Prolog
―Kota hantu,
Kediaman Penguasa Pespar.
Pintu ruang bawah
tanah berderit terbuka, menampilkan seorang pria bertubuh besar dengan kacamata
bundar yang melangkah keluar dari dalam sana. Darah merah pekat menempel di
mana-mana, mengotori jas putih bersih dan sarung tangan putih yang
dikenakannya.
"Chili,
bagaimana? Apa dia sudah buka mulut?"
Seorang wanita
berpakaian hitam terbuka dengan tatapan tajam bertanya pada pria berjas putih
dan berkacamata bundar, Chili. Sambil bertanya, tangan kanannya mengibaskan
rambut pirang model twin-tail-nya dengan raut wajah kesal.
"Ya, aku
sudah mengorek semua informasi yang ingin kita dengar."
Chili menarik
dagunya, lalu melempar tumpukan kertas berlumuran darah di tangan kanannya ke
atas meja. Dia kemudian duduk di kursi terdekat, menuangkan anggur buah ke
dalam wadah kayu, dan mulai meminumnya dengan nikmat.
Seorang pria
bermata satu yang mengenakan setelan jas putih mendekati meja, lalu mulai
membaca kertas tersebut. Dan kemudian―.
"Kai
Heineman."
Dia hanya
menggumamkan nama itu, lalu meletakkan kembali kertas tersebut ke atas meja.
Pemuda tampan
bertubuh tinggi yang memakai sorban membaca sekilas kertas tersebut.
"Oi oi, apa
kau bilang bocah manusia yang baru berumur lima belas tahun ini membunuh Jirma?
Lagipula, di dokumen
ini tertulis kalau dia adalah pemegang Gift bernama 'The Most
Incompetent in the World'. Dia cuma bocah yang disebut-sebut sebagai yang
terlemah di negara ini, kan?"
Sambil
menatap Chili dengan nada suara yang melengking, dia melontarkan keraguan
tersebut.
"Setidaknya,
mainan kita yang tadi berpikir begitu."
Sepertinya
dia sudah tidak tertarik lagi. Chili menjawab dengan ketus tanpa sedikit pun
melirik ke arah pemuda bersorban itu.
Pria
bermata satu berjas putih itu hanya melirik ke arah wanita berambut pirang yang
memiliki tatapan tajam tersebut.
"Vinegar,
selidiki Kai Heineman. Lakukan secara menyeluruh, sampai ke kebiasaan dan
jumlah tahi lalatnya."
Dia memberikan
perintah. Seketika ruangan itu menjadi riuh.
Wajar saja. Bagi
'Kyou' yang menyebut diri mereka sebagai organisasi tempur terkuat di dunia,
anak berumur lima belas tahun yang terlemah seperti itu seharusnya langsung
dimusnahkan tanpa perlu repot diselidiki.
"Ketua,
jangan bilang kamu berpikir kalau bocah bernama Kai itu adalah eksistensi yang
bisa mengancam kita?"
Pemuda bersorban
itu bertanya pada sang ketua 'Kyou' yang bermata satu dengan raut wajah tegang.
"Ini murni
hanya firasatku saja."
Ketua 'Kyou' itu
mengangguk pelan.
"Firasat
ketua, itu artinya pasti sangat berbahaya, kan."
Ketua 'Kyou'
mengalihkan pandangannya dari pria bersorban itu ke arah wanita berambut pirang
yang bertatapan tajam, Vinegar.
"Dimengerti.
Sebagai gantinya, aku akan menerima bayaran yang sepadan untuk pekerjaan kali
ini."
Vinegar
membungkuk hormat kepada sang ketua, lalu keluar dari ruangan.
"Lalu?
Pepper, bagaimana dengan reruntuhannya?"
Sang ketua
bertanya pada Pepper, seorang pria bertubuh kecil dan bungkuk yang sedang
minum-minum di meja sudut ruangan dengan memakai sesuatu seperti kacamata
pelindung di kedua matanya.
