NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 1 Extra Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Mohon Bantuannya


―Lantai pencapaian 991

Lorong raksasa di mana dinding, lantai, langit-langit, dan seluruh pandangan mata terbuat dari batu hitam. Sebuah labirin super besar yang seolah membentang tanpa akhir. Saat ini, kami sedang melanjutkan penjelajahan di tempat tersebut.

Yah, meskipun disebut penjelajahan, monster di dalam labirin ini tetap saja mati seketika setiap kali kami temui. Kami belum pernah sekalipun berpapasan dengan lawan yang tangguh seperti Beelzebub.

Bahkan sekarang pun, monster ogre bermata satu raksasa yang sedang berlari ke arah kami dengan raut wajah putus asa sambil membuat tanah bergetar ini...

"M-Monster!"

Aku membelahnya menjadi dua dari atas kepala menggunakan Unbreakable Stick.

"Ternyata, tidak ada tantangannya sama sekali, ya...."

Selama puluhan ribu tahun ini, aku tidak pernah kesulitan melawan siapa pun selain Beelzebub. Jadi, ini adalah hal yang sudah sangat jelas bagiku.

"Faf lapar...."

Faf menarik lengan bajuku sembari perutnya berbunyi keroncongan.

"Kamu benar. Aku juga sedikit lelah."

Kyuubi pun menyetujui pendapat tersebut.

"Aku juga lapar!"

Fen juga mengangkat telapak kakinya yang kecil dengan penuh semangat.

"Begitu, ya. Kalau begitu mari kita kembali sekarang."

Hari ini kami sudah melangkah cukup jauh, jadi kurasa sampai di sini saja sudah cukup. Aku mengeluarkan sebuah magatama kecil dari saku celana dan mengalirkan sihir ke dalamnya.

Lingkaran sihir muncul di lantai tempat kami berpijak. Pada detik berikutnya, kami kembali ke permukaan.

Magatama yang bernama Returner-kun ini adalah item dengan fungsi kembali yang didapatkan di dalam dungeon. Benda ini memungkinkan kami untuk bolak-balik antara titik yang terekam di dalam labirin dan permukaan.

Tentu saja ada beberapa batasan. Namun, sejak mendapatkan item ini, penjelajahan kami mengalami kemajuan yang drastis.

"Kalau begitu, mari kita siapkan makan malam."

"Hore, makan! Waktunya makan!"

"Makan! Makan!"

Melihat Faf dan Fen yang bersorak kegirangan,

"Aku juga akan membantu."

Kyuubi menawarkan diri untuk menyiapkan makan malam.

"Tolong, ya. Faf, Fen, ayo pergi cuci tangan kalian."

"Baaaik!"

"Baaaik!"

Fen melompat dari bahuku ke atas kepala Faf. Mereka berdua kemudian berlari masuk ke dalam pondok.

"Kalau begitu, mari kita mulai juga."

"Dimengerti!"

Kyuubi mengacungkan jempol kanannya, lalu memeluk lengan kananku.

Aku pun masuk ke dalam pondok untuk membuat makan malam.

◇◆◇

Twilight Tea Party adalah sebuah dunia yang diciptakan di dalam buku panduan penaklukan. 

Tempat ini dibuat oleh kekuatan Kai Heinemann, sang pemilik sekaligus tuan dari buku tersebut, sebagai tempat berkumpul bagi para dewi dan makhluk mitologi berwujud wanita.

Selama mereka adalah wanita, para penghuni buku panduan bebas mengunjunginya.

Di salah satu ruangan luas di dalam bangunan mewah yang ada di dunia itu, belasan wanita sedang duduk di kursi dan meminum teh.

"Apakah kalian dengar? Sepertinya Nemesis-sama sedang membuka pendaftaran tambahan."

"Eh!? Jangan-jangan, Aliansi Dewi!?"

"Iya. Meskipun hanya untuk beberapa orang, ini adalah kesempatan besar bagi kita."

"Benar, kan. Kalau bisa masuk ke dalam aliansi, kesempatan kita untuk bertemu dengan Yang Mulia akan semakin bertambah."

Sangat kontras dengan para peserta pesta teh yang sedang bersemangat, seorang gadis cantik berambut seputih salju dan mengenakan pakaian serba putih bernama Shirayuki, hanya diam.

