Epilog
Setelah semuanya
berakhir dan aku kembali ke penginapan tempat Rose serta Keith menunggu, aku
menerima laporan bahwa Lena telah diantarkan ke penginapan oleh Girimehkala.
Di bawah panduan
Keith, saat melangkah masuk ke dalam kamar, pandanganku berbenturan dengan Lena
yang sedang menegakkan separuh tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ka-kun?"
Selama beberapa
saat, ia menatapku dengan wajah cengong.
Namun secara
bertahap, air mata perlahan merembes dan menggenang di sudut matanya.
Kemudian, ia
melompat bangkit dari tempat tidur lalu menerjang memelukku. Ia membenamkan
wajahnya di dadaku dan tak bergeming sedikit pun.
"Umu. Lena,
sudah lama tidak bertemu ya."
"U...
ng."
Mungkin dia
sedang menangis. Sangat wajar. Walaupun ia langsung dilindungi oleh
Girimehkala, ia pasti telah melalui pengalaman yang cukup menakutkan.
"Jangan
khawatir. Semua sudah baik-baik saja."
Saat aku
mengelus lembut bagian belakang kepalanya dengan tangan kanan seperti yang
biasa kudakukan di masa lalu, suara dehaman terdengar.
Rose
sedang duduk bersanding di samping kami sambil tersenyum.
Mata
wanita itu sama sekali tidak menyunggingkan senyuman, tetapi besar kemungkinan
ia merasa kesal karena diabaikan padahal berada di kamar yang sama.
Dasar
sosok yang sangat sempit hatinya.
"Kai, apakah
semuanya sudah selesai?"
"Ah, untuk
saat ini semuanya sudah beres. Sisanya tinggal penanganan pascabencana."
Saat aku menjawab
pertanyaan Rose...
"Ka-kun,
nada bicaramu agak berubah ya?"
Lena
bertanya sambil mendongak menatapku.
"Umu,
anggap saja ini ganti citra."
"Sebenarnya
menurutku tingkat perubahannya sudah bukan sekadar ganti citra lagi
sih."
Menanggapi
Keith yang menyela dari belakang...
"Ya,
benar sekali. Pasti bagian dalam dirinya juga ikut ganti citra."
Rose ikut
menyetujui. Aku memutuskan untuk mengabaikan topik yang berisiko bagi diriku
ini dengan sepenuh tenaga, lalu mengalihkan pembicaraan.
"Tinggi
badan Lena juga sudah agak bertambah ya."
"Ung!
Aku makin tinggi lho! Syukurlah Ka-kun tidak banyak berubah!"
Entah
bagian mana yang membuatnya bersyukur, tetapi Lena mendekapku erat sambil
menghirup aromaku. Ini adalah kebiasaan Lena sejak dulu.
Kebiasaan
buruk mirip hewan yang tidak pernah berhasil diubah meski sudah sering
kuperingatkan.
Yah,
karena dia hanya melakukan hal ini kepadaku—satu-satunya pria yang sudah
seperti saudara kandungnya sendiri—jadi sebenarnya tidak ada masalah besar.
Meski
begitu, padahal peristiwa ini terjadi ratusan ribu tahun yang lalu, tetapi
bagiku rasanya baru terjadi beberapa tahun yang lalu.
Meskipun
terasa sebagai kenangan yang aneh, saat melihatnya secara langsung seperti ini,
aku bisa mengingatnya dengan sangat jelas.
"Benar
juga. Lena."
"Ung,
ada apa?"
Setelah
mengusap sekali kepala Lena yang tersenyum mendongak tanpa mau melepaskan
dekapannya, aku berbalik menatap Keith.
"Aku
pulang."
Aku
melontarkan salam yang melampaui rentang waktu ratusan ribu tahun.
Setelah
itu, Lena segera kembali ke sosoknya yang ceria dan polos seperti biasa.
Jadi,
selama beberapa hari ini aku menemaninya bersama Keith untuk bertamasya
mengelilingi Barse sampai ia merasa puas.
Batas waktu untuk
penebusan ras manusia binatang itu masih agak lama.
Berdasarkan
penjelasan Pak Tua Aaron, statusku di Turnamen Bela Diri Suci bukanlah
didiskualifikasi, melainkan dianggap mengundurkan diri sehingga hadiah uangnya
tetap akan dibayarkan.
Saat ini aku
hanya perlu menunggu prosesnya selesai, yang artinya seluruh misi pada dasarnya
telah rampung.
Tak lama
kemudian, utusan penjemput Lena dan Keith tiba dari Ibu Kota Kerajaan. Para
utusan itu tampak benar-benar cemas dari dasar hati mereka.
Khususnya wanita
yang berpenampilan seperti pelayan itu, ia merangkul Lena lalu menangis
kencang.
Melihat situasi
tersebut, sepertinya ia sangat disayangi di Kerajaan, membuatku lega.
Tetapi demikian,
baru beberapa hari berlalu sejak kabar mengenai Lena disampaikan, tetapi utusan
penjemput sudah tiba secepat ini.
Sungguh hal yang
sangat ironis, tetapi dalam artian tertentu, bagi Kerajaan saat ini keberadaan
Lena mungkin jauh lebih penting dibandingkan Rose.
"Nee,
Ka-kun."
Aku melepaskan
helaan napas kecil menatap Lena yang sedang memelukku sambil mendongak dengan
pandangan memohon.
Ini adalah
kebiasaan Lena saat menginginkan sesuatu dariku.
"Hmm?
Ada apa?"
"Ka-kun,
untuk sementara kamu bakal bertindak bareng Rose-chin, kan?"
"Ah,
walau sangat disayangkan, sepertinya bakal begitu."
Menanggapi
jawabanku, Rose yang berada di sampingku mencubit pinggangku sambil mencetuskan
dehaman pelan. Tidak bisa mentoleransi sindiran sepele seperti ini, dia
benar-benar gadis yang kekanak-kanakan.
"Begitu!
Baguslah kalau begitu!"
Entah
bagian mana yang menurutnya bagus, tetapi ia melompat masuk ke dalam kereta
kuda dengan senyuman yang mengembang penuh di wajahnya.
"Keith, aku
titip Lena seperti biasa, ya."
"Serahkan
padaku. Kamu juga jangan bertindak nekat, ya."
Melontarkan
kalimat yang persis sama dengan yang diucapkan Paman Olga, Keith pun ikut naik
ke dalam kereta kuda.
Mendadak, Lena
memunculkan wajah dan tangan kanannya dari balik jendela kereta kuda, lalu...
"Sampai
jumpa lagi!"
Ia melambaikan
tangannya berkali-kali dengan penuh semangat.
"Ah, sampai
jumpa lagi."
Meski agak
mengernyitkan dahi mempertanyakan nuansa dari ucapannya, kami pun berbalik
untuk kembali ke penginapan.
Spy terbangun di
atas tempat tidur di sebuah ruangan yang tidak dikenalnya.
Seorang wanita
pelayan yang berada di sampingnya memberi hormat, lalu melangkah keluar dari
kamar. Seolah-olah bergantian dengannya...
"Yo,
Kapten!"
Salt, si pemuda
bersorban, melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengangkat tangan kanannya.
"Salt!
Kamu... masih hidup!?"
"Ah, ini
semua berkat kemurahan hati Kai-sama."
"Kai-sama,
ya... Itu sih—ah, nanti saja. Bagaimana dengan Chili dan Vinegar? Apakah mereka
masih berbentuk kimera?"
Ada banyak
hal yang ingin ditanyakan, seperti alasan Salt menggunakan bahasa hormat kepada
Kai Heinemann, tetapi kekhawatiran utamanya adalah masalah itu.
Bagaimanapun
juga, Spy adalah pihak yang kalah.
Pemenang
seperti Kai Heinemann pada dasarnya tidak memiliki kewajiban untuk menepati
janji.
"Nggak
kok, wujud kimera mereka langsung dilepas tidak lama setelah itu. Tapi sekarang
mereka berdua lagi ikut pelatihan khusus bareng Girimehkala-sama dan yang
lainnya, jadi tidak bakal bisa balik dalam waktu dekat."
"Pelatihan
khusus? Apa maksudnya?"
"Ah,
cuma mengingatnya saja sudah bikin mau muntah, benar-benar latihan neraka. Tapi
tenang saja, latihan itu tidak buruk-buruk amat kok. Aku juga bisa kembali ke niat awal berkat latihan
itu."
Ekspresi Salt
saat menjawab sangat cerah dan segar, sama sekali tidak memancarkan emosi
negatif sedikit pun.
"Aku
benar-benar tidak paham..."
"Ahaha,
sebentar lagi kamu juga bakal paham kok."
Setelah
melontarkan pernyataan yang sarat makna itu, Salt mengarahkan jari telunjuknya
ke arah pintu lalu mulai melangkah. Itu adalah isyarat agar ia mengikutinya.
Spy dan yang
lainnya seharusnya sudah mati.
Tidak ada alasan
untuk ragu-ragu lagi sekarang.
Hanya saja, wujud
Salt yang begitu penuh dengan vitalitas ini sangat mirip dengan sosoknya di
masa kecil saat masih membara oleh ambisi, membuat Spy merasa terkejut dari
dasar hatinya.
Setelah keluar
dari penginapan, Salt berjalan menuju area terbuka di dekat sana. Di tempat itu, berdiri seorang
wanita berambut ungu yang mengenakan topi.
"Asta-sama,
saya sudah membawanya."
"Kalau
begitu, mari kita berangkat."
Begitu wanita
berambut ungu yang dipanggil Asta itu memetikkan jarinya, pemandangan di
sekeliling mereka seketika membuai terdistorsi.
Saat tersadar,
sebuah pintu raksasa telah menjulang tinggi tepat di hadapannya.
"K-Tempat
apa ini?"
Sembilan puluh
sembilan persen ini adalah kemampuan perpindahan ruang.