"Entahlah,
aku juga belum pernah melihat formula sihir berlapis seperti itu. Itu dirangkai
dengan sangat teliti, dan jika aktif, benda itu akan melahap semua persembahan
yang ada di sana."
"Hoo, jadi
informasi dari iblis itu tidak sepenuhnya bohong, ya."
Saat pemuda
bersorban itu bersorak kegirangan.
"Dewa yang
disembah oleh para iblis, ya. Karena kemungkinan besar itu adalah entitas roh
tingkat tinggi, kita mungkin akan mendapatkan kekuatan yang belum pernah ada
sebelumnya jika menyerapnya."
Chili yang sejak
tadi duduk tak acuh, menggumam kosong sambil mengusap kepalanya yang plontos.
"Benar. Agar
tidak ada rasa dendam, kita akan menentukan siapa yang menyerapnya dengan dadu
ini. Salt, kamu hasut orang yang sekiranya bisa menjadi tumbal dan aktifkan
formula sihir itu!"
Sang ketua
memberi perintah pada pemuda bersorban itu.
"Oh, tentu
saja. Serahkan padaku!"
Pemuda bersorban
bernama Salt itu menjawab dengan cepat.
"Sugar,
Pepper, kalian hancurkan kota yang bernama Papra itu."
Sang ketua
memberikan instruksi pembantaian kepada Pepper, pria dengan kacamata pelindung,
dan Sugar, pria tampan dengan rambut biru asimetris yang panjang di sebelah
kiri.
"Ketua
memang menakutkan seperti biasa, ya."
Di
tengah-tengah Salt yang mengutarakan kesan mendalamnya.
"Mengerti~.
Tapi, bolehkah aku menyisakan barang yang kelihatannya bisa dijual mahal?"
Saat Sugar
meminta persetujuan.
"Oi, ketua
bilang musnahkan semuanya―"
Pepper
berteriak dengan urat biru tebal yang menonjol di dahinya.
"Prosesnya
kuserahkan pada kalian. Tapi―"
Sang ketua
menggenggam topinya dan menatap tajam ke arah Sugar.
"Di-dimengerti~.
Asalkan aku dibayar, aku pasti akan membunuh mereka semua."
Pipi
Sugar menegang, dan suaranya bergetar.
"Kita ini
'Kyou'! Jangan biarkan satu pun yang melawan kita hidup-hidup!"
Sang ketua
berteriak lalu mulai berjalan menuju pintu masuk gedung, sementara anggota yang
lain pun bergerak mengikuti jejaknya.
◇◆◇
Di dalam ruangan
remang-remang, Neil, salah satu ajudan Raja Iblis Kegelapan Ashmedia, menutupi
wajah dengan kedua tangannya setelah mendengar laporan dari bawahannya.
"Bahkan
dengan Taotie itu pun, kita tetap tidak bisa mengalahkan sang pahlawan,
kah..."
Neil sendirilah
yang melarang bawahannya untuk ikut campur, termasuk melakukan pengawasan.
Karena itu, semua detail kejadiannya tidak diketahui secara pasti.
Namun, Taotie
yang menuju kota tetangga Papra itu tampaknya telah berhasil ditumbangkan.
Jika itu Taotie,
setidaknya monster itu bisa menghancurkan kota manusia, Barce.
Dengan begitu,
sang pahlawan mau tak mau harus turun tangan.
Tujuan Neil dan
pasukannya hanyalah mewujudkan manifestasi Dewa yang diyakini oleh para iblis.
Asalkan tim
pahlawan menderita sedikit kerugian, itu sudah cukup.
Neil berpikir
bahwa dengan begitu, mereka akan lebih leluasa bergerak demi memanifestasikan
sang Dewa.