(Lagipula, itu tidak mungkin bagiku, kan...)

Sambil merasakan kehampaan yang menyerupai keputusasaan itu, dia menyesap tehnya sedikit demi sedikit.

Aliansi Dewi—itu adalah salah satu dari lima faksi petarung terkuat di dalam buku panduan penaklukan. Mereka diberikan hak untuk menghadap dan melayani sosok agung tersebut secara langsung.

Sosok agung itu adalah segalanya yang dipercayai oleh Shirayuki dan para penghuni buku panduan lainnya.

Baik itu kesetiaan, keimanan, maupun kasih sayang, ada berbagai macam perasaan, tetapi satu hal yang sama bagi mereka semua adalah bahwa beliau merupakan alasan eksistensi mereka sendiri.

Oleh karena itu, bisa melayani di sisinya adalah kebahagiaan tingkat tertinggi. Wajar saja jika tingkat persaingannya sangatlah ketat.

Shirayuki tidak pandai bertarung. Tentu saja, sebagai dewa tanah, dia memiliki keilahian dan terpilih dalam Gods' Ordeal ini.

Sebelum menjadi penghuni buku panduan ini, dia memiliki tingkat kebanggaan tertentu terhadap kekuatannya sendiri.

Akan tetapi, setelah menjadi penghuni buku panduan ini, rasa percaya dirinya pun hancur berkeping-keping. Begitu luar biasanya kekuatan dari para penghuni buku panduan yang lain.

Dan sosok agung itu jauh lebih kuat dari siapa pun di dalam buku panduan ini. Bagaimana mungkin orang seperti Shirayuki bisa melindunginya?

Sekalipun dia bisa melayani di sisinya, dia tidak akan bisa berguna sedikit pun.

Salah satu dewi membetulkan bingkai kacamatanya.

"Kudengar ujian masuknya adalah mengambil item di lantai yang telah ditentukan."

Dia mengucapkan hal yang berada di luar dugaan Shirayuki.

Setelah keluar dari ruang teh, kakinya secara alami melangkah menuju markas Aliansi Dewi.

Sebagai hasil dari terhubungnya jiwanya dengan sosok agung tersebut setelah menjadi penghuni buku panduan, Shirayuki mendapatkan kemampuan tipe siluman.

Jika menggunakan kemampuan ini, mungkin saja dia bisa lulus dalam ujian masuk aliansi tersebut.

(Tidak, tidak, itu sudah pasti mustahil!)

Dia berusaha mati-matian meyakinkan dirinya sendiri, tetapi tekadnya sepertinya tidak akan goyah sedikit pun.

Ada banyak sekali penghuni di dalam buku panduan ini yang kuat dan memiliki kemampuan siluman sekelas Shirayuki.

Jika dipikirkan sedikit lebih tenang, tidak mungkin dia bisa lulus.

(Sebenarnya apa yang terjadi denganku!?)

Meski bertanya pada diri sendiri, dia tidak menemukan jawaban yang tepat. Namun, pada saat itu, dia dengan jelas mengingat sosok anak laki-laki berambut abu-abu yang tersenyum lembut sambil mengulurkan tangan padanya.

Markas Aliansi Dewi terletak di lobi lantai satu menara yang berada tepat di tengah Twilight Tea Party yang luas.

Dia mengenakan hoodie putih bersih dan memakai kerudungnya dalam-dalam untuk menutupi kepalanya.

Bahwa Shirayuki sama sekali tidak berguna dalam pertarungan adalah fakta yang diketahui oleh para dewi yang akrab dengannya. Jika mereka tahu, mereka pasti akan menghentikannya karena menganggapnya berbahaya.

Karena itu, sebisa mungkin dia melakukan prosedur pendaftaran di meja resepsionis tanpa diketahui bahwa dirinya adalah Shirayuki.

Entah dewi dari aliansi itu tidak terlalu peduli dengan penampilan Shirayuki, dia hanya memberikan sebuah kartu, menjelaskan peraturannya, dan menerima pendaftarannya.

Pada kartu itu, terdapat tulisan "991" dengan tulisan tangan yang jelek seperti coretan asal-asalan.