Kemampuan untuk
mengendalikan ruang adalah kekuatan tingkat legenda. Ini adalah pertama kalinya
bagi Spy bertemu langsung dengan penggunanya secara nyata.
Di depan pintu,
Asta berbalik menghadap ke arah Spy, lalu...
"Satu hal
yang perlu kuperingatkan padamu. Yang berada di dalam pintu ini adalah
kejahatan dunia. Secara
harfiah, monster terkuat dan paling mengerikan. Demi keselamatan dirimu
sendiri, jangan pernah bertindak bodoh."
"Aku
sudah tahu hal semacam itu."
Lengah sedikit
saja berarti kematian instan.
Kai Heinemann
adalah gumpalan ketakutan tingkat tertinggi semacam itu.
Tetapi demikian,
ia pernah bertarung melawannya.
Tidak perlu
diingatkan hal yang sudah sewajarnya seperti itu sekarang.
"Kamu
mengerti, kan?"
Asta menatap
tajam ke arah Spy sambil menegaskan kembali penekanannya yang membingungkan.
『Aku mengerti...』
Tiba-tiba, suara
seorang gadis kecil yang hampir redup terdengar dari dalam diri Spy.
"O-Oik,
Salt, ini sebenarnya—"
Spy
mencoba menanyakan fenomena tidak masuk akal ini kepada Salt, tetapi...
"Nanti
kamu juga bakal langsung paham."
Berbeda
dari sikapnya yang tadi, Salt menatap ke arah pintu dengan raut wajah yang
paling serius yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Kalau
begitu, aku mendoakan keberuntungan kalian dalam bertempur."
Pintu raksasa itu
pun perlahan-lahan terbuka, dan Spy melangkah melintasi ambang pintu tersebut.
Hiasan berselera
buruk terpajang di dinding, permadani merah membara terbentang hingga ke atas
tangga, dan di ujungnya terdapat sebuah tahta.
Kai Heinemann
sedang duduk di sana sambil bertopang dagu pada sandaran tangan.
Dan keberadaan
para entitas transcendental yang berbaris di samping permadani itu berada di
tingkatan yang sama sekali berbeda.
(Hahaha...
Hal itu benar-benar yang terburuk.)
Ia sudah
menduga hal ini, tetapi ia tidak pernah membayangkan situasi ini bakal sekacau
ini.
Kemungkinan
besar, mereka adalah makhluk yang sama sekali berbeda dari entitas spiritual
yang pernah ditemui Spy selama ini.
Sambil
mengatupkan giginya menahan tekanan dahsyat yang memancar dari sekelilingnya,
Spy berusaha mengendalikan diri untuk tetap tenang lalu berjalan hingga tiba di
hadapan Kai Heinemann.
『Sungguh tidak sopan menunjukkan wujud seperti itu di hadapan Sang Agung!』
Saat monster
berwajah singa melontarkan seruan membahana...
"Hiiik!"
Seorang gadis
berambut biru muda dengan dua tanduk mendadak muncul seolah-olah menyembur
keluar dari dalam tubuh Spy.
Saat Spy
terbelalak kaget melihat situasi yang tidak masuk akal ini...
『Tundukkan kepalamu!』
Suara
berat dan dalam dari monster berhidung panjang bergema, membuat tubuh Spy dan
gadis itu secara refleks menekuk kedua lutut dan membenamkan dahi mereka ke
atas permadani.
『Angkat kepalamu.』
Suara
berat itu kembali bergema, mengembalikan kendali atas kepala mereka.
"Spy, ini
pertama kalinya kita bertemu lagi sejak pertempuran itu, ya."
Menanggapi ucapan
Kai Heinemann...
"Ya."
Spy menundukkan
kepalanya. Baru melontarkan beberapa patah kata saja, kelenjar keringatnya
seolah-olah jebol hingga mengalir tanpa henti.
Gadis berambut
biru muda di sampingnya juga terus mengatupkan giginya hingga bergemeletuk
sambil tetap bersujud.
Apakah Spy
benar-benar pernah bertarung melawan monster seperti ini?
Ia merasa pada
saat itu dirinya sedang high hingga kepekaannya lumpuh total. Ini bukan
lagi soal menang atau kalah.
Bertarung melawan
keberadaan ini sendiri sudah merupakan tindakan paling bodoh.
"Pertama-tama
mari kita pahami situasinya. Aku sudah mencoba memisahkan kalian berdua, tetapi
berakhir dengan kegagalan. Tidak, mungkin ucapan itu kurang tepat. Berhasil
secara setengah-setengah adalah deskripsi yang paling mendekati."
Memisahkan
Spy dan gadis berambut biru muda itu?
Apakah yang
dimaksud adalah kemampuan Soul Eater milik Spy?
Namun, yang
diserap oleh Spy bukanlah gadis ini, melainkan entitas spiritual berbentuk sapi
bersayap.
Lagipula,
mekanisme Soul Eater milik Spy pada dasarnya tidak bisa dipisahkan
begitu sudah diserap.
Di saat Spy
berada di puncak kebingungannya...
"Kalian
berdua telah menjadi satu kesatuan.
Tampaknya kalian
telah berubah menjadi makhluk hidup seperti itu.
Yah, ini juga
merupakan hasil dari perbuatan kalian sendiri.
Terima saja
dengan lapang dada.
Dan sekarang,
kita masuk ke inti pembahasannya."
Mendadak, nada
suara Kai Heinemann berubah, dan tekanan yang memancar darinya melonjak dahsyat
ke tingkat yang berbeda.
"Aku akan
bertanya kepada kalian berdua. Apakah menyakiti orang lain itu menyenangkan
bagi kalian?"
"Sama sekali
tidak menyenangkan."
"Aku
membencinya."
Jawaban dari Spy
dan gadis berambut biru muda itu saling bertumpuk dengan sangat pas.
"Kalau
begitu pertanyaan berikutnya. Lalu mengapa kalian menginjak-injak orang
lain?"
"Karena aku
tidak punya pilihan lain."
"Karena
harus dilakukan."
Sekali lagi,
jawaban Spy dan gadis itu kembali bertumpuk. Suara ketukan jari telunjuk Kai
Heinemann pada sandaran tangan terdengar bergema ke seluruh ruangan.
"Apakah
kalian menyesali perbuatan kalian selama ini?"
"...Mungkin,
aku menyesalinya."
"Aku sungguh
menyesalinya."
Menyesalinya? Hal
itu sudah sangat jelas.
Ia sangat
menyesalinya.
Khususnya pada
saat itu, ketika ia membuang hal paling berharga sebagai seorang manusia, hal
itu bahkan masih sering menghantuinya dalam mimpi.
Namun, semuanya
sudah terlambat. Sebesar apa pun rasa penyesalan itu, perbuatan yang telah
dilakukan Spy tidak akan pernah berubah. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa
diganggu gugat.
Untuk pertama
kalinya Kai Heinemann memajukan tubuhnya dari atas tahta, lalu...
"Kalau
begitu pertanyaan terakhir. Spy, Tiamat, bagi kalian berdua yang sekarang,
apakah hal yang paling berharga?"
"Anak-anak
itu! Hamba tidak peduli apa yang akan terjadi pada hamba! Tolong selamatkan
anak-anak itu saja!"
Saat Tiamat
berteriak memohon dengan sangat histeris, Kai Heinemann menghentikannya dengan
gestur tangan kanan, lalu memberi isyarat kepada Spy untuk menjawab.
"Bagi saya
juga rekan-rekan saya. Walaupun mereka adalah bajingan yang telah keluar dari
jalan kemanusiaan sama seperti saya, bagi saya mereka adalah keluarga berharga
yang telah berbagi suka dan duka bersama selama ini."
Saat Kai
Heinemann melirik pelan ke arah gadis berambut hijau yang bersiaga di
sisinya...
『Yang Maha Tinggi, orang-orang ini sama sekali tidak melontarkan kebohongan
sedikit pun.』
Gadis itu segera
memberikan jawaban pasti.
Kai Heinemann
menyunggingkan senyuman lebar, menepuk kedua lututnya dengan kedua tangan, lalu
bangkit berdiri dari atas tahta.
"Bagus!
Kalian lulus! Mengenai tanggung jawab kalian sebagai pemimpin dalam insiden
kali ini, anggap saja sudah lunas dengan pertanyaan tadi. Girimehkala, apakah
kamu bisa menjadikan Spy dan yang lainnya sebagai bawahan (familiar)?"
Kai Heinemann
bertanya kepada monster berhidung panjang, Girimehkala.
『Bisa dilaksanakan. Pada dasarnya Buku Panduan tidak memiliki spesifikasi
untuk menjadikan manusia sebagai bawahan (familiar), tetapi kelompok Kyo
telah berubah hingga sulit disebut sebagai manusia murni berkat kemampuan
penyerapan dan evolusi jiwa tersebut.』
"Begitu ya.
Aku bukan orang yang sangat baik hati hingga mau membiarkan kalian yang telah
mengamuk sesuka hati di dunia ini berkeliaran bebas. Karena itulah, aku akan
memasangkan belenggu pada kalian."
"Belenggu?"
"Spy, sesuai
rencana awal, kamu akan menjadi bawahan (familiar) dari Girimehkala.
Tiamat, kamu... benar juga, Nemesis, didik kembali dia sebagai bawahanmu (familiar)."
『Hamba siap melaksanakan perintah!』
『Dengan senang hati!』
Menanggapi dua
entitas yang membalas dengan suara riang tersebut...
"Kalau
begitu, perjamuan selesai!"
Bersamaan dengan
kalimat itu, Kai Heinemann melangkah pergi meninggalkan ruang tahta dengan
sangat keren, disusul oleh para entitas transcendent lainnya yang menghilang
satu demi satu.
Gadis berambut
biru muda itu pun ikut diseret pergi oleh wanita cantik bertubuh tinggi
berbalut pakaian merah yang dipanggil Nemesis.
Spy berusaha
bangkit berdiri, tetapi kedua lututnya bergetar hebat hingga ia nyaris tumbang
terjerembap. Salt bergegas menahan tubuhnya.
