NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V2 Interlude

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Cerita Sampingan

Party Sang Pahlawan

"—Agar engkau tumbuh menjadi seorang Pahlawan yang kuat, engkau harus mengembara mengelilingi dunia."


Di ruang singgasana Kerajaan Federasi Zarakia, negeri di selatan yang memuja Dewa Perang Wols, sang raja yang juga menjabat sebagai paus mengucapkan kata-kata itu dengan tenang. Di kedua sisinya berjajar rapi para Ksatria Kuil berbaju zirah hitam.


Orang yang menerima titah itu adalah seorang gadis berusia lima belas tahun—Rikka Sedona.


"Jadi kaulah Rikka. Namaku Orma Rutis. Aku seorang pemanah. Senang bertemu denganmu."


"Aku Arton Grazil, seorang pendeta. Mohon kerja samanya."


Rikka diperkenalkan kepada dua petualang tersebut, lalu memulai perjalanannya sebagai seorang Pahlawan.


Tujuannya hanya satu—menjadi lebih kuat dan meraih prestasi agar menjadi simbol kebanggaan negara.


Namun jika suatu hari perang pecah, ia akan dipanggil kembali dan ditakdirkan berdiri di garis depan medan perang.


"Aku kakak Rikka, Barbecue Sedona. Senang bekerja sama dengan kalian."


"Aku Rikka... mohon kerja samanya secukupnya saja. Ngomong-ngomong, Orma-san... telingamu agak panjang, ya?"


"Benar. Karena aku seorang elf. Apa ini pertama kalinya kau melihat elf?"


Baru saja selesai berkenalan, perhatian Rikka sudah sepenuhnya tertuju pada telinga Orma.


Telinga yang panjang dan meruncing melebihi manusia, wajah yang cantik, serta aura misterius yang menyelimutinya.


Sejak diangkat menjadi Pahlawan, Rikka hampir tidak pernah memiliki teman perempuan.


Hari-harinya dipenuhi latihan ilmu pedang, sihir, dan mempelajari ajaran Gereja Wols.


Sejak usia tiga belas tahun ia juga bersekolah di akademi gereja. Namun karena memiliki kekuatan luar biasa sebagai Pahlawan, di negeri yang sangat menjunjung kemampuan itu, ia justru ditakuti orang.


Ia tak pernah bisa benar-benar akrab dengan teman-teman seusianya, dan kesepian pun terus menumpuk.


Padahal, seandainya bukan karena keadaan itu, Rikka sebenarnya mudah sekali berteman dengan siapa pun.


"Baru pertama kali aku melihat elf... lucu juga, ya."


"Hehe, reaksimu memang sesuai usiamu. Omong-omong, usiaku sudah lebih dari empat puluh tahun."


"Eeeeh!? Em-empat puluh!?"


"Hehe. Kukira kau selalu tanpa ekspresi, ternyata ekspresimu cukup beragam juga."


Orma dan Arton tak kuasa menahan tawa melihat kepolosan Rikka. Namun di dalam hati mereka tetap muncul satu pertanyaan.


Benarkah gadis ini memiliki kekuatan yang pantas disebut sebagai seorang Pahlawan?


Beberapa hari kemudian, mereka segera mengetahui jawabannya.


"—Kak, begini sudah cukup?"


Di hadapan mereka bertumpuk gunung mayat monster.


Semua monster itu ditebas habis oleh Rikka seorang diri.


Di tangannya tergenggam pedang sihir Pedang Naga Air Aquarius, senjata yang meningkatkan kekuatan sihir elemen air dan memungkinkan penggunanya mengeluarkan teknik-teknik khusus.


Ini adalah ujian yang diatur Barbecue agar kedua rekannya melihat sendiri kemampuan Rikka.


Di dalam hutan yang dipenuhi monster kuat, ia mempertontonkan seluruh kekuatannya tanpa menyisakan apa pun.


"Kerja bagus. Memang hebat, Rikka."


"Monster setingkat Rank B bisa dikalahkan semudah ini..."


"Dan sebanyak ini pula... sulit dipercaya..."


Biasanya Rikka tampak tidak bersemangat karena memang tidak menyukai pertarungan.


Namun begitu menggenggam pedang, ia menebas monster dengan kecepatan yang bahkan tak dapat ditangkap mata.


Menyaksikan teknik pedangnya yang begitu indah, keduanya tak lagi meragukan kemampuannya.


"Rikka memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan semua Ksatria Kuil, kecuali sang komandan."


