NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 2 Prolog

Prolog


―Kota hantu, Kediaman Penguasa Pespar.

Pintu ruang bawah tanah berderit terbuka, menampilkan seorang pria bertubuh besar dengan kacamata bundar yang melangkah keluar dari dalam sana. Darah merah pekat menempel di mana-mana, mengotori jas putih bersih dan sarung tangan putih yang dikenakannya.

"Chili, bagaimana? Apa dia sudah buka mulut?"

Seorang wanita berpakaian hitam terbuka dengan tatapan tajam bertanya pada pria berjas putih dan berkacamata bundar, Chili. Sambil bertanya, tangan kanannya mengibaskan rambut pirang model twin-tail-nya dengan raut wajah kesal.

"Ya, aku sudah mengorek semua informasi yang ingin kita dengar."

Chili menarik dagunya, lalu melempar tumpukan kertas berlumuran darah di tangan kanannya ke atas meja. Dia kemudian duduk di kursi terdekat, menuangkan anggur buah ke dalam wadah kayu, dan mulai meminumnya dengan nikmat.

Seorang pria bermata satu yang mengenakan setelan jas putih mendekati meja, lalu mulai membaca kertas tersebut. Dan kemudian―.

"Kai Heineman."

Dia hanya menggumamkan nama itu, lalu meletakkan kembali kertas tersebut ke atas meja.

Pemuda tampan bertubuh tinggi yang memakai sorban membaca sekilas kertas tersebut.

"Oi oi, apa kau bilang bocah manusia yang baru berumur lima belas tahun ini membunuh Jirma? Lagipula, di dokumen ini tertulis kalau dia adalah pemegang Gift bernama 'The Most Incompetent in the World'. Dia cuma bocah yang disebut-sebut sebagai yang terlemah di negara ini, kan?"

Sambil menatap Chili dengan nada suara yang melengking, dia melontarkan keraguan tersebut.

"Setidaknya, mainan kita yang tadi berpikir begitu."

Sepertinya dia sudah tidak tertarik lagi. Chili menjawab dengan ketus tanpa sedikit pun melirik ke arah pemuda bersorban itu.

Pria bermata satu berjas putih itu hanya melirik ke arah wanita berambut pirang yang memiliki tatapan tajam tersebut.

"Vinegar, selidiki Kai Heineman. Lakukan secara menyeluruh, sampai ke kebiasaan dan jumlah tahi lalatnya."

Dia memberikan perintah. Seketika ruangan itu menjadi riuh.

Wajar saja. Bagi 'Kyou' yang menyebut diri mereka sebagai organisasi tempur terkuat di dunia, anak berumur lima belas tahun yang terlemah seperti itu seharusnya langsung dimusnahkan tanpa perlu repot diselidiki.

"Ketua, jangan bilang kamu berpikir kalau bocah bernama Kai itu adalah eksistensi yang bisa mengancam kita?"

Pemuda bersorban itu bertanya pada sang ketua 'Kyou' yang bermata satu dengan raut wajah tegang.

"Ini murni hanya firasatku saja."

Ketua 'Kyou' itu mengangguk pelan.

"Firasat ketua, itu artinya pasti sangat berbahaya, kan."

Ketua 'Kyou' mengalihkan pandangannya dari pria bersorban itu ke arah wanita berambut pirang yang bertatapan tajam, Vinegar.

"Dimengerti. Sebagai gantinya, aku akan menerima bayaran yang sepadan untuk pekerjaan kali ini."

Vinegar membungkuk hormat kepada sang ketua, lalu keluar dari ruangan.

"Lalu? Pepper, bagaimana dengan reruntuhannya?"

Sang ketua bertanya pada Pepper, seorang pria bertubuh kecil dan bungkuk yang sedang minum-minum di meja sudut ruangan dengan memakai sesuatu seperti kacamata pelindung di kedua matanya.

"Entahlah, aku juga belum pernah melihat formula sihir berlapis seperti itu. Itu dirangkai dengan sangat teliti, dan jika aktif, benda itu akan melahap semua persembahan yang ada di sana."

"Hoo, jadi informasi dari iblis itu tidak sepenuhnya bohong, ya."

Saat pemuda bersorban itu bersorak kegirangan.

"Dewa yang disembah oleh para iblis, ya. Karena kemungkinan besar itu adalah entitas roh tingkat tinggi, kita mungkin akan mendapatkan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya jika menyerapnya."

Chili yang sejak tadi duduk tak acuh, menggumam kosong sambil mengusap kepalanya yang plontos.

"Benar. Agar tidak ada rasa dendam, kita akan menentukan siapa yang menyerapnya dengan dadu ini. Salt, kamu hasut orang yang sekiranya bisa menjadi tumbal dan aktifkan formula sihir itu!"

Sang ketua memberi perintah pada pemuda bersorban itu.

"Oh, tentu saja. Serahkan padaku!"

Pemuda bersorban bernama Salt itu menjawab dengan cepat.