"Kerja
bagus, Kapten."
"Ah, sumpah
bikin merinding setengah mati."
Tanggung
jawab sebagai jenderal dalam insiden kali ini, ya? Jika ia salah mengambil keputusan saat itu, Spy
pasti sudah—
"Yah,
aku sendiri tidak terlalu khawatir sih. Bagaimanapun juga, Kai-sama dan Kapten sebenarnya punya kemiripan di
beberapa hal. Beliau pasti bisa memahami sosok seperti dirimu. Aku sudah
menduga hal itu."
Saat Salt
berbicara dengan nada yang agak bangga, dua gadis kembar berambut hitam berlari
mendekati mereka dan berhenti di hadapan Spy. Dan kemudian—
"Salt,
apakah itu benar-benar Spy!? Bohoong, dia benar-benar pria paruh baya yang
keren banget!"
"Hee, Spy
juga ternyata sudah makin tua ya! Kamu pasti banyak menderita, kan!?"
Mereka
melontarkan ucapan dengan sangat bersemangat.
"O-Oi, Salt,
apa-apaan ini!?"
"Ah,
dua orang yang ada di depanmu sekarang adalah Pepper dan Sugar."
"Hah? Aku
sama sekali tidak paham!"
"Makanya,
sama seperti Kapten, jiwa mereka bertiga menyatu dengan dua gadis ini hingga
tidak bisa dipisahkan lagi. Karena kondisi mereka lebih tidak sempurna
dibandingkan Kapten, mereka hanya bisa muncul ke permukaan seperti ini atas
izin dari kedua gadis ini. Tapi tampaknya mental mereka sudah kembali ke masa
kecil."
"Maaf, tapi
tolong beri aku waktu untuk mencerna semua ini."
Artinya, jiwa
Pepper dan Sugar tersimpan di dalam diri dua gadis kembar berambut hitam ini,
dan kepribadian mereka bisa berganti atas izin dari kedua gadis tersebut,
begitu?
"Ngomong-ngomong,
Jiruma juga sepertinya sudah jadi bawahan (familiar) dari Beelzebub-sama
lho. Yah, pas aku ketemu kemarin, sosoknya sudah berubah total seperti orang
yang berbeda sih."
Siapa sangka
Jiruma juga ternyata masih hidup. Namun, timbul satu pertanyaan di benak Spy.
"Hei, Salt,
menurutmu kenapa para entitas transcendent itu membiarkan kita tetap
hidup?"
Bagi para entitas
transcendent itu, kelompok Kyo hanyalah sekumpulan lalat pengganggu.
Sama sekali tidak
memiliki nilai yang berarti. Membunuh adalah cara yang paling cepat dan praktis.
Tidak ada alasan
bagi mereka untuk repot-repot memberikan kesempatan bangkit dari kekalahan
seperti ini.
『Itu karena Sang Agung menyukaimu.』
Saat berbalik ke
belakang, monster berhidung panjang itu sedang berdiri menatap mereka.
『Girimehkala-sama!』
Salt segera
berlutut dan menundukkan kepalanya di hadapan monster berhidung panjang itu.
『Selama puluhan ribu tahun ini, hampir tidak ada lawan yang sanggup
bertarung secara layak melawan Sang Agung. Terlebih lagi, sosok yang diakui
oleh Beliau sebagai dewa perang hanyalah segelintir orang di antara kami.
Meskipun Beliau berkata demikian, Beliau pasti merasa sangat bahagia saat itu.
Karena itulah, ini murni merupakan kehendak dari Sang Agung. Hanya itu
alasannya.』
Begitu ya. Karena
itulah saat itu dia menunjukkan ekspresi wajah yang tampak begitu kesepian.
Spy menjadi
sedikit lebih memahami keberadaan bernama Kai Heinemann tersebut.
Mengenai hal yang
paling diinginkan dari dasar hatinya, serta fakta bahwa keinginan tersebut
kemungkinan besar tidak akan pernah terwujud di masa depan.
Dan Girimehkala
serta yang lainnya sangat memahami hal tersebut.
"Saya juga
bersumpah akan mempersembahkan kesetiaan mutlak kepada Kai-sama selama hayat
masih dikandung badan!"
Saat memahami
segelintir hal dari keberadaan yang mengerikan namun tidak jujur itu, kata-kata
kepatuhan yang rasanya tidak mungkin keluar dari mulutnya sendiri meluncur
begitu saja.
『Fuh! Tentu saja. Karena kamu sudah menjadi bawahan (familiar)
milikku. Kamu harus bekerja keras demi Sang Agung. Hari ini adalah istirahat
terakhirmu. Mulai
besok, aku akan menggembleng mental penakutmu itu dari dasar. Bersiaplah!』
Setelah
melontarkan kalimat itu, wujud Girimehkala menghilang seketika.
"Mari kita
mulai dari awal lagi."
Dua rekan yang
kehilangan ingatan dan tubuh fisik, dua orang yang saat ini sedang menjalani
latihan neraka, satu rekan yang berubah menjadi kepribadian berbeda, dan—
"Kapten,
berikan perintah."
Satu rekan yang
siap untuk melangkah maju sekali lagi.
Benar juga.
Melayani keberadaan yang mahakuasa itu adalah awal yang sangat bagus. Jika
diizinkan, mari kita mulai melangkah lagi dari tempat ini.
"Ayo
berangkat. Pertama-tama mari kita susun rencana untuk pekerjaan
berikutnya."
Tentu saja,
rencana demi keberadaan yang sangat kuat dan tidak jujur itu!
Sambil menunggu
hadiah uang dari Turnamen Bela Diri Suci dicairkan, proses pemisahan antara Spy
dan Tiamat akhirnya selesai dilaksanakan.
Tetapi demikian,
bagi Asta sekalipun, pemisahan kedua jiwa tersebut sangatlah sulit.
Dengan
mengorbankan jiwa sosok tidak berguna bernama Mauve yang ikut bercampur di
dalamnya sebagai wadah, pemisahan yang tidak sempurna berhasil dilakukan.
Meski begitu,
dengan batasan bahwa Tiamat harus memasuki jiwa Spy selama delapan jam dalam
sehari, pada dasarnya mereka bisa bertindak secara terpisah, sehingga tidak ada
hambatan berarti bagi rencana awal.
Sisanya hanyalah
masalah tanggung jawab Spy dan Tiamat sebagai jenderal.
Spy maupun Tiamat
adalah jenderal dari sebuah organisasi.
Jika demikian,
mereka harus memikul tanggung jawab atas tindakan organisasi tersebut.
Jika tidak
ditemukan nilai sebagai seorang jenderal, rencana untuk menjadikan mereka
berdua sebagai bawahan (familiar) akan dibatalkan.
Siapa pun yang
protes, aku tetap berniat untuk memberikan hukuman yang cukup berat pada
mereka.
Dengan
memanfaatkan bekas kastil Tiamat yang berada di bagian terdalam Hutan Silke,
aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada Spy dan Tiamat di bawah situasi yang
cukup membuat wajah memerah.
Hasilnya, mereka
berdua berhasil lolos dari ujianku dengan sangat baik. Yah, jika menyelidiki
latar belakang mereka berdua sedikit saja, hasil ini sebenarnya sudah sangat
jelas dari awal.
Di sini ada dua
fakta yang cukup mengejutkan. Yang pertama adalah kedua gadis kembar yang
menyatu dengan Pepper dan Sugar.
Mereka berdua
mewarisi hampir seluruh kemampuan milik Pepper dan Sugar.
Terlebih lagi,
kesadaran Pepper dan Sugar yang masih berada di masa kecil bersemayam secara
tumpang tindih di dalam diri mereka, hingga mereka bisa saling berkomunikasi.
Menurut Satori,
ingatan masa dewasa mereka telah terhapus sepenuhnya dan tidak akan pernah
kembali.
Jika
demikian, Pepper dan Sugar yang sekarang adalah anak-anak yang benar-benar
polos. Mereka tidak bisa lagi dimintai tanggung jawab.
Selain
itu, karena kedua gadis itu mewarisi kemampuan mereka, tidak mengherankan jika
suatu saat nanti mereka bakal dimanfaatkan oleh para bangsawan Kerajaan Amelia.
Berhubung
kedua gadis kembar itu memang anak yatim piatu sejak awal, setelah berdiskusi
dengan Rose, kami memutuskan untuk melindungi mereka.
Fakta lainnya
adalah mengenai Jiruma.
Tampaknya ia
sangat disukai oleh Beelzebub, hingga Beelzebub mengajukan permohonan untuk
menjadikannya sebagai bawahan (familiar), jadi aku memberikan izin.
Bagiku keberadaan
Jiruma sama sekali tidak penting. Jika Beelzebub ingin menggunakannya, gunakan
saja.
Dan tepat
dua hari sebelum hadiah uang dicairkan, aku dipanggil ke Serikat Hunter.
Di tengah
jajaran petinggi Serikat Hunter Barse yang hadir, topik yang diangkat oleh
Ketua Serikat—Ralph Excel—adalah sesuatu yang sangat mengejutkan bagiku.
"Apakah
ini benar-benar tidak apa-apa?"
Melihat
tumpukan koin emas putih yang menggunung di hadapanku, aku bertanya dengan
ragu-ragu.
"Tidak
masalah. Bagi Hunter, hasil adalah segalanya. Kamu berhak menerimanya."
Pasti ada
maksud terselubung di balik ini. Jujur saja, aku paling tidak ingin berutang
budi pada pria ini.
Mari kita bicara
secara blak-blakan. Pria kekar bertubuh pendek di hadapanku ini pernah kutemui
sekali di masa lalu.
Itu juga terjadi
karena dipertemukan oleh kakekku dulu, tetapi bersama dengan Aaron Caien, dia
adalah salah satu orang yang paling sulit kuhadapi saat ini.
Lagi pula dua
hari lagi hadiah uang dari Turnamen Bela Diri Suci akan cair, dan secara
prinsip aku ingin menolaknya.