(Bohong...)

Penguji aliansi tadi mengatakan bahwa lantai tujuan tertera pada kartu tersebut.

Lantai 991 adalah lantai yang sedang ditaklukkan oleh Yang Mulia saat ini.

Gods' Ordeal memiliki sistem di mana semakin dalam lantainya, semakin kuat pula eksistensi yang menjaganya.

Lantai 900 ke atas pastinya dijaga oleh eksistensi-eksistensi terkuat di dunia ini.

Tidak peduli seberapa besar kekuatannya telah diperkuat oleh Yang Mulia, orang seperti Shirayuki tidak akan bisa melawannya.

Jika dia bertemu dengan eksistensi yang lebih kuat, itu adalah jalan tol menuju kematian instan.

Kalau Shirayuki yang biasanya, dia mungkin akan menyerah di sini. Namun, bagi Shirayuki yang sekarang, setelah mengingat kembali senyuman pemuda berambut abu-abu itu, hal tersebut tampaknya mustahil.

Dia berteleportasi dari lingkaran sihir di kuil menuju titik aman ketiga yang ditunjuk oleh aliansi di antara beberapa titik yang ada di lantai 991.

Sambil menyembunyikan hawa keberadaan dan sosoknya dengan kemampuannya, Shirayuki melangkahkan kaki pada petualangan yang mempertaruhkan nyawa ini.

◇◆◇

Di sebuah ruangan luas di lantai 991, dua sosok monster sedang berdiskusi dengan raut wajah tegang.

"Pergerakan monster berambut abu-abu yang menghancurkan semua yang ditemuinya, ya. Apakah cerita itu benar?"

Monster raksasa berkepala banteng hitam dan mengenakan zirah bernama Humbaba, bertanya kepada sosok raksasa bermata tiga berjubah yang tampaknya adalah bawahannya.

"Saya telah menyelidikinya menggunakan bidak kami, jadi eksistensi makhluk itu sendiri tidak perlu diragukan lagi."

"Apa identitas asli dari monster berambut abu-abu itu? Apakah dia bagian dari pasukan surga atau pasukan iblis? Kalau begitu―"

"Tidak, saya telah memeriksa semua sosok terkenal untuk berjaga-jaga, namun tidak ada dewa yang sesuai dengan penampilannya. Kemungkinan besar, dia adalah dewa tanpa nama yang baru saja mendaftar."

"Maksudmu, kita telah disusupi sejauh ini oleh dewa pemula dan membiarkannya bertindak seenaknya...?"

Humbaba menyilangkan kedua lengannya yang sebesar batang pohon dan melontarkan kata-katanya dengan ekspresi jijik yang luar biasa.

"Bagaimana kita akan mengurusnya?"

"Hah! Tentu saja sudah jelas! Tidak mungkin dewa tua dan kuat sepertiku akan turun tangan hanya untuk mengurus dewa rendahan semacam itu. Pancing dia dengan umpan, kepung dia, dan urus dengan pantas!"

Seolah kehilangan minat, Humbaba berbaring sambil menjadikan tangan kanannya sebagai bantal, tetapi dia kemudian mengubah wajahnya yang buruk rupa seakan teringat sesuatu.

"Benar juga. Bawa dewa pemula itu ke hadapanku! Akan kubuat dia membayar harga atas kesombongannya dengan tubuhnya sendiri."

Dia memberikan perintah tersebut.

◇◆◇

Shirayuki mengaktifkan kemampuannya untuk menghilangkan sosok dan hawa keberadaannya, lalu mulai menjelajahi lantai 991.

Sekali lihat saja, dia bisa memahaminya. Bahkan dengan Shirayuki yang telah terlahir kembali berkat kekuatan Yang Mulia, entah apakah dia bisa mengalahkan satu musuh saja meski harus mempertaruhkan nyawa.

Hanya para makhluk dengan kekuatan luar biasa seperti itulah yang berkeliaran di sana.

Seolah berusaha mati-matian menutupi kecemasannya yang memuncak, dia melangkah maju dengan sangat hati-hati.

(Ya, sepertinya aku bisa melewatinya!)

Para raksasa yang berkeliaran di sekitarnya tampaknya tidak menyadari kehadiran Shirayuki.