"Sugar, Pepper, kalian hancurkan kota yang bernama Papra itu."

Sang ketua memberikan instruksi pembantaian kepada Pepper, pria dengan kacamata pelindung, dan Sugar, pria tampan dengan rambut biru asimetris yang panjang di sebelah kiri.

"Ketua memang menakutkan seperti biasa, ya."

Di tengah-tengah Salt yang mengutarakan kesan mendalamnya.

"Mengerti~. Tapi, bolehkah aku menyisakan barang yang kelihatannya bisa dijual mahal?"

Saat Sugar meminta persetujuan.

"Oi, ketua bilang musnahkan semuanya―"

Pepper berteriak dengan urat biru tebal yang menonjol di dahinya.

"Prosesnya kuserahkan pada kalian. Tapi―"

Sang ketua menggenggam topinya dan menatap tajam ke arah Sugar.

"Di-dimengerti~. Asalkan aku dibayar, aku pasti akan membunuh mereka semua."

Pipi Sugar menegang, dan suaranya bergetar.

"Kita ini 'Kyou'! Jangan biarkan satu pun yang melawan kita hidup-hidup!"

Sang ketua berteriak lalu mulai berjalan menuju pintu masuk gedung, sementara anggota yang lain pun bergerak mengikuti jejaknya.

◇◆◇

Di dalam ruangan remang-remang, Neil, salah satu ajudan Raja Iblis Kegelapan Ashmedia, menutupi wajah dengan kedua tangannya setelah mendengar laporan dari bawahannya.

"Bahkan dengan Taotie itu pun, kita tetap tidak bisa mengalahkan sang pahlawan, kah..."

Neil sendirilah yang melarang bawahannya untuk ikut campur, termasuk melakukan pengawasan. Karena itu, semua detail kejadiannya tidak diketahui secara pasti.

Namun, Taotie yang menuju kota tetangga Papra itu tampaknya telah berhasil ditumbangkan.

Jika itu Taotie, setidaknya monster itu bisa menghancurkan kota manusia, Barce.

Dengan begitu, sang pahlawan mau tak mau harus turun tangan.

Tujuan Neil dan pasukannya hanyalah mewujudkan manifestasi Dewa yang diyakini oleh para iblis.

Asalkan tim pahlawan menderita sedikit kerugian, itu sudah cukup.

Neil berpikir bahwa dengan begitu, mereka akan lebih leluasa bergerak demi memanifestasikan sang Dewa.

Akan tetapi, boro-boro menghancurkan Barce, Taotie bahkan tidak bisa menaklukkan kota kecil Papra yang sepertinya tidak memiliki kekuatan tempur yang layak.

Pada kenyataannya, kerugian yang dialami umat manusia adalah nol. Bagaimanapun juga, ini adalah hasil terburuk bagi Neil dan para iblis.

"Apa No. 33 belum kembali?"

Saat dimasukkan ke dalam pasukan Neil, para iblis membuang nama mereka dan mulai dipanggil menggunakan nomor. Ini karena menjadi pengintai di wilayah kekuasaan manusia adalah misi yang membawa bahaya luar biasa.

Jika mereka terus goyah oleh hidup dan matinya prajurit yang tak lebih dari sekadar bidak catur, maka mencapai tujuan itu hanyalah mimpi di siang bolong.

Seorang komandan pasukan harus memiliki tekad baja pantang mundur untuk mencapai tujuan, tak peduli apa pun yang harus dikorbankan.

"Benar. Kami kehilangan kontak dengannya. Kemungkinan besar dia telah ditangkap oleh manusia..."

Rasa frustrasi yang tak tertahankan tergambar jelas dalam kata-kata laporan sang ajudan.

"Begitu, ya... Kalau begitu, sudah tidak ada harapan..."

Tidak boleh. Dia hanyalah sebuah bidak prajurit.

Neil sudah berulang kali mengatakan hal itu pada dirinya sendiri. Namun, kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan yang tak tertahankan bergejolak sangat kuat serta menghancurkan hatinya berkeping-keping.

(Maaf. Maafkan aku...)

Neil mencengkeram dadanya dengan tangan kanan, merapalkan kata maaf berulang kali di dalam hati.

Dia benar-benar menyadarinya hingga terasa sangat memuakkan. Neil tidak memiliki kapasitas untuk menjadi seorang pemimpin. Seharusnya, seorang komandan tidak akan merasa secemas ini hanya karena kematian satu prajurit.

(Apanya yang tekad pantang mundur! Pada akhirnya, aku sama sekali belum siap untuk hal semacam itu!)

Karena kesadaran bahwa dia adalah yang terkuat di antara para iblis, selama ini Neil selalu berpikir wajar jika yang lain tunduk padanya.

Namun, kekuatan yang selalu diandalkannya itu sama sekali tidak berarti di hadapan monster yang disebut Pahlawan.

Jika dia boleh jujur pada dirinya sendiri, dia ingin melimpahkan tanggung jawab berat ini pada orang lain dan segera melarikan diri.