Namun, melakukan
hal itu sama saja dengan mencoreng muka pria ini.
Sebagai seseorang
yang merencanakan kehidupan Hunter yang aman dan tenang ke depannya, aku tidak
boleh dicap buruk oleh sosok yang dianggap sebagai pahlawan para Hunter ini.
"Kalau
begitu, saya terima dengan senang hati."
Saat aku
memasukkan seratus koin emas putih ke dalam kantong...
"Berkat
insiden kali ini, peringkat Hunter milikmu telah naik dari E menjadi D. Nah,
ini Kartu Serikat milikmu yang baru."
Ralph melemparkan
Kartu Serikat yang baru saja kuserahkan padanya tadi.
"Hah? Saya
sama sekali tidak mengajukan kenaikan peringkat lho."
Kalau tidak
salah, penjelasannya menyebutkan bahwa serikat baru akan melakukan peninjauan
setelah ada pengajuan kenaikan pangkat. Justru karena itulah aku merasa tenang.
"Kenaikan Rank
Hunter, selama memenuhi evaluasi, berada di bawah diskresi penuh Ketua Serikat
Cabang hingga Rank C. Pengajuan sama sekali tidak diperlukan, jadi
tenang saja."
"T-Tunggu
sebentar!"
Ini bukan
main-main. Jika aku semakin terjerat dalam jabatan-jabatan aneh seperti ini,
perjalanan hidup santai yang ingin kualami dengan keliling dunia bisa-bisa
berantakan.
"Umu, kamu
pasti meratapi kenyataan kalau cuma naik satu Rank, kan? Jangan
khawatir. Aku sudah memikirkan jalan menuju Rank C berikutnya dengan
matang."
Pria tua ini
bicara apa, sih!
"Maksud saya
bukan begitu—"
Dengan wajah
berseri-seri penuh kegembiraan, Ketua Serikat menepuk-nepuk bahu kananku saat
aku mencoba menyanggah.
"Bergembiralah!
Tidak ada satu orang pun di Serikat Hunter Barse ini yang menentang keputusan
tersebut. Mengenai posisimu di antara para Hunter ke depannya, aku sedang
mendiskusikannya dengan Tuan Putri Rose."
Dia malah
mengocehkan hal-hal yang cuma memicu rasa cemas.
"Maksud
saya, ya—"
"Lalu,
atas permintaan Tuan Putri, kami juga telah menegaskan perintah bungkam secara
menyeluruh mengenai insiden kali ini. Bukankah itu yang kamu inginkan?"
"Kalau
yang itu memang benar, tapi—"
"Kamu pasti
lelah, beristirahatlah dengan tenang."
Ketua Serikat
sama sekali tidak memedulikan perkataanku.
Setelah
berceloteh secara sepihak, dia bangkit berdiri dan melompat-lompat kecil
gembira keluar dari ruangan.
Para petinggi
lainnya entah kenapa ikut membungkuk hormat padaku sebelum akhirnya pergi.
Apa-apaan itu?
Situasi seperti ini benar-benar di luar dugaan.
Dia
bilang sedang berdiskusi dengan Rose, si putri raja beritikad buruk itu?
Malah
bikin makin cemas! Sial, rasanya aku makin melaju kencang ke arah yang
berlawanan dari hidup santai yang kuimpikan.
Tapi,
perintah bungkamnya benar-benar diterapkan secara ketat, ya.
Pantas
saja saat aku bertanya pada Arnold dan yang lainnya tentang detail insiden ini,
tidak ada satu pun yang bersuara.
Ya
sudahlah, kenyataan bahwa informasinya tidak bocor memang patut disyukuri.
Aku
menenangkan diri, lalu keluar dari ruangan dan melangkah meninggalkan Serikat
Hunter.
Saat
itulah aku berpapasan dengan dua orang pria.
Tidak,
lebih tepatnya mereka memang sedang menungguku.
"Raiga,
Hook, kalian juga sudah bekerja keras."
Niat mereka
membetulkan posisi tubuh, menempelkan tangan kanan ke dada, lalu membungkuk
hormat.
"Kai-sama,
kami memutuskan untuk melindungi kota Barse ini ke depannya. Belakangan ini
banyak hal mencurigakan yang terjadi, dan yang terpenting, ini adalah kota
kami."
Hook menyampaikan
laporan tersebut dengan ekspresi wajah tanpa keraguan sedikit pun.
"Bagaimana
dengan urusan rekan-rekan kalian? Apakah tidak apa-apa?"
Meski melihat
ekspresi cerah mereka yang tampak sudah merelakan segalanya membuat pertanyaan
itu sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi.
"Ya. Kami
sudah menyelesaikannya. Dengan begini, kami juga bisa melangkah ke depan."
"Begitu, ya.
Baguslah kalau begitu."
Pemuda yang
memiliki masa depan cerah sedang melangkah ke depan. Itu adalah hal yang patut
disyukuri.
"Jika
terjadi sesuatu, hubungi aku. Aku akan membantu."
Mendengar
perkataanku, sudut bibir Raiga terangkat.
"Itu tidak
perlu. Kami adalah bawahan Girimehkala-sama. Dengan kata lain, kami adalah
salah satu pengikut yang melayani Kai-sama. Hal itu tidak akan pernah berubah
sampai kapan pun."
Dia malah
mengucapkan hal yang sangat menyusahkan itu.
"Dengar ya,
aku tidak tahu apa yang dibisikkan Girimehkala dan yang lainnya pada kalian,
tapi aku ini manusia. Jadi—"
"Kami tidak
akan pernah mengucapkannya di hadapan Girimehkala-sama, tapi kami tahu betul
kalau Anda adalah seorang manusia."
Aku mengira jika
mereka paham kalau aku ini manusia, aku bisa terbebas dari rantai takdir konyol
yang menjadikan diriku sebagai objek sembahan. Namun, dugaan itu meleset.
"Tidak,
tidak. Kalau begitu, bukankah ini makin tidak masuk akal? Kenapa kalian menjadi
pengikutku yang cuma seorang manusia?"
"Itu karena
Anda adalah seorang manusia."
"Ngg? Apa
maksudnya?"
"Hal itu...
tidak, tidak perlu diperjelas dengan kata-kata lagi. Namun, aku yakin
orang-orang seperti kami pasti akan terus bertambah. Kami siap mempertaruhkan
nyawa kami kapan saja demi Kai-sama!"
"Bukan,
makanya aku bilang—"
""Kami
persembahkan iman dan kesetiaan kami kepada Anda!""
Mereka merapatkan
tumit, memukul dada dengan tinju kanan, dan mengucapkan kalimat yang sangat
menyusahkan itu.
Setelah
membungkuk dengan takzim, mereka menghilang di antara kerumunan orang.
"Bukankah
ini malah jadi makin parah?"
Aku bertanya pada
diri sendiri, tapi tidak bisa membantahnya.
Sambil menghela
napas panjang, aku melangkah pulang menuju penginapan tempat Rose dan yang
lainnya menunggu.
Aku telah
mendapatkan imbalan yang cukup dari Serikat Hunter untuk membayar pedagang
budak.
Tanpa perlu
menunggu hadiah uang dari Turnamen Bela Diri Suci, aku langsung datang untuk
menebusnya sekarang.
"Nih, dua
juta Oll sesuai janji."
Aku menyerahkan
dua koin emas putih kepada pria pedagang budak yang gemulai itu, lalu menerima
kembali uang muka delapan puluh ribu Oll beserta kantong kainnya.
Ini uang
pemberian kakekku. Walau baru mendapat uang banyak, aku tidak ingin
membuang-buangnya.
Sebagai
informasi, koin besi bernilai 10 Oll, koin perunggu 100 Oll, koin perak 1.000
Oll, koin emas 10.000 Oll, dan koin emas putih bernilai 1.000.000 Oll.
Artinya, aku
mendapatkan seratus juta Oll hanya dari membasmi kelompok monster kroco itu.
Hanya dengan
membasmi monster kroco yang bisa terbang tersapu bersin saja aku bisa mendapat
seratus juta Oll, rasa keuanganku benar-benar jadi kacau.
"Terima
kasih atas transaksinya~ Bawa dia ke sini~"
Atas perintah
pria gemulai yang tampaknya adalah manajer tersebut, para pria berpakaian hitam
menuntun seorang gadis cilik beastman berambut perak dari dalam ruangan.
Tidak hanya
pakaiannya, warna kulitnya juga terlihat segar. Tampaknya mereka menepati janji
padaku.
Mungkin
ini yang dinamakan harga diri seorang pedagang budak. Yah, aku sama sekali tidak peduli dengan jalan
pikiran para pedagang manusia itu.
"Aku Kai
Heinemann. Panggil saja Kai."
Saat aku
mengulurkan tangan kanan, gadis cilik itu menjabatnya dengan ragu-ragu.
"Nama
saya... Mieu."
Dia
memperkenalkan diri dengan nada bicara yang terbata-bata.
"L-L-Lucu
banget!!"
Tuan
putri menyusahkan yang mengenakan jubah putih polos di kepalanya sebagai
penyamaran tipis melontarkan jeritan aneh seperti burung. Dia langsung memeluk
Mieu dan menggosokkan pipinya.
"Fuhe?"
Saat Mieu
kebingungan dengan mata membelalak, Rose semakin memperlihatkan wajah ekstase
sambil meraba seluruh tubuh gadis cilik itu.
"Uwah.
Tekstur bulu di telinga ini halus banget! Bulu ekornya juga luar biasa!!"
"Hiiik!?"
Sambil
meringkuk ketakutan, Mieu menatapku dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca
untuk meminta pertolongan.
"Hentikan!
Jangan menakut-nakuti anak kecil!"
Sambil merasa
ilfil dalam hati melihat perubahan wujud putri mesum yang makin menjadi-jadi
ini, aku menarik kerah belakang Rose dengan tangan kanan untuk menjauhkannya.