Kemampuan siluman milik Shirayuki sepertinya bekerja dengan cukup baik, bahkan terhadap makhluk kuat di sekelilingnya.

(Bagus! Kalau begini, bahkan orang sepertiku mungkin benar-benar bisa bergabung dengan aliansi!)

Jika dia masuk ke aliansi, dia akan mendapatkan hak untuk berada di sisi sosok agung itu.

Membayangkan hal itu sangatlah mendebarkan hingga membuat senyumnya mengembang. 

Saat dia terus berjalan, lorong batu hitam itu berujung pada sebuah alun-alun berbentuk lingkaran. Dan kemudian―.

"Tolong aku!"

Di tengah alun-alun itu, terdapat sebuah kerangkeng besi hitam dan seorang anak laki-laki kecil terkurung di dalamnya. 

Menilik dari sayap transparan yang dimilikinya, dia sepertinya adalah ras peri.

Ada kerangkeng besi di tengah-tengah dungeon ini. Kemungkinan besar ini adalah sebuah jebakan. Kalau begitu, buatan siapa?

Jebakan yang disiapkan oleh aliansi?

Tidak, entah jebakan siapa itu, jika dia bertindak sembrono, dia pasti akan tertangkap.

Dia seharusnya kembali ke permukaan dan melaporkan hal ini.

"Kumohon, siapa pun!"

Saat mendengar teriakan putus asa itu, tubuhnya bergerak dengan sendirinya.

Menggunakan kekuatannya, Shirayuki membekukan kerangkeng besi itu lalu menghancurkannya dengan pedang kecil di pinggangnya.

Kemudian, demi menenangkan anak itu, dia menonaktifkan sebagian kemampuannya dan mengulurkan tangan kanan.

"Sudah tidak apa-apa, kok. Ayo pergi bersama."

Dia tersenyum sambil mengucapkan kata-kata lembut.

"Terima kasih... Kakak yang bodoh!"

Sudut bibir anak laki-laki peri itu melengkung hingga ke telinga. Ia mengangkat tangan kanannya ke arah Shirayuki sambil bersorak kegirangan.

"Kh!"

Secara refleks dia mencoba melompat mundur ke belakang, tetapi dia merasakan hantaman keras di perutnya, dan kesadaran Shirayuki pun jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.

◇◆◇

Larut malam, pintu pondok diketuk. Saat kubuka, terlihat Girimekhala, salah satu petinggi Aliansi Dewi bernama Nemesis, serta seorang wanita dengan sayap putih bersih di punggungnya, sedang berlutut.

"Yang Mulia, mohon maaf mengganggu selarut ini. Ada hal darurat yang harus kami laporkan―"

Aku mengangkat tangan kananku untuk menghentikan ucapan Girimekhala.

"Apa yang terjadi?"

Aliansi Dewi biasanya merupakan saingan faksi Girimekhala, sehingga sangat jarang mereka bergerak bersama.

Petinggi Aliansi Dewi dan Girimekhala datang menemuiku secara bersamaan. Sudah pasti ini adalah situasi yang sangat darurat.

"Shirayuki telah masuk ke lantai 991 labirin!"

Wanita bersayap putih bersih itu berteriak dengan nada penuh kepanikan.

"Lantai 991? Coba jelaskan situasinya."

Pada prinsipnya, para penghuni buku panduan dilarang memasuki lantai 900 ke atas, dan hal itu memerlukan izinku.

Lagipula, aturan ini dibuat atas saran dari para petinggi faksi, termasuk Girimekhala, untuk menghindari bahaya.

Sangat sulit membayangkan bahwa Girimekhala dan yang lainnya, yang mengusulkan hal tersebut, akan melanggarnya. 

Jika demikian, pasti telah terjadi sesuatu yang tidak biasa. 

Seharusnya begitulah yang terjadi.

"Sepertinya terjadi kesalahpahaman antara lantai 166 dan lantai 991 akibat kecerobohan kami dalam penulisan saat ujian aliansi."

"Maksudmu dia mengiranya sebagai ujian lalu masuk ke sana. Kalau begitu, kenapa kalian tidak segera pergi untuk melindunginya?"

"Tolong lihat ini."

