Chapter 33
Hubungan Intim × Saudari
"Haa… wajah
yang jelek sekali, penuh dengan air mata..."
Saat itu pukul 10
malam, waktu di mana kerumunan orang yang kembali dari pertunjukan kembang api
hampir semuanya sudah bubar.
Dalam perjalanan
pulang dari stasiun terdekat, setelah membeli beberapa roti manis untuk sarapan
di minimarket dan keluar dari toko, Shigure menghela napas dalam-dalam sambil
melihat kamera selfie ponselnya di pintu masuk.
"Aku hanya
tidak bisa menahan tangis, aku juga tidak bisa menertawakanmu, Onii-san."
Faktanya, mata
Shigure bengkak, dan matanya memerah. Tapi aku sama sekali tidak menganggap
wajahnya terlihat jelek.
"Ah, ada
memar di leherku. Kamu
terlalu agresif, Onii-san."
"I-Ini bukan
salahku saja."
Aku
membalas Shigure yang memprotes dengan ekspresi cemberut. Dalam hal itu, kami sama-sama saling memicu.
Setelah itu...
bahkan membuatku terkejut, kami terus berciuman dan berpelukan tanpa merasa
bosan, melakukan ini dan itu, sampai kami menyadari hari sudah begitu larut.
"Sungguh.
Seberapa besar sih kamu mencintaiku, huh?"
"Mmm,
kira-kira sepuluh kali lipat lebih besar dari rasa cintamu padaku, Onii-san,
bisa dibilang begitu."
"Hmph… tidak
benar."
"Eh, tapi
kurasa ada selisih sebesar itu dalam jumlah seberapa sering kita saling bilang
cinta."
Yah, itu memang
benar. Rasanya aku jadi agak merasa bersalah.
"Tapi,
hal semacam ini seharusnya tentang kualitas, bukan kuantitas. Mulai sekarang,
pokoknya mulai sekarang."
"Hmm~."
Sambil
berkata begitu, Shigure memberikan senyuman penuh arti, merapat di lengannya.
"Jadi,
aku bisa mengharapkan kualitas itu begitu kita sampai di rumah, kan?"
"Heh… begitu
kita sampai?"
"Ya ampun?
Kamu sudah puas, Onii-san? Aku sama sekali belum puas, baik dalam kualitas
maupun kuantitas."
Sambil berbicara
dengan nada memprovokasi, Shigure menempelkan tubuhnya ke lenganku.
Sensasi lembut
yang mendesak ke arahku membawa kembali kegembiraan dari sebelumnya.
Aku merasa sama
tidak puasnya dengan dirinya.
Tempat dan
persiapannya tidak tepat kali ini. Jadi, begitulah. Terlepas dari semua rayuan
kami, kami belum melakukan hal yang paling hakikat.
"Sepertinya
aku lebih mencintaimu daripada kamu mencintaiku, Onii-san."
"A-Aku
juga belum puas! Sama sekali belum! Sebaiknya kamu bersiap-siap begitu kita
sampai di rumah!"
"Fufufu.
Aku menantikan agar keberanian itu bertahan sampai akhir♪"
Shigure
mempererat genggamannya di lenganku dengan remasan.
Tekadnya
untuk tidak melepaskanku begitu jelas.
…Sepertinya
Shigure sudah benar-benar menyalakan tombol di dalam dirinya.
Dan...
begitu juga dengan diriku.
"..."
Apa yang
akan terjadi jika kami kembali ke rumah kami yang kosong dalam kondisi seperti
ini?
…Kami akan
melakukannya. Mungkin, tidak, pasti.
Tidak ada ruang
untuk keraguan.
Karena saat ini,
aku sangat, sangat ingin bermesraan dengan Shigure.
Jika
dipikir-pikir kembali, aku mungkin tidak pernah merasakan emosi semacam ini
terhadap Haruka.
Bukannya aku
tidak menyukai Haruka atau semacamnya.
Pria sering
dikatakan menyukai seks, bahwa adalah hal yang wajar bagi mereka untuk menjadi
cabul, atau bahwa mereka lebih tidak bertanggung jawab daripada wanita. Haruka
pernah membentakku, menuduh perasaanku murni bersifat fisik, sejatinya dia
tidak mengerti.
Jujur saja, pria
bisa merasa takut juga.
Takut, karena...
tidak semudah itu untuk sekadar ingin melakukannya, untuk meneruskannya begitu
saja.
Setidaknya, aku
merasakan hal itu.
Pikiran itu
selalu terlintas di benakku. Sebagai seorang pelajar biasa, apakah benar
bersikap begitu tidak bertanggung jawab? Tanpa memikirkan masa depan.
Tanpa
menghargainya. Hanya bajingan yang mencari hubungan fisik──
Namun mengatasi
pikiran-pikiran semacam itu, alasan aku bisa merasakan hasrat tersebut... tidak
lain adalah karena aku benar-benar percaya bahwa Shigure sendiri
menginginkannya.
Karena dia telah
menyampaikan cintanya kepadaku tanpa keraguan sedikit pun, sepanjang waktu ini.
Jika Shigure
mengingionskannya, maka aku ingin membalasnya dengan segala hal yang bisa
kulakukan.
Karena itulah
satu-satunya cara untuk membawa perasaan yang tidak bisa menjanjikan keabadian
menjadi selangkah lebih dekat dengan selamanya.
Saat aku
merenungkan pikiran-pikiran ini, rumah kami pun kelihatan.
Seluruh tubuhku
mulai berkeringat karena tegang.
Setiap derit dari
tangga besi yang berkarat dan penuh lubang membuat jantungku berdetak lebih
cepat.
Dan saat kami
naik ke lantai dua──
"Hiromichi-kun!!"
Aku membeku
mendengar suara seseorang yang seharusnya tidak ada di sini, yang seharusnya
tidak duduk di dalam bayangan atap di depan pintu.
"Kamu
akhirnya... kembali..."
"Haru...
ka...?"
Kenapa Haruka ada
di depan rumah?
Dia seharusnya
sedang menghadiri pertemuan dengan seseorang dari dunia hiburan hari ini, namun
di sinilah dia, larut malam.
Kebingungan itu
begitu melanda hingga aku hampir tidak bisa berbicara.
Di sisi lain,
saat melihatku, Haruka:
"…Um, aku…
aku…!"
Dia mencoba
mengatakan sesuatu dengan suara gemetar yang diwarnai isak tangis.
Melihatnya, wajah
Haruka berantakan, seolah-olah dia telah menangis selama berjam-jam.
Dia selalu begitu
ceria.
Aku langsung tahu
bahwa sesuatu telah terjadi.
Tapi,
"Huh…?"
Sebelum dia bisa
menceritakan tentang hal itu, dia menyadari kehadiran Shigure yang berdiri di
sisiku. Ekspresi Haruka runtuh dari wajahnya.
"Kenapa…
kenapa Shigure bersama Hiromichi-kun…?"
Dengan demikian,
kisah kami berakselerasi.
Menuju akhir
cerita yang terlalu jelas terlihat.
Ya, itu sangat
jelas.
Tidak akan pernah ada akhir bahagia yang ceria untuk kisah cinta antara aku dan Shigure.



Post a Comment