"Tidak
apa-apa. Wanita ini memang mesum, tapi dia bukan orang jahat."
Sambil
mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak terdengar seperti pembelaan itu,
aku mengelus kepala Mieu dengan tangan kiri.
"..."
Mieu mengangguk
pelan tanpa suara.
"Ayo!"
Anna tersenyum
lembut, lalu menggandeng tangan kanan Mieu dan mulai berjalan menuju
penginapan.
"Baik..."
Melihat interaksi
kami ini, Anna yang dulu pasti sudah marah besar, tapi sekarang dia bahkan
tidak memberi tanggapan lagi. Rasanya itu juga agak mengkhawatirkan dengan
caranya sendiri.
"Kai,
bisakah kamu menurunkan aku sekarang?"
Saat aku sedang
menatap punggung Anna dan Mieu dengan penuh perasaan, suara Rose si putri mesum
yang dipenuhi nada protes menggetarkan gendang telingaku.
"Umu, maaf,
maaf."
Aku melepaskan
genggaman pada kerah baju Rose.
"Bagaimana
kalau bajuku jadi melar?"
Sambil bertolak
pinggang pada pinggang rampingnya, Rose menuntut penjelasan.
"Itu karena
kamu melakukan tindakan mesum pada anak kecil."
"Aku cuma
memeluk, menggosokkan pipi, dan mengelus telinga serta ekor berbulu halusnya
saja, kan!"
Putri raja yang
satu ini benar-benar punya kepribadian yang bikin pusing.
"Dalam norma
sosial, itu dinamakan tindakan mesum."
"Muu."
Mengabaikan Rose
yang membusungkan pipinya karena tidak terima, aku mengalihkan pandangan ke
arah pria pedagang budak gemulai yang masih memperhatikanku dengan penuh minat.
"Aku akan
memberimu satu peringatan."
"Apa
itu~?"
"Alasan aku
bertransaksi dengan kalian kali ini adalah karena kalian menjalankan bisnis
sesuai dengan aturan busuk negara ini. Jujur saja, aku sangat membenci kalian
yang menganggap anak kecil sebagai binatang dan dengan santainya memecut mereka
dari dasar hatiku. Jadi, jika kalian melangkah keluar dari aturan itu walau
hanya satu langkah saja—"
Aku menghentikan
kalimatku. Para pedagang budak itu meneguk ludah.
Aku memandangi
mereka sekeliling, lalu menyunggingkan senyuman lebar.
"Akan
kuhancurkan sampai berkeping-keping. Jangan harap kalian bisa pergi ke Valhalla
dengan tenang."
Aku
mendeklarasikannya dengan nada suara yang bisa membuat diriku sendiri
merinding. Wajah para pedagang budak itu seketika pucat pasi.
"T-Tentu
saja! Kami tidak akan pernah melewati batas terakhir itu!"
Kepada
pria pedagang budak gemulai yang berteriak melengking seperti jeritan ketakutan
itu...
"Jangan
pernah melupakannya. Kalian yang sekarang ini bagaikan sedang berjinjit di tepi
jurang."
Hanya itu
yang kuucapkan sebelum memunggungi mereka dan mulai melangkah.
Peringatan sudah
diberikan. Sisanya tergantung pada mereka. Berdasarkan psikologi kriminal yang
kupelajari dari buku dungeon, selama mereka berada di industri ini, sembilan
dari sepuluh kemungkinan mereka akan terpeleset. Satu-satunya cara bagi mereka
untuk terhindar dari hal itu adalah dengan berganti pekerjaan. Mereka sendiri pasti yang paling
menyadari hal tersebut.
"Ada
apa?"
Sambil
berjalan, aku menanyakan niat Rose yang mengintip wajahku dari samping dengan
raut gembira.
"Seperti
dugaanku, Royal Guard milikku hanyalah kamu seorang."
"Makanya
sudah kubilang, aku ini cuma sementara sampai menemukan orang yang tepat."
Rose
menyunggingkan senyuman jahil seperti anak kecil.
"Meskipun
mulutmu berkata begitu, selama aku tidak membengkokkan keyakinanku, kamu pasti
akan menemaniku sampai akhir."
Dia mengucapkan
kalimat yang intinya sama dengan yang pernah dibicarakan di dalam kereta kuda
sebelumnya.
"Jangan
menyimpulkan sendiri. Aku bukan orang baik yang tidak punya harapan seperti
itu. Aku akan segera
menemukan pengganti dan membebankannya padanya."
Pergi melakukan
perjalanan keliling dunia. Ini adalah keputusan bulat. Aku pasti akan
mewujudkannya bagaimanapun caranya.
"Ah masa~
Padahal kamu sebenarnya senang kan bisa jadi ksatria dari gadis cantik seperti
ini!"
Sambil memejamkan
satu matanya, Rose berkali-kali menyikut perutku dengan siku kanannya. Aku
menghela napas panjang.
"Gadis
cantik yang sebenarnya tidak akan menyebut dirinya sendiri cantik."
Aku mengakui
kalau wajah Rose memang cantik. Aku mengakuinya, tapi kepribadiannya yang liar
ini sungguh menyusahkan. Bagiku, Anna yang sekarang sudah menjadi lebih jujur
punya nilai sedikit lebih tinggi sebagai seorang wanita.
"Buu, Kai,
aku pikir pernyataan itu sangat tidak sopan kepada seorang lady!"
Aku mengedikkan
bahu pada Rose yang membusungkan pipinya tidak puas.
"Ya, maaf
soal itu. Soalnya aku memang tidak terbiasa memperlakukan seorang lady."
Itu fakta. Kalau
menginginkan perlakuan seperti itu, mintalah pada kelompok Pahlawan Kerajaan
Amelia yang sedang sangat populer itu.
"Kai, jangan
berubah, ya."
Mendengar Rose
bergumam pelan dengan kata-kata yang penuh arti itu...
"Itu berlaku
untuk kita berdua."
Aku meresponsnya
lalu melangkah menuju penginapan.
Empat Raja Iblis
— Istana Raja Iblis Kegelapan Ashmedia — Ruang Tahta Istana Kegelapan
"Sungguh
tidak bisa dipercaya. Apakah benar-benar Dewa kita yang turun ke tanah
ini?"
Menanggapi
keraguan salah satu petinggi...
"Segera
setelah rumor bahwa segel reruntuhan telah hancur beredar, pencarian orang
mencurigakan dimulai secara serentak di kota Barse dan kami langsung mundur.
Karena kami telah meninggalkan Barse, kami tidak menyaksikan deretan kejadian
itu secara langsung. Namun, melihat dari situasinya, kemungkinan besar..."
Suara pria
berkerudung hitam yang mengonfirmasi dengan penuh ketidakpastian bergema di
ruang tahta.
"Apakah yang
mengalahkan Dewa kita juga adalah Sang Pahlawan Legendaris?"
"Kami telah
mengumpulkan informasi sejauh yang kami bisa, tetapi tampaknya perintah bungkam
telah diberlakukan di seluruh Barse mengenai insiden ini, jadi informasinya
tidak jelas. Kami mohon maaf."
Pria berkerudung
hitam itu menundukkan kepala dan menyampaikan permohonan maaf. Seketika,
percakapan penuh kecemasan berkecamuk di seluruh penjuru ruang tahta.
"Tenanglah."
Suara berat
seorang wanita yang duduk di tahta membuat para petinggi bungkam seketika.
Dalam sekejap, kesunyian dan ketegangan yang menyakitkan menyelimuti ruang
tahta.
"Bagaimana
menurutmu, Kakek?"
Gadis cantik
berkulit biru yang mengenakan jubah pendeta hitam bertanya kepada pria tua
bertubuh kecil berkulit biru yang bersiaga di sampingnya.
"Setinggi
apa pun kekuatan Pahlawan, dia hanyalah manusia. Manusia tidak akan bisa mengalahkan
Dewa."
"Kalau
begitu, bagaimana kamu melihat situasi ini?"
"Ada dua
kemungkinan yang terpikirkan. Pertama — Pihak yang mengalahkan Dewa kita adalah
sesosok Dewa. Kedua — Ritualnya tidak sempurna, dan yang terwujud di dunia ini
bukanlah Dewa melainkan makhluk lemah. Hanya salah satu dari kemungkinan ini."
"Jangan
mengelak. Menurut Kakek, yang mana?"
"Seandainya
Dewa yang sanggup mengalahkan Dewa kita muncul di dunia ini, kita tidak akan
bisa berbincang santai seperti ini sekarang. Itulah jawabannya."
"Fumu, itu
benar juga."
Gadis cantik yang
duduk di tahta mengangguk dalam-dalam mendengar perkataan tegas pria tua itu,
dan desah napas lega terdengar dari para petinggi.
"Bagaimanapun
juga, tingkat presisi ritual ini perlu ditingkatkan. Apakah begitu?"
"Ya. Kita
telah berhasil menghubungkan gerbang ke dunia lain. Tidak ada cacat dalam
metode ritualnya, dan kegagalan kali ini kemungkinan besar terjadi karena
tempat ritual itu sendiri yang tidak sempurna. Jika demikian—"
"Kita hanya
perlu menemukan tempat ritual yang baru. Begitu kan maksudmu, Kakek?"
"Tepat
sekali. Saat ini hamba sedang menyempitkan kandidat untuk tempat ritual
berikutnya, jadi hamba memohon sedikit waktu lagi..."
"Umu, aku
menyerahkannya padamu."
Gadis cantik di
atas tahta menyentuh pangkal hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuk kanan.
"Astaga,
seandainya saja manusia tidak memanggil monster yang disebut Pahlawan dari
dunia lain, kita tidak perlu mengandalkan metode yang bergantung pada pihak
lain seperti ini..."
Dia
bergumam sendiri dengan nada sangat lelah. Wajah para petinggi, tanpa terkecuali, terdistorsi
oleh rasa pahit.