Girimekhala memunculkan sebuah permata kecil, dan saat ia menggenggamnya, sebuah gambaran visual muncul di depan mata.

Di sana tertulis dengan bahasa monster yang disebut bahasa Zaman Para Dewa, "Pengumuman untuk monster berambut abu-abu. Kami menawan wanitamu. Datanglah sendirian ke depan Kolam Gelap di lantai 991!".

Astaga, aku mengerti sekarang kenapa Aliansi Dewi tidak melindunginya, melainkan datang memberitahuku.

Meski begitu—menjadikan seorang wanita sebagai sandera, ya. Terlebih lagi mengincar bawahanku. Keberanian yang patut diacungi jempol.

Orang bodoh seperti ini adalah yang pertama kalinya dalam puluhan ribu tahun.

Aku menekan sekuat tenaga dorongan yang rasanya hampir meledak,

"Kita mulai perburuannya. Perburuan tikus. Kumpulkan hanya anggota yang bisa bertarung dari setiap faksi, jangan sisakan satu pun, bantai semuanya!"

Sambil mencabut pedang Murasame, aku memberikan perintah tegas.

Anak perempuan tomboi itu, aku pastikan mereka mengembalikannya tanpa goresan sedikit pun.

Mereka berani mencoba merebut bawahan dariku. Tentu mereka sudah bersiap menerima akibatnya. Akan kuhancurkan mereka tanpa ampun.

◇◆◇

―Di depan Kolam Gelap

"T-Tidak bisa! Mereka terlalu kuat!"

Mendengar teriakan putus asa bawahannya, Humbaba menutupi wajah dengan tangan kanannya,

"Apa maksudnya ini!? Apa yang sedang terjadi?"

Dia bertanya pada dirinya sendiri, meskipun tentu saja tidak ada jawaban yang muncul.

Mereka menangkap dewi berambut putih bersih yang dianggap sebagai temannya, lalu memancing monster berambut abu-abu itu ke Kolam Gelap, wilayah kekuasaan Humbaba.

Bawahan Humbaba sangatlah tangguh dan memiliki kemampuan mendeteksi musuh yang luar biasa.

Tak satu pun dari bawahan itu yang menyadari kedekatan wanita berambut putih tersebut.

Kemampuan siluman tingkat itu sangatlah langka bahkan di kalangan para dewa.

Karena itu, dia tahu bahwa monster itu tidak akan menelantarkannya, dan dia memang benar-benar datang.

Namun―dengan memimpin pasukan dalam jumlah besar.

Oleh pasukan itu, ribuan prajurit Humbaba yang mengepung bagian depan Kolam Gelap tengah dibantai habis-habisan.

"I-Itu Girimekhala-sama, kan!?"

"Kenapa sosok agung sesama dewa jahat seperti kita justru menyerang kita!?"

"Bukan cuma Girimekhala-sama! Ada Naga Penghancur, Ladon juga!"

"Dewi Perang Nemesis dan Athena!? Jangan bercanda, kenapa orang-orang sekelas Boss Lantai di labirin ini malah menunjukkan taringnya pada kita!?"

"Bertahanlah, bagaimanapun caranya!"

Jika Boss Lantai menyerang secara bersamaan, bahkan Humbaba pun tidak punya kesempatan untuk menang.

Kenyataannya, pasukan Humbaba sedang dalam kondisi hancur lebur. Tidak mungkin mereka bisa melawan.

Saat ini juga, dia harus membawa wanita itu dan bersembunyi di bagian terdalam labirin.

Selama ada wanita ini, mereka tidak akan bisa bertindak gegabah.

Pemikiran itu―.

"Humbaba-sama!"

Terganggu oleh teriakan panik si raksasa bermata tiga, ajudannya, yang seluruh tubuhnya gemetar ketakutan sambil menunjuk dengan jari kanannya.

Di arah ujung jarinya―ada seekor monster lalat yang berjalan dengan dua kaki.

"B-Beelzebub!?"

Jangan bercanda! Kenapa bahkan iblis terkuat itu pun ikut menyerang Humbaba?

Eksistensinya tak ubahnya bencana alam bahkan di kalangan para dewa.