"Orang itu curang, makanya aku tidak suka. Kalau bertarung secara adil, aku pasti menang."


"Di usia semuda ini sudah mampu menyamai komandan... benar-benar mengerikan."


"Malah rasanya kami yang tidak terlalu dibutuhkan."


Dengan berkah sebagai Pahlawan, Rikka berkembang pesat setiap kali berlatih.


Di usia lima belas tahun, kemampuannya sudah melampaui petualang Rank B.


Bahkan di Federasi Zarakia yang menjunjung tinggi kekuatan bela diri, ia telah menjadi salah satu sosok terkuat.


◇◇◇


"—Rikka, sedang apa?"


Di tengah perjalanan mereka menemukan sebuah pemandian air panas alami.


Mereka bergantian berendam antara pria dan wanita.


Saat giliran Rikka dan Orma, keduanya menikmati suasana malam di bawah langit berbintang.


Di sana, Rikka membentuk kedua tangannya seperti pistol, lalu menembakkan sihir air ke langit.


Pyut... pyut...


"Aku sedang berpikir... mungkin bintang yang jauh itu adalah tempat asal diriku."


"Tempat asalmu?"


"Mungkin... kalau dengan Orma, aku boleh menceritakannya."


Untuk pertama kalinya, Rikka hendak menceritakan rahasia yang belum pernah ia sampaikan kepada siapa pun. Bahkan kepada kedua orang tuanya maupun kakaknya.


"Dulu sekali... ada seseorang yang kusukai. Tapi sekarang... kami sudah terpisah."


"Kau tidak bisa menemuinya lagi?"


"Aku... tidak bisa."


"Jangan-jangan... dia sudah meninggal?"


Orma bertanya dengan hati-hati.


Namun Rikka hanya menggeleng pelan.


"Bukan. Kalau dipikir-pikir... justru akulah yang meninggal."


"Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu."


"Hehe, memang sih. Tapi... meski sudah berlalu begitu lama, aku masih belum bisa melupakannya. Kenapa ya...?"


"Itu pasti karena... sampai sekarang kau masih mencintainya, bukan?"


Mendengar senyum lembut Orma, mata Rikka membelalak.


"Tapi sekarang orang itu pasti sudah menjadi om-om, lho. Sedangkan aku sekarang terlihat seperti anak kecil."


"Hehe. Berarti kau suka pria yang lebih tua?"


"Bu-bukan! Dulu kami seumuran! Memang mulutnya kasar dan tatapannya galak, tapi sebenarnya dia orang yang baik...!"


"Begitu ya. Berarti dia teman masa kecilmu."


Ucapan Orma membuat jantung Rikka berdegup kencang.


Ingatan yang perlahan memudar kembali mulai tersusun.


"Benar... dia teman masa kecilku. Aku selalu mengurusnya seperti kakak perempuan, meski dia sering merasa terganggu. Tapi reaksi seperti itu justru terasa lucu..."


Semakin ia mengucapkannya, dadanya terasa hangat sekaligus perih. Menahan air mata yang hampir mengalir, Rikka bergumam pelan.


"Ah... ternyata sampai sekarang pun aku masih mencintai Shuuji..."


"Shuuji, ya... semoga suatu hari nanti kalian bisa bertemu lagi."


Harapan yang mustahil terwujud. Namun tetap ingin ia raih.


Orma tidak benar-benar memahami cerita Rikka. Karena itulah ia mengira orang yang dimaksud masih hidup, hanya saja terpisah.


Maka Rikka pun mengucapkan lamunan yang nyaris mustahil.


"——Kalau aku mati sekali lagi... apa aku bisa hidup bersama dengannya di dunia yang sama ya?"


Setelah itu, rombongan Pahlawan mengelilingi Federasi Zarakia selama dua tahun.


Mereka menyelamatkan desa-desa yang diserang monster, membersihkan patung Wols yang ternoda, bahkan sesekali membantu restoran yang sedang kekurangan pegawai.


Berkat semua tindakan itu, Rikka secara alami memperoleh kepercayaan dan rasa hormat dari seluruh negeri.


Bukan hanya karena kuat, tetapi juga karena ia adalah seorang Pahlawan yang lembut dan selalu peduli kepada orang lain.


Dan sesuai perintah sang raja untuk menjelajahi dunia, rombongan Pahlawan akhirnya meninggalkan Federasi Zarakia dan melanjutkan perjalanan ke utara—ke arah Kerajaan Einfilia.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close