"Pahlawan
itu kuat. Dan manusia menginginkan pemusnahan kaum kita, bangsa iblis. Jika
kita membiarkannya tanpa tindakan, hal yang menanti bangsa iblis paling bagus
adalah menjadi budak, atau yang terburuk, pemusnahan total."
"Aku tahu!
Aku tahu betul, tapi meskipun mereka adalah ras manusia yang kubenci, aku tetap
tidak bisa menerima jika harus melibatkan rakyat yang tidak bersalah."
"Yang Mulia.
Hal itu—"
"Kakek,
tidak perlu dikatakan lagi. Aku sangat memahaminya."
Gadis cantik
berkulit biru itu menengadah ke langit-langit dan memejamkan matanya
rapat-rapt.
Melihat isyarat
itu, para petinggi di sampingnya membungkuk hormat lalu melangkah keluar dari
ruang tahta.
"Benar. Aku
harus memimpin rakyatku. Peduli setan meski tubuhku ini harus bergelimang aib
seperti apa pun."
Gumam gadis
cantik berkulit biru itu terhempas dan sirna oleh angin kencang yang berembus
dari pintu keluar.
Nail melarang
bawahannya untuk memberi tahu kelompok berkerudung hitam yang mengatasnamakan
anjing Serikat Hunter. Ini karena frasa "Jurang Kejahatan" yang
terlontar dari mulut orang-orang itu sangat mengganggu pikirannya.
Nail tidak pernah
membayangkan dalam mimpinya bahwa keputusan santai ini kelak akan menyeret
kehidupan tuannya, Raja Iblis Ashmedia, ke dalam kisah tentang monster paling
mengerikan di dunia ini.
——【World
Magic Institute Babel】
Sebuah
menara raksasa yang terletak di zona netral. Tempat itu merupakan kota akademis
sihir tempat berkumpulnya para putra dan putri dari berbagai ras dan negara di
seluruh dunia.
Di sebuah
ruangan di lantai teratas, empat orang pria dan wanita berkumpul bersama.
"Jadi,
apakah kekuatan pemuda itu nyata?"
Sambil
bersandar pada kursi kayu yang mewah, seorang wanita berambut emas seindah dewi
bertanya kepada ketiga orang lainnya dengan raut wajah setengah percaya.
Ujung
telinga wanita itu panjang, dan pada bagian belakang jubah putih bersih yang
dikenakannya terdapat sulaman burung abadi berwarna emas.
"Tentu
saja. Dia memiliki ilmu beladiri yang bahkan melampaui Guru sendiri."
Seorang
pria bergaya ksatria pedang dengan bandana merah — Brey — mengepalkan tinju
kanannya erat-erat dan menjelaskan dengan penuh penekanan.
"Aku
juga bisa menjaminnya karena aku bertarung langsung dengannya."
Pria
berjubah hitam dengan mata sipit, Sigma, juga mendadak menyetujuinya.
"Mengenai
kekuatannya sendiri, aku sudah menerima laporan dari Ralph. Maksudku bukan hal
seperti itu, melainkan sesuatu yang lebih mendasar. Milfeu, katakan apa yang
kamu rasakan tentang kekuatannya."
Wanita berambut
emas mengalihkan pandangannya ke arah gadis berambut perak dan bertanya dengan
tenang.
"Dia tidak
diragukan lagi adalah Transcender terkuat dalam sejarah yang pernah
ditemui negara kita, atau bahkan dunia ini."
Dia
mengucapkannya dengan suara yang jelas dan tegas.
"Transcender?
Menurut penyelidikan, Kai Heinemann tampaknya seorang manusia? Lagipula, ini
sangat sulit dipercaya, tapi dia adalah pemegang Gift konyol seperti
'Orang Paling Tidak Berguna di Dunia'."
Brey
mengerutkan dahi dan bertanya pada Milfeu, tapi...
"Ya.
Seperti yang dikatakan Pak Brey, aku juga berpikir kalau dia adalah seorang
manusia."
Gadis itu
menegaskannya secara mantap.
"Umm, aku
tidak paham apa yang ingin disampaikan Milfeu-kun? Apa maksud dari perkataanmu
itu?"
Menanggapi
keraguan polos dari Sigma, sudut bibir Milfeu terangkat.
"Menurut
para Guru, apakah hakikat manusia itu terletak pada tubuh atau jiwanya?"
Dia mengajukan
pertanyaan yang membingungkan seperti itu.
"Pertanyaan
yang menarik. Bagi kami para penyihir, tubuh hanyalah sebuah wadah. Jiwalah
hakikat manusia yang sebenarnya. Hati yang merupakan wujud dari jiwa itulah
yang mendefinisikan seorang manusia."
"...Aku
ingin menjawab tubuh, tapi kalau wadah manusia diisi oleh jiwa goblin, tetap
saja tidak bisa disebut manusia, kan. Aku juga memilih hati."
Brey meraba
dagunya sambil menjawab.
"Aku juga
berpikir hati. Lalu? Ada apa dengan hal itu?"
Wanita berambut
emas dengan telinga panjang memajukan tubuhnya. Mata emasnya menegaskan agar
gadis itu tidak mengelak lagi.
Melihat wujud
mengerikan dari Kepala Menara yang baru pertama kali mereka saksikan ini, Brey
dan Sigma meneguk ludah, sementara Milfeu...
"Hatinya
adalah manusia, sedangkan wadahnya adalah Transcender. Karena itulah
secara definisi, dia adalah seorang manusia."
Milfeu
mengucapkannya dengan mantap seolah-olah sedang bernyanyi.
"Singkatnya,
setidaknya dia menganggap dirinya sendiri sebagai manusia?"
"Ya."
Wanita
berambut emas itu bangkit dari kursinya, menatap pemandangan daratan yang
membentang jauh di bawah sana dari jendela menara.
"Mungkin
dia bisa dimanfaatkan."
Setelah
bergumam sendiri, dia menatap ketiga orang itu dan mulai berbicara dengan
tenang.
Akibat
percakapan yang terjalin di tempat ini, rencana kehidupan tenang yang sangat
diidam-idamkan oleh Kai Heinemann ke depannya akan menjadi sangat berantakan.
——Istana
Kayangan Kekaisaran Gritnil
Berada di
lantai teratas istana yang terletak di pusat ibu kota Kekaisaran Gritnil yang
sangat makmur.
Bagian
dalam Istana Kayangan terbuat dari marmer putih bersih, dan pilar-pilar batu
yang terpasang di posisi tertentu dihiasi dengan ukiran karya pengrajin kelas
satu.
Karpet
merah membara terbentang dari pintu besar menuju tahta, dan di kedua sisinya
berbaris para petinggi kekaisaran.
Sosok
yang duduk di atas tahta adalah seorang pria setengah baya berambut putih.
Tubuhnya
yang terlatih terlihat jelas meski tertutup pakaian, dan bekas luka yang
terukir di sekujur tubuhnya menandakan dengan jelas bahwa dia adalah seorang
ksatria veteran.
Dia
adalah Kaisar Gritnil saat ini yang dijuluki Kaisar Penakluk — Amnes zi Gritnil.
"Ulangi!"
Kaisar Gritnil
saat ini — Amnes zi Gritnil — yang biasanya jarang mengubah ekspresi wajahnya,
secara mengejutkan meninggikan suaranya dan bertanya kepada wakil komandan
pasukan Summoner yang merupakan sisa prajurit yang kalah.
Melihat
sikap Kaisar Amnes yang sangat mengerikan itu, gema napas tertahan dari para
petinggi terdengar di dalam ruangan.
"Awalnya
rencana berjalan lancar, dan sempat mendesak Komandan Ksatria Kerajaan, Arnold,
hingga tersudut. Namun, seorang pemuda berambut abu-abu ikut bertempur dan
membalikkan segalanya. Ifrit ditundukkan, Enz-sama terbunuh, Jigneel-dono kalah
dalam adu pedang, dan dalam perjalanan kembali ke ibu kota kekaisaran, dia
menyatakan mengundurkan diri dari Six Generals lalu menghilang..."
Wakil
komandan berlutut dengan satu kaki, mengarahkan pandangannya ke lantai sambil
mengulangi laporan yang baru saja disampaikannya dengan suara lirih.
Isi laporan yang
sangat mengejutkan itu membuat suasana ruangan menjadi gempar.
"Tenanglah."
Suara penahanan
tanpa intonasi dari Amnes seketika membuat ruangan kembali hening.
Amnes
menggerakkan matanya ke arah seorang pria berkerudung hitam yang menutupi
seluruh tubuhnya kecuali mata kirinya, yang sedang bersedekap dan menyandarkan
punggungnya pada pilar di belakangnya.
"Four,
bagaimana menurutmu?"
Dia
bertanya secara singkat.
"Monster
berhidung panjang itu bersumpah untuk tunduk sepenuhnya. Bocah berambut abu-abu
itu pasti memiliki sesuatu yang sanggup memikat monster berhidung panjang
tersebut. Mungkinkah teknik jenis Tame, atau justru dia memang lebih
kuat dari monster berhidung panjang itu..."
Kali ini
ruangan benar-benar pecah oleh kebisingan yang luar biasa. Dan kemudian—
"Lebih
kuat dari monster berhidung panjang... Hei, Four, bukankah secara tidak
langsung kamu bilang kalau bocah itu lebih kuat dari Ifrit?"
Seorang
wanita berambut emas berzirah lengkap menempelkan kedua tangannya pada pinggang
rampingnya dan bertanya pada pria berkerudung hitam, Four.
"Ya, tepat
sekali. Pada dasarnya mereka menganut hukum rimba. Mereka tidak akan pernah
menundukkan kepala kepada pihak yang lebih lemah dari diri mereka."
"Kalau
begitu, bukankah itu teknik jenis Tame? Rasanya sulit dipercaya ada
monster dari ras manusia selain Four-san yang bisa menang secara langsung
melawan Ifrit."
Seorang pria
bertubuh kecil dengan potongan rambut mangkok menjawab tanpa semangat sambil
memutar-mutar benda berbentuk tetrahedron di kedua tangannya.