Jika sedang sial dan menarik minat makhluk itu, seseorang akan mencicipi neraka tak berujung bersama keputusasaan yang luar biasa.

Dia adalah Dewa Agung yang setara dengan mimpi buruk.

Beelzebub berlutut dan menatap ke satu titik,

"Beelzebub-debu~♪ Beelzebub-debu~♪"

ia bergumam sambil bernyanyi.

Pasukan dalam jumlah besar itu seketika menghentikan serangan mereka secara serentak, lalu berlutut.

Dan sosok yang berhadapan dengan pasukan yang berlutut itu adalah seorang anak laki-laki berambut abu-abu, memanggul sebilah pedang panjang di bahu kanannya.

"A-Apa-apaan... itu...?"

Bertolak belakang dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya, hanya dengan melihat wujud sosok tersebut, dia secara alami memahami alasan mengapa para dewa dan monster mitologi dari Gods' Ordeal tunduk padanya.

"Salam kenal. Namaku Kai Heinemann. Bawalah nama itu sebagai suvenir menuju alam baka."

"B-Bunuh dia!"

Mungkin karena tidak sanggup lagi menahan rasa takut, raksasa ajudannya memberikan perintah kepada sisa pasukannya dengan ketiga matanya yang memerah karena darah.

Seakan terpancing oleh hal tersebut, pasukan itu menyerbu secara serempak.

Kai Heinemann menyunggingkan senyum di sudut bibirnya,

"Ilmu Pedang Aliran Shinkai, Gaya Satu Pedang, Teknik Pertama—Garis Kematian."

dan membisikkan mantra tersebut.

Seketika, para raksasa bawahan yang menerjang ke arah Kai Heinemann terbelah menjadi potongan-potongan daging yang berserakan.

Di tengah genangan darah yang terbentuk dari mayat-mayat itu, Kai Heinemann mengarahkan ujung pedang panjangnya kepada Humbaba,

"Tinggal kau seorang. Sebagai bentuk belas kasihan terakhirku, majulah dengan seluruh kekuatanmu. Dengan begitu, aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit."

"T-Tunggu sebentar! Aku sudah tidak berniat bertarung lagi. Aku menyerah! Karena itu―"

"Begitu ya, kau menolak tawaranku."

Tepat ketika Kai Heinemann mengucapkan kata-kata itu,

"Hah?"

pandangannya terbelah menjadi dua bagian.

"Aku telah membelah jiwamu. Karena itu kau akan musnah dari dunia ini untuk selamanya, dan kau takkan pernah bisa hidup kembali."

"IyuHJFRgiuYpoufe!"

Meneriakkan jeritan yang tak terlukiskan oleh kata-kata, kesadaran Humbaba menghilang dari dunia ini untuk selama-lamanya.

◇◆◇

Shirayuki dipercaya untuk menjaga area badai salju di lantai 530.

Rumor tentang monster berambut abu-abu yang menghancurkan segalanya juga telah sampai ke telinga Shirayuki pada masa itu.

Pada saat itu, Shirayuki memiliki kesalahpahaman konyol bahwa dirinya kuat, jadi dia sama sekali tidak takut pada monster semacam itu.

Karena itulah, dia terpedaya oleh bujukan manis dari para bos area lain.

Di area badai salju yang memaksimalkan kemampuannya, Shirayuki berhadapan dengan monster berambut abu-abu tersebut.

Monster itu ternyata adalah seorang anak laki-laki berambut abu-abu yang bisa ditemukan di mana saja.

Kemampuan membeku dan serangan Shirayuki sama sekali tidak mempan, anak berambut abu-abu itu hanya menghindar tanpa ada niat sedikit pun untuk melukai Shirayuki.

Saat Shirayuki sudah kelelahan, enam bos area lainnya merentangkan pelindung kutukan tipe penangkap berlapis ganda dan mencoba membunuh anak laki-laki itu beserta Shirayuki.

Dengan kelincahan yang dimiliki anak laki-laki berambut abu-abu itu, dia pasti bisa dengan mudah menghindari pelindung penangkap semacam itu.

Anak itu rela membiarkan dirinya ditangkap dengan patuh demi melindungi Shirayuki. Hal itu sangat dipahami olehnya saat itu, hingga rasanya menyakitkan.