(Mana mungkin aku bisa melakukannya...)

Ada sesuatu yang ingin Neil lindungi. Sesulit apa pun itu, misi ini harus diselesaikannya.

(Saksikanlah dari alam baka. Setelah aku menyelesaikannya, aku akan segera menyusul kalian.)

Neil menghembuskan napas panjang.

"Segera cari kandidat untuk dijadikan tumbal di reruntuhan itu."

Jika para iblis dan Beliau bisa diselamatkan, aku rela mengorbankan nyawa ini berapa kali pun. Akan tetapi, tampaknya yang bisa dijadikan tumbal untuk mengaktifkan formula sihir reruntuhan itu hanyalah mereka yang memiliki darah manusia.

"Baik!"

Setelah berlutut dengan satu kaki sebagai tanda persetujuan, para bawahan itu menghilang dari ruangan satu per satu.

"Tuan Ash, aku pasti akan menyelamatkan Anda!"

Neil memaksakan kata-kata itu keluar dari mulutnya sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

◇◆◇

Keluarga Dewa Pasukan Jahat Babylon ― Istana Babylon.

Di singgasana istana batu hitam, duduk bersandar seorang gadis kecil berpenampilan manis. Gadis itu memiliki dua tanduk besar yang melengkung dan rambut biru muda transparan yang dikuncir model twin-tail.

Dia mengenakan stoking selutut berwarna hitam, dengan pakaian serba hitam yang dibalut jubah panjang.

"Tuan Tiamat, hamba Pazuzu, memiliki laporan untuk Anda!"

Berlutut di hadapan gadis itu, salah seorang dewa mengangkat suaranya. Pria itu adalah dewa berambut hijau dengan tubuh raksasa dan janggut biru yang menyebut dirinya Pazuzu.

Dia mengenakan celana dalam bikini merah cerah beserta jubah pelindung. Bedak putih yang dioleskan ke seluruh wajahnya yang menyerupai singa, serta topi militer yang bertengger di kepalanya, semakin menonjolkan penampilan aneh tersebut.

"Ada apa? Aku sangat, sangat mengantuk."

Padahal suaranya sama sekali tidak keras, tetapi tekanan yang dikeluarkannya sanggup menggetarkan udara. Hal itu membuat para dewa veteran berseragam militer di ruangan itu secara refleks menahan napas.

Kemarahan dewi yang duduk di singgasana ini bisa berujung pada cedera fatal yang mustahil disembuhkan. Tempat ini adalah area berbahaya yang terasa seperti sedang berjalan di atas seutas tali. Semua orang di ruangan ini sangat menyadari fakta mengerikan tersebut.

Namun, tanpa mempedulikan situasi yang terasa seperti berada di tengah kobaran api itu.

"Game Board untuk kali ini telah terungkap."

Pazuzu menyampaikan kata-katanya dengan penuh penekanan.

Seketika, kedua mata Tiamat yang tampak mengantuk itu terbuka lebar untuk pertama kalinya.

"Apa kamu serius?"

Tiamat membalas pertanyaan itu dengan nada yang sama sekali tak terbantahkan.

"Benar. Analisis dari reruntuhan yang kami laporkan sebelumnya telah selesai. Terungkap bahwa reruntuhan yang dituju merupakan sebuah Gate untuk pasukan jahat kita. Itu artinya―"

"Jadi dunia itu adalah Game Board-nya!?"

Tiamat mencondongkan tubuh dari singgasananya dan bertanya dengan suara yang ceria.

"Benar. Terlebih lagi, Karma milik orang yang baru saja menerobos area Gate itu sangat besar. Kalau dengan kekuatan itu, memanifestasikan tubuh fisik Tuan Tiamat ke dunia sana pun mungkin saja bisa dilakukan."

"Kerja bagus!"

Tiamat langsung berdiri dengan penuh semangat dari atas singgasana dan meninggikan suaranya. Hanya dengan gerakan kecil itu saja, retakan demi retakan langsung menjalar ke setiap sudut singgasananya.

"Benihnya sudah ditanam. Pertama-tama, hamba yang akan bermanifestasi ke dunia tersebut, lalu hamba akan membuka Gate untuk Tuan Tiamat."

"Ya, ya, cepat lakukan! Aku sudah tidak sabar untuk menunggunya!"

"Siap! Sesuai dengan kehendak Letnan Jenderal yang kami hormati!"

Sambil masih dalam posisi berlutut, Pazuzu menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum akhirnya sosoknya menghilang dari sana.

Tiamat merentangkan kedua tangannya lalu menengadah ke atas.

"Akhirnya! Akhirnya, permainan yang sangat menyenangkan ini akan segera dimulai! Permainan seperti apa yang harus kulakukan setelah aku bermanifestasi nanti!!"

Sambil membayangkan hari-hari penuh kesenangan di masa depan, wajah polosnya itu diwarnai oleh senyum kebahagiaan saat dia berteriak dengan penuh suka cita.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close