"Itu
benar juga ya."
Raksasa
berambut merah mengiyakan sambil menguap lebar.
"Panggil
bocah berambut abu-abu itu ke dalam Six Generals. Gunakan cara apa saja."
Menanggapi
perintah tegas dari Kaisar Amnes...
"Bagaimana
dengan pemanggilan Pahlawan?"
Pria berkerudung
hitam, Four, bertanya pada Kaisar Amnes.
"Hal
sepele seperti itu tidak penting."
Dia
bergumam seolah membuang ludah.
"Yang
Mulia, bagaimana dengan Jigneel yang kabur? Apakah harus kita bereskan?"
Menanggapi
pertanyaan mengantuk dari raksasa berambut merah, Amnes menggelengkan kepalanya
ke kiri dan kanan.
"Biarkan
saja. Selama pria berambut abu-abu itu menginginkan Jigneel tetap hidup, aku
tidak ingin memicu gesekan yang tidak perlu dengannya. Daripada itu, gunakan
alasan pelarian cucunya untuk mengembalikan Ashburn ke dalam Six
Generals."
"Siap
melaksanakan perintah! Kami akan menjalankannya."
Raksasa berambut
merah membungkuk hormat, dan yang lainnya ikut memberi penghormatan ala
kekaisaran secara serentak sebelum melangkah keluar ruangan.
"Four, kalau
kamu, apakah kamu bisa menang melawan pria berambut abu-abu itu?"
Kaisar Amnes
bertanya dengan tenang kepada pria berkerudung hitam yang tersisa.
"Ya, tidak
masalah."
"Jika dia
tidak mau tunduk pada kekaisaran kita, bunuh dia."
"Dimengerti."
Begitu mengangkat
tangan kanannya, wujud pria berkerudung hitam itu menghilang bagaikan asap.
"Mendapatkan
seorang manusia super yang melampaui Ifrit, ya. Jika berhasil mendapatkannya,
menyusul Four, kekaisaran kita akan memiliki dua senjata untuk memusnahkan
bangsa iblis. Dengan begitu, daratan yang luas itu akan jatuh ke
tanganku—"
Tawa penuh
kegembiraan dan hasrat dari Sang Kaisar Penakluk bergema di dalam Istana
Kayangan yang kini hanya menyisakan dirinya seorang.
Ini adalah
kawasan hutan belantara yang terletak di ujung paling barat daya Kerajaan
Amelia.
Wilayah di
sekitarnya dulunya adalah tanah yang diperintah oleh ras beastman, namun
Kerajaan Amelia merebut dan menguasainya.
Lautan hutan ini
membentang menutupi bagian utara wilayah kekuasaan orang-orang Kerajaan Amelia
tersebut. Lautan hutan ini merusak kesadaran arah.
Terlebih lagi,
terdapat berbagai jebakan alam yang ganas seperti pepohonan beracun dan
tumbuhan pemakan manusia.
Bahkan Kekaisaran
Gritnil yang ternama sekalipun menilai bahwa invasi ke Kerajaan Amelia melalui
lautan hutan ini adalah hal yang tidak mungkin.
Jika memiliki
akal sehat, ini adalah zona kematian yang sama sekali tidak boleh diinjak.
Lantas kenapa
Jigneel bisa berkeliaran di tempat seperti ini? Itu karena dia keluar dari
militer.
Dalam perjalanan
kembali ke ibu kota kekaisaran, Jigneel meninggalkan surat dan pergi dari
pasukannya.
Tidak,
mari berhenti berlagak keren. Singkatnya, Jigneel telah kabur.
Dia kalah
adu pedang melawan ksatria berambut abu-abu itu. Dia kalah telak tanpa perlawanan. Betapa
bahagianya jika kekalahan ini adalah kekalahan tipis seperti saat dia kalah
dari Arnold.
Namun,
kenyataannya sama sekali berbeda kelas. Mungkin bagi pria berambut abu-abu itu,
Jigneel tidak ada bedanya dengan para ksatria pedang pemula di luar sana yang
selama ini dianggapnya sebagai kroco.
Di atas langit
masih ada langit. Karena itulah, demi pertarungan yang membuat jiwa bergetar
melawan sosok yang kuat di masa depan, seseorang tidak boleh melupakan
pelatihan harian.
Itu adalah hal
yang ditekankan oleh kakeknya hingga telinganya panas sejak dia masih kecil.
Namun, di antara
rekan seusianya, bahkan di kekaisaran selain kakeknya, tidak ada seorang pun
yang sanggup menang melawan Jigneel dalam ilmu pedang hingga saat ini.
Karena itulah,
selama ini dia mengabaikan nasihat kakeknya. Dia menentang keinginan kakeknya dan bergabung
dengan organisasi konyol bernama Six Generals.
Dia telah
mendapatkan segalanya sebagai ksatria pedang. Dia telah menyombongkan dirinya
secara konyol seperti itu.
Namun,
begitu dibuka, ilmu pedang milik Jigneel tidak lebih dari sekadar mainan
anak-anak.
Pasti
Jigneel bahkan telah melupakan hal yang paling penting sebagai seorang ksatria
pedang.
"Aku
sudah tidak bisa kembali lagi, ya."
Mendengar
gumaman yang keluar dari mulutnya sendiri bahwa dia tidak akan pernah bisa
kembali ke kampung halamannya lagi, rasa sesak menghimpit dadanya saat
menyadari kenyataan itu.
Kaisar
Amnes zi Gritnil saat ini sangat dingin. Bagaimanapun juga, dia telah kabur
dari militer.
Karena
pelarian Jigneel, keluarga Gastrea jika bernasib buruk bisa dibubarkan. Dia paham akan hal itu.
Dia juga tahu
kalau hal ini akan sangat menyusahkan kakek dan keluarganya.
Tetapi demikian,
jika kembali ke kekaisaran dalam kondisi seperti ini, Jigneel merasa dirinya
tidak akan pernah bisa memegang pedang lagi sebagai ksatria.
Dia memiliki
firasat seperti itu. Karena itulah, dia melakukan tindakan yang sama sekali
tidak memberikan keuntungan ini.
Tiba-tiba,
beberapa gumpalan hitam menerjang dari sela-sela pohon tinggi.
"Guooohh!!"
Sambil menebas
leher monster menyerupai beruang yang mengayunkan tangan kanannya dari belakang
menggunakan pedang panjang, dia memutar tebasan pedangnya dan menancapkannya
tepat di ubun-ubun kera raksasa yang menyerang dari atas dahan pohon.
Seketika rasa
sakit tumpul menjalar di kaki kirinya.
Begitu
mengalihkan pandangannya ke bawah, seekor ular raksasa sedang menggigit
pergelangan kaki kiri Jigneel.
"Sialan!"
Dia menancapkan
pedang ke kepala ular raksasa itu lalu merobeknya.
Dengan
terburu-buru dia mencungkil bagian yang digigit menggunakan pisau, lalu
mengoleskan sedikit minuman keras dan obat herbal.
Aku melakukan
kecerobohan. Itu pasti ular beracun. Konyol sekali. Benar-benar konyol.
Menderita
kekalahan dari monster kelas itu saja, berani-beraninya dia tanpa rasa malu
mengatasnamakan ksatria terkuat selama ini.
Bagaimanapun
juga, Jigneel tidak lebih dari ksatria kelas tiga yang pasaran di luar sana.
Pandangan mata
yang kabur. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Apakah ini racun
kelumpuhan?
Jika sampai
kehilangan kesadaran di tempat ini, dia pasti akan menjadi mangsa monster.
Tempat ini tidak
sejinak lingkungan tempatnya hidup nyaman selama ini.
Pada akhirnya,
seluruh kekuatan tubuhnya sirna.
Kedua lututnya
tertekuk hingga ia roboh terlentang di atas tanah yang dingin.
"Kuhaha..."
Tawa kering
berhembus dari mulutnya.
Bahkan setelah
kabur dari militer pun, pada akhirnya dia tetap tidak bisa menjadi ksatria
sejati dan harus mati sendirian secara mengenaskan di tempat ini.
"Mau
bagaimana lagi..."
Ini adalah
ganjaran karena berpuas diri merasa berbakat dan tidak pernah
bersungguh-sungguh menghadapi pedang.
Justru
karena berada dalam situasi seperti inilah dia baru menyadarinya.
Jalan
pedang yang sejati adalah jalan berduri tanpa akhir untuk menempa diri. Sama
sekali tidak ada titik akhir di sana.
Keberadaan
pria berambut abu-abu itu secara ironis telah membuktikannya.
"Tapi,
aku tidak mau begini... Tolonglah. Dewa Pedang. Berikan aku kesempatan sekali
lagi!"
Saat
tangan kirinya menggapai langit, kesadaran Jigneel pun sirna.
Begitu
membuka kelopak matanya, langit-langit yang tidak dikenalnya masuk ke dalam
jarak pandang.
Dia
mencoba bangkit berdiri, tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan sedikit pun.
Saat
menggerakkan lehernya yang merupakan satu-satunya bagian yang bisa bergerak,
wajah cemas seorang gadis cilik beastman berambut perak masuk ke dalam
pandangannya.
"Ah,
sudah sadar! Ayah, Ibu!"
Wajah gadis
cilik beastman berambut perak itu seketika berseri-seri, lalu dia berlari ke
luar ruangan dengan berisik.
Tidak lama
kemudian, seorang pria beastman bertubuh tinggi besar berambut emas dengan
janggut tebal masuk bersama wanita beastman berambut perak.
"Apakah
kamu orang Amelia?"
Pria
beastman bertubuh tinggi besar berambut emas itu bertanya dengan nada suara
yang tidak menerima bantahan.
Saat
melirik ke arah kondisinya sendiri, tubuhnya terikat erat dengan tali di atas
tempat tidur.
Tergantung dari
jawabannya, dia pasti tidak akan dibiarkan hidup.
Bagaimanapun juga
ini adalah nyawa yang pernah hilang sekali, jadi mari kita mencoba bertahan
hidup sejauh mungkin.