Pada akhirnya, pelindung itu hancur berkeping-keping oleh anak laki-laki berambut abu-abu tersebut, dan para bos area yang memasang pelindung itu pun dimusnahkan dengan mudah.

Dia merasa kesal. Kesal karena dikasihani oleh musuhnya sendiri.

Lebih dari itu, dia merasa sangat kesal saat menyadari bahwa pada saat itu dia merasakan sensasi kebahagiaan yang menyerupai kegembiraan.

Anak itu lalu menggendong punggung Shirayuki yang tengah duduk lemas di tanah sambil memelototinya. Ia membawa Shirayuki ke permukaan dan mentraktirnya makan.

Saat mereka berpisah, Shirayuki meneriakkan sesuatu kepada anak laki-laki itu.

Mendengar kata-kata itu, mata sang anak sempat membulat terkejut, namun kemudian ia tersenyum lembut sambil mengulurkan tangan kanannya.

Di titik itu, warna-warna tiba-tiba menghilang dari pandangannya, lalu berubah menjadi putih bersih.

Oh, begitu. Ini adalah mimpi. Lebih tepatnya, ini adalah kenangan pertemuan berharga yang dialami Shirayuki di masa lalu.

Sebentar lagi, dia akan terbangun dan kembali ke dunia nyata di mana dia tidak bisa bertemu dengan anak laki-laki itu lagi.

Membayangkan itu membuatnya sedikit sedih, dan dia bisa merasakan air hangat mengalir di pipinya.

Saat kelopak matanya terbuka, di tengah pandangannya yang kabur oleh air mata, dia melihat serat kayu yang tak dikenalnya.

Sambil mengusap air matanya, dia setengah duduk, dan menyadari bahwa dia berada di atas sebuah tempat tidur.

"Kau sudah bangun?"

Saat menoleh ke arah sumber suara, dia melihat anak laki-laki berambut abu-abu yang baru saja muncul di mimpinya sedang duduk di kursi.

"Eh?"

Dia menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menyadari situasi yang sedang terjadi saat ini, lalu dia merasakan wajahnya memerah padam.

"Yang Mulia! Maafkan kelancanganku!"

Dia langsung duduk bersimpuh di atas tempat tidur dan menundukkan kepalanya.

Yang Mulia menghela napas panjang lalu berkata,

"Kau tidak cocok untuk bertarung. Aku tidak bisa memberimu izin untuk bergabung dengan Aliansi Dewi."

Beliau mengucapkan kata-kata penolakan paling menyakitkan bagi Shirayuki.

"B-Begitu... ya."

Dia tahu. Dia tahu bahwa dirinya lemah.

Tapi dengan begini, dia tidak akan bisa bersama dengan orang ini. Membayangkan itu membuatnya merasa sangat sedih hingga air matanya kembali menetes.

Saat Shirayuki tertunduk dan mengangguk dengan susah payah, pria itu meletakkan tangan kanannya di atas kepala Shirayuki.

"Aku sudah mendengar tentang kemampuan intelijenmu dari Nemesis dan yang lainnya. Sebenarnya aku ingin kau segera membantu kami, tapi kondisimu saat ini terlalu berbahaya untuk dibiarkan. Karena itu, untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk mengawasimu secara langsung. Apakah kau bersedia?"

"Eh? Tadi bilang apa?"

"Sudah kubilang, karena kemampuan intelijenmu sangat bagus―"

"Bukan yang itu, barusan Anda bilang akan mengawasiku secara langsung?"

"Benar, karena kau ini ceroboh sejak dulu. Untuk sementara waktu, kau hanya boleh menuruti perintahku. Tidak masalah, kan?"

"Baik!"

Shirayuki memberikan jawaban penuh kegembiraan dan berdiri dari duduknya.

Kemudian, orang itu berdiri dan mengulurkan tangan kanannya kepada Shirayuki.

Ah, begitu. Shirayuki sekarang dengan jelas mengingat apa yang dikatakannya pada hari itu. Di hari itu, Shirayuki―.

"Mohon bantuannya."

Orang itu mengucapkan hal tersebut sambil memamerkan senyuman lembut yang persis sama seperti orang yang ada di ingatannya.



Previous Chapter | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close