Kita ini cuma anak-anak yang masih dihidupi sama orang tua, makanya kita harus... tetap jaga batas."

"Makasih, ya! Udah kuduga kalau Hiromichi-kun pasti bakalan ngertiin hal itu!"

...Mana mungkin aku bisa mengatakannya.

Namun, akan tetapi, ..................kalau dipikir-pikir lagi, justru inilah yang terbaik.

Bagaimana tidak, aku rasa perbuatanku ini belum bisa disebut sebagai sebuah perselingkuhan.

Aku memang berciuman dengan Shigure, itu adalah sebuah fakta.

Fakta, tetapi saat itu aku terus-menerus memanggil nama Haruka.

Seandainya Haruka mau merespons ciumanku dengan baik pada saat itu, pasti hal ini takkan pernah terjadi dari awal, jadi rasanya kurang tepat jika menyebut ini sebagai perselingkuhan.

Lagi pula, ciuman semalam bukan murni kesalahanku saja. Shigure juga sangat terlibat di dalamnya.

Shigure-lah yang menggodaku.

Kalau dia tidak menggodaku dengan cara seperti itu, aku juga tidak akan menciumnya.

Jika aku mengakuinya, ada kemungkinan besar hal ini akan menimbulkan keretakan hebat dalam hubungan kakak beradik antara Shigure dan Haruka.

Itu bukanlah hal yang bagus. Sebuah pilihan yang takkan bisa membahagiakan siapa pun. Lebih baik aku diam saja.

Hanya karena dia pacarku, bukan berarti aku wajib menelanjangi semua perbuatanku tanpa ada yang kututupi darinya.

Sudah pasti kalau sepasang kekasih yang jumlahnya sebanyak bintang di dunia ini juga memiliki satu atau dua rahasia yang disembunyikan.

Hal yang seharusnya kulakukan bukanlah merasa ketakutan dan bimbang hanya karena satu rahasia belaka.

Melainkan mengungkapkan rasa cintaku yang meluap-luap kepada Haruka seperti yang kutunjukkan pada Shigure semalam, dengan cara yang diinginkan dan dapat diterima oleh Haruka.

Dengan cara begitulah, aku akan merajut ikatan kami. Sudah pasti begitu. Pasti. Sudah pasti────

──Aku menyusun sebanyak mungkin alasan mengapa aku tidak perlu mengakui kesalahanku pada Haruka. Untuk sedikit menjustifikasi perbuatanku.

Untuk memberikan sedikit alasan pada kebohonganku.

Bagaimana tidak, ...karena tidak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan.

Mana mungkin aku bisa mengaku kalau aku telah berciuman dengan Shigure.

Kalau aku mengatakannya, aku akan kehilangannya.

Kekasih tercintaku yang saat ini sedang tersenyum manis di hadapanku.

Aku menyukai gadis ini.

Aku sangat menyukainya.

Hanya hal itu saja yang sama sekali tidak ada kebohongan di dalamnya.

Oleh karena itu, aku............ takkan pernah bisa memilih untuk kehilangannya dengan tanganku sendiri.

"Woi, pasangan bodoh di sana. Mau sampai kapan kalian kelayapan terus. Kan udah kubilang kita beres-beres sebelum jalanannya macet!"

"Iyaaa! Ayo kita pergi, Hiromichi-kun!"

"...Iya."

Aku memutuskan di dalam hatiku untuk menyembunyikan kejadian semalam.

Lalu, sambil berusaha menyembunyikan tekad gelasku itu dari wajahku, aku mencoba meraih tangan Haruka yang terulur kepadaku. ──Akan tetapi,

Tanganku membeku kaku tepat sebelum menyentuh tangan Haruka.

"Ukh............"

"...? Kamu kenapa, Hiromichi-kun. Ayo kita pergi bareng?"

Haruka memiringkan kepalanya dengan heran sembari mengulurkan tangannya.

Aku merespons isyarat Haruka yang mengayunkan tangannya pelan untuk mendesakku agar segera menggenggamnya.

Aku pun menggenggam tangannya.

Seketika, jantungku berdegup kencang bagai lonceng kecemasan.

Kekuatan genggamanku ini... apa sudah pas.

Bukankah kekuatannya malah akan membuat Haruka merasa tak nyaman.

Atau mungkin genggaman ini malah terlalu lemah dan membuatnya merasa curiga.

Aku tak tahu. Selama ini, aku bahkan tak tahu seberapa kuat aku menggenggam tangan Haruka.

Tepat, sejak saat itulah. Bergandengan tangan.

Perlakuan yang tadinya mulai menjadi kebahagiaan yang wajar di antara kami berdua, kini di dalam diriku, telah berubah menjadi sebuah penderitaan yang disertai rasa cemas dan ketakutan kalau-kalau aku akan dibenci oleh Haruka....



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close