"Bukan, aku
orang kekaisaran."
Dia bisa melihat
wajah wanita berambut perak itu mengencang.
Itu hal yang
wajar. Kekaisaran adalah negara yang bangkit dengan menginvasi ras lain.
Bagi ras
beastman, mereka tidak lebih dari musuh.
"Kenapa kamu
datang ke tempat ini?"
Pria beastman
bertubuh tinggi besar berambut emas itu mengajukan pertanyaan yang sulit untuk
dijawab.
"Itu...
entahlah, cuma kebetulan saja."
"Cuma
kebetulan?"
"Ya, aku
juga dikejar-kejar oleh tanah airku sendiri. Singkatnya aku kabur hingga tiba
di sini."
Akhirnya, raut
ketegangan sedikit berkurang dari wajah pria beastman bertubuh tinggi besar
berambut emas dan wanita berambut perak tersebut.
"Apa yang
kamu lakukan sampai harus kabur?"
"Kabur dari
militer. Aku jadi muak dengan apa yang kulakukan selama ini."
"Bisakah
kamu membuktikannya?"
"Tidak, aku
cuma bisa berharap kalian memercayainya."
"Begitu
ya..."
Pria beastman
bertubuh tinggi besar berambut emas itu menempelkan tangan di dagunya.
"Aku
mengerti. Aku tidak
mau terlibat masalah. Begitu lukamu sembuh, segera pergi dari sini."
"Sayang!"
Menanggapi
suara wanita berambut perak yang penuh kecemasan...
"Mata orang
ini tidak jahat. Tidak apa-apa."
Setelah
menyampaikan hal itu, dia bangkit berdiri lalu keluar dari ruangan bersama
wanita berambut perak.
Setelah itu untuk
beberapa saat, dia hanya diberi petunjuk untuk tidak keluar dari kamar selain
untuk ke kamar mandi, tanpa dikurung secara khusus.
Luka Jigneel juga
sudah sangat membaik. Sudah tidak ada hambatan lagi untuk bergerak.
"Terus ya,
terus ya, sebentar lagi kami mau menjemput Mieu."
Gadis cilik Miiya
melontarkan kata-kata yang sudah diucapkannya berkali-kali itu dengan suara
riang.
Saat diserang
oleh pasukan Kerajaan Amelia dalam perang sebelumnya, Miiya dan adik
perempuannya diungsikan terlebih dahulu dari kota kelahirannya.
Miiya segera
dilindungi, tetapi Mieu, adiknya, tertangkap oleh orang-orang kerajaan.
Lalu, mereka baru
saja mendapatkan informasi bahwa adiknya telah dijual ke pedagang budak di kota
Kerajaan Amelia — Barse.
"Daripada
itu, bagaimana kalian berdua bisa lolos?"
Sambil menatap
Gauss, si beastman bertubuh tinggi besar berambut emas, dan Ururu, si wanita
berambut perak, dia melontarkan pertanyaan polos.
Pihak yang
menyerang adalah pasukan bangsawan tingkat tinggi yang tersohor di Kerajaan
Amelia.
Menerobos
kepungan mereka seharusnya bukanlah hal yang mudah.
"Tentu saja,
orang-orang yang tersisa sudah bersiap untuk mati. Kami ditolong oleh
seseorang."
Gauss menjawab
dengan tatapan jauh seolah meresapi kenangan itu.
"Siapa
seseorang yang kamu maksud?"
"Maaf tapi
aku tidak bisa memberitahumu. Tapi akan kukatakan kalau dia adalah manusia sama
sepertimu."
Pada dasarnya
Gauss adalah orang yang pandai menjaga rahasia. Dia tidak akan membocorkannya.
Lagi pula
informasi itu tidak terlalu penting bagi Jigneel. Dia tidak peduli.
"Apakah
kalian menolongku juga karena alasan itu?"
"Ya, kami
tidak berpikir kalau semua manusia itu jahat. Kami sudah menyadarinya dengan
jelas di medan perang waktu itu. Lagi pula, yang membiarkan kepungan itu
terjadi adalah pengkhianatan keji dari kaum kami sendiri."
Pihak yang
membusuk bukan cuma Jigneel dan ras manusia saja. Mungkin memang seperti itu
kenyataannya.
"Karena
itulah kami meminta pedagang manusia yang kami kenal untuk menebus Mieu. Dia akan segera bernegosiasi
dengan pedagang budak di Barse dan melindunginya dengan selamat."
"Kenalan
yang kamu maksud itu, apakah orang yang menolongmu?"
"Ya,
dia adalah bawahan dari orang itu. Sejujurnya, tempat ini juga diperkenalkan
oleh orang tersebut, kami benar-benar sangat berutang budi padanya."
"Begitu
ya..."
Keberadaan
yang memiliki anak buah dengan kemampuan meloloskan diri dari kepungan pasukan
pemerintah Kerajaan Amelia tergolong sangat langka di dunia ini.
Mungkin
saja—
Pikiran
Jigneel terputus oleh suara langkah kaki yang tiba-tiba.
Pintu terbuka
dengan keras.
"Tuan
pedagang sudah kembali!"
Seorang
pemuda beastman dari desa berteriak.
"Benarkah!"
Gauss
berlari ke luar.
Ururu dan
Miiya juga menyusul di belakangnya, jadi Jigneel ikut melangkah mengikutinya.
Di depan
bangunan tempat tinggal Gauss dan yang lainnya, kerumunan orang telah
berkumpul.
Di
tengah-tengahnya, seorang pria terhormat dengan kumis rapi sedang berdiri.
Pria terhormat
itu membetulkan posisi tubuhnya.
"Aku minta
maaf."
Dia membungkukkan
kepalanya dalam-dalam kepada Gauss dan yang lainnya.
"Mieu sudah
dibeli orang lain..."
Gauss menjatuhkan
bahunya dengan gontai, sementara wajah Ururu pucat pasi kehilangan warna darah.
Miiya mulai
menangis saat mengetahui dirinya tidak bisa bertemu dengan adiknya.
"Ya,
sepertinya aku terlambat satu langkah."
"Lalu, siapa
yang menebusnya?"
"Mengenai
hal itu, saat aku bertanya pada pedagang budak, mereka hanya menunjukkan reaksi
penolakan yang tidak wajar. Sepertinya mereka telah diperintahkan untuk
bungkam."
"Apakah kamu
punya petunjuk?"
Pedagang
itu menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.
"Hanya
saja, ketakutan pedagang yang tidak biasa saat aku bertanya tadi sangat aneh.
Apakah bangsawan tingkat tinggi dari negara besar, atau anggota keluarga
kerajaan, atau mungkin penguasa dunia bawah..."
Ini
buruk. Sangat sulit untuk menebus kembali seseorang yang sudah dibeli orang
lain.
Terlebih
lagi, jika lawannya adalah bangsawan tingkat tinggi atau keluarga kerajaan,
bahkan ada kemungkinan masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan uang sejak
awal.
"Aku
mengerti. Aku akan pergi mencarinya."
Kepada
Gauss yang bangkit berdiri...
"Sebaiknya
Anda mengurungkan niat itu. Anda terlalu mencolok. Jika tertangkap, Anda akan
dieksekusi."
Dia
berbicara dengan tenang untuk menasihati.
"Kalau
begitu, aku harus bagaimana!?"
Kepada
Gauss yang meninggikan suaranya...
"Saat
ini, aku menyuruh anak buahku untuk menyelidiki orang yang menebus putri Anda.
Tolong tunggu sebentar lagi."
Pedagang
itu mengucapkan kata-kata bujukan dengan tenang.
"M-Maafkan
aku. Aku agak panik tadi. Terima
kasih sudah mengusahakan banyak hal."
Gauss
membungkukkan kepalanya kepada pedagang itu. Sedikit darah merembes dari bibir bawah yang
digigitnya erat-erat.
(Astaga,
apa yang sedang kupikirkan...)
Padahal
dia adalah seorang buronan, tapi dia malah melakukan hal yang sama sekali tidak
memberikan keuntungan ini.
"Aku akan
pergi mencari Mieu itu untukmu. Setidaknya aku jauh lebih mudah bergerak
daripada kamu yang seorang beastman."
"Kamu
siapa?"
Pedagang itu
menatap Jigneel seolah sedang menilai.
"Jig.
Gunakan aku sesukamu sampai berhasil melindungi gadis itu."
Untuk sejenak,
pedagang itu memegang kumisnya dan berpikir keras.
"Baiklah.
Untuk sementara, tolong bertindak sebagai pengawalku."
Dengan raut wajah
serius, dia menganggukkan kepalanya.
"Dimengerti."
"Apakah
tidak apa-apa, Jig? Kamu juga sedang dikejar-kejar, kan?"
Gauss
bertanya dengan wajah yang dipenuhi kecemasan.
"Heh! Aku
ini orang yang pernah diselamatkan olehmu sekali. Aku berniat mengembalikan hutang ini beserta
bunganya. Sama sekali tidak masalah."
Wajah
Gauss terdistorsi penuh haru, lalu dia membungkukkan kepalanya dalam-dalam
kepada Jigneel.
"Aku
titip putriku!"
Dia
memeras suara permohonannya.
Jigneel
telah mendapatkan sebuah tujuan.
Dan untuk
mencapai tujuan ini, Jigneel pun mulai bergerak.
Dengan
begini, Jigneel dan Mieu terhubung, lalu hal itu terhubung dengan monster
terkuat tersebut.
Jika hanya itu
saja, sebenarnya tidak akan ada masalah besar. Setidaknya hal itu tidak akan
menjadi penyebab dari kekacauan dahsyat yang bakal terjadi.
Namun, niat dari Kekaisaran Gritnil, ras beastman, Kerajaan Amelia, serta Empat Raja Iblis — Raja Iblis Kegelapan Ashmedia saling terjalin, hingga membuat situasi berubah menjadi sangat kacau.



Post a Comment