Akan tetapi,
boro-boro menghancurkan Barce, Taotie bahkan tidak bisa menaklukkan kota kecil Papra
yang sepertinya tidak memiliki kekuatan tempur yang layak.
Pada
kenyataannya, kerugian yang dialami umat manusia adalah nol. Bagaimanapun juga,
ini adalah hasil terburuk bagi Neil dan para iblis.
"Apa No. 33
belum kembali?"
Saat dimasukkan
ke dalam pasukan Neil, para iblis membuang nama mereka dan mulai dipanggil
menggunakan nomor. Ini karena menjadi pengintai di wilayah kekuasaan manusia
adalah misi yang membawa bahaya luar biasa.
Jika mereka terus
goyah oleh hidup dan matinya prajurit yang tak lebih dari sekadar bidak catur,
maka mencapai tujuan itu hanyalah mimpi di siang bolong.
Seorang komandan
pasukan harus memiliki tekad baja pantang mundur untuk mencapai tujuan, tak
peduli apa pun yang harus dikorbankan.
"Benar.
Kami kehilangan kontak dengannya. Kemungkinan besar dia telah ditangkap oleh
manusia..."
Rasa
frustrasi yang tak tertahankan tergambar jelas dalam kata-kata laporan sang
ajudan.
"Begitu,
ya... Kalau begitu, sudah tidak ada harapan..."
Tidak
boleh. Dia hanyalah sebuah bidak prajurit.
Neil sudah
berulang kali mengatakan hal itu pada dirinya sendiri. Namun, kesedihan,
keputusasaan, dan kemarahan yang tak tertahankan bergejolak sangat kuat serta
menghancurkan hatinya berkeping-keping.
(Maaf.
Maafkan aku...)
Neil
mencengkeram dadanya dengan tangan kanan, merapalkan kata maaf berulang kali di
dalam hati.
Dia benar-benar
menyadarinya hingga terasa sangat memuakkan. Neil tidak memiliki kapasitas
untuk menjadi seorang pemimpin. Seharusnya, seorang komandan tidak akan merasa
secemas ini hanya karena kematian satu prajurit.
(Apanya yang
tekad pantang mundur! Pada akhirnya, aku sama sekali belum siap untuk hal
semacam itu!)
Karena kesadaran
bahwa dia adalah yang terkuat di antara para iblis, selama ini Neil selalu
berpikir wajar jika yang lain tunduk padanya.
Namun, kekuatan
yang selalu diandalkannya itu sama sekali tidak berarti di hadapan monster yang
disebut Pahlawan.
Jika dia boleh
jujur pada dirinya sendiri, dia ingin melimpahkan tanggung jawab berat ini pada
orang lain dan segera melarikan diri.
(Mana mungkin aku
bisa melakukannya...)
Ada
sesuatu yang ingin Neil lindungi. Sesulit apa pun itu, misi ini harus diselesaikannya.
(Saksikanlah dari
alam baka. Setelah aku menyelesaikannya, aku akan segera menyusul kalian.)
Neil
menghembuskan napas panjang.
"Segera cari
kandidat untuk dijadikan tumbal di reruntuhan itu."
Jika para iblis
dan Beliau bisa diselamatkan, aku rela mengorbankan nyawa ini berapa kali pun.
Akan tetapi, tampaknya yang bisa dijadikan tumbal untuk mengaktifkan formula
sihir reruntuhan itu hanyalah mereka yang memiliki darah manusia.
"Baik!"
Setelah berlutut
dengan satu kaki sebagai tanda persetujuan, para bawahan itu menghilang dari
ruangan satu per satu.
"Tuan Ash,
aku pasti akan menyelamatkan Anda!"
Neil memaksakan
kata-kata itu keluar dari mulutnya sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
◇◆◇
Keluarga Dewa
Pasukan Jahat Babylon ― Istana Babylon.
Di singgasana
istana batu hitam, duduk bersandar seorang gadis kecil berpenampilan manis.
Gadis itu memiliki dua tanduk besar yang melengkung dan rambut biru muda
transparan yang dikuncir model twin-tail.
Dia mengenakan
stoking selutut berwarna hitam, dengan pakaian serba hitam yang dibalut jubah
panjang.
"Tuan
Tiamat, hamba Pazuzu, memiliki laporan untuk Anda!"
Berlutut di
hadapan gadis itu, salah seorang dewa mengangkat suaranya. Pria itu adalah dewa
berambut hijau dengan tubuh raksasa dan janggut biru yang menyebut dirinya
Pazuzu.
Dia mengenakan
celana dalam bikini merah cerah beserta jubah pelindung. Bedak putih yang
dioleskan ke seluruh wajahnya yang menyerupai singa, serta topi militer yang
bertengger di kepalanya, semakin menonjolkan penampilan aneh tersebut.
"Ada apa?
Aku sangat, sangat mengantuk."
Padahal suaranya
sama sekali tidak keras, tetapi tekanan yang dikeluarkannya sanggup
menggetarkan udara. Hal itu membuat para dewa veteran berseragam militer di
ruangan itu secara refleks menahan napas.
Kemarahan dewi
yang duduk di singgasana ini bisa berujung pada cedera fatal yang mustahil
disembuhkan. Tempat ini adalah area berbahaya yang terasa seperti sedang
berjalan di atas seutas tali. Semua orang di ruangan ini sangat menyadari fakta mengerikan tersebut.
Namun,
tanpa mempedulikan situasi yang terasa seperti berada di tengah kobaran api
itu.
"Game
Board untuk kali ini telah terungkap."
Pazuzu
menyampaikan kata-katanya dengan penuh penekanan.
Seketika, kedua
mata Tiamat yang tampak mengantuk itu terbuka lebar untuk pertama kalinya.
"Apa kamu
serius?"
Tiamat membalas
pertanyaan itu dengan nada yang sama sekali tak terbantahkan.
"Benar.
Analisis dari reruntuhan yang kami laporkan sebelumnya telah selesai. Terungkap
bahwa reruntuhan yang dituju merupakan sebuah Gate untuk pasukan jahat
kita. Itu artinya―"
"Jadi dunia
itu adalah Game Board-nya!?"
Tiamat
mencondongkan tubuh dari singgasananya dan bertanya dengan suara yang ceria.
"Benar.
Terlebih lagi, Karma milik orang yang baru saja menerobos area Gate
itu sangat besar. Kalau dengan kekuatan itu, memanifestasikan tubuh fisik Tuan
Tiamat ke dunia sana pun mungkin saja bisa dilakukan."
"Kerja
bagus!"
Tiamat langsung
berdiri dengan penuh semangat dari atas singgasana dan meninggikan suaranya.
Hanya dengan gerakan kecil itu saja, retakan demi retakan langsung menjalar ke
setiap sudut singgasananya.
"Benihnya
sudah ditanam. Pertama-tama, hamba yang akan bermanifestasi ke dunia tersebut,
lalu hamba akan membuka Gate untuk Tuan Tiamat."
"Ya, ya,
cepat lakukan! Aku sudah tidak sabar untuk menunggunya!"
"Siap!
Sesuai dengan kehendak Letnan Jenderal yang kami hormati!"
Sambil
masih dalam posisi berlutut, Pazuzu menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum
akhirnya sosoknya menghilang dari sana.
Tiamat
merentangkan kedua tangannya lalu menengadah ke atas.
"Akhirnya!
Akhirnya, permainan yang sangat menyenangkan ini akan segera dimulai! Permainan seperti apa yang harus kulakukan
setelah aku bermanifestasi nanti!!"
Sambil
membayangkan hari-hari penuh kesenangan di masa depan, wajah polosnya itu
diwarnai oleh senyum kebahagiaan saat dia berteriak dengan penuh suka cita.



Post a Comment